Lagu Losquin Makassar Minasa Riboritta – Iwan Tompo (lirik dan maknanya)

Lagu tradisional Makassar lirik losquin

Lagu Minasa Riboritta adalah sebuah lagu berbahasa Makassar yang walaupun saya tidak hafal seluruh liriknya tapi cukup sering saya nyanyikan. Minasa Riboritta pertama yang saya dengar adalah versi yang dinyanyikan oleh Ridwan Sau, salah satu penyanyi lagu-lagu Bugis Makassar.

Lama kemudian barulah saya mendengar lagu Minasa Riboritta versi Losquin dari Iwan Tompo, salah satu maestro lagu Makassar.

Lirik lagu ini saya terjemahkan secara bebas, bukan terjemahan langsung per kata dan disesuaikan dengan mengikuti nada lagu sehingga bisa dinyanyikan dalam bahasa Indonesia walaupun jadi kurang enak didengar karena liriknya masih dipaksakan. Setidaknya ini membantu para pendengar yang tidak mengerti bahasa Makassar mengenai makna lagu ini. 

Saya juga tidak terlalu paham bahasa Makassar, dan terjemahan lirik ini saya ambil dari beberapa terjemahan yang memang sudah ada di internet lalu kemudian saya sandingkan. Dengan cara seperti itu jika ada masukkan dari yang paham bahasa Makassar pasti akan saya pertimbangkan.

Berikut lagu Minasa Riboritta - Iwan Tompo versi Losquin.


Minasa Riboritta (Harapan untuk Negeri Kita)

_________________

Mangku mamo mabella
Walaupun aku jauh 

Nia ma' ri se'reang bori
Merantau di negeri lain

Ma'sombalangi sare kamaseku
Melayari laut nasib hidupku 

Passare Batara
Jalani takdir-Nya

Manna monjo nakamma
Walaupun demikian

Pangngu'rangingku ri kau tonji
Ingatanku hanyalah padamu

Kabutta la'biri passolongang ceratta
Ke kampung tercinta di tanah kelahiran

Ri Bawa Karaeng
Di Bawa Karaeng 

Se'reji kupala rijulu boritta
Satu yang kuminta, dari saudaraku

Sirikaji tojeng
Utamakan Siri' 

Sollanna na nia areng mabajitta
Agar selalu terjaga nama baik kita 

Ri bori maraeng
Di negeri lain

Nakima' minasa te'ne ki masunggu
Dan kita berharap raih kesuksesan 

Nanacini todong 
Sehingga terpandang

Bori maraengang
Di negeri lain

Sarroa mangngakkali rikamajuanta
Yang sering meragukan kemajuan kita
________

Sedikit mengenai Iwan Tompo sang pelantun lagu ini. Iwan Tompo Dg. Liwang adalah salah satu maestro lagu Makassar, sayangnya beliau sudah wafat pada hari Kamis, 23 Mei 2013 di Makassar.
Iwan Tompo Dg. Liwang wafat

Iwan Tompo Dg. Liwang lahir di Kota Makassar tanggal 6 September 1952. Gelar maestro yang disematkan pada dirinya karena almarhum adalah penyanyi sekaligus pencipta lagu yang telah membuat sedikitnya 50-an album lagu Makassar dalam rentang 40-an tahun Iwan Tompo berkesenian.

Iwan Tompo mulai aktif berkesenian sejak duduk di bangku SMP pada tahun 1966. Karir Iwan Tompo dalam dunia kesenian dimulai dengan menjadi gitaris. Iwan Tompo sudah dari masa kanak-kanak mempunyai bakat bernyanyi, hingga akhirnya dia mulai bernyanyi secara profesional pada tahun 1970an. 

Dalam karirnya sebagai penyanyi, Iwan Tompo belajar mengikuti bakat yang ada pada dirinya. Pengetahuan yang dimiliki tersebut didapat secara otodidak melalui tradisi lisan bukan tradisi tulisan dan tidak dibentuk oleh pendidikan formal. Bakat tersebut semakin berkembang ketika Iwan Tompo bergabung menjadi penyanyi pada tahun 1970-an di Orkes Melayu Rasela.

Pada tahun 1975 Iwan Tompo bergabung di Irama Baru Record yang merupakan bagian dari kunci sukses perjalanan hidup Iwan Tompo dalam mempertahankan eksistensi lagu pop daerah Makassar. 

Iwan Tompo pernah diundang ke Jakarta karena lagunya pernah membooming yang berjudul Bunting Berua. Lagu-lagu Iwan Tompo yang paling terkenal antara lain PammarisinnuBangkenga AcciniAmmakku BapakkuTeako Palla, Sura Tappu SingaintaPakeke Appasisala dan masih banyak lagi.

_______________

Sumber: ARYA SAMUDRA, 2012. Studi Biografi Iwan Tompo Sebagai Pencipta Lagu Populer Makassar. 
Skripsi: Program Studi Pendidikan Sendratasik Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar.  (eprints UNM).



Lagu Losquin Makassar Minasa Riboritta – Iwan Tompo (lirik dan maknanya)

Lagu Minasa Riboritta adalah sebuah lagu berbahasa Makassar yang walaupun saya tidak hafal seluruh liriknya tapi cukup sering saya nyanyikan. Minasa Riboritta pertama yang saya dengar adalah versi yang dinyanyikan oleh Ridwan Sau, salah satu penyanyi lagu-lagu Bugis Makassar.

Lama kemudian barulah saya mendengar lagu Minasa Riboritta versi Losquin dari Iwan Tompo, salah satu maestro lagu Makassar.

Lirik lagu ini saya terjemahkan secara bebas, bukan terjemahan langsung per kata dan mengikuti nada lagu sehingga bisa dinyanyikan dalam bahasa Indonesia walaupun jadi kurang enak didengar karena liriknya masih dipaksakan. Setidaknya ini membantu para pendengar yang tidak mengerti bahasa Makassar mengenai makna lagu ini. 

Saya juga tidak terlalu paham bahasa Makassar, dan terjemahan lirik ini saya ambil dari beberapa terjemahan yang memang sudah ada di internet lalu kemudian saya sandingkan. Dengan cara seperti itu jika ada masukkan dari yang paham bahasa Makassar pasti akan saya pertimbangkan.

Berikut lagu Minasa Riboritta - Iwan Tompo versi Losquin.


Minasa Riboritta (Harapan untuk Negeri Kita)

_________________

Mangku mamo mabella
Walaupun aku jauh 

Nia ma' ri se'reang bori
Merantau di negeri lain

Ma'sombalangi sare kamaseku
Melayari laut nasib hidupku 

Passare Batara
Jalani takdir-Nya

Manna monjo nakamma
Walaupun demikian

Pangngu'rangingku ri kau tonji
Ingatanku hanyalah padamu

Kabutta la'biri passolongang ceratta
Ke kampung tercinta di tanah kelahiran

Ri Bawa Karaeng
Di Bawa Karaeng 

Se'reji kupala rijulu boritta
Satu yang kuminta, dari saudaraku

Sirikaji tojeng
Utamakan Siri' 

Sollanna na nia areng mabajitta
Agar selalu terjaga nama baik kita 

Ri bori maraeng
Di negeri lain

Nakima' minasa te'ne ki masunggu
Dan kita berharap raih kesuksesan 

Nanacini todong 
Sehingga terpandang

Bori maraengang
Di negeri lain

Sarroa mangngakkali rikamajuanta
Yang sering meragukan kemajuan kita
________

Sedikit mengenai Iwan Tompo sang pelantun lagu ini. Iwan Tompo Dg. Liwang adalah salah satu maestro lagu Makassar, sayangnya beliau sudah wafat pada hari Kamis, 23 Mei 2013 di Makassar.
Iwan Tompo Dg. Liwang wafat

Iwan Tompo Dg. Liwang kelahiran Kota Makassar 6 September 1952. Gelar maestro yang disematkan pada dirinya karena almarhum adalah penyanyi sekaligus pencipta lagu yang telah membuat sedikitnya 50-an album lagu Makassar dalam rentang 40-an tahun Iwan Tompo berkesenian.

Iwan Tompo mulai aktif berkesenian sejak duduk dibangku SMP pada tahun 1966. Karir Iwan Tompo dalam dunia kesenian dimulai dengan menjadi gitaris. Iwan Tompo sudah dari masa kanak-kanak mempunyai bakat bernyanyi, hingga akhirnya dia mulai bernyanyi secara profesional pada tahun 1970an. 

Dalam karirnya sebagai penyanyi Iwan Tompo belajar mengikuti bakat yang ada pada dirinya. Pengetahuan yang dimiliki tersebut didapat secara otodidak melalui tradisi lisan bukan tradisi tulisan dan tidak dibentuk oleh pendidikan formal. Bakat tersebut semakin berkembang ketika Iwan Tompo bergabung menjadi penyanyi pada tahun 1970-an di Orkes Melayu Rasela.

Pada tahun 1975 Iwan Tompo bergabung di Irama Baru Record yang merupakan bagian dari kunci sukses perjalanan hidup Iwan Tompo dalam mempertahankan eksistensi lagu pop daerah Makassar. Iwan Tompo pernah diundang ke Jakarta karena lagunya pernah membooming yang berjudul Bunting Berua. Lagu-lagu Iwan Tompo yang paling terkenal PammarisinnuBangkenga AcciniAmmakku BapakkuTeako Palla, Sura Tappu SingaintaPakeke Appasisala dan lain-lain.

_______________

Sumber: ARYA SAMUDRA, 2012. Studi Biografi Iwan Tompo Sebagai Pencipta Lagu Populer Makassar. 
Skripsi: Program Studi Pendidikan Sendratasik Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar.  (eprints UNM).



Sekadar Mengingat Episode Kecil Dalam Kenangan

Sekadar Mengingat Episode Kecil Dalam Kenangan

Ibu dari 3 orang anak ini bernama Wahyu Nursanty. Sekian tahun lalu, setahun setelah dia lulus dari SMAN 1 Makassar, kami (total berjumlah 203 orang) kemudian dipersatukan dalam bendera "Eksekusi 95" di Kampus Merah Tamalanrea. Singkat cerita, sekitar tahun 2002 saya dengannya berangkat (masing-masing) ke Jakarta dan memulai karir yang berbeda dengan teman-teman "Eksekutor" lainnya.
Kemarin saat menikmati macet di jalur Tol Japek (Jakarta - Cikampek) menuju Bekasi saya iseng menulis sedikit cerita tentangnya yang kini berdomisili di Bandung. Ide yang begitu saja muncul setelah statusnya melintas di lini masa Facebook. Hanya sekadar catatan ringan tentang kesan-kesan dan sedikit ingatan yang terlintas. Alhamdulillah dia senang menerimanya dan meminta untuk ditambahkan.
Gak ada pesan sponsor, dia bilang tulis saja, tambahkan lagi, lumayan buat kenang-kenangan saat masa "revolusi fisik".

Baiklah, here we go...
---
Saya memanggilnya Yayu' kadang juga Santi, tapi tidak pernah Wahyu. Sekitar akhir tahun 2002 lalu, kami berdua berada dalam daftar 11 nama yang harus ke Jakarta untuk meneruskan proses rekrutmen pekerjaan yang dianggap "keluar" dari habitat keilmuan yang sama-sama kami pelajari di Kampus Merah Tamalanrea.
Iya, cuma 11 orang yang dinyatakan lulus setelah melewati 4 kali ujian dengan jarak sekitar sekian hari sampai seminggu untuk setiap kali test-nya. Mulai dari TPA (Test Potensi Akademik), Psikotest yang alhamdulillah ada snack dan kopinya, lalu test kesehatan dan olah raga ditambah lagi ujian terakhir: wawancara. Sebenarnya ada juga ujian yang tidak tercantum, yaitu ujian kesabaran dan harap-harap cemas menunggu pengumuman hasil dari 4 test tersebut hahaha.


4 Macam Ujian Yang Bikin Singit

Test pertama, TPA (Test Potensi Akademik) dilaksanakan di IKIP Petarani Makassar, atau yang sejak tahun 1999 berubah menjadi UNM (Universitas Negeri Makassar), saat itu UNM memang sering menjadi tempat berbagai ujian rekrutmen dll untuk umum.
Sepertinya sehari sebelum test, Yayu sempat datang dan ikut berkumpul sekadar "say hello" kepada saya dan teman-teman di sebuah rumah di Jalan Badak. Mungkin juga Yayu datang untuk memeriksa persiapan untuk ujian besoknya. Jadilah kami, kurang lebih sekitar 10 orang saat itu berkumpul belajar bersama membahas kira-kira soal apa yang akan keluar.
Menjelang sore kami bubar dengan alasan masing-masing. Yayu pulang atau pergi bersama sebagian teman untuk membeli perlengkapan untuk ujian, saya tidak ingat detailnya. Malamnya, saya tidur sekitar jam 3 malam di rumah itu, setelah asik bermain kartu bersama teman-teman sekadar pengisi ngobrol dan mengusir bosan. Malam itu saya tidak ke Pantai Losari untuk mengamen, bukan karena besok mau ujian, tapi karena ingin menghabiskan malam bersama teman-teman yang sudah jarang kumpul.
Rumah di Jalan Badak itu seperti "safe house" buat teman-teman dari daerah yang berkunjung ke Makassar. Saat itu saya menjadi penghuni tetap dan "care taker" sekaligus satpam di rumah tersebut. Rumah yang sering dijadikan alamat sekretariat segala macam kegiatan, rumah yang bersejarah dengan segala suka dukanya.
Pagi hari di UNM, sebelum mengikuti test TPA, saya dan teman-teman sepakat mengumpulkan uang lalu disimpan di sebuah tempat. "Siapa yang dapat menyelesaikan test terlebih dahulu dapat mengambil uang tersebut dan memilikinya." salah seorang dari kami mengajukan ide, seakan-akan ujian TPA belum cukup memacu adrenalin. Entah siapa, saya lupa pencetusnya, tapi sekarang saat mengingatnya kembali, saya suka dengan idenya itu. :D
Soal taruhan itu Yayu tidak terlibat, sepertinya pada hari itu saya tidak bertemu dengannya. Atau jangan-jangan dia datang ke Jalan Badak seusai ujian TPA? Ingatan saya tentang kedatangannya sehari sebelum ujian di Jalan Badak itu bisa jadi saya yang salah ingat jika ternyata ia datang justru setelah ujian TPA. Biar dia sendiri yang jawab, saya agak sulit menyusun ingatan lama ini :D


papan ujian clipboardKembali ke soal taruhan, siapa yang menang dan berhak mengambil semua uang yang telah kami kumpulkan? Soal ini saya juga lupa, seandainya saya yang menang mungkin saya akan mengingatnya. Yang saya ingat malahan bagaimana saya menghabiskan waktu agak lama karena tidak membawa alat pengalas kertas untuk ujian. Saat itu saya menggunakan kartu SIM untuk mengalasi kertas ujian agar tidak robek atau berlubang saat saya menghitamkan jawaban dengan pensil 2b. Gak modal banget sih, berapa sih harga papan ujian clipboard sot? -__-
Sekian hari berlalu hingga hari pengumuman hasil test TPA, saya dan teman-teman bersama-sama melihat pengumuman hasilnya di sebuah kantor di Jalan Ahmad Yani seberang kantor Walikota Makassar. Saya tidak terlalu berminat berdesakan mencari nama saya di papan pengumuman. Setelah salah seorang teman memberi tahu bahwa saya lulus, barulah kemudian saya mencoba memastikannya sendiri. Dari situ saya tahu, saya dan Yayu lulus untuk melanjutkan ujian berikutnya. Ok, gak menang taruhan, tapi lulus ujian, saya kira itu cukup menyenangkan yah :)
Dilanjut dengan psikotest, saat psikotest ada seorang peserta yang tertangkap oleh pengawas psikotes telah mengerjakan soal sebelum diperintahkan. Pengawas memberinya peringatan keras, entah kemudian memberinya lembar jawaban baru atau disuruh menghapus lembar jawabannya saya kurang tertarik karena sibuk memikirkan nasib, toh setelah insiden kecil itu ujian tetap dilanjutkan dengan beberapa kali coffe break.
Di kemudian hari saya mencoba mencarinya saat tes kesehatan, tapi sepertinya perempuan cantik yang tertangkap mengerjakan soal lebih dahulu itu tidak lulus dalam ujian psikotest beberapa hari lalu. Padahal ada yang mau saya tanyakan *ah alasan saja ini* :D
Yayu pastinya hadir dalam ujian psikotes ini, tapi entah kenapa saya gak ingat, atau mungkin otak saya sudah pingsan dihantam oleh beragam soal psikotest semacam Test Pauli, Wartegg Test, tes grafis/menggambar orang, Test Baum (menggambar pohon), DISC/Papikostik dan semacamnya.
Kemudian setelah itu, kami ikut test kesehatan dan olah raga di dalam kawasan pelabuhan. Bagaimana dengan Yayu? Saat sebelum lari keliling lapangan kontainer saya sempat dengar panitia memberi dia pesan agar tidak perlu memaksakan diri mengingat dia sedang hamil 4 bulan anak pertamanya. Sebelumnya saya sama sekali tidak tahu soal itu. Saya? Alhamdulillah masih singset, belum "hamil" seperti sekarang 😆

Beberapa hari kemudian, kami (13 orang yang tersisa) lanjut lagi mengikuti wawancara sebagai ujian terakhir. Yayu memberitahu saya apa saja yang ditanyakan saat wawancara, ia menekankan agar saya hapal dengan pasti tahun-tahun kelulusan dan menjawab dengan cepat setiap pertanyaan, jelas ia lebih siap dari saya dan tahu apa yang ia lakukan.
Hasil test wawancara tidak diumumkan secara lokal, tapi akan tercetak dalam surat kabar nasional. Saya lupa surat kabar apa, dan saya mendapatkannya sudah agak malam. Bersama partner mengamen saya, saya pergi ke penjual koran di sekitaran jalan Arief Rate, setelah meminta izin untuk sekadar membaca pengumuman dengan janji kalau ada nama saya maka surat kabar itu akan saya beli, kalau tidak ada saya akan beri uang sekadarnya untuk membaca 1 halaman. Akhirnya surat kabar itu saya beli karena saya menemukan nama saya dan Yayu dalam pengumuman itu.
Mengapa surat kabar nasional baru bisa didapatkan agak siang di Makassar? Konon saat itu hanya ada 1 penerbitan koran skala besar, dan penerbit itu akan mencetak surat kabar nasional setelah surat kabar lokal produknya, sebuah koran paling terkenal bahkan mungkin hingga sekarang di Sulawesi Selatan. Karenanya surat kabar nasional baru bisa didapatkan setelah agak siang. Mungkin itu masalah prioritas atau manajemen bisnis saja sih. Entah benar atau tidak, demikian lah yang saya percaya saat itu.
Internet memang sudah ada, tapi di tahun 2002 saya belum akrab dengan hal seperti itu. Handphone? Saya tidak punya, harganya lebih mahal 20 kali lipat dari harga gitar yang sering saya pakai mencari uang di Pantai Losari.

Saya lupa dalam acara apa, tapi sebelum keberangkatan Yayu ke Jakarta saya dan teman-teman berkunjung ke rumah orangtuanya di Jalan Tinumbu memenuhi undangan. Samar dalam ingatan saat berkumpul di sana, ibunya Yayu memberi motivasi tentang merantau. Saya menghargai perhatian beliau sebagai perhatian seorang ibu kepada anaknya, sampai saat saya mengaku bahwa Jakarta bukan kota asing bagi saya, ke Jakarta saat itu bagi saya bukan merantau tapi pulang. Doa terbaik untuk beliau.
Yayu menanyakan banyak hal soal bagaimana nanti kehidupan di Jakarta, persiapan apa dan lain sebagainya. Tapi saya lebih sibuk dengan pikiran-pikiran seperti apa Jakarta setelah saya tinggal pergi sejak lulus SMA. Membayangkan kembali tinggal di Bekasi tempat kelahiran saya dan semacamnya.
---
Setelah di Jakarta kami ternyata langsung terpisah karena beda "sawah ladang" sehingga jarang sekali bertemu. Hingga terakhir Yayu bersama keluarganya datang ke rumah saya di Bekasi sekitar tahun 2016. Seingat saya, total hanya sekitar 2 atau 3 kali kami bertemu dalam jangka waktu 14-15 tahunan di Jakarta.
Cerita panjang mengalir, entah kenapa saya menangkap kesan seperti ada kesamaan pola. Yayu resign dan memilih jalan hidupnya bersama sang suami, meninggalkan begitu saja karir yang telah ia bangun sekitar 12 tahun di Jakarta. Begitu juga saya, sekitar tahun 2012 saya juga resign dari profesi yang menjadi jalan "kepulangan" saya ke Pulau Jawa ini 16 tahun lalu. Setelah sebelumnya mengira tidak akan pernah kembali lagi.
Langkah yang kami tempuh ini tampak seperti bunuh diri karir dalam pandangan orang lain. Masuk akal, karena saya dan Yayu saat itu sudah mencapai posisi "middle manager" dengan pendapatan yang lumayan. Buat kami? ada alasan yang kuat di balik keputusan itu.
Dalam percakapan kami, selain mengenang banyak hal juga terungkap prioritas-prioritas hidup yang sudah berubah, dan pada akhirnya mengantar kami berdua memilih jalan yang sama; resign dan memulai profesi baru yang lebih banyak memiliki waktu luang untuk keluarga.
Demikianlah, saat usia semakin dewasa, prioritas hidup akan berubah seiring perubahan situasi dan kondisi, semua memiliki alasan dan tujuan. Kami, (saya dan Yayu) sedikit beruntung karena memiliki kesempatan atau peluang untuk mengubah jalan cerita hidup kami, dan kami tidak ragu untuk mengambil peluang itu, walau mungkin dalam skala ekonomi apa yang kami lakukan sangat berpengaruh pada penurunan penghasilan, tapi bukan kah rezeki sudah ada yang mengatur?. :)
Memiliki waktu lebih banyak untuk berkumpul bersama keluarga bagi kami sebuah kemewahan, itulah alasan utama yang membuat kami mengambil keputusan untuk sedikit mengubah jalan cerita hidup ini. Semoga itu lah yang terbaik, setidaknya untuk keluarga kami masing-masing.

Salam :)

*Tulisan ini jadi panjang. Aslinya hanya 5 paragraf pendek yang saya tulis lalu saya kirim melalui WhatsApp Mesenger kepada Yayu, tapi dia meminta untuk diperpanjang semampu ingatan saya*



Sedikit Tentang Mappacci

Upacara Adat Korongtigi Mappacci
Mappacci
Kalau saya sebut ritual budaya "siraman" sebelum "midodareni" itu sebagai "ritual menghias badan mempelai dengan mengguyur air ke seluruh badan"  kamu yang berasal dari Jawa akan menganggap saya lucu atau sotoy?

Jadi tadi saya membaca di sebuah website lumayan terkenal, tertulis "...Mappacci, ritual menghias tangan calon mempelai wanita dengan memberi daun pacar tumbuk atau daun inai ke tangan calon pengantin wanita...". Hah....? kalimat itu bikin saya bengong.

Buat saya yang sedikit paham apa arti Mappacci jadi merasa lucu membacanya. Asumsi saya ini penulisnya mungkin rancu dengan adat "Malam Berinai" dari budaya Melayu yang memang pada malam sebelum akad nikah akan ada ritual menghias kuku tangan dan kaki dengan inai/pacar.

Mappacci ini mirip maknanya dengan "siraman" yang bermakna membersihkan diri. Benar juga pada acara itu digunakan inai/pacar yang dalam bahasa Bugis Makassar disebut pacci. Pacci sendiri secara makna selain berarti daun pacar/inai juga bisa bermakna bersih, karenanya malam sebelum akad nikah bagi keturunan Suku Bugis Makassar akan melaksanakan upacara "mapacci" yang bisa diartikan membersihkan diri.

Mappacci ini akan berlangsung hikmat dan haru sebab di acara ini orang tua, keluarga dan sanak saudara sang mempelai sedang mempersiapkan si mempelai untuk mandiri, membina rumah tangganya sendiri, jadi jangan heran kalau di acara ini akan sering berisi isak tangis dari pihak keluarga, tangis haru dan bahagia tentunya.

Upacara Adat Korongtigi Mappacci
Mempelai pria memohon restu saat mappacci
Prosesi mappacci juga kental dengan nuansa Islami dan sarat dengan pemberian doa restu segenap anggota keluarga dan handai taulan kepada mempelai. Rangkaian acara adat calon mempelai diwajibkan mengikuti prosesi menamatkan Al Quran atau mappatamma', selanjutnya dilakukan prosesi siraman atau mappasili yang dilakukan oleh sanak keluarga yang telah menikah dengan mengguyurkan air ke calon pengantin. Semua ini adalah rangkaian prosesi adat menjelang pernikahan ala adat Bugis/Makassar.

Dalam pelaksanaan mappacci sendiri disiapkan perlengkapan yang kesemuanya mengandung arti makna simbolis seperti:
  • Bantal atau pengalas kepala yang diletakkan di depan calon pengantin, yang memiliki makna kesejahteraan, penghormatan, martabat, atau kemuliaan. Dalam bahasa bugis berarti mappakalebbi.
  • Sarung sutera yang tersusun di atas bantal yang mengandung arti harga diri dll.
  • Di atas bantal diletakkan juga pucuk pisang muda (pucuk pisang) yang melambangkan kehidupan yang berkesinambungan dan lestari.
  • Di atas pucuk daun pisang diletakkan pula daun nangka (biasanya 7 atau 9 lembar) sebagai permakna harapan atau menasa.
  • Sebuah wadah yang berisi wenno yaitu beras yang disangrai hingga mengembang sebagai simbol harapan perkembangan yang baik.
  • Patti atau lilin, yang bermakna sebagai suluh penerang. Juga diartikan sebagai simbol kehidupan lebah yang senantiasa rukun dan tidak saling menganggu.
  • Daun pacar atau pacci, sebagai simbol dari kebersihan dan kesucian.
Penggunaan pacci ini menandakan bahwa calon mempelai telah bersih dan suci hatinya untuk menempuh akad nikah keesokan harinya dan kehidupan selanjutnya sebagai sepasang suami istri hingga ajal menjemput. Daun pacar atau pacci yang telah dihaluskan ini disimpan dalam wadah bekkeng sebagai permaknaan dari kesatuan jiwa atau kerukunan dalam kehidupan keluarga dan kehidupan masyarakat.

Kalau bukan karena membaca artikel online itu mungkin saya gak akan menulis soal ini, karena banyak makna-makna yang tersirat yang saya sendiri belum tentu mampu memahami dan menjelaskannya. Seperti susunan sarung, lokasi atau tempat yang berjenjang antara keluarga inti, sanak keluarga, saudara jauh dan tamu undangan, lokasi acara mappacci digelar dalam rumah juga tidak sembarang tempat, semua itu memiliki makna simbolis yang tersembunyi dan juga halus sehingga sulit untuk dipahami bagi orang awam. Pendeknya, mappacci itu jelas bukan ritual menghias tangan pengantin, dan mappacci bukan hanya acara untuk mempelai wanita tapi juga berlaku untuk mempelai pria.

Salam

----

Foto dari  blog
http://zatagirlythings.blogspot.co.id 
http://syafri-alaskah.blogspot.co.id