Buku Lagu


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Sejak masih SD saya sudah suka mengoleksi buku lagu yang dibeli di tempat orang menjual Teka-Teki Silang. Ukurannya sedikit lebih kecil dari buku TTS dan rada tipis karena paling memuat sepuluh lirik lagu. Buku-buku itu sebagai pendukung apabila menonton acara Album Minggu Kita di TVRI. Jujur, Album Minggu Ini merupakan salah satu acara favorit zaman doeloe! Saya mengenal Slank itu bukan dari RCTI atau ANTV melainkan dari TVRI. Ketahuan kan usia saya berapa ... 27. Haha. Amboiii saya jadi ingat lagu favorit saya zaman duluuuuu judulnya Kau Tercipta Dari Tulang Rusukku, dinyanyikan sama Muchlas Adi Putra dan Maya Angela. 


Untunglah ada yang mengunggah video musiknya di Youtube ... LOL!

Baca Juga: Belajar Ngelawak

Kebiasaan mengoleksi buku yang dibeli di tempat orang jualan TTS sempat tamat setelah mulai kenal MTV dimana tidak ada buku lagu dengan lirik lagu-lagu yang disuguhi MTV. Tetapi sebagai gantinya saya menulis sendiri  lirik-lirik lagu tersebut. Bayangkan, di zaman itu belum ada internet, bagaimana caranya bisa tahu lirik lagunya Alanis Morissette? Saya punya kertas buraman, minta di Bapa, terus mencatat satu per satu bait. Kalau belum selesai hari ini, besok lihat video musik yang sama, baru dilanjutkan ke bait berikutnya. Sampai selesai dan dipindah ke buku lagu bikinan sendiri. Jelaaasssss banyak vocab yang salah. Yang penting bisa nyanyikan lagu favorit lah, sudah cukup. Urusan lirik benar atau salah biar saya dan pencipta lagu yang tahu ha ha ha.

Setelah saya mengenal dunia ini *tsah* saya mulai suka membikin lagu sendiri. Modalnya cuma kunci yang itu-itu saja di gitar andalan. Kunci G, C, D, F, Am, E, Em, Fm, Dm, tanpa kunci B. Lagu pertama yang saya bikin itu untuk Cendaga Band, dimana saya menjadi vokalisnya, berjudul Jangan Paksa Aku. Terima kasih untuk diri saya yang sempat mengunggah video hancur-hancuran tentang profil Cendaga Band di Youtube!!!!! Silahkan dengarkan lagunya di video berikut ini:


Kalau mau ngetawain juga boleh. Tidak akan saya tersinggung. Karena waktu itu proses rekamannya live di studio Cendaga Band, tanpa polesan ini itu, dan suara saya mentahnya ampun-ampunan. Ya, ini lagu pertama yang saya bikin, kemudian teman-teman Cendaga Band membantu membikin musiknya, sehingga bisa kalian dengarkan. Semoga gendang telinga kalian tidak bocor ya gara-gara mendengar suara saya ... LOL! Bersama Cendaga Band saya punya buku lagu yang jadi song bank-nya band ini. Selain memuat lirik lagu dan kuncinya, saya juga mencatat kunci-kunci gitar yang diajarkan oleh Alimin.


Lepas dari Cendaga Band yang pernah beberapa kali konser itu, karena kesibukan masing-masing personilnya, saya dan Noel pun akhirnya membentuk Notes. Notes itu Noel and Tuteh Saja, tapi kemudian menjadi Noel and Tuteh SideProject. Mungkin karena waktu itu saya tidak bisa berhenti membikin lagu, dan Noel juga tidak bisa berhenti bermusik begitu saja, sehingga kami memutuskan untuk tetap sering ngumpul di rumah saya atau di rumah dia untuk bermusik. Kadang kami hanya gitaran dan nyanyi-nyanyi saja, kadang kami menggarap serius lagu yang sudah saya bikin atau dia bikin. Pokoknya waktu itu kamar saya penuh sama gitar listrik *ngakak*.

Oleh karena itu saya tidak bisa berhenti dengan yang namanya buku lagu. Titik. 

Bagaimana dengan sekarang? 

Buku lagu sih masih ada tapi tidak perlu di-update lirik-lirik lagunya karena sudah ada internet. Begitu butuh tinggal buka Google Chrome. Betul-betul yaaa zaman berubah sangat jauh. Paperless banget sih tidak, tapi kemudahannya itu yang jelas terasa. 

Baru-baru ini saya dihubungi Noel dan kami berencana untuk membikin ulang lagu-lagu Notes di album pertama. Artinya saya perlu siapkan lagi suara *tes tes*. Dan, kami juga berencana membikin ulang semua video musiknya. Bayangkan saja zaman itu bikin video musik pakai fasilitas video dari kamera pocket, dengan aplikasi sunting video yang uh wow bikin gelagapan. Makanya karena sekarang semua sudah serba mudah, kami mau mencoba lagi. Doakan yaaaaa semoga proyek ini bisa terlaksana setidaknya setelah Idul Fitri.

Baca Juga: Hijrah

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernah tergila-gila sama lagu-lagu dan mengoleksi buku lagu? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.

Music From Youtube


Sudah lama punya akun Youtube tapi baru beberapa bulan terakhir mulai sering saya jengukin, membereskan ini itu, membersihkan sarang laba-laba dan debu. Kenapa baru sekarang mulai rajin melakukannya? Karena saya pikir, meskipun tidak serius di dunia Youtube dan lebih suka nge-blog, boleh juga seiring waktu berjalan subscriber bertambah dan boleh akun Youtube saya itu di-monetize. Mimpi yang ketinggian. Tapi biarlah. Setiap orang berhak mencoba karena dengan mencoba kita jadi tahu celahnya atau kemungkinan ke depannya macam apa. Selama ini rajin menonton video milik orang lain, mungkin sekarang saatnya orang lain juga boleh menonton video yang saya unggah *pemaksaaan secara halus mulus, hahaha*.

Baca Juga: Pemateri Blog

Akun Youtube memang milik kita pribadi, tapi aturan yang paling ketat diberlakukan adalah kalau bisa video dan pendukungnya (musik latar) bukanlah milik orang lain, kecuali sudah mendapat doa restu ijin. Dua kali video yang saya unggah ke Youtube menerima e-mail dari Youtube pula. Intinya, musik/lagu yang dipakai di dalam video itu punya hak cipta dan kuatir bakal dikomplain sama si pemilik lagu sehingga saya harus siap-siap menghapus video itu kalau komplain beneran terjadi. Was-was? Iya sih was-was. Namanya juga musik milik orang. Katanya sih itu bisa berpengaruh pula seandainya akun Youtube di-monetize. Apabila kalian punya pengalaman tentang ini, boleh donk bagi tahu saya, supaya lekaslah saya menghapus dua video itu. Terima kasih sebelumnya.

Lantas, apa yang harus saya lakukan?

Saya memang sering membikin lagu baik sendiri maupun bareng sahabat saya Noel. Tapi saya bukan pemusik yang bisa bikin musik meskipun dulu pernah coba-coba bikin musik pakai aplikasi FL Studio. Sedangkan sebuah video akan lebih enak ditonton jika ada musik setidaknya musik pembuka. Ternyata, saya baru tahu, benar-benar baru tahu, kalau Youtube menyediakan begitu banyak musik yang bisa kita unduh gratis! Iya, gratis tanpa  perlu kuatir dikomplain sama pihak lain. Ini adalah surga bagi saya yang membutuhkan musik pendukung video!

Lantas, bagaimanakah caranya?

Mungkin sebagian besar dari kalian sudah tahu. Tapi tidak ada salahnya saya menulis ini karena siapa tahu ada yang benar-benar tidak tahu dan membutuhkannya. Dan ini adalah cara yang saya tempuh saat pertama kali mendengar kabar Youtube menyediakan musik untuk para Youtuber. Selanjutnya saya tidak pakai lagi cara ini ha ha ha.

Pertama:
Log in ke akun Youtube kalian.

Kedua:
Masuk ke channel kalian. Arahkah kursor ke sudut kanan atas di ikon profile, lalu klik Your channel, seperti gambar berikut:


Ketiga:
Setelah channel membuka, pada bagian kiri silahkan pilih Help atau bantuan seperti lingkaran pada gambar di bawah ini:


Ketik kata kunci misalnya get music from audio library:


Keempat:
Pilih musiknya, dengarkan, kalau cocok silahkan unduh. Yang saya lingkari merah itu bagian unduhnya.


Itu dia cara saya pertama kali berkenalan dengan Audio Library milik Youtube. Rasanya sangat terberkati karena tidak perlu pusing mencari musik pendukung video yang bakal saya unggah ke Youtube. Sekali lagi, itu cara pertama. Jadi, ada cara lain? Ada donk! Cara ini lebih mudah hahaha. Dasarnya saya saja yang koplaaaaak to the max.

Kalian cukup mengetik tautan berikut ini:


Otomatis kalian akan dibawa pada halaman perpustakaan tempat daftar musik gratisan disediakan oleh Youtube. 

Meskipun musik yang disediakan di sana gratisan tapi kalian harus jeli karena ada satu dua musik yang kalau mau dipakai harus disertai pula dengan sumbernya. Selama mengenal fasilitas yang satu ini saya masih menggunakan musik gratisan 100%, tanpa harus mengikutkan sumber musik ke video. Dan itu sudah sangat membantu proses kreatif menyunting video bekal diunggah ke Youtube. Aaaah, benar kata orang, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Lebih baik saya terlambat tahu tentang Audio Library Youtube ketimbang tidak tahu sama sekali. Bukan begitu? Begitu bukan?

Baca Juga: Menyiapkan Materi

Bagaimana dengan kalian, kawan? Apakah pernah menggunakan fasilitas dari Youtube yang satu ini? Seperti apa pengalaman kalian? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.

Nostalgia Alanis


Tahun 90-an sampai awal tahun 2000 betul-betul merupakan tahun keemasan dunia musik baik nasional maupun internasional. Ini murni pendapat saya pribadi. Pada rentang tahun itu, selain bersahabat dengan Hilda dan Yusti, saya juga bersahabat dengan Music Television (MTV) dan Channel V. Betapa Bapa sampai pusing kepala karena saya menyambung televisi dengan speaker gede milik Jemiri Soundsystem. Selain punya band bernama Jemiri, kami juga punya unit-unit soundsystem yang disewakan. Bisa kalian bayangkan, itu yang sedang tidur sore, bisa kejengkang dari ranjang gara-gara suara yang menggelegar ha ha ha.

Pssstttt ... gara-gara iklan Durex yang waktu itu luar biasa rajin wara-wiri di MTV, Bapa mulai kesal dan akhirnya melarang saya menyambungkan soundsystem ke televisi gara-gara ada kata kondom. Sebagai gantinya Bapa membelikan saya speaker mini. Huhu. DUREX, THE INTERNATIONAL NAME FOR QUALITY CONDOM. Tanpa mencontek pun jargon ini masih melekat erat di otak saya *nyengir*.

Baca Juga: Double Ending

Tahun-tahun itu, internet belum menjajah Kota Ende, pun masih menjadi sesuatu yang langka. Jadi, kalau pengen menonton video musik favorit, ya akses Youtube cuma mengandalkan MTV dan Channel V meskipun lebih seringnya menonton MTV. Makanya, anak MTV tahun 90-an pasti tahu Mike Kaseem, Nadia Hutagalung, sampai Jammie Aditya, Alex Abbad, Donita, Sarah Sechan, dan lain sebagainya. Oh ya, salah satu acaranya adalah MTV Most Wanted, dan saya pernah me-request lagu atau video musik melalui mesin fax kantor! Dududud.

Karena tidak ada internet, untuk bisa menonton video musik favorit pun harus bisa memilah acaranya. Karena kan tidak bisa memilih seenak udel dan video musik favorit tidak tayang setiap jam. Kalau MTV Most Wanted, sudah pasti video favorit di-request juga sama orang lain dalam skala rata-rata. Biasanya, untuk lagu-lagu yang kurang saya suka, volume speaker dikurangi, tapi begitu intro video musik favorit terdengar, volume speaker langsung tancap gas! Ngeeeeng ngeng! Pernah dalam sehari saya pantengin MTV terus demi menonton lagi dan lagi video klipnya Celine Dion dari lagu berjudul That's The Way It Is. Aduhai apa kabar As Long As You Love Me dari Backstreet Boys, Radiohead dengan Creep-nya, Wild World-nya Mr. Big, Madonna dengan Frozen, sampai Ironic milik Alanis Morissette.

Nah, nama terakhir ini yang bakal saya bahas kali ini di #SabtuReview.

Alanis Morissette


Nama besar Alanis Morissette begitu terpatri di hati. Perempuan dengan kecantika alami, sangat enerjik, punya suara yang unik dan powerfull, penampilannya sporty-casual, rambut panjang bukan berarti tidak boleh tomboy, gelang-gelang yang dipakainya, sampai kecerdasan dan kepiawaiannya menulis lirik lagu. Selain Alanis, nama lain yang juga dikenal menulis sendiri lagu-lagunya adalah Jewel. Aaah waktu itu belum ada si Taylor Swift ya hahah.


Balik ke Alanis, karena saya tidak sempat mewawancarainya secara personal *dijumroh warga* jadi lagi-lagi Wikipedia menjadi sumber rujukan. 

Nama lengkapnya adalah Alanis Nadine Morissette, lahir 1 Juni 1974, kembaran sama Indra Pharmantara tanggal lahirnya haha. Dia dikenal sebagai penyanyi, penulis lagu, produser rekaman, dan aktris asal Kanada. Alanis dikenal karena suaranya yang lembut seperti mezzo-sporano. Alanis memulai karirnya di Kanada pada awal 1900-an dengan dua album dance-pop yang agak sukses. Setelah itu, sebagian dari kesepakatan rekaman, ia pindah ke Holmby Hills, Los Angeles dan pada tahun 1995 merilis Jagged Little Pill, album yang lebih berorientasi pada genre rock.

Jagged Little Pill ini termasuk album yang masih melekat di otak saya hahah. Album ini terjual lebih dari 33 juta kopi secara global dan merupakan karyanya yang paling diakui secara kritis. Pada tahun 1998, Alanis merilis album berikutnya yaitu Supposed Former Infatuation Junkie.

Di atas tahun 2000-an Alanis mengambil alih proses kreatif dan memproduksi album studio berikutnya diantaranya Under Rug Swept (2001), So-Called Chaos (2004), dan Flavours of Entanglement (2006). Album studio kedelapannya dan yang terbaru hingga saat ini, Havoc and Bright Lights, dirilis pada 2011. Alanis telah menjual lebih dari 75 juta rekaman di seluruh dunia dan dijuluki Queen of Alt-Rock Angst oleh Rolling Stone.

Pada 16 Maret 2018, Alanis menampilkan lagu yang disebut Ablaze selama tur-nya. Pada bulan Oktober 2018, Alanis mengungkapkan di media sosial bahwa ia telah menulis 23 lagu baru dan mengisyaratkan sebuah album baru yang bakal dirilis 2019 dengan taggar #alanismorissettenewrecord2019. 

Jagged Little Pill


Dari semua album Alannis, menurut pendapat saya, Jagged Little Pill lah master piece. Album ini mengandung lagu-lagu yang luar biasa kuat. Karena, Jagged Little Pill tidak menjual satu single andalan saja, melainkan keseluruhan yang dikandungnya! Hebatnya lagi, hampir semua lagu-lagu itu punya video musik yang rajin wara-wiri di MTV dan Channel V.

Song List Jagged Little Pill

All I Really Want
You Oughta Know
Perfect
Hand in My Pocket
Right Through You
Forgiven
You Learn
Head Over Feet
Mary Jane
Ironic
Not The Doctor
Wake Up

Pertama kenal Alanis Morissette, di MTV, melalui video musik Ironic. Kalau kalian belum nonton, coba deh ditonton. Atau ... tonton ulang saja di Youtube! Lirik Ironic mengisahkan tentang hal-hal ironi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dari penggalan liriknya: an old man turned ninety-eight, he won the lottery and died the next day. Kita semua pasti pernah mengalami hal-hal beraroma ironi seperti itu. Misalnya: di media sosial Facebook kita adalah orang yang sangat ramah dan suka memerhatikan status orang lain, tapi di kehidupan nyata kita ternyata orang yang sulit bergaul dan selalu menaruh curiga.

Video musik Ironic dikemas sangat apik. Sebuah mobil yang dikendarai oleh empat orang berbeda penampilan tapi semuanya diperankan oleh Alanis by her self. Silahkan lihat video musik di bawah ini untuk lebih jelasnya:


Selanjutnya saya jatuh cinta sama Alanis dan mulai rajin menunggu video musiknya tayang di MTV dan Channel V. Ah, Hand in My Pocket, Head Over Feet, All I Really Want ... dududu ... yuk langsung ke Youtube dan bernostalgia dengan Alanis Morissette!

Lagu-lagu Alanis Morissette merupakan lagu sepanjang masa yang tak lekang oleh waktu. Kalian tentu tidak asing pula dengan Thankyou dan Uninvited kan? Sama, saya juga. Dan masih suka mendengarnya. Tapi kalau ditanya, lagu Alanis yang paling sering saya nyanyikan, bahkan berusaha mengiringi diri sendiri dengan gitar, sudah pasti Hand in My Pocket. Kalau ada yang tidak suka sama lirik lagu ini, sungguh terrrrrr laaaa luuuuu. Penggalannya ini saja sudah bikin kita sadar untuk lebih menikmati hidup.

I'm broke but I'm happy, I'm poor but I'm kind
I'm short but I'm healthy, yeah
I'm high but I'm grounded, I'm sane but I'm overwhelmed
I'm lost but I'm hopeful, baby
What it all comes down to
Is that everything's gonna be fine, fine, fine
'Cause I've got one hand in my pocket
And the other one is giving a high five

Bagaimana, kawan? Dalam sekali kan makna lirik lagunya?

Baca Juga: Flores: Adventure Trails

Semoga kalian juga suka Alanis Morissette. So, let's high five! Because, even though we are poor. it doesn't matters, as long as we are happy.



Cheers.

Manis Akustik


Boleh ngakak dulu?

Ha ha ha ...

Suatu malam di Stadion Marilonga, di sela-sela pertandingan sepak bola dari Triwarna Soccer Festival, kami berkumpul di ruangan media center. Di pojok ruangan yang juga dijadikan tempat penyimpanan segala barang yang berhubungan dengan event ini, berdiri gitar listrik bass, gitar listrik melodi, gitar akustik, dan sebuah gendang berdiri. Saya sendiri sering memainkan gitar akustik tersebut, melatih jari-jemari yang selalu kesulitan dengan kunci seperti F, B, dan Bm. Jangan tanya lah. Saya cuma bisa G, C, D, Dm, A, Am, E, Em *diketawain dinosaurus*.

Baca Juga: TSF 'Story

Kembali pada suatu malam di ruangan media center ...

Kebetulan malam itu si Tino Tiba, anggota Seksi Acara tetapi terkenal sebagai musisi keren Ende, duduk bersama saya. Kami menemani Rikyn Radja yang sedang makan malam. Kami sendiri sudah duluan makan. Kebetulan ada musisi ini, si Tino, saya memperdengarkan lagu 100 Times Better dari The Willis Clan. Harapannya dia bakal nemu chord termudah dari lagu itu. Eh ketemu! Jadilah saya menyanyikan lagu favorit itu sambil membayangkan bisa melakukan gerakan dance-nya, hihihi. Waktu saya nyanyikan lagu itu, Rikyn sudah selesai makan, lantas mendengungkan semacam back-vocal begitu. Seru lah.

Setelah 100 Times Better, kita nyanyiin Love Yourself dari Justin Bieber. Waaaah asyiknya. Sampai-sampai salah seorang anak pedagang asongan yang kebetulan meloi (mengintip) bertahan di meja tempat kami berkumpul. Dia sangat menikmati. Busyet, dek! Bayar sini! Haha. Kalau kalian membaca pos #PDL Default Perusuh Pengamen ini, kalian pasti tahu saya sangat suka bernyanyi meskipun suara pas-pasan nyaris sesak.

Rikyn kemudian me-request lagu Yesterday dari The Beatles. Ayok, siapa takut? Ndilalah, setelah satu kali menyanyikan Yesterday, ide-ide gila mulai bermunculan. Kami harus merekamnya. What? Saya cuma ngakak melihat Rikyn memindahkan gendang berdiri ke dekat kami. Saya semakin ngakak waktu Tino mengajak si anak pedagang asongan, sebut saja namanya Boy, memukul botol bekas UC1000 dengan batu. Koplak benar. Lebih koplak karena yang murni musisi hanyalah Tino sedangkan kami? No no no. Kehancuran terjadi saat Rikyn dengan bebasnya menepuk gendang sehingga Yesterday dari The Beatles itu terdengar seperti lagu melayu!

Ha ha ha ...

Ternyata, hasilnya asyik juga. Asyik untuk lucu-lucuan. Dan semakin lucu ketika Rikyn berkata: KEMBALI LAGI BERSAMA KAMI CABUL-CABULAN AKUSTIK.


Rikyyyyyn! Please, deh. Cabul semua donk kita. Walhasil, dengan spontanitas yang luar biasa, muncul nama MANIS AKUSTIK dari bibirnya. Terberkatilah saya bersahabat baik dengan orang-orang ini. Mereka luar biasa ... luar biasa bikin pengen jitak haha.

Ini dia hasilnya. BURAM. Ya, saudara-saudara, penerangan di ruangan itu sedang sangat manja. Sebenarnya ini lagu pertama, tapi yang pertama tidak direkam kan, hehehe.



Hasil yang buram itu memang saya sengaja tidak mempermanisnya (baca: gagal mempermanisnya) menggunakan tools pengeditan video di laptop. Saya hanya menyuntingnya menggunakan telepon genggam dengan aplikasi KineMaster gratisan. Saya pikir, mau apa lagi yang diubah? Toh kami hanya ingin bersenang-senang, hehe, tidak ada niat untuk membikin video terbaik dan terbagus sama sekali. Kalau mau bikin video terbaik dan terbagus mah, tidak bisa dadakan begini, kudu diniatin sungguh-sungguh.

Tak cukup satu lagu, kami kembali beraksi di lagu berikutnya. Gang Kelinci. Dan hasilnya pun masih, tentu saja, buram to the max


Tapi kami gembira melihat hasilnya seperti itu. Karena yang penting adalah melewatkan waktu bersama sahabat dengan melakukan hal-hal gila adalah intinya.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

Tidak ada obsesi apa pun dari Manis Akustik, sumpah menulis nama itu saya ngakak membahana, murni kami hanya ingin bersenang-senang di tengah kegiatan menjadi panitia TSF. Lagi pula, meskipun profesi kami berbeda-beda, kami punya kaki yang sama-sama tertanam di lini musik. Tino Tiba adalah musisi. Rikyn Radja adalah koreografer sekaligus anggota Spiritus Sanctus Choir. Saya? Aaaah saya cuma perusuh pengamen yang doyan nyanyi meskipun modal suara pas-pasan nyaris sesak. Yang penting senang-senangnya itu kan ya. Hehe.

Jangan lupa nonton video-video saya di Youtube ya, ingat subscribe, ingat like *halaaah*. Hahaha. Mohon maaf, tidak ada video yang bagus yang bisa saya tawarkan di akun Youtube saya *menunduk dalam*.



Cheers.

Lagu-Lagu Ini Punya Kembaran


Waktu masih siaran di Radio Gomezone FM saya pernah membawakan program tentang lagu-lagu Indonesia yang dicurigai memplagiat lagu-lagu mancanegara. Ingat, ada kata dicurigai. Jadi bukan berarti saya langsung menuding lagu-lagu tersebut memplagiat karena toh saya sendiri tidak punya ilmu yang mumpuni untuk menuduh musisi A memplagiat karya/lagu musisi B, C, dan D. Tapi sebagai penikmat musik masa kini yang trendi dan bergaya bersama dinosaurus, saya tahu kemiripan antara lagu dari musisi A dengan musisi B, C, dan D. Hanya saja, pekerjaan yang berhubungan dengan mendengarkan lagu setiap hari selama berjam-jam itu membikin saya senyum-senyum sendiri ketika kuping mulai menangkap kemiripan antara lagu yang satu dengan lagu lainnya.

Baca Juga : Bermain Diksi dalam Kondensat

Menariknya, dari situs Okezone, pengamat musik Deny Syakrie berkata bahwa aturan delapan bar itu lama dan masih kontroversial sampai sekarang. Menurut Deny, kalau ada musisi yang menggunakan dua bar saja dari lagu orang lain tapi dimainkan secara berulang-ulang dan mirip ya itu sudah bisa dibilang menjiplak. Atau memplagiat. Tapi berdasarkan informasi dari situs ini, James F. Sundah mengatakan bahwa sebuah lagu dikatakan memplagiat tidak berpatok dari delapan bar saja, karena banyak lagu yang akhirnya memplagiat sebanyak tujuh bar untuk menghindari delapan bar tadi. Salah satu hal yang penting dan disebut substantial part adalah bagian terpenting dalam musik yang pernah dikenal orang. Jadi, hati-hati ya. Setiap lagu punya ciri, jangan sampai kalian membikin lagu yang intronya mirip Tokyo Drift mili Teriyaki Boyz. Meskipun hanya tujuh bar, kalian sudah bisa dikatakan memplagiat. Karena intro Tokyo Drift itu sesuatu yang sulit dilupakan orang.

Lantas, apa itu bar?

Dari situs ini dan juga bisa kalian cari di situs lainnya, bar adalah frase musik dalam lagu yang terdiri dari beberapa beat. Satu bar pada lagu komersial umumnya memiliki empat beat sehingga terdiri dari empat ketukan. Bagian-bagian lagu seperti verse dan chorus, biasanya diukur menggunakan bar yang umumnya selama delapan sampai enam belas bar. Untuk lebih jelas lagi, silahkan tanyakan pada teman kalian yang musisi atau sering bermusik.

Baca Juga : Ribut Berarti Mati dalam A Quiet Place

So ...

Jauh sebelum orang-orang sadar, eh gaya banget saya menulis ini hahaha, saya sudah tahu lagu Pacarku oleh Puput Melati itu memplagiat Hotel California milik Eagle. Wah, langsung menuduh? Iya, kalian bisa dengarkan sendiri. Itu bukan lagi delapan bar tapi keseluruhan lagu termasuk bagian terpenting yang pernah dikenal orang. Dududud. Tapi hanya lagu itu yang saya tulis memplagiat, lagu lainnya berikut ini saya tulis kembaran, karena saya tidak punya kapasitas untuk menulis mereka memplagiat.

Yang mengejutkan saya ketika mulai meriset lagu-lagu Indonesia yang punya kemiripan signifikan dari lagu-lagu mancanegara dan/atau lagu lain, juga diskusi bersama teman-teman radio, adalah D'Massive. Sebagian besar lagu-lagu mereka mempunyai kemiripan yang sulit dielakkan dari lagu-lagu yang sudah duluan ada. Diantaranya adalah Cinta Ini Membunuhku dengan I Don't Love You milik My Chemical Romance, Diam Tanpa Kata dengan Awakening milik Switchfoot, Dilema dengan Soldier's Poem milik Muse, sampai Tak Pernah Rela dengan Is It Any Wonder milik Keane. 

Tidak hanya D'Massive, Hello Band juga punya beberapa lagu yang kembaran sama lagu lainnya. Pejuang Cinta misalnya, begitu kembarnya sama Makes Me Wonder milik Maroon 5. Kalian pernah dengar lagu Never Be The Same Again yang dinyanyikan Mel C (from Spice Girls)? Kalau belum, coba didengarkan kemudian lanjutkan dengan lagu berjudul Bunga milik Bondan feat Fade2Black. Atau dengarkanlah lagu milik Grabielle yang berjudul Rise, lalu dengarkan lagu Kau Cantik Hari ini milik Lobow. Anyhoo saya suka banget sama Rise yang dinyanyikan Gabrielle ini, pesannya dalam.

Vierratale yang dulunya bernama Vierra saja, punya satu lagu yang kembaran banget sama lagu Rooftops milik Lostprophets. Lagu itu berjudul Dengarkan Curhatku. Yuhuuu itu single mereka yang dulu suka banget saya dengarkan meskipun kata teman-teman tidak cocok sama usia. Epen lah hahaha.

Tapi di luar dari itu semua, menurut saya, kemiripan itu (apalagi memplagiat) kadang tidak bisa dihindari karena yang namanya solmisasi ya hanya itu: do re mi fa sol la si (do). Kunci pun yang itu saja seperti D, G, C, F, dan seterusnya yang membentuk akord. Kalau nada dasarnya diubah, kata orang Ende: main dari mana? Dari D atau dari C?, maka akordnya pun berubah. Ya begitu-begitu saja. Kemiripan sulit dielakkan.

Baca Juga : TIKIL, Kami Antar Kami Nyasar

Sebagai orang yang juga suka membikin lagu, karena urusan penciptaan adalah milik Allah SWT, kesulitan agar lagunya tidak diolok memplagiat juga terjadi. Sekitar dua puluh lagu sudah dibikin baik sendiri, bersama Cendaga Band, maupun bersama Notes (Noel Fernandez & Tuteh Pharmantara Side Project). Paling enak bikin lagu bareng Noel, dia punya banyak referensi, mulai dari Jimi Hendrix, Nirvana, The Beatles, dan lain sebagainya. Soalnya dia juga gemar banget dengerin musik berjam-jam. 

Para musisi juga lebih kreatif. Semakin ke sini kalian pasti pernah dan/atau sering dengerin lagu-lagu yang dicover atau dibikin ulang musiknya. Salah satunya adalah lagu bergaya vintage. Apa sih itu? Nanti doooonk kita bahas di lain kesempatan. Hehehe.

Bagaimana, kawan? Pernah dengar lagu yang mirip atau terdengar tidak asing di telinga? Bagi tahu donk di komen :)

Happy weekend.


Cheers.

5 Cozy Songs


Setiap orang pasti punya lagu favorit, lagu kegemaran, lagu kebangsaan, lagu kebesaran, dengan frekuensi dengar tinggi. Sama juga dengan saya kan saya masih orang/manusia juga. Jenis lagu apa yang saya sukai? Semua. Dangdut juga? Tentu saja! Apalagi Mendadak Dangdut-nya Titi Kamal. Heiiii saya masih mendengarkan lagu itu sampai sekarang. Qiqiqiqi. Bagi saya musik/lagu harus diapresiasi sama. Karena, bukan hal mudah untuk bisa menciptakan lagu, bahkan satu lagu pun. Dan saya baru bisa menciptakan belasan lagu baik bersama Cendaga Band, bersama Notes (Noel & Tuteh SideProject), maupun sendirian (dengan kunci C, D, F, G, dan lainnya yang saya hafal minus B dan Bm haha). Mood bikin lagu sedang mengembara, jadi belum produktif ke urusan lagu.


Kembali pada lagu favorit. Saya boleh mengatakan lima lagu yang bakal diulas ini merupakan lagu favorit. Lima lagu ini sangat-sangat nyaman didengar terutama saat malam sebelum eru (tidur dalam bahasa Ende). Setiap kali mendengar lagu-lagu ini rasanya seperti sedang berada di kafe, membaca Peyempuan 2, sambil menikmati sepiring mix sampler, secangkir mochacinno. O-le! Sayangnya jarang sekali saya membaca saat sedang di kafe, adanya malah mengobrol juga tertawa bareng keluarga atau teman, foto-foto, dan kadang-kadang diskusi serius. Haha.

Saya jamin, kalian juga bakal setuju sama lima lagu yang saya rekomendasikan sebagai cozy songs. Wajib dengarkan berulang-ulang sih tidak, tapi mencoba mendengarkannya itu wajib! Siapa tahu bakal masuk dalam list music player kalian.

Mari kita simak ...

1. Homesick by Kings of Convenience

Kings of Convenience adalah duo folk-pop indie dari Bergen, Norwegia. Duo ini beranggotakan Erlen Øye dan Eirik Glambek Bøe. Musik mereka; melodi gitar yang rumit dan halus, serta suara mereka sangat lembut dan menenangkan. Ini yang membuat saya jatuh cinta pada Kings of Convenience saat pertama kali diperkenalkan oleh Ilham. Tidak banyak musisi dunia yang mirip-mirip Kings of Convenience. Kita harus menggali lebih dalam pada masing-masing negara karena mungkin mereka tidak sepopuler Sia, Beyonce, atau Cardi B. Tapi percayalah, mereka termasuk musisi yang sulit hengkang dari hati penggemarnya.


Homesick merupakan salah satu lagu mereka yang sangat saya cintai. Dibuka dengan melodi yang lembut serta menyusul suara mereka yang tak kalah lembutnya! Awwww. Kalau kalian termasuk anak rantau, bisa paber keras kalau dengar lagu ini.


2. Out of My Head by Fastball

Kalau Out of My Head punya mulut, mungkin dia sudah bilang ke saya, "Kau tidak bosan kah, Teh?" haha. Tentu tidak. Siapa yang bisa bosan mendengarkan lagu milik Fastball ini? Fastball sendiri merupakan band rock asal Austin, Texas, Amerika yang dibentuk pada tahun 1995. Beranggotakan Tony Scalzo, Miles Zuniga, dan Joey Shuffield, awalnya nama mereka Magneto U.S.A. tapi berganti setelah tanda tangan kontrak dengan Hollywood Records.


Meskipun single pertama mereka adalah The Way, tapi saya menyukai Out of My Head yang merupakan single ketiga. Dulu banget kalau siaran Segelas Air Putih saya pasti memperdengarkan lagu ini juga, haha.

3. What Am I To You? by Norah Jones

Oh yess! Siapa sih yang tidak jatuh cinta pada perempuan cantik yang satu ini? Rata-rata semua lagunya selalu bikin terbuaiiii. Norah Jones adalah seorang penyanyi, penulis lagu, dan pianis Amerika. Dari semua prestasinya, tidak heran jika Billboard menobatkan si cantik ini sebagai penyanyi jazz top pada dekade 2000 - 2009. Lama juga ya. Kalau saya dinobatkan sebagai penyanyi gagal sepanjang masa.



Salah satu lagunya yang menjadi pilihan saya adalah What Am I To You? Meskipun, saya juga suka mendengarkan Come Away With Me dan Sunrise. Top lah pokoknya kalau dengar suara si Norah Jones. Sampai-sampai saya pernah ngetwit begini: Dear Norah Jones, may I hack your voice?



4. Who You Love by John Mayer & Katy Perry
  
Sudah pernah dengarkan lagu ini? Sudah pastinya ya. Kalau belum, siapa sih yang tidak suka? Katy Perry (John Mayer akan dibahas pada poin 5) merupakan penyanyi yang luar biasa apalagi pada lagu Firework; sangat memotivasi dan menginspirasi. Katy dikenal sebagai penyanyi Amerika dan penulis lagu. Lagu-lagunya banyak yang ngehits sejagad.


Bersama John Mayer, Katy menyanyikan lagu berjudul Who You Love. Dan saya mencintai lagu ini setiap melodinya. Kalian harus dengarkan juga :)

5. Waiting On The World To Change by John Mayer

Awwwww. John Mayer! Ye ye ye. Selain sebagai produser rekaman dan penulis lagu, John Mayer lebih dikenal sebagai penyanyi Amerika yang mendulang kesuksesan di setiap lagu-lagunya. Pada tahun 2005, dia pindah dari musik akustik yang dikenal sebagai jenis musik pada awal karirnya, dan mulai bermusik dalam ranah blues dan rock yang dulu mempengaruhinya (sebagai musisi).


Waiting On The World To Change merupakan lagu yang paling saya sukai sekaligus paling sulit saya mainkan kunci gitarnya, haha.  Percayalah, kalian akan sangat menyukai lagu yang satu ini. Liriknya itu penuh perdamaian perdamaiaaan *malah kasidahan*.


Saat menulis ini saya sedang mendengarkan lagu-lagu terebut di atas. Meskipun nulisnya di kamar, tapi rasanya sedang berada di kafe, ditemani secangkir kopi susu racikan Mamasia ... sadap!

Setiap orang punya lagu favoritnya masing-masing. Kita tidak dapat menilai, ah si dia seleranya jelek, hanya karena selera orang itu berbeda dari kita. Karena, yang namanya seni itu relatif, dinilai sejauh perspektif orang yang menikmatinya. Tidak baku! Jadi, jangan pernah ragu untuk membeberkan pada orang lain apa saja yang menjadi favorit kita. Justru apa yang menjadi favorit orang lain dapat menjadi inspirasi untuk kita (baca: saya) dengan mencobanya juga ...

Baiklah kengkawan semua, selamat menikmati akhir pekan dan jangan lupa berkebun :p


Cheers.

Still Love: To Love Somebody


Masih ada kaitannya sama pos kemarin soal merusuhi pengamen dengan suara pas-pasan cenderung fals tingkat dewa, hari ini saya ingin mengulas sebuah lagu sepanjang masa, yang selalu membuai kuping dan menentramkan jiwa. Mantep! Kata orang-orang. Sebenarnya tidak perlu bermain teka-teki silang karena sudah jelas terlihat dari judulnya: Still Love: To Love Somebody.

Baca Juga:

Kalian juga bisa membacanya di Wikipedia, Lagu ini, To Love Somebody, merupakan lagu yang ditulis oleh Barry dan Robin Gibb dan diproduseri oleh Robert Stigwood. To Love Somebody merupakan single kedua yang dirilis oleh Bee Gees dari debut album internasional mereka yang bertitel Bee Gees 1st pada tahun 1967. Pada tahun 2017 saat wawancara dengan Pers Morgan's Life Stories, Barry menyatakan bahwa dari semua lagu yang ditulisnya, dia akan memilih To Love Somebody. It has a clear, emotional message


To Love Somebody dinyanyikan ulang (cover) oleh penyanyi, yang paling pertama saya tahu, Michael Bolton. Bahkan, saya tahu lagu ini dari suara emasnya si Bolton dengan hidung memukau dan rambut kriwil itu. Maklum, jaman dulu belum tahu banyak referensi. Suara Bolton waktu menyanyikan To Love Somebody betul-betul mengaduk emosi. Sampai-sampai saya belajar kunci/chord lagu ini, menyanyikannya seakan-akan saya adalah Bolton yang sedang manggung dengan ribuan penonton. Ngayal aja terus, Teh!

And then, Kakak Pacar kasihan, lantas sering lah dia yang memainkan gitarnya dan mengiringi saya bernyanyi. Hwah, thankyouuuu


To Love Somebody menjadi semacam lagu wajib saya selain Surat Cinta dan Logika. Saya suka bernyanyi 'memainkan emosi suara' seperti itu (istilah pribadi saya ini sih). Waktu usai Peradilan Semu tahun lalu saya juga menyanyikan To Love Somebody tetapi dalam balutan irama reggae. Yess, baby, my soul rebelled.

Usai yudisium 16 Agustus 2018 yang lalu, Angkatan XXXIX Fakultas Hukum Uniflor ngumpul di rumah. Kami karaokean. Ada yang musiknya dari Youtube, ada pula yang diiringi Yoan Amaraya (orgen). Saya menyanyikan To Love Somebody dalam balutan iringan jazz yang cihuy. Emosi kami semua terbawa dalam lirik lagu yang mendadak bikin merinding. Haha. Sayang ... tidak sempat merekamnya. Sempat kami ulangi dua hari kemudian, tapi tidak sesahdu malam itu.


Beberapa hari yang lalu saya dan Ocha nongkrong di kamar sambil mendengarkan lagu-lagu dari Youtube. Dengan keyakinan penuh saya memperdengarkan To Love Somebody dari semua versi! Bee Gees, Michael Bolton, Michael Buble. Wah, yang versi si Buble ini awwwwww sekali.



Sudah nonton? Awesome kan ya?

To Love Somebody, lagu sepanjang masa yang bakal terus didengar orang-orang, anak-cucu kita ... hehe.

Lantas, kenapa mendadak saya menulis ini? Ya, #SabtuReview boleh lah diselingi dengan musik, setelah filem dan buku. Lagi pula, kalian mungkin setuju dengan saya, bahwa lagu-lagu sekarang rasanya kurang nancap di hati. Entah karena apa ... mungkin karena selera saja. Namanya juga selera, tidak bisa dipukul rata kan ya? Hehe. Misalnya, ketika orang-orang lebih suka mendengarkan Ariana Grande, saya masih suka mendengarkan The Corrs, Natalie Imbruglia, atau Kings of Convenience.

Bagaimana dengan kalian?


Cheers.

#PDL Default Perusuh Pengamen

Surat Cinta, lagu andalan.


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***

Pernahkah kalian bertemu orang yang suaranya pas-pasan cenderung sesak, tapi doyan bernyanyi sampai pernah rebutan mikropon sama teman karaoke? Pernahkah kalian bertemu orang yang suaranya pas-pasan tapi selalu ngotot pengen nimbrung sama para pengamen sampai si pengamen berakhir dengan menangis di pojokan mengelus dada? Belum pernah? Kalau begitu ... selamat, kalian sedang membaca tulisan orang itu. Ha ha ha. 

Baca Juga: 

Urusan doyan bernyanyi ini bukan bakat, tapi lebih pada pengasahan dari tahun ke tahun sejak saya masih kecil. 

Orangtua saya itu pendidik baik pendidikan melalui jalur sekolah maupun Pendidikan Luar Sekolah Oleh Masyarakat (Diklusemas) sekaligus seniman. Rumah saya ibarat pusat aktifitas segala urusan yang berkaitan dengan seni.  Setelah pulang sekolah, setiap sore kalau tidak ada jadwal pengajian, Mamatua mengajari kelompok ibu-ibu dari lingkungan sekolahnya berkreasi: menjahit, memasak, mengetik (kalau mengetik dibantu (alm.) Bapa). Setelah seharian mengurusi tempat kursus, Bapa masih berurusan dengan Kelompok Orang Jawa di Ende, yang sering diisi dengan berlatih gamelan di rumah.

Habis upacara di kampus ada kegiatan seni, merusuh dulu aaaah hahaha.

Saat (alm.) Bapa membeli seperangkat alat band (Menamainya Jemiri Band), tidak terhitung berapa banyak orang masuk-keluar rumah dan menjadikan rumah kami sebagai basecamp. Kamar kakak laki-laki saya, (alm.) Kakak Toto dan Babe Didi Pharmantara (waktu itu Abang Nanu kuliah di Surabaya), sudah menjadi kamar orang-orang yang masuk-keluar itu. Urusan makan jangan ditanya, bagi keluarga kami kalian adalah keluarga ketika secangkir kopi sudah tersaji. Dan kalau kalian tidak makan-minum di rumah kami, tersinggung lah kami. Itu pasti. Malam Minggu adalah puncak keramaian di rumah kami; ada yang latihan band, ada yang main karambol, ada yang main tenis meja (mejanya diletakkan di halaman dan alm. Bapa menarik lampu hingga ke halaman supaya benderang), ada yang nongkrong saja sambil haha hihi. 

Saat ini rumah saya juga jadi basecamp banyak teman haha. Kalau tidak percaya, tanya saja sama Om Bisot.

Lantas, apakah kesenangan saya bernyanyi ini ada kaitannya sama gamelan dan Jemiri Band? Tidak ada. Karena usia saya terpaut sangat jauh dengan Babe Didi (sebelas tahun) maka saya dianggap anak kecil yang tidak boleh merusuh di sekitar ruangan band. Ih ... padahal kan saya ingin merusuh. Gemas sekali melihat (alm.) Kakak Toto Pharmantara menabuh drum, atau Abang Nanu Pharmantara bermain gitar. Hiks.

Karena orangtua saya itu perfomer di panggung sejak jaman dulu kala, maka saya dididik untuk berani tampil di panggung; mulai dari panggung 17-an tingkat RT sampai akhirnya manggung sebagai vokalis Cendaga Band di Lapangan Pancasila (2005). Awalnya saya tampil untuk membawakan puisi atau bernyanyi (dengan suara pas-pasan) diiringi Bapa (bermain orgen mini):
Bernyanyi diiringi permainan orgen mini oleh cinta pertama saya. Hehe. Muach.

Lama-kelamaan mulai ikut berbagai lomba karaoke hingga berbagai pertunjukan. Kata Mamatua; anggap saja penonton tidak ada (supaya tidak demam panggung) tapiiii tetap saja kadang tangan gemetar hahaha. Oia, sejak dulu saya tidak pandai bermain gitar; hanya mampu kunci A, Am, C, D, Dm, F, G, sedangkan kunci B saya menyerah total. Entah apa yang salah dengan jari saya ini. Hiks.

Itu sekadar prolog dari mana saya yang bersuara pas-pasan ini selalu ngotot ingin bernyanyi.

Lanjut ...

Pada akhirnya saya menjadi perusuh pengamen. Setiap kali ada yang mengamen dan saya rasa suaranya kurang pas (padahal suara saya ini sumbang minta ampun!) saya bakal bilang, "Sini saya yang nyanyiiiii!" dan terjadilah kekacauan *senyum manis*.

Pernah suatu kali para peserta Blogger Nusantara 2012 di Makassar diajak dokter Rara jalan-jalan. Pergilah kami ke Pantai Losari. Saya suka dermaga apung yang terbuat dari susunan bahan plastik (terlihat seperti paving block tapi terbuat dari plastik dan mengapung). Lalu datanglah seorang bocah perempuan mengamen di depan kami. Tidak menunggu lama, naluri merusuh saya kambuh. Saya meminta ukulele-nya dan menggantikannya bernyanyi (waktu itu I'm Yours milik Jason Mraz). Anak-anak pada ketawa. Thanks Rara sudah mengabadikannya:

Si anak pengamen.

Si anak pengamen malu dan kesal setelah saya merusuh. Videonya ada sih, direkam sama Rara, tapi harus dicari lagi hahaha.

Sebelumnya, tahun 2011 usai perhelatan ABC di Museum Pasifika - Bali, om Bisot mengajak kami makan malam di Pantai Jimbaran. Nah, datanglah kelompok pengamen yang profesional. Saya sebut profesional karena harmonisasi beberapa alat musik yang mereka mainkan sangat keren! Naluri merusuh saya kambuh seketika. Dan saya meminta mereka memainkan lagu Just The Way You Are (yang waktu itu dipopulerkan oleh Bruno Mars). 

Waktu itu sempat difoto sama Bang Agus Lahitan si pemilik Rumah Karawo, tapi entah tersimpan di mana foto saya pas lagi nyanyi diiringi para pemain musiknya :D Adanya foto ini saja; foto barengggg.

Kalau ada acara-acara baik di kampus maupun di luar kampus, sudah dapat dipastikan saya pasti merusuh dengan suara sumbang over dosis. Herannya saya masih juga dipanggil menyanyi oleh MC. Pernah nih, dalam acara pembubaran panitia El Tari Memorial Cup 2017 sekaligus evaluasi, saya menyanyi bersama Mam Poppy dan Rudi. Gila, lagu Surat Cinta bisa nyasar ke Logika, sampai yang nonton ngakak guling-guling.

Di mana, logika, hatikyuuuu
Jatuh cinta kepadanyaaaaa
Tetapi tertanya, asmaraaaa
Tak kenal dengan logikaaaa

Hari ini kugembiraaaaa
Melangkah di udaraaaa

*dan suara musik yang mengiri tetap lanjut tapi Mam Poppy dan Rudi menatap saya: siapa ini, kami tidak kenal dia!*

Pernah, saya pernah begitu ... merusuhi para pengamen hanya karena doyan bernyanyi dan ngotot! :D

Bagaimana dengan kalian?


Cheers.