Arsip Kategori: motivasi

5 Perkara Yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan


5 Perkara Yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan. Tumben menulis ini. Memang. Adalah sangat di luar kebiasaan. Saya sendiri juga kaget kenapa mendadak ide ini muncul di kepala pada saat listrik padam, sehingga terpaksa drafnya saya tulis di aplikasi catatan smartphone, karena kuatir idenya menguap. Mungkin karena akhir-akhir ini linimassa media sosial, terutama Facebook, selain dipenuhi status dan share artikel demo RKUHP juga dipenuhi status dan artikel tentang bagaimana seharusnya membina hubungan. Mungkin juga karena selama hampir tujuh bulan terakhir saya memperbaiki dan mengasingkan diri dari perkara-perkara yang mengganggu pikiran dan perasaan. Mungkin. Artinya, tidak pasti.

Baca Juga: 5 Alasan Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo

Tulisan ini adalah tentang diri saya sendiri sebagai seorang perempuan. Perempuan lain mungkin juga butuh membacanya. Refleksi? Bukanlah. Curhat? Ah, Presiden Negara Kuning males curhat hahaha. Apa ya? Terserah kalian mengapresiasinya sebagai apa. Anyhoo, hubungan yang saya maksudnya di sini adalah hubungan asmara. Hubungan asmaranya pun antara lelaki dan perempuan. Kita sepemahaman dulu tentang ini.

Mari lah dimulai.

1. Hubungan Itu Tentang Chemistry


Saya sadari betul. Hubungan itu tentang chemistry. Tentang percikan kimiawi antara dua insan. Tanpanya, jangan coba dipaksakan. Dengannya, beranilah mencoba meskipun duri-duri melukai sampai berdarah-darah. Saya pernah berpikir bahwa lelaki yang bakal menciptakan percikan bersama saya itu harus setampan Orlando Bloom, sekharismatik Richard Gere, sekaya Bill Gates, atau yang jago sihir kayak Harry Potter. Ternyata ... Tidak. Karena chemistry itu sesuatu yang abstrak. Dia muncul bukan akibat dari fisik dan harta benda semata. Ada x-factor yang menyebabkan chemistry itu tercipta. Percayalah, saya sudah pernah melewatinya.

Bagi saya, chemistry itu tentang butterflies in my stomach. Tentang rindu yang tak terbantahkan. Tentang pertanyaan: who the hell are you? Tentang logika yang menguap. Tentang pandangan realistik yang tiba-tiba upside down sampai saya sepertinya tidak mengenal diri saya sendiri. Tentang rasa nyaman ketika bersamanya, face to face in real life maupun face to face by video call. Saya percaya, chemistry itu kekuatan paling dasar dari sebuah hubungan. Seperti lirik lagunya Babyface dan Des'ree. Fire. 

2. Hubungan Itu Tentang Kepastian


Ada lelaki yang tidak suka tentang hal ini. Menetapkan tanggal atau bulan jadian, misalnya. Tapi perempuan, terutama diri saya pribadi, harus punya tanggal jadian (oke, kita pacaran dan saling mengikatkan diri). Tanpanya, saya atau perempuan di luar sana bakal merasa oleng. Sepele memang, tapi percayalah, ini cukup penting. Ada teman yang bilang, pikiran ini muncul di benak saya gara-gara belajar hukum khususnya Hukum Perdata. Tidak juga ... sejak belum mengenal dunia hukum pun saya sudah punya pikiran seperti ini.

Bayangkan saja, jika ada pertanyaan: kapan kalian jadian? Lebih parah pertanyaan: kapan kalian menikah? Terus jawabnya: yaaa eeerrr ya itu tahun lalu entah kapan mendadak sudah jadian, pokoknya gitulah. Atau: mendadak saja kami sudah jadi suami isteri. Haha.

Kapan Indonesia merdeka?
Kapan pelantikan DPR?
Kapan WHO berdiri?

3. Hubungan Itu Tentang Komunikasi


Pentingkah komunikasi dalam sebuah hubungan? Bukankah saya milik kau, kau milik saya, sudah cukup? Bele (Om/Paman), saya bilang ya, komunikasi itu mahapenting meskipun tidak harus maharomantis. Komunikasi tidak perlu harus ada kata 'sayang' dan 'I love you' di dalamnya. Komunikasi, saling bercerita tentang kehidupan masing-masing, selera, warna favorit, kebiasaan, do and don't, keinginan masing-masing apabila hubungan ini diteruskan, bahkan keluarga. Perlulah ini dilakukan. Agar saling tahu baik buruknya. 

Kalau boleh saya tulis, komunikasi adalah jembatan penyeberangan perasaan dua insan yang sudah mau saling mengikatkan diri dalam suatu hubungan. Percayalah, dari komunikasi kita jadi tahu banyak tentang pasangan, yang selama ini mungkin hanya kita ketahui dari omongan dan bisik-bisik orang lain. Bukankah komunikasi juga merupakan elemen penting, secara umum, kehidupan umat manusia? Tanpanya, Upin Ipin takkan bisa belajar di Tadika Mesra. Haha.

Dan, tentu saja, komunikasi adalah penawar dari rindu yang tumpang tindih.

4. Hubungan Itu Tentang Saling Mengerti


Kata 'saling' ini harus diperhatikan. Karena, kadang lelaki mau dimengerti terapi tidak mau mengerti perempuan. Demikian pula sebaliknya, kadang perempuan hanya mau dimengerti tanpa mau mengerti si lelaki, gara-gara keseringan dengar lagunya Ada Band - Karena Wanita Ingin Dimengerti. Oleh karena itu, perhatikan kata 'saling'. Saling mengerti. Saat lelakinya sibuk, perempuan harus bisa mengerti. Demikian pula saat perempuanya sibuk, lelaki harus mengerti. Terutama jika keduanya sama-sama punya tingkat kesibukan super tinggi.

Tapi ingat, jangan pernah mengerti terhadap pasangan yang selingkuh. Itu kedunguan tingkat dewa. Oh saya sangat mengerti pasangan saya jadi saya ijinkan dia selingkuh. Mengertilah apabila dia tidak bisa menghubungi terus-menerus. Mengertilah apabila dia harus mementingkan keluarga dan teman-temannya terlebih dahulu. Mengertilah apabila dia harus tunduk pada atasannya karena di situlah sawah dan ladangnya.

Sebagai perempuan, tentu saya atau kalian ingin bisa mengerti si lelaki. Dan saya ingin semua orang mengerti bahwa apabila hubungan baru sampai tahap pacaran, janganlah meminta semua waktunya. Karena, sebelum mengenal kita dia sudah lebih dulu mengenal orangtuanya, kakak adiknya, keluarganya, tetangganya, teman-temannya. Apalah kita yang datang di pertengahan hidupnya? Makanya, saya paling anti sama pacar dan/atau isterinya teman yang suka menghalangi pertemanan atau persahabatan. Hei, kalau saya mau, sudah dari dulu saya kawin sama lakimu itu. Hahaha. Bercandaaaaa.

5. Hubungan Itu Tentang Harapan Bersama


Harapan sebuah perselingkuhan akan menimbulkan masalah besar. Pasangan si dia pasti tidak bisa menerimanya. Tapi harapan dua orang yang berpacaran dan/atau ta'aruf, dengan kondisi sama-sama bujang, itu pasti ada. Mana ada manusia yang maunya pacaran terus tanpa punya harapan duduk di pelaminan dan membina rumah tangga. Jadi tidak salah kalau saya menulis, hubungan itu tentang harapan bersama. Harapan ini dapat tercipta apabila telah lebih dulu tercipta chemistry, kepastian, komunikasi, dan saling mengerti.

⇜⇝

Setelah menulis semua di atas, lalu membacanya kembali, saya merasa lucu. Betul-betul ini sebuah ide yang tidak biasa untuk pos blog ini, tapi ide yang biasa untuk catatan pribadi di T-Journal. Meskipun tulisan ini adalah tentang saya pribadi, sebagai seorang perempuan yang belum menikah, namun ini berlaku untuk semua orang: lelaki dan perempuan. 

Baca Juga: 5 Program KKN Uniflor Keren Dalam Pengabdian Masyarakat

Kadang-kadang, ketika menjalani sebuah hubungan, kita berkata dalam hati: jalani saja dulu, biarkan mengalir, nanti juga mentok. Saya bertemu dan belajar dari seseorang yang menolak mentah-mentah kalimat 'jalani saja dulu'. Baginya, tidak ada kata jalani saja dulu. Apabila chemistry sudah tercipta, maka dia akan sungguh-sungguh melakoninya. Setelah lama saya pikir-pikir, ada benarnya. Jalani saja dulu itu semacam keputusasaan tanpa usaha untuk menjadikannya jadi. Atau, jalani saja dulu itu semacam ketidakpastian. Jalani saja dulu ... nanti kalau cek-cok pisah saja. Amboi, perasaan itu kalau bisa bicara dia bakal memaki kita hahaha.

Sekian dulu ya. Feel free kalau mau komentar.

Semoga bermanfaat :)

#KamisLima




Cheers.

Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 1)

Sumber gambar: Les' Copaque

Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 1). Siapa tidak kenal Upin Ipin? Saya mulai menontonnya pada tahun 2007. Sosok fiksi dua bocah kembar itu sulit tersapu dari ingatan. Tak hanya Upin Ipin, benak kita tentu masih menyimpan sosok fiksi lainnya seperti Kak Ross yang garang tapi sebenarnya sangat sayang pada Upin Ipin, Opa (Mak Udah) yang bijak, Tuk (Datuk/Datok) Dalang yang kesohor di Kampung Durian Runtuh yang punya nama lengkap Isnin bin Khamis, Uncle Mutu dengan dagangan khas ABCD-nya, Saleh si penjahit nyentrik, dan masih banyak lagi! Bagi saya, Upin Ipin bukan sekadar filem/serial kartun biasa. Upin Ipin mengajarkan penontonnya banyak hal. Dan semua anak Indonesia memang harus menonton Upin Ipin.

Baca Juga: Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Memangnya, apa sebab semua anak Indonesia harus menonton Upin Ipin? Banyak sebabnya! Yang jelas, berdampak positif. Mau tahu? Baca sampai selesai donk. Tapi ini baru bahagian 1, bahagian 2-nya minggu depan! Sabarlah menanti.

Mengenal Upin Ipin


Dari berbagai informasi yang saya kumpulkan di internet seperti Wikipedia, Kaskus, bahkan blog pribadi, Upin Ipin adalah filem kartun yang dibikin oleh Mohd. Nizam Abdul Razak, Mohd Safwan Abdul Karim, dan Usamah Zaid. Mereka bertiga adalah pemilik rumah produksi Les' Copaque setelah bertemu dengan mantan pedagang minyak dan gas yaitu H. Burhanuddin Radzi dan isterinya yang bernama Hj. Ainon Ariff.  Serial ini dirilis pada 14 September 2007 di Malaysia dan disiarkan di TV9. Upin Ipin sudah ditayangkan di tiga negara yaitu Malaysia, Indonesia, dan Turki.

Semula jadi Upin Ipin dibuat untuk Bulan Ramadhan 2007 karena bertujuan untuk mengajarkan kepada anak-anak tentang pentingnya arti Ramadhan. Tetapi karena sambutan pasar yang baik, maka Upin Ipin diteruskan hingga akhirnya bermusim-musim serial kartun ini menghibur kita semua. Tidak saja anak-anak tetapi juga orang dewasa. Seperti saya. Hahaha. Upin Ipin bahkan tidak hanya serial kartun saja tetapi juga ada filemnya. Selain Geng Pengembaraan Bermula, filem terbaru yang bikin saya penasaran berjudul Keris Siamang Tunggal. Mereka tersedot ke dunia lain!

Selain memproduksi Upin dan Ipin Les' Copaque juga memproduksi serial Pada Zaman Dahulu, Puteri, dan Dadudido. Menonton Pada Zaman Dahulu itu membikin saya punya cita-cita baru yaitu jadi pendongeng haha.

Opening Song


Kekuatan Upin Ipin juga terletak pada opening song-nya. Ini yang bikin saya harus berdiri dan bergoyang a la kembar seiras ini. Haha.

Upin dan Ipin inilah dia
Kembar seiras itu biasa
Upin dan Ipin ragam aksinya
Kau disenangi siapa jua

Kami ini kawan-kawan
Sekampung sepermainan
Harmoninya kehidupan
Ikhlasnya persahabatan

Upin dan Ipin inilah dia
Kembar seiras itu biasa
Upin dan Ipin ragam aksinya
Kau disenangi siapa jua
Kau disenangi siapa jua
Upin dan Ipin selamanya

Betul betul betul. Hehe. Tapi itu versi pendeknya. Dan yang biasa mengisi opening song cuma bagian yang saya tebalkan saja. Opening song ini berjudul Gembira Bermain. Ciri khas serial kartun Upin Ipin bahkan sudah dimulai sejak opening song. Saya sudah bisa loh bergoyang a la Upin Ipin di opening song *dilempar batako sama dinosaurus*.

Karakter di Dalam Upin Ipin


Semua karakter di dalam Upin Ipin mempunyai karakter yang betul-betul khas. Tidak ada satupun yang sama. Sepertinya setiap karakter memang dipersiapkan dengan sangat matang, bahkan karakter sekelas Zul dan Idjat pun digambarkan dengan sangat jelas. Dzul suka membawa-bawa nama neneknya kalau sedang bercerita, sedangkan Idjat ini langganan pingsan. Meskipun kalian pasti sudah tahu karakter-karakter di dalam serial kartun Upin Ipin, ijinkan saya menulisnya kembali.

Upin Ipin


Upin dan Ipin, bocah kembar seiras ini berciri kepala plontos alias gundul dan bersuara sangat imut. Yang membedakan keduanya: Upin punya sejumput rambut menonjol di puncak kepalanya serta berkaos kuning dengan huruf U, sedangkan Ipin gundulnya sempurna serta berkaos biru dan tak lupa syal merah mirip Batman. Kalaupun keduanya memakai baju koko - sarung - kopiah khas hari raya, tetap saja Upin berwarna kuning, Ipin berwarna biru.

(H)ayam goreng memang sering terlontar di dalam serial ini tetapi itu paling sering diucapkan oleh Ipin. Tak lupa, Ipin punya ciri khas mengulang kata sampai tiga kali: betul, betul, betul! Seringnya sih betul, betul, betul. Pengulangan kata lainnya tergantung kalimat apa yang diucap oleh Upin.

Kak Ross


Nama lengkapnya Jeanne Roselia Fadhullah dan dipanggil Kak Ross. Kakak dari si kembar ini punya ciri khas: garang. Siapa yang berani melawan akak? No no no. Sehari-hari Kak Ross memakai kaos lengan panjang warna merah dan celana biru/ungu tua. Meskipun garang, Kak Ross sangat mencintai Opah dan Upin Ipin. Dia juga berprestasi. Selain prestasi di dunia akademik, Kak Ross juga membuat komik.

Opah


Namanya Mak Udah tapi biasa dipanggil Opah. Nenek yang mengasihi cucu-cucunya, dan bahkan pernah bekerja paruh waktu menyadap getah karet demi Upin Ipin bisa punya mobil mainan yang pakai remote itu. Opah terkenal bijak, meskipun kadang iseng juga, dan selalu memberikan petuah-petuah berharga untuk cucu-cucunya.

Tuk Dalang


Isnin bin Khamis (Senin bin Khamis). Haha. Paling lucu lah Tuk Dalang ini, apalagi kalau dia dikerjai sama bocah-bocah. Tuk Dalang ini punya pohon rambutan di depan rumah, kebun durian, serta memelihara ayam. Nah, salah satu ayamnya bernama Rembo. Suka mengoleksi sandal atau sepatu sebelah!

Karakter lainnya di dalam Upin Ipin tidak saya jelaskan semua, cukup mereka berempat. Tetapi karakter lain juga tak kalah penting dan punya ciri khas masing-masing!

Mail dengan dua singgit.
Ehsan dengan 'banguuuun', dan si intan payung.
Fizzi dengan ketiadaannya serta sering sial.
Jarjit dengan pantun dua tiga.
Mei Mei dengan saya suka saya suka!
Dzul dengan kata nenek saya.
Idjat yang doyang pingsan.
Nurul - Fathia - Devi yang jarang terekspos.
Susanti dengan kata asyiiiikkkk!
Cikgu Jasmine dan Cikgu Melati.
Uncle Mutu dengan ABCD-nya.
Uncle Ah Tong dengan dialek Cinanya kayak Mei Mei.
Abang Saleh yang kalau bersuara lelaki mah gahar.
Rembo, Apin, Opet, dan hewan lainnya.

Tentu masih ada karakter lain tapi ... nanti ya hahaha.

Si Katak Kuning


Setiap menonton Upin Ipin pasti ada si katak kuning yang sekilas lewat dengan kehidupannya di sekitar rumah si kembar. Katak kuning ini bukan sekadar karakter sambil lalu. Dia adalah katak yang berada pada logo Les' Copaque itu sendiri. 

⇜⇝

Saya dan kalian sudah tahu banyak tentang Upin Ipin. Serial kartun asal Malaysia yang diproduksi oleh Les' Copaque dan menjadi idola banyak orang, termasuk saya. Kenapa pula ada bahagian (bagian) 1 dan bahagian 2? Karena posnya bakal panjang sekali kalau dijadikan satu. Setidaknya, sebagai bekal pos Senin depan, kalian sudah tahu yang paling mendasar tentang Upin Ipin yaitu: Kampong Durian Runtuh, serta karakter dan ciri khas masing-masing. Inti pos ini bakal saya bahas Senin depan. Bocorannya: tentang toleransi antar umat beragama yang diajarkan dari sebuah serial kartun yang mungkin menurut orang lain tidak penting.

Baca Juga: Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga

Setidaknya, menonton Upin Ipin masih sangat jauh lebih berfaedah ketimbang menonton sinetron Indonesia.

Sampai jumpa minggu depan di bahagian 2!



Cheers.

Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Foto bersama Bupati Nagekeo Bapak Don, dan Dosen Pendamping Lapangan (DPL).


Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe. Jum'at, 6 September 2019, saya kembali memacu Onif Harem ke arah Barat Pulau Flores. Tujuan saya apalagi kalau bukan Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Alhamdulillah, cuaca sudah tidak seberapa dingin, dan pagi itu meskipun masih mampir di Aigela untuk menikmati jagung pulut rebus sekalian melemaskan otot kaki, haha, saya (ditemani Thika Pharmantara) tiba di lokasi lebih mula dari waktu kegiatan.

Baca Juga: Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga

Memangnya, ada apa lagi di Desa Ngegedhawe? Kalau kalian sering membaca blog ini, pasti tahu bahwa saya ini si tukang liputnya UPT Publikasi dan Humas Uniflor. Tujuan saya ke sana adalah meliput kegiatan peresmian rumah baca yang dibangun oleh mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang ditempatkan di Desa Ngegedhawe.

Rumah Baca Sao Moko Modhe


Saat tiba di dusun terluar dari Desa Ngegedhawe, mata saya menangkap sebuah rumah mini, nampak baru, dengan hiasan warna-warni, terletak di tanah lapang luas. Saya pastikan itu adalah rumah baca dimaksud setelah melihat mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang mengenakan kaos biru khas mereka. Perlu diketahui Rumah Baca Sao Moko Modhe dibangun oleh mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang ditempatkan di Desa Ngegedhawe atas proposal yang menerima dana  hibah Kemeristekdikti tahun 2019 (ada tiga proposal, tiga desa lokasi pengabdian, yang lolos mendapat dana hibah tersebut).


Menurut informasi yang saya peroleh tanah tempat dibangunnya rumah baca ini merupakan tanah lapang milik Pemerintah Desa Ngegedhawe. Boleh dikatakan ini merupakan tanah lapang serba guna tempat masyarakat desa melakukan aktivitas bersama selain di kantor desa mereka sendiri. Di tanah lapang ini sebelumnya sudah ada aula-tanpa-dinding dan lapangan voli. Sekarang sudah ditambah dengan rumah baca dan rencananya bakal dibangun lapangan futsal. Menurut saya pribadi, tanah lapang ini bakal jadi pusat kreativitas masyarakat Desa Ngegedhawe. Kenapa? Nanti akan saya jelaskan di bawah, hehe.


Saya tidak sempat menanyakan ukuran rumah baca, tapi kalau dilihat, ukurannya sekitar 4 x 8 meter. Kalau salah, maafkan. Dibagi sepertiga untuk ruangan tempat menyimpan rak buku serta buku-buku yang sementara sudah disiapkan oleh mahasiswa dan DPL. Sedangkan sisanya merupakan teras berdinding setengah yang dihiasi gantungan cantik hasil Do It Yourself (DIY) berbahan gelas plastik. Halamannya juga cukup luas, ditanami tanaman ini itu, serta dibangun sekitar empat permainan anak-anak yang juga hasil DIY. Jangan lupa, pagar dan gerbangnya juga keren. Kreatif!

Kembali ke dalam ruangan, selain rak buku dan buku-buku, juga nampak hiasan hasil DIY mahasiswa. Masih minim, tapi sudah sangat membantu masyarakat Desa Ngegedhawe khususnya anak-anak usia TK dan SD, serta orangtua. Orangtua? Iya, di sana ada juga buku-buku edukasi khusus misalnya untuk pertanian, spiritual, dan lain sebagainya.


Sementara itu yang juga sangat menarik perhatian saya adalah jalan masuk dari gerbang menuju rumah baca yang dibikin semacam setapak mini menggunakan bata merah. Lihat gambar di bawah ini:


Pada akhirnya saya bertemu tiga DPL yaitu Pak Gusty, Pak Usbat, dan Ibu Helen. Dari Pak Gusty saya mendapat informasi tentang arti dari moko modhe. Menurut Pak Gusty moko modhe berarti teman baik. Sehingga jika digabung dengan rumah baca maka Rumah Baca Sao Moko Modhe merupakan teman baik semua orang, siapapun, yang ingin lebih tahu tentang banyak hal, ingin lebih tahu tentang dunia, lewat aktivitas membaca buku. Ya, buku pun merupakan teman baik kita semua. Tidak pernah berkhianat si buku itu! Hehe.

Diresmikan Oleh Bupati (Keren) Bapak Don


Bupati Nagekeo, Bapak Johanes Don Bosco Do, yang juga seorang dokter, datang meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe. Gayanya santai dan gaul. Makanya saya menyebut beliau keren. Keren sekali malahan. Saya sering melihat bupati dikawal serta ditemani belasan bahkan puluhan orang yang sibuk ini itu sehingga terkesan masyarakat heh jauh-jauh sana jangan terlalu dekat! Tapi ini ... kok sepi? Aaah ternyata menurut teman-teman yang tinggal di Kota Mbay, Bapak Don memang tidak terlalu suka kawalan berlapis hahaha. Makanya suasana waktu itu sangat bersahabat. Bapak Don seperti kawan lama yang sowan begitu.


Bahkan, pihak Bagian Humas dan Protokol Setda Kabupaten Nagekeo tidak terlalu mempermasalahkan masyarakat yang ingin mengambil video dan foto. Semua punya hak yang sama, tidak ada yang bertindak: heh minggir! Hahaha. Saya takjub melihat Kabag Humas dan Protokol yang betul-betul menjalankan tugas beliau.



Dua foto di atas ... santai kan gaya Bapak Don?

Baca Juga: Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling

Dalam sambutannya, dengan sering menyelip istilah dan bahasa daerah Nagekeo, serta guyonan yang bikin masyarakat ngakak, Bapak Don menggunakan banyak analogi sederhana yang mudah dipahami. Selain menekankan bahwa rumah baca hanyalah pemicu sedangkan selanjutnya adalah tergeraknya hati masyarakat untuk memanfaatkan rumah baca tersebut, Bapak Don juga menyelip pesan tentang kearifan lokal yaitu penggunaan tas anyaman alih-alih menggunakan tas plastik sebagai media untuk membawa barang belanjaan.

Pesan lain yang disampaikan adalah tentang rumah tangga. Kalau membangun rumah tangga, atau setelah berumah tangga dan punya rumah, jangan mengutamakan membeli kasur pegas kalau fasilitas MCK serta bak air belum dibangun. Karena itu adalah dasar agar masyarakat hidup sejahtera.


Lagi, dari informasi yang saya dengar dari teman-teman yang tinggal di Kota Mbay seperti Noviea Azizah, Bapak Don kalau berkunjung ke desa itu tidak mau ada acara pengalungan selendang untuk penyambutan. Terus, masyarakat juga jangan sampai ada yang menyembelih hewan ternak untuk acara makan siang kegiatan kunjungan dimaksud. Makanya kemarin itu kami kudapannya sangat sederhana tapi kok bikin lidah ketagihan ya? Kopinya pun bikin Thika Pharmantara ketagihan. Haha. Ini dia kudapan kami saat acara diskusi santai:


Sungguh saya sangat beruntung dan bersyukur bisa bertemu langsung Bapak Don yang rendah hati dan ramah dengan semua orang. Terus bangun Nagekeo, Bapak! Saya sih ... hanya pengunjung yang sering menikmati keindahan Nagekeo dan bertugas menulisnya di blog. Hahaha.

Mengumpulkan Buku


Dari kegiatan di Rumah Baca Sao Moko Modhe tersebut di atas, resmi ya nulisnya hahaha, maka saya mengajak teman-teman semua untuk berpartisipasi dengan cara menyumbangkan buku untuk Rumah Baca Sao Moko Modhe. Bukunya tidak saja buku sekolah untuk anak usia TK dan SD tetapi juga buku cerita anak dan majalah untuk orangtua (apalagi kalau majalah Intisari begitu). Bisa dikumpulkan melalui saya, yang nanti bakal saya antar sendiri ke sana. Bisa juga diantarkan sendiri ke sana nanti bisa tanyakan kontak Sekdes Ngegedhawe pada saya. 


Sudah berapa buku yang terkumpul? Belum ada kalau di saya mah ... haha. Masih dalam tahap kampanye sana sini. Doakan semoga banyak buku yang bisa terkumpul ya! Amin!

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe

Salam literasi untuk kita semua.



Cheers.

Hanya Lulusan SD, Tapi Nabungnya Rp100 Juta per Bulan

Udang Galah Hanya Lulusan SD, Tapi Nabungnya Rp100 Juta per Bulan

Karena hanya lulusan SD, Si Bapak tidak paham cara menghitung omzet. Tapi ia mengaku dapat menabung minimal Rp 100 juta per bulan dari usahanya. 

Saya baca informasi itu di Tabloid Kontan, tak lama setelah saya memutuskan tidak bergabung dengan Si Bapak pada tahun 2002 lalu, dan kemudian memilih menjadi pegawai negeri dengan gaji pokok pertama sebesar Rp 608 ribu per bulan.

Dengan gaji Rp 608 ribu per bulan, bisa menabung Rp 100 juta setelah kerja berapa bulan? Ratusan bulan! Hahaha...

Sebagai perantau dari Tasikmalaya, si Bapak orangnya ulet. Saat saya hendak bergabung di bisnis budidaya udang galahnya, beliau sudah beberapa tahun memulai usaha itu. 

Kolamnya ada beberapa. Jika tidak salah ingat, dalam satu hamparan terdapat 5 kolam ukuran besar dan beberapa kolam kecil-kecil. Bersama keluarganya, beliau mengontrak rumah sederhana tidak jauh dari kolamnya itu.

Skenarionya, dengan bimbingannya, saya akan mencari lokasi lain untuk membudidayakan udang galah. Setelah mensurvei beberapa lokasi, akhirnya dapat juga kolam seluas 1 hektar yang bisa disewa selama 5 tahun. 

Tempatnya di kiri jalan arah Gunung Kidul dari Kota Jogjakarta.

Uang sewa sudah ada. Bahkan modal buat 5 kali menebar benur pun sudah tersedia. Kebetulan ada penyandang dana yang bersedia memodali saya. Tetapi akhirnya, saya memutuskan mundur.

Si Bapak tentu saja kecewa. Karena dia bermaksud menjadikan saya konsumen benur pertama dari hatchery yang tengah dia rintis bersama partner bisnisnya yang lain, yaitu Pak Pur.

Pemodal saya, yang berhubungan baik dengan si Bapak, tetapi lebih mempercayai saya sepenuhnya untuk bisnis ini, juga penasaran. Saya sampaikan kepadanya, bahwa bisnis ini tidak cukup layak, bukan karena tingkat kesulitannya.

Bahkan saya mungkin bisa menghasilkan panen lebih besar, karena calon istri saya lulusan Biologi Lingkungan, yang mungkin akan menemukan inovasi enteng-entengan setelah beberapa kali penanaman benih.

Masalah terbesarnya justru pada pasar yang terbatas. Jika saya bergabung, niscaya hasil produksi akan bertambah signifikan dan berpengaruh buruk pada harga komoditas.

Permintaan pasar terbesar saat itu dari Pulau Bali. Dan sepertinya sedikit sulit mengembangkan pasar di luar pulau itu, karena harga udang galah pada saat itu yang relatif lebih tinggi dibandingkan udang jenis lainnya.

"Informasi intelijen" juga membenarkan bahwa Si Bapak sudah berutang ke supplier pakan selama berbulan-bulan. Jadi wajar banget kalo saya memutuskan mundur dan mengembalikan modal yang sudah sempat berpindah ke tangan saya.

Lalu Bom Bali jilid I meledak menjelang akhir tahun 2002. Pada waktu itu saya sedang mempersiapkan diri melepas beberapa usaha di Jogjakarta karena harus hijrah ke Jakarta pada bulan November.

Yang langsung terbayang di benak saya saat bom jahanam itu meledak adalah Si Bapak yang telah kehilangan pasar terbesarnya. Sungguh tidak terbayangkan kesulitan yang harus dihadapi Si Bapak dan usaha udang galahnya. Sedih banget rasanya hati ini. 

Meskipun tidak pernah lagi berbalas sapa secara langsung (pada 2003-an saya masih bolak-balik Jakarta-Jogjakarta), saya mendapat kabar bahwa ternyata Si Bapak berinovasi out of the box.

Alih-alih mencari pasar alternatif sebagai pengganti Pulau Bali, ia menciptakan pasarnya sendiri. Pasarnya yang hancur diterjang bom memberinya ide untuk menjual sendiri hasil budidayanya.

Di atas kolam-kolamnya dia bangun dangau-dangau yang dia sebut sebagai Gubug Makan. Menu utamanya, tentu saja udang galah yang ditangkap langsung dari kolam. Udang galah yang segar dipadu dengan keahlian istrinya memasak melengkapi keunikan Gubug Makan tersebut.

Orang-orang mulai berdatangan. Tertarik mencicipi, lalu mengajak orang-orang yang lain, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, Si Bapak tidak lagi dipusingkan tentang ke mana dia harus menjual udang-udangnya.

Puncaknya, tentu saja saat Si Bapak mulai terkenal dan diwawancara media massa. Tabloid Kontan yang saya baca salah satunya.


Gubug Makan Danau UI

Menabung Rp 100 juta per bulan? Woouw....

Saya sendiri ikut bersenang hati membaca kesuksesan Si Bapak. Terbukti sudah, saya yang lulusan UGM kalah kreatif dengan Si Bapak yang hanya lulusan SD.

Dan, percaya atau tidak. Cabang pertama Gubug Makan Si Bapak di bagian barat pulau Jawa (sebelum puluhan cabangnya kemudian), dibuka di daerah yang disebut Danau UI. Iyaaa... Danaunya Universitas Indonesia.

Dari fakta ini saya bersyukur karena UGM tidak memiliki danau. Coba kalau UGM punya danau dan Si Bapak buka cabangnya di situ, waduh... 

Saya yang lulusan UGM, yang akhirnya “cuma” jadi pegawai negeri, pasti hanya bisa tersenyum pahit. 
Sepahit... pahit... pahit.. empedu!

Jakarta, 29 Juli 2019
Penulis: HERI WINARKO


Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya


Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya. Hari itu, saya sedang meliput kegiatan mahasiswa KKN-PPM 2019 Uniflor (yang mendapat dana hibah dari Kemenristek Dikti) di Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, berjarak sekitar duapuluh lima kilometer dari Kota Ende. Saat sedang ketawa-ketiwi mendengar omongan Bapak Kepala Desa, satu pesan WA yang masuk ke telepon genggam sungguh membikin jantung serasa copot. Soalnya kondisi sinyal di Desa Wolofeo sangat tidak seksi sehingga saya kuatir itu pesan WA nyasar. Haha. Intinya saya dihubungi oleh Kakak Olenka dari Kemenkominfo Jakarta untuk menjadi influencer dalam suatu kegiatan.

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe

Influencer? Sudah bisakah saya disebut itu? Kalau sampai diminta begitu, tentu sudah ada pertimbangan ini-itu kan ya. Baiklah saya terima meskipun pikiran dipenuhi kekuatiran. Tapi seperti kata Adele: you'll never know if you never try to forget your past and simply be mine. Haha. Awalnya saya berpikir menjadi influencer tentang hal-hal yang berkaitan dengan TIK semacam pemanfaatan media sosial untuk perubahan, atau bagaimana anak muda dapat menjadi agen perubahan melalui dunia TIK, atau bagaimana masyarakat awam bisa mengajak orang lain datang ke daerah wisata mereka hanya melalui tulisan dan foto di blog. Berpikir seperti itu wajar saja karena ini Kemenkominfo.

Ternyata saya diminta berbicara dari sisi seorang influencer tentang STUNTING!

Apa? Stuntman? Hehe *ditabok dinosaurus*.

Karena hanya punya waktu dua hari untuk mempersiapkan jiwa, dan ritual mandi kembang, saya langsung menyusun draf di aplikasi catatan telepon genggam. Tulisan di draf ini intinya bagaimana saya sebagai orang awam melihat stunting dan budaya/kebiasan masyarakat lokal. Karena, saya bukan ahli gizi, bukan dokter, bukan praktisi medis, sehingga bukan kapasitas saya untuk bicara tentang porsi kadar gizi yang dibutuhkan tubuh per hari atau tentang asupan gizi anak selama 1.000 hari terhitung sejak masih dalam kandungan.

Audiens Dari Berbagai Lini


Aula Lantai II Hotel Grand Wisata penuh sesak saat saya tiba Kamis, 1 Agustus 2019, siang. Saya memang datang siang, saat makan siang, untuk mendapat makan gratis karena sesi saya adalah sesi paling akhir. Ternyata MC kegiatan ini sahabat saya sendiri. Kalian harus membaca pos berjudul Dessy: Merayakan Natal di Vatikan Merupakan Berkat Berlimpah dari Tuhan untuk tahu lebih detail si MC. Iya, Dessy adalah MC kegiatan tersebut.


Sambil melihat-lihat situasi, saya tahu bahwa yang hadir ini tidak saja anak sekolah setingkat SMA, tetapi ada juga mahasiswa termasuk mahasiswa Uniflor, guru-guru, ibu-ibu PKK, Ikatan Bidan Indonesia Cabang Ende, orang-orang komunitas, kepala dinas/kantor dan kepala bagian, dan lain sebagainya. Eh ternyata ada Mas Alimin, sahabat saya yang bekerja di Diskominfo Ende. Dan kebiasaan memang sulit dikekang. Ketemu Mas Alimin malah saling ngecap kayak orang ngerap. Haha.

Stunting Bukan Berarti Turunan


Ini inti yang saya bicarakan kemarin selain selipan tentang gejala stunting hingga pola hidup bersih dan sehat. Inti dari yang saya bicarakan adalah sebagai berikut:

Stunting adalah isu yang hangat dibicarakan karena terkait dengan masa awal seorang anak manusia sejak masih dalam kandungan, asupan gizi, hidup bersih dan sehat. Apa yang terjadi selama ini, kita percaya kondisi seorang anak mengalami stunting itu karena gen, karena turunan. Kalau Orangtuanya seperti itu, pasti anaknya nanti juga.

Pandangan ini belum berhenti.

Kadang kalau lihat anak-anak tingginya tidak sesuai usia, terus orangtuanya punya postur yang tinggi, tetap saja, kita bilang: pasti turunan dari opa Oma, atau Om tante. Asalkan bukan karena turunannya tetangga.

Karena menjadi kebiasaan untuk berpikir ke situ, kita lantas terbawa dengan kondisi ini ...

Akibatnya kita cenderung membiarkan anak yang masih usia dini dengan pertumbuhan terlambat seperti itu. Cenderung bilang begini: Biar saja, bukan urusan kita. Yang lebih parah, anak yang mengalami stunting justru dapat perlakuan body shaming, dibully karena kondisi tubuhnya.

Dulu saya lahir prematur. Delapan bulan sekian hari dengan bobot sekilo-an saja, dan sebesar botol kaca begitu. Orangtua saya sampai tidak berani menggendong. Sekarang orangtua saya takut malah menggendong ... Beratnya luar biasa. Haha. Sejak kecil yang saya tahu makanannya harus seimbang. Ikan, terutama ikan goreng itu jadi cemilan. Saya suka makan ikan, makan buah, pokoknya apa saja lah yang disiapkan sama orangtua. Dan pada akhirnya jadi seperti sekarang ini.


Itu saya kopas loh. Kebiasan menulis haha dan hehe di blog pun terbawa di situ dan terbawa saat saya bicara. Ck ck ck. Jadi ingat dulu waktu masih jadi penyiar radio, sering di-SMS sama pendengar, cuma untuk minta saya ketawa. Halaaaah.

Selain itu saya juga menyampaikan bahwa kesehatan anak-anak itu menjadi tanggungjawab masyarakat umum, bukan saja orangtua atau keluarganya. Apabila kita punya teman baru menikah, seringlah memberikan informasi tentang stunting, memeriksakan kesehatan anaknya pada ahli medis, dan lain sebagainya. Atau jika kita melihat batita bersama orangtuanya dengan kondisi kurang normal, bolelah kita melakukan pendekatan kepada orangtua si batita dan bercerita tentang stunting. Siapa tahu orangtuanya tidak sadar. Apalagi NTT ini nomor satu anak dengan stunting.

Kisah Seorang Ibu


Sudah menjadi kebiasaan saya setiap kali menjadi pembicara sekaligus ngelawak. Interaktif dengan audiens itu perlu, menurut saya, sebagai katrol apakah audiens memperhatikan atau masa bodoh? Ternyata, alhamdulillah, audiens perhatian banget sama saya. Haha. Saya meminta salah seorang audiens untuk maju ke depan dan bercerita pengalamannya dengan anak-anak atau bocah entah itu terkait masalah kebersihan atau tentang dunia membaca-menulis. Salah seorang ibu guru dari SMA Swasta Adhyaksa pun maju.

Ibu bercerita tentang kondisi dua anaknya. Anak pertama mengalami stunting, anak kedua tumbuh sehat. Cerita si Ibu sungguh menyentuh hati. Ada pesan yang langsung dipahami oleh semua audiens hari itu:

Pesan Pertama:
Stunting harus dikenali sejak dini dan jangan dibiarkan. Pembiaran akan membuat kita terlambat sadar bahwa si anak mengalami stunting.

Pesan Kedua:
"Anak pertama menjadi seperti itu mungkin karena saya baru menikah, baru punya anak, belum ada pengalaman," kata si Ibu. Ini pesan yang juga masuk dalam daftar kegiatan kemarin. Salah satunya: jangan menikah terlalu dini!

Terima kasih, Ibu.

Instragram Menjadi Mulutgram


Karena diminta menjadi influencer ya sekalian saya saya mempengaruhi audiens untuk menyebarkan kegiatan hari itu. Peserta yang sudah follow IG-nya @Genbestid saya minta untuk dapat menjadi mulutgram. Yaitu menyebarkan informasi tentang stunting kepada semua orang di sekitar mereka. Seperti yang saya tulis di atas, tanggungjawab moral masyarakat.

Mulutgram punya konotasi negatif. Memang. Seperti kata Dana SUCI dalam salah satu tampilannya "Iklan Menjebak" yaitu tentang getok tular (dari mulut ke mulut). Tapi kalau mulutgram tentang informasi positif saya pikir itu akan sangat luar biasa. Bayangkan saja, hitunglah ada seratus audiens. Setiap audies punya lima anggota keluarga di rumahnya. Pulang dari kegiatan mereka lantas bercerita ke anggota keluarga. Sudah berapa orang yang tahu tentang stunting? Itu baru keluarga, belum teman kantor, teman nongkrong, dan seterusnya.

Mulutgram itu penting.


Saya hanya bisa bilang: sudah memberikan yang terbaik pada hari itu di hadapan ratusan audiens di Aula Lantai II Hotel Grand Wisata. Kurang lebihnya, mohon dimaafkan. Hehe.

Baca Juga: Gotong Royong Itu Masih Hidup dalam Tubuh Masyarakat

Ayo, cegah stunting!

Jadi generasi bersih dan sehat!

#Genbestid
#GenbestEnde
#SadarStunting



Cheers.

5 Tips Agar Kembali Semangat Ngeblog Setelah Liburan


Satu minggu, kira-kira, sebelum libur Idul Fitri 2019 tiba, saya sudah libur nge-blog. Alasannya? Ya ingin fokus ibadah dan membereskan banyak hal urusan perasaan rumah tangga, khas, menjelang Idul Fitri. Maklum, ada lembaran seng yang harus diganti. Haha. Kayak kuli bangunan dooonk. Ketimbang nge-blog-nya tidak fokus, lebih baik libur dulu kan. Saya yakin banyak dari kalian yang juga meliburkan diri dari ranah blog menjelang Idul Fitri kemarin. Terutama blogger perempuan. Tidak hanya melulu menyiapkan kudapan, tapi membersihkan rumah, mengganti gorden, membuat to do list termasuk membayar zakat, sampai belanja ini itu keperluan hari raya. Superwoman!

Baca Juga: 5 Patterns

Kapan kembali dari liburan nge-blog? Tergantung sih. Kalau saya memilih tepat di awal minggu. Jadi, Senin minggu kemarin saya sudah mulai kembali nge-blog dan mengisi blog ini dengan konten khusus HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday

Hampir semua orang pasti mengalami kemalasan tingkat akut setiap kali liburan selesai, baik libur umum yang ditetapkan oleh sekolah dan kantor masing-masing, maupun libur nge-blog yang ditetapkan sendiri melalu Surat Keputusan Libur Nge-blog. Saya termasuk di dalamnya. Setiap kali menghidupkan laptop, larinya pasti nge-game. Kalau tidak nge-game pasti nonton filem atau serial. Mau traveling, waktunya nanggung. Parah banget pokoknya. Kalau dibiarkan, saya yang merugi, karena kurang produktif menulis dan membikin otak sumpek. Hal ini tidak boleh dibiarkan! Harus dilawan!

Perlawanan itu kemudian menjadi bahan dasar tulisan ini ... hehe ... tips agar kembali semangat nge-blog setelah liburan.

1. Lebih Rajin Menengok Blog


Selama liburan, tidak bisa dipungkiri, kita menikmati kehidupan fana dan melupakan sejenak blog ini. Hayo unjuk jari yang juga begitu! Hehe. Saya sendiri lebih sering di rumah saja dan memeriksa to do list. To do list ini dipegang sama Thika Pharmantara dan Enu (teman si Thika yang tinggal di rumah). Setiap hari bakal nanya ke mereka: apa yang sudah, apa yang belum? Atau, mereka yang bakal bilang ke saya: hari ini jadwal kita membikin stik keju, Ncim. Yang seperti itulah.

Tapi, pada tanggal 7 Juni 2019, setelah Idul Fitri hari kedua, saya mulai membuka tautan blog sendiri. Mulai melihat banyaknya sarang laba-laba haha. Kemudian, saya juga mulai membuka e-mail untuk memeriksa pemberitahuan ini itu. Maka, menyuntik semangat nge-blog pada diri sendiri, saya mulai membikin daftar kegiatan selama liburan. Ini bermanfaat sebagai bahan dasar menulis/konten blog. Kalau bukan diri kita sendiri, siapa lagi?

2. Bikin Daftar Kegiatan Selama Liburan


Membikin daftar kegiatan selama liburan itu menyenangkan. Bagi saya, liburan Idul Fitri 2019 sangat penuh berkah dan cerita. Banyak sekali kegiatan bermanfaat selain menyiapkan ini itu untuk menyambut hari raya. Tidak perlu semua kita catat/daftar sebagai bahan menulis usai liburan, cukup yang penting-penting saja. Misalnya, saya harus menulis tentang tamu-tamu spesial yang datang ke rumah, piknik Idul Fitri hari kedua, sampai paket kiriman dari Ilham Himawan. Yang tidak perlu detail saya tulis adalah tentang kudapan tradisional/pasar yang juga disuguhkan di meja *ngikik*. 

3. Menulis Seri (Horeday)


Bukan rahasia lagi, blog saya mempunyai tema harian. Tapi tahun ini saya kembali dari liburan dengan cerita-cerita yang bukan tema harian. Kembali pada poin  nomor dua di atas, saya sudah punya daftar kegiatan selama liburan, daftar-daftar itu harus ditulis lah. Ibarat dunia stand up comedy, premisnya ada, tinggal bangun set up dan ciptakan punch line. Salah satu Horeday adalah tentang sharing public speaking dan dunia stand up comedy. Ya ya ya baiklah, saya sertakan saja semua seri Horeday di sini.

Horeday #1: The Legend Cookies Choco & Cheese Stick
Horeday #2: Sharing Public Speaking dan Dunia SUC
Horeday #3: Pharmantara Big Family and Happy Eid Raya
Horeday #4: Tamu-Tamu Spesial di Hari Super Spesial
Horeday #5: Piknik Encim and The Gank di Pantai Aeba'i
Horeday #6: Well Done! I Finished My Stone Project
Horeday #7: Rejeki Anak Solehah dari Makassar

Kisah-kisah Horeday memang sangat personal yang bahkan mungkin sangat tidak bermanfaat bagi kalian yang membacanya. Tapi saya suka. Hehe.

4. Kembali Pada Tema Harian


Hyess. Setelah menulis apa-apa di luar kebiasaan harian blog ini, saya kembali pada tema harian. Semacam prolog yang telah selesai dilanjutkan dengan cerita inti. Selamat datang kembali #SeninCerita, #SelasaTekno, #RabuDIY, #KamisLima, #PDL di hari Jum'at, dan #SabtuReview

5. Kembali Blogwalking


Inilah kegiatan yang belum sempurna saya lakukan. Ternyata tahun ini setelah Idul Fitri saya harus sedikit renggang blogwalking karena dinding dapur yang rubuh akibat perbuatan akar pohon yang jahat. Tapi, terima kasih akar pohon ... pada akhirnya dapur basah, bagian paling belakang rumah, kini memiliki wajah baru. Yuhuuuu.

⇜⇝

Semoga lima tips di atas dapat membantu kalian untuk kembali semangat nge-blog. Saya sendiri punya satu bonus yaitu Kelas Blogging Tuteh yang anggotanya mulai rajin menyetor tautan tulisan baru yang di pos di blog mereka. Kerennya lagi tulisan mereka sesuai dengan ilmu akademik yang dipelajari di bangku kuliah: antara budaya dan fisika misalnya. Kan bagus itu ... suka sekali pokoknya. Nanti saya bakal mengulas tentang mereka. Insha Allah.

Baca Juga: 5 Youtuber Ende

Bagaimana dengan kalian kawan? Tetap semangat nge-blog?



Cheers.

Pinjaman Online? Mudah!



Pinjaman online? Mudah! Asal, tahu dan paham syarat-syaratnya.

Akhir-akhir ini sering sekali saya, kalian, dan mereka, membaca ragam artikel tentang pinjaman online. Mendengarnya, memang agak ngeri karena meminjam offline saja sudah bisa membikin kepala pecah (seringnya pemberi pinjaman yang kepalanya pecah karena peminjam jauh lebih galak), apalagi meminjam secara online. Tapi, masih banyak masyarakat Indonesia yang membutuhkan pinjaman (modal) terutama untuk memulai dan/atau mengembangkan usaha, sementara persyaratan dari bank dirasa cukup berat, termasuk harus menyerahkan anggunan dan proses yang lama dalam menghitung nilai anggunan dan jumlah pengajuan pinjaman, sehingga akhirnya pinjaman online menjadi solusi yang Insha Allah solutif.

Permasalahan yang paling sering dihadapi dalam urusan pinjam-meminjam ini adalah proses pengembalian. Secara offline, proses pengembalian dilakukan sesuai jarak waktu dan jangka waktu yang telah ditentukan serta proses pembayaran dapat dilakukan dengan pemotongan gaji dari si peminjam. Meskipun demikian, masih banyak peminjam yang mangkir sehingga meresahkan pemberi pinjaman. Bagaimana dengan pinjaman online? Menurut saya pinjaman online harus 95% didasari oleh kesadaran dari si peminjam terkhusus dalam hal pengembaliannya.

Bagi kalian yang saat ini sedang membutuhkan dana terutama untuk memulai dan/atau mengembangkan usaha, dan sedang berencana untuk melakukan peminjaman online, tahu dan pahami dulu syarat-syaratnya.

Penyelenggara (Pemberi Pinjaman)


Setiap badan usaha yang memberikan pinjaman online, atau perusahaan berbasis financial technology (fintech) haruslah mematuhi dasar hukum yang mengatur tentang pinjaman online yaitu: Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 Tahun 2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi, dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial. Sehingga, apabila kalian hendak meminjam uang secara online, cek dulu si pemberi pinjaman ini. Legal atau ilegal? Harus tahu betul apakah penyelenggara fintech tersebut sudah sesuai dengan peraturan yang diatur pemerintah.

Apa saja yang harus dicek?

1. Berbadan usaha (perseroan terbatas, atau koperasi).
2. Warga Negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia; dan/atau warga negara asing dan/atau badan hukum asing. Kepemilikan saham Penyelenggara oleh warga negara asing dan/atau badan hukum asing ini paling banyak 85%.

Untuk memastikan bahwa penyelenggara fintech itu aman, kalian bisa mengeceknya langsung di situs milik OJK. Mudah bukan? Di situs itu kalian bisa melihat daftar perusahaan yang sudah terdaftar di OJK sehingga tidak perlu was-was memilih dan menentukan penyelenggara fintech yang dipilih. Tentu semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. 

Peminjam


Selama para pihak saling mematuhi aturan, saya pikir tidak ada masalah dengan pinjaman online ini. Karena permasalahan timbul apabila peminjam dengan sengaja amnesia membayar kredit/pinjamannya, sementara itu dia menyerahkan nomor telepon orang-orang terdekat, sehingga seringkali kita membaca artikel tentang keluhan orang-orang terdekat yang menerima telepon dari penyelenggara fintech gara-gara si peminjam mangkir dari kewajibannya. Kalau begini kan repot! Si A yang menikmati buahnya, si B, C, dan D yang menelan getahnya.

Bagi kalian yang hendak meminjam online pada fintech pilihan, perhatikan dulu beberapa hal berikut ini:

1. Pastikan kalian mampu membayar kredit pinjaman.
2. Pastikan uang pinjaman digunakan untuk usaha, bukan untuk foya-foya.
3. Pastikan penyelenggara fintech terdaftar di OJK.
4. Pastikan kalian membaca dengan teliti persyaratannya.
5. Pastikan kalian membaca dengan teliti perjanjian kerja samanya.

Saya pikir nomor satu dan nomor tiga itu paling penting diperhatikan. Tolonglah untuk selalu membayar tepat waktu karena pinjaman online ini dasarnya adalah kepercayaan (meskipun bukan selamanya jaminan fidusia). Manapula peminjam sudah dimudahkan dengan persyaratan yang ringan. Ringan? Are you sure? Ya! Syarat umum mengajuka pinjaman online adalah:

1. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP).
2. Fotokopi Kartu Keluarga (KK).
3. Fotokopi BPKB Kendaraan (optional).
4. Fotokopi Kartu Kredit (optional).
5. Slip gaji.

Hal-hal yang optional tergantung pada jenis pinjaman online yang dipilih. Kalian bisa memilih jenis-jenis pinjaman online sesuai kebutuhan, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan pinjaman online di https://www.cekaja.com/kredit/pinjaman-online/

Bagaimana, benarkan yang saya tulis di awal? Pinjaman online? Mudah! Asal tahu dan paham syarat-syaratnya. Mudah bagi si peminjam karena persyaratannya ringan serta diproses dalam hitungan jam sampai dengan hitungan hari. Mudah bagi si penyelenggara pinjaman online apabila peminjam tidak mangkir dari kewajibannya membayar pinjaman/kredit alias lancar dalam proses pengembalian. Ibarat sedang berdagang, toko bisa tutup dan gulung tikar kalau terlalu banyak yang berhutang dan amnesia membayar.

Semoga semakin banyak orang Indonesia yang terbantu dengan pinjaman online ini; untuk memulai dan/atau mengembangkan usaha. Amin-kan doooonk :)



Cheers.

Kopi Malam Selepas Berbuka Puasa Bersama

Buka Puasa Bersama Obon Tabroni Hendi Suhendi Nurfahroji Bekasi
Obon Tabroni saat buka puasa bersama bersama relawan Dapil 4 Kab Bekasi. 
"Jika Anda bingung tentang apa yang harus Anda lakukan, itu pertanda kemenangan musuh Anda." - Toba Beta, penulis buku "Master of Stupidity".

Dalam kesempatan berbuka puasa bersama Bang Obon TabroniBang Hendi Suhendi dan M Nurfahroji, seperti biasa Bang Obon selalu bisa membangkitkan semangat para relawan dari berbagai kecamatan yang masuk dalam Dapil 4 Kabupaten Bekasi; Tarumajaya, Babelan, Tambun Utara, Sukawangi dan Tambelang.

"Udah banyak contoh dari temen-temen yang membuktikan bahwa kegagalan malah jadi pemacu semangat berjuang. Jangan karena Oji enggak jadi dewan terus temen-temen berhenti bergerak untuk memperjuangkan masyarakat utara ini."

Demikian sedikit yang sempat saya dengar dari Bang Obon kepada sekitar 60 orang hadirin acara buka bersama yang cukup bersahaja di Kampung Gabus Bulak Desa Sriamur Kec Tambun Utara, Sabtu 11 Mei 2019.

Saya yang awalnya mengira undangan buka bersama dadakan ini hanya akan dihadiri Nurfahroji selaku pemangku hajat, tidak menyangka akan dihadiri oleh Bang Hendi Suhendi terlebih dihadiri Bang Obon yang digadang-gadang lolos ke DPR-RI. 

Di sela kesibukannya memantau perhitungan suara yang menurut kabar tinggal menunggu rekap dari beberapa kecamatan, Obon Tabroni masih sempat mampir dan kembali membuktikan tidak ada jarak antara dirinya dan keluarga besar relawan yang sempat hadir dalam acara buka puasa bersama ini. Kopi malam ini benar-benar bervitamin lah :)
Buka Puasa Bersama Obon Tabroni Hendi Suhendi Nurfahroji Bekasi
Nurfahroji menyemangati relawan
Sementara itu, Oji yang dalam pilcaleg kemarin tidak berhasil meraih kursi anggota DPRD Kabupaten Bekasi dengan raihan suara sekitar 4300-an juga menyampaikan motivasi kepada hadirin agar tetap melakukan apa yang selama ini telah dilakukan dalam membantu masyarakat, khususnya terkait kegiatan di Jamkeswatch.

"Jangan karena saya gak dipilih oleh masyarakat tertentu lalu kita meninggalkan mereka, kalau mereka butuh bantuan yang kita bisa, kita wajib membantu. Kita ini pejuang, banyak jalannya, politik hanya salah satu jalan, kalau gagal di sini kita masih punya jalan lain," ungkap Oji mantap.

Selain memohon maaf dan mengucapkan terima kasih atas apa yang teman-teman sudah lakukan selama pilcaleg dan hingga saat ini mengawal suaranya, Oji dalam hal ini menunjukkan kelasnya dengan kedewasaan sikap tanpa kehilangan arah tujuan pergerakannya.

Kekecewaan atas hasil pilcaleg kemarin tidak membuat ia lantas kehilangan karakternya. Ini yang menurut saya dibutuhkan oleh teman-teman relawan, contoh sikap ksatria yang cepat bangkit menyusun strategi baru dan menguatkan moril rekan-rekan seperjuangannya. Oji mampu menghidupkan kembali semangat teman-teman seperjuangan dan meyakinkan arah pergerakan selanjutnya.

"Jika Anda bingung tentang apa yang harus Anda lakukan, itu pertanda kemenangan musuh Anda," tulis Toba Beta dalam sebuah bukunya. Dari sikap yang ditunjukkan oleh M Nurfahroji malam tadi, menurut saya jelas sekali Oji tahu persis apa yang selanjutnya akan ia lakukan. Pembelajaran yang ia dapat dari proses pilcaleg kemarin justru mematangkan strategi pergerakannya.

"Kita adalah petarung, gak ada alasan untuk mundur sebelum apa yang kita perjuangkan berhasil. Mungkin jalannya saja yang berbeda," tegas Oji, menyisipkan pesan moralnya saat menjawab beberapa pertanyaan dari hadirin.

Alhamdulillah, acara buka puasa bersama yang saya kira akan berjalan biasa saja ternyata banyak menyimpan catatan tersendiri bagi saya. Bagi saya, membedakan orang sukses dan gagal adalah dengan menyaksikan bagaimana orang tersebut bangkit dari kegagalannya.

Kalau kata Om Bill Gates, merayakan kemenangan itu mah biasa aja, yang penting itu mengambil pelajaran dari kegagalan. "It’s fine to celebrate success but it is more important to heed the lessons of failure."

Masih banyak kutipan-kutipan motivasi yang bisa kita bahas, tapi apalah artinya kutipan kata-kata kalau kita bisa menyaksikan sendiri dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Kalau tidak ada, mungkin Anda salah bergaul atau berada dalam lingkaran pertemanan yang salah :)

Saya bangga bisa mengenal dan dekat dengan pribadi-pribadi yang matang dengan pengalaman-pengalaman lapangan seperti Bang Obon Tabroni, Bang Hendi Suhendi dan M Nurfahroji ini. Hanya waktu saja yang akan membuktikan kesuksesan mereka, sekarang ataupun nanti.

Salam


Percobaan Gagal


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Masih berhubungan dengan DIY tapi saya tidak menulisnya di #RabuDIY melainkan dalam #PDL.

Ketika saya melihat aneka video di Youtube tentang proyek-proyek DIY, terkhusus tentang memanfaatkan jin dari dalam botol bekas atau jin yang tidak terpakai lagi, salah satu karya yang menarik perhatian adalah mangkuk. Bagaimana mereka, dengan lihainya, membikin mangkuk berbahan jin. How can? Karena antusias, malam itu juga saya mencoba membikinnya. Ah, mudah. Cuma menyatukan potongan-potongan jin pada mangkuk yang diolesi lem PVA.

Baca Juga: Kubur Batu di Lamboya

Ternyata ... oh lala. Hasilnya sungguh buruk. Gambar hasil yang buruk itu bisa kalian lihat di awal pos. Tapi saya tidak menyerah. Mari mencobanya lagi. Dan ... gagal lagi.

Akhirnya, pada percobaan yang ke-sekian, saya berhasil membikin mangkuk jin tapi sedikit mengubah tata caranya. Tidak seratus persen sesuai dengan yang ditonton di Youtube. Oh, ternyata kegagalan bukan berarti sama sekali tidak bisa membikinnya, melainkan pelajaran untuk berusaha dan kreatif. Benar kan? Pengalaman yang sama juga saya alami saat menulis baik fiksi maupun non-fiksi. Percobaan itu selalu terpeta pada paragraf pertama.


Percobaan yang gagal adalah pelajaran paling berharga. 

Oh iya, bagaimana dengan hasil mangkuk jin itu? Eitsss sabar dulu. Tidak sekarang. Bakal saya pos di #RabuDIY! Hehe.

Baca Juga: Foto Kreatif #1

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernah mencoba dan gagal, tapi tidak menyerah? Never give up, dibalik percobaan yang gagal, ada kesuksesan yang menanti.



Cheers.

Cetak Saring

Salah satu goals kegiatan keren #EndeBisa (di SMA Negeri 1 Ende) adalah Kewirausahaan yang waktu itu fokus pada cetak saring.

Hola! Dengan penuh semangat saya menyapa kalian semua pengunjung blog ini. Memangnya kemarin tidak semangat? Kemarin, hari ini, besok, harus tetap semangat, tapi hari ini lebih semangat karena pada akhirnya Triwarna Soccer Festival 2019 telah berakhir pada Senin kemarin (1 April 2019). Itu artinya, hari-hari di Stadion Marilonga pun telah berakhir dan saya kembali dapat menikmati waktu berkualitas bersama keluarga. Sumpah, saya merindukan mengobrol berlama-lama dengan Mamatua dan Mamasia, menanyakan ini itu pada Indra, menanyakan urusan kuliah pada Thika, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Re:Ease

Hari ini di #SelasaTekno saya mau membahas tentang cetak saring yang sering disebut sablon. Menulis ini karena saya teringat pada pos TSF 'Story, ttentang Triwarna Soccer Festival yang telah menggerakkan banyak lini di Kabupaten Ende terutama perekonomian; baik barang maupun jasa. Salah satu jasa tersebut adalah jasa sablon.

Cetak Saring atau Sablon


Menurut Wikipedia, cetak saring adalah salah satu teknik proses cetak yang menggunakan layar (screen) dengan kerapatan tertentu dan umumnya berbahan dasar nylon atau sutra (silk screen). Layar ini kemudian diberi pola yang berasal dari negatif desain yang dibuat sebelumnya di kertas HVS atau kalkir. Kain ini direntangkan dengan kuat agar menghasilkan layar dan hasil cetakan yang datar. Setelah diberi fotoresis dan disinari, maka harus disiram air agar pola terlihat lalu akan terbentuk bagian-bagian yang bisa dilalui tinta dan tidak. 

Kaos Relawan Bung Karno Ende; cetak saring menggunakan tinta emas-karet.

Proses pengerjaannya adalah dengan menuangkan tinta di atas layar dan kemudian disapu menggunakan palet atau rakel yang terbuat dari karet. Satu layar digunakan untuk satu warna. Sedangkan untuk membuat beberapa warna dalam satu desain harus menggunakan suatu alat agar presisi.

Sapta Indria


Pada pos tentang Mengetik 10 Jari Itu Biasa kalian akan menemukan cerita tentang sebuah Diklusemas (Pendidikan Luar Sekolah oleh Masyarakat) bernama Sapta Indria. Iya, itu milik (alm.) Bapa, dahulu kala. Selain kursus mengetik, kursus akuntansi, dan pernah juga kursus komputer, Sapta Indria juga menawarkan layanan jasa sablon. Oleh karena itu saya tidak asing dengan dunia sablon ini dan masih mengingat istilah:

1. Screen.
2. Negatif.
3. Kamar Gelap.
4. Rakel.

Kamar gelap itu betul-betul gelap haha.

Kalau pada Wikipedia tertulis HVS atau kalkir maka di Sapta Indria yang saya ingat sih kalkir dan pasti selalu ada alat tulis merek Boxy. 

Zaman itu, selain untuk keperluan seragam olah raga (kaos) sekolah dan institusi, (alm.) Bapa tidak pernah menerima pesanan cetak saring berdesain kreatif. Jadi desain untuk seragam olah raga itu ya begitu-begitu saja; hanya permainan jenis dan ukuran huruf, ditambah logo. Kemudian Abang Nanu juga membuka usaha tersebut dan mulai banyak yang memesan desain kreatif dengan bermunculannya komunitas anak muda. Salah satunya Speltranix. Ough yess, komunitas ini luar biasa bekennya di Kota Ende.

Baca Juga: Teknologi Dasar

Selain seragam kaos, Sapta Indria juga mencetak saring logo perusahaan/kantor (pada kertas HVS). Jadi tergantung pesanan.

Lesunya Cetak Saring


Cetak saring mulai lesu di Kabupaten Ende karena beberapa sebab. Sebagai pengamat *tsaaah* saya menganalisa alasannya, salah satunya adalah transportasi. Semakin mudahnya transportasi, kemudian, membikin sekolah dan institusi lebih mudah memesan seragam olah raga dalam jumlah besar langsung di Pulau Jawa. Otomatis banting harga.

Kembali Menggeliat


Cetak saring kembali menggeliat salah satunya, menurut saya, adalah berkiblat pada Dagadu dan Joger. Siapa yang tidak suka memakai kaos dengan tulisan dan desain kreatif? Lantas muncul usaha anak NTT, kaos: desain dan cetak saring bernama Rumpu Rampe Ink. Desain Rumpu Rampe Ink sangat saya sukai. Salah satunya pada gambar di bawah ini:


Cetak saring kembali 'menguasai' Kabupaten Ende. Bermunculan begitu banyak usaha anak muda (mereka benar-benar kreatif) di bidang layanan jasa yang satu ini. Kita tinggal membawa desain, memilih kaos (jenis, ukuran, warna) dan dicetak sama mereka. Kadang-kadang mereka juga membantu mendesain dan mengirimkan desainnya pada kita (via WA) untuk dipertimbangkan. Kalau setuju, tinggal naik cetak. Begitu mudahnya.

Teknologi Cetak Saring


Menariknya, di tengah maraknya digital printing, cetak saring masih digandrungi baik oleh pelaku wirausaha maupun pelaku konsumen. Teknologi cetak saring memang tidak semudah digital printing. Peralatan untuk cetak saring antara lain:

1. Screen

Screen berpigura, kata saya. Pigura ini semacam pemida yang fungsinya menarik screen agar tidak kusut dan mudah memindai negatif.

2. Rakel

Kayu dengan satu atau kedua sisi berbahan karet untuk menarik cat di atas screen.

3. Negatif Desain

Bisa pada kalkir, yang ditempel di screen dengan teknik khusus (di kamar gelap).

4. Desain

Zaman dulu desainnya susah. Zaman sekarang desainnya lebih mudah dilakukan di komputer.

5. Tinta

Tentu tinta khusus yang digunakan untuk bermacam media untuk dicetak saring.



Bangga Memakai Kaos Cetak Saring


Sejak H&R, Ossela, dan sejenisnya, semacam menghilang dari peredaran/pasaran Kota Ende, saya mulai memakai kaos cetak saring. Ada yang dulu dicetak sama (alm.) Bapa, semakin ke sini ya tinggal pesan saja. Hanya saja, saya sering mendapat kaos gratisan sehingga itu menambah kebanggaan saya memakainya, hahaha. Seperti kaos #EndeBisa yang diberikan oleh Ampape Sablon, atau kaos-kaos komunitas lainnya.


Kaos-kaos cetak saring ini semacam menjadi identitas kita. Cukup pakai kaosnya, orang sudah pasti tahu, ooooh itu Tuteh dari #EndeBisa. Atau, oooooh itu Tuteh dari Relawan Bung Karno Ende.


Cetak saring dapat menjadi salah satu usaha yang patut diperhitungkan oleh anak muda dalam dunia wirausaha. Intinya, menurut saya, adalah bagaimana kita mencintai suatu pekerjaan baik pekerjaan kantoran maupun pekerjaan wirausaha. Wirausaha butuh banyak riset tentang perkembangan usaha kita sendiri dan keinginan pasar. Bila keinginan pasar belum dapat kita penuhi sekarang, artinya kita yang harus lebih giat belajar dan berusaha untuk bisa memenuhinya di masa datang. Saya sendiri memang tidak punya bakat di dunia cetak saring, tapi saya suka bermain kata, bisa jadi saya menggandeng teman yang punya usaha cetak saring dengan menjual desain kata. Itu salah satu contoh sederhana. Apabila ada yang memang jago desain, tentu dengan usaha yang cukup, dia dapat menjual desainnya pada orang-orang yang berkecimpung di dunia cetak saring.

Relasi ... relasi ... relasi. Jagalah. Itu penting.

Kreatif ... kreatif ... kreatif. Tidak hanya menjaga, tapi harus terus bisa berkembang dan mengasah kreativitasnya.

Baca Juga: Teknik Airbrush

Bagaimana dengan kalian, kawan? Apakah ada yang punya usaha cetak saring? Bagi tahu donk hehehe.



Cheers.