5 Program KKN Uniflor Keren Dalam Pengabdian Masyarakat


Musim Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2019. Musim meliput hingga ke luar Kota Ende. Musim bersenang-senang bersama Onif Harem. Musim paling rajin mengganti oli di bengkel sampai digodain sama mas-masnya: olinya diminum sebagian kan(?). Musim pamer foto jalan-jalan. Haha. Yang jelas, belum musim liburan, meskipun kesannya jalan-jalan terus. Ini kerja, bung! Bung ... kuuuussss.

Baca Juga: 5 Kegiatan Kece Menyongsong Dies Natalis 39 Uniflor

Sejak mulai diberikan tugas untuk meliput kegiatan peserta KKN di berbagai daerah di Pulau Flores, saya sudah mulai pula mengumpulkan satu per satu program kerja yang menurut saya keren. Program kerja ini, selain KKN reguler (disebut begitu sih biasanya), ada yang memang termasuk dalam KKN-Tematik, ada pula KKN-PPM. KKN-PPM baru terlaksana tahun 2019 ketika proposal-proposal yang diajukan oleh P3KKN Uniflor lolos di Kemenristek Dikti untuk menerima dana hibah. Dana hibah ini bukan dipakai untuk keperluan dan kepentingan mahasiswa loh yaaaa, melainkan dipakai untuk menjalankan program kerja yang telah disusun dan/atau diusulkan untuk keperluan dan kepentingan masyarakat itu sendiri.

Dalam bidikan saya, ada 5 program KKN Uniflor keren dalam pengabdian kepada masyarakat. Mari simak!

1. Bangun Rumah


Ingat program televisi tentang bedah rumah? Di KKN Uniflor ada yang namanya bangun rumah. Bangun rumah dilakukan oleh kelompok KKN kelas pekerja (mahasiswa yang sudah bekerja). Tahap awal adalah mencari satu rumah yang tidak lagi layak huni di lokasi yang termasuk dalam lokasi KKN tahun bersangkutan. Inisiasi dilakukan dengan petinggi wilayah setempat seperti kepala desa dan/atau lurah beserta tokoh masyarakat. Si pemilik rumah kemudian diberitahu dan saat KKN tiba, pembangunan rumah pun dilakukan. Saya pernah menyaksikan sendiri pembangunan rumah Mama Sisi di Kecamatan Lepembusu Kelisoke. Luar biasa. Sampai mata berkaca-kaca melihatnya.

2. Penyuluhan


Penyuluhan terdengar tidak asing dan pasti sering dilakukan bukan? Tapi penyuluhan yang dilakukan murni oleh mahasiswa, terutama mahasiswa hukum, adalah sesuatu yang sangat luar biasa menurut saya. Bagaimana masyarakat diedukasi tentang pentingnya memahami tentang dunia hukum, yang paling sederhana pun, itu sangat bagus. Saya pernah meliput kegiatan ini di SMP Muhammadiyah Ende oleh mahasiswa KKN 2018.

3. Belajar Pertanian


Ini penting, terutama bagi masyarakat pedesaan yang rata-rata mempunyai lahan pertanian baik itu sawah maupun kebun. Saya melihat bagaimana mahasiswa KKN-PPM melakukannya di Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko. Rata-rata mahasiswa yang ditempatkan di lokasi ini pun berasal dari Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Uniflor. Demikian pula dengan Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Kegiatan mereka antara lain membuat pupuk bersama masyarakat hingga mengelola lahan. Ausam. Perlu diketahui, Uniflor mempunyai lahan luas sebagai kebun percontohan dan/atau tempat prakteknya mahasiswa Prodi Agroteknologi. Kita akan lihat hasil akhirnya nanti seperti apa. Yang jelas, pasti bakal saya pos.

4. Bangun Rumah Baca


Yang satu ini, juga poin nomor 3 dan 5, sama-sama KKN-PPM. Rumah baca tersebut dibangun di Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Proses pembangunan rumah baca dimulai dengan ritual adat oleh tokoh masyarakat dan/atau tokoh adat, tentu bersama para petinggi desa yaitu Kepdes, Sekdes, hingga Ketua PBD-nya. Setelah ritual, dilakukan peletakan batu pertama, dan rumah baca tersebu sedang dalam proses pembangunan (saat saya menulis ini). Semoga saya bisa ke sana saat peresmiannya! Ada yang mau menyumbang buku anak-anak? Yuk sumbang ke rumah baca baru di Desa Ngegedhawe!

5. Psikoedukasi


Awalnya saya bingung dengan istilah ini, tapi internet menyediakan segalanya. Jadi ringkasnya, psikoedukasi adalah pola/cara mengajak masyarakat dan/atau bersama-sama masyarakat mengenali apa permasalahan yang dihadapi selama ini, kemudian dicarilah solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Ini dilakukan di Desa Anaraja, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende. Hasilnya pun nanti pasti saya  pos. Ingin tahu perubahan dan penguatan dalam tubuh masyarakat setelah KKN-PPM ini seperti apa.

⇜⇝

Yang juga keren adalah, para peserta KKN pasti terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan adat yang dilaksanakan di desa. Kapan lagi bisa merasakan dan terjun langsung? Saya sendiri pernah merasakan dan mengikuti ritual adat Goro Fata Joka Moka 2016, serta menyaksikan perlombaan Naro (tarian adat Suku Ende, kalau Suku Lio menyebutnya Gawi). Menjelang 17-an, bakal lebih banyak lagi kegiatan yang akan dilaksanakan/dilakukan masyarakat tentu bersama-sama dengan mahasiswa yang KKN di lokasi mereka.

Baca Juga: 5 Wisata Dalam Kota Ende

Bagaimana dengan daerah kalian, kawan? Sudah memasuki Bulan Agustus ... persiapannya sudah mulai kencang dooonk hehehe. Bagi tahu yuk!



Cheers.

Gotong Royong Itu Masih Hidup dalam Tubuh Masyarakat


Gotong Royong Itu Masih Hidup dalam Tubuh Masyarakat. Sabtu kemarin, 13 Juli 2019, saya kembali pergi ke Towak di Kabupaten Nagekeo. Ceritanya saya diundang oleh keponakan, Iwan dan Reni, untuk menghadiri ritual pembangunan fondasi rumah pribadi mereka yang lokasinya masih terbilang dekat dengan rumah dinas Pustu Towak. Berangkat dari Ende pukul 08.00 Wita. Saya sendirian, seperti biasa, dududud. Thika membonceng Enu. Perjalanan pagi itu adalah perjalanan saling kejar dengan bis antar kabupaten, truk ikan (kalau kami sebut oto ikan), mobil pribadi, mobil travel, hingga pegawai koperasi *auto ngakak*. Sabtu pagi, meskipun banyak yang libur, tapi masih banyak juga orang yang punya kepentingan di jalan raya dan/atau jalan trans-Flores.

Baca Juga: Belum Musim Liburan Tapi Jalan-Jalan Terus

Kami beristirahat cukup lama di Aigela untuk menikmati jagung rebus dan kopi panas. Sekitar tigapuluh menitan begitu. Pokoknya setelah bibir kepedisan gara-gara sambal maknyus a la salah satu lapak (langganan) jagung di Aigela, barulah kami tancap gas ke arah Kota Mbay

Fondasi Sudah Dibangun


Tiba di lokasi rumah Iwan dan Reni, sudah banyak orang di sana yang sedang beristirahat. Ternyata alat molen (untuk mengaduk campuran semen) sedang eror dan sedang diperbaiki sama yang punya (si pemilik akat). Tapi, fondasi sudah dibangun. Pengerjaan tertunda karena si molen eror. Kata Kakak Nani Pharmantara, orang-orang baru selesai sarapan dan mengajak kami sarapan. Tapi perut kami sudah penuh! Tidak bisa menampung apa-apa lagi.


Sekilas fondasi yang sudah dibangun, lalu molennya eror. Lokasi rumah ini menempati kaki bukit sehingga kaki bukit itu dikeruk dulu/diratakan. Tetapi tetap saja fondasi bagian depan lebih tinggi dari bagian belakang.

Gotong Royong Itu Masih Hidup


Di Kabupaten Ende, ketika ada yang hendak membangun rumah, pekerjaan kepala tukang dan tukang bangunan akan sangat ringan pada hari-hari pertama (terutama membangun fondasi) karena pasti dibantu oleh banyak orang, khususnya laki-laki. Hari membangun fondasi merupakan hari spesial karena ada sedikit ritual yang dilakukan: do'a pada malam sebelumnya, peletakan batu pertama, hingga elemen apa yang mau turut ditanam bersama fondasi tersebut (biasanya di empat sudut). Karena spesial, semua orang baik keluarga, teman, hingga tetangga, pasti turut membantu. Kadang-kadang, meskipun pada hari-hari berikut pengerjaan rumah sudah menjadi tugas si tukang bangunan dan anak buahnya, tetap saja masih ada yang datang untuk membantu.


Saya memperhatikan para lelaki yang bekerja. Mereka rata-rata keluarga (Reni, Orang Mbay), teman, dan tetangga. Bahu-membahu mereka mengikuti arahan kepala tukang bangunan. Mulai dari campuran semen, mengangkut campuran, mengakut batu, dan lain sebagainya. Yang letih, istirahat. Tidak ada paksaan. Yang haus, silahkan minum. Yang lapar, silahkan makan lagi (nasi maupun kudapan) karena meja makan tidak boleh dikosongkan. Luar biasa, menurut saya. Yang seperti ini yang harus terus dipelihara dan diwariskan pada anak cucu.

Menariknya, saya melihat ada dua laki-laki yang mengangkut batu menggunakan kayu yang dibikin mirip tangga. Penampakannya pada gambar berikut ini:


Teknologi sederhana yang mempermudah pekerjaan bukan? Hehehe. Bisa juga sih diangkut pakai karung, tapi mereka memilih memakai alat sederhana itu. Tidak bisa menggunakan gerobak sorong karena medannya tidak memungkinkan. Ada juga yang mengangkut batu menggunkan tangan. 

Kalau melihat foto-foto di atas, kalian pasti tahu bahwa cuaca memang sangat terik! Saya hanya bisa berdoa semoga para lelaki yang bekerja ini terus diberi kekuatan dan kebahagiaan untuk membantu keponakan saya hahaha. Orang lain mungkin tidak akan mau membantu dalam pekerjaan berat seperti itu. Mengangkut campuran semen, mengangkut batu, langsung di bawah sengatan sinar matahari. Tapi inilah yang menjadi kekayaan kita rakyat Indonesia. Gotong royong! Hidup dalam nuansa kekeluargaan yang kental.

Tidak hanya dalam urusan pekerjaan. Apabila ada keluarga yang membangun rumah, sekaya apapun keluarga itu, tetap saja ada saja yang datang membawa ini itu seperti kudapan, teh - kopi - gula, kambing, semen, dan tentu saja ada pula yang menyelip amplop berisi uang. Yang membangun rumah tidak meminta, tapi hukum tidak tertulis di dalam masyarakat memang seperti itu. Biar sedikit, yang penting ada. Demikianlah.


Gotong royong tidak saja berlaku untuk kaum lelaki, tetap juga kaum perempuan. Di halaman samping bakal tetangga Iwan dan Reni (masih keluarga juga sih) banyak kaum perempuan yang sedang memasak ini itu. Hebatnya adalah semua daging tersedia ... kecuali bebek dan domba ... hiks. Ikan, ayam, kambing, sapi ... harus ada! Uh wow sekali qiqiqiq.

Moke Putih


Moke/tuak merupakan minuma tradisional. Kalian bisa membaca tulisan saya tentang moke di sini. Moke adalah minuman tradisional yang wajib ada dalam upacara atau acara tertentu terkhusus yang berkaitan dengan adat. Makanya saya juga menyebutnya minuman adat. Moke adalah minuman persahabatan, katanya. Asalkan tidak diminum berlebihan karena bakal mabu dan efek mabuk sangat menjengkelkan orang lain.

Moke putih merupakan moke asli dari pohon lontar/nira yang belum disuling menjadi moke 'keras'. Rasanya enak sekali terutama dicampur es manis haha. Dulu ada yang menjual moke putih keliling kampung dengan memanggul dua tabung bambu gede-gede. Saya girang bukan main kalau melihat si penjual, langsung lari ke luar rumah, sambil teriak ... OM, BELI MOKE! Haha. 

Kemarin juga ada moke putih.


Saya mencobanya segelas. Warnanya tidak putih mirip susu, tapi ada kuning-kuningnya. Pasti sudah dicampur 'sesuatu'.

Saya:
Enak e, Om, moke putih ni. Campur apa?

Om:
Campur obat.

Saya:
*tampang nganu*

Om:
Obat bagus itu.

Saya:
ENAK!


Hahaha. Terus, setelah itu saya berkeliling lokasi rumah hingga ke atas bukit. Pemandangannya bagus sekali apalagi kalau terus sampai ke puncaknya. Rumah ini bakal keren sekali. Terutama kalau sore-sore menikmati kopi dari puncak bukit (bagian belakang rumah). Semoga ... suatu saat nanti.

⇜⇝

Gotong royong yang saya perhatikan hari Sabtu kemarin merupakan cerminan masyarakat Indonesia itu sendiri. Kita berbeda agama dan suku tapi akan tetap bersatu dalam gotong royong, dalam contoh paling sederhana: membangun rumah. Saya pasti akan kembali ke Towak, Nagekeo, karena pembangunan rumah ini akan memakan waktu beberapa minggu/bulan, sehingga masih ada waktu untuk melihat proses demi prosesnya. Doakan semoga lancar, ya, kawan!

Baca Juga: Berburu Spot Foto Instagenic di Dapur Jadul di Raba

Terus ... kalian kapan ke Flores? Hehe.



Cheers.