Mengenang Pak De yang Humoris, Murah Hati, dan Merakyat


Mengenang Pak De yang Humoris, Murah Hati, dan Merakyat. Apa yang akan dikenang setelah makhluk hidup pergi untuk selama-lamanya? Tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Saya mengenang (alm.) Bapa Asmady Pharmantara sebagai laki-laki paling merdeka di muka bumi. Pemikiran-pemikirannya sangat merdeka, dan kadang melawan arus, telah diturunkan pada saya. Orang bilang saya ini nyentrik. Itu warisan Bapa. Saya mengenang kucing kami Polar dan Ringenge sebagai dua makhluk hidup paling tangguh. Polar, meskipun satu kakinya dipukul orang hingga pincang, pernah pulang dalam kondisi mengenaskan serta bermandi lumpur, masih bertahan hidup bertahun-tahun kemudian. Ringenge, kucing yang saya temukan di depan Toko Nirmala dan nyaris ditabrak angkot hingga saya memarahi si supir angkot, pernah dimusuhi dengan sangat sengit oleh Polar pada awal kehadirannya di Pohon Tua, pada akhirnya tetap bertahan dan bahkan menjadi karib dengan si 'kakak'. Saya juga mengenang daun-daun sop hasil pembibitan pertama yang sukses. Pot-pot semai itu kemudian berpindah tangan karena diminta oleh orang-orang. Jika bermanfaat, maka pasti saya berbagi apa pun, termasuk daun sop.

Baca Juga: Suasana Kota Ende Setelah 14 Hari Saya Di Rumah Saja

Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), siapa tidak mengenal Dr. Josef Alfonsius Gadi Djou, S.E., M.Si.? Putera/anak bungsu dari mendiang Opa Emma Gadi Djou, founding father-nya Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif), dan tentu saja Universitas Flores (Uniflor). Dr. Josef Alfonsius Gadi Djou, S.E., M.Si. lebih karib disapa Pak De. Pak De pernah menjabat sebagai Kepala Sekretariat Yapertif, dan dosen pada Fakultas Ekonomi Uniflor. Beliau juga politisi dari Partai Golkar, yang kemudian berbakti pada daerah ketika terpilih sebagai Anggota DPRD Provinsi NTT pada Pileg tahun lalu, dari daerah pemilihan NTT-5. Tapi kalau bicara soal berbakti pada daerah, saya pikir itu sudah dilakukan beliau sejak dulu. Di kampus, sebagian mahasiswa mengenalnya dengan sangat dekat sebagai pembina Resimen Mahasiswa Mahadana Universitas Flores. Baru-baru ini, tepatnya tanggal 25 Januari 2020 beliau terpilih sebagai Ketua Ikatan Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) Kabupaten Ende. Dari lini olahraga, pada tanggal 15 November 2018, Pak De dikukuhkan sebagai Ketua Asosiasi Futsal Kabupaten (AFK) Ende bertepatan dengan malam final dan penutupan Turnamen Futsal U-17 yang diselenggarakan oleh AFK Ende dengan memperebutkan piala Wakil Bupati Ende.

Sabtu dini hari saya menerima panggilan telepon dari Yusti Ambuwaru, dengan suara tercekat dia bertanya: Putih, apakah betul, Putih? Apanya? Apanya yang betul? Sekilas kuping saya mendengar: Pak De. Lantas panggilan terputus. Saya langsung memeriksa telepon genggam yang lama, yang jarang saya pakai kalau malam hari, dan ternyata ada begitu banyak pesan WhatsApp baik dari individu maupun di grup.


Pak De yang sangat kami cintai itu telah berpulang ke pangkuan Illahi pada Jum'at, 10 April 2020, sekitar pukul 23.20 Wita.

Syok.

Saya syok. Wajah Thika Pharmantara memucat saat kami sama-sama keluar dari kamar dan saling pandang, lantas berkata, "Bapa De."

Mau sekali saya tidak mempercayainya. Tapi kenyataan berbicara lain.

Pribadi yang humoris, murah hati, dan merakyat itu ... telah pergi.

Humoris, Murah Hati, dan Merakyat


Saya mengenal Pak De sebagai pribadi yang humoris, murah hati, dan merakyat. Bagi siapa pun yang mengenal beliau, pasti akan berpendapat sama. Kalau kalian tidak percaya, coba saja mengintip dinding Facebook Pak De. Kalian akan menemui begitu banyak cerita-cerita lucu dan konyol, menggunakan dialek kami, dialek Orang Ende. Kadang-kadang cerita lucu yang sama juga dilempar ke WAG Pegawai Yapertif-Uniflor.




Pribadi Pak De yang humoris tidak saja pada dinding Facebook. Keseharian juga seperti itulah beliau. Pada kesempatan semeja dengan beliau di kantin, pasti ada saja hal-hal lucu yang diceritakan, atau beliau terbahak-bahak mendengar cerita orang lain. Humoris sudah menjadi bagian dari diri beliau; lihat saja foto-foto beliau. Senyumnya itu pasti melekat dalam benak setiap orang yang pernah mengenalnya, dekat atau pun sambil lalu. Kadang saya merasa aneh jika melihat Pak De marah-marah, misalnya. Wajahnya yang memerah itu seperti bukan dirinya. Tapi biasanya Pak De tidak lama marah, tidak sampai hitungan hari, beberapa jam paling sudah seperti biasa lagi, menunjukkan wajah ramah bersahaja.

Bicara soal murah hatinya Pak De, pasti berkaitan dengan betapa merakyatnya beliau. Mentraktir adalah kebiasaan beliau terhadap siapa pun, termasuk saya. Kadang-kadang kalau melihat saya dan Mila, saat sedang makan di Warung Damai, beliau langsung bilang: tidak traktir. Hahaha. Kami cuma cekikikan mendengarnya karena ujung-ujungnya pasti ditraktir juga. Urusan murah hati ini berlaku untuk semua orang, seperti yang saya tulis, terhadap siapa pun, beliau tidak memandang 'siapa kau'. Dan bukan hanya soal makanan. Banyak saya mendengar cerita betapa murah hatinya beliau. Sampai-sampai dulu saya pernah berkata dalam hati: Pak De ini menabung amal untuk kemudian hari. Bantu orang tidak pandang bulu, tidak omong lagi, pokoknya bantu saja begitu. Lhaaa kita ... bantu orang saja pakai acara selfie. Padahal, tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu.

Kalau merakyat, jangan ditanya lagi. Pak De tidak memandang 'siapa kau' untuk beliau duduk bersama, mengobrol, bahkan menikmati makanan dan minuman yang kau suguhkan. Bagi saya, untuk skala seorang terpandang dan berasal dari keluarga sangat mampu, Pak De begitu merakyat. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Mempercayai Kemampuan Orang Lain


Sejak Pak De pulang ke Kota Ende, ke Uniflor, setelah meraih gelar Doktor pada tahun 2017, kami berada satu lantai yaitu di Lantai III Gedung Rektorat. Pak De waktu itu menjabat Kepala Pusat Studi Pariwisata Uniflor. Saat itu, saya keranjingan meminjam buku-buku yang tertata apik pada rak dalam ruangan kantor Pusat Studi Pariwisata Uniflor. Salah satu buku yang berdiri di rak tersebut merupakan disertasi Pak De yang berjudul Ekowisata Berbasis Masyarakat di Taman Nasional Kelimutu Kabupaten Ende. Atas permintaan beliau, si pemilik disertasi, saya diminta membedah buku tersebut menjadi beberapa buku, sehingga pekerjaan saya sehari-hari adalah membaca disertasi tersebut baik dari bukunya maupun soft-file. Mendapat kesempatan membaca disertasi tersebut seakan menyuntik nutrisi lengkap ke dalam otak saya tentang konsep ekowisata dan Community Based Tourism (CBT) atau kita sebut pariwisata berbasis masyarakat. Analisis SEM yang digunakan di dalam penelitian ini termasuk mengukur keterlibatan masyarakat lokal dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pelestarian.

Silahkan baca tulisan lengkapnya di sini.

Dari disertasi tersebut saya jadi tahu konsep ekowisata dan CBT yang mengajak masyarakat untuk lebih berpartisipasi dalam dunia pariwisata. Puluhan literasi mendukung penelitian tersebut. Wawancara tidak saja dilakukan dengan pengelola (pemerintah) Taman Nasional Kelimutu tetapi juga dengan masyarakat desa penyangga Taman Nasional Kelimutu, dan wisatawan yang berkunjung ke sana (pandangan responden). Selain itu, penelitian ini juga mengutarakan tentang Taman Nasional Kelimutu itu sendiri seperti bentuk dan kondisi atraksi budaya masyarakat, atraksi alam, atraksi flora dan fauna, dan atraksi buatan. Salah satu bentuk atraksi buatan yang ada di Taman Nasional Kelimutu adalah Desa wisata, Arboretum, Insektarium, Herbarium, Agro-ecotourism, dan Rumah Pesanggrahan Belanda. Jujur, saya sendiri belum pernah ke Arboretum-nya, hehe. Nanti kalau ke Danau Kelimutu lagi, saya harus tiba di Arboretum ini.

Atraksi buatan ini mengingatkan saya pada salah satu seminar yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Pariwisata. Dalam Seminar Nasional bertema Melestarikan Budaya Lokal Sebagai Aset Pariwisata, dengan pemateri Dr. Bambang Suharto, M.M.Par. tersebut disinggung soal atraksi buatan ini. Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu Persada Agussetia Sitepu menceritakan tentang ledakan pengunjung saat hari libur tiba. Pak Bambang menyarankan dan menjelaskan tentang pembagian pengunjung agar tidak semua pengunjung secara serentak menuju Danau Kelimutu dan agar pengunjung tidak terlalu lama berada di Danau Kelimutu (untuk memberikan kesempatan pada pengunjung lainnya) dan menghabiskan lebih banyak waktu di lokasi atraksi buatan ini. Setidaknya yang saya tangkap dari omongan Pak Bambang adalah lokasi atraksi buatan harus dibuat ramah terhadap keluarga dan anak-anak, yang dilengkapi dengan rest area (meja kursi tempat duduk mengaso dan makan, permainan anak yang sederhana, kamar mandi, tempat ibadah, dan lain sebgainya) yang memadai, agar pengunjung betah.

Kembali pada disertasi Pak De, akhirnya disertasi tersebut saya bedah menjadi dua buku berjudul:

1. Ekowisata Berbasis Masyarakat di Taman Nasional Kelimutu.
2. Lebih Dekat Mengenal Taman Nasional Kelimutu.

Proses pembedahan selesai. Sudah saya jadikan dalam bentuk buku (template buku) sehingga enak dan/atau asyik ketika dibaca, dan sudah terbayangkan bentuk bukunya nanti seperti apa, oleh penyunting. Selanjutnya proses penyuntingan dilakukan oleh Bapak Alexander Gawen, seorang dosen dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Uniflor, yang dulunya merupakan Kepala UPT Publikasi dan Humas Uniflor, tempat saya bekerja. Dua buku itu sedang dalam proses hendak dicetak ... saya tidak tahu apakah akan diteruskan atau tidak. Kalau diteruskan untuk dicetak/diterbitkan, dua buku itu akan menjadi kenangan paling manis untuk saya, kalian, dan mereka.

Dari situ saya belajar. Kita harus mempercayai pula kemampuan orang lain, selain mempercayai kemampuan diri sendiri. Waktu saya diminta membedah buku itu, ada keragu-raguan dalam hati. Siapa saya? Apakah saya mampu? Tetapi setelah memulainya, saya percaya pada diri sendiri, bahwa saya mampu. Rupanya kepercayaan yang sama juga diberikan Pak De pada saya. Beliau percaya saya mampu, beliau percaya itu. Mungkin inilah yang disebut keajaiban dari rasa percaya. Sesuatu yang sama-sama kita percayai insha Allah dapat terwujud.

Terima kasih Pak De, sudah mengajarkan saya hal itu.


Menulis ini dengan air mata merebak tentu bukan sesuatu yang diharapkan oleh Pak De. Beliau pasti ingin semua orang berhenti menangis dan mengganti tangisan dengan doa. Tetapi sebagai manusia, adalah manusiawi jika air mata kadang-kadang merebak pada detik-detik tertentu, terutama saat menulis ini. 

Baca Juga: Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing

Pak De yang baik. Jalan bae-bae.


Pak De yang baik, saya akan selalu mengenangmu, senyummu itu.
Pak De yang baik, insha Allah saya akan selalu mendoakanmu.
Pak De yang baik, terima kasih telah mengajarkan banyak hal baik pada saya.
Pak De yang baik ... terima kasih. Terima kasih!

Dan semua orang yang mengenal Pak De, semua orang yang pernah karib dengan Pak De, semua orang yang hanya mengenalnya sambil lalu, mengenang Pak De dengan cara mereka masing-masing. Mari mendoakan beliau.

#SeninCerita



Cheers.

Mengenang Pak De yang Humoris, Murah Hati, dan Merakyat


Mengenang Pak De yang Humoris, Murah Hati, dan Merakyat. Apa yang akan dikenang setelah makhluk hidup pergi untuk selama-lamanya? Tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Saya mengenang (alm.) Bapa Asmady Pharmantara sebagai laki-laki paling merdeka di muka bumi. Pemikiran-pemikirannya sangat merdeka, dan kadang melawan arus, telah diturunkan pada saya. Orang bilang saya ini nyentrik. Itu warisan Bapa. Saya mengenang kucing kami Polar dan Ringenge sebagai dua makhluk hidup paling tangguh. Polar, meskipun satu kakinya dipukul orang hingga pincang, pernah pulang dalam kondisi mengenaskan serta bermandi lumpur, masih bertahan hidup bertahun-tahun kemudian. Ringenge, kucing yang saya temukan di depan Toko Nirmala dan nyaris ditabrak angkot hingga saya memarahi si supir angkot, pernah dimusuhi dengan sangat sengit oleh Polar pada awal kehadirannya di Pohon Tua, pada akhirnya tetap bertahan dan bahkan menjadi karib dengan si 'kakak'. Saya juga mengenang daun-daun sop hasil pembibitan pertama yang sukses. Pot-pot semai itu kemudian berpindah tangan karena diminta oleh orang-orang. Jika bermanfaat, maka pasti saya berbagi apa pun, termasuk daun sop.

Baca Juga: Suasana Kota Ende Setelah 14 Hari Saya Di Rumah Saja

Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), siapa tidak mengenal Dr. Josef Alfonsius Gadi Djou, S.E., M.Si.? Putera/anak bungsu dari mendiang Opa Emma Gadi Djou, founding father-nya Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif), dan tentu saja Universitas Flores (Uniflor). Dr. Josef Alfonsius Gadi Djou, S.E., M.Si. lebih karib disapa Pak De. Pak De pernah menjabat sebagai Kepala Sekretariat Yapertif, dan dosen pada Fakultas Ekonomi Uniflor. Beliau juga politisi dari Partai Golkar, yang kemudian berbakti pada daerah ketika terpilih sebagai Anggota DPRD Provinsi NTT pada Pileg tahun lalu, dari daerah pemilihan NTT-5. Tapi kalau bicara soal berbakti pada daerah, saya pikir itu sudah dilakukan beliau sejak dulu. Di kampus, sebagian mahasiswa mengenalnya dengan sangat dekat sebagai pembina Resimen Mahasiswa Mahadana Universitas Flores. Baru-baru ini, tepatnya tanggal 25 Januari 2020 beliau terpilih sebagai Ketua Ikatan Resimen Mahasiswa Indonesia (IARMI) Kabupaten Ende. Dari lini olahraga, pada tanggal 15 November 2018, Pak De dikukuhkan sebagai Ketua Asosiasi Futsal Kabupaten (AFK) Ende bertepatan dengan malam final dan penutupan Turnamen Futsal U-17 yang diselenggarakan oleh AFK Ende dengan memperebutkan piala Wakil Bupati Ende.

Sabtu dini hari saya menerima panggilan telepon dari Yusti Ambuwaru, dengan suara tercekat dia bertanya: Putih, apakah betul, Putih? Apanya? Apanya yang betul? Sekilas kuping saya mendengar: Pak De. Lantas panggilan terputus. Saya langsung memeriksa telepon genggam yang lama, yang jarang saya pakai kalau malam hari, dan ternyata ada begitu banyak pesan WhatsApp baik dari individu maupun di grup.


Pak De yang sangat kami cintai itu telah berpulang ke pangkuan Illahi pada Jum'at, 10 April 2020, sekitar pukul 23.20 Wita.

Syok.

Saya syok. Wajah Thika Pharmantara memucat saat kami sama-sama keluar dari kamar dan saling pandang, lantas berkata, "Bapa De."

Mau sekali saya tidak mempercayainya. Tapi kenyataan berbicara lain.

Pribadi yang humoris, murah hati, dan merakyat itu ... telah pergi.

Humoris, Murah Hati, dan Merakyat


Saya mengenal Pak De sebagai pribadi yang humoris, murah hati, dan merakyat. Bagi siapa pun yang mengenal beliau, pasti akan berpendapat sama. Kalau kalian tidak percaya, coba saja mengintip dinding Facebook Pak De. Kalian akan menemui begitu banyak cerita-cerita lucu dan konyol, menggunakan dialek kami, dialek Orang Ende. Kadang-kadang cerita lucu yang sama juga dilempar ke WAG Pegawai Yapertif-Uniflor.




Pribadi Pak De yang humoris tidak saja pada dinding Facebook. Keseharian juga seperti itulah beliau. Pada kesempatan semeja dengan beliau di kantin, pasti ada saja hal-hal lucu yang diceritakan, atau beliau terbahak-bahak mendengar cerita orang lain. Humoris sudah menjadi bagian dari diri beliau; lihat saja foto-foto beliau. Senyumnya itu pasti melekat dalam benak setiap orang yang pernah mengenalnya, dekat atau pun sambil lalu. Kadang saya merasa aneh jika melihat Pak De marah-marah, misalnya. Wajahnya yang memerah itu seperti bukan dirinya. Tapi biasanya Pak De tidak lama marah, tidak sampai hitungan hari, beberapa jam paling sudah seperti biasa lagi, menunjukkan wajah ramah bersahaja.

Bicara soal murah hatinya Pak De, pasti berkaitan dengan betapa merakyatnya beliau. Mentraktir adalah kebiasaan beliau terhadap siapa pun, termasuk saya. Kadang-kadang kalau melihat saya dan Mila, saat sedang makan di Warung Damai, beliau langsung bilang: tidak traktir. Hahaha. Kami cuma cekikikan mendengarnya karena ujung-ujungnya pasti ditraktir juga. Urusan murah hati ini berlaku untuk semua orang, seperti yang saya tulis, terhadap siapa pun, beliau tidak memandang 'siapa kau'. Dan bukan hanya soal makanan. Banyak saya mendengar cerita betapa murah hatinya beliau. Sampai-sampai dulu saya pernah berkata dalam hati: Pak De ini menabung amal untuk kemudian hari. Bantu orang tidak pandang bulu, tidak omong lagi, pokoknya bantu saja begitu. Lhaaa kita ... bantu orang saja pakai acara selfie. Padahal, tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu.

Kalau merakyat, jangan ditanya lagi. Pak De tidak memandang 'siapa kau' untuk beliau duduk bersama, mengobrol, bahkan menikmati makanan dan minuman yang kau suguhkan. Bagi saya, untuk skala seorang terpandang dan berasal dari keluarga sangat mampu, Pak De begitu merakyat. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.

Mempercayai Kemampuan Orang Lain


Sejak Pak De pulang ke Kota Ende, ke Uniflor, setelah meraih gelar Doktor pada tahun 2017, kami berada satu lantai yaitu di Lantai III Gedung Rektorat. Pak De waktu itu menjabat Kepala Pusat Studi Pariwisata Uniflor. Saat itu, saya keranjingan meminjam buku-buku yang tertata apik pada rak dalam ruangan kantor Pusat Studi Pariwisata Uniflor. Salah satu buku yang berdiri di rak tersebut merupakan disertasi Pak De yang berjudul Ekowisata Berbasis Masyarakat di Taman Nasional Kelimutu Kabupaten Ende. Atas permintaan beliau, si pemilik disertasi, saya diminta membedah buku tersebut menjadi beberapa buku, sehingga pekerjaan saya sehari-hari adalah membaca disertasi tersebut baik dari bukunya maupun soft-file. Mendapat kesempatan membaca disertasi tersebut seakan menyuntik nutrisi lengkap ke dalam otak saya tentang konsep ekowisata dan Community Based Tourism (CBT) atau kita sebut pariwisata berbasis masyarakat. Analisis SEM yang digunakan di dalam penelitian ini termasuk mengukur keterlibatan masyarakat lokal dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan pelestarian.

Silahkan baca tulisan lengkapnya di sini.

Dari disertasi tersebut saya jadi tahu konsep ekowisata dan CBT yang mengajak masyarakat untuk lebih berpartisipasi dalam dunia pariwisata. Puluhan literasi mendukung penelitian tersebut. Wawancara tidak saja dilakukan dengan pengelola (pemerintah) Taman Nasional Kelimutu tetapi juga dengan masyarakat desa penyangga Taman Nasional Kelimutu, dan wisatawan yang berkunjung ke sana (pandangan responden). Selain itu, penelitian ini juga mengutarakan tentang Taman Nasional Kelimutu itu sendiri seperti bentuk dan kondisi atraksi budaya masyarakat, atraksi alam, atraksi flora dan fauna, dan atraksi buatan. Salah satu bentuk atraksi buatan yang ada di Taman Nasional Kelimutu adalah Desa wisata, Arboretum, Insektarium, Herbarium, Agro-ecotourism, dan Rumah Pesanggrahan Belanda. Jujur, saya sendiri belum pernah ke Arboretum-nya, hehe. Nanti kalau ke Danau Kelimutu lagi, saya harus tiba di Arboretum ini.

Atraksi buatan ini mengingatkan saya pada salah satu seminar yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Pariwisata. Dalam Seminar Nasional bertema Melestarikan Budaya Lokal Sebagai Aset Pariwisata, dengan pemateri Dr. Bambang Suharto, M.M.Par. tersebut disinggung soal atraksi buatan ini. Kepala Balai Taman Nasional Kelimutu Persada Agussetia Sitepu menceritakan tentang ledakan pengunjung saat hari libur tiba. Pak Bambang menyarankan dan menjelaskan tentang pembagian pengunjung agar tidak semua pengunjung secara serentak menuju Danau Kelimutu dan agar pengunjung tidak terlalu lama berada di Danau Kelimutu (untuk memberikan kesempatan pada pengunjung lainnya) dan menghabiskan lebih banyak waktu di lokasi atraksi buatan ini. Setidaknya yang saya tangkap dari omongan Pak Bambang adalah lokasi atraksi buatan harus dibuat ramah terhadap keluarga dan anak-anak, yang dilengkapi dengan rest area (meja kursi tempat duduk mengaso dan makan, permainan anak yang sederhana, kamar mandi, tempat ibadah, dan lain sebgainya) yang memadai, agar pengunjung betah.

Kembali pada disertasi Pak De, akhirnya disertasi tersebut saya bedah menjadi dua buku berjudul:

1. Ekowisata Berbasis Masyarakat di Taman Nasional Kelimutu.
2. Lebih Dekat Mengenal Taman Nasional Kelimutu.

Proses pembedahan selesai. Sudah saya jadikan dalam bentuk buku (template buku) sehingga enak dan/atau asyik ketika dibaca, dan sudah terbayangkan bentuk bukunya nanti seperti apa, oleh penyunting. Selanjutnya proses penyuntingan dilakukan oleh Bapak Alexander Gawen, seorang dosen dari Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Uniflor, yang dulunya merupakan Kepala UPT Publikasi dan Humas Uniflor, tempat saya bekerja. Dua buku itu sedang dalam proses hendak dicetak ... saya tidak tahu apakah akan diteruskan atau tidak. Kalau diteruskan untuk dicetak/diterbitkan, dua buku itu akan menjadi kenangan paling manis untuk saya, kalian, dan mereka.

Dari situ saya belajar. Kita harus mempercayai pula kemampuan orang lain, selain mempercayai kemampuan diri sendiri. Waktu saya diminta membedah buku itu, ada keragu-raguan dalam hati. Siapa saya? Apakah saya mampu? Tetapi setelah memulainya, saya percaya pada diri sendiri, bahwa saya mampu. Rupanya kepercayaan yang sama juga diberikan Pak De pada saya. Beliau percaya saya mampu, beliau percaya itu. Mungkin inilah yang disebut keajaiban dari rasa percaya. Sesuatu yang sama-sama kita percayai insha Allah dapat terwujud.

Terima kasih Pak De, sudah mengajarkan saya hal itu.


Menulis ini dengan air mata merebak tentu bukan sesuatu yang diharapkan oleh Pak De. Beliau pasti ingin semua orang berhenti menangis dan mengganti tangisan dengan doa. Tetapi sebagai manusia, adalah manusiawi jika air mata kadang-kadang merebak pada detik-detik tertentu, terutama saat menulis ini. 

Baca Juga: Pembagian 100 Sampel Hand Sanitizer Sampai Social Distancing

Pak De yang baik. Jalan bae-bae.


Pak De yang baik, saya akan selalu mengenangmu, senyummu itu.
Pak De yang baik, insha Allah saya akan selalu mendoakanmu.
Pak De yang baik, terima kasih telah mengajarkan banyak hal baik pada saya.
Pak De yang baik ... terima kasih. Terima kasih!

Dan semua orang yang mengenal Pak De, semua orang yang pernah karib dengan Pak De, semua orang yang hanya mengenalnya sambil lalu, mengenang Pak De dengan cara mereka masing-masing. Mari mendoakan beliau.

#SeninCerita



Cheers.