5 Alasan Saya Menyebut Nuabosi Adalah Tanah Surga


5 Alasan Saya Menyebut Nuabosi Adalah Tanah Surga. Baca judul pos, langsung ingat sama lagu Kolam Susu dari Koes Plus kan? Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman. Secara harafiah, adalah mustahil tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman. Namun filosofi lirik lagu itu sangat kuat. Pertama: tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman menunjukkan bahwa tanah di bumi Indonesia mempunyai tingkat kesuburan yang tinggi dan sangat baik dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Kedua: kayu dan batu dapat menjadi media tempat tanaman lumut tumbuh subur. Dan siapa pun pasti tahu bahwa lumut memberikan manfaat baik bagi kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Salah satunya: oksigen.

Baca Juga: 5 Ranah Hukum di Indonesia yang Wajib Kalian Tahu

Tanah kita memang tanah surga. Secara pribadi saya melihatnya langsung di Pulau Flores. Persawahan di Kota Mbay, persawahan di Magepanda, persawahan unik lodok di Manggarai (yang ini sih masih baru mau pengen melihat langsung, haha), persawahan di Ekoleta dan Detusoko, kebun masyarakat di desa-desa, dan lain sebagainya. Sedangkan khusus untuk Nuabosi, ubi kayu Nuabosi merupakan salah satu komoditas andalan dari daerah tersebut. 

Orang NTT pasti tahu, setidaknya pernah mendengar, tentang Nuabosi. Nuabosi terletak di dataran Ndetundora, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende. Ada empat desa di dataran tinggi ini yaitu Desa Ndetundora I, Desa Ndetundora II, Desa Ndetundora III, dan Desa Randotonda. Tapi, Orang Ende lebih mengenal daratan ini, dari ujung ke ujung, dengan nama Nuabosi. Kalian bisa membaca tulisan lain tentang Nuabosi pada pos berjudul Puskesmas Cantik di Tanah Ubi Roti. Nuabosi merupakan daerah asal Nenek Sisilia Dhae, Mamanya Mamatua. Sedangkan Kakek Arnoldus Bata, Bapaknya Mamatua, berasal dari Faipanda di dataran tinggi Lepembusu-Kelisoke (dari arah Ende, sebelum Moni). Dari Kota Ende menuju Nuabosi hanya sekitar sepuluh sampai lima belas menit saja menggunakan kendaraan bermotor.

Pemandangan dari jalan menuju Ndetundora/Nuabosi.

Sekarang, marilah kita cek alasan saya menyebut Nuabosi adalah tanah surga.

Ubi Kayu Nuabosi


Ubi kayu Nuabosi telah menjadi komoditas unggulan Kabupaten Ende. Informasi tersebut saya dengar langsung dari Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarat (LP2M) Universitas Flores (Uniflor) sekaligus Ketua Program Pengembangan Desa Mitra Dr. Willybrordus Lanamana, MMA. saat memberikan sambutan dalam kegiatan pembukaan Program Pengembangan Desa Mitra di Desa Randotonda. Sedangkan Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Dr. Ernesta Leha, S.E., M.Agb. mengatakan bahwa ubi kayu Nuabosi telah menjadi legenda oleh-oleh khas Kabupaten Ende dari lini kuliner. Sepakat! Karena saat Gubernur NTT periode 1998-2008 Piet Alexander Tallo mengunjungi Kelurahan Potulando di Kabupaten Ende yang kebetulan Pohon Tua (nama rumah saya) ketempatan, selain disuguhkan kepada beliau dan tamu lain, ubi kayu Nuabosi mentah juga dibawa sebagai oleh-oleh.


Beberapa orang, termasuk saya, yang membeli ubi kayu Nuabosi di Pasar Mbongawani mungkin pernah kecewa. Karena tidak pandai memilih, saya pernah membawa pulang ubi kayu Nuabosi dengan kualitas bercampur antara yang betul-betul masih baru dengan yang sudah mengalami kepoyoan. Tapi bagi saya pribadi, kekecewaan itu bukan masalah besar. Hehe. Toh kami masih bisa menikmati ubi kayu Nuabosi yang digoreng, direbus, dan dibikin Tutela. Untuk tahu apa itu Tutela, silahkan baca pos berjudul Tutela, Bisnis Kuliner Karena Penasaran

Dari blog sebelah, waktu itu si Ovi yang masakin. Hehe.

Bagi saya, salah satu cara terbaik menikmati ubi kayu Nuabosi adalah dengan menikmatinya langsung di dataran Ndetundora. Digoreng atau direbus, sama-sama bikin lidah nge-jam. Karena banyak keluarga kami yang masih menetap di Nuabosi antara lain di Koponio saya dan teman-teman acap pergi ke sana untuk menikmati ubi kayu Nuabosi beserta menu lain seperti ikan bakar, sambal ikan, dan ngeta. Tentu sebelumnya harus diinformasikan terlebih dahulu. Biasanya sih sepupu saya si Ovi bakal berkolaborasi *tsah* bersama. Berkolaborasi rasanya kurang tepat, karena semua proses memasak dilakukan oleh Ovi seorang. Hahaha. Maafkan kakakmu ini ya, Vi.

Keramahan Penduduk


Saat Camat Ende Herman F. Teku, S.H. memberikan sambutan, dalam kegiatan pembukaan Program Pengembangan Desa Mitra di Desa Randotonda, saya mendengar beliau mengatakan bahwa warga Nuabosi merupakan warga yang bisa menerima pendatang atau hal-hal baru yang datang ke daerah mereka selama itu bertujuan positif. Memang benar. Bukan mengada-ada. Penduduk Nuabosi itu ramah sekali. Bukan karena saya juga berdarah Nuabosi dan makam moyang saya berada di Nuabosi. Tapi kalian akan mengalaminya sendiri. Datang ke Nuabosi, bertemu penduduk setempat, kalian pasti melihat senyum ramah dan anggukan-tipis. 

Jadi, kegiatan pembukaan Program Pengembangan Desa Mitra di Desa Randotonda, ketika kami selesai melakukan hela jo bersama penduduk, saya berniat untuk langsung pulang ke Kota Ende. Saya dicegat penduduk, seorang Bapak yang sedang memikul pacul, sebelumnya sama-sama di kebun lokasi hela jo. Katanya: Ibu, jangan dulu pulang, makan siang dulu, kami juga sudah siapkan ubi untuk ibu mereka bawa.

Pengen nangis. Haha. 

Aura Surga


Saya belum menemukan kata yang sepadan, tetapi aura surga rasanya cukup untuk mewakilkan perasaan saya setiap kali berada di Nuabosi. Jadi begini, saya pasti merasakan 'sesuatu' setiap pergi ke suatu daerah. Aura. Sebut saja begitu. Apakah cuma di Nuabosi saja saya merasakan aura surga? No! Di semua daerah di Pulau Flores saya merasakannya. Oleh karena itu, setiap kali hendak ke luar kota, perasaan saya diisi sesuatu yang saya sebut harapan (untuk menikmati semua yang telah dianugerahkan Tuhan termasuk alam yang indah ini).

Toleransi


Masyarakat di dataran Ndetundora sangat mengamalkan nilai-nilai toleransi. Sangat tinggi. Kalau keluarga saya, tentulah. Saat mengikuti kegiatan pembukaan Program Pengembangan Desa Mitra di Desa Randotonda, kami disuguhi ubi kayu Nuabosi yang digoreng dan direbus, serta sambal ikan teri. Ini baru makanan pembuka. Istilah kami: geli-geli perut. Hehe. Nah, saat sedang menikmati suguhan khas tersebut, salah seorang ibu datang pada saya dan berbisik. Tahu apa yang dibisik olehnya?

Ibu, adakah yang bisa kami minta tolong untuk potong ayam?

Sepersekian detik saya ternganga. Lantas menunjuk Om Ade.

Artinya, penduduk setempat amat sangat paham bahwa bagi kaum Muslim, jika hendak menikmati daging ayam, maka ayam tersebut dipotong/disembelih dengan tata cara Islam. Harus ada yang memegang bagian sayap dan kaki. Dan yang menyembelih harus menggunakan doa khusus. Sebagai umat Muslim, sebelumnya saya sudah berkata dalam hati, apabila disuguhkan menu daging ayam untuk makan siang, dan saya tidak tahu siapa yang menyembelih ayam tersebut, otomatis saya tidak memakannya. Pada kesempatan lain di desa-desa, apabila tahu-tahu menu daging ayam sudah tersaji, saya tidak tahu siapa yang menyembelih, dan dipaksa memakan, saya langsung saja bilang: jang marah, tadi ayamnya siapa yang potong? Miu mbe'o si, kami tazo ka ayam kalo potong bukan yang Muslim na. Apakah tuan rumah marah? Tidak, gengs. Mereka malah ngakak sambil menepuk jidad. Mereka lupa.

Merawat Budaya


Salah satunya yang saya saksikan dan alami sendiri adalah tentang hela jo. Saya harus menulis Correct Me If I'm Wrong (CMIIW). Siapa tahu waktu itu saya salah mendengar. Hela jo itu merupakan budaya/tradisi membajak sawah yang dilakukan bersama-sama oleh sekelompok petani. Membajak sawahnya tidak menggunakan traktor melainkan pacul! Sekelompok orang ini bakal membentuk barisan, lalu salah seorang mulai memberi komando, lantas mereka pun beraksi. Saling sahut dalam irama hela jo membikin hentakan pacul ke tanah semakin semangat dilakukan oleh kelompok petani ini. Saya juga coba melakukannya. Duh, jadi petani itu tidak mudah, gengs. Hehe.

Ini peletakan batu pertama rumah kompos yang dilaksanakan dengan ritual/adat. 

Hela jo.

Terberkatilah mereka semua.


Baca Juga: 5 Hal Yang Menghambat Saya Menulis dan Menyelesaikan Novel

Asyik kan ya. Hehe. 

Jadi itu dia lima alasan saya menyebut Nuabosi (Ndetundora) adalah tanah surga. Apakah saya masih ingin pergi ke sana lagi? Ya tentu donk. Itu tanah nenek moyang. Jaraknya juga dekat dari Kota Ende. Tidak sejauh jarak perasaan kita. Selain karena tanah nenek moyang, kegiatan Program Pengembangan Desa Mitra di Desa Randotonda baru dibuka sedangkan kegiatan itu akan berjalan selama tiga tahun. Horeeeee. Masih banyak waktu dan akan sering pergi ke Nuabosi. Masih ingin mengeksplor desa-desa lainnya. Doakan.

Bagi kalian yang berada di luar Kota Ende, mari yuk ke Ndetundora atau ke tempat yang lebih dikenal dengan nama Nuabosi!

#KamisLima



Cheers.