#PDL Mengumpulkan Si Kuning


#PDL adalah Pernah DiLakukan.  Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; jalan-jalan di sekitar Kabupaten Ende, backpacker-an ke tempat-tempat di luar Kota Ende, merusuhi acara, termasuk perbuatan-perbuatan iseng bin jahil bin nekat.

***

Setiap orang pasti punya warna favorit. Waktu masih kecil, mana tahu soal warna ini. Apapun barang yang dibelikan orangtua pasti dicintai sepenuh hati meskipun warnanya pelangi banget. Baju merah? Oke! Celana putih? Oke! Sepatu cokelat? Oke! Pergeseran usia dan pergaulan membikin saya menyukai warna hitam, kemudian. Karena konon katanya kalau pakai kaos hitam, misalnya, bakal bikin saya terlihat lebih langsing dari kondisi alam dan cuaca yang sebenarnya. Ternyata ... tidak hanya suara saja yang bisa menipu. Warna pun demikian. Hahaha. Waktu lihat lemari mulai didominasi warna hitam, senang bukan main karena deal sudah punya wana favorit.

Baca Juga : #PDL Langgar Sungai Lewati Lembah

Sekitar tahun 2012, saat mengambil cuti dengan cerita ketinggalan pesawat di Bandara Juanda, saya mulai menyukai warna kuning. Bukan hanya menyukai, tapi mencintai sepenuh jiwa dan raga. Adalah pagi hari baru turun dari mobil travel yang membawa saya dari Jogja ke bandara, masuk kamar mandi buat cuci muka dan gosok gigi, saya melihat ke cermin. Siapa kamu? Kok kamu cerah sekali sepagi ini memakai baju barong warna kuning? Kamu ngeledek saya ya? Ternyata pantulan di cermin dengan saya memakai baju warna kuning itu benar-benar memberi semangat baru pada saya meskipun hari itu, kemudian, saya ketiduran di depan gate dan ketinggalan pesawat menuju Kupang. Haha!


Saya: Pak, maaf mau tanya, Lion Air ke Kupang sudah berangkat?

Petugas: Ituuu baru saja take off (menunjuk ke luar lewat jendela kaca).



Sejak itu lah saya mulai ... yang dari hanya menyukai menjadi mencintai alias tergila-gila pada si kuning!


Biasanya akan selalu ada pertanyaan, "Kenapa suka warna kuning?" atau warna favorit kalian. Maka saya punya jargon yang juga dipakai untuk motto skripsi yaitu:

YELLOW IS THE COLOUR OF HOPE

Kuning adalah warna pengharapan. Filosofinya begini, kawan.  Setiap bocah SD pasti akan menggunakan warna kuning sebagai warna matahari yang terpeta di antara dua bukit/gunung. Artinya, setiap hari dalam kehidupan kita selalu ada harapan untuk lebih baik dari hari kemarin. Selain itu, agar harapan-harapan itu terwujud, jangan lupa untuk selalu berhati-hati dalam setiap langkah kita. The traffic light selalu memperingatkan kita untuk berhati-hati yang diwakili dengan warna kuning. Mau punya harapan hidup? Berhati-hatilah di jalan raya! Qiqiqiq.


Perburuan warna kuning pun dimulai. Satuper satu barang warna kuning mulai mengisi kamar saya: kaos, gaun, sepatu, dompet, gantungan kunci, alat tulis, bando, kacamata, backpack, mukenah, jam tangan, gelang-gelang, sampai boneka-boneka ucul. Teman-teman yang bepergian pun tidak kesulitan membeli oleh-oleh *halah* karena mereka tahu, pasti barang berwarna kuning yang saya minta. Seperti oleh-oleh kaos dari Brazil ini, yang diberikan oleh big boss:

Waktu itu sedang Ramadhan. Izin dari kantor Shalat Dzuhur di Masjid Agung, disuruh isteri big boss ke rumah buat ngambil kaos ini.

Atau dry bag yang satu ini dari Ronald Diningrat:


Bahkan dulu saya punya satu set tas dan sepatu yang wajib dipakai setiap hari sebelum tasnya saya hibahkan ke Wakil Presiden Negara Kuning, serta si sepatu rusak, haha:


Urusan warna kuning ini sampai merembet ke mukenah buat shalat sehari-hari. Dikirim sama teman traveler dari Bali:


Noel Fernandez, teman duet saya di Notes (Noel and Tuteh SideProject) mengecat ulang gitar kesayangan saya dengan warna kuning. Aaaah terima kasih Noel:


Saking banyaknya barang warna kuning, saya bahkan pernah memakai lima gelang warna kuning sekaligus, sampai-sampai saya disebut Presiden Negara Kuning. A-ha! Ponakan saya, si Indy, akhirnya menyukai warna kuning juga. Katanya, biar sama kayak si Encim. Lucunya, pas dia ulangtahun, dia minta dibikinkan cake sama Mamanya: Frozen warna kuning! Hahaha ... mana ada Frozen warna kuning. Itu kan biru-putih begitu. Keinginan Indy terpenuhi dan dia kemudian menjadi Wakil Presiden Negara Kuning:


Luar biasa si wakil ini *ngakak guling-guling*. Tapi sekarang dia berkhianat, dia lebih suka merah, karena katanya warna kuning itu cemburu dan dia tidak suka cemburu. Whaaatt!? Sumpah kalau ingat itu saya tidak tahan ngakak.


Mengumpulkan si kuning, baik yang saya beli sendiri maupun yang dihadikan oleh orang lain, merupakan perbuatan paling menyenangkan. Mata saya jadi segar banget gitu kalau lihat warna kuning. Kadang proses mengumpulkan ini jadi begitu menjengkelkan ketika ada orang asing memakai sesuatu berwarna kuning dan saya menginginkannya! Ya iya laaah mana mau orang itu ngasih barangnya ke elu, Teh. Saya kemudian sering dipanggil "Kuning". Kuning semacam identitas yang melekat erat dengan diri saya. Tuteh itu kuning, kuning itu Tuteh.


Yang mengesankan adalah setiap kali ada perayaan tertentu, keponakan saya si Indri dan Kakak Niniek pasti bikin cake kuning. Kejutannya benar-benar luar biasa.


Bahkan saat saya yudisium:


Tapi yang pasti, jangan lupa untuk memakan buah kuning, karena konon katanya *lihat gambar di bawah*:


Nah, saya punya warna kesukaan kuning dengan jargon: yellow is the colour of hope atau kuning adalah warna pengharapan. Jangan pernah berhenti berharap.


Pernah, saya pernah begitu, mencintai warna kuning dan mengumpulkan begitu banyak barang berwarna kuning yang tidak semuanya dapat saya pos di sini karena terlalu banyak. Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu donk di komentar. Termasuk alasan kalian kenapa sampai menyukai suatu warna. Tapi kalau kalian juga penyuka kuning, kita toss dulu dooooonk :)




Cheers.

#PDL Mengumpulkan Si Kuning


#PDL adalah Pernah DiLakukan.  Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; jalan-jalan di sekitar Kabupaten Ende, backpacker-an ke tempat-tempat di luar Kota Ende, merusuhi acara, termasuk perbuatan-perbuatan iseng bin jahil bin nekat.

***

Setiap orang pasti punya warna favorit. Waktu masih kecil, mana tahu soal warna ini. Apapun barang yang dibelikan orangtua pasti dicintai sepenuh hati meskipun warnanya pelangi banget. Baju merah? Oke! Celana putih? Oke! Sepatu cokelat? Oke! Pergeseran usia dan pergaulan membikin saya menyukai warna hitam, kemudian. Karena konon katanya kalau pakai kaos hitam, misalnya, bakal bikin saya terlihat lebih langsing dari kondisi alam dan cuaca yang sebenarnya. Ternyata ... tidak hanya suara saja yang bisa menipu. Warna pun demikian. Hahaha. Waktu lihat lemari mulai didominasi warna hitam, senang bukan main karena deal sudah punya wana favorit.

Baca Juga : #PDL Langgar Sungai Lewati Lembah

Sekitar tahun 2012, saat mengambil cuti dengan cerita ketinggalan pesawat di Bandara Juanda, saya mulai menyukai warna kuning. Bukan hanya menyukai, tapi mencintai sepenuh jiwa dan raga. Adalah pagi hari baru turun dari mobil travel yang membawa saya dari Jogja ke bandara, masuk kamar mandi buat cuci muka dan gosok gigi, saya melihat ke cermin. Siapa kamu? Kok kamu cerah sekali sepagi ini memakai baju barong warna kuning? Kamu ngeledek saya ya? Ternyata pantulan di cermin dengan saya memakai baju warna kuning itu benar-benar memberi semangat baru pada saya meskipun hari itu, kemudian, saya ketiduran di depan gate dan ketinggalan pesawat menuju Kupang. Haha!


Saya: Pak, maaf mau tanya, Lion Air ke Kupang sudah berangkat?

Petugas: Ituuu baru saja take off (menunjuk ke luar lewat jendela kaca).



Sejak itu lah saya mulai ... yang dari hanya menyukai menjadi mencintai alias tergila-gila pada si kuning!


Biasanya akan selalu ada pertanyaan, "Kenapa suka warna kuning?" atau warna favorit kalian. Maka saya punya jargon yang juga dipakai untuk motto skripsi yaitu:

YELLOW IS THE COLOUR OF HOPE

Kuning adalah warna pengharapan. Filosofinya begini, kawan.  Setiap bocah SD pasti akan menggunakan warna kuning sebagai warna matahari yang terpeta di antara dua bukit/gunung. Artinya, setiap hari dalam kehidupan kita selalu ada harapan untuk lebih baik dari hari kemarin. Selain itu, agar harapan-harapan itu terwujud, jangan lupa untuk selalu berhati-hati dalam setiap langkah kita. The traffic light selalu memperingatkan kita untuk berhati-hati yang diwakili dengan warna kuning. Mau punya harapan hidup? Berhati-hatilah di jalan raya! Qiqiqiq.


Perburuan warna kuning pun dimulai. Satuper satu barang warna kuning mulai mengisi kamar saya: kaos, gaun, sepatu, dompet, gantungan kunci, alat tulis, bando, kacamata, backpack, mukenah, jam tangan, gelang-gelang, sampai boneka-boneka ucul. Teman-teman yang bepergian pun tidak kesulitan membeli oleh-oleh *halah* karena mereka tahu, pasti barang berwarna kuning yang saya minta. Seperti oleh-oleh kaos dari Brazil ini, yang diberikan oleh big boss:

Waktu itu sedang Ramadhan. Izin dari kantor Shalat Dzuhur di Masjid Agung, disuruh isteri big boss ke rumah buat ngambil kaos ini.

Atau dry bag yang satu ini dari Ronald Diningrat:


Bahkan dulu saya punya satu set tas dan sepatu yang wajib dipakai setiap hari sebelum tasnya saya hibahkan ke Wakil Presiden Negara Kuning, serta si sepatu rusak, haha:


Urusan warna kuning ini sampai merembet ke mukenah buat shalat sehari-hari. Dikirim sama teman traveler dari Bali:


Noel Fernandez, teman duet saya di Notes (Noel and Tuteh SideProject) mengecat ulang gitar kesayangan saya dengan warna kuning. Aaaah terima kasih Noel:


Saking banyaknya barang warna kuning, saya bahkan pernah memakai lima gelang warna kuning sekaligus, sampai-sampai saya disebut Presiden Negara Kuning. A-ha! Ponakan saya, si Indy, akhirnya menyukai warna kuning juga. Katanya, biar sama kayak si Encim. Lucunya, pas dia ulangtahun, dia minta dibikinkan cake sama Mamanya: Frozen warna kuning! Hahaha ... mana ada Frozen warna kuning. Itu kan biru-putih begitu. Keinginan Indy terpenuhi dan dia kemudian menjadi Wakil Presiden Negara Kuning:


Luar biasa si wakil ini *ngakak guling-guling*. Tapi sekarang dia berkhianat, dia lebih suka merah, karena katanya warna kuning itu cemburu dan dia tidak suka cemburu. Whaaatt!? Sumpah kalau ingat itu saya tidak tahan ngakak.


Mengumpulkan si kuning, baik yang saya beli sendiri maupun yang dihadikan oleh orang lain, merupakan perbuatan paling menyenangkan. Mata saya jadi segar banget gitu kalau lihat warna kuning. Kadang proses mengumpulkan ini jadi begitu menjengkelkan ketika ada orang asing memakai sesuatu berwarna kuning dan saya menginginkannya! Ya iya laaah mana mau orang itu ngasih barangnya ke elu, Teh. Saya kemudian sering dipanggil "Kuning". Kuning semacam identitas yang melekat erat dengan diri saya. Tuteh itu kuning, kuning itu Tuteh.


Yang mengesankan adalah setiap kali ada perayaan tertentu, keponakan saya si Indri dan Kakak Niniek pasti bikin cake kuning. Kejutannya benar-benar luar biasa.


Bahkan saat saya yudisium:


Tapi yang pasti, jangan lupa untuk memakan buah kuning, karena konon katanya *lihat gambar di bawah*:


Nah, saya punya warna kesukaan kuning dengan jargon: yellow is the colour of hope atau kuning adalah warna pengharapan. Jangan pernah berhenti berharap.


Pernah, saya pernah begitu, mencintai warna kuning dan mengumpulkan begitu banyak barang berwarna kuning yang tidak semuanya dapat saya pos di sini karena terlalu banyak. Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu donk di komentar. Termasuk alasan kalian kenapa sampai menyukai suatu warna. Tapi kalau kalian juga penyuka kuning, kita toss dulu dooooonk :)




Cheers.

#PDL Jalan Malam Keliling Kota

Simpang Lima Ende.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; jalan-jalan di sekitar Kabupaten Ende, backpacker-an ke tempat-tempat di luar Kota Ende, merusuhi acara, termasuk perbuatan iseng bin jahil bin nekat.

***

Saya ini orangnya tidak tentu. Kadang spontan, kadang penuh rencana. Ketika saya menjadi begitu spontan (halah, bahasanya) biasanya orang lain yang keki setengah mampus sampai ingin mengeluarkan isi otak saya. Tapi kalau sedang berencana dan orang lain melanggar rencana itu, suasana hati saya langsung memburuk penuh mendung hitam menggantung, tinggal tunggu petir dan guntur mengamuk. Jadi kalau ditanya saya ini tipe seperti apa ... bingung juga hahaha. Sulit mendeskripsikan diri sendiri. Yang jelas saya tidak suka makan orang, tidak suka lelaki, tidak suka tipu-tipu. Tipu itu ... apa ya ... sekali menipu nanti akan terus menipu. Itu menurut saya.


Omong-omong ... eh, nulis-nulis soal spontan dan penuh rencana ini, berkaitan dengan kegiatan jalan malam keliling kota yang seterusnya disebut JMKK (ini istilah dari sahabat saya si Sisi; namanya Sisi). Iya, pernah. Saya pernah jalan malam keliling kota. Demi apa, anak-anaaaak? Demi mengurangi kadar gula dalam darah. Soal bobot yang berkurang banyak, itu super bonus. Sebenarnya, ide awal JMKK ini datang dari Sisi. Tapi dia jalannya siang bolong. What? I can't! Pekerjaan tidak memungkinkan saya jalan siang bolong keliling kota yang kalau disingkat menjadi JSBKK. Soal singkatan ini, jangan pernah menyingkat nama saya karena jadinya PDIP.

Adalah Inggi alias Mei Ing, ya - dia lagi, yang menyarankan saya untuk JMKK. Syaratnya: setelah mandi dan Shalat Subuh Maghrib, JMKK, setelahnya tidak boleh mandi lagi thanks God, dan tidur. Apakah saya melakukannya? Belum. Saat Inggi menyarankan itu, saya masih uring-uringan dan lebih sering menghabiskan waktu di depan teve menonton serial ini itu yang tayang di Fox, AXN, StarWorld, NatGeo. Syukurlah sekarang teve telah tidak dinyalakan di rumah kami.

Lantas ...

Spontanitas itu pun datang ...


Tanpa persiapan, tanpa aba-aba, sore itu (yang saya ingat tahun 2012) saya mengajak asisten Mamatua yang lama yang dipanggil Mamasin (bukan Mamasia) JJMK! Belum selesai wajah melongo Mamasin, belum selesai otaknya mencerna ajakan JMKK yang sangat tiba-tiba itu, saya sudah menyeretnya menuju jalan raya. Tanpa sepatu. Mamasin meringis ingin menangis tapi karena saya mengajaknya mengobrol, sakit pada telapak kaki pun hilang atau dia pura-pura kakinya tidak sakit lagi. Waktu itu memang tidak pakai sepatu karena konon katanya bagusan tidak pakai sepatu.

Mural di Polres Ende. Ende Lio Sare Pawe.

JMKK bersama Mamasin waktu itu dilakukan kontinyu, setiap malam usai Shalat Maghrib, dengan rute yang berganti-ganti. Hari pertama rute-nya yang singkat-singkat saja. Hari berganti hari seolah waktu akaaan malah nyanyi lagunya sinetron Tersanjung haha. Hari-hari berikutnya rute kami menjadi lebih jauh. Yang biasanya hanya satu kilometer JMKK, menjadi enam kilometer. Pokoknya semakin banyak keringat yang keluar, semakin bahagia perasaan saya. Sebahagian kalian yang akhirnya dilamar :p

Apa efeknya?

Efek JMKK sangat luar biasa. 

Efek pertama adalah mengantuk. Setiap kali kadar gula dalam darah meningkat atau berkurang, beberapa penderita diabetes merasa sangat mengantuk + sekali. Parahnya kantuk ini menyerang kapan pun dia mau. Pernah saat sedang mengendarai Oim Hitup (my matic) dari luar kota menuju Kota Ende, saya nyaris keluar dari badan jalan. Tuhan, tolong ... kalian tahu kan kondisi jalan antar kabupaten di Pulau Flores? Kanan jurang, kiri tebing. Kanan tebing, kiri sawahnya orang. Alhamdulillah setelah berhenti sejenak, loncat-loncat, membayangkan wajah Ryan Gosling, saya bisa melanjutkan perjalanan dan tiba di rumah dengan selamat.


Enam bulan JMKK kontinyu, dengan sesekali absen, efek yang lebih kentara di mata orang lain adalah bobot. Haaa? Suara ndenga/sengau antara tidak percaya tapi senang banget sama penilaian orang.

Are you sure?

Really?

Iyess. Bobot saya berkurang ternyata dan itu saya sadari ketika berusaha memerhatikan pakaian di tubuh. Oh, iya agak longgar di sana, di sana, dan di sana. Lemak pipi pada ke mana ya? Artinya, JMKK benar-benar menyukseskan saya mengurangi kadar gula dalam darah. Bonus: bobot berkurang banyak!

Bunga di halaman orang haha.

Lanjutannya ini berhubungan dengan manusia sebagai makhluk lemah ciptaan Tuhan. Sebagai manusia lemah iman, yang suka lekas puas sama hasil, saya kemudian berhenti JMKK. Efeknya? Kadar gula dalam darah kembali naik gara-gara sedikit keringat yang dikeluarkan sejak berhenti JMKK itu. Payah lu Teh. Tentu, ketika kadar gula meningkat saya jadi sering mengantuk juga hahaha. Tapi kengerian sebenarnya bukan pada kadar gula dalam darah, melainkan neuropathy yang kemudian menyerang kedua kaki saya. Awalnya hanya satu jari yaitu jari manis di kaki kiri, akhirnya merambat ke seluruh kaki.

Dan saya masih menertawai betapa bodohnya saya berhenti JMKK waktu itu. Saya tertawa karena untung kaki saya yang mati rasa dan menjadi menjengkelkan kala tidur malam. Bagaimana kalau perasaan saya yang mati rasa?

Bueh.

Setelah itu saya masih saja dengan kebiasaan buruk yakni jarang olahraga. Sering melewatkan jalan sehat mingguan bersama teman-teman kantor. Sering melewatkan ajakan olahraga dari teman-teman lain. Hingga saya mulai diet DEBM pada tahun 2018 kemarin, yang menyebabkan kadar gula dalam darah saya kembali berhasil dirosotkan (APA PULA BAHASA INI) dari 400-an menjadi 50-an. Dan itu tidak boleh. Maka saya kembali mengkonsumsi karbo meski tidak banyak. Efeknya juga ke bobot tubuh. Itu pasti.


Pikir punya pikir, kalau DEBM utuh kadar gula dalam darah saya merosot terlalu jauh, sedangkan saya kembali mengkonsumsi sedikit karbo ... maka saya harus punya solusi lain.

A-ha!

*tring!*

JMKK!

Again.

Spontanitas JMKK kali ini melibatkan Ocha yang mana dia juga senang karena ingin membesarkan betis. Itu katanya Ochaaaa, bukan kata saya hehe. Sudah semingguan JMKK dan efeknya terasa sekali di kaki.

Kalau dulu JMKKnya hanya sambil mengobrol dengan Mamasin, maka sekarang JMKKnya sambil foto sana sini terutama kalau melihat tanaman di rumah orang. Gemas-gemas bergembira lah kita. Beberapa foto JJMK bisa kalian lihat sepanjang membaca pos ini.

Bagaimana dengan kalian? Pernah JMKK juga?


Cheers.

#PDL Harmonisasi Di Saung Angklung Udjo

Nemu foto ini di situs travelnya detik(dot)com.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; termasuk tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***

Rabu kemarin saya membaca komentar dari Himawan pada pos Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah tentang penduduk lokal yang kebingungan waktu kami bertanya lokasi sanggar dimaksud. Himawan (or Hino) mengandaikan penduduk lokal sekitar sanggar juga dilibatkan di dalam kegiatan-kegiatan sanggar sehingga bisa sespektakuler Saung Angklung Mang Udjo atau Saung Angklung Udjo. Penduduk memang terlibat, namun anak-anaknya saja yang dilibatkan ikutan sanggar tersebut, berlatih Tari Topeng bersama cucu Miras yaitu Aerli.


Bicara soal Saung Angklung Udjo artinya bicara soal wisata budaya yang dijaga dan dilestarikan dengan kemasan sangat menarik. Saung Angklung Udjo terletak di Jalan Padasuka 118, Bandung, Jawa Barat. Lokasi ini dibagi-bagi menjadi tempat pertunjukan, toko souvenir, tempat makan, dan lain-lain yang tentu sekarang sudah jauh lebih berkembang. Tahun 2010 waktu ke Saung Angklung Udjo saya sangat menikmati cuci mata di toko souvenir-nya itu. Sebagai wanita imut dan beperasaan halus saya juga gemas donk melihat ragam benda mini-mini menggemaskan salah satunya gantungan kunci berbentuk angklung.


Hari itu saya dan Acie berkesempatan menonton Pertunjukan Bambu Petang. Seperti foto di awal pos ini kalian bisa melihat seorang perempuan berkebaya biru dan anak-anak kecil bermain angklung. Di sini lah proses pengenalan dan pelestariannya terjadi karena secara tidak langsung penonton dengan latar belakang beragam itu diedukasi tentang angklung; cara memegang, cara memainkannya, dan betapa angklung tidak dapat berdiri sendiri-sendiri alias memang harus dimainkan dalam kelompok, dengan anggota yang sudah tahu nada dasar yang mereka 'pegang'. Kira-kira begitulah.


Kemudian panitia/pengelola membagikan kami angklung masing-masing satu. Sudah tahu cara memegang dan memainkan alat musik ini, lantas perempuan berkebaya biru mengetes nada masing-masing kelompok, kira-kira sepuluh sampai limabelas orang per kelompok. Dia memberi instruksi pada kami. Kami, yang belum saling mengenal dan kebetulan sama-sama terdampar di suatu pertunjukan petang ini, hanya dengan melihat arah tangan si instruktur, bisa memainkan satu lagu dengan utuh yaitu lagu Ibu Kartini.


Aweeeesomeeee! Harmonisasi yang tercipta menggenapi kepuasan kami mengunjungi Saung Angklung Udjo. Terima kasih untuk pengalaman yang luar biasa ini.

Usai bermain angklung, kami menyaksikan pertunjukan wayang golek. Tapi saya lupa kisah tentang apakah yang ditampilkan hari itu.


Usai pertunjukan wayang golek, saya dan Acie masih sempat berlama-lama di toko souvenir, melihat sana-sini, cuci mata, gemas-gemasan sama penjaga lelaki, terus membeli beberapa souvenir, dan memutuskan untuk pulang. Kami masih punya tugas mencari lokasi pembuatan / pengrajin wayang golek. Untungnya saya masih menyimpan foto si bapak di bawah ini:


Situs yang memuat artikel tentang Golek; Bukan Boneka Biasa yang saya tulis untuk Detik, memang belum bisa dibuka, untungnya Om Bisot pernah membuat status tentangnya di Facebook. Hahaha. Sumpah, ngakak tiarap saya melihat foto yang satu ini:


Terima kasih, Om *jempol paling gede* berkat ini, tidak hilang jejak digitalnya *tsaaaah*.


Jadi kalau ditanya, pernahkah saya ke Saung Angklung Udjo? Pernah, saya pernah ke sana. Saya pernah bermain angklung dalam kelompok penonton dan kerja sama tim ini menghasilkan harmonisasi yang mengagumkan. Kita harus banyak belajar dari (filosofi) angklung ini. Dan pernah, saya juga pernah mengunjungi pengrajin wayang golek dan pura-pura memainkannya supaya difoto sama Acie. Ternyata saya pernah juga PERNAH SEBESAR ITU. Hahaha ...

Bagaimana dengan pengalaman kalian?


Cheers.

#PDL Pondok Batu Biru Penggajawa

Thika Pharmantara in action di Pondok Batu Biru.

Pulau Flores yang membentang dari Labuan Bajo (Barat) sampai ke Larantuka (Timur) punya titik tengah. Titik tengah Pulau Flores terletak di Kabupaten Ende tepatnya di KM 17 arah Timur Kota Ende, di pinggir jalan raya antar kabupaten se-Pulau-Flores. Titik tengah Pulau Flores ini ditandai dengan sebuah batu mirip menhir bernama Watu Gamba yang oleh penduduk setempat digambarkan sebagai seorang perempuan. Kembaran batu ini bernama Rera Nganggo yang digambarkan sebagai seorang laki-laki. Pada Watu Gamba menempel sebuah prasasti bertulis: Floresweg Geopend. Dapat dilihat pada foto si Regina, adik sepupu saya, di bawah ini:
 
Regina, adik sepupu saya yang menetap di Kota Maumere.

Baca Juga:

Lahir dan besar di Kota Ende, Ibu Kota Kabupaten Ende, membikin saya mudah mengeksplor tempat-tempat wisata yang ada di kabupaten tetangga seperti Taman Laut 17 Pulau Riung dan Kampung Adat Bena di Kabupaten Ngada, hamparan sabana di Kabupaten Nagekeo, pantai-pantai pasir putih di Kabupaten Sikka, mengikuti Semana Santa di Kabupaten Flores Timur, ke Pulau Rinca bertemu sahabat lama si komodo di Kabupaten Manggarai Barat, sampai keliling Pulau Adonara. Tapi, lahir dan besar di Kota Ende bukan jaminan saya sudah mengeksplor semua tempat wisata di Kabupaten Ende meskipun sebagian besarnya sudah saya jejaki seperti:

1. Danau Kelimutu.
2. Mata Air Ae Oka - Detusoko.
3. Pantai Anabhara (pasir putih).
4. Hutan Wisata Kebesani.
5. Pantai Batu Hijau Penggajawa.
6. Kampung Rumah Adat Wologai.
7. Pantai Mauwaru - Arubara.
8. Mendaki Gunung Meja dan Gunung Kengo.
9. Air Terjun Murundao - Moni.
10. Kolibari (bukit pandang) dan Kezimara.

Sepuluh dulu ya, nanti kalian ngiler hahaha. Sepuluh itu pun belum termasuk pantai-pantai di dalam Kota Ende sendiri, Situs Bung Karno, Taman Renungan Bung Karno, Gedung Imaculata, sampai Desa Adat dengan rumah adatnya di Wolotopo.

Yang menarik dari tempat wisata adalah tumbuh subur wisata buatan yang memadukan wisata alam dan kuliner. Salah satunya terletak di Pantai Penggajawa (arah Barat Kota Ende). Tempat ini bernama Pondok Batu Biru - Penggajawa. Kalau ada yang belum tahu, Penggajawa adalah nama desa dan nama pantai, tentu di pinggir laut / pantai tempat batu-batu berwarna hijau, biru, dan lainnya, berserak. Oleh para petani batu, batu-batu ini dikumpulkan dan diklasifikasikan berdasarkan ukuran dan warna. Batu-batu Penggajawa sudah sampai diekspor ke luar negeri diantaranya ke Eropa.

Salah seorang petani batu.

Batu-batunya unik!

Pondok Batu Biru berkonsep saung pinggir laut/pantai yang dibangun berbagai ukuran (untuk kelompok kecil dan/atau keluarga besar). Pemandangan utamanya jelas laut selatan Pulau Flores, bebatuan Pantai Penggajawa, dan Gunung Meja di arah Timurnya. Pengelola tempat ini tidak saja membangun tempat makan yang bagus tetapi juga spot-spot yang instagramable yang jadi buruan pengunjung, ruang shalat, kamar mandi yang selalu bersih dan stok air bersih yang tidak terbatas, serta menu-menu yang menggigit lidah.

Tangga menuju ayunan pinggir laut.

Ayunan sederhana tapi jadi salah satu magnet terpopuler. 

Ocha dan Stanis.

Setiap kali ke Pondok Batu Biru saya selalu diserang kantuk. Bagaimana tidak? Suasannya yang cozy benar-benar bikin pengen tidurrrrrr. Manapula makanan dan minuman yang dipesan sedang dipersiapkan, jadi sambil ngobrol - sambil tidur-tidur ayam, hehe.

Ini waktu perginya bareng Abah Yudin dan Ryan.

Karena ini pos tentang PDL (Pernah DiLakukan) jadi saya mau cerita bahwa saya sering pergi ke tempat makan Pondok Batu Biru ini baik sama teman-teman DMBC maupun sama teman-teman lainnya atau sama keluarga besar Pharmantara. Saya pernah pergi ke Pondok Batu Biru buat sesi foto-foto. Waktu itu berdua sama si Ocha saya pengen fotoin barang dagangan dengan lokasi berbeda. Si Ocha jadi modelnya *tsaaah*. Maka pergilah kami ke sana, eh si Stanis juga ikut. 
 
Sebelum foto-foto, kita pesan makanannya terlebih dahulu; ikan bakar, ikan kuah asam, tumis kangkung, dan es kelapa.


Ocha dan lembaran Sarung Mangga.

Ocha dan selendang tenun ikat.

Pas banget, usai foto-foto, makanannya pun disajikan di salah satu saung terbesar pilihan kami. Hanya bertiga dan memilih saung terbesar ukuran keluarga besar itu bikin keki, pastinya, hahaha. Makan sambil ngobrol, kuping dibuai debur ombak di pantai, mengasyikkan sekali. Kalau ada yang kurang, kita bakal minta tambah ke pelayannya, "Tambah seporsi ikan bakar donk!" dan lain sebagainya. Selesai makan tidak perlu ke kamar mandi, karena di sekitar saung tersedia tempat mencuci tangan lengkap dengan sabun dan kain lap tangannya.

Pernah, saya pernah begitu, pergi ke tempat wisata untuk foto-foto barang dagangan sambil menikmati wisata alam dan wisata kuliner sekaligus! Kata pepatah: sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Why not?

Sudah beberapa bulan ini tidak ke Pondok Batu Biru, nanti mau ke sana lagi ah :) Kalau kalian sempat ke Ende, coba mampir ke Pondok Batu Biru dan buktikan apa yang sudah saya ceritakan kali ini, tapi awas ketiduran sampai malam! Hahaha. Suasananya bikin ngantuk!



Cheers.