Utara Punya Cerita

Pemandangan pantai di puncak bukit sebelum Desa Niranusa di Kecamatan Maurole.

Sesuai jadwal dari Panitia Tim Promosi Uniflor 2019, hari ini saya dan tiga teman lainnya yaitu Kakak Sinta Degor (Sindeg), Deni Wolo (Dewo), dan Rudi, berangkat ke wilayah Utara Kabupaten Ende. Sebelumnya, tepatnya kemarin malam, kami kaget menerima kiriman video dari teman yang tahu jadwal keberangkatan kami ini tentang putusnya jalan di daerah Fataatu akibat hujan deras. Tapi kami berempat tetap harus berangkat agar dapat melihat langsung kondisi jalan, dan bisa memutuskan apakah nanti perjalanan dapat dilanjutkan atau tidak.

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

Terhitung ada lima SMA yang wajib kami kunjungi yaitu:

1. SMA Negeri Detusoko.
2. SMA Negeri Welamosa.
3. SMK Negeri 3 Ende di Ekoae.
4. SMK Negeri 5 Ende di Maukaro.
5. SMA Negeri Maurole.
6. SMA Dharma Bakti di Maurole.

Keberangkatan Yang Delay


Bukan cuma penumpang pesawat terbang saja yang mengalami delay. Tadi pagi pun kami delay satu jam gara-gara menunggu Dewo yang terlambat bangun. Haha. Saya dan Rudi kemudian menikmati kopi panas dan kudapan di rumah Kakak Sindeg sembari menunggu Dewo. Keberangkatan yang seharusnya pukul 06.30 Wita, delay sampai pukul 07.30 Wita. Untuk tahu rute perjalanan kami, silahkan perhatikan peta berikut ini:


Rute-nya cukup ngeri kan. Oia, di peta ini tidak ada daerah Welamosa. Welamosa terletak antara Detusoko dan Ekoae.

Bertemu Mantan Guru Olah Raga di SMA Negeri Detusoko


SMA Negeri Detusoko, SMA pertama yang kami kunjungi, terletak di puncak bukit. Coba kalian perhatikan fotonya:


Jalan masuk menuju SMA Negeri Detusoko sungguh ekstrim tanjakannya (pun turunannya). Oleh karena itu saya dan Dewo terpaksa ke sekolah itu berdua saja, tanpa boncengan, sedangkan Kakak Sindeg dan Rudi menunggu di jalan besar. Harus begitu, ketimbang mereka berdua terpaksa turun di tengah perjalanan yang mendaki ke puncak gunung itu.

Di SMA Negeri Detusoko kami disambut seorang guru yang kemudian memberikan buku tamu. Urusan lapor-melapor selesai, kami dipersilahkan memasuki ruang Kepala Sekolah. Ketika saya dan Dewo masuk ke ruang Kepala Sekolah itu lah saya terkejut bukan main karena ternyata Kepala Sekolah SMA Negeri Detusoko adalah ...

"Pak Tobi?!"

"Hah? Tuty?"

Ah, kesal juga kenapa dipanggil Tuty bukan Tuteh hahaha. Bapak Tobias Dawi adalah guru olah raga saya dulu waktu di SMA Negeri 1 Ende. Saya lihat, di tangan beliau, SMA Negeri Detusoko menjadi sangat bagus. Terlihat dari baliho di tempat penerimaan tamu; yang memajang kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler murid-muridnya. Bahkan dari cerita Pak Tobi, SMA Negeri Detusoko bakal dijadikan SMA unggulan, selain telah menjadi sekolah induk untuk SMA lainnya karena di sekolah ini telah dibangun laboratorium komputer tempat murid kelas XII kelak mengikuti Ujian Nasional. Pak Tobi, semoga Allah SWT senantiasa merahmatinya demi kemajuan pendidikan di daerah kami.


Oleh Pak Tobi kami diberikan waktu sebanyak-banyaknya, semampu kami, untuk mempromosikan Universitas Flores kepada para murid kelas XII. Terima kasih ... kami harus melanjutkan perjalanan setelah selesai menyampaikan materi unggulan Uniflor kepada murid-murid.

Dua Kali Melintasi Jalan Putus


Tujuan kami berikutnya adalah SMA Negeri Welamosa (yang tidak saya cantumkan di peta di atas). Sepanjang perjalanan di daerah persawahan betapa senangnya hati melihat para petani sedang menanam padi.


Menuju ke SMA Negeri Welamosa ini, kami harus melewati satu jalan yang putus, seperti video yang dikirimkan teman pada malam sebelumnya. Jalan yang putus itu ternyata masih bisa dilalui meskipun harus berjuang sampai sepatu saya basah kuyup. Foto berikut ini adalah foto saat perjalanan pulang dimana saya sudah memakai sandal biru dengan sepatu digantung di belakang Onif Harem.


Sungguh, apabila berani tidak menurunkan kaki, maka terjatuh itu pasti. Karena apa? Karena di dasarnya itu selain bebatuan besar digenapkan dengan pasir. Hilang keseimbangan sedikit saja, sudah pasti gubrak manja. Nah dari jalan putus pertama di Fataatu ini kami langsung menuju ke SMA Negeri Welamosa yang ternyata ... masih harus melewati jalanan yang kerikil jalanannya lepas begitu menuju bukit. Ngeri-ngeri sedap. Tapi, bukankah saya bisa memakai mantel sepatu? Sebenarnya! Tapi mantel sepatu belum tuntas saya kerjakan, baru sampai tahap menggunting pola saja. Sedangkan di sekitar lokasi ini tidak ada kios/warung tempat saya bisa membeli kresek merah andalan qiqiqiq.


Ya sudah ... mari melanjutkan perjalanan. Dari sekolah ini kami harus melintasi satu lagi jalan putus yang harus dilintasi dengan MENURUNKAN KAKI. Demi keselamatan saya dan si bayi Onif Harem.

Tim Yang Dipecah


Mengingat waktu yang tidak mencukupi apabila kami berempat harus terus bersama, maka tim ini harus dipecah. Karena Ekoae + Maukaro - Maurole itu berpisah jalan. Dewo dan Rudi mendapat jatah ke SMK Negeri 3 Ende di Ekoae dan SMK Negeri 5 Ende di Maukaro. Saya dan Kakak Sindeg langsung ke Maurole yaitu SMA Negeri Maurole dan SMA Dharma Bakti. Janji ketemu makan siang di Maurole.

Alumni Uniflor Ada Di Mana-Mana!


Kami tiba di SMA Negeri Maurole saat para guru sedang pertemuan dan murid kelas XII sedang berkumpul di halaman dan sekitarnya, menunggu para guru selesai pertemuan. Apabila menunggu, belum tentu kami dapat melakukan sosialisasi dan bisa jadi kami kehilangan kesempatan di SMA Dharma Bakti. Ya sudah, lanjut ke SMA Dharma Bakti, yuk! Di SMA Dharma Bakti kami disambut oleh Wakil Kepala Sekolah yang ternyata ...

"Saya ini alumni Uniflor juga, Ibu. Rata-rata guru di sini juga alumni Uniflor. Dulu saya di Prodi Matematika. Oh iya, sudah ke SMA Negeri? Itu Kepala Sekolah SMA Negeri Maurole juga alumni Uniflor!"

Sungguh alumni Uniflor ada di mana-mana. Dan, tentu, terima kasih karena sudah mengijinkan saya dan Kakak Sindeg mempromosikan Uniflor ke para murid meskipun siang sudah semakin membikin perut menagih janji makan siang. Oh iya, sekadar catatan, akhirnya teman saya Diwan Paka Pega yang mengajar di SMA Negeri Maurole protes karena saya tidak kembali mampir ke sekolahnya hhahaha. Next time ya.

Warung Family


Dari SMA Dharma Bakti, saya dan Kakak Sindeg masih mampir di sebuah toko besar tempat saya dulu sering berbelanja kebutuhan pengungsi erupsinya Gunung Rokatenda. Namanya Haldes, kalau agak keliru namanya - maafkan ya. Rencananya pengen beli sepatu boot karet yang dipakai petani buat ke sawah itu. Tapi tidak ada. Ya sudah terima apa yang ada:

1. Membuka sepatu dan kaos kaki yang basah kuyup.
2. Mencuci kaki dengan Aqua (kaki saya sombong hari ini).
3. Membeli sandal.
4. Mengikat sepatu di bagian belakang Onif Harem.


Usai urusan bersih-bersih dan mengisi bensin, kami meluncur ke sebuah warung makan bernama Family. Uh wow sekali namanya. Di samping warung makan ini ada warung bakso tapi kami tentu lebih memilih nasi. Sekalian juga memesankan untuk Dewo dan Rudi yang sudah berangkat menuju Maurole dimana mereka tidak bisa pergi ke SMK Negeri 5 di Maukaro karena kondisi jalan yang super hancur akibat hujan.


Kembali ke Warung Family, saya menikmati makan siangnya yang menggiling lidah terutama sambelnya itu loh. Segar warhaha sekali. Dan kopi susunya ... wuih!



Saat sedang makan di warung itulah, saya teringat Yoan Ameraya, sahabat - adik - yang bertugas di Polsek Maurole. Susah memang sinyal, tidak semulus di Ende, haha, tapi pada akhirnya Yoan menelepon saya dan meminta saya menunggu. Tapi menunggu adalah hal yang sudah saya sadari sejak kenal Yoan ... bisa-bisa saya menginap di Maurole haha. Saya dan Kakak Sindeg pun bergegas menuju Polsek Maurole sedangkan Dewo dan Rudi sudah duluan ngegas ke arah Ende.

Yoan, Wisudawan Yang Terselip


Yoan adalah adik - sahabat yang sama-sama diwisuda tahun lalu. Lucunya, si tukang tidur ini ketiduran pada hari wisuda. Mama Emmi Gadi Djou meminta saya harus bisa 'mendatangkan' Yoan ke Auditorium H. J. Gadi Djou. Saya menghubungi semua orang yang menurut saya tetangganya, juga saudara-saudaranya. Fiuh. Jadi, meskipun mahasiswa Fakultas Hukum sudah selesai dipindah kucirnya, Yoan diselip di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), tepat wisudawan terakhir setelah FKIP.


Meskipun bertugas sebagai Polisi tapi Yoan punya kemampuan lain yang luar biasa yaitu pandai bermain alat musik terutama orgen dan gitar, serta bernyanyi! Satu keluarganya semua memang punya bakat seperti Enol dan Nick yang dikenal sebagai fotografer. Yoan juga idolanya Mamatua karena dialah satu-satunya sahabat saya yang sering mengiringi Mamatua bernyanyi Teluk Bayur. Aduhaaaaiii mereka berdua kompak sekali *ngakak guling-guling*.


Terima kasih Yoan, dari foto di atas saya jadi tahu ternyata kalau tampak belakang itu foto saya menjadi jauh lebih bagus dari tampak depan wakakakaka.

Rumah Para Pengungsi


Kalau kalian membaca Pos #PDL Piknik Setiap Minggu, pasti tahu kedekatan hubungan emosional saya dengan para pengungsi akibat erupsinya Gunung Rokatenda kan. Perjalanan tadi itu, saya melihat rumah-rumah pengungsi sudah lama dibangun (terakhir kabarnya tahun 2014 Mama Muna bercerita tentang bantuan rumah).


Itulah bentuk rumah mereka, para pengungsi, dengan ladang jagung di sekitarnya/halaman. Mereka, benar-benar telah bangkit dan membangun kembali. Semoga kehidupan mereka sejahtera. Hanya doa yang bisa saya panjatkan pada Tuhan untuk mereka.

Pemandangan Dari Ketinggian


Maurole terkenal akan pantainya yang luar biasa kece. Salah satu pemandangan pantai ini dari ketinggian/bukit sebelum memasuki Desa Niranusa. Akhirnya saya dan Kakak Sindeg foto-foto dulu di tempat ini sebelum melanjutkan perjalanan pulang.



Kalau ada yang bikin kafe di ketinggian ini ... pasti ramai! Karena ini merupakan jalur Pantura (Pantai Utara) antara Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka.


Fiuh ... akhirnya selesai juga cerita perjalanan hari ini. Kalian tentu ngeri juga membacanya. Super panjang! Tapi percayalah, bacalah semuanya, sudah saya bagi per sub, jadi lebih mudah untuk dibaca. Halaaaaah. Hahahah *ditimpuk dinosaurus*.

Baca Juga: 5 Desa 5 Potensi

Semua catatan perjalanan dalam rangka mempromosikan Uniflor ini banyak yang belum semua saya pilah, terutama untuk dipos di blog travel. Proses memilah per cerita masih berlanjut, dan proses menulis satu per satu ... belum sama sekali. Haha. Nantilah, mungkin kesibukan akan semakin bertambah dengan masuknya saya sebagai Tim Lomba Mural dalam perhelatan Triwarna Soccer Festival. Tapi saya yakin, segala sesuatu akan selesai juga jika dikerjakan perlahan-lahan. Bukan begitu? Begitu bukan?

Selamat menyambut akhir pekan, kawan. 


Cheers.

5 Desa 5 Potensi


Alhamdulillah awal tahun 2019 sudah banyak kegiatan yang saya lakukan baik kegiatan yang berhubungan dengan kampus, maupun kegiatan di luar kampus. Salah satu kegiatan di dalam kampus yang saya sukai adalah peliputan kegiatan Natal Bersama di Fakultas Ekonomi yaitu Misa Oikumene yang dipimpin oleh Pater John Ballan, SVD. dan Pendeta Ferluminggus Bako, Sth. Sedangkan kegiatan di luar kampus antara lain kegiatan #EndeBisa, ngemsi di acara ultah Ezra, ngumpulin batu bakal Stone Project (salah satu resolusi 2019), jalan-jalan awal tahun di Pantai Nangalala, hingga kerjaan tukang syuting di beberapa desa.

Baca Juga: 5 Keseruan Tinggal di Motorhome

Sebenarnya sudah lama saya menolak tawaran atau permintaan menjadi tukang syuting semacam syuting acara pernikahan. Alasannya sederhana: Cahyadi, tukang syuting andalan saya itu, sedang ada kerjaan lain yang tidak memungkinkannya untuk bekerja di pagi hari (misalnya syuting proses make up hingga pemberkatan di Gereja atau akad nikah di Masjid). Masa iya saya cuma menerima proyek syuting khusus resepsi yang umumnya dilakukan malam hari saja? Mana ada calon pengantin yang mau! Jadi, saya menolak proyek-proyek syuting itu meskipun Rupiah-nya menggoda imannya dinosaurus. Tapi ketika saya dihubungi oleh dua kecamatan yaitu Kecamatan Ende dan Kecamatan Ende Utara untuk mendokumentasikan kegiatan di desa di bawah payung Program Inovasi Desa (PID), saya langsung menyetujuinya. Alasannya juga sederhana: waktu kerja yang fleksibel.

Untuk Kecamatan Ende, Cahyadi mendapat tugas paling berat, karena lokasi desa-desa 'jajahannya' itu sangat jauh dan medan menuju lokasi yang tergolong berat. Sampai suatu kali Cahyadi pulang dan bercerita bahwa dia jatuh dari sepeda motor karena bebatuan jalanan yang tidak bisa diajak kompromi. Sedangkan untuk Kecamatan Ende Utara saya masih bisa menanganinya karena selain waktunya yang fleksibel, juga lokasinya masih dekat-dekat Kota Ende.

Dari video-video yang kemudian saya sunting, saya melihat bahwa setiap desa mempunyai potensi yang luar biasa besar, yang seharusnya menjadi fokus pemerintah untuk mengembangkannya. Agar apa? Agar masyarakat berdikari. Tentu, sebagai tahap atau langkah awal diperlukan bantuan seperti bimbingan dan pendampingan hingga dana. Bimbingan dilakukan bertahap oleh Tim PID maupun instansi terkait, sedangkan dana masih diusulkan dari dana desa.

Bapak Drs. Kapitan Lingga, Camat Ende Utara, mengungkapkan bahwa dana desa dapat dipakai untuk keperluan kelompok-kelompok dari upaya pemberdayaan masyarakat desa ini, asalkan betul dimanfaatkan dengan baik. Maksudnya adalah adanya laporan keuangan yang transparan dari penggunaan dana-dana tersebut. Kita tahu, dana desa telah membantu begitu banyak masyarakat desa untuk menikmati fasilitas diantaranya jalan desa yang dibikin baik menjadi jalan rabat, pembangunan kantor desa dan faskes, pembangunan fasilitas olahraga, hingga bantuan untuk kelompok-kelompok pemberdayaan masyarakat desa. Dana desa dilaporkan penggunaan/pemanfaatannya dua kali setahun. Jadi, setengah dana desa digelontorkan, enam bulan pelaporan baru setengahnya lagi digelontorkan. Kira-kira begitu informasi yang saya baca dari buku Dana Desa keluaran Kementrian Keuangan.

Kembali pada judul pos ini, 5 Desa 5 Potensi, saya ingin menulis tentang potensi lima desa yang telah kami dokumentasikan.

Apa saja potensi desa-desa tersebut?

1. Keripik Ubi dan Pisang


Desa Mbomba merupakan desa yang berada di bawah pemerintahan Kecamatan Ende Utara. Dua jenis hasil bumi unggulan dari desa ini adalah ubi (singkong) dan pisang. Oleh Tim PID, masyarakat desa khususnya kaum ibu dibentukkan kelompok kemudian diberdayakan untuk mengolah hasil bumi unggulan tersebut menjadi panganan tingkat dua berupa keripik ubi dan pisang.



Saya sudah merasakan hasil olahannya dan lidah saya jatuh cinta sama keripik ubinya, terutama yang belum dicampur bumbu tabur. Renyah dan gurih sekali, kawan. Rasanya mirip keripik ubi berbahan ubi Nuabosi. Untuk ubi Nuabosi, silahkan baca pos Puskesmas Cantik di Tanah Ubi Roti ini, ya.

2. Tenun Ikat


Sama dengan Desa Mbomba, Desa Gheoghoma juga terletak di wilayah Kecamatan Ende Utara. Kekayaan sumber daya dari desa ini yang diangkat oleh Tim PID adalah tenun ikatnya. Ada tiga kelompok penenun dari tiga dusun di Desa Gheoghoma yang telah dibentuk sejak tahun 2018. Mereka juga mendapatkan pendampingan dari instansi terkait salah satunya Perindustrian, serta menurut Kepala Desa, hasil tenun ikat dijual di Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Kita harapkan bersama tenun ikat dapat semakin naik nilainya di mata dunia karena proses pembuatannya cukup panjang dan melelahkan. Mereka, pada penenun itu jenius ya ... membikin motif itu! Sungguh jenius.


Pos lengkap tentang proses menenun di Desa Gheoghoma dapat kalian baca pada pos Proses Pembuatan Tenun Ikat ini.

Baca Juga: 5 Workshop Blogging & Social Media

3. Air Terjun Tonggo Papa


Sudah lama Air Terjun Tonggo Papa dikenal khalayak. Banyak yang ke sana loh termasuk teman-teman saya. Saya dan Kakak Pacar sepasukan pernah ke sana juga, tapi karena sayanya tidak kuat, karena kaki yang uzur, berhenti di tengah jalan. Mereka yang kuat, tapi karena solidaritas, justru ikutan berhenti menemani saya menikmati aroma dedaunan. Huhuhu.


Air terjun merupakan wisata alam yang paling banyak dijumpai di Kabupaten Ende. Di dekat Kota Ende saja ada Air Terjun Kedebodu. Air Terjun Tonggo Papa terletak di Desa Tonggo Papa, masih dalam wilayah Kecamatan Ende. Cahyadi yang mendokumentasikan ini. Yang saya suka adalah adanya wisata / atraksi wisata buatan seperti sayap kupu-kupu yang satu ini:


Artinya, baik pemerintah desa maupun masyarakat desa sama-sama sadar bahwa wisata alam akan lebih menarik dengan adanya wisata buatan sebagai pendukung (wisata utamanya). Haha. Itu analisa asal-asalan saya saja. Saya masih punya mimpi untuk 'harus' bisa turun-naik pergi-pulang Air Terjun Tonggo Papa. Doakan yaaaa *elus-elus kaki*.

4. Kemiri


Tidak disangka, berdasarkan pengakuan dari Kepala Desa Wologai, dinyatakan bahwa Desa Wologai sanggup memenuhi permintaan kemiri berapa ton pun. Tapi kalau minyak kemiri ... tunggu dulu. Karena itu masih merupakan rencana ke depan untuk menopang perekonomian masyarakat Desa Wologai - Kecamatan Ende.



Coba informasi ini saya peroleh dari dulu. Dulu itu ... saya dan Sisi, sahabat tergila, punya perusahaan kecil pembuatan minyak kemiri perawan haha. Maksudnya kami memproduksi minyal kemiri asli yang dikirim ke perusahaan teman di Belgia sana. Kemudian mandeg. Sebenarnya mandeg bukan karena kehabisan stok kemiri, yang adalah tidak mungkin, tapi karena satu dan lain hal *senyum manis*.

5. Virgin Coconut Oil


Kalau yang satu ini juga masih dari kelompok minyak perawan. Virgin coconut oil dari Desa Emburia - Kecamatan Ende. 


Tidak disangka di Desa Murundai yang letaknya super jauh dari Kota Ende itu sudah ada usaha pengolahan kepala menjadi virgin coconut oil dan bahkan telah diberi label! Mereka mengandalkan potensi pohon kelapa yang tumbuh subur di desa tersebut.


Prosesnya masih sederhana dan tentu masih membutuhkan bimbingan dan tambahan modal/dana. Tapi melihat hasil yang sudah dicapai sejauh ini, saya pikir dana harus digelontorkan untuk mereka. Baik dari dana desa maupun dari dana lainnya.

Setiap desa punya potensinya masing-masing. Tugas kita bersama adalah untuk melihat, menggali, mengembangkannya, hingga memperkenalkannya, demi masyarakat desa berdikari.


Di Kabupaten Ende ini banyak sekali desa (dan kelurahan) yang bisa terus digali potensinya baik potensi wisata maupun potensi hasil bumi. Semuanya masih dapat dikembangkan, terus-menerus, agar menjadi 'besar'. Tapi tentu harus ada upaya lain untuk mendukung itu semua. Desa Wologai misalnya. Desa yang jalannya luar biasa bikin jantung kebat-kebit dan bikin Cahyadi jatuh dari sepeda motor ini, akses jalannya itulah yang harus diperhatikan untuk mendukung proses jual-beli kemiri yang bisa dilayani berton-ton tersebut. Kan sayang kalau calon pembeli malas ke sana (untuk melihat kualitas kemiri misalnya) hanya gara-gara kondisi akses jalan.

Salah satu potensi desa yang pernah juga saya bahas di blog travel adalah Desa Manulondo. Di sana ada Ritual Goro Fata Joka Moka. Ini ritual tolak bala yang dilakukan bisa sampai tiga hari lamanya. Unik sekali ritual tersebut, silahkan baca kalau penasaran, dan itu merupakan potensi wisata budaya yang harus terus ada/berkelanjutan. Entah sekarang, apakah ritual tersebut masih terus dilaksanakan atau tidak. Belum lagi potensi di desa-desa lain seperti desa-desa penyangga Danau Kelimutu hingga desa-desa di wilayah pantai bagian Utara Kabupaten Ende (saya pernah peroleh informasi tentang hutan bakaunya). Luar biasa memang ... kita harus keep digging.

Baca Juga: 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)

Well, semoga pos ini bermanfaat bagi kalian semua. Siapa tahu kalian juga ingin menggali dan menceritakan lebih banyak potensi yang ada di desa kalian. Ya kan ... bagi tahu saja di papan komentar, nanti saya kunjungi blog-nya. Hehe.

Semoga bermanfaat!



Cheers.

Buku Saku: Ende



Saya menyebutnya buku saku Ende. Sebuah buku mini berisi informasi tentang atraksi wisata di Kabupaten Ende serta budaya dan masyarakatnya. Buku ini diberikan oleh teman siaran Iwan Aditya yang bekerja di Swisscontact. Jadi kangen sama Iwan. Teringat masa-masa siaran dulu, terutama saat bibir dan otak Iwan jarang kompak, sampai-sampai saya dan Yoyok bilang begini, "Wan, orang itu yang typo jari, bukan bibir."

Haha!

Baca Juga: Corn Island

Flores Pocket Book for Tour Guides ENDE (FPBFTG ENDE). Demikian yang tertulis di sampul mukanya dengan gambar latar salah satu danau dari Danau Kelimutu dan dua orang wisatawan. Buku ini diterbitkan oleh DMO Flores dan didukung oleh HPI DPC Kabupaten Ende & Swisscontact WISATA (Copy Right) DMO Flores. Beberapa logo terpeta di buku ini diantaranya Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, Wonderful Indonesia, Swisscontact, dan HPI. Anyhoo, sebelum lanjut, sekadar informasi saja bahwa Danau Kelimutu kini telah berubah warna lagi. Sayang saya belum sempat ke sana untuk sekadar ... selfie(?) haha.

Ada dua informasi utama di dalam FPBFTG ENDE. Yang pertama informasi tentang Pulau Flores. Yang kedua informasi tentang Ende.

Meskipun kecil namun FPBFTG ENDE sarat informasi. Informasi tentang Pulau Flores tidak saja memuat Letak dan Kondisi Geografis, Iklim, Flora dan Fauna, Sejarah, Masyarakat dan Kebudayaan, hingga kabupaten-kabupaten di Pulau Flores saja. Menggali lebih dalam, terdapat penjelasan tentang Sirih Pinang atau disebut Chewing Betel Nut

Wanita tua Flores biasanya mempersiapkan sirih saat mengobrol dengan teman-temannya. Kebiasaan ini sudah dikenal selama 2000 tahun, dan juga dikenal di bagian lain di Asia Tenggara seperti di Malaysia, Myanmar, India, Vietnam, Bhutan, Thailand, Papua Nugini dan Afrika Timur. Hal ini terutama terlihat di daerah pedesaan. Tiga bahan dasarnya antara lain sirih (Piper Betel Linn), dimana orang menggunakan buah dan daunnya, pinang (Areca Catechu Linn) dan kapur yang didapat dari batu kapur, kerang atau karang. Kapur juga dapat membuat gigi menjadi merah dan jika seseorang terlalu banyak menggunakannya, ini akan berakibat buruk pada gigi.

Bagi yang tidak terbiasa, jangan dipaksakan. Saya pernah mencoba sekali untuk mengunyah sirih ini, tetapi tidak kuat dan mabok *senyum nista*. Gara-gara mabok menyirih itu saya tidak berani mengulang percobaan itu. Mungkin suatu saat kalau sudah siap mabok lagi.

Bagaimana dengan informasi tentang Ende?

Diisi dengan lima poin penting yaitu:

1. About Ende.
2. Tourist Attraction.
3. Culture in Ende.
4. Useful Phrase.
5. Peta Flores dan Ende.

Kalau tentang atraksi wisatanya saya pikir kalian juga sudah tahu. Beberapa bisa dibaca di Blog Travel saya yang satu ini. Diantaranya Danau Kelimutu, Kampung Adat Wologai, Kampung Adat Nggela, Air Panas Liasembe, Air Terjun Murundao, Mata Air Panas Ae Oka Detusoko, Pantai Penggajawa, Pantai Enabhara, dan lain sebagainya. Di FPBFTG ENDE tidak tercantum atraksi wisata buatan.

Dua poin yang paling menarik minat saya dari lima poin di atas adalah tentang Culture in Ende dan Peta. Pada sub Budaya di Ende saya menggarisbawahi dua kalimat yang digunakan oleh Suku Lio (suku lainnya bernama Suku Ende) untuk kebesaran dan keagungan Tuhan:

Du'a Gheta Lulu Wula, Kai Eo Mbe'o Mera Gheta Longgo Leja.
(Tuhan di balik bulan, Dialah yang menatap di balik matahari).

dan

Ngga'e Ghale Wena Tana, Kai Eo Bewa Sa Ela Meta.
(Tuhan adalah penguasa bumi, Dialah pencipta alam semesta).

Baca Juga: Ngelawak Bersama Mamatua

Sedangkan pada sub Seni Bahasa, saya sangat tertarik dengan ulasan-ulasan tentang Sara Waga, Sua seru, Bhea, Sodha, Sua Sasa. Selama ini saya hanya pernah mendengar orang-orang ber-sodha dan sua sasa saja (lisan). Tidak menyangka bahwa puisi dalam bahasa Lio disebut sara waga dan sua seru itu. Mungkin kalian bakal bilang, masa iya Orang Ende tapi tidak paham betul tentang seni bahasa dari Suku Lio? Maklum, saya kan Suku Ende campuran ha ha ha. Bahasa Ende saja masih harus terus saya pelajari ... soalnya sejak lahir sampai sebesar dinosaurus komunikasi di dalam rumah selalu menggunakan Bahasa Indonesia.

Menurut saya, buku FPBFTG ENDE boleh dimilliki oleh siapa pun yang hendak berkunjung ke Pulau Flores dan Kabupaten Ende karena di dalamnya memuat hampir semua informasi yang dibutuhkan oleh para wisatawan. Saya pikir itu cukup, karena informasi tambahan bisa ditanyakan langsung ke agen perjalanan yang dipakai, teman yang tinggal di Pulau Flores dan Kabupaten Ende, atau penduduk setempat. Ingat, malu bertanya sesat di jalan, malu menjawab sesatkan orang lain.

Di mana bisa membeli FPBFTG ENDE? Entahlah. Saya memperolehnya dari Iwan. Saya tidak tahu apakah buku ini dijual bebas di toko buku atau tidak. Secara toko buku Gramedia juga jauh dari Kota Ende ... haha ... jadi silahkan coba cari sendiri kalau sempat main ke toko buku.

Baca Juga: Travel Writer

Demikian ... semoga bermanfaat.

Oia, dan karena liburan telah usai, tidak ada kalimat yang lebih indah selain: selamat kembali ke belantara rutinitas, kawan!



Cheers.

#PDL Harmonisasi Di Saung Angklung Udjo

Nemu foto ini di situs travelnya detik(dot)com.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; termasuk tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***

Rabu kemarin saya membaca komentar dari Himawan pada pos Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah tentang penduduk lokal yang kebingungan waktu kami bertanya lokasi sanggar dimaksud. Himawan (or Hino) mengandaikan penduduk lokal sekitar sanggar juga dilibatkan di dalam kegiatan-kegiatan sanggar sehingga bisa sespektakuler Saung Angklung Mang Udjo atau Saung Angklung Udjo. Penduduk memang terlibat, namun anak-anaknya saja yang dilibatkan ikutan sanggar tersebut, berlatih Tari Topeng bersama cucu Miras yaitu Aerli.


Bicara soal Saung Angklung Udjo artinya bicara soal wisata budaya yang dijaga dan dilestarikan dengan kemasan sangat menarik. Saung Angklung Udjo terletak di Jalan Padasuka 118, Bandung, Jawa Barat. Lokasi ini dibagi-bagi menjadi tempat pertunjukan, toko souvenir, tempat makan, dan lain-lain yang tentu sekarang sudah jauh lebih berkembang. Tahun 2010 waktu ke Saung Angklung Udjo saya sangat menikmati cuci mata di toko souvenir-nya itu. Sebagai wanita imut dan beperasaan halus saya juga gemas donk melihat ragam benda mini-mini menggemaskan salah satunya gantungan kunci berbentuk angklung.


Hari itu saya dan Acie berkesempatan menonton Pertunjukan Bambu Petang. Seperti foto di awal pos ini kalian bisa melihat seorang perempuan berkebaya biru dan anak-anak kecil bermain angklung. Di sini lah proses pengenalan dan pelestariannya terjadi karena secara tidak langsung penonton dengan latar belakang beragam itu diedukasi tentang angklung; cara memegang, cara memainkannya, dan betapa angklung tidak dapat berdiri sendiri-sendiri alias memang harus dimainkan dalam kelompok, dengan anggota yang sudah tahu nada dasar yang mereka 'pegang'. Kira-kira begitulah.


Kemudian panitia/pengelola membagikan kami angklung masing-masing satu. Sudah tahu cara memegang dan memainkan alat musik ini, lantas perempuan berkebaya biru mengetes nada masing-masing kelompok, kira-kira sepuluh sampai limabelas orang per kelompok. Dia memberi instruksi pada kami. Kami, yang belum saling mengenal dan kebetulan sama-sama terdampar di suatu pertunjukan petang ini, hanya dengan melihat arah tangan si instruktur, bisa memainkan satu lagu dengan utuh yaitu lagu Ibu Kartini.


Aweeeesomeeee! Harmonisasi yang tercipta menggenapi kepuasan kami mengunjungi Saung Angklung Udjo. Terima kasih untuk pengalaman yang luar biasa ini.

Usai bermain angklung, kami menyaksikan pertunjukan wayang golek. Tapi saya lupa kisah tentang apakah yang ditampilkan hari itu.


Usai pertunjukan wayang golek, saya dan Acie masih sempat berlama-lama di toko souvenir, melihat sana-sini, cuci mata, gemas-gemasan sama penjaga lelaki, terus membeli beberapa souvenir, dan memutuskan untuk pulang. Kami masih punya tugas mencari lokasi pembuatan / pengrajin wayang golek. Untungnya saya masih menyimpan foto si bapak di bawah ini:


Situs yang memuat artikel tentang Golek; Bukan Boneka Biasa yang saya tulis untuk Detik, memang belum bisa dibuka, untungnya Om Bisot pernah membuat status tentangnya di Facebook. Hahaha. Sumpah, ngakak tiarap saya melihat foto yang satu ini:


Terima kasih, Om *jempol paling gede* berkat ini, tidak hilang jejak digitalnya *tsaaaah*.


Jadi kalau ditanya, pernahkah saya ke Saung Angklung Udjo? Pernah, saya pernah ke sana. Saya pernah bermain angklung dalam kelompok penonton dan kerja sama tim ini menghasilkan harmonisasi yang mengagumkan. Kita harus banyak belajar dari (filosofi) angklung ini. Dan pernah, saya juga pernah mengunjungi pengrajin wayang golek dan pura-pura memainkannya supaya difoto sama Acie. Ternyata saya pernah juga PERNAH SEBESAR ITU. Hahaha ...

Bagaimana dengan pengalaman kalian?


Cheers.