Yellow Cakes Blast



Sabtu, 29 Desember 2018, sekitar pukul 09.00 Wita saya sudah bangun tidur. Tumben? Memang! Saya menikmati kopi susu pagi dengan wajah masih belepotan kapuk. Baru seteguk kopi susu melewati kerongkongan, keponakan saya yang kami panggil Bunda Rara sudah muncul di rumah dengan wajah cemas. "Ncim! Minta tolong Thika temani saya antar si Rara ke UGD. Asmanya kambuh. Dia harus dinebu (nebulizer)!" Saya terkejut, kayak kena bom nuklir pagi hari, lantas bilang, "Segera ke UGD! Jangan dibiarkan! Ini pasti gara-gara dia main sama anak kucing."

Mereka pun berangkat diiringi tarian chacha dari dinosarus.

Baca Juga: Penjurian Lomba Kandang Natal

Tapi insting saya tidak membaui adanya hal-hal buruk. Iya, kadang insting saya benar, seringnya salah. Hahaha. Selepas mereka pergi, Tante Lila sudah datang ke rumah, haha hihi bareng.

Tidak perlu menunggu dinosaurus belajar menari salsa, saat saya dan Tante Lila sedang mengobrol seru, dari pintu depan terdengar suara ramai menyanyikan lagu: 

HAPPY BIRTHDAY TO YOU! HAPPY BIRTHDAY TO YOU!


AWWWWW!

Insting saya tepat. Bunda Rara, Thika, Rara, dan Mely, bergerombol jalan ke belakang rumah tempat saya sedang bersantai sambil membawa sepiring cake warna kuning. Oalaaah. Ritus ini ... eh ... tradisi ini tidak pernah punah dalam keluarga kami. Maklum, semuanya pada jago bikin cake sih. Kecuali saya. Saya ingat, Bunda Rara pernah membikin puding kuning khusus untuk saya pada ultah beberapa tahun lampau. Haha.






Sepanjang hari itu, setelah mandi yang tumben, saya tiduran di kamar sambil nonton The Mentalist (oh tentu, serial favorit ini bakal saya bahas di Sabtu). Eh, mendadak ada yang muncul di kamar sambil membawa ... cake kuning! Again!? Kali ini keponakan yang lain yang punya usaha cake and bakery juga. Namanya Indri atau lebih sering kami panggil Mbak In, beserta suaminya Hendrik, dan anak pertamanya si Syiva. Hwah. Meskipun setiap tahun pasti selalu ada cake, tapi mereka selalu punya cara-cara mengeZuDkan yang berbeda setiap tahunnya.




Belum cukup itu, mendadak Thika yang akhir-akhir ini mengeluh sakit gigi pamit hendak ke apotik. Saat saya bilang saya punya stok Menfentan, dia galau setengah mati, pokoknya dia harus pergi ke apotik! Ya sudah ... lagi pula saya pikir mungkin dia juga sedang ada keperluan lain. Mampir ke Roxy dan membeli cemilannya. Barangkali begitu.


Baca Juga: Stik Keju Legendaris

Saat sedang ramai foto-foto sama Mbak In sekeluarga, si Thika muncul lagi sama Mely sambil membawa CAKE KUNING again!!!



Excuse me, is this the yellow cakes blast's day?

Saya, Presiden Negara Kuning yang menjabat abadi, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk semua cake kuning yang telah memenuhi kulkas hingga kami harus menyingkirkan beberapa kotak makanan *ngikik*.

Saya pikir sudah selesai kejutan-kejutan ini. Mbak In sekeluarga sudah pulang, Thika dan Mely sudah santai di kamar sambil nonton Upin Ipin. Sekitar pukul 21.00 Wita, si Indra pulang kerja, mendadak dia muncul di kamar sambil senyum-senyum nista dan menyerahkan sebuah kotak.

Saya:
Apa ini?

Indra:
Hhaha kalau tidak mau, tidak apa-apa, saya bawa lagi.

Saya:
Dasar!!!!


Terimakasih Indra, meskipun bukan kuning, tapi engko masih inga Encim jo No ... *mulai sembarangan dialek Flores Timur. Terima kasih untuk selalu mendengar nasihat Encim, dan masih setia ber-#QualityTime dengan mendiskusikan banyak hal. Mulai dari pekerjaan masing-masing, sampai filem favorit.


Meskipun Hilda Wangu, sahabat saya yang pulang libur ke Ende karena dia bekerja di Jakarta, mengajak makan (traktir nih ceritanya) di Hari Minggu (kemarin), saya terpaksa menolak karena hari Minggu-nya kami ada acara keluarga, Aqiqah-nya Azka (cucu saya, adiknya Syiva). Dududu. Soalnya kan Kakak Nani Pharmantara sedang berada di Kupang, jadi sebagai satu-satunya tante yang ada di Kota Ende, saya tidak dapat menghindar. Hahaha. Lagian saya tidak berani dipelototin Abang Nanu Pharmantara.


Baca Juga: Buku Pelulu



Don't ask how old I am because I definitely answer; I am 17 years old plus a few years into UZUR.






Cheers.

#PDL Mengumpulkan Si Kuning


#PDL adalah Pernah DiLakukan.  Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; jalan-jalan di sekitar Kabupaten Ende, backpacker-an ke tempat-tempat di luar Kota Ende, merusuhi acara, termasuk perbuatan-perbuatan iseng bin jahil bin nekat.

***

Setiap orang pasti punya warna favorit. Waktu masih kecil, mana tahu soal warna ini. Apapun barang yang dibelikan orangtua pasti dicintai sepenuh hati meskipun warnanya pelangi banget. Baju merah? Oke! Celana putih? Oke! Sepatu cokelat? Oke! Pergeseran usia dan pergaulan membikin saya menyukai warna hitam, kemudian. Karena konon katanya kalau pakai kaos hitam, misalnya, bakal bikin saya terlihat lebih langsing dari kondisi alam dan cuaca yang sebenarnya. Ternyata ... tidak hanya suara saja yang bisa menipu. Warna pun demikian. Hahaha. Waktu lihat lemari mulai didominasi warna hitam, senang bukan main karena deal sudah punya wana favorit.

Baca Juga : #PDL Langgar Sungai Lewati Lembah

Sekitar tahun 2012, saat mengambil cuti dengan cerita ketinggalan pesawat di Bandara Juanda, saya mulai menyukai warna kuning. Bukan hanya menyukai, tapi mencintai sepenuh jiwa dan raga. Adalah pagi hari baru turun dari mobil travel yang membawa saya dari Jogja ke bandara, masuk kamar mandi buat cuci muka dan gosok gigi, saya melihat ke cermin. Siapa kamu? Kok kamu cerah sekali sepagi ini memakai baju barong warna kuning? Kamu ngeledek saya ya? Ternyata pantulan di cermin dengan saya memakai baju warna kuning itu benar-benar memberi semangat baru pada saya meskipun hari itu, kemudian, saya ketiduran di depan gate dan ketinggalan pesawat menuju Kupang. Haha!


Saya: Pak, maaf mau tanya, Lion Air ke Kupang sudah berangkat?

Petugas: Ituuu baru saja take off (menunjuk ke luar lewat jendela kaca).



Sejak itu lah saya mulai ... yang dari hanya menyukai menjadi mencintai alias tergila-gila pada si kuning!


Biasanya akan selalu ada pertanyaan, "Kenapa suka warna kuning?" atau warna favorit kalian. Maka saya punya jargon yang juga dipakai untuk motto skripsi yaitu:

YELLOW IS THE COLOUR OF HOPE

Kuning adalah warna pengharapan. Filosofinya begini, kawan.  Setiap bocah SD pasti akan menggunakan warna kuning sebagai warna matahari yang terpeta di antara dua bukit/gunung. Artinya, setiap hari dalam kehidupan kita selalu ada harapan untuk lebih baik dari hari kemarin. Selain itu, agar harapan-harapan itu terwujud, jangan lupa untuk selalu berhati-hati dalam setiap langkah kita. The traffic light selalu memperingatkan kita untuk berhati-hati yang diwakili dengan warna kuning. Mau punya harapan hidup? Berhati-hatilah di jalan raya! Qiqiqiq.


Perburuan warna kuning pun dimulai. Satuper satu barang warna kuning mulai mengisi kamar saya: kaos, gaun, sepatu, dompet, gantungan kunci, alat tulis, bando, kacamata, backpack, mukenah, jam tangan, gelang-gelang, sampai boneka-boneka ucul. Teman-teman yang bepergian pun tidak kesulitan membeli oleh-oleh *halah* karena mereka tahu, pasti barang berwarna kuning yang saya minta. Seperti oleh-oleh kaos dari Brazil ini, yang diberikan oleh big boss:

Waktu itu sedang Ramadhan. Izin dari kantor Shalat Dzuhur di Masjid Agung, disuruh isteri big boss ke rumah buat ngambil kaos ini.

Atau dry bag yang satu ini dari Ronald Diningrat:


Bahkan dulu saya punya satu set tas dan sepatu yang wajib dipakai setiap hari sebelum tasnya saya hibahkan ke Wakil Presiden Negara Kuning, serta si sepatu rusak, haha:


Urusan warna kuning ini sampai merembet ke mukenah buat shalat sehari-hari. Dikirim sama teman traveler dari Bali:


Noel Fernandez, teman duet saya di Notes (Noel and Tuteh SideProject) mengecat ulang gitar kesayangan saya dengan warna kuning. Aaaah terima kasih Noel:


Saking banyaknya barang warna kuning, saya bahkan pernah memakai lima gelang warna kuning sekaligus, sampai-sampai saya disebut Presiden Negara Kuning. A-ha! Ponakan saya, si Indy, akhirnya menyukai warna kuning juga. Katanya, biar sama kayak si Encim. Lucunya, pas dia ulangtahun, dia minta dibikinkan cake sama Mamanya: Frozen warna kuning! Hahaha ... mana ada Frozen warna kuning. Itu kan biru-putih begitu. Keinginan Indy terpenuhi dan dia kemudian menjadi Wakil Presiden Negara Kuning:


Luar biasa si wakil ini *ngakak guling-guling*. Tapi sekarang dia berkhianat, dia lebih suka merah, karena katanya warna kuning itu cemburu dan dia tidak suka cemburu. Whaaatt!? Sumpah kalau ingat itu saya tidak tahan ngakak.


Mengumpulkan si kuning, baik yang saya beli sendiri maupun yang dihadikan oleh orang lain, merupakan perbuatan paling menyenangkan. Mata saya jadi segar banget gitu kalau lihat warna kuning. Kadang proses mengumpulkan ini jadi begitu menjengkelkan ketika ada orang asing memakai sesuatu berwarna kuning dan saya menginginkannya! Ya iya laaah mana mau orang itu ngasih barangnya ke elu, Teh. Saya kemudian sering dipanggil "Kuning". Kuning semacam identitas yang melekat erat dengan diri saya. Tuteh itu kuning, kuning itu Tuteh.


Yang mengesankan adalah setiap kali ada perayaan tertentu, keponakan saya si Indri dan Kakak Niniek pasti bikin cake kuning. Kejutannya benar-benar luar biasa.


Bahkan saat saya yudisium:


Tapi yang pasti, jangan lupa untuk memakan buah kuning, karena konon katanya *lihat gambar di bawah*:


Nah, saya punya warna kesukaan kuning dengan jargon: yellow is the colour of hope atau kuning adalah warna pengharapan. Jangan pernah berhenti berharap.


Pernah, saya pernah begitu, mencintai warna kuning dan mengumpulkan begitu banyak barang berwarna kuning yang tidak semuanya dapat saya pos di sini karena terlalu banyak. Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu donk di komentar. Termasuk alasan kalian kenapa sampai menyukai suatu warna. Tapi kalau kalian juga penyuka kuning, kita toss dulu dooooonk :)




Cheers.

#PDL Mengumpulkan Si Kuning


#PDL adalah Pernah DiLakukan.  Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; jalan-jalan di sekitar Kabupaten Ende, backpacker-an ke tempat-tempat di luar Kota Ende, merusuhi acara, termasuk perbuatan-perbuatan iseng bin jahil bin nekat.

***

Setiap orang pasti punya warna favorit. Waktu masih kecil, mana tahu soal warna ini. Apapun barang yang dibelikan orangtua pasti dicintai sepenuh hati meskipun warnanya pelangi banget. Baju merah? Oke! Celana putih? Oke! Sepatu cokelat? Oke! Pergeseran usia dan pergaulan membikin saya menyukai warna hitam, kemudian. Karena konon katanya kalau pakai kaos hitam, misalnya, bakal bikin saya terlihat lebih langsing dari kondisi alam dan cuaca yang sebenarnya. Ternyata ... tidak hanya suara saja yang bisa menipu. Warna pun demikian. Hahaha. Waktu lihat lemari mulai didominasi warna hitam, senang bukan main karena deal sudah punya wana favorit.

Baca Juga : #PDL Langgar Sungai Lewati Lembah

Sekitar tahun 2012, saat mengambil cuti dengan cerita ketinggalan pesawat di Bandara Juanda, saya mulai menyukai warna kuning. Bukan hanya menyukai, tapi mencintai sepenuh jiwa dan raga. Adalah pagi hari baru turun dari mobil travel yang membawa saya dari Jogja ke bandara, masuk kamar mandi buat cuci muka dan gosok gigi, saya melihat ke cermin. Siapa kamu? Kok kamu cerah sekali sepagi ini memakai baju barong warna kuning? Kamu ngeledek saya ya? Ternyata pantulan di cermin dengan saya memakai baju warna kuning itu benar-benar memberi semangat baru pada saya meskipun hari itu, kemudian, saya ketiduran di depan gate dan ketinggalan pesawat menuju Kupang. Haha!


Saya: Pak, maaf mau tanya, Lion Air ke Kupang sudah berangkat?

Petugas: Ituuu baru saja take off (menunjuk ke luar lewat jendela kaca).



Sejak itu lah saya mulai ... yang dari hanya menyukai menjadi mencintai alias tergila-gila pada si kuning!


Biasanya akan selalu ada pertanyaan, "Kenapa suka warna kuning?" atau warna favorit kalian. Maka saya punya jargon yang juga dipakai untuk motto skripsi yaitu:

YELLOW IS THE COLOUR OF HOPE

Kuning adalah warna pengharapan. Filosofinya begini, kawan.  Setiap bocah SD pasti akan menggunakan warna kuning sebagai warna matahari yang terpeta di antara dua bukit/gunung. Artinya, setiap hari dalam kehidupan kita selalu ada harapan untuk lebih baik dari hari kemarin. Selain itu, agar harapan-harapan itu terwujud, jangan lupa untuk selalu berhati-hati dalam setiap langkah kita. The traffic light selalu memperingatkan kita untuk berhati-hati yang diwakili dengan warna kuning. Mau punya harapan hidup? Berhati-hatilah di jalan raya! Qiqiqiq.


Perburuan warna kuning pun dimulai. Satuper satu barang warna kuning mulai mengisi kamar saya: kaos, gaun, sepatu, dompet, gantungan kunci, alat tulis, bando, kacamata, backpack, mukenah, jam tangan, gelang-gelang, sampai boneka-boneka ucul. Teman-teman yang bepergian pun tidak kesulitan membeli oleh-oleh *halah* karena mereka tahu, pasti barang berwarna kuning yang saya minta. Seperti oleh-oleh kaos dari Brazil ini, yang diberikan oleh big boss:

Waktu itu sedang Ramadhan. Izin dari kantor Shalat Dzuhur di Masjid Agung, disuruh isteri big boss ke rumah buat ngambil kaos ini.

Atau dry bag yang satu ini dari Ronald Diningrat:


Bahkan dulu saya punya satu set tas dan sepatu yang wajib dipakai setiap hari sebelum tasnya saya hibahkan ke Wakil Presiden Negara Kuning, serta si sepatu rusak, haha:


Urusan warna kuning ini sampai merembet ke mukenah buat shalat sehari-hari. Dikirim sama teman traveler dari Bali:


Noel Fernandez, teman duet saya di Notes (Noel and Tuteh SideProject) mengecat ulang gitar kesayangan saya dengan warna kuning. Aaaah terima kasih Noel:


Saking banyaknya barang warna kuning, saya bahkan pernah memakai lima gelang warna kuning sekaligus, sampai-sampai saya disebut Presiden Negara Kuning. A-ha! Ponakan saya, si Indy, akhirnya menyukai warna kuning juga. Katanya, biar sama kayak si Encim. Lucunya, pas dia ulangtahun, dia minta dibikinkan cake sama Mamanya: Frozen warna kuning! Hahaha ... mana ada Frozen warna kuning. Itu kan biru-putih begitu. Keinginan Indy terpenuhi dan dia kemudian menjadi Wakil Presiden Negara Kuning:


Luar biasa si wakil ini *ngakak guling-guling*. Tapi sekarang dia berkhianat, dia lebih suka merah, karena katanya warna kuning itu cemburu dan dia tidak suka cemburu. Whaaatt!? Sumpah kalau ingat itu saya tidak tahan ngakak.


Mengumpulkan si kuning, baik yang saya beli sendiri maupun yang dihadikan oleh orang lain, merupakan perbuatan paling menyenangkan. Mata saya jadi segar banget gitu kalau lihat warna kuning. Kadang proses mengumpulkan ini jadi begitu menjengkelkan ketika ada orang asing memakai sesuatu berwarna kuning dan saya menginginkannya! Ya iya laaah mana mau orang itu ngasih barangnya ke elu, Teh. Saya kemudian sering dipanggil "Kuning". Kuning semacam identitas yang melekat erat dengan diri saya. Tuteh itu kuning, kuning itu Tuteh.


Yang mengesankan adalah setiap kali ada perayaan tertentu, keponakan saya si Indri dan Kakak Niniek pasti bikin cake kuning. Kejutannya benar-benar luar biasa.


Bahkan saat saya yudisium:


Tapi yang pasti, jangan lupa untuk memakan buah kuning, karena konon katanya *lihat gambar di bawah*:


Nah, saya punya warna kesukaan kuning dengan jargon: yellow is the colour of hope atau kuning adalah warna pengharapan. Jangan pernah berhenti berharap.


Pernah, saya pernah begitu, mencintai warna kuning dan mengumpulkan begitu banyak barang berwarna kuning yang tidak semuanya dapat saya pos di sini karena terlalu banyak. Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu donk di komentar. Termasuk alasan kalian kenapa sampai menyukai suatu warna. Tapi kalau kalian juga penyuka kuning, kita toss dulu dooooonk :)




Cheers.