Hanya Lulusan SD, Tapi Nabungnya Rp100 Juta per Bulan

Udang Galah Hanya Lulusan SD, Tapi Nabungnya Rp100 Juta per Bulan

Karena hanya lulusan SD, Si Bapak tidak paham cara menghitung omzet. Tapi ia mengaku dapat menabung minimal Rp 100 juta per bulan dari usahanya. 

Saya baca informasi itu di Tabloid Kontan, tak lama setelah saya memutuskan tidak bergabung dengan Si Bapak pada tahun 2002 lalu, dan kemudian memilih menjadi pegawai negeri dengan gaji pokok pertama sebesar Rp 608 ribu per bulan.

Dengan gaji Rp 608 ribu per bulan, bisa menabung Rp 100 juta setelah kerja berapa bulan? Ratusan bulan! Hahaha...

Sebagai perantau dari Tasikmalaya, si Bapak orangnya ulet. Saat saya hendak bergabung di bisnis budidaya udang galahnya, beliau sudah beberapa tahun memulai usaha itu. 

Kolamnya ada beberapa. Jika tidak salah ingat, dalam satu hamparan terdapat 5 kolam ukuran besar dan beberapa kolam kecil-kecil. Bersama keluarganya, beliau mengontrak rumah sederhana tidak jauh dari kolamnya itu.

Skenarionya, dengan bimbingannya, saya akan mencari lokasi lain untuk membudidayakan udang galah. Setelah mensurvei beberapa lokasi, akhirnya dapat juga kolam seluas 1 hektar yang bisa disewa selama 5 tahun. 

Tempatnya di kiri jalan arah Gunung Kidul dari Kota Jogjakarta.

Uang sewa sudah ada. Bahkan modal buat 5 kali menebar benur pun sudah tersedia. Kebetulan ada penyandang dana yang bersedia memodali saya. Tetapi akhirnya, saya memutuskan mundur.

Si Bapak tentu saja kecewa. Karena dia bermaksud menjadikan saya konsumen benur pertama dari hatchery yang tengah dia rintis bersama partner bisnisnya yang lain, yaitu Pak Pur.

Pemodal saya, yang berhubungan baik dengan si Bapak, tetapi lebih mempercayai saya sepenuhnya untuk bisnis ini, juga penasaran. Saya sampaikan kepadanya, bahwa bisnis ini tidak cukup layak, bukan karena tingkat kesulitannya.

Bahkan saya mungkin bisa menghasilkan panen lebih besar, karena calon istri saya lulusan Biologi Lingkungan, yang mungkin akan menemukan inovasi enteng-entengan setelah beberapa kali penanaman benih.

Masalah terbesarnya justru pada pasar yang terbatas. Jika saya bergabung, niscaya hasil produksi akan bertambah signifikan dan berpengaruh buruk pada harga komoditas.

Permintaan pasar terbesar saat itu dari Pulau Bali. Dan sepertinya sedikit sulit mengembangkan pasar di luar pulau itu, karena harga udang galah pada saat itu yang relatif lebih tinggi dibandingkan udang jenis lainnya.

"Informasi intelijen" juga membenarkan bahwa Si Bapak sudah berutang ke supplier pakan selama berbulan-bulan. Jadi wajar banget kalo saya memutuskan mundur dan mengembalikan modal yang sudah sempat berpindah ke tangan saya.

Lalu Bom Bali jilid I meledak menjelang akhir tahun 2002. Pada waktu itu saya sedang mempersiapkan diri melepas beberapa usaha di Jogjakarta karena harus hijrah ke Jakarta pada bulan November.

Yang langsung terbayang di benak saya saat bom jahanam itu meledak adalah Si Bapak yang telah kehilangan pasar terbesarnya. Sungguh tidak terbayangkan kesulitan yang harus dihadapi Si Bapak dan usaha udang galahnya. Sedih banget rasanya hati ini. 

Meskipun tidak pernah lagi berbalas sapa secara langsung (pada 2003-an saya masih bolak-balik Jakarta-Jogjakarta), saya mendapat kabar bahwa ternyata Si Bapak berinovasi out of the box.

Alih-alih mencari pasar alternatif sebagai pengganti Pulau Bali, ia menciptakan pasarnya sendiri. Pasarnya yang hancur diterjang bom memberinya ide untuk menjual sendiri hasil budidayanya.

Di atas kolam-kolamnya dia bangun dangau-dangau yang dia sebut sebagai Gubug Makan. Menu utamanya, tentu saja udang galah yang ditangkap langsung dari kolam. Udang galah yang segar dipadu dengan keahlian istrinya memasak melengkapi keunikan Gubug Makan tersebut.

Orang-orang mulai berdatangan. Tertarik mencicipi, lalu mengajak orang-orang yang lain, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, Si Bapak tidak lagi dipusingkan tentang ke mana dia harus menjual udang-udangnya.

Puncaknya, tentu saja saat Si Bapak mulai terkenal dan diwawancara media massa. Tabloid Kontan yang saya baca salah satunya.


Gubug Makan Danau UI

Menabung Rp 100 juta per bulan? Woouw....

Saya sendiri ikut bersenang hati membaca kesuksesan Si Bapak. Terbukti sudah, saya yang lulusan UGM kalah kreatif dengan Si Bapak yang hanya lulusan SD.

Dan, percaya atau tidak. Cabang pertama Gubug Makan Si Bapak di bagian barat pulau Jawa (sebelum puluhan cabangnya kemudian), dibuka di daerah yang disebut Danau UI. Iyaaa... Danaunya Universitas Indonesia.

Dari fakta ini saya bersyukur karena UGM tidak memiliki danau. Coba kalau UGM punya danau dan Si Bapak buka cabangnya di situ, waduh... 

Saya yang lulusan UGM, yang akhirnya “cuma” jadi pegawai negeri, pasti hanya bisa tersenyum pahit. 
Sepahit... pahit... pahit.. empedu!

Jakarta, 29 Juli 2019
Penulis: HERI WINARKO


Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya


Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya. Hari itu, saya sedang meliput kegiatan mahasiswa KKN-PPM 2019 Uniflor (yang mendapat dana hibah dari Kemenristek Dikti) di Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, berjarak sekitar duapuluh lima kilometer dari Kota Ende. Saat sedang ketawa-ketiwi mendengar omongan Bapak Kepala Desa, satu pesan WA yang masuk ke telepon genggam sungguh membikin jantung serasa copot. Soalnya kondisi sinyal di Desa Wolofeo sangat tidak seksi sehingga saya kuatir itu pesan WA nyasar. Haha. Intinya saya dihubungi oleh Kakak Olenka dari Kemenkominfo Jakarta untuk menjadi influencer dalam suatu kegiatan.

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe

Influencer? Sudah bisakah saya disebut itu? Kalau sampai diminta begitu, tentu sudah ada pertimbangan ini-itu kan ya. Baiklah saya terima meskipun pikiran dipenuhi kekuatiran. Tapi seperti kata Adele: you'll never know if you never try to forget your past and simply be mine. Haha. Awalnya saya berpikir menjadi influencer tentang hal-hal yang berkaitan dengan TIK semacam pemanfaatan media sosial untuk perubahan, atau bagaimana anak muda dapat menjadi agen perubahan melalui dunia TIK, atau bagaimana masyarakat awam bisa mengajak orang lain datang ke daerah wisata mereka hanya melalui tulisan dan foto di blog. Berpikir seperti itu wajar saja karena ini Kemenkominfo.

Ternyata saya diminta berbicara dari sisi seorang influencer tentang STUNTING!

Apa? Stuntman? Hehe *ditabok dinosaurus*.

Karena hanya punya waktu dua hari untuk mempersiapkan jiwa, dan ritual mandi kembang, saya langsung menyusun draf di aplikasi catatan telepon genggam. Tulisan di draf ini intinya bagaimana saya sebagai orang awam melihat stunting dan budaya/kebiasan masyarakat lokal. Karena, saya bukan ahli gizi, bukan dokter, bukan praktisi medis, sehingga bukan kapasitas saya untuk bicara tentang porsi kadar gizi yang dibutuhkan tubuh per hari atau tentang asupan gizi anak selama 1.000 hari terhitung sejak masih dalam kandungan.

Audiens Dari Berbagai Lini


Aula Lantai II Hotel Grand Wisata penuh sesak saat saya tiba Kamis, 1 Agustus 2019, siang. Saya memang datang siang, saat makan siang, untuk mendapat makan gratis karena sesi saya adalah sesi paling akhir. Ternyata MC kegiatan ini sahabat saya sendiri. Kalian harus membaca pos berjudul Dessy: Merayakan Natal di Vatikan Merupakan Berkat Berlimpah dari Tuhan untuk tahu lebih detail si MC. Iya, Dessy adalah MC kegiatan tersebut.


Sambil melihat-lihat situasi, saya tahu bahwa yang hadir ini tidak saja anak sekolah setingkat SMA, tetapi ada juga mahasiswa termasuk mahasiswa Uniflor, guru-guru, ibu-ibu PKK, Ikatan Bidan Indonesia Cabang Ende, orang-orang komunitas, kepala dinas/kantor dan kepala bagian, dan lain sebagainya. Eh ternyata ada Mas Alimin, sahabat saya yang bekerja di Diskominfo Ende. Dan kebiasaan memang sulit dikekang. Ketemu Mas Alimin malah saling ngecap kayak orang ngerap. Haha.

Stunting Bukan Berarti Turunan


Ini inti yang saya bicarakan kemarin selain selipan tentang gejala stunting hingga pola hidup bersih dan sehat. Inti dari yang saya bicarakan adalah sebagai berikut:

Stunting adalah isu yang hangat dibicarakan karena terkait dengan masa awal seorang anak manusia sejak masih dalam kandungan, asupan gizi, hidup bersih dan sehat. Apa yang terjadi selama ini, kita percaya kondisi seorang anak mengalami stunting itu karena gen, karena turunan. Kalau Orangtuanya seperti itu, pasti anaknya nanti juga.

Pandangan ini belum berhenti.

Kadang kalau lihat anak-anak tingginya tidak sesuai usia, terus orangtuanya punya postur yang tinggi, tetap saja, kita bilang: pasti turunan dari opa Oma, atau Om tante. Asalkan bukan karena turunannya tetangga.

Karena menjadi kebiasaan untuk berpikir ke situ, kita lantas terbawa dengan kondisi ini ...

Akibatnya kita cenderung membiarkan anak yang masih usia dini dengan pertumbuhan terlambat seperti itu. Cenderung bilang begini: Biar saja, bukan urusan kita. Yang lebih parah, anak yang mengalami stunting justru dapat perlakuan body shaming, dibully karena kondisi tubuhnya.

Dulu saya lahir prematur. Delapan bulan sekian hari dengan bobot sekilo-an saja, dan sebesar botol kaca begitu. Orangtua saya sampai tidak berani menggendong. Sekarang orangtua saya takut malah menggendong ... Beratnya luar biasa. Haha. Sejak kecil yang saya tahu makanannya harus seimbang. Ikan, terutama ikan goreng itu jadi cemilan. Saya suka makan ikan, makan buah, pokoknya apa saja lah yang disiapkan sama orangtua. Dan pada akhirnya jadi seperti sekarang ini.


Itu saya kopas loh. Kebiasan menulis haha dan hehe di blog pun terbawa di situ dan terbawa saat saya bicara. Ck ck ck. Jadi ingat dulu waktu masih jadi penyiar radio, sering di-SMS sama pendengar, cuma untuk minta saya ketawa. Halaaaah.

Selain itu saya juga menyampaikan bahwa kesehatan anak-anak itu menjadi tanggungjawab masyarakat umum, bukan saja orangtua atau keluarganya. Apabila kita punya teman baru menikah, seringlah memberikan informasi tentang stunting, memeriksakan kesehatan anaknya pada ahli medis, dan lain sebagainya. Atau jika kita melihat batita bersama orangtuanya dengan kondisi kurang normal, bolelah kita melakukan pendekatan kepada orangtua si batita dan bercerita tentang stunting. Siapa tahu orangtuanya tidak sadar. Apalagi NTT ini nomor satu anak dengan stunting.

Kisah Seorang Ibu


Sudah menjadi kebiasaan saya setiap kali menjadi pembicara sekaligus ngelawak. Interaktif dengan audiens itu perlu, menurut saya, sebagai katrol apakah audiens memperhatikan atau masa bodoh? Ternyata, alhamdulillah, audiens perhatian banget sama saya. Haha. Saya meminta salah seorang audiens untuk maju ke depan dan bercerita pengalamannya dengan anak-anak atau bocah entah itu terkait masalah kebersihan atau tentang dunia membaca-menulis. Salah seorang ibu guru dari SMA Swasta Adhyaksa pun maju.

Ibu bercerita tentang kondisi dua anaknya. Anak pertama mengalami stunting, anak kedua tumbuh sehat. Cerita si Ibu sungguh menyentuh hati. Ada pesan yang langsung dipahami oleh semua audiens hari itu:

Pesan Pertama:
Stunting harus dikenali sejak dini dan jangan dibiarkan. Pembiaran akan membuat kita terlambat sadar bahwa si anak mengalami stunting.

Pesan Kedua:
"Anak pertama menjadi seperti itu mungkin karena saya baru menikah, baru punya anak, belum ada pengalaman," kata si Ibu. Ini pesan yang juga masuk dalam daftar kegiatan kemarin. Salah satunya: jangan menikah terlalu dini!

Terima kasih, Ibu.

Instragram Menjadi Mulutgram


Karena diminta menjadi influencer ya sekalian saya saya mempengaruhi audiens untuk menyebarkan kegiatan hari itu. Peserta yang sudah follow IG-nya @Genbestid saya minta untuk dapat menjadi mulutgram. Yaitu menyebarkan informasi tentang stunting kepada semua orang di sekitar mereka. Seperti yang saya tulis di atas, tanggungjawab moral masyarakat.

Mulutgram punya konotasi negatif. Memang. Seperti kata Dana SUCI dalam salah satu tampilannya "Iklan Menjebak" yaitu tentang getok tular (dari mulut ke mulut). Tapi kalau mulutgram tentang informasi positif saya pikir itu akan sangat luar biasa. Bayangkan saja, hitunglah ada seratus audiens. Setiap audies punya lima anggota keluarga di rumahnya. Pulang dari kegiatan mereka lantas bercerita ke anggota keluarga. Sudah berapa orang yang tahu tentang stunting? Itu baru keluarga, belum teman kantor, teman nongkrong, dan seterusnya.

Mulutgram itu penting.


Saya hanya bisa bilang: sudah memberikan yang terbaik pada hari itu di hadapan ratusan audiens di Aula Lantai II Hotel Grand Wisata. Kurang lebihnya, mohon dimaafkan. Hehe.

Baca Juga: Gotong Royong Itu Masih Hidup dalam Tubuh Masyarakat

Ayo, cegah stunting!

Jadi generasi bersih dan sehat!

#Genbestid
#GenbestEnde
#SadarStunting



Cheers.

5 Tips Agar Kembali Semangat Ngeblog Setelah Liburan


Satu minggu, kira-kira, sebelum libur Idul Fitri 2019 tiba, saya sudah libur nge-blog. Alasannya? Ya ingin fokus ibadah dan membereskan banyak hal urusan perasaan rumah tangga, khas, menjelang Idul Fitri. Maklum, ada lembaran seng yang harus diganti. Haha. Kayak kuli bangunan dooonk. Ketimbang nge-blog-nya tidak fokus, lebih baik libur dulu kan. Saya yakin banyak dari kalian yang juga meliburkan diri dari ranah blog menjelang Idul Fitri kemarin. Terutama blogger perempuan. Tidak hanya melulu menyiapkan kudapan, tapi membersihkan rumah, mengganti gorden, membuat to do list termasuk membayar zakat, sampai belanja ini itu keperluan hari raya. Superwoman!

Baca Juga: 5 Patterns

Kapan kembali dari liburan nge-blog? Tergantung sih. Kalau saya memilih tepat di awal minggu. Jadi, Senin minggu kemarin saya sudah mulai kembali nge-blog dan mengisi blog ini dengan konten khusus HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday

Hampir semua orang pasti mengalami kemalasan tingkat akut setiap kali liburan selesai, baik libur umum yang ditetapkan oleh sekolah dan kantor masing-masing, maupun libur nge-blog yang ditetapkan sendiri melalu Surat Keputusan Libur Nge-blog. Saya termasuk di dalamnya. Setiap kali menghidupkan laptop, larinya pasti nge-game. Kalau tidak nge-game pasti nonton filem atau serial. Mau traveling, waktunya nanggung. Parah banget pokoknya. Kalau dibiarkan, saya yang merugi, karena kurang produktif menulis dan membikin otak sumpek. Hal ini tidak boleh dibiarkan! Harus dilawan!

Perlawanan itu kemudian menjadi bahan dasar tulisan ini ... hehe ... tips agar kembali semangat nge-blog setelah liburan.

1. Lebih Rajin Menengok Blog


Selama liburan, tidak bisa dipungkiri, kita menikmati kehidupan fana dan melupakan sejenak blog ini. Hayo unjuk jari yang juga begitu! Hehe. Saya sendiri lebih sering di rumah saja dan memeriksa to do list. To do list ini dipegang sama Thika Pharmantara dan Enu (teman si Thika yang tinggal di rumah). Setiap hari bakal nanya ke mereka: apa yang sudah, apa yang belum? Atau, mereka yang bakal bilang ke saya: hari ini jadwal kita membikin stik keju, Ncim. Yang seperti itulah.

Tapi, pada tanggal 7 Juni 2019, setelah Idul Fitri hari kedua, saya mulai membuka tautan blog sendiri. Mulai melihat banyaknya sarang laba-laba haha. Kemudian, saya juga mulai membuka e-mail untuk memeriksa pemberitahuan ini itu. Maka, menyuntik semangat nge-blog pada diri sendiri, saya mulai membikin daftar kegiatan selama liburan. Ini bermanfaat sebagai bahan dasar menulis/konten blog. Kalau bukan diri kita sendiri, siapa lagi?

2. Bikin Daftar Kegiatan Selama Liburan


Membikin daftar kegiatan selama liburan itu menyenangkan. Bagi saya, liburan Idul Fitri 2019 sangat penuh berkah dan cerita. Banyak sekali kegiatan bermanfaat selain menyiapkan ini itu untuk menyambut hari raya. Tidak perlu semua kita catat/daftar sebagai bahan menulis usai liburan, cukup yang penting-penting saja. Misalnya, saya harus menulis tentang tamu-tamu spesial yang datang ke rumah, piknik Idul Fitri hari kedua, sampai paket kiriman dari Ilham Himawan. Yang tidak perlu detail saya tulis adalah tentang kudapan tradisional/pasar yang juga disuguhkan di meja *ngikik*. 

3. Menulis Seri (Horeday)


Bukan rahasia lagi, blog saya mempunyai tema harian. Tapi tahun ini saya kembali dari liburan dengan cerita-cerita yang bukan tema harian. Kembali pada poin  nomor dua di atas, saya sudah punya daftar kegiatan selama liburan, daftar-daftar itu harus ditulis lah. Ibarat dunia stand up comedy, premisnya ada, tinggal bangun set up dan ciptakan punch line. Salah satu Horeday adalah tentang sharing public speaking dan dunia stand up comedy. Ya ya ya baiklah, saya sertakan saja semua seri Horeday di sini.

Horeday #1: The Legend Cookies Choco & Cheese Stick
Horeday #2: Sharing Public Speaking dan Dunia SUC
Horeday #3: Pharmantara Big Family and Happy Eid Raya
Horeday #4: Tamu-Tamu Spesial di Hari Super Spesial
Horeday #5: Piknik Encim and The Gank di Pantai Aeba'i
Horeday #6: Well Done! I Finished My Stone Project
Horeday #7: Rejeki Anak Solehah dari Makassar

Kisah-kisah Horeday memang sangat personal yang bahkan mungkin sangat tidak bermanfaat bagi kalian yang membacanya. Tapi saya suka. Hehe.

4. Kembali Pada Tema Harian


Hyess. Setelah menulis apa-apa di luar kebiasaan harian blog ini, saya kembali pada tema harian. Semacam prolog yang telah selesai dilanjutkan dengan cerita inti. Selamat datang kembali #SeninCerita, #SelasaTekno, #RabuDIY, #KamisLima, #PDL di hari Jum'at, dan #SabtuReview

5. Kembali Blogwalking


Inilah kegiatan yang belum sempurna saya lakukan. Ternyata tahun ini setelah Idul Fitri saya harus sedikit renggang blogwalking karena dinding dapur yang rubuh akibat perbuatan akar pohon yang jahat. Tapi, terima kasih akar pohon ... pada akhirnya dapur basah, bagian paling belakang rumah, kini memiliki wajah baru. Yuhuuuu.

⇜⇝

Semoga lima tips di atas dapat membantu kalian untuk kembali semangat nge-blog. Saya sendiri punya satu bonus yaitu Kelas Blogging Tuteh yang anggotanya mulai rajin menyetor tautan tulisan baru yang di pos di blog mereka. Kerennya lagi tulisan mereka sesuai dengan ilmu akademik yang dipelajari di bangku kuliah: antara budaya dan fisika misalnya. Kan bagus itu ... suka sekali pokoknya. Nanti saya bakal mengulas tentang mereka. Insha Allah.

Baca Juga: 5 Youtuber Ende

Bagaimana dengan kalian kawan? Tetap semangat nge-blog?



Cheers.

Pinjaman Online? Mudah!



Pinjaman online? Mudah! Asal, tahu dan paham syarat-syaratnya.

Akhir-akhir ini sering sekali saya, kalian, dan mereka, membaca ragam artikel tentang pinjaman online. Mendengarnya, memang agak ngeri karena meminjam offline saja sudah bisa membikin kepala pecah (seringnya pemberi pinjaman yang kepalanya pecah karena peminjam jauh lebih galak), apalagi meminjam secara online. Tapi, masih banyak masyarakat Indonesia yang membutuhkan pinjaman (modal) terutama untuk memulai dan/atau mengembangkan usaha, sementara persyaratan dari bank dirasa cukup berat, termasuk harus menyerahkan anggunan dan proses yang lama dalam menghitung nilai anggunan dan jumlah pengajuan pinjaman, sehingga akhirnya pinjaman online menjadi solusi yang Insha Allah solutif.

Permasalahan yang paling sering dihadapi dalam urusan pinjam-meminjam ini adalah proses pengembalian. Secara offline, proses pengembalian dilakukan sesuai jarak waktu dan jangka waktu yang telah ditentukan serta proses pembayaran dapat dilakukan dengan pemotongan gaji dari si peminjam. Meskipun demikian, masih banyak peminjam yang mangkir sehingga meresahkan pemberi pinjaman. Bagaimana dengan pinjaman online? Menurut saya pinjaman online harus 95% didasari oleh kesadaran dari si peminjam terkhusus dalam hal pengembaliannya.

Bagi kalian yang saat ini sedang membutuhkan dana terutama untuk memulai dan/atau mengembangkan usaha, dan sedang berencana untuk melakukan peminjaman online, tahu dan pahami dulu syarat-syaratnya.

Penyelenggara (Pemberi Pinjaman)


Setiap badan usaha yang memberikan pinjaman online, atau perusahaan berbasis financial technology (fintech) haruslah mematuhi dasar hukum yang mengatur tentang pinjaman online yaitu: Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 Tahun 2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi, dan Peraturan Bank Indonesia Nomor 19/12/PBI/2017 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Teknologi Finansial. Sehingga, apabila kalian hendak meminjam uang secara online, cek dulu si pemberi pinjaman ini. Legal atau ilegal? Harus tahu betul apakah penyelenggara fintech tersebut sudah sesuai dengan peraturan yang diatur pemerintah.

Apa saja yang harus dicek?

1. Berbadan usaha (perseroan terbatas, atau koperasi).
2. Warga Negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia; dan/atau warga negara asing dan/atau badan hukum asing. Kepemilikan saham Penyelenggara oleh warga negara asing dan/atau badan hukum asing ini paling banyak 85%.

Untuk memastikan bahwa penyelenggara fintech itu aman, kalian bisa mengeceknya langsung di situs milik OJK. Mudah bukan? Di situs itu kalian bisa melihat daftar perusahaan yang sudah terdaftar di OJK sehingga tidak perlu was-was memilih dan menentukan penyelenggara fintech yang dipilih. Tentu semua punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. 

Peminjam


Selama para pihak saling mematuhi aturan, saya pikir tidak ada masalah dengan pinjaman online ini. Karena permasalahan timbul apabila peminjam dengan sengaja amnesia membayar kredit/pinjamannya, sementara itu dia menyerahkan nomor telepon orang-orang terdekat, sehingga seringkali kita membaca artikel tentang keluhan orang-orang terdekat yang menerima telepon dari penyelenggara fintech gara-gara si peminjam mangkir dari kewajibannya. Kalau begini kan repot! Si A yang menikmati buahnya, si B, C, dan D yang menelan getahnya.

Bagi kalian yang hendak meminjam online pada fintech pilihan, perhatikan dulu beberapa hal berikut ini:

1. Pastikan kalian mampu membayar kredit pinjaman.
2. Pastikan uang pinjaman digunakan untuk usaha, bukan untuk foya-foya.
3. Pastikan penyelenggara fintech terdaftar di OJK.
4. Pastikan kalian membaca dengan teliti persyaratannya.
5. Pastikan kalian membaca dengan teliti perjanjian kerja samanya.

Saya pikir nomor satu dan nomor tiga itu paling penting diperhatikan. Tolonglah untuk selalu membayar tepat waktu karena pinjaman online ini dasarnya adalah kepercayaan (meskipun bukan selamanya jaminan fidusia). Manapula peminjam sudah dimudahkan dengan persyaratan yang ringan. Ringan? Are you sure? Ya! Syarat umum mengajuka pinjaman online adalah:

1. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP).
2. Fotokopi Kartu Keluarga (KK).
3. Fotokopi BPKB Kendaraan (optional).
4. Fotokopi Kartu Kredit (optional).
5. Slip gaji.

Hal-hal yang optional tergantung pada jenis pinjaman online yang dipilih. Kalian bisa memilih jenis-jenis pinjaman online sesuai kebutuhan, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan pinjaman online di https://www.cekaja.com/kredit/pinjaman-online/

Bagaimana, benarkan yang saya tulis di awal? Pinjaman online? Mudah! Asal tahu dan paham syarat-syaratnya. Mudah bagi si peminjam karena persyaratannya ringan serta diproses dalam hitungan jam sampai dengan hitungan hari. Mudah bagi si penyelenggara pinjaman online apabila peminjam tidak mangkir dari kewajibannya membayar pinjaman/kredit alias lancar dalam proses pengembalian. Ibarat sedang berdagang, toko bisa tutup dan gulung tikar kalau terlalu banyak yang berhutang dan amnesia membayar.

Semoga semakin banyak orang Indonesia yang terbantu dengan pinjaman online ini; untuk memulai dan/atau mengembangkan usaha. Amin-kan doooonk :)



Cheers.

Kopi Malam Selepas Berbuka Puasa Bersama

Buka Puasa Bersama Obon Tabroni Hendi Suhendi Nurfahroji Bekasi
Obon Tabroni saat buka puasa bersama bersama relawan Dapil 4 Kab Bekasi. 
"Jika Anda bingung tentang apa yang harus Anda lakukan, itu pertanda kemenangan musuh Anda." - Toba Beta, penulis buku "Master of Stupidity".

Dalam kesempatan berbuka puasa bersama Bang Obon TabroniBang Hendi Suhendi dan M Nurfahroji, seperti biasa Bang Obon selalu bisa membangkitkan semangat para relawan dari berbagai kecamatan yang masuk dalam Dapil 4 Kabupaten Bekasi; Tarumajaya, Babelan, Tambun Utara, Sukawangi dan Tambelang.

"Udah banyak contoh dari temen-temen yang membuktikan bahwa kegagalan malah jadi pemacu semangat berjuang. Jangan karena Oji enggak jadi dewan terus temen-temen berhenti bergerak untuk memperjuangkan masyarakat utara ini."

Demikian sedikit yang sempat saya dengar dari Bang Obon kepada sekitar 60 orang hadirin acara buka bersama yang cukup bersahaja di Kampung Gabus Bulak Desa Sriamur Kec Tambun Utara, Sabtu 11 Mei 2019.

Saya yang awalnya mengira undangan buka bersama dadakan ini hanya akan dihadiri Nurfahroji selaku pemangku hajat, tidak menyangka akan dihadiri oleh Bang Hendi Suhendi terlebih dihadiri Bang Obon yang digadang-gadang lolos ke DPR-RI. 

Di sela kesibukannya memantau perhitungan suara yang menurut kabar tinggal menunggu rekap dari beberapa kecamatan, Obon Tabroni masih sempat mampir dan kembali membuktikan tidak ada jarak antara dirinya dan keluarga besar relawan yang sempat hadir dalam acara buka puasa bersama ini. Kopi malam ini benar-benar bervitamin lah :)
Buka Puasa Bersama Obon Tabroni Hendi Suhendi Nurfahroji Bekasi
Nurfahroji menyemangati relawan
Sementara itu, Oji yang dalam pilcaleg kemarin tidak berhasil meraih kursi anggota DPRD Kabupaten Bekasi dengan raihan suara sekitar 4300-an juga menyampaikan motivasi kepada hadirin agar tetap melakukan apa yang selama ini telah dilakukan dalam membantu masyarakat, khususnya terkait kegiatan di Jamkeswatch.

"Jangan karena saya gak dipilih oleh masyarakat tertentu lalu kita meninggalkan mereka, kalau mereka butuh bantuan yang kita bisa, kita wajib membantu. Kita ini pejuang, banyak jalannya, politik hanya salah satu jalan, kalau gagal di sini kita masih punya jalan lain," ungkap Oji mantap.

Selain memohon maaf dan mengucapkan terima kasih atas apa yang teman-teman sudah lakukan selama pilcaleg dan hingga saat ini mengawal suaranya, Oji dalam hal ini menunjukkan kelasnya dengan kedewasaan sikap tanpa kehilangan arah tujuan pergerakannya.

Kekecewaan atas hasil pilcaleg kemarin tidak membuat ia lantas kehilangan karakternya. Ini yang menurut saya dibutuhkan oleh teman-teman relawan, contoh sikap ksatria yang cepat bangkit menyusun strategi baru dan menguatkan moril rekan-rekan seperjuangannya. Oji mampu menghidupkan kembali semangat teman-teman seperjuangan dan meyakinkan arah pergerakan selanjutnya.

"Jika Anda bingung tentang apa yang harus Anda lakukan, itu pertanda kemenangan musuh Anda," tulis Toba Beta dalam sebuah bukunya. Dari sikap yang ditunjukkan oleh M Nurfahroji malam tadi, menurut saya jelas sekali Oji tahu persis apa yang selanjutnya akan ia lakukan. Pembelajaran yang ia dapat dari proses pilcaleg kemarin justru mematangkan strategi pergerakannya.

"Kita adalah petarung, gak ada alasan untuk mundur sebelum apa yang kita perjuangkan berhasil. Mungkin jalannya saja yang berbeda," tegas Oji, menyisipkan pesan moralnya saat menjawab beberapa pertanyaan dari hadirin.

Alhamdulillah, acara buka puasa bersama yang saya kira akan berjalan biasa saja ternyata banyak menyimpan catatan tersendiri bagi saya. Bagi saya, membedakan orang sukses dan gagal adalah dengan menyaksikan bagaimana orang tersebut bangkit dari kegagalannya.

Kalau kata Om Bill Gates, merayakan kemenangan itu mah biasa aja, yang penting itu mengambil pelajaran dari kegagalan. "It’s fine to celebrate success but it is more important to heed the lessons of failure."

Masih banyak kutipan-kutipan motivasi yang bisa kita bahas, tapi apalah artinya kutipan kata-kata kalau kita bisa menyaksikan sendiri dari orang-orang yang ada di sekitar kita. Kalau tidak ada, mungkin Anda salah bergaul atau berada dalam lingkaran pertemanan yang salah :)

Saya bangga bisa mengenal dan dekat dengan pribadi-pribadi yang matang dengan pengalaman-pengalaman lapangan seperti Bang Obon Tabroni, Bang Hendi Suhendi dan M Nurfahroji ini. Hanya waktu saja yang akan membuktikan kesuksesan mereka, sekarang ataupun nanti.

Salam


Percobaan Gagal


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Masih berhubungan dengan DIY tapi saya tidak menulisnya di #RabuDIY melainkan dalam #PDL.

Ketika saya melihat aneka video di Youtube tentang proyek-proyek DIY, terkhusus tentang memanfaatkan jin dari dalam botol bekas atau jin yang tidak terpakai lagi, salah satu karya yang menarik perhatian adalah mangkuk. Bagaimana mereka, dengan lihainya, membikin mangkuk berbahan jin. How can? Karena antusias, malam itu juga saya mencoba membikinnya. Ah, mudah. Cuma menyatukan potongan-potongan jin pada mangkuk yang diolesi lem PVA.

Baca Juga: Kubur Batu di Lamboya

Ternyata ... oh lala. Hasilnya sungguh buruk. Gambar hasil yang buruk itu bisa kalian lihat di awal pos. Tapi saya tidak menyerah. Mari mencobanya lagi. Dan ... gagal lagi.

Akhirnya, pada percobaan yang ke-sekian, saya berhasil membikin mangkuk jin tapi sedikit mengubah tata caranya. Tidak seratus persen sesuai dengan yang ditonton di Youtube. Oh, ternyata kegagalan bukan berarti sama sekali tidak bisa membikinnya, melainkan pelajaran untuk berusaha dan kreatif. Benar kan? Pengalaman yang sama juga saya alami saat menulis baik fiksi maupun non-fiksi. Percobaan itu selalu terpeta pada paragraf pertama.


Percobaan yang gagal adalah pelajaran paling berharga. 

Oh iya, bagaimana dengan hasil mangkuk jin itu? Eitsss sabar dulu. Tidak sekarang. Bakal saya pos di #RabuDIY! Hehe.

Baca Juga: Foto Kreatif #1

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernah mencoba dan gagal, tapi tidak menyerah? Never give up, dibalik percobaan yang gagal, ada kesuksesan yang menanti.



Cheers.

Cetak Saring

Salah satu goals kegiatan keren #EndeBisa (di SMA Negeri 1 Ende) adalah Kewirausahaan yang waktu itu fokus pada cetak saring.

Hola! Dengan penuh semangat saya menyapa kalian semua pengunjung blog ini. Memangnya kemarin tidak semangat? Kemarin, hari ini, besok, harus tetap semangat, tapi hari ini lebih semangat karena pada akhirnya Triwarna Soccer Festival 2019 telah berakhir pada Senin kemarin (1 April 2019). Itu artinya, hari-hari di Stadion Marilonga pun telah berakhir dan saya kembali dapat menikmati waktu berkualitas bersama keluarga. Sumpah, saya merindukan mengobrol berlama-lama dengan Mamatua dan Mamasia, menanyakan ini itu pada Indra, menanyakan urusan kuliah pada Thika, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Re:Ease

Hari ini di #SelasaTekno saya mau membahas tentang cetak saring yang sering disebut sablon. Menulis ini karena saya teringat pada pos TSF 'Story, ttentang Triwarna Soccer Festival yang telah menggerakkan banyak lini di Kabupaten Ende terutama perekonomian; baik barang maupun jasa. Salah satu jasa tersebut adalah jasa sablon.

Cetak Saring atau Sablon


Menurut Wikipedia, cetak saring adalah salah satu teknik proses cetak yang menggunakan layar (screen) dengan kerapatan tertentu dan umumnya berbahan dasar nylon atau sutra (silk screen). Layar ini kemudian diberi pola yang berasal dari negatif desain yang dibuat sebelumnya di kertas HVS atau kalkir. Kain ini direntangkan dengan kuat agar menghasilkan layar dan hasil cetakan yang datar. Setelah diberi fotoresis dan disinari, maka harus disiram air agar pola terlihat lalu akan terbentuk bagian-bagian yang bisa dilalui tinta dan tidak. 

Kaos Relawan Bung Karno Ende; cetak saring menggunakan tinta emas-karet.

Proses pengerjaannya adalah dengan menuangkan tinta di atas layar dan kemudian disapu menggunakan palet atau rakel yang terbuat dari karet. Satu layar digunakan untuk satu warna. Sedangkan untuk membuat beberapa warna dalam satu desain harus menggunakan suatu alat agar presisi.

Sapta Indria


Pada pos tentang Mengetik 10 Jari Itu Biasa kalian akan menemukan cerita tentang sebuah Diklusemas (Pendidikan Luar Sekolah oleh Masyarakat) bernama Sapta Indria. Iya, itu milik (alm.) Bapa, dahulu kala. Selain kursus mengetik, kursus akuntansi, dan pernah juga kursus komputer, Sapta Indria juga menawarkan layanan jasa sablon. Oleh karena itu saya tidak asing dengan dunia sablon ini dan masih mengingat istilah:

1. Screen.
2. Negatif.
3. Kamar Gelap.
4. Rakel.

Kamar gelap itu betul-betul gelap haha.

Kalau pada Wikipedia tertulis HVS atau kalkir maka di Sapta Indria yang saya ingat sih kalkir dan pasti selalu ada alat tulis merek Boxy. 

Zaman itu, selain untuk keperluan seragam olah raga (kaos) sekolah dan institusi, (alm.) Bapa tidak pernah menerima pesanan cetak saring berdesain kreatif. Jadi desain untuk seragam olah raga itu ya begitu-begitu saja; hanya permainan jenis dan ukuran huruf, ditambah logo. Kemudian Abang Nanu juga membuka usaha tersebut dan mulai banyak yang memesan desain kreatif dengan bermunculannya komunitas anak muda. Salah satunya Speltranix. Ough yess, komunitas ini luar biasa bekennya di Kota Ende.

Baca Juga: Teknologi Dasar

Selain seragam kaos, Sapta Indria juga mencetak saring logo perusahaan/kantor (pada kertas HVS). Jadi tergantung pesanan.

Lesunya Cetak Saring


Cetak saring mulai lesu di Kabupaten Ende karena beberapa sebab. Sebagai pengamat *tsaaah* saya menganalisa alasannya, salah satunya adalah transportasi. Semakin mudahnya transportasi, kemudian, membikin sekolah dan institusi lebih mudah memesan seragam olah raga dalam jumlah besar langsung di Pulau Jawa. Otomatis banting harga.

Kembali Menggeliat


Cetak saring kembali menggeliat salah satunya, menurut saya, adalah berkiblat pada Dagadu dan Joger. Siapa yang tidak suka memakai kaos dengan tulisan dan desain kreatif? Lantas muncul usaha anak NTT, kaos: desain dan cetak saring bernama Rumpu Rampe Ink. Desain Rumpu Rampe Ink sangat saya sukai. Salah satunya pada gambar di bawah ini:


Cetak saring kembali 'menguasai' Kabupaten Ende. Bermunculan begitu banyak usaha anak muda (mereka benar-benar kreatif) di bidang layanan jasa yang satu ini. Kita tinggal membawa desain, memilih kaos (jenis, ukuran, warna) dan dicetak sama mereka. Kadang-kadang mereka juga membantu mendesain dan mengirimkan desainnya pada kita (via WA) untuk dipertimbangkan. Kalau setuju, tinggal naik cetak. Begitu mudahnya.

Teknologi Cetak Saring


Menariknya, di tengah maraknya digital printing, cetak saring masih digandrungi baik oleh pelaku wirausaha maupun pelaku konsumen. Teknologi cetak saring memang tidak semudah digital printing. Peralatan untuk cetak saring antara lain:

1. Screen

Screen berpigura, kata saya. Pigura ini semacam pemida yang fungsinya menarik screen agar tidak kusut dan mudah memindai negatif.

2. Rakel

Kayu dengan satu atau kedua sisi berbahan karet untuk menarik cat di atas screen.

3. Negatif Desain

Bisa pada kalkir, yang ditempel di screen dengan teknik khusus (di kamar gelap).

4. Desain

Zaman dulu desainnya susah. Zaman sekarang desainnya lebih mudah dilakukan di komputer.

5. Tinta

Tentu tinta khusus yang digunakan untuk bermacam media untuk dicetak saring.



Bangga Memakai Kaos Cetak Saring


Sejak H&R, Ossela, dan sejenisnya, semacam menghilang dari peredaran/pasaran Kota Ende, saya mulai memakai kaos cetak saring. Ada yang dulu dicetak sama (alm.) Bapa, semakin ke sini ya tinggal pesan saja. Hanya saja, saya sering mendapat kaos gratisan sehingga itu menambah kebanggaan saya memakainya, hahaha. Seperti kaos #EndeBisa yang diberikan oleh Ampape Sablon, atau kaos-kaos komunitas lainnya.


Kaos-kaos cetak saring ini semacam menjadi identitas kita. Cukup pakai kaosnya, orang sudah pasti tahu, ooooh itu Tuteh dari #EndeBisa. Atau, oooooh itu Tuteh dari Relawan Bung Karno Ende.


Cetak saring dapat menjadi salah satu usaha yang patut diperhitungkan oleh anak muda dalam dunia wirausaha. Intinya, menurut saya, adalah bagaimana kita mencintai suatu pekerjaan baik pekerjaan kantoran maupun pekerjaan wirausaha. Wirausaha butuh banyak riset tentang perkembangan usaha kita sendiri dan keinginan pasar. Bila keinginan pasar belum dapat kita penuhi sekarang, artinya kita yang harus lebih giat belajar dan berusaha untuk bisa memenuhinya di masa datang. Saya sendiri memang tidak punya bakat di dunia cetak saring, tapi saya suka bermain kata, bisa jadi saya menggandeng teman yang punya usaha cetak saring dengan menjual desain kata. Itu salah satu contoh sederhana. Apabila ada yang memang jago desain, tentu dengan usaha yang cukup, dia dapat menjual desainnya pada orang-orang yang berkecimpung di dunia cetak saring.

Relasi ... relasi ... relasi. Jagalah. Itu penting.

Kreatif ... kreatif ... kreatif. Tidak hanya menjaga, tapi harus terus bisa berkembang dan mengasah kreativitasnya.

Baca Juga: Teknik Airbrush

Bagaimana dengan kalian, kawan? Apakah ada yang punya usaha cetak saring? Bagi tahu donk hehehe.



Cheers.

Bodo Amat


Masih ingat pos berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat? Pos #SabtuReview yang belum sempurna karena saya belum selesai membacanya tapi pengen banget menulis proses memperoleh buku keren yang satu ini, yang diberikan oleh sahabat saya Ferdinandus Setu. Hyess, the story behind the book. Pada akhirnya saya menyempatkan membaca buku ini setiap ada waktu luang-pendek misalnya jeda selama perjalanan, nongkrong di kantin, atau sebelum tidur malam. Bisa menyelesaikan buku yang ditulis oleh Mark Manson ini merupakan pengalaman mental yang ausam. Menurut saya. 

Baca Juga: The Book of Origins

Jadi, apa saja yang bisa saya tulis dari hasil membaca tuntas Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat? Mari kita cek ...

About Mark Manson


Seorang blogger. Yang akan mengingatkan kita pada Raditya Dika, pada Kerani dari ChaosAtWork (My Stupid Boss), pada Trinity. Tulisan-tulisannya di blog didominasi dengan aneka tips dan/atau motivasi menarik tentang menjalani hidup, tanpa terkesan menggurui, dan menulisnya dari sudut pandang berbeda. Silahkan cek sendiri di sini.

Diambil dari blog Mark Manson.

Tulisan-tulisan di blog itu kemudian dijadikan buku dengan judul The Subtle Art of Not Giving a F*ck. Yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat. 

Diambil dari blog Mark Manson.

Life is not about getting rid of problems, it's about finding better problems. It's not about avoiding failuer, it's about getting better at failure. Terjemahan bebasnya: bodo amat! Hahaha. Sampai sekarang Mark Manson masih terus menulis blog-nya dengan konten-konten menarik. Silahkan dibaca. Kalau kesulitan sama bahasa Inggris, buka kamus.

Di Atas Langit Masih Ada Langit


Kalian pasti sering mendengar istilah: (janganlah terlalu dipikirkan) di atas langit, masih ada langit. Itu kesan pertama saya membaca buku ini. Kita cenderung terlalu fokus pada satu masalah. Terlalu fokus dari satu sudut pandang saja. Dan, dan tanpa sadar alam bawah sadar kita menolak untuk berpikir dari sudut pandang berbeda. Sudut pandang berbeda akan menunjukkan pada kita, sebenarnya, bahwa masalah yang sedang dihadapi itu ternyata tidak seberapa dibanding masalah lainnya yang jauh lebih besar/sulit.

Contohnya: empat bungkus nasi kuning bekal perjalanan yang dititip di sepeda motor saya jatuh di daerah Desa Moni, sementara para pengendara sepeda motor lainnya pasti berharap nanti sarapan dengan nasi kuning itu saat istirahat di daerah Wolowaru. Apakah nasi kuning yang jatuh itu masalah besar? Tidak, ketimbang memikirkan nasi kuning yang jatuh dan terlindas sepeda motor itu, kami lebih memikirkan tentang kehati-hatian berkendara lintas Pulau Flores dan berharap tidak ada seorang pun yang mengalami nasib buruk dalam perjalanan jauh dari Kota Ende ke Kota Maumere. Karena kecelakaan lalu lintas, apalagi berakibat pada kematian, merupakan masalah yang sangat besar jika dibanding empat bungkus nasi kuning.

Jadi, masih ada masalah yang, ke depannya bisa jadi, lebih besar dari sekadar jatuhnya nasi kuning di Desa Moni. 

Seni #2: Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan (Mark Manson, 2018:19).

Hidup memang sulit. Lantas, apakah kita hanya akan memikirkan tentang kesulitan hidup saja? Bangkitlah, masih ada yang lebih sulit dari kesulitan kita, misalnya orang-orang yang negaranya masih berperang. Mereka belum bisa memikirkan tentang tabungan emas Pegadaian, misalnya, mereka masih memikirkan tentang rumah ... apakah keesokan hari rumah mereka masih berdiri atau malah rata dengan tanah akibat dihantam granat atau bom. Atau, apakah besok mereka masih hidup?

Kira-kira hal-hal semacam itulah.

Menghadapi Masalah Adalah Jalan Menuju Bahagia


Ketika kita dihadapkan pada masalah, rasanya dunia runtuh, marah, kesal, tak henti-hentinya mengomel. Beberapa orang cenderung untuk lari dari masalah alias membiarkannya saja tanpa upaya untuk menyelesaikannya. Mereka berpikir bahwa lebih bahagia dengan tidak menyelesaikan masalah itu. Lupakan. Tapi justru itu letak masalahnya ... karena kita tidak akan bahagia hanya dengan membiarkan suatu masalah. Karena menyelesaikan masalah merupakan pengalaman positif yang baik untuk diri kita.

Nilai-Nilai Sampah


Dalam menjalani hidup tidak disadari kita dibendungi oleh nilai-nilai sampah. Apakah nilai-nilai sampah itu? Ada empat nilai sampah yang ditulis oleh Mark Manson yaitu:

1. Kenikmatan.
2. Kesuksesan material.
3. Selalu benar.
4. Tetap positif.

Menariknya adalah penjelasan tentang tetap positif. Bukankah kita sering sekali memotivasi diri sendiri untuk tetap positif? Mark Manson menulis bahwa pengingkaran terhadap emosi negatif menuntut kita untuk mengalami emosi negatif yang lebih dalam dan berkepanjang, serta disfungsi emosional. Terus menerus bersikap positif justru merupakan salah satu bentuk pengelakan terhadap masalah, dan bukan cara yang tepat untuk menyelesaikannya. Contoh yang dilampirkan Mark Manson adalah bahwa ketika kita marah pada seseorang, itu alami karena kemarahan adalah bagian dari kehidupan. Tapi ketika kita memilih untuk tidak memukul seseorang karena marah itu adalah pilihan tepat karena marah adalah alami dan memukul adalah perkara lain yang menimbulkan perkara yang lebih besar.

Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Sebaliknya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif (Mark Manson, 2018:10).

Perihal poin selalu benar, saya pikir ini memang nilai sampah terhakiki hahaha. Karena ketika merasa selalu benar atau memposisikan diri sebagai pihak yang selalu benar maka kita tidak belajar apa-apa dari sesuatupun. Percayalah, saya pun juga sudah mengalaminya. Kita pernah benar, tapi tidak selalu benar kan? Artinya sebagai manusia kita pun tidak luput dari salah. Belajar banyak dari hal ini tentu bagus. Jangan menjadi orang yang merasa selalu benar.

Contoh Kisah


Di dalam buku ini juga termuat contoh-contoh kisah dari orang-orang yang pasti kalian tahu seperti David Mustain yang didepak dari Metallica dan kemudian membentuk Megadeth. Atau tentang Pete Best yang didepak dari The Beattles lantas menemukan 'arti hidupnya' dari pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Atau kisah tentang Hiro Onoda, seorang Letnan Dua dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang (1944). Semuanya terangkum dalam sub Nilai Penderitaan. Kalau saya menceritakan semuanya, tentu bakal diprotes sama Mark Manson. Yang jelas kita akan banyak belajar dari contoh kisah-kisah di dalam buku ini.

Yakin.

Si Panda Nyinyir


Saya tergelak membaca tentang Si Panda Nyinyir ini. 

Jika saya dapat menciptakan satu pahlawan super, saya akan menciptakan pahlawan yang disebut Panda Nyinyir. Dia akan memakai sebuah topeng mata murahan dan kaos (dengan huruf kapital T di atasnya) yang terlalu kecil untuk perut pandanya yang besar, dan kekuatan supernya adalah mengatakan kepada orang-orang, kebenaran yang menyakitkan dan tergolong pedas tentang diri mereka sendiri yang perlu mereka dengar namun tidak ingin mereka terima (Mark Manson, 2018:31).

Hahaha ... Dia akan membuat orang yang mendengarnya menjadi menderita.

Tapi alasan sederhana mengapa kita mengalami penderitaan adalah bahwa secara biologis penderitaan bermanfaat. Ini adalah agen alami yang diperlukan untuk perubahan yang menginspirasi (Mark Manson, 2018:32).

Kita sering mendengar; kebenaran itu menyakitkan. Tapi itu adalah hal yang harus didengar dan/atau dihadapi untuk kemudian diselesaikan. Si Panda Nyinyir ini bisa jadi sisi lain dari diri kita; mungkin dalam kehidupan bisa jadi dia adalah sahabat karib kita.

Lucu juga saat saya membayangkan si Panda Nyinyir ini. 

Apa Yang Harus Dilakukan Dengan "Bodo Amat"?


Bodo amat merupakan kalimat yang berkonotasi negatif. Bodo amat identik dengan masa bodoh. Menurut saya. Sehingga kalau membaca bodo amat, pastilah pikiran kita terbawa pada perilaku masa bodoh, acuh, dan sekelasnya. Tapi jika bodo amat dilakukan dengan seni, seperti yang ditulis Mark Manson, justru menjadi positif. Seni itu ada di mana? Ada di buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat.

Bodo amat putus cinta, ketimbang terus-terusan menerima perlakuan buruk dari dia.

Bodo amatlah terlambat datang di pertemuan, ketimbang tidak Shalat Jum'at.

Bodo amat ...

Bodo amat ...

Bodo amat ...


Pengalaman mental yang saya peroleh usai membaca buku Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat memberi peluang pada otak saya untuk berpikir lebih jauh. Contoh: baru-baru ini di Facebook ada sebuah akun yang mengatakan Lomba Mural itu tidak berfaedah karena hanya mencoret-coret dinding saja. Ketika saya membalasnya dengan penjelasan yang baik, akun tersebut malah membias pada hal-hal lainnya. Terakhir dalam hati saya bilang: bodo amat! Kalau dulu, akun semacam itu bakal saya ladeni sampai ke akar-akarnya!

Haha.

Baca Juga: Menghargai Perbedaan Dalam The Help

Bagaimana dengan kalian? Apakah sudah membaca buku ini? Kalau sudah, bagi tahu yuk di komentar pendapat kalian!



Cheers.

5 Desa 5 Potensi


Alhamdulillah awal tahun 2019 sudah banyak kegiatan yang saya lakukan baik kegiatan yang berhubungan dengan kampus, maupun kegiatan di luar kampus. Salah satu kegiatan di dalam kampus yang saya sukai adalah peliputan kegiatan Natal Bersama di Fakultas Ekonomi yaitu Misa Oikumene yang dipimpin oleh Pater John Ballan, SVD. dan Pendeta Ferluminggus Bako, Sth. Sedangkan kegiatan di luar kampus antara lain kegiatan #EndeBisa, ngemsi di acara ultah Ezra, ngumpulin batu bakal Stone Project (salah satu resolusi 2019), jalan-jalan awal tahun di Pantai Nangalala, hingga kerjaan tukang syuting di beberapa desa.

Baca Juga: 5 Keseruan Tinggal di Motorhome

Sebenarnya sudah lama saya menolak tawaran atau permintaan menjadi tukang syuting semacam syuting acara pernikahan. Alasannya sederhana: Cahyadi, tukang syuting andalan saya itu, sedang ada kerjaan lain yang tidak memungkinkannya untuk bekerja di pagi hari (misalnya syuting proses make up hingga pemberkatan di Gereja atau akad nikah di Masjid). Masa iya saya cuma menerima proyek syuting khusus resepsi yang umumnya dilakukan malam hari saja? Mana ada calon pengantin yang mau! Jadi, saya menolak proyek-proyek syuting itu meskipun Rupiah-nya menggoda imannya dinosaurus. Tapi ketika saya dihubungi oleh dua kecamatan yaitu Kecamatan Ende dan Kecamatan Ende Utara untuk mendokumentasikan kegiatan di desa di bawah payung Program Inovasi Desa (PID), saya langsung menyetujuinya. Alasannya juga sederhana: waktu kerja yang fleksibel.

Untuk Kecamatan Ende, Cahyadi mendapat tugas paling berat, karena lokasi desa-desa 'jajahannya' itu sangat jauh dan medan menuju lokasi yang tergolong berat. Sampai suatu kali Cahyadi pulang dan bercerita bahwa dia jatuh dari sepeda motor karena bebatuan jalanan yang tidak bisa diajak kompromi. Sedangkan untuk Kecamatan Ende Utara saya masih bisa menanganinya karena selain waktunya yang fleksibel, juga lokasinya masih dekat-dekat Kota Ende.

Dari video-video yang kemudian saya sunting, saya melihat bahwa setiap desa mempunyai potensi yang luar biasa besar, yang seharusnya menjadi fokus pemerintah untuk mengembangkannya. Agar apa? Agar masyarakat berdikari. Tentu, sebagai tahap atau langkah awal diperlukan bantuan seperti bimbingan dan pendampingan hingga dana. Bimbingan dilakukan bertahap oleh Tim PID maupun instansi terkait, sedangkan dana masih diusulkan dari dana desa.

Bapak Drs. Kapitan Lingga, Camat Ende Utara, mengungkapkan bahwa dana desa dapat dipakai untuk keperluan kelompok-kelompok dari upaya pemberdayaan masyarakat desa ini, asalkan betul dimanfaatkan dengan baik. Maksudnya adalah adanya laporan keuangan yang transparan dari penggunaan dana-dana tersebut. Kita tahu, dana desa telah membantu begitu banyak masyarakat desa untuk menikmati fasilitas diantaranya jalan desa yang dibikin baik menjadi jalan rabat, pembangunan kantor desa dan faskes, pembangunan fasilitas olahraga, hingga bantuan untuk kelompok-kelompok pemberdayaan masyarakat desa. Dana desa dilaporkan penggunaan/pemanfaatannya dua kali setahun. Jadi, setengah dana desa digelontorkan, enam bulan pelaporan baru setengahnya lagi digelontorkan. Kira-kira begitu informasi yang saya baca dari buku Dana Desa keluaran Kementrian Keuangan.

Kembali pada judul pos ini, 5 Desa 5 Potensi, saya ingin menulis tentang potensi lima desa yang telah kami dokumentasikan.

Apa saja potensi desa-desa tersebut?

1. Keripik Ubi dan Pisang


Desa Mbomba merupakan desa yang berada di bawah pemerintahan Kecamatan Ende Utara. Dua jenis hasil bumi unggulan dari desa ini adalah ubi (singkong) dan pisang. Oleh Tim PID, masyarakat desa khususnya kaum ibu dibentukkan kelompok kemudian diberdayakan untuk mengolah hasil bumi unggulan tersebut menjadi panganan tingkat dua berupa keripik ubi dan pisang.



Saya sudah merasakan hasil olahannya dan lidah saya jatuh cinta sama keripik ubinya, terutama yang belum dicampur bumbu tabur. Renyah dan gurih sekali, kawan. Rasanya mirip keripik ubi berbahan ubi Nuabosi. Untuk ubi Nuabosi, silahkan baca pos Puskesmas Cantik di Tanah Ubi Roti ini, ya.

2. Tenun Ikat


Sama dengan Desa Mbomba, Desa Gheoghoma juga terletak di wilayah Kecamatan Ende Utara. Kekayaan sumber daya dari desa ini yang diangkat oleh Tim PID adalah tenun ikatnya. Ada tiga kelompok penenun dari tiga dusun di Desa Gheoghoma yang telah dibentuk sejak tahun 2018. Mereka juga mendapatkan pendampingan dari instansi terkait salah satunya Perindustrian, serta menurut Kepala Desa, hasil tenun ikat dijual di Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Kita harapkan bersama tenun ikat dapat semakin naik nilainya di mata dunia karena proses pembuatannya cukup panjang dan melelahkan. Mereka, pada penenun itu jenius ya ... membikin motif itu! Sungguh jenius.


Pos lengkap tentang proses menenun di Desa Gheoghoma dapat kalian baca pada pos Proses Pembuatan Tenun Ikat ini.

Baca Juga: 5 Workshop Blogging & Social Media

3. Air Terjun Tonggo Papa


Sudah lama Air Terjun Tonggo Papa dikenal khalayak. Banyak yang ke sana loh termasuk teman-teman saya. Saya dan Kakak Pacar sepasukan pernah ke sana juga, tapi karena sayanya tidak kuat, karena kaki yang uzur, berhenti di tengah jalan. Mereka yang kuat, tapi karena solidaritas, justru ikutan berhenti menemani saya menikmati aroma dedaunan. Huhuhu.


Air terjun merupakan wisata alam yang paling banyak dijumpai di Kabupaten Ende. Di dekat Kota Ende saja ada Air Terjun Kedebodu. Air Terjun Tonggo Papa terletak di Desa Tonggo Papa, masih dalam wilayah Kecamatan Ende. Cahyadi yang mendokumentasikan ini. Yang saya suka adalah adanya wisata / atraksi wisata buatan seperti sayap kupu-kupu yang satu ini:


Artinya, baik pemerintah desa maupun masyarakat desa sama-sama sadar bahwa wisata alam akan lebih menarik dengan adanya wisata buatan sebagai pendukung (wisata utamanya). Haha. Itu analisa asal-asalan saya saja. Saya masih punya mimpi untuk 'harus' bisa turun-naik pergi-pulang Air Terjun Tonggo Papa. Doakan yaaaa *elus-elus kaki*.

4. Kemiri


Tidak disangka, berdasarkan pengakuan dari Kepala Desa Wologai, dinyatakan bahwa Desa Wologai sanggup memenuhi permintaan kemiri berapa ton pun. Tapi kalau minyak kemiri ... tunggu dulu. Karena itu masih merupakan rencana ke depan untuk menopang perekonomian masyarakat Desa Wologai - Kecamatan Ende.



Coba informasi ini saya peroleh dari dulu. Dulu itu ... saya dan Sisi, sahabat tergila, punya perusahaan kecil pembuatan minyak kemiri perawan haha. Maksudnya kami memproduksi minyal kemiri asli yang dikirim ke perusahaan teman di Belgia sana. Kemudian mandeg. Sebenarnya mandeg bukan karena kehabisan stok kemiri, yang adalah tidak mungkin, tapi karena satu dan lain hal *senyum manis*.

5. Virgin Coconut Oil


Kalau yang satu ini juga masih dari kelompok minyak perawan. Virgin coconut oil dari Desa Emburia - Kecamatan Ende. 


Tidak disangka di Desa Murundai yang letaknya super jauh dari Kota Ende itu sudah ada usaha pengolahan kepala menjadi virgin coconut oil dan bahkan telah diberi label! Mereka mengandalkan potensi pohon kelapa yang tumbuh subur di desa tersebut.


Prosesnya masih sederhana dan tentu masih membutuhkan bimbingan dan tambahan modal/dana. Tapi melihat hasil yang sudah dicapai sejauh ini, saya pikir dana harus digelontorkan untuk mereka. Baik dari dana desa maupun dari dana lainnya.

Setiap desa punya potensinya masing-masing. Tugas kita bersama adalah untuk melihat, menggali, mengembangkannya, hingga memperkenalkannya, demi masyarakat desa berdikari.


Di Kabupaten Ende ini banyak sekali desa (dan kelurahan) yang bisa terus digali potensinya baik potensi wisata maupun potensi hasil bumi. Semuanya masih dapat dikembangkan, terus-menerus, agar menjadi 'besar'. Tapi tentu harus ada upaya lain untuk mendukung itu semua. Desa Wologai misalnya. Desa yang jalannya luar biasa bikin jantung kebat-kebit dan bikin Cahyadi jatuh dari sepeda motor ini, akses jalannya itulah yang harus diperhatikan untuk mendukung proses jual-beli kemiri yang bisa dilayani berton-ton tersebut. Kan sayang kalau calon pembeli malas ke sana (untuk melihat kualitas kemiri misalnya) hanya gara-gara kondisi akses jalan.

Salah satu potensi desa yang pernah juga saya bahas di blog travel adalah Desa Manulondo. Di sana ada Ritual Goro Fata Joka Moka. Ini ritual tolak bala yang dilakukan bisa sampai tiga hari lamanya. Unik sekali ritual tersebut, silahkan baca kalau penasaran, dan itu merupakan potensi wisata budaya yang harus terus ada/berkelanjutan. Entah sekarang, apakah ritual tersebut masih terus dilaksanakan atau tidak. Belum lagi potensi di desa-desa lain seperti desa-desa penyangga Danau Kelimutu hingga desa-desa di wilayah pantai bagian Utara Kabupaten Ende (saya pernah peroleh informasi tentang hutan bakaunya). Luar biasa memang ... kita harus keep digging.

Baca Juga: 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)

Well, semoga pos ini bermanfaat bagi kalian semua. Siapa tahu kalian juga ingin menggali dan menceritakan lebih banyak potensi yang ada di desa kalian. Ya kan ... bagi tahu saja di papan komentar, nanti saya kunjungi blog-nya. Hehe.

Semoga bermanfaat!



Cheers.

Dessy: Merayakan Natal di Vatikan Merupakan Berkat Berlimpah dari Tuhan


Saya tidak bisa mengingat sejak kapan kami sahabatan. Sudah lama saling kenal, just say hi, kemudian mulai dekat dan bersahabat. Suka, duka, haha, hihi, kadang di kafe, seringnya di Pohon Tua. Bagi saya dia adalah perempuan hebat, penyiar kece, MC kesohor, isteri dan ibu yang luar biasa. Dan ketika Natal 2018 kemarin dia mendapat kesempatan merayakan Hari Raya Natal di Vatikan, bahkan diberi kesempatan mencium tangan Sri Paus, saya hanya bisa bilang: bangga saya sama kau, Des.

Baca Juga: Don't Breathe

Saya lalu berpikir, ini berita luar biasa, sayang jika tidak diviralkan. Saya lantas menulis di Facebook sebagai berikut:


Natalia Desiyanti merupakan salah seorang jurnalis Radio Republik Indonesia (RRI) asal Kabupaten Ende. Selain suaranya dikenal lewat udara dalam frekuensi siar Pro 1 RRI Ende, Natalia Desiyanti yang sehari-hari disapa Desy, juga dikenal sebagai MC kesohor Kabupaten Ende dengan jam terbang tinggi. Perayaan Hari Raya Natal, 25 Desember 2018, merupakan momen berharga yang tidak akan terlupakan oleh wanita yang bersuamikan Jerro Larantukan dengan putera-puteri Dimitri, Queenza, dan Gavriel. Desy merupakan satu-satunya jurnalis RRI yang lolos seleksi reporter yang diselenggarakan oleh RRI dan berkesempatan meliput perayaan Hari Raya Natal di Vatikan. Ini adalah mimpi semua Umat Katolik untuk bisa merayakan Hari Raya Natal langsung di pusat Gereja Katolik seluruh dunia.


Prestasi yang diraih Desy sebagai satu-satunya yang terpilih dari seleksi ribuan angkasawan dan angkasawati seluruh Indonesia ini masih menghadirkan rasa tidak percaya dalam hatinya. Ia yakin berkat Tuhan yang berlimpah serta potensi diri telah mengantarnya pada pengalaman rohani ini. Bukan cerita baru lagi jika masyarakat Indonesia Timur sering dipandang (serta, kadang memandang diri sendiri) sebelah mata. Kalah sebelum bertempur bukan sifatnya, sehingga Desy optimis dapat bersaing dan berkiprah di kancah nasional dan internasional. Ia melawan pesimisme dari lingkungan sekitar dengan karya dan prestasi yang bertahap dibangun dari fondasi hingga puncak. Oleh karena itu, kesempatan emas yang merupakan kepercayaan lembaga tempatnya berkarya harus dijalani dengan penuh tanggung jawab, sekaligus sebagai pembuktian bahwa potensi Indonesia Timur mampu berkiprah di tingkat Internasional.

Rentang waktu 1 minggu bertugas di Vatikan, Desy tinggal di Rumah SVD bersama para Imam SVD. Di Rumah SVD itu selain bersama para tamu wisatawan rohani lainnya dari beberapa negara di dunia, juga bersama Orang Indonesia Pertama Asal NTT, yang menjadi superior general ke 12 serikat sabda allah (SVD) Pater Paul Budi Kleden, SVD, Pater Markus Solo Kewuta yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Relasi Lintas Agama Asia Pasifik di Vatikan, dan beberapa pastor asal NTT lainnya. Selama menjalankan tugas jurnalistik pun, Desy didampingi Romo Leo Mali, yang juga berasal dari NTT yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikan Doktor nya di Roma Italia. Hal inilah yang membuatnya semakin bangga menjadi Orang NTT sekaligus menjadi motivasi bagi Orang NTT lainnya untuk melakukan karya terbaik di bidangnya masing-masing.


Selama berada di Italia, Desy mengaku mengalami kendala antara lain penyesuaian suhu karena di Italia sedang musim dingin, penyesuaian menu makanan Italia, serta perbedaan waktu (7 jam) antara Italia dan Indonesia dimana waktu bekerja di Italia biasanya menjadi waktu istirahatnya di Indonesia, demikian pula sebaliknya waktu istirahat di Italia biasanya menjadi waktu bekerjanya di Indonesia. Namun kendala-kendala kecil itu lekas teratasi pada hari kedua tugasnya di sana.

Kembali ke Indonesia, ke Kota Ende, Desy dengan senang hati bercerita tentang pengalamannya bertugas di Vatikan kepada siapapun yang bertanya. Baginya, bercerita pengalaman bertemu orang-orang hebat asal NTT, mewawancarai Duta Besar RI untuk Tahkta Suci Vatikan, singgah ke tempat-tempat bersejarah di Roma dan di Vatikan, mengelilingi Basilika St. Petrus, dan menjadi satu-satunya jurnalis Indonesia yang diberi kesempatan beraudiensi dengan Sri Paus, merupakan kebanggaan serta dapat menjadi motivasi bagi siapapun untuk terus berusaha dan menjejakkan prestasi.

Terakhir, Desy berharap semoga pengalamannya dapat menjadi daya ungkit kepercayaan diri bagi sesama, bahwa tidak ada yang tidak mungkin , jika kita berusaha sungguh dalam nama Tuhan.

***

Ketika saya menulis ini, apalagi mengaku bahwa Desy adalah salah seorang sahabat saya, mungkin banyak yang mencibir.


Namun, sebagai seorang sahabat, apalah yang bisa saya lakukan selain menulis ini. Apabila Indonesia punya Good News From Indonesia, kenapa kita tidak punya Good News From Ende? Kabar baik harus diviralkan karena sesungguhnya saya bosan pada tsunami kebohongan yang menghantam negara ini.

Salam.


Pos/status di Facebook tersebut disukai 600-an Facebooker, dan masih terus bertamah. Tentu pos di Facebook tidak bisa menyelipkan foto seperti yang saya edit pada pos di blog ini. Di Facebook, pos tersebut hanya sebagai keterangan dari beberapa foto yang juga saya unggah.

Baca Juga: Sastra Indonesia di NTT dalam Kritik dan Esay

Seperti yang sudah saya tulis di atas, saya bangga padanya. Bersahabat dengannya menambah aura positif dalam hidup saya. Kami saling berbagi informasi, berbagi kesenangan, dan berbagi rejeki hahaha. 


Betul, seperti yang Dessy katakan sendiri bahwa perjalanannya ke Vatikan ini dapat menjadi daya ungkit bagi kita semua. Prestasi setiap orang beda-beda, tujuan tertinggi Insha Allah semua ingin meraihnya, yang perlu dilakukan adalah tetap optimis, tetap berusaha, dan tentu saja tetap berdo'a memohon ridho-Nya. 

Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua :)



Cheers.