Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan

Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
"Kenapa kamera handphone?" pancing Hye Sin kepada 40-an adik-adik dan calon anggota Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara Polsek Babelan Bekasi siang itu di Aula Kantor Kepala Desa Babelan Kota. Beberapa jawaban terdengar dari hadirin, macam-macam jawaban yang intinya mengerucut pada salah satu keunggulan kamera ponsel, yaitu praktis dan compact.

Minggu, 25 Agustus 2019, teman-teman dari Komunitas Tripod Keliling kembali melakukan kelas akhir pekan, "Belajar memotret dengan HP" seperti yang pernah dilakukan sebelumnya di Kawasan Ekowisata Sungai Rindu, 28 Juli 2019 lalu.

Mini workshop yang dibagi dalam 3 sesi ini berisi tips memotret dengan telepon seluler pribadi, praktek mengambil potret dan evaluasi. Peserta yang dibagi dalam 9 kelompok ini dengan antusias mengikuti jalannya workshop.

Praktek memotret yang diberikan waktu selama 20 menit sepertinya kurang cukup, bahkan hingga penambahan waktu habis sekali pun adik-adik peserta masih terus asik mencoba berbagai pose dan angel serta asik mendiskusikan tentang pesan apa yang ingin mereka sampaikan dalam foto yang mereka hasilkan.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Praktek memotret dengan ponsel
Saat pemaparan teori, memang dibahas beberapa teknik memotret dan bagaimana membuat potret dapat menjadi sebuah media penyampai pesan. Sayangnya keterbatasan waktu yang tersedia membuat setiap sesi harus dilaksanakan dengan ketat.

Idealnya waktu evaluasi lebih panjang dari sesi teori dan praktek, karena pada saat evaluasi inilah terjadi dialog dan kurasi mengenai hasil praktek memotret. Minimal dalam sesi evaluasi ini pemotret akan menerima feedback dan tambahan tips tentang teori-teori yang sudah disampaikan sebelumnya.

"Pesan saya, rajinlah berlatih, rajinlah memotret dan jangan cepat puas dengan hasilnya" pesan Hye Sin kepada semua hadirin saat mengakhiri sesi evaluasi.

"Dokumentasikan kegiatan positif yang adik-adik lakukan baik saat kegiatan pramuka ataupun kegiatan positif lainnya, gunakan kamera ponsel kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, minimal bermanfaat bagi diri sendiri" tutup Hye Sin.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Evaluasi hasil memotret dengan ponsel
Secara garis besar acara workshop belajar memotret dengan menggunakan ponsel ini berjalan lancar dan baik. Interaksi dari peserta menunjukkan beberapa peserta yang memiliki passion dan kesenangan dalam fotografi, setidaknya workshop ini bisa menjadi langkah awal baginya untuk mengembangkan hobi fotografi ke arah yang lebih jauh.

"Terima kasih kepada Komunitas Tripod Keliling yang sudah berbagi ilmu kepada kami, mungkin lain waktu kita dapat bekerjasama lagi untuk materi yang lebih dalam mengenai fotografi ponsel" kata Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Foto bersama seusai acara workshop fotografi ponsel

Fotografi dan industri kreatif

Fotografi adalah salah satu komponen dari 15 jenis industri kreatif yang diperhitungkan di Indonesia. Sebagai sebuah industri yang mengandalkan kreativitas dalam menghasilkan produk/jasa, fotografi saat ini menjadi semakin beragam dan semakin banyak penggiatnya seiring dengan kemajuan teknologi. 

Oleh karenanya, memperkenalkan fotografi kepada masyarakat harusnya bisa lebih dini lagi dan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan pendekatan kelas-kelas pengenalan fotografi seperti memaksimalkan fungsi kamera ponsel sebagaimana yang dilakukan oleh Saka Bhayangkara Polsek Babelan dan Komunitas Tripod Keliling ini.

Lomba-lomba terkait fotografi dalam skala kecil juga mestinya bisa menjadi wadah untuk menggairahkan para fotografer pemula untuk terus berkarya dan berkompetisi. Contoh kegiatan lomba terkait fotografi salah satunya; sekolah bisa saja menggelar lomba foto dokumentasi bagi murid-muridnya untuk meliput sebuah kegiatan, di sisi lain dengan memanfaatkan media sosial maka lomba tersebut juga dapat menjadi media amplifikasi kegiatan tersebut.

Lomba tersebut bisa diperluas menjadi lomba liputan jurnalistik, lomba dokumentasi video baik dalam bentuk vlog atau lainnya. Masih banyak macam lomba-lomba kreatif yang dapat digagas dengan mengedepankan kompetisi bakat, minat, kemampuan teknis dan semacamnya. 

Dalam pandangan saya, sekolah sebagai lembaga pendidikan mestinya tidak lagi menggelar lomba-lomba hiburan ala masyarakat seperti lomba makan kerupuk. Jika lomba fotografi dll tadi diperlombakan secara tim atau grup, maka gak perlu lagi sekolah menggelar lomba tarik tambang dan panjat pinang, karena nilai teamwork sudah tercakup dalam lomba beregu tadi.

Bagaimana? tidak sulit kan? Kalau tidak dimulai dari yang kecil, bagaimana mau memulai yang besar?


Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan

Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
Workshop Fotografi Ponsel Saka Bhayangkara dan Tripod Keliling
"Kenapa kamera handphone?" pancing Hye Sin kepada 40-an adik-adik dan calon anggota Satuan Karya Pramuka (Saka) Bhayangkara Polsek Babelan Bekasi siang itu di Aula Kantor Kepala Desa Babelan Kota. Beberapa jawaban terdengar dari hadirin, macam-macam jawaban yang intinya mengerucut pada salah satu keunggulan kamera ponsel, yaitu praktis dan compact.

Minggu, 25 Agustus 2019, teman-teman dari Komunitas Tripod Keliling kembali melakukan kelas akhir pekan, "Belajar memotret dengan HP" seperti yang pernah dilakukan sebelumnya di Kawasan Ekowisata Sungai Rindu, 28 Juli 2019 lalu.

Mini workshop yang dibagi dalam 3 sesi ini berisi tips memotret dengan telepon seluler pribadi, praktek mengambil potret dan evaluasi. Peserta yang dibagi dalam 9 kelompok ini dengan antusias mengikuti jalannya workshop.

Dengan langsung dipandu Hye Sin dan Yusuf Prakasa, praktek memotret yang diberikan waktu selama 20 menit sepertinya kurang cukup, bahkan hingga penambahan waktu habis sekali pun adik-adik peserta masih terus asik mencoba berbagai pose dan angel serta asik mendiskusikan tentang pesan apa yang ingin mereka sampaikan dalam foto yang mereka hasilkan.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Praktek memotret dengan ponsel
Saat pemaparan teori, memang dibahas beberapa teknik memotret dan bagaimana membuat potret dapat menjadi sebuah media penyampai pesan. Sayangnya keterbatasan waktu yang tersedia membuat setiap sesi harus dilaksanakan dengan ketat.

Idealnya waktu evaluasi lebih panjang dari sesi teori dan praktek, karena pada saat evaluasi inilah terjadi dialog dan kurasi mengenai hasil praktek memotret. Minimal dalam sesi evaluasi ini pemotret akan menerima feedback dan tambahan tips tentang teori-teori yang sudah disampaikan sebelumnya.

"Pesan saya, rajinlah berlatih, rajinlah memotret dan jangan cepat puas dengan hasilnya" pesan Hye Sin kepada semua hadirin saat mengakhiri sesi evaluasi.

"Dokumentasikan kegiatan positif yang adik-adik lakukan baik saat kegiatan pramuka ataupun kegiatan positif lainnya, gunakan kamera ponsel kita untuk hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, minimal bermanfaat bagi diri sendiri" tutup Hye Sin.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Evaluasi hasil memotret dengan ponsel
Secara garis besar acara workshop belajar memotret dengan menggunakan ponsel ini berjalan lancar dan baik. Interaksi dari peserta menunjukkan beberapa peserta yang memiliki passion dan kesenangan dalam fotografi, setidaknya workshop ini bisa menjadi langkah awal baginya untuk mengembangkan hobi fotografi ke arah yang lebih jauh.

"Terima kasih kepada Komunitas Tripod Keliling yang sudah berbagi ilmu kepada kami, mungkin lain waktu kita dapat bekerjasama lagi untuk materi yang lebih dalam mengenai fotografi ponsel" kata Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.
Belajar Fotografi Ponsel Bersama Tripod Keliling dan Saka Bhayangkara Babelan
Foto bersama seusai acara workshop fotografi ponsel

Fotografi dan industri kreatif

Fotografi adalah salah satu komponen dari 15 jenis industri kreatif yang diperhitungkan di Indonesia. Sebagai sebuah industri yang mengandalkan kreativitas dalam menghasilkan produk/jasa, fotografi saat ini menjadi semakin beragam dan semakin banyak penggiatnya seiring dengan kemajuan teknologi. 

Oleh karenanya, memperkenalkan fotografi kepada masyarakat harusnya bisa lebih dini lagi dan dengan menggunakan berbagai pendekatan. Salah satunya dengan pendekatan kelas-kelas pengenalan fotografi seperti memaksimalkan fungsi kamera ponsel sebagaimana yang dilakukan oleh Saka Bhayangkara Polsek Babelan dan Komunitas Tripod Keliling ini.

Lomba-lomba terkait fotografi dalam skala kecil juga mestinya bisa menjadi wadah untuk menggairahkan para fotografer pemula untuk terus berkarya dan berkompetisi. Contoh kegiatan lomba terkait fotografi salah satunya; sekolah bisa saja menggelar lomba foto dokumentasi bagi murid-muridnya untuk meliput sebuah kegiatan, di sisi lain dengan memanfaatkan media sosial maka lomba tersebut juga dapat menjadi media amplifikasi kegiatan tersebut.

Lomba tersebut bisa diperluas menjadi lomba liputan jurnalistik, lomba dokumentasi video baik dalam bentuk vlog atau lainnya. Masih banyak macam lomba-lomba kreatif yang dapat digagas dengan mengedepankan kompetisi bakat, minat, kemampuan teknis dan semacamnya. 

Dalam pandangan saya, sekolah sebagai lembaga pendidikan mestinya tidak lagi menggelar lomba-lomba hiburan ala masyarakat seperti lomba makan kerupuk. Jika lomba fotografi dll tadi diperlombakan secara tim atau grup, maka gak perlu lagi sekolah menggelar lomba tarik tambang dan panjat pinang, karena nilai teamwork sudah tercakup dalam lomba beregu tadi.

Bagaimana? tidak sulit kan? Kalau tidak dimulai dari yang kecil, bagaimana mau memulai yang besar?


Memaksimalkan Aplikasi Editor Foto di Android

Memaksimalkan Aplikasi Editor Foto di Android
Kamera Xiaomi MiA1 + Lightroom & PicsArt
Kalau kamu senang memotret, berswafoto (selfie) dan swafoto bersama (wefie) di tempat-tempat unik dan mengunggah di akun sosial media, aplikasi seperti PicsArt, Snapseed, Photo Lab, Lightroom Mobile, Pixlr bisa jadi pilihan menarik. Kita dapat memperbaiki, mengubah, menambahkan efek-efek hingga menjadikannya gambar bergerak tanpa memerlukan komputer sama sekali karena semua bisa dilakukan di HP Android.

PicsArt Photo Studio, Snapseed, Photo Lab, Adobe Photoshop Lightroom Mobile, Pixlr dan aplikasi editing gambar sejenisnya ini semua tersedia di Google Play Android Market. Jangan khawatir, tutorial penggunaannya juga bertebaran di grup-grup facebook pengguna aplikasi ini dan di Youtube.

Umumnya, sebagian besar smartphone keluaran terbaru sudah dilengkapi dengan lensa kamera berspesifikasi tinggi dan fitur tambahan lainnya termasuk aplikasi atau menu untuk editing foto. Begitu pun aplikasi media sosial, semua sudah menyertakan menu editor sederhana dan filter foto untuk menambah efek foto sebelum dibagikan. Tapi, jika kita tidak puas dengan editor bawaan ponsel dan sosial media, maka kita dapat menggunakan beberapa aplikasi ini.

PicsArt Photo Studio, Snapseed, Photo Lab, Adobe Photoshop Lightroom Mobile, Pixlr memiliki tampilan menu yang sederhana dan user-friendly di mana kita dapat dengan cepat menguasainya dan segera dapat menggunakannya untuk menyesuaikan warna dan tampilan foto kita dengan fitur-fitur yang disediakan.

Beberapa aplikasi ini juga memiliki fitur kamera dalam aplikasi di mana kita dapat menerapkan efek foto secara langsung saat kita mengambil foto Anda. Selanjutnya Kita dapat mengedit gambar dan membagikannya dengan cepat di Facebook, Instagram, Twitter, dan lainnya.

Aplikasi editor juga menawarkan bingkai, efek, filter dan kolase yang beragam. Selain fitur edit foto yang mudah, bisa juga untuk montase (tukar wajah) dan menyatukan beberapa efek bersamaan supaya hasilnya keren dan unik. Mengolah foto di HP akan lebih cepat, praktis dan efisien dengan hasil yang tidak kalah keren dengan editor di komputer.
Memaksimalkan Aplikasi Editor Foto di Android
Kamera Samsung A7 + PicsArt
Banyak manfaat yang kita dapat dari hadirnya banyak aplikasi ini, semua aplikasi memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Beberapa manfaat editor foto di Android yang saya rasakan antara lain:

Mengapresiasi Karya Foto

Dengan memahami konsep editing foto, maka kita akan lebih bisa mengapresiasi foto-foto karya orang lain. Menikmati keindahan foto-foto karya fotografer dan menggugah kita untuk terus belajar banyak hal terkait fotografi. 

Menghargai karya orang lain adalah salah satu cara agar kita dapat mengenali kekurangan-kekurangan yang ada lalu berusaha belajar dan latihan untuk menghasilkan foto yang lebih baik. Tidak ada jalan pintas, belajar dan latihan akan menyibukkan kita memperbaiki diri tanpa perlu mencemooh kekurangan orang lain.

Pengisi Waktu Luang

Tidak ada lagi waktu luang yang terbuang percuma, seperti saat sedang menunggu antrian, sedang menggunakan KRL menuju stasiun yang dituju, kita bisa mengisi waktu luang dengan belajar mengedit foto.

Banyaknya bahan belajar dan tutorial di internet memudahkan kita untuk terus menambah pengetahuan lalu mempraktekkannya untuk menghasilkan karya sendiri yang lebih baik lagi.

Mengasah Kreativitas 

Kreativitas membebaskan kita dari keterbatasan-keterbatasan. Aplikasi-aplikasi yang tersedia membebaskan kita untuk mengolah sebuah foto sesuai dengan keinginan. Walaupun tidak semahir para profesional setidaknya kita dapat menghasilkan karya-karya sendiri yang unik. Fotografi adalah seni yang bukan saja memerlukan penguasaan teknik namun diperlukan kreativitas untuk membuat karya foto yang memuaskan.


***
Edit foto dengan PicsArt Android
Ada banyak aplikasi edit foto yang tersedia, sebaiknya kita belajar untuk menguasai salah satu aplikasi tersebut barulah kemudian mencoba aplikasi yang lain agar dapat mengetahui masing-masing kelebihan dan kekurangannya. Di antara 5 aplikasi yang sering saya gunakan, yaitu PicsArt Photo Studio, Snapseed, Photo Lab, Adobe Photoshop Lightroom Mobile, Pixlr, masih ada lagi banyak aplikasi serupa. Antara lain Adobe Photoshop Express, Aviary photo editor, PhotoDirector, AirBrush, Toolwiz Photos-Pro Editor, YouCam Perfect, dan lain-lain.

Kekurangan yang terasa mengganjal adalah ada beberapa aplikasi yang membutuhkan koneksi internet saat digunakan untuk mengedit foto. Ini menyulitkan saya karena ada saat di mana sambungan internet tidak tersedia karena buruknya sinyal dan alasan lain. Sementara aplikasi offline hanya menyediakan menu standar tanpa alat-alat editing yang lebih lanjut.
Jika kita sudah mengetahui kelebihan dan kekurangan dari aplikasi-aplikasi editing foto di Android tersebut, kita dapat mengatur aplikasi mana yang akan kita gunakan terlebih dahulu dan mana aplikasi untuk sentuhan akhir sebuah foto.

Saya selalu menggunakan Snapseed untuk perbaikan awal. Selain tidak perlu koneksi internet, Snapseed memiliki fitur koreksi foto yang cukup lengkap mulai dari memotong foto, meluruskan, menghapus elemen yang mengganggu hingga efek-efek filter. Setelah menggunakan Snapseed barulah saya akan menggunakan Lightroom jika ingin ada perbaikan warna atau pencahayaan foto, sedangkan untuk menyelesaikannya biasanya saya menggunakan PicsArt untuk menambahkan teks, menambahkan bingkai atau efek-efek filter yang saya inginkan.

Saran saya, untuk awal, belajarlah menggunakan aplikasi Snapseed milik Google yang tanpa iklan dan bisa digunakan offline tanpa butuh internet. Setelah itu barulah mencoba editor lain yang tutorialnya banyak dibagikan orang di Youtube.

Selamat belajar :)


Pemilu, Nalar Publik, New Media dan Nurhadi Aldo

NALAR PUBLIK

Tadi baca judul berita ada istilah "NALAR PUBLIK",  saya sering mendengar istilah itu tapi masih samar-samar maksudnya. So saya tulis ini supaya saya lebih paham sedikit apa maksud istilah itu.

Public Reason (nalar publik) adalah istilah ungkapan atau frasa yang diperkenalkan oleh Immanuel Kant pada tahun 1784. Istilah ini juga digunakan oleh seorang filsuf Amerika, John Rawls, yang dapat diartikan sebagai "alasan seluruh warga negara di dalam masyarakat yang pluralis (majemuk)".

Nalar Publik dapat membenarkan aneka pendapat dalam aneka kasus dengan alasan yang dapat diterima oleh bermacam-macam orang. Untuk membentuk suatu Nalar Publik, menurut Rawls, seseorang harus dapat lepas dari apa yang ia sebut sebagai burdens of judgment (beban pikiran). Beban-beban ini termasuk penjabaran 'bukti' argumentasi yang tak sesuai satu sama lain (kontradiksi), lebih percaya pada satu pemikiran dibandingkan pemikiran yang lain tanpa alasan yang jelas (fanatisme), kegagalan dalam menentukan konsep, perbedaan nilai, dan perbedaan pengalaman.

Private Reason (nalar pribadi) bersifat sebaliknya, adalah hasil dari pemikiran pribadi individu, yang berupa reaksi terhadap norma-norma dan kepentingan publik. Private reason terpisah sama sekali dari public reason. Itu kata Wikipedia.

Menjadi masalah jika Nalar Pribadi dibawa ke tataran publik, sebab nilai-nilai dari Nalar Pribadi tidak akan otomatis diterima oleh publik yang majemuk sebagai Nalar Publik. Panjang prosesnya dan sepertinya bukan begitu cara yang elegan membawanya ke ranah publik yang heterogen dengan berbagai latar belakang nilai yang dianutnya. 

Contoh sederhana dalam hal ini adalah nilai-nilai terhadap minuman keras atau MIRAS. Pembatasan ataupun pelarangan miras di ruang publik tentu tidak didasarkan pada dalil wahyu yang menjadi basis Nalar Pribadi sebagian masyarakat, tetapi didasarkan pada berbagai dampak negatif atau argumentasi yang bersifat rasional sehingga dapat diterima oleh khalayak dan menjadi Nalar Publik yang menjadi dasar pelarangan miras oleh otoritas sehingga berdampak hukum jika tidak dipatuhi, baik itu diatur oleh pemda dalam bentuk Perda atau oleh pemerintah dalam bentuk undang-undang.

NEW MEDIA

Nalar Privat menemukan pintu untuk mengalir masuk ke publik melalui media sosial yang oleh banyak pihak disebut sebagai New Media. Saat setiap orang dapat menyajikan pandangan pribadinya berdasarkan Nalar Privat ke ranah publik melalui media sosial maka sejak itulah opini tersebut akan berinteraksi dengan Nalar Publik.

Perlu diingat bahwa lahirnya berbagai New Media itu sebagian besar dibidani oleh semangat menghindari sifat partisan media-media mainstream, New Media seharusnya sangat peduli dengan data dan fakta, dan menyadari bahwa ada greater good dibanding sekedar kepentingan golongan dan kelompok, tanpa itu New Media tidak ada bedanya dengan Media Mainstream yang dikendalikan kepentingan pemilik modal. 

Namun kenyataan saat ini kehadiran New Media justru bisa menjadi pemecah belah dengan narasi-narasi yang tidak berdasar bahkan cenderung bohong (HOAX), yang pada akhirnya menumpulkan nalar publik yang sangat penting dalam upaya untuk merawat dan menikmati demokrasi.

Efek negatif itulah yang menjadi alasan dasar mengapa otoritas pemerintahan sempat membatasi akses beberapa media sosial sejak Rabu 22 Mei 2019 hingga Sabtu 25 Mei 2019.

BERDIRI DI TENGAH

Sejak awal kampanye pilpres saya sudah menyatakan diri Netral tidak memihak, saya akan memilih salah satu kandidat namun menolak untuk memberikan opini apapun tentang kedua kandidat tersebut di media sosial. Sayangnya keputusan saya untuk tidak menunjukkan dukungan kepada salah satu kandidat banyak diartikan oleh teman-teman sebagai sikap GOLPUT.  Lagipula memangnya ada masalah apa kalau saya benar-benar GOLPUT?

Istilah GOLPUT sendiri mulai dikenal pada masa ORDE BARU setelah pengesahan UU Pemilu tahun 1969 yang memicu ketidakpuasan masyarakat karena mematikan kekuatan partai politik baru dan pemilu yang cenderung menguntungkan Golkar. Protes tersebut masif dikumandangkan para pemuda dan mahasiswa sebelum penyelenggaraan Pemilu 1971, pemilu pertama Orba saat itu. 

Tempo edisi 19 Juni 1971 melaporkan, Imam Walujo Sumali menulis artikel berjudul “Partai Kesebelas untuk Generasi Muda” di harian KAMI edisi 12 Mei 1971. Inti tulisan itu adalah gagasan memunculkan partai kesebelas, selain sembilan parpol dan satu Golkar yang akan bertarung di Pemilu 1971.

Partai tersebut dinamakan Imam sebagai Partai Putih, dengan gambar putih polos. Di dalam tulisannya itu, Imam pun memberikan anjuran bagi yang memilih Partai Putih dalam Pemilu 1971 agar menusuk bagian putih yang ada di sela-sela atau di antara kesepuluh tanda gambar parpol dan Golkar. Bisa dikatakan, pencetus istilah golongan putih adalah Imam.

NURHADI ALDO

Kontestasi Pilpres 2019 hanya memberikan dua pilihan, yaitu Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Perdebatan di antara kedua kubu menciptakan segmentasi perdebatan di mana saja, terutama di media sosial dengan istilah cebong dan kampretnya. Hal menggelitik pun muncul tatkala ada akun fiktif berbau kampanye yang mengaku sebagai Calon Presiden dan Wakil Presiden jalur prestasi, Nurhadi-Aldo nomor urut 10.

Akun Nurhadi-Aldo booming di masyarakat sebagai penyegar dari panasnya euforia kontestasi. Dengan candaan-candaan seksis dan akronim menggelitik, Nurhadi-Aldo mengasumsikan mereka merupakan pasangan alternatif dari kedua pasang calon resmi yang ada. Dalam acara Rosi yang diselenggarakan Kompas TV, Nurhadi mengatakan bahwa apa yang dilakukannya hanyalah sekedar penolakan terhadap fanatisme pada kedua pasang calon yang ia anggap sudah terlampau berlebihan sehingga menimbulkan perpecahan dalam masyarakat.

Ada yang melihat akun kampanye fiktif pasangan capres dan cawapres jalur prestasi Nurhadi-Aldo ini adalah bentukan PETAHANA, ada juga yang khawatir ini adalah salah satu bentuk kampanye GOLPUT. Saya memandangnya sebagai kritik sosial untuk peserta pemilu untuk melakukan kampanye politik yang lebih kreatif, tidak terpaku pada cara-cara yang konvensional dan tidak substantif.

Akun Nurhadi-Aldo tidak mengkampanyekan GOLPUT dan lebih sebagai bentuk aktualisasi dari kejenuhan masyarakat akan perdebatan-perdebatan tidak substansial. Sehingga penyegaran metode-metode kampanye perlu dilakukan tidak hanya untuk pasangan capres dan cawapres tetapi juga caleg-caleg yang bertarung di pemilu 2019.

Nurhadi Aldo adalah tokoh fiksi yang meledek Nalar Privat yang masuk ke ranah publik dalam bingkai canda. Di sisi lain juga mengolok-olok Nalar Publik dengan meme-meme atau shit post yang lebih akrab dengan generasi milenial. Semoga hadirnya Nurhadi Aldo ini menjadi jembatan dialog introspektif, bukan tembok yang memisahkan.
Salah satu contoh meme kampanye Nurhadi Aldo

Enough is Enough

Enough is Enough kalau dalam bahasa Indonesia artinya Begah atau bega, udah lebih daripada kenyang. Kerusuhan tanggal 22 Mei di sekitaran KPU Jakarta itu buat saya sih sudah cukup, imbasnya sudah cukup merugikan semua pihak. Apa masih belum cukup? Saya bisikin yah, siapapun pemenangnya presiden saya tetap NURHADI ALDO.

Saya memang bodoh, walaupun gak bangga tapi saya tidak merasa perlu untuk meminta maaf atas kebodohan saya ini. Menurut saya perhelatan pemilu yang katanya pesta demokrasi itu adalah hal rutin lima tahunan. Urusan kontestasi politik ini masih urusan perebutan kekuasaan dan soal kepentingan kantong, bukan hal yang akan menentukan masuk surga atau nerakanya seseorang. Setuju atau tidak yah terserah Anda :)

Oh iya, lima tahun nanti jangan ulangi lagi model pemilu yang digabung dengan pileg seperti pemilu 2019 ini. Hemat anggaran memang penting, tapi melihat ongkos sosial yang mesti ditanggung akibat pemilu 2019 kiranya patut untuk dipertimbangankan.

Mungkin berhubungan dengan dumelan saya sebelumnya yang berjudul:


Perlu gak sih install VPN di HP?

Virtual Private Network (Jaringan Privat Virtual)
Berlatar belakang kebijakan pemerintah untuk membatasi akses media sosial besar seperti Facebook, Instagram sampai WhatsApp terkait aksi demonstrasi penolakan hasil pemilu 2019, banyak beredar tips untuk menerobos pembatasan itu dengan menginstal VPN di Mobile phone / smartphone.

Pertanyaan umum tentang perlu atau tidaknya kita menginstall VPN di Mobile phone sebenarnya tergantung kebutuhan kita. Apa sebenarnya yang kita butuhkan?.

Secara sederhana, VPN atau Virtual Private Network (Jaringan Privat Virtual) adalah alat yang memungkinkan kita menjelajahi web sebagai anonim dengan aman dari mana saja. VPN melindungi kita dengan cara membuat terowongan (tunneling) terenkripsi yang menyambungkan komputer kita ke internet, hotspot Wi-Fi, dan jaringan lainnya.

Bagaimana bisa kita menjelajahi web secara anonim? 

Intinya VPN akan mengubah alamat IP Address kita dan menggantinya dengan IP Address dari penyedia VPN. Misalkan saya menggunakan Alamat IP internet di Bekasi maka saya dapat menggunakan VPN untuk menyembunyikan data saya dengan mengubah informasi menggunakan alamat IP sesuai yang disediakan oleh Provider VPN semisal di Singapura, Amerika dan seterusnya tergantung yang disediakan oleh Provider VPN. 

Dengan begitu saya tidak akan terpengaruh dengan pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia karena alamat IP saya bukan lagi beralamat di Indonesia.

Fungsi VPN:

Menyembunyikan Alamat IP
Dengan menggunakan VPN maka alamat IP kita yang sebenarnya tidak akan diketahui oleh publik.
Mengubah alamat IP
Menggunakan VPN tentunya akan menghasilkan alamat IP yang berbeda sesuai server yang kita gunakan.
Enkripsikan Transfer Data
Sebuah Virtual Private Network akan melindungi data yang kita transfer melalui WiFi publik.
Sembunyikan lokasi Anda
Dengan Virtual Private Network, kita dapat memilih  alamat IP negara lain untuk informasi koneksi internet. Sehingga orang lain tidak mengetahui lokasi kita yang sebenarnya.
Akses situs web yang diblokir
Mengakses situs web yang diblokir oleh pemerintah dengan VPN dapat dilakukan karena kita dapat menggunakan alamat IP dari negara lain.

Soal risiko menggunakan VPN silakan cari sendiri di internet, sudah banyak yang membahas risiko penggunaan VPN gratis. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai sistem Aplikasi Gratis dan berbagai model bisnis sebuah aplikasi silakan baca: Apa Beda Pro Apps, Freemium, in-app purchase dst?

Akhirnya, Gak masalah kalau kamu mau install aplikasi VPN di Mobile phone kamu, saya lihat anak saya meng-install VPN untuk bermain game online, khususnya game online yang membatasi penggunaan IP Address yang sama, padahal mereka ingin mabar "Werewolf" di rumah dengan berbagi IP Address yang sama agar biaya internet dapat terkontrol. Aplikasi yang mereka gunakan adalah "Turbo VPN" dan menurut pengamatan saya aplikasi itu aman-aman saja selama tidak selalu dinyalakan. 

Tampilan aplikasi Turbo VPN Gratis Android
Saran saya, non aktifkan VPN jika kita tidak membutuhkannya. Lagi pula tidak ada aplikasi VPN gratis yang tidak mengandung iklan, iklan-iklan inilah yang agresif mengumpulkan data HP kita agar dapat menampilkan iklan yang cocok untuk kita.

Oh iya, kalau hanya untuk mengakses sosmed, sebenarnya kita gak perlu install VPN yang kalau salah pilih justru bisa membahayakan data pribadi. Apa perlunya juga kita mengubah IP Address kalau hanya mau akses beberapa situs umum seperti Facebook atau instagram misalnya. Kenapa nggak install "DNS resolver" dari Cloudflare yang lebih aman?

Tampilan aplikasi DNS Resolver VPN 1.1.1.1
Ok, 1.1.1.1 bukan aplikasi VPN dan gak bisa mengubah IP Address, tapi buat apa mengubah IP Address kalau cuma mau akses sosmed dan web-web "baik-baik" macam forum Reddit dan semacamnya yang sejak lama diblokir pemerintah.

Saya tidak meng-install VPN karena saya tidak perlu mengubah IP Address saya dan juga tidak mau membahayakan data HP saya. Saya cukup menginstal 1.1.1.1, aplikasi kecil tanpa iklan (Aplikasi Android sebesar 5,4 MB) dan sepertinya tanpa batasan bandwidth.

Saya sejak lama bergonta ganti VPN, tapi setelah install 1.1.1.1 sepertinya ini aplikasi yang terbaik dan yang penting PALING AMAN untuk saat ini

Jika ingin tahu lebih banyak, 1.1.1.1 adalah hasil kemitraan antara Cloudflare dan APNIC.
Cloudflare adalah salah satu jaringan terbesar dan tercepat di dunia. APNIC adalah organisasi nirlaba yang mengelola alokasi alamat IP untuk wilayah Asia Pasifik dan Oseania.

Link download aplikasi 1.1.1.1 

  1. HP Android (klik di sini)
  2. Apple iOS (klik di sini)

Setting pada PC/Laptop Windows

Meskipun Anda pemula di bidang komputer, pilih perangkat Anda di bawah ini untuk panduan penyetelan yang mudah diikuti.
  1. Klik di menu Start (Mulai), lalu klik Control Panel (Panel Kontrol).
  2. Klik Network and Internet (Jaringan dan Internet).
  3. Klik Change Adapter Settings (Ubah Pengaturan Adapter).
  4. Klik kanan pada jaringan Wi-Fi yang Anda sambungkan, lalu klik Properties (Properti).
  5. Pilih Internet Protocol Versi 4 (atau Versi 6 jika diinginkan).
  6. Klik Properties (Properti).
  7. Tuliskan setiap entri server DNS yang ada sebagai referensi mendatang.
  8. Klik Use The Following DNS Server Addresses (Gunakan Alamat Server DNS Berikut).
  9. Ganti alamat tersebut dengan alamat DNS 1.1.1.1:
  10. Untuk IPv4: 1.1.1.1 dan 1.0.0.1
  11. Untuk IPv6: 2606:4700:4700::1111 dan 2606:4700:4700::1001
  12. Klik Oke, lalu Close (Tutup).
  13. Mulai ulang browser Anda.
  14. Anda pun siap! Perangkat Anda kini memiliki server DNS yang lebih cepat, lebih privat 
Cloudflare memiliki jaringannya, APNIC memiliki alamat IP-nya (1.1.1.1). Keduanya termotivasi oleh misi untuk membantu membangun Internet yang lebih baik. Anda dapat membaca lebih lanjut tentang 1.1.1.1 webnya di https://1.1.1.1/id-ID/dns/ dan mencari tahu bagaimana mengaplikasikan settingan DNS 1.1.1.1 untuk PC/Laptop Windows atau MacBook Anda dengan mudah agar dapat mengakses media sosial melalui PC atau laptop :)

Salam


Puasa Pertama: Meninggalkan Beberapa Grup WhatsApp

Meninggalkan Beberapa Grup WhatsApp
Jan Koum adalah salah seorang pendiri aplikasi perpesanan atau chatting yang sangat populer, WhatsApp, awal 2009 lalu. Setelah WhatsApp dibeli Facebook pada tahun 2014, Jan Koum sempat bekerja di Facebook sebagai CEO WhatsApp hingga April 2018. Jan Koum yang mencoba bertahan dalam Facebook dikabarkan keluar menyusul Brian Acton pendiri WhatsApp lainnya yang meninggalkan Facebook pada Maret 2017.

WhatsApp atau WhatsApp Messenger sendiri sepertinya tidak perlu saya jelaskan, tapi biar tulisan ini mencapai 500 kata atau lebih baiklah akan saya jelaskan :D

WhatsApp adalah aplikasi pesan instan multi platform yang dapat mengirim pesan dan melakukan panggilan telepon (Voice over Internet Protocol atau VoIP), mengirimkan foto/gambar, video, dokumen, tautan, nomor kontak, dan koordinat lokasi pengguna. Untuk panggilan telepon, aplikasi WhatsApp Messenger mampu melakukannya dalam bentuk panggilan suara maupun video.

Grup WhatsApp

Fitur Grup WhatsApp diperkenalkan pada 22 Februari 2011,  WhatsApp versi 2.6 menghadirkan fitur "Group chat" untuk pengguna iPhone, BlackBerry dan Android, sedangkan untuk pengguna Smartphone berbasis Symbian dan Windows fitur grup datang belakangan. Awalnya Grup WhatsApp terbatas hanya bisa untuk 5 orang, kemudian WhatsApp terus memperbesar jumlah anggota grup. Terakhir sekitar tahun 2016, Grup WhatsApp bisa menampung hingga 256 orang setelah pada versi sebelumnya hanya bisa menampung maksimal 100 anggota.

Grup WhatsApp ini merupakan fitur yang sangat berkembang hingga berkali-kali WhatsApp membuat perubahan-perubahan terkait hak pengaturan Admin hingga voice dan video Call Grup. Grup WhatsApp benar-benar memudahkan dan memanjakan penggunanya untuk saling berinteraksi sesuai tujuan pembuatan grup itu sendiri.

Saya saat ini mengikuti beberapa grup WhatsApp yang membahas hal khusus terkait hobi dan minat, belum lagi grup WA yang temporer sifatnya seperti kelas dan event. Dari berbagai grup yang saya ikuti itu, selain menambah jejaring pertemanan, banyak manfaat pengembangan wawasan dan keilmuan yang saya dapatkan
Meninggalkan Beberapa Grup WhatsApp
Tapi ada juga grup WhatsApp yang akhirnya saya tinggalkan, saya keluar dari grup karena berbagai macam hal yang menurut saya sudah tidak sesuai lagi dengan maksud awal pembentukannya. 

Seperti imbas pemilu kemarin, di mana grup Whatsapp keluarga sudah melenceng dari tujuan awal dan justru berisi materi-materi kampanye politik praktis. Masuknya kampanye-kampanye politik praktis ini menurut saya sudah memasuki ruang-ruang privasi terlalu jauh karena mulai membicarakan hak politik anggota keluarga lainnya. Lalu apa bedanya grup ini dengan grup gossip? 

Sampai saat ini ada beberapa grup yang saya adalah anggota pasif, hampir sama sekali tidak membuka grup kecuali untuk menghapus isinya. WhatsApp tidak memiliki fitur untuk menghapus isi grup tanpa membuka grup tersebut. 

Fitur "bersihkan semua chat" tidak memberikan pilihan grup mana yang akan kita hapus isi perbincangannya. Sehingga jika kita menggunakan fitur itu, hanya pesan-pesan yang telah diberi bintang yang tertinggal, selain itu akan dihapus semua. Jalan satu-satunya, terpaksa kita buka grup tersebut lalu menghapus semua pesannya, atau keluar dari grup :)

Ramadan ini saya meninggalkan beberapa grup WhatsApp. Tentu saja semua grup memiliki manfaat, kalaupun saya belum menemukan manfaatnya mungkin itu salah saya, jadi mohon maaf, saya pamit dan mungkin akan bergabung lagi setelah lebaran :)

Mungkin seperti perasaan para pendiri WhatsApp yang kecewa menyaksikan WhatsApp melenceng dari tujuan dan prinsip-prinsip awal pembuatannya, tega gak tega mereka meninggalkan Facebook dan tidak ingin terlibat atas penyalahgunaan data penggunanya. Demikianlah, tega gak tega saya harus keluar dari beberapa grup, entah sementara atau permanen karena saya lebih mengutamakan memanfaatkan masa Ramadan ini untuk hal-hal lain yang bermanfaat setidaknya bagi diri saya sendiri. Iya saya memang egois :)

Pesan saya untuk teman-teman yang mengelola atau menjadi admin di Grup WA, buatlah agenda rutin yang bermanfaat untuk mengisi diskusi dalam grup, apapun bentuk akhir dari agendanya buatlah semenarik mungkin dan bermanfaat buat mayoritas anggota grup.

Tabik



GANGGUAN JIWA NOMOR 21

GANGGUAN JIWA

Facebook yang terlambat diciptakan, atau saya yang terlalu cepat dihantam kegelisahan anak muda?

Seandainya saja saat muda dulu sudah ada Facebook (FB), mungkin saya tak perlu sampai mengalami gangguan jiwa nomor 21: selalu merasa gelisah dan sendirian, merasa sebagai makhluk pilihan sekaligus memiliki berbagai keterbatasan yang membuat keputusasaan mendera hati tak berkesudahan.

Anak muda sekarang beruntung sekali, tiap kali gelisah tinggal membuka halaman FB saja. Tentu saja tidak bisa menikmati suasana damai tenteram seperti di kota santri. Tetapi justru itu, hiruk-pikuk dan uaaneh-uaaneh isi FB akan membuat hati tenang. Ternyata saya tidak sendirian. Orang yang memiliki gangguan kejiwaan (dan bahkan lebih parah) jumlahnya banyak. Baanyyyaakkk.... 

Tidak perlu berkecil hati lagi. Welkam tu de klab!

Zaman saya muda, setengah mati mencari saluran katarsis semacam FB ini. Tapi saya beruntung bertemu dengan dua pahlawan penyelamat saya.

Yang pertama Dr. Damardjati Supadjar (semoga Allah memberikan tempat terbaik di surga-nya), guru besar Filsafat yang mengasuh acara Kaca Diri di Radio Unisi FM tiap hari Kamis malam. Kajiannya menenangkan hati. Dan tiap minggu saya tak pernah absen menitipkan pertanyaan ke resepsionis radio itu di Jalan Pasar Kembang.

Menurut Pak Damar, Tuhan menciptakan alam semesta ini sedemikian luas. Tetapi buat kita yang di bumi, dengan keterbatasan kita sebagai manusia, telah ditunjuk sebagai khalifah dan memiliki tanggung jawab yang besar. Tanggung jawab yang tidak sanggup ditanggung makhluk Tuhan lainnya.

Manusia adalah tokoh utama di dunia ini. Dan sepanjang usia seorang manusia, masa muda adalah inti dari perjalanan hidupnya. Masa muda, terutama saat sedang jatuh cinta dan hati sangat mudah tersentuh oleh cahaya Ilahiah, adalah saat paling menentukan seperti apa "warna" raport kita sebagai seorang manusia.

Adalah sebuah kewajaran apabila anak muda mengalami kegelisahan dalam memahami "pengalaman keagamaannya". Bahkan justru aneh dan salah apabila orang muda justru menghindar dari pertanyaan-pertanyaan religius tentang diri dan Tuhannya.

O o o astagaaa | hendak kemana smua ini..
O o o astagaaa | apa yang sedangg terjadii..
Bila kaum muda tak mau lagi... peduli..
Mudah putus asa dan kehilangan... arah...
O o o astagaaa...

Oya, istri Pak Damar, seorang perempuan sederhana, punya warung Kupat Tahu Magelang di dekat Perumahan Merapi View, di kilometer 9 Jalan Kaliurang. Lumayan jauh dari kampus sebenarnya, tapi saya bisa mampir ke situ karena 2 kali dalam seminggu sempat numpang "ngantor" di LP3Y. Jalan Kaliurang Km 12,9. (lebih jauh lagi 😅).


GANGGUAN JIWA

Yang kedua, dr. Inu Wicaksana, Sp.KJ, psikiater senior RSJ Soerojo, Magelang. Jujur saja waktu itu saya enggak begitu paham juga, apa beda psikiater dengan psikolog. Kebetulan beliau cukup terkenal karena punya rubrik konsultasi di Harian Kedaulatan Rakjat. Dan, yang lebih penting lagi, karena beliau teman dari pembimbing skripsi pacar saya, beliau menolak dibayar! Mahasiswa zaman itu kan paling semangat sama yang gratis-gratis. Hahaha...

Lah ini, sudah gratis masih dibawain obat-obatan juga. Lama-lama gak enak juga...

Akhirnya saya bawain 1 slop rokok Gudang Garam Filter kesukaan beliau. Tentu saja beliau menolak, tapi saya memaksa.

"Saya kan konsultasinya di Mangunsarkoro, bukan di rumah dokter di Popongan. Di sini dokter bayar sewa tempat, bayar listrik, dan mengorbankan waktu praktek dokter. Tentu saja tidak fair kalo saya tidak memberikan kompensasi atas kerugian-kerugian tersebut...."

Dokter Inu tersenyum sambil mengangguk-angguk. Rokok itu diterima. Dan dari wajah puasnya saya tahu kondisi saya ada kemajuan...😊

Pulangnya saya dibekali obat lebih sedikit. 

"Semoga ini obat yang terakhir yang saya berikan. Diminum hanya apabila kesulitan tidur saja. Apabila sebulan tidak habis, buang saja obatnya dan kamu tidak perlu ke sini lagi."

Horeee... saya sudah sembuh!!!

Pesan terakhir beliau, normatif banget: atur pola makan, dan jangan terlalu berat memikirkan hal-hal yang "jauh" dan lebih cepat dalam mengambil keputusan atas hal yang praktis dan "dekat".

Sepertinya, ada hubungannya dengan masalah rokok tadi... 😅. Saya mungkin terlalu banyak pertimbangan bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya masalah remeh-temeh belaka.
Spontanitas lebih baik buat kesehatan jiwa. Jangan tiap mau ngomong harus menimbangnya dalam-dalam. Mencernanya 2 hari 2 malam, karena takut salah menarik kesimpulan. Ashiappp!
Tapi juga jangan spontan berlebihan. Seperti postingan FB akhir-akhir ini, nanti malu sendiri karena harus mengoreksi. Jejak digital itu kejam, Jenderal!

Menurut WHO, 25% warga mengalami gangguan jiwa. Dan sepertiganya ada di negara berkembang. Wahhh..😱

Jadi kalo kamu berkumpul dengan 3 orang temanmu, maka salah satu di antara kalian adalah pengidap gangguan jiwa!

Kalo saya orang keempat di antara kalian, maka yang merupakan pengidap tentu salah satu dari kalian. Karena saya sekarang sudah sembuh. 😍

Wkwkwk....

Tetapi merasa diri memiliki akal dan jiwa yang sehat, dan menuduh orang lain yang memiliki masalah, justru menandakan bahwa orang itu mengidap gangguan jiwa yang lebih parah dari gangguan jiwa nomor 21.

Nah lo... Bingung kan?

***


Penulis: Heri Winarko

Ngopi Bersama Motek’r Coffe di Event AKU PONDOK GEDE


AKU PONDOK GEDE (Menyibak Gelap menggapai Terang)

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
Atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata

Dengan diiringi sayup-sayup instrumental lagu "Gugur Bunga", puisi karya Chairil Anwar dikumandangkan syahdu oleh salah seorang siswi SMK Merah Putih Pondok Melati. Puisi ini mengajak puluhan hadirin yang malam itu duduk diterangi lampu temaram untuk menghadirkan kenangan suasana Bekasi saat masa revolusi. 

Puisi "Karawang Bekasi" adalah performance pembuka sesi seminar sejarah sebagai acara puncak event AKU PONDOK GEDE (Menyibak Gelap menggapai Terang) dengan menghadirkan narasumber Dr. Tri Wahyuning M. Irsyam M.Si (Dosen Sejarah FIB UI), G.J Nawi (Pegiat Sejarah & Penulis Buku "Maen Pukulan"), Kong Guntur Elmogas (Seniman Situn Bekasi), Ari Trismana (Watchdoc Documentary), dan Hasan Basri, S. Pd selaku tuan rumah dan Kepala sekolah SMK Merah Putih.
Acara AKU PONDOK GEDE (Menyibak Gelap menggapai Terang)
Dengan disimak para peserta seminar pada sambutan pembuka, Hasan Basri, S. Pd. menjelaskan tujuan dari diadakannya seminar sejarah AKU PONDOK GEDE (Menyibak Gelap menggapai Terang) ini sebagai pemantik agar para hadirin yang mayoritas adalah siswa SMK Merah Putih dan pemuda Bekasi akan lebih tergugah untuk mempelajari sejarah dan mengenal lebih jauh Pondok Gede dari masa ke masa.

Nugraha Arie Prabowo dari Komunitas Penter juga selaku ketua panitia acara menekankan pentingnya belajar sejarah sebuah kota agar ada keterikatan yang diharap dapat membuat masyarakat lebih peduli pada daerah tempat tinggalnya sendiri.

Komunitas Penter bersama Yayasan Pendidikan Al Falah Pondok Melati selaku pelaksana acara ini juga menggandeng berbagai komunitas pemuda untuk bersama-sama mengisi acara seminar sejarah ini dengan format gabungan dari kegiatan pensi (pentas seni) sekolah, event komunitas dan seminar agar lebih mengena kepada siswa dan juga masyarakat umum, itu yang saya tangkap dari acara ini.
Foto bersama crew AtmaGo
Acara AKU PONDOK GEDE (Menyibak Gelap menggapai Terang) dilaksanakan sehari penuh pada hari Sabtu 2 Maret 2019 di lingkungan sekolah SMP Al Falah/SMK Merah Putih Pondok Melati. Karena acara di lingkungan sekolah, tentunya bebas dari isu politik yang sedang hangat menjelang pemilu april nanti. Pada pagi hari acara ini diisi dengan kegiatan pentas seni SMK Merah Putih yang kemudian pada siang hari diisi dengan berbagai aksi komunitas dan lain-lain. 

Pada kegiatan siang tersebut hadir pula Dr. Anhar Gonggong (Sejarawan Nasional) yang memberikan kuliah umum kesejarahan terkait Bekasi dan perlunya generasi kini banyak belajar agar memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menghadapi masa depan.
"Indonesia menjadi bangsa yang merdeka karena diperjuangkan oleh orang-orang berpendidikan. Kemerdekaan terwujud karena para pendiri bangsa menggunakan ilmunya untuk memikirkan nasib bangsanya." Kata Anhar Gonggong kepada para murid SMK Merah Putih dan hadirin.
Cukup banyak performance yang disajikan dalam gelaran event ini, ada Sorakan Oleh Kasundaan yang menampilkan atraksi ular, atraksi permainan yoyo dari komunitas Yoyo Mania, musikalisasi puisi dari Cahyo dkk dari Taman Baca Tanjung yang membawakan "Bebal" dari Sisir Tanah, dan lain-lain.
Materi 3 Kerangka Literasi Digital Indonesia dari ITC Watch
Di sisi lapangan tempat berlangsungnya acara diisi dengan berbagai gelaran booth komunitas, ada Komunitas Hobi Kayu chapter Bekasi, Komunitas Bambu, gelaran koleksi barang antik dari Asaldoe, Booth Perpustakaan Jalanan, AtmaGo, Komunitas Baca Betawi, Awi Koneng, Bekasi Community Connection, Bandeng Rorod kuliner Bekasi, Net Good People dan masih banyak lagi.
Acara AKU PONDOK GEDE (Menyibak Gelap menggapai Terang)
Komunitas PENTER dan panitia AKU PONDOK GEDE
Dalam acara ini saya bersama AtmaGo kebagian mengisi acara workshop literasi digital dan pengenalan aplikasi AtmaGo. Kegiatan ini dilaksanakan di dalam salah satu ruang kelas dengan peserta lebih dari 60 siswa. sayang suara acara di lapangan mengganggu konsentrasi para peserta sehingga saya persingkat materi agar Yasin dan Mas Alfan bisa segera membawakan materi mereka.

Kegiatan kali ini lumayan menambah beberapa pengguna AtmaGo yang semuanya siswa SMK Merah Putih. Mereka langsung praktek dengan melaporkan kegiatan "Aku Pondok Gede" yang berlangsung di sekolahnya. Semoga ke depannya mereka akan aktif menjadi warga net yang berkontribusi positif untuk lingkungannya.
Ngopi Bersama Motek;r Coffe di Gelaran AKU PONDOK GEDE
Selain mengisi acara literasi digital saya juga ikut menjaga stand jualan kopi milik Motek'r Coffe yang menyediakan kopi gratis untuk dicoba. Sukses selalu buat Motek'r Coffe yang sudah turut meramaikan gelaran acara ini :)
Lapak Kopi Motek'r Coffe
Motek'r Coffe

Yang bikin nyaman mengikuti acara di SMK Merah Putih ini;

  • sepanjang acara siswa maupun hadirin rajin memunguti sampah yang tercecer sehingga lapangan tempat acara benar-benar bersih dari sampah;
  • pihak sekolah dari guru, siswa, satpam dll sangat koperatif kepada kami yang membuka lapak, kami merasa diperlakukan sebagaimana layaknya tamu;
  • Panitia responsif saat disampaikan ada kebutuhan yang kurang saat sebelum memulai materi;
  • GRATIS... iya, acara ini gratis, termasuk kami yang jualan kopi, tinggal daftar ke panitia selama masih ada slot maka panitia akan memberikan lapak tanpa biaya, kebetulan lapak kopi Motek'r kemarin itu sebenarnya lebih ke promosi, memperkenalkan kopi beneran ke teman-teman dengan harga yang sama dengan kopi sachet, kami di Motek'r menamakannya Kopi Rakyat seharga 5 ribu rupiah per gelas :);

Terima kasih Komunitas PENTER, Yayasan Pendidikan Al Falah SMK Merah Putih dan teman-teman sekalian yang sudah membuat tanggal 2 Maret 2019 menjadi istimewa. 

Sukses selalu



Sharing Memanfaatkan Medsos Bersama Saka Bhayangkara Babelan

Bersama Saka Bhayangkara Babelan Sharing Memanfaatkan Medsos

Minggu siang, 10 Februari 2019 saya berkesempatan berbagi dengan Sekitar 35 anggota Pramuka Saka Bhayangkara Polsek Babelan. Agendanya adalah sharing mengenai media sosial dan belajar membuat berita ringan.

"Tujuan kegiatan ini adalah agar adik-adik anggota dan calon anggota Saka Bhayangkara Polsek Babelan dapat memanfaatkan media sosial untuk berbagi informasi, baik itu kegiatan positif yang mereka lakukan ataupun informasi-informasi yang sekiranya perlu dibagikan di media sosial (medsos)," demikian menurut Mawadah Warahmah selaku Ketua Dewan Saka Bhayangkara Polsek Babelan Kwartir Ranting Kec. Babelan Kab. Bekasi.

Sesi sharing tentang medsos atau sosmed ini awalnya akan dilaksanakan di Aula Polsek Babelan yang ber-AC, tapi berhubung peserta hingga 35-an orang, maka acara dipindah ke Aula Kantor Desa Babelan Kota yang ruangannya lebih luas walau tanpa AC.
Bersama Saka Bhayangkara Babelan Sharing Memanfaatkan Medsos
Suasana awal masih agak tegang, walaupun sudah dijelaskan oleh para senior saat pembukaan acara bahwa materi ini adalah materi di luar materi kepramukaan.

Untuk mencairkan suasana saya mulai menjelaskan mengenai media informasi secara umum, lalu mengerucut pada media sosial. Saya mulai dengan menanyakan pengalaman-pengalaman adik-adik remaja ini di media sosial. Sekadar memancing feedback dan membuka dialog.

Jawabannya sudah saya duga, tidak ada satu pun hadirin yang tidak memiliki akun Facebook, sebagian adalah pengguna Instagram dan sebagian kecil pengguna Twitter walaupun secara pasif.

Setelah cair barulah saya memberikan materi mengenai berbagai konten yang bisa dibuat oleh siapapun, baik itu teks, gambar/foto, suara/musik dan video dengan menjelaskan berbagai macam media sosial yang diperuntukkan untuk berbagi berbagai konten tersebut.

Acara ini adalah hasil diskusi dengan Bang Rusli salah satu senior Saka Bhayangkara Polsek Babelan. Bang Rusli pula yang dulu pernah mengajak saya ikut memberikan materi pengenalan sosmed saat MPLS SMPN 2 Babelan seperti yang saya catat di sini.

Beda dengan acara MPLS, adik-adik Saka Bhayangkara ini jenjang sekolahnya sudah SMA, jadi lebih cepat "nyambung" saat diarahkan bagaimana membuat konten sederhana berupa teks dan foto dari kegiatan yang mereka lakukan.
Bersama Saka Bhayangkara Babelan Sharing Memanfaatkan Medsos


Membuat berita

Cara mudah membuat berita tercakup dalam rumus ADI SIKAMBA yang merupakan terjemahan rumus jurnalistik 5W+1H ( What, Where, Who, When, Why, and How).

ADI SIKAMBA (Apa, Di mana, Siapa, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana) adalah pertanyaan panduan dalam mengumpulkan informasi yang musti terjawab dalam sebuah berita. Idealnya untuk menulis sebuah berita, pertanyaan ADI SIKAMBA sudah harus dijawab terlebih dahulu, barulah kemudian dirangkai dalam sebuah tulisan.

Tetapi dalam sharing kali ini pembahas lebih fokus pada merangkai informasi ADI SIKA (Apa, DImana, SIpa dan KApan) agar mudah diserap dan langsung dipraktekkan.

Setelah break adzan ashar kelas kemudian dibagi menjadi 7 kelompok yang ditugaskan untuk membuat status di salah satu akun facebook anggota kelompok, status tersebut minimal berisi informasi kegiatan hari itu. 

Alhamdulillah dalam waktu 30 menit semua kelompok sudah selesai melaksanakan tugasnya.
Bersama Saka Bhayangkara Babelan Sharing Memanfaatkan Medsos
Salah satu hasil praktek kelompok peserta sharing
Sebagai penutup, dibuka kembali sesi tanya jawab untuk membahas apa yang sekiranya menjadi masalah dalam menyelesaikan tugas kelompok membuat status info kegiatan. 

Dari sesi tanya jawab itu terungkap bahwa tidak ada masalah dalam penerapan rumus ADI SIKA, namun mereka mengaku kesulitan dalam menyusun redaksi tulisan agar menjadi informasi yang mudah dipahami oleh pembaca. Hal yang menurut saya akan teratasi jika kita banyak latihan dan terus belajar.

***
Bersama Saka Bhayangkara Babelan Sharing Memanfaatkan Medsos
Foto bersama peserta sharing sosial media Saka Bhayangkara Babelan
Konten yang kami bahas hari itu adalah konten teks yang berupa status di media sosial. Konten teks bisa berupa apa saja; berita, cerita, puisi, opini, informasi dan lain sebagainya. 

Intinya tujuan kelas sharing hari itu adalah agar adik-adik pramuka ini dapat membuat berita sederhana dari apa yang mereka saksikan atau yang mereka lakukan. 


Banyak sekali kegiatan adik-adik pramuka ini yang dapat dibagikan di medsos untuk memperbanyak konten positif dan wadah bagi mereka untuk mengembangkan kemampuan literasi digital mereka.

Pastinya akan perlu banyak latihan untuk mengolah konten berupa teks menjadi menarik dan informatif. Setidaknya dari pertemuan hari ini adik-adik sudah semakin paham dan bisa mengembangkan sendiri jika memang mereka berminat dalam dunia tulis menulis dan jurnalistik.


Harapan saya semoga adik-adik ini dapat memanfaatkan media sosial lebih baik lagi, baik untuk kepentingan dirinya maupun untuk lingkungannya, amiin.




Melawan Hoax Bersama AtmaGo

"Media sosial itu seperti dua sisi mata pisau, kalau kita bisa memanfaatkannya dengan positif maka akan bermanfaat buat pengguna dan lingkungannya, tapi kalau tidak maka media sosial bisa merugikan dan membuat kita berurusan dengan hukum," ungkap pak Jamhuri ZH selaku Kepala Sekolah MI Al-Hikmah Kp. Babakan Mustikasari, Kecamatan Mustika Jaya Kota Bekasi. Minggu, 27 Januari 2019.

Pada Minggu pagi itu ada sekitar 110 peserta dari 10 sekolah menengah atas di Bekasi yang mengikuti seminar literasi digital dengan tema "Melawan Hoax Bersama AtmaGo".
Melawan Hoax Bersama AtmaGo
Yasin menjelaskan mengenai AtmaGo
Dalam seminar kecil-kecilan ini saya mengangkat hasil survey Daily Social tahun 2018 tentang distribusi hoax. Menurut survey tersebut hanya 25 % responden yang bisa mengenali hoax, selebihnya sebesar 75% menyatakan tidak dapat mengenali dan sulit mendeteksi berita hoax di social media.

Jika media sosial yang seharusnya bisa bermanfaat bagi kehidupan sosial banyak berisi hoax dan sebagian besar dari kita tidak bisa mengenalinya maka larangan penggunaan media sosial akan saya dukung.

Lalu apakah ada cara lain agar para pengguna media sosial dapat selamat dari jebakan hoax?

Ada banyak, tapi yang saya lakukan adalah menyibukkan diri dengan konten positif dan kabar di lingkungan terdekat yang dapat dikonfirmasi lokasi dan sumbernya.

Karena itu, perlu rasanya kita mengenal 7 macam disinformasi dan bagaimana cara mengenali ciri-ciri berita hoax sambil terus membuat konten positif yang lebih bermanfaat.
Melawan Hoax Bersama AtmaGo

Selain dihadiri oleh pelajar, acara ini juga dihadiri oleh beberapa pengurus karang taruna kelurahan Mekarsari dan juga Bhabinkamtibmas kecamatan Mustika Jaya, bapak Aiptu Sarjono.

Agak sulit bagi saya mendeliver materi kepada publik yang heterogen latar belakang dan beda usia ini. Saya memilih target audience kepada hadirin dari sekolah karena mereka mayoritas.

Dengan memutar film kartun Juki tentang hoax saya kira peserta akan paham apa yang saya bahas selanjutnya.

Alhamdulillah setelah saya selesai memberikan materi, Aiptu Sarjono selaku Bhabinkamtibmas Kel. Mustikasari kembali menekankan bahayanya Hoaks dan mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh AtmaGo dan MI Al-Hikmah.
Melawan Hoax Bersama AtmaGo
Aiptu Sarjono menyampaikan sambutan
"Kegiatan seperti ini seharusnya dilakukan bukan hanya untuk pelajar sekolah tapi juga untuk masyarakat, semoga AtmaGo bisa melakukan penyuluhan bahaya Hoax sampai ke tingkat RW dan RT."

Acara hari itu diakhiri dengan materi dari Muhammad Yasin yang memperkenalkan aplikasi AtmaGo dan bagaimana memanfaatkan AtmaGo serta media sosial lainnya agar lebih bermanfaat, baik untuk diri pengguna sendiri hingga masyarakat di lingkungannya.

AtmaGo adalah situs web dan aplikasi Android gratis yang dapat digunakan untuk melaporkan masalah, berbagi solusi, mencari pekerjaan, dan memposting berita mengenai lingkungan pengguna. 

"AtmaGo dibuat dengan ide dan semangat “warga bantu warga” untuk mewujudkan lingkungan yang lebih baik dari bawah melalui komunikasi dan informasi lokal di lingkungan penggunanya," tutur Yasin. Tentang AtmaGo saya pernah menulisnya di tulisan ini: Gotong Royong di Internet dengan AtmaGo.
Melawan Hoax Bersama AtmaGo