Kopi Malam Selepas Berbuka Puasa Bersama

Buka Puasa Bersama Obon Tabroni Hendi Suhendi Nurfahroji Bekasi
Obon Tabroni saat buka puasa bersama bersama relawan Dapil 4 Kab Bekasi. 
"Jika Anda bingung tentang apa yang harus Anda lakukan, itu pertanda kemenangan musuh Anda." - Toba Beta, penulis buku "Master of Stupidity".

Dalam kesempatan berbuka puasa bersama Bang Obon TabroniBang Hendi Suhendi dan M Nurfahroji, seperti biasa Bang Obon selalu bisa membangkitkan semangat para relawan dari berbagai kecamatan yang masuk dalam Dapil 4 Kabupaten Bekasi; Tarumajaya, Babelan, Tambun Utara, Sukawangi dan Tambelang.

"Udah banyak contoh dari temen-temen yang membuktikan bahwa kegagalan malah jadi pemacu semangat berjuang. Jangan karena Oji enggak jadi dewan terus temen-temen berhenti bergerak untuk memperjuangkan masyarakat utara ini."

Demikian sedikit yang sempat saya dengar dari Bang Obon kepada sekitar 60 orang hadirin acara buka bersama yang cukup bersahaja di Kampung Gabus Bulak Desa Sriamur Kec Tambun Utara, Sabtu 11 Mei 2019.

Saya yang awalnya mengira undangan buka bersama dadakan ini hanya akan dihadiri Nurfahroji selaku pemangku hajat, tidak menyangka akan dihadiri oleh Bang Hendi Suhendi terlebih dihadiri Bang Obon yang digadang-gadang lolos ke DPR-RI. 

Di sela kesibukannya memantau perhitungan suara yang menurut kabar tinggal menunggu rekap dari beberapa kecamatan, Obon Tabroni masih sempat mampir dan kembali membuktikan tidak ada jarak antara dirinya dan keluarga besar relawan yang sempat hadir dalam acara buka puasa bersama ini. Kopi malam ini benar-benar bervitamin lah :)
Buka Puasa Bersama Obon Tabroni Hendi Suhendi Nurfahroji Bekasi
Nurfahroji menyemangati relawan
Sementara itu, Oji yang dalam pilcaleg kemarin tidak berhasil meraih kursi anggota DPRD Kabupaten Bekasi dengan raihan suara sekitar 4300-an juga menyampaikan motivasi kepada hadirin agar tetap melakukan apa yang selama ini telah dilakukan dalam membantu masyarakat, khususnya terkait kegiatan di Jamkeswatch.

"Jangan karena saya gak dipilih oleh masyarakat tertentu lalu kita meninggalkan mereka, kalau mereka butuh bantuan yang kita bisa, kita wajib membantu. Kita ini pejuang, banyak jalannya, politik hanya salah satu jalan, kalau gagal di sini kita masih punya jalan lain," ungkap Oji mantap.

Selain memohon maaf dan mengucapkan terima kasih atas apa yang teman-teman sudah lakukan selama pilcaleg dan hingga saat ini mengawal suaranya, Oji dalam hal ini menunjukkan kelasnya dengan kedewasaan sikap tanpa kehilangan arah tujuan pergerakannya.

Kekecewaan atas hasil pilcaleg kemarin tidak membuat ia lantas kehilangan karakternya. Ini yang menurut saya dibutuhkan oleh teman-teman relawan, contoh sikap ksatria yang cepat bangkit menyusun strategi baru dan menguatkan moril rekan-rekan seperjuangannya. Oji mampu menghidupkan kembali semangat teman-teman seperjuangan dan meyakinkan arah pergerakan selanjutnya.

"Jika Anda bingung tentang apa yang harus Anda lakukan, itu pertanda kemenangan musuh Anda," tulis Toba Beta dalam sebuah bukunya. Dari sikap yang ditunjukkan oleh M Nurfahroji malam tadi, menurut saya jelas sekali Oji tahu persis apa yang selanjutnya akan ia lakukan. Pembelajaran yang ia dapat dari proses pilcaleg kemarin justru mematangkan strategi pergerakannya.

"Kita adalah petarung, gak ada alasan untuk mundur sebelum apa yang kita perjuangkan berhasil. Mungkin jalannya saja yang berbeda," tegas Oji, menyisipkan pesan moralnya saat menjawab beberapa pertanyaan dari hadirin.

Alhamdulillah, acara buka puasa bersama yang saya kira akan berjalan biasa saja ternyata banyak menyimpan catatan tersendiri bagi saya. Bagi saya, membedakan orang sukses dan gagal adalah dengan menyaksikan bagaimana orang tersebut bangkit dari kegagalannya.

Kalau kata Om Bill Gates, merayakan kemenangan itu mah biasa aja, yang penting itu mengambil pelajaran dari kegagalan. "It’s fine to celebrate success but it is more important to heed the lessons of failure."

Masih banyak kutipan-kutipan motivasi yang bisa kita bahas, tapi apalah artinya kutipan kata-kata kalau kita bisa menyaksikan sendiri dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Kalau tidak ada, mungkin Anda salah bergaul atau berada dalam lingkaran pertemanan yang salah :)

Saya bangga bisa mengenal dan dekat dengan pribadi-pribadi yang matang dengan pengalaman-pengalaman lapangan seperti Bang Obon Tabroni, Bang Hendi Suhendi dan M Nurfahroji ini. Hanya waktu saja yang akan membuktikan kesuksesan mereka, sekarang ataupun nanti.

Salam


Percobaan Gagal


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Masih berhubungan dengan DIY tapi saya tidak menulisnya di #RabuDIY melainkan dalam #PDL.

Ketika saya melihat aneka video di Youtube tentang proyek-proyek DIY, terkhusus tentang memanfaatkan jin dari dalam botol bekas atau jin yang tidak terpakai lagi, salah satu karya yang menarik perhatian adalah mangkuk. Bagaimana mereka, dengan lihainya, membikin mangkuk berbahan jin. How can? Karena antusias, malam itu juga saya mencoba membikinnya. Ah, mudah. Cuma menyatukan potongan-potongan jin pada mangkuk yang diolesi lem PVA.

Baca Juga: Kubur Batu di Lamboya

Ternyata ... oh lala. Hasilnya sungguh buruk. Gambar hasil yang buruk itu bisa kalian lihat di awal pos. Tapi saya tidak menyerah. Mari mencobanya lagi. Dan ... gagal lagi.

Akhirnya, pada percobaan yang ke-sekian, saya berhasil membikin mangkuk jin tapi sedikit mengubah tata caranya. Tidak seratus persen sesuai dengan yang ditonton di Youtube. Oh, ternyata kegagalan bukan berarti sama sekali tidak bisa membikinnya, melainkan pelajaran untuk berusaha dan kreatif. Benar kan? Pengalaman yang sama juga saya alami saat menulis baik fiksi maupun non-fiksi. Percobaan itu selalu terpeta pada paragraf pertama.


Percobaan yang gagal adalah pelajaran paling berharga. 

Oh iya, bagaimana dengan hasil mangkuk jin itu? Eitsss sabar dulu. Tidak sekarang. Bakal saya pos di #RabuDIY! Hehe.

Baca Juga: Foto Kreatif #1

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernah mencoba dan gagal, tapi tidak menyerah? Never give up, dibalik percobaan yang gagal, ada kesuksesan yang menanti.



Cheers.

Cetak Saring

Salah satu goals kegiatan keren #EndeBisa (di SMA Negeri 1 Ende) adalah Kewirausahaan yang waktu itu fokus pada cetak saring.

Hola! Dengan penuh semangat saya menyapa kalian semua pengunjung blog ini. Memangnya kemarin tidak semangat? Kemarin, hari ini, besok, harus tetap semangat, tapi hari ini lebih semangat karena pada akhirnya Triwarna Soccer Festival 2019 telah berakhir pada Senin kemarin (1 April 2019). Itu artinya, hari-hari di Stadion Marilonga pun telah berakhir dan saya kembali dapat menikmati waktu berkualitas bersama keluarga. Sumpah, saya merindukan mengobrol berlama-lama dengan Mamatua dan Mamasia, menanyakan ini itu pada Indra, menanyakan urusan kuliah pada Thika, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Re:Ease

Hari ini di #SelasaTekno saya mau membahas tentang cetak saring yang sering disebut sablon. Menulis ini karena saya teringat pada pos TSF 'Story, ttentang Triwarna Soccer Festival yang telah menggerakkan banyak lini di Kabupaten Ende terutama perekonomian; baik barang maupun jasa. Salah satu jasa tersebut adalah jasa sablon.

Cetak Saring atau Sablon


Menurut Wikipedia, cetak saring adalah salah satu teknik proses cetak yang menggunakan layar (screen) dengan kerapatan tertentu dan umumnya berbahan dasar nylon atau sutra (silk screen). Layar ini kemudian diberi pola yang berasal dari negatif desain yang dibuat sebelumnya di kertas HVS atau kalkir. Kain ini direntangkan dengan kuat agar menghasilkan layar dan hasil cetakan yang datar. Setelah diberi fotoresis dan disinari, maka harus disiram air agar pola terlihat lalu akan terbentuk bagian-bagian yang bisa dilalui tinta dan tidak. 

Kaos Relawan Bung Karno Ende; cetak saring menggunakan tinta emas-karet.

Proses pengerjaannya adalah dengan menuangkan tinta di atas layar dan kemudian disapu menggunakan palet atau rakel yang terbuat dari karet. Satu layar digunakan untuk satu warna. Sedangkan untuk membuat beberapa warna dalam satu desain harus menggunakan suatu alat agar presisi.

Sapta Indria


Pada pos tentang Mengetik 10 Jari Itu Biasa kalian akan menemukan cerita tentang sebuah Diklusemas (Pendidikan Luar Sekolah oleh Masyarakat) bernama Sapta Indria. Iya, itu milik (alm.) Bapa, dahulu kala. Selain kursus mengetik, kursus akuntansi, dan pernah juga kursus komputer, Sapta Indria juga menawarkan layanan jasa sablon. Oleh karena itu saya tidak asing dengan dunia sablon ini dan masih mengingat istilah:

1. Screen.
2. Negatif.
3. Kamar Gelap.
4. Rakel.

Kamar gelap itu betul-betul gelap haha.

Kalau pada Wikipedia tertulis HVS atau kalkir maka di Sapta Indria yang saya ingat sih kalkir dan pasti selalu ada alat tulis merek Boxy. 

Zaman itu, selain untuk keperluan seragam olah raga (kaos) sekolah dan institusi, (alm.) Bapa tidak pernah menerima pesanan cetak saring berdesain kreatif. Jadi desain untuk seragam olah raga itu ya begitu-begitu saja; hanya permainan jenis dan ukuran huruf, ditambah logo. Kemudian Abang Nanu juga membuka usaha tersebut dan mulai banyak yang memesan desain kreatif dengan bermunculannya komunitas anak muda. Salah satunya Speltranix. Ough yess, komunitas ini luar biasa bekennya di Kota Ende.

Baca Juga: Teknologi Dasar

Selain seragam kaos, Sapta Indria juga mencetak saring logo perusahaan/kantor (pada kertas HVS). Jadi tergantung pesanan.

Lesunya Cetak Saring


Cetak saring mulai lesu di Kabupaten Ende karena beberapa sebab. Sebagai pengamat *tsaaah* saya menganalisa alasannya, salah satunya adalah transportasi. Semakin mudahnya transportasi, kemudian, membikin sekolah dan institusi lebih mudah memesan seragam olah raga dalam jumlah besar langsung di Pulau Jawa. Otomatis banting harga.

Kembali Menggeliat


Cetak saring kembali menggeliat salah satunya, menurut saya, adalah berkiblat pada Dagadu dan Joger. Siapa yang tidak suka memakai kaos dengan tulisan dan desain kreatif? Lantas muncul usaha anak NTT, kaos: desain dan cetak saring bernama Rumpu Rampe Ink. Desain Rumpu Rampe Ink sangat saya sukai. Salah satunya pada gambar di bawah ini:


Cetak saring kembali 'menguasai' Kabupaten Ende. Bermunculan begitu banyak usaha anak muda (mereka benar-benar kreatif) di bidang layanan jasa yang satu ini. Kita tinggal membawa desain, memilih kaos (jenis, ukuran, warna) dan dicetak sama mereka. Kadang-kadang mereka juga membantu mendesain dan mengirimkan desainnya pada kita (via WA) untuk dipertimbangkan. Kalau setuju, tinggal naik cetak. Begitu mudahnya.

Teknologi Cetak Saring


Menariknya, di tengah maraknya digital printing, cetak saring masih digandrungi baik oleh pelaku wirausaha maupun pelaku konsumen. Teknologi cetak saring memang tidak semudah digital printing. Peralatan untuk cetak saring antara lain:

1. Screen

Screen berpigura, kata saya. Pigura ini semacam pemida yang fungsinya menarik screen agar tidak kusut dan mudah memindai negatif.

2. Rakel

Kayu dengan satu atau kedua sisi berbahan karet untuk menarik cat di atas screen.

3. Negatif Desain

Bisa pada kalkir, yang ditempel di screen dengan teknik khusus (di kamar gelap).

4. Desain

Zaman dulu desainnya susah. Zaman sekarang desainnya lebih mudah dilakukan di komputer.

5. Tinta

Tentu tinta khusus yang digunakan untuk bermacam media untuk dicetak saring.



Bangga Memakai Kaos Cetak Saring


Sejak H&R, Ossela, dan sejenisnya, semacam menghilang dari peredaran/pasaran Kota Ende, saya mulai memakai kaos cetak saring. Ada yang dulu dicetak sama (alm.) Bapa, semakin ke sini ya tinggal pesan saja. Hanya saja, saya sering mendapat kaos gratisan sehingga itu menambah kebanggaan saya memakainya, hahaha. Seperti kaos #EndeBisa yang diberikan oleh Ampape Sablon, atau kaos-kaos komunitas lainnya.


Kaos-kaos cetak saring ini semacam menjadi identitas kita. Cukup pakai kaosnya, orang sudah pasti tahu, ooooh itu Tuteh dari #EndeBisa. Atau, oooooh itu Tuteh dari Relawan Bung Karno Ende.


Cetak saring dapat menjadi salah satu usaha yang patut diperhitungkan oleh anak muda dalam dunia wirausaha. Intinya, menurut saya, adalah bagaimana kita mencintai suatu pekerjaan baik pekerjaan kantoran maupun pekerjaan wirausaha. Wirausaha butuh banyak riset tentang perkembangan usaha kita sendiri dan keinginan pasar. Bila keinginan pasar belum dapat kita penuhi sekarang, artinya kita yang harus lebih giat belajar dan berusaha untuk bisa memenuhinya di masa datang. Saya sendiri memang tidak punya bakat di dunia cetak saring, tapi saya suka bermain kata, bisa jadi saya menggandeng teman yang punya usaha cetak saring dengan menjual desain kata. Itu salah satu contoh sederhana. Apabila ada yang memang jago desain, tentu dengan usaha yang cukup, dia dapat menjual desainnya pada orang-orang yang berkecimpung di dunia cetak saring.

Relasi ... relasi ... relasi. Jagalah. Itu penting.

Kreatif ... kreatif ... kreatif. Tidak hanya menjaga, tapi harus terus bisa berkembang dan mengasah kreativitasnya.

Baca Juga: Teknik Airbrush

Bagaimana dengan kalian, kawan? Apakah ada yang punya usaha cetak saring? Bagi tahu donk hehehe.



Cheers.

Bodo Amat


Masih ingat pos berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat? Pos #SabtuReview yang belum sempurna karena saya belum selesai membacanya tapi pengen banget menulis proses memperoleh buku keren yang satu ini, yang diberikan oleh sahabat saya Ferdinandus Setu. Hyess, the story behind the book. Pada akhirnya saya menyempatkan membaca buku ini setiap ada waktu luang-pendek misalnya jeda selama perjalanan, nongkrong di kantin, atau sebelum tidur malam. Bisa menyelesaikan buku yang ditulis oleh Mark Manson ini merupakan pengalaman mental yang ausam. Menurut saya. 

Baca Juga: The Book of Origins

Jadi, apa saja yang bisa saya tulis dari hasil membaca tuntas Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat? Mari kita cek ...

About Mark Manson


Seorang blogger. Yang akan mengingatkan kita pada Raditya Dika, pada Kerani dari ChaosAtWork (My Stupid Boss), pada Trinity. Tulisan-tulisannya di blog didominasi dengan aneka tips dan/atau motivasi menarik tentang menjalani hidup, tanpa terkesan menggurui, dan menulisnya dari sudut pandang berbeda. Silahkan cek sendiri di sini.

Diambil dari blog Mark Manson.

Tulisan-tulisan di blog itu kemudian dijadikan buku dengan judul The Subtle Art of Not Giving a F*ck. Yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. 

Diambil dari blog Mark Manson.

Life is not about getting rid of problems, it's about finding better problems. It's not about avoiding failuer, it's about getting better at failure. Terjemahan bebasnya: bodo amat! Hahaha. Sampai sekarang Mark Manson masih terus menulis blog-nya dengan konten-konten menarik. Silahkan dibaca. Kalau kesulitan sama bahasa Inggris, buka kamus.

Di Atas Langit Masih Ada Langit


Kalian pasti sering mendengar istilah: (janganlah terlalu dipikirkan) di atas langit, masih ada langit. Itu kesan pertama saya membaca buku ini. Kita cenderung terlalu fokus pada satu masalah. Terlalu fokus dari satu sudut pandang saja. Dan, dan tanpa sadar alam bawah sadar kita menolak untuk berpikir dari sudut pandang berbeda. Sudut pandang berbeda akan menunjukkan pada kita, sebenarnya, bahwa masalah yang sedang dihadapi itu ternyata tidak seberapa dibanding masalah lainnya yang jauh lebih besar/sulit.

Contohnya: empat bungkus nasi kuning bekal perjalanan yang dititip di sepeda motor saya jatuh di daerah Desa Moni, sementara para pengendara sepeda motor lainnya pasti berharap nanti sarapan dengan nasi kuning itu saat istirahat di daerah Wolowaru. Apakah nasi kuning yang jatuh itu masalah besar? Tidak, ketimbang memikirkan nasi kuning yang jatuh dan terlindas sepeda motor itu, kami lebih memikirkan tentang kehati-hatian berkendara lintas Pulau Flores dan berharap tidak ada seorang pun yang mengalami nasib buruk dalam perjalanan jauh dari Kota Ende ke Kota Maumere. Karena kecelakaan lalu lintas, apalagi berakibat pada kematian, merupakan masalah yang sangat besar jika dibanding empat bungkus nasi kuning.

Jadi, masih ada masalah yang, ke depannya bisa jadi, lebih besar dari sekadar jatuhnya nasi kuning di Desa Moni. 

Seni #2: Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan (Mark Manson, 2018:19).

Hidup memang sulit. Lantas, apakah kita hanya akan memikirkan tentang kesulitan hidup saja? Bangkitlah, masih ada yang lebih sulit dari kesulitan kita, misalnya orang-orang yang negaranya masih berperang. Mereka belum bisa memikirkan tentang tabungan emas Pegadaian, misalnya, mereka masih memikirkan tentang rumah ... apakah keesokan hari rumah mereka masih berdiri atau malah rata dengan tanah akibat dihantam granat atau bom. Atau, apakah besok mereka masih hidup?

Kira-kira hal-hal semacam itulah.

Menghadapi Masalah Adalah Jalan Menuju Bahagia


Ketika kita dihadapkan pada masalah, rasanya dunia runtuh, marah, kesal, tak henti-hentinya mengomel. Beberapa orang cenderung untuk lari dari masalah alias membiarkannya saja tanpa upaya untuk menyelesaikannya. Mereka berpikir bahwa lebih bahagia dengan tidak menyelesaikan masalah itu. Lupakan. Tapi justru itu letak masalahnya ... karena kita tidak akan bahagia hanya dengan membiarkan suatu masalah. Karena menyelesaikan masalah merupakan pengalaman positif yang baik untuk diri kita.

Nilai-Nilai Sampah


Dalam menjalani hidup tidak disadari kita dibendungi oleh nilai-nilai sampah. Apakah nilai-nilai sampah itu? Ada empat nilai sampah yang ditulis oleh Mark Manson yaitu:

1. Kenikmatan.
2. Kesuksesan material.
3. Selalu benar.
4. Tetap positif.

Menariknya adalah penjelasan tentang tetap positif. Bukankah kita sering sekali memotivasi diri sendiri untuk tetap positif? Mark Manson menulis bahwa pengingkaran terhadap emosi negatif menuntut kita untuk mengalami emosi negatif yang lebih dalam dan berkepanjang, serta disfungsi emosional. Terus menerus bersikap positif justru merupakan salah satu bentuk pengelakan terhadap masalah, dan bukan cara yang tepat untuk menyelesaikannya. Contoh yang dilampirkan Mark Manson adalah bahwa ketika kita marah pada seseorang, itu alami karena kemarahan adalah bagian dari kehidupan. Tapi ketika kita memilih untuk tidak memukul seseorang karena marah itu adalah pilihan tepat karena marah adalah alami dan memukul adalah perkara lain yang menimbulkan perkara yang lebih besar.

Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Sebaliknya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif (Mark Manson, 2018:10).

Perihal poin selalu benar, saya pikir ini memang nilai sampah terhakiki hahaha. Karena ketika merasa selalu benar atau memposisikan diri sebagai pihak yang selalu benar maka kita tidak belajar apa-apa dari sesuatupun. Percayalah, saya pun juga sudah mengalaminya. Kita pernah benar, tapi tidak selalu benar kan? Artinya sebagai manusia kita pun tidak luput dari salah. Belajar banyak dari hal ini tentu bagus. Jangan menjadi orang yang merasa selalu benar.

Contoh Kisah


Di dalam buku ini juga termuat contoh-contoh kisah dari orang-orang yang pasti kalian tahu seperti David Mustain yang didepak dari Metallica dan kemudian membentuk Megadeth. Atau tentang Pete Best yang didepak dari The Beattles lantas menemukan 'arti hidupnya' dari pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Atau kisah tentang Hiro Onoda, seorang Letnan Dua dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (1944). Semuanya terangkum dalam sub Nilai Penderitaan. Kalau saya menceritakan semuanya, tentu bakal diprotes sama Mark Manson. Yang jelas kita akan banyak belajar dari contoh kisah-kisah di dalam buku ini.

Yakin.

Si Panda Nyinyir


Saya tergelak membaca tentang Si Panda Nyinyir ini. 

Jika saya dapat menciptakan satu pahlawan super, saya akan menciptakan pahlawan yang disebut Panda Nyinyir. Dia akan memakai sebuah topeng mata murahan dan kaos (dengan huruf kapital T di atasnya) yang terlalu kecil untuk perut pandanya yang besar, dan kekuatan supernya adalah mengatakan kepada orang-orang, kebenaran yang menyakitkan dan tergolong pedas tentang diri mereka sendiri yang perlu mereka dengar namun tidak ingin mereka terima (Mark Manson, 2018:31).

Hahaha ... Dia akan membuat orang yang mendengarnya menjadi menderita.

Tapi alasan sederhana mengapa kita mengalami penderitaan adalah bahwa secara biologis penderitaan bermanfaat. Ini adalah agen alami yang diperlukan untuk perubahan yang menginspirasi (Mark Manson, 2018:32).

Kita sering mendengar; kebenaran itu menyakitkan. Tapi itu adalah hal yang harus didengar dan/atau dihadapi untuk kemudian diselesaikan. Si Panda Nyinyir ini bisa jadi sisi lain dari diri kita; mungkin dalam kehidupan bisa jadi dia adalah sahabat karib kita.

Lucu juga saat saya membayangkan si Panda Nyinyir ini. 

Apa Yang Harus Dilakukan Dengan "Bodo Amat"?


Bodo amat merupakan kalimat yang berkonotasi negatif. Bodo amat identik dengan masa bodoh. Menurut saya. Sehingga kalau membaca bodo amat, pastilah pikiran kita terbawa pada perilaku masa bodoh, acuh, dan sekelasnya. Tapi jika bodo amat dilakukan dengan seni, seperti yang ditulis Mark Manson, justru menjadi positif. Seni itu ada di mana? Ada di buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat.

Bodo amat putus cinta, ketimbang terus-terusan menerima perlakuan buruk dari dia.

Bodo amatlah terlambat datang di pertemuan, ketimbang tidak Shalat Jum'at.

Bodo amat ...

Bodo amat ...

Bodo amat ...


Pengalaman mental yang saya peroleh usai membaca buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat memberi peluang pada otak saya untuk berpikir lebih jauh. Contoh: baru-baru ini di Facebook ada sebuah akun yang mengatakan Lomba Mural itu tidak berfaedah karena hanya mencoret-coret dinding saja. Ketika saya membalasnya dengan penjelasan yang baik, akun tersebut malah membias pada hal-hal lainnya. Terakhir dalam hati saya bilang: bodo amat! Kalau dulu, akun semacam itu bakal saya ladeni sampai ke akar-akarnya!

Haha.

Baca Juga: Menghargai Perbedaan Dalam The Help

Bagaimana dengan kalian? Apakah sudah membaca buku ini? Kalau sudah, bagi tahu yuk di komentar pendapat kalian!



Cheers.

5 Desa 5 Potensi


Alhamdulillah awal tahun 2019 sudah banyak kegiatan yang saya lakukan baik kegiatan yang berhubungan dengan kampus, maupun kegiatan di luar kampus. Salah satu kegiatan di dalam kampus yang saya sukai adalah peliputan kegiatan Natal Bersama di Fakultas Ekonomi yaitu Misa Oikumene yang dipimpin oleh Pater John Ballan, SVD. dan Pendeta Ferluminggus Bako, Sth. Sedangkan kegiatan di luar kampus antara lain kegiatan #EndeBisa, ngemsi di acara ultah Ezra, ngumpulin batu bakal Stone Project (salah satu resolusi 2019), jalan-jalan awal tahun di Pantai Nangalala, hingga kerjaan tukang syuting di beberapa desa.

Baca Juga: 5 Keseruan Tinggal di Motorhome

Sebenarnya sudah lama saya menolak tawaran atau permintaan menjadi tukang syuting semacam syuting acara pernikahan. Alasannya sederhana: Cahyadi, tukang syuting andalan saya itu, sedang ada kerjaan lain yang tidak memungkinkannya untuk bekerja di pagi hari (misalnya syuting proses make up hingga pemberkatan di Gereja atau akad nikah di Masjid). Masa iya saya cuma menerima proyek syuting khusus resepsi yang umumnya dilakukan malam hari saja? Mana ada calon pengantin yang mau! Jadi, saya menolak proyek-proyek syuting itu meskipun Rupiah-nya menggoda imannya dinosaurus. Tapi ketika saya dihubungi oleh dua kecamatan yaitu Kecamatan Ende dan Kecamatan Ende Utara untuk mendokumentasikan kegiatan di desa di bawah payung Program Inovasi Desa (PID), saya langsung menyetujuinya. Alasannya juga sederhana: waktu kerja yang fleksibel.

Untuk Kecamatan Ende, Cahyadi mendapat tugas paling berat, karena lokasi desa-desa 'jajahannya' itu sangat jauh dan medan menuju lokasi yang tergolong berat. Sampai suatu kali Cahyadi pulang dan bercerita bahwa dia jatuh dari sepeda motor karena bebatuan jalanan yang tidak bisa diajak kompromi. Sedangkan untuk Kecamatan Ende Utara saya masih bisa menanganinya karena selain waktunya yang fleksibel, juga lokasinya masih dekat-dekat Kota Ende.

Dari video-video yang kemudian saya sunting, saya melihat bahwa setiap desa mempunyai potensi yang luar biasa besar, yang seharusnya menjadi fokus pemerintah untuk mengembangkannya. Agar apa? Agar masyarakat berdikari. Tentu, sebagai tahap atau langkah awal diperlukan bantuan seperti bimbingan dan pendampingan hingga dana. Bimbingan dilakukan bertahap oleh Tim PID maupun instansi terkait, sedangkan dana masih diusulkan dari dana desa.

Bapak Drs. Kapitan Lingga, Camat Ende Utara, mengungkapkan bahwa dana desa dapat dipakai untuk keperluan kelompok-kelompok dari upaya pemberdayaan masyarakat desa ini, asalkan betul dimanfaatkan dengan baik. Maksudnya adalah adanya laporan keuangan yang transparan dari penggunaan dana-dana tersebut. Kita tahu, dana desa telah membantu begitu banyak masyarakat desa untuk menikmati fasilitas diantaranya jalan desa yang dibikin baik menjadi jalan rabat, pembangunan kantor desa dan faskes, pembangunan fasilitas olahraga, hingga bantuan untuk kelompok-kelompok pemberdayaan masyarakat desa. Dana desa dilaporkan penggunaan/pemanfaatannya dua kali setahun. Jadi, setengah dana desa digelontorkan, enam bulan pelaporan baru setengahnya lagi digelontorkan. Kira-kira begitu informasi yang saya baca dari buku Dana Desa keluaran Kementrian Keuangan.

Kembali pada judul pos ini, 5 Desa 5 Potensi, saya ingin menulis tentang potensi lima desa yang telah kami dokumentasikan.

Apa saja potensi desa-desa tersebut?

1. Keripik Ubi dan Pisang


Desa Mbomba merupakan desa yang berada di bawah pemerintahan Kecamatan Ende Utara. Dua jenis hasil bumi unggulan dari desa ini adalah ubi (singkong) dan pisang. Oleh Tim PID, masyarakat desa khususnya kaum ibu dibentukkan kelompok kemudian diberdayakan untuk mengolah hasil bumi unggulan tersebut menjadi panganan tingkat dua berupa keripik ubi dan pisang.



Saya sudah merasakan hasil olahannya dan lidah saya jatuh cinta sama keripik ubinya, terutama yang belum dicampur bumbu tabur. Renyah dan gurih sekali, kawan. Rasanya mirip keripik ubi berbahan ubi Nuabosi. Untuk ubi Nuabosi, silahkan baca pos Puskesmas Cantik di Tanah Ubi Roti ini, ya.

2. Tenun Ikat


Sama dengan Desa Mbomba, Desa Gheoghoma juga terletak di wilayah Kecamatan Ende Utara. Kekayaan sumber daya dari desa ini yang diangkat oleh Tim PID adalah tenun ikatnya. Ada tiga kelompok penenun dari tiga dusun di Desa Gheoghoma yang telah dibentuk sejak tahun 2018. Mereka juga mendapatkan pendampingan dari instansi terkait salah satunya Perindustrian, serta menurut Kepala Desa, hasil tenun ikat dijual di Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Kita harapkan bersama tenun ikat dapat semakin naik nilainya di mata dunia karena proses pembuatannya cukup panjang dan melelahkan. Mereka, pada penenun itu jenius ya ... membikin motif itu! Sungguh jenius.


Pos lengkap tentang proses menenun di Desa Gheoghoma dapat kalian baca pada pos Proses Pembuatan Tenun Ikat ini.

Baca Juga: 5 Workshop Blogging & Social Media

3. Air Terjun Tonggo Papa


Sudah lama Air Terjun Tonggo Papa dikenal khalayak. Banyak yang ke sana loh termasuk teman-teman saya. Saya dan Kakak Pacar sepasukan pernah ke sana juga, tapi karena sayanya tidak kuat, karena kaki yang uzur, berhenti di tengah jalan. Mereka yang kuat, tapi karena solidaritas, justru ikutan berhenti menemani saya menikmati aroma dedaunan. Huhuhu.


Air terjun merupakan wisata alam yang paling banyak dijumpai di Kabupaten Ende. Di dekat Kota Ende saja ada Air Terjun Kedebodu. Air Terjun Tonggo Papa terletak di Desa Tonggo Papa, masih dalam wilayah Kecamatan Ende. Cahyadi yang mendokumentasikan ini. Yang saya suka adalah adanya wisata / atraksi wisata buatan seperti sayap kupu-kupu yang satu ini:


Artinya, baik pemerintah desa maupun masyarakat desa sama-sama sadar bahwa wisata alam akan lebih menarik dengan adanya wisata buatan sebagai pendukung (wisata utamanya). Haha. Itu analisa asal-asalan saya saja. Saya masih punya mimpi untuk 'harus' bisa turun-naik pergi-pulang Air Terjun Tonggo Papa. Doakan yaaaa *elus-elus kaki*.

4. Kemiri


Tidak disangka, berdasarkan pengakuan dari Kepala Desa Wologai, dinyatakan bahwa Desa Wologai sanggup memenuhi permintaan kemiri berapa ton pun. Tapi kalau minyak kemiri ... tunggu dulu. Karena itu masih merupakan rencana ke depan untuk menopang perekonomian masyarakat Desa Wologai - Kecamatan Ende.



Coba informasi ini saya peroleh dari dulu. Dulu itu ... saya dan Sisi, sahabat tergila, punya perusahaan kecil pembuatan minyak kemiri perawan haha. Maksudnya kami memproduksi minyal kemiri asli yang dikirim ke perusahaan teman di Belgia sana. Kemudian mandeg. Sebenarnya mandeg bukan karena kehabisan stok kemiri, yang adalah tidak mungkin, tapi karena satu dan lain hal *senyum manis*.

5. Virgin Coconut Oil


Kalau yang satu ini juga masih dari kelompok minyak perawan. Virgin coconut oil dari Desa Emburia - Kecamatan Ende. 


Tidak disangka di Desa Murundai yang letaknya super jauh dari Kota Ende itu sudah ada usaha pengolahan kepala menjadi virgin coconut oil dan bahkan telah diberi label! Mereka mengandalkan potensi pohon kelapa yang tumbuh subur di desa tersebut.


Prosesnya masih sederhana dan tentu masih membutuhkan bimbingan dan tambahan modal/dana. Tapi melihat hasil yang sudah dicapai sejauh ini, saya pikir dana harus digelontorkan untuk mereka. Baik dari dana desa maupun dari dana lainnya.

Setiap desa punya potensinya masing-masing. Tugas kita bersama adalah untuk melihat, menggali, mengembangkannya, hingga memperkenalkannya, demi masyarakat desa berdikari.


Di Kabupaten Ende ini banyak sekali desa (dan kelurahan) yang bisa terus digali potensinya baik potensi wisata maupun potensi hasil bumi. Semuanya masih dapat dikembangkan, terus-menerus, agar menjadi 'besar'. Tapi tentu harus ada upaya lain untuk mendukung itu semua. Desa Wologai misalnya. Desa yang jalannya luar biasa bikin jantung kebat-kebit dan bikin Cahyadi jatuh dari sepeda motor ini, akses jalannya itulah yang harus diperhatikan untuk mendukung proses jual-beli kemiri yang bisa dilayani berton-ton tersebut. Kan sayang kalau calon pembeli malas ke sana (untuk melihat kualitas kemiri misalnya) hanya gara-gara kondisi akses jalan.

Salah satu potensi desa yang pernah juga saya bahas di blog travel adalah Desa Manulondo. Di sana ada Ritual Goro Fata Joka Moka. Ini ritual tolak bala yang dilakukan bisa sampai tiga hari lamanya. Unik sekali ritual tersebut, silahkan baca kalau penasaran, dan itu merupakan potensi wisata budaya yang harus terus ada/berkelanjutan. Entah sekarang, apakah ritual tersebut masih terus dilaksanakan atau tidak. Belum lagi potensi di desa-desa lain seperti desa-desa penyangga Danau Kelimutu hingga desa-desa di wilayah pantai bagian Utara Kabupaten Ende (saya pernah peroleh informasi tentang hutan bakaunya). Luar biasa memang ... kita harus keep digging.

Baca Juga: 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)

Well, semoga pos ini bermanfaat bagi kalian semua. Siapa tahu kalian juga ingin menggali dan menceritakan lebih banyak potensi yang ada di desa kalian. Ya kan ... bagi tahu saja di papan komentar, nanti saya kunjungi blog-nya. Hehe.

Semoga bermanfaat!



Cheers.

Dessy: Merayakan Natal di Vatikan Merupakan Berkat Berlimpah dari Tuhan


Saya tidak bisa mengingat sejak kapan kami sahabatan. Sudah lama saling kenal, just say hi, kemudian mulai dekat dan bersahabat. Suka, duka, haha, hihi, kadang di kafe, seringnya di Pohon Tua. Bagi saya dia adalah perempuan hebat, penyiar kece, MC kesohor, isteri dan ibu yang luar biasa. Dan ketika Natal 2018 kemarin dia mendapat kesempatan merayakan Hari Raya Natal di Vatikan, bahkan diberi kesempatan mencium tangan Sri Paus, saya hanya bisa bilang: bangga saya sama kau, Des.

Baca Juga: Don't Breathe

Saya lalu berpikir, ini berita luar biasa, sayang jika tidak diviralkan. Saya lantas menulis di Facebook sebagai berikut:


Natalia Desiyanti merupakan salah seorang jurnalis Radio Republik Indonesia (RRI) asal Kabupaten Ende. Selain suaranya dikenal lewat udara dalam frekuensi siar Pro 1 RRI Ende, Natalia Desiyanti yang sehari-hari disapa Desy, juga dikenal sebagai MC kesohor Kabupaten Ende dengan jam terbang tinggi. Perayaan Hari Raya Natal, 25 Desember 2018, merupakan momen berharga yang tidak akan terlupakan oleh wanita yang bersuamikan Jerro Larantukan dengan putera-puteri Dimitri, Queenza, dan Gavriel. Desy merupakan satu-satunya jurnalis RRI yang lolos seleksi reporter yang diselenggarakan oleh RRI dan berkesempatan meliput perayaan Hari Raya Natal di Vatikan. Ini adalah mimpi semua Umat Katolik untuk bisa merayakan Hari Raya Natal langsung di pusat Gereja Katolik seluruh dunia.


Prestasi yang diraih Desy sebagai satu-satunya yang terpilih dari seleksi ribuan angkasawan dan angkasawati seluruh Indonesia ini masih menghadirkan rasa tidak percaya dalam hatinya. Ia yakin berkat Tuhan yang berlimpah serta potensi diri telah mengantarnya pada pengalaman rohani ini. Bukan cerita baru lagi jika masyarakat Indonesia Timur sering dipandang (serta, kadang memandang diri sendiri) sebelah mata. Kalah sebelum bertempur bukan sifatnya, sehingga Desy optimis dapat bersaing dan berkiprah di kancah nasional dan internasional. Ia melawan pesimisme dari lingkungan sekitar dengan karya dan prestasi yang bertahap dibangun dari fondasi hingga puncak. Oleh karena itu, kesempatan emas yang merupakan kepercayaan lembaga tempatnya berkarya harus dijalani dengan penuh tanggung jawab, sekaligus sebagai pembuktian bahwa potensi Indonesia Timur mampu berkiprah di tingkat Internasional.

Rentang waktu 1 minggu bertugas di Vatikan, Desy tinggal di Rumah SVD bersama para Imam SVD. Di Rumah SVD itu selain bersama para tamu wisatawan rohani lainnya dari beberapa negara di dunia, juga bersama Orang Indonesia Pertama Asal NTT, yang menjadi superior general ke 12 serikat sabda allah (SVD) Pater Paul Budi Kleden, SVD, Pater Markus Solo Kewuta yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Relasi Lintas Agama Asia Pasifik di Vatikan, dan beberapa pastor asal NTT lainnya. Selama menjalankan tugas jurnalistik pun, Desy didampingi Romo Leo Mali, yang juga berasal dari NTT yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikan Doktor nya di Roma Italia. Hal inilah yang membuatnya semakin bangga menjadi Orang NTT sekaligus menjadi motivasi bagi Orang NTT lainnya untuk melakukan karya terbaik di bidangnya masing-masing.


Selama berada di Italia, Desy mengaku mengalami kendala antara lain penyesuaian suhu karena di Italia sedang musim dingin, penyesuaian menu makanan Italia, serta perbedaan waktu (7 jam) antara Italia dan Indonesia dimana waktu bekerja di Italia biasanya menjadi waktu istirahatnya di Indonesia, demikian pula sebaliknya waktu istirahat di Italia biasanya menjadi waktu bekerjanya di Indonesia. Namun kendala-kendala kecil itu lekas teratasi pada hari kedua tugasnya di sana.

Kembali ke Indonesia, ke Kota Ende, Desy dengan senang hati bercerita tentang pengalamannya bertugas di Vatikan kepada siapapun yang bertanya. Baginya, bercerita pengalaman bertemu orang-orang hebat asal NTT, mewawancarai Duta Besar RI untuk Tahkta Suci Vatikan, singgah ke tempat-tempat bersejarah di Roma dan di Vatikan, mengelilingi Basilika St. Petrus, dan menjadi satu-satunya jurnalis Indonesia yang diberi kesempatan beraudiensi dengan Sri Paus, merupakan kebanggaan serta dapat menjadi motivasi bagi siapapun untuk terus berusaha dan menjejakkan prestasi.

Terakhir, Desy berharap semoga pengalamannya dapat menjadi daya ungkit kepercayaan diri bagi sesama, bahwa tidak ada yang tidak mungkin , jika kita berusaha sungguh dalam nama Tuhan.

***

Ketika saya menulis ini, apalagi mengaku bahwa Desy adalah salah seorang sahabat saya, mungkin banyak yang mencibir.


Namun, sebagai seorang sahabat, apalah yang bisa saya lakukan selain menulis ini. Apabila Indonesia punya Good News From Indonesia, kenapa kita tidak punya Good News From Ende? Kabar baik harus diviralkan karena sesungguhnya saya bosan pada tsunami kebohongan yang menghantam negara ini.

Salam.


Pos/status di Facebook tersebut disukai 600-an Facebooker, dan masih terus bertamah. Tentu pos di Facebook tidak bisa menyelipkan foto seperti yang saya edit pada pos di blog ini. Di Facebook, pos tersebut hanya sebagai keterangan dari beberapa foto yang juga saya unggah.

Baca Juga: Sastra Indonesia di NTT dalam Kritik dan Esay

Seperti yang sudah saya tulis di atas, saya bangga padanya. Bersahabat dengannya menambah aura positif dalam hidup saya. Kami saling berbagi informasi, berbagi kesenangan, dan berbagi rejeki hahaha. 


Betul, seperti yang Dessy katakan sendiri bahwa perjalanannya ke Vatikan ini dapat menjadi daya ungkit bagi kita semua. Prestasi setiap orang beda-beda, tujuan tertinggi Insha Allah semua ingin meraihnya, yang perlu dilakukan adalah tetap optimis, tetap berusaha, dan tentu saja tetap berdo'a memohon ridho-Nya. 

Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua :)



Cheers.

#EndeBisa Mengguncang SMAN 1 Ende



#EndeBisa merupakan salah satu upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan dalam lingkup kaum muda yang masih duduk di bangku SMA dan perguruan tinggi. Silahkan baca pos tentang #EndeBisa Menggebrak SMKN 1 Ende untuk tahu latar belakang #EndeBisa, apa itu #EndeBisa, dan apa saja yang ditawarkan oleh #EndeBisa. Termasuk, tentang Relawan Bung Karno Ende yang telah menggabungkan begitu banyak aktivis demi terlaksananya kegiatan ketje ini.

Baca Juga: Belajar Literasi Digital

Sabtu kemarin, 12 Januari 2019, #EndeBisa menyambangi SMAN 1 Ende setelah inisiasi sebelumnya oleh Relawan Bung Karno Ende. Saya sendiri memang tidak terlibat menjadi pemateri karena masih ada liputan (kerjaan) perayaan Natal Bersama di PBSI - Universitas Flores. Baru tiba di almamater saya SMAN 1 Ende sekitar pukul 11.30 Wita. Meskipun absen menjadi pemateri tapi saya tetap harus menjawab beberapa pertanyaan murid tentang dunia internet terkhusus yang ada kaitannya sama Literasi Digital. Alhamdulillah ya, haha. Senang sekali karena teman-teman Relawan Bung Karno Ende yang berkecimpung di dunia fotografi dan videografi (minggu lalu absen) juga turut serta, dan diliput langsung oleh wartawan Flores Pos.

Foto di atas, Armando (kiri - kaos abu-abu) dan Kiss (kanan - kaos merah). 

MC kali ini adalah Armando Abdullah. Dia adalah Penyiar Pro 2 RRI Ende sekaligus MC kondang Kota Ende yang dulunya adalah partner siaran saya waktu masih sama-sama di Radio Gomezone FM. Orangnya memang asli kocak dan gemar memotret sunrise atau suasana pagi Kota Ende.

Materi dan Goals


Materi apa saja yang disampaikan di hadapan sekitar 1.000an audiens? Audiens dengan semangat berkobar ingin memperoleh informasi dan menambah wawasan!

1. Pengantar tentang Relawan Bung Karno Ende oleh David Mossar


David Mossar, yang boleh saya bilang sebagai Wakil Koordinator Relawan Bung Karno Ende sekaligus bendaharanya. Fotografer kesohor ini sangat kharismatik dan low profile.


Sebagai penyusun acara, saya selalu ingin Relawan Bung Karno berada di urutan pertama sebagai pengantar kegiatan ini. Setelahnya, barulah kata sambutan dari pihak sekolah. Apa saja yang dijelaskan oleh David? Ringkasnya, David memperkenalkan tentang Relawan Bung Karno Ende dan berbagai aktivitas sosial yang telah dilakukan oleh komunitas ini. Salah satunya adalah konsentrasi terhadap perawatan bayi Anisa. 

Pasca operasi: benjolan besar di kening Anisa telah diangkat.

Kalian pasti tidak percaya bahwa saya pernah marah dan mengancam Mama Anisa yang pasca operasi kemudian ngotot harus pulang ke rumahnya di Pulau Ende karena merasa berat mengurusi Anisa sendirian di RSUD Ende. Padahal waktu itu saya sudah menawarkannya untuk makan siang akan kami siapkan, diantar ojek, dia fokus saja mengurus bayinya. Mama Anisa ini merasa 'sendiri' karena suaminya, setelah menerima uang bantuan, justru menghilang entah ke mana. Menurut saya, singkirkan dulu lah urusan suami-isteri karena kesehatan anak di atas segalanya, manapula Anisa masih demam tinggi dan pihak RSUD Ende belum mengijinkannya pulang.

Ah ... sudahlah ... nanti saya menangis lagi. Tenang di alam sana ya, Anisa.

Goal dari pengantar ini adalah #EndeKreative.

2. Etika Informasi oleh Ihsan Dato dari Komunitas SocMed Ende


Seharusnya materi kedua diisi oleh Komunitas ACIL Ende tetapi karena berhalangan maka langsung diisi oleh Ihsan Dato dari Komunitas SocMed Ende yang lahir dari rahim sebuah kegiatan keren bernama #SocMed4SocGood (Social Media for Social Good) akhir 2016 di Ende lalu yang diselenggrakan oleh Greeneration Foundation dan U.S. Embassy Jakarta.


Selain menjadi Koordinator dari Komunitas SocMed Ende dan dikenal sebagai Bapak Kepala Tata Usaha Fakultas Teknologi Informasi di Universitas Flores, Ihsan juga dikenal sebagai aktivis di kampungnya yaitu di Manulondo - Ndona dengan Lopo Cerdas. 

Goal dari materi ini adalah #EndeSocMed4SocGood.

3. Ayo Berwirausaha oleh Kiss dari Ampape Sablon


Usai kegiatan perdana di SMKN 1 Ende, David dihubungi oleh sahabatnya yaitu Kiss yang punya usaha Ampape Sablon. Singkatnya, Kiss ingin dapat menyuntik virus kepada audiens muda untuk melirik dunia wirausaha.


Dalam paparan materinya, Kiss yang merupakan Sarjana di bidang kehutanan ini bercerita tentang latar belakang mengapa dirinya kemudian banting setir ke dunia wirausaha khususnya sablon ini. Gagal di awal usaha itu pasti, tapi bagaimana caranya semangat untuk bangkit dan (kemudian) berhasil itu yang patut diteladani.


Kerennya, Kiss juga membawa peralatan sablonnya untuk langsung dipraktekkan di hadapan audiens. Bahkan, Kiss juga menyablon kaos dengan tulisan SMANSA 100% BIKIN KANGEN! Para murid juga boleh setor kaosnya yang mau disablon loh. Mereka tertarik sangat dengan sablon-sablon kaos begini. Mereka juga dapat hadiah kaos loh! Mana tahan. Hahaha.



Goal dari materi ini adalah #EndeBerwirausaha.

Baca Juga: 2019 Tetap Nge-blog

Kita berharap anak muda (peserta) mampu menggali potensi diri, mengembangkannya, dan dapat berwirausaha di tengah kancah pencarian kerja (usai lulus nanti) di masyarakat. Jangan berharap hanya jadi orang kantoran. Berwirausaha justru bagus sekali karena bisa bermanfaat bagi diri sendiri juga orang lain karena telah menciptakan lapangan kerja sendiri. Saya jadi ingat orasi Gubernur NTT Bapak Viktor Laiskodat saat wisuda kemarin.

Sudah dua sekolah yang dikunjungi oleh #EndeBisa, giliran sekolah kalian ... kapan? Haha. Jangan ditanya, kami harus membikin daftar tunggu.

Arand, salah seorang personil Relawan Bung Karno Ende yang juga punya komunitas di Kelurahan Mautapaga yaitu Mautapaga Creative.

Saya senang bisa kembali ke almamater tercinta. Mengingat Panggung Batara ini, mengingat dulu saya menyampaikan salam perpisahan dalam kegiatan perpisahan lulusan haha. Bapak Steff Hadun, masih mengabdi di SMAN 1 Ende, saya senang melihat beliau dengan senyum khasnya, dan terutama anak beliau saya kenal sebagai salah seorang penari kece asuhan Rikyn Radja. SMAN 1 Ende juga semakin bagus dilihat dari fisiknya, tentu juga dari mutu pendidikannya, dengan ikon komodo berikut ini:


Terakhir, saya harus mengakui sendiri bahwa #EndeBisa memang super keren. Niat kami untuk berbagi kebaikan telah terlaksana. Lalu, apabila semua sekolah sudah didatangi, bagaimana selanjutnya? Tenang, pemirsa. Setiap materi yang kami sampaikan itu adalah materi dasar, apabila terjadi kunjungan kedua, materi yang disampaikan merupakan kelanjutan (asalkan masih dalam tahun yang sama, dengan audiens yang sama) seperti belajar blog sebagai bentuk dari menjadi bermakna di belantara internet, belajar sablon (serta pelajaran lain dari pemateri wirausaha lainnya), belajar mengelola sampah serta tentu harus dimulai dari mengurangi sampah plastik. Karena, Indonesia telah darurat sampah.

Dan pada pos ini pula ijinkan saya mengucapkan turut berduka cita atas berpulangnya Bapak Media Sosial Indonesia Nukman Luthfie.


Beliaulah yang telah mengajari saya dalam sebuah FGD tentang mensinergikan blog dengan media sosial. Om Nukman, jalan bae-bae, kami mendoakanmu. Figur yang tak akan mudah hilang dari ingatan. Terimakasih untuk semua ilmu, informasi, dan wawasan, yang telah dibagi pada kami semua.



Cheers.

5 Pesan Gubernur NTT


Wisuda Sarjana Universitas Flores (Uniflor) Periode 20 Oktober 2018 berlangsung meriah dan meninggalkan kesan sangat mendalam bagi para wisudawan dan wisudawati. Selain bakal menerima ijazah nasional, memakai gedung baru setelah renovasi, memakai jubah dan toga baru (yang nanti bakal dikembalikan ke panitia), kegiatan wisuda Sabtu lalu itu dihadiri oleh Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur yaitu Viktor Bungtilu Laiskodat. Bahkan Rektor Uniflor Dr. Simon Sira Padji, M.A. mengatakan bahwa kehadiran Pak Viktor merupakan kehormatan tersendiri bagi beliau yang baru saja dilantik beberapa bulan lalu. Semua memang serba baru; rektor baru dan gubernur baru. Siapa tidak senang? Selain Pak Viktor, hadir juga Bupati Ende Marsel Petu dan Wakil Bupati Ende Djafar Ahmad.

Baca Juga : 5 Persiapan Wisuda

Auditorium H. J. Gadi Djou usai direnovasi. Megah ya?
Tema wisuda kali ini dari Kabupaten Sikka.

Di hadapan 838 wisudawan dan wisudawati Pak Viktor menyampaikan orasi ilmiahnya. Saya yang duduk dua baris dari depan seperti mendapat kehormatan menyaksikan betapa asyiknya beliau saat berbicara. Foto di bawah ini oleh Kakak Rossa, dari laman Facebook Humas Uniflor:


Yang menarik adalah Pak Viktor menyampaikan orasi ilmiahnya nyaris tanpa naskah. Semua yang disampaikan oleh beliau seperti obrolan antara kakak dan adik. Beliau sebagai kakak, dan kami sebagai adik. Tentu saja. Qiqiqiq. Cara orasi semacam itu membikin kantuk hilang! Asyik sekali pokoknya. Apa yang beliau sampaikan dalam orasi ilmiah itu benar-benar nyata dan menohok wisudawan dan wisudawati yang bakal menyentuh 'dunia' yang sesungguhnya dan 'berperang' dalam kancah pencarian kerja. Banyak pula wejangan dan motivasi yang membikin kami sadar bahwa NTT ini sebenarnya kaya raya.

Kita harus bangga sebagai orang NTT. Singkirkan istilah NTT; Nanti Tuhan Tolong. Singkirkaaaaan!


Ada lima pesan yang saya tangkap dari orasi ilmiah beliau. Kalian mau tahu? Harus donk hahaha apalagi anak NTT wajib tahu pesan-pesan ini.

Baca Juga : 5 Hasil Daur Ulang

1. Toleransi Hidup Beragama

Toleransi hidup beragama bukan pesan yang langsung beliau sampaikan. Tetapi melalui ragam salam dalam pembukaan orasi ilmiah, Pak Viktor menyampaikan pesan yang tersirat bahwa toleransi hidup beragama itu penting dan wajib terus dilestarikan di NTT. Dalam pembukaan tersebut beliau mengucap:

Selamat pagi.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Shalom.
Om swastiastu.

Ada satu lagi yang saya lupa, tapi bukan namo buddhaya

Salam yang disampaikan oleh Pak Viktor ini mengingatkan saya pada salam yang disampaikan Pak Jokowi. Ini merupakan salam yang mengingatkan kita semua bahwa kita adalah masyarakat Indonesia dengan multi-agama dan wajib saling hormat-menghormati. Toleransi yang sudah hidup dan berkembang di NTT ini jangan sampai luntur apalagi rusak.

2. Menjadi Entrepreneur

Pak Viktor terkenal dengan kampanyenya (dulu) tentang pohon dan daun kelor. Pohon kelor juga dikenal sebagai miracle tree yang punya banyak manfaat dalam bidang ekonomi dan kesehatan. Kalian bisa baca ulasan lengkap tentang kelor di sini. Di NTT pohon kelor tumbuh subur dan itu yang ingin diangkat oleh Pak Viktor; pohon kelor (daun, batang, dan akarnya) dapat dijadikan komoditi yang bisa dijual ke dunia luar (luar negeri).  


Mendengar ini, saya jadi terpukul karena dulu sempat bingung dengan rencana Pak Viktor mengembangkan dan membuka satu juta hektar untuk tanaman kelor. Dunia memang tak selebar daun kelor, dan ketika mendengar orasi ilmiah Pak Viktor, saya sadar bahwa otak saya ternyata sebesar daun kelor. Hiks.

3. Kelola Lahan Kita

Salah satu poin orasi ilmiah Pak Viktor, juga berkaitan dengan poin nomor 5 di bawah, adalah tentang mengelola lahan kita. Beliau bercerita tentang temannya yang bekerja di salah satu instansi di Kupang. Bertahun-tahun kemudian, saat mereka kembali bertemu, Pak Viktor bertanya tentang pekerjaan si teman. Si teman menjawab: masih di instansi tersebut dengan gaji yang dipatok oleh pemerintah.

Pak Viktor lantas bilang, "Itu kan, coba dulu kau tanam bawang seperti yang saya bilang, sudah kaya kau!"

Kira-kira begitulah yang dibilang beliau, kurang-lebih, tidak terlalu jauh lah. Hahaha. Langsung satu auditorium gerrrrr. Kita tahu, Pak Viktor termasuk salah seorang pengusaha sukses asal NTT. Intinya adalah jangan tunggu jadi PNS dan menua bersama ijasah, kawan.

4. Laut, Sumber Yang Kaya

NTT merupakan provinsi yang terkenal akan pantai-pantai indah nan eksotik. NTT juga termasuk salah satu dari sembilan fishing ground yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, beliau berharap semua masyarakat NTT bersama-sama dapat memanfaatkan laut sebagai sumber yang kaya dari NTT. Selain itu, ada satu poin yang membikin saya mengangguk sampai pengen teriak: betul, Pak!

Jadi, karena NTT ini layaknya mini archipelago Indonesia, Pak Viktor ingin transportasi lautnya harus sanggup / lebih banyak untuk menghubungkan masyarakat dari satu pulau ke pulau lainnya se-lingkup NTT. Usahakan rute dari Pulau Lembata ke Maumere, misalnya, lebih banyak dari rute Maumere ke Makassar. Lalu beliau berkata kira-kira begini:

"Kalau kita, ombak naik dua meter saja sudah tidak bisa ke laut. Tapi kita ngotot dan terus membuat perahu atau kapal yang hanya bisa menghadapi ombak satu meter."

Ha ha ha. Betul, Pak! Itu filosofi yang sangat dalam. Belajar dari pengalaman adalah intinya. Artinya kemampuan diri harus ditingkatkan apabila kita tahu bahwa di luar sana kita harus berjuang lebih dan lebih. Uih, saya nyaris berdiri dan bilang: betul, Pak! Untung urung :p kalau tidak bisa diseret sama sekuriti ke Warung Damai.

5. Jangan Tunggu Jadi PNS

Berkaitan dengan nomor tiga di atas. Betul sekali yang disampaikan oleh Pak Viktor. Fakta, memang terjadi. Bahwa banyak orang yang sekolah tinggi cuma ingin menjadi PNS. Menunggu dan menunggu jadwal CPNS dibuka oleh pemerintah dan ramai-ramai mendaftar. Padahal dunia wirausaha sedang sangat digalakkan bukan? Oleh karena itu saya mendengar Pak Viktor berkata tentang seandainya tidak ada satupun lulusan Uniflor yang mendaftar jadi PNS, sukses sudah pasti.

I see ... itu keren, Pak.

Mendengar langsung orasi ilmiah dari Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat yang juga dikenal sebagai pengusaha sukses merupakan berkah. Berkah karena saya mengetahuinya bukan hanya dari tulisan melainkan omongan dari orang yang sudah mengalaminya langsung.


Semoga lima pesan Pak Viktor di atas yang sempat saya tangkap pada kegiatan wisuda Sabtu kemarin dapat menanamkan nilai-nilai wirausaha pada wisudawan dan wisudawati. Ilmu yang telah diperoleh selama kuliah niscaya dapat diaplikasikan dalam kehidupan ... selanjutnya. Insha Allah. Berdoa dan berusaha itu wajib, sukses akan diraih. Semua tentu atas ijin Allah SWT.


Pos ini juga dipenuhi foto-foto saat wisuda Sabtu kemarin. Euforia-nya masih terasa. Qiqiqiq. Euforia karena semua orang bilang saya cantik. Halaaah cantik apanya, Teh. Kan tumben, tidak setiap hari haha. Masih terbayang pukul 03.30 dijemput Akiem terus diantar ke salonnya Deth Radja, menunggu penuh sabar jatah di-makeup. Proses ini yang sangat saya nikmati meskipun keluar ke kampusnya bukan dari rumah melainkan dari salon hahaha. Berdoa sendiri saja dalam hati agar tidak mengantuk.


Well done. Terima kasih untuk semua ucapannya. Terima kasih untuk orangtua, kakak-adik, teman-teman, tetangga, yang telah mendukung selama ini. Saya masih S1 belum S2 (lirik Pak Martin) haha. Ini kuliah yang delay-nya belasan tahun karena dulu lebih suka #KakiKereta ketimbang sekolah. Terimakasih juga Om Ihsan untuk pos blog yang satu ini: Akhirnya Penyuka Kuning Menjadi Sarjana. Luar biasa bikin haru.


Doakan saya bisa meraih gelar selanjutnya karena beasiswa ke Australia itu butuh perjuangan yang lebih dan lebih *ngakak guling-guling* Ini namanya menghayal sampai mentok hahaha.


Cheers.

Blogfam Homecoming


Kalau menulis homecoming yang ada di kepala saya hanya jaring laba-laba dan wajah imut Tom Holland. Si ganteng yang belum cukup dewasa tapi mampu merontokkan keimanan dan kesetiaan para wanita. Tapi, nampaknya, setelah menulis pos ini, Tom Holland bakal tergeser sama Thanos Blogfam komunitas blogger terbesar di Indonesia yang lahir 6 Desember 2003. Karena baru-baru ini founder Blogfam Maknyak Labibah Zain telah menggagas Blogfam Homecoming lewat status Facebook-nya seperti yang sudah saya skrinsyut berikut ini:



Tentu saja gagasan itu disambut dengan riang gembira oleh Blogfamers, termasuk saya, kamu, dan mereka. Gagasan Blogfam Homecoming ibarat mata air di padang gurun panas nan gersang yang telah lama dijajah matahari tanpa jeda waktu. Gagasan ini mengalirkan semangat kehidupan baru pada akar pohon-pohon yang sudah layu, perlahan mengering, dan nyaris mati. Padahal pohon-pohon itu telah lama hidup dan berkembang ... sayang apabila kemudian mati dan lenyap selamanya dari muka bumi diintimidasi oleh penjahat baru dari Cybertron. Hayaaah ini nulisnya sambil menghayal Transformers.



Do you know Blogfam?

Tidak semua blogger yang mulai nge-blog di tahun 2015-an tahu Blogfam. Mereka mungkin bakal bertanya balik, "Blogfam? Apa itu? Sejenis Google Adsense kah? Atau sejenis affiliate marketing?" Bahkan, mungkin tidak semua blogger yang mulai nge-blog di tahun 2015-an tahu bahwa Indonesia pernah punya begitu banyaknya komunitas blogger besar, yang berkembang, dan menjadi penggerak ragam kegiatan bermanfaat dalam kehidupan umat manusia. Bukan hanya Blogfam; ada Anging Mammiri, Wongkito, Flobamora Community, Komunitas Emak Blogger, Blogger Perempuan, dan lain sebagainya.

Beruntunglah saya bisa merasakan euforia komunitas blogger pada masa itu. Masa emas, kalau boleh saya bilang, karena dari masa itu lah saya berkembang sampai sekarang ini. Berkembang bodinya. Ha ha ha.

Mengenal banyak karakter manusia dalam komunitas sebesar Blogfam memberikan banyak pengalaman pada saya. Melalui Forum Blogfam yang dikelola dengan sangat baik dan profesional, saya jadi tahu banyak kecuali urusan 'kamar tidur' hahaha. Yang boleh masuk sub-forum Kamar Tidur harus melalui ijin admin yang bersangkutan kalau tidak salah. Forum Blogfam sudah seperti rumah kedua saya; saya merusuh hampir di setiap kamarnya kecuali 'kamar tidur'. Semua Blogfamers disambut dengan riang gembira. Semua ide boleh dilempar. Semua kreativitas boleh dipamerkan. Semua ilmu boleh dibagi kecuali ilmu santet.

Gara-gara Blogfam saya jadi punya banyak teman dari seluruh Indonesia dan dari berbagai latar belakang: dosen, musisi, fotografer, pendidik, dokter, penulis, ibu rumah tangga, mahasiswa/pelajar, dan lain sebagainya. Gara-gara Blogfam saya menciptakan sebuah lagu berjudul Kucinta Blogfam hasil begadang bareng Noel (sayangnya, link download sudah tidak bisa dibuka hiks). Gara-gara Blogfam dan cerfet nama saya ada di sampul sebuah novel berjudul The Messenger. Gara-gara Blogfam saya jadi ketemu sama mereka semua kalau ke Jakarta, berasa punya keluarga besar yang sangat sayang pada saya:


Love you all.

Cerita bersama Blogfam terus bergulir bahkan saat kami menghadiri kegiatan lain seperti Asean Blogger Community di Bali. Dalam foto di bawah ini ada si Pitax yang telah meninggalkan kita semua. Al Fatihah untukmu, Pitax:

Bunda Injul, saya, (alm.) Pitax, Kang Iwok.

Atau foto yang satu ini, saat kopdar Blogfam di Indomaret, Bandara Ngurah Rai, Bali:

Bang Iwok, Mami Vie, Bunda Injul, Saya.

Atau nongkrong di Pasar Festival di Jakarta sampai berakhir di ruang karaoke hahaha. Berasa jadi peserta American Idol, The Voice, atau X-Factor:

Uyet, saya, Lea.

Nampaknya Pasfes dan 7/11 menjadi tempat nongkrong Blogfamers selain Indomaret *dikeplak* haha:


Rugi seribu rugi kaos Blogfam saya yang warnanya abu-abu entah berada di mana. Oia foto di atas itu foto pas kita nongkrong di 7/11, ada Arie Haryana juga dedengkotnya Kamera Lubang Jarum Indonesia. Saya masih simpan loh kamera lubang jarum pemeberian Arie. Makasih ya, Rie atas semua ilmu tentang kamera lubang jarum yang meskipun singkat sangat mudah dipahami. Saya juga dapat kaos Blogger Detik dari Kakak Mas.

Sayangnya tidak semua Blogfamer masih nge-blog tapi masih aktif wara-wiri di media sosial seperti Twitter dan Facebook. Ada yang sudah hiatus bertahun-tahun dan entah kapan kembali hehehe. Beberapa yang masih nge-blog dan terhubung ke aggregator Blogfam masih bisa dilihat update-an blog-nya. Tapi orangnya yang itu-itu juga; Salman, Om Bisot, Pak Jaf, dan saya. Mungkin yang lain masih ada yang rajin update blog, tetapi sayanya saja yang kehilangan jejak karena blog atau situs mereka tidak konek ke aggregator Blogfam. Entahlah. Yang jelas saya sangat merindukan mereka semua.


Blogfam juga punya akun Twitter yang dipegang oleh beberapa admin; si mimin dan si maman. Pada masa kejayaannya, akun Twitter @Blogfam ini ramainya luar biasa. Hehe. Bahkan ada salah satu program talkshow-nya yaitu #BincangNgeblog yang mengudara (cieeee mengudara) setiap Kamis kalau tidak salah. CMIIW. Program ini memang program kepo hahaha, yang bakal mengulik banyak hal dari blogger tamunya. Mau tahu profil blogger favorit kalian? Pantau saja #BincangNgeblog! Tapi sekarang sudah tak ada hahaha.



Kenapa Blogfam (Kemudian) Sepi?

Karena banyak sebab. Menurut saya, sebab paling utama adalah kesibukan/pekerjaan atau rumah tangga masing-masing anggotanya. Sebab yang kedua adalah adanya media sosial (Twitter, Facebook, Path) sehingga aktivitas nge-blog berganti ke aktivitas media sosial yang lebih kilat proses unggahannya. Karena kalau menulis di blog setidaknya harus ada persiapan materi yang cukup tergali. Sedangkan media sosial, Facebook misalnya, sekali jepret dan diberi caption, langsung unggah. 

Tapi saya tidak akan berhenti dari urusan blog ini. Setelah cukup lama hiatus, hilang muncul atau timbul tenggelam, sekarang saya lebih fokus nge-blog. Boleh dibilang dunia tulis-menulis yang membangkitkan saya untuk kembali rajin nge-blog. Mulai sadar kalau setiap hari selalu ada yang bisa ditulis di blog. Mulai lebih sedikit baik dalam menulis; jika dibandingkan dengan tulisan lama, bedanya bagai setengah-surga dan neraka. Hehe. Mulai lebih informatif dibandingkan dulu yang cuma menulis curhatan ibu peri gendut tentang galauness yang endless. Bersama Kakak Anazkia dan Om Bisot, saya juga membuka Kelas Blogging NTT yang sudah sampai Angkatan II dan telah belajar sampai Literasi Digital.


Sebagai anggota Blogfam ke-29 or 2-something or 9-something, CMIIW, haha, saya berharap Blogfam terutama forumnya dapat kembali ada. Setidaknya situs aggregator-nya dapat kembali ramai. Kangen sama bloglist yang seabrek yang dulu hampir setiap hari saya kunjungi. Kangen sama cerita-cerita mereka semua tentang hidup dan kehidupan. Kangen untuk haha-hihi lewat shoutbox yang sekarang sudah tidak ada ... yaaaa haha-hihi lewat komentar blog juga boleh lah. Kangen sama istilah kutu loncat yang dilontarkan pada saya. Kangen keramahan dan persaudaraan tanpa batas yang telah terjalin selama ini.

Itu harapan saya ... Semoga Blogfam dapat kembali hidup dan berjaya di akademi fantassiiiiiii dan berjaya!

Semoga.



***

Menulis ini pada hari ke-empat cuti. Nantikan #CeritCuti pada pos-pos berikutnya *halah*.



Cheers.

#PDL Jalan Malam Keliling Kota

Simpang Lima Ende.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; jalan-jalan di sekitar Kabupaten Ende, backpacker-an ke tempat-tempat di luar Kota Ende, merusuhi acara, termasuk perbuatan iseng bin jahil bin nekat.

***

Saya ini orangnya tidak tentu. Kadang spontan, kadang penuh rencana. Ketika saya menjadi begitu spontan (halah, bahasanya) biasanya orang lain yang keki setengah mampus sampai ingin mengeluarkan isi otak saya. Tapi kalau sedang berencana dan orang lain melanggar rencana itu, suasana hati saya langsung memburuk penuh mendung hitam menggantung, tinggal tunggu petir dan guntur mengamuk. Jadi kalau ditanya saya ini tipe seperti apa ... bingung juga hahaha. Sulit mendeskripsikan diri sendiri. Yang jelas saya tidak suka makan orang, tidak suka lelaki, tidak suka tipu-tipu. Tipu itu ... apa ya ... sekali menipu nanti akan terus menipu. Itu menurut saya.


Omong-omong ... eh, nulis-nulis soal spontan dan penuh rencana ini, berkaitan dengan kegiatan jalan malam keliling kota yang seterusnya disebut JMKK (ini istilah dari sahabat saya si Sisi; namanya Sisi). Iya, pernah. Saya pernah jalan malam keliling kota. Demi apa, anak-anaaaak? Demi mengurangi kadar gula dalam darah. Soal bobot yang berkurang banyak, itu super bonus. Sebenarnya, ide awal JMKK ini datang dari Sisi. Tapi dia jalannya siang bolong. What? I can't! Pekerjaan tidak memungkinkan saya jalan siang bolong keliling kota yang kalau disingkat menjadi JSBKK. Soal singkatan ini, jangan pernah menyingkat nama saya karena jadinya PDIP.

Adalah Inggi alias Mei Ing, ya - dia lagi, yang menyarankan saya untuk JMKK. Syaratnya: setelah mandi dan Shalat Subuh Maghrib, JMKK, setelahnya tidak boleh mandi lagi thanks God, dan tidur. Apakah saya melakukannya? Belum. Saat Inggi menyarankan itu, saya masih uring-uringan dan lebih sering menghabiskan waktu di depan teve menonton serial ini itu yang tayang di Fox, AXN, StarWorld, NatGeo. Syukurlah sekarang teve telah tidak dinyalakan di rumah kami.

Lantas ...

Spontanitas itu pun datang ...


Tanpa persiapan, tanpa aba-aba, sore itu (yang saya ingat tahun 2012) saya mengajak asisten Mamatua yang lama yang dipanggil Mamasin (bukan Mamasia) JJMK! Belum selesai wajah melongo Mamasin, belum selesai otaknya mencerna ajakan JMKK yang sangat tiba-tiba itu, saya sudah menyeretnya menuju jalan raya. Tanpa sepatu. Mamasin meringis ingin menangis tapi karena saya mengajaknya mengobrol, sakit pada telapak kaki pun hilang atau dia pura-pura kakinya tidak sakit lagi. Waktu itu memang tidak pakai sepatu karena konon katanya bagusan tidak pakai sepatu.

Mural di Polres Ende. Ende Lio Sare Pawe.

JMKK bersama Mamasin waktu itu dilakukan kontinyu, setiap malam usai Shalat Maghrib, dengan rute yang berganti-ganti. Hari pertama rute-nya yang singkat-singkat saja. Hari berganti hari seolah waktu akaaan malah nyanyi lagunya sinetron Tersanjung haha. Hari-hari berikutnya rute kami menjadi lebih jauh. Yang biasanya hanya satu kilometer JMKK, menjadi enam kilometer. Pokoknya semakin banyak keringat yang keluar, semakin bahagia perasaan saya. Sebahagian kalian yang akhirnya dilamar :p

Apa efeknya?

Efek JMKK sangat luar biasa. 

Efek pertama adalah mengantuk. Setiap kali kadar gula dalam darah meningkat atau berkurang, beberapa penderita diabetes merasa sangat mengantuk + sekali. Parahnya kantuk ini menyerang kapan pun dia mau. Pernah saat sedang mengendarai Oim Hitup (my matic) dari luar kota menuju Kota Ende, saya nyaris keluar dari badan jalan. Tuhan, tolong ... kalian tahu kan kondisi jalan antar kabupaten di Pulau Flores? Kanan jurang, kiri tebing. Kanan tebing, kiri sawahnya orang. Alhamdulillah setelah berhenti sejenak, loncat-loncat, membayangkan wajah Ryan Gosling, saya bisa melanjutkan perjalanan dan tiba di rumah dengan selamat.


Enam bulan JMKK kontinyu, dengan sesekali absen, efek yang lebih kentara di mata orang lain adalah bobot. Haaa? Suara ndenga/sengau antara tidak percaya tapi senang banget sama penilaian orang.

Are you sure?

Really?

Iyess. Bobot saya berkurang ternyata dan itu saya sadari ketika berusaha memerhatikan pakaian di tubuh. Oh, iya agak longgar di sana, di sana, dan di sana. Lemak pipi pada ke mana ya? Artinya, JMKK benar-benar menyukseskan saya mengurangi kadar gula dalam darah. Bonus: bobot berkurang banyak!

Bunga di halaman orang haha.

Lanjutannya ini berhubungan dengan manusia sebagai makhluk lemah ciptaan Tuhan. Sebagai manusia lemah iman, yang suka lekas puas sama hasil, saya kemudian berhenti JMKK. Efeknya? Kadar gula dalam darah kembali naik gara-gara sedikit keringat yang dikeluarkan sejak berhenti JMKK itu. Payah lu Teh. Tentu, ketika kadar gula meningkat saya jadi sering mengantuk juga hahaha. Tapi kengerian sebenarnya bukan pada kadar gula dalam darah, melainkan neuropathy yang kemudian menyerang kedua kaki saya. Awalnya hanya satu jari yaitu jari manis di kaki kiri, akhirnya merambat ke seluruh kaki.

Dan saya masih menertawai betapa bodohnya saya berhenti JMKK waktu itu. Saya tertawa karena untung kaki saya yang mati rasa dan menjadi menjengkelkan kala tidur malam. Bagaimana kalau perasaan saya yang mati rasa?

Bueh.

Setelah itu saya masih saja dengan kebiasaan buruk yakni jarang olahraga. Sering melewatkan jalan sehat mingguan bersama teman-teman kantor. Sering melewatkan ajakan olahraga dari teman-teman lain. Hingga saya mulai diet DEBM pada tahun 2018 kemarin, yang menyebabkan kadar gula dalam darah saya kembali berhasil dirosotkan (APA PULA BAHASA INI) dari 400-an menjadi 50-an. Dan itu tidak boleh. Maka saya kembali mengkonsumsi karbo meski tidak banyak. Efeknya juga ke bobot tubuh. Itu pasti.


Pikir punya pikir, kalau DEBM utuh kadar gula dalam darah saya merosot terlalu jauh, sedangkan saya kembali mengkonsumsi sedikit karbo ... maka saya harus punya solusi lain.

A-ha!

*tring!*

JMKK!

Again.

Spontanitas JMKK kali ini melibatkan Ocha yang mana dia juga senang karena ingin membesarkan betis. Itu katanya Ochaaaa, bukan kata saya hehe. Sudah semingguan JMKK dan efeknya terasa sekali di kaki.

Kalau dulu JMKKnya hanya sambil mengobrol dengan Mamasin, maka sekarang JMKKnya sambil foto sana sini terutama kalau melihat tanaman di rumah orang. Gemas-gemas bergembira lah kita. Beberapa foto JJMK bisa kalian lihat sepanjang membaca pos ini.

Bagaimana dengan kalian? Pernah JMKK juga?


Cheers.