Antara Dua Patung Pahlawan dan Kerja Logika Manusia

Credit: Flores Pos

Antara Dua Patung Pahlawan dan Kerja Logika Manusia. Sebelumnya, saya mohon maaf, tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan/menghina pihak mana pun. Saya juga manusia yang tidak luput dari kesalahan. Sebagai manusia, adalah wajar jika kita selalu menganalisa segala sesuatunya. Misalnya, dalam menyelesaikan suatu perkara melalui sidang pengadilan, hakim bisa saja putusan hakim sesuai betul dengan amanat undang-undang, bisa lebih berat, bisa lebih ringan, bahkan bisa juga hakim menentukan putusan hukuman penjara seumur hidup. Kenapa hakim melakukannya? Bukan karena alasan kekuasaan kehakiman saja, melainkan karena adanya pertimbangan-pertimbangan oleh hakim. Pertimbangan ini yang kemudian dianalisa.

Baca Juga: Masih Banyak Cerita Menarik Dari Kabupaten Nagekeo

Hampir dua bulan terakhir Kabupaten Ende, khususnya Kota Ende sebagai Ibu Kota-nya, heboh dengan kemunculan dua patung pahlawan daerah. Yang pertama, patung Marilonga. Yang kedua, patung Baranoeri. Marilonga dan Baranoeri adalah dua pahlawan yang sangat kami hormati. Patung Marilonga berdiri gagah di entrance dari arah Timur menuju Kota Ende, tepatnya di tengah simpang empat: Jalan Gatot Soebroto, arah Ndona, arah Woloweku, dan arah Timur/Pasar Wolowona. Sedangkan patung Baranoeri berdiri gagah di entrance dari arah Barat menuju Kota Ende, tepatnya di antara Jalan Mahoni, arah Woloare, arah Kampung Kuraro, dan arah Timur/Pom Bensin Ndao. Kedua patung tersebut kemudian dirubuhkan karena hendak dibangun patung yang baru.

Berdasarkan informasi dari Pos Kupang, Dinas PU Kabupaten Ende mengalokasikan anggaran dari Dana Alokasi Umum (DAU) tahun 2019 sebesar Rp 227.482.000 untuk membangun patung Marilonga dan Baranoeri. Sebagai kontraktor pelaksana adalah CV. Elischa Jaya dengan jangka waktu kerja selama 128 hari. Informasi lebih lengkapnya, silahkan kalian baca pada tautan Pos Kupang di atas. Termasuk keterangan dari Kadis PU yaitu Bapak Frans Lewang.

Patung Marilonga kemudian selesai dibikin, dipasang pada tempatnya semula, dan dibuka penutupnya. Patung tersebut menjadi sorotan mata masyarakat Kabupaten Ende, terutama masyarakat Kota Ende. Media sosial, khususnya Facebook, kemudian heboh dengan keberadaan patung Marilonga yang baru ini. Heboh itu bisa terjadi karena dua sebab. Pertama: sesuai ekspetasi. Kedua: jauh dari ekspetasi. Ya, sebab kedua, yaitu jauh dari ekspetasi itulah yang menyebabkan masyarakat Kabupaten Ende heboh baik di media sosial maupun secara lisan. Protes itu ditujukan pada ukuran patung, bentuknya yang berbeda dari bentuk semula, hingga pakaian yang digunakan. Menurut masyarakat, Marilonga yang sebelumnya digambarkan sangat gagah melalui patung lama, kemudian menjadi sangat begitu itu pada patung baru.

Hal yang sama juga terjadi pada patung Baranoeri.

Ada kritikan.
Ada hujatan.
Ada hinaan.

Semua berbaur menjadi satu. 

Pemerintah kemudian mencabut, istilahnya sih memang begitu, patung Marilonga (yang baru) tersebut. Sedangkan patung Baranoeri (yang baru) masih terpasang/berdiri di tempatnya.

Menarik juga mengetahui perasaan masyarakat Kabupaten Ende yang diluapkan melalui Facebook baik status-status maupun komentar pada status-status tersebut. Kenapa menarik? Saya jadi tahu pemikiran banyak orang tentang Marilonga dan Baranoeri, dan betapa cintanya masyarakat Kabupaten Ende kepada dua pahlawan daerah tersebut. Saya pikir, sangat wajar jika masyarakat berkomentar pedas tentang patung pahlawan tersebut. Karena, pahlawan merupakan idola umat.

Hanya saja, saya kemudian otak saya menjadi sedikit eror ketika membaca tulisan bernada penghinaan terhadap pekerja seninya alias senimannya. Bagi saya pribadi, seniman tidak bisa disalahkan seratus persen atas kondisi yang terjadi ini. Secara logika, kita tahu bahwa pemberi order tentunya juga mempunyai konsep dasar bentuk patungnya, pakaiannya, ukurannya, dan lain sebagainya dari patung yang diorder. Secara logika, ketika seniman mengerjakan patung tersebut, dia pun tidak bisa berlari terlalu jauh dari konsep dasar yang disodorkan oleh pemberi order, termasuk anggaran biaya. Secara logika, masyarakat juga punya hak untuk memprotes. Jadi, kalau ditanya ini salah siapa? Bukan salah siapa-siapa.

Dari semua status dan komentar di Facebook, saya sangat tertarik dengan status Gusti Adi Tetiro tentang polemik patung para pahlawan daerah ini. Setidaknya apa yang ditulis Gusti membikin saya mengacung jempol. Inilah anggota masyarakat yang baik: mengkritik dan memberi saran sekaligus. Sama seperti Gusti, saya juga berpikir demikian.

Pertama: Kajian. Ini penting. Pahlawan, seperti yang saya tulis di atas, adalah idola umat. Lebih dari itu, pahlawan daerah melekat dengan budaya dan kebiasaannya pada masa mereka hidup. Sehingga, harusnya dilakukan kajiaan/telaah terlebih dahulu tentang fisik dari para pahlawan tersebut. Caranya? Kumpulkan keluarga/turunan dari kedua pahlawan baik Marilonga maupun Baranoeri, kumpulkan pula Sejarahwan dan Budayawan yang ada di Kabupaten Ende. Diskusikan. Rembug. Debat, bila perlu. Bagaimana rupa Marilonga dan Baranoeri? Bagaimana fisik mereka? Bagaimana pakaian mereka pada masa itu? Bagaimana seharusnya mereka digambarkan/diwujudkan pada sebuah patung? Kalau tahap kajian ini sudah dilewati, barulah bisa ditentukan wujud utuhnya kelak seperti apa.

Kedua: Penganggaran. Dalam hal ini, penganggaran harus dihitung sebaik-baiknya. Bukan saja menganggarkan bahan, tetapi senimannya. Kalian juga tentu tahu, profesional bekerja tanpa sekat untuk bisa menghasilkan mahakarya. 

Ketiga: Uji Kelayakan. Ini penting. Saya pernah menulis di Facebook, ketika kita membawa bahan kain ke penjahit tentu tubuh akan diukur terlebih dahulu oleh si penjahit, diskusi model bajunya, hingga jenis kancing yang mau dipakai. Ketika bajunya sudah jadi pun kita wajib mengetesnya terlebih dahulu, siapa tahu tubuh kita saat diukur dengan saat mengambil baju tersebut sudah berubah. Lebih kurus atau lebih gemuk, misalnya. Mengenai patung ini, tentu sebelum dipajang harus diuji/dilihat dulu oleh si pemberi order, apakah sudah sesuai atau belum. Kalau belum sesuai (pesanan), wajib memprotes dan meminta seniman mengubah ini itu.

Baca Juga: Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita

Menurut saya, tiga hal utama di atas yang perlu dilakukan terutama kajian. Untuk menghasilkan sesuatu sepenting patung pahlawan, kita memang harus melakukan kajian yang sangat mendalam. Ibarat melakukan penelitian untuk skripsi, tesis, dan disertasi. Butuh daftar pustaka sebanyak-banyaknya agar tulisan kita lebih bernas.

Apa yang saya tulis ini, sekali lagi, bukan bermaksud untuk mendiskreditkan pihak mana pun. Saya cuma ingin mengajak kita semua untuk lebih sedikit bijaksana dalam bersikap. Saya juga tidak ingin patung pahlawan kebanggaan saya diwujudkan seperti itu, tetapi setidaknya masih bisa menahan diri dan jempol untuk tidak menulis dengan terlalu keras dan pedas. Kita semua manusia, punya perasaan, sakit hati bisa timbul, terutama jika tulisan kita bernada menghina.

Semoga bermanfaat.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

5 Heroes


Selamat Hari Pendidikan Nasional. Hari ini Kamis, 2 Mei 2019, kita memperingatinya sebagai Hari Pendidikan Nasional. Banyak upacara, banyak acara, banyak senang-senang. Menulis pos ini, dengan judul 5 Heroes, jadi ingat para pahlawan dalam buku Kick Andy berjudul Heroes. Buku bersampul putih yang menyajikan kisah para pahlawan yang ada di sekitar kita, yang mau berkorban demi orang lain. Akan tetapi, sesuai dengan Hari Pendidikan Nasional dan tema #KamisLima, maka saya menulis tentang lima pahlawan di bidang pendidikan yang bersinggungan langsung dengan hidup saya.


Mereka memang bukan orang terkenal. Tapi dari mereka saya belajar banyak hal baik pendidikan formal maupun non-formal. Banyak pahlawan pendidikan dalam hidup saya yang fana ini, tapi ijinkan kali ini saya memilih lima saja. Boleh kan?

1. Bapa


Kebiasaan di Ende, kami biasanya memanggil Bapak dengan Bapa (tanpa K). Seringnya Suku Lio memanggil Bapak dengan Bapa, Suku Ende memanggil Bapak dengan Baba. Bapa mengajarkan banyak hal pada saya terutama dari lini kreativitas. Bikin kompor listrik berbahan elemen seterika rusak, bikin lampion, memperbaiki sampul buku, mengetik, dan lain sebagainya. Karena mantan polisi rakyat zaman dahulu, Bapa memang keras mendidik kami anak-anaknya. Hebatnya, pendidikan yang keras itu juga disertai dengan kelembutan. Jadi meskipun dikerasin, kami tetap melengket dengan Bapa ha ha ha.

Dari semua hal yang Bapa ajarkan, dan dari yang saya contohi dari perbuatannya, yang betul-betul number one adalah: lakukan suatu pekerjaan dengan sungguh-sungguh. Kalau tidak, segera tinggalkan karena tidak akan ada hasilnya.

Terima kasih, Bapa. Al Fatihah untuk Bapa.

2. Mamatua


Sepasang, orantua, kalau ada Bapa pasti ada Mamatua. Sama seperti Bapa, Mamatua adalah seorang polisi rakyat guru. Kedisiplinan membawa beliau ke kancah Guru Teladan pada masa lampau saat negara ini masih dipimpin Bapak Soeharto. Kalau Bapa sangat keras mendidik kami, dan menyadarkan bahwa tidak semua keinginan dapat terpenuhi, Mamatua lebih kepada  keras yang 'dingin'. Bayangkan saja, hukuman anak sekolah zaman itu diterapkan pula di rumah. Amboiii saya pernah satu jam berlutut di atas garam kasar hanya karena tidak belajar!

Dari semua hal yang Mamatua ajarkan, dan dari yang saya contohi perbuatannya, yang sangat saya hafal omongan Mamatua adalah: Non, shalat dan ngaji. Tidak ada yang bisa membantu kita selain Allah SWT. Sambil tangan memilin tasbih.

Terima kasih, Mamatua. Love you tumbe'e tumbe'e (sungguh-sungguh).

3. Kak Narsis


Kak Narsis adalah pahlawan pendidikan dalam bidang agama yang super sabar dan menganggap saya seperti adik kandungnya sendiri. Tinggal bersama keluarganya yang adalah tetangga kami, hampir setiap sore Kak Narsis ke rumah untuk mengajari saya mengaji! Guru mengaji ke-sekian. Dari Kak Narsis saya belajar bahwa kesabaran itu perlu terutama kalau berhadapan dengan murid sebadung saya. Haha. Kak Narsis pula yang rajin mengobati lobang telinga saya yang luka parah karena terlalu sering dibersihkan.

Terima kasih Kak Narsis, saya sudah dua kali khatam Al Qur'an loh, masih kalah sih sama Mamatua.

4. Ibu Ernesta Leha


Saya mengenal Ibu Eta saat bekerja di Universitas Flores. Waktu itu dalam hati saya berkata, ibu ini betul-betul perfect. Cantik, seksi, cerdas pula! Banyak hal yang diajarkan oleh Ibu Eta pada saya, terutama saat beliau masih menjabat Sekretaris UPT Publikasi dan Humas Uniflor. Tapi dari semua yang pernah saya pelajari dari beliau, yang paling tertancap kuat di dalam benak saya adalah: bagaimana mengubah sesuatu yang serius menjadi konyol. Kalian pasti tidak percaya bahwa hampir tiap hari, waktu itu, saya terpingkal-pingkal mendengar komentar Ibu Eta terhadap berita-berita yang dibacanya di koran. Secara tidak langsung Ibu Eta mengajarkan pada saya tentang hidup yang selalu diibaratkan sebagai koin dengan dua sisinya itu.

Karena Ibu Eta lah saya pernah menerima beasiswa khusus dari Yapertif untuk karyawati (yang katanya berprestasi) selama setahun. Pendidikan itu penting. Oh ya, selamat pula untuk Ibu Eta yang baru-baru ini diwisuda. Sekarang gelarnya menjadi Dr. Ernesta Leha, S.E., M.Agb. Yuhuuuu. 

5. Oma Mia Gadi Djou


Oma Mia, demikian kami memanggil beliau, adalah sosok penulis yang sangat menginspirasi. Buku-bukunya dicetak secara privat dan dibagikan secara privat pula. Saya adalah orang yang memindahkan tulisan tangan Oma Mia ke lembaran MS Word. Nampaknya, hanya saya yang berjodoh dengan huruf alias tulisan tangan beliau. Hehe.

Baca Juga: 5 Momen Paskah

Mengetik cerita-cerita yang ditulis Oma Mia tidak saja menghibur namun sekalian memberikan manfaat kepada saya sebagai si tukang ketiknya.


Bagaimana, kawan ... siapa pahlawan pendidikan dalam hidup kalian?



Cheers.