Produk DIY Bertebaran di TK Uniflor dan Kober Yapertif


Produk DIY Bertebaran di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Kalau kalian membaca pos kemarin, Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online, tentu kalian tahu bahwa kemarin saya berkegiatan di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Sambil bekerja, mata saya memerhatikan ruang-ruang kelas yang ditata apik di mana ada pemilahan: area drama, area sains, area balok, dan lain sebagainya. Dinding-dinding ruang kelasnya dipenuhi gambar antara lain gambarnya murid-murid dan tulisan bergambar seperti pohon tema. Selain rak-rak berisi buku, juga ada kardus berisi aneka permainan edukatif dan meja tempat memajang aneka permainan dan hasil kerajinan tangan murid-murid. Bagi saya, tempat pendidikan anak ini sangat instagenic. Manapula tembok panjang (tembok taman bermain) di depan jejeran kelas dipenuhi lukisan tokoh-tokoh kartun.

Baca Juga: Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat

Menjadi guru TK dan guru Kober tentu harus kreatif. Senin kemarin waktu merekam footage bahan pembelajaran online-nya Ibu Gin (setelah merekam Ibu Efi), pada tema ajar rumah adat kan sudah ada rumah adat yang digambar (selain maket rumah adat), Ibu Efi berinisiatif mengumpulkan daun-daun kering bakal digunakan untuk ditempel bagian atap dan dindingnya, dan dipraktekkan oleh Ibu Gin. Ini kan super kreatif. Merangsang otak anak-anak untuk lebih kreatif, sekreatif guru mereka. Iya, saya kagum sekali pada mereka.

Kembali lagi pada tema hari ini #RabuDIY, maka ijinkan saya membagitahu kepada kalian bahwa di TK Uniflor dan Kober Yapertif bertebaran produk-produk DIY yang membikin saya berkata: wow! Saya harus menulis tentang ini.

Boneka Benang Wol


Benang wol dapat kita manfaatkan untuk berbagai kerajinan tangan. Saya pernah menulis Gelang Berbahan Benang Wol Yang Mudah Dibikin Sendiri. Umumnya orang-orang tahu benang wol sebagai bahan dasar membikin kerajinan tangan kristik. Selain benang wol, menyulam kristik juga membutuhkan media yaitu kain kristik, gambar (ada buku gambar khusus kristik ini), dan sebagian orang membutuhkan pemidang. Selain kristik, benang wol dimanfaatkan untuk merajut: membikin topi, kaos kaki bayi, bahkan gelang anyaman (bukan gelang seperti yang saya bikin tetapi ini lebih rumit). Benang wol juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan lilitan botol-hias. Macam-macam manfaat benang wol ini.

Di TK Uniflor dan Kober Yapertif saya menemukan kerajinan tangan dari benang wol, tanpa repot membikinnya. Ini dia penampakannya:


Asli, saya terkejut. Ternyata bisa juga benang wol dibikin boneka tanpa harus repot ini itu. Tinggak menyatukan dua benang wol, dikasih dasi dari benang wol lainnya, dikasih mata dan hidung. Jadi deh. Sepertinya saya ingin mencoba membikinnya juga. Imut dan unik ... bikin gemaaaaas. Seru juga kalau untuk rambut dipakaikan benang wol warna hitam hehehe. Tunggu tanggal mainnya! Saat ini saya masih serius mengurus kebun mini di beranda belakang Pohon Tua dulu ya. Hehe.

Boneka Berbahan Karton/Kardus Bekas


Saat sedang merekam footage bahan pembelajaran online-nya Ibu Efi, Pak Beldis datang membawa boneka berbahan kardus bekas yang dipakaikan pakaian adat Ende yaitu lawo lambu/zawo zambu. Awalnya boneka ini tidak mempunyai wajah, hanya kepala begitu saja. Tetapi tak berapa lama Pak Beldis kembali datang dan menempel wajah pada bonekanya! Amboiiiii kreatifitas seorang guru jangan diuji. Ha ha ha. Cantik kan bonekanya?


Sumpah! Bibir saya sudah hampir bilang: bonekanya untuk saya saja, yaaaaa. Hehe. Bagus sekali ini kalau dijadikan pajangan di rumah. Kebayang kan kalau di ruang tamu ada rak kayu yang memajang boneka-boneka hasil karya sendiri alias hasil DIY. Bangga. Itu pasti. Manapula unik begitu. Sungguh, saya terpesona.


Masih banyak produk DIY lain di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Selain dua boneka di atas, saya juga melihat begitu banyak hiasan gantungan yang dibikin sendiri oleh guru-guru di sana yang mempercantik ruang kelas. Bahannya yang sederhana saja alias bisa juga dari barang daur ulang seperti sedotan dan gelas plastik yang digunting sedemikian rupa menjadi lebih cantik, lantas disatukan dengan benang dan dijadikan hiasan gantung. Saya juga melihat media pembelajaran seperti pasir, batu, dan air. Ini menarik. Selain mengenal benda alam, batu juga dimanfaatkan untuk belajar berhitung para murid.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Nah, bagian pasir, batu, dan air ini saya lupa nama areanya apa (kan ada area drama, area sains, area balok, dan lain sebagainya) tapi cantik sekali lantainya diletakkan aneka benda alam seperti itu. Nanti deh kalau ke sana lagi bakal saya foto hahaha. Maklum, memerhatikan sekeliling dilakukan sambil melaksanakan pekerjaan utama.

Bagaimana, kawan. Tertarik ingin membikin boneka seperti dua gambar di atas? Yuuuuk ... tidak pernah merugi mencoba hal-hal bermanfaat.

#RabuDIY



Cheers.

Produk DIY Bertebaran di TK Uniflor dan Kober Yapertif


Produk DIY Bertebaran di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Kalau kalian membaca pos kemarin, Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online, tentu kalian tahu bahwa kemarin saya berkegiatan di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Sambil bekerja, mata saya memerhatikan ruang-ruang kelas yang ditata apik di mana ada pemilahan: area drama, area sains, area balok, dan lain sebagainya. Dinding-dinding ruang kelasnya dipenuhi gambar antara lain gambarnya murid-murid dan tulisan bergambar seperti pohon tema. Selain rak-rak berisi buku, juga ada kardus berisi aneka permainan edukatif dan meja tempat memajang aneka permainan dan hasil kerajinan tangan murid-murid. Bagi saya, tempat pendidikan anak ini sangat instagenic. Manapula tembok panjang (tembok taman bermain) di depan jejeran kelas dipenuhi lukisan tokoh-tokoh kartun.

Baca Juga: Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat

Menjadi guru TK dan guru Kober tentu harus kreatif. Senin kemarin waktu merekam footage bahan pembelajaran online-nya Ibu Gin (setelah merekam Ibu Efi), pada tema ajar rumah adat kan sudah ada rumah adat yang digambar (selain maket rumah adat), Ibu Efi berinisiatif mengumpulkan daun-daun kering bakal digunakan untuk ditempel bagian atap dan dindingnya, dan dipraktekkan oleh Ibu Gin. Ini kan super kreatif. Merangsang otak anak-anak untuk lebih kreatif, sekreatif guru mereka. Iya, saya kagum sekali pada mereka.

Kembali lagi pada tema hari ini #RabuDIY, maka ijinkan saya membagitahu kepada kalian bahwa di TK Uniflor dan Kober Yapertif bertebaran produk-produk DIY yang membikin saya berkata: wow! Saya harus menulis tentang ini.

Boneka Benang Wol


Benang wol dapat kita manfaatkan untuk berbagai kerajinan tangan. Saya pernah menulis Gelang Berbahan Benang Wol Yang Mudah Dibikin Sendiri. Umumnya orang-orang tahu benang wol sebagai bahan dasar membikin kerajinan tangan kristik. Selain benang wol, menyulam kristik juga membutuhkan media yaitu kain kristik, gambar (ada buku gambar khusus kristik ini), dan sebagian orang membutuhkan pemidang. Selain kristik, benang wol dimanfaatkan untuk merajut: membikin topi, kaos kaki bayi, bahkan gelang anyaman (bukan gelang seperti yang saya bikin tetapi ini lebih rumit). Benang wol juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan lilitan botol-hias. Macam-macam manfaat benang wol ini.

Di TK Uniflor dan Kober Yapertif saya menemukan kerajinan tangan dari benang wol, tanpa repot membikinnya. Ini dia penampakannya:


Asli, saya terkejut. Ternyata bisa juga benang wol dibikin boneka tanpa harus repot ini itu. Tinggak menyatukan dua benang wol, dikasih dasi dari benang wol lainnya, dikasih mata dan hidung. Jadi deh. Sepertinya saya ingin mencoba membikinnya juga. Imut dan unik ... bikin gemaaaaas. Seru juga kalau untuk rambut dipakaikan benang wol warna hitam hehehe. Tunggu tanggal mainnya! Saat ini saya masih serius mengurus kebun mini di beranda belakang Pohon Tua dulu ya. Hehe.

Boneka Berbahan Karton/Kardus Bekas


Saat sedang merekam footage bahan pembelajaran online-nya Ibu Efi, Pak Beldis datang membawa boneka berbahan kardus bekas yang dipakaikan pakaian adat Ende yaitu lawo lambu/zawo zambu. Awalnya boneka ini tidak mempunyai wajah, hanya kepala begitu saja. Tetapi tak berapa lama Pak Beldis kembali datang dan menempel wajah pada bonekanya! Amboiiiii kreatifitas seorang guru jangan diuji. Ha ha ha. Cantik kan bonekanya?


Sumpah! Bibir saya sudah hampir bilang: bonekanya untuk saya saja, yaaaaa. Hehe. Bagus sekali ini kalau dijadikan pajangan di rumah. Kebayang kan kalau di ruang tamu ada rak kayu yang memajang boneka-boneka hasil karya sendiri alias hasil DIY. Bangga. Itu pasti. Manapula unik begitu. Sungguh, saya terpesona.


Masih banyak produk DIY lain di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Selain dua boneka di atas, saya juga melihat begitu banyak hiasan gantungan yang dibikin sendiri oleh guru-guru di sana yang mempercantik ruang kelas. Bahannya yang sederhana saja alias bisa juga dari barang daur ulang seperti sedotan dan gelas plastik yang digunting sedemikian rupa menjadi lebih cantik, lantas disatukan dengan benang dan dijadikan hiasan gantung. Saya juga melihat media pembelajaran seperti pasir, batu, dan air. Ini menarik. Selain mengenal benda alam, batu juga dimanfaatkan untuk belajar berhitung para murid.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Nah, bagian pasir, batu, dan air ini saya lupa nama areanya apa (kan ada area drama, area sains, area balok, dan lain sebagainya) tapi cantik sekali lantainya diletakkan aneka benda alam seperti itu. Nanti deh kalau ke sana lagi bakal saya foto hahaha. Maklum, memerhatikan sekeliling dilakukan sambil melaksanakan pekerjaan utama.

Bagaimana, kawan. Tertarik ingin membikin boneka seperti dua gambar di atas? Yuuuuk ... tidak pernah merugi mencoba hal-hal bermanfaat.

#RabuDIY



Cheers.

Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat


Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat. Hari berganti hari, ketemu lagi sama Hari Rabu. Harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. Sudah banyak hal dari dunia Do It Yourself (DIY) yang dibahas setiap Rabu. Mulai dari desk organizer, lilin berbentuk telur, mangkuk berbahan celana jin bekas, kafe-kafe berkonsep DIY seperti Kafe Hola dan Kedai Kampung Endeisme, aktifis seni daur ulang bernama Thomas Dambo, tempat-tempat tisu dan keranjang anyaman berbahan koran bekas, bunga gantung berbahan pantat botol plastik bekas, aneka kerajinan tangan berbahan kancing, huruf timbul BlogPacker, tas berbahan celana jin bekas, tempat/dompet koin berbahan botol plastik dan zipper, membikin permainan Monotuteh yang edukatif, sampai tentang membikin sendiri kebun mini di beranda belakang Pohon Tua.

Baca Juga: Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua

Saya berharap semua pos tentang dunia DIY bermanfaat bagi teman-teman. Misalnya, setelah membacanya, teman-teman langsung kepikiran untuk segera membikinnya. Kan asyik. Barang bekas bisa jadi sangat bermanfaat dan mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi sehingga dapat dijual. Oh tentu, saya sudah membuktikannya. Kalau diceritakan lagi, bisa panjang banget pos hari ini. Kita lanjut saja ya.

Kali ini saya bakal menulis tentang tutup botol plastik. Rata-rata masyarakat membuang botol plastik beserta tutup botolnya. Iyalah, kata Fico SUCI 3 itu, botol dan tutup botol selalu bersama sampai kemudian dia membeli air minum, lantas memisahkan botol dan tutup botolnya. Hehe. Kocak memang materi itu. Anyhoo, sebenarnya tutup botol plastik ini dapat dimanfaatkan untuk membikin berbagai produk DIY menarik. Produk apa sih yang bisa dihasilkan dari tutup botol plastik? Kalau kalian menonton di Youtube, tutup botol dapat dimanfaatkan sebagai tatakan gelas, penjepit sumpit bagi yang susah menggunakan sumpit, dapat pula dijadikan gantungan kunci, atau barang-barang DIY lainnya. Tapi saya memanfaatkan tutup botol plastik sebagai tempat alat tulis.


Modelnya: Kakak Flora Wodangange hahaha, penyanyi bersuara kece. Waktu main ke rumah, ngelihat tempat alat tulis berbahan tutup botol yang saya bikin. Gemas ... hehe.

Apa saja alat dan bahan yang dibutuhkan, serta bagaimana cara membikinnya? Melihat gambar di atas saya pikir kalian pasti tahu lah cara membikinnya.

Bahan:
1. Tutup botol.
2. Hot glue (gun).

Alat:
1. Gun for hot glue.

Haha.

Cara membikin:
Pertama-tama cuci bersih tutup botol plastik dan keringkan. Kemudian, mulai susun dasarnya terlebih dahulu membentul bulatan/lingkaran. Untuk menyatukan tutup botol, gunakan hot glue. Setelah itu, mulai bangun ke atas pelan-pelan mengelilingi dasar atau alasnya tersebut. Ukur ketinggian menggunakan alat tulis. Maksudnya, jangan sampai terlalu tinggi karena ini bukan membikin tempat sampah *ngikik*. Kalau sudah selesai, maka tempat alat tulis berbahan tutup botol plastik ini dapat digunakan. Apakah boleh dicat atau dipiloks? Tergantung kemauan kalian. Mana-mana suka.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Bagaimana, kawan? Mudah bukan? Mulai sekarang, jangan pernah membuang botol plastik bekas. Karena apa? Karena kita bisa berkreasi sepuas-puasnya menggunakan botol plastik bekas ini. Botolnya bisa dimanfaatkan sebagai pot tanaman atau untuk menyemai bibit (saya melakukannya untuk bibit daun sop), sedangkan tutup botolnya dapat dimanfaatkan untuk aneka kerajinan tangan. Kalian coba deh mencari di Google, tentang sebuah rumah yang artistik karena seluruh dindingnya dilapisi sama tutup botol dengan gradasi warna yang cantik!

Semoga bermanfaat.

#RabuDIY



Cheers.

Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat


Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat. Hari berganti hari, ketemu lagi sama Hari Rabu. Harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. Sudah banyak hal dari dunia Do It Yourself (DIY) yang dibahas setiap Rabu. Mulai dari desk organizer, lilin berbentuk telur, mangkuk berbahan celana jin bekas, kafe-kafe berkonsep DIY seperti Kafe Hola dan Kedai Kampung Endeisme, aktifis seni daur ulang bernama Thomas Dambo, tempat-tempat tisu dan keranjang anyaman berbahan koran bekas, bunga gantung berbahan pantat botol plastik bekas, aneka kerajinan tangan berbahan kancing, huruf timbul BlogPacker, tas berbahan celana jin bekas, tempat/dompet koin berbahan botol plastik dan zipper, membikin permainan Monotuteh yang edukatif, sampai tentang membikin sendiri kebun mini di beranda belakang Pohon Tua.

Baca Juga: Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua

Saya berharap semua pos tentang dunia DIY bermanfaat bagi teman-teman. Misalnya, setelah membacanya, teman-teman langsung kepikiran untuk segera membikinnya. Kan asyik. Barang bekas bisa jadi sangat bermanfaat dan mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi sehingga dapat dijual. Oh tentu, saya sudah membuktikannya. Kalau diceritakan lagi, bisa panjang banget pos hari ini. Kita lanjut saja ya.

Kali ini saya bakal menulis tentang tutup botol plastik. Rata-rata masyarakat membuang botol plastik beserta tutup botolnya. Iyalah, kata Fico SUCI 3 itu, botol dan tutup botol selalu bersama sampai kemudian dia membeli air minum, lantas memisahkan botol dan tutup botolnya. Hehe. Kocak memang materi itu. Anyhoo, sebenarnya tutup botol plastik ini dapat dimanfaatkan untuk membikin berbagai produk DIY menarik. Produk apa sih yang bisa dihasilkan dari tutup botol plastik? Kalau kalian menonton di Youtube, tutup botol dapat dimanfaatkan sebagai tatakan gelas, penjepit sumpit bagi yang susah menggunakan sumpit, dapat pula dijadikan gantungan kunci, atau barang-barang DIY lainnya. Tapi saya memanfaatkan tutup botol plastik sebagai tempat alat tulis.


Modelnya: Kakak Flora Wodangange hahaha, penyanyi bersuara kece. Waktu main ke rumah, ngelihat tempat alat tulis berbahan tutup botol yang saya bikin. Gemas ... hehe.

Apa saja alat dan bahan yang dibutuhkan, serta bagaimana cara membikinnya? Melihat gambar di atas saya pikir kalian pasti tahu lah cara membikinnya.

Bahan:
1. Tutup botol.
2. Hot glue (gun).

Alat:
1. Gun for hot glue.

Haha.

Cara membikin:
Pertama-tama cuci bersih tutup botol plastik dan keringkan. Kemudian, mulai susun dasarnya terlebih dahulu membentul bulatan/lingkaran. Untuk menyatukan tutup botol, gunakan hot glue. Setelah itu, mulai bangun ke atas pelan-pelan mengelilingi dasar atau alasnya tersebut. Ukur ketinggian menggunakan alat tulis. Maksudnya, jangan sampai terlalu tinggi karena ini bukan membikin tempat sampah *ngikik*. Kalau sudah selesai, maka tempat alat tulis berbahan tutup botol plastik ini dapat digunakan. Apakah boleh dicat atau dipiloks? Tergantung kemauan kalian. Mana-mana suka.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Bagaimana, kawan? Mudah bukan? Mulai sekarang, jangan pernah membuang botol plastik bekas. Karena apa? Karena kita bisa berkreasi sepuas-puasnya menggunakan botol plastik bekas ini. Botolnya bisa dimanfaatkan sebagai pot tanaman atau untuk menyemai bibit (saya melakukannya untuk bibit daun sop), sedangkan tutup botolnya dapat dimanfaatkan untuk aneka kerajinan tangan. Kalian coba deh mencari di Google, tentang sebuah rumah yang artistik karena seluruh dindingnya dilapisi sama tutup botol dengan gradasi warna yang cantik!

Semoga bermanfaat.

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua


Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua. Salah satu cara memutus rantai penyebaran Covid-19 bagi para pekerja kantoran adalah work from home. Sedapat mungkin pekerjaan dilakukan di rumah dan dari rumah. Namun, apabila terpaksa harus keluar rumah, maka harus dilakukan dengan mematuhi protokol perlindungan diri, yang dilakukan juga demi perlindungan orang lain, yaitu dengan memakai masker, menjaga jarak, dan tidak boleh menyentuh wajah sebelum mencuci tangan minimal dua puluh detik dan/atau membasuh tangan dengan hand sanitizer. Protokol perlindungan diri ini insha Allah selalu kami lakukan, termasuk untuk siapa saja yang masuk ke dalam Pohon Tua, rumah kami, mereka wajib membersihkan tangan dengan sabun atau hand sanitizer.


Kembali lagi pada work from home. Apakah asyik? Ya, asyik! Tidak perlu harus mandi terlebih dulu, bisa dilakukan dengan mengenakan pakaian rumah, dan seringnya dilakukan di kamar karena laptop (dan meja kerja) berada di kamar. Asyik lainnya adalah bisa mengisi waktu kosong karena durasi pekerjaan tidak memakan waktu sampai delapan jam sehari seperti kehadiran kita di kantor pada hari-hari normal. Waktu kosong itu saya manfaatkan dengan melakukan berbagai kegiatan. Salah satunya adalah berkebun (mini) di beranda belakang Pohon Tua. Kenapa saya sebut beranda, bukan halaman? Karena halaman Pohon Tua itu letaknya di samping-belakang, berdekatan dengan jalan, sedangkan bagian belakang Pohon Tua itu betul-betul seperti beranda di mana ada bekas dapur anak kos zaman dulu, bak penampung air, hingga tempat menjemur pakaian yang tanahnya dilapisi semen. Tanah yang tersisa hanya sekitar 1 x 1 meter saja (yang tidak dilapisi semen), serta di bagian pojok/sudut atas.


Berkebun bukan baru pertama kali ini saya lakukan. Dulu juga sudah saya lakukan dan telah membuahkan hasil yang dinikmati oleh banyak orang. Tanaman daun sop sudah dibagi-bagi kepada siapa pun yang memintanya, cabe sudah dinikmati hampir setiap hari, cocor bebek dan daun mengkudu diminta sama yang membutuhkan untuk obat, dan lidah buaya telah saya pergunakan untuk dikonsumsi sebagai penurun kadar gula dalam darah. Selain itu lidah buaya saya oleskan pada bekas-bekas luka yang menghitam. Haha. Gini hareeee masih ada bekas luka, main di parit lu, Teh? Sayangnya waktu itu tomat tidak bisa dinikmati karena hama dari Negara Api menyerang. Sayur sawi yang mulai mekar hancur ... entah akibat perbuatan siapa. Dududud.




Tahun 2020 saya kembali membakar semangat. Hahahaha.

Berawal dari suatu hari saat saya kembali menyalakan api asmara ingin bercengkerama dengan aneka tanaman. Maka saya mengisi lima polybag dengan tanah setelah meminta bibit tanaman pada Cahyadi. Tanahnya diambil dari samping-belakang Pohon Tua. Cahyadi datang membawa bibit-bibit untuk ditanam antara lain terong, cabe, dan sawi. Tetapi dua minggu berlalu, tidak ada satu pun tanda-tanda kehidupan dari polybag tersebut. Miris. Artinya tanah itu tidak mampu menopang pertumbuhan bibit. Apa yang tidak saya ketahui adalah bahwa pada hari itu juga, selain menanam bibit terong, cabe, dan sawi, diam-diam Cahyadi pergi ke beranda belakang Pohon Tua untuk menanam sorgum dan marungge (kelor) pada sekitar 1 x 1 meter tanah sisa itu. Inilah sumber segala sumber kegilaan saya ... kemudian. Sorgum dan marungge tumbuh menjulang tanpa kami sadari! Amboiiiiii.


Bibit terong, cabe, dan sawi itu memang tidak tumbuh. Tapi saya tidak menyerah. Saya harus bisa menumbuhkan tanaman di tahun ini! Tahun pandemi Covid-19! Melihat itu, Cahyadi (mungkin) merasa kasihan, maka dia membawakan saya tujuh polybag kecil anakan tanaman. Dua anakan terong, satu anakan cabe, dan empat anakan marungge. Duh, tujuh polybag itu saya sayang-sayang seperti pacar sendiri.

Bermodal tujuh polybag dan semangat yang menggila, saya mengajak Thika Pharmantara dan Melly untuk membenahi beranda belakang. Rak pot bunga berbahan kayu yang berada di teras Pohon Tua dipindah ke beranda belakang, berdekatan dengan bak air yang sudah tidak terpakai itu. Polybag sudah disiapkan. Tanahnya? Saya pun meminta tanah pada Abang Umar Hamdan, pentolannya Anak Cinta Lingkungan (ACIL). Dapat satu karung! Horeeee. Abang Umar sampai terkekeh mendengar permintaan tanah (subur). Orang lain minta tanah berhektar-hektar, saya minta tanah sekarung buat tanaman. Ya mau bagaimana lagi? Semangat ada, bibit ada, lahan tidak ada. Tapi selama masih ada polybag dan tanah, mari lanjutkan.


Cahyadi datang membawa tas berkebunnya yang berisi: aneka bibit dan dua sendok semen. Sore yang hangat itu kami menanam bibit terong, bibit cabe, bibit tomat. Ketiganya kami beli bibitnya di Toko Sabatani (yang murah, per bungkus hanya 2K saja). Lantas, Cahyadi menanam bawang putih di dua  polybag, dan bibit bengkoang di tanah sisa sebelah sudut atas. Kemudian, kami membeli lagi bibit sawi, kali ini yang dalam kemasan pabrik, agak mahalan sih harganya. Dan ... tentu saja kembali mendapat hibah sekarung tanah dari Abang Umar Hamdan. Mari, lanjut menanam.

Baca Juga: Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah

Apa saja yang kami tanam? Bibit sawi, wortel, bawang merah, kentang, ubi tatas, hingga batang kangkung yang daunnya sudah dipakai memasak! Haha. Eits jangan salah ... tumbuh bagus loh kangkungnya. Saat saya menulis ini, bibit-bibit sudah tumbuh baik, dan saya sudah memindahkan terong pemberian Cahyadi ke wadah yang lebih besar karena si terong memang tumbuh besar!

 Terong dan cabe yang sudah dipindah ke polybag besar.

Terong dan cabe waktu masih di polybag kecil. 

Bengkoang yang mulai disentuh sinar matahari. 

Kangkungnya tumbuh, gengs. Padahal cuma dari batang sisa. 

Bibit sawi yang bermunculan ini bikin bahagia. 

Dan ini anakan terung dari bibit 2K, yang ternyata ... tumbuh.

Kalau yang dipanah itu, bawang putih.

Yang belum bisa saya foto karena memang belum nampak hasilnya. Hehe. Tapi, asli, saya bahagia melihat tanaman-tanaman ini tumbuh.

Berbekal pengalaman sebelum-sebelumnya, serta melihat cuaca (saat ini sering turun hujan), maka saya menerapkan pola yang berbeda untuk tanaman-tanaman yang masih mini ini. Setiap tanaman tentu membutuhkan sinar matahari untuk berfotosintesis dan membuat makanan. Tanpa cahaya matahari, susah sekali tanaman bisa tumbuh. Sinar buatan dari cahaya lampu tidak akan sama dengan sinar matahari yang alami dan gratis. Haha. Tanaman juga membutuhkan air, tetapi kalau kebanyakan air, bisa rusak pula tanaman itu. Apalagi yang basi baby begitu! Jadi, polanya adalah setiap pagi semua polybag akan dikeluarkan dari bagian beratap agar mereka terpapar sinar matahari. Kecuali kangkung yang memang kami biarkan saja di rak kayu butut itu. Setiap sore, semua polybag bakal kami simpan kembali ke bagian beratap untuk menghindari hujan di malam hari. Pola ini akan terus dilakukan sampai semua tanaman besar dan cukup kuat untuk menahan air hujan.

Capek donk? Memang! Tapi di dunia ini tidak ada pekerjaan yang tidak membikin capek. Dan percayalah, capek itu nantinya akan dibalas dengan hasil yang insha Allah baik.

Baca Juga: Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan

Gara-gara kebun mini di beranda belakang Pohon Tua saya jadi punya aktivitas yang betul-betul baru dan rutin. Setiap pagi, bergantian dengan Thika dan Melly, memindahkan polybag agar tanaman terpapar sinar matahari. Setiap dua jam sekali saya kembali ke sana untuk memercik semua polybag dengan air. Sore hari, setelah disiram air, semua polybag dimasukkan lagi ke bagian beranda yang beratap. Ini aktivitas rutin yang menyenangkan karena setiap pagi selalu ada kejutan baru dari setiap tanaman. Ada yang tumbuh besar, ada pula yang mengintip malu-malu dari tanah. Sebagai 'orangtua' tentu saya senang (bahagia lebih tepatnya) melihat pertumbuhan mereka.

Berikutnya kami akan coba menanam jahe, kunyit, dan kawan-kawan se-geng-nya.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Di rumah saja jadi punya banyak waktu kan? Ayo berkebun. Jangan bilang kalian tidak punya lahan. Berkebun tidak selamanya harus punya lahan. Selama masih ada polybag/wadah dan tanah yang bisa diminta (tanah subur), tentu kita bisa berkebun mini. Kalau saya yang lebih suka nge-game ini bisa ... kalian juga bisa. Kebun mini mungkin tidak bisa menghidupi kita setiap hari, tetapi suatu saat dia pasti akan menjadi kebanggaan. Iya, bangga ... ketika sayur yang ada di piring itu berasal dari kebun mini sendiri.

Semoga bermanfaat!

#RabuDIY



Cheers.

Kalau Tahu 5-Minutes Crafts Harus Tahu TheSoul Publishing

Kalau Tahu 5-Minutes Crafts Harus Tahu TheSoul Publishing. Do It Yourself (DIY). Dunia DIY pasti berhubungan dengan dunia craft dan life hack. Craft adalah kerajinan tangan. Life hack adalah tips sederhana tapi jitu untuk mengatasi masalah dalam keseharian umat manusia. Contoh craft adalah menyulam, membatik, menenun, membikin hiasan dinding berbahan keping CD, membikin pot bunga berbahan botol plastik, membikin keset dari handuk bekas, membikin dompet berbahan bungkus plastik (minuman) sasetan, hingga membikin bunga dari tali rafia dan tas kresek. Contoh life hack adalah memanfaatkan kaleng bekas minuman untuk merontokkan bulir jagung dari tongkol jagungnya, menggunakan lipatan kertas untuk membuka tutup botol kaca, memanfaatkan daun pepaya untuk mengusir nyamuk, hingga membersihkan barang berkarat dengan cara merendamnya dalam cairan berkola.

Baca Juga: Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah

Saya, kalian, mereka, pasti setidaknya satu kali dalam hidup pernah menonton tentang dunia DIY yang berhubungan dengan craft dan life hack ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa 5-Minutes Crafts merupakan salah satu tayangan yang paling banyak mengulas tentang dunia DIY, craft, life hack. Kalau di-Indonesia-kan menjadi Kerajinan Tangan 5 Menit, meskipun untuk membikinnya membutuhkan waktu lebih dari lima menit. Saya mulai menonton video-video 5-Minutes Crafts dari media sosial Instagram, kemudian berlanjut ke Youtube. Awal mula mengetahui tentang 5-Minutes Crafts saat saya mulai terobsesi dengan dunia DIY. Waktu itu saya terus memperbarui pengetahuan tentang membikin sesuatu terutama berbahan barang bekas. Tak cukup sampai di situ, 5-Minutes Crafts kemudian punya sub-sub seperti Girly, Man, Kids, dan lain sebagainya.

Tapi tahukah kalian siapa dan/atau apa yang berada di balik tayangan-tayangan 5-Minutes Crafts? Sekarang ... saatnya kalian tahu.

TheSoul Publishing


5-Minutes Crafts tidak terlepas dari perusahaan bernama TheSoul Publishing. Penulisannya memang begitu, The dan Soul tidak dipisah. Dirilis dari situsnya, TheSoul Publishing adalah studio digital independen yang menghasilkan konten asli yang menyenangkan, informatif, dan menginspirasi audiens global. TheSoul Publishing merupakan salah satu perusahaan media online paling produktif dan populer di dunia dan menjangkau ratusan juta pengikut di Facebook dan pelanggan Youtube. Tim kreatif TheSoul Publishing berbasis global memberikan konten yang menarik untuk semua umur dalam delapan belas bahasa yang berbeda, didistribusikan melalui jaringan lintas platform yang digerakkan oleh media sosial.

Mulai dari hack yang praktis hingga proyek kerajinan yang cerdas, dari kiat kecantikan yang memusingkan hingga teka-teki yang memusingkan otak. Portofolio merek media TheSoul Publishing menekankan hal-hal positif, praktis, dan murni menghibur. Saluran TheSoul Publishing yang paling banyak ditonton adalah, tentu saja, 5-Minute Crafts. 5-Minute Crafts adalah merek dan/atau brand digital DIY nomor satu di dunia dan menempati peringkat di antara Top-5 dari semua Saluran YouTube. Makanya tidak salah saya menulis judul: Kalau Tahu 5-Minutes Crafts Harus Tahu TheSoul Publishing. Karena, 5-Minutes Crafts ini benar-benar jawara.

Selain 5-Minutes Crafts, TheSoul Publishing juga memproduksi konten/saluran lain seperti Bright Side, 7-Second Riddles, Actually Happened, 123 Go!, Avocado Couple, Frankenfood, Slick Slime Sam dam Doodland. Makanya tidak heran ketika melihat logo Bright Side, saya langsung teringat sama 5-Minutes Crafts ... bohlam! Dan sumpah, baru hari ini saya mengetahui koneksi antara keduanya. Mereka sama-sama diproduksi oleh TheSoul Publishing. Oalah ... hahaha.

Ide, Tim, dan Kerja Keras


Menonton video-video milik TheSoul Publishing di Youtube saya percaya bahwa di belakang layar ada banyak tim yang bekerja keras. Tim ini pasti dibagi berdasarkan salurannya masing-masing. Bahkan satu saluran, menurut saya, bisa terdiri dari banyak tim. Misalnya 5-Minutes Crafts yang terbagi dalam Girly, Man, Kids, pasti punya tim-nya masing-masing. Setiap tim pasti mempunyai orang-orang yang dijuluki tim kreatif. Ideas Team. Merekalah yang harus memutar otak untuk setiap kontennya, merekalah yang harus bekerja keras mewujudkan ide tersebut, merekalah yang harus pandai mengatur kanal kategori.

Kanal kategori?

Iya, itu bahasa yang saya gunakan.

Karena, dari setiap video 5-Minutes Crafts yang saya nonton, ada beberapa video yang sama, yang pernah tayang pada video lainnya. Kanal kategori ini penting sehingga mereka cukup membikin satu dua video baru untuk kategori yang sama, dan bisa menambahkan video-video yang sudah ada, asal kategorinya sama. Tapi bukan berarti mereka asal comot, ada kerja keras di situ. Memilah video, menyambungnya, menyunting ini itu, bukan perkara mudah, terutama untuk video berdurasi sampai puluhan menit.


Betapa beruntungnya saya, kalian, mereka, karena tahu tentang 5-Minutes Crafts dan saluran lain milik TheSoul Publishing. Apa saja yang sudah saya pelajari dari 5-Minutes Crafts? Hwah, banyak sekali, gengs. Menjadikan BH sebagai masker, membikin tas berbahan keping CD, membikin kursi/bangku dari rak telur, membikin makanan raksasa, nge-prank teman dengan makanan palsu, bagaimana caranya agar kemping jadi lebih menyenangkan, betapa menyenangkannya berkebun itu, memanfaatkan lem bakar untuk berbagai keperluan hidup, hingga menggunakan sendok untuk menggambar alis mata. Haha. Macam-macam ide kreatif mereka. Ada yang bisa kita tiru, ada yang tidak. Tergantung tingkat kesulitan masing-masing.

Baca Juga: Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan

Bagaimana dengan kalian, kawan? Pernahkan kalian membikin apa-apa yang kalian nonton dari 5 Minutes Crafts? Yang jelas, segala sesuatu yang beraroma DIY selalu menarik perhatian saya. Kami pernah membakar ayam di api unggun menggunakan aluminium foil. Haha. Gara-gara 5-Minutes Crafts itu! Ya ya ya sudah dulu ... nanti tidak selesai-selesai ceritanya. Yang jelas, hari ini kita semua tahu sesuatu di balik nama besar 5-Minutes Crafts. Mari ... ber-DIY-ria!

#RabuDIY



Cheers.

Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan


Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan. Pada akhirnya, setelah mahasiswa Uniflor dirumahkan, giliran dosen dan karyawan Uniflor dirumahkan. Dirumahkan tidak sama dengan liburan. Artinya, mahasiswa tetap belajar, dosen tetap mengajar, dan karyawan tetap bekerja. Tapi semua dilakukan dari rumah. Study from home. Work from home. Kurangi aktivitas di luar rumah.


Apabila ada pekerjaan yang wajib dikerjakan oleh dosen dan karyawan antara tanggal 23 Maret 2020 sampai 4 April 2020, bersifat mendesak dan atas perintah atasan, maka dosen dan karyawan Uniflor harus mengikuti perintah pekerjaan tersebut. Sesuai dengan situasi yang terjadi, di rumah saja, salah satunya, bisa lebih cepat memutus rantai penyebaran virus Corona.


Dua minggu di rumah saja, bukan liburan, tentu bisa menimbulkan kebosanan. Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan selama masa 'karantina diri sendiri' ini. Berkebun di kebun mini merupakan salah satunya. Yang paling asyik tentu menonton drama Korea, filem-filem terkini, serta membaca buku. Siapa tahu ada buku di lemari buku kalian yang pembungkus plastiknya masih utuh. Perlu dibuka! Bacalah! Mengisi waktu luang ini. Ada pula pekerjaan lain yang bisa dilakukan seperti membersihkan kulkas, membersihkan kamar mandi, menata ulang kamar, menata ulang ruang tamu, dan lain sebagainya. Eits, bagi pecinta kerajinan tangan, tentu di rumah saja memberi begitu banyak waktu untuk berkreasi sepuas-puasnya.

Karena banyak bahan baku kerajinan tangan yang tertinggal di kantor seperti koran dan kardus, tentu saya belum bisa membikin tutorial baru membikin desk organizer atau keranjang koran. Makanya hari ini saya hanya ingin berbagi foto tiga desk organizer mini yang benar-benar menggemaskan dan saya tidak tahu di mana kah mereka sekarang. Haha. Sudah diberikan kepada orang lain hanya saja saya lupa kepada siapa. Semoga bermanfaat bagi mereka yang menerimanya.

Ada tiga desk organizer mini yang saya bikin disela-sela membikin barang lainnya. Ini dia penampakannya:




Mini memang, tapi punya kekuatan yang cukup untuk menampung barang-barang modal kerja. Seperti yang kalian lihat di atas.

Baca Juga: Monotuteh

Mumpung di rumah saja, kalian juga bisa coba membikinnya karena bahan-bahannya tidak perlu banyak banget:

1. Kotak susu atau gulungan tisu.
2. Kardus untuk alas.
3. Pembungkus (kertas majalah juga boleh).

Silahkan berkreasi sepuas-puasnya, gengs!

#RabuDIY



Cheers.

Keranjang Serbaguna Merah Cantik Pesanan Mama Emmi


Keranjang Serbaguna Merah Cantik Pesanan Mama Emmi. Ketemu lagi di #RabuDIY. Harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. Kali ini saya mau bercerita tentang produk Do It Yourself (DIY) berbentuk keranjang. Hyess, lihat gambar di atas. Keranjang tersebut dipesan oleh Mama Emmi Gadi Djou saat saya masih sangat rajin dan produktif mendaur ulang sampah. Hehe. Kalian pasti tidak menyangkan bahwa keranjang merah cantik di atas berbahan koran dan kardus kan? Perihal pita, sebenarnya tidak saya pakaikan pita. Tetapi ketika mata saya menangkap pita emas di dos pita, diaplikasikan pada keranjang ini, ternyata hasilnya bagus. Trada ... jadi deh si keranjang merah cantik.

Baca Juga: Bunga Dinding

Bagaimana tata cara membikin keranjang tersebut? Mudah. Kalian bisa membaca pos berjudul Bakets ini. Apabila kalian masih kesulitan juga, boleh request di komen untuk saya membikin tutorialnya baik tulisan maupun video. Ehem. Artinya ... saya bakal kembali rajin ber-DIY-ria nih? Sepertinya begitu. Hehe. Karena, ketika sisa keranjang warna hijau dipakai Meli untuk mengisi segala macam barang (roti, mentega, keju, stoples sosis, dan lain sebagainya) di atas meja makan, kelihatannya juga cantik. Kecantikan yang sama juga saya lihat saat berkunjung ke rumah Mama Emmi. Dua keranjang merah itu bertengger manis di atas meja makan.

Dalam waktu dekat, teman-teman beragama Katolik akan merayakan Paskah. Saya berniat menjual telur paskah hiasan. Otomatis sudah mulai mempersiapkan bahan-bahannya terutama telur! Haha. Selain telur, saya juga bakal menjual lilin berbentuk telur. Warna-warni. Semoga saat percobaan nanti tidak mengalami kegagalan yang berarti *dicibir dinosaurus*. Sedangkan teman-teman beragama Islam juga bakal memasuki Bulan Ramadhan. Eng ing eng ... siapa pun yang membutuhkan keranjang anyaman untuk berbagai keperluan, boleh pesan di saya.

Jualaaaaan!

Ember. Jualan di blog sendiri bukan dosa. Haha. 

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Terus, apa inti pos ini? Tidak ada. Haha. Cuma mau pamer pada kalian tentang keranjang cantik di atas, sekaligus jualan. Bagi teman-teman beragama Katolik, selain telur, keranjang juga bisa dipesan sebagai wadah telur Paskah hias. Tetapi tentunya ini berlaku untuk teman-teman yang ada di Kota Ende dan sekitarnya saja, ya.

Semoga bermanfaat dan semoga ... tertarik! Haha.



Cheers.

Barang-Barang DIY Kece di Kedai Kampung Endeisme


Barang-Barang DIY Kece di Kedai Kampung Endeisme. Adalah pilihan tepat ketika pada awal tahun 2019 saya mengubah tema #RabuLima menjadi #RabuDIY. Mengubah tema harian blog gampang-gampang susah. Saya harus mandi kembang, bertapa, melakukan perjalanan ke Barat mencari kitab suci, menimbang ini itu terlebih dahulu, barulah mengambil keputusan. Bagi kalian yang bingung soal tema harian di blog ini, nonton video berikut:


Mengapa saya menulis adalah pilihan tepat ketika pada awal tahun 2019 saya mengubah tema #RabuLima menjadi #RabuDIY? Pertama: dunia Do It Yourself (DIY) adalah dunia kreativitas tanpa batas. Kedua: saya sendiri punya renjana di dunia DIY dan pernah meraup keuntungan Jutaan Rupiah hanya bermodalkan sampah seperti koran, majalah, botol plastik, kardus, hingga kaleng. Terbukti, tema #RabuDIY masih bertahan hingga saat ini. And I love it so much. Come on, guys, begitu banyak barang bernilai ekonomi lebih tinggi dari barang (dasar) yang sudah ingin dibuang ke tempat sampah. Yang dibutuhkan hanyalah percikan kreativitas.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Kemarin sore saya dan teman-teman; Violin, Oedin, Cahyadi, Al, pergi ke sebuah kedai bernama Kedai Kampung Endeisme. Cerita lengkap tentang kedai ini bakal saya pos di Hari Senin. Videonya sendiri bakal saya pos Jum'at besok di Youtube. Hari ini saya hanya mau bercerita pada kalian, bahwa di sebuah kedai mungil yang lokasinya pun tidak di pusat Kota Ende, kalian akan menemukan begitu banyak barang-barang bernilai seni tinggi dan spot-spot instagenic untuk keperluan foto yang bakal dipos di Instagram. Awal waktu diundang ke sana oleh pemiliknya, ekspetasi saya biasa-biasa saja. Ternyata saya salah! Memalukan sekali saya ini hahaha.

Barang-barang DIY ada di Kedai Kampung Endeisme akan berbicara melalui foto-foto di bawah ini.


Dari depan sudah terlihat dengan sangat jelas bahwa Kedai Kampung Endeisme memang berkonsep #DIY. Mulai dari papan namanya sampai bangku-bangku berbahan ember bekas cat.


Selain bangku-bangku berbahan ember bekas cat, dan kayu-kayu bekas, juga ada bangku yang satu ini, yang dialas dengan karung goni. Apa nama karung ini di daerah kalian? Kalau kami sih menyebutnya karung goni hahaha. Karung goni jangan disepelekan loh, saat ini karung goni dimanfaatkan sebagai bahan dasar kerajinan tangan seperti membikin kantung unik, tali goni buat hiasan jar, dan lain sebagainya.


Rak kayu dicat hitam yang diisi buku-buku sampai pernak-pernik. Sumpah, saya penasaran sama isi botol kaca itu. Yang jelas itu bukan beras warna-warni seperti yang pernah saya bikin. Herannya, saya lupa bertanya. Nantilah kalau ke sana lagi bakal saya tanya apa isinya.


Tulisan-tulisan menarik di dinding, gambar-gambar, dan totebag. Salah satu pemiliknya itu punya blog petikata. Tapi kalau dia lebih sering bermain dengan kata-kata di Facebook. Keren-keren lah.


Mandala yang satu ini juga dibikin/dilukis sendiri. Memang benar ya kalau orang seni yang membuka kafe, semua pernak-pernik dan hiasan dinding bisa dibikin sendiri. Menghemat ongkos.


Kece kan? Jelas! 

Baca Juga: Tempat Cincin DIY Untuk Pernikahan Sahabat Saya Deasy Daulika

Berkunjung ke Kedai Kampung Endeisme tidak saja memuaskan mata tetapi juga membikin jiwa DIY saya memberontak. Bertanya-tanya, kapan saya bakal kembali ke dunia DIY. Cahyadi sendiri pernah menyarankan saya untuk membikin konten video tentang dunia DIY saya seperti bagaimana cara saya membikin keranjang, tempat tisu, desk-organizer, wall-organizer, hiasan dinding, tas berbahan celana jin bekas, sofa celana jin, kaktus batu, berkreasi dengan semen, sampai pohon Natal menggunakan pipa kertas! Byuuuuuh *garuk-garuk kepala*. Mau sih, tapi waktu belum mengijinkan. 

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua. Yuk berkreasi sebanyak-banyaknya. Jangan biarkan ide-ide kreatif kalian menguap begitu saja.

#RabuDIY



Cheers.

Ini Dia Produk Do It Yourself Pertama yang Saya Bikin


Ini Dia Produk Do It Yourself Pertama yang Saya Bikin. Apa nama yang tepat untuk kerajinan tangan yang satu ini? Huruf timbul kah? Atau ...? Kalau kalian tahu, tolong komen di bawah. Haha. Katakanlah namanya huruf timbul. Maka, huruf timbul ini saya bikin berbahan barang bekas yaitu karton super tebal, kardus bekas, dan kalender lama. Alat-alatnya tentu gunting, pisau cutter, dan lem. Membikinnya memang tidak lama. Saya hanya mengandalkan tulisan tangan untuk membentuk huruf-huruf tersebut. Hanya saja saya masih aneh sama huruf r-nya. Tapi tetap bisa kalian baca kan? BlogPacker. Sampai dengan menulis ini, saya masih ingin membikin lagi huruf timbul serupa. Semacam penyempurnaan. Tapi ... entah.

Baca Juga: Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello

Bagaimana dengan kalian? Pernah membikin produk DIY yang seperti ini juga? Dan ya, sekali lagi, apabila kalian tahu nama yang tepat untuk kerajinan tangan ini, mohon komen di bawah.

That's all.

Selamat berkreasi!

#RabuDIY



Cheers.