#PDL Wreath Buat Kado Natal


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Di Indonesia, Hari Raya Natal selalu identik dengan Pohon Natal atau Pohon Terang. Pohon Natal adalah pohon cemara yang berdiri di salah satu tempat di dalam rumah, dihiasi dengan aneka ornamen. Saya jarang melihat Pohon Natal asli di rumah saudara-saudari dari pihak Mamatua. Rata-rata Pohon Natal di rumah mereka berbahan plastik, aneka ukuran, aneka ornamen. Saya pernah mendengar teman bercerita bahwa Pohon Natal melambangkan kehidupan abadi karena pada musim salju pohon ini tetap hijau daunnya (tidak seperti pohon atau tanaman lainnya). Sama dengan daerah lainnya di Indonesia, di Kota Ende pun demikian, Pohon Natal dan Kandang Natal selalu ada di rumah-rumah saudara-saudari Umat Kristen yang merayakan Natal.

Baca Juga: #PDL Kebiasaan Menggigit Kuku yang Ternyata Bahaya

Sebenarnya ada banyak hal yang berkaitan dengan Hari Raya Natal seperti salju, Sinterklas, hingga wreath. Sinterklas masih sering saya dengar. Dulu, iri banget kalau teman saya yang bernama Nona Beci pamerin kaos kaki berisi kado dari Sinterklas. Zaman masih ana lo'o (anak kecil) hahah. Bagaimana dengan wreath? Sedikit sekali rumah-rumah di Ende memasang wreath sesaat sebelum Hari Raya Natal hingga Bulan Januari. Umumnya ya itu di atas; Pohon Natal dan Kandang Natal.

Tahun lalu Universitas Flores menggelar lomba Pohon Natal dari barang bekas. Saya sudah yakin bakal banyak yang bikin Pohon Natal berbahan botol, gelas, dan kertas. Bentuknya juga rata-rata sama. Tring! Muncul ide di kepala, ditambah hasil membaca soal crafting dan DIY, saya membikin Pohon Natal ulir seperti pada penampakan di bawah ini:



Pohon Natal dari UPT Publikasi dan Humas Uniflor itu meraih juara pertama dengan uang hadiah sejumlah 1,4K. Yuhu. Lumayan kan percikan kreativitas bisa menghasilkan uang dari lomba hahaha. Kalau dari hasil menjual kan sudah biasa, tapi dari hasil lomba itu luar biasa.

Baca Juga: #PDL Ngopi Tjakep

Pada saat itu, saya diminta oleh teman dari Fakultas Hukum untuk membikin wreath. Wah, boleh dicoba nih. Soalnya saya belum pernah pun bikin wreath. Sekalian mencoba, sekalian tambah ilmu mendaur ulang. Percobaan pertama dan percobaan kedua gagal. Saya mulai berpikir keras. Bagaimana ya caranya? Putar otak ke kiri ke kiri ke kiri kayak lagu Gemufamire, akhirnya muncul ide itu. 

1. Bikin lingkaran utama mirip pemida.
2. Bikin bulatan pengganti bunga.
3. Cat dua warna merah dan hijau.
4. Rekatkan dengan lem tembak.

Trada ... wreath pertama pun jadi. Ukurannya super besar ha ha ha.


Ukurannya sangat besar kan ya? Ha ha ha. Pitanya sendiri bukan dari saya, tapi milik teman yang di Fakultas Hukum itu. Pita itu memberikan ide lain di benak saya untuk memasang pita pada wreath berikutnya ... kalau ada yang minta dibikinkan hehe. 

Tanpa saya sadari, wreath buatan saya ini ternyata memikat perasaan banyak orang. Ternyata memang ada yang minta saya membikin wreath lagi dan lagi. Mama Emmi Gadi Djou meminta saya kalau bisa membikinkan wreath ini, juga kakak sepupu saya. Pokoknya saya ingat hari itu dalam sehari saya membikin enam wreath! Dibantu Indra dan Thika. Penampakannya bisa kalian lihat pada awal pos. Wreath yang sudah kami bikin itu kemudian menjadi kado Natal yang manis semanis saya ha ha ha. Senang rasanya melihat wreath hasil daur ulang itu dipasang di atas atau di pintu rumah. Lelah terbayarkan (bukan dengan Rupiah). Kepuasan dari hasil kerja tidak selamanya dinilai dari Rupiah.

Berdasarkan apa yang sudah saya lakukan, ini merupakan ide untuk kalian semua. Cobalah membikin wreath, dengan bahan daur ulang apa saja yang ada di sekitar, lantas jadikan itu kado Natal untuk keluarga, tetangga, dan teman-teman. Pasti mereka suka *senyum lebar*. Tutorial bisa dilihat di Youtube. Banyak.

Pernah, saya pernah begitu, dimintai tolong membikin wreath. Dari mencoba, gagal, mencoba lagi, hasilnya kurang rapi, sampai akhirnya lebih rapi. Semua karena apa? Karena percikan kreativitas *dilempar sapi*.

Baca Juga: #PDL Menjadi Hakim Anggota

Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu donk, siapa tahu kita bisa saling belajar bikin barang daur ulang dari barang bekas yang ada di sekitar. Jangan buang dulu botol plastik di rumah kalian! Siapa tahu berguna untuk kalian, apalagi yang suka ber-DIY-ria.

Semoga bermanfaat.



Cheers.

#PDL Kebiasaan Menggigit Kuku yang Ternyata Bahaya


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Kuku-kuku di dinding
Diam-diam me ra yap
Datang seekor nyamuk
Hap! Eh meleset ...

Karena ternyata si kuku tidak punya lidah seperti si cicak dan tetangga jauhnya cicak yaitu si dinosaurus, jadi waktu di-HAP! Me-le-set saudara-saudara. Yang sabar ya.

Baca Juga: #PDL Ngopi Tjakep

Kelas Blogging Online telah memasuki kelas ketiga dengan materi yang sudah dipelajari dan dipraktekkan. Materi tersebut antara lain Membikin Blog di Blogger, Mengenal Dashboard dan Fungsi Panel Masing-Masing, hingga Niche Blog. Adalah kebanggaan ketika peserta kelas sudah membikin blog di Blogger dan mulai memperbaiki blog mereka hingga mengenal meta data. Lalu apa hubungan antara Kelas Blogging Online dengan kuku yang gagal meng-HAP seekor nyamuk di atas? 

Sari Kuku Dinosaurus
*mengedip dari balik kaca mata hitam*

Sari kuku dinosaurus ini menjadi viral di Kelas Blogging Online gara-gara saya membikin contoh tentang permalink atau tautan permanen. Bagaimana link sebuah pos itu dapat diubah sehingga tidak mengikuti judul yang terlalu panjang. Blogger memang melakukan itu!


Gara-gara itu, saya usil mencari-cari di Google, adakah orang lain yang juga pernah menulis iseng, buat lucu-lucuan, tentang sari kuku dinosaurus? Ternyata tidak ada. Saya malah terdampar di situs Qupas yang membahas tentang bahaya menggigit kuku! Are you sure??? Bukankah menggigit kuku itu suatu perbuatan yang menyenangkan, apalagi kalau sebelum digigit, kukunya dicelupin ke Nuttela terlebih dahulu? Haha. Sepanjang yang saya tahu, menggigit kuku bakal bikin kuku menjadi rusak karena gigi kita tidak setajam gunting-kuku. Tapi ternyata bahaya kebiasaan ini bagi kesehatan lebih menakutkan dari penampakan fisik kuku yang rusak akibat digigit. Qupas ini memang cocok sama namanya. Banyak hal yang dikupas tuntas di situs itu.

*garuk-garuk kepala dinosaurus*

 Adiknya dinosaurus; si komodo, nyempil. Haha.

Ceritanya, sebagai manusia yang tak luput dari dosa, gigi saya ada yang berlubang. Salah satu lubangnya itu nyempil diantara gigi. Apabila ada makanan yang terselip, sementara tidak ada tusuk gigi, saya bakal pakai kuku jari kelingking untuk diselipkan di situ agar sisa makanannya terdesak keluar. Paling ekstrim saya pernah pakai kuku ibu jari. Parahnya, saya bersihkan pula sisa makanan yang menempel di kuku dengan gigi! Kan jorok itu. Ember ... tapi saya pernah melakukannya. Bukan pernah ... tapi sering!

Dan ini ... errr ... kuku tangan ya. Bukan kuku kaki. Kuku kaki? Sabar dulu, posisi otak saya bergeser sekian inci nih gara-gara membayangkan menggigit kuku kaki.



Jadi, apa saja bahaya menggigit kuku; termasuk bahaya mengganti tusuk gigi dengan kuku? Dari situs Qupas, ini dia bahaya menggigit kuku.

Cekidot!

1. Menyebabkan Bau Mulut


Kenapa menggigit kuku bisa bikin bau mulut? Ternyata hal itu disebabkan serpihan kuku akan menempel pada rahang dan rongga-rongga gigi. Kemudian bercampur dengan air liur serta materi lainnya sehingga menyebabkan bau mulut menjadi sedikit aneh. Siapapun pasti tidak ingin mulutnya bau kan.


Mana asyik, ketika sedang mengobrol sama si dia, mendadak si dia menutup hidungnya. Menyakitkan.

2. Meningkatkan Risiko Kerusakan Gigi


Jangan dibiasakan menggigit kuku, karena hal ini ternyata bisa merusak gigi. Karena, ketika ada serpihan kuku yang menempel pada gigi, maka tanpa disadari akan merusak bagian tubuh ini secara perlahan. Pada akhirnya lebih mudah bolong dan terasa nyeri. Sakit gigi jauh lebih sakit dari sakit hati. Salam, dari orang yang sering merasakan sakit gigi.

3. Mengganggu Pencernaan


Seperti diketahui, di dalam kuku menyimpan begitu banyak bakteri. Jadi ketika kamu memiliki kebiasaan menggigitnya, maka sama saja kamu mempersilakan bakteri itu untuk masuk ke dalam tubuh. Akibatnya, bakteri akan membuat organ cerna terganggu. Tidak ada satupun manusia yang mau organ pencernaannya terganggu kan?

4. Menyebabkan Iritasi Tenggorokan


Material dari kuku itu sifatnya keras dan tajam. Ketika tanpa sengaja serpihannya masuk ke dalam mulut dan tertelan, maka itu bisa menjadi sebuah kesalahan fatal.

Sebab, kuku bisa membuat luka pada tenggorokan hingga akhirnya terjadi iritasi.

5. Menyebabkan Berbagai Penyakit


Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa kuku mengandung begitu banyak bakteri sehingga jika masuk ke dalam tubuh maka bakteri tersebut akan menyebar. Akibatnya, risiko terkena penyakit pun semakin besar.

6. Bentuk Kuku Menjadi Tak Karuan


Perlu diketahui juga, kebiasaan mengigit kuku juga berdampak pada bentuknya. Karena, seperti yang sudah saya tulis di atas, gigi kita bukanlah gunting kuku yang memang dibikin khusus untuk merapikan kuku.




Jangan lagi menggigit kuku atau memasukkan kuku ke dalam mulut seenak hati karena sangat berbahaya bagi kesehatan.

Termasuk saya, menjadikan kuku sebagai pengganti tusuk gigi. Awwww. Ngeri membayangkan saat menyelipkan kuku diantara gigi kemudian ada yang tertinggal di sana seperti bakteri dan/atau serpihan kuku itu sendiri. Sumpah, sebelumnya saya tidak pernah membayangkan bakal nemu artikel tentang bahaya menggigit kuku ini di Qupas, dan tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaan buruk saya itu bisa berakibat fatal. Semua gara-gara sari kuku dinosaurus haha.

Baca Juga: #PDL Pondok Batu Biru Penggajawa

*tertunduk lesu*

Pernah, saya pernah begitu ... bagaimana dengan kalian? Pernahkah kalian mengganti tusuk gigi dengan kuku? Pernahkah kalian menggigit kuku dinosaurus sendiri? Kalau pernah ... berhenti dari sekarang! Dan, jangan lupa bagi tahu di papan komentar.

Semoga bermanfaat.


Cheers.

#PDL Ngopi Tjakep


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Saya tinggal di kampung, meskipun namanya Kota Ende, yang tidak mengenal istilah V60 atau Aeropress. Yang saya tahu seduhan kopi terenak yang juga disukai (alm.) Bapa adalah takarannya yaitu 2:1. Dua butir gula, satu jumput kopi. Dua sendok gula dan satu sendok kopi. Karena bubuk kopi yang bakal kami minum itu disangrai sendiri di rumah sampai ketek basah dan digiling di pasar dengan biaya antara 5K-an sampai 15K-an, jadi urusan seduh-menyeduh kopi ini selalu dengan takaran yang sama 2:1. Kadang saya meminum kopi tanpa tambahan gula. Rasanya? Ya rasa kopi, masa iya berubah jadi rasa yang pernah ada? Hehe.

Baca Juga : #PDL Tas DIY Celana Jin

Dulu saya pecinta kopi hitam. Kopi memang hitam sih pada umumnya. Maksud dari kopi hitam ini adalah kopi tanpa campuran apa-apa. Tanpa susu, tanpa krim, tanpa kamu. Tapi masih pakai gula. Lama-kelamaan mulai kenal Nescafe. Terus balik lagi ke kopi hitam. Sekarang, setiap pagi saya selalu meminum kopi dicampur susu bubuk. Gara-gara kadar gula dalam darah drop sampai angka 50, saya kemudian kembali meminum kopi susu + gula. Tapi? Kok? Iya, nasinya yang dikurangi atau bahkan di-skip dalam sehari, dengan olahraga maksimal tiga puluh menit setiap hari diantaranya jalan kaki dan menari sendiri dalam kamar kayak orang teler habis negak anggur satu tong. 

Tentang ngopi tjakep ini, adalah istilah saya untuk ngopi yang tidak perlu di kafe tapi sensasi kenikmatannya tiada tara.

Ceritanya ...

Mamatua adalah seorang mualaf. Tidak heran keluarga kami terdiri dari dua kelompok agama besar yaitu agama Islam dari pihak (alm.) Bapa dan agama Katolik dari pihak Mamatua. Kondisi ini membikin kami kaya raya. Adalah setiap hari raya kami saling bersilaturahmi. Manapula open house itu fardhu'ain setiap kali hari raya. Setiap Hari Raya Natal saya pasti punya jadwal tetap bersilaturahmi ke rumah adik-adiknya Mamatua dan semua saudara/i sepupu! Haha. Perjalanannya panjang banget. Belum lagi ke rumah tetangga dan teman kantor. Beda kalau Hari Raya Idul Fitri, giliran saya yang jaga gawang.

Di Kota Ende setiap hari raya adalah milik semua umat beragama. Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Natal, dan Hari Raya lainnya dirayakan bersama tanpa sekat, tanpa dogma tentang surga dan neraka.

Suatu kali, pada Hari Raya Natal yang tahunnya saya lupa, kondisi tubuh sudah super letih. Setiap Natal jadwal terakhir perjalanan kami memang di rumah Kak Selvy Bata. Nah, hari itu tibalah kami di rumah terakhir perjalanan silaturahmi, di rumah Kak Selvy yang saat itu sedang direnovasi. Tidak ada yang bisa memulihkan tenaga saya ... saya pikir ... sampai mata saya menumbuk stoples kacang mente atau kacang mede. Perlahan mata redup mulai menyala. Dengan santainya saya bertanya: Kak, ada kopi Bajawa kah? Jawabannya membikin mata saya semakin menyala.


Tjakep bener kan!?

Mari ngopi tjakep! Ngopi pada saat paling tepat, versi saya, ketika tubuh sudah tidak sanggup menampung segala macam ketupat dan lauk-pauk, es sirup, minuman bersoda, dan kukis manis semanis saya. Hihi. Seperti penangkal racun lah ini. Melihatnya, Kakak Selvy dan Kakak Marsel (suaminya Kakak Selvy yang asli Orang Bajawa - Ngada) hanya bisa terkekeh sambil geleng kepala.

Baca Juga : #PDL Menjadi Hakim Anggota

Tahun lalu saya bahkan mengajak Susan untuk bersilaturahmi bersama hahah. Dia akhirnya merasakan perayaan Hari Raya Natal di Kota Ende.

Susan, paling kiri dari kalian (kelihatan dari wajahnya donk ya) entah mengapa mendadak minta dipakaikan pashmina sama si Thika (paling kanan). Si pemilik rumah, Kakak Selvy, yang pakai baju kuning tanpa jilbab. Hehe.

Pernah, saya pernah begitu. Ngopi tjakep di rumah kakak, maupun ngopi tjakep di kantor saat sedang suntuk sama pekerjaan yang menumpuk alias banyak liputan yang belum diberitakan di media sosial dan website kampus.


Yihaaaa! Nikmatnya hidup. Ngopi tjakep di kantor saat suasana sepi dan dengerin lagu-lagunya Kitaro. Eh, dengerin lagu-lagunya John Mayer, Fastball, Norah Jones, atau lagu-lagu yang di-vintage lembut. Kata Abdur, aduh Mama sayang eee eeeeh. Meskipun saya bukan penikmat kopi di kafe, tapi urusan ngopi ini ... kita sama :D

Baca Juga : Mengumpulkan Si Kuning

Soooo ... bagaimana dengan ngopi tjakep kalian?



Cheers.

#PDL Menjadi Hakim Anggota

Coba tebak saya yang mana? Hehe.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Peradilan Semu mungkin terdengar asing di kuping teman-teman mahasiswa/i fakultas lain. Sama juga, PPL bagi mahasiswa/i FKIP pasti asing pula di kuping mahasiwa/i Hukum. Tapi bagi anak hukum, Peradilan Semu sudah mulai bergaung sejak semester awal. Bagaimana tidak? Mahasiswa/i baru mau tidak mau pasti melihat kakak-kakak semesternya berlatih di ruangan khusus berdinding hijau yang disebut Ruang Sidang Peradilan Semu dengan ekspresi wajah tokoh pengacara yang menggebu-gebu kayak pengen terkam dinosaurus. Sayangnya, ruangan tersebut terlalu sempit sehingga Peradilan Semu di kampus kami lebih sering digelar di Aula Fakultas Hukum (Universitas Flores). Yang penting tetap di aula sendiri kan hehe.

Baca Juga : #PDL Blog Travel

Peradilan Semu merupakan salah satu mata kuliah wajib pada Fakultas Hukum yang harus dipenuhi sebagai syarat sebelum mengajukan proposal penelitian (dan skripsi). Tahun lalu, saya dan teman-teman sungguh merasakan letihnya mengumpulkan anggota seangkatan dalam WAG, memilih kasus, menyusun peradilan, makan-makan, latihan, makan-makan lagi, latihan lagi, makan-makan terus, hingga pagelaran. Kok banyak makan-makannya? Semua kerja keras itu terbayarkan. Bukan karena nilainya bagus banget tapi karena proses menuju semakin mengeratkan kami. Arti kebersamaan itu tidak bisa dibayarkan dengan Dollar. Tapi kalau Rupiah, boleh lah *dikeplak sepatu*

Mengumpulkan para pemeran hahaha :D


Kasus yang kami pilih pada tahun 2017 kemarin adalah kasus tentang penganiayaan yang berakibat pada matinya orang. Matinya orang!? Heloooow are you sure? Tidak bisa pakai bahasa yang lebih sopan misalnya meninggalnya manusia? No no no. Kalau ada yang kuliah hukum pasti bakal cekikikan membaca ini. Sama seperti matinya orang, di dalam 'kamus' hukum pun tidak dikenal istilah pernikahan. Kata yang dipakai adalah perkawinan. Jadi, saya hanya bisa senyum-senyum kalau ada teman yang bilang: nikah dulu baru kawin. Karena bagi kami: kawin adalah segala-galanya seperti Perkawinan Beda Agama, Perkawinan Campur (antara WNI dengan WNA), Perkawinan di Bawah Tangan, dan seterusnya.

Sebenarnya kami ingin mengangkat kasus Jessica-Mirna tetapi karena menyusunnya betul-betul luar biasa sulit, sesulit proses aseli pengumpulan bukti hingga tidak adanya pengakuan dari terduga yang kemudian menjadi terpidana, akhirnya kami mengubah kasus.

Kembali pada penganiayaan yang berakibat pada matinya orang ...

Kasus ini, murni disusun sendiri alias bukan menjiplak karya Peradilan Semu sebelumnya, adalah tentang suami yang menganiaya isterinya sampai meninggal dunia. Pada saat rembug tentang kasus ini kami saling silang pendapat tentang pasal apa yang mau dipakai untuk menjerat si suami. Akhirnya dipakai dua pasal untuk mendakwa.

Primair:
Pasal 44 ayat (3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Subsidair:
Pasal 351 ayat (3) KUHP.

Baca Juga : #PDL I Can Sleep Everywhere

Selain itu kami juga harus memikirkan jumlah anggota dan jumlah tokoh: hakim, jaksa, pengacara, terdakwa, saksi, petugas, Pastor dan Ustadz (untuk sumpah), dan lain sebagainya. Termasuk harus betul-betul memikirkan tentang barang bukti yang akan dipakai.

Makan, makan lagi, lagi-lagi makan.


Proses penyusunan berkas/naskah persidangan membutuhkan waktu yang cukup lama. Semua dilakukan di rumah saya yang kebetulan ruang tamunya lapang. Jadi, kami memasang proyektor yang ditembak ke dinding rumah. Beberapa orang bertugas, tentunya kecepatan mengetik harus setara cahaya, untuk mengetik naskah yang disusun bersama itu. Bayangkan, kami menyusun sepuluh persidangan yang dimulai dari sidang pembacaan dakwaan sampai putusan. Contohnya bisa dilihat seperti pada gambar berikut ini:



Beruntungnya karena seangkatan berasal dari bermacam profesi, jadi banyak ide yang terus berkembang dan bergolak seiring penyusunan naskah Peradilan Semu tersebut. Misalnya John Djenlau yang bekerja di Pengadilan Negeri Ende. Jelas dia bisa memberikan masukan demi kebaikan si naskah. Teman-teman polisi seperti Irmina, Egos, Moat, Benny, dan lain-lain juga sangat membantu terutama tentang pemeriksaan di kantor polisi (pra naskah). Angkatan kami memang paling lengkap hahaha. Ada Edwin Firmansyah dari TNI AD, ada Effie Rere yang bekerja di Kantor Pertanahan, dan lain ragam profesi termasuk yang belum bekerja karena setelah lulus SMA langsung kuliah.

Pada serius menyusun naskah.


Setelah naskah selesai disusun, naskah diserahkan kepada dosen pembimbing Peradilan Semu. Lantas mulailah latihan di ruang hijau itu. Eits, tapi jangan salah, kami juga latihan sendiri di rumah saya, di luar jadwal latihan di kampus yang dikeluarkan oleh dosen hehehe. Soalnya kami sangat bersemangat dan ingin Peradilan Semu ini sukses! Lebih sukses dari angkatan kemarin-kemarin. Karena ruang tamu rumah saya, lagi-lagi, lapang, jadi sangat cukup membantu proses latihan Peradilan Semu.

Baca Juga : #PDL Makam Sunan Gunung Jati

Tatapan mata hakim ... sadis hahaha.


Awalnya bukan saya yang menjadi hakim. Tapi karena satu dan lain hal, akhirnya saya menjadi Hakim Anggota II. Ciyusss? Padahal saya pengen jadi orang di luar persidangan supaya bisa ngerekam video dan foto-foto. Untunglah ada Martozzo Hann si fotografer yang turut membantu mengabadikan Peradilan Semu itu. Menjadi hakim itu paling mudah karena ... errr ... kasih tahu tidak yaaa hehe. Karena hakim bisa membuka-buka berkas di atas meja jadi tidak seberapa harus menghafal dialog demi dialog. Mana pula berkasnya ketutup sama papan keterangan yang gede itu *ngikik*.

Memerankan hakim memang menyenangkan. Tapi memakai jubah hakim merupakan sesuatu yang lain. Ada perasaan bangga gimanaaa gitu qiqiqi. Lebih bangga lagi karena semua dosen hadir dan benar-benar menyimak proses persidangan dari awal sampai akhir. Luar biasa. Tidak akan pernah terlupakan! Karena kami rajin berlatih, Peradilan Semu tahun 2017 itu betul-betul terlihat sangat alami. Dialog-dialog antara hakim, jaksa, pengacara, terdakwa, saksi, berjalan dengan lancar tanpa kendala. Bahasanya pun bukan bahasa sinetron karena kami memang sudah berjanji untuk harus bisa berimprovisasi dengan bahasa sehari-hari yang lebih lugas alias tidak terlalu terpaku pada naskah yang ada, tapi tidak terkesan terlalu santai di dalam ruang sidang.

Keberatan, Yang Mulia!!!!

Sialnya ... sampai sekarang saya belum mengedit video Peradilan Semu itu. Dududu, untung belum ada yang menagih.

Foto Peradilan Semu kami, masuk di bookleat baru Universitas Flores. Yuhuuuu!


Menulis ini, sambil membayangkan Peradilan Semu mulai dari penyusunan naskah hingga pagelaran, bikin kangen. Hehe. Meskipun ada yang lebih dulu diwisuda tahun lalu, dan sisanya tahun ini, tapi kekompakan kami tidak pernah luntur. Kami masih kongkow bareng di rumah saya sambil gitaran dan ngemil. Kami masih saling terhubung lewat WAG. Kami masih saling membantu satu sama lain. Kami adalah keluarga besar. Sampai-sampai ada adik angkatan yang mengatakan bahwa angkatan kami adalah angkatan paling luar biasa kompak sejak semester satu sampai wisuda. Mereka belum tahu saja bahwa komisaris angkatan kami itu tidak pernah diganti dari semester satu sampai wisuda! Iya, setiap kali saya minta diganti, semua pada protes. Kompensasinya kalau saya mengomel ini itu, mereka tidak boleh protes, hahaha.

Baca Juga : #PDL Pondok Batu Biru Penggajawa

Pernah, saya pernah merasakan menjadi Hakim Anggota II meskipun hanya di sebuah ruang sidang Peradilan Semu.

Bagaimana dengan kalian? Ada yang anak hukum? Bagi tahu donk kisah Peradilan Semu-nya hehe.

Life is good ... isn't it?



Cheers.

#PDL Blog Travel


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Dulu belum ada istilah niche blog. Tapi dulu saya sudah memilah tulisan untuk dipos di blog berbeda. Puluhan blog pun terdaftar dari akun yang sama. Hanya beberapa yang bertahan. Yang lain tidak dipublikasikan karena ceritanya sudah selesai. Misalnya blog soal Band Hulk yang gokil (ini band halu yang personilnya dari teman-teman Undernet mIRC dulu), atau blog serial-serial, atau blog puisi. Ah, gila ya ... saya dulu suka banget menulis puisi yang jeleknya minta ampun

Baca Juga : #PDL Ngojek Sepeda

Di #PDL kali ini, saya cuma pengen ngasih tahu bahwa dulu saya pernah bikin blog tentang perjalanan. Istilahnya blog travel


Blog itu di atas *tunjuk tautan* pernah mati lama banget. Lantas karena satu dan lain hal kembali saya isi dengan konten-konten tentang perjalanan ke sana sini. Kalau dulu banyak tulisan tentang perjalanan saya ke kota lain, tapi sekarang lebih banyak menulis tentang Kabupaten Ende tercinta. Sesuai jargonnya blog itu: traveling the world, start from your own hometown. Artinya? Cari sendiri hahaha *ditimpuk*

Baca Juga : I Can Sleep Everywhere

Jadi, kalau kalian pengen tahu perjalanan saya; tempat wisata dan/atau kuliner dan/atau sekadar cerita jalan-jalan, silahkan meluncur pakai penggorengan ke blog tersebut.

#UdahGituAja


Cheers.

#PDL Blog Travel


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Dulu belum ada istilah niche blog. Tapi dulu saya sudah memilah tulisan untuk dipos di blog berbeda. Puluhan blog pun terdaftar dari akun yang sama. Hanya beberapa yang bertahan. Yang lain tidak dipublikasikan karena ceritanya sudah selesai. Misalnya blog soal Band Hulk yang gokil (ini band halu yang personilnya dari teman-teman Undernet mIRC dulu), atau blog serial-serial, atau blog puisi. Ah, gila ya ... saya dulu suka banget menulis puisi yang jeleknya minta ampun

Baca Juga : #PDL Ngojek Sepeda

Di #PDL kali ini, saya cuma pengen ngasih tahu bahwa dulu saya pernah bikin blog tentang perjalanan. Istilahnya blog travel


Blog itu di atas *tunjuk tautan* pernah mati lama banget. Lantas karena satu dan lain hal kembali saya isi dengan konten-konten tentang perjalanan ke sana sini. Kalau dulu banyak tulisan tentang perjalanan saya ke kota lain, tapi sekarang lebih banyak menulis tentang Kabupaten Ende tercinta. Sesuai jargonnya blog itu: traveling the world, start from your own hometown. Artinya? Cari sendiri hahaha *ditimpuk*

Baca Juga : I Can Sleep Everywhere

Jadi, kalau kalian pengen tahu perjalanan saya; tempat wisata dan/atau kuliner dan/atau sekadar cerita jalan-jalan, silahkan meluncur pakai penggorengan ke blog tersebut.

#UdahGituAja


Cheers.

#PDL Ngojek Sepeda


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Hari itu, salah satu hari pada tahun 2013, saya janjian sama Ika Soewadji dan teman-teman Blogfam untuk pergi ke Kota Tua Jakarta. Teman-teman Blogfam yang baik hati itu ada Kakak Mas, Kakak Dahlia atau akrab disapa Kakak Day, dan Kakak Diaz. Check point di Terminal Busway Pancoran Timur. Sekitar pukul 08.00 WIB kami sudah berkumpul di situ untuk melanjutkan perjalanan menuju Kota Tua Jakarta. Karena, berkali-kali ke Jakarta tapi belum ke Kota Tua rasanya kok ada yang ganjal. Saya harus menuntaskan ngidam yang satu ini.

Baca Juga : #PDL Braket

Kota Tua Jakarta juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta yang memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka). 

Perjalanan kami waktu tidak langsung ke Kota Tua Jakarta sih, masih mampir ke sebuah tempat, lalu dilanjutkan dengan mobil ke sana. Saat tiba di Kota Tua Jakarta, yang mengganjal itu kemudian lenyap. Here I am! Tempat yang selalu saya idam-idamkan setiap kali datang ke Jakarta. Mata saya menumbuk Museum Fatahillah. Sebuah meriam berdiri di sisi kiri bangunan museum. Meriam si Jagur. Dari Liputan6, dikatakan meriam seberat 3,5 ton itu, menurut Thomas B. Ataladjar, pengajar jurnalistik dan menulis di SMP dan SMK Plus Berkualitas Lengkong Mandiri, Kota Tanggerang Selatan, dibuat dari peleburan 16 meriam kecil lain. Karena itu, wajar bila si pembuat mengukir tulisan Ex Me Ipsa Renata Sum yang berarti, "Aku diciptakan dari diriku sendiri."

Dan saya diciptakan untuk bisa berfoto dengannya:


Pada meriam ini, bagian ujungnya, ada sebuah simbol yang kalau di Ende orang bilang; kurang ajar. Hehe. Sebuah tangan yang mengepal dengan ibu jari terselip diantara jari telunjuk dan jari tengah. Konon, jika perempuan menyentuh simbil meriam si Jagur, dan sedang berencana punya anak, bisa lekas hamil.

Sudah membuktikan, Teh?

Uh uh. Belum.

Adalah Kakak Diaz atau Kakak Dahlia, I can't remember it clearly, yang menyarankan kita untuk berkeliling menggunakan jasa ojek sepeda. It's weird. Sepeda? Are you sure? Yess, sir! Dari Museum Fatahillah kita berangkat ke Pelabuhan Sunda Kelapa. Jujur saya memilih, very quick scan, tukang ojek paling muda, kira-kira kuat lah memompa kakinya dengan muatan seberat saya. BismillahTernyata naik ojek sepeda itu menyenangkan. Saya mengeluarkan kamera supaya bisa mengabadikan momen keren ini. Karena, saudara-saudara, di Ende tidak ada ojek sepeda. Bisa depresi tukang ojeknya! Tanjakan dan turunan adalah nama tengah kota kami.


Jelas, ada kekuatiran dalam hati saya, bagaimana jika betis tukang ojeknya tidak mau kompromi? Hehehe. 


Tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa, tukang ojek sepedanya disuruh menunggu. Kami hanya sempat foto-foto sebentar. Saya sendiri tidak bertanya pada beberapa nelayan yang ada di situ. Entahlah. Pemandangan pelabuhan ini bikin saya terkesima; so old, so antique. Asyiknya bisa foto sambil meloncat begini:


Saya penasaran, ke mana kah kaos dan sepatu itu sekarang? :D

Dari Pelabuhan Sunda Kelapa, kita pergi ke Museum Bahari, tentu ojek sepedanya setia menunggu hahaha. 


Terimakasih sudah memotret saya ... terngiang lagu Padamu Negeri. Sebenarnya banyak informasi yang saya gali dari Museum Bahari, dan sempat mencatat beberapa, tapi waktu itu belum sempat menulis secara terpisah. Nanti deh, dicari dulu serpihannya. Oia, setelah dari Museum Bahari kami ke Pecinan lantas pergi mencari makan.

Berakhirnya pengalaman saya bareng tukang ojek sepeda adalah saat kami tiba di sebuah rumah makan masakan Padang. Dadagh abang tukang ojek sepeda.

Ojek sepeda memang tidak sama dengan ojek sepeda motor. Pengalamannya seru apalagi saat sepeda melintasi lubang di jalanan atau saat tukang ojek sepedanya menghindari lubang dan/atau batu. Pegangan di belakang sadel kecil itu cukup membantu. Jangan banyak bergerak dan keliwat kuatir, apalagi sampai teriak ketakutan, karena itu bakal bikin tukang ojek sepedanya gugup. Dan, tentu, ojek sepeda, menurut saya, hanya akan laku di daerah wisata dan/atau wilayah kecil seperti pedesaan yang topografinya datar.

Pernah, saya pernah begitu ... ngojek sepeda di Kota Tua Jakarta. Bagaimana dengan kalian?



Cheers.

#PDL I Can Sleep Everywhere



#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; jalan-jalan di sekitar Kabupaten Ende, backpacker-an ke tempat-tempat di luar Kota Ende, 'merusuhi' acara, termasuk perbuatan-perbuatan iseng bin jahil bin nekat.

***

Jum'at barokah. Jum'at, entrance weekend. Dan kalau sudah menulis weekend, pasti berhubungan sama hari pembebasan umat manusia dari rutinitas kerja rodi khususnya orang kantoran yang kudu bekerja dari Senin sampai Jum'at. Meskipun waktu kerja saya Senin sampai Sabtu tapi setiap Jum'at saya tetap bersenang-senang menunggu weekend soalnya Sabtu itu pekerjaan lebih longgar dari weekdays. Oke, prolognya cukup sekian. Biasanya saya bakal lama banget bermain-main di prolog.


Sebenarnya saya sudah berniat untuk tidak meng-update tulisan dalam dua hari ini karena:

1. Mempersiapkan wisuda (besok).
2. Panitia Ema Gadi Djou Memorial Cup 2018. Seperti biasa, anggota panitia Seksi Publikasi dan Dokumentasi.

Tetapi, karena suatu hal, saya tidak tahan untuk tidak bercerita. Jari-jari tangan saya gatalnya minta ampun!

Alkisah, Selasa malam saat pertandingan kedua yang mempertemukan Muthmainah FC dan IM Ertiga FC, saya diserang kantuk yang luar biasa saat sedang duduk di pinggir lapangan Stadion Marilonga bersama Anto Ngga'a. Padahal tidak alasan mendasar kenapa saya mendadak mengantuk begitu karena saya memang tidak biasa tidur siang. Meskipun pagi sampai sore saya bergulat dengan seabrek kegiatan pun tidak dapat membuat saya mengantuk kesorean. Tapi mungkin kegiatan Selasa kemarin rada padat ya, jadi saya sudah cukup lelah padahal baru pukul 20.00an Wita. Itu belum ditambah dengan JMKK.

Maka saya pun pamit pada Anto untuk masuk ke ruangan media center. Semua kursi penuh penumpang; wajah-wajah letih. Wah, mau duduk di mana ini. Eh, mata saya menumbuk seonggok karpet yang ditumpuk di dekat sudut ruangan. Duduk ah ... dari duduk menjadi rebah. Dari rebah menjadi ngorok. Hahaha. Sempat sih dengar Oston, si MC kondang, duduk di dekat saya bermain ML tapi terus saya hilang ke alam gelap. Lelap saja gitu, tanpa mimpi (ngarep mimpi ketemu Ryan Gosling). Thika Pharmantara yang temani cuma bisa melihat dari jauh ... pasrah punya Encim macam begini.


Ternyata aksi tidur itu diabadikan oleh Selfi dengan penuh semangat, lantas mengirimkannya via WA. Ebusyet, saya tidurnya cantik gini:


Kayak putri tidur hahaha.

Saya memang bisa tidur di mana saja. Yess, darling! I can sleep everywhere. Pernah, suatu kali kami serombongan pulang dari pernikahan sahabat kami di Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo, jadi #KuliKamera gitu. Di tengah perjalanan saya mendadak ngantuk parah. Tanpa ba-bi-bu saya minta turun di daerah pantai. Tahukah kalian, ketika mata sudah dikuasai kantuk, hamparan pasir hitam itu terlihat seperti ranjang maha empuk? Lempar backpack ke pasir, jadi bantal, rebahan, dan hilang ke alam mimpi. Entah waktu itu mimpi apa, yang jelas saya tidur sampai dua jam lebih, meninggalkan Kakak Pacar, Akiem, dan Effie ternganga di alam nyata.

Pernah juga waktu saya dan Kakak Pacar #KuliKamera di Laja, saya diserang kantuk parah sepagi itu. Begitu tiba di Kecamatan Boawae, lihat masjid, langsung tepar di terasnya! Sampai Kakak Pacar dibangunin sama penjaga masjid, menyarankan saya tidur di dalam saja. Tidak apa-apa katanya. Tapi mana bisa saya bangun? Sudah enaaaak sekali tidurnya hihihi. Pernah juga waktu pulang dari Danau Kelimutu, sedang dibonceng Kakak Pacar, saya diserang kantuk. Sumpah, itu tidak tahan lagi kantuknya. Kakak Pacar meminta saya tidur di pundaknya. Memang tidak bagus, tapi lumayan semenit dua menit, tapi tidak sempurna kan. Tiba di rumah langsung tepar tidak pakai permisi lagi.

Untung ... Kakak Pacar paham :D hihihi.

Kejadian saya ketiduran di sembarang tempat itu, yang paling parah, waktu saya ketiduran di gate dan ketinggalan pesawat dari Surabaya menuju Kupang. Tobat? Maunya tobat. Tapi kalau sudah mengantuk, harus tanggung segala resiko *angkat bahu*.

Pernah, saya pernah begitu. Because I can sleep everywhere. Pernahkah kalian begitu juga? Tidur di sembarang tempat saking tidak tahan kantuk? Bagi tahu donk di komen.


Satu saja doa saya hari ini: bisa tidur lebih cepat, besok tidak terlambat bangun supaya bisa menuju ke salonnya Deth Radja buat make up, dan hadir prosesi wisuda dengan wajah cerah ceria. Aaaaaawwww.

Doakan saya ya :)


Cheers.

#PDL Mengumpulkan Si Kuning


#PDL adalah Pernah DiLakukan.  Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; jalan-jalan di sekitar Kabupaten Ende, backpacker-an ke tempat-tempat di luar Kota Ende, merusuhi acara, termasuk perbuatan-perbuatan iseng bin jahil bin nekat.

***

Setiap orang pasti punya warna favorit. Waktu masih kecil, mana tahu soal warna ini. Apapun barang yang dibelikan orangtua pasti dicintai sepenuh hati meskipun warnanya pelangi banget. Baju merah? Oke! Celana putih? Oke! Sepatu cokelat? Oke! Pergeseran usia dan pergaulan membikin saya menyukai warna hitam, kemudian. Karena konon katanya kalau pakai kaos hitam, misalnya, bakal bikin saya terlihat lebih langsing dari kondisi alam dan cuaca yang sebenarnya. Ternyata ... tidak hanya suara saja yang bisa menipu. Warna pun demikian. Hahaha. Waktu lihat lemari mulai didominasi warna hitam, senang bukan main karena deal sudah punya wana favorit.

Baca Juga : #PDL Langgar Sungai Lewati Lembah

Sekitar tahun 2012, saat mengambil cuti dengan cerita ketinggalan pesawat di Bandara Juanda, saya mulai menyukai warna kuning. Bukan hanya menyukai, tapi mencintai sepenuh jiwa dan raga. Adalah pagi hari baru turun dari mobil travel yang membawa saya dari Jogja ke bandara, masuk kamar mandi buat cuci muka dan gosok gigi, saya melihat ke cermin. Siapa kamu? Kok kamu cerah sekali sepagi ini memakai baju barong warna kuning? Kamu ngeledek saya ya? Ternyata pantulan di cermin dengan saya memakai baju warna kuning itu benar-benar memberi semangat baru pada saya meskipun hari itu, kemudian, saya ketiduran di depan gate dan ketinggalan pesawat menuju Kupang. Haha!


Saya: Pak, maaf mau tanya, Lion Air ke Kupang sudah berangkat?

Petugas: Ituuu baru saja take off (menunjuk ke luar lewat jendela kaca).



Sejak itu lah saya mulai ... yang dari hanya menyukai menjadi mencintai alias tergila-gila pada si kuning!


Biasanya akan selalu ada pertanyaan, "Kenapa suka warna kuning?" atau warna favorit kalian. Maka saya punya jargon yang juga dipakai untuk motto skripsi yaitu:

YELLOW IS THE COLOUR OF HOPE

Kuning adalah warna pengharapan. Filosofinya begini, kawan.  Setiap bocah SD pasti akan menggunakan warna kuning sebagai warna matahari yang terpeta di antara dua bukit/gunung. Artinya, setiap hari dalam kehidupan kita selalu ada harapan untuk lebih baik dari hari kemarin. Selain itu, agar harapan-harapan itu terwujud, jangan lupa untuk selalu berhati-hati dalam setiap langkah kita. The traffic light selalu memperingatkan kita untuk berhati-hati yang diwakili dengan warna kuning. Mau punya harapan hidup? Berhati-hatilah di jalan raya! Qiqiqiq.


Perburuan warna kuning pun dimulai. Satuper satu barang warna kuning mulai mengisi kamar saya: kaos, gaun, sepatu, dompet, gantungan kunci, alat tulis, bando, kacamata, backpack, mukenah, jam tangan, gelang-gelang, sampai boneka-boneka ucul. Teman-teman yang bepergian pun tidak kesulitan membeli oleh-oleh *halah* karena mereka tahu, pasti barang berwarna kuning yang saya minta. Seperti oleh-oleh kaos dari Brazil ini, yang diberikan oleh big boss:

Waktu itu sedang Ramadhan. Izin dari kantor Shalat Dzuhur di Masjid Agung, disuruh isteri big boss ke rumah buat ngambil kaos ini.

Atau dry bag yang satu ini dari Ronald Diningrat:


Bahkan dulu saya punya satu set tas dan sepatu yang wajib dipakai setiap hari sebelum tasnya saya hibahkan ke Wakil Presiden Negara Kuning, serta si sepatu rusak, haha:


Urusan warna kuning ini sampai merembet ke mukenah buat shalat sehari-hari. Dikirim sama teman traveler dari Bali:


Noel Fernandez, teman duet saya di Notes (Noel and Tuteh SideProject) mengecat ulang gitar kesayangan saya dengan warna kuning. Aaaah terima kasih Noel:


Saking banyaknya barang warna kuning, saya bahkan pernah memakai lima gelang warna kuning sekaligus, sampai-sampai saya disebut Presiden Negara Kuning. A-ha! Ponakan saya, si Indy, akhirnya menyukai warna kuning juga. Katanya, biar sama kayak si Encim. Lucunya, pas dia ulangtahun, dia minta dibikinkan cake sama Mamanya: Frozen warna kuning! Hahaha ... mana ada Frozen warna kuning. Itu kan biru-putih begitu. Keinginan Indy terpenuhi dan dia kemudian menjadi Wakil Presiden Negara Kuning:


Luar biasa si wakil ini *ngakak guling-guling*. Tapi sekarang dia berkhianat, dia lebih suka merah, karena katanya warna kuning itu cemburu dan dia tidak suka cemburu. Whaaatt!? Sumpah kalau ingat itu saya tidak tahan ngakak.


Mengumpulkan si kuning, baik yang saya beli sendiri maupun yang dihadikan oleh orang lain, merupakan perbuatan paling menyenangkan. Mata saya jadi segar banget gitu kalau lihat warna kuning. Kadang proses mengumpulkan ini jadi begitu menjengkelkan ketika ada orang asing memakai sesuatu berwarna kuning dan saya menginginkannya! Ya iya laaah mana mau orang itu ngasih barangnya ke elu, Teh. Saya kemudian sering dipanggil "Kuning". Kuning semacam identitas yang melekat erat dengan diri saya. Tuteh itu kuning, kuning itu Tuteh.


Yang mengesankan adalah setiap kali ada perayaan tertentu, keponakan saya si Indri dan Kakak Niniek pasti bikin cake kuning. Kejutannya benar-benar luar biasa.


Bahkan saat saya yudisium:


Tapi yang pasti, jangan lupa untuk memakan buah kuning, karena konon katanya *lihat gambar di bawah*:


Nah, saya punya warna kesukaan kuning dengan jargon: yellow is the colour of hope atau kuning adalah warna pengharapan. Jangan pernah berhenti berharap.


Pernah, saya pernah begitu, mencintai warna kuning dan mengumpulkan begitu banyak barang berwarna kuning yang tidak semuanya dapat saya pos di sini karena terlalu banyak. Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu donk di komentar. Termasuk alasan kalian kenapa sampai menyukai suatu warna. Tapi kalau kalian juga penyuka kuning, kita toss dulu dooooonk :)




Cheers.

#PDL Mengumpulkan Si Kuning


#PDL adalah Pernah DiLakukan.  Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; jalan-jalan di sekitar Kabupaten Ende, backpacker-an ke tempat-tempat di luar Kota Ende, merusuhi acara, termasuk perbuatan-perbuatan iseng bin jahil bin nekat.

***

Setiap orang pasti punya warna favorit. Waktu masih kecil, mana tahu soal warna ini. Apapun barang yang dibelikan orangtua pasti dicintai sepenuh hati meskipun warnanya pelangi banget. Baju merah? Oke! Celana putih? Oke! Sepatu cokelat? Oke! Pergeseran usia dan pergaulan membikin saya menyukai warna hitam, kemudian. Karena konon katanya kalau pakai kaos hitam, misalnya, bakal bikin saya terlihat lebih langsing dari kondisi alam dan cuaca yang sebenarnya. Ternyata ... tidak hanya suara saja yang bisa menipu. Warna pun demikian. Hahaha. Waktu lihat lemari mulai didominasi warna hitam, senang bukan main karena deal sudah punya wana favorit.

Baca Juga : #PDL Langgar Sungai Lewati Lembah

Sekitar tahun 2012, saat mengambil cuti dengan cerita ketinggalan pesawat di Bandara Juanda, saya mulai menyukai warna kuning. Bukan hanya menyukai, tapi mencintai sepenuh jiwa dan raga. Adalah pagi hari baru turun dari mobil travel yang membawa saya dari Jogja ke bandara, masuk kamar mandi buat cuci muka dan gosok gigi, saya melihat ke cermin. Siapa kamu? Kok kamu cerah sekali sepagi ini memakai baju barong warna kuning? Kamu ngeledek saya ya? Ternyata pantulan di cermin dengan saya memakai baju warna kuning itu benar-benar memberi semangat baru pada saya meskipun hari itu, kemudian, saya ketiduran di depan gate dan ketinggalan pesawat menuju Kupang. Haha!


Saya: Pak, maaf mau tanya, Lion Air ke Kupang sudah berangkat?

Petugas: Ituuu baru saja take off (menunjuk ke luar lewat jendela kaca).



Sejak itu lah saya mulai ... yang dari hanya menyukai menjadi mencintai alias tergila-gila pada si kuning!


Biasanya akan selalu ada pertanyaan, "Kenapa suka warna kuning?" atau warna favorit kalian. Maka saya punya jargon yang juga dipakai untuk motto skripsi yaitu:

YELLOW IS THE COLOUR OF HOPE

Kuning adalah warna pengharapan. Filosofinya begini, kawan.  Setiap bocah SD pasti akan menggunakan warna kuning sebagai warna matahari yang terpeta di antara dua bukit/gunung. Artinya, setiap hari dalam kehidupan kita selalu ada harapan untuk lebih baik dari hari kemarin. Selain itu, agar harapan-harapan itu terwujud, jangan lupa untuk selalu berhati-hati dalam setiap langkah kita. The traffic light selalu memperingatkan kita untuk berhati-hati yang diwakili dengan warna kuning. Mau punya harapan hidup? Berhati-hatilah di jalan raya! Qiqiqiq.


Perburuan warna kuning pun dimulai. Satuper satu barang warna kuning mulai mengisi kamar saya: kaos, gaun, sepatu, dompet, gantungan kunci, alat tulis, bando, kacamata, backpack, mukenah, jam tangan, gelang-gelang, sampai boneka-boneka ucul. Teman-teman yang bepergian pun tidak kesulitan membeli oleh-oleh *halah* karena mereka tahu, pasti barang berwarna kuning yang saya minta. Seperti oleh-oleh kaos dari Brazil ini, yang diberikan oleh big boss:

Waktu itu sedang Ramadhan. Izin dari kantor Shalat Dzuhur di Masjid Agung, disuruh isteri big boss ke rumah buat ngambil kaos ini.

Atau dry bag yang satu ini dari Ronald Diningrat:


Bahkan dulu saya punya satu set tas dan sepatu yang wajib dipakai setiap hari sebelum tasnya saya hibahkan ke Wakil Presiden Negara Kuning, serta si sepatu rusak, haha:


Urusan warna kuning ini sampai merembet ke mukenah buat shalat sehari-hari. Dikirim sama teman traveler dari Bali:


Noel Fernandez, teman duet saya di Notes (Noel and Tuteh SideProject) mengecat ulang gitar kesayangan saya dengan warna kuning. Aaaah terima kasih Noel:


Saking banyaknya barang warna kuning, saya bahkan pernah memakai lima gelang warna kuning sekaligus, sampai-sampai saya disebut Presiden Negara Kuning. A-ha! Ponakan saya, si Indy, akhirnya menyukai warna kuning juga. Katanya, biar sama kayak si Encim. Lucunya, pas dia ulangtahun, dia minta dibikinkan cake sama Mamanya: Frozen warna kuning! Hahaha ... mana ada Frozen warna kuning. Itu kan biru-putih begitu. Keinginan Indy terpenuhi dan dia kemudian menjadi Wakil Presiden Negara Kuning:


Luar biasa si wakil ini *ngakak guling-guling*. Tapi sekarang dia berkhianat, dia lebih suka merah, karena katanya warna kuning itu cemburu dan dia tidak suka cemburu. Whaaatt!? Sumpah kalau ingat itu saya tidak tahan ngakak.


Mengumpulkan si kuning, baik yang saya beli sendiri maupun yang dihadikan oleh orang lain, merupakan perbuatan paling menyenangkan. Mata saya jadi segar banget gitu kalau lihat warna kuning. Kadang proses mengumpulkan ini jadi begitu menjengkelkan ketika ada orang asing memakai sesuatu berwarna kuning dan saya menginginkannya! Ya iya laaah mana mau orang itu ngasih barangnya ke elu, Teh. Saya kemudian sering dipanggil "Kuning". Kuning semacam identitas yang melekat erat dengan diri saya. Tuteh itu kuning, kuning itu Tuteh.


Yang mengesankan adalah setiap kali ada perayaan tertentu, keponakan saya si Indri dan Kakak Niniek pasti bikin cake kuning. Kejutannya benar-benar luar biasa.


Bahkan saat saya yudisium:


Tapi yang pasti, jangan lupa untuk memakan buah kuning, karena konon katanya *lihat gambar di bawah*:


Nah, saya punya warna kesukaan kuning dengan jargon: yellow is the colour of hope atau kuning adalah warna pengharapan. Jangan pernah berhenti berharap.


Pernah, saya pernah begitu, mencintai warna kuning dan mengumpulkan begitu banyak barang berwarna kuning yang tidak semuanya dapat saya pos di sini karena terlalu banyak. Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu donk di komentar. Termasuk alasan kalian kenapa sampai menyukai suatu warna. Tapi kalau kalian juga penyuka kuning, kita toss dulu dooooonk :)




Cheers.