Dikunjungi Legolas


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Saya sudah pernah cerita bahwa rumah saya, si Pohon Tua, merupakan tempat yang cukup ramai di Planet Bumi dikarenakan para krucil tetangga. Ramainya bisa jadi karena mereka datang belajar bersama Mamatua. Ramainya bisa jadi karena dulu pun di rumah saya ada tempat penyewaan Play Station alias PS. Kasus kehilangan flashdisk game PS bukan barang baru tapi toh biarkan saja, namanya juga anak-anak. Kadang keinginan yang super untuk memiliki membikin mereka terpaksa mencabut flashdisk, dan dibayang-bayangi sedikit rasa berdosa.

Baca Juga: Nokia 5300

Berkaitan dengan pos ini, saya pikir aksi cepat memotret yang menjadi kebiasaan saya selama ini ternyata ada manfaatnya juga pos serupa #PDL. Karena, pada suatu hari saat sedang duduk nganga di rumah menyaksikan tingkah krucil yang sedang bermain PS, tahu-tahu datang anak ini, berdiri menghalangi pandangan saya. Busyet!

SAYA DIKUNJUNGI LEGOLAS!


Siap mencabut anak panah dan memanah mobil-mobil di dalam game PS. Haha. Sumpah, ini salah satu foto terbaik krucil yang pernah main di rumah saya. Tinggal cek kupingnya mirip kuping para elf atau tidak *ngikik*. 

Pernah, saya pernah begitu, langsung potret ketika melihat hal-hal seunik ini. Bagaimana dengan kalian?



Cheers.

Nokia 5300


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Hola! Singkat dan ringan saja. Saya pernah memakai HP jadul yang satu ini. Nokia 5300. Dan tadi, waktu membongkar map-map demi mencari KTP Mamatua yang entah ada di mana, eh ketemu CD program Nokia 5300! Busyet hahaha. Zaman sekarang sih tidak perlu lagi yang namanya CD program/software kan ya. Dan saya masih menyimpannya. Haha.



Cheers.

Nokia 5300


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Hola! Singkat dan ringan saja. Saya pernah memakai HP jadul yang satu ini. Nokia 5300. Dan tadi, waktu membongkar map-map demi mencari KTP Mamatua yang entah ada di mana, eh ketemu CD program Nokia 5300! Busyet hahaha. Zaman sekarang sih tidak perlu lagi yang namanya CD program/software kan ya. Dan saya masih menyimpannya. Haha.



Cheers.

Pengumpul Pin


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

Dalam dunia blogging, identitas blogger dan/atau komunitas blogger diwakilkan dalam bentuk berbagai barang antara lain kaos, backpack, drawing bag, buku catatan, alat tulis, mug, hingga pin. Setiap acara blogger mulai dari Pesta Blogger, Blogger Nusantara, Asean Blogger, dan kegiatan lainnya seperti FGD yang melibatkan blogger, setiap peserta pasti mendapat barang-barang identitas ini. Zaman dulu, waktu masih sangat aktif dalam berbagai kegiatan luring blogging, dan kegiatan-kegiatan serupa masih ramai digelar, saya pasti memperoleh barang-barang ini. 

Baca Juga: Memen

Di bawah ini adalah beberapa barang identitas yang tempat penyimpanannya masih terjangkau tangan, saat menulis ini bisa sempat memotretnya, barang lainnya kudu dicari di lemari-lemari haha.

Kaos Pesta Blogger 2008 yang dikirimkan oleh Om Bisot

Kopdar Blogger Nusantara 2011 dibawain sama Yudith Ngga'a. 

Kopdar Blogger Nusantara 2012 di Makassar.

Salah satu barang identitas ini adalah pin bros. Pin bros atau disingkat pin, merupakan barang identitas yang paling ringan dan paling hemat tempat. Jadi, banyak juga blogger yang membawanya sebagai wakil dari komunitas blogger-nya atau komunitas lainnya. Saking banyaknya pin yang saya peroleh, saya sampai memasangnya di bagian depan backpack atau di tali tas selempang. Selain dari komunitas dan perorangan, saya juga mendapat pin-pin cantik dari taman nasional salah satunya Taman Nasional Kelimutu.

Penampakan pin-pin itu dapat kalian lihat pada foto di awal pos, sisanya bisa dilihat di bawah ini:


Tapi itu baru sebagian saja. Sebagian lainnya entah ada di mana haha. 

Sampai sekarang saya masih suka mengumpulkan pin, lumayan dipakai di jilbab wkwkwkw, karena saya tipenya sederhana. Cukup jilbab segi empat yang dilipat menjadi segitiga, peniti (saya tidak terbiasa memakai pentul) dan pin sebagai penyambung. Pin-pin lainnya seperti pin Relawan Taman Bung Karno, pin Ratenggoji, dan lain sebagainya.


Jadi, pernah ... saya pernah melakukannya. Mengumpulkan pin dari banyak komunitas blogger, blogger, hingga institusi lainnya. Bangga memakainya (di tas/backpack). Kalau kalian ingin mengirimkan saya pin, boleh juga lah hahaha.

Baca Juga: Masak di Kantor

Bagaimana dengan kalian, kawan?


Cheers.

Masak di Kantor


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Di ruang kerja saya, oleh KTU yang lama yang itu Mila Wolo, tersedia berbagai barang yang sering kalian lihat di rumah tangga. Mulai dari dispenser, piring, mangkuk, gelas, stoples kopi, stoples gula, stoples teh, stok kopi kemasan (sachet), ember dan sabun cuci piring, sampai kompor listrik mini! Jadi jangan heran, ide-ide untuk menyenangkan diri kala bosan melanda selalu saja datang. Oia, di ruang kerja mana pun di Universitas Flores, siapa yang mengotorkan gelas, dia wajib mencuci. Layani diri sendiri. Cleaning service tidak bertugas mencuci piring dan/atau gelas kotor. Mereka hanya bertugas membersihkan jendela, kusen, menyapu, mengepel, merapikan, dan lain-lain.

Baca Juga: Fobar

Kompor listrik mini ini menjadi salah satu andalan kami apabila kantin tutup. Waktu masih di lantai bawah (lantai dasar) hampir setiap hari saya ke kantin sih. Tapi setelah pindah ke lantai tiga, duuuh rasanya beraaaat ke kantin. Berat kembali ke lantai tiganya! Oke, kita lanjutkan. Jadi, suatu kali, Kakak Rosa Budiarti membawa mie, telur, dan cabai dari rumah karena kantin disinyalir bakal tutup selama beberapa hari. Saya kebagian juga donk. Maka kami memanfaatkan si kompor listrik.


Uh la la. Cetartos rasanya. Karena membikinnya di kantor, bukan di rumah, dan dinikmati saat masih panas. Lidah boleh melepuh yang penting kebosanan lenyap *halah*. Yang utama adalah memasak di kantor ini tidak dilakukan saat rush hour. Sekitar pukul 12.00 Wita lah baru kami mulai mengeluarkan bahan baku dan si kompor listrik mini.

Hyess! Pernah, saya pernah melakukannya. Memasak di kantor dan untung tidak ketahuan boss. Hihi. Bagaimana dengan kalian?


Cheers.

Angry Face


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Baca Juga: #PDL Menjadi Hakim Anggota

Sudah sering saya menulis tentang kegemaran memotret momen sehari-hari. Tidak harus foto selfie karena selfie kurang bercerita dibanding selokan ... eh ... pokoknya tidak selamanya harus selfie. Pada pos #PDL Foto Kreatif #1 ini misalnya, kalian bisa melihat foto-foto yang saya potret dari kegiatan sehari-hari. Salah satunya foto angry face di atas. Siapa sangka Onif Harem terlihat begitu menyeramkan. Mungkin cocok dengan pembawaannya di jalanan yang sangar hahahah *dikeplak dinosaurus*. Ini dia penampakan utuhnya:


Sangar kan ya? 

Foto ini diambil saat kami, tim motor dari Tim Promosi Uniflor 2019, berhenti di Boru sekadar melemaskan otot perjalanan dari Kota Maumere ke Kota Larantuka. Parkirnya di sebuah rumah makan depan kantor polisi hehe. Angry face ini mengingatkan saya pada angry bird :p qiqiqiq.


Cheers.

Fobar


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Saya punya istilah fobar alias foto bareng haha. Foto bareng kali ini adalah bersama Bapak Bupati dan Wakil Bupati Ende yaitu Bapak Marsel Petu dan Bapak Djafar Ahmad. Waktu itu, saat ada perayaan ulangtahun Universitas Flores yang ke-38. Pernah, saya pernah melakukan itu, mencari waktu yang super tepat untuk bisa fobar beliau berdua. Setelah sekian lama mengidam pengen punya foto seperti ini *ngakak guling-guling*. Etapi jangan cob-coba kaitkan jari saya dengan musim politik saat ini ya, saya marah itu *muka serius*.


Cheers.

#PDL Foto Kreatif #1


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Adalah Kebiasaan saya untuk memotret apa saja yang menurut saya menarik. Ingat, menurut saya, bukan menurut kalian. Entah itu momen lucu, entah itu fenomena langit *uih bahasanya*, entah itu benda-benda super biasa yang ada di hadapan saya. Jadi tidak heran memori telepon genggam menjadi lekas penuh. Ah, ya, terima kasih Google Photos. Karena Google Photos ini memori di telepon genggam saya selalu tersedia setelah semua isinya di-backup.

Baca Juga: Timur Punya Cerita

Karena tidak tahu foto-foto ini harus masuk kategori apa, jadi saya menyimpannya di folder foto kreatif. Foto-foto ini lebih sering saya titip, seperti jasa penitipan begitu, di media sosial yang paling digandrungi yaitu Facebook. Jadi, tidak ada salahnya kalau kita berteman di Facebook. Haha. Betul, setiap kali usai memotret sesuatu yang menurut saya menarik, entah itu barang super biasa, saya pasti langsung mengunggahnya ke Facebook, kadang ke Twitter, dan dulu ke G+. Dulunya saya punya blog Tuteh Foto, yang isinya ya foto-foto titipan begitu juga.

Foto itu bisa saja tempat tusuk gigi pink yang ada di rumah makan, yang warnanya matching sama alat tulis yang sedang saya bawa saat itu:


Bisa juga foto botol minum yang berisi air es sehingga timbul titik-titik air alias embun di permukaan luarnya:


Bisa juga makanan saat saya sedang nongkrong di kantin, sambil membaca, tentu saja:


Bagi fotografer andal, foto-foto yang saya maksudkan dengan foto kreatif ini, mungkin tidak menarik. Manapula dipotret menggunakan telepon genggam andalan saya Xiaomi Redmi 5 Plus bukan kamera DSLR. Tapi bagi saya itu menarik. Ada semacam kebetulan yang manis seperti foto tempat tusuk gigi pink dan alat tulis pink di atas. Iya, tusuk giginya habis, jadi jangan tanya pada saya kok itu tempat tusuk gigi tapi tidak ada isinya? Hehehe. Ketimbang saya paksakan diisi dinosaurus? Biarkanlah dia mengosong begitu. Atau foto pada awal pos. Momen usai meruncingkan pinsil itu asyik juga kalau dilihat *aduh, siapa ini yang ngelempari rumah saya dengan parabola!?*

Kebiasaan memotret ini yang membikin beberapa teman dekat pasti langsung menyenggol saya sambil bilang, "Ncim, menarik itu ..." hehe. Tapi pun kadang tidak langsung dapat saya potret lah.

Kaki dan tangan adalah dua obyek milik diri sendiri yang paling doyan saya potret:



Maksudnya tidak lain adalah pamer. Bahwa saya baru saja diberikan/dihadiahkan gelang kuning dari Kakak Rikyn Radja dan gelang taman nasional dari Yudith Ngga'a. 

Kalau yang satu ini merupakan foto favorit saya, yang tidak sengaja saya potret saat perhelatan Eltari Memorial Cup 2017, ketika merusuhi teman-teman Seksi Perlengkapan menyiapkan lapangan bekal pertandingan. Sampai mereka geleng-geleng kepala melihatnya:


Yang berikut ini ceritanya sedang menunggu pertandingan final dari ajang Ema Gadi Djou Memorial Cup tahun 2018 kemarin. Duduk di hadapan piala, membikin otak saya jadi piala haha. Si Flory dan Santy ngakak melihatnya:


Sedangkan yang satu ini waktu lagi nongkrong di Pantai Ria, temani si Syiva ngerayain ultah, terus lihat bocah ini:


Masih banyak, tentu, foto-foto lainnya, hasil menitip di Facebook. Tapi nampaknya cukup sekian dulu. Nanti baru dilanjutkan di lain pos ya. Kalau semua foto itu dijadikan satu pos ... duh ampun ... kalian bisa menggugat saya nanti atas dasar bikin kesal hehe. Dan tentu saya berharap bakal bisa melihat foto-foto sejenis/serupa di blog kalian apabila ada. Karena, hidup ini terus berjalan, banyak momen, banyak hal, yang bisa kita dokumentasikan untuk menjadi cerita kepada orang lain kelak. Dan ingat, Facebook masih bolehlah menjadi media penitipan foto sekalian sambil pamer.

Baca Juga: Utara Punya Cerita

Selamat menikmati Kamis yang manis ini, kawan.

Saya sudah mulai sibuk dengan Triwarna Soccer Festival terkhusus Lomba Mural yang bakal diselenggarakan 4 Maret 2019 nanti :)



Cheers.

#PDL Kubur Batu di Lamboya



#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Menulis ini karena saat ini saya kembali tergabung dalam Panitia Tim Promisi Uniflor (Uniflor: Universitas Flores). Sebuah tim yang dibentuk dan diberikan SK khusus. Bisa bertindak khusus? Tergantung kebutuhan. Hahaha.

Baca Juga: Bikin Video Lip Sync

Apa Itu Tim Promosi Uniflor?


Bukankah Uniflor sudah punya website sendiri dan aneka akun media sosial? Kenapa harus ada tim khusus ini? Karena tim khusus ini lebih 'mengjangkau' masyarakat. Karena, tidak semua murid SMA dan orangtua yang menggunakan internet dan media sosial. Karena, kalaupun mereka menggunakan internet dan media sosial, belum tentu ragam e-poster yang dibagikan itu terlihat dan terbaca oleh mereka. Karena, seperti kata saya waktu masih kerja di radio, iklan adlip lebih pamungkas dari iklan rekaman.


Foto di atas adalah foto-foto ketika saya melakukan promosi Uniflor di Pulau Sumba tepatnya di Kabupaten Sumba Barat dan Kabupaten Sumba Tengah.

Siapa-Siapa Saja?


Ada dosen. Ada karyawan, atau di Uniflor lebih sering disebut pegawai. Istilah lainnya, ada tenaga pendidik dan ada tenaga kependidikan. Mereka-mereka yang dilihat mampu berbicara di muka publik dengan magnet yang lumayan kuat untuk menarik minat murid SMA khususnya yang duduk di kelas tiga. Tapi umumnya dosen dan pegawai Uniflor itu pasti mampu berbicara di muka publik karena setiap hari selalu berhadapan dengan (ribuan) mahasiswa.


Foto di atas bukan saya sedang menari loh hahaha. Tapi sedang menjelaskan tentang Uniflor kepada audiens. Cie. Dan cara pertama yang saya pakai adalah menanyakan apakah mereka kenal Rapper Family Clan sebuah grup rap dari Ende? Saya masih ingat betul waktu itu komunikasi langsung berjalan lancar gara-gara banyak dari mereka yang mengidolakan Rapper Family Clan. 

Ke Mana Saja?


Ini yang menarik. Tim Promosi Uniflor dikirimkan ke titik-titik di Pulau Flores. Kami menyebutnya Barat, Timur, Kota, Utara. Hanya pada tahun 2015 saja tim promosi ini menjelajah Pulau Sumba. Saya selalu suka bilang: nantikan kami di sekolah kalian ya!

Apa Kaitannya Sama Pos Ini?


Tahun 2015, seperti yang sudah kalian tahu dari cerita dan tulisan di atas, saya dan lima dosen lainnya (kelimanya laki-laki, jadi saya perempuan seorang dan pegawai seorang haha) berangkat ke Pulau Sumba untuk promosi Universitas Flores. Kami terbagi dalam tiga tim yaitu Tim Sumba Barat Daya, Tim Sumba Barat, dan Tim Sumba Timur. Dua tim pertama kemudian bergabung menuju Sumba Tengah untuk promosi kampus, lantas ke Sumba Timur untuk bersatupadu dengan tim lainnya dan menunggu waktu pulang ke Ende.

Saat berada di Pulau Sumba itu, kami sangat beruntung, karena sempat menyaksikan Pasola yang dilaksanakan di dua kabupaten yaitu di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Kabupaten Sumba Barat. Ini fotonya waktu saya menyaksikan Pasola di Lamboya - Sumba Barat:


Baca Juga: #PDL Menjadi Hakim Anggota

Sehari sebelum Pasola (saat Pasola merupakan hari libur untuk kabupaten yang menyelenggarakannya) saya dan Pak As mengunjungi SMA di Lamboya. Dari SMA itu kami mampir ke bukit tempat kubur-kubur batu berdiri. Di Pulau Sumba, kubur batu dapat juga ditemui di daerah kota. Salah satunya seperti yang kalian lihat pada awal pos. Pemandangan di Lapangan Lamboya (tempat Pasola berlangsung) sungguh luar biasa. 


Lamboya yang cantik, denga jalan tanah/pasir putih (saya lupa menanyakan), dan hamparan bukit menghijau ... jadi mirip bukit-bukit di filem Teletubbies.



Dua foto di atas adalah foto bukit tempat kubur-kubur batu berdiri. Salah satunya yang ada sayanya donk hehe. Waktu mau difoto sambil saya memegangi kubur tersebut, dalam hati saya berkata: kakek, bapak, ibu, nenek, siapapun penghuni kubur ini, saya ijin buat foto, permisi ... Nah, setelah difoto saya masih melihat-lihat kubur batu lainnya dan mata saya menumbuk kubur batu yang tutupannya membuka. Astaga! Ini dia penampakannya:


Ada kain warna merah di situ. Yang lainnya bebatuan kecil, ada tulang juga kalau tidak salah sih hehe. Saya langsung berdiam diri dan berdoa untuk keselamatan mereka-mereka yang ada di dalam kubur-kubur batu di Bukit Lamboya. Karena tugas kita yang masih hidup adalah mendoakan mereka yang telah lebih dulu berpulang, tidak peduli apa agamanya, hehe. Menurut saya, kalau kalian tidak setuju, tidak masalah. Sayangnya waktu itu tidak ada penduduk lokal yang bisa saya tanya-tanya perihal kubur batu. Tidak masalah. Itu pertanda saya harus kembali ke sana untuk melakukannya *maunya!*.

Pernah, saya pernah begitu ... bagaimana dengan kalian?

Oia, jangan lupa bagi adik-adik yang duduk di bangku kelas 3 SMA, khusus area Pulau Flores dan sekitarnya, kuliah di Uniflor yuk! Kali ini saya kembali menjadi panitia Tim Promosi Uniflor yang bertugas di Kabupaten Ende, dan membantu area Mbay dan Mataloko.



Baca Juga: #PDL Piknik Setiap Minggu

Maaf, promosi di blog juga :D



Cheers.

#PDL Bikin Video Lip Sync



Pada zaman masih SMP, waktu itu dinosaurus lagi senang-senangnya main pasir di Pantai Ende, saya doyan banget sama Mili Vanili. Meskipun kemudian terkuak skandal mereka ternyata melakukan lip sync tapi saya tetap gemar mendengarkan lagu-lagu mereka kayak Blame It On The Rain (dinosaurus pun menyambar: yeaaah yeaaah), Girl I'm Gonna Miss You, sampai Girl You Know It's True. Saya bahkan mencatat biografi mereka dari majalah ke sebuah buku. Kurang kerjaan. Ember ... hehe. Nanti akan ada cerita tentang angkot di Kota Ende yang kayak mobil pribadi dan punya soundsystem awesome yangmana salah satu angkot itu paling rajin memperdengarkan lagu-lagu Mili Vanili.

Baca Juga: #PDL Piknik Setiap Minggu

Selain Mili Vanili, prestasi saya saat SMP adalah menerima surat balasan dari Java Jive dan Pulau Biru Production - Oppie Andaresta. Yay! Walkman saya zaman SMP itu kalau bisa protes pasti sudah protes keras gara-gara setiap hari keseringan memutar lagu-lagunya Oppie Andaresta, Mili Vanili, Iwan Fals, sampai kaset kompilasi lagu-lagunya Def Leppard, Bon Jovi, Nirvana, Scorpion, dan setanah-airnya. Kaset terakhir miliknya (alm.) Kakak Toto Pharmantara. Oh ya, walkman-nya ganti dua kali gara-gara ... mungkin gara-gara terlalu sering dipakai haha.

Beruntung foto walkman terakhir ini masih tersimpan, berkat membongkar komputer Pentium II itu:


Kembali ke #PDL ...

Sebenarnya apa sih lip sync itu?

Sederhananya lip sync adalah lip dan sync *digampar masyarakat sekota*. Lip sync adalah sinkronisasi bibir singkatan dari lip synchronisation. Jadi, bukan cuma Android saja yang perlu sinkronisasi supaya tidak sembarangan ngomong dan menyebar hoax tapi bibir juga. Lip sync adalah sikap seseorang seolah benar-benar bernyanyi dengan menggerakkan bibirnya dibarengi lagu yang diputar melalui kaset atau media lain.

Menurut analisa dinosaurus, lip sync ada dua tipe:

Yang Pertama:
Lip sync lagu sendiri yang umumnya dilakukan di video klip dan di panggung (live). Skandal Mili Vanili ini terjadi di panggung, karena tidak mungkin lip sync di video klip dijadikan skandal *ngikik* Selain Mili Vanili, kalian pasti tahu penyanyi lain yang melakukan itu, terutama saat bernyanyi di panggung tidak ada urat leher yang terlihat. Sulit kan ... apalagi kalau penyanyinya berhijab macam saya. Haha.

Yang kedua:
Lip sync lagu milik orang lain cuma karena suka sama lagunya tapi belum bisa menyanyikannya. Kalau bisa menyanyikannya diistilahkan dengan cover. Bicara soal cover song, kalian harus nonton video lagu-lagu yang di-cover sama Ajeng Veran di Youtube! She's so multi-talented!

Yang mau saya ceritakan sekarang adalah tipe kedua, yaitu lip sync karena suka sama lagunya. Lagunya siapa? Lagunya Meghan Trainor yang super seksi itu. Seksi bodinya, seksi suaranya. Haha. Kami kembaran sih, jangan dulu protes, kembaran dalam mimpi maksud saya. Suara Meghan Trainor ini ibarat bumbu penyedap rasa universal, anggap saja ada lah bumbu penyedap rasa universal untuk semua jenis makanan dari gulai hingga cakes, dicampur apa saja pasti enak, kecuali dicampur ke campuran semen dan tanah bakal batako. Dan lagu Meghan Trainor yang paling saya suka berjudul Better When I'm Dancin'.

Maka pada hari itu, suatu sore yang menggairahkan, saya memutuskan untuk membikin video lip sync Better When I'm Dancin', sebuah lagu yang luar biasa memotivasi. Yang perlu saya siapkan adalah sebagai berikut:

1. Latar video.
2. Wardrobe.
3. Kamera.
4. Bedak dan gincu.

Aaawwwwww bedak dan gincu!


Latar belakang video ini adalah lemari pakaian yang ditutupi dengan kain motif ... motif apa ya itu ... kayak macan atau cheetah begitu. Ini kain dikasih sama Dessy, dikasih sebagai hadiah saat saya mulai berhijab (semacam pashmina). Wardrobe, gaya banget menulis ini, hanya dua baju dan dua pashmina. Kamera, saya memilik memakai Canon EOS 600D. Bedan dan gincu ... errr ... hasil menambang koleksi lama dan waktu itu berdoa belum kadaluarsa bedan dan gincunya.

Baca Juga: Sheena dan Bananaque

Kamar saya yang sempit karena kebanyakan lemari itu menjadi lebih sempit karena tripod harus berdiri sempurna. Semua sudah siap. Hidupkan kameranya, diatur dulu, mainkan lagunya, mulai bernyanyi (harus mengeluarkan suara juga meskipun belum sepenuhnya hafal lirik - jadi sambil lihat di laptop). Daaaan saya lupa mengunci pintu sehingga saat sedang beraksi mendadak pintu terkuak dan Kakak Pacar nongol ... dia melongo ... dan berpikir apakah saya tadi saya diajak dinosaurus makan sate binen?

Ndilalah, Kakak Pacar malah mendukung hahaha. Dia memutuskan untuk memegang telepon genggam, lebih dekat ke kamera, agar saya bisa membaca liriknya. 

Dan saya memang sengaja menulis LIPSING bukan LIP SYNC karena ... karena pengen saja haha.


Kalian belum nonton? Rugi dooonk. Sini nonton di Youtube:


Waktu selesai di-render, saya cuma bisa terbahak-bahak sepanjang menontonnya, dan dilirik saja sama Kakak Pacar. Mungkin dalam hati dia bilang: kenapa yaaaa saya bisa jadian sama perempuan ini? Tanggung derita ...


Pernah, saya pernah begitu, membikin video cuma karena suka sama lagunya. Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu donk di papan komentar. Siapa tahu kita bisa saling subscribe di Youtube. Yuuuk.



Cheers.