Arsip Kategori: motivasi

10 Skill Yang Wajib Dikuasai Agar Sukses di Masa Depan Versi World Economic Forum

World Economic Forum meramalkan 10 skill atau kemampuan yang wajib dimiliki oleh para profesional masa depan. Semuanya akan saya jabarkan satu persatu, kalau terlalu panjang nantinya akan saya buat per artikel jika perlu. Baiklah, apa saja sih 10 skill yang wajib dikuasai agar bisa sukses di masa depan? Ini dia:Cognitive Flexibility atau Fleksibilitas KognitifNegotiation atau NegosiasiService

pembangkit semangat saat lelah

Semua orang punya jalan hidup dan takdirnya masing-masing. Sekuat atau sekeras apapun saya bersikap seakan ingin menjadi orang lain, jika hidup saya tidak digariskan seperti itu, maka sampai hembusan nafas terakhir pun, saya tidak akan pernah sama seperti yang lain. Sudah terlalu banyak hitungan detik yang saya lewati dengan menyadari kesalahan setiap harinya. Banyak pertanyaan yang

Tips Membuat Konten Video Facebook dan Youtube DiKadalin TV

Hai, guys perkenalkan nama saya Adietya Max Chaviezd, Creator Konten + Editor dari Youtube Channel DIKADALIN TV yang sempat viral di Facebook dengan video tentang daerah Babelan karena jalan rusaknya. Video ini menjadi viral karena dibagikan hingga ribuan kali dari berbagai akun, tapi itu dulu, sekarang alhamdulillah jalannya sudah lumayan bagus.  Untuk melihat video-video Dikadalin TV

Selamat Hari Kartini

Kita selalu merasa telah menjadi orang yang paling kuat, tetapi di balik itu ada seseorang yang jauh lebih kuat dari kita. Kita selalu merasa telah menjadi orang cerdas, tetapi di balik itu ada seseorang yang jauh lebih cerdas dari kita. Kita bahkan selalu merasa telah menjadi manusia yang berpengaruh bagi sesama, tetapi di balik itu ada seseorang yang jauh lebih berpengaruh dari kita. 

Sttt… Saya Pernah Jadi Tukang Sampah

Kata orang, hadiah terbaik dari kerja keras bukan dilihat dari apa yang didapatkan, tapi menjadi apa dia berkat kerja kerasnya. Quote di atas membuat saya ingin cerita sedikit kisah masa lalu yang mengajarkan saya apa arti kerja keras. Saat itu memang saya tidak mendapatkan apa-apa kecuali sedikit uang lelah, tapi pengalaman itu membuat saya bisa membedakan antara kemalasan dengan

Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita


Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita. Sebagai manusia, kita seringkali dihinggapi rasa marah akibat kehilangan sesuatu. Sesuatu itu dapat berupa benda mati, dapat pula berupa benda hidup. Kita bisa saja dilanda amarah besar karena kehilangan alat tulis, atau sepotong pizza di kulkas. Kita bisa saja mengamuk karena bunga kesayangan digondol maling berikut wadahnya yang berharga ratusan ribu. Dan, kita juga bisa murka ketika kehilangan seseorang baik itu yang berhubungan darah maupun yang berhubungan emosi. Saya pernah murka pada diri sendiri karena tidak berada di Kota Ende ketika Allah SWT memanggil Bapa pulang ke surga. Saya juga pernah mengamuk pada anak badung yang melewati jalan depan rumah sambil sengaja merepetisi tarikan gas sepeda motor sehingga menimbulkan suara knalpot racing yang memekakkan kuping. Semua murka, amuk, amarah, adalah lumrah sebab kita hanyalah manusia.

Baca Juga: 5 Perkara Yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan

Menulis kata 'manusia' berarti menulis tentang diri saya sendiri, dia, kalian, mereka. Kita. Manusia-manusia penghuni alam raya. Makhluk ciptaanNya yang dilengkapi dengan akal dan perasaan. Bahkan, in case you forget about this, Allah SWT dengan penuh kasih sayang menciptakan manusia dan kita mengenalNya sebagai Maha yang penuh kasih sayang. QS Al Fatihah : 1 berkata "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang". Dan sudah seharusnya manusia saling mengasihi dan menyayangi dalam konteks universal. Dalam konteks privat, mengasihi dan menyayangi, akibat dari anugerah 'perasaan' itu, tercipta ketika ada percikan listrik. Antara seorang lelaki dengan seorang perempuan, tentu saja umumnya begitu. Tapi janganlah menutup mata bahwa konteks privat kasih sayang ini juga terjadi antara lelaki dengan lekaki, antara perempuan dengan perempuan. Gay. Lesbi. Lesbi, bukan let's be. Hehe.

Ketika lelaki dan perempuan, ambilah contoh yang umum, saling mengasihi dan menyayangi, atau saling cinta, ada desakan untuk harus memiliki. Apakah hanya saya saja yang berpikir begini atau kalian juga? Komen di bawah. Harus memiliki ini kemudian menjadi motivasi untuk berusaha melakukan yang terbaik bagi pasangan. Yang terbaik, dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah menjadi diri sendiri. Cara kedua adalah menjadi seperti yang diinginkan oleh pasangan. Tentu kalian sudah bisa menebak cara mana yang paling ampuh dan bertahan selamanya.  

Menjadi diri sendiri untuk membahagiakan pasangan, meskipun terasa sedikit pahit, memang paling mujarab untuk sebuah hubungan. Tidak ada manusia yang ingin terus-terusan bermain opera di hadapan pasangannya. I guess. Seperti para pelakon di panggung, capek itu pasti. Belum lagi dosa. Maka bermain aman melalui kejujuran, menurut saya, mutlak dilakukan. Kejujuran pasangan pada awal suatu hubungan mungkin tidak dilakukan atau dialami oleh semua orang. Bisa jadi kejujuran seorang lelaki akan membikin seorang perempuan syok. Demikian pula sebaliknya. Tapi percayalah, kejujuran pasti selalu bisa diterima karena masih banyak manusia yang sangat menghargai sebuah kejujuran.

Menjadi seperti yang diinginkan oleh pasangan, meskipun manis, bukanlah sesuatu permulaan yang baik. Setidaknya menurut saya begitu. Karena, pasangan tidak akan melihat dan menerima diri kita seutuhnya. Yang dia lihat dan terima adalah sosok imajiner yang ada dalam pikirannya. Mau sampai kapan terus-terusan menjadi sosok imajiner pasangan kita? Oh, no. Membayangkannya saja saya sudah duluan capek, lelah, letih. I can't! Saya tidak bisa menjadi barbie, Elsa dari animasi Frozen, Upik Abu, atau menjadi Lara Croft yang super seksi. Bahkan saya tidak bisa menjadi seperti Mamatua yang begitu dipuja oleh Bapa. Tapi percayalah masih banyak yang melakoninya dengan pasal tidak ingin kehilangan pasangannya.

Kehilangan saja sudah bikin dada kita sesak. Apalagi kehilangan pasangan. Saya mengalaminya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Entah. Pasangan yang betul-betul disebut pasangan. Pasangan yang baru mulai atau hendak menjadi pasangan. Semoga kalian paham maksudnya. Pada suatu titik didih saya sadari bahwa kehilangan pasangan bukanlah perkara terbesar ranah asmara

Melepaskan sesuatu. Berat. Memang! Harus disikapi dengan seni sehingga yang tertinggal kemudian adalah tawa. Menertawai diri sendiri. Tidak menangis? Ah, sebagai manusia menangis merupakan perbuatan paling manusiawi. Tapi menangis tidak boleh menjadi bagian terbesar dari hidup kita. Jadi, kalau ditanya apakah saya menangis ketika kehilangan? Iya, saya menangis. Sejadinya. Sendiri. Kemudian otak saya mulai mencerna tentang kehilangan ini. Saya mengingat ketika bunga berikut wadahnya digondol maling. Murka. Lantas membiarkan. Siapa sangka saya dihadiahi bunga yang baru oleh orang lain? Saya juga ingat ketika uang saya hilang sekian ratus ribu. Mencari ke mana? Susah sekali kalau jatuh perkaranya soal uang yang hilang. Saya membiarkan saja. Siapa sangka rejeki lain datang dengan cara tidak terduga?

Melepaskan sesuatu itu memang berat. Apalagi ... sesuatu yang sudah kita anggap sebagai hak milik ternyata bukan milik kita. Lelaki. Seorang sahabat bercerita tentang lelaki yang pergi. Lelaki yang telah mengucapkan janji-janji manis di awal, berusaha meyakinkan dalam perjalanan hubungan itu, kemudian memutuskan pergi. Lelaki yang sudah si sahabat anggap sebagai hak milik. Namun, ada ketidakberdayaan yang menyebabkan si sahabat tidak mungkin mempertahankan lelaki(nya). Sementara itu, perasaan sudah mulai bermain-main dalam hubungan itu. Berat. Memang. Ketika mendengar cerita itu, otak saya mulai mencerna. Mungkin lelaki tidak mampu menerima kejujuran sahabat saya, meskipun si sahabat mampu menerima kejujuran lelaki(nya). Bagi lelaki, mana ada perempuan seterbuka dan sesantai itu terhadap masa lalu seorang lelaki yang kelam? Makhluk astral! Maka, kemudian sahabat saya ditinggalkan.

Pada sahabat saya mulai menceritakan tentang perbuatan-perbuatan yang menyenangkan: traveling, mengenal masyarakat di daerah lain, menikmati sunset, nongkrong di kafe, atau sekadar membaca buku self improvement. Sahabat saya tertawa saat saya bercerita tentang teman-teman terbaik di kelas yang berakhir menjadi pengabdi negara, dan teman-teman terburuk di kelas yang menjadi pengusaha sukses. Ah, melihatnya tertawa, saya tahu dia masih sedih tapi setidaknya cerita-cerita konyol saya mampu menguranginya walau hanya sedikit.

Saya pernah berada dalam posisi si sahabat. Ditinggalkan. Kehilangan. Menangis sejadinya. Sendiri. Tapi saya bukan tipe manusia yang bergembira dalam larutan kesedihan. Saya ingin menjadi yang berbeda. Mulai dengan mencerna bahwa setiap kehilangan niscaya akan diganti dengan sesuatu yang baru meskipun tidak harus sesuatu yang jauh lebih baik. Bunga dan wadahnya yang digondol maling itu diganti dengan bunga lain meskipun bukan mawar (bunga yang hilang itu adalah mawar). Saya mencerna bahwa desakan untuk memiliki seseorang adalah kesalahan fatal. Oleh karena itu desakan memiliki saya ganti dengan desakan untuk bersama-saja. Dan seseorang yang telah bersama kita, tanpa harus dimiliki itu, kemudian memutuskan pergi, saya harus melepaskan karena itu bukan milik saya. Seseorang itu adalah milik Allah SWT.

Apakah saya coba menulis tentang ikhlas di sini? Ah, tidak. Ikhlas adalah ilmu tertinggi yang belum bisa saya capai. Mencoba-ikhlas, itu dia. Mencoba-ikhlas dan menjalani kehidupan saya seperti semual jadi. Menikmati keajaiban demi keajaiban yang dicurahkan Allah SWT untuk saya. Menderita maag tapi masih bisa menegak kopi itu adalah keajaiban. Kadar gula dalam darah sangat tinggi tapi masih bisa menikmati cake manis tanpa keluhan adalah keajaiban. Neuropati tapi masih mampu naik-turun tangga tiga lantai adalah keajaiban. Setiap hari mendengar celoteh riang Mamatua bersama Mamasia adalah keajaiban. Pun diberi kesempatan merawat dua keponakan adalah keajaiban. Saya membuka pintu pandangan yang lain ketika pintu asmara saya rusak.
Terakhir, seni untuk melepaskan sesuatu atau seseorang yang bukan milik kita adalah dengan menyadari bahwa itu milik Allah SWT. Itu milik Tuhan. Dan urusan sama Allah SWT itu tidak boleh ada protes. Semakin memprotes, semakin berat yang akan kita pikul. Seni untuk melepaskan sesuatu atau seseorang yang bukan milik kita adalah dengan membiarkan atau mencoba-ikhlas. Seni untuk melepaskan sesuatu atau seseorang yang bukan milik kita adalah dengan membuka pintu pandangan yang lain ketika pintu asmara rusak. Bahwa apa yang dialami bukanlah end of the world. Jangan memikul apa yang tidak perlu dipikul. Biarkanlah.

Kita hanyalah manusia yang diciptakan Allah SWT bukan untuk memikul segalanya dalam hidup.[]



Cheers.

Tentang Cita-cita dan Angan-angan

Tentang Cita-cita dan Angan-angan
Foto: Hepi Andi Bastoni 
Berbahagialah dengan apa yang kamu miliki, bersemangatlah dengan apa yang kamu cita-citakan. Begitu kira-kira kalimat motivasi yang pernah menyadarkan saya sedikit banyak makna "cita-cita".

Sementara ada yang masih memperdebatkan perbedaan angan-angan dan cita-cita dengan segala aspeknya mari kita menghindari perdebatan yang hanya membahas kulitnya saja. Pastinya kita paham inti perbedaan antara cita-cita dan khayalan atau angan-angan kosong yang dihasilkan oleh hawa nafsu sementara. Sulit mendefinisikan dan membedakan secara mutlak dengan kata-kata, tapi saya yakin semua orang paham bedanya cita-cita dan khayalan tanpa perlu berpanjang lebar mendefinisikan bahwa cita-cita adalah bla bla bla.

Ada yang bilang angan-angan khayalan tidak baik bagi perkembangan daya pikir dan pribadi karena biasanya selain tidak berdasar, angan-angan tidak mengajak kita berpikir logis tentang bagaimana cara untuk mewujudkan angan-angan itu. Itulah tidak baiknya berpanjang angan yang biasa dikenal dengan melamun.

Sebaliknya, cita-cita adalah pandangan jauh ke depan yang memiliki tahapan-tahapan sesuai logika tentang bagaimana cara mewujudkannya. Dari visi itulah dapat disusun misi dan hal-hal yang harus kita lakukan dan penuhi untuk mewujudkan visi atau cita-cita kita.

Ambil contoh jika kita bercita-cita ingin menjadi Pramugari. Maka untuk mewujudkan cita-cita itu kita setidaknya harus banyak memiliki informasi mengenai keterampilan-keterampilan dan skil apa yang wajib dimiliki oleh setiap Pramugari. Kita harus mulai memahami tugas-tugas dan tanggungjawab seorang pramugari dan mulai memanfaatkan waktu kita untuk diinvestasikan dalam mempelajari keterampilan-keterampilan yang akan mendukung tugas seorang pramugari. Demikian juga jika kita bercita-cita ingin menjadi Pilot, Dokter dan berbagai profesi lainnya.

Singkat kata, cta-cita membutuhkan kesadaran akan kekurangan-kekurangan yang ada pada diri kita dan menggunakan apa yang kita miliki saat ini untuk mengejar segala kekurangan-kekurangan itu bagaimanapun caranya.

"Berbahagialah dengan apa yang kita miliki, bersemangatlah dengan apa yang kita cita-citakan."

Berbahagia dengan yang kita miliki saat ini merupakan sebuah sikap positif yang jujur mengenai keadaan kita saat ini dan dari situlah kita inginkan perubahan. Perubahan ini harus muncul dari dalam diri kita, kita harus berubah agar dapat memanfaatkan kemungkinan-kemungkinan untuk mengubah keadaan di luar diri kita. Perubahan dari dalam ke luar ini  wajib dan prosesnya tidak bisa dibalik. 

Apa yang kita miliki saat ini? Minimal kita memiliki waktu dan pikiran. Jangan remehkan pikiran kita sebagai sumber tenaga yang bisa mendorong perubahan dan memperkuat mental kita saat berjuang dalam memperjuangkan sebuah cita-cita.

Ibn Al-Jauzi dalam kitabnya “Shaidul Khatir” menyampaikan pesan yang kurang lebih bermakna, “Barangsiapa yang menggunakan pikirannya yang jernih, niscaya pikirannya itu akan mengantarnya pada kedudukan yang mulia, dan mencegahnya dari sikap ridha terhadap kekurangan dalam segala hal.”

Pikiran yang jernih adalah modal yang sangat penting untuk kita dalam perjuangan menghadapi kehidupan. Pikiran yang jernih ini jauh dari pikiran-pikiran negatif yang memandang sempit kehidupan. Asah pikiran dan gunakanlah untuk kebaikan, minimal untuk kebaikan diri sendiri sehingga dapat bermanfaat bagi alam bagaimanapun caranya. Dengan berpikir jernih, manusia akan terbebas dari bergantung kepada selain Allah. 

Ibn Al-Jauzi memberikan tips agar kita dapat berpikir jernih, yaitu hanya memohon kepada Allah SWT, pencipta segala macam sebab. “Kembalilah pada asal mula yang pertama. Mintalah dari Dzat yang menciptakan sebab. Duhai… betapa beruntung dirimu bila engkau berpikir dan bisa mengetahuinya! Karena mengetahui hal itu berarti (mengerti) hakikat dunia dan akhirat.”

Btw buku Shaidul Khatir karya Ibn Al-Jauzi ini saya rekomendasikan buat teman-teman yang membutuhkan asupan teknik-teknik "self help" dan memperkaya wawasan sari kebijaksanaan pemikiran-pemikiran cendekiawan muslim klasik.

Begitu saja catatan sore ini, semangat selalu buat kalian yang masih berjuang dalam mengejar cita-cita, jangan pernah menyerah hingga berhasil.

Lelah boleh, menyerah jangan :)




Karena Setiap Manusia Pasti Tergelincir dan Berbuat Keliru


Karena Setiap Manusia Pasti Tergelincir dan Berbuat Keliru. Sebenarnya untuk topik yang sama, plagiat, saya sudah menulis cukup panjang, tapi tulisan itu saya gantikan dengan tulisan yang ini. Tulisan yang lebih lembut dan halus seperti saya *dinosaurus muntah hijau*. Jelasnya kita semua; saya, kalian, mereka, pasti sama-sama darah mendidih berhadapan dengan plagiator yang melakukan plagiarisme terhadap karya, utuh maupun sebagian, seakan-akan yang terlihat itu adalah karya si plagiator sendiri. Di zaman internet, zaman digital, karya seperti tulisan, foto, lagu, dan video, menjadi mainan dan bulan-bulanan plagiator. Apabila orang bilang mudahnya jempol memencet tombol share, maka plagiator tulisan sangat mudah melakukan kopi-tempel.

Baca Juga: Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp

Bila-bila seseorang disebut plagiator? Bila dia mengkopi-tempel, dalam pokok perkara ini adalah tulisan, tanpa menyamtumkan sumber tulisan dan/atau credits. Agar kalian paham, saya mencoba menulis pos ini menggunakan metode proposal skripsi. Haha *dinosaurus julid*.

Latar Belakang Masalah


Adalah tulisan saya di blog travel yang berjudul Lawo Lambu | Zawo Zambu dikopi-tempel oleh salah seorang Facebooker. Hal itu saya ketahui dari bisik-bisik seorang kawan. Membaca tulisan Facebooker tersebut, baru paragraf pertama, langsung sudah tahu itu tulisan saya. Membaca sampai pertengahan, saya kaget karena tulisan yang selalu melekat pada pos blog seperti 'Keluarga Pharmantara', 'Mamatua', dan 'Mamasia', sama sekali tidak dihapus oleh yang bersangkutan. Tetapi, sampai akhir tulisan tersebut saya tidak menemukan sumber tulisan dan/atau credits. Dalam hati saya berkata: kena juga tulisan saya diplagiat utuh. Oleh karena itu, screenshoot pos Facebooker tersebut saya jadikan pula pos Facebook. Pos Facebook saya itu menuai banyak komentar, tentu saja, karena plagiarisme ada hukum yang mengaturnya. Itu terjadi pada Rabu, 16 Oktober 2019.

Rumusan Masalah


Agar pembahasan nanti tidak terlalu melebar, meskipun kebiasaan saya suka melebar sana sini, mari rumuskan dulu permasalahannya.

1. Mengapa tulisan saya dikopi-tempel?
2. Mengapa plagiarisme masih terjadi di tengah maraknya kampanye literasi digital?

Pembahasan


Saya membangun/membikin banyak blog, di banyak platform, dan jumlahnya puluhan. Ada dua blog yang betul-betul dikelola dengan sangat baik yaitu BlogPacker yang diisi dengan tulisan tema harian, dan I am BlogPacker yang merupakan blog travel dengan isi tentang perjalanan hingga ragam wisata termasuk tulisan berjudul Lawo Lambu | Zawo Zambu yang dikopi-tempel itu. Dari pengakuan, juga komentar yang tertoreh, tulisan saya dikopi-tempel karena yang bersangkutan menyukai tema yang diangakat yaitu tentang (wisata) budaya: pakaian tradisional perempuan Kabupaten Ende. Sayangnya, yang bersangkutan sama sekali tidak paham bahwa apa yang sudah dilakukannya merupakan salah satu bentuk plagiarisme (terparah).

Kesimpulan sementara: sebenarnya orang yang mengkopi-tempel tulisan saya tanpa menyantumkan sumber tulisan dan/atau credits tersebut bertujuan baik, karena suka pada tulisan tersebut, lantas membaginya di laman Facebooknya, agar lebih banyak orang tahu tentang pakaian adat/tradisional perempuan Kabupaten Ende. Akan tetapi, dia tidak sadar, bahwa apa yang diperbuatnya itu hanya berdampak nol koma sekian persen. Marilah kita lihat pada penjelasan-penjelasan berikut!

Pertama: Tulisan itu sudah saya pos di blog travel sejak tahun 2018, dengan pembaca sampai saat ini sebanyak 1136 orang. Semua entri pada blog tersebut, berdasarkan statistik penayangan menurut negara, terbanyk dibaca oleh orang-orang yang berada di Indonesia, dilanjutkan dengan Amerika Serikat, dan seterusnya, bisa dilihat pada gambar di bawah ini:


Dengan statistik penayangan menurut peramban dan menurut sistem operasi seperti pada gambar di bawah ini:


Sedangkan pos terpopuler atau paling banyak dibaca dari blog travel saya itu seperti yang dijelaskan pada gambar di bawah ini:



Kedua: Dengan yang bersangkutan mengkopi-tempel/memplagiat tulisan saya tersebut ke laman Facebooknya, tanpa menyantumkan sumber dan/atau credits, jelas tidak membawa dampak dan/atau perubahan apapun pada blog travel, bisa dilihat pada gambar di bawah ini:


Kalian lihat, baik URL Perujuk maupun Situs Perujuk masih dipegang kuat oleh Google. Bahkan pada URL Perujuk, Facebook menempati posisi nomor lima.

Ketiga: Setiap tulisan di blog, pasti ada tombol share/berbagi. Tombol ini ada di mana-mana! Lihat ikon berbagi yang saya lingkari warna merah pada dua gambar di bawah ini:



Penjelasan di atas bermaksud agar semua orang tahu dari mana para pengunjung dan/atau pembaca blog-nya datang. Salah seorang komentator status yang bersangkutan, pada status permohonan maaf, malah berkata: sudah untung blog itu diperkenalkan (melalui tulisan yang diplagiat itu). Salah! Blog saya tidak perlu diperkenalkan dengan cara tulisan saya diplagiat. Dan, pun di tulisan tersebut tidak merujuk pada blog travel saya sama sekali.

Sampai di sini, saya anggap kita semua sudah sepemahaman ya. Marilah kita lanjut.

Mengapa tulisan saya bisa dikopi-tempel? Karena saya tidak melindungi blog dan/atau tulisan dari perbuatan kopi-tempel dengan skrip tertentu. Pertanyaan lanjutan, kenapa saya tidak melindungi blog dan/atau tulisan dari perbuatan kopi-tempel? Karena saya percaya semua tulisan pada kedua blog pasti bermanfaat bagi orang lain yang membacanya, setidaknya menghibur. Saya pernah menulis paragraf berikut ini pada novel Tripelts:

Salah satu nasihat Ali Bin Abi Thalib—termasuk dalam golongan pertama pemeluk Islam, saudara sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW yangmana dia menikahi Fatimah az-Zahra—berbunyi: “Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang lebih terpencil dari pada seorang bakhil.” Penjelasan paling hakiki nasihat laki-laki yang pernah menjabat sebagai Khalifah pada tahun 656 – 661 tersebut tercantum di dalam Surat Ali ‘Imran 180: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ilmu dan informasi termasuk harta kekayaan. Jangan sampai kita menjadi orang yang bakhil. Tapi ingat, jangan sampai pula kita menjadi orang yang alpa dari mana ilmu dan informasi itu kita peroleh. Oleh karena itu, jika ada yang mengkopi-tempel tulisan saya, tidak masalah, selama menyantumkan sumber tulisan dan/atau credits. Karena, saat saya menulis di blog atau di mana pun, apabila ada sumber yang diperoleh dari orang lain atau situs lain, tetap harus menulis credits. Termasuk foto-foto unik yang sering pula saya pos di Facebook.

Sebenarnya, untuk mengantisipasi plagiarisme sudah ada hukum yang mengaturnya seperti Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta), serta Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Melihat perbuatan plagarisme terjadi di ranah digital/elektronik, maka peraturan yang paling tepat dipakai adalah UU ITE. Pos blog adalah dokumen elektronik yang sah sesuai muatan Pasal 5 ayat (1) UU ITE yaitu: Bahwa keberadaan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik mengikat dan diakui sebagai alat bukti yang sah untuk memberikan kepastian hukum terhadap Penyelenggaraan Sistem Elektronik dan Transaksi Elektronik, terutama dalam pembuktian dan hal yang berkaitan dengan perbuatan hukum yang dilakukan melalui Sistem Elektronik.

Tapi hari ini saya tidak membahas tentang hukum. Haha. Bisa lebih panjang nanti pos blog ini.

Mari lanjutkan pembahasan pada pertanyaan mengapa plagiarisme masih terjadi di tengah maraknya kampanye literasi digital. Ini menarik. Karena bersama #EndeBisa, kami terjun ke sekolah-sekolah dan salah satu poinnya adalah mengkampanyekan literasi digital dengan materi yang dikeluarkan oleh Internetsehat (ICT Watch). Tulisan saya yang diplagiat itu dilakukan oleh anak sekolah. Mungkin ini terjadi karena belum semua sekolah menerima informasi ini. Karena di dalam literasi digital saya juga dengan tegas menyampaikan tentang plagiarisme sebagai perbuatan yang melanggar hukum, antara lain mengambil foto orang lain dan mengaku itu fotonya, juga mengambil tulisan orang lain dan mengaku itu tulisannya. 

Nampaknya literasi digital harus lebih gencar dikampanyekan. Tidak hanya di sekolah-sekolah, tetapi juga di komunitas, kumpulan remaja dan ibu-ibu, pokoknya di berbagai lini, agar terhindar dari yang namanya plagiarisme.

Pada pembahasan ini saya juga ingin menulis tentang teman-teman dari Facebooker yang melakukan plagiarisme tersebut. Sebagai teman, tidak peduli unsur apapun termasuk kedekatan, sudah selayaknya kita harus menegur apabila memang perbuatannya keliru. Dengan membela, apalagi memprovokasi, justru akan memperparah permasalahan yang seharusnya sudah selesai. Sayang sekali.

Kesimpulan dan Saran


Tulisan saya diplagiat, kemudian saya mengepos screenshoot posnya di Facebook, lantas menuai banyak komentar. Yang bersangkutan kemudian meminta maaf, juga di ruang publik. Saya maafkan dengan permohonan maaf pula. Siapalah saya ini, hanya penghuni semesta yang juga tidak lepas dari yang namanya tergelincir dan berbuat keliru.

Terima kasih Xxxx Xxxx, sudah saya tulis di status sebelumnya, permintaan maaf saya sambut dengan permohonan maaf juga. Karena semua manusia harus bisa saling memaafkan. Kelebihan dan kekurangan itu terjadi pada setiap manusia. Oleh karena itu, setiap yang kurang sama-sama ditambal sulam, yang lebih disedekahkan (kalau bisa).

Saya anggap permasalahan sudah selesai. Dan semoga tidak ada komentar macam-macam dari siapapun juga yang menganggap remeh plagiarisme, karena ada hukum yang mengaturnya. Tidak masalah mengambil tulisan orang lain, tapi sertakan juga sumbernya, itu pasti sangat bisa diterima. Alangkah baiknya gunakan tombol share/berbagi yang ada pada setiap tulisan.

Mari belajar literasi digital, agar sama-sama paham.

Sekali lagi, terima kasih.

Baca Juga: Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo

Dengan demikian, saya anggap permasalahan ini sudah selesai sejak Kamis, 17 Oktober 2019. Komentar-komentar dari teman-temannya yang membikin kisruh saya anggap sebagai perbuatan dari orang yang tidak tahu pokok permasalahan, dan sama sekali buta akan hukum plagiat di Indonesia, juga buta akan dunia per-blog-an sehingga tidak terlalu saya pusingkan. Meskipun saya menerima ancaman dari salah seorangnya, dan itu yang membikin adik, keponakan, dan teman-teman tidak bisa menerima ancaman tersebut, tapi tidak mengapa. Hehe. Semoga, dengan membaca ini, jadi sama-sama paham bahwa memplagiat itu tidak boleh dilakukan. Untung kalau si pemilik karya tidak tahu, kalau pemilik karyanya tahu? Berabe.

Alangkah baiknya menulis sendiri, ketimbang memplagiat tulisan orang lain, karena seperti apapun sebuah tulisan sepanjang itu tulisan sendiri, betapa bangganya. Jangan takut untuk menulis, sepanjang tidak melanggar norma, hukum, dan adat, tulislah!

Semoga bermanfaat bagi semua kalian yang membacanya, pun bagi saya yang menulisnya, karena setiap manusia pasti tergelincir dan berbuat keliru.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Menghadapi Keraguan

3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Menghadapi Keraguan
Keraguan diri atau meragukan kemampuan diri sendiri dapat menjadi sebuah beban yang sulit untuk diatasi. Saat kita memiliki keraguan pada kemampuan diri sendiri, itu dapat menghalangi kita untuk melakukan banyak hal positif. Semoga catatan ini berguna saat kita menghadapi keraguan yang datang tanpa diundang.

3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Menghadapi Keraguan

1. Berikan Waktu Kepada Diri Sendiri Untuk Berubah

Jika selama ini kita fokus pada kekurangan dan telah terbiasa dengan keraguan, maka perlu beberapa waktu dan usaha yang keras untuk meninggalkan kebiasaan itu. Bayangkan sebuah perahu yang dengan kecepatan tinggi mengarah ke tengah laut. Seketika kita ingin kembali ke pantai maka tentunya diperlukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit untuk memutar haluan lalu berbalik arah. Perahu memerlukan waktu untuk memperlambat kecepatannya lalu kemudian memutar haluan secara perlahan agar tidak terbalik dan tenggelam karena manuver yang terlalu cepat.

Perumpamaan itu juga berlaku dengan diri kita. Hanya karena kita memahami bahwa keraguan diri adalah perasaan yang tidak baik dan tidak produktif lalu kita ingin mengubahnya tidak berarti perubahan itu akan terjadi saat itu juga secara instan. Tetapi jika kita dapat memperlambat momentum keraguan diri (mengerem) dan mulai mempraktikkan pikiran yang selaras dengan kepercayaan diri, cepat atau lambat perubahan pasti akan terjadi pada akhirnya.

Anda mungkin muak dengan rasa lelah dan ingin memiliki lebih banyak energi yang bersumber dari rasa percaya diri. Tapi cuma dengan membuat keputusan positif seperti itu tidak akan memberi Anda energi instan secara langsung walaupun keputusan itu adalah langkah awal yang sangat penting dalam proses ini. Anda tetap harus menggali lebih dalam dan membuat beberapa perubahan untuk memahami lebih banyak sumber energi dari dalam diri. Dari sana Anda juga akan mulai menemukan penyebab kelelahan Anda. Jangan menyerah terlalu cepat. Jangan biarkan pikiran negatif atau keraguan diri kembali menguasai dan menghentikan upaya Anda untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kebahagiaan Anda.

Anda adalah Seorang Pemikir, Bukan Hasil Dari Pikiran Negatif Anda

2. Anda adalah Pemikir, Bukan Hasil Pikiran Anda

Mulailah mengembangkan kesadaran dan jarak dari pikiran Anda, khususnya pikiran-pikiran negatif. Akan sangat membantu untuk menyadari bahwa ANDA BUKAN PIKIRAN ANDA. Hanya karena Anda memikirkan pikiran yang sesuai dengan keraguan diri tidak berarti pikiran ini benar atau fakta yang sesungguhnya. Pikiran itu hanya TERASA BENAR karena Anda telah terkondisikan demikian dengan cukup lama. Anda dapat mengubah ini dengan mulai memberi jarak dari pikiran Anda. Ini akan membantu Anda menjauhi dan terikat pada pikiran-pikiran negatif. Anda adalah pemikir BUKAN hasil pikiran ini berarti Anda memiliki kekuatan tertinggi dalam hidup Anda. Mulailah memperhatikan kata hati dan suara-suara positif dalam pikiran Anda. Pada akhirnya pikiran harusnya bekerja untuk Anda, bukan malah mengurung dan merusak kebahagiaan juga masa depan Anda.

3. Bedakan Antara Pengkritik Batin Anda dan Guru Batin Anda

Di dalam diri kita masing-masing ada seorang kritikus batin dan seorang guru batin. Ini adalah suara-suara berbeda yang kita dengar di dalam kepala kita jika kita meluangkan waktu untuk mengamati pembicaraan pada diri kita sendiri. Pengkritik batiniah Anda akan selalu datang dengan banyak alasan untuk memperkuat argumentasi "mengapa ini tidak akan berhasil”. Anda dapat mengenali suara kritik dalam diri Anda dengan kata-kata dan nada negatif yang mengkritik diri sendiri. Anda mungkin menemukan diri Anda mengatakan hal-hal seperti: "Ini tidak akan pernah berhasil untuk saya" atau "Orang lain mungkin bisa berhasil, tetapi semua yang saya coba untuk meningkatkan kebahagiaan saya telah gagal. Kali ini pasti akan gagal juga. "

Ketika Anda mengalami keraguan diri, biasanya itu berarti pengkritik batin Anda yang mengendalikan diri Anda. Setelah Anda menyadari pikiran kritis yang meragukan diri sendiri, saya ingin Anda memvisualisasikan tanda berhenti, berbendera merah!.

Ungkapkan terima kasih kepada pengkritik batin Anda karena berusaha melindungi Anda dengan keraguan diri. Tetapi biarkan pengkritik batin Anda tahu: "Tidak apa-apa gagal! Saya harus berani mencoba!."

Perhatikan, apakah Anda dapat menantang pikiran-pikiran negatif dalam diri Anda dan menggantinya dengan pikiran yang lebih realistis, seperti "Orang lain saja bisa, kenapa saya tidak bisa?".

3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Menghadapi Keraguan

Dengarkan Guru Batin Anda

Anda dapat mengaktifkan dan mendengarkan guru batin Anda dengan mengajukan pertanyaan yang tepat. Guru batin Anda adalah suara yang mendorong, menyejukkan, dan penyemangat yang mendukung Anda ketika Anda membutuhkannya. Kadang-kadang Anda hanya perlu memperlambat  pikiran-pikiran Anda dan sedikit menenangkan si pengkritik batin untuk mendengar guru batin Anda.

Mengajukan pertanyaan seperti: Seberapa jauh saya telah menempuh perjalanan ini, apa yang telah saya pelajari selama ini? Apa aktivitas positif yang dapat saya lakukan sekarang? Dan bagaimana saya bisa membuatnya lebih baik? pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu mengaktifkan suara guru batin Anda.


Salam.


Mengenali Toxic Workplace dan Cara Menghadapinya

Mengenali Tempat kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) dan Cara Menghadapinya

Jangan sampai lingkungan kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) merusak masa depan Anda.

Pada dasarnya semua pekerjaan memiliki tingkat stres. Namun, jika saat berangkat bekerja (atau hanya membayangkan berangkat) sudah membuat Anda lelah, tertekan, atau bahkan tidak enak badan atau sakit, sadarilah bahwa itu lebih dari sekadar tekanan kerja biasa; itu sudah merupakan gejala awal dan tanda-tanda lingkungan kerja yang tidak sehat.

Ciri-ciri lingkungan kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) 

Tempat kerja yang tidak sehat dapat diartikan sebagai lingkungan kerja apa pun di mana pekerjaan, suasana, atmosfer, orang-orang, atau kombinasinya itu menyebabkan gangguan serius pada kehidupan Anda.

Gangguan ini dapat muncul dalam sejumlah gejala fisik, menurut sebuah artikel baru - baru ini oleh pelatih dan profesor perilaku manusia Melody Wilding. Gejalanya termasuk "gangguan tidur, merasa selalu waspada, telapak tangan berkeringat, dan jantung yang berdetak cepat melebihi normal."

Terlebih lagi, tempat kerja yang tidak sehat atau bermusuhan memiliki dampak kesehatan negatif yang dapat memengaruhi kehidupan pribadi Anda dengan "merusak semuanya, mulai dari harga diri hingga kehidupan sosial Anda," kata Wilding.

Tubuh kita memiliki kecerdasan instingtif untuk memberi tahu bahwa ada gangguan atau "bahaya" yang mengganggu, kita perlu peka dan tidak mengabaikannya tanda-tanda yang dikrim oleh tubuh. Sering-seringlah bertanya pada diri sendiri beberapa pertanyaan ini:

Bagaimana tidurmu? Apakah Anda secara teratur dapat tidur nyenyak atau setidaknya tidur yang cukup selama delapan jam?

Bagaimana kebiasaan makanmu? Apakah Anda sering terlalu stres atau tidak punya waktu untuk makan, atau apakah Anda cenderung makan berlebihan?

Apakah Anda merasa nyaman di rumah dan aman di tempat kerja?

Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu bersifat negatif, maka inilah saatnya untuk menilai lingkungan kerja Anda dan memeriksa lebih jauh apa yang sebenarnya menyebabkan kesehatan dan kesejahteraan Anda terganggu.
Mengenali Tempat kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) dan Cara Menghadapinya

Indikator lingkungan kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) 

Ini adalah beberapa indikator kuat bahwa Anda berada di lingkungan kerja yang tidak sehat:
  • Karyawan yang tidak sehat: Tempat kerja yang tidak sehat menyebabkan karyawan cepat kelelahan, keletihan, dan penyakit yang disebabkan oleh tingkat stres yang tinggi yang mendatangkan berbagai keluhan pada tubuh. 
  • Atasan Yang Narsis: Yaitu atasan yang selalu menuntut Anda agar selalu setuju dan menganggap bahwa mereka selalu benar, serta dapat mengabaikan aturan-aturan. Mereka mengharapkan karyawan menjadi taat dan sempurna sementara mereka dapat melanggarnya.
  • Rendah Bahkan Tidak Adanya Antusiasme: Lihatlah ke sekeliling kantor. Adakah dapat terlihat ekspresi kebahagiaan karyawan yang bekerja di sana? Adakah yang tersenyum? Apakah ada percakapan positif dan keceriaan? Adakah suasana yang menyenangkan? Jawaban "Tidak" atas pertanyaan-pertanyaan tadi patut diperhitungkan.
  • Komunikasi yang kurang atau Komunikasi Negatif: Anda dan orang lain tidak mendapatkan informasi yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan Anda. Anda bekerja keras tanpa umpan balik positif dan tanpa pengakuan atau pujian komplimen yang wajar, atau Anda bahkan mungkin sama sekali tidak dianggap?.
  • Sering Berganti Personil: Ketika seseorang masuk ke dalam lingkungan kerja yang tidak menawarkan apa-apa selain jalan buntu, moral kerja yang rendah, dan tidak menyehatkan, orang akan selalu berusaha keluar dan mencari yang lebih baik. Jika Anda melihat tingkat keluar masuk dan pergantian personil yang tinggi di perusahaan atau departemen Anda, anggap itu sebagai salah satu tanda tempat kerja yang tidak sehat.
  • Gank, Gosip, dan Rumor: Semua orang tampaknya hanya bekerja untuk diri mereka sendiri, tidak ada kerjasama dan persahabatan di antara para karyawan. Ada banyak pertikaian, persaingan kelompok serta gosip dan rumor.
Selain daftar di atas, percayalah pada insting dan perasaan Anda jika  merasakan ada sesuatu yang "tidak wajar" pada tempat kerja Anda
Setelah Anda tahu apa yang Anda hadapi, saatnya untuk mengembangkan strategi yang dapat membantu Anda tetap waras dari hari ke hari.
Mengenali Tempat kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) dan Cara Menghadapinya

Cara menangani lingkungan kerja yang tidak sehat

Karena butuh waktu untuk mencari pekerjaan yang baru dan Anda tidak bisa langsung meninggalkan situasi sulit ini begitu saja, ada baiknya Anda mengembangkan strategi untuk menangani lingkungan seperti itu hingga Anda mendapatkan pekerjaan yang baru di tempat lain:
  1. Temukan orang yang merasakan hal yang sama dengan Anda. Kembangkan persahabatan dengan orang-orang yang merasakan hal yang sama seperti Anda. Harapannya adalah Anda akan saling mengawasi dan akan berbagi berita apa pun dengan kelompok tersebut.
  2. Lakukan sesuatu setelah bekerja yang dapat membantu menghilangkan stres. Pergi ke kafe, olah raga di rumah, atau pelajari keterampilan baru. Kuncinya adalah memastikan Anda menjalani kehidupan yang memuaskan di luar pekerjaan untuk memerangi drama di tempat kerja Anda.
  3. Buat daftar untuk membuat diri Anda sibuk. Daftar kegiatan yang dapat membantu Anda tetap fokus pada tugas-tugas Anda alih-alih terlibat drama dalam lingkungan yangtidak menyehatkan sehingga dapat memberi Anda alasan untuk terus bekerja setiap hari.
  4. Dokumentasikan semua yang Anda lakukan. Simpan email dan tulis komentar dan keputusan dari rapat, panggilan telepon, dan setiap orang yang berinteraksi dengan Anda. Jika Anda perlu mengajukan keluhan, Anda perlu bukti untuk mendukung aksi Anda.
  5. Persiapkan strategi keluar Anda. Ada kemungkinan hal-hal akan membaik di lingkungan kerja Anda, jika demikian maka itu adalah alasan yang masuk akal untuk tetap bertahan. Namun, sambil menunggu, mulailah mencoba melihat-lihat lowongan dan mulai mencari pekerjaan baru. Ini akan membantu Anda tetap positif ketika segala sesuatunya menjadi lebih buruk. Jika Anda harus pergi secepatnya, pertimbangkan pekerjaan sambilan yang akan membuat Anda tetap aktif saat Anda belum menemukan pekerjaan baru yang sesuai dengan karier dan cita-cita Anda.
Cara paling praktis untuk tidak terjebak ke dalam lingkungan kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) ya jangan sekali-sekali masuk, kalau pun sudah terlanjur masuk maka segeralah keluar sebelum merusak segala yang baik di diri Anda. Apapun yang mengorbankan kedamaian hati, maka itu terlalu mahal, karena tidak ada yang lebih berharga dari kedamaian hati yang dapat membuat hidup bahagia. "Anything that costs you your peace is too expensive."


Anything that costs you your peace is too expensive

Mengenali tanda-tanda lingkungan kerja yang tidak sehat dan cara menanganinya akan memungkinkan Anda mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai situasi dan waktu Anda. Semoga pekerjaan Anda berikutnya adalah lingkungan yang benar-benar Anda idamkan untuk bekerja. 


-----------------------
Artikel ini adalah artikel terjemahan bebas dari: Signs You’re in a Toxic Work Environment and How to Handle It.