5 Jawara Mural


Nampaknya saya masih akan terus menulis tentang event keren di Kabupaten Ende yaitu Triwarna Soccer Festival yang punya tiga mata acara yaitu event utama Bupati Cup, Pameran dengan tema Bego Ga'i Night, dan Lomba Mural. Sebagai anggota Tim Lomba Mural, saya tentu fokus pada lomba yang satu ini, yang telah berakhir tanggal 11 Maret 2019 kemarin (penambahan waktu satu hari). Dan kali ini ijinkan saya memamerkan lima jawara mural dari Lomba Mural Triwarna Soccer Festival.

Baca Juga: 5 Mural Favorit

Lima jawara mural ini murni keputusan juri yang mutlak alias tidak dapat diganggu-gugat; yang telah disetujui peserta melalui surat pernyataan. Saya menyaksikan sendiri betapa dewan juri harus bekerja keras untuk bisa menghasilkan keputusan tersebut. Awalnya hanya empat jawara yang ditentukan oleh panitia Triwarna Soccer Festival yaitu Juara I, Juara II, Juara III, dan Juara Favorit. Tetapi dewan juri yang baik hati itu kemudian memberikan satu hadiah khusus juri yaitu Juara Pilihan Juri yang hadiahnya pun dari para dewan juri. Uh wow sekali kan ya juri-juri kita ini. Mereka orang seni dan mereka tahu betapa seni sebenarnya tidak dapat diukur dengan Rupiah, tetapi mereka ingin bisa menyumbangkan rasa kagum mereka meskipun hanya untuk satu perserta.

Lomba Tanpa Biaya Pendaftaran


Saya pikir hal ini perlu kalian ketahui. Lomba Mural ini tidak dikenakan biaya pendaftaran sepeserpun oleh panitia alias gratis. Selain itu, panitia menyediakan cat dasar untuk para peserta loh yaitu masing-masing tim/peserta memperoleh cat hitam 2kg, cat putih 2kg, cat biru 1kg, cat merah 1kg, dan cat kuning 1kg. Apabila terjadi kekurangan cat, itu menjadi tanggungan peserta, serta tentunya peralatan melukis ditanggung sendiri oleh peserta. Panita juga menyediakan skafolding dua unit per tim/peserta.

Saya pikir, panitia sudah sangat baik ya hehehe. Tidak ada biaya pendaftaran, cat dasar ditanggung, menyiapkan skafolding, dan waktu lomba selama tujuh hari. Yang lebih penting, piala untuk Juara I, Juara II, Juara III, dan Juara Favorit ditiadakan. Kok itu menjadi penting? Karena, dengan meniadakan piala, panitia menawarkan biaya (bukan kompensasi tetapi apresiasi) kepada peserta yang tidak mendapat posisi juara. Dengan kata lain, semua peserta mendapat hadiah uang pembinaan meskipun uang pembinaan yang diperoleh tim/peserta yang tidak juara ini tidak sebesar yang diperoleh para juara. Dan setelah pertemuan kembali dengan para peserta, semuanya menyetujui. Ah, luar biasa.

Tema yang Unik


Berbeda dari lomba mural yang pernah diselenggarakan tahun 2014, kali ini temanya unik, menurut saya. Karena tema-tema yang ditentukan oleh Tim Lomba Mural, dibantu dewan juri, merupakan tema yang mungkin tidak terpikirkan oleh para peserta sebelumnya. Tema lebih kayak dan nyaris mengambil semua perkara dari Kabupaten Ende seperti tokoh atau pahlawan lokal, hasil bumi dan hasil laut khas Kabupaten Ende, properti adat, simbol adat, rumah adat, aktivitas harian masyarakat lokal, hingga tarian-tarian adat. Saya suka sama tema-temanya. Saat technical meeting, penarikan lot tema dan nomor bidang mural, dewan juri pun telah menjelaskan bahwa tim/peserta yang mendapat properti adat, misalnya, dapat mengeksplor seluas-luasnya hal-hal yang berkaitan dengan properti adat. Demikian kira-kira; silahkan berkreasi sebebas-bebasnya tanpa mengimbuh unsur-unsur politik dan menyinggung SARA.

Nah, saatnya sekarang saya membahas tentang para jawara Lomba Mural Triwarna Soccer Festival. Cekidoooot ...

Juara I: Sindu dan Wati


Sindu dan Wati sama-sama berarti wadah anyaman berbahan daun (daun lontar sih kebanyakan). Ini merupakan salah satu properti adat. Tema ini ditentukan oleh dewan juri dan dipilih peserta saat technical meeting (penarikan lot: tema dan bidang). Tim yang mendapat tema sindu dan wati adalah B13 Pu'u Zeze. Ini dia hasilnya:


Pergerakan tim ini memang lambat, menurut saya, tapi ternyata itu karena mereka sangat memerhatikan detail, yang menjadi salah satu unsur penilaian dewan juri. Lihat betapa detailnya mereka melukis sindu dan wati, biji kopi, sirih dan pinang, sarung tenun ikat yang dilipat dan diletakkan di atas wati, hingga bingkai motif tenun ikatnya. Juri sempat bertanya sangat lama soal pencahayaan serta memberi saran lipatan selendang bingkai yang seharusnya tidak terang pada lipatan tersebut (lebih gelap, harusnya).

Selamat ya! Kalian keren!

Juara II: Feko dan Lamba


Feko dan lamba merupakan alat musik tradisional dari Kabupaten Ende. Yang mendapat tema ini adalah Kelor Crew. Mereka betul-betul mengikuti arahan dewan juri tentang tema utama dengan unsur-unsur pendukungnya. Bisa kalian lihat pada gambar di bawah ini:


Saat presentasi, Kelor Crew menjelaskan tentang alat musik ini, termasuk tentang mengapa wajah salah seorang pemain alat musik berwarna kemerahan. Karena kebiasaan kita, kalau ada acara-acara adat, pasti minum satu sloki dua sloki moke. Ha ha ha. Orang Ende bilang: kena telak. Dari semua aliran realistik, Kelor Crew adalah tim yang paling mendekati.

Selamat, ya! Kalian keren!

Juara III: Gerugiwa


Yang satu ini sudah saya bahas di pos Teknik Airbrush. Mural tema (burung) Gerugiwa ini dibikin oleh Bimo Crew dengan Ketua Tim Anggi Mukin asal Ndona. Waktu Bimo Crew menjelaskan filosofinya, saya agak merinding. Imajinasi mereka sungguh 'liar'. Dan dalam seni, semakin 'liar' semakin uh wow hehe. Itu menurut saya. Kalau kalian tidak setuju, bodo amat!


Mural Gerugiwa ini punya begitu banyak filosofi (dari satu mural!). Nah, kalian harus membaca filosofinya di Pos Teknik Airbrush. Rugi kalau tidak membacanya hehehe. 

Selamat, ya! Kalian keren!

Juara Favorit: Sato dan Gambus


Sato dan gambus merupakan alat musik tradisional Kabupaten Ende. Konon, untuk tahu betul soal sato dan gambus, pesertanya yaitu PMI Kabupaten Sikka, berburu informasi hingga ke Desa Waturaka. Ya, mereka adalah satu-satunya tim/peserta dari luar Kabupaten Ende. Seharusnya ada satu lagi sih peserta dari Kabupaten Sikka, tapi Jenick mengundurkan diri. Ini dia hasilnya:


Keren ya. Digambarkan seorang lelaki bersarung ragi mite sedang memainkan alat musik. Dengan latar belakang Danau Kelimutu sebagai ikon wisata utama Kabupaten Ende. Menurut dewan juri, kelemahan gambar ini adalah pada pewarnaan dari si lelaki dengan warna-warna (alam) di sekitarnya. 

Selamat, ya! Kalian keren!

Juara Pilihan Juri: Rumah Adat


Di Kabupaten Ende ada banyak kampung adat yang terdiri dari rumah adat dan unsur-unsurnya. Di dalam murla karya Niporell Art ini kalian dapat melihat gambaran Kampung Adat Nggela (saya ingat betul kuburan berbentuk perahu tersebut). 


Ah, mereka membikin saya jadi pengen pergi ke Nggela lagi hehe. Saya memang selalu suka kampung adat serta simbol-simbolnya yang berfilosofi dalam.

Itu dia lima jawara mural dari Lomba Mural Triwarna Soccer Festival. Yang juara maupun belum juara, semua sama-sama hebat dan keren. Saya menunduk hormat untuk mereka semua.

Marilonga


Marilonga merupakan tema tokoh/pahlawan lokal yang diperoleh Win Art Tim. Meskipun belum juara, tapi saya suka bagaimana tim ini menggambarkan Marilonga yang sangat kami cintai itu:


Luar biasa!


Demikianlah lima jawara Lomba Mural Triwarna Soccer Festival. Melihat hasil karya mereka yang luar biasa membikin Ketua Panitia dalam acara penutupan kemarin mengatakan bahwa masih ada kesempatan untuk yang belum juara, untuk berkarya di lomba-lomba mural yang akan datang. Yipieeee! Artinya, akan ada lagi donk lomba mural. Iya sih, kan belum semua bidang di tembok pagar Stadion Marilonga terpenuhi.

Semoga.

Baca Juga: 5 Yang Cantik

Bagaimana, Himawan? Sudah terpenuhi juga rasa penasarannya kan? Hehehe. Semoga suka sama hasil karya para peserta ya. Next time saya akan ulas tentang mural-mural lain yang belum meraih juara dalam lomba kali ini. Dan, maafkan apabila belum bisa blogwalking haha. Maklum.



Cheers.

Teknik Airbrush


Akhirnya Lomba Mural Triwarna Soccer Festival 2019 telah selesai. Tadi siang, pukul 14.00 Wita, empat belas peserta telah mempresentasikan hasil karya masing-masing di hadapan Dewan Juri, tamu undangan, dan masyarakat umum yang menonton. Salah satu peserta yang meraih Juara III adalah Bimo Crew. Mereka menggunakan teknik campuran dalam berkreasi di bidang yang telah disediakan pada tembok pagar Stadion Marilonga. Teknik tersebut adalah menggunakan kuas dan airbrush.

Baca Juga: Paper Bed

Sebelum saya mengulas tentang para pemenang Lomba Mural ini, mari kita simak dulu, apa sih teknik airbrush itu?

Airbrush


Menurut Wikipedia, airbrush adalah teknik seni rupa yang menggunakan tekanan udara untuk menyemprotkan cat atau pewarna pada bidang kerja. Dalam catatan sejarah seni lukis moderen, airbrush baru berkembang pada akhir abad ke-19. Tahun 1879 dikenal sebagai tahun penemuan teknik melukis dengan memanfaatkan tekanan angin yang dikenal dengan teknik airbrush ini. Alat yang digunakan untuk mentransfer cat ke media lukis awalnya disebut paint distributor. Orang yang berjasa menemukan alat ini adalah Abner Peeler, seorang penemu profesional yang sepanjang hidupnya melakukan berbagai percobaan. Kemudian Peeler menjual patennya pada Lyberty Walkup dari perusahaan Walkup Brothers pada Agustus 1883.

Charles L. Burdick, seorang seniman Amerika yang tinggal di Chicago menemukan pen bertipe internal mix airbrush. Setelah penemuan ini, pada tahun 1893 ia pindah ke Inggris untuk mendirikan Fountain Brush Company. Burdick orang yang berjasa dalam memodifikasi alat ciptaan Peeler sehingga menjadi alat yang mudah digunakan karena bentuknya menyerupai pena. Ia memperkenalkan sekaligus mematenkan temuannya yakni needle control system atau sistem kontrol pengeluaran cat dengan sebatang jarum.

Menurut salah seorang Dewan Juri yaitu Om Konk yang juga dikenal sebarai Ketua Komunitas Mural Ende, kuas atau airbrush ini adalah perkara kebiasaan. Tidak ada yang lebih menonjol antara keduanya. Semua kembali pada kebiasaan si seniman dan skill-nya. 

PMI Kab Sikka & Bimo Crew


Ada dua tim dari Lomba Mural Triwarna Soccer Festival yang menggunakan teknik campuran; kuas dan airbrush yaitu PMI Kab Sikka dan Bimo Crew. PMI Kab Sikka menyabet Juara Favorit sedangkan Bimo Crew meraih Juara III.

Mural Syarat Filosofi


Ijinkan saya bercerita tentang mural yang syarat filosofi. Silhkan dibaca, untuk pahami makna mural yang bersangkutan. Sudah saya pos juga di Facebook:


Mural tema (burung) Gerugiwa ini dibikin oleh Bimo Crew dengan Ketua Tim Anggi Mukin asal Ndona. Mural ini meraih Juara III. Waktu Bimo Crew menjelaskan filosofinya, saya agak merinding. Imajinasi mereka sungguh 'liar'. Dan dalam seni, semakin 'liar' semakin uh wow hehe. Itu menurut saya. Kalau kalian tidak setuju, bodo amat!

Mural Gerugiwa ini syarat filosofi. Sekali merengkuh dayung, dua tiga makna terungkap.

1. GERUGIWA DAN DANAU KELIMUTU

Gerugiwa adalah satwa/burung khas yang habitatnya di Taman Nasional Kelimutu: Danau Kelimutu. Kaitan Gerugiwa dan Danau Kelimutu, cek poin nomor dua di bawah 👇

2. DANAU KELIMUTU

Danau Kelimutu digambarkan dalam tiga rupa. Dari kanan ke kiri arah mural yang bersangkutan: 
a. Ata Bupu (bintang-1)
b. Ko'o Fai Nua Muri (bintang-2).
c. Ata Polo (bintang-3).

Ata Bupu digambarkan sebagai orangtua yang mulutnya membuka dan ada elemen pegunungan dan air terjun, Ko'o Fai Nua Muri digambarkan sebagai wanita, dan Ata Polo digambarkan sebagai iblis(api) membara. Tapi, dobel makna dari mural itu, silahkan baca poin tiga di bawah 👇

3. ELEMEN KEHIDUPAN

Elemen kehidupan adalah dobel filosofi. Dengan kata lain, mural ini bermakna ganda:
Yang pertama: UDARA dari si Gerugiwa sendiri (kepakan sayap di udara).
Yang kedua: TANAH dari si Ata Bupu. Saya mendefenisikannya sebagai orangtua (ata Bupu), bumi, tempat kita berpijak.
Yang ketiga: AIR dari si Ko'o Fai Nua Muri. Saya memaknai air sebagai simbol kehidupan. Perempuan (ibu) adalah air kehidupan kita. Dan, berwarna biru. Ibu adalah kedamaian.
Yang keempat: API dari si Ata Polo. Mau apa lagi? Kalian pasti bisa mendefenisikannya juga kan?

4. DUA SUKU

Dua sayap yang melebar dari si Gerugiwa merupakan simbol dua suku yang hidup di Kabupaten Ende yaitu Suku Ende dan Suku Lio.

5. SI MATA SATU

Ko'o Fai Nua Muri ini digambarkan satu matanya tertutup ekor Gerugiwa. Filosofinya adalah bahwa masih banyak kaum muda Ende yang tidak tahu tentang Gerugiwa sebagai satwa khas milik kita yang boleh dibanggakan dan wajib dilestarikan bersama. Cocok kan dengan Tiwu Ko'o Fai Nua Muri yang digambarkan sebagai danau muda-mudi?

Saya trekdung banget waktu mendengarnya. Itu benar, kawan.

Sungguh keliaran imajinasi yang bikin saya pribadi kagum dan merinding. Dan saya harus menulisnya saat ini juga, agar kalian juga tahu. Agar filosofi Gerugiwa dari Bimo Crew ini kita nikmati dan resapi bersama. 

Ada yang tidak setuju?

Bodo amat 😁

Terima kasih semua peserta, empat belas, yang telah memberi warna baru pada tembok pagar Stadion Marilonga. Sampai jumpa di lomba berikutnya. Kalian semua hebat. Kita Ata Ende sangat bangga, termasuk juga untuk kawan PMI Kab Sikka yang meraih juara Favorit. Saya menunduk hormat atas semua karya kalian.

#LifeIsGood
#LombaMural
#TriwarnaSoccerFestival

Ya, perlu kita akui, mereka semua hebat!


Saya ingin sekali mengulas para jawara Lomba Mural ini, tapi kayaknya pos ini bakal panjang banget. Jadi, untuk lima pemenangnya bakal saya tulis pada pos #KamisLima. Sekalian memenuhi rasa penasarannya Himawan Sant. Hehehe. Mohon bersabar yaaaa. 

Yang jelas, para peserta Lomba Mural telah membuktikan bahwa di Kabupaten Ende, dan kabupaten tetangga, ada talenta-talenta luar biasa di bidang seni lukis/mural ini. Dan talenta-talenta ini harus terus dibina dan dirangkul. Karena ke depannya kita tentu ingin akan ada lagi lomba-lomba mural bukan? Entah dengan kalian, kalau saya sih hyess.

Terima kasih Triwarna Soccer Festival. Upaya dan pencapaian yang luar biasa.


Cheers.

5 Mural Favorit


Lomba Mural yang merupakan salah satu mata acara dari Triwarna Soccer Festival telah dibuka dengan resmi oleh Ketua Panitia yaitu Bapak Lori Gadi Djou pada Senin, 4 Maret 2019. Sejumlah limabelas peserta/kelompok mulai berkreasi di bidang pagar tembok stadion kebanggan kami Orang Ende, Stadion Marilonga. Terhitung telah empat hari lomba berjalan dan masih tersisa tiga hari lagi sebelum penjurian final dan pengumuman pemenang. Siapakah yang akan menjadi pemenang? Itu masih tanda tanya seperti pada gambar awal pos ini. Hehe.

Baca Juga: 5 Yang Cantik

Selama empat hari berjalan, sambil nongkrong dan ngopi di tenda pameran Komunitas Kopi Detusoko, tugas saya adalah memotret prosesnya. Karena ada dua skafolding yang ditumpuk agar peserta dapat mencapai bidang paling atas, saya kesulitan bisa memotret semuanya. Tapi setidaknya ada lima mural-sedang-proses yang menjadi favorit saya. Yuk kita cek ...

1. Perempuan Menenun


Salah satu tema mural adalah perempuan sedang menenun. Tema ini dipilih oleh panitia karena menenun merupakan salah satu aktivitas perempuan di Kabupaten Ende baik pada Suku Ende maupun pada Suku Lio. Tentang proses pembuatan tenun ikat dapat dilihat pada pos Proses Pembuatan Tenun Ikat. Salah satu pos kebanggaan saya hahaha.


Gambarannya seperti pada gambar di atas. Proses kelompok ini termasuk cepat karena pada hari pertama bidang ini masih kosong. Saya suka melihatnya.

2. Tokek


Tokek merupakan salah satu simbol yang melekat pada rumah-rumah adat dalam bentuk ukiran pada kayu-kayunya. Selain tokek saya pernah melihat simbol hewan seperti ayam. 


Peserta ini datang dari kelompok/komunitas difabel. Menariknya, mereka mengikuti arahan juri dimana tokek dapat dipasangkan pada benda-benda lain yang memang dapat dilekatkan. Jadi, di mana kah gambar tokeknya? Ada pada perisai yang dipegang oleh si pahlawan saat pulang berperang. Wah, mendengar penjelasan singkat dari pesertanya saja saya sudah bisa membayangkan bagaimana nanti hasilnya.

3. Feko dan Lamba


Feko dan lamba merupakan alat musik tradisional. Sama dengan penggambaran tokek di atas, feko dan lamba merupakan tema utama yang didukung oleh unsur-unsur lain yang mengikat seperti para pemainnya yang menggunakan pakaian adat.


Wajah salah seorang pemainnya realistis sekali ya. Hehehe. Duh kok saya jadi dagdigdug ya? Para peserta ini hebat-hebat semuanya. Mereka paham betul pengarahan dari dewan juri dan mereka sangat kreatif!

4. Marilonga


Marilonga adalah nama pahlawan lokal yang sangat kami banggakan dan patungnya dapat dilihat di daerah Wolowona sebagai pintu masuk Kota Ende bagian Timur. Stadionnya saja bernama Stadion Marilonga hehehe.


Gambaran umum Marilonga sudah bisa kalian lihat juga kan. Saya suka penambahan pahlawan lokal di bagian kanan atas sosok Marilonga.

5. Tarian Wanda Pa'u


Ini dia tarian kebanggaan kami. Tarian ini pasti ada di setiap acara baik tradisional maupun moderen. Sama seperti tarian Gawi. Tarian yang pasti menggunakan selendang ini sudah terlihat penarinya di bidang yang ditentukan.


Terima kasih yaaaa kalian semua kece badai!

Memang banyak yang realistik, tidak abstrak, tapi setidaknya lomba ini telah menjadi wadah dan alat penambang. Bahwa buktinya di Kabupaten Ende (serta peserta kabupaten sekitar yang juga ikutan), ada begitu banyak anak muda yang berbakat di dunia seni khususnya mural ini. 


Sebagai 'ibunya anak-anak' saya harus bisa untuk selalu ada untuk mereka, para peserta. Harus bisa mendengar dan memenuhi kebutuhan mereka. Tentu bukan saya pribadi, tapi oleh sub panitia lain. Misalnya ketersediaan skafolding hingga urusan tempat sampah setiap kelompok dipenuhi oleh Seksi Perlengkapan. Ketersediaan listrik untuk yang menggunakan teknik airbrush dipenuhi oleh Seksi Listrik dan Soundsystem. Ketersediaan air minum dipenuhi oleh Seksi Konsumsi. Saya dan teman-teman seperti Om Konk, Cesar, dan Rolland, hanya mengkoordinir saja.

Jadi, selama Lomba Mural ini panggilan saya macam-macam. Ada yang memanggil Kakak, ada yang memanggil Kakak Ibu, ada yang memanggil Ibu Negara, ada yang memanggil Ibu Yang Baik, dan lain sebagainya. Mana-mana suka. Saya asyik saja. Hahaha. Manapula bergaul sama seniman itu memang bikin hepi berlapis. 

Menariknya dari Triwarna Soccer Festival dengan pertandingan yang memperebutkan Bupati Cup, Bego Ga'i Night, hingga Lomba Mural, adalah diskusi demi diskusi. Setiap hari saya berdiskusi dengan banyak orang; sesama panitia, bareng peserta Lomba Mural, sama para pengisi tenda pameran, hingga pengunjung. Diskusi ini melahirkn ide-ide baru hingga memperbaiki beberapa hal. Kemarin malam misalnya, bersama Bapa Harry, Mas Chandra, dan Om Konk, kami berdiskusi tentang penambahan Aksara Lotta yang merupakan aksaranya Orang Ende pada mural yang dilombakan. Bersama Ferdianus Rega, misalnya, kami berdiskusi tentang kopi sebagai komoditas unggulan kami Orang Ende, Orang Flores, serta pengelolaannya. Jadi diskusi ini yang, menurut saya, semakin membuka wawasan.

Kembali pada Lomba Mural. 5 Mural Favorit bukan berarti mereka sudah pasti menang. Tidak, kawan. Saya tidak punya hak untuk menentukan, karena itu hak dewan juri yang mutlak, nanti, dan tidak bisa diganggu oleh siapapun. Bisa jadi yang favorit hari ini dapat berubah hehehe. Karena kan ini masih sedang dalam proses, bukan hasil akhir.

Baca Juga: Di Nagekeo Hati Saya Tertambat

Oh ya, di setiap bidang diwajibkan untuk dilengkapi dengan bingkai. Bingkai ini haruslah motif daerah. Motif tenun ikat. Kece lah.

Bagaimana dengan kalian? Apa cerita kalian hari ini, kawan?



Cheers.