Horeday #4: Tamu-Tamu Spesial di Hari Super Spesial


Saya jadi kuatir ... menulis HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday bakal membikin saya keasyikan dan lupa sama tema harian blog ini. Haha. Terlalu banyak cerita liburan yang ingin saya tulis dan bagi dengan kalian semua. It's personal, mungkin pun tidak memberi manfaat pada kalian, tapi saya suka melakukannya. Ijinkan seminggu ini Horeday memenuhi hari-hari kalian nge-blog. Setelahnya, #SeninCerita hingga #SabtuReview akan kembali hadir. Insha Allah. Silahkan baca kisah Horeday lainnya di bawah ini:


⇜⇝

Menjelang Idul Fitri kemarin, saya mendapat banyak rejeki, yaitu tamu-tamu spesial. Sungguh luar biasa Idul Fitri kali ini. Tamu yang pertama adalah seorang sastrawan NTT yang salah satu bukunya pernah saya ulas di blog ini. Namanya Bara Patty Radja. Tamu kedua, dua orang, yang salah satunya saya sebut sebagai traveler of the century. Nama traveler of the century ini adalah Harry Kawanda asal Makassar, dan Rojer asal Chile.

Bara Patty Radja


Mengenal Bara sudah lama sekali. Waktu itu duluan kenal namanya, kemudian bertemu orangnya di Kantin Uniflor, lalu bergelung bersama puisi-puisinya dalam buku Samudera Cinta Ikan Paus yang dihadiahkan oleh dosen Arsitektur Muklis A. Mukhtar saat pulang dari kegiatan kampus di Pulau Adonara. Buku itu memberikan energi positif yang dahsyat pada saya pribadi. Puisi-puisi di dalamnya tidak akan pernah bosan dibaca, bahkan jika kau membacanya setiap hari, dan terus menghadirkan pertanyaan demi pertanyaan: dari mana seorang Bara menemukan ilham mempertemukan diksi-diksi ini?


Maka, beberapa hari sebelum Idul Fitri kemarin, Mukhlis datang ke rumah, kabarnya Bara sedang liburan di Ende dan mungkinkah kita bisa kumpul-kumpul di rumah sebelum Idul Fitri. Tentu saya meng-iya-kan. Inilah saatnya untuk bisa berlama-lama mengobrol dengan seorang Bara! Tidak lupa saya mengirimkan pesan kepada teman-teman lain yang ingin mengobrol dan menggali lebih dalam dunia sastra, khususnya puisi, untuk datang. Beberapa teman memang datang, seperti Cahyadi, Deni, dan Habibi, sebagian lagi masih sibuk mengecat rumah.


Mengobrol bersama Bara membikin saya berada dalam dunia puisi itu sendiri karena pilihan katanya saat mengobrol pun terdengar puitis. Jago dan berkualitas benar orang ini, kata saya dalam hati. Jujur, mengobrol dengannya membikin pengetahuan saya menjadi lebih dan lebih, serta otak saya yang seakan terkunci itu mendadak membuka dengan sendirinya. Semua itu menjadi lebih lengkap dengan sikapnya yang low profile

Malam itu Bara membawakan buku terbarunya, dua buah, yang kemudian menjadi milik Cahyadi dan milik saya. Haha. Judulnya Geser Dikit Halaman Hatimu. Ini bukan sekadar buku kumpulan puisi biasa. Geser Dikit Halaman Hatimu, berdasarkan kutipan dari buku itu sendiri, dilengkapi dengan QR Code Audio Version Poetry Reading sehingga pembaca dapat langsung mendengarkan puisi-puisi itu. Tidak main-main, puisinya dibacakan oleh Olivia Zallianty, pegiat sastra Azizah Zubaer, dan oleh Bara sendiri. Saya belum mendengarkan suara-suara mereka saat membaca puisi-puisi dari Geser Dikit Halaman Hatimu. Tapi waktu saya membacanya ... saya larut ... lalu membacanya lagi dan lagi. Tidak bosan? Tidak!!! Ini keren!


Terima kasih, Bara ... sudah berbagi banyak cerita dengan kami, termasuk tentang 'mengundang' Najwa Sihab datang ke Pulau Lembata! Semoga suatu saat nanti bisa terwujud di Uniflor, ya. Insha Allah. Tamu saya memang spesial kan? Hehe.

Harry Kawanda dan Rojer


Tahun 2010 waktu saya lolos menjadi salah satu Petualang ACI Detik Com, masuk kloter 2, saya tidak bertemu Harry Kawanda. Karena dia masuk ke pemberangkatan kloter 4. Tapi kami yang rata-rata tidak bertemu antar kloter ini disatukan melalui milis, kemudian WAG, dan tentu kopdar-kopdar. Yang di Ende diam-diam saja deh ... kopdarnya rata-rata di Jakarta dan Denpasar. Yang saya tahu, Harry adalah petualang yang paling rajin keliling dunia, oleh karena itu saya menyebutnya sebagai traveler of the century. To Harry: kalau kau ngobrol sama Mamatua, bisa dicap Mamatua sebagai Jarum Super ⇻ jarang di rumah suka pergi-pergi. Haha.

Bertemu Harry sebelum dia dan Rojer berangkat ke Moni dan Danau Kelimutu.

Malam itu, saat sedang ada kegiatan sharing materi public speaking dan dunia SUC di Pohon Tua, saya ditelepon Harry. Intinya Harry sedang ada di Pulau Flores, hendak mengunjungi sahabat kami pemilik Manulalu di dekat Kampung Adat Bena yaitu Jane Kambey, lalu bakal ke Kelimutu, dan kalau bisa stay semalam di Kota Ende. Saya nyaris histeris tapi harus jaga image sebagai emak-emak rempong baik dan sopan hahaha. 

Malam perayaan Idul Fitri (hari pertama), setelah menegak Kataflam yang disarankan Stanis, Harry mengirim pesan WA bahwa dirinya dan Rojer sudah tiba di Kota Ende, diturunkan tepat di cabang menuju Ponpes Walisanga. Karena gigi ini sudah rada mendingan, berangkatlah saya, Stanis, Thika, dan Ical menjemput mereka untuk diantar ke rumah Stanis. Iya, karena rumah saya tidak ada kamar yang ready untuk tamu jadi Harry dan Rojer menginap di rumah Stanis si anak bujang yang rumahnya baru saja kelar dikerjakan *ngikik*.


Tamu-tamu spesial ini memberi warna baru dalam kehidupan kami hahaha. Terutama Harry dan Rojer yang kemudian saya ajak piknik bersama keluarga besar Pharmantara dan Abdullah di Pantai Aebai, pantai langganan kami piknik! Ceritanya ... besok! Hehe.

⇜⇝

Demikian Horeday #4. Tentang mereka, tamu-tamu spesial di hari super spesial, Idul Fitri, yang mau bergabung dengan keluarga kami yang ada apanya. Eh ... yang apa adanya. Hehe. Semoga mereka tidak jera ya bergabung dengan keluarga kami yang kocak ini.

Liburan saya memang istimewa. Bagaimana dengan liburan kalian, kawan?



Cheers.

Horeday #3: Pharmantara Big Family and Happy Eid Raya


Hari ketiga HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday. Saya memang mengkhususkan seminggu ini untuk bercerita hari-hari liburan seru, tak selamanya tentang Hari Raya Idul Fitri itu sendiri, yang saya alami baik bersama keluarga maupun bersama teman-teman. Kisah lainnya bisa kalian baca (di bawah ini):


⇜⇝

Idul Fitri. Hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Muslim. Hari kemenangan setelah sebulan penuh, terutama laki-laki, menjalankan puasa mengalahkan segala hawa nafsu. Hari yang mempertemukan semua anggota keluarga Pharmantara! Asyik! Hehe. Seperti yang sudah sering saya tulis, kami memang tinggal di Kota Ende yang kecil, tapi masing-masing punya kesibukan dan aktivitas harian/rutin. Otomatis tidak setiap hari kami bisa berkumpul haha hihi. Selain piknik setiap dua minggu sekali, Idul Fitri merupakan momen yang mempertemukan kami semua. Sayangnya Idul Fitri tahun ini keluarga Abang Nanu Pharmantara liburan ke Kota Kupang. Yah ... kurang ramai karena tidak ada Syiva haha.

Idul Fitri dimulai dengan sakit gigi. Ya, salah satu geraham atas gigi saya itu bermasalah. Pertama, berlubang. Kedua, sejak kepentok sikat gigi, jadi sering eror. Tapi meskipun malam sebelum Idul Fitri saya hanya tidur satu jam, pergi ke Lapangan Pancasila untuk Shalat Eid itu tetap dijalani. Alasannya? Ketimbang berusaha tidur dengan gigi nyut-nyutan, lebih baik tetap shalat dengan gigi nyut-nyutan. Setidaknya khusyuk selama sekitar sepuluh menit itu jauh lebih baik. Menurut saya. Haha. Gigi ini sungguh terlalu.

Sebagian dari kami, usai Shalat Eid.

Usai Shalat Eid kami mulai saling mencari-cari anggota lainnya untuk sama-sama berangkat ke pemakaman umum di Jalan Perwira. Sudah menjadi rutinitas setiap kali Idul Fitri; shalat ↠ ke makam Bapa, Kakak Toto, dan Wawan ↠ pulang ke Pohon Tua ↠ sungkem dan makan bersama ↠ pergi ke rumah Paman dan Bibi. 

Empat penghuni utama Pohon Tua.

Meskipun gigi sedang nyut-nyutan saya tetap menikmati makanan khas Idul Fitri yang kali ini agak berbeda. Tidak ada opor dan ketupat! Haha. Kami menyiapkan nasi, sup ayam, ayam tomat, sayur tumis, kering tempe, kerupuk, dan sambal. Betul-betul di luar kebiasaan. Memang sengajaaaa. Hal yang sama juga terjadi dengan beberapa kudapan; dua kudapan adalah kudapan tradisional.


Encim and The Gank, assshiaaap, yang memang hebring dan heboh ini membikin Pohon Tua yang biasanya sepi menjadi supeerrrrr ramai! Mengobrol, haha hihi, makan minum, saling ejek, tingkah para cucu, sampai yang pedekate *uhuk*, pokoknya momen itu selalu bikin kangen. Keluarga besar ini memang kocak, terutama saat sungkeman ke Mamatua. Banyak kali itu wejangan dan doa-doa serta tiupan-tiupan ke ubun-ubun *LOL!*. 

Shalat, sudah.
Nyekar, sudah.
Sungkeman, sudah.
Makan-makan, sudah.
Saatnya silaturahmi ke rumah Paman Bibi!

Di rumah Bibi Hawa dan anaknya Rudi Pua Ndawa (dan Aynun).

Kalian lihat tawa saya yang lebar itu? Itu palsu. Karena sesungguhnya gigi saya sedang berada di puncak tertinggi rasa sakit.

Mengunjungi rumah Paman dan Bibi diteruskan ke rumah orangtua anggota keluarga baru, yaitu orangtuanya Titin (isterinya Angga). Luar biasa di rumah orang para cucu membikin acara sendiri yang super heboh sampai semacam terjadi ledakan bom nuklir di rumah itu hahahahaha. Sumpah, saya hanya bisa tertawa sambil menahan sakit gigi. Sakit gigi yang luar biasa ini mengantar saya tidur di sofa ruang tamu rumah calon mertuanya Kakak Nani Pharmantara. Qiiqiqiqi. Sampai tuan rumah cukup repot pula melihat saya. Ah ... penuh cerita Idul Fitri kali ini.

Pulang ke Pohon Tua, setelah menegak salah satu pain killer, saya tepar sampai malam hari. Alhamdulillah Kakak Didi Pharmantara mau berlama-lama di Pohon Tua untuk menemani tamu. Katanya saya kerjain dia hahaha. Maklum lah, ketimbang saya memaksakan diri duduk bersama tamu dengan kondisi begini? 

Clue, salah seorang tamu: traveler of the century! Haha.

Keajaiban terjadi ketika Stanis datang ke rumah dan menyarankan Kataflam bubuk sekaligus dua sachet. Ini namanya kebetulan yang manis. Karena ... saya punya dua orang tamu, traveler, yang baru tiba dari Moni. Nah, mereka bakal menginap semalam di Ende (Stanis menyiapkan rumahnya, dan terima kasih banget untuk itu). Ketika mereka tiba, saya baru selesai menegak Kataflam bubuk itu (dicampur air donk) ... dan efeknya cukup cepat! Nyeri hilang. Sekitar pukul 21.00 Wita akhirnya saya dan Stanis menjemput sang tamu dan mengantar mereka beristirahat di rumah Stanis. Tentang tamu-tamu ini, nantikan kisahnya besok!

⇜⇝

Keluarga kami, Pharmantara beserta  keluarga lain akibat dari kawin-mawin yaitu keluarga Abdullah (suami Kakak Nani Pharmantara) memang selalu heboh dan kocak di setiap kesempatan. Bukan berarti kami tidak mengalami susah dan sulitnya hidup. Kami mengalaminya juga, termasuk berantem dan saling diam! Tapi darah yang kental ini tidak dapat encer hanya karena berantem kan ya. Dan saya bahagia memiliki mereka semua dalam hidup ini. Love them all.




Cheers.

5 Kudapan Lebaran


Terlalu dini? Itu yang ada di pikiran saya saat mulai menulis pos ini sambil mendengarkan suara seksi kekasih impian James Arthur. Anggap saja di video musik itu dia menyanyikan Say You Won't Let Go untuk saya seorang. Ha ha haaaa. Balik lagi ke terlalu dini tadi. Saya merencanakan pos ini untuk Kamis depan, tapi kuatir hari libur bakal bikin saya libur nge-blog juga sampai selesai Idul Fitri, sehingga tidak ada salahnya menulis sekarang. Lagi pula, seandainya Kamis depan masih bisa nge-blog di sela-sela kesibukan mengganti atap rumah (LOL!), saya masih bisa menulis tentang menu andalan di rumah kami. Selalu, ya, selalu ada ide untuk menulis.

Baca Juga: 5 Youtuber Ende

Setiap rumah pasti punya kudapan andalan, kudapan favorit, yang disiapkan menjelang Idul Fitri. Sebut saja kastengel, nastar, puteri salju, dan lain sebagainya. Termasuk juga rumah kami. Selalu ada kudapan andalan yang disiapkan menjelang Idul Fitri. Meskipuuuun, seringnya saya merampok sekian stoples dari rumah kakak-kakak. Haha. Enak kan jadi anak bungsu *kedip-kedip*.

Mari kita cek. Siapa tahu samaan dengan kalian.

1. Stik Keju


Ya ampun! Ini memang paling dicari di rumah saya. Bikinnya juga banyak banget! Sekalian jadi cemilan orang serumah sampai beberapa minggu usai Idul Fitri. Jadi, kalau ada teman yang datang membawa tas mungil dan pulang membawa tambahan kresek berisi stoples, dapat dipastikan isi stoples itu adalah stik keju. Karena konon katanya stik keju bikinan saya itu rasanya di awang-awang, setelah ditelan aroma kejunya itu keluar, dan membikin ketagihan. Demikian juga kadar renyahnya itu yang mereka suka. Jelaaasss bikin hidung saya semakin mekarrrrr hahaha.


Mereka tidak tahu, dibalik stik keju yang renyah, ada lengan yang berotot membikin adonannya. Haha!


Sony, salah seorang sahabat DMBC pada akhirnya memesan stik keju ini ketimbang dia tidak kebagian. Ya karena setiap Idul Fitri, Sony memilih traveling ke mana-mana. Nah, pos soal stik keju ini berikut bahan dan cara membikinnya bisa kalian baca di pos Stik Keju Legendaris. Yang jelas tanpa timbangan untuk menakar bahan-bahannya.

2. Kukis Cokelat


Ini dia kudapan yang juga populer seantero Galaksi Tuteh dan sekitarnya. Kata mereka rasanya enak sih. Awal cerita sampai bikin kukis cokelat ini karena saya pengen bikin kukis yang agak berbeda dari yang pernah ada. Maka main-mainlah saya ke Cookpad yang berlimpah resep, mulai dari resep kuker, bolu, opor, soto, dan lain sebagainya.


Di atas, foto kukis cokelat (depan/bawah) dan kastengel (belakang/atas). Kukisnya tidak ditabur choco chip. Tapi saya pernah membikin yang pakai choco chip. Ini soal estetika saja. Oh ya, kukis cokelat ini menggunakan bahan yang tidak umum seperti nutrijel cokelat dan susu dancow. Sumpah, ini tanpa terigu.

3. Didit Balen


Saya tidak peduli nama yang disebut orang-orang, tetap saja saya menyebutnya didit balen. Dulu, waktu masih berlangganan majalah Aneka (masih imut), ada resep ini di majalah remaja tersebut, dan proses membikinnya pun sama. Nama ini melekat erat di benak saya sehingga sampai saat ini pun masih menyebutnya didit balen. Dan orang-orang menyebutnya bola cokelat.


Aslinya saya tidak menyukai didit balen soalnya paling malas sama proses menghancurkan biskuitnya itu! Tapi ... tapi ... tapi ... Indra Pharmantara paling suka kudapan ini. Dan, kalian tentu tahu di rumah saya itu ada aturan: siapa yang memberi ide, dia yang melaksanakan. Hyess, akhirnya Indra sendiri yang membikin kudapan yang satu ini. Biasanya dia dibantu 'anak' saya Jiel soalnya setiap menjelang Idul Fitri, Jiel dan Mamanya datang ke rumah buat bantu-bantu Mami (saya :p).



Memang menggoda sih ... apalagi kalau tinggal makan! Haha.

4. Brondong


Dulu, waktu masih kecil-kecil, setiap menjelang Idul Fitri kami punya tugas memisahkan kacang dari kulitnya, setelah kacang itu direbus. Kata kami: peje kacang. Untungnya sekarang sudah tidak ada ritual itu lagi karena banyak kacang yang dijual di pasaran dan rasanya enak-enak. Tapi sudah beberapa tahun kami tidak menyajikan kacang goreng, diganti sama brondong dan/atau krupuk melinjo. Ini brondong paling enak memang buat teman nonton filem, gantian sama stik keju *ngikik*.

5. Hasil Rampokan


I am pirates of Pharmantara. Bahagianya jadi anak bungsu itu ya begini, bisa merampok di rumah kakak-kakak. Ada satu kue cantik banget dikasih keponakan, kuker dengan icing berbentuk cewek berjilbab. Tapi sayang saya mencari fotonya tidak ketemu euy. Biasanya hasil rampokan ini jumlahnya bisa sama banyak dengan yang saya bikin sendiri.


Itu dia lima kudapan saat Lebaran yang pasti ada di rumah kami. Itu di luar kudapan lain yang dikirim sama tetangga dan teman-teman seperti aneka puding (termasuk puding kentang yang nyumi itu), aneka bolu/tart, sampai es krim. Intinya adalah semua orang senang, saya juga senang, hidup lebih senang *halah*.

Baca Juga: 5 Menu Breakfast

Bagaimana denga kalian? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.