Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling


Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling. Dalam rangka ulang tahun Universitas Flores (Uniflor) yang ke-39 (19 Juli 2019 kemarin), Fakultas Teknologi Informasi (FTI) menggelar lomba vlog dengan tema pariwisata, khususnya wisata alam Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lomba vlog memang baru pertama kali digelar di Uniflor untuk memberi variasi dari lomba-lomba yang umum diselenggarakan seperti lomba di lini akademik, lini olah raga, maupun di lini seni tarik suara.

Baca Juga: Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya

Saya memang tidak terlibat langsung dalam kepanitiaan tetapi turut membantu, meskipun tidak banyak, saat inisasi awal. Misalnya tentang kriteria vlog yang harus dipenuhi oleh para peserta. Karena saya diminta untuk turut menjadi juri lomba ini.


Selain saya, ada dua orang lainnya yang juga menjadi juri yaitu Alan dari Rafa Media Creative dan Ihsan Dato. Keduanya sehari-hari berkecimpung di dunia video, baik video kreatif yang dipos di Youtube, maupun video dokumentasi ragam kegiatan di Pulau Flores. Kualitasnya jangan ditanya lagi. Hehe. Lantas, bagaimana dengan saya? Bukankah orang mengenal saya sebagai blogger bukan vlogger? Ya saya memang lebih dikenal sebagai blogger karena semakin ke sini semakin jarang 'turun lapangan' karena sudah diwakili oleh videografer lain yaitu Cahyadi. Artinya? Artinya saya belum pensiun dari dunia videografi *kedip-kedip*.

6 Peserta Dengan 6 Video Kreatif


Kamis, 8 Agustus 2019, penjurian dilakukan di ruang dosen FTI. Ada enam peserta yang mendaftar. Enam peserta ini sudah lebih dari cukup mengingat lomba vlog baru pertama kali dilakukan di Uniflor untuk tingkat SMA dan Perguruan Tinggi, dan hadiahnya belum mencapai belasan hingga puluhan juta. Jangan dibandingkan dengan lomba vlog yang digelar oleh kementrian, misalnya. Tapi ini merupakan langkah awal yang bagus untuk kegiatan-kegiatan serupa di masa yang akan datang. Saya yakin, akan banyak lomba vlog yang digelar kelak oleh Uniflor.

Kriteria penilaian kami bukan dari device yang digunakan. Zaman sekarang device itu hanya penunjang. Peserta boleh memakai telepon genggam, camcorder, DSLR, hingga drone. Karena device ini terkait faktor kebiasaan saja. Ingat istilah the man behind the gun? Kriteria penilaian antara lain:

1. Memenuhi semua persyaratan yang diumumkan.
2. Kesesuaian vlog dengan tema.
3. Teknis: alur, penyuntingan, kesesuaian audio visual.
4. Pesan yang tersampaikan dengan jelas.

Enam peserta ini ada yang berasal dari SMA di Kota Ende seperti SMAK Syuradikara, ada pula mahasiswa dari Uniflor. Dari luar Kabupaten Ende juga ada antara lain dari Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Ngada termasuk mahasiswa dari UKI Ruteng. Video yang mereka kirimkan, menurut saya, bagus-bagus, kreatif, menarik, dan NTT banget. Hanya saja rata-rata banyak yang fokus pada video sehingga kurang memikirkan audio terlebihi balance antara natural sound, vlogger dan/atau narator, dan backsound. Padahal ini cukup penting agar pesan tersampaikan ke penonton. Karena vlog tidak hanya tentang gambar tetapi juga suara.

Ibarat Sedang Traveling


Ya, memang demikian adanya. Tempat-tempat yang disuguhkan dalam enam video tersebut bikin saya merasakan ibarat sedang traveling! Air Terjun Cunca Lega, air terjun dua tingkat di Kabupaten Manggarai membikin teringat Cunca Wulang di Kabupaten Manggarai Barat yang pernah saya kunjungi Mei 2014 silam. Air Panas So'a di Kabupaten Ngada membikin saya teringat Kolam Air Panas Ae Oka di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Bukit Zeda Zamba di Kota Ende yang membikin saya teringat Bukit Watunariwowo di Kabupaten Ngada. Pulau Sabu, membikin saya teringat pada traveling-list yang belum terpenuhi. Hehe.

Bukit Zeda Zamba ini unik. Ternyata, Abang Ooyi pernah menulisnya dalam pos Zeda Zamba Sebuah Kota yang Hilang (2). Silahkan dibaca. Banyak orang yang sudah tiba di puncaknya dan memamerkan foto-foto ciamik dari puncaknya. Kalau tidak salah bukit itu juga sering disebut Bukit Rodja. Dari Kota Ende, bukit itu memang semacam tidak terlihat karena terhalang Gunung Meja. Lokasinya berada diantara Gunung Meja dan Gunung Ia dengan medan yang cukup berat untuk didaki. Bagi orang-orang muda yang kuat, itu bukan masalah. Bagi saya ... itu masalah *ngakak*.

Menjuri lomba vlog tidak jauh beda juga dari menulis blog tentang wisata. Informatif itu hukumnya fadhu'ain. Nama tempat wisatanya, lokasinya, jarak tempuh dari kota terdekat, hingga transportasi yang digunakan. Informasi penting lainnya seperti jika ada biaya masuk berapakah harga tiketnya, musim/bulan apa yang baik datang ke lokasi tersebut, adakah pedagang makanan dan minuman, adakah pedagang cinderamata, dan lain sebagainya. Inilah informasi-informasi penting yang harus disampaikan selain obyek wisata itu sendiri.

Overall, saya menyukai semua video tersebut.

⇜⇝

Harapan saya, semakin banyak lomba vlog yang digelar. Karena apa? Karena vlog juga merupakan kekuatan Indonesia menawarkan pesona wisatanya kepada orang luar (buleeee). Vlog juga salah satu bentuk promosi gratis; terutama para travel vlogger yang mengunggah video mereka ke Youtube. Di satu sisi vlogger bisa memperoleh duit jajan dari me-monetize akun Youtube mereka, di sisi lain pariwisata Indonesia terpublikasikan/promosi gratis.

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe

Yang jelas, siapapun pemenang lomba vlog ini, saya hanya bisa mengucapkan selamat! Pengumuman resmi akan dikeluarkan oleh panitia penyelenggara. Terus berkarya, selalu kreatif, dan terus sebarkan kebaikan kepada semua orang!



Cheers.

Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling


Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling. Dalam rangka ulang tahun Universitas Flores (Uniflor) yang ke-39 (19 Juli 2019 kemarin), Fakultas Teknologi Informasi (FTI) menggelar lomba vlog dengan tema pariwisata, khususnya wisata alam Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lomba vlog memang baru pertama kali digelar di Uniflor untuk memberi variasi dari lomba-lomba yang umum diselenggarakan seperti lomba di lini akademik, lini olah raga, maupun di lini seni tarik suara.

Baca Juga: Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya

Saya memang tidak terlibat langsung dalam kepanitiaan tetapi turut membantu, meskipun tidak banyak, saat inisasi awal. Misalnya tentang kriteria vlog yang harus dipenuhi oleh para peserta. Karena saya diminta untuk turut menjadi juri lomba ini.


Selain saya, ada dua orang lainnya yang juga menjadi juri yaitu Alan dari Rafa Media Creative dan Ihsan Dato. Keduanya sehari-hari berkecimpung di dunia video, baik video kreatif yang dipos di Youtube, maupun video dokumentasi ragam kegiatan di Pulau Flores. Kualitasnya jangan ditanya lagi. Hehe. Lantas, bagaimana dengan saya? Bukankah orang mengenal saya sebagai blogger bukan vlogger? Ya saya memang lebih dikenal sebagai blogger karena semakin ke sini semakin jarang 'turun lapangan' karena sudah diwakili oleh videografer lain yaitu Cahyadi. Artinya? Artinya saya belum pensiun dari dunia videografi *kedip-kedip*.

6 Peserta Dengan 6 Video Kreatif


Kamis, 8 Agustus 2019, penjurian dilakukan di ruang dosen FTI. Ada enam peserta yang mendaftar. Enam peserta ini sudah lebih dari cukup mengingat lomba vlog baru pertama kali dilakukan di Uniflor untuk tingkat SMA dan Perguruan Tinggi, dan hadiahnya belum mencapai belasan hingga puluhan juta. Jangan dibandingkan dengan lomba vlog yang digelar oleh kementrian, misalnya. Tapi ini merupakan langkah awal yang bagus untuk kegiatan-kegiatan serupa di masa yang akan datang. Saya yakin, akan banyak lomba vlog yang digelar kelak oleh Uniflor.

Kriteria penilaian kami bukan dari device yang digunakan. Zaman sekarang device itu hanya penunjang. Peserta boleh memakai telepon genggam, camcorder, DSLR, hingga drone. Karena device ini terkait faktor kebiasaan saja. Ingat istilah the man behind the gun? Kriteria penilaian antara lain:

1. Memenuhi semua persyaratan yang diumumkan.
2. Kesesuaian vlog dengan tema.
3. Teknis: alur, penyuntingan, kesesuaian audio visual.
4. Pesan yang tersampaikan dengan jelas.

Enam peserta ini ada yang berasal dari SMA di Kota Ende seperti SMAK Syuradikara, ada pula mahasiswa dari Uniflor. Dari luar Kabupaten Ende juga ada antara lain dari Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Ngada termasuk mahasiswa dari UKI Ruteng. Video yang mereka kirimkan, menurut saya, bagus-bagus, kreatif, menarik, dan NTT banget. Hanya saja rata-rata banyak yang fokus pada video sehingga kurang memikirkan audio terlebihi balance antara natural sound, vlogger dan/atau narator, dan backsound. Padahal ini cukup penting agar pesan tersampaikan ke penonton. Karena vlog tidak hanya tentang gambar tetapi juga suara.

Ibarat Sedang Traveling


Ya, memang demikian adanya. Tempat-tempat yang disuguhkan dalam enam video tersebut bikin saya merasakan ibarat sedang traveling! Air Terjun Cunca Lega, air terjun dua tingkat di Kabupaten Manggarai membikin teringat Cunca Wulang di Kabupaten Manggarai Barat yang pernah saya kunjungi Mei 2014 silam. Air Panas So'a di Kabupaten Ngada membikin saya teringat Kolam Air Panas Ae Oka di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Bukit Zeda Zamba di Kota Ende yang membikin saya teringat Bukit Watunariwowo di Kabupaten Ngada. Pulau Sabu, membikin saya teringat pada traveling-list yang belum terpenuhi. Hehe.

Bukit Zeda Zamba ini unik. Ternyata, Abang Ooyi pernah menulisnya dalam pos Zeda Zamba Sebuah Kota yang Hilang (2). Silahkan dibaca. Banyak orang yang sudah tiba di puncaknya dan memamerkan foto-foto ciamik dari puncaknya. Kalau tidak salah bukit itu juga sering disebut Bukit Rodja. Dari Kota Ende, bukit itu memang semacam tidak terlihat karena terhalang Gunung Meja. Lokasinya berada diantara Gunung Meja dan Gunung Ia dengan medan yang cukup berat untuk didaki. Bagi orang-orang muda yang kuat, itu bukan masalah. Bagi saya ... itu masalah *ngakak*.

Menjuri lomba vlog tidak jauh beda juga dari menulis blog tentang wisata. Informatif itu hukumnya fadhu'ain. Nama tempat wisatanya, lokasinya, jarak tempuh dari kota terdekat, hingga transportasi yang digunakan. Informasi penting lainnya seperti jika ada biaya masuk berapakah harga tiketnya, musim/bulan apa yang baik datang ke lokasi tersebut, adakah pedagang makanan dan minuman, adakah pedagang cinderamata, dan lain sebagainya. Inilah informasi-informasi penting yang harus disampaikan selain obyek wisata itu sendiri.

Overall, saya menyukai semua video tersebut.

⇜⇝

Harapan saya, semakin banyak lomba vlog yang digelar. Karena apa? Karena vlog juga merupakan kekuatan Indonesia menawarkan pesona wisatanya kepada orang luar (buleeee). Vlog juga salah satu bentuk promosi gratis; terutama para travel vlogger yang mengunggah video mereka ke Youtube. Di satu sisi vlogger bisa memperoleh duit jajan dari me-monetize akun Youtube mereka, di sisi lain pariwisata Indonesia terpublikasikan/promosi gratis.

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe


Juara I ~ Veronika Raymond
SMAK Syuradikara Ende
Judul: Wisata Alam di Ende

Juara II ~ Irena Juniarti Veranda Rea
SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng
Judul: Air Terjun Cunca Lega Ruteng

Juara III ~ Chriakus Hendra Pola Nea
Fakultas Bahasa dan Sastra Uniflor
Judul: Pulau Raijua Anak Dara dari Selatan Indonesia

Yang jelas, siapapun pemenang lomba vlog ini, saya hanya bisa mengucapkan selamat! Kalian layak jadi jawara. Terus berkarya, selalu kreatif, dan terus sebarkan kebaikan kepada semua orang!



Cheers.

5 Mural Favorit


Lomba Mural yang merupakan salah satu mata acara dari Triwarna Soccer Festival telah dibuka dengan resmi oleh Ketua Panitia yaitu Bapak Lori Gadi Djou pada Senin, 4 Maret 2019. Sejumlah limabelas peserta/kelompok mulai berkreasi di bidang pagar tembok stadion kebanggan kami Orang Ende, Stadion Marilonga. Terhitung telah empat hari lomba berjalan dan masih tersisa tiga hari lagi sebelum penjurian final dan pengumuman pemenang. Siapakah yang akan menjadi pemenang? Itu masih tanda tanya seperti pada gambar awal pos ini. Hehe.

Baca Juga: 5 Yang Cantik

Selama empat hari berjalan, sambil nongkrong dan ngopi di tenda pameran Komunitas Kopi Detusoko, tugas saya adalah memotret prosesnya. Karena ada dua skafolding yang ditumpuk agar peserta dapat mencapai bidang paling atas, saya kesulitan bisa memotret semuanya. Tapi setidaknya ada lima mural-sedang-proses yang menjadi favorit saya. Yuk kita cek ...

1. Perempuan Menenun


Salah satu tema mural adalah perempuan sedang menenun. Tema ini dipilih oleh panitia karena menenun merupakan salah satu aktivitas perempuan di Kabupaten Ende baik pada Suku Ende maupun pada Suku Lio. Tentang proses pembuatan tenun ikat dapat dilihat pada pos Proses Pembuatan Tenun Ikat. Salah satu pos kebanggaan saya hahaha.


Gambarannya seperti pada gambar di atas. Proses kelompok ini termasuk cepat karena pada hari pertama bidang ini masih kosong. Saya suka melihatnya.

2. Tokek


Tokek merupakan salah satu simbol yang melekat pada rumah-rumah adat dalam bentuk ukiran pada kayu-kayunya. Selain tokek saya pernah melihat simbol hewan seperti ayam. 


Peserta ini datang dari kelompok/komunitas difabel. Menariknya, mereka mengikuti arahan juri dimana tokek dapat dipasangkan pada benda-benda lain yang memang dapat dilekatkan. Jadi, di mana kah gambar tokeknya? Ada pada perisai yang dipegang oleh si pahlawan saat pulang berperang. Wah, mendengar penjelasan singkat dari pesertanya saja saya sudah bisa membayangkan bagaimana nanti hasilnya.

3. Feko dan Lamba


Feko dan lamba merupakan alat musik tradisional. Sama dengan penggambaran tokek di atas, feko dan lamba merupakan tema utama yang didukung oleh unsur-unsur lain yang mengikat seperti para pemainnya yang menggunakan pakaian adat.


Wajah salah seorang pemainnya realistis sekali ya. Hehehe. Duh kok saya jadi dagdigdug ya? Para peserta ini hebat-hebat semuanya. Mereka paham betul pengarahan dari dewan juri dan mereka sangat kreatif!

4. Marilonga


Marilonga adalah nama pahlawan lokal yang sangat kami banggakan dan patungnya dapat dilihat di daerah Wolowona sebagai pintu masuk Kota Ende bagian Timur. Stadionnya saja bernama Stadion Marilonga hehehe.


Gambaran umum Marilonga sudah bisa kalian lihat juga kan. Saya suka penambahan pahlawan lokal di bagian kanan atas sosok Marilonga.

5. Tarian Wanda Pa'u


Ini dia tarian kebanggaan kami. Tarian ini pasti ada di setiap acara baik tradisional maupun moderen. Sama seperti tarian Gawi. Tarian yang pasti menggunakan selendang ini sudah terlihat penarinya di bidang yang ditentukan.


Terima kasih yaaaa kalian semua kece badai!

Memang banyak yang realistik, tidak abstrak, tapi setidaknya lomba ini telah menjadi wadah dan alat penambang. Bahwa buktinya di Kabupaten Ende (serta peserta kabupaten sekitar yang juga ikutan), ada begitu banyak anak muda yang berbakat di dunia seni khususnya mural ini. 


Sebagai 'ibunya anak-anak' saya harus bisa untuk selalu ada untuk mereka, para peserta. Harus bisa mendengar dan memenuhi kebutuhan mereka. Tentu bukan saya pribadi, tapi oleh sub panitia lain. Misalnya ketersediaan skafolding hingga urusan tempat sampah setiap kelompok dipenuhi oleh Seksi Perlengkapan. Ketersediaan listrik untuk yang menggunakan teknik airbrush dipenuhi oleh Seksi Listrik dan Soundsystem. Ketersediaan air minum dipenuhi oleh Seksi Konsumsi. Saya dan teman-teman seperti Om Konk, Cesar, dan Rolland, hanya mengkoordinir saja.

Jadi, selama Lomba Mural ini panggilan saya macam-macam. Ada yang memanggil Kakak, ada yang memanggil Kakak Ibu, ada yang memanggil Ibu Negara, ada yang memanggil Ibu Yang Baik, dan lain sebagainya. Mana-mana suka. Saya asyik saja. Hahaha. Manapula bergaul sama seniman itu memang bikin hepi berlapis. 

Menariknya dari Triwarna Soccer Festival dengan pertandingan yang memperebutkan Bupati Cup, Bego Ga'i Night, hingga Lomba Mural, adalah diskusi demi diskusi. Setiap hari saya berdiskusi dengan banyak orang; sesama panitia, bareng peserta Lomba Mural, sama para pengisi tenda pameran, hingga pengunjung. Diskusi ini melahirkn ide-ide baru hingga memperbaiki beberapa hal. Kemarin malam misalnya, bersama Bapa Harry, Mas Chandra, dan Om Konk, kami berdiskusi tentang penambahan Aksara Lotta yang merupakan aksaranya Orang Ende pada mural yang dilombakan. Bersama Ferdianus Rega, misalnya, kami berdiskusi tentang kopi sebagai komoditas unggulan kami Orang Ende, Orang Flores, serta pengelolaannya. Jadi diskusi ini yang, menurut saya, semakin membuka wawasan.

Kembali pada Lomba Mural. 5 Mural Favorit bukan berarti mereka sudah pasti menang. Tidak, kawan. Saya tidak punya hak untuk menentukan, karena itu hak dewan juri yang mutlak, nanti, dan tidak bisa diganggu oleh siapapun. Bisa jadi yang favorit hari ini dapat berubah hehehe. Karena kan ini masih sedang dalam proses, bukan hasil akhir.

Baca Juga: Di Nagekeo Hati Saya Tertambat

Oh ya, di setiap bidang diwajibkan untuk dilengkapi dengan bingkai. Bingkai ini haruslah motif daerah. Motif tenun ikat. Kece lah.

Bagaimana dengan kalian? Apa cerita kalian hari ini, kawan?



Cheers.

Penjurian Lomba Kandang Natal



Sabtu, bertepatan dengan Hari Ibu tanggal 22 Desember 2018, telah dilaksanakan penjurian Lomba Kandang Natal. Awalnya kami mengira jurinya adalah Oma Mia Gadi Djou dan anggota Arisan Widow-wati seperti Lomba Pohon Natal (tahun 2017) dimana kami keluar sebagai juaranya. Ternyata jurinya bapak-bapak. Haha. Mari yuk. Yuk mari.

Baca Juga: Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Begitu melihat tim juri mendekati ruangan UPT Publikasi dan Humas, saya langsung rapikan jilbab, bedakan, pasang bulu mata, tebalkan blush on *halaaaah*. Sebelum juri bertanya, saya langsung menjelaskan tentang Kandang Natal ini.



Selamat siang, Bapak ... *berdehem*

Sesuai persyaratan lomba yaitu membikin Kandang Natal minimalis dan dari bahan yang ada, maka kami berusaha untuk bisa memenuhi persyaratan tersebut. Konsepnya minimalis ... *sambil mikir, benarkah ini minimalis?*



Persyaratan yang kedua yaitu dari bahan yang ada, maka kami membikin semua ini dari bahan yang ada atau mendaur ulang barang bekas. Kardus, karton, koran, kalender, stik es krim, bekas wadah deodorant, sampai serbuk *sambil menunjuk boneka Bunda Maria, Yosef, gembala, domba, dan lain sebagainya*




Bapak bisa lihat, ini Pohon Natal yang kami bikin tahun lalu, terbuat dari koran yang dianyam *menunjuk Pohon Natal legendaris*



Yang baru hanya cat, karena cat tidak bisa didaur ulang *entah mereka mendengarkan atau tidak*

Salah seorang juri bertanya: temanya apa?

*Amaaak, ini temanya apa ya? Ah jawab saja* Ini temanya kelahiran Yesus Kristus *asli ngasal level galaksi*. Karena di Israel pada masa itu tidak ada bambu, jadi kami berinisiatif membikin gua.

HA HA HA HA.

HA HA HA HA.

Saya yakin semua yang ada di ruangan, alias rombongan para juri termasuk Pak Super Boss, pasti pengen menampar bibir saya. Maafkan, kadang bibir saya kalau berbicara tidak permisi dulu sama otak. Pak Super Boss cuma bisa senyum-senyum.

Baca Juga: 2019 Tetap Nge-Blog

Ya! Selesai sudah penjuriannya. Mereka memerhatikan ini itu, mencatat ini itu, mengangguk-angguk sambil bernyanyi trilili lili lili lili ...

Biasanya pengumuman juara akan dilakukan setelah liburan, usai Upacara Bendera, dalam kegiatan menikmati kudapan bersama. Berharap jadi juara? Pasti doooonk. Setiap orang yang ikut lomba, menurut saya, sedikitnya di dalam hati mereka pasti ingin menjadi juara. Tapi kalau pun tidak juara, tidak mengapa, yang penting sudah berpartisipasi, turut meramaikan. Janganlah sampai gara-gara tidak juara kemudian manyun dan tidak mau ikutan lomba-lomba berikutnya. Bocah dinosaurus banget itu mah.



Usai penjurian, kami masih asyik-asyikan di ruangan, karaokean malahan. Terus, para panitia EGDMC berkumpul untuk kegiatan pembubaran panitia. Sepulangnya saya ke rumah, langsung rebah di lantai saya masih harus membikin stik keju pesanan bumil Irma Pello. Sebenarnya tahun ini tidak menerima pesanan stik keju tetapi demi sahabat yang sedang ngidam stik keju, baiklah ... mari kita membikinnya.

Sudah selesai? Bisa leyeh-leyeh? Tidaaaak! Malamnya saya masih harus mengikuti acara keluarga di rumah Abang Nanu Pharmantara. Ada hantaran balik dari pihak perempuan untuk keponakan saya setelah acara Buku Pelulu itu. 

Padat jaya.

Baca Juga: Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Liburan sudah dimulai. Mari kita cek daftar ajakan jalan-jalan ... ke mana kita?



Cheers.

Lomba Membikin Kandang Natal



Setiap pekerjaan tentu ada suka-dukanya. Tapi pasti banyak sukanya apalagi kalau pekerjaan itu sesuai dengan passion. Orang bilang; passion-nya di situ. Yang paling saya sukai saat bekerja di Universitas Flores (Uniflor) adalah tali silaturahmi yang erat dan semangat kekeluargaannya yang sangat tinggi meskipun kami, dosen dan karyawan, beda suku dan beda agama. Senangnya saya saat mengetahui bahwa para pembesar Uniflor juga sangat menghargai dosen dan karyawannya yang kreatif.

Baca Juga: 2019 Tetap Nge-blog

Selain itu, Uniflor selalu merayakan momen-momen tertentu antara lain:

  • Upacara memperingati hari besar nasional yang dilanjutkan dengan atraksi hiburan dan makan bersama. Kadang diwajibkan memakai pakaian adat asal daerah masing-masing.
  • Masuk kerja usai Hari Raya (Natal dan Idul Fitri) kami diwajibkan mengikuti upacara, setiap dosen dan pegawai yang merayakannya wajib membawa kudapan dan minuman. Kadang minumannya semua ditanggung sama Yapertif. Dan ini, di Kota Ende, hanya ada di Uniflor.
  • Misa dan/atau pengajian yang diakhiri dengan hiburan dan makan bersama.
  • Lomba dari cabang olah raga seperti tarik tambang, voli, tenis meja, bulu tangkis, hingga jalan sehat.
  • Lomba yang berhubungan dengan hari raya baik Hari Raya Idul Fitri maupun Hari Raya Natal; lomba vokal grup dan lomba membikin Pohon Natal.
  • Bakti sosial ke panti asuhan.
  • Dan lain sebagainya.


Ini Mam Poppy Pelupessy (kiri) memakai baju adat Pulau Sabu.


Meskipun pernah kalah, saya dan teman-teman sekelompok (pernah masuk dalam dua kelompok yaitu Kelompok Lembaga-Lembaga dan Kelompok Kampus III) juga pernah merasakan indahnya meraih juara. Diantaranya:

  • Juara Pertama dari Lomba Vocal Group Islami Tahun 2013.
  • Juara Pertama Lomba Vocal Group dalam rangka Dies Natalies Uniflor ke-36 dan Halalbi Halal Tahun 2016.
  • Juara III Lomba Vocal Group Lagu Kedaerahan tahun 2017.
  • Juara Pertama Lomba Membikin Pohon Natal Tahun 2017. 

Ini Kelompok Vokal Grup terkocak yang meraih juara pertama pada tahun 2015. Yang beragama Islam hanya saya dan Mila (dua paling kiri dari kalian).

Ini Kelompok Vokal Grup terkece (mengaku sendiri :p) tahun 2016. Yang koreografi dan kostum oleh Rikyn Radja.

Waktu ikut lomba tahun 2017 kemarin. Biarpun bukan juara pertama tapi harus tampil maksimal. Katanya. Hahaha.

Pohon Natal daur ulang yang membawa UPT Publikasi dan Humas Uniflor meraih juara pertama tahun 2017.


Dari cabang olah raga pun kami pernah meraih juara baik Juara I, Juara II, maupun Juara III. Senanglah kalau juara. Kalau tidak juara pun senang, karena sudah berpartisipasi hahaha. Benar-benar gila tampil kali ya saya ini qiqiqi.

Baca Juga: Perjalanan Rock'N'Rain

Tahun 2018 ini, adakah lomba yang diselenggarakan? Ada donk. Hehe. Macam-macam. Terutama saat Dies Natalies. Tapi Sabtu kemarin saya langsung bahagia saat membaca pesan dari Kepala BAU Universitas Flores, atau sering kami sebut Kepala Rumah Tangga Universitas Flores, di WAG. WAG khusus pegawai Yapertif (Yayasan Perguruan Tinggi Flores). Bunda Emmi Sero, demikian kami memanggil beliau, menyampaikan tentang Lomba Membikin Kandang Natal menggunakan bahan yang ada. Bahan yang ada ini adalah bahan atau barang bekas.

Yipie!

Bikin saja belum, apalagi menang, tapi kok sudah yipie!? Haha. Yipie karena senang, kawan. Otak saya sudah mulai memikirkan bentuk Kandang Natalnya nanti seperti apa. Mulai memilih barang bekas apa yang mau dipakai. Apabila tahun lalu saya membikin Kandang Natal sebagai bahan tambahan Lomba Membikin Pohon Natal berbahan kardus sampai botol Rexona, maka sekarang ... kalian ada usul/ide?

Ini botol bekas deodorant (Rexona sih kebanyakan) yang dipakai sebagai Tiga Raja dari Timur, serta orangtua bayi Yesus. Yang lengkap bisa dilihat di awal pos.


Kalau kalian ada usul/ide, bagi tahu donk di komentar. Siapa tahu bisa sangat berguna untuk kami, tim UPT Publikasi dan Humas Uniflor, hahaha. 

Baca Juga: Sarasehan di SMPN Satap Koawena

Mari mencari ide ... itu ide jalan-jalan ke mana sih sampai dicari begini :p



Cheers.