Arsip Kategori: Menulis

5 Hal Yang Menghambat Saya Menulis dan Menyelesaikan Novel


5 Hal Yang Menghambat Saya Menulis dan Menyelesaikan Novel. Kata menulis merujuk pada perbuatan. Kata menulis sudah pasti menjadikan orang yang melakukannya disebut penulis. Tetapi tidak semua penulis kemudian menjadi penulis: penulis novel misalnya. Penulis novel sangat jauh berbeda dengan penulis yang menulis tugas Hukum Ketenagakerjaan di lembar double folio untuk dikumpulkan ke dosen. Menulis novel adalah sesuatu yang sulit karena penulisnya tidak sekadar menulis fiksi tetapi juga sebagian fakta yang diperoleh melalui riset terlebih dahulu. Itulah sebabnya sampai dengan saat ini saya belum berhasil menulis dan menyelesaikan novel yang serius, apalagi diterbitkan oleh penerbit. Susah, cuy! Hehe.

Baca Juga: 5 Alasan Kalian Harus Melakukan Flores Overland Sekarang

Tapi bukan saya namanya kalau tidak ngotot menulis novel. Ide-ide berkeliaran di kepala bahkan sampai jadi gembel di jalanan labirin otak. Beberapa memang sudah tertuang pada lembaran MS Word, kemudian tersimpan rapi di folder bernama Jao Tulis (Saya Tulis). Salah satunya dengan sengaja sudah saya publish di blog ini. Judulnya Triplet. Silahkan dibaca. Kalau kalian mau membacanya sih *nyengir*. Sementara itu yang lainnya cuma duduk manis atau ... ngegembel! Masih ada teman yang bertanya, kapan membukukan lagi tulisan-tulisan saya. Kapan, ya? Entahlah. Mungkin menunggu dinosaurus beli terompet menyemangati. Meskipun demikian, saya bersyukur ada sekitar 10 (sepuluh) buku yang memuat nama saya sebagai penulisnya baik solo maupun berkelompok.

Karena saya sendiri yang melakoninya, otomatis saya tahu persis apa saja yang menghambat saya menulis dan menyelesaikan (cerita) novel. Kalian juga mau tahu? Mari kita lihat sama-sama.

1. Terlalu Pemilih (Huruf)


Apakah saya saja, atau kalian juga mengalaminya? Benar kalau orang bilang paragraf pertama itu bakal memakan waktu lebih lama ketimbang paragraf-paragraf berikutnya. Bagi saya, selain paragraf pertama, yang juga memakan waktu lebih lama dari proses menuang ide adalah memilih huruf. Dulu, waktu masih membaca Harry Potter, saya terpikat sama huruf Book Antiqua. Lantas saya memilih huruf Bookman Old Style. Sekilas mirip, tetapi Bookman Old Style lebih terlihat rapi ketimbang Book Antiqua. Sesekali saya mengubah jenis huruf dengan Times New Roman dan Calibri. Sampai kemudian saya membaca buku berjudul Kisah 99 Cahaya di Langit Eropa yang ditulis oleh Hanum Rais. Dan huruf di dalam buku itu begitu memukau! Saya suka!

Maka, saya tinggalkan semua draf novel yang ada dan mulai mengembara mencari huruf tersebut. Tidak saya temukan, memang. Lagi pula di bukunya sendiri tidak menjelaskan jenis huruf yang digunakan. Lantas saya terdampar di sebuah blog bahasa Inggris, di mana huruf yang dipakainya mirip sekali dengan huruf di dalam buku Kisah 99 Cahaya di Langit Eropa. Dengan sedikit klak-klik, ketemu nama huruf itu. Masih dalam keluarganya Generis. Coba tebak? Ah, ya. Rata-rata semua huruf dalam keluarga itu berbayar. Tapi saya berhasil mengunduh satu jenis hurufnya yaitu GenerisSans W-04 Medium. Huruf ini kemudian yang terus saya pakai sekaligus menyemangati saya melanjutkan draf novel berjudul Mai Ka.

Doakan Mai Ka selesai ya, kawan. 

2. Mengganti Plot


Ini yang fatal. Bayangkan ketika kalian sudah menulis enam bab, di mana dasar-dasar suatu cerita sudah terbentuk, kemudian mendadak mengganti plot. Oh my God. Artinya menulis ulang satu dua bab, bahkan menulis ulang dari bab pertama! Betapa konyolnya saya. Bukan, bukan karena saya tidak membikin garis besar cerita itu terlebih dahulu. Itu sudah saya lakukan:

a. Ide cerita.
b. Garis besar dalam bab-bab.
c. Untuk poin b, bahkan ada judulnya.

Tetapi, tetap saya, ketika gendoruwo merasuki, saya akan mengganti plot begitu saja. Ini memang fatal karena bisa saja saya justru menulis ulang sebuah cerita dari awal padahal cerita sebelumnya sudah 50% rampung. Mohon jangan ditiru perbuatan ini karena kalian bakal merugi. Rugi waktunya itu yang tidak kuat. Haha. Makanya ini menjadi salah satu penghambat saya menulis bahkan menyelesaikan novel.

3. Paruh Waktu


Namanya bukan penulis, jadi waktunya tergantung kondisi dan prakiraan cuaca. Alangkah senangnya jika punya waktu khusus sekitar enam bulan yang digunakan hanya untuk menulis cerita/novel. Pokoknya bangun pagi langsung menghadap laptop karena menyikat gigi bisa menunggu *plak*. Meninggalkan laptop sesaat sebelum tidur. Berkelanjutan setiap hari, semangat juga terpompa, bisa selesai dengan lekas meskipun ada sela pemilihan jenis huruf misalnya. Tapi ceritanya saya ini kan juga punya hal-hal lain yang harus dikerjakan. Sehingga, menulis novel dilakukan pada saat betul-betul punya waktu kosong. Dan waktu kosong itu ibarat hujan berlian. Sulit untuk bisa 'menemukan' waktu yang 100% kosong tanpa interupsi ini itu. Begitu waktunya ada, eh semangat mengendur.

4. Riset


Ini juga alasan yang membikin proses menulis dan menyelesaikan novel terhambat. Seperti yang sudah saya bilang, meskipun fiksi tapi fakta harus ada. Oleh karena itu setiap menulis: menulis blog atau menulis novel, saya harus melakukan riset. Riset ini berkaitan dengan:

a. Kata yang dipakai
Untuk yang satu ini saya selalu mengandalkan kamus (online) agar tidak salah dalam memilihnya. Benarkah kata yang saya pakai itu sesuai dengan maksud dan tujuannya?

b. Lokasi dan tanggal kejadian
Ini penting. Tidak mungkin lah saya menulis Kabupaten Nagekeo terletak di ujung Timur Pulau Flores. Itu namanya membodohi dan ngasal. Setidaknya untuk fakta-fakta semacam ini, termasuk ciri khas dari suatu daerah, tidak sembarang ditulis.

c. Nama
Meskipun tidak terlalu penting, tapi saya juga fokus pada nama-nama yang dipilih untuk setiap karakter di dalam novel. Misalnya, nama Orang Ende itu umumnya yang macam mana, nama Orang Lio itu umumnya yang macam mana. Karena Suku Ende yang terakulturasi dengan Agama Islam belum tentu ada nama Petrus atau Yohanes. Sama juga, kalau karakternya berasal dari Suku Lio yang terakulturasi dengan Agama Katolik, belum tentu namanya itu Achmad atau Yusuf. Tetapi, karena zaman sudah canggih, nama tidak terlalu dipermasalahkan selama etika pemberian nama itu diperhatikan dengan baik.

d. Lagu
Kalau ada lagu yang mau dimasukkan di novel, lihat lagi, timeline ceritanya itu kapan? Kalau cerita berlatar tahun 2017, jangan pernah memasukka lirik lagu Memories-nya Maroon 5, ya. Itu kesalahan.

Anyhoo, tidak semua Suku Lio beragama Katolik, ada juga yang beragama Islam. FYI saja.

5. Sibuk dan/atau Malas(?)


Jawaban paling mudah. MALAS. Meskipun sebenarnya sibuk juga turut mempengaruhi. Poin nomor 5 ini berkaitan dengan poin nomor 3. Kalau sudah sibuk sama pekerjaan lain, tentu jadi malas untuk melirik draf novel. Ini pengalaman saya pribadi. Kalau kalian adalah superhero yang bisa langsung melanjutkan draf novel setelah disibukkan dengan pekerjaan seharian, itu saya salut. Kadang-kadang sebagai manusia kita berharap bisa diberikan waktu lebih dari 24 jam sehari. Bisa sih, tapi nanti hitungannya sehari koma dua  jam. Haha. 

Eh tapi ... saat saya tidak menulis blog nyaris sepuluh hari kemarin itu bukan karena malas, ya. Benar-benar sibuk to the max.


Setiap orang tentu beda-beda. Bisa saja kalian juga mengalami hambatan yang sama seperti saya, bisa juga kalian mengalami hambatan tetapi beda poin dari yang saya tulis di atas, atau bisa juga kalian justru tidak mengalami kendala sama sekali dalam menulis dan menyelesaikan sebuah cerita novel secara utuh. 

Baca Juga: 5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik

Sampai sekarang saya masih menyimpan rasa iri, tapi ini iri yang positif, pada teman-teman penulis seperti Kang Iwok Abqary atau Artie Ahmad. Mereka sangat produktif. Tentu ide-ide yang berkeliaran di kepala mereka begitu banyak, dan hebatnya mereka mampu mengatur dengan mengelompokkan setiap ide sehingga mana yang harus ditulis duluan, itu yang dipilih. Saya iri dengan kemampuan mereka, saya iri dengan waktu mereka (mereka tentu pandai mengatur waktu), saya juga iri dengan buku demi buku yang mereka terbitkan. Ini motivasi (iri yang positif). Bahwa insha Allah saya juga bisa menyelesaikan draf novel berjudul Mai Ka.

Amin.

#KamisLima



Cheers.

Menulislah Dengan Baik Meskipun Tidak Selalu Harus Benar


Menulislah Dengan Baik Meskipun Tidak Selalu Harus Benar. Awal tahun 2020 saya menulis status di media sosial Facebook sebagai berikut:


Intinya adalah, marilah menulis dengan baik meskipun tidak selalu harus benar. Karena, menulis dengan baik bukan berarti menulis dengan benar. Kalian bingung? Sama, saya juga. Haha. Oleh karena itu, mari baca tulisan ini sampai selesai. Perlu diingat, ini bukan menggurui siapa pun, hanya berbagi informasi saja. Seperti yang saya tulis di status Facebook tersebut, saya bukan pakar, ini hanya berdasarkan pengalaman menulis saja.

Baca Juga: Sarasehan di SMPN Satap Koawena

Saya bulan penulis yang jago menulis naskah dengan baik. Para penulis; penulis fiksi dan penulis non-fiksi, penulis artikel maupun opini, sudah pasti mahir di bidang tulis-menulis ini. Kalau ditanya memangnya saya ini penulis apa? Anggap saja saya, dan kalian, adalah penulis blog yang gemar menulis kreatif. Karena, tulisan-tulisan di blog bisa dibilang separuh opini, separuh curhatan, separuh kritik, separuh khayalan (fiksi), separuh cita-cita, separuh main gila (becanda), dan separuh fakta karena ada pos blog yang ditulis setelah riset yang cukup dalam serta dilengkapi dengan ragam literasi atau sumber yang kompeten.

Tapi pun seorang penulis masih membutuhkan penyunting. Bukan begitu? Setiap buku yang kita baca rata-rata punya penyunting; bisa seorang, bisa lebih dari seorang. Saya memang bukan penyunting perusahaan penerbitan buku atau penyunting majalah yang pasti dapat menyunting naskah dengan sangat baik. Menulis saja masih belepotan. Para penyunting itu memang sudah expert di dunia tulis-menulis sehingga kemampuannya jangan diragukan lagi. Kalau kita ragu sama kemampuan seorang penyunting, jangan lupa, kadang-kadang penyunting dapat lebih dari seorang. Penyunting menyunting penyunting. Haha. Apaan ini bahasanya kacau.

Menulis tentang penulis dan/atau penyunting ini berawal dari rasa gemas saya membaca tulisan orang lain. Kekeliruan atau kesalahan kecil dari ilmu menulis paling dasar. Guru Bahasa Indonesia tentu lebih fasih soal kepenulisan baik dasar maupun mahir (kayak belajar komputer ada tingkat dasar dan mahir hahaha). Kalau pos teman Facebook, akan saya beritahu kalau ada kata yang salah. Kalau pos blog ... biasanya saya simpan rindu ini dalam hati saja diam karena kuatir yang punya blog tersinggung lantas menurunkan seribu bala tentara untuk melempari saya dengan kapuk. 

Lantas kita kembali pada hak setiap blogger untuk menulis di blog-nya. Mau pakai EYD, mau pakai bahasa sehari-hari, mau pakai kecap dan saos tomat, ya terrrrrserah. Memang betul blogger punya hak untuk itu, tapi kalau tulisannya selalu bikin gemas, pengunjung juga jadi malas membacanya kan? Om Bisot sudah menulis panjang lebar tentang Bagaimana Membuat Tulisan Yang Enak Dibaca. Tulisan Om Bisot itu adalah ilmu yang kalau tidak kalian baca bakal rugi sendiri hehe. Kali ini saya hanya menulis tentang perkara-perkara paling dasar saja seperti preposisi dan penggunaan kurung.

Mari kita mulai dengan:

Di Mataram dan dimakan.

Kalian pernah menulis di makan? Sedih sekali hahaha *digigit dinosaurus*. Meskipun tulisan saya di blog ini bukan tulisan yang mengedepankan EYD dan banyak bercandanya tapi saya pasti menulis dimakan, bukan di makan. Itulah yang saya maksudkan menulis dengan baik. Sama juga dengan kalimat berikut ini:

Tuteh Pharmantara itu cantik,baik, rajin,,, maka nya Leonardo Di Caprio tergila2 sama dia.Itu fakta!

Membaca kalimat di atas jadinya gigi asam! Istilah Orang Ende. Hehe. Pertama: setelah tanda baca koma atau (,) harus diisi dengan spasi baru dilanjutkan dengan kata berikutnya. Kedua: tidak memakai koma-koma karena tidak ada istilah koma-koma tapi titik-titik (biasanya untuk kalimat yang menggantung). Ketiga: makanya bukan maka nya. Keempat: tergila-gila bukan tergila2 karena ini bukan SMS yang butuh penghematan huruf. Kelima: setelah tanda baca titik atau (.) harus diikuti dengan spasi baru dimulai kalimat baru dengan huruf depan kata pertama adalah huruf besar.

Baca Juga: Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Kenapa saya tulis kedua, ketiga, keempat, kelima, bukan ke dua, ke tiga, ke empat, ke lima? Karena awalan ke- yang diikuti bilangan berfungsi sebagai awalan pembentuk kata bilangan tingkat seperti contoh kedua, atau kumpulan seperti contoh keduapuluh dinosaurus itu sedang main kartu di rumah Tuteh.

Dinosaurus ( diantaranya brontosaurus dan kecoaksaurus ).

Pernah menulis tanda kurung menggunakan spasi? Tanda kurung digunakan untuk mengapit tambahan atau keterangan dari sebuah kalimat atau kata. Ditulis tanpa spasi. Jadi yang baik ditulis seperti ini:

Pada hari ini mahasiswa Universitas Flores (Uniflor)

Menerangkan bahwa nama beken yang sering digaungkan adalah Uniflor. Atau:

Sarung itu dibuat menggunakan bahan alami salah satunya kembo (buah mengkudu).

Kenapa kata kembo ditulis miring? Karena kembo bukan Bahasa Indonesia. Menurut ilmu yang saya dapatkan dari Pak Yohanes Sehandi, kata dalam bahasa daerah dan bahasa Inggris ditulis miring kecuali merujuk pada judul, misalnya. Tapi, toh kadang saya sendiri juga mengabaikan tentang huruf miring pada bahasa Inggris/asing atau bahasa daerah ini.

Menulis blog tidak perlu harus menggunakan tata bahasa yang paling benar, tetapi setidaknya menulislah dengan baik.

Bagaimana dengan saya sendiri? Hahaha. Jangan ditanya, tulisan saya di blog tidak bisa dibilang benar dan enak dibaca, tapi saya sendiri harus berupaya untuk menulis dengan baik. Menulis dengan baik sesuai isi pos ini, versi saya, adalah menulis dengan memperhatikan (harusnya memerhatikan loh) kaidah paling sederhana dari dunia menulis diantaranya: yang benar dimakan bukan di makan, atau yang benar benar-benar bukan benar2, atau yang benar (menuju nirwana) bukan ( menuju nirwana ), atau yang benar di Surabaya bukan disurabaya, atau yang benar ke masjid bukan kemasjid, atau yang benar can you imagine that? bukan can you imagine that?. Untuk yang tingkat mahir, saya tidak punya kapasitas. Haha. Setidaknya tulisan itu enak dibaca. Menurut saya, bukan menurut kalian. Kalian pasti punya pendapat sendiri kan?

Lalu, bagaimana dengan gaya menulis? Gaya menulis adalah hak terhakiki setiap blogger yang alangkah baiknya jangan terlalu dikritik karena gaya menulis itu seperti manusia yang terlahir unik antara satu dengan lainnya. Gaya menulis adalah DNA masing-masing blog. Oleh karena itu saya tidak pernah bermasalah dengan gaya menulis siapa pun asalkan tetap enak dibaca alias kembali lagi pada bagaimana penempatan preposisi dan kurung tadi. Supaya jangan terlalu gemas-gemas bergembira.

Mau menulis ibuk ini cantik beud, atau kalok suatu hari nanti gua bisa ke Yerusalem, atau hellowwww emang daku pembokatnya situ?, atau aku ndak sukak kalok disuruh make up sampek muka rasanya ditindih pohon oak, terseraaaah. Hehe. Itu gaya menulis kalian! Itu DNA blog kalian! Lanjutkan!

Asal jangan menulis:

Ibuk ini cantik beud,sampek aku ter kesima.Kalok kalian ,,, ya kelen semua ...

Baca Juga: Belajar Literasi Digital

Pada akhirnya, janganlah terlalu dipikirkan apa yang saya tulis di pos ini. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan menulis, terutama diri saya sendiri. Tapi, pada akhirnya setiap orang tentu mau memperbaiki demi kebaikan tulisannya sendiri. Dan, jangan pernah mempermasalahkan gaya menulis para blogger, karena gaya menulis adalah DNA setiap blog. Wokeh? Hehe.

Semoga berguna :D

#SeninCerita
#CeritaTuteh




Cheers.

Karena Setiap Manusia Pasti Tergelincir dan Berbuat Keliru


Karena Setiap Manusia Pasti Tergelincir dan Berbuat Keliru. Sebenarnya untuk topik yang sama, plagiat, saya sudah menulis cukup panjang, tapi tulisan itu saya gantikan dengan tulisan yang ini. Tulisan yang lebih lembut dan halus seperti saya *dinosaurus muntah hijau*. Jelasnya kita semua; saya, kalian, mereka, pasti sama-sama darah mendidih berhadapan dengan plagiator yang melakukan plagiarisme terhadap karya, utuh maupun sebagian, seakan-akan yang terlihat itu adalah karya si plagiator sendiri. Di zaman internet, zaman digital, karya seperti tulisan, foto, lagu, dan video, menjadi mainan dan bulan-bulanan plagiator. Apabila orang bilang mudahnya jempol memencet tombol share, maka plagiator tulisan sangat mudah melakukan kopi-tempel.

Baca Juga: Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp

Bila-bila seseorang disebut plagiator? Bila dia mengkopi-tempel, dalam pokok perkara ini adalah tulisan, tanpa menyamtumkan sumber tulisan dan/atau credits. Agar kalian paham, saya mencoba menulis pos ini menggunakan metode proposal skripsi. Haha *dinosaurus julid*.

Latar Belakang Masalah


Adalah tulisan saya di blog travel yang berjudul Lawo Lambu | Zawo Zambu dikopi-tempel oleh salah seorang Facebooker. Hal itu saya ketahui dari bisik-bisik seorang kawan. Membaca tulisan Facebooker tersebut, baru paragraf pertama, langsung sudah tahu itu tulisan saya. Membaca sampai pertengahan, saya kaget karena tulisan yang selalu melekat pada pos blog seperti 'Keluarga Pharmantara', 'Mamatua', dan 'Mamasia', sama sekali tidak dihapus oleh yang bersangkutan. Tetapi, sampai akhir tulisan tersebut saya tidak menemukan sumber tulisan dan/atau credits. Dalam hati saya berkata: kena juga tulisan saya diplagiat utuh. Oleh karena itu, screenshoot pos Facebooker tersebut saya jadikan pula pos Facebook. Pos Facebook saya itu menuai banyak komentar, tentu saja, karena plagiarisme ada hukum yang mengaturnya. Itu terjadi pada Rabu, 16 Oktober 2019.

Rumusan Masalah


Agar pembahasan nanti tidak terlalu melebar, meskipun kebiasaan saya suka melebar sana sini, mari rumuskan dulu permasalahannya.

1. Mengapa tulisan saya dikopi-tempel?
2. Mengapa plagiarisme masih terjadi di tengah maraknya kampanye literasi digital?

Pembahasan


Saya membangun/membikin banyak blog, di banyak platform, dan jumlahnya puluhan. Ada dua blog yang betul-betul dikelola dengan sangat baik yaitu BlogPacker yang diisi dengan tulisan tema harian, dan I am BlogPacker yang merupakan blog travel dengan isi tentang perjalanan hingga ragam wisata termasuk tulisan berjudul Lawo Lambu | Zawo Zambu yang dikopi-tempel itu. Dari pengakuan, juga komentar yang tertoreh, tulisan saya dikopi-tempel karena yang bersangkutan menyukai tema yang diangakat yaitu tentang (wisata) budaya: pakaian tradisional perempuan Kabupaten Ende. Sayangnya, yang bersangkutan sama sekali tidak paham bahwa apa yang sudah dilakukannya merupakan salah satu bentuk plagiarisme (terparah).

Kesimpulan sementara: sebenarnya orang yang mengkopi-tempel tulisan saya tanpa menyantumkan sumber tulisan dan/atau credits tersebut bertujuan baik, karena suka pada tulisan tersebut, lantas membaginya di laman Facebooknya, agar lebih banyak orang tahu tentang pakaian adat/tradisional perempuan Kabupaten Ende. Akan tetapi, dia tidak sadar, bahwa apa yang diperbuatnya itu hanya berdampak nol koma sekian persen. Marilah kita lihat pada penjelasan-penjelasan berikut!

Pertama: Tulisan itu sudah saya pos di blog travel sejak tahun 2018, dengan pembaca sampai saat ini sebanyak 1136 orang. Semua entri pada blog tersebut, berdasarkan statistik penayangan menurut negara, terbanyk dibaca oleh orang-orang yang berada di Indonesia, dilanjutkan dengan Amerika Serikat, dan seterusnya, bisa dilihat pada gambar di bawah ini:


Dengan statistik penayangan menurut peramban dan menurut sistem operasi seperti pada gambar di bawah ini:


Sedangkan pos terpopuler atau paling banyak dibaca dari blog travel saya itu seperti yang dijelaskan pada gambar di bawah ini:



Kedua: Dengan yang bersangkutan mengkopi-tempel/memplagiat tulisan saya tersebut ke laman Facebooknya, tanpa menyantumkan sumber dan/atau credits, jelas tidak membawa dampak dan/atau perubahan apapun pada blog travel, bisa dilihat pada gambar di bawah ini:


Kalian lihat, baik URL Perujuk maupun Situs Perujuk masih dipegang kuat oleh Google. Bahkan pada URL Perujuk, Facebook menempati posisi nomor lima.

Ketiga: Setiap tulisan di blog, pasti ada tombol share/berbagi. Tombol ini ada di mana-mana! Lihat ikon berbagi yang saya lingkari warna merah pada dua gambar di bawah ini:



Penjelasan di atas bermaksud agar semua orang tahu dari mana para pengunjung dan/atau pembaca blog-nya datang. Salah seorang komentator status yang bersangkutan, pada status permohonan maaf, malah berkata: sudah untung blog itu diperkenalkan (melalui tulisan yang diplagiat itu). Salah! Blog saya tidak perlu diperkenalkan dengan cara tulisan saya diplagiat. Dan, pun di tulisan tersebut tidak merujuk pada blog travel saya sama sekali.

Sampai di sini, saya anggap kita semua sudah sepemahaman ya. Marilah kita lanjut.

Mengapa tulisan saya bisa dikopi-tempel? Karena saya tidak melindungi blog dan/atau tulisan dari perbuatan kopi-tempel dengan skrip tertentu. Pertanyaan lanjutan, kenapa saya tidak melindungi blog dan/atau tulisan dari perbuatan kopi-tempel? Karena saya percaya semua tulisan pada kedua blog pasti bermanfaat bagi orang lain yang membacanya, setidaknya menghibur. Saya pernah menulis paragraf berikut ini pada novel Tripelts:

Salah satu nasihat Ali Bin Abi Thalib—termasuk dalam golongan pertama pemeluk Islam, saudara sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW yangmana dia menikahi Fatimah az-Zahra—berbunyi: “Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang lebih terpencil dari pada seorang bakhil.” Penjelasan paling hakiki nasihat laki-laki yang pernah menjabat sebagai Khalifah pada tahun 656 – 661 tersebut tercantum di dalam Surat Ali ‘Imran 180: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Ilmu dan informasi termasuk harta kekayaan. Jangan sampai kita menjadi orang yang bakhil. Tapi ingat, jangan sampai pula kita menjadi orang yang alpa dari mana ilmu dan informasi itu kita peroleh. Oleh karena itu, jika ada yang mengkopi-tempel tulisan saya, tidak masalah, selama menyantumkan sumber tulisan dan/atau credits. Karena, saat saya menulis di blog atau di mana pun, apabila ada sumber yang diperoleh dari orang lain atau situs lain, tetap harus menulis credits. Termasuk foto-foto unik yang sering pula saya pos di Facebook.

Sebenarnya, untuk mengantisipasi plagiarisme sudah ada hukum yang mengaturnya seperti Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU Hak Cipta), serta Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Melihat perbuatan plagarisme terjadi di ranah digital/elektronik, maka peraturan yang paling tepat dipakai adalah UU ITE. Pos blog adalah dokumen elektronik yang sah sesuai muatan Pasal 5 ayat (1) UU ITE yaitu: Bahwa keberadaan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik mengikat dan diakui sebagai alat bukti yang sah untuk memberikan kepastian hukum terhadap Penyelenggaraan Sistem Elektronik dan Transaksi Elektronik, terutama dalam pembuktian dan hal yang berkaitan dengan perbuatan hukum yang dilakukan melalui Sistem Elektronik.

Tapi hari ini saya tidak membahas tentang hukum. Haha. Bisa lebih panjang nanti pos blog ini.

Mari lanjutkan pembahasan pada pertanyaan mengapa plagiarisme masih terjadi di tengah maraknya kampanye literasi digital. Ini menarik. Karena bersama #EndeBisa, kami terjun ke sekolah-sekolah dan salah satu poinnya adalah mengkampanyekan literasi digital dengan materi yang dikeluarkan oleh Internetsehat (ICT Watch). Tulisan saya yang diplagiat itu dilakukan oleh anak sekolah. Mungkin ini terjadi karena belum semua sekolah menerima informasi ini. Karena di dalam literasi digital saya juga dengan tegas menyampaikan tentang plagiarisme sebagai perbuatan yang melanggar hukum, antara lain mengambil foto orang lain dan mengaku itu fotonya, juga mengambil tulisan orang lain dan mengaku itu tulisannya. 

Nampaknya literasi digital harus lebih gencar dikampanyekan. Tidak hanya di sekolah-sekolah, tetapi juga di komunitas, kumpulan remaja dan ibu-ibu, pokoknya di berbagai lini, agar terhindar dari yang namanya plagiarisme.

Pada pembahasan ini saya juga ingin menulis tentang teman-teman dari Facebooker yang melakukan plagiarisme tersebut. Sebagai teman, tidak peduli unsur apapun termasuk kedekatan, sudah selayaknya kita harus menegur apabila memang perbuatannya keliru. Dengan membela, apalagi memprovokasi, justru akan memperparah permasalahan yang seharusnya sudah selesai. Sayang sekali.

Kesimpulan dan Saran


Tulisan saya diplagiat, kemudian saya mengepos screenshoot posnya di Facebook, lantas menuai banyak komentar. Yang bersangkutan kemudian meminta maaf, juga di ruang publik. Saya maafkan dengan permohonan maaf pula. Siapalah saya ini, hanya penghuni semesta yang juga tidak lepas dari yang namanya tergelincir dan berbuat keliru.

Terima kasih Xxxx Xxxx, sudah saya tulis di status sebelumnya, permintaan maaf saya sambut dengan permohonan maaf juga. Karena semua manusia harus bisa saling memaafkan. Kelebihan dan kekurangan itu terjadi pada setiap manusia. Oleh karena itu, setiap yang kurang sama-sama ditambal sulam, yang lebih disedekahkan (kalau bisa).

Saya anggap permasalahan sudah selesai. Dan semoga tidak ada komentar macam-macam dari siapapun juga yang menganggap remeh plagiarisme, karena ada hukum yang mengaturnya. Tidak masalah mengambil tulisan orang lain, tapi sertakan juga sumbernya, itu pasti sangat bisa diterima. Alangkah baiknya gunakan tombol share/berbagi yang ada pada setiap tulisan.

Mari belajar literasi digital, agar sama-sama paham.

Sekali lagi, terima kasih.

Baca Juga: Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo

Dengan demikian, saya anggap permasalahan ini sudah selesai sejak Kamis, 17 Oktober 2019. Komentar-komentar dari teman-temannya yang membikin kisruh saya anggap sebagai perbuatan dari orang yang tidak tahu pokok permasalahan, dan sama sekali buta akan hukum plagiat di Indonesia, juga buta akan dunia per-blog-an sehingga tidak terlalu saya pusingkan. Meskipun saya menerima ancaman dari salah seorangnya, dan itu yang membikin adik, keponakan, dan teman-teman tidak bisa menerima ancaman tersebut, tapi tidak mengapa. Hehe. Semoga, dengan membaca ini, jadi sama-sama paham bahwa memplagiat itu tidak boleh dilakukan. Untung kalau si pemilik karya tidak tahu, kalau pemilik karyanya tahu? Berabe.

Alangkah baiknya menulis sendiri, ketimbang memplagiat tulisan orang lain, karena seperti apapun sebuah tulisan sepanjang itu tulisan sendiri, betapa bangganya. Jangan takut untuk menulis, sepanjang tidak melanggar norma, hukum, dan adat, tulislah!

Semoga bermanfaat bagi semua kalian yang membacanya, pun bagi saya yang menulisnya, karena setiap manusia pasti tergelincir dan berbuat keliru.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Hari Literasi Sukacita Bersama Rumah Baca Sukacita


Hari Literasi Sukacita Bersama Rumah Baca Sukacita. Ketika saya menerima pesan WA dari Kak Ev, pendiri - pengelola - pengurus Rumah Baca Sukacita (RBS), rasanya senang sekali. Saya diminta untuk berbagi pengalaman bersama adik-adik anggota RBS tentang dunia jurnalistik dan dunia blog dalam rangka merayakan Hari Literasi Sukacita. Yang paling pertama terlintas dalam benak saya adalah bagaimana menyampaikan dunia jurnalistik dan blog kepada adik-adik RBS yang rata-rata masih usia Sekolah Dasar (kelas 1 s.d. kelas 6)? Bahasa yang digunakan harus super sederhana untuk mengatasi jurang usia ini, dan saya harus menyusun tatanan kalimat bekal berbagi pengalaman ini khusus di program catatan Android.

Baca Juga: Gotong Royong Itu Masih Hidup Dalam Tubuh Masyarakat

Setelah saya dan mungkin beberapa narasumber sudah meng-iya-kan alias setuju, maka e-pamflet di bawah ini pun diumumkan oleh RBS di laman Facebook mereka. Hwah, jadi terharu hahaha.


Sore itu Jumat, 12 Juli 2019, Taman Renungan Bung Karno Ende cukup ramai pengunjung. Banyak pula pengunjung dari luar kota yang ingin melihat lebih dekat Patung Bung Karno, Pohon Sukun bercabang lima serta prasastinya. Bagi kami, Orang Ende, Taman Renungan Bung Karno adalah kebanggaan, tempat hulu butir-butir Pancasila direnungkan oleh Proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia tersebut. I love you, Bung! Hehe. Empat serangkai wisata sejarah, khusus Bung Karno, di Kota Ende adalah Situs Bung Karno - Taman Renungan Bung Karno - Gedung Imaculata - Serambi Bung Karno. Yang terakhir, Serambi Bung Karno, baru tahun ini diresmikan.

Sekitar tigapuluhan anak, ditambah dan ditemani oleh para pengurus RBS, kami dudul melingkar di panggung Taman Renungan Bung Karno. Bismillah. Dalam hati saya terus mengingatkan diri, ingat Teh, bahasanya! Karena, berbicara di depan ribuan anak muda atau orangtua itu sudah biasa, tapi di hadapan anak-anak itu luar biasa. Di sini kemampuan berkomunikasi (saya) sebenarnya diuji. Mampu atau tidak. Beruntung saya selalu membawa jimat, backpack emak-emak itu haha, yang memuat semua keperluan termasuk benda-benda yang bakal saya tunjukkan kepada peserta.

Jurnalistik dan Blog


Memulai tentang dunia jurnalistik, paling sederhana, adalah berbicara tentang profesi wartawan. Kasihan, mereka masih kecil, jangan terlalu tinggi istilah yang dipakai. Tapi, mau tidak mau saya tetap harus memperkenalkan kepada mereka tentang 5W1H. Hebatnya, meskipun masih sekecil itu, mereka bahkan tahu tentang W ini loh. What, Where, When, Why, Who. Sedangkan H-nya sudah pasti How. Menjelaskan kepada anak-anak tentang pentingnya 5W1H dalam sebuah berita itu susah-susah gampang. Artinya, berita adalah fakta yang tak terbantahkan karena berdasarkan peliputan lapangan serta hasil wawancara narasumber. Sebagian peserta yang sudah duduk di bangku kelas 4 ke atas rada-rada paham, tapi yang masih kici lo'o (istilah kami Orang Ende) hanya melihat ... semoga mereka juga bisa paham.


Dari jurnalistik, saya bergeser ke dunia blog. Apa itu blog, dan apa saja yang ditulis di blog. Sederhananya, karena mereka masih anak-anak, saya berkata bahwa kalau menulis untuk koran itu harus betul-betul perhatikan 5W1H dan tata bahasa baku, kalau di blog itu boleh curhat. Di sini, saya tidak mungkin menjelaskan lebih detail bahwa blog juga bisa menjadi koran online begitu dan bahkan jika dikelola secara profesional bisa menjadi pundi Rupiah. Saya juga tidak menjelaskan tentang para blogger yang bisa membikin blog di Blogger, Wordpress, sampai Tumblr. Nanti saja kalau mereka sudah SMP atau SMA. 

Nah, pada kesempatan berbicara tentang diary online ini, saya mengeluarkan T-Journal, si Arekune, yang memuat semua tulisan saya. Termasuk semua alat tulis yang saya gunakan. Maksudnya apa? Maksudnya, agar adik-adik termotivasi untuk juga menulis, selain membaca, apa saja di buku harian. Karena tulisan adalah harta warisan paling berharga.

Membaca dan Menulis


Dua hal ini saya tekankan kepada para peserta. Hubungan keduanya adalah, ketika seseorang ingin menulis dan mempunyai tulisan yang kaya raya, dia harus banyak tahu, dan untuk banyak tahu ... ya harus membaca. Membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak bisa dilepas bagaimanapun caranya. Sumpah. Menulis tanpa membaca itu ibarat pergi perang tanpa senjata dan amunisi. Ingat, senjata saja tidak cukup, harus siapkan amunisi. Karena, ketika peluru habis ditembak, masih ada stok amunisinya.

Kepada mereka saya katakan: makan makanan bergizi agar tubuh menjadi sehat dan kuat. Namanya menutrisi tubuh. Tapi untuk otak, harus ada nutrisi tambahan yaitu membaca.

Untuk memberikan contoh, saya mengeluarkan buku yang selalu saya bawa dalam backpack. Buku berjudul The Book of Origins karya Trevor Homer. Ternyata, beberapa peserta juga ada yang membawa buku di dalam tas mereka. Awesome! Kita sama donk. Hehe.

Berbagi Ilmu, Nasihat Ali bin Abi Thalib


Saya sangat mencintai Ali bin Abi Thalib. Dalam sebuah novel online berjudul Triplet yang pernah saya pos di blog ini, bersambung setiap hari Minggu, saya menulis sebagai berikut:

Salah satu nasihat Ali Bin Abi Thalib—termasuk dalam golongan pertama pemeluk Islam, saudara sepupu sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW yangmana dia menikahi Fatimah az-Zahra—berbunyi: “Kekayaan seorang bakhil akan turun kepada ahli warisnya atau ke angin. Tidak ada yang lebih terpencil dari pada seorang bakhil.”

Penjelasan paling hakiki nasihat laki-laki yang pernah menjabat sebagai Khalifah pada tahun 656 – 661 tersebut tercantum di dalam Surat Ali ‘Imran 180: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Terima kasih, Ali bin Abi Thalib. 

Kegiatan sore itu ditutup dengan foto bersama ... salam literasi! Dan perlu diketahui ini adalah Hari Literasi Sukacita, bukan Hari Literasi Nasional maupun Hari Literasi Internasional yang diperingati setiap September, ya. Jadi, jangan protes duluan. Hehe.

⇜⇝

Terima kasih, RBS, sudah memberikan saya kesempatan untuk berbagi dengan adik-adik RBS yang kece-kece dan cerdas-cerdas. Semoga berkah untuk kita semua. Terima kasih juga untuk foto-foto kirimannya. Bisa jadi pemanis pos yang satu ini. Giliran saya juga memberikan kesempatan kepada RBS, khusus pengurus, apabila ingin tahu lebih banyak tentang blog: membikin, mengelola, menulis, dan lain sebagainya, boleh hubungi saya. Kita bikin kelas blogging (lagi) haha.

Baca Juga: Konsisten Nge-blog Setahun

Bagaimana dengan kalian, kawan? Kalau kalian juga pernah berbagi informasi dan pengalaman dari dunia jurnalistik dan blog kepada mereka-mereka yang masih ana lo'o (anak kecil), bagi tahu yuk di papan komentar.



Cheers.

5 Alasan Membuka Kelas Blogging NTT



Kalian kenal Anazkia? Silahkan baca tautan pada nama beliau untuk tahu, apabila belum tahu. Hihihi.

Namanya Anazkia, saya memanggilnya Kanaz, biar singkat. Kanaz mengajak saya untuk membuka Kelas Blogging NTT. Saya diselimuti dua perasaan sekaligus *duh, bahasanya* yaitu pesimis dan optimis. Pesimis karena mengingat jaman sekarang orang-orang lebih suka ber-media sosial (Facebook dan Twitter, misalnya). Dulu media sosial ini disebut micro-blogging. Optimis karena ternyata masih ada teman-teman di NTT yang mau belajar nge-blog.

Baca Juga:

Kelas Blogging NTT dibuka melalui sebuah grup WhatsApp (WA). Nama awalnya Kelas Blogging Kupang, tetapi karena yang berminat tidak hanya dari Kupang saja, maka kami ganti menjadi Kelas Blogging NTT. Selama sekitar dua minggu Kelas Blogging NTT kosong karena belum menambahkan teman-teman yang berminat. Satu per satu peserta ditambahkan dan kami membatasi tidak sampai sepuluh peserta dengan alasan agar lebih fokus.

Untuk membantu Kanaz membuat tutorial-nya, saya membikin blog baru bernama Kelas Blogging NTT. Di sini kami saling bersinergi.

Senin, 20 Agustus 2018, akhirnya Kelas Blogging NTT memulai kelas perdana dengan Kanaz sebagai mentornya. Pesertanya antara lain:

Rian Seong dari Kupang - NTT
Ocha Leton dari Larantuka - NTT
Thika Pharmantara dari Ende - NTT
Daniel Wolo dari Ende - NTT
Sony dari Ende - NTT
Iwan Aditya dari Labuan Bajo - NTT
Noviea Azizah dari Mbay - NTT

Malam itu telah dibuat blog baru, dan blog lama milik peserta - blog yang tidak pernah diperbarui. Kami harap, lewat Kelas Blogging NTT ini, blog-blog lama itu dapat diperbarui oleh para peserta kelas.

Cekidot empat blog di bawah ini:

http://rianseong14.blogspot.com
http://ocepprewell.blogspot.com
http://tikapharmantara.blogspot.com
http://yangkosongadako.blogspot.com

Rian, Ocha, Thika, dan Pak Deni Wolo.

Beberapa yang belum sampai pada tahap dashboard, menjadi PR mereka. Senin depan kelas akan kembali dibuka dengan pelajaran lanjutan. Tetapi setiap peserta diharuskan sudah mempunyai tiga pos baru. Saya pikir ini bakal jadi motivasi untuk terus menulis. Karena menulis adalah cara kita mewartakan dan mengabadikan sejarah kehidupan.

Jadi, apa alasan sampai saya menyetujui niat baik Kanaz membuka Kelas Blogging NTT?

1. Nge-blog Melatih dan Mengasah Kemampuan Menulis

Nge-blog tidak selamanya berisi konten tulisan. Akan tetapi, tulisan merupakan muatan dasar sebuah blog, sedangkan foto dan video merupakan elemen penunjang. Banyak teman-teman yang mengaku susah menulis. Kenapa tidak mencoba nge-blog saja? Percayalah, apabila menulis rutin setiap hari, kalian akan tahu perkembangan pola/ritme/gaya tulisan kalian dari bulan ke bulan. Dan pada bulan ke-duabelas, kalian akan menertawai tulisan pertama yang dipos di blog! Saya sudah mengalaminya sejak tahun 2002 mengenal blog. Lantas, apakah tulisan saya sekarang (di blog) lebih baik dari yang dulu? Lebih baik sedikit ... tapi gaya menulisnya berubah dan itu butuh proses. Mi gelas saja butuh proses diseduh dengan air panas terlebih dahulu, apalagi tulisan!

Kenapa nge-blog saya sebut melatih kemampuan menulis? Ada perbedaan antara blog dan buku harian. Siapa yang membaca buku harian kita? Segelintir orang dan/atau hanya si empu buku harian. Tapi blog, tak terbatas orang yang dapat membaca blog (apalagi jika tidak diatur privat/ijin). Ada tantangan dan rasa malu apabila tulisan kita jauh dari kata menarik karena dibaca oleh banyak orang. Bagaimana untuk menjadi menarik? Rajin menulis! Dengan rajin menulis, kita melatih kemampuan diri sendiri untuk menulis dan mulai memperbaiki tulisan dari hari ke hari. Percayalah, tahapan-tahapan ini sudah saya lewati sejak tahun 2002.

Dengan bersama Kanaz membuka Kelas Blogging NTT, saya berharap semakin banyak orang menulis - apapun - yang berfaedah untuk para pembacanya. Insha Allah. Mari kita dokumentasikan kehidupan menjadi sejarah untuk dibaca anak-cucu ... kelak.

2. Nge-blog Untuk Promosi Pariwisata NTT

Why not?

Kita tidak dapat pungkiri peran blogger dalam urusan promosi pariwisata, terkhusus travel blogger. Mereka pergi, mereka nikmati, mereka dokumentasikan, mereka publikasikan, mereka berjasa. Kira-kira seperti itulah pendapat saya tentang para travel blogger. Mereka tidak berharap diakui atau diberi balas jasa oleh Instansi Pariwisata setempat. Tidak. Mereka punya sesuatu yang lebih dari penghargaan, yaitu kepuasan karena telah berbagi cerita dan pengalaman. Kebahagian terrrrrhakiki!

Di NTT banyak anak muda tukang jalan / traveler kece yang mengeksplor tempat wisata baik di NTT maupun di luar NTT. Hasil perjalanan itu mereka tulis dan publikasikan di blog dengan kata kunci pendukung. Perhitungan saya adalah sebagai berikut:

1 pos tentang Semana Santa di Larantuka.
100 pembaca pos tersebut.
30 pembaca tanpa komentar.
30 pembaca berkomentar.
40 pembaca berencana untuk pergi ke Larantuka, mengikuti Semana Santa menjelang Paskah sebagai wisata religi tersohor di NTT.

40 pembaca akan bertambah apabila 1 pembaca dari 40 itu mengajak kelompok tertentu untuk sekalian ziarah.

Saya yakin, peserta Kelas Blogging NTT punya potensi yang sangat besar untuk hal yang satu itu.

3. Nge-blog Lebih Berfaedah Ketimbang Merusuh di FB

Saya hanya contohkan Facebook yang kadang penuh dengan komentar saling menghina. Menurut saya pribadi, merusuh itu penting untuk memberi efek kejut jantung pada pihak lain. Tetapi kenapa hanya berkomentar apabila bisa menulis ulasan opini yang cukup jelas dan lengkap di blog? Saya rasa jauh lebih bermartabat apabila saling membalas dengan opini masing-masing yang dipos di blog ketimbang di komentar Facebook, manapula itu pos Facebook orang lain, bukan pos Facebook kita sendiri. Haha.

4. Blog adalah Portofolio Online

Kalian sering mendengar blogger kemudian menjadi buzzer yang bayarannya menggiurkan? Pasti sering kan. Ingin juga seperti itu? Nge-blog dan bikin konten bagus dan menarik! Apabila gaya menulis kalian bagus, banyak pengunjung di blog kalian, jangan kaget jika tiba-tiba ada yang menghubungi meminta kalian mengulas suatu produk atau suatu event. Hal yang sama juga terjadi di ranah Twitter. Jika pengikutnya di atas 3.000 apalagi sampai berjuta-juta, siap-siap saja meraup keuntungan hehe. Konten blog kalian lah yang menjadi portofolio online kalian. Kalian dinilai dari tulisan. That's it.

5. Nge-blog for Money

Why not!?

Hehe.

Untuk yang satu ini, peserta Kelas Blogging NTT harus sudah sampai di kelas-sekian. Kelas 1 (satu) mah belum dibahas tentang afiliasi dan adsense serta sejenisnya. Saya ingin berbagi pengalaman dengan peserta Kelas Blogging NTT bahwa untuk meraup keuntungan dari nge-blog itu pintunya masih terbuka lebar. Yang penting adalah konten oke, pengunjung oke, duit mengalir. Jika saya bisa merasakannya, suatu saat nanti mereka juga harus merasakannya. Insha Allah.

Tidak ada ruginya nge-blog. Banyak manfaat yang bisa didapatkan. Mulai dari sekarang.

Saya harap Senin depan Kelas Blogging NTT sudah dipenuhi dengan tautan pos blog masing-masing peserta. Senin lalu saya sudah membaca pos blog si Rian tentang Joni yang heroik serta filem India dari blog si Ocha. Saya percaya, Kanaz juga, akan lebih banyak lagi tulisan dari para peserta yang meramaikan ranah blog.

Semoga niat baik ini terus maju dan berkembang. Amin.


Cheers.