Tembus

Gak lah, ini bukan mau bahas pembalut yang mudah tembus. Ini mau bahas usaha gue kesekian kalinya untuk mulai nulis di blog lagi. Rasanya susaaaah banget.

Gue sampe mikir apa sih yang jadi penghalang? Apalagi kalau dibandingkan dengan awal ngeblog, sekitar tahun 2007-2008, rasanya gampang banget untuk numpahin kata-kata. Setelah lama mikir -iya, gue lama kalau mikir. Kayak Pak SBY yang penuh pertimbangan- akhirnya gue coba bandingin isi blog ini dengan blog lama yang untungnya ketemu lagi linknya.

Di blog lama itu berasa banget tulisan gue santai dan mengalir. Yaaa ini sih analisis gue sendiri lah. Kan gak perlu juga sewa lembaga survey buat menganalisa urusan blog kan, ya? Terus gue pikir lagi, apa sih kira-kira yang bikin gue santai waktu nulis di blog lama itu? Lagi-lagi, menurut inilisa gue -iya, sengaja nulisnya inil. Gak enak kalau nulisnya pake huruf a terus- kayaknya sih karena di blog yang sekarang ini gue terlalu terkekang sama aturan.

Contohnya, karena udah mulai ngerti mana ‘di’ yang harus dipisah dan mana yang harus disambung, gue jadi khawatir salah nulis dan terlalu sibuk mikirin cara menempatkan ‘di’ yang benar. Atau contoh lain, gue terlalu khawatir ada yang bakal menilai blog gue gak fokus sama satu topik. Ya misalnya topik fotografi. Dulu ada yang pernah bilang, tulis aja apa yang lo suka, Gil. Misalnya tentang fotografi, terus tulisan lo dirapihin biar ngejaga image lo. Biar keliatan profesional gitu.

Semua ilmu dan saran di atas itu bener sih, tapi kemudian gue jadi ribet sendiri. Gue lupa kalau dulu waktu awal ngeblog itu gue menulis untuk ngelepasin uneg-uneg. Semisal kalau lagi marah, ya gue ngeblog. Kalau lagi jengkel kena macet, ya gue ngeblog. Tapi ketika marah atau jengkel, isi tulisan gue gak selalu numpahin dan ngumbar masalah di blog. Salah satu contoh tulisan ketika lagi jengkel terkena macet, gue nulis ini http://sipelikan.blogspot.com/2008/01/horny.html atau waktu lagi stress banget sama kerjaan dan jengkel sama sutradaranya, gue ngurangin “bebannya” dengan nulis ini http://sipelikan.blogspot.com/2008/05/sutradara-gila.html

Makanya ketika dulu ada yang nyaranin gue untuk menulis apa yang gue suka, harusnya gue tulis aja apa yang lagi gue alamin. Sebab memang itu yang gue suka. Bukan menulis tentang fotografi. Gue memang hobby fotografi, tapi ternyata nggak terlalu suka nulis tentang itu. Gue sukanya moto, dan dobel suka kalau terima duit dari foto itu.

Intinya sih, blog ini tempat di mana gue bisa agak melupakan aturan-aturan. Aturan memang tetap harus ada, apalagi sekarang ada UU ITE, tapi di sini gue bebas menentukan jumlah aturan yang perlu gue ikuti. Mungkin gue memang termasuk orang yang kalau terlalu banyak diatur malah jadi goblok, jadi gak kritis, bahkan jadi mengekang diri sendiri.

Bahkan dulu saat masih ngebangun usaha pun gue agak begajulan, gue bisa ninggalin potential client cuma karena dia gak tepat waktu. Gue nunggu di kantornya sampe setengah jam lebih, tapi dia gak nongol-nongol, ya gue balik ke kantor gue. Lha terus kenapa urusan ngeblog aja gue kudu ngikutin banyak aturan, coba? Begajulan di blog boleh lah, asal gak melanggar UU. Penghalang-penghalang pikiran kayak gini yang lagi gue usahain untuk ditembus.

breakthrough

Sebetulnya gue juga gak perlu terlalu ribet sama urusan blog, tinggalin aja kalau memang udah gak sanggup nulis lagi. Lha tapiii, masalahnya adalah, gue gak bisaaaa 😀 Ya, ya, yaa, sepatutnya gue menumpahkan masalah ke Allah SWT. Tapikaaaan, masa iya cuma jengkel kehabisan celana dalem gara-gara kelupaan nyuci terus kudu ngadu ke Gusti Allah?

Itulah kegunaan blog yang hqq, buat gue. Entah buat yang lain.

Cara Mengurus Dependant Visa Malaysia

Awalnya sempat khawatir bakal lama dapat dependant visa. Apalagi kalau nunggunya lama kayak PKS yang nunggu kepastian bakal dikasih jabatan Wagub DKI oleh Gerindra atau nggak. Tapi ternyata nasib saya lebih baik. Beberapa waktu lalu dependant visa saya sudah disetujui. Alhamdulillah.

Dependant visa ini saya perlukan supaya bisa tinggal lama di Malaysia. Mungkin banyak yang belum tahu, istri saya bekerja sebagai dosen di Kota Kinabalu, Malaysia. Sebagai tenaga kerja asing di Malaysia, istri saya saya nggak bisa langsung mengajak saya untuk tinggal di Malaysia karena saat itu belum memenuhi syarat untuk mengurus dependant visa/dependant pass untuk saya. Untungnya sebagai sesama negara ASEAN, kita punya kemudahan bebas visa kalau sekedar berkunjung. Jadi saat belum punya dependant visa, saya bisa tinggal di Malaysia selama 30 hari. Ya lumayanlah. Maksudnya lumayan pegel bolak-balik Indonesia-Malaysia sebanyak 8 kali selama satu setengah tahun 😀

Keseruan hubungan jarak jauh sebagai suami istri kayaknya asyik juga kalau nanti saya ceritakan di tulisan terpisah. Atau mungkin dalam bentuk podcast. Kemarin saya dan istri berencana bikin podcast yang isinya tentang perbedaan budaya antara Malaysia-Indonesia dan gimana kami menyikapinya.

Nah, tentang pengurusan dependant visa ini secara garis besar ada tiga tahapan. Tahapan pertama harus dilakukan di Malaysia oleh suami/istri yang bekerja di sana. Kalau saya nggak salah sebetulnya ada agen yang bisa membantu urusan ini. Atau mungkin kantor tempat kerja juga bisa bantu melalui HRD, tapi kami kemarin memutuskan untuk mengurus semuanya sendiri. Sebetulnya mengurus dependant visa Malaysia ini mudah, asalkan semua syarat sudah terpenuhi.

Untuk tahu syarat apa saja yang diperlukan, bisa tanya ke bagian HRD kantor masing-masing atau tanya langsung ke kantor imigrasi. Kalau di Kota Kinabalu, alamat pejabat imigresen ada di Block B, Federal Government Administrative, Jalan UMS, 88300 Kota Kinabalu, Sabah. Setelah semua selesai diurus, nanti tinggal nunggu jadinya surat pengantar dari imigresen sekitar 2 minggu. Konon jangka waktu lamanya penerbitan surat dari imigresen ini bisa berbeda, sebaiknya ditanyakan langsung saat pengurusan.

Setelah istri saya menerima surat tersebut, dia kirim surat itu ke saya untuk penerbitan single entry visa di Jakarta. Ini bisa disebut tahap kedua. Single entry visa ini berlaku tiga bulan, pengurusannya di Menara Palma Lantai 18, Jl. H.R. Rasuna Said, Kuningan. Syaratnya hanya membawa surat pengantar dari pihak imigrasi Malaysia, paspor, 1 pas foto ukuran 4×6 latar belakang putih dan mengisi formulir yang disediakan di sana. Serahkan semuanya ke petugas untuk diperiksa, serta membayar 878,000 rupiah untuk penerbitan single entry visa. Single entry visa ini akan selesai dalam waktu 3 hari kerja. Jangan lupa untuk pengurusan dependant pass ini paspor pemohon harus masih berlaku selama satu tahun lebih.

Setelah visa ini jadi, saya langsung cari tiket Jakarta-Kota Kinabalu, yailaah..udah kangen istri kaan 😀

Kemudian di Kota Kinabalu, atau lebih sering disebut KK, masuklah ke tahap ketiga. Saya dan istri yang kebetulan sedang ambil cuti langsung pergi ke pejabat imigresen untuk pengurusan dependant visa, sayangnya saat itu sistem mereka sedang offline. Akhirnya keesokan harinya saya sendiri yang pergi lagi ke pejabat imigresen untuk urus visa tersebut. Di sini prosesnya tinggal bayar RM 260 di konter juruwang, lalu serahkan bukti pembayaran ke petugas di bagian ekspatriat dan gak berapa lama kemudian, voila! Jadilah dependant visa saya. Saya kurang paham dengan sistem visa ini, tapi menurut saya tahap ini semacam untuk menukar single entry visa dengan dependant pass yang multi entry. Jadi saya bisa pulang pergi kapanpun dan bisa tinggal di wilayah berlakunya dependant pass ini selama pass tersebut masih berlaku.

 

Oiya, semua persyaratan ini ada baiknya ditanyakan lagi ke pihak imigresen/Kedutaan Malaysia, sebab bisa jadi ada persayaratan yang sedikit berbeda karena masing-masing wilayah di Malaysia punya aturan tersendiri. Saya sempat baca dari blogger yang tinggal di Kuala Lumpur, ada sedikit perbedaan dari pengalaman yang saya tulis ini. Bahkan di dependant’s pass yang saya punya ini tertulis hanya berlaku untuk wilayah Sabah dan West Malaysia, nggak disebut untuk wilayah Sarawak. Tapi yang pasti semua prosesnya mudah dan cepat selama persyaratan sudah terpenuhi, semoga pengalaman ini bisa sedikit membantu bagi pembaca yang hendak mengurus visanya sendiri, salam.

Inkonsistensi BTP

Lini masa media sosial riuh banget saat menjelang dan setelah bebasnya BTP dari tahanan di Kelapa Dua.

Dari sekian banyak cuitan di twitter dan status FB, ada satu yang menarik dan membuat saya kepingin ngecuprus di blog lagi.

Ini tentang inkonsistensi yang dilakukan oleh BTP.

Seperti yang sudah diberitakan, Ahok lebih suka disebut dengan BTP setelah bebas dari tahanan.

Itu sebabnya saya, pemerhati dan enthusiast level receh soal bahasa Indonesia, jadi terpancing oleh status FB kawan saya ini.

Jadi kepikiran nggak sih, kenapa dulu blio diberi nama Basuki Tjahaja Purnama? Kenapa bukan Basuki Cahaya Purnama atau Basoeki Tjahaja Poernama agar soepaja tertjipta konsistensie dalam namanja?

Kalau ada yang tahu alasannya, tolong informasikan di kolom komentar ya.

Kalau ada yang sebal karena merasa terjebak oleh judul yang sok serius padahal isinya receh, berarti kamu baru pertama main ke sini atau memang belum kenal sama yang punya blog ini, ehehe. Saya cuma serius kalau bahas fotografi, selebihnya kebanyakan receh.

Apalagi ini update blog pertama di awal tahun, ya kalik bakal ngecuprus yang serius 🥴

Ya sudah, selamat menikmati tahun politik. Beda pilihan boleh, benci jangan. Ibarat ngopi, mau tubruk hayuk, mau french press boleh, mau metode drip monggo, mau cold brew atau ala Turki juga silakan. Karena apapun metodenya, ngopi yang paling nikmat itu saat sembari ngobrol santai dengan teman atau dengan pasangan kalau punya. Yo ra, mblo?

Foto yang Bercerita

Beberapa waktu yang lalu ada orang tua murid kursus privat fotografi yang bertanya soal bagaimana mendapatkan foto yang pas untuk sebuah lomba yang akan diikuti oleh anaknya. Pertanyaan ‘Obyeknya apa, ya?’ itu paling susah dijawab kalau berhubungan dengan tema sebuah lomba. Karena untuk membuat sebuah foto, harus ada inisiatif dari pemotretnya. Jadi saya nggak jawab… Read More Foto yang Bercerita

Perbandingan Kamera Full Frame, APS-C dan Micro Four Thirds

Beberapa teman yang baru belajar fotografi dan baru punya kamera menanyakan soal bedanya kamera full frame dan APS-C atau yang juga disebut crop factor. Biasanya bertanya soal ini setelah membandingkan hasil fotonya dengan hasil foto orang lain dan bingung karena frame fotonya nggak selebar milik orang lain. Padahal panjang lensa atau focal length lensa yang… Read More Perbandingan Kamera Full Frame, APS-C dan Micro Four Thirds

Kenapa Angin Ribut Diberi Nama Perempuan

Gara-gara twit Tante Maina @FunJunkies ini, Nama badai banyak yang pakai nama perempuan ya. Kalau perempuan udah ngamuk emang mirip topan badai soalnya. Saya jadi ngekek-ngekek sendiri njuk kepikiran ngeblog. Memang bener sih, topan badai atau angin ribut banyak yang pakai nama perempuan. Malah sebelum tahun 1978 hanya nama perempuan yang digunakan. Seingat saya, nama… Read More Kenapa Angin Ribut Diberi Nama Perempuan

How “Indon” Can You Go?

Bukan bermaksud melunturkan semangat memperingati kemerdekaan Indonesia, tapi sekedar menumpahkan uneg-uneg saja. Kemarin saya melihat karikatur ini di akun twitter @ndorokakung. Menurut saya, karikatur ini sarat makna. Siapapun pembuatnya, saya salut! Maafkan karena keterbatasan yang saya punya, saya nggak bisa menelusuri siapa pembuat karikatur ini. Melihat tikus-tikus yang menggerogoti bendera Indonesia yang sedang dijahit, pikiran… Read More How “Indon” Can You Go?

Pengalaman Baru di Kota Kinabalu

Walau sejak kecil sudah terbiasa berpindah kota, bahkan negara, namun pengalaman pertama di sebuah kota selalu menarik bagi saya. Khusus untuk Kota Kinabalu, atau yang sering disebut dengan nama KK, ketertarikan saya berlipat-lipat. -btw, huruf K dibaca dengan lafal bahasa Inggris, bukan K dengan bunyi dari bahasa Indonesia, lha nanti malah mirip orang dagang, “Mampir… Read More Pengalaman Baru di Kota Kinabalu

Mengalir dari Bromo ke Ciremai

Doa yang aku lantunkan di Bromo saat itu, hari ini alhamdulillah terjawab sudah. Di depan orangtua kita -aku yakin almarhum bapak ikut menyaksikan-, di depan Gunung Ciremai dan insyaallah dirahmati Sang Maha Pemberi, aku mengucapkan kalimat pengikat hati dan raga kita. Babak baru sebuah cerita akan kita jalani. Bersama. Insyaallah selamanya. Bismillahir-rahmanir-rahim.  Filed under: ngecuprus… Read More Mengalir dari Bromo ke Ciremai

Kuliner Surabaya

Saya biasanya kurang tertarik dengan broadcast message (BM), termasuk BM soal kuliner. Tapi kali ini, Hermawan, kawan baik saya, yang saya percaya untuk soal rasa makanan, mengirim BM dengan keterangan “Ini udah aku coba semua, makanya berani share”, jadilah saya tertarik ikut membagikan BM itu di sini: *BAGI BAGI INFO* Info Wisata kuliner buat yg… Read More Kuliner Surabaya