Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan


Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan. Pada akhirnya, setelah mahasiswa Uniflor dirumahkan, giliran dosen dan karyawan Uniflor dirumahkan. Dirumahkan tidak sama dengan liburan. Artinya, mahasiswa tetap belajar, dosen tetap mengajar, dan karyawan tetap bekerja. Tapi semua dilakukan dari rumah. Study from home. Work from home. Kurangi aktivitas di luar rumah.


Apabila ada pekerjaan yang wajib dikerjakan oleh dosen dan karyawan antara tanggal 23 Maret 2020 sampai 4 April 2020, bersifat mendesak dan atas perintah atasan, maka dosen dan karyawan Uniflor harus mengikuti perintah pekerjaan tersebut. Sesuai dengan situasi yang terjadi, di rumah saja, salah satunya, bisa lebih cepat memutus rantai penyebaran virus Corona.


Dua minggu di rumah saja, bukan liburan, tentu bisa menimbulkan kebosanan. Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan selama masa 'karantina diri sendiri' ini. Berkebun di kebun mini merupakan salah satunya. Yang paling asyik tentu menonton drama Korea, filem-filem terkini, serta membaca buku. Siapa tahu ada buku di lemari buku kalian yang pembungkus plastiknya masih utuh. Perlu dibuka! Bacalah! Mengisi waktu luang ini. Ada pula pekerjaan lain yang bisa dilakukan seperti membersihkan kulkas, membersihkan kamar mandi, menata ulang kamar, menata ulang ruang tamu, dan lain sebagainya. Eits, bagi pecinta kerajinan tangan, tentu di rumah saja memberi begitu banyak waktu untuk berkreasi sepuas-puasnya.

Karena banyak bahan baku kerajinan tangan yang tertinggal di kantor seperti koran dan kardus, tentu saya belum bisa membikin tutorial baru membikin desk organizer atau keranjang koran. Makanya hari ini saya hanya ingin berbagi foto tiga desk organizer mini yang benar-benar menggemaskan dan saya tidak tahu di mana kah mereka sekarang. Haha. Sudah diberikan kepada orang lain hanya saja saya lupa kepada siapa. Semoga bermanfaat bagi mereka yang menerimanya.

Ada tiga desk organizer mini yang saya bikin disela-sela membikin barang lainnya. Ini dia penampakannya:




Mini memang, tapi punya kekuatan yang cukup untuk menampung barang-barang modal kerja. Seperti yang kalian lihat di atas.

Baca Juga: Monotuteh

Mumpung di rumah saja, kalian juga bisa coba membikinnya karena bahan-bahannya tidak perlu banyak banget:

1. Kotak susu atau gulungan tisu.
2. Kardus untuk alas.
3. Pembungkus (kertas majalah juga boleh).

Silahkan berkreasi sepuas-puasnya, gengs!

#RabuDIY



Cheers.

Keranjang Serbaguna Merah Cantik Pesanan Mama Emmi


Keranjang Serbaguna Merah Cantik Pesanan Mama Emmi. Ketemu lagi di #RabuDIY. Harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. Kali ini saya mau bercerita tentang produk Do It Yourself (DIY) berbentuk keranjang. Hyess, lihat gambar di atas. Keranjang tersebut dipesan oleh Mama Emmi Gadi Djou saat saya masih sangat rajin dan produktif mendaur ulang sampah. Hehe. Kalian pasti tidak menyangkan bahwa keranjang merah cantik di atas berbahan koran dan kardus kan? Perihal pita, sebenarnya tidak saya pakaikan pita. Tetapi ketika mata saya menangkap pita emas di dos pita, diaplikasikan pada keranjang ini, ternyata hasilnya bagus. Trada ... jadi deh si keranjang merah cantik.

Baca Juga: Bunga Dinding

Bagaimana tata cara membikin keranjang tersebut? Mudah. Kalian bisa membaca pos berjudul Bakets ini. Apabila kalian masih kesulitan juga, boleh request di komen untuk saya membikin tutorialnya baik tulisan maupun video. Ehem. Artinya ... saya bakal kembali rajin ber-DIY-ria nih? Sepertinya begitu. Hehe. Karena, ketika sisa keranjang warna hijau dipakai Meli untuk mengisi segala macam barang (roti, mentega, keju, stoples sosis, dan lain sebagainya) di atas meja makan, kelihatannya juga cantik. Kecantikan yang sama juga saya lihat saat berkunjung ke rumah Mama Emmi. Dua keranjang merah itu bertengger manis di atas meja makan.

Dalam waktu dekat, teman-teman beragama Katolik akan merayakan Paskah. Saya berniat menjual telur paskah hiasan. Otomatis sudah mulai mempersiapkan bahan-bahannya terutama telur! Haha. Selain telur, saya juga bakal menjual lilin berbentuk telur. Warna-warni. Semoga saat percobaan nanti tidak mengalami kegagalan yang berarti *dicibir dinosaurus*. Sedangkan teman-teman beragama Islam juga bakal memasuki Bulan Ramadhan. Eng ing eng ... siapa pun yang membutuhkan keranjang anyaman untuk berbagai keperluan, boleh pesan di saya.

Jualaaaaan!

Ember. Jualan di blog sendiri bukan dosa. Haha. 

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Terus, apa inti pos ini? Tidak ada. Haha. Cuma mau pamer pada kalian tentang keranjang cantik di atas, sekaligus jualan. Bagi teman-teman beragama Katolik, selain telur, keranjang juga bisa dipesan sebagai wadah telur Paskah hias. Tetapi tentunya ini berlaku untuk teman-teman yang ada di Kota Ende dan sekitarnya saja, ya.

Semoga bermanfaat dan semoga ... tertarik! Haha.



Cheers.

Barang-Barang DIY Kece di Kedai Kampung Endeisme


Barang-Barang DIY Kece di Kedai Kampung Endeisme. Adalah pilihan tepat ketika pada awal tahun 2019 saya mengubah tema #RabuLima menjadi #RabuDIY. Mengubah tema harian blog gampang-gampang susah. Saya harus mandi kembang, bertapa, melakukan perjalanan ke Barat mencari kitab suci, menimbang ini itu terlebih dahulu, barulah mengambil keputusan. Bagi kalian yang bingung soal tema harian di blog ini, nonton video berikut:


Mengapa saya menulis adalah pilihan tepat ketika pada awal tahun 2019 saya mengubah tema #RabuLima menjadi #RabuDIY? Pertama: dunia Do It Yourself (DIY) adalah dunia kreativitas tanpa batas. Kedua: saya sendiri punya renjana di dunia DIY dan pernah meraup keuntungan Jutaan Rupiah hanya bermodalkan sampah seperti koran, majalah, botol plastik, kardus, hingga kaleng. Terbukti, tema #RabuDIY masih bertahan hingga saat ini. And I love it so much. Come on, guys, begitu banyak barang bernilai ekonomi lebih tinggi dari barang (dasar) yang sudah ingin dibuang ke tempat sampah. Yang dibutuhkan hanyalah percikan kreativitas.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Kemarin sore saya dan teman-teman; Violin, Oedin, Cahyadi, Al, pergi ke sebuah kedai bernama Kedai Kampung Endeisme. Cerita lengkap tentang kedai ini bakal saya pos di Hari Senin. Videonya sendiri bakal saya pos Jum'at besok di Youtube. Hari ini saya hanya mau bercerita pada kalian, bahwa di sebuah kedai mungil yang lokasinya pun tidak di pusat Kota Ende, kalian akan menemukan begitu banyak barang-barang bernilai seni tinggi dan spot-spot instagenic untuk keperluan foto yang bakal dipos di Instagram. Awal waktu diundang ke sana oleh pemiliknya, ekspetasi saya biasa-biasa saja. Ternyata saya salah! Memalukan sekali saya ini hahaha.

Barang-barang DIY ada di Kedai Kampung Endeisme akan berbicara melalui foto-foto di bawah ini.


Dari depan sudah terlihat dengan sangat jelas bahwa Kedai Kampung Endeisme memang berkonsep #DIY. Mulai dari papan namanya sampai bangku-bangku berbahan ember bekas cat.


Selain bangku-bangku berbahan ember bekas cat, dan kayu-kayu bekas, juga ada bangku yang satu ini, yang dialas dengan karung goni. Apa nama karung ini di daerah kalian? Kalau kami sih menyebutnya karung goni hahaha. Karung goni jangan disepelekan loh, saat ini karung goni dimanfaatkan sebagai bahan dasar kerajinan tangan seperti membikin kantung unik, tali goni buat hiasan jar, dan lain sebagainya.


Rak kayu dicat hitam yang diisi buku-buku sampai pernak-pernik. Sumpah, saya penasaran sama isi botol kaca itu. Yang jelas itu bukan beras warna-warni seperti yang pernah saya bikin. Herannya, saya lupa bertanya. Nantilah kalau ke sana lagi bakal saya tanya apa isinya.


Tulisan-tulisan menarik di dinding, gambar-gambar, dan totebag. Salah satu pemiliknya itu punya blog petikata. Tapi kalau dia lebih sering bermain dengan kata-kata di Facebook. Keren-keren lah.


Mandala yang satu ini juga dibikin/dilukis sendiri. Memang benar ya kalau orang seni yang membuka kafe, semua pernak-pernik dan hiasan dinding bisa dibikin sendiri. Menghemat ongkos.


Kece kan? Jelas! 

Baca Juga: Tempat Cincin DIY Untuk Pernikahan Sahabat Saya Deasy Daulika

Berkunjung ke Kedai Kampung Endeisme tidak saja memuaskan mata tetapi juga membikin jiwa DIY saya memberontak. Bertanya-tanya, kapan saya bakal kembali ke dunia DIY. Cahyadi sendiri pernah menyarankan saya untuk membikin konten video tentang dunia DIY saya seperti bagaimana cara saya membikin keranjang, tempat tisu, desk-organizer, wall-organizer, hiasan dinding, tas berbahan celana jin bekas, sofa celana jin, kaktus batu, berkreasi dengan semen, sampai pohon Natal menggunakan pipa kertas! Byuuuuuh *garuk-garuk kepala*. Mau sih, tapi waktu belum mengijinkan. 

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua. Yuk berkreasi sebanyak-banyaknya. Jangan biarkan ide-ide kreatif kalian menguap begitu saja.

#RabuDIY



Cheers.

Ini Dia Produk Do It Yourself Pertama yang Saya Bikin


Ini Dia Produk Do It Yourself Pertama yang Saya Bikin. Apa nama yang tepat untuk kerajinan tangan yang satu ini? Huruf timbul kah? Atau ...? Kalau kalian tahu, tolong komen di bawah. Haha. Katakanlah namanya huruf timbul. Maka, huruf timbul ini saya bikin berbahan barang bekas yaitu karton super tebal, kardus bekas, dan kalender lama. Alat-alatnya tentu gunting, pisau cutter, dan lem. Membikinnya memang tidak lama. Saya hanya mengandalkan tulisan tangan untuk membentuk huruf-huruf tersebut. Hanya saja saya masih aneh sama huruf r-nya. Tapi tetap bisa kalian baca kan? BlogPacker. Sampai dengan menulis ini, saya masih ingin membikin lagi huruf timbul serupa. Semacam penyempurnaan. Tapi ... entah.

Baca Juga: Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello

Bagaimana dengan kalian? Pernah membikin produk DIY yang seperti ini juga? Dan ya, sekali lagi, apabila kalian tahu nama yang tepat untuk kerajinan tangan ini, mohon komen di bawah.

That's all.

Selamat berkreasi!

#RabuDIY



Cheers.

Gelang Berbahan Benang Wol Yang Mudah Dibikin Sendiri


Gelang Berbahan Benang Wol Yang Mudah Dibikin Sendiri. Masa kecil saya, kalau boleh mengklaim sendiri, merupakan masa kecil paling bahagia. Karena apa? Karena masa itu hanya ada telepon kabel, belum ada telepon genggam. Saya lebih banyak membaca buku dan bermain permainan tradisional bersama teman-teman dan kakak-kakak sepupu. Banyak permainan yang kami ciptakan sendiri. Betul sekali kalau orang bilang: keterbatasan mampu membikin manusia menjadi lebih kreatif. Bayangkan saja, bungkus bekas permen sugus adalah barang berharga yang bisa dijadikan duit mainan, dikumpulkan di dalam kotak mini, dan dibanggakan ke semua orang. 

Baca Juga: Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing

Kreatifitas masa kecil sebenarnya tidak selamanya karena keterbatasan. Waktu itu kami juga ingin bisa membikin sesuatu yang bisa dipamerkan pada orang lain, terutama orang dewasa. Selain bermain masak-betulan, di mana saya pernah mencuci beras sampai sepuluh kali sehingga rasa nasinya hancur-lebur, kami juga membikin sendiri gelang berbahan benang wol.

Melihat kakak sepupu membikin satu gelang berbahan benang wol, saya pun tak mau kalah. Bahannya cuma benang wol aneka warna saja! Karena benang wol nanti bakal dipintal (tiga utas) maka diperlukan tiga warna berbeda agar gelangnya nanti terlihat cantik. Benang wol yang dijual di Kota Ende kebanyakan benang wol untuk kerajinan tangan kristik, sehingga kami harus mendobel setiap warna. Satu warna bisa tiga sampai lima utas benang. Supaya apa? Supaya gelangnya lebih besar.


Membikin gelang berbahan benang wol ini super mudah (dan murah). Setelah akhir 2017 saya membikinnya untuk Jeki, Meli, Nabil, dan Cika, akhir tahun 2019 saya membikinnya lagi untuk Thika. Busyet, ponakan saya yang satu itu juga pengen pakai gelang berbahan benang wol. Haha.


Setelah menentukan berapa utas benang per warna, semua utas kemudian diikat bagian ujungnya, lalu dipintal (dicacing tiga). Supaya mantap, minta seseorang untuk menahan bagian ujung, atau bisa juga ditahan menggunakan pemberat (buku, seterika, atau jembatan). Setelah dipintal dan dirasa cukup, ukur terlebih dahulu lingkar gelang dengan tangan orang yang hendak memakainya. Kalau sudah pas, ikat lagi ujung satunya. Trada ... jadi deh. 

Baca Juga: Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca

Berbahan murah, mudah dibikin. Tunggu apa lagi? Bikin yuk gelang benang wol ini sebagai 'ikatan' di dalam keluarga. Meskipun tidak bisa dipakai terus-terusan, tetapi misalnya saat sedang traveling bareng keluarga, semua anggota keluarga memakai gelang ini, pasti seru dan membikin keluarga kalian menjadi pusat perhatian.

Selamat mencoba!

Semoga bermanfaat.

#RabuDIY



Cheers.

Taman DIY di SMPSK Kota Goa di Kecamatan Boawae


Taman DIY di SMPSK Kota Goa di Kecamatan Boawae. Seperti yang sudah saya ceritakan pada pos Senin kemarin di #CeritaTuteh dan #SeninCerita, saya dikejutkan oleh banyak hal dari sebuah kecamatan di Kabupaten Nagekeo, yaitu Kecamatan Boawae. Mulai dari talenta di bidang tarik suara dan bidang seni lainnya oleh para murid SMP dan SMA, kafe ketje bernama R-Musth yang wajib kalian cobain menu-menunya, sampai sebuah Sekolah Menengah Pertama Swasta Katolik bernama Kota Goa. Ya, di SMPSK Kota Goa tempat kegiatan seminar dan workshop (knowledge service) dilaksanakan oleh Prodi Sastra Inggris pada Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Flores (Uniflor) dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat bertajuk English Week, kemudian saya menemukan kejutan lain yaitu taman dengan barang-barang Do It Yourself (DIY).

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

SMPSK Kota Goa terletak di Kilometer 1 Jalan Raya Boawae - Soa (baca: So'a). Bangunan sekolahnya memang sama dengan bangunan sekolah pada umumnya. Ada gedung-gedung, ruang perpustakaan, kamar mandi yang bersih, kantin, semacam pondok bersantai, hingga taman. Sekolah ini nyeni banget, menurut saya pribadi, karena hampir setiap dinding diberi mural dan/atau tulisan penyemangat, motivasi, dan inspirasi kepada para murid, dengan warna-warna ceria. Meskipun tidak bertanya langsung, tapi saya secara pribadi menganalisa bahwa sekolah ini adalah sekolah unggulan. Lihat saja, 7 November 2019 kemarin, mereka baru saja melaksanakan kegiatan Kota Goa Expo 2019 dengan mata acara pagelaran seni, pameran, dan bazaar.


Tjakep kan?

Analisa saya itu tidak saja karena melihat bangunan sekolah yang nyeni dan warna-warni saja, atau karena sekolah ini menerapkan full-day, tetapi perilaku murid-muridnya yang sangat santun terhadap tamu dan/atau orang yang lebih tua. Melihat saya mondar-mandir, terus ke kamar mandi, mereka menegur dengan sopan santun kelas tinggi, bahkan ada yang mencium tangan. Saya jadi ingat SMPK Frateran Ndao di Ende. Saya pernah menulis tentang sekolah itu dengan judul pos The Power of Cium Tangan. Silahkan dibaca juga. Perilaku murid yang baik, sopan santun, tidak terlepas dari sistem pendidikan yang diterapkan baik akademik maupun non-akademik yang termasuk di dalamnya tentang pendidikan karakter.

Yang menarik dari SMPSK Kota Goa, sesuai dengan tema pos hari ini, adalah konsep tamannya. Taman berada di area bangian tengah dikelilingi oleh gedung-gedung (termasuk kantin dan pondon santai atau serbaguna). Di tepi-tepi taman tumbuh pohon yang entah apa namanya, menaungi bangku-bangku taman di bawahnya. Di sekolah ini, taman dimanfaatkan pula oleh para guru untuk kegiatan belajar-mengajar outdoor alias di luar ruangan. Meskipun judulnya outdoor, tapi keseriusan murid menerima transferan ilmu pengetahuan dari guru hukumnya fardhu'ain!

Kembali ke taman. 

Saya tidak menulis panjang lebar pos hari ini. Cukuplah kalian melihat foto-foto berikut ini:



Taman ini digunakan untuk belajar outdoor juga oleh penghuni sekolah:


Andaikan bisa, saya mau lah kembali ke masa SMP dan bersekolah di sini. Hahaha. Eh tapi SMP saya dulu di SMP Negeri 2 Ende termasuk sekolah unggul loh.

Baiklah, demikian pos hari ini, semoga bermanfaat. Siapa tahu kalian juga pengen bikin taman dengan bangku serta angsa-angsa putih bermaterial ban bekas? Siapa tahu kan?

#RabuDIY



Cheers.

Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende


Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende. Senin kemarin, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91, saya berkesempatan meliput kegiatan keren yang diselenggarakan atas kerjasama Pemerintah Daerah Ende, E.thical, Rikolto, Universitas Flores (Uniflor), dan RRI Ende. Kegiatan dengan spirit Hari Sumpah Pemuda ini mengusung tema Dengan Semangat Sumpah Pemuda Kita Dorong Peran Orang Muda dalam Ekonomi Berkelanjutan dari Desa untuk Ende. Berlangsung di dua lokasi: Aula Lantai II Kantor Bupati Ende dan di halaman samping Kantor Bupati Ende, kegiatan ini menjadi momen memperkenalkan wirausahawan/i muda Ende dalam berinovasi: memikirkan tema, membangun brand, membikin prototype, hingga memamerkan dan memasarkan.

Baca Juga: Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel

Sebelumnya, sekitar satu bulan, telah diselenggarakan kegiatan Kewirausahaan Pemuda Berkelanjutan kerja sama E.thical, Ricolto, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Informasi Uniflor. Pesertanya berjumlah (24) dua puluh empat orang. 8 (delapan) peserta berasal dari Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor), 5 (lima) peserta berasal dari Fakultas Pertanian Uniflor, sedangkan 11 (sebelas) peserta lainnya merupakan anak muda kreatif dan berdaya juang tinggi yang berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ende. Satu bulan kegiatan dengan berbagai bekal ilmu tersebut telah membentuk karakter wirausaha di dalam diri mereka. Sesuatu yang menurut saya supa amazing, apabila melihat output-nya.

Pasar E.thical


Hasil penggemblengan dua puluh empat peserta tersebut kemudian digelar pada Hari Sumpah Pemuda dengan tiga mata acara yaitu Presentasi Proposal, Pasar E.thical, dan Talkshow. Presentasi Proposal dilaksanakan di Aula Lantai II Kantor Bupati Ende, dimulai pukul 13.00 Wita, dimana masing-masing peserta diberi waktu sekitar tiga hingga lima menit untuk memperkenalkan brand dan produk mereka. Pukul 16.00 Wita, kegiatan dilanjutkan dengan Pasar E.thical dan Talkshow yang disiarkan secara langsung oleh RRI Ende.


Ethical Market Day atau Pasar Ethical merupakan pasar yang memamerkan hasil karya dua puluh empat peserta Kewirausahaan Pemuda Berkelanjutan dalam sembilan belas brand, yang sebelumnya telah memperoleh ilmu dan bekal untuk berwirausaha oleh tim dari Ethical yang bekerjasama dengan Rikolto, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Informasi Uniflor. Pada pasar itu berdiri stan-stan tempat peserta memperkenalkan usaha dan/atau brand, memamerkan produk, serta menjual produk mereka. Setiap stan dilengkapi dengan profil singkat wirausahawan/i muda tersebut serta nama serta penjelasan produk yang diproduksi. Selain itu juga hadir stan dari Lepa Lio Cafe asal Remaja Mandiri Community Detusoko.



Natalia Mudamakin, salah seorang mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi, merupakan wirausahawati muda yang mendirikan brand Palapa Rasa dengan motivasi kuat untuk menyediakan tempat bagi anak muda Ende untuk bekerja dan berdaya. Palapa Rasa merupakan brand snack buah organik khas pertama di Kabupaten Ende yang mengangkat cita rasa kuliner khas Flores. Natalia Mudamakin dengan brand Palapa Rasa meraih Juara 3 Ethical Entrepreneur Ende.


Credits: David Mossar. 

Elok merupakan brand yang dibikin oleh alumni Uniflor dari Fakultas Bahasa dan Sastra yaitu Cahyadi, yang melihat potensi dari lahan tidur terlantar di pekarangan rumah tangga-rumah tangga di Kota Ende. Melalui Elok, Cahyadi berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat lokal dan lahan tidur secara optimal demi terciptanya kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan. Sebagai bahan makanan alternatif rendah gula, Elok yang berbahan sorgum merupakan pilihan alternatif yang terjangkau, dan merupakan pilihan tepat penderita diabetes dan bagi siapa saja yang mencari alternatif karbohidrat sehat. Cahyadi dengan brand Elok meraih Juara 2 Ethical Entrepreneur Ende.



Ine Lawo merupakan brand usaha yang dibentuk oleh Karolina Dua Oga dan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi Maria Yasinta Mau Rema dengan motivasi untuk mencegah punahnya keterampilan menenun. Visi Ine Lawo adalah melihat regenerasi pengrajin tenun muda di Kabupaten Ende. Fashion tenun moderen yang membangkitkan kecintaan pada budaya Ende, Ine Lawo memanfaatkan kain sisa tenun menjadi busana moderen untuk membangkitkan kembali kecintaan pada tradisi dan budaya menenun. Karolina Dua Oga dan Maria Yasinta Mau Rema dengan brand Ine Lawo meraih Juara 1 Ethical Entrepreneur Ende.

Pasar Ethical dikunjungi oleh masyarakat umum Kabupaten Ende yang tertarik dengan inovasi yang dilakukan oleh para wirausahawan/i muda Ende tersebut, salah satunya yang baru saja membuka usaha kafe Sahabat Kopi. Selain Elok, Ine Lawo, dan Palapa Rasa, brand lainnya antara lain Tamiimah, FloCo., Frame Culture, Famous De Flores, Poly Deli, Pemuda Berdikari, Teka Uta, Oster, Plastic Reduce Initiative, Daur Ulang Kreatif, Rae Chili Flores, Ende Creative Millenials, Able, Ecodes, Ecocamp, dan Briona Flower.


Pada acara Talkshow yang dimoderatori oleh Kakak Rossa Domingga dengan narasumber dua diantaranya Nando Watu dan Karolus Naga, saya mendengar kalimat inspirasi yaitu 3C: Content, Colaborate, Community. Artinya seorang wirausahawan/i harus mampu menyiapkan kontennya sendiri, tapi harus mampu pula berkolaborasi dan berkomunitas. Kolaborasi sebagai daya dongkrak brand, komunitas agar brand lebih banyak dikenal (seperti efek domino). Bahkan diberikan pula contoh dari ranah Youtube oleh para Youtuber.


Sebelum Talkshow pun saya sudah paham betul bahwa berbisnis butuh 3C itu. Dan perkara 3C saya temukan pada salah satu brand baru yaitu FloCo. Dua anak muda ini yaitu Petronela Ina dan Diana Segu memilih brand bernama FloCo. sebagai brand cokelat batang organik pertama di Ende yang menggunakan 100% bahan alami. Diolah dari biji cokelat pilihan, FloCo. adalah pilihan oleh-oleh yang tepat untuk para wisatawan baik domestik maupun internasional. Tujuan mereka mendirikan FloCo. adalah memutus tengkulak dengan meningkatkan kesejahteraan petani kakao.


Yang menarik dari FloCo. justru pada kemasannya yaitu sejenis wati yang cantik dengan tutupan. Kemasan ini dibikin oleh keluarga mereka. Ini salah satu contoh kolaborasi yang baik. Satu produk, tapi ada dua keuntungan yang diperoleh oleh pembeli kelak (karena yang dipamerkan kemarin masih prototype). Saya bilang pada mereka, "Cokelat itu biasa, di mana-mana ada, dan mungkin orang juga bakal memburu cokelat ini sebagai oleh-oleh. Tapi kalau melihat dari sisi oleh-olehnya, tentu kemasannya ini yang diburu." Iya, konten mereka adalah cokelat, kolaborasi mereka dengan pihak lain adalah kemasannya. Komunitas? Mereka sudah tergabung dalam komunitas wirausahawan muda tersebut, bersama 22 peserta lainnya. Supa amazing!

Konsep DIY


Ini keutamaan yang mau dibahas. Ketika tidak ada sesuatu yang memuaskan keinginan, maka harus bisa membikinnya sendiri. Pasar E.thical mengenyangkan jiwa DIY (Do It Yourself) saya. Rata-rata hampir semuanya memang berkonsep DIY.

Elok dari Cahyadi menggunakan wati serta kantong serut untuk mengisi sorgum sebagai produk andalannya. Saya sangat menyukai kantong serut yang dijahit sendiri oleh Cahyadi, atau oleh Mamanya. Terlihat unik karena tali serutnya menggunakan bahan goni. Kemudian, Cahyadi memberikan saya satu kantong serut ini:


Ine Lawo, saya setuju mereka jawara, membikin produk DIY dari kain tenun sisa. Kalau boleh saya bilang: Ine Lawo itu 100% DIY. Kain tenun sisa ini bisa diminta di penjahit. Tapi bisa juga sih meyiapkan kain tenun khusus untuk dikreasikan ini itu. Kain tenun sisa tidak saja diaplikasikan pada pakaian, seperti celana jin sobek yang ditambal tenunan atau kemeja, tapi mereka juga membikin aneka asesoris seperti bandana, anting-anting, kalung, dan lain sebagainya. Seperti foto di bawah ini, salah satu hasil DIY-nya Ine Lawo:


Dari brand Daur Ulang Kreatif (atau Plastic Reduce Initiative, saya lupa) saya menemukan tas daur ulang seperti pada foto di bawah ini:


Bagaimana tali rafia dibikin tas seperti foto di atas, itu adalah ketekunan, keuletan, dan daya kreativitas yang luar biasa!

Masih banyak barang DIY yang saya temui kemarin di Pasar E.thical. Selain wati sebagai kemasan cokelat FloCo., ada pula tas-tas kertas DIY yang ditempeli brand/logo, yang pastinya dibikin sendiri sama para wirausahawan muda Ende tersebut. Selain itu, kalau kalian melihat foto di awal pos, itu dari Frame Culture! Dia membikin frame dan aneka asesoris yang biasa dipakai orang-orang buat menghasilkan foto yang instagenic. Frame-nya jelas dibalut kain tenun ikat.

⇜⇝

Dari semua yang ditulis di atas, saya jadi ingat sama diri sendiri, yang meraup keuntungan belipat ganda hanya dengan mendaur ulang sampah. Brand saya waktu itu Rumah Kreatif Tuteh. Aneka produk sudah saya bikin, baik karena pengen bikin, maupun karena dipesan sama pelanggan *duhaaaiii, pelanggan* hehe. Tapi karena tuntutan pekerjaan lain yang membutuhkan skala prioritas, karena saya juga punya pekerjaan utama, usaha itu tidak saya teruskan. Padahal keuntungannya supa amazing. Karena kegemaran ber-DIY-ria itulah maka setiap Rabu tema pos ini adalah DIY. Hehe.


Credits: Ihsan Dato.

Bagaimana, kawan? Suka kan sama pos kali ini? Menambah informasi sekaligus cuci mata sama foto-fotonya *kedib*, karena saya sendiri juga suka sama foto-foto yang cuma dijepret menggunakan telepon genggam tersebut. Salah satu foto memang saya minta pada David Mossar, karena saya lupa memotret stan-nya Cahyadi. Dan satu foto dijepret oleh Om Ihsan Dato.

Semoga para peserta dapat melanjutkan apa yang sudah mereka rintis pada Hari Sumpah Pemuda tersebut.

Mari kita dukung!

#RabuDIY



Cheers.

Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel


Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel. Pos hari ini di #RabuDIY cukup singkat padat dan jelas. Karena apa? Karena saya bukan saya yang membikinnya melainkan teman kerja. Jadi, saya cuma pengen ngasih tahu ke kalian bahwa dari kain flanel yang biasanya dipakai untuk mempercantik stoples dan/atau tempat tisu bisa juga langsung diaplikasikan untuk dijadikan dompet. Seperti pada foto di awal pos. 

Baca Juga: Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah

Kuning? Iyess! Waktu ditanya saya jelas meminta dompet berwarna kuning dengan nama saya tertera di salah satu sisinya. Yang membikin ini teman kerja tetapi lebih dikenal sebagai dosen FKIP, namanya Ibu Purnama. Orangnya super kreatif! Sama seperti Violin Kerong hehe. Selain membikin dompet alat tulis berbahan kain flanel, Ibu Pur juga membikin ragam dompet rajutan, yang bahannya tidak saja benang/tali tetapi juga plastik kresek. Ada beberapa dompet lain yang dibikin menggunakan plastik bekas bungkus Nescafe.

Uh wow! Kreatif sekali.

Terbukti mantan sampah tidak selamanya harus dibuang kan? Masih bisa digunakan kembali setelah didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi lebih tinggi. Seperti apa yang sudah dilakukan oleh banyak orang. Saya, kalian, mereka.

Semoga menjadi inspirasi ...

#RabuDIY



Cheers.

Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah


Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah. Sudah berapa lama saya mengenal komunitas bernama Anak Cinta Lingkungan (ACIL)? Sudah sangat lama. Sebenarnya maksud hati ingin turut terlibat di dalamnya tetapi kesibukan pekerjaan dan urusan ini itu memang sangat tidak bisa mentolerir. Sedih? Iya. Makanya saya memutuskan untuk solo karir, maksudnya saya tidak terlalu terlibat dalam komunitas manapun, kecuali Stand Up Comedy Endenesia. Kenapa? Karena Stand Up Comedy Endenesia merupakan komunitas dengan konsep yang benar-benar beda dari banyak komunitas yang pernah saya ikuti selama ini. Selain itu tingkat kegiatannya pun tidak terlalu padat, selain lomba setiap Jum'at ada open mic, sehingga tidak terlalu dipermasalahkan apabila saya absen, kan saya bukan komika. Hehe.

Baca Juga: Manfaatkan Celana Jin Bekas Untuk Mempercantik Sofa

Kembali ke ACIL. Karena hari ini #RabuDIY, maka tidak ada salahnya saya menulis tentang Komunitas ACIL Ende, atau ACIL (saja). Apa dan bagaimana ACIL? Silahkan dibaca sampai selesai, siapa tahu bisa membawa inspirasi bagi kalian. 

A C I L


Sudah lama tahu ACIL, tapi alangkah lebih bagus informasi tentang ACIL saya peroleh langsung dari salah seorang pengurusnya. Dari blog-nya Abang Iskandar Awang Usman, saya peroleh informasi tentang ACIL. Komunitas yang berkonsentrasi pada anak dan lingkungan ini didirikan pada Rabu, 4 Desember 2013 dengan basecamp di Jalan Adi Sucipto RT/RW 02/08, Ippi, Kelurahan Tetandara, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende. Sayangnya tidak ditulis memang siapa-siapa pendiri dan pengurusnya. Tetapi jelas saya tahu sebagiannya, seperti Abang Umar Hamdan sang ketua, Abang Iskandar, Abang Antho, Filzha, dan lain-lain yang namanya tidak saya tulis karena kuatir salah.


Foto di atas, waktu penyerahan bantuan mantel hujan anak-anak dari Relawan Taman Bung Karno Ende kepada ACIL. Dari saya belum berhijab sampai berhijab, sudah melekat sama ACIL. Haha.


Sampai saya sudah berhijab, main ke markas ACIL, waktu itu kita dari Komunitas SOSMED Ende memang pengen berbagi, bermain, dan belajar bersama anggota ACIL yang rata-rata anak-anak usia TK sampai SMP. Kalau sudah SMA dan/atau lewat dari itu, boleh donk jadi pengasuh juga (silahkan daftar).

Mari cerita-cerita dulu tentang ACIL. Dulu saya pernah ikut kegiatan ACIL di halaman belakang rumah Wakil Bupati Ende, Bapak Djafar, di Jalan Soekarno. Dari situ saya jadi tahu bahwa ACIL yang beranggotakan anak-anak itu punya kegiatan rutin setiap hari Minggu, serta kegiatan-kegiatan lainnya. Markas mereka di Ippi itu merupakan rumah yang dihuni oleh Abang Umar Hamdan sekeluarga yang pada bagian halamannya didirikan saung kreatif. Saung ini berisi rak-rak buku, dan aneka barang kebutuhan belajar bersama. Dari situ ragam kegiatan ACIL lainnya berlangsung.


Kegiatan-kegiatan ACIL yang saya rangkum dari pandangan mata *cieee* antara lain belajar -  membaca - bermain edukatif di saung baca mereka, penanaman bibit atau pembibitan pohon dan tanaman lainnya, penghijauan, bersih-bersih sampah di titik-titik yang ditentukan, pemilahan sampah, hingga daur ulang sampah. Bukan cerita baru, kemudian, apabila Abang Umar dan kawan-kawan sebagai pengurus dan pengasuh ACIL diminta menjadi narasumber dengan materi utama sampah dan pengelolaannya. Kami pernah pula sama-sama menjadi pemateri dalam kegiatan #EndeBisa dengan goal utama #EndeKreativitas, #EndeBelajarLiterasiDigital, #EndeBebasSampah, #EndeSocMed4SocGood, #EndeBerwirausaha.


Rasanya pengen kembali ke aula SMKN 1 Ende dengan ribuan pesertanya itu. Hahaha.

ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah


Komunitas yang berkonsentrasi pada masalah sampah ada banyak. Tapi yang betul-betul tuntas dengan masalah sampah ini saya baru melihatnya dalam tubuh ACIL. Mereka tidak saja memberi contoh lewat aksi bersih-bersih sampah, tetapi juga mengedukasi masyarakat, serta melaksanakan kewajiban moril untuk mendaur ulang sampah. Waktu berkunjung ke markas ACIL saya tahu bahwa proses daur ulang ini dilakukan oleh semua anggota ACIL baik anak-anak maupun pengasuh/pengurus, serta pendamping hidup mereka. Seperti isterinya Abang Umar. 

Sampah yang didaur ulang terjadi setelah proses pemilahan. Umumnya sampah plastik akan dikumpulkan dan dibersihkan agar dapat didaur ulang. Waktu berkunjung ke sana saya sempat fotoin barang-barang daur ulang yang bejibun itu tetapi saya file fotonya entah di mana. Untung saya masih bisa mendapatkan foto-foto yang dulu dipos Abang Nurdin di Facebook.




Sampah plastik, juga kertas, didaur ulang menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi dari bentuk semula. Apa saja hasil daur ulang itu? Pada gambar di atas kalian bisa melihat ada miniatur rumah adat, tempat penyimpanan file, dan tas selempang. Selain itu masih banyak produk lainnya seperti tempat sepatu gantung, dompet, keranjang, hingga tudung saji. Apa saja yang bisa didaur ulang, ditambah percikan kreativitas, maka produk daur ulang pun tercipta. Produk-produk itu pun dijual, hasilnya ditabung di tabungan ACIL, dan bakal digunakan untuk keperluan kegiatan ACIL itu sendiri. Ini kan keren.


Foto di atas, Abang Umar tidak sadar saya potret dari belakang saat kegiatan penghijauan di Pantai Anaraja. Dia memakai tas selempang daur ulang. Tas yang sama juga dia pakai saat menghadiri Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay Sabtu lalu. Konsisten! Mereka selalu memberi contoh, tidak hanya sekadar bicara. Si Filza juga sering banget pakai tas ini. Kan saya jadi pengen punya juga. Hahaha.


Sedangkan foto di atas, saya sedang mencoba alat pungut sampah #DIY yang dibikin oleh Abang Iskandar. Ah, mereka sangat kreatif. 

Mengurangi, Bukan Menghilangkan


Ini yang juga penting dibahas. Melalui kegiatan-kegiatannya, termasuk menjadi pemateri/pembicara dalam seminar tentang sampah, sudah jelas Abang Umar dan kawan-kawan berusaha menanamkan konsep Reuse, Reduce, Recycle atau 3R. Kalau di-Indonesiakan menjadi pakai ulang, kurangi, daur ulang. Konsep itu merupakan konsep global yang digaungkan di mana-mana. Karena, manusia sebagai penikmat semesta tidak bisa menutup satu pintu. Menutup satu pintu sama dengan menghancurkan pintu lainnya.

Bingung?

Mari saya jelaskan.

Plastik tidak bisa dihilangkan dalam kehidupan manusia alias manusia tidak bisa berhenti begitu saja dari yang namanya plastik. Bila itu terjadi, hutan yang menjadi korban. Itu pasti. Contoh paling sederhana saya lihat dari sumpit yang ada di rumah. Sumpit itu terbuat dari plastik dan dipakai berulang-ulang. Bayangkan bila sumpit semata-mata terbuat dari kayu. Coba kalian bayangkan sendiri. Mautak mau kita harus sepakat bahwa plastik masih memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia, terutama masyarakat Indonesia. Sama juga dengan contoh sebuah rumah makan yang menyiapkan sarung tangan plastik kepada pelanggannya dengan alasan hemat air. Air memang hemat, sampah plastik tambah banyak.

Di Indonesia, rata-rata produk yang kita konsumsi menggunakan wadah plastik. Air galon, air minum kemasan, botol sampo, produk sasetan, produk isi ulang, taplak meja, baliho, barang rumah tangga, sampai karpeg pun berbahan plastik. Ada pula yang menggunakan kertas seperti bungkus sabun. Hal ini berbeda dari beberapa supermarket di luar negeri yang sudah menyediakan beberapa produk tanpa kemasan. Iya kah? Iya donk. Itu manfaatnya membaca. Hahaha. Jadi, pengelola supermarket menyediakan produk, misalnya minyak goreng dan/atau sampo, yang disimpan di dispenser khususnya. Pelanggan harus membawa botolnya sendiri dari rumah dan tinggal menakar sesuai kebutuhan. Asyik kan?

Jelas, plastik memang tidak bisa semerta-merta hilang dari kehidupan kita. Bayangkan saja kalau mantel hujan terbuat dari koran. Hehe. Bijaknya adalah 3R tadi. 

Mengurangi sampah plastik sudah saya lakukan. Mungkin juga sudah kalian lakukan. Ya, saya selalu membawa botol minum ke mana pun pergi karena enggan membeli air minum kemasan. Selain berhemat, saya mengurangi sumbangan sampah plastik. Bahkan membeli barang di kios pun, kalau barang itu bisa masuk ransel, saya menolak diberikan kresek oleh penjualnya. Sederhana, memang. Dan saya bahagia menjalaninya. 

Mendaur ulang sudah saya lakukan. Kalian tahu kan kalau pos #RabuDIY berawal dari kegemaran saya ber-DIY-ria. Mendaur ulang! Apa saja. Plastik termasuk di dalamnya. Pot-pot bunga, celengan, dompet receh, dan hiasan dinding merupakan beberapa barang daur ulang yang saya bikin. 



Memakai kembali produk plastik juga sudah saya lakukan. Meskipun sering menolak kresek dari para penjual, tetapi berbelanja di supermarket membikin ransel saya kepenuhan untuk diisi barang kebutuhan satu bulan. Oleh karena itu, plastik-plastik dari supermarket itu selalu kami simpan, bahkan ada kotak khusus, untuk nanti dipakai kembali. Memakai kembali barang plastik ini juga bisa dilihat dari pot bunga yang sebelumnya merupakan baskom kebutuhan dapur (yang kemudian retak/pecah).

⇜⇝

Kita semua bisa melakukannya: 3R. Asal ada kemauan. Mulai dari yang paling sederhana saja: membawa botol minum dan menolak kresek apabila barangnya bisa masuk ransel/tas yang kita pakai. Dari satu orang menjadi seratus orang ... bagus sekali ... sudah mengurangi begitu banyak sampah plastik di semesta ini. 

Baca Juga: Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca

Kembali ke ACIL. Saya salut sama pengurus/pengelolanya. Bagaimana mereka konsisten mendaur ulang sampah, itu patut diacungi jempol dan diberikan apresiasi tersendiri. Apabila kalian tidak bisa mendaur ulang sendiri, kumpulkan dan serahkan sampah plastik (tapi yang sudah dibersihkan ya) kepada ACIL, agar mereka yang mendaur ulang. Apabila kalian mau mendukung ACIL, boleh juga dengan membeli produk-produk DIY hasil daur ulang yang telah mereka bikin. Kenapa tidak?

Yuk, kurangi sampah plastik!

#RabuDIY



Cheers.

Manfaatkan Celana Jin Bekas Untuk Mempercantik Sofa


Manfaatkan Celana Jin Bekas Untuk Mempercantik Sofa. Berapa banyak barang yang kita buang dalam sebulan? Sekardus? Dua kardus? Apakah celana jin termasuk di dalamnya? Oh, sayang sekali kalau begitu, karena celana jin punya begitu banyak manfaat justru setelah tidak dipakai lagi. Haha. Dinosaurus melirik malas kalau saya sudah menulis begini. Tapi kenyataannya memang demikian. Ketika celana jin masih baik atau bagus, alias masih terus kita pakai, ya fungsinya paling-paling hanya dipakai sebagai bawahan. Akan tetapi bila sudah tidak dipakai lagi, celana jin punya banyak manfaat dan paling pertama bisa jadi keset kamar mandi *ngakak guling-guling*.

Baca Juga: Andaikan Ada Seorang Saja Thomas Dambo di Kota Ende

Keset kamar mandi pun kadang tidak dibikin apa-apa terhadap celana jin tersebut. Cukup dilipat, jadi deh. Dududu. Betapa pemalasnya. Saya.

Saya pernah memanfaatkan celana jin yang tidak dipakai lagi ini untuk membikin berbagai barang dalam proyek-proyek Do It Yourself alias DIY. Tentu, semua atas bantuan video-video tutorial atau how to yang berserakan di Youtube. Tapi, jelas percikan kreativitas itu harus ada. Kalau tidak, ya percuma donk. Barang-barang yang pernah saya bikin dari celana jin itu antara lain tas selempang besar, tas selempang kecil, desk organizer, hingga mangkuk celana jin. Sudah ada pula yang saya ulas di blog ini. Silahkan cari sendiri posnya, yaaa.

Ini salah satu tas jin yang saya bikin.

Hari ini saya mau mengajak kalian melihat-lihat rumah saya, Pohon Tua, dengan seperangkat sofa kayu yang jok dan sandarannya kemudian saya selimuti, cie, cengan celana jin bekas.

Ceritanya, saat menjelang Hari Raya Idul Fitri dua tahun yang lalu, saya berencana untuk memperbaiki sofa kayu yang kainnya sudah mreyap-mreyap gara-gara digauk kekucingan kami. Sungguh, kekucingan kami itu kalau tinggal di rumah kalian pasti sudah bikin kalian depresi. Kekucingan di rumah kami selalu menyasar sofa hingga gorden untuk pemanasan kuku mereka. Haha. Tapi kami tidak pernah protes pada kekucingan karena kami sayang mereka. Dududu. Alhamdulillah kekucingan juga sayang kami, buktinya mereka betah tinggal bersama kami.

Maka, saya menghubungi Om Fals untuk memperbaiki sofa kayu tersebut tetapi kain yang digunakan adalah celana jin bekas. Adalah tugas Mamasia dan Thika Pharmantara membongkar kardus-kardus berisi celana jin yang masih saya pertahankan dalam inspeksi tahunan. Iya, seharusnya sudah dibuang, tapi bertahun-tahun, saat inspeksi barang bekas, tetap saja celana-celana jin itu dikebas, dilipat, disimpan kembali di dalam kardus. Tanpa banyak protes, seperangkat sofa kayu diangkut oleh Om Fals berikut tumpukan celana jin bekas.

Saat hari raya, sofa itu belum datang ...

What!?

Ya, betul sekali, kawan. Sofa-sofa itu datang dua minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Ini betul-betul kocak, tapi menyenangkan, karena bikin ngakak. Saya senang, meskipun telat dari hari perjanjian, karena sofanya kemudian menjadi cantik sekali. Kalian bisa melihatnya pada gambar-gambar berikut ini:



Yang paling detail itu pada sandarannya. Untuk sandaran, Om Fals khusus memakai bagian saku celana jin denga label yang masih tertempel. Serunya lagi dikasih paku semaca paku tekan, sehingga nampak gimanaaaaa gitu.



Sofa celana jin itu kemudian mengisi ruang tamu Pohon Tua dengan cantiknya. Banyak yang memuji, dan saya cuma bisa bilang, itu dibikin sama Om Fals, meskipun ide awalnya dari saya. Toh saya juga tidak pandai bermain-main dengan dunia pertukangan hahaha. Makanya, pada pos ini pun saya tidak menulis langkah-langkah membikin sofa celana jin, karena memang tidak tahu caranya. Itu urusannya Om Fals.

Baca Juga: Mempermudah Hidup Dengan Life Hack

Jadi, kalau di rumah kalian ada banyak celana jin yang tidak terpakai lagi entah karena sesak entah karena ada yang sobek entah karena bosan, jangan dibuang. Manfaatkan untuk membikin barang-barang DIY. Kalau bingung, tinggal buka Youtube dan mencari inspirasi di sana. Kalau masih bingung juga, baca-baca pos di blog saya. Siapa tahu ada yang nyangkut di kepala.

Selamat berkreasi!

#RabuDIY



Cheers.