Karena Setiap Manusia Pasti Tergelincir dan Berbuat Keliru


Karena Setiap Manusia Pasti Tergelincir dan Berbuat Keliru. Sebenarnya untuk topik yang sama, plagiat, saya sudah menulis cukup panjang, tapi tulisan itu saya gantikan dengan tulisan yang ini. Tulisan yang lebih lembut dan halus seperti saya *dinosaurus muntah hijau*. Jelasnya kita semua; saya, kalian, mereka, pasti sama-sama darah mendidih berhadapan dengan plagiator yang melakukan plagiarisme terhadap karya, utuh maupun sebagian, seakan-akan yang terlihat itu adalah karya si plagiator sendiri. Di zaman internet, zaman digital, karya seperti tulisan, foto, lagu, dan video, menjadi mainan dan bulan-bulanan plagiator. Apabila orang bilang mudahnya jempol memencet tombol share, maka plagiator tulisan sangat mudah melakukan kopi-tempel.

Baca Juga: Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp

Bila-bila seseorang disebut plagiator? Bila dia mengkopi-tempel, dalam pokok perkara ini adalah tulisan, tanpa menyamtumkan sumber tulisan dan/atau credits. Agar kalian paham, saya mencoba menulis pos ini menggunakan metode proposal skripsi. Haha *dinosaurus julid*.

Latar Belakang Masalah


Adalah tulisan saya di blog travel yang berjudul Lawo Lambu | Zawo Zambu dikopi-tempel oleh salah seorang Facebooker. Hal itu saya ketahui dari bisik-bisik seorang kawan. Membaca tulisan Facebooker tersebut, baru paragraf pertama, langsung sudah tahu itu tulisan saya. Membaca sampai pertengahan, saya kaget karena tulisan yang selalu melekat pada pos blog seperti 'Keluarga Pharmantara', 'Mamatua', dan 'Mamasia', sama sekali tidak dihapus oleh yang bersangkutan. Tetapi, sampai akhir tulisan tersebut saya tidak menemukan sumber tulisan dan/atau credits. Dalam hati saya berkata: kena juga tulisan saya diplagiat utuh. Oleh karena itu, screenshoot pos Facebooker tersebut saya jadikan pula pos Facebook. Pos Facebook saya itu menuai banyak komentar, tentu saja, karena plagiarisme ada hukum yang mengaturnya. Itu terjadi pada Rabu, 16 Oktober 2019.

Rumusan Masalah


Agar pembahasan nanti tidak terlalu melebar, meskipun kebiasaan saya suka melebar sana sini, mari rumuskan dulu permasalahannya.

1. Mengapa tulisan saya dikopi-tempel?
2. Mengapa plagiarisme masih terjadi di tengah maraknya kampanye literasi digital?

Pembahasan


Saya membangun/membikin banyak blog, di banyak platform, dan jumlahnya puluhan. Ada dua blog yang betul-betul dikelola dengan sangat baik yaitu BlogPacker yang diisi dengan tulisan tema harian, dan I am BlogPacker yang merupakan blog travel dengan isi tentang perjalanan hingga ragam wisata termasuk tulisan berjudul Lawo Lambu | Zawo Zambu yang dikopi-tempel itu. Dari pengakuan, juga komentar yang tertoreh, tulisan saya dikopi-tempel karena yang bersangkutan menyukai tema yang diangakat yaitu tentang (wisata) budaya: pakaian tradisional perempuan Kabupaten Ende. Sayangnya, yang bersangkutan sama sekali tidak paham bahwa apa yang sudah dilakukannya merupakan salah satu bentuk plagiarisme (terparah).

Kesimpulan sementara: sebenarnya orang yang mengkopi-tempel tulisan saya tanpa menyantumkan sumber tulisan dan/atau credits tersebut bertujuan baik, karena suka pada tulisan tersebut, lantas membaginya di laman Facebooknya, agar lebih banyak orang tahu tentang pakaian adat/tradisional perempuan Kabupaten Ende. Akan tetapi, dia tidak sadar, bahwa apa yang diperbuatnya itu hanya berdampak nol koma sekian persen. Marilah kita lihat pada penjelasan-penjelasan berikut!

Pertama: Tulisan itu sudah saya pos di blog travel sejak tahun 2018, dengan pembaca sampai saat ini sebanyak 1136 orang. Semua entri pada blog tersebut, berdasarkan statistik penayangan menurut negara, terbanyk dibaca oleh orang-orang yang berada di Indonesia, dilanjutkan dengan Amerika Serikat, dan seterusnya, bisa dilihat pada gambar di bawah ini:


Dengan statistik penayangan menurut peramban dan menurut sistem operasi seperti pada gambar di bawah ini:


Sedangkan pos terpopuler atau paling banyak dibaca dari blog travel saya itu seperti yang dijelaskan pada gambar di bawah ini:



Kedua: Dengan yang bersangkutan mengkopi-tempel/memplagiat tulisan saya tersebut ke laman Facebooknya, tanpa menyantumkan sumber dan/atau credits, jelas tidak membawa dampak dan/atau perubahan apapun pada blog travel, bisa dilihat pada gambar di bawah ini:


Kalian lihat, baik URL Perujuk maupun Situs Perujuk masih dipegang kuat oleh Google. Bahkan pada URL Perujuk, Facebook menempati posisi nomor lima.

Ketiga: Setiap tulisan di blog, pasti ada tombol share/berbagi. Tombol ini ada di mana-mana! Lihat ikon berbagi yang saya lingkari warna merah pada dua gambar di bawah ini:



Penjelasan di atas bermaksud agar semua orang tahu dari mana para pengunjung dan/atau pembaca blog-nya datang. Salah seorang komentator status yang bersangkutan, pada status permohonan maaf, malah berkata: sudah untung blog itu diperkenalkan (melalui tulisan yang diplagiat itu). Salah! Blog saya tidak perlu diperkenalkan dengan cara tulisan saya diplagiat. Dan, pun di tulisan tersebut tidak merujuk pada blog travel saya sama sekali.

Sampai di sini, saya anggap kita semua sudah sepemahaman ya. Marilah kita lanjut.

Mengapa tulisan saya bisa dikopi-tempel? Karena saya tidak melindungi blog dan/atau tulisan dari perbuatan kopi-tempel dengan skrip tertentu. Pertanyaan lanjutan, kenapa saya tidak melindungi blog dan/atau tulisan dari perbuatan kopi-tempel? Karena saya percaya semua tulisan pada kedua blog pasti bermanfaat bagi orang lain yang membacanya, setidaknya menghibur. Saya pernah menulis paragraf berikut ini pada novel Tripelts:

Salah satu nasihat Ali Bin Abi Thalib—termasuk dalam golongan pertama pemeluk Islam, saudara sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW yangmana dia menikahi Fatimah az-Zahra—berbunyi: “Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang lebih terpencil dari pada seorang bakhil.” Penjelasan paling hakiki nasihat laki-laki yang pernah menjabat sebagai Khalifah pada tahun 656 – 661 tersebut tercantum di dalam Surat Ali ‘Imran 180: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ilmu dan informasi termasuk harta kekayaan. Jangan sampai kita menjadi orang yang bakhil. Tapi ingat, jangan sampai pula kita menjadi orang yang alpa dari mana ilmu dan informasi itu kita peroleh. Oleh karena itu, jika ada yang mengkopi-tempel tulisan saya, tidak masalah, selama menyantumkan sumber tulisan dan/atau credits. Karena, saat saya menulis di blog atau di mana pun, apabila ada sumber yang diperoleh dari orang lain atau situs lain, tetap harus menulis credits. Termasuk foto-foto unik yang sering pula saya pos di Facebook.

Sebenarnya, untuk mengantisipasi plagiarisme sudah ada hukum yang mengaturnya seperti Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta), serta Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Melihat perbuatan plagarisme terjadi di ranah digital/elektronik, maka peraturan yang paling tepat dipakai adalah UU ITE. Pos blog adalah dokumen elektronik yang sah sesuai muatan Pasal 5 ayat (1) UU ITE yaitu: Bahwa keberadaan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik mengikat dan diakui sebagai alat bukti yang sah untuk memberikan kepastian hukum terhadap Penyelenggaraan Sistem Elektronik dan Transaksi Elektronik, terutama dalam pembuktian dan hal yang berkaitan dengan perbuatan hukum yang dilakukan melalui Sistem Elektronik.

Tapi hari ini saya tidak membahas tentang hukum. Haha. Bisa lebih panjang nanti pos blog ini.

Mari lanjutkan pembahasan pada pertanyaan mengapa plagiarisme masih terjadi di tengah maraknya kampanye literasi digital. Ini menarik. Karena bersama #EndeBisa, kami terjun ke sekolah-sekolah dan salah satu poinnya adalah mengkampanyekan literasi digital dengan materi yang dikeluarkan oleh Internetsehat (ICT Watch). Tulisan saya yang diplagiat itu dilakukan oleh anak sekolah. Mungkin ini terjadi karena belum semua sekolah menerima informasi ini. Karena di dalam literasi digital saya juga dengan tegas menyampaikan tentang plagiarisme sebagai perbuatan yang melanggar hukum, antara lain mengambil foto orang lain dan mengaku itu fotonya, juga mengambil tulisan orang lain dan mengaku itu tulisannya. 

Nampaknya literasi digital harus lebih gencar dikampanyekan. Tidak hanya di sekolah-sekolah, tetapi juga di komunitas, kumpulan remaja dan ibu-ibu, pokoknya di berbagai lini, agar terhindar dari yang namanya plagiarisme.

Pada pembahasan ini saya juga ingin menulis tentang teman-teman dari Facebooker yang melakukan plagiarisme tersebut. Sebagai teman, tidak peduli unsur apapun termasuk kedekatan, sudah selayaknya kita harus menegur apabila memang perbuatannya keliru. Dengan membela, apalagi memprovokasi, justru akan memperparah permasalahan yang seharusnya sudah selesai. Sayang sekali.

Kesimpulan dan Saran


Tulisan saya diplagiat, kemudian saya mengepos screenshoot posnya di Facebook, lantas menuai banyak komentar. Yang bersangkutan kemudian meminta maaf, juga di ruang publik. Saya maafkan dengan permohonan maaf pula. Siapalah saya ini, hanya penghuni semesta yang juga tidak lepas dari yang namanya tergelincir dan berbuat keliru.

Terima kasih Xxxx Xxxx, sudah saya tulis di status sebelumnya, permintaan maaf saya sambut dengan permohonan maaf juga. Karena semua manusia harus bisa saling memaafkan. Kelebihan dan kekurangan itu terjadi pada setiap manusia. Oleh karena itu, setiap yang kurang sama-sama ditambal sulam, yang lebih disedekahkan (kalau bisa).

Saya anggap permasalahan sudah selesai. Dan semoga tidak ada komentar macam-macam dari siapapun juga yang menganggap remeh plagiarisme, karena ada hukum yang mengaturnya. Tidak masalah mengambil tulisan orang lain, tapi sertakan juga sumbernya, itu pasti sangat bisa diterima. Alangkah baiknya gunakan tombol share/berbagi yang ada pada setiap tulisan.

Mari belajar literasi digital, agar sama-sama paham.

Sekali lagi, terima kasih.

Baca Juga: Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo

Dengan demikian, saya anggap permasalahan ini sudah selesai sejak Kamis, 17 Oktober 2019. Komentar-komentar dari teman-temannya yang membikin kisruh saya anggap sebagai perbuatan dari orang yang tidak tahu pokok permasalahan, dan sama sekali buta akan hukum plagiat di Indonesia, juga buta akan dunia per-blog-an sehingga tidak terlalu saya pusingkan. Meskipun saya menerima ancaman dari salah seorangnya, dan itu yang membikin adik, keponakan, dan teman-teman tidak bisa menerima ancaman tersebut, tapi tidak mengapa. Hehe. Semoga, dengan membaca ini, jadi sama-sama paham bahwa memplagiat itu tidak boleh dilakukan. Untung kalau si pemilik karya tidak tahu, kalau pemilik karyanya tahu? Berabe.

Alangkah baiknya menulis sendiri, ketimbang memplagiat tulisan orang lain, karena seperti apapun sebuah tulisan sepanjang itu tulisan sendiri, betapa bangganya. Jangan takut untuk menulis, sepanjang tidak melanggar norma, hukum, dan adat, tulislah!

Semoga bermanfaat bagi semua kalian yang membacanya, pun bagi saya yang menulisnya, karena setiap manusia pasti tergelincir dan berbuat keliru.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Menghadapi Keraguan

3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Menghadapi Keraguan
Keraguan diri atau meragukan kemampuan diri sendiri dapat menjadi sebuah beban yang sulit untuk diatasi. Saat kita memiliki keraguan pada kemampuan diri sendiri, itu dapat menghalangi kita untuk melakukan banyak hal positif. Semoga catatan ini berguna saat kita menghadapi keraguan yang datang tanpa diundang.

3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Menghadapi Keraguan

1. Berikan Waktu Kepada Diri Sendiri Untuk Berubah

Jika selama ini kita fokus pada kekurangan dan telah terbiasa dengan keraguan, maka perlu beberapa waktu dan usaha yang keras untuk meninggalkan kebiasaan itu. Bayangkan sebuah perahu yang dengan kecepatan tinggi mengarah ke tengah laut. Seketika kita ingin kembali ke pantai maka tentunya diperlukan waktu dan tenaga yang tidak sedikit untuk memutar haluan lalu berbalik arah. Perahu memerlukan waktu untuk memperlambat kecepatannya lalu kemudian memutar haluan secara perlahan agar tidak terbalik dan tenggelam karena manuver yang terlalu cepat.

Perumpamaan itu juga berlaku dengan diri kita. Hanya karena kita memahami bahwa keraguan diri adalah perasaan yang tidak baik dan tidak produktif lalu kita ingin mengubahnya tidak berarti perubahan itu akan terjadi saat itu juga secara instan. Tetapi jika kita dapat memperlambat momentum keraguan diri (mengerem) dan mulai mempraktikkan pikiran yang selaras dengan kepercayaan diri, cepat atau lambat perubahan pasti akan terjadi pada akhirnya.

Anda mungkin muak dengan rasa lelah dan ingin memiliki lebih banyak energi yang bersumber dari rasa percaya diri. Tapi cuma dengan membuat keputusan positif seperti itu tidak akan memberi Anda energi instan secara langsung walaupun keputusan itu adalah langkah awal yang sangat penting dalam proses ini. Anda tetap harus menggali lebih dalam dan membuat beberapa perubahan untuk memahami lebih banyak sumber energi dari dalam diri. Dari sana Anda juga akan mulai menemukan penyebab kelelahan Anda. Jangan menyerah terlalu cepat. Jangan biarkan pikiran negatif atau keraguan diri kembali menguasai dan menghentikan upaya Anda untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kebahagiaan Anda.

Anda adalah Seorang Pemikir, Bukan Hasil Dari Pikiran Negatif Anda

2. Anda adalah Pemikir, Bukan Hasil Pikiran Anda

Mulailah mengembangkan kesadaran dan jarak dari pikiran Anda, khususnya pikiran-pikiran negatif. Akan sangat membantu untuk menyadari bahwa ANDA BUKAN PIKIRAN ANDA. Hanya karena Anda memikirkan pikiran yang sesuai dengan keraguan diri tidak berarti pikiran ini benar atau fakta yang sesungguhnya. Pikiran itu hanya TERASA BENAR karena Anda telah terkondisikan demikian dengan cukup lama. Anda dapat mengubah ini dengan mulai memberi jarak dari pikiran Anda. Ini akan membantu Anda menjauhi dan terikat pada pikiran-pikiran negatif. Anda adalah pemikir BUKAN hasil pikiran ini berarti Anda memiliki kekuatan tertinggi dalam hidup Anda. Mulailah memperhatikan kata hati dan suara-suara positif dalam pikiran Anda. Pada akhirnya pikiran harusnya bekerja untuk Anda, bukan malah mengurung dan merusak kebahagiaan juga masa depan Anda.

3. Bedakan Antara Pengkritik Batin Anda dan Guru Batin Anda

Di dalam diri kita masing-masing ada seorang kritikus batin dan seorang guru batin. Ini adalah suara-suara berbeda yang kita dengar di dalam kepala kita jika kita meluangkan waktu untuk mengamati pembicaraan pada diri kita sendiri. Pengkritik batiniah Anda akan selalu datang dengan banyak alasan untuk memperkuat argumentasi "mengapa ini tidak akan berhasil”. Anda dapat mengenali suara kritik dalam diri Anda dengan kata-kata dan nada negatif yang mengkritik diri sendiri. Anda mungkin menemukan diri Anda mengatakan hal-hal seperti: "Ini tidak akan pernah berhasil untuk saya" atau "Orang lain mungkin bisa berhasil, tetapi semua yang saya coba untuk meningkatkan kebahagiaan saya telah gagal. Kali ini pasti akan gagal juga. "

Ketika Anda mengalami keraguan diri, biasanya itu berarti pengkritik batin Anda yang mengendalikan diri Anda. Setelah Anda menyadari pikiran kritis yang meragukan diri sendiri, saya ingin Anda memvisualisasikan tanda berhenti, berbendera merah!.

Ungkapkan terima kasih kepada pengkritik batin Anda karena berusaha melindungi Anda dengan keraguan diri. Tetapi biarkan pengkritik batin Anda tahu: "Tidak apa-apa gagal! Saya harus berani mencoba!."

Perhatikan, apakah Anda dapat menantang pikiran-pikiran negatif dalam diri Anda dan menggantinya dengan pikiran yang lebih realistis, seperti "Orang lain saja bisa, kenapa saya tidak bisa?".

3 Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Menghadapi Keraguan

Dengarkan Guru Batin Anda

Anda dapat mengaktifkan dan mendengarkan guru batin Anda dengan mengajukan pertanyaan yang tepat. Guru batin Anda adalah suara yang mendorong, menyejukkan, dan penyemangat yang mendukung Anda ketika Anda membutuhkannya. Kadang-kadang Anda hanya perlu memperlambat  pikiran-pikiran Anda dan sedikit menenangkan si pengkritik batin untuk mendengar guru batin Anda.

Mengajukan pertanyaan seperti: Seberapa jauh saya telah menempuh perjalanan ini, apa yang telah saya pelajari selama ini? Apa aktivitas positif yang dapat saya lakukan sekarang? Dan bagaimana saya bisa membuatnya lebih baik? pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu mengaktifkan suara guru batin Anda.


Salam.


Mengenali Toxic Workplace dan Cara Menghadapinya

Mengenali Tempat kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) dan Cara Menghadapinya

Jangan sampai lingkungan kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) merusak masa depan Anda.

Pada dasarnya semua pekerjaan memiliki tingkat stres. Namun, jika saat berangkat bekerja (atau hanya membayangkan berangkat) sudah membuat Anda lelah, tertekan, atau bahkan tidak enak badan atau sakit, sadarilah bahwa itu lebih dari sekadar tekanan kerja biasa; itu sudah merupakan gejala awal dan tanda-tanda lingkungan kerja yang tidak sehat.

Ciri-ciri lingkungan kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) 

Tempat kerja yang tidak sehat dapat diartikan sebagai lingkungan kerja apa pun di mana pekerjaan, suasana, atmosfer, orang-orang, atau kombinasinya itu menyebabkan gangguan serius pada kehidupan Anda.

Gangguan ini dapat muncul dalam sejumlah gejala fisik, menurut sebuah artikel baru - baru ini oleh pelatih dan profesor perilaku manusia Melody Wilding. Gejalanya termasuk "gangguan tidur, merasa selalu waspada, telapak tangan berkeringat, dan jantung yang berdetak cepat melebihi normal."

Terlebih lagi, tempat kerja yang tidak sehat atau bermusuhan memiliki dampak kesehatan negatif yang dapat memengaruhi kehidupan pribadi Anda dengan "merusak semuanya, mulai dari harga diri hingga kehidupan sosial Anda," kata Wilding.

Tubuh kita memiliki kecerdasan instingtif untuk memberi tahu bahwa ada gangguan atau "bahaya" yang mengganggu, kita perlu peka dan tidak mengabaikannya tanda-tanda yang dikrim oleh tubuh. Sering-seringlah bertanya pada diri sendiri beberapa pertanyaan ini:

Bagaimana tidurmu? Apakah Anda secara teratur dapat tidur nyenyak atau setidaknya tidur yang cukup selama delapan jam?

Bagaimana kebiasaan makanmu? Apakah Anda sering terlalu stres atau tidak punya waktu untuk makan, atau apakah Anda cenderung makan berlebihan?

Apakah Anda merasa nyaman di rumah dan aman di tempat kerja?

Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu bersifat negatif, maka inilah saatnya untuk menilai lingkungan kerja Anda dan memeriksa lebih jauh apa yang sebenarnya menyebabkan kesehatan dan kesejahteraan Anda terganggu.
Mengenali Tempat kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) dan Cara Menghadapinya

Indikator lingkungan kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) 

Ini adalah beberapa indikator kuat bahwa Anda berada di lingkungan kerja yang tidak sehat:
  • Karyawan yang tidak sehat: Tempat kerja yang tidak sehat menyebabkan karyawan cepat kelelahan, keletihan, dan penyakit yang disebabkan oleh tingkat stres yang tinggi yang mendatangkan berbagai keluhan pada tubuh. 
  • Atasan Yang Narsis: Yaitu atasan yang selalu menuntut Anda agar selalu setuju dan menganggap bahwa mereka selalu benar, serta dapat mengabaikan aturan-aturan. Mereka mengharapkan karyawan menjadi taat dan sempurna sementara mereka dapat melanggarnya.
  • Rendah Bahkan Tidak Adanya Antusiasme: Lihatlah ke sekeliling kantor. Adakah dapat terlihat ekspresi kebahagiaan karyawan yang bekerja di sana? Adakah yang tersenyum? Apakah ada percakapan positif dan keceriaan? Adakah suasana yang menyenangkan? Jawaban "Tidak" atas pertanyaan-pertanyaan tadi patut diperhitungkan.
  • Komunikasi yang kurang atau Komunikasi Negatif: Anda dan orang lain tidak mendapatkan informasi yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan Anda. Anda bekerja keras tanpa umpan balik positif dan tanpa pengakuan atau pujian komplimen yang wajar, atau Anda bahkan mungkin sama sekali tidak dianggap?.
  • Sering Berganti Personil: Ketika seseorang masuk ke dalam lingkungan kerja yang tidak menawarkan apa-apa selain jalan buntu, moral kerja yang rendah, dan tidak menyehatkan, orang akan selalu berusaha keluar dan mencari yang lebih baik. Jika Anda melihat tingkat keluar masuk dan pergantian personil yang tinggi di perusahaan atau departemen Anda, anggap itu sebagai salah satu tanda tempat kerja yang tidak sehat.
  • Gank, Gosip, dan Rumor: Semua orang tampaknya hanya bekerja untuk diri mereka sendiri, tidak ada kerjasama dan persahabatan di antara para karyawan. Ada banyak pertikaian, persaingan kelompok serta gosip dan rumor.
Selain daftar di atas, percayalah pada insting dan perasaan Anda jika  merasakan ada sesuatu yang "tidak wajar" pada tempat kerja Anda
Setelah Anda tahu apa yang Anda hadapi, saatnya untuk mengembangkan strategi yang dapat membantu Anda tetap waras dari hari ke hari.
Mengenali Tempat kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) dan Cara Menghadapinya

Cara menangani lingkungan kerja yang tidak sehat

Karena butuh waktu untuk mencari pekerjaan yang baru dan Anda tidak bisa langsung meninggalkan situasi sulit ini begitu saja, ada baiknya Anda mengembangkan strategi untuk menangani lingkungan seperti itu hingga Anda mendapatkan pekerjaan yang baru di tempat lain:
  1. Temukan orang yang merasakan hal yang sama dengan Anda. Kembangkan persahabatan dengan orang-orang yang merasakan hal yang sama seperti Anda. Harapannya adalah Anda akan saling mengawasi dan akan berbagi berita apa pun dengan kelompok tersebut.
  2. Lakukan sesuatu setelah bekerja yang dapat membantu menghilangkan stres. Pergi ke kafe, olah raga di rumah, atau pelajari keterampilan baru. Kuncinya adalah memastikan Anda menjalani kehidupan yang memuaskan di luar pekerjaan untuk memerangi drama di tempat kerja Anda.
  3. Buat daftar untuk membuat diri Anda sibuk. Daftar kegiatan yang dapat membantu Anda tetap fokus pada tugas-tugas Anda alih-alih terlibat drama dalam lingkungan yangtidak menyehatkan sehingga dapat memberi Anda alasan untuk terus bekerja setiap hari.
  4. Dokumentasikan semua yang Anda lakukan. Simpan email dan tulis komentar dan keputusan dari rapat, panggilan telepon, dan setiap orang yang berinteraksi dengan Anda. Jika Anda perlu mengajukan keluhan, Anda perlu bukti untuk mendukung aksi Anda.
  5. Persiapkan strategi keluar Anda. Ada kemungkinan hal-hal akan membaik di lingkungan kerja Anda, jika demikian maka itu adalah alasan yang masuk akal untuk tetap bertahan. Namun, sambil menunggu, mulailah mencoba melihat-lihat lowongan dan mulai mencari pekerjaan baru. Ini akan membantu Anda tetap positif ketika segala sesuatunya menjadi lebih buruk. Jika Anda harus pergi secepatnya, pertimbangkan pekerjaan sambilan yang akan membuat Anda tetap aktif saat Anda belum menemukan pekerjaan baru yang sesuai dengan karier dan cita-cita Anda.
Cara paling praktis untuk tidak terjebak ke dalam lingkungan kerja yang tidak sehat (Toxic Workplace / Toxic Work Environment) ya jangan sekali-sekali masuk, kalau pun sudah terlanjur masuk maka segeralah keluar sebelum merusak segala yang baik di diri Anda. Apapun yang mengorbankan kedamaian hati, maka itu terlalu mahal, karena tidak ada yang lebih berharga dari kedamaian hati yang dapat membuat hidup bahagia. "Anything that costs you your peace is too expensive."


Anything that costs you your peace is too expensive

Mengenali tanda-tanda lingkungan kerja yang tidak sehat dan cara menanganinya akan memungkinkan Anda mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai situasi dan waktu Anda. Semoga pekerjaan Anda berikutnya adalah lingkungan yang benar-benar Anda idamkan untuk bekerja. 


-----------------------
Artikel ini adalah artikel terjemahan bebas dari: Signs You’re in a Toxic Work Environment and How to Handle It.



5 Perkara Yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan


5 Perkara Yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan. Tumben menulis ini. Memang. Adalah sangat di luar kebiasaan. Saya sendiri juga kaget kenapa mendadak ide ini muncul di kepala pada saat listrik padam, sehingga terpaksa drafnya saya tulis di aplikasi catatan smartphone, karena kuatir idenya menguap. Mungkin karena akhir-akhir ini linimassa media sosial, terutama Facebook, selain dipenuhi status dan share artikel demo RKUHP juga dipenuhi status dan artikel tentang bagaimana seharusnya membina hubungan. Mungkin juga karena selama hampir tujuh bulan terakhir saya memperbaiki dan mengasingkan diri dari perkara-perkara yang mengganggu pikiran dan perasaan. Mungkin. Artinya, tidak pasti.

Baca Juga: 5 Alasan Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo

Tulisan ini adalah tentang diri saya sendiri sebagai seorang perempuan. Perempuan lain mungkin juga butuh membacanya. Refleksi? Bukanlah. Curhat? Ah, Presiden Negara Kuning males curhat hahaha. Apa ya? Terserah kalian mengapresiasinya sebagai apa. Anyhoo, hubungan yang saya maksudnya di sini adalah hubungan asmara. Hubungan asmaranya pun antara lelaki dan perempuan. Kita sepemahaman dulu tentang ini.

Mari lah dimulai.

1. Hubungan Itu Tentang Chemistry


Saya sadari betul. Hubungan itu tentang chemistry. Tentang percikan kimiawi antara dua insan. Tanpanya, jangan coba dipaksakan. Dengannya, beranilah mencoba meskipun duri-duri melukai sampai berdarah-darah. Saya pernah berpikir bahwa lelaki yang bakal menciptakan percikan bersama saya itu harus setampan Orlando Bloom, sekharismatik Richard Gere, sekaya Bill Gates, atau yang jago sihir kayak Harry Potter. Ternyata ... Tidak. Karena chemistry itu sesuatu yang abstrak. Dia muncul bukan akibat dari fisik dan harta benda semata. Ada x-factor yang menyebabkan chemistry itu tercipta. Percayalah, saya sudah pernah melewatinya.

Bagi saya, chemistry itu tentang butterflies in my stomach. Tentang rindu yang tak terbantahkan. Tentang pertanyaan: who the hell are you? Tentang logika yang menguap. Tentang pandangan realistik yang tiba-tiba upside down sampai saya sepertinya tidak mengenal diri saya sendiri. Tentang rasa nyaman ketika bersamanya, face to face in real life maupun face to face by video call. Saya percaya, chemistry itu kekuatan paling dasar dari sebuah hubungan. Seperti lirik lagunya Babyface dan Des'ree. Fire. 

2. Hubungan Itu Tentang Kepastian


Ada lelaki yang tidak suka tentang hal ini. Menetapkan tanggal atau bulan jadian, misalnya. Tapi perempuan, terutama diri saya pribadi, harus punya tanggal jadian (oke, kita pacaran dan saling mengikatkan diri). Tanpanya, saya atau perempuan di luar sana bakal merasa oleng. Sepele memang, tapi percayalah, ini cukup penting. Ada teman yang bilang, pikiran ini muncul di benak saya gara-gara belajar hukum khususnya Hukum Perdata. Tidak juga ... sejak belum mengenal dunia hukum pun saya sudah punya pikiran seperti ini.

Bayangkan saja, jika ada pertanyaan: kapan kalian jadian? Lebih parah pertanyaan: kapan kalian menikah? Terus jawabnya: yaaa eeerrr ya itu tahun lalu entah kapan mendadak sudah jadian, pokoknya gitulah. Atau: mendadak saja kami sudah jadi suami isteri. Haha.

Kapan Indonesia merdeka?
Kapan pelantikan DPR?
Kapan WHO berdiri?

3. Hubungan Itu Tentang Komunikasi


Pentingkah komunikasi dalam sebuah hubungan? Bukankah saya milik kau, kau milik saya, sudah cukup? Bele (Om/Paman), saya bilang ya, komunikasi itu mahapenting meskipun tidak harus maharomantis. Komunikasi tidak perlu harus ada kata 'sayang' dan 'I love you' di dalamnya. Komunikasi, saling bercerita tentang kehidupan masing-masing, selera, warna favorit, kebiasaan, do and don't, keinginan masing-masing apabila hubungan ini diteruskan, bahkan keluarga. Perlulah ini dilakukan. Agar saling tahu baik buruknya. 

Kalau boleh saya tulis, komunikasi adalah jembatan penyeberangan perasaan dua insan yang sudah mau saling mengikatkan diri dalam suatu hubungan. Percayalah, dari komunikasi kita jadi tahu banyak tentang pasangan, yang selama ini mungkin hanya kita ketahui dari omongan dan bisik-bisik orang lain. Bukankah komunikasi juga merupakan elemen penting, secara umum, kehidupan umat manusia? Tanpanya, Upin Ipin takkan bisa belajar di Tadika Mesra. Haha.

Dan, tentu saja, komunikasi adalah penawar dari rindu yang tumpang tindih.

4. Hubungan Itu Tentang Saling Mengerti


Kata 'saling' ini harus diperhatikan. Karena, kadang lelaki mau dimengerti terapi tidak mau mengerti perempuan. Demikian pula sebaliknya, kadang perempuan hanya mau dimengerti tanpa mau mengerti si lelaki, gara-gara keseringan dengar lagunya Ada Band - Karena Wanita Ingin Dimengerti. Oleh karena itu, perhatikan kata 'saling'. Saling mengerti. Saat lelakinya sibuk, perempuan harus bisa mengerti. Demikian pula saat perempuanya sibuk, lelaki harus mengerti. Terutama jika keduanya sama-sama punya tingkat kesibukan super tinggi.

Tapi ingat, jangan pernah mengerti terhadap pasangan yang selingkuh. Itu kedunguan tingkat dewa. Oh saya sangat mengerti pasangan saya jadi saya ijinkan dia selingkuh. Mengertilah apabila dia tidak bisa menghubungi terus-menerus. Mengertilah apabila dia harus mementingkan keluarga dan teman-temannya terlebih dahulu. Mengertilah apabila dia harus tunduk pada atasannya karena di situlah sawah dan ladangnya.

Sebagai perempuan, tentu saya atau kalian ingin bisa mengerti si lelaki. Dan saya ingin semua orang mengerti bahwa apabila hubungan baru sampai tahap pacaran, janganlah meminta semua waktunya. Karena, sebelum mengenal kita dia sudah lebih dulu mengenal orangtuanya, kakak adiknya, keluarganya, tetangganya, teman-temannya. Apalah kita yang datang di pertengahan hidupnya? Makanya, saya paling anti sama pacar dan/atau isterinya teman yang suka menghalangi pertemanan atau persahabatan. Hei, kalau saya mau, sudah dari dulu saya kawin sama lakimu itu. Hahaha. Bercandaaaaa.

5. Hubungan Itu Tentang Harapan Bersama


Harapan sebuah perselingkuhan akan menimbulkan masalah besar. Pasangan si dia pasti tidak bisa menerimanya. Tapi harapan dua orang yang berpacaran dan/atau ta'aruf, dengan kondisi sama-sama bujang, itu pasti ada. Mana ada manusia yang maunya pacaran terus tanpa punya harapan duduk di pelaminan dan membina rumah tangga. Jadi tidak salah kalau saya menulis, hubungan itu tentang harapan bersama. Harapan ini dapat tercipta apabila telah lebih dulu tercipta chemistry, kepastian, komunikasi, dan saling mengerti.

⇜⇝

Setelah menulis semua di atas, lalu membacanya kembali, saya merasa lucu. Betul-betul ini sebuah ide yang tidak biasa untuk pos blog ini, tapi ide yang biasa untuk catatan pribadi di T-Journal. Meskipun tulisan ini adalah tentang saya pribadi, sebagai seorang perempuan yang belum menikah, namun ini berlaku untuk semua orang: lelaki dan perempuan. 

Baca Juga: 5 Program KKN Uniflor Keren Dalam Pengabdian Masyarakat

Kadang-kadang, ketika menjalani sebuah hubungan, kita berkata dalam hati: jalani saja dulu, biarkan mengalir, nanti juga mentok. Saya bertemu dan belajar dari seseorang yang menolak mentah-mentah kalimat 'jalani saja dulu'. Baginya, tidak ada kata jalani saja dulu. Apabila chemistry sudah tercipta, maka dia akan sungguh-sungguh melakoninya. Setelah lama saya pikir-pikir, ada benarnya. Jalani saja dulu itu semacam keputusasaan tanpa usaha untuk menjadikannya jadi. Atau, jalani saja dulu itu semacam ketidakpastian. Jalani saja dulu ... nanti kalau cek-cok pisah saja. Amboi, perasaan itu kalau bisa bicara dia bakal memaki kita hahaha.

Sekian dulu ya. Feel free kalau mau komentar.

Semoga bermanfaat :)

#KamisLima




Cheers.

Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 1)

Sumber gambar: Les' Copaque

Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 1). Siapa tidak kenal Upin Ipin? Saya mulai menontonnya pada tahun 2007. Sosok fiksi dua bocah kembar itu sulit tersapu dari ingatan. Tak hanya Upin Ipin, benak kita tentu masih menyimpan sosok fiksi lainnya seperti Kak Ross yang garang tapi sebenarnya sangat sayang pada Upin Ipin, Opa (Mak Udah) yang bijak, Tuk (Datuk/Datok) Dalang yang kesohor di Kampung Durian Runtuh yang punya nama lengkap Isnin bin Khamis, Uncle Mutu dengan dagangan khas ABCD-nya, Saleh si penjahit nyentrik, dan masih banyak lagi! Bagi saya, Upin Ipin bukan sekadar filem/serial kartun biasa. Upin Ipin mengajarkan penontonnya banyak hal. Dan semua anak Indonesia memang harus menonton Upin Ipin.

Baca Juga: Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Memangnya, apa sebab semua anak Indonesia harus menonton Upin Ipin? Banyak sebabnya! Yang jelas, berdampak positif. Mau tahu? Baca sampai selesai donk. Tapi ini baru bahagian 1, bahagian 2-nya minggu depan! Sabarlah menanti.

Mengenal Upin Ipin


Dari berbagai informasi yang saya kumpulkan di internet seperti Wikipedia, Kaskus, bahkan blog pribadi, Upin Ipin adalah filem kartun yang dibikin oleh Mohd. Nizam Abdul Razak, Mohd Safwan Abdul Karim, dan Usamah Zaid. Mereka bertiga adalah pemilik rumah produksi Les' Copaque setelah bertemu dengan mantan pedagang minyak dan gas yaitu H. Burhanuddin Radzi dan isterinya yang bernama Hj. Ainon Ariff.  Serial ini dirilis pada 14 September 2007 di Malaysia dan disiarkan di TV9. Upin Ipin sudah ditayangkan di tiga negara yaitu Malaysia, Indonesia, dan Turki.

Semula jadi Upin Ipin dibuat untuk Bulan Ramadhan 2007 karena bertujuan untuk mengajarkan kepada anak-anak tentang pentingnya arti Ramadhan. Tetapi karena sambutan pasar yang baik, maka Upin Ipin diteruskan hingga akhirnya bermusim-musim serial kartun ini menghibur kita semua. Tidak saja anak-anak tetapi juga orang dewasa. Seperti saya. Hahaha. Upin Ipin bahkan tidak hanya serial kartun saja tetapi juga ada filemnya. Selain Geng Pengembaraan Bermula, filem terbaru yang bikin saya penasaran berjudul Keris Siamang Tunggal. Mereka tersedot ke dunia lain!

Selain memproduksi Upin dan Ipin Les' Copaque juga memproduksi serial Pada Zaman Dahulu, Puteri, dan Dadudido. Menonton Pada Zaman Dahulu itu membikin saya punya cita-cita baru yaitu jadi pendongeng haha.

Opening Song


Kekuatan Upin Ipin juga terletak pada opening song-nya. Ini yang bikin saya harus berdiri dan bergoyang a la kembar seiras ini. Haha.

Upin dan Ipin inilah dia
Kembar seiras itu biasa
Upin dan Ipin ragam aksinya
Kau disenangi siapa jua

Kami ini kawan-kawan
Sekampung sepermainan
Harmoninya kehidupan
Ikhlasnya persahabatan

Upin dan Ipin inilah dia
Kembar seiras itu biasa
Upin dan Ipin ragam aksinya
Kau disenangi siapa jua
Kau disenangi siapa jua
Upin dan Ipin selamanya

Betul betul betul. Hehe. Tapi itu versi pendeknya. Dan yang biasa mengisi opening song cuma bagian yang saya tebalkan saja. Opening song ini berjudul Gembira Bermain. Ciri khas serial kartun Upin Ipin bahkan sudah dimulai sejak opening song. Saya sudah bisa loh bergoyang a la Upin Ipin di opening song *dilempar batako sama dinosaurus*.

Karakter di Dalam Upin Ipin


Semua karakter di dalam Upin Ipin mempunyai karakter yang betul-betul khas. Tidak ada satupun yang sama. Sepertinya setiap karakter memang dipersiapkan dengan sangat matang, bahkan karakter sekelas Zul dan Idjat pun digambarkan dengan sangat jelas. Dzul suka membawa-bawa nama neneknya kalau sedang bercerita, sedangkan Idjat ini langganan pingsan. Meskipun kalian pasti sudah tahu karakter-karakter di dalam serial kartun Upin Ipin, ijinkan saya menulisnya kembali.

Upin Ipin


Upin dan Ipin, bocah kembar seiras ini berciri kepala plontos alias gundul dan bersuara sangat imut. Yang membedakan keduanya: Upin punya sejumput rambut menonjol di puncak kepalanya serta berkaos kuning dengan huruf U, sedangkan Ipin gundulnya sempurna serta berkaos biru dan tak lupa syal merah mirip Batman. Kalaupun keduanya memakai baju koko - sarung - kopiah khas hari raya, tetap saja Upin berwarna kuning, Ipin berwarna biru.

(H)ayam goreng memang sering terlontar di dalam serial ini tetapi itu paling sering diucapkan oleh Ipin. Tak lupa, Ipin punya ciri khas mengulang kata sampai tiga kali: betul, betul, betul! Seringnya sih betul, betul, betul. Pengulangan kata lainnya tergantung kalimat apa yang diucap oleh Upin.

Kak Ross


Nama lengkapnya Jeanne Roselia Fadhullah dan dipanggil Kak Ross. Kakak dari si kembar ini punya ciri khas: garang. Siapa yang berani melawan akak? No no no. Sehari-hari Kak Ross memakai kaos lengan panjang warna merah dan celana biru/ungu tua. Meskipun garang, Kak Ross sangat mencintai Opah dan Upin Ipin. Dia juga berprestasi. Selain prestasi di dunia akademik, Kak Ross juga membuat komik.

Opah


Namanya Mak Udah tapi biasa dipanggil Opah. Nenek yang mengasihi cucu-cucunya, dan bahkan pernah bekerja paruh waktu menyadap getah karet demi Upin Ipin bisa punya mobil mainan yang pakai remote itu. Opah terkenal bijak, meskipun kadang iseng juga, dan selalu memberikan petuah-petuah berharga untuk cucu-cucunya.

Tuk Dalang


Isnin bin Khamis (Senin bin Khamis). Haha. Paling lucu lah Tuk Dalang ini, apalagi kalau dia dikerjai sama bocah-bocah. Tuk Dalang ini punya pohon rambutan di depan rumah, kebun durian, serta memelihara ayam. Nah, salah satu ayamnya bernama Rembo. Suka mengoleksi sandal atau sepatu sebelah!

Karakter lainnya di dalam Upin Ipin tidak saya jelaskan semua, cukup mereka berempat. Tetapi karakter lain juga tak kalah penting dan punya ciri khas masing-masing!

Mail dengan dua singgit.
Ehsan dengan 'banguuuun', dan si intan payung.
Fizzi dengan ketiadaannya serta sering sial.
Jarjit dengan pantun dua tiga.
Mei Mei dengan saya suka saya suka!
Dzul dengan kata nenek saya.
Idjat yang doyang pingsan.
Nurul - Fathia - Devi yang jarang terekspos.
Susanti dengan kata asyiiiikkkk!
Cikgu Jasmine dan Cikgu Melati.
Uncle Mutu dengan ABCD-nya.
Uncle Ah Tong dengan dialek Cinanya kayak Mei Mei.
Abang Saleh yang kalau bersuara lelaki mah gahar.
Rembo, Apin, Opet, dan hewan lainnya.

Tentu masih ada karakter lain tapi ... nanti ya hahaha.

Si Katak Kuning


Setiap menonton Upin Ipin pasti ada si katak kuning yang sekilas lewat dengan kehidupannya di sekitar rumah si kembar. Katak kuning ini bukan sekadar karakter sambil lalu. Dia adalah katak yang berada pada logo Les' Copaque itu sendiri. 

⇜⇝

Saya dan kalian sudah tahu banyak tentang Upin Ipin. Serial kartun asal Malaysia yang diproduksi oleh Les' Copaque dan menjadi idola banyak orang, termasuk saya. Kenapa pula ada bahagian (bagian) 1 dan bahagian 2? Karena posnya bakal panjang sekali kalau dijadikan satu. Setidaknya, sebagai bekal pos Senin depan, kalian sudah tahu yang paling mendasar tentang Upin Ipin yaitu: Kampong Durian Runtuh, serta karakter dan ciri khas masing-masing. Inti pos ini bakal saya bahas Senin depan. Bocorannya: tentang toleransi antar umat beragama yang diajarkan dari sebuah serial kartun yang mungkin menurut orang lain tidak penting.

Baca Juga: Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga

Setidaknya, menonton Upin Ipin masih sangat jauh lebih berfaedah ketimbang menonton sinetron Indonesia.

Sampai jumpa minggu depan di bahagian 2!



Cheers.

Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Foto bersama Bupati Nagekeo Bapak Don, dan Dosen Pendamping Lapangan (DPL).


Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe. Jum'at, 6 September 2019, saya kembali memacu Onif Harem ke arah Barat Pulau Flores. Tujuan saya apalagi kalau bukan Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Alhamdulillah, cuaca sudah tidak seberapa dingin, dan pagi itu meskipun masih mampir di Aigela untuk menikmati jagung pulut rebus sekalian melemaskan otot kaki, haha, saya (ditemani Thika Pharmantara) tiba di lokasi lebih mula dari waktu kegiatan.

Baca Juga: Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga

Memangnya, ada apa lagi di Desa Ngegedhawe? Kalau kalian sering membaca blog ini, pasti tahu bahwa saya ini si tukang liputnya UPT Publikasi dan Humas Uniflor. Tujuan saya ke sana adalah meliput kegiatan peresmian rumah baca yang dibangun oleh mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang ditempatkan di Desa Ngegedhawe.

Rumah Baca Sao Moko Modhe


Saat tiba di dusun terluar dari Desa Ngegedhawe, mata saya menangkap sebuah rumah mini, nampak baru, dengan hiasan warna-warni, terletak di tanah lapang luas. Saya pastikan itu adalah rumah baca dimaksud setelah melihat mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang mengenakan kaos biru khas mereka. Perlu diketahui Rumah Baca Sao Moko Modhe dibangun oleh mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang ditempatkan di Desa Ngegedhawe atas proposal yang menerima dana  hibah Kemeristekdikti tahun 2019 (ada tiga proposal, tiga desa lokasi pengabdian, yang lolos mendapat dana hibah tersebut).


Menurut informasi yang saya peroleh tanah tempat dibangunnya rumah baca ini merupakan tanah lapang milik Pemerintah Desa Ngegedhawe. Boleh dikatakan ini merupakan tanah lapang serba guna tempat masyarakat desa melakukan aktivitas bersama selain di kantor desa mereka sendiri. Di tanah lapang ini sebelumnya sudah ada aula-tanpa-dinding dan lapangan voli. Sekarang sudah ditambah dengan rumah baca dan rencananya bakal dibangun lapangan futsal. Menurut saya pribadi, tanah lapang ini bakal jadi pusat kreativitas masyarakat Desa Ngegedhawe. Kenapa? Nanti akan saya jelaskan di bawah, hehe.


Saya tidak sempat menanyakan ukuran rumah baca, tapi kalau dilihat, ukurannya sekitar 4 x 8 meter. Kalau salah, maafkan. Dibagi sepertiga untuk ruangan tempat menyimpan rak buku serta buku-buku yang sementara sudah disiapkan oleh mahasiswa dan DPL. Sedangkan sisanya merupakan teras berdinding setengah yang dihiasi gantungan cantik hasil Do It Yourself (DIY) berbahan gelas plastik. Halamannya juga cukup luas, ditanami tanaman ini itu, serta dibangun sekitar empat permainan anak-anak yang juga hasil DIY. Jangan lupa, pagar dan gerbangnya juga keren. Kreatif!

Kembali ke dalam ruangan, selain rak buku dan buku-buku, juga nampak hiasan hasil DIY mahasiswa. Masih minim, tapi sudah sangat membantu masyarakat Desa Ngegedhawe khususnya anak-anak usia TK dan SD, serta orangtua. Orangtua? Iya, di sana ada juga buku-buku edukasi khusus misalnya untuk pertanian, spiritual, dan lain sebagainya.


Sementara itu yang juga sangat menarik perhatian saya adalah jalan masuk dari gerbang menuju rumah baca yang dibikin semacam setapak mini menggunakan bata merah. Lihat gambar di bawah ini:


Pada akhirnya saya bertemu tiga DPL yaitu Pak Gusty, Pak Usbat, dan Ibu Helen. Dari Pak Gusty saya mendapat informasi tentang arti dari moko modhe. Menurut Pak Gusty moko modhe berarti teman baik. Sehingga jika digabung dengan rumah baca maka Rumah Baca Sao Moko Modhe merupakan teman baik semua orang, siapapun, yang ingin lebih tahu tentang banyak hal, ingin lebih tahu tentang dunia, lewat aktivitas membaca buku. Ya, buku pun merupakan teman baik kita semua. Tidak pernah berkhianat si buku itu! Hehe.

Diresmikan Oleh Bupati (Keren) Bapak Don


Bupati Nagekeo, Bapak Johanes Don Bosco Do, yang juga seorang dokter, datang meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe. Gayanya santai dan gaul. Makanya saya menyebut beliau keren. Keren sekali malahan. Saya sering melihat bupati dikawal serta ditemani belasan bahkan puluhan orang yang sibuk ini itu sehingga terkesan masyarakat heh jauh-jauh sana jangan terlalu dekat! Tapi ini ... kok sepi? Aaah ternyata menurut teman-teman yang tinggal di Kota Mbay, Bapak Don memang tidak terlalu suka kawalan berlapis hahaha. Makanya suasana waktu itu sangat bersahabat. Bapak Don seperti kawan lama yang sowan begitu.


Bahkan, pihak Bagian Humas dan Protokol Setda Kabupaten Nagekeo tidak terlalu mempermasalahkan masyarakat yang ingin mengambil video dan foto. Semua punya hak yang sama, tidak ada yang bertindak: heh minggir! Hahaha. Saya takjub melihat Kabag Humas dan Protokol yang betul-betul menjalankan tugas beliau.



Dua foto di atas ... santai kan gaya Bapak Don?

Baca Juga: Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling

Dalam sambutannya, dengan sering menyelip istilah dan bahasa daerah Nagekeo, serta guyonan yang bikin masyarakat ngakak, Bapak Don menggunakan banyak analogi sederhana yang mudah dipahami. Selain menekankan bahwa rumah baca hanyalah pemicu sedangkan selanjutnya adalah tergeraknya hati masyarakat untuk memanfaatkan rumah baca tersebut, Bapak Don juga menyelip pesan tentang kearifan lokal yaitu penggunaan tas anyaman alih-alih menggunakan tas plastik sebagai media untuk membawa barang belanjaan.

Pesan lain yang disampaikan adalah tentang rumah tangga. Kalau membangun rumah tangga, atau setelah berumah tangga dan punya rumah, jangan mengutamakan membeli kasur pegas kalau fasilitas MCK serta bak air belum dibangun. Karena itu adalah dasar agar masyarakat hidup sejahtera.


Lagi, dari informasi yang saya dengar dari teman-teman yang tinggal di Kota Mbay seperti Noviea Azizah, Bapak Don kalau berkunjung ke desa itu tidak mau ada acara pengalungan selendang untuk penyambutan. Terus, masyarakat juga jangan sampai ada yang menyembelih hewan ternak untuk acara makan siang kegiatan kunjungan dimaksud. Makanya kemarin itu kami kudapannya sangat sederhana tapi kok bikin lidah ketagihan ya? Kopinya pun bikin Thika Pharmantara ketagihan. Haha. Ini dia kudapan kami saat acara diskusi santai:


Sungguh saya sangat beruntung dan bersyukur bisa bertemu langsung Bapak Don yang rendah hati dan ramah dengan semua orang. Terus bangun Nagekeo, Bapak! Saya sih ... hanya pengunjung yang sering menikmati keindahan Nagekeo dan bertugas menulisnya di blog. Hahaha.

Mengumpulkan Buku


Dari kegiatan di Rumah Baca Sao Moko Modhe tersebut di atas, resmi ya nulisnya hahaha, maka saya mengajak teman-teman semua untuk berpartisipasi dengan cara menyumbangkan buku untuk Rumah Baca Sao Moko Modhe. Bukunya tidak saja buku sekolah untuk anak usia TK dan SD tetapi juga buku cerita anak dan majalah untuk orangtua (apalagi kalau majalah Intisari begitu). Bisa dikumpulkan melalui saya, yang nanti bakal saya antar sendiri ke sana. Bisa juga diantarkan sendiri ke sana nanti bisa tanyakan kontak Sekdes Ngegedhawe pada saya. 


Sudah berapa buku yang terkumpul? Belum ada kalau di saya mah ... haha. Masih dalam tahap kampanye sana sini. Doakan semoga banyak buku yang bisa terkumpul ya! Amin!

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe

Salam literasi untuk kita semua.



Cheers.

Hanya Lulusan SD, Tapi Nabungnya Rp100 Juta per Bulan

Udang Galah Hanya Lulusan SD, Tapi Nabungnya Rp100 Juta per Bulan

Karena hanya lulusan SD, Si Bapak tidak paham cara menghitung omzet. Tapi ia mengaku dapat menabung minimal Rp 100 juta per bulan dari usahanya. 

Saya baca informasi itu di Tabloid Kontan, tak lama setelah saya memutuskan tidak bergabung dengan Si Bapak pada tahun 2002 lalu, dan kemudian memilih menjadi pegawai negeri dengan gaji pokok pertama sebesar Rp 608 ribu per bulan.

Dengan gaji Rp 608 ribu per bulan, bisa menabung Rp 100 juta setelah kerja berapa bulan? Ratusan bulan! Hahaha...

Sebagai perantau dari Tasikmalaya, si Bapak orangnya ulet. Saat saya hendak bergabung di bisnis budidaya udang galahnya, beliau sudah beberapa tahun memulai usaha itu. 

Kolamnya ada beberapa. Jika tidak salah ingat, dalam satu hamparan terdapat 5 kolam ukuran besar dan beberapa kolam kecil-kecil. Bersama keluarganya, beliau mengontrak rumah sederhana tidak jauh dari kolamnya itu.

Skenarionya, dengan bimbingannya, saya akan mencari lokasi lain untuk membudidayakan udang galah. Setelah mensurvei beberapa lokasi, akhirnya dapat juga kolam seluas 1 hektar yang bisa disewa selama 5 tahun. 

Tempatnya di kiri jalan arah Gunung Kidul dari Kota Jogjakarta.

Uang sewa sudah ada. Bahkan modal buat 5 kali menebar benur pun sudah tersedia. Kebetulan ada penyandang dana yang bersedia memodali saya. Tetapi akhirnya, saya memutuskan mundur.

Si Bapak tentu saja kecewa. Karena dia bermaksud menjadikan saya konsumen benur pertama dari hatchery yang tengah dia rintis bersama partner bisnisnya yang lain, yaitu Pak Pur.

Pemodal saya, yang berhubungan baik dengan si Bapak, tetapi lebih mempercayai saya sepenuhnya untuk bisnis ini, juga penasaran. Saya sampaikan kepadanya, bahwa bisnis ini tidak cukup layak, bukan karena tingkat kesulitannya.

Bahkan saya mungkin bisa menghasilkan panen lebih besar, karena calon istri saya lulusan Biologi Lingkungan, yang mungkin akan menemukan inovasi enteng-entengan setelah beberapa kali penanaman benih.

Masalah terbesarnya justru pada pasar yang terbatas. Jika saya bergabung, niscaya hasil produksi akan bertambah signifikan dan berpengaruh buruk pada harga komoditas.

Permintaan pasar terbesar saat itu dari Pulau Bali. Dan sepertinya sedikit sulit mengembangkan pasar di luar pulau itu, karena harga udang galah pada saat itu yang relatif lebih tinggi dibandingkan udang jenis lainnya.

"Informasi intelijen" juga membenarkan bahwa Si Bapak sudah berutang ke supplier pakan selama berbulan-bulan. Jadi wajar banget kalo saya memutuskan mundur dan mengembalikan modal yang sudah sempat berpindah ke tangan saya.

Lalu Bom Bali jilid I meledak menjelang akhir tahun 2002. Pada waktu itu saya sedang mempersiapkan diri melepas beberapa usaha di Jogjakarta karena harus hijrah ke Jakarta pada bulan November.

Yang langsung terbayang di benak saya saat bom jahanam itu meledak adalah Si Bapak yang telah kehilangan pasar terbesarnya. Sungguh tidak terbayangkan kesulitan yang harus dihadapi Si Bapak dan usaha udang galahnya. Sedih banget rasanya hati ini. 

Meskipun tidak pernah lagi berbalas sapa secara langsung (pada 2003-an saya masih bolak-balik Jakarta-Jogjakarta), saya mendapat kabar bahwa ternyata Si Bapak berinovasi out of the box.

Alih-alih mencari pasar alternatif sebagai pengganti Pulau Bali, ia menciptakan pasarnya sendiri. Pasarnya yang hancur diterjang bom memberinya ide untuk menjual sendiri hasil budidayanya.

Di atas kolam-kolamnya dia bangun dangau-dangau yang dia sebut sebagai Gubug Makan. Menu utamanya, tentu saja udang galah yang ditangkap langsung dari kolam. Udang galah yang segar dipadu dengan keahlian istrinya memasak melengkapi keunikan Gubug Makan tersebut.

Orang-orang mulai berdatangan. Tertarik mencicipi, lalu mengajak orang-orang yang lain, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, Si Bapak tidak lagi dipusingkan tentang ke mana dia harus menjual udang-udangnya.

Puncaknya, tentu saja saat Si Bapak mulai terkenal dan diwawancara media massa. Tabloid Kontan yang saya baca salah satunya.


Gubug Makan Danau UI

Menabung Rp 100 juta per bulan? Woouw....

Saya sendiri ikut bersenang hati membaca kesuksesan Si Bapak. Terbukti sudah, saya yang lulusan UGM kalah kreatif dengan Si Bapak yang hanya lulusan SD.

Dan, percaya atau tidak. Cabang pertama Gubug Makan Si Bapak di bagian barat pulau Jawa (sebelum puluhan cabangnya kemudian), dibuka di daerah yang disebut Danau UI. Iyaaa... Danaunya Universitas Indonesia.

Dari fakta ini saya bersyukur karena UGM tidak memiliki danau. Coba kalau UGM punya danau dan Si Bapak buka cabangnya di situ, waduh... 

Saya yang lulusan UGM, yang akhirnya “cuma” jadi pegawai negeri, pasti hanya bisa tersenyum pahit. 
Sepahit... pahit... pahit.. empedu!

Jakarta, 29 Juli 2019
Penulis: HERI WINARKO


Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya


Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya. Hari itu, saya sedang meliput kegiatan mahasiswa KKN-PPM 2019 Uniflor (yang mendapat dana hibah dari Kemenristek Dikti) di Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, berjarak sekitar duapuluh lima kilometer dari Kota Ende. Saat sedang ketawa-ketiwi mendengar omongan Bapak Kepala Desa, satu pesan WA yang masuk ke telepon genggam sungguh membikin jantung serasa copot. Soalnya kondisi sinyal di Desa Wolofeo sangat tidak seksi sehingga saya kuatir itu pesan WA nyasar. Haha. Intinya saya dihubungi oleh Kakak Olenka dari Kemenkominfo Jakarta untuk menjadi influencer dalam suatu kegiatan.

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe

Influencer? Sudah bisakah saya disebut itu? Kalau sampai diminta begitu, tentu sudah ada pertimbangan ini-itu kan ya. Baiklah saya terima meskipun pikiran dipenuhi kekuatiran. Tapi seperti kata Adele: you'll never know if you never try to forget your past and simply be mine. Haha. Awalnya saya berpikir menjadi influencer tentang hal-hal yang berkaitan dengan TIK semacam pemanfaatan media sosial untuk perubahan, atau bagaimana anak muda dapat menjadi agen perubahan melalui dunia TIK, atau bagaimana masyarakat awam bisa mengajak orang lain datang ke daerah wisata mereka hanya melalui tulisan dan foto di blog. Berpikir seperti itu wajar saja karena ini Kemenkominfo.

Ternyata saya diminta berbicara dari sisi seorang influencer tentang STUNTING!

Apa? Stuntman? Hehe *ditabok dinosaurus*.

Karena hanya punya waktu dua hari untuk mempersiapkan jiwa, dan ritual mandi kembang, saya langsung menyusun draf di aplikasi catatan telepon genggam. Tulisan di draf ini intinya bagaimana saya sebagai orang awam melihat stunting dan budaya/kebiasan masyarakat lokal. Karena, saya bukan ahli gizi, bukan dokter, bukan praktisi medis, sehingga bukan kapasitas saya untuk bicara tentang porsi kadar gizi yang dibutuhkan tubuh per hari atau tentang asupan gizi anak selama 1.000 hari terhitung sejak masih dalam kandungan.

Audiens Dari Berbagai Lini


Aula Lantai II Hotel Grand Wisata penuh sesak saat saya tiba Kamis, 1 Agustus 2019, siang. Saya memang datang siang, saat makan siang, untuk mendapat makan gratis karena sesi saya adalah sesi paling akhir. Ternyata MC kegiatan ini sahabat saya sendiri. Kalian harus membaca pos berjudul Dessy: Merayakan Natal di Vatikan Merupakan Berkat Berlimpah dari Tuhan untuk tahu lebih detail si MC. Iya, Dessy adalah MC kegiatan tersebut.


Sambil melihat-lihat situasi, saya tahu bahwa yang hadir ini tidak saja anak sekolah setingkat SMA, tetapi ada juga mahasiswa termasuk mahasiswa Uniflor, guru-guru, ibu-ibu PKK, Ikatan Bidan Indonesia Cabang Ende, orang-orang komunitas, kepala dinas/kantor dan kepala bagian, dan lain sebagainya. Eh ternyata ada Mas Alimin, sahabat saya yang bekerja di Diskominfo Ende. Dan kebiasaan memang sulit dikekang. Ketemu Mas Alimin malah saling ngecap kayak orang ngerap. Haha.

Stunting Bukan Berarti Turunan


Ini inti yang saya bicarakan kemarin selain selipan tentang gejala stunting hingga pola hidup bersih dan sehat. Inti dari yang saya bicarakan adalah sebagai berikut:

Stunting adalah isu yang hangat dibicarakan karena terkait dengan masa awal seorang anak manusia sejak masih dalam kandungan, asupan gizi, hidup bersih dan sehat. Apa yang terjadi selama ini, kita percaya kondisi seorang anak mengalami stunting itu karena gen, karena turunan. Kalau Orangtuanya seperti itu, pasti anaknya nanti juga.

Pandangan ini belum berhenti.

Kadang kalau lihat anak-anak tingginya tidak sesuai usia, terus orangtuanya punya postur yang tinggi, tetap saja, kita bilang: pasti turunan dari opa Oma, atau Om tante. Asalkan bukan karena turunannya tetangga.

Karena menjadi kebiasaan untuk berpikir ke situ, kita lantas terbawa dengan kondisi ini ...

Akibatnya kita cenderung membiarkan anak yang masih usia dini dengan pertumbuhan terlambat seperti itu. Cenderung bilang begini: Biar saja, bukan urusan kita. Yang lebih parah, anak yang mengalami stunting justru dapat perlakuan body shaming, dibully karena kondisi tubuhnya.

Dulu saya lahir prematur. Delapan bulan sekian hari dengan bobot sekilo-an saja, dan sebesar botol kaca begitu. Orangtua saya sampai tidak berani menggendong. Sekarang orangtua saya takut malah menggendong ... Beratnya luar biasa. Haha. Sejak kecil yang saya tahu makanannya harus seimbang. Ikan, terutama ikan goreng itu jadi cemilan. Saya suka makan ikan, makan buah, pokoknya apa saja lah yang disiapkan sama orangtua. Dan pada akhirnya jadi seperti sekarang ini.


Itu saya kopas loh. Kebiasan menulis haha dan hehe di blog pun terbawa di situ dan terbawa saat saya bicara. Ck ck ck. Jadi ingat dulu waktu masih jadi penyiar radio, sering di-SMS sama pendengar, cuma untuk minta saya ketawa. Halaaaah.

Selain itu saya juga menyampaikan bahwa kesehatan anak-anak itu menjadi tanggungjawab masyarakat umum, bukan saja orangtua atau keluarganya. Apabila kita punya teman baru menikah, seringlah memberikan informasi tentang stunting, memeriksakan kesehatan anaknya pada ahli medis, dan lain sebagainya. Atau jika kita melihat batita bersama orangtuanya dengan kondisi kurang normal, bolelah kita melakukan pendekatan kepada orangtua si batita dan bercerita tentang stunting. Siapa tahu orangtuanya tidak sadar. Apalagi NTT ini nomor satu anak dengan stunting.

Kisah Seorang Ibu


Sudah menjadi kebiasaan saya setiap kali menjadi pembicara sekaligus ngelawak. Interaktif dengan audiens itu perlu, menurut saya, sebagai katrol apakah audiens memperhatikan atau masa bodoh? Ternyata, alhamdulillah, audiens perhatian banget sama saya. Haha. Saya meminta salah seorang audiens untuk maju ke depan dan bercerita pengalamannya dengan anak-anak atau bocah entah itu terkait masalah kebersihan atau tentang dunia membaca-menulis. Salah seorang ibu guru dari SMA Swasta Adhyaksa pun maju.

Ibu bercerita tentang kondisi dua anaknya. Anak pertama mengalami stunting, anak kedua tumbuh sehat. Cerita si Ibu sungguh menyentuh hati. Ada pesan yang langsung dipahami oleh semua audiens hari itu:

Pesan Pertama:
Stunting harus dikenali sejak dini dan jangan dibiarkan. Pembiaran akan membuat kita terlambat sadar bahwa si anak mengalami stunting.

Pesan Kedua:
"Anak pertama menjadi seperti itu mungkin karena saya baru menikah, baru punya anak, belum ada pengalaman," kata si Ibu. Ini pesan yang juga masuk dalam daftar kegiatan kemarin. Salah satunya: jangan menikah terlalu dini!

Terima kasih, Ibu.

Instragram Menjadi Mulutgram


Karena diminta menjadi influencer ya sekalian saya saya mempengaruhi audiens untuk menyebarkan kegiatan hari itu. Peserta yang sudah follow IG-nya @Genbestid saya minta untuk dapat menjadi mulutgram. Yaitu menyebarkan informasi tentang stunting kepada semua orang di sekitar mereka. Seperti yang saya tulis di atas, tanggungjawab moral masyarakat.

Mulutgram punya konotasi negatif. Memang. Seperti kata Dana SUCI dalam salah satu tampilannya "Iklan Menjebak" yaitu tentang getok tular (dari mulut ke mulut). Tapi kalau mulutgram tentang informasi positif saya pikir itu akan sangat luar biasa. Bayangkan saja, hitunglah ada seratus audiens. Setiap audies punya lima anggota keluarga di rumahnya. Pulang dari kegiatan mereka lantas bercerita ke anggota keluarga. Sudah berapa orang yang tahu tentang stunting? Itu baru keluarga, belum teman kantor, teman nongkrong, dan seterusnya.

Mulutgram itu penting.


Saya hanya bisa bilang: sudah memberikan yang terbaik pada hari itu di hadapan ratusan audiens di Aula Lantai II Hotel Grand Wisata. Kurang lebihnya, mohon dimaafkan. Hehe.

Baca Juga: Gotong Royong Itu Masih Hidup dalam Tubuh Masyarakat

Ayo, cegah stunting!

Jadi generasi bersih dan sehat!

#Genbestid
#GenbestEnde
#SadarStunting



Cheers.

5 Tips Agar Kembali Semangat Ngeblog Setelah Liburan


Satu minggu, kira-kira, sebelum libur Idul Fitri 2019 tiba, saya sudah libur nge-blog. Alasannya? Ya ingin fokus ibadah dan membereskan banyak hal urusan perasaan rumah tangga, khas, menjelang Idul Fitri. Maklum, ada lembaran seng yang harus diganti. Haha. Kayak kuli bangunan dooonk. Ketimbang nge-blog-nya tidak fokus, lebih baik libur dulu kan. Saya yakin banyak dari kalian yang juga meliburkan diri dari ranah blog menjelang Idul Fitri kemarin. Terutama blogger perempuan. Tidak hanya melulu menyiapkan kudapan, tapi membersihkan rumah, mengganti gorden, membuat to do list termasuk membayar zakat, sampai belanja ini itu keperluan hari raya. Superwoman!

Baca Juga: 5 Patterns

Kapan kembali dari liburan nge-blog? Tergantung sih. Kalau saya memilih tepat di awal minggu. Jadi, Senin minggu kemarin saya sudah mulai kembali nge-blog dan mengisi blog ini dengan konten khusus HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday

Hampir semua orang pasti mengalami kemalasan tingkat akut setiap kali liburan selesai, baik libur umum yang ditetapkan oleh sekolah dan kantor masing-masing, maupun libur nge-blog yang ditetapkan sendiri melalu Surat Keputusan Libur Nge-blog. Saya termasuk di dalamnya. Setiap kali menghidupkan laptop, larinya pasti nge-game. Kalau tidak nge-game pasti nonton filem atau serial. Mau traveling, waktunya nanggung. Parah banget pokoknya. Kalau dibiarkan, saya yang merugi, karena kurang produktif menulis dan membikin otak sumpek. Hal ini tidak boleh dibiarkan! Harus dilawan!

Perlawanan itu kemudian menjadi bahan dasar tulisan ini ... hehe ... tips agar kembali semangat nge-blog setelah liburan.

1. Lebih Rajin Menengok Blog


Selama liburan, tidak bisa dipungkiri, kita menikmati kehidupan fana dan melupakan sejenak blog ini. Hayo unjuk jari yang juga begitu! Hehe. Saya sendiri lebih sering di rumah saja dan memeriksa to do list. To do list ini dipegang sama Thika Pharmantara dan Enu (teman si Thika yang tinggal di rumah). Setiap hari bakal nanya ke mereka: apa yang sudah, apa yang belum? Atau, mereka yang bakal bilang ke saya: hari ini jadwal kita membikin stik keju, Ncim. Yang seperti itulah.

Tapi, pada tanggal 7 Juni 2019, setelah Idul Fitri hari kedua, saya mulai membuka tautan blog sendiri. Mulai melihat banyaknya sarang laba-laba haha. Kemudian, saya juga mulai membuka e-mail untuk memeriksa pemberitahuan ini itu. Maka, menyuntik semangat nge-blog pada diri sendiri, saya mulai membikin daftar kegiatan selama liburan. Ini bermanfaat sebagai bahan dasar menulis/konten blog. Kalau bukan diri kita sendiri, siapa lagi?

2. Bikin Daftar Kegiatan Selama Liburan


Membikin daftar kegiatan selama liburan itu menyenangkan. Bagi saya, liburan Idul Fitri 2019 sangat penuh berkah dan cerita. Banyak sekali kegiatan bermanfaat selain menyiapkan ini itu untuk menyambut hari raya. Tidak perlu semua kita catat/daftar sebagai bahan menulis usai liburan, cukup yang penting-penting saja. Misalnya, saya harus menulis tentang tamu-tamu spesial yang datang ke rumah, piknik Idul Fitri hari kedua, sampai paket kiriman dari Ilham Himawan. Yang tidak perlu detail saya tulis adalah tentang kudapan tradisional/pasar yang juga disuguhkan di meja *ngikik*. 

3. Menulis Seri (Horeday)


Bukan rahasia lagi, blog saya mempunyai tema harian. Tapi tahun ini saya kembali dari liburan dengan cerita-cerita yang bukan tema harian. Kembali pada poin  nomor dua di atas, saya sudah punya daftar kegiatan selama liburan, daftar-daftar itu harus ditulis lah. Ibarat dunia stand up comedy, premisnya ada, tinggal bangun set up dan ciptakan punch line. Salah satu Horeday adalah tentang sharing public speaking dan dunia stand up comedy. Ya ya ya baiklah, saya sertakan saja semua seri Horeday di sini.

Horeday #1: The Legend Cookies Choco & Cheese Stick
Horeday #2: Sharing Public Speaking dan Dunia SUC
Horeday #3: Pharmantara Big Family and Happy Eid Raya
Horeday #4: Tamu-Tamu Spesial di Hari Super Spesial
Horeday #5: Piknik Encim and The Gank di Pantai Aeba'i
Horeday #6: Well Done! I Finished My Stone Project
Horeday #7: Rejeki Anak Solehah dari Makassar

Kisah-kisah Horeday memang sangat personal yang bahkan mungkin sangat tidak bermanfaat bagi kalian yang membacanya. Tapi saya suka. Hehe.

4. Kembali Pada Tema Harian


Hyess. Setelah menulis apa-apa di luar kebiasaan harian blog ini, saya kembali pada tema harian. Semacam prolog yang telah selesai dilanjutkan dengan cerita inti. Selamat datang kembali #SeninCerita, #SelasaTekno, #RabuDIY, #KamisLima, #PDL di hari Jum'at, dan #SabtuReview

5. Kembali Blogwalking


Inilah kegiatan yang belum sempurna saya lakukan. Ternyata tahun ini setelah Idul Fitri saya harus sedikit renggang blogwalking karena dinding dapur yang rubuh akibat perbuatan akar pohon yang jahat. Tapi, terima kasih akar pohon ... pada akhirnya dapur basah, bagian paling belakang rumah, kini memiliki wajah baru. Yuhuuuu.

⇜⇝

Semoga lima tips di atas dapat membantu kalian untuk kembali semangat nge-blog. Saya sendiri punya satu bonus yaitu Kelas Blogging Tuteh yang anggotanya mulai rajin menyetor tautan tulisan baru yang di pos di blog mereka. Kerennya lagi tulisan mereka sesuai dengan ilmu akademik yang dipelajari di bangku kuliah: antara budaya dan fisika misalnya. Kan bagus itu ... suka sekali pokoknya. Nanti saya bakal mengulas tentang mereka. Insha Allah.

Baca Juga: 5 Youtuber Ende

Bagaimana dengan kalian kawan? Tetap semangat nge-blog?



Cheers.

Pinjaman Online? Mudah!



Pinjaman online? Mudah! Asal, tahu dan paham syarat-syaratnya.

Akhir-akhir ini sering sekali saya, kalian, dan mereka, membaca ragam artikel tentang pinjaman online. Mendengarnya, memang agak ngeri karena meminjam offline saja sudah bisa membikin kepala pecah (seringnya pemberi pinjaman yang kepalanya pecah karena peminjam jauh lebih galak), apalagi meminjam secara online. Tapi, masih banyak masyarakat Indonesia yang membutuhkan pinjaman (modal) terutama untuk memulai dan/atau mengembangkan usaha, sementara persyaratan dari bank dirasa cukup berat, termasuk harus menyerahkan anggunan dan proses yang lama dalam menghitung nilai anggunan dan jumlah pengajuan pinjaman, sehingga akhirnya pinjaman online menjadi solusi yang Insha Allah solutif.

Permasalahan yang paling sering dihadapi dalam urusan pinjam-meminjam ini adalah proses pengembalian. Secara offline, proses pengembalian dilakukan sesuai jarak waktu dan jangka waktu yang telah ditentukan serta proses pembayaran dapat dilakukan dengan pemotongan gaji dari si peminjam. Meskipun demikian, masih banyak peminjam yang mangkir sehingga meresahkan pemberi pinjaman. Bagaimana dengan pinjaman online? Menurut saya pinjaman online harus 95% didasari oleh kesadaran dari si peminjam terkhusus dalam hal pengembaliannya.

Bagi kalian yang saat ini sedang membutuhkan dana terutama untuk memulai dan/atau mengembangkan usaha, dan sedang berencana untuk melakukan peminjaman online, tahu dan pahami dulu syarat-syaratnya.

Penyelenggara (Pemberi Pinjaman)


Setiap badan usaha yang memberikan pinjaman online, atau perusahaan berbasis financial technology (fintech) haruslah mematuhi dasar hukum yang mengatur tentang pinjaman online yaitu: Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 Tahun 2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi, dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial. Sehingga, apabila kalian hendak meminjam uang secara online, cek dulu si pemberi pinjaman ini. Legal atau ilegal? Harus tahu betul apakah penyelenggara fintech tersebut sudah sesuai dengan peraturan yang diatur pemerintah.

Apa saja yang harus dicek?

1. Berbadan usaha (perseroan terbatas, atau koperasi).
2. Warga Negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia; dan/atau warga negara asing dan/atau badan hukum asing. Kepemilikan saham Penyelenggara oleh warga negara asing dan/atau badan hukum asing ini paling banyak 85%.

Untuk memastikan bahwa penyelenggara fintech itu aman, kalian bisa mengeceknya langsung di situs milik OJK. Mudah bukan? Di situs itu kalian bisa melihat daftar perusahaan yang sudah terdaftar di OJK sehingga tidak perlu was-was memilih dan menentukan penyelenggara fintech yang dipilih. Tentu semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. 

Peminjam


Selama para pihak saling mematuhi aturan, saya pikir tidak ada masalah dengan pinjaman online ini. Karena permasalahan timbul apabila peminjam dengan sengaja amnesia membayar kredit/pinjamannya, sementara itu dia menyerahkan nomor telepon orang-orang terdekat, sehingga seringkali kita membaca artikel tentang keluhan orang-orang terdekat yang menerima telepon dari penyelenggara fintech gara-gara si peminjam mangkir dari kewajibannya. Kalau begini kan repot! Si A yang menikmati buahnya, si B, C, dan D yang menelan getahnya.

Bagi kalian yang hendak meminjam online pada fintech pilihan, perhatikan dulu beberapa hal berikut ini:

1. Pastikan kalian mampu membayar kredit pinjaman.
2. Pastikan uang pinjaman digunakan untuk usaha, bukan untuk foya-foya.
3. Pastikan penyelenggara fintech terdaftar di OJK.
4. Pastikan kalian membaca dengan teliti persyaratannya.
5. Pastikan kalian membaca dengan teliti perjanjian kerja samanya.

Saya pikir nomor satu dan nomor tiga itu paling penting diperhatikan. Tolonglah untuk selalu membayar tepat waktu karena pinjaman online ini dasarnya adalah kepercayaan (meskipun bukan selamanya jaminan fidusia). Manapula peminjam sudah dimudahkan dengan persyaratan yang ringan. Ringan? Are you sure? Ya! Syarat umum mengajuka pinjaman online adalah:

1. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP).
2. Fotokopi Kartu Keluarga (KK).
3. Fotokopi BPKB Kendaraan (optional).
4. Fotokopi Kartu Kredit (optional).
5. Slip gaji.

Hal-hal yang optional tergantung pada jenis pinjaman online yang dipilih. Kalian bisa memilih jenis-jenis pinjaman online sesuai kebutuhan, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan pinjaman online di https://www.cekaja.com/kredit/pinjaman-online/

Bagaimana, benarkan yang saya tulis di awal? Pinjaman online? Mudah! Asal tahu dan paham syarat-syaratnya. Mudah bagi si peminjam karena persyaratannya ringan serta diproses dalam hitungan jam sampai dengan hitungan hari. Mudah bagi si penyelenggara pinjaman online apabila peminjam tidak mangkir dari kewajibannya membayar pinjaman/kredit alias lancar dalam proses pengembalian. Ibarat sedang berdagang, toko bisa tutup dan gulung tikar kalau terlalu banyak yang berhutang dan amnesia membayar.

Semoga semakin banyak orang Indonesia yang terbantu dengan pinjaman online ini; untuk memulai dan/atau mengembangkan usaha. Amin-kan doooonk :)



Cheers.