Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca


Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca. Sepertinya sudah berabad saya tidak menulis tentang dunia Do It Yourself (DIY) di #RabuDIY. Padahal, banyak yang ingin ditulis, baik hasil kreasi sendiri maupun orang lain. Maklum lah ya, padatnya jadwal liputan ditambah keasyikan kembali memainkan Virtual Villagers 5, membikin saya jadi begini. Halaaah. Haha. Sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak nge-game tapi tetap saja masih bisa dipengaruhi sihir game. Pekerjaan meliput sana-sini hingga ke luar kota itu memang menguras energi dan nge-game sebenarnya salah satu remedy selain nge-blog. Membela diri.

Baca Juga: Pesanan Barang DIY yang Berkembang Biak dan Senada

Waktu Jum'at kemarin meliput kegiatan di Desa Ngegedhawe, kalian bisa baca pos berjudul Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe, saya menemukan barang-barang alias asesoris yang dibikin sendiri oleh para peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di sana. Bahkan sambil menunggu kedatangan Bupati Nagekeo, beberapa peserta masih membikin papan tulis mini! Kreatif sekali mereka, dan itu menginspirasi saya menulis pos hari ini.

Papan Tulis Mini


Orang sering menyebutnya mini blackboard. Sudah sering saya mengimpikan papan tulis mini semacam ini. Dari hasil berselancar di dunia maya, oh tentu Youtube punya porsi terbesar, suka sekali saya melihat berbagai fungsi papan tulis mini. Selain penataan rumah yang menggunakan papan tulis mini, kafe-kafe juga sering menggunakannya untuk menulis berbagai menu yang tersedia pada hari bersangkutan. Sering nonton video tentang food truck? Hyes! Papan tulis mini sangat berguna untuk menginformasikan kepada calon pembeli tentang makanan yang ready serta harganya.

Papan tulis mini ini semacam marka yang sebenarnya tidak perlu, tetapi dibutuhkan untuk mempercantik rumah. Karena bagaimanapun orang yang datang ke rumah kita pasti sudah tahu fungsi setiap ruangan: ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, dapur, kamar mandi, dan lain sebagainya. Orang tidak perlu harus melihat keterangan pada papan tulis mini itu terlebih dahulu. Tetapi ada sensasi estetika yang membikin papan tulis mini mengimbuh aura positif di dalam rumah kita. Iya, itu pendapat pribadi saya. Hehe.

Di Rumah Baca Sao Moko Modhe, papan tulis mini mengisi ruang dalam tempat buku-buku tersimpan di rak. Pada hari itu pun beberapa mahasiswa masih membikin papan tulis mini ini (sudah saya tulis di atas, tetapi harus diulang, hahaha).


Melky, salah seorang mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019, terkejut waktu saya menghampiri dan bertanya: kalau dijual, berapa harganya per buah? Mungkin dia dan teman-temannya tidak menyangka saya bakal bertanya demikian. Mungkin mereka belum melihat peluang usaha dari papan tulis mini hasil bikinan sendiri itu. Menurut Melky, saya bisa membeli papan tulis mini dengan harga sekitar Rp 25K/buah. Hwah, murah lah menurut saya. Langsung pesan sepuluh papan tulis mini yang nanti bakal dia antar ke rumah kalau sudah selesai pengerjaanya. Hurayyyy!

Aneka Hiasan Dinding


Yang juga tidak kalah menarik dari Rumah Baca Sao Moko Modhe adalah aneka hiasan dindingnya. Jelas itu semua dibikin sendiri oleh mereka. Bisa kalian lihat pada gambar di bawah ini:





Sederhana namun indah kau mencintaiku. Eh, itu lirik lagunya Anji haha. Sederhana namun indah untuk menghiasi sebuah rumah baca di pelosok. Bahkan yang tulisan Let's Read itu mengingatkan saya pada zaman dahulu kala, saat saya masih SD, membantu (alm.) Kakak Toto Pharmantara membikin logo Telkom (logo lama) menggunakan kertas hasil dari alat pelubang kertas itu. Dominasi warna biru: biru tua, biru muda, dan putih. Saya betul-betul menginspirasi saya untuk membikinnya juga nanti, sekalian bernostalgia. Seperti akan sangat keren kalau tulisan BlogPacker dibikin seperti itu. Tulisan yang diisi dengan potongan kertas. Potongan kertasnya bisa berbentuk serampangan bisa juga hasil dari kertas hasil alat pelubang kertas.

Baca Juga: Andaikan Ada Seorang Saja Thomas Dambo di Kota Ende

Yang lupua saya foto adalah gantungan hiasan pada bagian teras rumah baca ... yang terbuat dari gelas plastik bekas minuman. Nanti deh kalau sempat ke sana lagi. Insha Allah.

⇜⇝

Dunia kreativitas, dunia seni, adalah dunia tanpa batas. Selalu ada yang bisa dihasilkan oleh orang-orang kreatif meskipun dengan bahan seadanya. Bahkan dalam konsep DIY, bagaimana kita bisa memanfaatkan apa yang ada, menjadikannya barang berdaya guna lebih, bahkan bisa mendatangkan Rupiah. Jangan salah, saya sudah pernah menikmati jutaan Rupiah hanya dari barang bekas semacam kertas koran, majalah, kardus, botol plastik, gelas plastik, dan lain sebagainya. Seperti yang sudah sering saya tulis: yang dibutuhkan hanyalah percikan kreativitas.

Selamat mencoba!



Cheers.

Pesanan Barang DIY yang Berkembang Biak dan Senada


Pesanan Barang DIY yang Berkembang Biak dan Senada. Suatu kali Ibu Ayu Sulaeman, cucuk pemilik Rumah Makan Bangkalan yang kesohor se-Flores, yang juga punya rumah makan sendiri serta dikenal sebagai dosen Fakultas Hukum, memesan keranjang berbahan koran bekas yang bisa dipakai untuk menyimpan berbagai barang. Boleh dibilang ini adalah pesanan keranjang pertama. Untuk warnanya pun saya belum memakai cat minyak melainkan setiap pipa koran/kertas tersebut dibungkus menggunakan kertas kado. Masih ingat pos berjudul Kertas-Kertas Kado Menarik dan Lucu Pendukung Proyek DIY? Selain memproduksi tempat tisu, salah satu barang lainnya adalah keranjang pesanan Ibu Ayu tersebut.

Baca Juga: Mangkuk Serbaguna Berbahan Celana Jin Bekas

Saya tidak menyangka keranjang tersebut diletakkan di meja rias di kamarnya. Ausam sekali hahaha. Bangga gitu. Menjadi semakin bangga dan semakin makan puji (istilah Orang Ende nih) ketika Ibu Ayu memesan lebih banyak barang DIY/daur ulang yang menjadi teman setia keranjang pertama tadi dan semuanya bernuansa hijau. Mulai dari tempat tisu yang gambarnya bisa kalian lihat di awal pos, organizer sisir dan peniti, sampai keranjang mini untuk menyimpan arloji/jam tangan. Ini dia penampakannya ketika semuanya sudah menghuni meja rias:


Keren gitu melihatnya ya.

Ternyata membikin pesanan yang berkembang biak dan senada warnanya ini pernah menjadi rutinitas yang membikin saya lupa waktu. Asyik juga kalau kertas kado pada satu barang, kemudian warnanya dipadukan dengan cat-minyak pada barang lainnya. Hijau-hijau menggoda begitu hehe. Tantangannya ada pada cat-minyak yang warnanya harus dicampur dengan warna lain untuk menghasilkan satu warna pilihan. Misalnya hijau tua dicampur putih atau hitam.

Dari pesanan Ibu Ayu ini, dan karena hebatnya media sosial membagi ragam informasi yang kita pos, datanglah pesanan lain dari Kaprodi dan Sekprodi Akuntansi di Fakultas Ekonomi. Hasilnya bisa kalian lihat di bawah ini:



Seperti yang kalian lihat, ada pesanan keranjang besar serbaguna dan desk-organizer. Desk-organizer ini sebenarnya mau diletakkan di meja rias juga. Ceritanya Ibu Dewi dan Ibu Aini memesan desk-organizer yang bisa untuk menyimpan sisir dan segala barang lainnya, tapi yang ada juga tempat untuk menyimpan/menusuk pentul. Saya sih tinggal bikin sesuai permintaan ibu berdua hehe. Dan Alhamdulillah hasilnya memuaskan. Ibu Dewi suka warna hijau, Ibu Aini suka warna merah.

Belum berhenti sampai di situ, suatu kali Ibu Ina juga memesan beberapa barang dengan, harus, kertas kado yang sama. Jangan berbeda satu pun! Keranjang ulir (sayangnya keranjang ulir tidak ada di gambar di bawah ini), tempat tisu, dan desk-organizer. Ini saja, saya kok berat banget mau menukarnya dengan Rupiah karena cantik hahahaha.


Terima kasih, semuanya, sudah memesan barang-barang daur ulang ini di saya hehehe. Semoga akan tetap terus memberi manfaat! Amin.

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Saya sendiri masih pengen bisa membikin rangkaian barang-barang DIY yang bisa diletakkan di kamar antara lain keranjang besar, keranjang kecil, desk-organizer, wall-organizer, yang semuanya satu warna. Apa daya, kesibukan yang menggempur tidak bisa ditoleransi seperti tahun-tahun lalu. Bisa memenuhi janji untuk tetap meng-update blog saja sudah syukur bukan main, terutama karena saya memang pengen bisa menulis setiap hari, untuk blogwalking ... hiks. Jadi dalam sehari itu, setelah pulang kantor langsung menulis blog, setelah itu langsung membuka lembar kerja baik itu yang di Word maupun Sony Vegas, sampai malam hari.

Tapi saya janji pada Bang Day, Kakak Ella Fitria, Nassirullah Sitam, Ummu, dan kawan blogger lain yang masih sering ke sini ... I will kunjung balik. Hehe. 



Cheers.

Kertas-Kertas Kado Menarik dan Lucu Pendukung Proyek DIY


Kertas-Kertas Kado Menarik dan Lucu Pendukung Proyek DIY. Bagaimana kalian menyebutnya? Kertas kado, juga? Di Ende kami menyebutnya kertas kado: lembaran berukuran sekitar satu kali setengah meter yang dipakai untuk membungkus kado, hadiah, pemberian. Tahun 2017 s.d. 2018 saya baru tahu kalau salah satu pusat  perbelanjaan di Ende yaitu Roxy, menjual kertas kado berbagai jenis kertas, ukuran, dan motif/gambar. Ini menarik, karena kertas-kertas kado menarik dan lucu tersebut kemudian turut menjadi salah satu bahan permanis proyek-proyek Do It Yourself (DIY) yang saya kerjakan baik untuk coba-coba maupun pesanan orang.


Sayangnya baru-baru ini saat saya ke Roxy, kertas kadonya tidak se'kaya' dulu. Mungkin karena sudah jarang saya membeli kan yaaa hahaha *dikeplak pemilik Roxy*. Lagi pula zaman sekarang ini orang-orang lebih suka memberikan amplop (berisi duit dooonk) ketimbang kado. Di setiap pesta pernikahan pun demikian, kado hanya diserahkan oleh kelompok tertentu, misalnya penyerahakan kado (berukuran super besar) dari teman-teman mempelai.

Awal Mula Masih Pakai Kertas Majalah


Iya, sebelum mengenal dan mulai berkreasi dengan kertas kado, saya memakai kertas majalah untuk proyek DIY salah satunya desk-organizer. Kertas majalahnya pun lebih sering majalah katalog dari Sophie Martin atau Ifa begitu *emak-emak pasti tahu ini* haha. Penuh warna. 


Gambar di atas, desk-organizer pertama yang saya bikin untuk Kakak Shinta Degor. Super sederhana dan yaaaah begitulah. Tapi desk-organizer ini masih dipakai sampai sekarang loh! Bangga. Haha.

Mulai Menggunakan Kertas Kado


Mulai menggunakan kertas kado justru bukan pada saat membikin desk-organizer melainkan saat membikin keranjang serbaguna. Belum terpikirkan keranjang mini serbaguna ini ternyata cikal bakal tempat tisu yang paling banyak dipesan orang. Penampakan awalnya seperti pada gambar berikut ini. Sudah menggunakan kertas kado. Kertas kadonya dililit pada pipa kertas (dari gulungan koran atau kertas) kemudian dibentuk.


Melihat kerajang serba guna ini, Kakak Rikyn Radja yang saat itu main ke rumah lantas memesan tempat tisu yang modelnya mirip-mirip ini. Tentu ukurannya harus disesuaikan dengan kotak/besarnya tisu (isi ulang/kemasan plastik bukan kotak). Bismillah. Saya coba bikinkan. Dan hasilnya seperti pada gambar di bawah ini.


Tempat tisu pesanan Kak Rikyn belum ada tutupannya karena memang belum berniat membikin yang ada tutupannya. Tapi kemudian diperbarui dengan menambahkan tutupan. Yang jelas, tempat tisu ini kemudian menjadi viral. Banyak teman yang memesan tempat tisu tapi ... dengan tema tertentu seperti misalnya Doraemon, Micky Mouse, Frozen, dan lain sebagainya. Saya sampai kewalahan karena amunisi utama tempat tisu ini adalah pipa kertas yangmana proses membikinnya cukup memakan waktu. Syukurnya saya dibantu dengan sungguh-sungguh oleh Indra Pharmantara yang saat itu baru saja pulang kuliah dari Jogja. Asyik ... ada asisten. Haha.

Maka bermunculan lah satuper satu tempat tisu bikinan saya di media sosial, terutama Facebook, dan semakin banyak pula pemesanan yang datang. Rejeki anak solehah memang diam di tempat lah. LOL! Berikut, kalian bisa melihat tempat-tempat tisu yang saya bikin dengan pemanis kertas-kertas kado tersebut.





Ini baru sebagian kecil dari foto-foto tempat tisu yang pernah saya bikin hehe. Kalau semuanya dipos di sini, bisa panjaaaaang sekali pos ini hanya terisi foto.

Tempat tisunya menjadi lebih rapi jali dan manis dilihat. Semua berkat kertas kado dan percikan kreativitas yang terlatih. Jari-jari ini ibarat mesin yang sudah tahu mau ngapain, pokoknya. Otak saya sudah menghafal ukuran tempat tisu baik alas/dasar hingga tutupan, lubang untuk mengeluarkan tisu, jumlah kotak dari pipa kertas termasuk sampai pada pegangan/penahan kanan kiri agar tutupan tidak liar ke sana sini. Semua ada ukuran pasti. Kali ini tidak mereka-reka seperti biasanya saya. Hehe.

Baca Juga: Bunga Dinding

Kertas-kertas kado menarik dan lucu itu ... sangat berjasa!

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernah bikin juga tempat tisu dari koran/majalah bekas, terutama mirip sama yang saya bikin? Bagi tahu yuk di komen :) semoga kreativitas akan terus hidup bersama kita sepanjang usia.



Cheers.

Tempat Cincin DIY Untuk Pernikahan Sahabat Saya Deasy Daulika


Tempat Cincin DIY Untuk Pernikahan Deasy Daulika. Tahun 2018 saya sudah mulai pasif ber-DIY-ria. Mulai jarang bikin barang DIY bukan berarti tidak ada yang memesan, tapi saya meminta maaf kepada para pemesan apabila barang yang dipesan tidak bisa lekas dibikin. Maklum, ternyata banyak pekerjaan lain yang membutuhkan skala prioritas. Menulis skala prioritas kesannya gaya banget gitu ya hahaha. Ya begitulah, aktivitas bergumul dengan kertas koran lantas betul-betul berhenti. Eiiiitssss tapi saya akan kembali memulainya. Setidaknya masih ada satu dua barang DIY yang saya bikin lah dalam setahun. Hiasan meja kaktus batu, misalnya.

Baca Juga: Mangkuk Serbaguna Berbahan Celana Jin

Tahun 2018, saat sedang sibuk membersihkan rumah, saya diminta oleh sahabat - teman kantor bernama Deasy Daulika. Deasy sedang mempersiapkan pernikahan dan meminta saya membikin tempat cincin untuknya. Meskipun sedang sibuk persiapan Hari Raya Idul Fitri, saya tetap meng-iya-kan permintaan Deasy, karena kapan lagi coba bisa membantu sahabat sendiri? Ya kan? Lagi pula membikin tempat cincin tidak serepot membikin keranjang anyaman berbahan koran yang banyak tahapnya itu.

Bingung Dengan Tema


Waktu sudah meng-iya-kan, saya malah bingung dengan temanya. Pengen banget bisa bikin tempat cincin yang unik untuk Deasy dan suaminya (waktu itu masih calon pengantin ya mereka berdua haha). Misalnya tempat cincin yang berbentuk dompet, tempat cincin berbahan bambu, tempat cincin dari kotak anyaman, dan lain sebagainya. Tapi waktu tidak mencukupi. Tema apa ya yang cocok? Ya sudah, yang biasa saja memakai kardus mini. Hanya saja ... saya sendiri yang membikinnya merasa tidak puas. Bagaimana dengan yang memesan, ya?

Alkisah, tahun 2018 itu saya membeli barang dari Kiki Arubone. Barang itu adalah satu set kotak-kotak plastik berbagai ukuran: dari yang paling besar sampai yang paling kecil. Tiba-tiba ide itu datang begitu saja. Membikin tempat cincin pernikahan menggunakan kotak plastik terkecil. Ya! Itu bisa sekali, kawan. Saya lantas meminta Thika Pharmantara untuk membeli kain dan pita serta beberapa hal lainnya yang dibutuhkan. Mari bekerja!

Alat dan Bahan


Alat dan bahan untuk tempat cincin DIY ini, seperti biasa, adalah:

1. Gunting/pisau cutter.
2. Lem tembak/hot glue.
3. Kain satin (warna biru).
4. Pita (secukupnya).
5. Spons.
6. Kotak plastik (kotak bumbu).

Cara Membikin


Cara membikinnya:

Pertama:
Gunting spons dua bagian sama ukuran. Kedua spons ini ukurannya harus ngepas sama kotak plastiknya: bersisian. Bagian tengahnya itu yang bakal jadi tempat meletakkan cincin (dua cincin). Setelah itu dibungkus dengan kain. Kalau sudah oke, direkatkan ke dalam kotak menggunakan hot glue.

Kedua:
Bagian atas spons dilingkari/hiasi dengan pita. Hal yang sama juga dilakukan: melilit badan kotak dengan pita.

Ketiga:
Untuk tutupannya, lingkari tutupan dengan pita. Lantas, gunting kain berbentul bundar sebanyak sembilan atau sepuluh lembar. Kain berbentuk budar ini disatukan, kemudian bagian tengahnya disisip jumputan kain kecil, kemudian diikat. Kalau dibalik, trada, jadi bunga. Hehe. Sederhana ya.

Keempat:
Sudah jadi *ditabok dinosaurus*.


Itu dia penampakan utuhnya. Sederhana tapi bikinnya pakai hati, eh pakai tangan dink, hehe, dan Alhamdulillah waktu itu Deasy suka sama hasilnya. Diambil dua hari sebelum pernikahan. 

Baca Juga: Stoples Kertas

Bagaimana, kawan? Sederhana tapi cantik kan? Yang pasti tempat cincin bikinan saya ini turut menjadi saksi janji pernikahan mereka berdua. Dan saya bangga. Dengan sangat jelas saya memang tidak mau menerima bayaran untuk tempat cincin ini. Ikhlas saya memang mau membuatnya untuk Deasy. Seperti yang sudah saya tulis di atas, kapan lagi bisa membantu teman di hari bahagianya? Membantu membeli sapi kan tidak mungkin. Hahaha.

Kalian juga pasti bisa bikin. Atau, apabila kalian juga pernah membikin tempat cincin berbeda bahan dan model, bagitahu donk tutorialnya ... terima kasih.



Cheers.

Mangkuk Serbaguna Berbahan Celana Jin Bekas


Hola! Ketemu lagi di #RabuDIY, harinya kita berkreasi sepuas-puasnya, baik dalam ranah DIY maupun dalam ranah lifehack. Sebelumnya saya mau tanya dulu, adakah barang-barang DIY yang kalian bikin sendiri? Kalau ada, bagi tahu donk. Siapa tahu kita bisa bertukar tips untuk membikinnya. Atau, adakah barang-barang DIY yang kalian bikin sendiri setelah membaca pos-pos #RabuDIY di blog ini? Semoga ada ya. Setidaknya apa yang saya tulis berdasarkan pengalaman maupun hasil karya orang lain dapat bermanfaat. 

Baca Juga: Travel Booth

Hari ini saya mau mengajak kalian membikin mangkuk berbahan celana jin bekas. Gambar hasil jadinya bisa kalian lihat di awal pos. Sebelumnya, kalian bisa membaca pos Percobaan Gagal. Pada pos tersebut saya menulis tentang membikin mangkuk berbahan celana jin bekas tetapi gagal karena salah mengaplikasikan *tsah*. Yaaaa kan harus ada yang pertama, gagal, untuk kita belajar agar bisa memperbaiki dan Insha Allah sukses. Memangnya sukses? Sukses donk hehe. Meskipun bikinnya cuma satu ... the one and only.

Membikin mangkuk berbahan celana jin ini sudah sangat lama, dan waktu itu tidak kepikiran untuk memotret langkah demi langkah, sehingga saya tidak bisa menyertakan foto lain. Ya, mohon maaf hanya satu foto saja. Tetapi melihat foto pada awal pos, saya pikir kalian sudah bisa mengira-ngira seperti apa proses membikinnya. 

Mari kita simak ...

Bahan dan Alat


Bahan dan alatnya seperti biasa ...
1. Celana jin bekas.
2. Gunting dan/atau cutter.
3. Lem tembak/hot glue.
4. Mangkuk sebagai mal.

Cara Membikin


Pertama:
Gunting celana jin hingga menjadi helai agar bisa dibentuk di mal (mangkuk).

Kedua:
Lilitkan kain jin tersebut sepenuh mangkuk hingga bentuknya mengikuti ukuran mangkuk. Agar rapi, bagian bawahnya dilipit ya. Untuk menyatukannya pakai lem tembak.

Ketiga:
Bagian bawah mangkuk ditempeli kain jin berbentuk bundar sesuai dengan ukuran bawahnya itu. Lagi-lagi pakai lem tembak.

Keempat:
TRADAAAAA ... mangkuk celana jin sudah jadi.

Semudah itu? Iya. Super mudah. Kalau kalian gagal membikinnya saat pertama, jangan langsung mundur atau berhenti. Coba lagi sampai jadi. Saya saja pernah gagal kan, tapi saya tidak berhenti, harus putar otak bagaimana caranya mangkuk ini jadi. Akhirnya ya jadi juga. Saya tidak menghiasnya dengan bunga-bunga kain atau lilitan pita. Kalau kalian membikinnya, bolehlah dipermanis dengan bunga-bunga mini, dililit pita, dan lain sebagainya sesuai keinginan.

Mangkuk berbahan kain jin dari celana jin bekas ini tentu tidak bisa diisi sop buah *digampar dinosaurus* tapi bisa dipakai untuk barang-barang tanpa kuah *digampar lagi sama dinosaurus. Misalnya kalau diletakkan di meja kerja bisa diisi barang-barang printilan seperti kotak anakan staples, peniti, gelang, jam tangan, serutan pinsil, dan lain sebagainya. Tapi untuk kebutuhan di meja ruang tamu, mangkuk ini bisa dipakai sebagai wadah permen! Atau ... suka-suka kalian mau dipakai untuk apa. Lumayan kan ... unik dan dibikin sendiri. Membikinnya pun mudah.

Baca Juga: Cara Membikin Wadah Berbahan Semen dan Kaktus Batu

Itu dia #RabuDIY kali ini. Tidak panjang-panjang karena toh membikinnya juga mudah. Semoga bermanfaat!



Cheers.

Sofa Drum


Hola! Sudah #RabuDIY lagi nih. Harinya kita berkreasi sebebas-bebasnya. Hari ini tidak banyak yang bisa saya tulis karena memang yang bakal ditampilkan bukan hasil kreasi tangan saya sendiri. Tapi saya yakin setelah melihat foto-fotonya kalian yang juga tergila-gila sama dunia DIY, craft, dan lifehack, percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin *dilirik malas sama dinosaurus*. Soalnya barang DIY yang satu ini memang sulit untuk dibikin sendiri. Setidaknya kalaupun mau bikin sendiri tetap membutuhkan tenaga ahli dari bengkel. Kecualiiiii kita punya perkakasnya dan sudah terbiasa menggunakan perkakas itu. Misalnya pemotong besi.

Baca Juga: Stoples Kertas

Ini dia DIY yang dulu bikin saya gila sampai-sampai semua orang kalau ngelihat drum pasti difoto dan dikirim ke saya hahaha.

Alkisah suatu hari saya harus pergi ke Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) - FKIP - Universitas Flores (Uniflor). Kenapa saya pergi ke sana? Karena akan ada visitasi dari tim asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Kamera ready. Mari berangkat! Sekitar satu menit mengendarai sepeda motor dari parkiran Gedung Rektorat ke parkiran FKIP, hehe. Begitu tiba di ruang tamu PGSD saya terbeliak. 

Really!???

Tidak mungkiiiinnn!!!!

Jadi saya bukan orang pertama yang bakal membikinnya!????

TIDAAAAAAAAAAAAAAAK!

Ini dia penampakannya:




Sofa berbahan drum itu nongkrong dengan manisnya di ruang tamu PGSD. Manapula pilihan warnanya bikin saya pengen mengangkut sofa ini pulang ke rumah: kuning (dan hitam). Amboi, begitu melihatnya, setelah syok, langsung minta teman-teman buat fotoin, haha. Untunglah mereka juga tahu kalau selama ini saya memang tergila-gila sama dunia DIY dan sering menulis status Facebook berikut foto tentang sofa drum ini.

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Bagaimana, kawan? Kalian suka juga kan sofa drum? Atauuuu jangan-jangan di rumah kalian sudah ada pula sofa drum ini? Bagi tahu donk di komen *kedip*.



Cheers.