Waktu Yang Berhenti Di Pulau Pisang, Lampung


"Ija Mit Pulau Pisang", seolah-olah saya bisa mendengar kata-kata ini keluar dari laut yang terbelah oleh kapal berpenumpang sekitar 10 orang ini. Ija Mit berarti selamat datang. Tujuan kami berlima adalah Pulau Pisang. Sebuah pulau yang berada di pesisir barat provinsi Lampung. Tak sadar badan kami agak sedikit basah karena kapal sedikit menghantam ombak. Begitulah petualangan seru 2 hari ini dimulai. Petualangan menjelajah pulau yang sangat terbatas listriknya. 

Mba Donna (ayopelesiran.com), pernah bercerita sebelum berangkat dari Jakarta, bahwa saya harus mempersiapkan bekal yang cukup karena listrik di pulau ini sangat terbatas. Penduduknya mengandalkan jenset yang mulai dinyalakan dari jam 18.00 - 23.00. Maka dari itu diperlukan powerbank yang cukup banyak dayanya. Oh iya, saya teringat dengan pricebook.co.id, sebuah website yang dapat membandingkan seluruh harga barang dari seluruh situs dan toko di seluruh indonesia. Saya pun mencari informasi tentang powerbank tersebut dari website ini. 

Saya mempunyai tips tentang benda/barang apa saja yang harus dibawa dalam berlibur di Pulau Pisang ini. Yuk kita intip apa saja yang perlu di bawa. 

Power Bank 

Listrik di Pulau Pisang akan padam kala pagi sampai sore, sehingga waktu yang tepat untuk men-charge seluruh gadget adalah pada waktu setelah maghrib hingga tengah malam. Salah satu barang yang harus dibawa adalah Power Bank dengan daya melebihi 10.000 mAH dan dapat digunakan untuk gadget maupun benda lain seperti kipas angin, hair dryer dan laptop. Power Bank Vivan MF 20 adalah jawabannya. Power bank ini memiliki daya 20.800 mAH dan dapat digunakan untuk men-charge apapun melalui saklar yang tersedia. 

Batere Cadangan  

Jangan melupakan batere cadangan terutama kameramu. Sayang sekali kalau momen yang indah di pulau pisang tidak dapat diabadikan dalam kameramu. Bawalah minimal 1 batere cadangan yang sudah dicharge dari rumah atau sebelum mencapai pulau pisang. 


Dry Bag

Kameramu basah karena terkena ombak pada saat menyeberang dari Pelabuhan Krui menuju ke Pulau Pisang. Atau pada saat jalan-jalan menyusuri pantai lalu kameramu jatuh dan tersapu ombak. Hal ini akan mengundang malapetaka baru, so jangan lupa ya untuk membawa dry bag yang terbaik yang kamu miliki. 

Tongsis Atau Tripod

Dua barang ini pastinya akan mempermudah kita dalam mengambil gambar, apalagi jika travelingnya seorang diri. Tongsis dan tripod sebetulnya tergantung dari selera masing-masing, jadi sangat disarankan agar membawa yang tidak merepotkan dan ringkas. 

Setelah semuanya dibawa, marilah kita mulai petualangan yang sangat seru di Pulau Pisang. Bagi saya, berada di pulau ini sepertinya waktu itu terhenti dan dunia tak berputar. Keindahannya membuat saya betah berlama-lama dan menikmati suasana pantai dengan berbagai aktivitasnya. 

Perjalanan Menuju Pulau Pisang 


Sebelum ke Pulau Pisang, saya lebih dahulu menjelajah destinasi lain yang satu arah. Salah satu yang menarik adalah Kampung warna warni Peninjauan dan Pulau pasaran. Kampung Warna-Warni Peninjauan, Teluk Betung Barat, Lampung, merupakan salah satu kampung warna-warni di Indonesia. Meskipun tak sepadat Malang, Yogya ataupun Semarang, Kampung ini sangat menarik karena aktivitas warganya sebagai penghasil kolang-kaling. Jangan salah, kolang-kalingnya sangat tersohor sampai ke berbagai daerah lain di Indonesia.

Saat menginjakan kaki di Pulau Pasaran, saya terkesima dengan hutan bakau yang masih tumbuh subur. Jalanan menuju ke pulau disambung dengan jembatan seluas satu mobil. Panjangnya kira-kira ratusan meter saja tidak sampai 1 kilo. Yang menarik adalah aktivitas melaut, menangkap ikan dan menjemur ikan jadi sesuatu yang unik. Saya cukup menikmati karena di Jakarta, jarang sekali melihat kegiatan seperti ini.


Tiga bocah kecil mengikuti saya dan rombongan, mulanya kami hanya menyapanya saja, namun lama-kelamaan mereka beralih menjadi model ala-ala, bak supermodel. Bahkan saya menyebutnya sebagai iklan layanan masyarakat mengenai pentingnya mengkonsumsi ikan seperti Ibu Pudji, Menteri Perikanan.

Perjalanan menuju ke Pulau Pisang dapat ditempuh dengan jalur Krui, kita bisa melewati jalur lintas barat Sumatera yaitu, Bandar Lampung-Kemiling-Gedong Tataan-Gading-Pringsewu-Talang Padang-Gisting-Kotaagung-Hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan-Bengkunat-Krui-Dermaga Tembakak. Jika menggunakan transportasi publik, bisa naik bus dari Terminal Rajabasa, Bandar Lampung dan langsung menuju ke Krui. Atau bisa menggunakan Travel dari Bandar Lampung menuju ke Krui.

Setelah di Dermaga Tembakak, kemudian menggunakan kapal penyebrangan dengan harga sekitar 25-35 ribu per orang dan jam keberangkatan antara jam 7 pagi hingga jam 2 siang, selebihnya akan membayar sangat mahal tergantung kesepakatan. Atau jika ingin menyewa kapal sekitar 250.000-300.000 tergantung dari kesepakatan.

Waktu Yang Berhenti di Pulau Pisang


Ombak beradu dengan kecepatan kapal yang cukup kencang. Saya dan rombongan pun duduk terdiam menikmati langit yang cukup terik. Tak berapa lama, setelah menempuh perjalanan kurang dari satu jam, kapal kami bersandar di pantai pasir putih. "Ija Mit", lagi-lagi saya seperti mendengar pulau ini menyambut saya. Senyum menghias wajah-wajah yang terlihat letih karena perjalanan yang cukup panjang.

Kami beristirahat di Homestay yang cukup dekat dengan bibir pantai. Kami di sambut oleh Anjing yang di pelihara pemilik Homestay. Ekornya terkibas-kibas, tandanya anjing ini menyukai kami. Dan, memang betul selama kami bermain di pantai, anjing ini selalu berada di sekitar kami bersama anjing kecil, anaknya.

Setelah makan siang, saya tertidur sangat pulas. Bahkan, ombak pantai yang menderu-deru dan mengajak untuk bermain saya abaikan beberapa saat. Dan, mata terbuka ketika matahari mulai tenggelam di arah barat. Tangan ini kemudian bergegas mengenggam kamera pocket yang terbaru. Dan, sore itu memang tidak menampakan keindahan karena matahari masih malu-malu di balik awan.

Malam hari ketika jenset dinyalakan, kami semuanya memasang charger dan mengecharge seluruh gadget termasuk Power Bank yang memang kami butuhkan saat keesokan harinya.


Keesokan hari, kami berencana untuk naik ke menara untuk melihat keindahan yang luar biasa dari puncak tertinggi di pulau pisang. Saya pun tak mengira bisa naik sampai ke tangga ketiga, karena puncaknya sangat licin dan hanya terdapat tangga tanda adanya penyangga. Namun saya tetap bisa menikmati pulau lain tanpa harus naik sampai yang paling puncak.


Dan, swafoto pun dilakukan sebelum meninggalkan ketinggian diatas menara. Bolehlah berbangga karena bisa naik dan mengabadikannya sebagai oleh-oleh bagi orang yang memiliki badan sebesar saya. Hikmahnya, bukan badan atau fisik yang membuat kita tidak bisa, namun karena niat atau tekad yang kuat pun bisa menyingkirkan keterbatasan fisik yang kita miliki.

Sebelum kami kembali ke Homestay, kami menyempatkan diri mampir di Sekolah Dasar yang dibangun sejak zaman penjajahan Belanda, selain itu juga kami sempatkan berkeliling lagi ke pantai yang luar biasa indah. Perjalanan lain pun menanti, saatnya kami berkemas dan menuju ke kemabli ke Dermaga.

Anak Gunung Krakatau Yang Legendaris



Rakata, Danan dan Perbuatan membentuk sebuah gugusan pada sebelum 1883 dan berdiri kokoh di perairan antara pulau Jawa dan Sumatra. Debu membumbung tinggi hingga menutupi sebagian Bumi, Ombak pun takalah ganas hingga memporak porandakan garis pantai Jawa dan Sumatra yang berbatasan langsung dengan Gugusan Krakatau. Dahsyatnya letusan membuat seluruh penerbangan di tunda dan mengacaukan jaringan radio di belahan Bumi lain.

Kini, hanya tinggal Rakata saja yang masih berdiri. Namun, berjalannya waktu, Gunung Krakatau mewariskan kedahsyatannya kepada sang penerus, Anak Gunung Krakatau.

____

Saya dan Hanum beserta Rombongan dari Badan Penghubung Provinsi Lampung berada dalam satu kapal. Suhu udara masih terlalu dingin untuk bersentuhan. Suara Ayam pun belum terdengar sepenuhnya. Malam kemarin, kami masih sempat menyaksikan perdebatan apakaha Anak Gunung Krakatau ini layak kami singgahi? Dan, dini hari inilah kami akan menjejakan kaki di sana. 

Saya masih menahan kantuk ketika beberapa orang masih lalu lalang mencari posisi yang enak untuk berada dengan mimpi kembali. Saya memilihi posisi di bagian belakang, menghadap mesin yang keras dan meraung-raung nanti. Nantinya keras suara akan berada dengan ombak dan mesin, jadi bicaralah melalui bahasa isyarat atau whatsapp jika menemukan sinyal. Dan, sinyal pun di sini bak permata yang sulit ditemukan.

Mesin menderu, tanda perjalanan selama beberapa jam ke depan dimulai. Saya tak dapat menahan kantuk dan langsung terlelap meski suara mesin lebih keras dari suara macam yang meraung. Dari Pulau Sebesi, Anak Gunung Krakatau dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Sedangkan dari Pelabuhan Bom, Pulau Sebesi berjarak 3-4 jam. Anak Gunung Krakatau memang sudah tampak dari pulau Sebesi walaupun hanya siluet saja. 

Sang Legenda memang menawan, mampu menarik ratusan bahkan ribuan orang untuk menatap keindahannya dari dekat. Namun, sudah layaknya sebagai pejalan yang baik, untuk terus menjaga dan melestarikan keberlangsungan Anak Gunung Krakatau. Saya pun termasuk satu di dalam keriaan, namun memang tak boleh terlalu berlebihan agar tidak terjadi hal-hal yang akan mendatangkan malapetaka. Alam akan merespon setiap perbuatan yang kita lakukan, sehingga sangat disarankan berbuat baik terhadap alam. Sebelum sampai, banyak sekali yang menyarankan untuk tidak membuang sampah sembarangan dan merusak pohon. 

Saya jadi ingat kutipan "Jangan mengambil apapun selain gambar, jangan meninggalkan sesuatu selain jejak kaki dan ..... ". Kata-kata ini masih terngiang-ngiang dan akan terus tertanam di hati ini.

Suara teriakan membangungkan saya. Tubuh masih memerintahkan untuk tetap berada di kapal sampai kapal ini benar-benar berlabuh di bibir pantai Anak Gunung Krakatau. Saya menengok ke samping, matahari masih merah dan muncul perlahan-lahan. Nampaknya matahari tertahan oleh sekawanan awan yang dari kemarin gemar berbondong-bondong menutup langit.

" Mas, ayo naik, " Rupanya Hanum sudah berada diatas kapal dan siap untuk turun. Saya masih memegang kamera dan merekam setiap kejadian yang ada. Saya bilang untuk turun duluan dan saya akan menyusul kemudian. Ombak pantai pagi itu tak terlalu tinggi. Pasir berwarna hitam menyambut kami. Beberapa pantai di Lampung memang memiliki pasir putih, namun tidak dengan Anak Gunung Krakatau yang masih sering erupsi dan meluapkan lava sehingga pasirnya berwarna hitam. 

Untuk mendaki Anak Gunung Krakatau memang dibutuhkan waktu sekitar 1 jam, tergantung siapa yang naik dan seberapa sering melakukan aktivitas di Gunung. Dan, sayalah orang yang paling newbie dalam urus pendakian. Mungkin dari postur saja bisa ditebak bahwa saya bukanlah orang yang sanggup naik ke atas sana. Namun, pagi itu dengan bekal semangat dan tekat, saya pun mengusir semua keraguan. Yes, saya bisa. 

Sebelum melakukan aktivitas, kami telah disuguhkan sarapan. Dengan segera kami makan untuk menambah tenaga dan agar tak terjadi sesuatu apapun diatas sana. Setelah selesai, bungkus dan box makanan kami kumpulkan agar petugas mudah membereskannya. 

----

Satu per satu membentuk barisan mengikuti petugas yang berada di depan. Jalur pendakian memang tak serumit yang dibayangkan. Pohon-pohon rambat dan pinus sangat mendominasi saat melewati rute pertama. Jalannya masih landai dan belum menanjak. Barulah pada saat kami menemukan pohon pinus yang besar dan sudah mulai jarang tumbuhan, jalannya pun mulai terjal, menanjak dan berpasir. Kontur tanahnya memang hanya pasir yang tak padat sehingga memang harus berhati-hati untuk memanjat sampai di atas. 

Sebetulnya terdapat 2 jalur yaitu jalur kanan dan jalur kiri. Jalur kanan sangat menanjak namun tak begitu jauh sedangkan jalur kiri lebih landai dan lumayan jauh. 

Karena ketidaktahuan, saya hanya mengikuti rombongan lain yang telah sampai di puncak dengan begitu cepat. Saya dan Mba Evi masih menapaki satu per satu bebatuan yang membantu kami berpijak. Bisa di bayangkan betapa terengah-engahnya nafas ketika baru setengah perjalanan. Namun, pemandangan dibawah serta laut yang indah membantu saya cooling down dan melanjutkan langkah demi langkah.

Saya salut dengan pendaki Gunung. Mereka memiliki endurance dan semangat yang kuat untuk melewati ribuan kilometer untuk mencapai puncak Gunung. Mungkin, suatu saat saya pun akan mendaki Gunung apapun termasuk Gunung yang tak terduga sebelumnya seperti Puncak Jaya Wijaya, Amin.

Arief Pokto dan rombongan lain telah menyisakan saya dan Mba Evi saja yang masih berkutat dengan langkah menuju puncak. Sambil bergaya dan difoto, itulah yang membuat nafas kami menjadi kuat. Sementara rombongan blogger telah mengabadikan keindahan Anak Gunung Krakatau, kami pun terpacu untuk sampai sesegera mungkin. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dan langkah terakhir sebelum mencapai puncak. 

Yes, Alhamdulillah akhirnya saya telah menaklukan Anak Gunung Krakatau. Walau tingginya tak mencapai 1.000 mdpl, namun pencapaian ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Setidaknya ceklist saya sudah berkurang dan ceklist lain telah menanti.

 ---

Sambil memegang Merah Putih dengan background puncak Anak Gunung Krakatau, nasionalisme saya seolah bertambah tebal. Alam dan budaya kita yang tak ternilai harganya harus di jaga dan dilestarikan. Kalau bukan oleh kita, lalu siapa lagi? 

Jelajah Pesona Lampung, The Treasure Of Sumatra

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Kain Tapis ini dipercaya sebagai penyelaras manusia terhadap alam, mahluk hidup lain dan Sang Pencipta. Warna emas yang dominan dan motif tumbuhan dan hewan menjadi salah satu ciri khas kain tapis. Pembuatan kain biasanya mengunakan kapas dengan benang tenun berwarna perak atau emas. Begitulah masyarakat Lampung menciptakan identitas pakaian dengan sangat detail dan berkelas.Pesona seseorang akan terlihat lebih menarik saat memakai pakaian dipadu dengan Siger, mahkota bagi seorang wanita. Sungguh mata ini tak akan berkedip ketika melihat Muli (sebutan gadis di Lampung) berhias dan mengenakan pakaian adat lengkap.

Ah, Kain Tapis bukanlah satu-satunya Pesona Lampung yang saya kenal. Masih banyak dan tak akan habis ketika saya bercerita mengenai Lampung. Sebut saja Danau Ranau dengan pemandangan Gunung Seminung, Lembah Batu Brak, Bukit Kabut, Rumah Adat Lampung dan beberapa tempat di Lampung yang pernah saya kunjungi. Beruntung sekali saya diajak oleh Mas Yopie dan kawan-kawan dari Lampung Barat dalam rangkaian Festival Skala Brak tahun lalu. Meski telah berlalu, namun memori kecil saya masih mengingat setiap pesona tempat yang saya kunjungi.

Menikmati Senja Di Danau Ranau Dengan Pemandangan Gunung Seminung

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Jejak langkah saya masih tertinggal di Danau Ranau, Lampung Barat. Beberapa bagian Danau Ranau masuk dalam wilayah Sumatra Selatan. Wilayah ini bisa disebut sebagai batas terluar Provinsi Lampung di bagian Barat. Mobil yang membawa saya dan beberapa kawan cukup lihai menerobos hujan kecil dan lumpur. Walaupun sebagian jalan beralaskan tanah, namun perjalanan saya cukup nyaman. 

Selama perjalanan dari Liwa, saya banyak menemui pohon-pohonan lebat di sisi kanan dan kiri. Pantas saja karena kawasan ini masuk dalam Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Kawasan ini sangat luas dan tercatat sebagai hutan warisan Dunia oleh UNESCO. Saya tak sabar melihat lebih dekat danau indah dengan panorama Gunung Seminung. 

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Setengah jam penantian dari Liwa, akhirnya mobil berhenti tepat di sebuah penginapan. Penginapan ini langsung pemandangan Danau Ranau yang membentang dipercantik dengan pemandangan Gunung Seminung. Bisa dibilang, inilah salah satu spot terbaik untuk menikmati sejuknya udara setelah hujan dan senja yang sebentar lagi akan hadir.

Jarak penginapan dan danau tak lebih dari ratusan meter, sangat dekat. Diujung penginapan, terdapat rumah panggung kecil dengan alas kayu, sedangkan disisi rumah panggung kecil terdapat bebatuan yang bersentuhan dengan air danau. Kemudian saya masuk kedalam rumah panggung kecil yang bersebelahan dengan tambak ikan air tawar milik warga sekitar. Dapat ditebak, mata pencaharian warga sekitar adalah petambak ikan dan petani kebun disekitar hutan. 

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Gunung Seminung memang berkabut kala itu, namun tak mengecilkan hati saya menikmatinya, bahkan foto yang saya ambil cukup membuat saya terpesona. Saya, Danau Ranau dan Gunung Seminung menyatu dalam satu bingkai. Foto ini menjadi salah satu favorite saya selama perjalanan ini.

Danau Ranau menjadi salah satu spot terbaik untuk melalukan wisata dan olahraga air karena kedalaman dan ketenangan airnya. Lampung Barat sangat beruntung memiliki potensi wisata air terbaik di Lampung.

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Saat Matahari telah meredup dan menghilang di Bukit Barisan Selatan, saatnya saya menikmati senja yang akan segera menghilang. Untung saja, Matahari masih mau muncul pada saat senja, padahal dari siang, hujan telah terlebih dahulu turun dengan durasi cukup lama.

Saatnya menikmati sepotong senja dengan sajian kopi, obrolan ringan bersama teman dan duduk-duduk manis menghadap Gunung seminung.

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Sunrise Di Bukit Kabut

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Jarang sekali saya menjumpai sunrise dan kabut dalam satu waktu. Biasanya, jika Matahari muncul, kabut pun akan sirna terkikis sinar yang panas. Namun, kali ini teori saya seratus persen salah. Bukit Kabut di Lampung Barat, ditempat ini saya menemukan sebuah keindahan kala pagi. 

Akses menuju Bukit Kabut Bawang Bakung berkelok-kelok dan cukup menukik, untung saja jalan sangat mulus walaupun beralaskan tanah dan bebatuan kerikil kecil. Sebelum memasuki kawasan berliku-liku, saya melewati sebuah desa dengan rumah-rumah khas Lampung Pesisir. Kawasan ini disebut Pekon Negeri Agung. Untuk menemui kabut, pagi hari sekitar pukul 5 sampai 7 adalah waktu yang ideal karena kabut tebal sudah mulai hilang berlahan-lahan dan pemandangan perbukitan pun sangat menawan.

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Spot inilah yang mampu menarik orang-orang berburu kabut di  Lampung Barat. Dunia maya telah menjadi saksi bagaimana viralnya tempat ini. Matahari telah berada di atas ketika saya melihat sekeliling yang masih ditutup kabut. Mungkin kala itu waktu belum genap menunjukan pukul 7 pagi. Antara bahagia dan terpesona, kamera ini tak henti-hentinya mengabadikan seluruh landscape dari kaki bukit sampai puncaknya.

Tak salah jika Bukit Kabut ini menjadi tempat terbaik karena kabutnya yang tahan lama dan tampak sangat elok mengikuti setiap lekuk perbukitan dipandang dari sudut puncak bukit. Sayang, perjumpaan dengan tempat ini harus disudahi, saya harus menjumpai tempat lain yang tak kalah menariknya. 

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Rumah Adat Lampung Di Pekon Negeri Agung

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Setelah berburu kabut di Bukit Bawang Bakung, rombongan sempat berhenti sejenak di Pekon Negeri Agung. Sebutan Pekon sama artinya dengan desa secara umum, hal pembeda hanyalah struktur administratif saja. Pekon dipimpin oleh Peratin yang dipilih oleh penduduk setempat. Negeri Agung masih menyimpan adat secara rapat meski tetap disesuaikan dengan roda zaman yang terus berputar. Terlihat dari rumah adat yang tetap kokoh berdiri dan sangat unik.

Rumah Adat Lampung berbentuk rumah panggung seperti rumah-rumah di daerah Sumatra pada umumnya. Namun, Lampung memiliki corak khas berupa warna cerah dan kontras seperti warna Siger dan Kain Tapis.

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Hampir sebagian besar rumah terbuat dari kayu dan beralaskan tanah. Namun mengikuti perkembangan teknologi, terdapat beberapa rumah yang dimodifikasi sehingga mengunakan tembok sehingga bangunan tampak kokoh. Konon salah satu alasan mengapa mengunakan kayu sebagai bahan pembuatan rumah adalah  gempa akibat meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883, banyak bangunan rumah bertembok rentak bahkan runtuh, sedangkan bangunan dengan bahan kayu malah masih tegak berdiri.

Rumah Adat memiliki beberapa bagian pokok yaitu loteng sebagai penyimpan barang berharga, serambi untuk menerima tamu, ruang keluarga untuk berkumpul bersama keluarga, kamar tidur utama dan kamar tidur kedua dan ruang dapur serta ruang belakang yang digunakan oleh ibu-ibu.

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Selain pembagian ruangan, pada setiap sisi-sisi rumah terdapat hiasan berupa ornamen, ukiran dan aksara kuno. Diantara aksara kuno tersebut adalah Nemui-Nyimah yang berarti menjaga tali silaturahmi dengan mengunjungi setiap sana keluarga dan bersikap ramah tamah terhadap tamu. Begitulah salah satu sikap hangat warga Lampung saat menerima tamu darimanapun berasal seperti rombongan kami.

Hamparan Sawah Di Lembah Batu Brak 

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Selain Bukit Kabut, kabut ternyata bersahabat di Liwa, Lampung Barat. Ketika menunjungi Lembah Batu Brak, saya masih menjumpai kabut padahal surya telah terbit di timur sana. Untuk menuju Lembah, puluhan anak tangga harus dilalui terlebih dahulu sebelum menemui hamparan sawah di unjung lembah. Udara masih sangat segar ditambah dengan pepohonan hijau disisi sepanjang jalanan.

Saat menuruni tangga, banyak warga sekitar yang berjalan menaiki anak tangga sambil membawa cucian dan peralatan mandi. Rupannya, tepat dibawah tangga terdapat pemandian umum dengan sumber air yang masih alami. Konon, pemandian ini dipercaya bersumber dari tujuh mata air yang berbeda atau disebut pancuran tujuh. Apabila sering mandi dipancuran air tersebut akan awet muda. 

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Secara logis kepercayaan tersebut sangat tidak masuk akal, namun jika diperhatikan, akses untuk menuju pemandian tersebut dilalui puluhan anak tangga sehingga membuat tubuh menjadi fit dan segar. Disamping itu, sumber air yang alami tentunya akan membuat wajah tetap segar. Saya sempat masuk ke dalam pemandian dan mencoba mencuci muka dengan airnya, memang benar air sangat segar dan membuat wajah berseri-seri.

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Dan, hamparan sawah dengan pemandangan bukit memanjakan mata saya. Walaupun, masa kecil saya sering main disawah namun suasana sejuk pagi cukup menyegarkan mata saya yang cukup penat dengan gedung bertingkat di Jakarta.

Setelah berjalan menyusuri sawah, akhirnya saya berhenti di salah satu bukit. Untuk melihat hamparan sawah yang luas, akhirnya saya memberanikan diri naik ke atas bukit. Dan benar saja, setelah diatas bukit. Hamparan sawah ini menjadi salah satu landscape indah. 

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Himpun Agung Dalam Festival Skala Brak

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Salah satu event yang dikunjungi adalah Himpun Agung di Kepaksian Skala Brak. Kepaksian Sekala Brak merupakan salah satu kerajaan di Lampung. Dahulu, kepaksian inilah yang memegang pemerintah sebelum kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945.

Himpun Agung bisa disebut sebagai Musyawarah Agung Para Sultan Kerajaan Adat Paksi Skala Brak. Riuh ramai sangat terlihat kemeriahan Kepaksian Sekala Brak dalam menyambut Tamu Agung dari berbagai Kepaksian dan Pemerintahan. Tak hanya sambutan, melainkan hidangan pun disajikan untuk seluruh tamu yang hadir.

bluepackerid.com - Jelajah Pesona Lampung , The Treasure Of Sumatra

Sejatinya, Himpun Agung inilah akar tradisi Musyawarah Mufakat yang sering digemakan di Gedung DPR/MPR di Senayan. Bahkan Ketua MPR, Pak Zulkifli Hasan turut hadir dalam Himpun Agung untuk menerima Anugerah Lencana Kerajaan dan Keris Pusaka Pangeran Batin Sekahandak yang pernah dipakai dalam menyelesaikan konflik Rejang Lebong dan Bumi Pasemah Lebar.

Festival Krakatau akan hadir sebentar lagi di Lampung, Agustus akhir 2016. Pesona Krakatau yang tak hilang dimakan usia membuat festival ini layak untuk dinikmati masyarakat Indonesia. Info lebih lengkap silahkan akses www.lampungkrakataufest.com. Saya tunggu di Lampung ya. See you.