Teknik Airbrush


Akhirnya Lomba Mural Triwarna Soccer Festival 2019 telah selesai. Tadi siang, pukul 14.00 Wita, empat belas peserta telah mempresentasikan hasil karya masing-masing di hadapan Dewan Juri, tamu undangan, dan masyarakat umum yang menonton. Salah satu peserta yang meraih Juara III adalah Bimo Crew. Mereka menggunakan teknik campuran dalam berkreasi di bidang yang telah disediakan pada tembok pagar Stadion Marilonga. Teknik tersebut adalah menggunakan kuas dan airbrush.

Baca Juga: Paper Bed

Sebelum saya mengulas tentang para pemenang Lomba Mural ini, mari kita simak dulu, apa sih teknik airbrush itu?

Airbrush


Menurut Wikipedia, airbrush adalah teknik seni rupa yang menggunakan tekanan udara untuk menyemprotkan cat atau pewarna pada bidang kerja. Dalam catatan sejarah seni lukis moderen, airbrush baru berkembang pada akhir abad ke-19. Tahun 1879 dikenal sebagai tahun penemuan teknik melukis dengan memanfaatkan tekanan angin yang dikenal dengan teknik airbrush ini. Alat yang digunakan untuk mentransfer cat ke media lukis awalnya disebut paint distributor. Orang yang berjasa menemukan alat ini adalah Abner Peeler, seorang penemu profesional yang sepanjang hidupnya melakukan berbagai percobaan. Kemudian Peeler menjual patennya pada Lyberty Walkup dari perusahaan Walkup Brothers pada Agustus 1883.

Charles L. Burdick, seorang seniman Amerika yang tinggal di Chicago menemukan pen bertipe internal mix airbrush. Setelah penemuan ini, pada tahun 1893 ia pindah ke Inggris untuk mendirikan Fountain Brush Company. Burdick orang yang berjasa dalam memodifikasi alat ciptaan Peeler sehingga menjadi alat yang mudah digunakan karena bentuknya menyerupai pena. Ia memperkenalkan sekaligus mematenkan temuannya yakni needle control system atau sistem kontrol pengeluaran cat dengan sebatang jarum.

Menurut salah seorang Dewan Juri yaitu Om Konk yang juga dikenal sebarai Ketua Komunitas Mural Ende, kuas atau airbrush ini adalah perkara kebiasaan. Tidak ada yang lebih menonjol antara keduanya. Semua kembali pada kebiasaan si seniman dan skill-nya. 

PMI Kab Sikka & Bimo Crew


Ada dua tim dari Lomba Mural Triwarna Soccer Festival yang menggunakan teknik campuran; kuas dan airbrush yaitu PMI Kab Sikka dan Bimo Crew. PMI Kab Sikka menyabet Juara Favorit sedangkan Bimo Crew meraih Juara III.

Mural Syarat Filosofi


Ijinkan saya bercerita tentang mural yang syarat filosofi. Silhkan dibaca, untuk pahami makna mural yang bersangkutan. Sudah saya pos juga di Facebook:


Mural tema (burung) Gerugiwa ini dibikin oleh Bimo Crew dengan Ketua Tim Anggi Mukin asal Ndona. Mural ini meraih Juara III. Waktu Bimo Crew menjelaskan filosofinya, saya agak merinding. Imajinasi mereka sungguh 'liar'. Dan dalam seni, semakin 'liar' semakin uh wow hehe. Itu menurut saya. Kalau kalian tidak setuju, bodo amat!

Mural Gerugiwa ini syarat filosofi. Sekali merengkuh dayung, dua tiga makna terungkap.

1. GERUGIWA DAN DANAU KELIMUTU

Gerugiwa adalah satwa/burung khas yang habitatnya di Taman Nasional Kelimutu: Danau Kelimutu. Kaitan Gerugiwa dan Danau Kelimutu, cek poin nomor dua di bawah 👇

2. DANAU KELIMUTU

Danau Kelimutu digambarkan dalam tiga rupa. Dari kanan ke kiri arah mural yang bersangkutan: 
a. Ata Bupu (bintang-1)
b. Ko'o Fai Nua Muri (bintang-2).
c. Ata Polo (bintang-3).

Ata Bupu digambarkan sebagai orangtua yang mulutnya membuka dan ada elemen pegunungan dan air terjun, Ko'o Fai Nua Muri digambarkan sebagai wanita, dan Ata Polo digambarkan sebagai iblis(api) membara. Tapi, dobel makna dari mural itu, silahkan baca poin tiga di bawah 👇

3. ELEMEN KEHIDUPAN

Elemen kehidupan adalah dobel filosofi. Dengan kata lain, mural ini bermakna ganda:
Yang pertama: UDARA dari si Gerugiwa sendiri (kepakan sayap di udara).
Yang kedua: TANAH dari si Ata Bupu. Saya mendefenisikannya sebagai orangtua (ata Bupu), bumi, tempat kita berpijak.
Yang ketiga: AIR dari si Ko'o Fai Nua Muri. Saya memaknai air sebagai simbol kehidupan. Perempuan (ibu) adalah air kehidupan kita. Dan, berwarna biru. Ibu adalah kedamaian.
Yang keempat: API dari si Ata Polo. Mau apa lagi? Kalian pasti bisa mendefenisikannya juga kan?

4. DUA SUKU

Dua sayap yang melebar dari si Gerugiwa merupakan simbol dua suku yang hidup di Kabupaten Ende yaitu Suku Ende dan Suku Lio.

5. SI MATA SATU

Ko'o Fai Nua Muri ini digambarkan satu matanya tertutup ekor Gerugiwa. Filosofinya adalah bahwa masih banyak kaum muda Ende yang tidak tahu tentang Gerugiwa sebagai satwa khas milik kita yang boleh dibanggakan dan wajib dilestarikan bersama. Cocok kan dengan Tiwu Ko'o Fai Nua Muri yang digambarkan sebagai danau muda-mudi?

Saya trekdung banget waktu mendengarnya. Itu benar, kawan.

Sungguh keliaran imajinasi yang bikin saya pribadi kagum dan merinding. Dan saya harus menulisnya saat ini juga, agar kalian juga tahu. Agar filosofi Gerugiwa dari Bimo Crew ini kita nikmati dan resapi bersama. 

Ada yang tidak setuju?

Bodo amat 😁

Terima kasih semua peserta, empat belas, yang telah memberi warna baru pada tembok pagar Stadion Marilonga. Sampai jumpa di lomba berikutnya. Kalian semua hebat. Kita Ata Ende sangat bangga, termasuk juga untuk kawan PMI Kab Sikka yang meraih juara Favorit. Saya menunduk hormat atas semua karya kalian.

#LifeIsGood
#LombaMural
#TriwarnaSoccerFestival

Ya, perlu kita akui, mereka semua hebat!


Saya ingin sekali mengulas para jawara Lomba Mural ini, tapi kayaknya pos ini bakal panjang banget. Jadi, untuk lima pemenangnya bakal saya tulis pada pos #KamisLima. Sekalian memenuhi rasa penasarannya Himawan Sant. Hehehe. Mohon bersabar yaaaa. 

Yang jelas, para peserta Lomba Mural telah membuktikan bahwa di Kabupaten Ende, dan kabupaten tetangga, ada talenta-talenta luar biasa di bidang seni lukis/mural ini. Dan talenta-talenta ini harus terus dibina dan dirangkul. Karena ke depannya kita tentu ingin akan ada lagi lomba-lomba mural bukan? Entah dengan kalian, kalau saya sih hyess.

Terima kasih Triwarna Soccer Festival. Upaya dan pencapaian yang luar biasa.


Cheers.