Horeday #7: Rejeki Anak Solehah dari Makassar


Waktu dia mengirimkan foto kardus yang sudah di-pack rapi dan berkata hendak mengirimkan kompor gas agar saya lebih rajin masak, karena dia tahu dulu itu saya paling sering membeli lauk-pauk di warung, saya langsung ingat kompor gas Rinai yang dulu dihibahkan pada orang-orang yang membantu membersihkan dan membereskan dapur. Sebut saya kampungan. Tidak mengapa. Asalkan saya tidak memakai kompor gas di rumah. Lain perkara jika ditawari kompor listrik. Haha. Ada sih kompor listrik tapi tidak cukup besar memuat penggorengan (teflon) ukuran normal. Oleh karena itu di dapur Pohon Tua masih berdiri kompor Hock bersumbu yang selalu dirawat oleh Mamasia. 

Siapakah dia? 

Namanya Ilham Himawan. 'Adik' yang saya panggil Epin karena dia acap memanggil saya Kak Ross. Mungkin karena saya galak haha. Sahabat DMBC dan teman jalan yang satu ini dulunya berdomisili di Kota Maumere, lantas pindah ke Kota Ende, dan kemudian kembali ke Makassar. Lucunya, Ilham lebih dulu mengenal kakak saya, Toto Pharmantara, sebagai rekan kerja. Setelah itu baru lah kami berkenalan melalui Forum Blogger Family. Pada tahun 2009, bersama Ilham, Pak Deddy Suhendry, dan Dedy Isnandar, kami mendirikan Komunitas Blogger NTT yang dikenal dengan nama Flobamora Community. 

Nostalgia


Empat belas tahun yang lalu kami berkenalan lewat forum Blogfam (Blogger Family). Siapa sangka, tiga tahun kemudian, bersama dua founder lainnya, kami membentuk Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT). Tentu berkiblat pada dua komunitas besar yaitu Blogfam dan Angingmammiri. Dia sering memanggil saya Kak Ross, sedangkan saya memanggilnya Epin (kembaran ketiga Upin Ipin) haha.

Momen terbaik pertama kami adalah ketika kami sedang mengobrol berdua karena aturan mengobrol kami adalah tidak boleh ada cerita yang berulang. Coba hitung, sudah berapa banyak cerita kami selama ini? Topik boleh sama tapi cerita harus beda-beda. Mulai dari hidup, hidup di perantuan, hidup anak kos, hidup anak bungsu, dunia sekolah dan pendidikan, komunitas ini itu beserta lika-likunya, makanan (sampai mencoba resep-resep baru), traveling, buku-buku, blog, dunia tulis-menulis, filem, One Day One Juz, dan lain sebagainya.

Momen terbaik kedua adalah ketika dia sedang iseng. Semua omongan akan disambarnya dengan sangat sangat sangat iseng dan konyol. Dan tentu saja saat ramai-ramai di ruang karaoke!

Momen terbaik ketiga adalah ketika tingkahnya mengingatkan saya akan keponakan saya Indra Pharmantara. Gerak-gerik hingga ekspresinya itu loh ha ha ha.


Tapi jangan dikira kami tidak pernah berantem loh. Kami pernah saling diem-dieman begitu lama. Namun justru itu yang semakin mendewasakan dan mendekatkan kami *cieee* haha. 

Tentu saja satu dua paragraf tidak dapat mewakili semua hal yang pernah kami lakukan bersama (juga bersama teman-teman), makan-makan, jalan-jalan, diskusi, karaokean, pelatihan blog, bakti sosial, nongkrong sampai larut malam, tuker-tukeran buku (saya masih ngutang dua buku yang dibelinya hahaha), dia sering berbagi makanan hasil eksperimennya di dapur kos (enak loh soalnya gratis), ngetawain diri sendiri, nganterin dia ke dokter, dan masih buanyaaak lagi!

Tahukah kalian? Istilah WOW a la FC yang kesohor itu, yang dibahas berbulan-bulan kemudian bahkan menular, dicetus oleh dia loh. Dia juga pernah jatuh di tempat yang sama dengan tempat saya jatuh hingga dia harus patuh pada ramuan kunyit panas *ngakak guling-guling*. Bedanya saya jatuh dengan sepeda motor di tempat itu dan bermanuver 180 derajat saat berangkat, tengah malam, menuju Riung. Sedangkan dia jatuh di tempat yang sama saat kami jalan-jalan dari Riung ke bukit-bukit berhampar rumput hijau. Dan, dia selalu punya ide brilian pada last hour ketika acara hendak dimulai. 

Kiriman Itu Tiba


Usai Idul Fitri 2019 kemarin, saya menerima kiriman yang fotonya sudah duluan dikirim Ilham melalui pesan WA. Ketika ditimbang-timbang beratnya ... tidak mungking ini kompor gas! Haha. Sesuai pesannya, ada tiga paket untuk tiga karyawan tempat dia bekerja dulu di Kota Ende. Alhamdulillah amanatnya sudah tersampaikan. Selebihnya dikirimkan untuk saya ... yuhuuuu!






Betul-betul ini namanya rejeki anak solehah dari Makassar. Terima kasih Kakak Ilham, maaf apabila belum sempat membalas apapun, Insha Allah I will. Bagi saya intinya adalah bukan dari benda-benda mati ini, tetapi bagaimana silaturahmi itu tetap terjaga, dan kita tetap saling berkomunikasi melalui dunia internet, terutama WA.

Sepertinya harus 'merapatkan barisan' untuk bisa pergi ke Makassar bareng #5akiKereta!



Cheers.

Horeday #6: Well Done! I Finished My Stone Project


HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday merupakan seri Horeday yang saya tulis untuk minggu pertama setelah kembali dari libur nge-blog (libur Idul Fitri). Liburan kali ini sangat bermanfaat karena banyak kegiatan positif yang dilakukan selain beberes rumah dan menyiapkan kudapan. Rugi rasanya kalau tidak ditulis dalam seri/tema khusus Horeday. Oleh karena itu, bagi kalian yang sering main ke blog ini, jangan kaget kalau tema-tema harian seperti #SelasaTekno atau #RabuDIY atau #PDL khas Jum'at belum muncul. Mohon bersabar. Orang sabar disayang Tuteh ... dan dinosaurus! Hehe. 

Sebelumnya, silahkan baca seri Horeday lainnya tentang Eid Raya:

Horeday #3: Pharmantara Big Family and Happy Eid Raya 

Atau tentang tamu-tamu spesial berikut ini:

Horeday #4: Tamu-Tamu Spesial di Hari Super Spesial

Tulisan ke-enam Horeday adalah tentang satu proyek yang masuk daftar resolusi Tahun 2019 dan sudah tertulis di T-Journal sejak awal Januari 2019. Namanya: Stone Project. Sering melihat video tutorial proyek Do It Your-self (DIY) tentang kaktus hias yang terbuat dari batu, atau tempat lilin, atau hiasan batu berbentuk rumah. Saya sangat terinspirasi olehnya. Seperti biasa, untuk setiap hal yang beraroma DIY, selalu kalimat yang sama terucap: kalau orang lain bisa membikinnya, Insha Allah saya juga bisa bikin!

Menyiapkan Bahan Dasar


Bahan dasar dari stone project ini tentulah batu. Tapi batunya bukan sembarang batu. Batu yang saya pakai adalah batu yang dibeli di Pantai Penggajawa. Harganya cukup murah. Awal Januari 2019 membeli batu itu, saya mendapat dua kantung plastik merah dengan harga Rp 40.000 loh. Batu-batu itu bahkan boleh dipilih; ukuran dan warna. Asyiiiik. Dua kantung plastik berisi batu diletakkan begitu saja di sudut ruang makan, terus dipindah ke area tempat makan kucing, terus ditumpuk, dan saya curiga bakal dibuang sama Mamasia kalau tidak segera ditindaklanjuti. Alhamdulillah liburan pun datang. Stone project pun jalan.

Cement Project ... First


Saya sudah pernah membikin barang-barang DIY berbahan semen. Dua buah pot bunga berbahan semen itu mal-nya adalah botol plastik Coca-Cola yang punya bentuk unik bagian dasarnya. Untuk stone project ini pertama-tama saya harus membikin alas bakal tempat kaktus batu tersebut. Untuk satu kilogram semen saya bisa membikin enam pot unik berbeda bentuk (berbeda mal) dan ukuran.


Ada tiga bentuk yang saya pakai yaitu: botol plastik, kotak bekas teh kotak, dan handscoon atau sarung tangan karet. Ini dia bentuknya ketika sudah jadi.


Sayangnya percobaan pertama pada sarung tangan gagal karena adonan semen terlalu encer sehingga bentuk tangannya cacat begitu. Haha. Tapi tidak mengapa. Bukankah sebelum sukses memang umumnya harus gagal terlebih dahulu? Menyenangkan hati nih. Yang penting percobaan kedua sukses dan bikin happy. Ternyata saya juga bisa membikinnya!

Stone Project


Setelah pot-pot semen jadi, saatnya membikin kaktus batunya. Caranya cukup mudah. Batu-batu pilihan kemudian di-cat: hijau tua dan hijau muda. Setelah kering satu sisi, di-cat lagi sisi lainnya. Lantas, jika semua sudah kering, diberi bunga menggunakan tip-ex. Kalau sudah selesai, letakkan kaktus batu pada pot-pot semen. Hasilnya ... tradaaaaaa!




Tiga pot kaktus batu menghiasi tiga meja di ruang tamu sedangkan satunya lagi di meja ruang keluarga (di belakang). Sangat sedap dilihat bukan? Kaktus batu dari my stone project ini unik memang. Terlihat sangat manis di meja ruang tamu. Saya pikir kalian juga bilang manis kan? Makasih, saya memang manis *dikeplak*. Haha.

⇜⇝

Jadi demikian Horeday kali ini ... sangat menyenangkan. Pada akhirnya stone project, salah satu resolusi di tahun 2019 well done! Kalau saya yang tidak terlalu telaten ini bisa membikinnya, saya yakin kalian juga pasti bisa. Lagian, mudah ini kok. Siapa tahu tahun depan kalian pengen mengubah suasana ruang tamu. Silahkan dicoba stone project begini.

Sampai ketemu di Horeday berikutnya!



Cheers.

Horeday #4: Tamu-Tamu Spesial di Hari Super Spesial


Saya jadi kuatir ... menulis HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday bakal membikin saya keasyikan dan lupa sama tema harian blog ini. Haha. Terlalu banyak cerita liburan yang ingin saya tulis dan bagi dengan kalian semua. It's personal, mungkin pun tidak memberi manfaat pada kalian, tapi saya suka melakukannya. Ijinkan seminggu ini Horeday memenuhi hari-hari kalian nge-blog. Setelahnya, #SeninCerita hingga #SabtuReview akan kembali hadir. Insha Allah. Silahkan baca kisah Horeday lainnya di bawah ini:


⇜⇝

Menjelang Idul Fitri kemarin, saya mendapat banyak rejeki, yaitu tamu-tamu spesial. Sungguh luar biasa Idul Fitri kali ini. Tamu yang pertama adalah seorang sastrawan NTT yang salah satu bukunya pernah saya ulas di blog ini. Namanya Bara Patty Radja. Tamu kedua, dua orang, yang salah satunya saya sebut sebagai traveler of the century. Nama traveler of the century ini adalah Harry Kawanda asal Makassar, dan Rojer asal Chile.

Bara Patty Radja


Mengenal Bara sudah lama sekali. Waktu itu duluan kenal namanya, kemudian bertemu orangnya di Kantin Uniflor, lalu bergelung bersama puisi-puisinya dalam buku Samudera Cinta Ikan Paus yang dihadiahkan oleh dosen Arsitektur Muklis A. Mukhtar saat pulang dari kegiatan kampus di Pulau Adonara. Buku itu memberikan energi positif yang dahsyat pada saya pribadi. Puisi-puisi di dalamnya tidak akan pernah bosan dibaca, bahkan jika kau membacanya setiap hari, dan terus menghadirkan pertanyaan demi pertanyaan: dari mana seorang Bara menemukan ilham mempertemukan diksi-diksi ini?


Maka, beberapa hari sebelum Idul Fitri kemarin, Mukhlis datang ke rumah, kabarnya Bara sedang liburan di Ende dan mungkinkah kita bisa kumpul-kumpul di rumah sebelum Idul Fitri. Tentu saya meng-iya-kan. Inilah saatnya untuk bisa berlama-lama mengobrol dengan seorang Bara! Tidak lupa saya mengirimkan pesan kepada teman-teman lain yang ingin mengobrol dan menggali lebih dalam dunia sastra, khususnya puisi, untuk datang. Beberapa teman memang datang, seperti Cahyadi, Deni, dan Habibi, sebagian lagi masih sibuk mengecat rumah.


Mengobrol bersama Bara membikin saya berada dalam dunia puisi itu sendiri karena pilihan katanya saat mengobrol pun terdengar puitis. Jago dan berkualitas benar orang ini, kata saya dalam hati. Jujur, mengobrol dengannya membikin pengetahuan saya menjadi lebih dan lebih, serta otak saya yang seakan terkunci itu mendadak membuka dengan sendirinya. Semua itu menjadi lebih lengkap dengan sikapnya yang low profile

Malam itu Bara membawakan buku terbarunya, dua buah, yang kemudian menjadi milik Cahyadi dan milik saya. Haha. Judulnya Geser Dikit Halaman Hatimu. Ini bukan sekadar buku kumpulan puisi biasa. Geser Dikit Halaman Hatimu, berdasarkan kutipan dari buku itu sendiri, dilengkapi dengan QR Code Audio Version Poetry Reading sehingga pembaca dapat langsung mendengarkan puisi-puisi itu. Tidak main-main, puisinya dibacakan oleh Olivia Zallianty, pegiat sastra Azizah Zubaer, dan oleh Bara sendiri. Saya belum mendengarkan suara-suara mereka saat membaca puisi-puisi dari Geser Dikit Halaman Hatimu. Tapi waktu saya membacanya ... saya larut ... lalu membacanya lagi dan lagi. Tidak bosan? Tidak!!! Ini keren!


Terima kasih, Bara ... sudah berbagi banyak cerita dengan kami, termasuk tentang 'mengundang' Najwa Sihab datang ke Pulau Lembata! Semoga suatu saat nanti bisa terwujud di Uniflor, ya. Insha Allah. Tamu saya memang spesial kan? Hehe.

Harry Kawanda dan Rojer


Tahun 2010 waktu saya lolos menjadi salah satu Petualang ACI Detik Com, masuk kloter 2, saya tidak bertemu Harry Kawanda. Karena dia masuk ke pemberangkatan kloter 4. Tapi kami yang rata-rata tidak bertemu antar kloter ini disatukan melalui milis, kemudian WAG, dan tentu kopdar-kopdar. Yang di Ende diam-diam saja deh ... kopdarnya rata-rata di Jakarta dan Denpasar. Yang saya tahu, Harry adalah petualang yang paling rajin keliling dunia, oleh karena itu saya menyebutnya sebagai traveler of the century. To Harry: kalau kau ngobrol sama Mamatua, bisa dicap Mamatua sebagai Jarum Super ⇻ jarang di rumah suka pergi-pergi. Haha.

Bertemu Harry sebelum dia dan Rojer berangkat ke Moni dan Danau Kelimutu.

Malam itu, saat sedang ada kegiatan sharing materi public speaking dan dunia SUC di Pohon Tua, saya ditelepon Harry. Intinya Harry sedang ada di Pulau Flores, hendak mengunjungi sahabat kami pemilik Manulalu di dekat Kampung Adat Bena yaitu Jane Kambey, lalu bakal ke Kelimutu, dan kalau bisa stay semalam di Kota Ende. Saya nyaris histeris tapi harus jaga image sebagai emak-emak rempong baik dan sopan hahaha. 

Malam perayaan Idul Fitri (hari pertama), setelah menegak Kataflam yang disarankan Stanis, Harry mengirim pesan WA bahwa dirinya dan Rojer sudah tiba di Kota Ende, diturunkan tepat di cabang menuju Ponpes Walisanga. Karena gigi ini sudah rada mendingan, berangkatlah saya, Stanis, Thika, dan Ical menjemput mereka untuk diantar ke rumah Stanis. Iya, karena rumah saya tidak ada kamar yang ready untuk tamu jadi Harry dan Rojer menginap di rumah Stanis si anak bujang yang rumahnya baru saja kelar dikerjakan *ngikik*.


Tamu-tamu spesial ini memberi warna baru dalam kehidupan kami hahaha. Terutama Harry dan Rojer yang kemudian saya ajak piknik bersama keluarga besar Pharmantara dan Abdullah di Pantai Aebai, pantai langganan kami piknik! Ceritanya ... besok! Hehe.

⇜⇝

Demikian Horeday #4. Tentang mereka, tamu-tamu spesial di hari super spesial, Idul Fitri, yang mau bergabung dengan keluarga kami yang ada apanya. Eh ... yang apa adanya. Hehe. Semoga mereka tidak jera ya bergabung dengan keluarga kami yang kocak ini.

Liburan saya memang istimewa. Bagaimana dengan liburan kalian, kawan?



Cheers.

Horeday #1: The Legend Cookies Choco & Cheese Stick



Hola! Meskipun terlambat hampir satu minggu dari Hari Raya Idul Fitri nan suci, ijinkan saya mengucapkan:


Well ...

I'm back (because hell is full and Lucifer doesn't like me). Haha. Itu sih istilah dari buku My Stupid Boss. Akhirnya kembali nge-blog setelah meliburkan diri selama hampir dua minggu. Sakau sih tidak, tapi rasanya ada yang kurang.

Saya yakin kabar kalian semua bebaek saja, jadi tidak perlu menanyakan kabar. Saya yakin bobot kalian juga sedikit menanjak, jadi tidak perlu menyarankan banyak makan karena otomatis itu akan terjadi, karena setelah puasa boleh lah ya menyenangkan lidah dan biarkan mulut berpesta pora sejenak. Saya yakin banyak dari kalian yang sudah kembali mengisi blog sejak kemarin-kemarin, saat saya masih bercengkerama dan terkadang saling cakar dengan gigi yang memilih sakit di saat yang tidak tepat. Anggota WAG Kelas Blogging Tuteh malah pasti sudah banyak yang mengisi blog tentang Ramadhan dan Idul Fitri.

Seminggu ke depan, blog ini bakal saya isi dengan HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday. Karena ini Senin, mari kita mulai Horeday #1 dengan The Legend Cookies and Cheese Stick.

Hari libur tiba tanggal 31 Mei 2019 tetapi tanggal merah menyelamatkan saya di tanggal 30 Mei 2019. Hyess! Tapi sebenarnya beberapa hari sebelumnya saya sudah mulai merobek-robek bungkus terigu bakal cemilan. Ada tiga cemilan ya saya bikin sendiri yaitu:

1. Cookies Choco.
2. Cheese Stick.
3. Kastengel.

Sedangkan Kacang Telur dibikin oleh Enu, sahabatnya Thika yang tinggal di rumah.

Kalau kalian membaca pos 5 Kudapan Lebaran pasti sudah tahu lima kudapan yang selalu ada di rumah saat hari raya tiba. Lagi-lagi kami membikin tiga kudapan di atas, ditambah kacang telur. Sedangkan kudapan lainnya dipesan di Tante Lili Lamury; kue Talam Bone, Wingko Babat, dan Tart. Beberapa kudapan lagi diantar oleh Kakak Nani Pharmantara. What a life! Ya, khusus Idul Fitri kali ini saya memang sengaja ingin menyajikan kudapan tradisional seperti Talam Bone dan Wingko Babat. Tahun depan bisa jadi roll-tart bahkan hilang sama sekali.



Menariknya itu ada dua. Pertama, bikin kudapannya bersama-sama dengan keponakan dan ditemani lelucon segar dari Cak Lontong (Youtube!). Duh, kapan saya bisa seperti Cak Lontong yang otaknya luar biasa cerdas itu ya. Kedua, khusus Kastengel dibikin tidak berbentuk kotak tetapi bundar mirip kukis hahaha. Apalah arti sebuah bentuk. Yang penting rasanya tetap rasa Kastengel ... yang kebanyakan keju. Kebanyakan keju tapi disukai sama Kakak Nani hehe.


Khusus untuk stik keju alias cheese stick ini, saya bikinnya banyak sekali, sampai tiga adonan (tiga wadah) dengan rentang waktu per tiga puluh menit (supaya pas waktu menunggu dia berkembang-biak haha dan proses menggiling). Kenapa banyak sekali, sampai sembilan kilogram tepung yang digunakan? Karena stik keju juga dipesan oleh Sony dan Mila Wolo. Memenuhi permintaan, terutama mereka langsung menitipkan uang dan/atau bahan, saya harus memburu waktu, menggorengnya bukan perkara sekedip mata kan. Biasanya saya baru mulai membikin adonan stik keju ini sore hari, tapi pada hari itu saya memulainya sejak pukul 10.00 Wita. Alhamdulillah tidak sampai waktu Ashar sudah kelar semuanya.

The legend cookies choco and cheese stick nampaknya bakal terus menjadi kudapan favorit di rumah kami entah sampai kapan. Yang penting, selama banyak yang suka, kami bakal terus menyuguhkannya kepada tamu-tamu yang datang.

Dan karena Horeday, libur nge-blog, saya menghabiskan waktu luang dengan menonton Youtube dan bermain game. Haha. Kapan lagi ... coba?

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komentar!



Cheers.

Horeday #1: The Legend Cookies Choco & Cheese Stick



Hola! Meskipun terlambat hampir satu minggu dari Hari Raya Idul Fitri nan suci, ijinkan saya mengucapkan:


Well ...

I'm back (because hell is full and Lucifer doesn't like me). Haha. Itu sih istilah dari buku My Stupid Boss. Akhirnya kembali nge-blog setelah meliburkan diri selama hampir dua minggu. Sakau sih tidak, tapi rasanya ada yang kurang.

Saya yakin kabar kalian semua bebaek saja, jadi tidak perlu menanyakan kabar. Saya yakin bobot kalian juga sedikit menanjak, jadi tidak perlu menyarankan banyak makan karena otomatis itu akan terjadi, karena setelah puasa boleh lah ya menyenangkan lidah dan biarkan mulut berpesta pora sejenak. Saya yakin banyak dari kalian yang sudah kembali mengisi blog sejak kemarin-kemarin, saat saya masih bercengkerama dan terkadang saling cakar dengan gigi yang memilih sakit di saat yang tidak tepat. Anggota WAG Kelas Blogging Tuteh malah pasti sudah banyak yang mengisi blog tentang Ramadhan dan Idul Fitri.

Seminggu ke depan, blog ini bakal saya isi dengan HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday. Karena ini Senin, mari kita mulai Horeday #1 dengan The Legend Cookies and Cheese Stick.

Hari libur tiba tanggal 31 Mei 2019 tetapi tanggal merah menyelamatkan saya di tanggal 30 Mei 2019. Hyess! Tapi sebenarnya beberapa hari sebelumnya saya sudah mulai merobek-robek bungkus terigu bakal cemilan. Ada tiga cemilan ya saya bikin sendiri yaitu:

1. Cookies Choco.
2. Cheese Stick.
3. Kastengel.

Sedangkan Kacang Telur dibikin oleh Enu, sahabatnya Thika yang tinggal di rumah.

Kalau kalian membaca pos 5 Kudapan Lebaran pasti sudah tahu lima kudapan yang selalu ada di rumah saat hari raya tiba. Lagi-lagi kami membikin tiga kudapan di atas, ditambah kacang telur. Sedangkan kudapan lainnya dipesan di Tante Lili Lamury; kue Talam Bone, Wingko Babat, dan Tart. Beberapa kudapan lagi diantar oleh Kakak Nani Pharmantara. What a life! Ya, khusus Idul Fitri kali ini saya memang sengaja ingin menyajikan kudapan tradisional seperti Talam Bone dan Wingko Babat. Tahun depan bisa jadi roll-tart bahkan hilang sama sekali.



Menariknya itu ada dua. Pertama, bikin kudapannya bersama-sama dengan keponakan dan ditemani lelucon segar dari Cak Lontong (Youtube!). Duh, kapan saya bisa seperti Cak Lontong yang otaknya luar biasa cerdas itu ya. Kedua, khusus Kastengel dibikin tidak berbentuk kotak tetapi bundar mirip kukis hahaha. Apalah arti sebuah bentuk. Yang penting rasanya tetap rasa Kastengel ... yang kebanyakan keju. Kebanyakan keju tapi disukai sama Kakak Nani hehe.


Khusus untuk stik keju alias cheese stick ini, saya bikinnya banyak sekali, sampai tiga adonan (tiga wadah) dengan rentang waktu per tiga puluh menit (supaya pas waktu menunggu dia berkembang-biak haha dan proses menggiling). Kenapa banyak sekali, sampai sembilan kilogram tepung yang digunakan? Karena stik keju juga dipesan oleh Sony dan Mila Wolo. Memenuhi permintaan, terutama mereka langsung menitipkan uang dan/atau bahan, saya harus memburu waktu, menggorengnya bukan perkara sekedip mata kan. Biasanya saya baru mulai membikin adonan stik keju ini sore hari, tapi pada hari itu saya memulainya sejak pukul 10.00 Wita. Alhamdulillah tidak sampai waktu Ashar sudah kelar semuanya.

The legend cookies choco and cheese stick nampaknya bakal terus menjadi kudapan favorit di rumah kami entah sampai kapan. Yang penting, selama banyak yang suka, kami bakal terus menyuguhkannya kepada tamu-tamu yang datang.

Dan karena Horeday, libur nge-blog, saya menghabiskan waktu luang dengan menonton Youtube dan bermain game. Haha. Kapan lagi ... coba?

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komentar!



Cheers.