#PDL BAT Dan Kelas-Kelas Blogging Yang Mereka Bangun


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL BAT Dan Kelas-Kelas Blogging Yang Mereka Bangun. Tepiiiii ... tepiiiii ... BAT(man) mau terbang! Whuuuzzzz. Hehe. Apa sih BAT itu? Eh, siapa sajakah BAT itu? BAT merupakan singkatan dari tiga nama yaitu Bisot, Anazkia, Tuteh. Kami bertiga adalah blogger yang awalnya bertemu di dunia maya, lantas berlanjut ke dunia fana. Sekarang, kami memang lebih sering bertemu di dunia maya karena jarak yang memisahkan sejak semula jadi. Hihi. Yaelah, menulis ini, kangen sama dua sesepuh itu semakin menjadi-jadi.


Adalah Kanaz (saya biasa memanggil Anazkia dengan Kanaz; Kak Anazkia) yang mengompori saya dan Om Bisot untuk mengajar blog. Lagi. Tapi ngajarnya beda, bukan langsung di depan audiens, seperti yang selama ini kami lakukan, melainkan melalui sebuah WAG (WhatsApp Group). Ajakan itu bersambut manis. Maka dibukalah sebuah kelas blogging bernama Kelas Blogging NTT. Peserta Kelas Blogging NTT adalah teman-teman dari seluruh Provinsi Nusa Tenggara Timur baik yang sudah punya blog maupun baru mau belajar/mengenal blog. Kelas ini ditujukan semula untuk teman-teman yang sama sekali tidak tahu tentang blog (from zero, Insha Allah, to hero), teman-teman yang sudah nge-blog tapi ingin tahu lebih dalam tentang seluk-beluk dunia per-blogger-an, dan teman-teman yang ingin berbagi pengalaman nge-blog. Bagi yang sudah nge-blog, mengikuti kelas sejak kelas pertama pasti membosankan. Bagaimana tidak bosan? Materi yang diberikan itu sudah mereka lakukan (kan sudah punya blog). Tapi di sini lah hebatnya Orang Indonesia. Toleransi harus dijunjung tinggi. Mereka bertahan mengikuti kelas dari minggu ke minggu tanpa protes.

Dari Kelas Blogging NTT, yang boleh dibilang sukses, berlanjut pada Kelas Blogging NTT Angkatan II. Karena semakin banyaknya permintaan teman-teman lain untuk mengikuti Kelas Blogging NTT maka kami memutuskan untuk memulai Angkatan II. Setelah melalui japri mereka menyetujui persyaratan untuk menjadi peserta Kelas Blogging NTT, termasuk waktu yaitu setiap Rabu malam, satuper satu peserta ditambahkan ke dalam WAG. Jumlahnya lumayan banyak: duabelas peserta. Itu pun satu pesertanya bakal ditambahkan kemudian karena kekhilafan saya. Iya, saya khilaf ... lupa menambahkannya, padahal dia adalah orang pertama yang daftar untuk Angkatan II. Haha. Untung orangnya tidak mengamuk.

Angkatan I - Senin - 21.00 Wita.
Angkatan II - Rabu - 21.00 Wita.

Lantas, apa saja kemajuan yang telah dicapai oleh para peserta Kelas Blogging NTT? Mari kita simak.

1. Membikin akun Gmail.
2. Membikin blog di Blogger.
3. Membuat tulisan/pos blog.
4. Mengenal dashboard.
5. Tata cara menggunggah foto/video.
6. Membuat halaman.
7. Mengelola komentar.
8. Mengelola side bar.
9. Menulis Kreatif (Blog).

Belum berhenti sampai di situ, lagi-lagi BAT beraksi membuka Kelas Blogging Online. Kelas Blogging Online, seperti namanya yang tidak ada embel-embel NTT, pesertanya berasal dari seluruh Indonesia. Tidak usah ditanya bagaimana serunya kelas tersebut. Rasanya selalu rindu menanti hari yang ditetapkan untuk kelas dimulai.

Setelah kelas-kelas blogging di atas, saya masih membuka kelas blogging yang isinya mahasiswa Universitas Flores (Uniflor). Bisa ditebak, mahasiswa-mahasiswa tersebut sebelumnya telah mengikkuti pelatihan blog bersama saya.  Namanya Kelas Blogging Tuteh. Di situ ada mahasiswa dari berbagai program studi seperti Prodi Pendidikan Sejarah, Prodi Pendidikan Fisika, Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, juga Prodi Pendidikan Ekonomi. Semuanya saya gabung jadi satu. Mereka boleh bertanya apa saja tentang dunia blog di WAG tersebut. Salah satu keinginan saya adalah agar mahasiswa lebih rajin menulis karena menulis merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat, terutama untuk mahasiswa itu sendiri.

Selain membuka kelas blogging, saya pribadi juga menerima pesan WA pribadi dari orang per orang yang meminta bantuan membikin dan/atau ketika mereka mengalami kendala saat mengelola blog. Saya suka melakukannya, dan tentu apa yang disukai pasti dilakukan dengan ikhlas.

Baca Juga: #PDL Nasi Bambu, Penghormatan Tuan Rumah Pada Tamu

Salah seorang peserta Kelas Blogging NTT, Noviea Azizah, pada akhirnya melesat ke angkasa. Aktivis muda asal Kabupaten Nagekeo itu kemudian mengikuti berbagai kegiatan para blogger di Pulau Jawa. Ini menarik dan menyenangkan, bahkan sangat menyenangkan bagi saya pribadi yang mengikuti perkembangannya sejak awal. Selamat ya, Nov, pada akhirnya semakin banyak teman blogger yang dikenal, semakin rajin nge-blog, semakin menjadi bermanfaat bagi siapapun. Karena, apalah lagi yang bisa kita lakukan di dunia ini selain bisa bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain? Tetap semangat!

Pernah, BAT pernah melakukan itu semua ... membuka dan membangun kelas-kelas blogging lewat WAG. Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu yuk di komen.

#PDL



Cheers.

#PDL Bertemu Pom Bensin yang Dijual di Kabupaten Nagekeo


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Bertemu Pom Bensin yang Dijual di Kabupaten Nagekeo. Sebelumnya saya ingin mengucapkan alhamdulillah karena pos bertema #PDL, Pernah DiLakukan, masih bertahan sampai hari ini, hari ketiga di tahun 2020. Memangnya ada tema yang berubah. Iya, ada. Tema #RabuLima berganti menjadi #RabuDIY. Tema #KamisLima memang tidak berganti sepenuhnya dengan #KamisLegit tetapi diselang-seling sekehendak hati. Haha. Yang pasti tema harian ini turut membantu saya menulis blog setiap hari, turut mewujudkan keinginan saya menjadikan blog sebagai majalah pribadi. Insha Allah tahun 2020 ini semangat nge-blog tetap menyala seperti tahun-tahun kemarin.

Baca Juga: #PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu

Banyak sudah kisah #PDL yang saya tulis. Hari ini saya mau bercerita tentang perjalanan di awal 2019 kemarin saat mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) ke SMA-SMA di Pulau Flores dan sekitarnya. 

Hari itu, bersama Thika, Cesar, dan Rolland, setelah mempromosikan Uniflor di tiga SMA dalam wilayah Kecamatan Aesesa, kami hendak memutar balik kembali ke Kota Mbay, Ibu Kota Kabupaten Nagekeo. Tujuan kami hanya satu: rumah makan! Maklum, perut sudah mulai merintih sedih. Perjalanan kembali ke Kota Mbay ditingkahi dengan gerimis manis yang hampir saja membikin kami menyerah. Lantas pemandangan itu terlihat. Sebuah pom bensin yang terabaikan seperti perasaan yang terabaikan begitu menarik hati. Fotonya bisa kalian pada awal pos. Iya, pom bensin itu dijual. Entah sekarang, setahun kemudian, apakah sudah ada yang membelinya atau belum.

Thika, Cesar, dan Rolland cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah saya yang ngotot minta dipotret di depan pom bensin itu. Haha. Kapan lagi, coba? Foto itu, setelah diunggah ke media sosial, menuai komentar ini itu. Ada yang bilang: yang dijual itu yang sandaran kah? Hihi. Jelasnya saya bertanya-tanya kenapa sebuah pom bensin sampai dijual. Apakah karena merugi? Apakah karena proyeknya tidak berlanjut seperti pom bensin di Kabupaten Ende yang terletak di daerah Roworeke itu? Atau karena alasan lain? Padahal daerah tersebut cukup ramai dan jauh dari pom bensin yang ada di daerah Danga Kota Mbay. Entahlah.

Setelah foto di depan pom bensin yang dijual itu, kami melanjutkan perjalanan ke Kota Mbay. Iya, masih rumah makan menjadi tujuan utama. Sepanjang jalan disuguhi pemandangan persawahan hijau sungguh anugerah terindah. Tapi, pemandangan persawahan hijau jelas tidak mampu menambal perut yang rintihannya semakin menjadi.


Di depan Pasar Mbay bertemulah kami dengan Rumah Makan Mini Indah. Rumah makan ini a la masakan Padang begitu.


Alhamdulillah, sebagai pembuka segelas es teh manis cukup memuaskan dahaga dan lelah seharian perjalanan dari Kota Ende ke Kota Mbay yang dilanjutkan dengan promosi Uniflor ke SMA-SMA. Makan beratnya? Ada dooong. Haha. Ayam goreng, karena saya pecinta Upin Ipin, tentu menjadi rebutan cacing-cacing perut yang sebelumnya khidmat konser lagu-lagunya Linkin Park.

Baca Juga: #PDL Nasi Bambu, Penghormatan Tuan Rumah Pada Tamu

Pernah, saya pernah begitu. Memanfaatkan momen perjalanan dengan sebaik-baiknya. Salah satunya dengan jeli memerhatikan keadaan sekitar dalam perjalanan itu, agar tidak kehilangan kesempatan mengabadikan segala sesuatu yang unik, aneh, ajaib, yang mungkin terlewatkan oleh orang lain. Atau, orang lain tidak berselera memotret sebuah pom bensin yang dijual karena menurut mereka tidak ada faedah. Tapi bagi saya, semua pasti berfaedah. Buktinya, foto itu menjadi bekal pos #PDL hari ini. Dan, kalian jadi tahu ceritanya.

Bagaimana dengan kalian? Pernah begitu juga? Bagi tahu yuk di komen!

#PDL



Cheers.

#PDL Pernah Menulis Begitu Banyak Puisi di Blog Puisi


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Pernah Menulis Begitu Banyak Puisi di Blog Puisi. Saking alay-nya sampai-sampai saya begitu malu mengakui blog yang satu ini, hahaha.

http://puisituteh.blogspot.com


Baru hendak saya sentuh lagi meskipun tidak bisa intens seperti blog lainnya. Template-nya kembali ke template klasik punya Blogger, itu pun masih harus saya utak-atik tata letaknya. Entah kenapa hari ini saya malah fokus pada blog puisi. Mungkin karena tadi saya mendadak menulis puisi ala ala Eko Poceratu yang inspiratif itu! Sumpaaaaah, Eko, aku padamu!

Oh ya, ini puisi terbaru saya:

Cinta Bukan Untuk Main-Main

Kemarin ja'o baca de pung status WA
"Tidak Pernah Dihargai"
Ja'o langsung tertawa
Karena, kapan de pernah menghargai?

Ja'o pukul mundur ke Bulan September
Waktu de datang bawa rayuan seember
Belum apa-apa de su umbar
Cinta, de koar-koar

De belum tahu ja'o tapi su bilang cinta
Ja'o belum tahu de tapi layani de pung cinta
De sadar de pung cinta itu palsu
Dan, ja'o tahu

De pung irama macam orang menari gawi
Ada hentakan ke bumi, ada tarikan kaki kembali
De muncul, de hilang, macam orang belajar berenang
Ja'o tahu, tir lama de pasti menghilang

Ja'o pukul mundur ke Bulan November
Waktu de 'telanjangi' de pung ego
Aduh sayang e, de macam anak kober
De pikir de su paling jago

He, ja'o kastau e ...
Ko bukan apa-apa
Duduk diam di situ e ...
Belajar jadi manusia

Karena, cuma manusia yang bikin cinta bukan untuk main-main.

Aiah ...



Cheers.

#PDL Menikmati Instagenic-nya Restoran Pari Koro di Ende


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

Menikmati Instagenic-nya Restoran Pari Koro di Ende. Restoran yang satu ini sudah lama dibuka di Kota Ende, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sudah lama pula saya pergi ke sana untuk menikmati ... I Just forgot what I ate at that time. Kalau tidak salah ayam bakar lalapan atau ayam goreng lalapan. Minumnya jus alpukat. Pos hari ini bermula dari keisengan saya mengecek foto-foto lama, karena memang pengen ngepos sesuai tema di Jum'at ini yaitu #PDL, dan setelah dipikir cukup lama serta mengecek ternyata saya belum pernah menulis tentang Restoran Pari Koro.

Baca Juga: #PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu

But I don't wanna write all the thing about that restaurant. Jadi ini sama sekali bukan review resto. Ini hanya tentang foto-foto yang pernah saya jepret (dan dijepret teman) saat kami ke sana.

Let's go.

Pari Koro paling dikenal dengan kursi unik di bagian depannya, seperti yang kalian lihat pada foto di awal pos, tapi karen kepotong saya pos lagi:


Hyess, kursi itu menjadi semacam ikonnya Pari Koro. Saya bukan satu-satunya pengunjung yang pernah foto di kursi itu hehe.


Jelasnya saya, dan teman-teman memang menikmati instagenic-nya Pari Koro. Mulai dari desain interiornya, penataannya, jenis barang yang dipakai, menu yang ditulis menggunakan papan hitam, hingga ornamen di atas meja.



Ada satu hal menarik dari Restoran Pari Koro yaitu mushola-nya! Ini unik, karena tidak semua tempat makan di Kota Ende menyediakan mushola.


Kenapa ketersediaan mushola ini saya tulis unik? Karena pemilik Restoran Pari Koro beragama Katolik tetapi mereka sangat memahami kebutuhan saudara-saudara mereka yang Muslim dengan menyiapkan mushola. Lagi pula, konsep salah satu ruang di restoran ini adalah sebagai tempat meeting. Setidaknya banyak yang pernah meeting di situ. Pengunjung Muslim tidak perlu mencari masjid atau pulang ke rumah untuk menunaikan shalat kan?

Bagi kalian yang datang ke Ende, jangan lupa untuk mampir ke Restoran Pari Koro yang terletak di Jalan El Tari. Saya pribadi sangat menikmati suasananya, pun makanan dan minumannya.

#PDL



Cheers.

#PDL Nasi Bambu, Penghormatan Tuan Rumah Pada Tamu


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Nasi Bambu, Penghormatan Tuan Rumah Pada Tamu. Saya (dan kru, tentu saja) pernah berkesempatan meliput dan/atau dipercayakan membikin video dokumenter tentang Paroki Siaga. Sebelumnya proyek itu bernama Desa Siaga, tapi oleh si pemberi proyek kemudian diubah menjadi Paroki Siaga. Untuk kepentingan video tersebut saya harus pergi ke Laja di Kabupaten Ngada untuk bertemu Romo Sil Betu karena beliau lah yang menangani langsung Paroki Siaga ini. Tentang Paroki Siaga, bisa kalian baca pada pos berjudul #PDL Laja dan Toleransi.

Intinya adalah sore itu saat sudah selesai mengumpulkan materi, kami hendak pamit pulang, namun ditahan oleh Romo Sil Betu yang baik hati itu. Apa yang dikatakan Romo kira-kira begini: Kami sudah memasak nasi bambu untuk tamu, bagi kami Orang Ngada, kalau sudah disiapkan nasi bambu, tamu wajib makan terlebih dahulu. Artinya, tamu sudah dianggap sebagai saudara atau keluarga kami. Perasaan saya langsung haru ... sungguh luar biasa. Akhirnya kami harus makan terlebih dahulu baru kemudia diijinkan pulang. Hehe.

Semua Orang Flores, dari kabupaten manapun, punya budaya dan kebaikan hati yang luar biasa. Hubungan keluarga tidak saja harus dari darah yang mengalir, tetapi juga dari kebiasaan, adat, dan budaya. Nasi bambu adalah suguhan kekeluargaan yang pantang ditolak oleh tamu. Saya jadi ingat dengan kopi. Bagi kami, Orang Ende, apabila kalian sudah disuguhi segelas kopi ... kalian adalah keluarga kami. Nilai-nilai semacam ini harus terus tertanam dan harus dilestarikan ... harus terus ada dalam tubuh masyarakat (masyarakat manapun).

Kalian setuju?

#PDL
#PernahDiLakukan



Cheers.

#PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu. Mengarungi Pulau Flores memang butuh ketangguhan, terutama jika kalian adalah perempuan yang mengendarai sepeda motor, bukan mobil mewah ber-AC. Infrastruktur jalan Trans Flores memang sudah sangat baik. Tetapi, topografi Pulau Flores yang didominasi perbukitan, menyebabkan Trans Flores harus sering diperhatikan kondisinya. Saat musim hujan tiba, longsor (batu dan tanah) bisa saja terjadi, memenuhi sebagian badan jalan. Hujan juga bisa mengakibatkan putusnya jalan akibat aliran air super deras memangkas badan jalan. Kecuali jika sedang ada proyek pelebaran jalan, di luar musim hujan, kondisi Trans Flores baik-baik saja alias sangat sehat. Haha.

Baca Juga: #PDL Mengumpulkan Si Kuning

#PDL kali ini adalah tentang dua kondisi yang harus kalian ketahui. Penting? Tidak juga sih, haha. Pernah, saya pernah melakukan dan mengalaminya. 

Gantung Sepatu


Dalam perjalanan ke arah Utara, ke daerah Maurole di awal tahun kemarin saat mempromosikan Universitas Flores ke seluruh SMA se-Pulau Flores dan sekitarnya, musim hujan menyebabkan jalur yang satu ini 'putus'. Putus bukan berarti sama sekali tidak bisa dilewati, melainkan aliran air memangkas badan jalan sehingga pengendara harus lebih berhati-hati. Biasanya saya selalu membawa sepatu karet petani kalau sedang musim hujan, tapi hari itu saya lupa! Walhasil, harus rela sepatu dan kaki celana kuyup. Maunya sih tidak usah menurunkan kaki, tetapi batu-batu di dasar aliran air ini cukup besar sehingga pilihannya hanya dua: turunkan kaki atau jatuh.


Ada dua kondisi jalan yang mirip seperti foto di atas, yang satunya tidak seberapa dalam. Oh ya, yang memotret saya adalah Kakak Shinta Degor yang waktu itu seperjalanan sama saya ke wilayah Utara.

Gara-gara sepatu kanvas itu basah, saat tiba di Maurole saya terpaksa membeli sandal. Sungguh, memakai sepatu basah itu tidak enak sekali rasanya di kaki. Setelah mencuci kaki menggunakan air minum kemasan, saya memang sombong hahaha, baru sepatu diikat di sepeda motor dan kami pergi mencari warung untuk makan siang. 



Selang beberapa bulan, lagi-lagi saya harus menggantung sepatu, hanya karena salah perkiraan. Iya, saya berpikir aliran itu sudah lenyap, ternyata masih ada. Terpaksa sepatu saya jemur di atap dagangan bensinnya penduduk Desa Tana Li, hingga kering!


Dalam perjalanan pulang, waktu itu bareng Thika Pharmantara, kami membeli dua kresek merah buat membungkus kaki saya. Alhamdulillah sepatu tetap kering, setelah dijemur itu, sampai kami tiba kembali di Kota Ende.

Terjebak Debu


Kayaknya keren banget begitu menulis 'terjebak debu' haha. Musim kemarau seperti akhir-akhir ini, dimana mendung hanyalah screensaver yang tidak boleh terlalu dipercaya bakal turun hujan, para pejalan seperti saya harus menyiapkan ekstra masker. Sebagai pengendara sepeda motor, masker merupakan barang wajib pakai/bawa. Sesekali dibuka kalau udara sudah terlihat/terasa bersih. Tapi jika ada proyek pelebaran jalan, jangan sampai masker dilepas dari wajah (hidung dan mulut).




Awas nyasar! Karena pada jalur darurat Mbay - Riung yang maha luas ini, nampak begitu banyak jalur alternatif yang dipilih pengendara sepeda motor agar tidak makan debu dari kendaraan yang melaju di depannya. Kalian tahu? Roda sepeda motor saya sampai tertanam nyaris setengah akibat tebalnya tanah/pasir.

⇜⇝

Baca Juga: #PDL Menjadi Hakim Anggota

Trans Flores merupakan jalur yang asyik dilintasi. Karena saya pengendara sepeda motor, jelas menurut saya Trans Flores merupakan jalur yang asyik dilintasi oleh para pengendara sepeda motor. Kalau pengendara mobil, ya terserah, karena saya tidak suka naik mobil. Alasannya cuma satu: kalau naik mobil di Trans Flores usus saya bisa keluar dari lobang hidung. Iya, jalannya yang berkelok-kelok itu sangat memelintir isi perut! Haha.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Adakah yang pernah mengarungi Pulau Flores? Yuk bagi tahu di komen!




Cheers.

#PDL Pernah Punya Asisten Gila Seperti Ocha dan Thika

#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***


#PDL Pernah Punya Asisten Gila Seperti Ocha dan Thika. Tahun 2018, saya diminta oleh Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra, Pak Roni Wolo, untuk memotret beliau bersama calon isterinya (sekarang sudah jadi isteri donk) alias foto prewed. Demi memuluskan aksi foto prewed itu, saya mengajak Ocha dan Thika Pharmantara menjadi asisten, buat bantuin ngangkut barang. Tidak disangka, saya melihat pemandangan ini. Ampun, Ocha, itu sisir nangkring manis di rambut. Haha. Ini namanya asisten setulus hati sepenuh jiwa.

Baca Juga: Ngumpulin Foto Kaki Sendiri Entah Mau Ngapain

#PDL



Cheers.

#PDL Ngumpulin Foto Kaki Sendiri Entah Mau Ngapain


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

#PDL Ngumpulin Foto Kaki Sendiri Entah Mau Ngapain. Haha. Judulnya begitu banget ya. Saya memang paling suka memotret apa saja yang menurut saya perlu dipotret. Hasilnya tidak perlu harus selalu sesuai dengan pandangan mata para fotografer profesional, yang penting motret! Dan kaki merupakan salah satu obyek penderita yang paling sering saya potret. Tidak percaya? Inilah kaki-kaki saya *digampar dinosaurus pakai besi*.

Baca Juga: #PDL Wreath Buat Kado Natal














Ternyata ... foto-foto kaki ini bisa dijadikan satu pos #PDL loh. Haha. Dan itu baru sebagian fotonya, masih banyak yang lain, tapi kalau semua nekad dipos sekarang bisa diamuk warga lah sayanya. Oleh karena itu, segitu dulu ya *sangat tidak penting*. Setiap foto kaki punya cerita ... sebenarnya.

Baca Juga: #PDL Mengumpulkan Si Kuning

Pernah, saya pernah melakukannya, dan masih terjadi sampai sekarang memotret kaki/sepatu sendiri. Kebiasaan yang bikin orang lain keki.

Bagaimana dengan kalian, kawan?



Cheers.

#PDL Iseng Memotret Akim Tapi Hasilnya Bikin Senyum


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

⇜⇝

Akim adalah sahabat baik masa kuliah yang kemudian menjadi adek karena tidak mungkin dia menjadi kakak. Banyakan umur saya dari dia! Hehe.

Suatu sore yang iseng, karena iseng adalah nama tengah kami, sambil menunggu dosen yang belum datang juga, kami bermain-main di balkon lantai tiga Gedung Rektorat. Iya, pemandangan dari balkon ini luar biasa lah. Bisa melihat lanskap Kota Ende, bahkan kalau beruntung bisa melihat pesawat touch down dan take off. Sore itu, ketimbang saya melihat Akim memotret sana sini, saya suruh saja dia jadi model. Hasilnya ... bisa kalian lihat pada gambar di awal pos. Saya senyum ... senang. Bagus sih menurut saya meskipun tidak pakai kamera DSLR.

Tjakep kan?



Cheers.

Bobo Manja


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Kali ini #PDL-nya bukan oleh saya tapi oleh para krucil yang saban hari main di rumah. Duileh, kalau tidak dibatasi, semakin hari semakin banyak saja jumlah krucil itu ha ha ha. Kata Mamatua: anak-anak adalah malaikat. Saya pernah balas: tapi kok yang nongol ini iblis semua? Becandaaaa. Anak-anak adalah malaikat, memang. Malaikat pencabut kesabaran.

Dan pernah, krucil bobo di rumah, tapi bukan di dalam rumah. Entah mengapa sepertinya teras rumah saya, Pohon Tua, yang luas itu paling asyik dijadikan tempat bobo manja. Suatu pagi saat buka pintu rumah, pemandangan seperti di awal pos lah yang terlihat. Ampuuuun! Apa tidak kedinginan ya, mereka? Hahaha. Ada-ada saja. Langsung saya bangunkan mereka dan menitahkan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Pernah, para krucil pernah bobo manja di teras rumah. Dinginnya malam tidak menjadi masalah bagi mereka ... yang penting perasaan nyaman kali ya. Mungkin pula mereka kuatir sudah terlalu malam untuk pulang ke rumah.

Duh ...



Cheers.