Monotuteh


Kalian pernah main monopoli? Kalaupun tidak pernah main monopoli, saya jamin kalian pasti pernah mendengar tentang permainan ini kan? Ya, monopoli merupakan salah satu permainan papan seperti catur, halma, ludo, tapi tentu semua dengan aturannya masing-masing. Permainan yang bisa memakan waktu berjam-jam serta bikin lupa waktu ini terdiri atas kotak-kotak yang mengelilingi bagian tengahnya. Pada bagian tengah ada dua kotak yaitu Kesempatan dan Dana Umum. Sedangkan kotak yang mengelilinginya terdiri atas nama negara serta properti lain seperti bandara, listrik, air. Ada pula penjara. Jangan lupa, setiap permainan monopoli juga dilengkapi dengan uang mainan, dadu, hingga bidak berbentuk rumah, dan lain sebagainya.

Baca Juga: 5 Manfaat Klorofil

Kenapa mendadak saya menulis soal monopoli? Karena berkaitan dengan #RabuDIY yang merupakan tema baru di blog ini menggantikan #RabuLima yang sering mengulas tentang dunia obat herbal, kesehatan, dan olahraga. Uih ... hahaha. Ohlala banget ya.

Monopoli dan Krucil


Sejak dulu memang sudah suka main monopoli. Kembali main monopoli itu sekitar tahun 2017. Dari pada para krucil alias anak tetangga, mondar-mandir tidak jelas setelah belajar bareng Mamatua, mending saya ajak mereka main monopoli. Hyess, tentu ada si Meli yang sekarang sudah mulai genit hahaha, ada si Yoye yang kalau difoto susah senyum, ada si Nabil yang kudu disuruh mandi dulu sebelum bergabung di meja panjang tempat kami bermain, serta krucil lainnya sebagai pelengkap penderitaan. Sudah tahu kan ya kalau rumah saya memang jadi semacam 'panti asuhan' karena krucils ini paling doyan belajar dan main di rumah, sampai tiduran di terasnya yang luas dan sejuk itu.

Jadi, setiap malam setelah belajar dimana mereka belajarnya pun di rumah saya, kami bermain monopoli. Biasanya sih anggota permainan ada saya, Thika, Indra, dan Mely-Yoye. Tapi seringnya saya, Thika, Meli dan Yoye karena Indra malas-malasan atau memilih memegang bank saja. Suasana ramai semacam itu selalu menyenangkan. Kalau jam makan malam, ya kami makan bareng. Kalau lauknya kurang ya si Meli kudu menggoreng telur atau tahu/tempe yang ada di kulkas. Pokoknya harus makan bersama. Kadang, bersama krucils ini kami menyelenggarakan tea-time a la orang Inggris lengkap bergaya minum teh dengan kelingking diangkat ... LOL!

Monotuteh


Suatu malam ide untuk membikin sendiri monopoli ini tercetus di benak saya. Oh iya, meja panjang yang saya sebut di atas itu memang merupakan meja kerja kedua saya yang khusus untuk membikin aneka kerajinan tangan dari bahan bekas. Meja kerja utama tetap di kamar haha. Nah, melihat karton-karton di meja panjang itu saya menyeletuk, "Meli! Yoye! Ambil mistar dan spidol! Kita bikin monopoli sendiri!"

Awalnya mereka protes karena kan mistar dan spidol ada di hadapan saya (ini meja kerja panjang memang lengkap sih hahaha). Dengan senyum gokil dan alis dinaik-naikkan saya mulai memotong karton menjadi persegi empat. Membuat titik-titik, menarik garis, dan membuat kotak-kotak mirip monopoli. Tapi tidak sama persis baik ukuran papan/karton maupun kotak-kotaknya, karena ini adalah MONOTUTEH!

Yang tidak berubah itu adalah Kesempatan, Dana Umum, dan Penjara. Yang lainnya berubah semua.

1. Nama Daerah
Ini saya tulis nama daerah di NTT meskipun banyakan daerah di Kabupaten Ende seperti Labuan Bajo, Moni, Wolowaru, Danau Kelimutu, dan lain sebagainya.

2. Lagu Wajib Nasional
Pada kotak ini, yang berhenti di sini wajib menyanyikan salah satu lagu wajib Nasional yang dihafalnya. Asyik sekaliiii hehehe.

Tentu ada Bandara H. Hasan Aroeboesman, PLN, PDAM Ende, dan lain sebagainya. Uangnya sih tetap uang monopoli asli, termasuk dadu dan bidak. Ribet kan bikin uang lagi, apalagi uang Negara Kuning *ngikik*

Belajar Bersama Monotuteh


Bermain monotuteh juga bisa sambil belajar. Krucils bertanya, mengapa biaya membeli Labuan Bajo jauh lebih mahal dari Kota Ende? Bahkan Moni pun demikian. Saya menjelaskan kepada mereka bahwa Labuan Bajo dan Moni adalah daerah wisata yang unggul. Tanah-tanah di sana semakin ke sini semakin mahal karena menjadi telah daerah pariwisata yang pertumbuhannya sangat pesat. Sehingga otomatis di monotuteh harga membeli Labuan Bajo jauh lebih mahal dari membeli Kota Ende, misalnya.

Lainnya, kami belajar lagu-lagu wajib Nasional. Jadi, siapapun yang jatuh di kota itu wajib menyanyikan lagu-lagu wajib Nasional. Kadang-kala mereka berpikir dulu agar tidak terjadi pengulangan lagu (yang sama). Kalau mereka bingung, tinggal saya kasih tahu lagu lainnya. Suatu kali Yoan, adik si Meli yang masih kecil itu, menyeletuk lagu Pelangi-Pelangi. Hahaha. Dasar ana lo o (anak kecil), belum bisa bedakan lagu anak-anak denga lagu wajib Nasional.


Monotuteh dapat juga kalian bikin tergantung kebutuhan, terutama yang di rumahnya banyak anak-anak. Berempat, bareng orangtua, sudah bisa memainkan permainan ini. Tentu namanya tidak harus monotuteh donk, tergantung nama kalian atau nama keluarga yang mau dipakai, mana-mana saja. Karena menurut saya permainan ini sangat bagus apabila papannya kita bikin sendiri, dimodifikasi dengan yang lebih mengedukasi.

Bagaimana? Mau mencoba juga?


Cheers.