#EndeBisa Menggebrak SMKN 1 Ende



Akhir tahun 2018 saya bertemu teman dosen yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan S3 di Malang yaitu Mukhlis A. Mukhtar di ... di rumah saya donk. Hehe. Ceritanya, Mukhlis sedang liburan di kampung halaman. Seperti biasa, kami mendiskusikan banyak hal. Mengenang masa-masa lampau saat begitu addicted to community and aktivisme sosial. Rasanya senang karena sejak belia *bueeeeh belia* kami sudah punya banyak cerita bekal hari menjelang uzur; bekal diceritakan ke anak-cucu. Dudududu. Saya dengan Komunitas Blogger NTT dan macam-macam lainnya, dia dengan Relawan Bung Karno Ende.

Baca Juga: Yellow Cakes Blast

Hangout bareng Mukhlis itu menghasilkan satu ide untuk membikin kegiatan #EndeBisa. Idenya dari Mukhlis, saya sih tim hore pom-pom saja. Kami berpikir, sumber daya yang ada, khususnya sumber daya manusia, sudah selayaknya dimanfaatkan untuk memberdayakan orang lain. Kami sudah terlalu lama tidur ... tidur panjang yang bikin perasaan meronta-ronta (bahasa saya ngeri-ngeri sedap haha). #EndeBisa punya banyak goals yaitu #EndeBelajarLiterasiDigital, #EndeBebasSampah, dan #EndeSocMed4SocGood. Next bakal dikembangkan dengan #EndeBerwirausaha.

Pertemuan kedua, teteup di rumah saya, sudah tambah personel seperti Abang Umar Hamdan dari Komunitas ACIL (Anak Cinta Lingkungan) dan Trash Hero, serta Ketua Komunitas Blogger NTT Cahyadi. Banyak yang dibahas dan tentu saja kita bertekad untuk memulai kegiatan di awal 2019. Malam itu juga, Abang Umar terjangkit virus blog hahaha. Saya mengajarinya membikin blog di Blogger. Voila, Abang Umar siap menulis tentang kegiatan Komunitas ACIL dan Trash Hero-nya. Oia, tentu saja e-poster ini sudah dibikin.


Setelah pertemuan kedua, saya pikir kegiatannya masih lama. Paling pertengahan Januari 2019. Ternyata waktu berjalan begitu lekas. Jum'at, 4 Januari 2019, saya menerima pesan WA dari Mukhlis. Ternyata kunjungannya ke SMKN 1 Ende menghasilkan mendadak dangdut haha. Menghasilkan keputusan bahwa #EndeBisa harus terealisasi Sabtu di sekolah tersebut. Wah, okay. Kebut kerjakan materi dari ICT Watch (creative common) dengan sedikit sentuhan ulang tanpa melepas logo ICT Watch, dan bersiap untuk jalan pagi bersama di kampus (tidur harus sesegera mungkin agar bisa duluan bangun dari si ayam).

Iwan Aditya, sahabat saya itu mengirim pesan ingin ikutan, serta beberapa yang lain, ya ayooo.

Foto bareng Kepsek SMKN 1 Ende di depan aula.

Pergi ke SMKN 1 Ende saya berpikir tentang aula atau laboratorium yang kecil. Ternyata saya salah. Ketika bertemu kepala sekolah dan diajak ke aula. Saya syok melihat begitu banyaknya murid yang duduk lesehan di aula itu. Ini di luar ekspektasi saya. Bukan sekali dua saya ke sekolah-sekolah untuk melatih blog atau seminar lainnya, tapi kali ini jumlahnya melebihi kemampuan saya menghitung. Haha. Lebay ... leday dah.

Bismillah.


#EndeBisa Goes to School perdana hari ini di SMKN 1 Ende menuai sukses. Sejumlah 1.300an murid dan guru memenuhi Aula SMKN 1 Ende menyimak materi-materi yang disajikan oleh pemateri dengan sentuhan lelucon segar, dipandu MC Iwan Aditya, serta ditemani Koordinator Relawan Bung Karno Ende Mukhlis A. Mukhtar.

Iwan, lulusan SMKN 1 Ende, yang pernah jadi partner setia siaran saya, dan sekarang bekerja di Swisscontact.

1. Pengantar tentang Relawan Bung Karno Ende oleh David Mossar


Memberikan motivasi tentang kegiatan aktivisme sosial seperti Relawan Bung Karno Ende, serta bagaimana lulusan SMKN 1 bisa menjadi entrepreneur dan/atau technopreneur.

David, fotografer kondang Kota Ende yang telah lama bergabung dengan Relawan Bung Karno Ende. Dia juga berkecimpung di dunia desain grafis.

2. Tuteh Pharmantara (Travel Blogger Ende) tentang Literasi Digital


Materi creative common dari ICT Watch tentang literasi digital dengan 3 kerangka utamanya yaitu: Proteksi, Hak-Hak, dan Pemberdayaan.


3. Ihsan Dato (SocMed4SocGood Ende) tentang Etika Informasi


Bermedia sosial itu harus memerhatikan etikanya, dengan jargon: Piki Ne Ote, Timba Ne Ate (pikir dengan otak, pertimbangkan dengan hati) sebelum mempos sesuatu di media sosial.

Ihsan Dato, KTU Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores serta penggiat #SocMed4SocGood Ende dan Lopo Cerdas.

4. Umar Hamdan (ACIL Ende) tentang Pengelolaan Sampah


Betapa hancurnya bumi karena sampah plastik, bagaimana mengatasinya, bagaimana mengelolanya. Abang Umar juga membawa serta barang-barang hasil daur ulang. Keren lah Abang.


Saya suka waktu Abang Umar menunjuk ke meja depan dimana begitu banyak botol minum berdiri. "Nah, kalian bawalah air minum dari rumah ketimbang membeli terus air minum kemasan botol dan gelas. Kalian lihat di depan, kami membawa sendiri air minum sebagai upaya sederhana mengurangi sampah botol plastik." Saya ngakak. Saya punya sembilan botol minum loh, dua botol minum selalu ada di jok sepeda motor untuk jaga-jaga agar tidak perlu membeli air minum kemasan. Keren kan haha *ngakak sendiri*.

Sesi tanya-jawab yang dipandu Iwan pun berlangsung seru, pertanyaan-pertanyaan dari murid begitu kritis, rasa keingintahuan mereka begitu besar. Sayang, waktu menyebabkan banyak murid yang hendak bertanya harus ditahan. Next time, ya. Saya paling suka sama si ganteng yang bertanya yang berdiri di samping saya ini; cara bicaranya sangat terstruktur dan berwibawa. Dia memenangkan hadiah pulsa Rp 50K. Saya bilang, "Kalau kamu nyaleg, saya pilih deh hahaha."


#EndeBisa (perdana) ini merupakan gebrakan dan upaya yang luar biasa dari Relawan Bung Karno Ende untuk Ende yang lebih baik. Berikutnya #EndeBisa akan berkembang dengan satu item #EndeBerwirausaha.

Sampai jumpa di sekolah dan kampus berikutnya.

Informasi lebih lengkap silahkan hubungi:

Mukhlis (085234543731)
Cahyadi (085238422726)
Aran Gunawan (081333310539)

#EndeBisa
#EndeKrearivitas
#EndeBelajarLiterasiDigital
#EndeBebasSampah
#EndeSocMed4SocGood
#EndeBerwirausaha


Saya trenyuh mendengar kisah Bapak Kepsek yang pernah memarahi tetangga sekitar sekolah yang membuang sampah di got depan sekolah. Padahal, got tersebut baru saja dibersihkan oleh para murid SMKN 1 Ende. Bagaimana menyadarkan masyarakat bahwa got bukan tempat sampah? Kapan masyarakat sadar untuk memilah jenis sampah - yangmana sampah plastik dapat mereka jual ke Komunitas ACIL? Susah memang, karena bicara soal masyarakat artinya bicara soal banyak orang dan banyak komentar ini itu. Jangan sampai kalau sudah kena banjir parah baru mulai panik dan menyalahkan diri sendiri: kenapa saya buang sampah di got dan di sembarang tempat ya ...

Gara-gara #EndeBisa perdana di SMKN 1 Ende, beberapa sekolah mengirimkan pesan meminta kami juga melakukan kegiatan serupa di sekolah mereka. Itu pasti, karena memang itu tujuannya: sekolah dan kampus. Ende pasti bisa lebih maju. Insha Allah.

***

Relawan Bung Karno Ende


Relawan Bung Karno Ende merupakan kelompok relawan (nirlaba) yang awalnya berkonsentrasi pada kondisi Taman Renungan Bung Karno Ende yang semakin memprhatinkan. Akan tetapi kondisi taman bukan tanggungjawab Relawan Bung Karno Ende semata kan, harus ada partisipasi/perhatian dari semua pihak. Lewat penjualan pin dan gantungan kunci kami sudah membelikan sapu-sapu, gerobak sampah, membuat tempat sampah, memperbaiki trotoar depan taman yang rusak, rompi untuk tukang sapu, dan lain sebagainya. Selanjutnya ... tanggungjawab kita bersama. 


Tapi apa yang dilakukan oleh Relawan Bung Karno Ende tak hanya itu. Bermitra/dibantu oleh Ibu Tirto dari Danone, lebih banyak lagi yang telah dilakukan seperti menyediakan meja-bangku untuk SDI Ratenggoji yang jarak tempuh dan kondisi jalannya sangat jauh dan tidak mulus, membantu bayi-bayi yang mengalami gangguan kesehatan, membantu para mama yang berjualan papalele (jualan kaki lima di pasar-pasar) dengan sumbangan payung, menyumbang mantel untuk anak-anak Komunita ACIL, dan lain sebagainya. Termasuk membantu pembangunan rumah-rumah adat. 

Apa alasan kami melakukan semua itu?

Senang saja hahaha. Karena jargon kami: SELAGI MUDA HARUS KREATIVE, KETIKA TUA PUNYA ARTI. Urusan uang bisa kami cari dari pekerjaan utama atau freelance, tapi urusan aktivisme sosial yang memberikan kesenangan batin yang tidak bisa dibeli dengan Rupiah ini ... harus dilakukan dengan suka rela dan ikhlas.

Terima kasih semuanya.

Mari, sama-sama berjuang.

Dan saya pun harus berjuang agar GA bisa tetap dapat tampil di blog ini ha ha ha *ngakak parah digodain dinosaurus*.



Cheers.

#EndeBisa Menggebrak SMKN 1 Ende



Akhir tahun 2018 saya bertemu teman dosen yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan S3 di Malang yaitu Mukhlis A. Mukhtar di ... di rumah saya donk. Hehe. Ceritanya, Mukhlis sedang liburan di kampung halaman. Seperti biasa, kami mendiskusikan banyak hal. Mengenang masa-masa lampau saat begitu addicted to community and aktivisme sosial. Rasanya senang karena sejak belia *bueeeeh belia* kami sudah punya banyak cerita bekal hari menjelang uzur; bekal diceritakan ke anak-cucu. Dudududu. Saya dengan Komunitas Blogger NTT dan macam-macam lainnya, dia dengan Relawan Bung Karno Ende.

Baca Juga: Yellow Cakes Blast

Hangout bareng Mukhlis itu menghasilkan satu ide untuk membikin kegiatan #EndeBisa. Idenya dari Mukhlis, saya sih tim hore pom-pom saja. Kami berpikir, sumber daya yang ada, khususnya sumber daya manusia, sudah selayaknya dimanfaatkan untuk memberdayakan orang lain. Kami sudah terlalu lama tidur ... tidur panjang yang bikin perasaan meronta-ronta (bahasa saya ngeri-ngeri sedap haha). #EndeBisa punya banyak goals yaitu #EndeBelajarLiterasiDigital, #EndeBebasSampah, dan #EndeSocMed4SocGood. Next bakal dikembangkan dengan #EndeBerwirausaha.

Pertemuan kedua, teteup di rumah saya, sudah tambah personel seperti Abang Umar Hamdan dari Komunitas ACIL (Anak Cinta Lingkungan) dan Trash Hero, serta Ketua Komunitas Blogger NTT Cahyadi. Banyak yang dibahas dan tentu saja kita bertekad untuk memulai kegiatan di awal 2019. Malam itu juga, Abang Umar terjangkit virus blog hahaha. Saya mengajarinya membikin blog di Blogger. Voila, Abang Umar siap menulis tentang kegiatan Komunitas ACIL dan Trash Hero-nya. Oia, tentu saja e-poster ini sudah dibikin.


Setelah pertemuan kedua, saya pikir kegiatannya masih lama. Paling pertengahan Januari 2019. Ternyata waktu berjalan begitu lekas. Jum'at, 4 Januari 2019, saya menerima pesan WA dari Mukhlis. Ternyata kunjungannya ke SMKN 1 Ende menghasilkan mendadak dangdut haha. Menghasilkan keputusan bahwa #EndeBisa harus terealisasi Sabtu di sekolah tersebut. Wah, okay. Kebut kerjakan materi dari ICT Watch (creative common) dengan sedikit sentuhan ulang tanpa melepas logo ICT Watch, dan bersiap untuk jalan pagi bersama di kampus (tidur harus sesegera mungkin agar bisa duluan bangun dari si ayam).

Iwan Aditya, sahabat saya itu mengirim pesan ingin ikutan, serta beberapa yang lain, ya ayooo.

Foto bareng Kepsek SMKN 1 Ende di depan aula.

Pergi ke SMKN 1 Ende saya berpikir tentang aula atau laboratorium yang kecil. Ternyata saya salah. Ketika bertemu kepala sekolah dan diajak ke aula. Saya syok melihat begitu banyaknya murid yang duduk lesehan di aula itu. Ini di luar ekspektasi saya. Bukan sekali dua saya ke sekolah-sekolah untuk melatih blog atau seminar lainnya, tapi kali ini jumlahnya melebihi kemampuan saya menghitung. Haha. Lebay ... leday dah.

Bismillah.


#EndeBisa Goes to School perdana hari ini di SMKN 1 Ende menuai sukses. Sejumlah 1.300an murid dan guru memenuhi Aula SMKN 1 Ende menyimak materi-materi yang disajikan oleh pemateri dengan sentuhan lelucon segar, dipandu MC Iwan Aditya, serta ditemani Koordinator Relawan Bung Karno Ende Mukhlis A. Mukhtar.

Iwan, lulusan SMKN 1 Ende, yang pernah jadi partner setia siaran saya, dan sekarang bekerja di Swisscontact.

1. Pengantar tentang Relawan Bung Karno Ende oleh David Mossar


Memberikan motivasi tentang kegiatan aktivisme sosial seperti Relawan Bung Karno Ende, serta bagaimana lulusan SMKN 1 bisa menjadi entrepreneur dan/atau technopreneur.

David, fotografer kondang Kota Ende yang telah lama bergabung dengan Relawan Bung Karno Ende. Dia juga berkecimpung di dunia desain grafis.

2. Tuteh Pharmantara (Travel Blogger Ende) tentang Literasi Digital


Materi creative common dari ICT Watch tentang literasi digital dengan 3 kerangka utamanya yaitu: Proteksi, Hak-Hak, dan Pemberdayaan.


3. Ihsan Dato (SocMed4SocGood Ende) tentang Etika Informasi


Bermedia sosial itu harus memerhatikan etikanya, dengan jargon: Piki Ne Ote, Timba Ne Ate (pikir dengan otak, pertimbangkan dengan hati) sebelum mempos sesuatu di media sosial.

Ihsan Dato, KTU Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores serta penggiat #SocMed4SocGood Ende dan Lopo Cerdas.

4. Umar Hamdan (ACIL Ende) tentang Pengelolaan Sampah


Betapa hancurnya bumi karena sampah plastik, bagaimana mengatasinya, bagaimana mengelolanya. Abang Umar juga membawa serta barang-barang hasil daur ulang. Keren lah Abang.


Saya suka waktu Abang Umar menunjuk ke meja depan dimana begitu banyak botol minum berdiri. "Nah, kalian bawalah air minum dari rumah ketimbang membeli terus air minum kemasan botol dan gelas. Kalian lihat di depan, kami membawa sendiri air minum sebagai upaya sederhana mengurangi sampah botol plastik." Saya ngakak. Saya punya sembilan botol minum loh, dua botol minum selalu ada di jok sepeda motor untuk jaga-jaga agar tidak perlu membeli air minum kemasan. Keren kan haha *ngakak sendiri*.

Sesi tanya-jawab yang dipandu Iwan pun berlangsung seru, pertanyaan-pertanyaan dari murid begitu kritis, rasa keingintahuan mereka begitu besar. Sayang, waktu menyebabkan banyak murid yang hendak bertanya harus ditahan. Next time, ya. Saya paling suka sama si ganteng yang bertanya yang berdiri di samping saya ini; cara bicaranya sangat terstruktur dan berwibawa. Dia memenangkan hadiah pulsa Rp 50K. Saya bilang, "Kalau kamu nyaleg, saya pilih deh hahaha."


#EndeBisa (perdana) ini merupakan gebrakan dan upaya yang luar biasa dari Relawan Bung Karno Ende untuk Ende yang lebih baik. Berikutnya #EndeBisa akan berkembang dengan satu item #EndeBerwirausaha.

Sampai jumpa di sekolah dan kampus berikutnya.

Informasi lebih lengkap silahkan hubungi:

Mukhlis (085234543731)
Cahyadi (085238422726)
Aran Gunawan (081333310539)

#EndeBisa
#EndeKrearivitas
#EndeBelajarLiterasiDigital
#EndeBebasSampah
#EndeSocMed4SocGood
#EndeBerwirausaha


Saya trenyuh mendengar kisah Bapak Kepsek yang pernah memarahi tetangga sekitar sekolah yang membuang sampah di got depan sekolah. Padahal, got tersebut baru saja dibersihkan oleh para murid SMKN 1 Ende. Bagaimana menyadarkan masyarakat bahwa got bukan tempat sampah? Kapan masyarakat sadar untuk memilah jenis sampah - yangmana sampah plastik dapat mereka jual ke Komunitas ACIL? Susah memang, karena bicara soal masyarakat artinya bicara soal banyak orang dan banyak komentar ini itu. Jangan sampai kalau sudah kena banjir parah baru mulai panik dan menyalahkan diri sendiri: kenapa saya buang sampah di got dan di sembarang tempat ya ...

Gara-gara #EndeBisa perdana di SMKN 1 Ende, beberapa sekolah mengirimkan pesan meminta kami juga melakukan kegiatan serupa di sekolah mereka. Itu pasti, karena memang itu tujuannya: sekolah dan kampus. Ende pasti bisa lebih maju. Insha Allah.

***

Relawan Bung Karno Ende


Relawan Bung Karno Ende merupakan kelompok relawan (nirlaba) yang awalnya berkonsentrasi pada kondisi Taman Renungan Bung Karno Ende yang semakin memprhatinkan. Akan tetapi kondisi taman bukan tanggungjawab Relawan Bung Karno Ende semata kan, harus ada partisipasi/perhatian dari semua pihak. Lewat penjualan pin dan gantungan kunci kami sudah membelikan sapu-sapu, gerobak sampah, membuat tempat sampah, memperbaiki trotoar depan taman yang rusak, rompi untuk tukang sapu, dan lain sebagainya. Selanjutnya ... tanggungjawab kita bersama. 


Tapi apa yang dilakukan oleh Relawan Bung Karno Ende tak hanya itu. Bermitra/dibantu oleh Ibu Tirto dari Danone, lebih banyak lagi yang telah dilakukan seperti menyediakan meja-bangku untuk SDI Ratenggoji yang jarak tempuh dan kondisi jalannya sangat jauh dan tidak mulus, membantu bayi-bayi yang mengalami gangguan kesehatan, membantu para mama yang berjualan papalele (jualan kaki lima di pasar-pasar) dengan sumbangan payung, menyumbang mantel untuk anak-anak Komunita ACIL, dan lain sebagainya. Termasuk membantu pembangunan rumah-rumah adat. 

Apa alasan kami melakukan semua itu?

Senang saja hahaha. Karena jargon kami: SELAGI MUDA HARUS KREATIVE, KETIKA TUA PUNYA ARTI. Urusan uang bisa kami cari dari pekerjaan utama atau freelance, tapi urusan aktivisme sosial yang memberikan kesenangan batin yang tidak bisa dibeli dengan Rupiah ini ... harus dilakukan dengan suka rela dan ikhlas.

Terima kasih semuanya.

Mari, sama-sama berjuang.

Dan saya pun harus berjuang agar GA bisa tetap dapat tampil di blog ini ha ha ha *ngakak parah digodain dinosaurus*.



Cheers.

Nggela Bangkit dan Membangun Kembali


Selasa kemarin adalah hari yang sangat mulia karena diperingati sebagai Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Junjungan kita, umat Muslim, yang mulia. Adalah bahagia karena pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW itu saya dan teman-teman yang tergabung dalam kegiatan amal #NggelaKamiLatu akhirnya berangkat menuju Kampung Adat Nggela. Keberangkatan kami ke Kampung Adat Nggela adalah untuk mengantarkan bantuan dalam bentuk Rupiah dan barang dari dua kegiatan serupa yang digelar di Kota Surabaya dan Kota Ende. Alhamdulillah.

Baca Juga : Kami Latu Untuk Miu

Dari Ende rombongan yang terdiri dari satu pick up dan lima sepeda motor berangkat sekitar pukul 10.45 Wita dari perjanjian waktu berangkat pukul 06.00 Wita. Bayangkan pergeseran waktunya jauh beud, haha. Saya malah masih bisa menghabiskan nasi kuning dan kopi susu di pinggir jalan sambil menunggu teman lain supaya berangkatnya beriringan; saya, Violin Kerong, David Mossar, Varis Gella, Carlos, Al, Xela (yang membawa bantuan barang dari Surabaya ke Ende), dan beberapa mahasiswa Prodi Arsitektur lain yang tidak hafal namanya.

Tiba di Kampung Adat Nggela sekitar pukul 13.00 Wita. Perjalanan kurang lebih tiga jam dengan beberapa kali berhenti memang terbilang cukup cepat mengingat jalanan yang dilewati sejak dari cabang Desa Moni (ke Jopu) menuju Nggela itu tidak semulus wajah Cinta Laura dan wajah saya *dikeplak semen*.


Di Kampung Adat Nggela tersebut ada sebuah rumah yang dijadikan posko; menjadi pusat semua bantuan dikumpulkan. Begitu tiba di posko ini kami disambut bapak-bapak mosalaki salah satunya Mosalaki Pu'u (mosalaki utama) Bapak Gabriel Mane dan tokoh masyarakat setempat. Setelah mengobrol sebentar dan melihat puluhan mahasiswa Universitas Flores berkumpul di lapak pasar yang datang bersama dosen Pak Charles dan Ibu Vero, kami memutuskan untuk langsung menyerahkan semua bantuan yang sudah dibawa dari Kota Surabaya (dikirim melalui kapal laut) dan Kota Ende setelah kopi dan teh disuguhkan. Luar biasa ya, kami Orang Ende sudah menganggap kalian saudara apalagi saat kopi sudah tersaji di atas meja. 


Jangan menangis, Bapak ... saya jadi sedih:



Nggela Kami Latu bukan sekadar kiasan. Kami, hanya segelintir orang dari ribuan masyarakat Kabupaten Ende, benar-benar ada dan secara bersama-sama untuk masyarakat Nggela, yang tentu punya harapan sama bahwa musibah kebakaran yang menghanguskan kampung adat tersebut tidak mematahkan semangat masyarakatnya yang kaya akan tradisi dan budaya. Nggela harus bangkit.

Dan Nggela memang sedang bangkit serta membangun kembali. Setelah penyerahan bantuan, kami pergi ke lokasi Kampung Adat Nggela yang hanya berjarak sepuluh meter dari posko. Syaratnya hanya satu: jangan menginjak batu (Kanga) yang ada di sana. Pemandangan yang tersaji sungguh miris. Yang tersisa hanyalah kubur-kubur batu, fondasi-fondasi batu rumah-rumah adat yang menghitam, kamar mandi kecil berbahan semen, serta pohon-pohon lontar yang berdiri gagah.


Terlalap namun bertahan hidup, demikian saya menulis caption saat menggugah foto pohon lontar hangus tersebut ke Facebook. Menurut Pak Mukhlis dosen Arsitektur yang berkonsentrasi pada rumah adat, setiap kampung adat pasti tumbuh pohon lontar, yang bermanfaat sebagai penangkal petir. Akan saya ulas di lain kesempatan.



Rumah-rumah panggung memang sedang dibangun kembali. Tapi itu bukan rumah adatnya, melainkah hanyalah rumah darurat sementara. Untuk membangun kembali rumah-rumah adat, berdasarkan klan masing-masing yang membentuk Kampung Adat Nggela, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, waktu, dan tenaga. Belum lagi ritus-ritusnya yang tentu tidak bisa dilakukan hanya begitu saja. Rumah adat adalah simbol setiap klan yang ada di Kampung Adat Nggela seperti Sa'o (rumah) Ndoja, Sa'o Ria, Sa'o Rore Api, dan sa'o-sa'o lainnya. Rumah-rumah panggung darurat itu dibangun di bagian luar dari fondasi rumah adatnya (di bagian belakangnya).


Selain tertarik dengan pohon lontar dan rumah-rumah panggung darurat yang sedang dibangun, saya tertarik dengan salah satu fondasi rumah adat yang terbakar. Jika dibandingkan dengan fondasi rumah adat lain, fondasi yang rumah adatnya sudah habis ini jauh lebih tinggi dari yang lain. Bisa dilihat di foto berikut:



Fondasi batunya itu besar-besar. Sedangkan untuk rumah adat lainnya, fondasinya sama dengan batu-batu kecil yang mengelilinginya.

Setelah berkeliling, mengambil beberapa foto dan istirahat, saya memutuskan untuk pulang. Adalah pamali, memang, ketika ditahan oleh mosalaki supaya jangan pulang dulu karena mereka telah menyiapkan makan siang (luar biasa memang persaudaraan ini) tapi saya bersikeras untuk pulang. Saya memang harus pulang duluan, karena satu dan lain alasan yang tidak bisa ditulis di sini, meninggalkan teman-teman lain yang masih istirahat. Maaf, ya. But you all already knew that I love you ... all.

Perjalanan pulang ini sangat menarik, dan akan saya bahas di Blog Travel saja hehe. Karena begitu banyak cerita; tentang masjid dan gereja yang berdampingan di Desa Pora, tentang pasar mini tenun ikat di Desa Mbuli, tentang pemandangan memikat di Ekoleta, tentang Lepa Lio Cafe, dan masih banyak cerita lainnya. Tapiiii boleh donk ya bikin kalian iri dengan satu foto pemandangan dari Ekoleta berikut ini hehehe.


Ngiknguk kan pemandangannya?

Pada pos ini, akhirnya, saya pribadi mengucapkan banyak terima kasih untuk semua teman-teman yang telah sama-sama bergerak dalam kegiatan #NggelaKamiLatu serta mengantarkan bantuan tersebut langsung ke posko Peduli Nggela yang ada di Kampung Adat Nggela. Semoga berkah. Semoga Tuhan mendengar do'a dan upaya tulus kita semua. Nggela harus bangkit.



Cheers.

5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)


Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki hal-hal unik. Keunikan ini telah ada bersama kehidupan masyarakat dan tumbuh berkembang dari zaman ke zaman. Misalnya keunikan Didong, kesenian dari Aceh yang dimulai sejak zaman Reje Linge XIII. Para seniman Didong dikenal dengan sebutan Ceh. Di dalam kesenian ini ada nilai-nilai religius, keindahan, dan kebersamaan. Peralatan yang digunakan adalah bantal dan tepukan tangan pemainnya.

Apabila Didong dari Aceh terlalu jauh, maka di Ende ada satu kegiatan yang disebut minu ae petu (minum air panas). Minu ae petu dilakukan oleh pihak yang hendak menyelenggarakan hajatan seperti pernikahan dan khitanan. Untuk keperluan pernikahan, minu ae petu hanya dilakukan oleh pihak calon pengantin laki-laki; mengundang kaum kerabat, tetangga, teman-teman, untuk duduk menikmati air panas dan tentu menyumbang sejumlah uang kepada tuan rumah. Menyumbang sejumlah uang ini bukan tujuan utama minu ae petu tapi kebersamaan merangkul kaum kerabat untuk suatu perayaanlah yang utama. Minu ae petu pun bukan berarti tamu yang datang hanya disuguhi air panas, melainkan teh, kopi, kudapan, hingga makan besar.

Baca Juga : 5 Kelas Blogging

Setelah menulis 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 1) yang juga bisa dibaca di blog yang ini, saatnya saya menulis 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2). Dari Bagian 1, kalian tentu tahu bahwa keunikan-keunikan ini saya kumpulkan dan tulis untuk bakal sebuah buku yang entah kapan terbitnya berjudul Endelicious. Bagi saya keunikan setiap daerah wajib diketahui oleh orang lain di luar daerah tersebut. Kalian tahu, betapa senangnya saya mendengar cerita Benny Reo, seorang sahabat yang dulu pernah bertugas di Pulau Sumba, saat dia bercerita tentang podhu, budaya mencari jodoh yang supeeeeer unik. Cerita tentang podhu tidak saya peroleh saat berada di Pulau Sumba. Intinya kira-kira seperti itu; saya juga ingin seperti itu, bisa menceritakan hal-hal unik dari daerah saya sendiri.

Sebelumnya, mari kita lihat apa saja 5 yang unik dari Ende bagian pertama:

1. Nama Unik.
2. Ende si 'Anak' Tengah. 
3. Dua Suku, Dua Bahasa.
4. Kami Penyingkat Kata.
5. Lima Menit Itu Memang Ada.

Melanjutkan keunikan Ende berikutnya ... cekidot!

1. Darat, Laut, Udara

Kabupaten Ende yang, dalam skala masyarakat di Pulau Kalimantan - misalnya disebut kecil, punya moda transportasi yang lengkap. Transportasi darat, transportasi laut, dan transportasi udara. Bahkan tahun 2003-an, Mami Yovita Atmadjaja sering saya godain karena waktu itu Banyuwangi belum punya bandara. Bandara Blimbingsari di Banyuwangi baru dibuka 29 Desember 2010. Moda transportasi darat didukung oleh jalan trans-Flores dari Labuan Bajo sampai Flores Timur yang tentu melintasi Ende sebagai 'anak' tengah. Moda transportasi laut didukung oleh Pelabuhan Bung Karno, Pelabuhan Ippi (I dan II), pelabuhan-pelabuhan lain yang mendukung bisnis dan perekonomian, serta pelabuhan rakyat. Moda transportasi udara didukung oleh Bandara H. Hasan Aroeboesman. 

Ini unik. Kabupaten sekecil ini punya prasarana transportasi darat, laut, dan udara. Komplit!

2. Gunung dan Pantai yang Tetanggaan

Bu Jokoooo ada termos es? Qiqiqi. Menulis tetanggan, saya jadi ingat iklan sirup penurun panas anak zaman baheula itu. Di Kabupaten Ende, gunung dan pantai itu tetanggaan. Terkhusus di Kota Ende, kalian bisa melihat Gunung Meja, Gunung Ia, berada di daerah tanjung, sementara di Teluk Ende kalian bisa melihat perahu-perahu nelayan berbaris. Kalau orang bilang asam di gunung garam di laut bertemu dalam satu belanga, maka di Ende yang namanya asam dan garam itu kalau mau ketemu ya ketemu saja. Haha!

Baca Juga : 5 Hasil Daur Ulang

3. Dua Lokasi Untuk Petani Batu

Di Ende ada dua lokasi petani batu yang sangat terkenal. Yang pertama adalah Pantai Penggajawa dimana para petani batu mengumpulkan batu-batu laut. Yang kedua adalah Samba dimana para petani batu menambang dan mengumpulkan batu-batu gunung. Dulu saya pernah bikin filem dokumenter tentang petani batu Samba, tapi sudah lupa disimpan di mana gegara laptop dan hard disk eror.

4. Kaya Corak Tenun Ikat

Kalian pasti tahu bahwa di Indonesia ini ada dua kain hasil kerajinan tangan yang bisa dipakai bolak-balik yaitu songket dan tenun ikat dari NTT. CMIIW alias correct me if I'm wrong. Nah, di Kabupaten Ende sendiri tenun ikat bukanlah sekadar hasil kebudayaan yang dipakai oleh laki-laki dan perempuan atau cinderamata yang diburu wisatawan. Tenun ikat merupakan lambang kebanggaan pemakainya berdasarkan corak, jenis, dan cara pembuatan. Saya pernah mengikuti lomba video dokumenter yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Video itu saya beri judul: Tenun Ikat, Karya Jenius dari Ende. Videonya masih ada tapi sayang belum saya unggah ke Youtube. Waktu itu masih pakai Ulead versi lama sehingga kualitas video tidak segarang kalau ngedit pakai Sony Movie Studio Planitum.

Kalian akan tahu bahwa tenun ikat berjenis Kembo itu harganya paling mahal karena proses pembuatannya dan bahan yang digunakan, jika dibanding tenun ikat berjenis Mangga atau Kelimara.

5. No Woman No Cry, No Jambret No Copet

Haha. Istilah ini sebenarnya berasal dari sahabat saya Ilham Himawan, sahabat yangmana kalau nongkrong kita punya aturan: tidak boleh berbicara tentang cerita yang sama. Oke, apa maksud poin nomor lima ini? Maksudnya adalah di Ende sulit ditemui adanya jambret dan copet. Kalaupun ada, sekali dua terjadi fenomena itu, langsung diciduk oleh polisi. Karena Ende ini kecil, kawan. Saya pernah kecurian laptop sekitar tahun 2013. Tapi berkat tetangga dan kecilnya Kota Ende, empat hari kemudian kami menyambangi rumah si Tina (namanya Tina emang) dan akhirnya laptop pun kembali ke tangan saya padahal si laptop sudah di tangan pembeli.

Waktu saudara saya dari Surabaya datang ke Ende, dia terheran-heran melihat kunci sepeda motor kadang dilepas di sepeda motor tanpa kuatir. Dia takut bukan main sepeda motornya dimaling. Hehe. Kemalingan sepeda motor memang bisa terjadi tapi sepuluh jari tangan bakal berlebih untuk menghitungnya.

Masih banyak yang unik lainnya dari Ende, tapi tentu tidak di pos ini. Nantikan di pos berikutnya.

Mari, kawan. Kita eksplor keunikan daerah kita masing-masing. Karena, kadang keunikan itu tidak tercetak di buku panduan wisata. Misalnya, cungkil mahatari, suatu istilah yang ... psstt ... not now. Hehehe :)

Baca Juga : 5 Tanaman Dapur di Rumah

Yuk ke Ende.



Cheers.

Kami Latu Untuk Miu


Sebelum membaca pos ini sampai selesai, silahkan baca dulu pos Nggela Kami Latu

Selasa, 6 November 2018, merupakan hari terbaik dan terberkati bagi kami semua. Teman-teman musisi di Kota Surabaya dan di Kota Ende menggelar panggung hiburan bertajuk Nggela Kami Latu. Secara harafiah Nggela Kami Latu berarti Nggela Kami Ada. Secara leksitas Nggela Kami Latu berarti kami semua, masyarakat Kota Ende yang berasal dari berbagai suku di Indonesia, selalu ada untuk masyarakat Kampung Adat Nggela yang tertimpa musibah kebakaran pada 29 Oktober 2018 yang lalu. Ada untuk membantu, ada untuk berdiri bersama, ada untuk kalian.

Kami latu untuk miu.
Kami ada untuk kalian.

Di Kota Ende, malam penggalangan dana berupa panggung hiburan diselenggarakan di area parkiran Roxy Swalayan Ende. Sejak siang pukul 14.00 Wita, Steven Allyenser yang bertanggungjawab atas perangkat band dan soundsystem milik Adi Mbuik, serta teman-teman lain, sudah bergerak di lokasi untuk memasang backdrop, panggung, dan perangkat musik serta soundsystem. Kotak-kotak amal pun, pada pukul 16.00 Wita, sudah mulai diedarkan oleh mahasiswa Prodi Arsitektur Uniflor di sekitar area parkir hingga ke jalan. Acara baru betul-betul dimulai setelah Shalat Maghrib.



Apa saja yang disajikan malam itu? Berbagai atraksi seperti musik, stand up comedy, musikalisasi puisi, rap, dan beatbox.

Selama kurang lebih 4 (empat) jam acara berlangsung, rasanya masih kurang, band-band yang mengiringi adalah Majesty Band, Clavitura Band, dan Arch Band (band anak Prodi Arsitektur Uniflor). Penyanyi-penyanyi solo antara lain Celly Pula, Angky Wa'u, Echa Adelina, Amir Piru, Andra, dan beberapa dari penonton termasuk mahasiswa PBSI Uniflor. Pembaca puisi antara lain Lely Kara, Kiki Arubone, serta dua mahasiswi PBSI Uniflor. Rap? Yoooooiiii dari Rapper Family Clan yang namanya kesohor itu. Stand up comedy dibawakan oleh salah seorang mahasiswa Prodi Arsitektur bernama samaran Bocor, qiqiqiq. Dan beatbox super kece dari seorang penonton bernama Bento.


Apabila tidak terkendala waktu, acara malam itu bisa berlangsung sampai dini hari, tapi kami hanya punya ijin dari kepolisian hingga pukul 22.00 Wita. Mau tidak mau harus dihentikan dan kotak-kotak amal kembali disimpan. Yang pasti malam itu saya terpaksa menjadi MC padahal sudah veteran. Baaaah. Hahaha. Maaf pakai istilah veteran padahal saya bukan pensiunan tentara. Maksudnya, saya sudah lama tidak ngemsi. Sudah pensiun dini dari dunia per-MC-an. Tetapi karena Dessy dan Oston malam itu tidak bisa hadir, saya harus bisa melakukannya. 


Malam itu Nggela Kami Latu di Kota Ende menghasilkan 4.910KK sedangkan di Kota Surabaya menghasilkan sekitar 14KK. Belum termasuk sumbangan yang dikumpulkan melalui networking dan sumbangan pakaian. Totalannya nanti bakal saya bocorkan. Yang jelas lebih dari sekitar 20KK.

Alhamdulillah.

Untuk Kota Ende, itu baru dilaksanakan satu kali pada weekdays pula. Rencana bakal dilaksanakan lagi pada weekend. Semoga bisa menghasilkan lebih banyak untuk korban musibah kebakaran Kampung Adat Nggela.


Dan tentu, kami semua merupakan satu bagian dari kegiatan ini. Tapi ijinkan saya mengucapkan banyak limpah terima kasih kepada semua teman yang telah memberikan bantuan tanpa pamrih. Terima kasih manajer Roxy Swalayan Ende yang mengijinkan area parkirannya dipakai oleh kami. Terima kasih Polres Ende untuk perijinannya. Terima kasih Adi Mbuik yang menggratiskan peralatan band dan soundsystem, Bosan yang menggratiskan level-nya (panggung), Noel Fernandez yang menggratiskan mobil pick up untuk loading peralatan, Nas dan Oliver yang mengatur soundsystem. Terima kasih mahasiswa Prodi Arsitektur Uniflor yang bantuan tenaganya luar biasa! Terimakasih para musisi dan penyanyi: Majesty Band, Clavitura Band, Arch Band, Kiki Arubone, Celly Pula, Echa Adelina, Kristin, Angky Wa'u, Nely Sadipun, Amir Piru, Andra, Rapper Family Clan, Bocor, mahasiswi PBSI, Bento Beatbox, dan lain performer yang kalau tidak saya tulis bukan berarti sengaja tapi memang lupa heheh. Maklum masih pakai Pentium II ini otak saya.


Tidak lupa pula mereka-mereka yang berjuang (sejak inisiasi awal) di belakang panggung. Om Vicky Kelly dan Mami Lina Doke yang selalu siap rumahnya diributkan oleh kami; terutama Mami Lina yang selalu repot menyiapkan ini itu untuk kami; we love youuuu, Violin Kerong, Natalia Desiyanti, Oliver Bosch, Steven Allyenser, Varis Gella, David Mozzar (yang telah mendesain e-poster dan backdrop), Abang Buyung, Abang Rei, Jerro Larantukan, Om Paul Hanny Wadhi dengan video-nya yang mengiringi Lely Kara berpuisi, Yano Thedenz dengan Rapper Family Clan-nya, dan lain-lain nama yang tidak bisa saya tulis di sini satuper satu.

Mami Lina Doke, di samping kanan saya (saya berhijab pink) adalah seorang isteri (dari Om Vicky Kelly), seorang ibu, seorang perempuan hebat, seorang sahabat, yang luar biasa. Saya kagum padanya to the moon and back!


Juga terima kasih untuk mereka-mereka yang telah mengirim video dukungan seperti Gilang Ramadhan, Ivan Nestorman, Franco (Gemufamire), Lucky Reyner, Om Honing, Angelius Wake Kako, dan lain sebagainya.

Kita hebat?
Tentu, kita hebat.
#KitaHebat

Kita hebat demi Nggela. 

Kalian semua hebat. Angkat topi saya untuk kalian. Karena solidaritas adalah nama tengah kita semua.

Boleh kecup satu satu? Hihihihi.

***

Selain penggalangan dana melalui panggung hiburan, teman-teman Relawan Taman Bung Karno Ende juga menggalang dana dengan menjual gantungan kunci dan kaos. Relawan Taman Bung Karno bukan baru sekali melakukan aksi sosial diantaranya menjual pin dan gantungan kunci untuk membeli sapu, gerobak, tempat sampah untuk Taman Bung Karno Ende; membantu merenovasi SDI Ratenggoji dengan 100an meja dan kursi, membantu renovasi dan/atau pembangunan rumah adat, membantu bayi yang mengalami masalah kesehatan, dan lain sebagainya. 

Untuk Nggela, aksi yang dilakukan adalah menjual kaos dan gantungan kunci yang keuntungannya diberikan kepada korban musibah kebakaran Kampung Adat Nggela.


Bagi kalian yang mau membantu, siapapun, silahkan kirimkan kirimkan biaya kaos dan/atau gantungan kunci beserta ongkos kirim ke No rekening BRI 7886-01-000451-53-3 Atas nama Mukhlis A. Mukhtar dengan dua nomor unik terakhir 79. Lantas foto bukti pengiriman dan WA ke nomor 085239014948.

Berarti yang di luar daerah juga boleh donk? Ya tentu, boleh banget hehehe.


Banyak cara yang bisa dilakukan untuk membantu bukan?

Nggela, kami latu untuk miu.

#NggelaKamiLatu
#NggelaBangkit



Cheers.

25 Paroki Mautapaga, 73 TNI


Sabtu kemarin ada dua kegiatan yang saya ikuti. Kegiatan yang pertama adalah jalan sehat dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Paroki Santo Yosef Freinademetz atau Paroki Mautapaga yang ke-25. Kegiatan yang kedua adalah menonton perayaan Hari Ulang Tahun TNI yang ke-73 di Lapangan Pancasila. Kedua kegiatan itu sangat menarik untuk ditulis di blog karena sama-sama melibatkan masyarakat umum tanpa kotak agama, kasta, pangkat, kekayaan, apalagi politik. Kebersamaan ini janganlah cepat berlalu *hayo, pasti bacanya sambil nyanyi kan?* qiqiqi.

Baca Juga : Kita, Orang Indonesia

25 Tahun Paroki St. Yosef Freinademetz

Begitu pengumuman jalan sehat yang wajib kami ikuti sebagai partisipan dan bentuk apresiasi atas undangan dari Panitia Hari Ulang Tahun Paroki Santo Yosef Freinademetz, atau lebih sering kami sebut Paroki Mautapaga, dipos di WAG Pegawai Yapertif, saya langsung semangat. Dulu-dulu, saya paling ogah jalan pagi apalagi pukul 05.00 Wita sudah harus berkumpul di lokasi. Bahkan kegiatan setiap Sabtu pagi, jalan sehat bersama teman-teman kantor, pun jarang saya ikuti dengan berbagai sebab *halah*.

Kenapa mendadak dangdut semangat?

Karena saya ingin menjajal, sudah sampai di mana kemampuan kaki saya kembali bisa berjalan jauh seperti dulu. Kalian pasti tahu kalau sudah hampir tiga minggu saya Jalan Malam Keliling Kota (JMKK) kan? Inilah saatnya membuktikan bahwa JMKK telah sukses mengantar saya ke pintu gerbang kemerdekaan yang hakiki. Bebas dari kaki yang sudah terlalu lama dimanjakan. Harus dijajal!

Pukul 04.30 Wita alaram sudah meraung kesal, memaksa saya tinggalkan ranjang dan bersiap ke halaman Gereja sekaligus Paroki Mautapaga. Meskipun langit mendung, saya optimis badai pasti berlalu sambil ngegas si Onif Harem (Oim Hitup nunggu di rumah, haha). Tiba di sana belum banyak orang. Sambil nongkrong bareng teman-teman, saya menghangatkan perut *tsah* denga kopi susu dari termos putih kesayangan. Tidak lama hujan turun membasahi bumi tanpa kompromi. Wah, acaranya maju jalan atau batal ini? Mengingat langit benar-benar gelap. Tuhan, tolong bantu panitia agar hujan segera reda, do'a saya dalam hati.

Untungnya, sekitar pukul 07.00 Wita hujan pun reda dan kami mulai diarahkan untuk berbaris; dua dua, hehe. Drumband dari SMKN 1 Ende, atau lebih dikenal dengan nama SMEA, mulai pasang aksi di barisan paling depan, sementara nomor-nomor doorprize dibagikan oleh panitia. Jalan sehat pun dimulai. Saya dan Mila haha hihi, karena sepagi itu saya sudah bisa bangun dan sudah ikut jalan sehat. Kejadian langka. Makanya Mila cuma bisa ketawa melihat saya semangat jalan kaki tanpa mengeluh letih.

Foto dari Mam Poppy Pelupessy.

Rute yang ditempuh adalah Jalan Gatot Soebroto, Jalan Baru menuju Jalan Anggrek, lewat di depan RRI, Jalan Durian, Jalan Eltari, kembali ke halaman Paroki Mautapaga. Bayangkan, untuk rute yang cukup jauh itu, saya tidak merasa letih, bahkan masih bisa berlari untuk mengejar barisan depan. Padahal barisan depan itu barisannya murid SD semua hahaha. Sampai teman-teman kantor pada sorakin, "TUMBEEEEN TUTEH JALAN PAGEEEE!" hihihi. Biarin weeeq. Pokoknya, setelah menjajal jalan sehat ini, saya jadi tahu bahwa kaki saya sudah mulai bisa diajak kompromi; sudah bisa kembali diajak jalan jauh.

Baca Juga : Angkatan II Kelas Blogging NTT

Usai jalan sehat, kegiatan dilanjutkan dengan senam dengan instruktur sahabat sejati saya si Mei Ing alias Inggi dan pengambilan undian doorprize. Berharap dapat hadiah? Iya, sih. Siapa sih yang tidak mau hadiah? Hehehe. Tapi tidak dapat pun tidak masalah yang penting banyak nikmat yang saya capai dari kegiatan itu. Nikmat yang tidak tergantikan Rupiah: kebersamaan dengan teman-teman dan perasaan sehat ... itu pasti. 

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh masyarakat Paroki Mautapaga; SD, SMP, dan SMA se-lingkup Paroki Mautapaga; serta instansi terkait seperti Universitas Flores, beberapa bank, dan lain-lain.

75 Tahun TNI

Waktu saya dan Ocha Jalan Malam Keliling Kota (JMKK) pada Senin, 2 Oktober 2018, di Lapangan Pancasila, kami melihat layar super besar sedang men-display filem tentang tentara. Itu sebenarnya bukan JMKK tapi jalan keliling lapangan haha. Di depan layar besar yang menghadap Pelabuhan Bung Karno itu, ada sebuah pick up dan sekelompok bapak-bapak sedang mengutak-atik proyektor. Nampaknya sedang ada uji coba karena sesekali pantulan proyektor bergerak-gerak mencari posisi yang pas. Kami, yang lalu-lalang mencari keringat, bertanya-tanya ... ada apa kah gerangan?


Ternyata dari informasi sana sini, serta dari teman-teman TNI, saya jadi tahu bahwa bakal ada kegiatan dalam rangka Hari Ulang Tahun TNI yang ke-73. Ulang tahun TNI memang jatuh pada tanggal 5 Oktober tetapi gelaran acara akbarnya dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober. Yuhuuuu! Yang menarik adalah informasi yang saya peroleh berikut ini langsung dari Bang Agung dan Edwin Firmansyah (anggota Kodim 1602/Ende). Keduanya anggota Kelas Blogging NTT, Edwin Angkatan I, Bang Agung Angkatan II.

Informasi tersebut adalah adanya makan gratis bagi warga Kota Ende, Wisata Kota Gratis yaitu keliling kota menggunakan kendaraan truk patroli TNI dan bis wisata Sepur Kelinci, serta Nonton Bareng filem-filem diantaranya Profil TNI dan Profil Kodim 1602/Ende dan Merah Putih Memanggil.

Maka dengan niat pasti, setelah Jum'at malam saya JMKK di Jalan El Tari dan Sabtu pagi mengikuti kegiatan di Paroki Mautapaga, maka kami serumah berniat untuk menyaksikan langsung kemeriahan acara tersebut di Lapangan Pancasila. Kami; saya, Ocha dan Thika. Mamatua dan Indra jaga gawang hahaha. Ternyata acara dimulai dari sore sekitar pukul 17.00 Wita. Ah, kami perginya malam, menunggi si Thika pulang kuliah. Tidak masalah, masih banyak acara yang bisa kami tonton dan/atau ikuti. Sekalian kami janjian pergi bareng Mila dan Aram.

Baca Juga : Kemajuan Peserta Kelas Blogging NTT

Tiba di Lapangan Perse, wuihhh banyaknya orang! Oia, saat kami tiba itu sedang berlangsung tarian Reog dari Paguyuban Orang Jawa di Ende. Cari-cari sana-sini, ketemulah Mila dan Aram. Nongkrong di tribun sambil menyaksikan keramaian Lapangan Pancasila. Usai pertunjukan Reog, ada pembacaan puisi oleh Komandan Kodim 1602/Ende Letkol Kav Suteja, S.H., M.Si., sambutan, acara kembang api, dan tarian oleh ibu-ibu Persit. Setelah itu, MC yaitu Natalia Desiyanti mengumumkan tentang makan gratis. Beberapa gerobak yang disediakan langsung diserbu oleh pengunjung. Kami tidak berani ikut menyerbu karena yakin pasti berdesak-desakan dan itu bikin keki.

Ocha dan Thika memilih untuk ikutan wisata keliling kota.



Setelah balik dari wisata keliling kota itu, sempat membeli minuman saja sambil menonton filem dari jarak yang lumayan jauh. Meskipun tidak bisa fokus menonton filem, tapi setidaknya kami hepi bisa mengikuti kegiatan TNI tersebut. 

Apabila tidak mengingat waktu kami bisa mengobrol sampai pagi hahaha. Sudah pukul 21.30 Wita, saatnya pulang. 

Terimakasih Paroki Mautapaga.
Terimakasih TNI.

***

Pada HUT TNI ke-71, saya (bersama Cahyadi dan Kakak Pacar) pernah dimintai bantuan oleh Bapak Kapolres untuk mendokumentasikan video kolaborasi TNI dan POLRI di Lapangan Pancasila. Mereka membawakan atraksi tarian dan lain sebagainya, kerjasama dengan SMAN 1 Ende dengan koreografer Rikyn Radja dan pelatin paduan suara Stanis More. Ternyata videonya belum diunggah ke Youtube, tapi masih ada di laptop saya haha. Kolaborasi itu keren sekali, kawan! Nanti deh baru diunggah.

Ini foto waktu itu. Wajib pakai rompi ini supaya bisa seliweran di dalam lapangan tanpa ditegur apalagi ditahan qiqiqiq:

 


Cheers.

Flores: Adventure Trails



Banyak buku yang bercerita tentang Indonesia dari Barat ke Timur, dari Utara ke Selatan, dari adat ke bahasa, dari budaya ke pakaian, dari gunung ke pantai, dari rumah adat ke kearifan lokal. Saya punya salah satu buku semacam itu, dikasih sama Ika Soewadji, dan masih sering saya baca sampai sekarang. Banyak juga buku yang bercerita panjang lebar tentang Pulau Flores (Flores overland). Saya sendiri pernah menulis materi siaran program Backpacker, pada tahun 2017, awal tentang Flores Overland. Biasanya orang menulis Flores Overland itu dari Barat ke arah Timur, tapi materi saya itu dari Timur ke arah Barat. Qiqiqiq. Sesekali kita membaliknya kan boleh-boleh saja.

Baca Juga : 5 Cozy Songs

Tentang si Buku

Buku yang saya bahas hari ini berjudul Flores: Adventure Trails. Buku ini ditulis (sekaligus sebagai koordinator penulis) oleh Meret L. Signer. Kontributor atau penulis lain diantaranya Heinz von Holzen, Rofinus Ndau, Unipala Maumere, idGuides. Publisher Flores: Adventure Trails adalah Swisscontact dan didukung oleh SECO (Swiss State Secretariat for Economic Affairs). Tahun terbit 2012. Wow banget, saya terkejut ketika membaca nama Unipala Maumere. Itu MAPALA-nya Universitas Nusa Nipa (Unipa). Oh ya, selain sambutan dari Bapak Sapta Nirwandar, juga ada sambutan Jurg Schneider dari SECO. Flores: Adventure Trails berbahasa Inggris tapi untuk ukuran saya yang bahasa Inggrisnya pas-pasan bisa yess atau no sudah bersyukur, isinya cukup mudah dipahami/dimengerti. 


Bagaimana dengan isinya?

Isinya dimulai dari perkenalan tentang Pulau Flores. Perkenalan yang sangat lengkap, menurut saya, karena memuat tentang kondisi geografis, iklim, Flores sebagai bagian dari ring of fire, flora dan fauna, kehidupan laut, zaman sebelum dan sesudah kolonial, manusia dan adat budayanya. Traveling directory sub bahasan berikutnya adalah tentang how to get there? (pesawat dan kapal laut) termasuk informasi kantor-kantor layanan tiket, akomodasi, tempat makan, komunikasi/alat komunikasi, keuangan, isu kesehatan, sampai etika.

Woman travellers:
Even thought Flores is predominantly Christian, woman dressing modestly is a cultural thing in Indonesia, rather than a religious one. Wear t-shirts that cover your shoulders and don't reveal too much of your legs. Wearing a bikini is fine at the beaches of Labuan Bajo and in designated hotel areas in other parts of Flores. Everywhere else, put on a t-shirt and shorts for swimming. (Meret L. Signer, 2012:23).


Sub berikutnya adalah persiapan yang harus dilakukan sebelum ke Flores. Menariknya adalah, dijelaskan tentang skala kesulitan trek, level kebugaran, barang bawaan dasar or basic check list sampai how to minimize your impact. Komplit kan ya. Basic check list ini umum saja seperti yang sering kita lakukan/bawa seperti kaca mata, head lamp, sun-block, first aid kit, kompas, pisau lipat, hingga tas plastik untuk menyimpan pakaian kotor dan/atau sampah. Puhlease, ke mana pun pergi jangan pernah membuang sampah sembarangan.


Setelah itu, pembaca memasuki inti sari buku ini. Yay! Dimulai dari  Labuan Bajo: Pulau Rinca, Pulau Komodo, Gunung Mbeliling, teruuuuus ke Timur sampai ketemu Gunung Kelimutu di Ende, Maumere dengan pantai-pantai dan Gunung Egon-nya, sampai Larantuka. Informasinya tidak sekadar ini looooh Gunung Mbeliling itu, tapi juga memuat tinggi gunung, luas daratan, flora dan faunanya, sampai tentang masyarakat tradisionalnya. 


Salah satu sub yang saya sukai adalah kisah tentang Rudolf von Reding:

In 1974, the elderly Count Rudolf von Reding from Biberegg, Switzerland, disappeared on the island of Komodo. For some unknown reason he got seperated from his group. When they realized he was missing, they immediately returned to the point where had last seen him - but they were too late. All they could find was the Count's backpack, camera, sunglasses, and stains of blood on the ground. Komodo dragons eat their prey whole, and von Reding's body was never found. Although it could neve be confirmed with 100% certainty, he was believed to have been eaten.

Sedih ya ... *ambil tissu*

Jadi ingat waktu ke Pulau Rinca, dimana salah seorang teman pejalan kami sedang datang bulan, dan si komodo berjalan ke arah teman tersebut. Horor-horor bergembira gimana gitu rasanya diikuti komodo, hehe.


Setelah Baca

Saya bahagia karena jadi banyak tahu tentang pulau sendiri. Sebagai pelahap buku, sekaligus blogger yang gemar menulis tentang perjalanan ke mana pun saya pergi, buku ini menjadi semacam panduan untuk menulis. Menulis tempat wisata itu tidak sekadar menggambarkan betapa indahnya; betapa menawannya; betapa mempesonanya, tetapi harus bisa lebih detail yaitu tentang letak lokasinya, jaraknya, transportasi dan akomodasi kalau bisa bisa dengan harganya, budaya masyarakat setempat (seperti harus memperhatikan etika berpakaian dan berbicara), hingga tingkat kesulitan perjalanan untuk mencapai lokasi tersebut. Sub buku juga penting untuk memilah atau mengklasifikasi tulisan agar tidak terkesan campur-aduk.

Saya sedang belajar untuk menulis seperti itu. Belajar terus tanpa henti. Istirahat sih boleh, berhenti jangan :)

Flores: Adventure Trails adalah buku yang super informatif meskipun tidak selengkap buku yang diterbitkan oleh Lonely Planet zaman dulu itu. Bahkan juga diceritakan tentang gempa yang pernah melanda Flores terutama Maumere dan Ende. Jika kalian punya waktu luang, jangan lupa untuk membacanya. Di mana bisa diperoleh, cobalah cari di toko buku terdekat, jika tidak, maka ini edisi terbatas yang dipublis oleh Swisscontact (yang selalu konsen dengan isu wisata).

Semoga bermanfaat, enjoy your weekend!


Cheers.

#PDL Langgar Sungai Lewati Lembah


Suatu kali saya menerima tawaran membikin video inspiratif dari sebuah lembaga tentang desa siaga. Video ini merupakan kisah nyata tentang perjuangan dan peran serta masyarakat untuk membantu menangani permasalahan ibu hamil dan anak, sekaligus menekan angka kematian ibu hamil dan anak baru lahir. Bersama Martozzo Hann, Kiki Albar, dan Kakak Pacar, jadilah tim ini. Tim yang harus membikin semuanya dari nol; RAB, estimasi waktu pengambilan video, shootlist (di dalam shootlist ini termasuk ada wardrobe sekalian), mengumpulkan materi, editing dan finishing, dan lain sebagainya. Repot memang, tapi menyenangkan karena kami ditemani cemilan segitu banyaknya *halah*.


Menurut situs Promkes, desa siaga adalah sebagai berikut:

Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana, dan kegawatdaruratan, kesehatan secara mandiri. Desa yang dimaksud di sini adalah kelurahan atau istilah lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan yang diakui dan dihormati dalam Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setelah selesai disusun, shootlist tersebut dikirim kepada pemberi proyek yang diteruskan kepada anggota desa siaga yang berada di Desa Liselowobora, Kecamatan Wolowaru, Ende. Betul, desa siaga yang satu ini berada di Desa Liselowobora. Kepala Desa Liselowobora belum tentu menjadi Kepala Desa Siaga. Apa yang saya pikirkan pun menjadi kenyataan karena shootlist yang dikirimkan itu sudah diperbanyak dan dibagi-bagikan kepada masyarakat desa siaga di sana, malahan mereka telah memilih orang-orang yang akan memerankan si A, si B, dan si C. Tetapi kalau bidannya beneran si bidan. Hehe. Mereka benar-benar paham proses syuting video ini.
 
Inilah hobi yang menjadi pekerjaan sampingan kami.
 
 Sesuai waktu yang ditentukan, tim pun berangkat ke Desa Liselowobora. Sayangnya, KM 17 arah Barat Kota Ende sedang ditutup (dibuka pada pukul 12.00 Wita) karena ada perbaikan jalan sehingga kami memutuskan untuk memutar gunung yaitu mengikuti jalur alternatif bernama Aekipa. Aduh, jangan pernah tanya ke Orang Ende soal jalur Aekipa ini, mereka pasti bakal senyum-senyum penuh makna. Bisa kalian bayangkan? Setelah memutar gunung / Aekipa selama 2,5 (dua setengah) jam, kami bertemu jalan raya yang ternyata adalah KM 20. Jadi, dua jam putar sana sini untuk tiba di KM 20? Luar biasa. Hahaha. Perjalanan kami lanjutkan dan akhirnya tiba juga di Desa Liselowobora.

*tepuk tangan*

Baca Juga : Datang, Makan, Ngerujak, Pulang

Tiba di Desa Liselowobora kami langsung bertemu kontak lokal yaitu Om Bene Sera yang oleh kami disingkat bebas menjadi Benser. Benser adalah mantan Kepala Desa Liselowobora, kemudian menjadi Kepala Desa Siaga di desa tersebut. Sesuai perjanjian, hari itu (Jum'at) kami akan pergi mencari penginapan dan akan bertemu keesokan harinya (Sabtu) di rumah Benser. Rumah Benser yang berkamar mandi luas itu menjadi basecamp tim.

Syuting hari pertama (Sabtu) berjalan lancar karena masih prolog, dan narasumber-narasumber. Prolog ini diantaranya pertemuan kelompok-kelompok masyarakat desa siaga, hingga bagaimana langkah-langkah yang diambil apabila ada ibu hamil hendak melahirkan yaitu dengan meniup peluit. Seru juga hari pertama ini. Untuk hari kedua syuting, kami meminta mereka mengenakan baju yang sama dengan hari pertama karena ceritanya di dalam video ini semua berjalan pada hari yang sama.

Salah seorang anggota desa siaga sedang melakukan pemetaan ini itu.

Oia, selain kelompok masyarakat desa siaga, kami juga bertemu Mama Dukun. Jadi ceritanya di desa siaga ini ada kerja sama antara bidan dan dukun beranak. Dari wawancara dengan Mama Dukun kami jadi tahu bahwa masih ada kaum ibu lebih percaya dukun beranak (kebiasaan turun-temurun), dan untuk mendukung program kesehatan pemerintah, Mama Dukun sering menemani si ibu melahirkan di puskesmas. Mulianya hatimu wahai, Mama Dukun!

Mama Dukun / dukun beranak (kanan) yang selalu penuh senyum.
 
Syuting hari kedua (Minggu) juga lancar dan lebih seru! Karena kami harus mereka ulang semua kejadian nyata yang terjadi di desa siaga tersebut. Para pemainnya juga asli sangat natural karena mereka sendiri yang mengalami kejadian tersebut, yaitu bagaimana memindahkan seorang ibu hamil yang hendak melahirkan dari balik bukit, melewati bukit, langgar kali, lewati lembah, untuk tiba di sebuah puskesmas. Bahkan bapak-bapak juga membuat kembali tandu darurat yang terdiri dari dua potongan bambu dan satu kursi plastik sebagai tempat si ibu duduk. Jangan lupa buku pink, buku pemeriksaan ibu hamil.

Proses membuat tandu darurat.

Empat kamera kami harus standby dan ditempatkan pada titik-titik terbaik karena kasihan jika adegan menuruni bukit ini harus diulang. Hehe.

Harus hati-hati menandu ibu hamil, bisa saja tergelincir.

Proses menandu ibu hamil ini memang susah karena harus melewati / melanggar bukit, melanggar kali, dan melewati tanjakan menuju jalan desa. Di pinggir jalan desa sudah ada pick up yang bakal mengantar ibu hamil ke puskesmas yang terletak di pusat Kecamatan Wolowaru.

Gara-gara di kali ini setengah celana saya basah dan sepatu pun kuyup. Kalian tahu? Saya pulang dari Wolowaru ke Ende sekitar 2 (dua) jam perjalanan tanpa alas kaki. Hahaha.

Setelah video Desa Siaga yang berjudul: Di Dalam Dekapan Ibuku, pihak lembaga alias pemberi order mengubah cerita menjadi Paroki Siaga. Di sini, saya dan Kakak Pacar harus menempuh jalan yang lebih jauh menuju Laja yang merupakan bagian dari Kabupaten Ngada. Luar biasa kan ya? Eh tapi Paroki Siaga pun tetap arahnya ke desa siaga yang bersinergi dengan paroki setempat. Waktu itu kami mewawancarai Romo Sil Betu.

Baca Juga : #PDL Snorkeling di Perairan Pulau Tiga

Apa pelajaran yang saya petik dari proses syuting desa siaga ini? Banyak, kawan! Kerjasama tim, ramahnya orang desa, bersatunya orang desa, hingga betapa orang desa itu akan menganggap kau saudara meskipun baru bertemu sekali dua. Seperti Benser yang kemudian, berbulan-bulan kemudian, masih menghubungi kami meminta bantuan mendokumentasikan pernikahan anaknya, hahaha. Benser ini baik banget meskipun kalau ngomong kayak orang berantem. Tipikal Orang Flores memang begitu, tidak bisa bicara pelan hahaha.

Kadang-kadang saya kasihan juga sama ibu hamil di desa, apalagi desanya di balik bukit (berbukit-bukit). Mereka harus berjuang sejak kehamilan sampai melahirkan. Mereka tidak kenal produk mutakhir untuk ibu hamil dan anak baru lahir. Tidaaaak! Mereka hanya kenal penanganan dasar ibu hamil yang sesuai anjuran bidan. Maka, berbahagialan ibu-ibu yang tinggal di kota, apalagi yang jarak rumahnya sangat dekat dengan fasilitas kesehatan (faskes) dan bisa tahu soal produk-produk mutakhir untuk ibu hamil.

Pernah, saya pernah begitu ... melakukan semua itu dengan gembira karena banyak pengalaman yang saya alami dan pengalaman itu tidak bisa ditukar Rupiah. 

Baca Juga : #PDL Cerfet, Cerita Estafet

Bagaimana dengan kalian? Punya pengalaman serupa?


Cheers.

#PDL Langgar Sungai Lewati Lembah


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; jalan-jalan di sekitar Kabupaten Ende, backpacker-an ke tempat-tempt di luar Kota Ende, merusuhi acara, termasuk perbuaan iseng bin jahil bin nekat.

***


Suatu kali saya menerima tawaran membikin video inspiratif dari sebuah lembaga tentang desa siaga. Video ini merupakan kisah nyata tentang perjuangan dan peran serta masyarakat untuk membantu menangani permasalahan ibu hamil dan anak, sekaligus menekan angka kematian ibu hamil dan anak baru lahir. Bersama Martozzo Hann, Kiki Albar, dan Kakak Pacar, jadilah tim ini. Tim yang harus membikin semuanya dari nol; RAB, estimasi waktu pengambilan video, shootlist (di dalam shootlist ini termasuk ada wardrobe sekalian), mengumpulkan materi, editing dan finishing, dan lain sebagainya. Repot memang, tapi menyenangkan karena kami ditemani cemilan segitu banyaknya *halah*.


Menurut situs Promkes, desa siaga adalah sebagai berikut:

Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana, dan kegawatdaruratan, kesehatan secara mandiri. Desa yang dimaksud di sini adalah kelurahan atau istilah lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan yang diakui dan dihormati dalam Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setelah selesai disusun, shootlist tersebut dikirim kepada pemberi proyek yang diteruskan kepada anggota desa siaga yang berada di Desa Liselowobora, Kecamatan Wolowaru, Ende. Betul, desa siaga yang satu ini berada di Desa Liselowobora. Kepala Desa Liselowobora belum tentu menjadi Kepala Desa Siaga. Apa yang saya pikirkan pun menjadi kenyataan karena shootlist yang dikirimkan itu sudah diperbanyak dan dibagi-bagikan kepada masyarakat desa siaga di sana, malahan mereka telah memilih orang-orang yang akan memerankan si A, si B, dan si C. Tetapi kalau bidannya beneran si bidan. Hehe. Mereka benar-benar paham proses syuting video ini.
Inilah hobi yang menjadi pekerjaan sampingan kami.
 Sesuai waktu yang ditentukan, tim pun berangkat ke Desa Liselowobora. Sayangnya, KM 17 arah Barat Kota Ende sedang ditutup (dibuka pada pukul 12.00 Wita) karena ada perbaikan jalan sehingga kami memutuskan untuk memutar gunung yaitu mengikuti jalur alternatif bernama Aekipa. Aduh, jangan pernah tanya ke Orang Ende soal jalur Aekipa ini, mereka pasti bakal senyum-senyum penuh makna. Bisa kalian bayangkan? Setelah memutar gunung / Aekipa selama 2,5 (dua setengah) jam, kami bertemu jalan raya yang ternyata adalah KM 20. Jadi, dua jam putar sana sini untuk tiba di KM 20? Luar biasa. Hahaha. Perjalanan kami lanjutkan dan akhirnya tiba juga di Desa Liselowobora.

*tepuk tangan*

Baca Juga : Datang, Makan, Ngerujak, Pulang

Tiba di Desa Liselowobora kami langsung bertemu kontak lokal yaitu Om Bene Sera yang oleh kami disingkat bebas menjadi Benser. Benser adalah mantan Kepala Desa Liselowobora, kemudian menjadi Kepala Desa Siaga di desa tersebut. Sesuai perjanjian, hari itu (Jum'at) kami akan pergi mencari penginapan dan akan bertemu keesokan harinya (Sabtu) di rumah Benser. Rumah Benser yang berkamar mandi luas itu menjadi basecamp tim.

Syuting hari pertama (Sabtu) berjalan lancar karena masih prolog, dan narasumber-narasumber. Prolog ini diantaranya pertemuan kelompok-kelompok masyarakat desa siaga, hingga bagaimana langkah-langkah yang diambil apabila ada ibu hamil hendak melahirkan yaitu dengan meniup peluit. Seru juga hari pertama ini. Untuk hari kedua syuting, kami meminta mereka mengenakan baju yang sama dengan hari pertama karena ceritanya di dalam video ini semua berjalan pada hari yang sama.


Salah seorang anggota desa siaga sedang melakukan pemetaan ini itu.

Oia, selain kelompok masyarakat desa siaga, kami juga bertemu Mama Dukun. Jadi ceritanya di desa siaga ini ada kerja sama antara bidan dan dukun beranak. Dari wawancara dengan Mama Dukun kami jadi tahu bahwa masih ada kaum ibu lebih percaya dukun beranak (kebiasaan turun-temurun), dan untuk mendukung program kesehatan pemerintah, Mama Dukun sering menemani si ibu melahirkan di puskesmas. Mulianya hatimu wahai, Mama Dukun!


Mama Dukun / dukun beranak (kanan) yang selalu penuh senyum.

Syuting hari kedua (Minggu) juga lancar dan lebih seru! Karena kami harus mereka ulang semua kejadian nyata yang terjadi di desa siaga tersebut. Para pemainnya juga asli sangat natural karena mereka sendiri yang mengalami kejadian tersebut, yaitu bagaimana memindahkan seorang ibu hamil yang hendak melahirkan dari balik bukit, melewati bukit, langgar kali, lewati lembah, untuk tiba di sebuah puskesmas. Bahkan bapak-bapak juga membuat kembali tandu darurat yang terdiri dari dua potongan bambu dan satu kursi plastik sebagai tempat si ibu duduk. Jangan lupa buku pink, buku pemeriksaan ibu hamil.

Proses membuat tandu darurat.

Empat kamera kami harus standby dan ditempatkan pada titik-titik terbaik karena kasihan jika adegan menuruni bukit ini harus diulang. Hehe.

Harus hati-hati menandu ibu hamil, bisa saja tergelincir.

Proses menandu ibu hamil ini memang susah karena harus melewati / melanggar bukit, melanggar kali, dan melewati tanjakan menuju jalan desa. Di pinggir jalan desa sudah ada pick up yang bakal mengantar ibu hamil ke puskesmas yang terletak di pusat Kecamatan Wolowaru.

Gara-gara di kali ini setengah celana saya basah dan sepatu pun kuyup. Kalian tahu? Saya pulang dari Wolowaru ke Ende sekitar 2 (dua) jam perjalanan tanpa alas kaki. Hahaha.

Setelah video Desa Siaga yang berjudul: Di Dalam Dekapan Ibuku, pihak lembaga alias pemberi order mengubah cerita menjadi Paroki Siaga. Di sini, saya dan Kakak Pacar harus menempuh jalan yang lebih jauh menuju Laja yang merupakan bagian dari Kabupaten Ngada. Luar biasa kan ya? Eh tapi Paroki Siaga pun tetap arahnya ke desa siaga yang bersinergi dengan paroki setempat. Waktu itu kami mewawancarai Romo Sil Betu.

Baca Juga : #PDL Snorkeling di Perairan Pulau Tiga

Apa pelajaran yang saya petik dari proses syuting desa siaga ini? Banyak, kawan! Kerjasama tim, ramahnya orang desa, bersatunya orang desa, hingga betapa orang desa itu akan menganggap kau saudara meskipun baru bertemu sekali dua. Seperti Benser yang kemudian, berbulan-bulan kemudian, masih menghubungi kami meminta bantuan mendokumentasikan pernikahan anaknya, hahaha. Benser ini baik banget meskipun kalau ngomong kayak orang berantem. Tipikal Orang Flores memang begitu, tidak bisa bicara pelan hahaha.

Kadang-kadang saya kasihan juga sama ibu hamil di desa, apalagi desanya di balik bukit (berbukit-bukit). Mereka harus berjuang sejak kehamilan sampai melahirkan. Mereka tidak kenal produk mutakhir untuk ibu hamil dan anak baru lahir. Tidaaaak! Mereka hanya kenal penanganan dasar ibu hamil yang sesuai anjuran bidan. Maka, berbahagialan ibu-ibu yang tinggal di kota, apalagi yang jarak rumahnya sangat dekat dengan fasilitas kesehatan (faskes) dan bisa tahu soal produk-produk mutakhir untuk ibu hamil.

Pernah, saya pernah begitu ... melakukan semua itu dengan gembira karena banyak pengalaman yang saya alami dan pengalaman itu tidak bisa ditukar Rupiah. 

Baca Juga : #PDL Cerfet, Cerita Estafet

Bagaimana dengan kalian? Punya pengalaman serupa?


Cheers.

250 Blog Untuk Desa di Flores Timur


Saya belum mengenalnya lebih dekat. Kami hanya berkenalan lewat media sosial Facebook dan membaca tulisannya di blog masing-masing. Nama Facebook-nya Simpet Soge. Nama blog pribadinya Simpet Adonara. Itu memang bukan nama akta kelahiran atau KTP tetapi ada satu hal yang pasti pada nama itu yaitu Adonara, sebuah pulau di depan Pelabuhan Larantuka, pulau eksotik yang pernah saya jelajahi dari ujung Barat ke ujung Timor menggunakan pick up.

Baca Juga:

Adalah biasa kami kadang saling membalas komentar di Facebook dari status masing-masing dan saya bertanya tentang blog-nya yang belum ada pos baru. Kemudian saya kaget membaca komentarnya yang dapat kalian lihat pada awal pos ini: ini lagi sibuk bikin blog desa untuk Flotim, ada 250 blog desa yang sudah dibuat, sedang progres posting nih. DUA RATUS LIMA PULUH BLOG UNTUK DESA-DESA YANG ADA DI FLORES TIMUR.

Sengaja caps lock. Sengaja!

Flotim (Flores Timur), kabupaten terujung Timur Pulau Flores, yang terkenal dengan perayaan Semana Santa (Paskah), yang tekenal dengan jagung titi, yang terkenal dengan dua pulau di depan Pelabuhan Larantukanya: Pulau Adonara dan Pulau Solor. Kalian sudah pernah ke sana? Kalau belum, pergi lah ke sana dan nikmati semua keindahan Flores Timur.

Kembali ke Simpet Soge.

Melalui layanan obrolan Facebook saya jadi tahu bahwa 250 blog itu idenya sederhana; hanya meminta ijin repost konten teks maupun foto dari medsos tentang desa-desa yang ada di Flores Timur. Juga nanti mereka akan mengajak teman-teman untuk bergabung mengisi kontennya. Untuk sementara, sedang pos informasi-informasi dasar tentang desa yang bersangkutan saja dulu, untuk konten foto dan teks nanti menyusul. Yang jelas, blog dari seluruh desa di Flores Timur sudah dibuat dengan semangat 45. Boleh saya curi semangat 45-nya?

Dari itu, muncul lah status ini di akun Facebook saya:

Nama FB-nya Simpet Soge sedangkan nama blognya Simpet Adonara. Simpet, bukan Sampeth 😂 Saya suka tulisan di blog-nya tentang Adonara. Lama tidak update blog, ternyata dia sedang bikin blog desa, sebanyak 250 blog desa! Maaakkk! Luar biasaaaa! Dan sekarang sedang dalam proses posting-posting. Bangga melihatnya. Bangga dan senang! Ini salah satu cara promosi daerah gratis, cara mengajar / mengajak menulis, cara yang sederhana membangun daerah.

Jadi ingat dalam filem Linimassa ada desa internet, ada juga desa yang menggunakan website untuk informasi perkembangan petani, panen, harga hasil panen, dan lain sebagainya. Saya jadi ingat pernah mengisi materi blog untuk bapak-bapak petani di Hotel Silvia Maumere gara-gara Bang @Antonemus.

Keren kan, Om Bisot?

Jika kalian mengeluh ini itu hanya karena tidak bisa FBan, atau komplain tentang hidup kalian di media sosial, maka lihatlah Om Simpet dengan 250 blog untuk desa-desa di sana! Salut maksimal! Apabila penduduk desa bisa ngeblog, mereka seribu langkah lebih maju!

Yang di Hotel Silvia Maumere, dari status di atas, saya mengajar para petani Se-Flores-Lembata yang berada di bawah naungan VECO untuk membuat akun e-mail di Gmail, membuat blog, dan membuat akun sosial media seperti Twitter dan Facebook.

Bahwa sekarang blog-blog desa itu masih memuat informasi dasar, tidak masalah. Yang penting adalah semangatnya yang inspiratif. Karena, dengan sendirinya nanti anak-anak di setiap desa dan kecamatan dapat membantu mengisi konten. Kembali lagi ke persoalan menulis untuk dibaca banyak orang kan? Ih saya jadi gemas hehehe. Salah satu blog desa yang bisa kalian lihat adalah blog desa Watobaya. Kontennya sudah lumayan banyak dan dikelola dengan sangat baik oleh Simpet. 

Yang menyenangkan dari 250 blog desa dari Kabupaten Flores Timur ini adalah setiap blog bisa saling terkoneksi. Ini kan motivasi, menurut saya. Ketika 'yang pegang' atau pengelola (setelah/selain Simpet) blog desa A melihat pos blog desa B lebih baik, dia akan berusaha untuk lebih baik juga. Dan jelas, tujuan utama mereka saat ini adalah bagaimana desa mereka dikenal dengan segala macam kegiatan serta permasalahan yang ada. Tahu langsung dari sumbernya itu jauh lebih baik.

Mereka belum memikirkan tentang pengunjung.
Mereka belum memikirkan tentang monetize.
Mereka bahkan tidak terpikirkan tentang review produk.

Yang mereka tahu adalah membangun desa / daerah mereka, salah satunya lewat blog.

Lagi; apabila penduduk desa bisa nge-blog (sedangkan penduduk kota sibuk di media sosial nyetatus ini-itu tentang hal-hal yang mungkin mereka sendiri tidak paham), maka penduduk desa seribu langkah lebih maju. Ini pendapat pribadi saya, kalau kalian tidak setuju, bikin opini kalian sendiri dan tulis di blog. Haha.

Impian saya untuk memasyarakatkan blog di tahun 2003-an, kerja keras mengajak orang lain nge-blog, dari satu workshop ke workshop lain, kelimpungan cari proyektor agar kegiatan belajar nge-blog lebih asyik, membujuk orang-orang untuk hadir, bikin materi dan tutorial, ngomong sampai mulut berbusa ... memang pelan-pelan telah terwujud. Dan kini, Simpet Soge mewujudkan, mungkin, mimpinya, di ujung Timur Pulau Flores sana, di Kabupaten Flores Timur.

Bangga dan salut.


Cheers.