Natal Bersama di Uniflor


Seperti yang sudah pernah saya tulis bahwa setiap kali kembali dari liburan hari raya baik Idul Fitri maupun Natal, Uniflor punya kebiasaan unik. The one and only. Alias hanya terjadi di Uniflor. Kebiasaan apakah itu? 

Baca Juga: Sarasehan di SMPN Satap Koawena

Setiap kali kembali dari liburan, setiap karyawan wajib membawa sekotak kudapan khas hari raya. Karena kita baru saja selesai merayakan Hari Raya Natal maka teman-teman yang beragama Katollik dan Protestan wajib membawa sekotak kudapan. Sekotak atau sestoples bukan berarti benar-benar sekotak, karena ada teman yang membawa lebih dari sekotak. Jadinya ... berlimpah cake dan kukis! Yipieeee. Ini namanya pesta kue hahaha.

Natal bersama tahun-tahun sebelumnya, dilaksanakan di Lapangan Futsal Kampus III.

Kemarin Kamis, 4 Januari 2019, Natal Bersama dimulai dengan upacara di Auditorium H. J. Gadi Djou. Upacara sambil menghirup aroma kue ... mana tahan. Mari yuk foto-foto dulu sama Bapak-Bapak Satpam yang senantiasa menjaga keamanan kampus I, II, dan III, di Uniflor.


Upacara dipimpin oleh Bunda Emmy Sero dengan pembina Bapak Lori Gadi Djou. Dihadiri pula oleh jajaran Rektor, Dekan, serta kepala Lembaga/UPT se-lingkup Uniflor.


Usai upacara, saatnya menikmati kudapan yang sudah disediakan. Sayang, saya telat memotret aneka kudapan dan minuman di atas meja hahaha. Tak apalah ya, yang jelas bisa merampok kue-kue ini buat dibawa pulang *wajah tak berdosa*. Sebenarnya bukan merampok. Ini dibawakan sama Mami Yulita Londa (Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum), tetapi karena beliau datangnya terlambat dan acara menuju usai, jadi kantong kreseknya diserahkan ke saya sebagai pegawai paling baik.


Dilanjutkan dengan hang out sambil errr menunggu waktunya cabut pulang ke rumah haha.



Natal Bersama, maupun Idul Fitri Bersama (Halalbi Halal), di Uniflor merupakan wujud dari nilai kekeluargaan dan kekompakan yang tinggi di universitas pertama di Pulau Flores ini. Kami diajarkan bahwa keluarga bukan saja berasal dari garis darah, bukan saja tetangga yang disebut sebagai keluarga terdekat. Teman kantor termasuk Dosen, Bapak-Bapak Satpam, para Penjaga Malam, bahkan tetangga sekitaran kampus, merupakan suatu komunitas yang wajib dijaga dan dipelihara. Tidak memandang pangkat, agama, golongan, suku, kebersamaan ini wajib dipertahankan sebagai ciri khas Uniflor pada khususnya dan Orang NTT pada umumnya.

Baca Juga: Studio JP Photography

Saya sering berpikir begini, kawan:

Jika kita tidak bisa hidup bertetangga dan bertoleransi, lebih baik enyah saja, toh artinya tidak bisa pula hidup berdampingan dengan alam raya yang notabene berbeda pula dari kita (udara, tumbuhan, binatang). Bukankah perbedaan yang membuat kita kaya? Urusan iman, biar menjadi urusan pribadi (individu) dengan Tuhannya masing-masing. Urusan iman bukanlah gosip artis yang musti diumbar-umbar di media mana pun. 

Terakhir, salam ... dari saya perampok cake dan kukis. Hahaha. 



Cheers.