Lagu Losquin Makassar Minasa Riboritta – Iwan Tompo (lirik dan maknanya)

Lagu Minasa Riboritta adalah sebuah lagu berbahasa Makassar yang walaupun saya tidak hafal seluruh liriknya tapi cukup sering saya nyanyikan. Minasa Riboritta pertama yang saya dengar adalah versi yang dinyanyikan oleh Ridwan Sau, salah satu penyanyi lagu-lagu Bugis Makassar.

Lama kemudian barulah saya mendengar lagu Minasa Riboritta versi Losquin dari Iwan Tompo, salah satu maestro lagu Makassar.

Lirik lagu ini saya terjemahkan secara bebas, bukan terjemahan langsung per kata dan mengikuti nada lagu sehingga bisa dinyanyikan dalam bahasa Indonesia walaupun jadi kurang enak didengar karena liriknya masih dipaksakan. Setidaknya ini membantu para pendengar yang tidak mengerti bahasa Makassar mengenai makna lagu ini. 

Saya juga tidak terlalu paham bahasa Makassar, dan terjemahan lirik ini saya ambil dari beberapa terjemahan yang memang sudah ada di internet lalu kemudian saya sandingkan. Dengan cara seperti itu jika ada masukkan dari yang paham bahasa Makassar pasti akan saya pertimbangkan.

Berikut lagu Minasa Riboritta - Iwan Tompo versi Losquin.


Minasa Riboritta (Harapan untuk Negeri Kita)

_________________

Mangku mamo mabella
Walaupun aku jauh 

Nia ma' ri se'reang bori
Merantau di negeri lain

Ma'sombalangi sare kamaseku
Melayari laut nasib hidupku 

Passare Batara
Jalani takdir-Nya

Manna monjo nakamma
Walaupun demikian

Pangngu'rangingku ri kau tonji
Ingatanku hanyalah padamu

Kabutta la'biri passolongang ceratta
Ke kampung tercinta di tanah kelahiran

Ri Bawa Karaeng
Di Bawa Karaeng 

Se'reji kupala rijulu boritta
Satu yang kuminta, dari saudaraku

Sirikaji tojeng
Utamakan Siri' 

Sollanna na nia areng mabajitta
Agar selalu terjaga nama baik kita 

Ri bori maraeng
Di negeri lain

Nakima' minasa te'ne ki masunggu
Dan kita berharap raih kesuksesan 

Nanacini todong 
Sehingga terpandang

Bori maraengang
Di negeri lain

Sarroa mangngakkali rikamajuanta
Yang sering meragukan kemajuan kita
________

Sedikit mengenai Iwan Tompo sang pelantun lagu ini. Iwan Tompo Dg. Liwang adalah salah satu maestro lagu Makassar, sayangnya beliau sudah wafat pada hari Kamis, 23 Mei 2013 di Makassar.
Iwan Tompo Dg. Liwang wafat

Iwan Tompo Dg. Liwang kelahiran Kota Makassar 6 September 1952. Gelar maestro yang disematkan pada dirinya karena almarhum adalah penyanyi sekaligus pencipta lagu yang telah membuat sedikitnya 50-an album lagu Makassar dalam rentang 40-an tahun Iwan Tompo berkesenian.

Iwan Tompo mulai aktif berkesenian sejak duduk dibangku SMP pada tahun 1966. Karir Iwan Tompo dalam dunia kesenian dimulai dengan menjadi gitaris. Iwan Tompo sudah dari masa kanak-kanak mempunyai bakat bernyanyi, hingga akhirnya dia mulai bernyanyi secara profesional pada tahun 1970an. 

Dalam karirnya sebagai penyanyi Iwan Tompo belajar mengikuti bakat yang ada pada dirinya. Pengetahuan yang dimiliki tersebut didapat secara otodidak melalui tradisi lisan bukan tradisi tulisan dan tidak dibentuk oleh pendidikan formal. Bakat tersebut semakin berkembang ketika Iwan Tompo bergabung menjadi penyanyi pada tahun 1970-an di Orkes Melayu Rasela.

Pada tahun 1975 Iwan Tompo bergabung di Irama Baru Record yang merupakan bagian dari kunci sukses perjalanan hidup Iwan Tompo dalam mempertahankan eksistensi lagu pop daerah Makassar. Iwan Tompo pernah diundang ke Jakarta karena lagunya pernah membooming yang berjudul Bunting Berua. Lagu-lagu Iwan Tompo yang paling terkenal PammarisinnuBangkenga AcciniAmmakku BapakkuTeako Palla, Sura Tappu SingaintaPakeke Appasisala dan lain-lain.

_______________

Sumber: ARYA SAMUDRA, 2012. Studi Biografi Iwan Tompo Sebagai Pencipta Lagu Populer Makassar. 
Skripsi: Program Studi Pendidikan Sendratasik Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar.  (eprints UNM).



Lagu Losquin Makassar Minasa Riboritta – Iwan Tompo (lirik dan maknanya)

Lagu tradisional Makassar lirik losquin

Lagu Minasa Riboritta adalah sebuah lagu berbahasa Makassar yang walaupun saya tidak hafal seluruh liriknya tapi cukup sering saya nyanyikan. Minasa Riboritta pertama yang saya dengar adalah versi yang dinyanyikan oleh Ridwan Sau, salah satu penyanyi lagu-lagu Bugis Makassar.

Lama kemudian barulah saya mendengar lagu Minasa Riboritta versi Losquin dari Iwan Tompo, salah satu maestro lagu Makassar.

Lirik lagu ini saya terjemahkan secara bebas, bukan terjemahan langsung per kata dan disesuaikan dengan mengikuti nada lagu sehingga bisa dinyanyikan dalam bahasa Indonesia walaupun jadi kurang enak didengar karena liriknya masih dipaksakan. Setidaknya ini membantu para pendengar yang tidak mengerti bahasa Makassar mengenai makna lagu ini. 

Saya juga tidak terlalu paham bahasa Makassar, dan terjemahan lirik ini saya ambil dari beberapa terjemahan yang memang sudah ada di internet lalu kemudian saya sandingkan. Dengan cara seperti itu jika ada masukkan dari yang paham bahasa Makassar pasti akan saya pertimbangkan.

Berikut lagu Minasa Riboritta - Iwan Tompo versi Losquin.


Minasa Riboritta (Harapan untuk Negeri Kita)

_________________

Mangku mamo mabella
Walaupun aku jauh 

Nia ma' ri se'reang bori
Merantau di negeri lain

Ma'sombalangi sare kamaseku
Melayari laut nasib hidupku 

Passare Batara
Jalani takdir-Nya

Manna monjo nakamma
Walaupun demikian

Pangngu'rangingku ri kau tonji
Ingatanku hanyalah padamu

Kabutta la'biri passolongang ceratta
Ke kampung tercinta di tanah kelahiran

Ri Bawa Karaeng
Di Bawa Karaeng 

Se'reji kupala rijulu boritta
Satu yang kuminta, dari saudaraku

Sirikaji tojeng
Utamakan Siri' 

Sollanna na nia areng mabajitta
Agar selalu terjaga nama baik kita 

Ri bori maraeng
Di negeri lain

Nakima' minasa te'ne ki masunggu
Dan kita berharap raih kesuksesan 

Nanacini todong 
Sehingga terpandang

Bori maraengang
Di negeri lain

Sarroa mangngakkali rikamajuanta
Yang sering meragukan kemajuan kita
________

Sedikit mengenai Iwan Tompo sang pelantun lagu ini. Iwan Tompo Dg. Liwang adalah salah satu maestro lagu Makassar, sayangnya beliau sudah wafat pada hari Kamis, 23 Mei 2013 di Makassar.
Iwan Tompo Dg. Liwang wafat

Iwan Tompo Dg. Liwang lahir di Kota Makassar tanggal 6 September 1952. Gelar maestro yang disematkan pada dirinya karena almarhum adalah penyanyi sekaligus pencipta lagu yang telah membuat sedikitnya 50-an album lagu Makassar dalam rentang 40-an tahun Iwan Tompo berkesenian.

Iwan Tompo mulai aktif berkesenian sejak duduk di bangku SMP pada tahun 1966. Karir Iwan Tompo dalam dunia kesenian dimulai dengan menjadi gitaris. Iwan Tompo sudah dari masa kanak-kanak mempunyai bakat bernyanyi, hingga akhirnya dia mulai bernyanyi secara profesional pada tahun 1970an. 

Dalam karirnya sebagai penyanyi, Iwan Tompo belajar mengikuti bakat yang ada pada dirinya. Pengetahuan yang dimiliki tersebut didapat secara otodidak melalui tradisi lisan bukan tradisi tulisan dan tidak dibentuk oleh pendidikan formal. Bakat tersebut semakin berkembang ketika Iwan Tompo bergabung menjadi penyanyi pada tahun 1970-an di Orkes Melayu Rasela.

Pada tahun 1975 Iwan Tompo bergabung di Irama Baru Record yang merupakan bagian dari kunci sukses perjalanan hidup Iwan Tompo dalam mempertahankan eksistensi lagu pop daerah Makassar. 

Iwan Tompo pernah diundang ke Jakarta karena lagunya pernah membooming yang berjudul Bunting Berua. Lagu-lagu Iwan Tompo yang paling terkenal antara lain PammarisinnuBangkenga AcciniAmmakku BapakkuTeako Palla, Sura Tappu SingaintaPakeke Appasisala dan masih banyak lagi.

_______________

Sumber: ARYA SAMUDRA, 2012. Studi Biografi Iwan Tompo Sebagai Pencipta Lagu Populer Makassar. 
Skripsi: Program Studi Pendidikan Sendratasik Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar.  (eprints UNM).



Ndengerin Musik Indie Di Gtunes Aja

Indonesian Lifestyle Blogger - salmanbiroe - Gtunes

Masih ingat dengan lagu menuju puncak?   Dulu pernah menjadi trend di masyarakat Indonesia. Kalau masih ingat, berarti kamu termasuk angkatan 90an, hahaha. Yang saya maksud adalah Tia AFI yang dulu pernah menjadi jawara dan sangat populer di masanya. Kini setelah lama tidak terdengar,  Tia muncul dengan single terbarunya. Sungguh Beda Segalanya,  single yang mampu penggemarnya bernostalgia. Dulu Tia sempat membawakan lagu Adilkah Ini,  hayo masih ingat ngga liriknya?

Kita telah memutuskan tak lagi bersama
Karna rintangan yang ada tak henti menghadang
Harus ku menepis, rasa ini

Salahkah aku,  atas perasaan ini
Yang tak mampu memiliki
Aku masih cinta kamu ...

Indonesian Lifestyle Blogger - salmanbiroe - Gtunes

Indonesian Lifestyle Blogger - salmanbiroe - Gtunes

Yes,  jangan tanya apakah saya hafal atau tidak lagu Tia,  yang jelas sampai saat ini masih ada di music player, smartphone saya.

Bagi saya,  musik itu universal. Tidak ada yang salah dengan semua jenis aliran musik. Setiap aliran musik memiliki penggemarnya sendiri termasuk musik indie. Indie bukanlah pembelot,  indie adalah mewakili musik secara universal dengan bahasa idealisme yang masih tertanam. Melihat musik indie memang sangat menarik karena tidak sama dengan musik yang beredar di pasaran. So,  saya pun menghagai setiap karya dari musisi indie.


Kini,  banyak platform dan social media yang bisa digunakan sebagai wadah musik indie untuk berkembang, salah satu platformnya adalah Gtunes.

Gtunes itu wadah musisi indie menampilkan karyanya baik dalam bentuk suara maupun video. Bukan hanya secara karya,  secara personal,  musisi dapat berinteraksi dengan fans secara intens seperti live chat dan fan meeting atau semacam mini concert.

Beberapa hari lalu, saya sempat hadir dalam Gtunes Festival. Disanalah saya bertemu dengan Junior Soemantri dan Keiko. Dua dari banyak musisi indie yang berkarya melalui Gtunes.

Indonesian Lifestyle Blogger - salmanbiroe - Gtunes

Apa saja sih kelebihan Gtunes? Banyak sekali kelebihan salah satunya gratis. Yes, aplikasi ini tidak memungut biaya bagi musisi maupun pengguna Gtunes. Sedangkan kelebihan lainnya adalah ada fitur interaksi dengan musisi sedangkan fitur karaoke dengan artis seperti smule. Kece banget kan?

So,  buat apa menunggu lama? Download aplikasi Gtunes dan dapatkan banyak keuntungan serta menikmati musik indie. Dengan Gtunes kita dukung musisi indie Indonesia.

Indonesian Lifestyle Blogger - salmanbiroe - Gtunes


Kampung Kite, Lagu Nasehat Dari "Bahasa Aliza"

Kampung Kite, Lagu Nasehat Dari "Bahasa Aliza"

Hari semakin petang, saat-saat terbaik di halaman TBM Rumah Pelangi Bekasi sebentar lagi akan datang. Yaitu saat matahari semakin condong ke barat sehingga panasnya jauh berkurang, lalu angin sepoi-sepoi meniup dari pepohonan, perkebunan dan sawah yang membentang membawa udara segar khas pedesaan.

Sambil menikmati suasana ruang terbuka dan bercengkrama akrab, di hadapan saya 4 personil band Bahasa Aliza sudah lengkap. Kami asik terlibat obrolan-obrolan mengenai rencana-rencana ke depan. Mengenai kampanye budaya, gerakan literasi dan berbagai kegiatan yang sempat ada namun terhenti sejak wafatnya alm. Ane Matahari, penggerak sanggar Sastra Kali Malang dan Kelompok Penyanyi Jalanan Kota Bekasi.

Muhammad Genta Aliza Putera atau yang akrab disapa Genta, masih bersemangat bercerita mengenai niatnya melanjutkan apa yang sudah alm ayahnya mulai. Yah menurut saya, wafatnya alm. Ane Matahari seperti memutus komunikasi antara para penggiat penggerak sastra dan musik di kota dan kabupaten Bekasi, sehingga sudah jarang bertemu dan melakukan aksi bersama lagi, itulah yang ingin Genta bersaudara giatkan kembali.

Muhammad Gema Aliza Putera, Muhammad Genta Aliza Putera dan Muhammad Gaung Aliza Putera, ketiganya merupakan putera dari alm Ane Matahari. Ketiganya membentuk band bernama "Bahasa Aliza", yang pada kesempatan Sabtu sore 27 Oktober 2018 menjadi bintang tamu acara Festival Rungi 2.0
Kampung Kite, Lagu Nasehat Dari "Bahasa Aliza"

Dengan dibantu Muhamad Fauzi atau Uzi sebagai pemain cajon, Bahasa Aliza membawakan 2 buah lagu ciptaan mereka sendiri yang berjudul "Kampung Kite" dan "Dari Sabang Hingga Merauke".

"Pung kampung-kampung, ini kampung kite... 
Dulu dikate dusun, sekarang udeh jadi kote...
Di sini sodare di sana sodare, banyak teman banyak sahabat, 
kudu akur, kudu inget nasehat...". 

Demikian cuplikan lagu berjudul Kampung Kite yang dinyanyikan dengan suara serak dan lantang khas suara Gaung sang vokalis. Lagu ini menggambarkan potret kampung-kampung yang sekarang sudah menjadi kota, namun demikian lagu ini mengingatkan bahwa perubahan demografis jangan sampai menggerus kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan, kudu akur. 
"Banyak belajar biar jadi anak yang pintar, anak kampung sini kudu ngebangun kote ini".
Saat saya tanyakan kesan dan pesan setelah datang dan tampil di halaman TBM Rumah Pelangi dalam gelaran acara Festival Rumah Pelangi 2.0, Genta mengatakan TBM Rumah Pelangi berhasil menjadikan ruang publik sebagai ruang budaya.

"Dalam perjalanan ke Rumah Pelangi, kami sudah merasakan sisi lain Bekasi, bahwasanya Rumah Pelangi adalah salah satu kekayaan yang Bekasi punya. Bagaimanapun perbedaanlah yang mempersatukan, TBM Rumah Pelangi telah berhasil menjadikan ruang publik sebagai ruang budaya." ungkap Genta.

"Semoga semakin kompak dan sukses, Aamiin. Kite kudu bangga jadi bocah Bekasi." tegasnya.

--------------
Mau dengar lagu Kampung Kite versi full?
Simak deh, ini saya ambil dari Soundcloud, enjoy :)



:)

Kampung Kite, Lagu Nasehat Dari "Bahasa Aliza"

Kampung Kite, Lagu Nasehat Dari "Bahasa Aliza"

Hari semakin petang, saat-saat terbaik di halaman TBM Rumah Pelangi Bekasi sebentar lagi akan datang. Yaitu saat matahari semakin condong ke barat sehingga panasnya jauh berkurang, lalu angin sepoi-sepoi meniup dari pepohonan, perkebunan dan sawah yang membentang membawa udara segar khas pedesaan.

Sambil menikmati suasana ruang terbuka dan bercengkrama akrab, di hadapan saya 4 personil band Bahasa Aliza sudah lengkap. Kami asik terlibat obrolan-obrolan mengenai rencana-rencana ke depan. Mengenai kampanye budaya, gerakan literasi dan berbagai kegiatan yang sempat ada namun terhenti sejak wafatnya alm. Ane Matahari, penggerak sanggar Sastra Kali Malang dan Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Kota Bekasi.

Muhammad Genta Aliza Putra atau yang akrab disapa Genta, masih bersemangat bercerita mengenai niatnya melanjutkan apa yang sudah alm. ayahnya mulai. Yah menurut saya, wafatnya alm. Ane Matahari seperti memutus komunikasi antara para penggiat penggerak sastra dan musik di kota dan kabupaten Bekasi, sehingga sudah jarang bertemu dan melakukan aksi bersama lagi, itulah yang ingin Genta bersaudara giatkan kembali.

Muhammad Gema Aliza Putra, Muhammad Genta Aliza Putra dan Muhammad Gaung Aliza Putra, mereka bertiga adalah putra dari alm. Ane Matahari. Ketiganya membentuk band bernama "Bahasa Aliza", yang pada kesempatan Sabtu sore 27 Oktober 2018 menjadi bintang tamu acara Festival Rungi 2.0
Kampung Kite, Lagu Nasehat Dari "Bahasa Aliza"
Dengan dibantu Muhamad Fauzi (Uzi)  dari KPJ Kota Bekasi sebagai pemain cajon, Bahasa Aliza membawakan 2 buah lagu, 1 lagu ciptaan mereka sendiri yang berjudul "Kampung Kite" dan lagu milik KPJ yang berjudul "Dari Sabang Hingga Merauke".

"Pung kampung-kampung
ini kampung kite... 
Dulu dikate dusun
sekarang ude jadi kote...
Di sini sodare di sana sodare, 
banyak teman banyak sahabat, 
kudu akur, kudu inget nasehat...". 

Demikian cuplikan lagu berjudul Kampung Kite yang dinyanyikan dengan suara serak dan lantang khas suara Gaung sang vokalis. Lagu ini menggambarkan potret kampung-kampung yang sekarang sudah menjadi kota, namun demikian lagu ini mengingatkan bahwa perubahan demografis jangan sampai menggerus ikatan kekeluargaan, tali persaudaraan, persahabatan, semuanya kudu akur. 

Selain itu lagu ini juga berpesan agar kita sebagai bocah kampung harus tetap mengasah diri agar dapat berperan membangun kampung.
"Banyak belajar biar jadi anak yang pintar, anak kampung sini kudu ngebangun kote ini".
Saat saya tanyakan kesan dan pesan setelah datang dan tampil di halaman TBM Rumah Pelangi dalam gelaran acara Festival Rumah Pelangi 2.0, Genta mengatakan TBM Rumah Pelangi telah berhasil menjadikan ruang publik sebagai ruang budaya.

"Dalam perjalanan ke Rumah Pelangi, kami sudah merasakan sisi lain Bekasi, bahwasanya Rumah Pelangi adalah salah satu kekayaan yang Bekasi punya. Bagaimanapun perbedaanlah yang mempersatukan, TBM Rumah Pelangi telah berhasil menjadikan ruang publik sebagai ruang budaya." ungkap Genta.

"Semoga semakin kompak dan sukses, Aamiin. Kite kudu bangga jadi bocah Bekasi." tegasnya.

Untuk mengikuti perkembangan dan kabar terbaru dari band indie asal Bekasi ini kita bisa follow akun Instagram mereka di @BahasaAliza atau berkirim email ke bahasaaliza @ gmail. com jika ingin menghubungi mereka.

--------------
Mau dengar lagu Kampung Kite versi full?
Simak deh, ini saya ambil dari Soundcloud, enjoy :)



:)

Warna Warni Kita Menjadi Satu di Dalam Rahimmu

merayakan hari pahlawan bersama cahaya foundation

Pertama kali mendengar lagu Busur Hujan di Gelaran Perpustakaan Jalanan Ke 15, ada yang urun suara menyumbang lagu untuk meramaikan gelaran lapak buku dan diskusi Sejarah Bekasi malam itu. Kami yang hadir saat itu bersama-sama bernyanyi, karena saya tidak tahu lagunya saya hanya ikut menyanyi saat reff saja, "Warna-warni kita menjadi satu, di dalam rahimmu", kata-kata yang dalam maknanya.

Lagu tersebut berjudul Busur Hujan (Rainbow Warrior) milik Navicula. Rainbow yang biasanya diterjemahkan sebagai pelangi oleh Navicula diubah menjadi busur hujan, busur (bow) dan hujan (rain). Rainbow yang dimaksud dalam lagu ini adalah kapal "Rainbow Warrior" sebuah kapal milik Greenpeace yang dulu pernah diledakkan oleh aparat intelijen Prancis sehingga menewaskan seorang fotografer dan tenggelam pada tanggal 10 Juli 1985.

Busur Hujan bukan lagu pertama yang terinspirasi dari perjuangan kapal Rainbow Warrior dan mengenang kejadian sabotase kepada kapal Rainbow Warrior. Sebelumnya sudah ada sebuah lagu berjudul "Little Fighter" oleh White Lion dalam album Big Game yang hits hingga masuk pada jajaran The Billboard Hot 100 di tahun 1989.

Dari segi lirik, lagu Busur Hujan menggunakan pilihan diksi yang bersifat puitik sehingga agak sulit mendefinisikan terjemahan baku mengenai apa yang dimaksud dari kalimat-kalimat dalam rangkaian liriknya. Selain itu komposisi musiknya juga apik, Navicula yang secara umum bisa dimasukkan dalam genre grunge, membuat lagu Busur Hujan ini tidak terlalu sulit untuk dinikmati oleh penyuka musik rock.

Sudah sekian lama saya ingin membawakan lagu ini, tapi baru pada kesempatan peringatan Sumpah Pemuda di Sanggar Banboo Tambun Selatan Kabupaten Bekasi kemarin saya bisa nge-jamm dan mencoba menyanyikan lagu ini. Acara sumpah pemuda ini juga sekaligus merayakan ulang tahun Cahaya Foundation yang kedua, Ahad 28 Oktober 2018. 

Reff lagu ini menurut saya sangat mewakili semangat peringatan Sumpah Pemuda, sehingga begitu terlintas dalam pikiran, saya langsung maju untuk menyanyikannya walau tanpa persiapan :D Dengan dibantu personil Sanggar Banboo, lagu ini berhasil kami bawakan walau sempat berhenti di tengah karena saya lupa lirik dan suara saya tidak sampai :D

Selain bernyanyi dengan iringan band, acara ini juga diisi dengan sumbangan kepada yatim dhuafa, aksi bakti sosial pengobatan gratis bekerjasama dengan salah satu RS di Bekasi, pembacaan puisi dari  para tamu undangan yang hadir serta penampilan pencak silat dari perguruan silat Cingkrik Cibitung dan lain-lain.
keluarga besar cahaya foundation bekasi
Keluarga besar Cahaya Foundation saat Milad Ke-2
Hadir dalam acara ini tentu saja keluarga besar relawan Cahaya Foundation, Sanggar Banboo selaku tuan rumah, beberapa teman-teman dan simpatisan yang selalu mendukung kegiatan Cahaya Foundation dan lain-lain, serta beberapa warga masyarakat sekitar. 

Saat berangkat saya naik grab karena kondisi badan yang sedang kurang fit, masih mengantuk karena sehari sebelumnya dari pagi hingga larut malam saya menghadiri acara "Workshop Ayo Menulis" bersama AtmaGo di SMK Binakarya Mandiri Jati Mulya Bekasi dan selebrasi Milad ke-2 TBM Rumah Pelangi Bekasi.

Acara perayaan HUT Cahaya Foundation ini sederhana saja, potong tumpeng, makan bersama, ngopi-ngopi kongko, suasana kekeluargaan lebih terasa karena tidak terlalu banyak juga tamu yang diundang dan bentrok dengan acara di Gedung Juang Bekasi.

Akhir kata, selamat ulang tahun ke-2 untuk Cahaya Foundation, semoga dapat terus mengabdi kepada masyarakat yang membutuhkan dan selamat memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-90.

Berikut cuplikan video yang saya ambil dari live Facebook Mbak Dyah. Saya sih puas karena sudah ikut meramaikan walau tampil dadakan dan seadanya, yang penting sudah ikut meramaikan suasana :)
Berikut lirik dan chord lagu Busur Hujan dari Navicula.

Em     Bm     C             G 
Busur Hujan di cakrawala 
Em           Bm         C             G 
Kau rayu hatiku menuju ke sana 
Em     Bm     C             G 
Busur Hujan di cakrawala 
Em               Bm         C               G 
Maha karya jembatan ke gerbang surga

Am       C           Em 
Ku kembangkan layarku 
Am   C         Em 
Arungi samudera ibuku 
Am       C         Em 
Kan kuhunjam sauhku 
                        G     Am-Bm   D-Em C... 
Di dalam rahimmu

[Reff:] 
Em                 C             G 
Warna-warni kita menjadi satu 
Em                 C             G 
Warna-warni kita menjadi satu 
Em                 C             G 
Warna-warni kita menjadi satu 
Em                 C             G 
Warna-warni kita menjadi satu 
                        G     Am-Bm   D-Em C... 
Di dalam rahimmu

Em     Bm     C             G 
Busur Hujan di cakrawala 
Em         Bm               C           G 
Manusia titipkan mimpinya di sana.. 
Em     Bm     C             G 
Busur Hujan di cakrawala 
Em                   Bm           C             G 
Ada harta di kakinya...menunggu di sana

Am       C           Em 
Ku kembangkan layarku 
Am   C         Em 
Arungi samudera moyangku 
Am       C         Em 
Kan kuhunjam sauhku 
                        G     Am-Bm   D-Em C... 
Di dalam rahimmu

[Reff:] 
Em                 C             G 
Warna-warni kita menjadi satu 
Em                 C             G 
Warna-warni kita menjadi satu 
Em                 C             G 
Warna-warni kita menjadi satu 
Em                 C             G 
Warna-warni kita menjadi satu 
                        G     Am-Bm   D-Em C... 
Di dalam rahimmu



Malam Minggu Seru Di Peringatan Puncak Hari Puisi Indonesia (HPI) Bekasi Raya

Peringatan puncak Hari Puisi Indonesia (HPI) Bekasi Raya
Sabtu malam, (20/10/2018) saya kembali mengonsumsi bawang putih mentah untuk menekan sisa-sisa batuk dan melegakan pernafasan sebagai persiapan menyumbang suara sember saya dalam acara Peringatan puncak Hari Puisi Indonesia (HPI) Bekasi Raya. 

Setelah tahu panitia acara tidak menyediakan gitar maka saya ajak seorang teman untuk ikut berboncengan notor sekalian membantu saya memegangi gitar, karena setelah saya cari-cari saya lupa di mana menyimpan sarung gitar saya :D

Bersama DAF yang bertemu di jalan akhirnya sampailah kami di lokasi. Sebuah rumah dengan halaman yang cukup luas dan sudah dipasang panggung sederhana. Kanan kiri panggung (bukan panggung beneran sih) diterangi tambahan cahaya dari obor yang ujungnya diberi pijar api dari buah bintaro kering yang dibakar.

Setelah sedikit berakrab-akrab walau tidak semua hadirin saya kenali akhirnya saya memilih duduk di samping Baba Fahmi Benhud, agak di bagian depan berhadapan dan sejajar dengan Kong Guntur Elmogas dan Bu Dyah Kencono.
Kong Guntur Elmogas Peringatan puncak Hari Puisi Indonesia (HPI) Bekasi Raya
Kong Guntur Elmogas saat membuka acara
Singkat cerita dengan tetap santai, Kong Guntur duduk bersila (deprok) membacakan pantun-pantun dan memberikan sambutan yang secara resmi membuka acara Peringatan puncak Hari Puisi Indonesia (HPI) Bekasi Raya malam itu. 

Bertempat di Rumah Budaya Bekasi, Kampung Ujung Harapan Bahagia, RT. 04/RW.04, Babelan, Kabupaten Bekasi, Peringatan puncak Hari Puisi Indonesia (HPI) Bekasi Raya berjalan lancar dan penuh hikmat. Bang Rian Hamzah selaku MC benar-benar bisa membawa acara malam itu menjadi "berkelas". 

Selanjutnya Ketua Panitia HPI Bekasi Raya, Bu Dyah Kencono Puspito Dewi menceritakan rangkaian acara peringatan HPI hingga malam puncak perayaan Hari Puisi Indonesia 2018 yang dilaksanakan di kediaman Bang Hilalludin Yusri. 

Sebelumnya, perayaan HPI Bekasi Raya yang bertema "Gaung Puisi di Tapal Batas Bekasi" telah digelar di tujuh tempat yang berbeda, yaitu:
  1. Sekolah Alam Prasasti di Desa Sukatenang Kecamatan Sukawangi yang diprakarsai oleh Komarudin Ibnu Mikam;
  2. Komunitas Mendut Tambun yang diprakarsai oleh Raden Sudarmono;
  3. Madrasah, Jaka Sampurna yang diprakarsai oleh Fahmi Benhud;
  4. Islamic Centre yang diprakarsai oleh Kong Guntur Elmogas;
  5. BKMB Kartini yang diprakarsai oleh Abdul Choir;
  6. Dinas Pendidikan Kota Bekasi yang diprakarsai oleh DKB Kota atau Ridwan Marhid
  7. Saung Bitung yang diprakarsai oleh DKB Kabupaten atau Iswandi Ichsan.

Acara selanjutnya sambutan dari Sofyan RH. Zaid selaku sekretaris panitia Hari Puisi Indonesia 2018 mewakili Yayasan Hari Puisi yang menjelaskan mengenai 2 bentuk puisi. Menurut Sofyan RH. Zaid Puisi dapat kita lihat dengan konteks yang lebih luas. Bila dilihat dari kaca mata literasi, puisi terbagi menjadi dua, yakni puisi teks dan puisi diri

Puisi teks adalah apa yang kita tulis dan dapat kita baca. Sedangkan puisi diri adalah apa yang tak bisa kita tulis namun tetap bisa kita baca. Contohnya berbuat baik pada sesama dalam kegiatan sosial, peduli lingkungan, bekerja mencari nafkah, mendukung acara puisi, menjadi juri lomba puisi, tidak melakukan korupsi, hadir di acara perayaan puisi seperti ini, dan lainnya adalah contoh puisi diri.
Dengan membacakan kutipan dari WS Rendra, "Kemarin dan esok adalah hari ini" yang diikuti oleh para hadirin sambutan dari Sofyan RH. Zaid berakhir.
Bang Rian Hamzah Peringatan puncak Hari Puisi Indonesia (HPI) Bekasi Raya
Bang Rian Hamzah selaku MC yang kece badai malam itu
Baba Fahmi Benhud untuk kesempatan pertama membawakan puisinya yang berjudul "Aku bertanya padamu wahai saudara", dibawakan dengan suara yang lantang namun tetap diselingi canda.

Aku bertanya padamu wahai saudara
Aku bertanya pada saudara
Apakah saudara tidak sadar atau lupa?
bahwa kita terus menukar tanah, air, sawah 
dengan rupiah tak berdaya

Tanah sudah tiada..
Air sudah tak mengalir.. (sekali mengalir, tapi ada salju genit...)
Sawah bukan lagi milik kita !
Warisan pun habis !!
Hidup di kontrakan milik Tuhan? 
Tidak saudara..

Demikian potongan puisi dari Baba Fahmi Benhud, selanjutnya disambung dengan pembacaan puisi tentang Kali Bekasi dari Iwan Bonick, lalu Mbak Nila Hapsari, Yahya Andi Saputra dari Komite Sastra Jakarta, Komunitas Malam Puisi Bekasi, Ridwan Ch Marhid,  Ridwan Fauzi, Diana Prima Resmana, Nila Hapsari, Armen S Doang, Ali Satri Efendi, Wieke, dan lainnya. Di antara yang hadir juga tampak Ayid Suyitno Ps, Wig MS, Widodo Arundono, serta Giyanto Subagio, Asep Setiawan, Jaronah Abdullah dan masih banyak lagi.

Malam itu saya menikmati sesi pembacaan puisi yang benar-benar membuat malam minggu jadi bermakna. Gak sia-sia saya memutuskan untuk menghabiskan malam minggu menghadiri acara ini walau seharian sudah keliling kemana-mana. 

Beragam gaya pembacaan puisi saya saksikan secara langsung oleh para pembaca puisi yang keren-keren. Alhamdulillah, untung saya duduk di bagian depan sehingga dapat dengan jelas melihat ekspresi dan penjiwaan dari masing-masing yang tampil.
Sebagai anti klimaks, saya selaku penikmat puisi tidak membaca puisi, seperti sebelumnya saya sekadar menyanyikan lagu "Soedirman Soejono (1)" dari Akar Bambu dan Puisi "Bunga Dan Tembok" karya Widji Thukul yang dimusikalisasi oleh Fajar Merah, putra Widji Thukul. Iya, anti klimaks, biar ada jeda sedikit sebelum sesi pembacaan puisi kembali berlanjut :D

Acara puncaknya? tentu saja bagi saya acara puncaknya yah makan malam hehehe, para hadirin dengan santai menikmati sajian makan malam yang disediakan panitia sambil menonton film puisi karya Rian Hamzah. Film yang cukup bagus, sayangnya walau kadang berbahasa Indonesia, kebanyakan dialog dalam film menggunakan bahasa Sunda jadi saya kurang paham jalan ceritanya. 

Semakin malam acara semakin cair, kami ngobrol-ngobrol sambil menikmati kopi hingga sesi foto bersama sebelum acara resmi ditutup.

Malam itu, saya puas menyaksikan langsung pembacaan puisi dari orang-orang yang sepertinya sudah punya nama dalam jajaran pembaca puisi di Bekasi dan Jakarta. Acara yang sederhana tapi keren banget, semoga bisa menyaksikan lagi acara-acara selanjutnya.





Lirik dan Chord PAGIKU oleh Relung Kaca

Lirik dan Chord PAGIKU oleh Relung Kaca

Intro: E

E
Tak lagi ayam jantan membangunkanku
G#m7/B
Tak lagi kicau burung bernyanyi
A                                   E
Hingga kubuka mata di jam 7 pagi.

E
Aku pun mengkerutkan dahi 
G#m7/B
Saat ku keluar dari kamarku
A                                         E
Oh iya sekarang semuanya berbeda.


B                 A                    E
Dulu di depan rumahku masih banyak pohon.
B                 A                    C#m
Dulu di sebelah rumahku masih banyak bunga 
         B                     A                 B
Yang memberikan aroma damai.


E
Pagiku telah hilang
A
Dimakan buas metropolitan
(Dirampas buas asap kendaraan)
C#m       B       A
Ke mana harus kucari 
B                 E
Pagiku pagi yang damai
E       A        B
Owoho oho oho owoho oho


E
Ku duduk di sebelah kakekku
G#m7/B
Bercerita tentang alam waktu itu
A                                         E
Dia bilang panasnya tak seperti ini

A                             E
Buktikan sekarang juga 
A                   B
Kurangi polusi 
B
Yang kau lepas hingga susah bernafas.


Relung Kaca adalah grup musik folk asal Singaraja Bali,  terdiri atas tiga personil, yaitu Aristiana Jack (vokal, gitar), Konot (vokal, Gitar), dan Pande Narwastu (vokal, cajon). Relung Kaca diproduseri oleh Luh Gede Juli Wirahmini.

Sejak berdirinya pada tahun 2013, Relung Kaca fokus pada tema-tema sosial dan lingkungan hidup. Trio folk yang dipengaruhi musikus Bob Dylan ini merupakan pegiat lingkungan hidup di Yayasan Manik Bumi, lembaga yang aktif dalam isu-isu tentang sampah. Terakhir Relung Kaca sering terlibat dalam gerakan perjuangan rakyat adat Bali menolak reklamasi Teluk Benoa.

-----------

Keterangan Chord Gitar:

E mayor / E
Chord gitar E mayor / E

A mayor / A
Chord gitar A mayor / A

B mayor / B
Chord gitar B mayor / B

C# minor / C3m
Chord gitar C # minor / C#m

G# minor 7 / G#m7
Chord gitar G# minor 7 / G#m7




Dilan dan Milea baik-baik saja, Kamu sudah move on?


Mau saya ramal? Kita akan bertemu di novel ke-4 dan film Dilan yang selanjutnya. 3 novel tentang kisah masa lalu Dilan dan Milea karya Pidi Baiq tidak akan selesai di novel ke-3 yang berjudul "Milea, Suara Dari Dilan". Tetapi mau sampai seri berapapun juga, sepanjang memperlengkap kisah Dilan dan Milea akan tetap asik untuk dibaca, itu ramalan saya. Sambil dengar soundtrack film Dilan pasti lebih asik, bisa download di akhir postingan.

Gak tau deh kalau novel Dilan ke-4 nanti ternyata berisi kisah Dilan dan Cika, atau tentang Bunda (ibunya Dilan), apakah akan tetap gemesin dan berhasil bikin saya gak mau melepas bukunya sampai selesai baca seperti 3 novel itu. Atau bisa saja testimoni dan cerita dari tokoh-tokoh lain seperti Piyan, Wati, Susi, Rani bahkan Anhar kalau masih mau mempertajam buku Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 dan Tahun 1991.
Download Novel Dilan Milea
Pinjeman Novel Dilan dari Allan

Kenapa Dilan dan Milea harus putus?

Yah memang begitu, novel fiksi tanpa konflik bakalan kayak kasus rendang crispy, rasanya mungkin akan renyah dan garing sesuai selera, tapi yah bukan rendang namanya, mungkin dendeng atau fried chicken.

Kalau Dilan dan Milea gak putus, nanti Mas Herdi dan Cika bagaimana munculnya dalam cerita? Jangan-jangan Mas Herdi yang memegang tangan Cika di warung bakso sebelum kisah kerupuk dibagi dua? Gak seru atuh.

Memang sangat disayangkan kisah romantis Dilan dan Milea ini putus di tangan Pidi Baiq sang penulisnya. Padahal kan bisa saja dibuat balikan setelah dimediasi oleh Bunda di Dago Thee Huis atau Dago Tea House. Tapi, yah begitulah kisahnya, kalau mau protes yah jangan sama saya :)
"Aku tidak suka dikekang...., Tapi kalau yang mengekang Milea aku mau". Jelas itu bukan Dilan yang bilang, tapi bisot, lalu judul novelnya berubah menjadi Bisot dan Milea.... Gak yakin akan nge-hits seperti novel Dilan aslinya sih. :D

Dalam postingan blognya tertanggal 16 Juli 2015, Pidi Baiq (atau setidaknya menurut anggapan saya) memberi kode akan terbitnya buku ke-3 dengan postingan berikut:

download Novel Dilan Milea Suara dari Dilan
Milea: Suara Dilan
“Banyak Pembaca minta Dilan bicara”, kataku tiba-tiba membelokkan pokok bahasan.
“Bicara gimana?”
“Ya bicara. Menjelaskan, terutama menyangkut buku Dilan kedua. Bagaimana menurut sudut pandangnya tentang peristiwa yang dia alami terutama di bab-bab terakhir”
Milea diam, dengan sikap bagai orang berfikir. Kulihat kedua alisnya dia naikkan ke atas. 
“Aku terlalu ngontrol Dilan ya di buku kedua?”, katanya dengan wajah sedikit agak murung
“Kan sebelum diterbitkan, udah konfirmasi dulu, terus kamu setuju, ya udah”, kataku.
Dia ketawa, semua juga ketawa.
“Dilan nanti mau bicara apa?”, tanya dia dengan wajah sedikit agak cemas
“Kan dia juga berhak bicara”, kataku dan kemudian minum
“Sebelum terbit, aku baca dulu dong?”. Dia memohon dengan senyum
“Oke” ....

Buat yang belum membaca buku ke-3 yang berjudul "Milea: Suara dari Dilan", sepertinya akan kurang lengkap untuk memahami latar belakang putusnya Dilan dan Milea. Jadi kalau buku Dilan 1 dan 2 itu diceritakan dengan menggunakan sudut pandang Milea secara dominan maka di buku ke-3 inilah pembaca akan diajak menyelami kisah-kisah yang ada di buku 1 & 2 dalam sudut pandang atau perspektif Dilan. Dalam buku ke-3 "Milea, Suara Dari Dilan" inilah putusnya Dilan dan Milea juga dikaji oleh Remi Moore pada bagian akhir.

Sangat gamblang dijelaskan mengapa Dilan dan Milea putus, penyebabnya yah kolaborasi dari Dilan dan Milea sendiri. Jadi tokoh Remi Moore ini tokoh penting, selain telah menginspirasi modus ramalan yang dipakai Dilan saat PDKT, juga berjasa telah menjelaskan mengapa Dilan dan Milea putus dari sudut pandang androgini (maskulin dan feminim secara bersamaan) bahwa sudah kodratnya cowok gengsian dan cewek maluan dan hanya menunggu. Ya gitu deh... setidaknya Remi Moore sudah berperan baik meramu dua perspektif, yang mempertemukan sudut pandang feminim (Milea) dan maskulin (Dilan). *sotoy banget dah gue*

download novel dilan milea
Saya akui bahwa 3 novel dan 1 film yang sebenarnya untuk remaja ini cukup menarik, isinya cukup lengkap, mulai dari PDKT, bertengkar, hubungan dengan teman dan keluarga, putus cinta sampai bertemu lagi saat sudah memiliki pasangan baru. Pembaca bisa mengembangkan berbagai sikap yang sudah dicontohkan dalam skenario dalam film ataupun novel Dilan dan Milea ini.

Bahwa putus cinta itu gak serta merta berujung musuhan yang hanya saling menyiksa. Masing-masing antara Dilan dan Milea menempatkan kenangan itu sebagai aliran kisah hidup yang mengantar mereka pada kisah hari ini (begitu kata Bunda).
download novel Dilan Milea
Kamu sudah minta restu orang tua mau PDKT? Kalah sama Dilan dong :)

Lalu siapakah Cika? 

Dari Twitter Pidi Baiq ini saya kutipkan beberapa twit yang katanya komentar Cika atas kisah masa lalu Dilan dan Milea. Kalau buat saya ini semacam kode yang mungkin akan menjadi novel kelanjutan serial Dilan:
"Saya tidak ingin menjadikan kisah mereka sebagai tolok ukur untuk mengukur hubungan saya dengan Dilan. Saya menyukai kehidupan saya sekarang, dan insya Allah bisa toleran dengan semua kisah masa lalu mereka. Memang tidak banyak yang berhasil untuk lolos dari merasa cemburu, tapi saya tidak tertarik untuk terlibat di dalam persaingan macam itu. Hubungan saya dengan Dilan tidak harus menjadi pertempuran untuk melihat siapa, di antara saya dengan dia, yang memiliki pengalaman terbaik. Mudah-mudahan ini bisa menjadi contoh bagus bagaimana menghadapi masa lalu orang lain" Ancika Mehrunisa Rabu.

Saya sendiri lebih berharap buku serial Dilan ke-4 ini tentang Bunda. Dari semua tokoh dalam novel ini saya kagum sama tokoh Bunda. Sebagai seorang istri tentara, kepala sekolah/guru, sosok Bunda ini sangat mengayomi.

Adegan Bunda saat membela Milea di kantin sewaktu didatangi ibunya Anhar, dan saat bersama dengan Milea menjemput Dilan di rumah Burhan cukup menggambarkan ibu seperti apakah Bunda ini. Sangat logis. Sosok Ibu seperti ini umumnya didapati pada orang tua tunggal, ia bertindak sebagai ibu juga sebagai ayah. Dapat dimaklumi, karena ayah Dilan yang tentara tentunya lebih banyak berada di markasnya di Karawang daripada di Bandung.

Intinya, saya masih berharap ada lanjutan dari seri novel Dilan ini, berharap saja sesegera mungkin terbit :) Terlepas ini kisah nyata, fiksi atau campur-campur, saya merasa terhibur, banyak mengambil manfaat dan novel ini adalah bacaan yang rekomended buat remaja kalau kamu mencari bacaan yang tidak terlalu berat dan menghibur.

Oh iya, ini twit kode buku tentang Bunda juga bisa jadi akan terbit :) Amiin.


Untuk yang mau Download Album The Panasdalam Bank - Voor Dilan (EP) klik di sini aja yah.
Isi lagunya ada 5 lagu yang menjadi soundtrack film Dilan, yaitu: 1. Kamulah Mauku, 2. Dulu Kita Masih Remaja, 3. Kaulah Ahlinya Bagiku, 4. Di Mana Kamu dan 5. Kemudian Ini.