Cara Membikin Wadah Berbahan Semen dan Kaktus Batu


Hola! Ketemu lagi di #RabuDIY. Pada seri Horeday saya sudah menulis tentang Horeday #6: Well Done! I Finished My Stone Project. Rasanya kurang afdol bila di hari khusus proyek Do It Yourself (DIY) saya tidak menulis tentang cara membikinnya haha. Jadi, mari kita simak apa saja bahan dan tata cara membikin hiasan meja kaktus batu yang masuk dalam Stone Project, salah satu resolusi saya di tahun 2019.

Baca Juga: Tempat Alat Tulis

Membikinnya memang mudah. Siapkan dulu alat dan bahan yang bakal digunakan untuk proyek DIY yang satu ini.

Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang harus disiapkan adalah sebagai berikut.

Alat:
1. Gunting.
2. Pisau/cutter.
3. Lakban.


Bahan:
1. Semen.
2. Air secukupnya.
3. Wadah bakal proyek semen.
4. Batu pilihan.
5. Cat.
6. Tipeks bolpoin. 

Cara Membikin


Pertama-tama harus dibikin terlebih dahulu wadah berbahan semennya ya, kawan. Karena wadah itu yang bakal jadi tempat berdirinya si kaktus batu. 

Wadah semen:
Silahkan pilih dan siapkan wadah atau mal bakal wadah semen ini. Saya mengguakan tiga wadah yaitu kotak bekas teh kotak, botol plastik bekas Coca Cola yang bagian bawahnya berbentuk unik itu, dan tentu saja sarung tangan karet atau sering disebut handscoon. Kalian juga bisa menggunakan wadah seperti kain segi empat yang dicelupkan di adonan semen kemudian ditutup di gelas kertas/plastik. Tapi saya belum membikin wadah/pot yang seperti itu. Baru tiga bentuk saja seperti yang sudah ditulis di atas.

Langkah berikutnya: campurkan semen, saya memakai semen biasa yang bisa dibeli per-kilogram, dengan air secukupnya. Tanpa pasir! Karena kan kita tidak ingin membangun rumah tangga. Adonan semen ini tidak boleh terlalu encer karena bakal merusak hasilnya. Percaya lah, saya sudah mengalaminya jadi bisa menulis begitu. Haha. Setelah campuran semen dirasa oke, tidak terlalu encer, dan tidak terlalu padat. Semen sebanyak satu kilogram bisa menghasilkan enam wadah/pot loh.

Untuk kotak bekas teh kotak, setelah adonan semen dimasukkan ke kotaknya, bagian tengahnya diletakkan dua bungkus rokok yang sudah saya rekatkan (yang makan menghasilkan lubang). Karena rada susah kalau ditahan pakai batu, saya menahannya dengan lakban agar posisinya pas di tengah alias tidak miring.

Ini hasilnya yang sudah jadi.

Untuk botol plastik bekas Coca Cola, saya potong dulu setengah bagian botol plasti, lalu memakai bagian bawahnya yang diisi semen, dan untuk tengahnya saya tahan menggunakan gelas kertas atau gelas plastik. Untuk menahan gelas plastik di bagian tengah ini boleh dipakai pemberat batu atau barang lain yang bisa menstabilkan si gelas di tengah adonan semen di dalam botol.
Untuk sarung tangan karet, pertama-tama isi adonan di sarung tangan, kemudian diikat/tutup bagian atasnya. Agar hasilnya nanti si tangan dalam bentuk membuka begitu, letakkan di mangkuk kaca seukuran dan tetap ditahan dengan batu agar bentuknya bagus.

Setelah adonan dimasukkan ke dalam wadah/mol, diamkan seharian. Misalnya dibikin hari ini, besok baru boleh dibuka. Ditaksir saja adonan sudah kering begitu. Hehe. Membuka wadah tidak sulit. Pelan-pelan saja. Paling mudah memang membuka/melepaskan wadah kotak bekas teh kotak. Tinggal cabut bungkus rokoknya, terus sobek kotaknya, tradaaaa. Yang harus hati-hati yang botol dan sarung tangan karet. Ekstra hati-hati ya, jangan sampai pecah donk hasil kerja kita.

Kaktus batu:
Ini sih paling mudah bikinnya. Setelah batu dibersihkan, yang ukurannya kita sudah tahu pasti bakal muat di wadah/pot semen, lalu di-cat. Saya memakai cat minyak dua warna: hijau tua dan hijau muda. Cat salah satu sisinya dulu, lantas keringkan. Kalau sudah kering, cat lagi sisi satunya lagi. Kalau sudah kering semuanya, tinggal dibikin bunga kaktus menggunakan tipeks.

Kaktus Batu yang Menawan


Kaktus batu ini memang menawan dan saya letakkan di ruang tamu (tiga meja) satunya lagi saya letakkan di meja ruang keluarga.




TRADAAAAA ... Mudah bukan? Dua hari membikinnya, langsung jadi seperti ini, siapa yang tidak senang? Senang lah!

Baca Juga: Travel Booth

Ayo bikin! Kalian juga pasti bisa bikin. Asalkan jangan lupa memakai masker saat mencampur adonan semen supaya kalian tidak menghirup debu semen yang bertebangan di udara haha. Waktu itu saya lupa memakai masker jadinya ya bersin-bersin tak karuan. 

Selamat berkreativitas, kawan!



Cheers.

Tempat Alat Tulis


Rabu lagi. #RabuDIY lagi. Sebelumnya, ingin bertanya tentang puasanya kawan-kawan yang menjalankan ibadah di Bulan Ramadhan ini. Semoga puasanya lancar ya, ingat, tanggal 30 Mei itu ASN sudah liburan. Artinya, yang swasta seperti saya bisa mengikuti hahaha. Artinya lagi, puasanya harus lebih semangat karena sudah menjelang akhir. Tapi sayang, liburannya nanggung. Loh, kok nanggung? Betul-betul tidak tahu bersyukur! Bukan, kawan. Begini ... liburan dimulai tanggal 30 Mei kan, mau traveling ke mana, toh Lebarannya tanggal 5 Juni (Insha Allah), ditambah beberapa hari lagi libur, terus kembali bekerja. Nanggung kan? Yang nanggung ini sebaiknya disiasati dengan ber-DIY-ria saja. Haha.

Baca Juga: Sofa Drum

Baiklah, hari ini saya mau mengajak kalian semua membikin tempat alat tulis. Sederhana. Dan mudah dibikin. Awalnya membikin tempat alat tulis ini ya tidak sengaja. Karena apa? Karena saya orang yang sebentar bisa fokus, sebentar pikiran terbagi. Bayangkan saja, lagi asyik-asyiknya menganyam keranjang berbahan koran bekas, mendadak berhenti dan membikin tempat alat tulis. Kan asyem itu.

Pos kali ini juga tidak panjang-panjang. Saya tahu kalian bosan :p secara pun foto-fotonya tidak lengkap. Hanya satu foto saja yang bisa kalian lihat di awal pos.

Bahan dan Alat:


1. Botol plastik bekas.
2. Kain (apa saja untuk membungkusnya).
3. Jarum dan benang (warna senada kain).
4. Zipper / kancing tarik.
5. Gunting.
6. Pisau cutter.
7. Lem tembak / hot glue.

Cara Membikin:


Pertama:
Botol plastik dipotong 3/4 bagian kepala (dekat tutupnya) bisa dilihat gambar yang sudah jadi di awal pos. 

Kedua:
Pasangi zipper mengelilingi. Jadi, zipper-nya duluan baru kainnya. Kalau zipper kepanjangan, bisa dipotong/gunting saja sesuai lingkar botolnya.

Ketiga:
Lilit kainnya mengelilingi botol (lihat gambar di awal pos). Untuk merapikan kain pada tutupan tempat alat tulis, gunakan kembali tutupan botolnya. Untuk merapikan kain pada badan alat tulis (bagian pantat botol) pakai lem tembak atau hot glue saja.

TRADA!

Jadi deh. Semudah itu ... memang.

Pertanyaannya adalah apakah bisa dipakai? Ya bisa, donk. Saya memakainya beberapa kali sampai kemudian diminta teman. Dikasih? Ya kan saya baik hati ... dikasih saja hehe. Bikinnya mudah begini. Kalau kalian mau mencobanya, silahkan. Bisa juga dililit/bungkus kain, bisa juga ditempeli stiker atau kancing! Iya, kancing baju itu banyak manfaatnya kalau dalam dunia DIY bahkan bisa bikin gantungan kunci. Soal gantungan kunci kancing ini nanti saya pos lah. Tapi ada juga yang membikin hiasan dinding berbentuk pohon dan gajah menggunakan kancing. Tidak percaya? Coba cari di internet hehe.

Baca Juga: Stoples Kertas

Bagaimana ... mau mencobanya? Bagi tahu yuk di komen!



Cheers.

Sofa Drum


Hola! Sudah #RabuDIY lagi nih. Harinya kita berkreasi sebebas-bebasnya. Hari ini tidak banyak yang bisa saya tulis karena memang yang bakal ditampilkan bukan hasil kreasi tangan saya sendiri. Tapi saya yakin setelah melihat foto-fotonya kalian yang juga tergila-gila sama dunia DIY, craft, dan lifehack, percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin *dilirik malas sama dinosaurus*. Soalnya barang DIY yang satu ini memang sulit untuk dibikin sendiri. Setidaknya kalaupun mau bikin sendiri tetap membutuhkan tenaga ahli dari bengkel. Kecualiiiii kita punya perkakasnya dan sudah terbiasa menggunakan perkakas itu. Misalnya pemotong besi.

Baca Juga: Stoples Kertas

Ini dia DIY yang dulu bikin saya gila sampai-sampai semua orang kalau ngelihat drum pasti difoto dan dikirim ke saya hahaha.

Alkisah suatu hari saya harus pergi ke Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) - FKIP - Universitas Flores (Uniflor). Kenapa saya pergi ke sana? Karena akan ada visitasi dari tim asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Kamera ready. Mari berangkat! Sekitar satu menit mengendarai sepeda motor dari parkiran Gedung Rektorat ke parkiran FKIP, hehe. Begitu tiba di ruang tamu PGSD saya terbeliak. 

Really!???

Tidak mungkiiiinnn!!!!

Jadi saya bukan orang pertama yang bakal membikinnya!????

TIDAAAAAAAAAAAAAAAK!

Ini dia penampakannya:




Sofa berbahan drum itu nongkrong dengan manisnya di ruang tamu PGSD. Manapula pilihan warnanya bikin saya pengen mengangkut sofa ini pulang ke rumah: kuning (dan hitam). Amboi, begitu melihatnya, setelah syok, langsung minta teman-teman buat fotoin, haha. Untunglah mereka juga tahu kalau selama ini saya memang tergila-gila sama dunia DIY dan sering menulis status Facebook berikut foto tentang sofa drum ini.

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Bagaimana, kawan? Kalian suka juga kan sofa drum? Atauuuu jangan-jangan di rumah kalian sudah ada pula sofa drum ini? Bagi tahu donk di komen *kedip*.



Cheers.

Stoples Kertas


Halo semuanya! Masih semangat? Insha Allah masih dan akan terus semangat di hari ketiga puasa. Insha Allah puasanya lancar jaya, pun taraweh, tadaruz, infaq, sedekah, hingga zakat. Kalaupun ada godaan selama menjalani puasa, bisa ditepis shaaatt sheeettt shooottt, dengan cara istighfar. Itu kata Mamatua, hahaha. Kalau saya sih kadang pelototin si godaan sambil bilang, "Kau jahat!" Sebagai manusia fana yang fanga, apa lagi sih yang bisa saya lakukan selain mendoakan diri saya sendiri dan kalian semua yang menjalankan puasa, agar puasanya lancar, ikhlas, dan pahala ... eh ... kalau pahala biarkan itu urusan Allah SWT. 

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Kembali lagi di #RabuDIY. Harinya kita berkreasi. Saya pikir, mengisi waktu puasa dengan berkreasi itu bagus juga, biar pikiran tidak melulu ke Adzan Maghrib yang masih jauh itu. Ayo kawan, segera cek gudang atau bagian atas lemari atau kolong tempat tidur, siapa tahu masih ada simpanan majalah dan koran lama yang sudah tidak terpakai. Karena hari ini saya bakal mengajak kalian membikin sendiri stoples kertas. Memang bisa gitu kertas menjadi bahan membikin stoples? Bisa. Percaya deh.

Stoples kertas ini termasuk barang DIY yang paling mudah dibikin karena tidak membutuhkan keterampilan menganyam. Terus, apa yang dibutuhkan? Keterampilan dasar yaitu memelintir kertas menjadi pipa kertas. Yaaa meskipun membikin pipa kertas ini juga tidak mudah. Tapi kalau sudah sekali dua jadi dibikin, seterusnya bakal lebih mudah. 

Oke, mari kita mulai.

Bahan dan Alat


Bahan:
1. Kertas majalah/koran.
2. Lem (PVA) atau hot glue.
3. Cat untuk menguatkan dan mempermanis.


Alat:
1. Gunting dan/atau,
2. Pisau cutter.
3. Lidi/besi seukuran lidi.

Cara Membikin


Pertama:
Karena saya menggunakan kertas HVS yang sudah tidak berfaedah lagi, jadi kertasnya saya bagi dua seperti berikut ini. Sama juga dengan kertas bekas majalah karena ukuran kertas majalah sama lah dengan kertas HVS. Tapi kalau koran, setiap lembarnya bisa dibagi tiga atau dibagi empat. Beda hasilnya hanya pada ukuran pipa kertas. Kalau pakai koran ukurannya jauh lebih panjang.


Kedua:
Kertas yang telah dibagi dua tadi kemudian dipelintir menggunakan bantuan lidi untuk membentuk pipa kertas.




Ketiga:
Pipa kertas yang sudah jadi tadi kemudian dipipihkan pakai jari. Kalau dipipihkan dengan cara ditindih dinosaurus juga boleh. Hahaha.

Baca Juga: Tempat Surat


Keempat:
Kalau sudah dipipihkan, mulai saatnya menggulung si pipa kertas penyet tadi membentuk lingkaran seperti gambar berikut ini ...


Berapa banyak pipa kertas yang mau dipakai untuk gulungan ini? Tergantung berapa besar stoples kertas yang kalian inginkan. Tinggal memberi lem pada ujung dan ujung pipa kertas, lanjutkan menggulung hehe. Gulungan ini merupakan stoples yang belum jadi. Karena, untuk membentuk stoplesnya tinggal ditekan/tekuk seperti gambar berikut ini:



Itu cuma contoh hehehe. Aslinya saya membikin stoples kertas yang besar, baik wadah maupun tutupannya. Gambarnya bisa kalian lihat di awal pos, atau yang berikut ini:


Jadi, setelah gulungan kertas itu berdiameter kira-kita limabelas sentimeter, baru saya tekuk. Setelah ditekuk, jangan langsung dicat, tapi dibalur lem PVA terlebih dahulu baik luar maupun dalam. Setelah itu barulah di-cat. Proses yang sama juga berlaku untuk bagian tutupannya. Hanya saja, untuk membedakan, bagian tutupan dikasih tangkai berupa gulungan pipa kertas berukuran mini. Bisa dilihat pada gambar di atas.

Stoples kertas berwarna biru pada awal pos itu pesanan Enchyz, sedangkan yang warna kuning pesanan Sony. Stoples ini bisa diisi permen atau kukis yang berwadah, saya kuatir kalau langsung diisi kukis karena cat yang saya pakai waktu itu cat minyak buat kayu hahaha. Unik kan ya, stoples kertas menghiasi meja ruang tamu kita. Bisa dibikin sendiri dan ukurannya pun bisa di-custom. Perilah stoples kertas ini, saya juga bikin yang versi mini buat mengisi koin:


Stoples kertas koin ini kemudian diminta teman, dan saya kasih karena saya baik hati hahaha, dan masih dipakai sampai sekarang. Alhamdulillah. Kayaknya saya bakal bikin lagi stoples kertas ini selain menjalankan stone project. Insha Allah. Mengisi waktu puasa kan. Karena di kampus pun sudah keluar surat edaran bagi yang Muslim jam kerja selama Bulan Ramadhan dimulai pukul 08.00 s.d. 12.00 Wita saja. Waktu luangnya banyak!

Bagaimana, kawan, terinspirasi kan? Bikin yuk! Karena ... dari semua hasil proyek DIY yang saya pos di blog ini, stoples kertas yang paling mudah dibikin. 

Baca Juga: Coin Storage

Selamat berkreasi!

Salam DIY!



Cheers.

Tempat Surat


Ketika hendak menulis judul First #DIY, saya ingat my first #DIY yang dibikin di atas tahun 2000-an bukanlah ini, jadi batal. Judulnya berganti menjadi Tempat Surat. #RabuDIY kali ini, hari dimana kita berkreasi sepuas-puasnya, saya mau menulis tentang tempat surat yang dibikin sendiri berbahan majalah lama. Kalau di rumah kalian menumpuk majalah dan koran lama, jangan dibuang, siapa tahu selepas membaca pos ini, kalian mau mencobanya, dan bahkan menghasilkan satu barang yang tentunya bermanfaat.

Baca Juga: Monotuteh

Meskipun zaman sekarang interaksi antar umat manusia lebih banyak tercipta di dunia daring, salah satunya surat berganti e-mail, tapi tempat surat masih terpajang di meja-meja kerja. E-mail memang praktis dan cepat, tapi surat jauh lebih tertancap di hati. Eaaaa. Hehe. Selama stempel perusahaan masih ada di meja kerja, selama itu pula surat (konvensional) akan hidup menemani kehidupan umat manusia. SK Kepegawaian saya, seperti kenaikan pangkat dan berkala, disampaikan ke saya dalam bentuk surat, bukan e-mail.

Oke, jadi apa saja bahan, alat, dan bagaimana cara membikinnya?

Bahan dan Alat


1. Majalah lama.
2. Lem tembak (hot glue).
3. Lem PVA.
4. Cutter.
5. Gunting.

Cara Membikin


Pertama:
Bikinlah pipa kertas. Caranya, bagi dua halaman majalah lama, lantas digulung membentuk pipa kertas. Berapa banyak yang harus dibikin? Bikin sebanyak-banyaknya! Apa lagi kalau pas ada waktu luang, bikin banyak, simpan di kaleng dalam posisi berdiri, kapan pun dibutuhkan tinggal ambil.


Kedua:
Pipa kertas tadi digulung membentuk lingkaran. Besarnya lingkaran tergantung mal yang dipakai. Misalnya pinsil, tube, atau tutup botol plastik.


Ketiga:
Membentuk tempat surat. Besarnya tempat surat tergantung pada selera masing-masing. Berapa banyak lingkaran kertas yang mau dipakai? Kalau saya sih bikin yang kecil-kecil saja. Hasilnya seperti yang di bawah ini:


Lumayan buat menyimpan satu dua surat yang belum dibaca atau surat yang masih dibutuhkan, sebelum disimpan di map berkas.

Baca Juga: Enchyz's Desk Organizer

Awal membikin tempat surat seperti ini, lamanya minta ampun! Karena tangan belum terbiasa memelintir kertas majalah menjadi pipa kertas kan. Manapula masih mencari mol untuk memelintir ini: lidi atau alat tulis berbodi kecil. Tapi lama-kelamaan jari saya menjadi terbiasa dan dalam semalam bisa menghasilkan puluhan pipa kertas. Tidak sadar sih, sambil mengobrol sambil membikinnya. Untuk membentuk pipa kertas menjadi lingkaran pun tidak sulit. Cukup pakai lem PVA saja demi merekatkannya. Sedangkan membentuknya menjadi tempat surat, harus pakai lem tembak (hot glue) supaya rekatnya erat dan lebih cepat.

Bagaimana? Mudah bukan? Yuk bikin!



Cheers.

Enchyz’s Desk Organizer


Barang-barang kerajinan tangan (craft) yang dibikin sendiri (do it yourself a.k.a. DIY) memang membutuhkan kesabaran dan waktu. Setelah belajar dan sukses menguasai langkah-langkah membikin desk organizer aneka ukuran, serta menggunakan sampul dari halaman-halaman majalah lama dan katalog, saya mulai menerima pesanan desk organizer custom. Pemberi order menyampaikan keinginan dan kebutuhan mereka, saya berusaha memenuhinya. Mudah? Tidak juga. Tapi kalau dikerjakan dengan hati yang riang gembira, akhirnya justru ketagihan.

Baca Juga: Coin Storage

Enchyz Manteiro adalah salah seorang teman kantor yang kemudian memesan desk organizer dan tempat tisu. Custom. Dia menginginkan desk organizer yang cukup besar sehingga bisa menyimpan amplop dan kertas-format disposisi, serta barang-barang lainnya semacam gunting, stapler, dan alat tulis. Khusus untuk desk organizer dan tempat tisu ini harus satu tema yang sama dan didominasi warna merah dan hitam. Ya, dia penyuka warna merah.

Enchyz's Desk Organizer


Putar otak. Saya mulai mengukur lebar kertas berukuran A4 karena kertas format disposisi itu berukuran setengah dari lembar A4. Biasanya. Dari ukuran dasar lebar A4 yang sekitar 8,5 sentimeter itu (saya genapkan menjadi 10 sentimeter, saya mulai membikin alas bakal desk organizer-nya. Otomatis panjang dan lebarnya harus menyesuaikan dengan kotak-kotak lain yang bakal mengisi desk organizer tersebut. Karena bikinnya sudah lama saya tidak bisa memotret langkah demi langkah, tapi saya pikir, dengan membaca cara membikin di bawah ini, kalian pasti sudah bisa membayangkannya ya.

Bahan:
1. Karton dari kardus.
2. Gulungan dalam bekas tisu-roll.
3. Kertas kado/sampul.
4. Cat warna merah, hitam, putih.
5. Lem PVA dan lem tembak (hot glue).

Alat:
1. Gunting.
2. Cutter.
3. Mistar.
4. Pistol hot glue.

Cara Membikin:
Pertama, bikin alas desk organizer menggunakan karton dari kardus bekas. Ukurannya, sekitar 18 sentimeter (karena sudah lama, dan waktu itu saya lebih sering memakai feeling ketimbang ukuran haha). Alas ini kemudian disampul kertas. Karena saya hendak mengecat alas ini, sehingga saya memakai kertas polos/HVS, bukan kertas koran. 

Kedua, cat alas tersebut dengan cat dasar warna merah, lantas digambar atau dicat tambahan warna hitam dan diberi titik-titik putih, terutama pada bagian pinggirnya.


Lihat pada panah dan lingkaran. Itu yang saya maksudkan dengan gambar seperti itu. Cuma setengah lingkaran warna hitam dan titik-titik putih. Kenapa harus di pinggir? Karena bagian tengahnya kan bakal diisi. Di pinggir supaya pasti terlihat mata hahaha.

Ketiga, bikin kotak-kotak bakal tempat penyimpanan: amplop, kertas format disposisi, alat tulis, dan barang-barang lainnya. Saya juga menggunakan gulungan dalam dari tisu roll atau tisu toilet. Kotak-kotak bakal penyimpanan ini tidak perlu ditutup salah satu sisinya, karena toh otomatis kalau ditempel di alas desk organizer dia bakal tertutup dengan sendirinya (bagian bawah). Jangan lupa ditutup sampul kertas kado/sampul yang sudah dipilih. Jadi temanya seiring sejalan dengan alasnya.

Keempat, rekatkan semua kotak penyimpanan pada alas desk organizer. Trada ... jadi deh.

Dan, adalah suatu kebanggaan setiap kali ke ruangannya Enchyz, saya masih melihat desk organizer ini berdiri gagah di meja kerjanya, berdampingan dengan tempat tisu.



Dua gambar di atas, merupakan penampakan desk organizer di meja kerja Enchyz. Senang sekali melihatnya haha. Isinya macam-macam, seperti yang kalian lihat pada gambar di atas, bantal stempel dan pelubang kertas, sayangnya, tidak bisa disimpan di desk organizer ini. Haha. Tapi tidak mengapa, yang penting bermanfaat.

Selain desk organizer, Enchyz juga memesan tempat tisu bertema sama. Penampakan tempat tisunya adalah sebagai berikut:


Cara membikinnya? Nah, saya belum pernah menulis #RabuDIY tentang membikin tempat tisu andalan ini kan ya. Jadi proses membikinnya bakal saya pos sendiri, dengan sedikit reka ulang haha. Sabarlah menanti.

Baca Juga: Travel Booth

Demikian #RabuDIY kali ini, semoga bermanfaat. Silahkan dicoba!



Cheers.

Travel Booth


Booth atau stan merupakan lokasi yang paling saya cari setiap kali menghadiri pesta pernikahan. Karena apa, saudara-saudara? Karena kalau tidak sempat foto bareng pengantinnya, dan kuatir pengantinnya lupa saya memenuhi undangan pesta pernikahannya, hasil foto di stan itu menjadi bukti terhakiki yang tidak bisa dibantah. Alasan itu mungkin terkesan terlalu dibuat-buat, padahal sebenarnya itu memang alasan yang saya buat-buat karena belum menemukan alasan lainnya *tertawa bahagia bersama dinosaurus*.

Baca Juga: Bunga Dinding

Semakin ke sini, wedding organizer dan/atau bahkan si empu acara, semakin kreatif dalam perkara membikin stan foto ini. Stan foto yang biasanya berlatar baliho bergambar si pengantin serta sanak keluarganya itu kemudian berubah lebih ceria seperti foto si Thika dan Evran di bawah ini:


Pada akhirnya pesta pernikahan, sekarang, menjadi tempat yang asyik untuk berburu stan foto dan spot-spot yang instagramable. Tidak percaya? Foto di bawah ini contohnya:



Lalu apa hubungannya stan foto dengan pos #RabuDIY kali ini? Mari simak ...

Awal Mula


Iwan Aditya, partner siaran saya yang uh wow lidahnya suka typo itu, mendadak punya gagasan brilian untuk membikin stan foto di kantor Radio Gomezone FM. Kantor itu lebih tepatnya disebut studio dua sebagai studio kerja, sedangkan studio satu adalah studio siaran. Gagasan Iwan itu: Ncim, bagaimana kalau kita bikin booth foto dari hasil menggabung gambar-gambar tempat wisata? Mata saya meliriknya ... malas ... lantas bertanya: Bikinnya pakai apa? Iwan tertawa dan membalas: Encim kan suka sama proyek-proyek DIY begitu, pasti Encim mau lah, kita bikin dari kalender-kalender lama dari kantor saya. Banyak sekali, Ncim!

A-ha! DIY! Gayung bersambut.

Baca Juga: Baskets

Fyi: saya dan Iwan memang partner siaran di Radio Gomezone FM, waktu itu, tapi kami sendiri juga punya pekerjaan tetap. Saya di Universitas Flores sedangkan Iwan di SwissContact. Di Radio Gomezone FM kami memegang Creative Show yang mengudara Senin sampai Sabtu, setiap malam, dengan mata acara berbeda seperti Focus, Review, Backpacker, hingga Tuwan Show (Tuteh Iwan Saturday Night Show) yang kocaknya tidak ketulungan.


Kembali ke gagasan si Iwan, kami akhirnya memutuskan bahwa stan itu bakal ditempel tepat di belakang meja kerja saya di studio dua. Huraaayyyy. Dan keesokan malamnya, Iwan menenteng satu kresek besar berisi kalender-kalender meja (spiral), seragam, yang tidak sempat dibagikan ke orang-orang. Ada hikmahnya juga qiqiqiq.

Proses Pembuatan


Pertama-tama kami melepaskan setiap lembar kalender dari spiralnya. Proses ini dibantu oleh Irwan. Hyess, jangan bingung, yang satunya Iwan, yang satunya lagi Irwan (dia waktu itu cuti kuliah, kuliahnya di Makassar).


Selama beberapa hari, kemudian, meja kerja saya menjadi milik mereka berdua. Semangat keduanya bikin saya menitikkan air mata. Halaaaaah hehe. Oh iya, dibalik map holder warna biru itu berdiri desk-organizer hasil #DIY saya sendiri dan mangkuk berbahan jin. Tapi soal ini dibahas lain waktu.

Setelah semua lembar kalender dilepas, proses selanjutnya adalah menggunakan lantai sebagai media terbesar untuk menyusun potongan gambar/halaman kalender. Iwan bertugas menyusun agar tidak ada gambar yang sama berurutan baik vertikal maupun horizontal, sedangkan Irwan bertugas memotong isolasi bening. Tugas saya sih cuma wara-wiri, sana-sini, tidak jelas, haha. Pompom girl lah. Hasil kerja keras ini ternyata bikin saya bahagia maksimal.

Travel Booth


Stan foto itu menjadi tempat favorit setiap kali ada tamu yang datang ke studio dua. Kan asyik bisa foto dengan latar belakang sekeren itu.


Mungkin bagi kalian, stan foto macam begini tidak ada magnetnya sama sekali, alias kalian mungkin tidak tertarik. Tapi bagi saya, Iwan, Irwan, dan para pecinta #DIY, ini adalah hasil karya yang memuaskan jiwa-raga. Kami menamainya travel-booth. Kata Iwan: cocok sekali, Ncim, kita berdua kan bawakan acara Blogpacker.

Another Ideas


Menulis #RabuDIY kali ini membikin ide lain muncul di benak saya. Apalagi sudah menjelang Ramadhan (dan Hari Raya Idul Fitri, hahaha). Memang ada niat untuk mengecat ulang dinding rumah. Tapi sepertinya salah satu dinding bakal saya bikin stan seperti travel booth itu deh. Gambarnya apa saja? Masih saya pikirkan soal gambar ini. Apakah bertema keluarga Pharmantara, atau bertema dunia traveling saya ... kita lihat saja nanti. Karena ini baru ide, jangan menagih janji ya, hehe.


Bagaimana, kawan, jadi kepikiran untuk membikin stan foto juga di rumah? Stan foto itu tidak selamanya harus sama dengan yang kami bikin ... .eh ... dibikin Iwan dan Irwan. Bisa juga stan fotonya berupa foto keluarga ditambah tulisan: Welcome to Pohon Tua. Pohon Tua adalah nama rumah saya. Atau tulisan: Travel Journey ditambah foto Himawan (kalau dibikin sama Himawan). Kak Rey, Kak Rohyati, Kak Iied, atau Kak Lantana pun bisa membikinnya. Kalau si Evvafebri si Mak Bowgel pasti seru karena punya banyak karakter bikinan sendiri.

Baca Juga: Monotuteh

Ber-DIY-ria memang selalu menyenangkan. Tidak peduli hasilnya rapi atau berantakan, sepanjang itu hasil karya sendiri, pasti menyenangkan dan ... puas.

Yuuuuuk dicoba :)



Cheers.

Baskets


#RabuDIY hari ini saya mau menulis tutorial sederhana membikin basket atau keranjang berbahan barang bekas. Saya sudah sering membikinnya baik yang kotak/persegi, bundar, maupun ulir. Dan ternyata setelah fakum hampir dua tahun, saya masih belum kehilangan keahlian untuk membikinnya. Ha ha ha sumpah, menulis keahlian serasa make up artist yang bisa 'menyulap' wajah begitu.

Baca Juga: Be Art

Lantas apa saja bahan-bahannya dan bagaimana cara pembuatannya? Mari kita simak.

Bahan-Bahan dan Alat:


1. Koran/kertas yang tidak dipakai lagi.
2. Lem PVAC (saya pakai Webber).
3. Lidi/sejenisnya untuk menggulung kertas.
4. Karton dari kardus bekas.
5. Cat (bila diperlukan).
6. Gunting.
7. Cutter.

Cara Membikin:


Pertama-tama membikin pipa kertas. Silahkan, koran/kertas dipotong; dibagi dua memanjang. Sayangnya untuk proses ini saya tidak sempat memotretnya, tapi kalian pasti menangkap maksudnya kan hehe. Mana yang lebih baik, kertas koran atau kertas HVS? Sama baiknya. Hanya saja kalau koran, hasil pipanya lebih panjang sehingga saat dipakai menganyam lebih asyik. Setelah dipotong, silahkan digulung menjadi pipa menggunakan lidi/sejenisnya. Hasilnya seperti gambar di bawah ini:


Bikin sebanyak-banyaknya! Supaya proses menganyam tidak terhambat pipa kertas yang habis. Saya dulu menyiapkan sampai berkaleng-kaleng pipa kertas. Tentu, dibantu Indra hehe.

Berikutnya, siapkan karton dari kardus bekas, dibikin dua berukuran sama. Besarny keranjang akan bergantung dari besarkan karton yang disiapkan oleh kita. Kenapa harus dua? Karena keduanya bakal mengapit tiang pipa kertas bakal anyaman nanti. Hasilnya seperti gambar di bawah ini:


Berapa jumlah tiang pipa? Harus ganjil. Tapi kenapa di atas gambar kok genap? Salah satunya merupakan tiang pipa untuk memulai anyaman, makanya letaknya berdekatan sama tiang satunya lagi:


Setelah itu ditindih pakai buku-buku atau alat berat juga boleh hahaha. Supaya apa? Supaya lem-nya menempel sempurna.


Biarkan semalaman sampai kering betul, atau pokoknya dirasa sudah cukup kering/kuat, maka penampakannya seperti gambar berikut ini:



Silahkan dianyam.


Ini dia hasilnya. Kaliah bisa melihat, besarnya keranjang tergantung pada lebar/besarnya karton dari kardus. Pada gambar di atas, ada yang sudah saya cat, ada yang belum saya cat, agar orang-orang tahu bahwa keranjang tersebut murni terbuat dari koran/kertas bekas.

Baca Juga: Monotuteh

Mudah bukan? Kalau saya yang kurang telaten ini bisa membikinnya, saya jamin kalian juga pasti bisa. Cukup kemauan dan mulai dari sekarang. 

Bisnis Receh yang Lumayan


Kalau kalian sedang berpikir tentang suatu bisnis, bisnis daur ulang ini merupakan bisnis receh yang lumayan. Lumayan buat penuhi kebutuhan sehari-hari. Misalnya dalam sebulan saya bisa menghasilkan 1,5Juta. Kan lumayan bisa buat beli listrik dan keperluan lainnya huehehe. Satu keranjang ukuran sedang saya hargai 25K saja. Ukuran kecil tergantung, ada yang 10K ada yang 15K. Kalau tempat tissu, harganya bisa 35K atau lebih tergantung permintaan.

Bagaimana, tertarik juga? Hyuk coba bikin!



Cheers.

5 Mural Favorit


Lomba Mural yang merupakan salah satu mata acara dari Triwarna Soccer Festival telah dibuka dengan resmi oleh Ketua Panitia yaitu Bapak Lori Gadi Djou pada Senin, 4 Maret 2019. Sejumlah limabelas peserta/kelompok mulai berkreasi di bidang pagar tembok stadion kebanggan kami Orang Ende, Stadion Marilonga. Terhitung telah empat hari lomba berjalan dan masih tersisa tiga hari lagi sebelum penjurian final dan pengumuman pemenang. Siapakah yang akan menjadi pemenang? Itu masih tanda tanya seperti pada gambar awal pos ini. Hehe.

Baca Juga: 5 Yang Cantik

Selama empat hari berjalan, sambil nongkrong dan ngopi di tenda pameran Komunitas Kopi Detusoko, tugas saya adalah memotret prosesnya. Karena ada dua skafolding yang ditumpuk agar peserta dapat mencapai bidang paling atas, saya kesulitan bisa memotret semuanya. Tapi setidaknya ada lima mural-sedang-proses yang menjadi favorit saya. Yuk kita cek ...

1. Perempuan Menenun


Salah satu tema mural adalah perempuan sedang menenun. Tema ini dipilih oleh panitia karena menenun merupakan salah satu aktivitas perempuan di Kabupaten Ende baik pada Suku Ende maupun pada Suku Lio. Tentang proses pembuatan tenun ikat dapat dilihat pada pos Proses Pembuatan Tenun Ikat. Salah satu pos kebanggaan saya hahaha.


Gambarannya seperti pada gambar di atas. Proses kelompok ini termasuk cepat karena pada hari pertama bidang ini masih kosong. Saya suka melihatnya.

2. Tokek


Tokek merupakan salah satu simbol yang melekat pada rumah-rumah adat dalam bentuk ukiran pada kayu-kayunya. Selain tokek saya pernah melihat simbol hewan seperti ayam. 


Peserta ini datang dari kelompok/komunitas difabel. Menariknya, mereka mengikuti arahan juri dimana tokek dapat dipasangkan pada benda-benda lain yang memang dapat dilekatkan. Jadi, di mana kah gambar tokeknya? Ada pada perisai yang dipegang oleh si pahlawan saat pulang berperang. Wah, mendengar penjelasan singkat dari pesertanya saja saya sudah bisa membayangkan bagaimana nanti hasilnya.

3. Feko dan Lamba


Feko dan lamba merupakan alat musik tradisional. Sama dengan penggambaran tokek di atas, feko dan lamba merupakan tema utama yang didukung oleh unsur-unsur lain yang mengikat seperti para pemainnya yang menggunakan pakaian adat.


Wajah salah seorang pemainnya realistis sekali ya. Hehehe. Duh kok saya jadi dagdigdug ya? Para peserta ini hebat-hebat semuanya. Mereka paham betul pengarahan dari dewan juri dan mereka sangat kreatif!

4. Marilonga


Marilonga adalah nama pahlawan lokal yang sangat kami banggakan dan patungnya dapat dilihat di daerah Wolowona sebagai pintu masuk Kota Ende bagian Timur. Stadionnya saja bernama Stadion Marilonga hehehe.


Gambaran umum Marilonga sudah bisa kalian lihat juga kan. Saya suka penambahan pahlawan lokal di bagian kanan atas sosok Marilonga.

5. Tarian Wanda Pa'u


Ini dia tarian kebanggaan kami. Tarian ini pasti ada di setiap acara baik tradisional maupun moderen. Sama seperti tarian Gawi. Tarian yang pasti menggunakan selendang ini sudah terlihat penarinya di bidang yang ditentukan.


Terima kasih yaaaa kalian semua kece badai!

Memang banyak yang realistik, tidak abstrak, tapi setidaknya lomba ini telah menjadi wadah dan alat penambang. Bahwa buktinya di Kabupaten Ende (serta peserta kabupaten sekitar yang juga ikutan), ada begitu banyak anak muda yang berbakat di dunia seni khususnya mural ini. 


Sebagai 'ibunya anak-anak' saya harus bisa untuk selalu ada untuk mereka, para peserta. Harus bisa mendengar dan memenuhi kebutuhan mereka. Tentu bukan saya pribadi, tapi oleh sub panitia lain. Misalnya ketersediaan skafolding hingga urusan tempat sampah setiap kelompok dipenuhi oleh Seksi Perlengkapan. Ketersediaan listrik untuk yang menggunakan teknik airbrush dipenuhi oleh Seksi Listrik dan Soundsystem. Ketersediaan air minum dipenuhi oleh Seksi Konsumsi. Saya dan teman-teman seperti Om Konk, Cesar, dan Rolland, hanya mengkoordinir saja.

Jadi, selama Lomba Mural ini panggilan saya macam-macam. Ada yang memanggil Kakak, ada yang memanggil Kakak Ibu, ada yang memanggil Ibu Negara, ada yang memanggil Ibu Yang Baik, dan lain sebagainya. Mana-mana suka. Saya asyik saja. Hahaha. Manapula bergaul sama seniman itu memang bikin hepi berlapis. 

Menariknya dari Triwarna Soccer Festival dengan pertandingan yang memperebutkan Bupati Cup, Bego Ga'i Night, hingga Lomba Mural, adalah diskusi demi diskusi. Setiap hari saya berdiskusi dengan banyak orang; sesama panitia, bareng peserta Lomba Mural, sama para pengisi tenda pameran, hingga pengunjung. Diskusi ini melahirkn ide-ide baru hingga memperbaiki beberapa hal. Kemarin malam misalnya, bersama Bapa Harry, Mas Chandra, dan Om Konk, kami berdiskusi tentang penambahan Aksara Lotta yang merupakan aksaranya Orang Ende pada mural yang dilombakan. Bersama Ferdianus Rega, misalnya, kami berdiskusi tentang kopi sebagai komoditas unggulan kami Orang Ende, Orang Flores, serta pengelolaannya. Jadi diskusi ini yang, menurut saya, semakin membuka wawasan.

Kembali pada Lomba Mural. 5 Mural Favorit bukan berarti mereka sudah pasti menang. Tidak, kawan. Saya tidak punya hak untuk menentukan, karena itu hak dewan juri yang mutlak, nanti, dan tidak bisa diganggu oleh siapapun. Bisa jadi yang favorit hari ini dapat berubah hehehe. Karena kan ini masih sedang dalam proses, bukan hasil akhir.

Baca Juga: Di Nagekeo Hati Saya Tertambat

Oh ya, di setiap bidang diwajibkan untuk dilengkapi dengan bingkai. Bingkai ini haruslah motif daerah. Motif tenun ikat. Kece lah.

Bagaimana dengan kalian? Apa cerita kalian hari ini, kawan?



Cheers.

Lomba Mural Lagi

Hasil Mural yang dibikin oleh Christian Lamatokan saat Lomba Mural Tahun 2014 di dinding pagar Stadion Marilonga sebelum kemudian tahun 2017 Stadion Marilonga direnovasi total dan menghasilkan dinding baru yang bakal dilombakan lagi tahun 2019.


Mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Itu kata Wikipedia. Bagi saya, mural adalah karya seni yang luar biasa mempesona. Tahun 2014 Dokar (Dosen dan Karyawan) Uniflor, sebuah organisasi intra kampus, pernah menyelenggarakan Lomba Mural yang pernah saya pos di Lomba Mural. Silahkan dibaca siapa tahu terpesona sama hasil muralnya hehe. Salah satu hasilnya saya kopas lagi dan bisa dilihat pada gambar di atas (awal pos).

Baca Juga: Arekune

Kenapa menampilkan gambar dari pos lama / kegiatan lama? Karena Lomba Mural Triwarna Soccer Festival 2019 baru dimulai hari ini, Senin 4 Maret 2019. Ya, betul, lomba ini merupakan salah satu mata acara dari rangkaian Triwarna Soccer Festival. Ada tiga acara besarnya yaitu pertandingan sepak bola yang memperebutkan Piala Bupati, Pameran dengan tema Bego Ga'i Night, dan Lomba Mural. Nanti saya bakal mengulas tentang Bego Ga'i Night ini. Yang jelas, sangat menarik. Oia, selain ditempatkan di Seksi Lomba Mural, saya juga diperbantukan di bagian Publikasi dan Dokumentasi terkhusus untuk Bego Ga'i Night dan Lomba Mural.


Awal diumumkan, Lomba Mural ini menerima pro dan kontra. Sejauh yang saya ingat, kontranya cuma dari satu akun Facebook. Yang lainnya mendukung. Saya sadari yang namanya lomba semacam ini, terutama yang berkaitan dengan publik, pasti ada pro dan kontranya bukan? Justru yang kontra ini menjadi semacam peringatan bagi penyelenggara untuk tahu seberapa jauh pendapat masyarakat tentang lomba semacam ini.

Peserta


Peserta Lomba Mural tahun 2019 adalah 15 (limabelas) peserta yang terdiri atas kelompok atau tim. Satu tim maksimal 5 (lima) orang dengan minimal batas usia 17 (tujuhbelas) tahun. Mengapa ada batasan usia? Untuk mengurangi ketimpangan hasil lomba nanti. Itu maksudnya. Meskipun didominasi dari Kabupaten Ende, pesertanya tidak hanya berasal dari Kabupaten Ende. Ada pula dari Kabupaten Sikka seperti PMI Kabupaten Sikka. 

Jumlah peserta ini jelas tidak dapat menutup 23 (duapuluh tiga) bidang dinding/tembok yang ada di pagar Stadion Marilonga. Tapi jangan kuatir, Komunitas Mural bakal membantu meletakkan karya mereka di bidang-bidang kosong yang ada.

Juri


Ada dua juri yang bakal menilai hasil Lomba Mural ini. Yang pertama Om Benny Laka yang dikenal sebagai seniman Kabupaten Ende. Nama besar Benny Laka tidak perlu diragukan lagi, kawan. Beliau itu semacam the one and only seniman segala lini. Yang kedua Om Johanes Konk dari Komunitas Mural Ende. Yang satu ini juga jangan ditanya lagi karya-karya muralnya ada di mana-mana. Seharusnya ada tiga juri, satunya Violin Kerong dari pihak panitia sekaligus seniman sketsa Ende. Tetapi musibah yang baru-baru ini menimpa keluarganya (rumahnya terbakar) menyebabkan beberapa bagian tubuhnya juga ikut terbakar, menyebabkan ia harus istirahat total.

Tema


Tema Lomba Mural berasal dari panitia yang bakal di-lot bersamaan dengan pemilihan bidang. Ini yang repot karena kami kekurangan personil (Viol) sehingga harus maksimal menentukan tema. Dibantu oleh Om Benny Laka, akhirnya kami memilih tema-tema besar seperti: rumah adat, tarian daerah, hasil bumi dan hasil laut, simbol adat, alat musik, tokoh, barang adat, hingga asesoris tradisional yang biasa dipakai kaum perempuan. Tema-tema besar itu menghasilkan tema kecil yang terdiri atas 15 (limabelas) tema sesuai jumlah peserta antara lain: burung gerugiwa sebagai hewan khas Danau Kelimutu, feko dan lamba sebagai alat musik tradisional, perempuan menenun sebagai aktivitas harian, Marilonga sebagai tokoh pahlawan lokal, hingga Gawi Eko Wawi dan Wanda Pa'u sebagai tarian khas Ende-Lio.

Waktu Pelaksanaan


Menulis ini seperti menyusun laporan koordinator ya hahaha. Mural dilaksanakan selama 7 (tujuh) hari dari tanggal 4 Maret 2019 s.d. 10 Maret 2019. Selama tujuh hari itu peserta diberikan waktu pukul 14.00 s.d. 18.00 Wita. Waktu yang cukup, menurut saya, karena dulu toh lomba ini diselenggarakan selama dua hari saja.


Lomba Mural sudah dimulai tadi siang, dibuka dan ditandai dengan tanda besar oleh Ketua Panitia Triwarna Soccer Festival Bapak Lori Gadi Djou. Saya bagian pegang ember cat saja ya haha.


Dan meskipun diberi waktu tujuh hari tadi sudah ada yang nampak gambaran besarnya:


Kami berharap para peserta dapat semaksimal mungkin berkarya dan berkreatifitas di bidang-bidang yang ada sesuai dengan tema yang telah dipilih/ditentukan. Ini bakal jadi salah satu ikon Kota Ende dari pintu masuk bagian Timur. Semoga! Demi Kabupaten Ende tercinta.

Menang dan kalah adalah perkara biasa dari sebuah perlombaan. Bukan begitu?

Begitu ... Hehe.


Cheers.