Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe


Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe. Musim KKN 2019 sudah tiba. Artinya, saya yang biasanya bertugas sebagai Panitia KKN Seksi Publikasi dan Dokumentasi harus bersiap ke luar kota, ke daerah lokasi KKN, bahkan yang di luar Kabupaten Ende. Kali ini saya dan Anto Ngga'a dikoordinir oleh Kakak Rossa Budiarti, siap menjalankan tugas. Tahun lalu peserta KKN yang di luar daerah tidak diliput. Tapi tahun ini wajib diliput terutama tiga desa penerima dana hibah KKN-PPM dari Kemenristek Dikti. Keren kan? Untuk pertama kali proposal yang diajukan oleh P3KKN lolos!

Baca Juga: Hari Literasi Sukacita Bersama Rumah Baca Sukacita

Ada tiga desa yang mendapat dana hibah PPM dan Kemenristek Dikti sesuai tiga proposal yang lolos diajukan oleh P3KKN. Tiga desa itu adalah Desa Nggedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, Desa Anaraja di Kecamatan Nangapanda, Desa Wolofeo di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Sabtu kemarin, 27 Juli 2019, peserta KKN - PPM untuk Desa Ngegedhawe diberangkatkan.

Literasi Desa


Program utama di Desa Ngegedhawe adalah Literasi Desa yaitu pembangunan rumah baca: pembangunan, stok buku, dan pengelolaan. Sudah sering peserta KKN membangun rumah tinggal bagi penduduk desa yang kondisi rumahnya tidak layak huni lagi. Tapi rumah baca? Ini perdana dan seperti kata Kepala LP2M Uniflor saat acara pelepasan duapuluh peserta KKN-PPM di Desa Ngegedhawe, ini adalah pilot project! Pilot project itu memang kudu hati-hati, terutama yang bakal dimonitoring oleh L2Dikti, maksudnya adalah kesuksesan merupakan goal yang tidak bisa ditawar-tawar dengan kata 'setidaknya'. Tentu saja, Tuhan adalah penentu utama. Hehe.



Sekretaris Desa Ngegedhawe dan Ketua BPD Desa Ngegedhawe menyambut baik program pembangunan rumah baca ini. Ketua BPD misalnya, menurutnya rumah baca akan berdampak sangat positif pada anak-anak dan masyarakat desa. Salah seorang Dosen Penamping Lapangan (DPL) yaitu Pak Gusty Dadi mengatakan bahwa meskipun zaman sekarang banyak informasi yang bisa dibaca melalui lini digital (internet di telepon genggam) namun membaca buku sebenarnya merupakan salah satu cara untuk memajukan sebuah peradaban. Saya suka sekali kalimat ini. 


Yang tidak saya duga adalah penyambutan yang luar biasa dari Sekdes dan jajarannya, semacam suatu harapan yang kemudian menjadi nyata. Baru saya tahu, tahun 2019 merupakan tahun kedua peserta KKN Uniflor ditempatkan di desa tersebut. Tentu, masih banyak harapan yang ingin diwujudkan oleh masyarakat Desa Ngegedhawe bersama peserta KKN yang ditempatkan di desa tersebut. Semoga.

Rumah Baca Harus Lebih Banyak Dibangun


Di Kota Ende, paling terakhir saya mengenal Rumah Baca Sukacita yang haru saja merayakan Hari Literasi Sukacita.


Saya diminta bercerita tentang dunia jurnalistik dan dunia blogger. Adalah kesenangan tersendiri jika bisa berbagi tentang kebiasaan-kebiasaan baik yaitu membaca dan menulis. Anak muda, sejak usia dini, memang harus ditanamkan nilai-nilai membaca dan menulis.

Rumah baca memang sudah seharusnya lebih banyak dibangun, sebagai tempat yang mengakomodir minat baca anak-anak bahkan orang dewasa. Apabila rumah baca memang ditujukan untuk suatu komunitas yang tidak memandang usia, maka tentu buku-buku yang disediakan pun harus beragam, untuk semua usia. Tetapi saya berpikir ada baiknya rumah baca dimulai dari kelas anak-anak terlebih dahulu, orang dewasa bisa menyusul. Karena anak-anak tidak saja membutuhkan buku tetapi juga bimbingan dari para pendamping atau kakak-kakak pengelola rumah baca.

Rumah baca dan pengelola adalah satu kesatuan. Bayangkan saja begini ... lima bocah balita dihadapkan pada sebuah granat. Apa yang akan mereka lakukan? Bisa saja diabaikan. Bisa saja salah seorang bocah balita menarik pemicu dan tamatlah riwayat orang-orang dalam radius ledakan. Tetapi, jika lima bocah balita itu dibimbing oleh orang dewasa yang waras dan bertanggungjawab, maka dia akan menjelaskan bahwa granat adalah benda yang harus dijauhi sejauh-jauhnya oleh anak-anak. Sama juga dengan buku. Pembimbing/pengelola merupakan mata angin yang akan mengarahkan dengan benar anak-anak tentang isi buku yang dibaca.

⇜⇝

Bagi saya pribadi, Literasi Desa merupakan program keren yang harus didukung oleh kita semua, tidak memandang orang tersebut merupakan bagian dari KKN-PPM Uniflor atau tidak. Karena literasi sangat dibutuhkan pada zaman sekarang ini, di tengah dunia digital yang serba praktis, di tengah dunia yangmana anak-anak lebih suka bermain tiktok ketimbang membaca dan menulis. Semoga harapan-harapan baik dapat terwujud. Amin.

Baca Juga: Gotong Royong Itu Masih Hidup Dalam Tubuh Masyarakat

Bagaimana dengan di daerah kalian, kawan? Adakah rumah baca yang sungguh-sungguh dikelola? Bagi tahu yuk di ... di mana-mana hatiku senang ... hehe. Di komen, tentu saja!



Cheers.

Istana Negara Kuning


Sebagai Presiden Negara Kuning, yang beranggotakan dua petinggi, saya memang belum punya istana. Mencari istana, karena kalau bisa mencari kenapa harus membangun(?), memang tidak mudah. Banyak perkara yang harus saya pertimbangkan, selain warna yang dipilih sebagai identitas istana, seperti kerelaan pemilik bangunan untuk bangunannya saya jadikan istana. Dinosaurus saja sampai pusing tujuh keliling menunggu saya menemukan istana. Siapa sangka, Istana Negara Kuning itu tidak saya temukan di Kota Ende melainkan di sebuah kota yang sangat jauh bernama Mbay di Kabupaten Nagekeo?

Baca Juga: Di Nagekeo Hati Saya Tertambat

Anyhoo, kedua petinggi Negara Kuning itu adalah Wakil Presiden bernama Indi dan Duta Besar bernama Syiva. Meskipun Wakil Presiden telah berkhianat dan memilih untuk mengabdi pada Negara Merah, tapi saya masih tetap menganggapnya Wakil Presiden karena belum menemukan pengganti yang pas (otaknya).

 Wakil Presiden yang berkhianat ke Negara Merah.

Duta Besar yang bergaya Don Yuan.

Penemuan Istana Negara Kuning ini sangat tidak disengaja. Dalam perjalanan dinas di Kabupaten Nagekeo, tepatnya setelah melaksanakan tugas di Aesesa dan Marpokot - dalam perjalanan kembali ke Kota Mbay, saya menemukan si istana. Penampakannya bisa kalian lihat di awal pos. Berdiri gagah dan sangat mencolok. Nama istana itu adalah Masjid Baiturahman Alorongga. Ketika melihatnya, saya harus turun dari Onif Harem untuk memungut hati saya yang jatuh ke aspal. Sungguh, bangunan ini sangat pantas menjadi Istana Negara Kuning bentukan saya itu. Saya langsung ingat bahwa semua yang kita lakukan telah ditetapkan oleh Allah SWT dan menemukan istana ini pun sudah rencanaNya. Ada yang batuk? Hahaha.

Saya jadi ingat. Pada tahun 2010, saya dan seorang sahabat yang super baik yaitu Ilham Himawan pernah punya proyek impian memotret semua masjid yang kami temui di Pulau Flores. Apakah proyek itu terlaksana? Iya! Tapi sayang, foto-foto itu ada yang terhapus seiring bergantinya gawai pintar sebelum disimpan di Google Foto. Entah bagaimana dengan foto-foto yang dikumpulkan Ilham. Saya bahkan pernah menulis di Kompasiana, jangan dicari akun itu mungkin sudah terhapus, tentang Kota 1000 Masjid (Ende). Kalian mau tahu? Daerah Kota Ende bagian pesisir itu saya juluki daerah LIMA METER MASJID. Lima meter memang hiperbola, tapi kalau kalian melihat sendiri, pasti bakal angguk-angguk juga kenapa saya juluki seperti itu. Suara adzan-nya sahut-sahutan.

Setiap kali keluar kota, meski kadang ingat kadang lupa, saya masih sempat memotret masjid yang berdiri di pinggir jalan (masjid/surau). Ada perasaan bemana gitu yang tidak bisa saya jelaskan di sini setiap kali melihat masjid dalam perjalanan ke tempat yang jauh dari rumah. Seperti melihat rumah sendiri; tempat saya bisa tidur apabila mengantuk selama perjalanan, tempat saya melaksanakan shalat, tempat saya merasa nyaman level galaksi. Saya pikir, mungkin itu jugalah yang dirasakan oleh para musafir atau para pejalan lainnya jika pergi jauh dari rumah.

Urusan mengantuk ini, dalam suatu perjalanan spektakuler yang bisa kalian baca di pos #PDL Laja dan Toleransi yang Tinggi, saya dan Kakak Pacar pernah keluar rumah usai Subuh. Selama perjalanan dari Kota Ende menuju Laja, kantuk menyerang saya tanpa ampun. Pada akhirnya kami, yang memang malam sebelumnya kurang tidur, memutuskan untuk tidur di teras masjid yang ada di Kota Boawae (masih Kabupaten Nagekeo tapi jalurnya ke arah Barat terus ke Kabupaten Ngada, kalau Kota Mbay jalurnya ke arah Utara). Luar biasa. Dua jam kami tidur pulas. Bahkan saat marbot menyarankan Kakak Pacar (saat itu terjaga) agar saya pindah saja tidur di dalam masjid bagian shaf perempuan, Kakak Pacar menolak dengan halus karena konon saya bisa jadi Sea Nettle kalau sedang pulas dipaksa bangun. Hahaha.

Baca Juga: 5 Manfaat Teh Rosella

Kembali pada Istana Negara Kuning. Saya berpikir, memang susah juga kalau istananya jauh begitu. Tapi mungkin ini pertanda bahwa saya harus sering-sering datang ke Kota Mbay sebagai bentuk tanggungjawab seorang Presiden terhadap istananya. Okay, sampai di sini saya hentikan dulu ketimbang kalian merutuk hahaha. 

Jadi, itu dia oleh-oleh lain yang bisa saya ceritakan di sini dari perjalanan ke Kabupaten Nagekeo selain Bukit Weworowet, Embung Waekokak, menikmati bebek panggang di rumah keponakan, SPBU yang dijual, menginap di Hotel Pepita yang bakal saya bahas nanti, sampai tentang SMA-SMA yang saya kunjungi di Aesesa dan Marpokot. Sayangnya saya tidak sempat pergi ke Pelabuhan Marpokot, padahal sudah 'di depan mata'. Maklum, hari itu gerimisnya cukup kencang cenderung hujan sehingga kami harus ngegas pulang sebelum kamera-kamera yang dibawa Cesar dan Rolland menjadi kebasahan terus demam, flu, pilek. Kasihan kan ... pekerjaan yang menanti masih seabrek.

Hyuk kawan, jalan-jalan ke Pulau Flores. Salah satunya ke Kabupaten Nagekeo. Dijamin, tidak bakal menyesal dan malah ketagihan ingin selalu kembali hahaha.



Cheers.

Di Nagekeo Hati Saya Tertambat



Kemarin, Senin 4 Februari 2019, sekitar pukul 06.10 Wita, Onif Harem saya pacu menuju arah Barat Pulau Flores. Di belakang saya Thika Pharmantara, keponakan cantik itu huhuhu, duduk manis di boncengan dengan tenang sambil berharap Encimnya tidak mendadak diserang kantuk. Perjalanan ini adalah perjalanan dinas, pekerjaan khusus mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) kepada murid kelas 12 atau Kelas 3 di SMA-SMA se-Pulau Flores dan sekitarnya. 

Baca Juga: 1 Video, 3 Aplikasi


Sarapan Jagung Pulut Rebus


Tiba di Aigela sekitar pukul 07.00 Wita, percabangan menuju Kabupaten Ngada dan menuju Ibu Kota Kabupaten Nagekeo (Kota Mbay), kami memutuskan untuk beristirahat sejenak demi menghangatkan perut yang terasa dingin dan kesepian. Sebenarnya Thika membawa bekal nasi dan nugget, tapi entah dia lebih memilih jagung pulut rebus. Saya sendiri lebih membutuhkan secangkir kopi panas. Beruntung satu lapak sudah dibuka sehingga bisa menikmati jagung pulut rebus dan secangkir kopi yang rasanya ... tidak ada lawan. Sambalnya ini yang bikin Thika tidak nyenyak tidur, terbayang-bayang di lidah. Haha.


Rombongan yang menggunakan bis Tim Promosi Uniflor 2019 telah tiba di Kota Mbay. Artinya kami harus bergegas. Jalanan dari cabang Aigela menuju Kota Mbay telah jauuuuh lebih bagus. Ngebut? Pasti. Tapi hati-hati hewan seperti anjing dan kambing yang piknik pagi di jalanan. Kalau mendekati Kota Mbay (sampai menuju Riung) itu lebih banyak kambing dan sapi.



Memasuki Ibu Kota Nagekeo ini sekitar pukul 07.45, dari ketinggian tempat bukit-bukit sabana terlihat menawan, Kota Mbay yang bertopografi datar terlihat jelas. Kami hampir saja ditilang di dekat Kantor Bupati Nagekeo, untung mata saya masih bisa awas, lantas mencari jalur belakang yang memutar. Haha.

Tiba di rumah Pak Selis, salah seorang dosen Uniflor, koordinator lapangan yaitu Ibu Juwita mulai membagi tugas. Siapa yang ke sekolah A, siapa yang ke sekolah B, dan seterusnya. Tetapi karena minimnya kendaraan, tim tidak bisa dipecah begitu saja. Hitung-hitung, hanya ada dua kendaraan yaitu bis Tim Promosi Uniflor 2019 dan Onif Harem milik saya. Akhirnya saya (ditemani Thika) yang adalah penyusup untuk Tim Barat ini mendapat jatah tiga sekolah di luar Kota Mbay yaitu di Kecamatan Aesesa dan Marpokot, sedangkan anggota tim yang lain mendapat jatah tiga sekolah di wilayah Kota Mbay.

Okay. Mari berangkat!

SPBU Yang Dijual


Di Tengah jalan saya bertemu dengan Tim Kreatif, Cesar dan Roland, yang akhirnya mereka berdua mengikuti saya ke Aesesa dan Marpokot.


Usai kunjungan ke tiga sekolah yaitu SMKN 1 Aesesa, SMAS Katolik Stella Maris, dan MAS, kami kembali ke rombongan untuk makan siang. Padahal kami sudah duluan makan sih, soalnya Cesar dan Roland benar-benar sakau kopi. Karena rombongan  masih menunggu makan siangnya, saya pergi ke rumah keponakan di wilayah Towak (arah menuju Riung). Oia, foto SPBU yang dijual di atas, membikin saya memaksa Cesar dan Roland untuk mengekori hahaha, pengen difoto di situ pokoknya! Unik sih hehe, karena kan biasanya yang dijual itu bensin dan solar, bukan SPBU. Sayang ya SPBU ini dijual. Entah kenapa.

Pustu Towak


Towak merupakan wilayah Kabupaten Nagekeo yang letaknya berada di jalan Trans Mbay - Riung. Untuk diketahui, Riung yang terkenal dengan Taman Laut 17 Pulau Riung itu, berada di wilayah Kabupaten Ngada bukan Kabupaten Nagekeo. Rumah keponakan saya Iwan, dan istrinya Reni, merupakan rumah dinas dari Pustu Towak karena Reni adalah bidan yang bertugas di situ. Di sana sudah menanti pula dua cucu saya yang luar biasa bikin kangen Andika dan Rayhan *peluk-peluk*. Begitu melihat saya dan Thika mereka langsung teriak, "Oma Enciiiimmm!!!!" Haha.

Rumah ini berada di tengah ladang milik masyarakat dengan jarak rumah lumayan jauh-jauhan. Mulailah kami mengobrol ngalor-ngidul, saya terkaget-kaget waktu ada tetangganya yang datang mengantar ikan segar hasil memancing di laut, terpikat sama rasa kopinya, dan direcoki sama dua penjahat cilik Andika dan Rayhan. Saat sedang mengobrol (obrolan yang super lama dari pukul 13.00 Wita sampai sekitar pukul 15.00 Wita), Iwan pamit membantu tetangganya yang sedang mengumpulkan kembali padi (yang dijemur) untuk disimpan di gudang. Maklum, cuaca sedang mendung. Dari Iwan pula saya peroleh banyak cerita tentang dirinya yang tidak pernah kesulitan beras karena selalu dibagi sama tetangga yang punya sawah berhektar-hektar. Kata Reni, "Encim, kami tidak pernah susah beras dan sayur. Ikan pun sering dapat murah."


Di atas, foto saat nyaris selesai menyimpan padi (tepat di depan rumah Iwan dan Reni). Untung masih sempat fotoin hehe. Saya pergi ke tempat ini setelah Cesar dan Roland menyusuli kami ke Towak karena mereka bosan di hotel; penginapan tim kami yaitu Hotel Pepita.


Ada yang tahu nama tanaman ini? Saya pernah memotretnya di Ende, di wilayah Nangaba. Kalau di sekitar rumah Iwan dan Reni, tanaman ini tumbuh subuuuurrrrr dan super banyaaaaak. Selain itu, pohon marungge/kelor pun jangan ditanya, di belakang rumah juga tumbuh pohon marungge. Makanya Reni bilang beras dan sayur tidak pernah kesusahan. Jadi iri maksimal! Sayangnya Reni tidak sempat memasak sayur marungge untuk kami.

Bukit Weworowet


Noviea Azizah adalah puteri Mbay yang adalah lulusan Prodi Sastra Inggris Uniflor tahun 2018. Novi tiba di rumah Iwan dan Reni sekitar pukul 16.30. Kami lantas pamit pada Iwan, karena Reni sedang pergi ke Posyandu, untuk pergi ke Bukit Weworowet. Ini memang sudah niat. Jarak tempuh menuju Bukit Weworowet ini hanya sekitar duapuluh menit dari Towak. Bukit Weworowet terletak di Desa Waekakok, masih wilayah Kabupaten Nagekeo.


Dulunya bukit ini saya tulis Bukit Robert ternyata saya salah ha ha ha. Anggap saja kesalahan telah diperbaiki ya.




Saya sering foto-foto di sini, zaman dahulu, waktu masih rajin ke Riung buat mengantar teman-teman traveler. Weworowet semacam ikon antara Mbay - Riung yang sulit diabaikan karena keindahannya. Dulu, dari sudut tertentu bukit ini nampak seperti lelaki yang sedang tidur. Dan kalau beruntung, kalian bisa menikmati bunga-bunga kuning yang tumbuh di kaki bukit.

Silahkan nonton video berikut ini:


Dari sudut lain, Bukit Weworowet akan terlihat seperti gambar di bawah ini:

Ini sih rumah impian!

Ausam sekali, kawan. Tak terbantahkan! Kata Novi, dia dan komunitas kreatifnya memang hendak membangun kafe di spot tempat kami memotret si bukit. Aduuuuh saya bakal jadi orang pertama yang ngopi-ngopi di situ!

Dari Bukit Weworowet kami diajak ke sebuah embung yang saya lupa namanya haha.


Puas melihat-lihat, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Soalnya matahari juga sudah mulai tenggelam. Mari pulang, marilah pulang, marilah pulang, bersama-sama ...

Bebek dan Ikan Panggang


Tiba di Towak saya melihat Iwan sedang mengangkat kayu-kayu ... ternyata di belakang rumah sedang terjadi pembakaran haha. Reni sedang meracik bumbu. Mari membantu supaya lekas selesai. Diiringi dengan listrik padam (sekitar setengah jam), dan Iwan menjemput Deni di Hotel Pepita, jadilah malam itu kami menikmati suguhan yang luar biasa memikat lidah. Orang Flores memang luar biasa kalau sama tamu, apalagi kalau tamunya itu masih berpangkat Encim hahaha.


Wah, lupa foto bebek panggangnya (kelihatan paling sudut tuh). Tak apalah. Oia, kata Iwan, "Encim, untung sekarang belum musim domba, kalau tidak ... Encim harus rasakan daging domba sini ... wuih!" Tenang saja, anak ... ke Towak saya akan kembali! Haha *ketawa raksasa*.

Selesai makan malam kami masih mengobrol tentang yang horor-horor bikin ngeri karena sekitar rumah Iwan kan gelap gulita (ladang), terus balik ke Hotel Pepita, sekitar pukul 23.00 Wita. Tapi di Kota Mbay masih lumayan ramai karena sedang ada pasar malam. Sayang saya tidak mampir ke pasar malam padahal sudah diajak Novi. Lelah cuy!

Hotel Pepita


Nanti ya baru saya menulis tentang hotel ini. Yang jelas hotel ini bagus, pelayanan bagus, sarapan enak ... dan nyaman lah.






Saatnya pulang ke Ende!

Sebenarnya, sebagai anggota susupan di Tim Barat, saya diperbantukan dari Kabupaten Nagekeo hingga Kabupaten Ngada tepatnya di Mataloko. Tapi karena mengingat SMA-SMA di Kota Ende sendiri sangat banyak (apalagi Kabupaten Ende -  kecamatan di luar kota), saya harus segera pulang ke Ende supaya Rabu bisa melaksanakan tugas utama. Kan tidak lucu, tugas bantuan terselesaikan dengan baik, tugas utama malah keteteran. Dududud.

Selasa, 5 Februari 2019, Hari Raya Imlek, saya dan Thika kembali ke Ende sedangkan bis Tim Promosi Uniflor 2019 berangkat ke Mataloko untuk meneruskan tugas hingga ke Labuan Bajo. Sepulang mereka dari Labuan Bajo nanti, kami akan sama-sama pergi ke Kota Maumere dan Kota Larantuka bersama Tim Timur (jika berkenan) sedang tim yang 'menjelajah' Pulau Lembata dan Pulau Adonara telah melaksanakan tugas pada hari yang sama.


Seperti yang sudah saya tulis di pos sebelumnya, karena kondisi sedang dalam masa tugas, saya tidak mengepos seperti biasanya (tema harian). Supaya ide dan cerita tidak menguap dari benak. Dan tentu saja akan lebih banyak foto hahaha. Namanya juga Jalan-Jalan Kerja *ngikik*. 

Baca Juga: Inovasi Joseph Joseph

Semua yang saya tulis hari ini masih general saja, belum bisa mengulas satu-satu, belum mengulas lebih detail, tentu juga tentang Presiden Kuning yang 'menemukan' kerajaannya. Nanti deh kalau sudah punya lebih banyak waktu. Yang jelas, hati saya tertambat di Nagekeo, sejak dulu dan belum berubah sampai hari ini. Kabupaten ini menawarkan sejuta pesona ... dan saya terpesona sungguh.

Terima kasih masih menyempatkan diri main-main ke blog ini :D



Cheers.