5 Heroes


Selamat Hari Pendidikan Nasional. Hari ini Kamis, 2 Mei 2019, kita memperingatinya sebagai Hari Pendidikan Nasional. Banyak upacara, banyak acara, banyak senang-senang. Menulis pos ini, dengan judul 5 Heroes, jadi ingat para pahlawan dalam buku Kick Andy berjudul Heroes. Buku bersampul putih yang menyajikan kisah para pahlawan yang ada di sekitar kita, yang mau berkorban demi orang lain. Akan tetapi, sesuai dengan Hari Pendidikan Nasional dan tema #KamisLima, maka saya menulis tentang lima pahlawan di bidang pendidikan yang bersinggungan langsung dengan hidup saya.


Mereka memang bukan orang terkenal. Tapi dari mereka saya belajar banyak hal baik pendidikan formal maupun non-formal. Banyak pahlawan pendidikan dalam hidup saya yang fana ini, tapi ijinkan kali ini saya memilih lima saja. Boleh kan?

1. Bapa


Kebiasaan di Ende, kami biasanya memanggil Bapak dengan Bapa (tanpa K). Seringnya Suku Lio memanggil Bapak dengan Bapa, Suku Ende memanggil Bapak dengan Baba. Bapa mengajarkan banyak hal pada saya terutama dari lini kreativitas. Bikin kompor listrik berbahan elemen seterika rusak, bikin lampion, memperbaiki sampul buku, mengetik, dan lain sebagainya. Karena mantan polisi rakyat zaman dahulu, Bapa memang keras mendidik kami anak-anaknya. Hebatnya, pendidikan yang keras itu juga disertai dengan kelembutan. Jadi meskipun dikerasin, kami tetap melengket dengan Bapa ha ha ha.

Dari semua hal yang Bapa ajarkan, dan dari yang saya contohi dari perbuatannya, yang betul-betul number one adalah: lakukan suatu pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Kalau tidak, segera tinggalkan karena tidak akan ada hasilnya.

Terima kasih, Bapa. Al Fatihah untuk Bapa.

2. Mamatua


Sepasang, orantua, kalau ada Bapa pasti ada Mamatua. Sama seperti Bapa, Mamatua adalah seorang polisi rakyat guru. Kedisiplinan membawa beliau ke kancah Guru Teladan pada masa lampau saat negara ini masih dipimpin Bapak Soeharto. Kalau Bapa sangat keras mendidik kami, dan menyadarkan bahwa tidak semua keinginan dapat terpenuhi, Mamatua lebih kepada  keras yang 'dingin'. Bayangkan saja, hukuman anak sekolah zaman itu diterapkan pula di rumah. Amboiii saya pernah satu jam berlutut di atas garam kasar hanya karena tidak belajar!

Dari semua hal yang Mamatua ajarkan, dan dari yang saya contohi perbuatannya, yang sangat saya hafal omongan Mamatua adalah: Non, shalat dan ngaji. Tidak ada yang bisa membantu kita selain Allah SWT. Sambil tangan memilin tasbih.

Terima kasih, Mamatua. Love you tumbe'e tumbe'e (sungguh-sungguh).

3. Kak Narsis


Kak Narsis adalah pahlawan pendidikan dalam bidang agama yang super sabar dan menganggap saya seperti adik kandungnya sendiri. Tinggal bersama keluarganya yang adalah tetangga kami, hampir setiap sore Kak Narsis ke rumah untuk mengajari saya mengaji! Guru mengaji ke-sekian. Dari Kak Narsis saya belajar bahwa kesabaran itu perlu terutama kalau berhadapan dengan murid sebadung saya. Haha. Kak Narsis pula yang rajin mengobati lobang telinga saya yang luka parah karena terlalu sering dibersihkan.

Terima kasih Kak Narsis, saya sudah dua kali khatam Al Qur'an loh, masih kalah sih sama Mamatua.

4. Ibu Ernesta Leha


Saya mengenal Ibu Eta saat bekerja di Universitas Flores. Waktu itu dalam hati saya berkata, ibu ini betul-betul perfect. Cantik, seksi, cerdas pula! Banyak hal yang diajarkan oleh Ibu Eta pada saya, terutama saat beliau masih menjabat Sekretaris UPT Publikasi dan Humas Uniflor. Tapi dari semua yang pernah saya pelajari dari beliau, yang paling tertancap kuat di dalam benak saya adalah: bagaimana mengubah sesuatu yang serius menjadi konyol. Kalian pasti tidak percaya bahwa hampir tiap hari, waktu itu, saya terpingkal-pingkal mendengar komentar Ibu Eta terhadap berita-berita yang dibacanya di koran. Secara tidak langsung Ibu Eta mengajarkan pada saya tentang hidup yang selalu diibaratkan sebagai koin dengan dua sisinya itu.

Karena Ibu Eta lah saya pernah menerima beasiswa khusus dari Yapertif untuk karyawati (yang katanya berprestasi) selama setahun. Pendidikan itu penting. Oh ya, selamat pula untuk Ibu Eta yang baru-baru ini diwisuda. Sekarang gelarnya menjadi Dr. Ernesta Leha, S.E., M.Agb. Yuhuuuu. 

5. Oma Mia Gadi Djou


Oma Mia, demikian kami memanggil beliau, adalah sosok penulis yang sangat menginspirasi. Buku-bukunya dicetak secara privat dan dibagikan secara privat pula. Saya adalah orang yang memindahkan tulisan tangan Oma Mia ke lembaran MS Word. Nampaknya, hanya saya yang berjodoh dengan huruf alias tulisan tangan beliau. Hehe.

Baca Juga: 5 Momen Paskah

Mengetik cerita-cerita yang ditulis Oma Mia tidak saja menghibur namun sekalian memberikan manfaat kepada saya sebagai si tukang ketiknya.


Bagaimana, kawan ... siapa pahlawan pendidikan dalam hidup kalian?



Cheers.

Filem-Filem Bertema Pendidikan


Serius, saat menulis judul pos ini, saya sama sekali tidak ingin kalian berpikir tentang sinetron-sinetron Indonesia (tidak semua, memang - mungkin) yang bertema pendidikan dengan anak sekolah berpakaian kurang pantas seperti rok di atas lutut dan wajah menor kayak Anabelle versi filem. Atau anak sekolah yang di pikirannya cuma urusan cinta dan perebutan mahkota puteri dari pangeran sekolah. Filem-filem bertema pendidikan di sini tentu kualitasnya jauh di atas dari sinetron-sinetron picisan di teve. 

Tunggu dulu ... ada yang marah kalau saya menulis itu sinetron picisan? Ha ha ha.

Baca Juga:
Perang Urat Syaraf Antar Lelaki dalam The Daughter 
Jeff Dunham dan Puppet-nya 
Sisi Lain Dunia Gulat dalam Dangal

Kenapa saya menulis tentang filem-filem bertema pendidikan? Karena ... ehem ... baru selesai diyudisium ini, jadi masih hangat-hangatnya *tsaaah*

Menulis tentang filem-filem bertema pendidikan, yang paling pertama terlintas di benak saya adalah Laskar Pelangi. Filem bertema pendidikan yang diangkat dari novel karya Andrea Hirata. Laskar Pelangi ini mengingatkan saya pada Universitas Flores; meskipun jauh dari Ibu Kota Republik Indonesia tetapi punya 'kekuatan' yang luar biasa. Bahwa tidak selamanya yang berada di kampung itu bakal kalah sama yang berada di kota. Bahwa tidak selamanya anak kampung itu kampungan. Am I right?

Setelah Laskar Pelangi, otak saya menuju ke sebuah filem berjudul 3 Idiots. Filem India yang satu ini punya kekuatan luar biasa pada tiga 'idiot'nya. Kalau Laskar Pelangi menyorot bocah SD maka 3 Idiots menyorot kehidupan kampus mahasiswa dan tentu kehidupan di asrama mereka. 3 Idiots adalah filem cerdas yang sangat layak tonton! Saya jamin kalian tidak bakal menyesal meskipun itu filem lama.

Ada satu filem (kita menyebutnya filem Barat, right?) berjudul Freedom Writers. Ini filem sampai membikin saya merinding saking kerennya. Sedikit bocoran, ini filem lama tentang seorang guru yang berhadapan dengan para murid beda RAS. Mereka membawa-bawa perkelahian antar geng di luaran sampai ke dalam kelas. Bagaimana seorang guru perempun berusaha mengajarkan kepada anak-anak itu bahwa pendidikan sangat penting dan hentikan permusuhan adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Menurut saya.

Beralih ke Thailand, sebuah filem Teacher's Diary juga layak ditonton berkaitan dengan filem bertema pendidikan. Tidak saja bercerita tentang perjuangan guru dan murid di sekolah apung di 'ujung dunia' Thailand sana, tapi juga tentang kisah cinta yang begitu kuat oleh seorang guru laki-laki terhadap guru perempuan hanya karena membaca buku harian si guru perempuan. Kalau belum nonton, saya rekomendasikan kalian untuk menontonnya karena visualnya sangat memukau.

Dan terakhir (dari saya) kembali ke Indonesia. Sebuah filem yang berlatar Papua yang berjudul Denias (Senandung di Atas Awan). Filem ini bercerita tentang seorang bocah laki-laki bernama Denias yang berusaha agar dia memperoleh pendidikan yang layak. Gosh ... agak gemas ketika melihat anak kota menyia-nyiakan kesempatan belajar sedangkan anak seperti Denias berusaha agar bisa memperoleh pendidikan yang layak. 

Filem-filem yang saya sebutkan di atas tentu hanya seiprit dari begitu banyaknya filem bertema pendidikan (dan berkualitas) baik dari Indonesia maupun dari negara lainnya. Bagaimana dengan kalian? Filem bertema pendidikan apa yang sudah kalian tonton?


Cheers.

Fun For Fam : Lingkungan Ramah Anak Di RT 13 Curug Kota Bogor


Anak-anak yang polos dan ceria menambah semaraknya lingkungan rumah kita. Bayangkan bila anak-anak kemudian murung dan tak ceria seperti biasanya? What happen with them? Kita akan bertanya seperti itu. pasti ada sebab mengapa anak-anak kelihatan murung dan cenderung pendiam. Tugas orang tua akan lebih berat dalam menjalankan tugasnya untuk membuat anak-anak kembal ceria dan bermain.

Salah satu cara membuat anak-anak bermain adalah dengan memberikan ruang untuk bermain dan mengekspresikan diri. Lingkungan tumbuh kembang anak pun perlu diperhatikan, apalagi zaman sekarang yang penuh dengan dinamika dengan arus globalisasi yang bukan tidak mungkin mempengaruhi perkembangan anak. 


Baru -baru ini, Desa Curug, Kota Bogor mengadakan sebuah program yang seru bertajuk "Fun For Fam : Lingkungan Ramah Anak". 




Fun For Fam : Lingkungan Ramah Anak Di RT 13 Curug Kota Bogor


Anak-anak yang polos dan ceria menambah semaraknya lingkungan rumah kita. Bayangkan bila anak-anak kemudian murung dan tak ceria seperti biasanya? What happen with them? Kita akan bertanya seperti itu. pasti ada sebab mengapa anak-anak kelihatan murung dan cenderung pendiam. Tugas orang tua akan lebih berat dalam menjalankan tugasnya untuk membuat anak-anak kembal ceria dan bermain.

Salah satu cara membuat anak-anak bermain adalah dengan memberikan ruang untuk bermain dan mengekspresikan diri. Lingkungan tumbuh kembang anak pun perlu diperhatikan, apalagi zaman sekarang yang penuh dengan dinamika dengan arus globalisasi yang bukan tidak mungkin mempengaruhi perkembangan anak. 


Baru -baru ini, Desa Curug, Kota Bogor mengadakan sebuah program yang seru bertajuk "Fun For Fam : Lingkungan Ramah Anak".