Anak kecil Pun Ikut Olimpiade


Kecil-kecil cabe rawit. Tubuhnya boleh disebut kecil, namun siapa sangka anak-anak itu sudah mengikuti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional  (O2SN) di Daerah Istimewa Yogyakarta dari tanggal 16-22 September 2018. Kalau ditanya, apa prestasimu pada masa kecil dulu? Saya tidak memiliki prestasi yang sangat menonjol bahkan sekedar untuk dibangga-banggakan pun tidak bisa. Saya hanya seorang anak kecil yang ingin main dan bebas menikmati permainan yang saya anggap menyenangkan. Sangat berbeda dengan siswa berprestasi dari seluruh Provinsi di Indonesia ini yang sudah siap mengikuti beberapa cabang olahraga.

Bagi saya, membawa nama daerah di tingkat nasional itu merupakan kebangaan, apalagi sejak usia dini telah menemukan hobi yang disukai. Kalau saya, usia sekolah dasar adalah usia bermain tanpa mengenal batasan permainan. Mungkin orang tua tidak ingin membatasi anaknya untuk menemukan dunianya, karena sangat berpengaruh terhadap perkembangannya nanti. Namun, anak kecil yang telah menemukan hobi seperti olahraga dan membawa nama daerahnya pun bukan pula menjadikan anak tersebut kehilangan momen bermainnya. Malah, kadang kala karena sering berkompetisi dan jalan-jalan ke daerah lain, anak tersebut memiliki teman dari daerah lain serta memiliki wawasan yang cukup luas tentang keragaman budaya daerah lain. 


Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) merupakan kegiatan kompetisi olahraga yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia guna meningkatkan daya saing khususnya generasi muda agar lebih berprestasi. Ditengah maraknya kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat dan merugikan generasi muda, diperlukan wadah sehingga tidak terjerumus ke hal yang negatif tersebut. Masih hangat kasus pegeroyokan suporter sepak bola hingga meninggal dunia, semoga hal tersebut bisa cegah dan perbaiki melalui event positif seperti ini. 

Indonesia membutuhkan banyak kaum muda untuk mengharumkan bangsa Indonesia di kancah Asia dan Dunia. Terbukti , di Asian Games 2018 lalu, kita meriah posisi yang sangat terhormat dengan perolehan 31 Emas dan bertengger di nomor 4 klasemen akhir perolehan medali. Siapa yang akan bangga dengan pencapaian ini? Tentunya kita semua akan bangga dengan capaian ini. Tak hanya itu, Indonesia lebih dikenal luas lagi apabila prestasinya bisa melampaui negara raksasa olahraga seperti China, Jepang dan Korea Selatan. 

Dari 31 Emas, 14 diantaranya di sumbangkan oleh cabang Pencak Silat. Siapa sangka, Pencak Silat yang merupakan olahraga tradisional dari Indonesia ini mampu berbicara banyak, siapa sangka juga kita bisa meraih 14 emas dari 16 emas yang diperebutkan. Agar nama harum Pencak Silat pun semakin terdengar, maka diperlukan regenerasi dari tingkat usia dini. Nah, O2SN inilah yang sangat strategis untuk membina atlet usia muda mulai dari jenjang SD sampai SMA. Saya melihat sendiri betapa antusiasnya atlet dari seluruh provinsi di Indonesia untuk berkompetisi dan berprestasi. Semangat atlet usia muda pun patut kita acungi jempol di event olahraga yang telah dilaksanakan sebanyak 17 kali ini.


Jujur saya baru pertama kali menyaksikan pertandingan di beberapa cabang olahraga seperti Karate dan Pencak Silat. Pencak Silat yang selama ini menjadi kebanggaan Indonesia ternyata masih banyak masyarakat yang belum familiar termasuk saya. Saya baru tahu bahwa Pencak Silat ini terdiri dari Seni dan Tanding. Untuk seni akan dilakukan gerakan-gerakan jurus dalam waktu kurang lebih 3 menit, tidak kurang dan tidak lebih. Sedangkan untuk Tanding, akan dilakukan oleh 2 orang dari sudut merah dan biru. Pertandingan ini dilakukan dengan jurus tertentu untuk mampu menaklukan lawan atau menyentuh daerah yang menghasilkan poin. Saya mengangguk-angguk tanda paham, selama ini saya tidak mengerti bagaimana penilaian atau sistem bertanding di Pencak Silat. 


Sama dengan Pencak Silat, Karate juga memiliki Seni dan Tanding atau istilahnya Kata dan Kumite. Saya pada waktu itu menyaksikan pertandingan Kumite. Sama dengan Pencak Silat, terdapat dua sudut yaitu merah dan biru. Tujuan pertandingan adalah poin yang diperoleh dengan menyentuh titik tertentu lawan. Saya cukup bingung pada awalnya, darimana poin ini diperoleh. Ternyata selain wasit terdapat hakim yang memperhatikan apakah tendangan atau pukulan benar-benar mengenai lawannya. Sedangkan jika terjadi luka atau cidera, tim medis pun telah siap di sisi kanan. 

Saat saya menonton, sedang terjadi pertandingan antara Papua dengan Nusa Tenggara Barat. Gadis kecil bernama Ariska ini sangat pandai mengecoh lawanya, padahal dari postur tubuhnya saja tidak terlalu tinggi, malah lawannya lebih tinggi darinya. Namun berkat strategi dan kerja keras serta pantang menyerah, akhirnya Arista ini dapat meraih medali emas untuk Nusa Tenggara Barat. Emas ini tentu saja sangat berpengaruh terhadap moral Lombok khususnya serta NTB pada umumnya karena beberapa waktu lalu sempat terkena bencana nasional gempa bumi.



Rasanya saya sangat senang sekali menonton pertandingan olahraga siswa nasional kali ini, banyak sekali kejutan dan kenangan yang tentu saja sangat manis. Berita baiknya adalah kalau biasanya Juara Umum diraih oleh provinsi di pulau Jawa, maka kali ini, terjadi kejutan manis dengan keluarnya Provinsi Bali sebagai Juara Umum pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional kali ini. Saya sangat senang, karena tandanya olahraga kita telah sangat merata dan pembinaan atlet muda pun sudah sangat positif, apalagi beberapa olahraga seperti Karate, Pencak Silat dan Bulu Tangkis merupakan olahraga yang sangat bagus untuk mengharumkan nama bangsa di kancah Internasional. 


Sekali lagi selamat kepada Provinsi Bali yang sudah menjadi juara umum O2SN kali ini. Saya berharap, tahun depan bisa diraih oleh Provinsi lainnya dan cabang olahraganya pun kian ditambah serta hadiahnya pun lebih banyak agar anak-anak dan generasi muda mau ambil bagian dalam event yang sangat positif ini.