Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan


Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan. Pada akhirnya, setelah mahasiswa Uniflor dirumahkan, giliran dosen dan karyawan Uniflor dirumahkan. Dirumahkan tidak sama dengan liburan. Artinya, mahasiswa tetap belajar, dosen tetap mengajar, dan karyawan tetap bekerja. Tapi semua dilakukan dari rumah. Study from home. Work from home. Kurangi aktivitas di luar rumah.


Apabila ada pekerjaan yang wajib dikerjakan oleh dosen dan karyawan antara tanggal 23 Maret 2020 sampai 4 April 2020, bersifat mendesak dan atas perintah atasan, maka dosen dan karyawan Uniflor harus mengikuti perintah pekerjaan tersebut. Sesuai dengan situasi yang terjadi, di rumah saja, salah satunya, bisa lebih cepat memutus rantai penyebaran virus Corona.


Dua minggu di rumah saja, bukan liburan, tentu bisa menimbulkan kebosanan. Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan selama masa 'karantina diri sendiri' ini. Berkebun di kebun mini merupakan salah satunya. Yang paling asyik tentu menonton drama Korea, filem-filem terkini, serta membaca buku. Siapa tahu ada buku di lemari buku kalian yang pembungkus plastiknya masih utuh. Perlu dibuka! Bacalah! Mengisi waktu luang ini. Ada pula pekerjaan lain yang bisa dilakukan seperti membersihkan kulkas, membersihkan kamar mandi, menata ulang kamar, menata ulang ruang tamu, dan lain sebagainya. Eits, bagi pecinta kerajinan tangan, tentu di rumah saja memberi begitu banyak waktu untuk berkreasi sepuas-puasnya.

Karena banyak bahan baku kerajinan tangan yang tertinggal di kantor seperti koran dan kardus, tentu saya belum bisa membikin tutorial baru membikin desk organizer atau keranjang koran. Makanya hari ini saya hanya ingin berbagi foto tiga desk organizer mini yang benar-benar menggemaskan dan saya tidak tahu di mana kah mereka sekarang. Haha. Sudah diberikan kepada orang lain hanya saja saya lupa kepada siapa. Semoga bermanfaat bagi mereka yang menerimanya.

Ada tiga desk organizer mini yang saya bikin disela-sela membikin barang lainnya. Ini dia penampakannya:




Mini memang, tapi punya kekuatan yang cukup untuk menampung barang-barang modal kerja. Seperti yang kalian lihat di atas.

Baca Juga: Monotuteh

Mumpung di rumah saja, kalian juga bisa coba membikinnya karena bahan-bahannya tidak perlu banyak banget:

1. Kotak susu atau gulungan tisu.
2. Kardus untuk alas.
3. Pembungkus (kertas majalah juga boleh).

Silahkan berkreasi sepuas-puasnya, gengs!

#RabuDIY



Cheers.

Keranjang Serbaguna Merah Cantik Pesanan Mama Emmi


Keranjang Serbaguna Merah Cantik Pesanan Mama Emmi. Ketemu lagi di #RabuDIY. Harinya kita berkreasi sepuas-puasnya. Kali ini saya mau bercerita tentang produk Do It Yourself (DIY) berbentuk keranjang. Hyess, lihat gambar di atas. Keranjang tersebut dipesan oleh Mama Emmi Gadi Djou saat saya masih sangat rajin dan produktif mendaur ulang sampah. Hehe. Kalian pasti tidak menyangkan bahwa keranjang merah cantik di atas berbahan koran dan kardus kan? Perihal pita, sebenarnya tidak saya pakaikan pita. Tetapi ketika mata saya menangkap pita emas di dos pita, diaplikasikan pada keranjang ini, ternyata hasilnya bagus. Trada ... jadi deh si keranjang merah cantik.

Baca Juga: Bunga Dinding

Bagaimana tata cara membikin keranjang tersebut? Mudah. Kalian bisa membaca pos berjudul Bakets ini. Apabila kalian masih kesulitan juga, boleh request di komen untuk saya membikin tutorialnya baik tulisan maupun video. Ehem. Artinya ... saya bakal kembali rajin ber-DIY-ria nih? Sepertinya begitu. Hehe. Karena, ketika sisa keranjang warna hijau dipakai Meli untuk mengisi segala macam barang (roti, mentega, keju, stoples sosis, dan lain sebagainya) di atas meja makan, kelihatannya juga cantik. Kecantikan yang sama juga saya lihat saat berkunjung ke rumah Mama Emmi. Dua keranjang merah itu bertengger manis di atas meja makan.

Dalam waktu dekat, teman-teman beragama Katolik akan merayakan Paskah. Saya berniat menjual telur paskah hiasan. Otomatis sudah mulai mempersiapkan bahan-bahannya terutama telur! Haha. Selain telur, saya juga bakal menjual lilin berbentuk telur. Warna-warni. Semoga saat percobaan nanti tidak mengalami kegagalan yang berarti *dicibir dinosaurus*. Sedangkan teman-teman beragama Islam juga bakal memasuki Bulan Ramadhan. Eng ing eng ... siapa pun yang membutuhkan keranjang anyaman untuk berbagai keperluan, boleh pesan di saya.

Jualaaaaan!

Ember. Jualan di blog sendiri bukan dosa. Haha. 

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Terus, apa inti pos ini? Tidak ada. Haha. Cuma mau pamer pada kalian tentang keranjang cantik di atas, sekaligus jualan. Bagi teman-teman beragama Katolik, selain telur, keranjang juga bisa dipesan sebagai wadah telur Paskah hias. Tetapi tentunya ini berlaku untuk teman-teman yang ada di Kota Ende dan sekitarnya saja, ya.

Semoga bermanfaat dan semoga ... tertarik! Haha.



Cheers.

Barang-Barang DIY Kece di Kedai Kampung Endeisme


Barang-Barang DIY Kece di Kedai Kampung Endeisme. Adalah pilihan tepat ketika pada awal tahun 2019 saya mengubah tema #RabuLima menjadi #RabuDIY. Mengubah tema harian blog gampang-gampang susah. Saya harus mandi kembang, bertapa, melakukan perjalanan ke Barat mencari kitab suci, menimbang ini itu terlebih dahulu, barulah mengambil keputusan. Bagi kalian yang bingung soal tema harian di blog ini, nonton video berikut:


Mengapa saya menulis adalah pilihan tepat ketika pada awal tahun 2019 saya mengubah tema #RabuLima menjadi #RabuDIY? Pertama: dunia Do It Yourself (DIY) adalah dunia kreativitas tanpa batas. Kedua: saya sendiri punya renjana di dunia DIY dan pernah meraup keuntungan Jutaan Rupiah hanya bermodalkan sampah seperti koran, majalah, botol plastik, kardus, hingga kaleng. Terbukti, tema #RabuDIY masih bertahan hingga saat ini. And I love it so much. Come on, guys, begitu banyak barang bernilai ekonomi lebih tinggi dari barang (dasar) yang sudah ingin dibuang ke tempat sampah. Yang dibutuhkan hanyalah percikan kreativitas.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Kemarin sore saya dan teman-teman; Violin, Oedin, Cahyadi, Al, pergi ke sebuah kedai bernama Kedai Kampung Endeisme. Cerita lengkap tentang kedai ini bakal saya pos di Hari Senin. Videonya sendiri bakal saya pos Jum'at besok di Youtube. Hari ini saya hanya mau bercerita pada kalian, bahwa di sebuah kedai mungil yang lokasinya pun tidak di pusat Kota Ende, kalian akan menemukan begitu banyak barang-barang bernilai seni tinggi dan spot-spot instagenic untuk keperluan foto yang bakal dipos di Instagram. Awal waktu diundang ke sana oleh pemiliknya, ekspetasi saya biasa-biasa saja. Ternyata saya salah! Memalukan sekali saya ini hahaha.

Barang-barang DIY ada di Kedai Kampung Endeisme akan berbicara melalui foto-foto di bawah ini.


Dari depan sudah terlihat dengan sangat jelas bahwa Kedai Kampung Endeisme memang berkonsep #DIY. Mulai dari papan namanya sampai bangku-bangku berbahan ember bekas cat.


Selain bangku-bangku berbahan ember bekas cat, dan kayu-kayu bekas, juga ada bangku yang satu ini, yang dialas dengan karung goni. Apa nama karung ini di daerah kalian? Kalau kami sih menyebutnya karung goni hahaha. Karung goni jangan disepelekan loh, saat ini karung goni dimanfaatkan sebagai bahan dasar kerajinan tangan seperti membikin kantung unik, tali goni buat hiasan jar, dan lain sebagainya.


Rak kayu dicat hitam yang diisi buku-buku sampai pernak-pernik. Sumpah, saya penasaran sama isi botol kaca itu. Yang jelas itu bukan beras warna-warni seperti yang pernah saya bikin. Herannya, saya lupa bertanya. Nantilah kalau ke sana lagi bakal saya tanya apa isinya.


Tulisan-tulisan menarik di dinding, gambar-gambar, dan totebag. Salah satu pemiliknya itu punya blog petikata. Tapi kalau dia lebih sering bermain dengan kata-kata di Facebook. Keren-keren lah.


Mandala yang satu ini juga dibikin/dilukis sendiri. Memang benar ya kalau orang seni yang membuka kafe, semua pernak-pernik dan hiasan dinding bisa dibikin sendiri. Menghemat ongkos.


Kece kan? Jelas! 

Baca Juga: Tempat Cincin DIY Untuk Pernikahan Sahabat Saya Deasy Daulika

Berkunjung ke Kedai Kampung Endeisme tidak saja memuaskan mata tetapi juga membikin jiwa DIY saya memberontak. Bertanya-tanya, kapan saya bakal kembali ke dunia DIY. Cahyadi sendiri pernah menyarankan saya untuk membikin konten video tentang dunia DIY saya seperti bagaimana cara saya membikin keranjang, tempat tisu, desk-organizer, wall-organizer, hiasan dinding, tas berbahan celana jin bekas, sofa celana jin, kaktus batu, berkreasi dengan semen, sampai pohon Natal menggunakan pipa kertas! Byuuuuuh *garuk-garuk kepala*. Mau sih, tapi waktu belum mengijinkan. 

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua. Yuk berkreasi sebanyak-banyaknya. Jangan biarkan ide-ide kreatif kalian menguap begitu saja.

#RabuDIY



Cheers.

Desk-Organizer Nuansa Biru Cantik Untuk Yohana Gabriela


Desk-Organizer Nuansa Biru Cantik Untuk Yohana Gabriela. Sumpah, menulis ini saya merindukan masa-masa produktif mendaur ulang sampah dulu. Rumah dipenuhi sama tumpukan koran, tumpukan majalah lama, kardus-kardus bekas, nampan berisi kaleng cat aneka warna, kuas aneka ukuran, kertas-kertas kado cantik, botol plastik aneka ukuran, gelas plastik dan gelas kertas/karton, kaleng bekas susu, gunting, cutter, alat tulis dan penggaris, hot glue gun, lem kayu (Webber), kotak pita dan pentul, sampai jepit pakaian! Whuaaaah. Gilaaaa! Tempat kerja mendaur ulang pun berpindah dari ruang keluarga ke ruang makan. Dan bukan barang baru jika tangan saya dipenuhi cat warna-warni karena proses mengecat keranjang, misalnya.

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Waktu sedang panas-panasnya, pesanan menumpuk, saya banyak sekali menerima pesanan tempat tisu dan desk-organizer. Ada buku khusus pesanan! Hehe. Setelah dua item itu, item lainnya yang juga banyak dipesan adalah keranjang dan keranjang ulir. Mungkin pada masa itu otak saya berkembang sangat pesat, haha, karena ide-ide bermunculan simpang-siur, minta ditangkap. Khusus untuk desk-organizer saya selalu berusaha agar tidak ada yang bentuknya sama. Supaya setiap orang merasa bahwa desk-organizer itu memang untuk dirinya, ciri khas dirinya, yang dia minta saat memesan. Terutama bila warna yang mereka pesan untuk desk-organizer tersebut sesuai.

Suatu kali, teman kerja saya Yohana Gabriela memesan desk-organizer bernuansa biru. Saya bertanya: mau yang di-cat atau yang dibungkus kertas kado? Dia minta yang kertas kado dengan ukuran normal. Artinya tidak sebesar desk-organizer pesanan Enchyz Monteiro. Tapi harus bisa memuat alat tulis, gunting, hekter, lem, dan barang-barang kantor/pekerjaan lainnya. Maka otak saya mulai bekerja. Pertama: memikirkan dan/atau merancang bentuk kasarnya terlebih dahulu. Setelah itu mulai membikin rangka-rangka hingga mengetes kesesuaian bentuk pada alas/dasar desk-organizer bersangkutan. Saatnya membungkus semua rangka dan alas/dasar dengan kertas kado. Sumpah, saya suka banget sama kertas kadonya. Warnanya biru lembuuuut dengan karakter kartun begitu. 

Jadinya seperti pada gambar berikut ini (kalau bagian cover kurang terlihat):


Cantik kan ya?

Oh ya, setelah semua rangka terpasang pada alas/dasar, saya pikir-pikir bakal lebih bagus kalau diikat pita putih. Kebetulan stok yang selalu ada itu pita warna putih dan biru. Ugh wow, jadinya malah tambah cantik dan perasaan tak rela menyerahkan desk-organizer ini muncul. Haha. Desk-organizer ini saya jual seharga Rp 25.000 (Dua Puluh Lima Ribu Rupiah) saja. Oh ya, biasanya untuk menampilkan bentuk utuh atau fungsi dari sebuah karya seperti desk-organizer maka saya selalu menempatkan barang-barang yang sesuai peruntukkannya seperti alat tulis, mistar, gunting, hekter, isolasi, bahkan uang. Itu semacam properti pendukung hehehe.

Baca Juga: Baskets

Desk-organizer semacam ini memang sederhana dan mudah dibikin. Barang-barang dasar untuk membikinnya pun tidak susah dicari. Yang susah itu merancang bentuknya hahaha, karena memang pengen tidak ada yang sama antara pesanan yang satu dengan pesanan lainnya.

Semoga pos ini bermanfaat. Siapa tahu setelah membaca ini kalian pengen bikin juga. Ayuklah dibikin. Tunjukkan ke saya hasilnya *ngikik*.

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Pot Pembibitan Menggunakan Botol Plastik Bekas


Membikin Pot Pembibitan Menggunakan Botol Plastik Bekas. Sampah lagi, sampah lagi, plastik lagi, plastik lagi. Saya tidak akan pernah bosan menulis tentang sampah plastik. Saya juga tidak akan pernah berhenti berusaha agar sampah plastik ini bisa dikreasikan agar punya nilai tambah. Salah satu sampah plastik yang paling sering kita temui sehari-hari adalah bekas kemasan minuman baik bentuk gelas maupun bentuk botol. Di musim hujan, sampah plastik yang terbawa arus air sungguh menyesakkan got, jalan, dan perasaan. Setidaknya kami sekeluarga sudah mengurangi sampah plastik terutama botol, dengan cara selalu membawa tumblr. Khusus saya pribadi, membawa tiga botol yaitu dua tumblr dan satu termos kopi susu.

Baca Juga: Ini Dia Produk Do It Yourself Pertama yang Saya Bikin

Banyak produk Do It Yourself (DIY) yang bisa kalian bikin dengan memanfaatkan botol plastik bekas. Salah satunya membikin pot pembibitan! Saya pernah melakukannya, membibit daun sop di botol plastik bekas. Tidak percaya? Ini dia buktinya:


Memanfaatkan botol plastik bekas untuk pot pembibitan bisa dilakukan dengan langsung menanam seperti gambar kedua atau gambar jejeran botol plastik pembibitan daun sop di atas. Bisa juga dengan cara seperti pada gambar pertama di pos ini. Botol plastiknya dibelah, bagian atas dibalik menutup bagian bawah (bagian dasar), terus pada tutupan dibikin lubang tali sekaligus diisi tanah dan bibit. Nantinya tidak perlu rutin disiram, karena air bakal terserap melalui tali tersebut. Sebagai pemanis, botolnya bisa dicat warna-warni.

Karena daun sop itu batangnya juga kecil-kecil, ada juga sih yang besar, maka waktu itu saya tidak perlu memindahkan lagi bibit daun sop yang sudah tumbuh ke wadah lain yang lebih besar. Karena wadah yang lebih besar saya manfaatkan untuk menanam cabe dan tomat. Cabenya sukses, tomatnya diserang hama dan hancur kehidupan si tomat sebelum dewasa. Byuuuh!

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Anyhoo, karena membikinnya mudah, sangat mudah malahan, maka saya tidak perlu menulis tutorialnya ya. Dengan melihatnya saja saya pikir kalian pasti sudah tahu. Yang jelas, apabila sampah plastik botol bekas ini sudah dikreasikan, usahakan jangan kalap membeli air mineral dalam kemasan botol, karena bakal 50:50 lagi. Bakal ada sampah plastik lagi. Salah satu cara paling sederhana mengurangi sampah botol plastik adalah dengan membeli tumblr. Percaya deh, membawa tumblr ke mana-mana itu keren dan juga bikin kita lebih berhemat. Hehe.

Semoga bermanfaat!

#RabuDIY



Cheers.

Ini Dia Produk Do It Yourself Pertama yang Saya Bikin


Ini Dia Produk Do It Yourself Pertama yang Saya Bikin. Apa nama yang tepat untuk kerajinan tangan yang satu ini? Huruf timbul kah? Atau ...? Kalau kalian tahu, tolong komen di bawah. Haha. Katakanlah namanya huruf timbul. Maka, huruf timbul ini saya bikin berbahan barang bekas yaitu karton super tebal, kardus bekas, dan kalender lama. Alat-alatnya tentu gunting, pisau cutter, dan lem. Membikinnya memang tidak lama. Saya hanya mengandalkan tulisan tangan untuk membentuk huruf-huruf tersebut. Hanya saja saya masih aneh sama huruf r-nya. Tapi tetap bisa kalian baca kan? BlogPacker. Sampai dengan menulis ini, saya masih ingin membikin lagi huruf timbul serupa. Semacam penyempurnaan. Tapi ... entah.

Baca Juga: Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello

Bagaimana dengan kalian? Pernah membikin produk DIY yang seperti ini juga? Dan ya, sekali lagi, apabila kalian tahu nama yang tepat untuk kerajinan tangan ini, mohon komen di bawah.

That's all.

Selamat berkreasi!

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello


Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello. Sekitar tahun 2017 s.d. pertengahan 2018 saya masih tekun memproduksi barang-barang daur ulang seperti desk-organizer, hiasan dinding, mangkuk, keranjang, tas, pot bunga, tempat tisu, sampai gantungan kunci. Karena judulnya daur ulang tentu saja bahan-bahannya merupakan sampah seperti koran, majalah, kardus/karton, botol plastik, kaleng susu, gelas plastik dan gelas kertas, celana jin, kotak bekas minuman, hingga sedotan. Tetapi untuk memproduksi barang-barang berkonsep #DIY (bikin sendiri) saya tidak melulu menggunakan barang bekas. Semen, misalnya. Untuk membikin pot bunga unik berbahan semen, saya tentu harus membeli semen sekitar satu sampai dua kilogram. Sementara itu untuk mewarnai keranjang anyaman berbahan pipa koran/kertas dan kardus, saya harus membeli cat minyak berkaleng-kaleng sesuai jumlah warna yang dibutuhkan.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Kembali ke masa-masa produktif, saya sampai harus mencatat semua pesanan orang-orang berdasarkan timeline agar pekerjaan berdasarkan hobi tersebut tidak serampangan. Maksudnya, saya harus betul-betul bisa menepati janji waktu pengerjaan yang ditetapkan yaitu tiga sampai tujuh hari per barang. Awalnya tempat tisu baru bisa benar-benar selesai pengerjaannya sekitar tiga hari per tempat tisu. Tapi dengan semakin lihainya tangan dan jemari, sehari saya bisa memproduksi sampai lima tempat tisu. Sama halnya dengan keranjang. Awalnya bisa sampai lima hari per keranjang berukuran sedang. Lama-kelamaan sehari bisa dapat empat keranjang, bahkan sudah selesai dicat sempurna (hanya tinggal menunggu cat-nya kering).

Entah apa yang merasuki orang-orang sampai begitu sukanya mereka sama barang-barang daur ulang yang saya produksi. Bahkan ada yang memesan lebih dari satu barang. Mungkin karena barang daur ulang merupakan barang unik yang tidak dijual di toko-toko; termasuk permintaan warna dan karakter yang digunakan. Mungkin karena mereka sudah bosan dengan tempat tisu plastik yang modelnya itu-itu saja. Mungkin mereka memang ingin menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dengan memesan barang daur ulang. Ada banyak kemungkinan. Yang jelas, hanya dari memproduksi barang daur ulang saya bisa menghasilkan jutaan Rupiah. Memanfaatkan koneksi/pertemanan untuk promosi merupakan salah satu jalan paling ampuh.

Percayalah ... saya sudah melakoninya dan menikmati hasilnya.

Suatu saat keponakan saya, Indri, memesan rak kue susun tiga bakal tempat cupcakes. Jangka waktu yang diberikan adalah satu minggu dengan biaya yang cukup fantastis sih, sesuai dengan harga barang yang sama yang dipesannya di toko online. Sampai dia memesan pada saya adalah karena barang pesanannya itu baru tiba setelah tanggal keramat/ulangtahun si pemesan cupcakes ulang tahun. Awalnya saya ragu, tapi kemudian tawaran itu saya terima juga.

Membikin rak kue susun tiga susah-susah gampang. Karena bikinnya sudah lama, dan saya tidak pernah memikirkan proses produksi, sehingga tidak banyak foto yang bisa dihasilkan dari barang yang satu itu. Yang jelas, kardus yang digunakan harus yang super tebal. Maka saya tidak meminta kardus bekas mi atau minuman gelas pada tetangga melainkan membeli kardus super besar dan super tebal di toko sembako. Untuk mengatasi kejadian salah bikin, saya membeli tiga kardus super tersebut. Lantas, kreativitas mulai didorong untuk lebih dan lebih ... ini pertama kali ... saya yakin gagal sudah pasti.

Baca Juga: Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing

Gagal? Memang. Haha. Tapi saya sudah menyiapkan bahan cadangan. Dengan sedikit sentuhan kreativitas, maka jadilah rak kue susun tersebut.


Penampakannya begitu itu ya. Jauh dari kata sempurna. Tapi itulah kemampuan saya *ngikik*. Alhamdulillah keponakan malah suka. Tanpa banyak basa-basi, karena waktu sudah sangat mepet, rak kue susun ini langsung diangkut ke rumahnya untuk diisi dengan cupcakes-cupcakes pesanan. Waktu melihat hasilnya setelah diletakkan cupcakes, kok malah bagus. Cupcakes-nya yang bagus, rak kue susunnya sih teteup begitu itu. Yang jelas itu pengalaman pertama dan terakhir membikin rak kue susun, sebelum akhirnya saya jeda memproduksi aneka barang DIY.

Bagaimana menurut ngana? Haha. Bagi tahu di papan komentar.

Semoga bermanfaat, atau setidaknya mampu memberi inspirasi pada kalian semua.

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello


Membikin Sendiri Rak Kue Susun Tiga Bertema Marshmello. Sekitar tahun 2017 s.d. pertengahan 2018 saya masih tekun memproduksi barang-barang daur ulang seperti desk-organizer, hiasan dinding, mangkuk, keranjang, tas, pot bunga, tempat tisu, sampai gantungan kunci. Karena judulnya daur ulang tentu saja bahan-bahannya merupakan sampah seperti koran, majalah, kardus/karton, botol plastik, kaleng susu, gelas plastik dan gelas kertas, celana jin, kotak bekas minuman, hingga sedotan. Tetapi untuk memproduksi barang-barang berkonsep #DIY (bikin sendiri) saya tidak melulu menggunakan barang bekas. Semen, misalnya. Untuk membikin pot bunga unik berbahan semen, saya tentu harus membeli semen sekitar satu sampai dua kilogram. Sementara itu untuk mewarnai keranjang anyaman berbahan pipa koran/kertas dan kardus, saya harus membeli cat minyak berkaleng-kaleng sesuai jumlah warna yang dibutuhkan.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Kembali ke masa-masa produktif, saya sampai harus mencatat semua pesanan orang-orang berdasarkan timeline agar pekerjaan berdasarkan hobi tersebut tidak serampangan. Maksudnya, saya harus betul-betul bisa menepati janji waktu pengerjaan yang ditetapkan yaitu tiga sampai tujuh hari per barang. Awalnya tempat tisu baru bisa benar-benar selesai pengerjaannya sekitar tiga hari per tempat tisu. Tapi dengan semakin lihainya tangan dan jemari, sehari saya bisa memproduksi sampai lima tempat tisu. Sama halnya dengan keranjang. Awalnya bisa sampai lima hari per keranjang berukuran sedang. Lama-kelamaan sehari bisa dapat empat keranjang, bahkan sudah selesai dicat sempurna (hanya tinggal menunggu cat-nya kering).

Entah apa yang merasuki orang-orang sampai begitu sukanya mereka sama barang-barang daur ulang yang saya produksi. Bahkan ada yang memesan lebih dari satu barang. Mungkin karena barang daur ulang merupakan barang unik yang tidak dijual di toko-toko; termasuk permintaan warna dan karakter yang digunakan. Mungkin karena mereka sudah bosan dengan tempat tisu plastik yang modelnya itu-itu saja. Mungkin mereka memang ingin menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dengan memesan barang daur ulang. Ada banyak kemungkinan. Yang jelas, hanya dari memproduksi barang daur ulang saya bisa menghasilkan jutaan Rupiah. Memanfaatkan koneksi/pertemanan untuk promosi merupakan salah satu jalan paling ampuh.

Percayalah ... saya sudah melakoninya dan menikmati hasilnya.

Suatu saat keponakan saya, Indri, memesan rak kue susun tiga bakal tempat cupcakes. Jangka waktu yang diberikan adalah satu minggu dengan biaya yang cukup fantastis sih, sesuai dengan harga barang yang sama yang dipesannya di toko online. Sampai dia memesan pada saya adalah karena barang pesanannya itu baru tiba setelah tanggal keramat/ulangtahun si pemesan cupcakes ulang tahun. Awalnya saya ragu, tapi kemudian tawaran itu saya terima juga.

Membikin rak kue susun tiga susah-susah gampang. Karena bikinnya sudah lama, dan saya tidak pernah memikirkan proses produksi, sehingga tidak banyak foto yang bisa dihasilkan dari barang yang satu itu. Yang jelas, kardus yang digunakan harus yang super tebal. Maka saya tidak meminta kardus bekas mi atau minuman gelas pada tetangga melainkan membeli kardus super besar dan super tebal di toko sembako. Untuk mengatasi kejadian salah bikin, saya membeli tiga kardus super tersebut. Lantas, kreativitas mulai didorong untuk lebih dan lebih ... ini pertama kali ... saya yakin gagal sudah pasti.

Baca Juga: Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing

Gagal? Memang. Haha. Tapi saya sudah menyiapkan bahan cadangan. Dengan sedikit sentuhan kreativitas, maka jadilah rak kue susun tersebut.


Penampakannya begitu itu ya. Jauh dari kata sempurna. Tapi itulah kemampuan saya *ngikik*. Alhamdulillah keponakan malah suka. Tanpa banyak basa-basi, karena waktu sudah sangat mepet, rak kue susun ini langsung diangkut ke rumahnya untuk diisi dengan cupcakes-cupcakes pesanan. Waktu melihat hasilnya setelah diletakkan cupcakes, kok malah bagus. Cupcakes-nya yang bagus, rak kue susunnya sih teteup begitu itu. Yang jelas itu pengalaman pertama dan terakhir membikin rak kue susun, sebelum akhirnya saya jeda memproduksi aneka barang DIY.

Bagaimana menurut ngana? Haha. Bagi tahu di papan komentar.

Semoga bermanfaat, atau setidaknya mampu memberi inspirasi pada kalian semua.

#RabuDIY



Cheers.

Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati


Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati. Saya, kalian, mereka, mungkin sering fokus pada hasil akhir namun melupakan proses menuju hasil. Belakangan, saya sering menulis proses ini dengan proses kreatif. Menulis tentang proses kreatif, saya jadi ingat tentang perjalanan. Betapa gila-gilaannya saya tancap gas setiap kali ke luar kota karena pengen segera tiba di kota tujuan. Bahkan sering terlambat ngerem dan masuk lubang. Suatu kali, saya dan Deni Wolo sama-sama berangkat ke Kota Mbay untuk menyaksikan Festival Kuliner Nakeng Lebu (daging domba) di Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Deni tidak bisa tancap gas karena memang tidak mau dan tidak terbiasa. Mengikuti ritme perjalanan Deni, saya justru lebih menikmati perjalanan luar kota tersebut. Banyak yang bisa saya perhatikan, lebih detil, dan saya sadar bahwa menikmati perjalanan ya yang seperti ini.


Setiap hari saya melakukan dan/atau melewati proses kreatif seperti menulis konten blog, menyunting foto, membikin cover atau feature picture konten blog di Canva, sampai menulis novel. Kadang membikin produk #DIY. Dalam dunia pekerjaan pun demikian, karena untuk menghasilkan satu berita saya harus menulis berita, menggali fakta (agar faktual), hingga menyunting foto pelengkap berita. Dan ketika terjun dalam dunia Exotic NTT Community, saya sadar, proses kreatif itu lebih rajin terjadi baik dilakukan oleh saya maupun oleh teman-teman.


Suatu kali saya menyaksikan proses kreatif yang dilakukan oleh Oedin, videografer sekaligus tukang sunting video Exotic NTT Community. Waktu itu Oedin membikin konten untuk channel Youtube-nya. Kontennya berupa wawancara Oedin dengan salah seorang anggota Exotic NTT Community yang juga dikenal sebagai E.thical Young Entrepreneur Ende 2019 dan mahasiswi Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor). Namanya Natalia Mudamakin. Wawancara dan/atau proses kreatifnya dilakukan di ruang tamu Pohon Tua (rumah saya). Jujur, saya sangat menikmati proses kreatif itu berjalan terutama bagaimana cara Oedin menggali informasi dari narasumbernya. Jelas saya melihat, Oedin berusaha bisa memperoleh footage sebaik-baiknya untuk mempermudahkannya menyunting video tersebut.

Lain lagi cerita saat kami harus pergi ke beberapa tempat berbeda untuk syuting footage bekal video para Exoter (sebutan untuk anggota Exotic NTT Community).

Watu Zaja, Bukit Marsel


Di lokasi ini proses kreatif berlangsung meriah karena diikuti oleh lebih banyak Exoter. Saya, David, Oedin, Arand, Violin, dan Thika. Kami dibantu pula oleh Om Alan dari RCM. Proses kreatif berkaitan dengan kesabaran. Karena ada enam Exoter yang harus dibikin/syuting footage-nya masing-masing, tentu harus mengantri kan. Di sinilah saya menikmati proses kreatif itu. Sebagai videografer, Oedin mengarahkan satu per satu Exoter untuk bergaya sesuai renjananya masing-masing.


Saya, misalnya, footage-nya adalah membaca. Sebagai subyek, saya harus bisa lebih sabar bertahan pada satu aksi/gaya sampai Oedin benar-benar puas. Sumpah, suka sekali sama proses kreatif yang dilakukan oleh Exoter. Sungguh, saya banyak belajar untuk jauh lebih sadar dan memerhatikan detil yang sering terlewatkan. Contohnya, saya bisa lebih leluasa mengeksplor Watu Zaja ketika menunggu giliran disyuting.

Aigela: Check Point Tiga Kabupaten


Ini dia perjalanan gila-gilaan. Bayangkan saja, untuk dua footage Exoter kami harus pergi jauh-jauh ke Aigela sejarak sekitar 60 kilometer dari Kota Ende. Proses kreatif yang saya nikmati tidak saja ketika Oedin mengambil footage Yoyok dan Cahyadi. Lebih dari itu! Selain kehujanan, takut sama petir yang sahut-sahutan, saya disuguhi pemandangan seorang lelaki sedang melaksanakan shalat Dzuhur.



Subhanallah. Saya benar-benar jatuh cinta dengan lelaki di dalam foto. Sayangnya, karena hujan saya tidak sempat berkenalan dengannya, karena kami kemudian ngetem di lapak berbeda. Mungkin kalian bakal bertanya, memangnya saya berani berkenalan dengannya? Berani donk! Untuk lelaki seperti itu, saya pasti berani. Sekadar mengajaknya mengobrol, berteman, haha hihi, kenapa tidak? Di sini saya menjadi semakin percaya bahwa setiap perjalanan mempunyai ceritanya sendiri-sendiri. Alhamdulillah saya diberikan pemandangan indah begitu oleh Allah SWT.

Pelabuhan Ende, Samba, Simpang Lima


Proses yang satu ini juga sangat saya nikmati. Waktu itu kami terpisah di mana saya, Yoyok, Violin, dan Natalia pergi ke Pelabuhan Ende untuk syuting footage-nya Nata. Sedangkan Arand, Tri, dan Man, pergi ke Barai menjemput Oedin untuk kemudian bergabung dengan kami di pelabuhan. Jujur, sudah beberapa bulan saya tidak mengumpulkan footage, apalagi mengarahkan subyek video. Tapi saat Nata mulai menari, sesuai renjananya, saya jadi lebih bersemangat mengarahkannya. Setelah saya, gantian Yoyok yang merekam aksi-aksi Nata, sampai kemudian rombongan dari Barai tiba di Pelabuhan Ende.

⇜⇝

Jadi, jelas ... bagi kalian yang sering mengabaikan proses kreatif, coba deh mulai memerhatikannya. Bandingkan saat kalian tidak menikmatinya atau menganggapnya sebagai angin lalu, dengan saat kalian menikmatinya dengan sungguh.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Bakal banyak banyak yang kita perhatikan dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Bakal banyak yang kita pelajari dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Detil-detil yang sering terlewatkan, bakal menjadi suatu cerita tersendiri ketika kita menikmati proses kreatif. Ayo, berhenti terburu-buru, mari nikmati!

#KamisLegit



Cheers.

Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati


Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati. Saya, kalian, mereka, mungkin sering fokus pada hasil akhir namun melupakan proses menuju hasil. Belakangan, saya sering menulis proses ini dengan proses kreatif. Menulis tentang proses kreatif, saya jadi ingat tentang perjalanan. Betapa gila-gilaannya saya tancap gas setiap kali ke luar kota karena pengen segera tiba di kota tujuan. Bahkan sering terlambat ngerem dan masuk lubang. Suatu kali, saya dan Deni Wolo sama-sama berangkat ke Kota Mbay untuk menyaksikan Festival Kuliner Nakeng Lebu (daging domba) di Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Deni tidak bisa tancap gas karena memang tidak mau dan tidak terbiasa. Mengikuti ritme perjalanan Deni, saya justru lebih menikmati perjalanan luar kota tersebut. Banyak yang bisa saya perhatikan, lebih detil, dan saya sadar bahwa menikmati perjalanan ya yang seperti ini.


Setiap hari saya melakukan dan/atau melewati proses kreatif seperti menulis konten blog, menyunting foto, membikin cover atau feature picture konten blog di Canva, sampai menulis novel. Kadang membikin produk #DIY. Dalam dunia pekerjaan pun demikian, karena untuk menghasilkan satu berita saya harus menulis berita, menggali fakta (agar faktual), hingga menyunting foto pelengkap berita. Dan ketika terjun dalam dunia Exotic NTT Community, saya sadar, proses kreatif itu lebih rajin terjadi baik dilakukan oleh saya maupun oleh teman-teman.


Suatu kali saya menyaksikan proses kreatif yang dilakukan oleh Oedin, videografer sekaligus tukang sunting video Exotic NTT Community. Waktu itu Oedin membikin konten untuk channel Youtube-nya. Kontennya berupa wawancara Oedin dengan salah seorang anggota Exotic NTT Community yang juga dikenal sebagai E.thical Young Entrepreneur Ende 2019 dan mahasiswi Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor). Namanya Natalia Mudamakin. Wawancara dan/atau proses kreatifnya dilakukan di ruang tamu Pohon Tua (rumah saya). Jujur, saya sangat menikmati proses kreatif itu berjalan terutama bagaimana cara Oedin menggali informasi dari narasumbernya. Jelas saya melihat, Oedin berusaha bisa memperoleh footage sebaik-baiknya untuk mempermudahkannya menyunting video tersebut.

Lain lagi cerita saat kami harus pergi ke beberapa tempat berbeda untuk syuting footage bekal video para Exoter (sebutan untuk anggota Exotic NTT Community).

Watu Zaja, Bukit Marsel


Di lokasi ini proses kreatif berlangsung meriah karena diikuti oleh lebih banyak Exoter. Saya, David, Oedin, Arand, Violin, dan Thika. Kami dibantu pula oleh Om Alan dari RCM. Proses kreatif berkaitan dengan kesabaran. Karena ada enam Exoter yang harus dibikin/syuting footage-nya masing-masing, tentu harus mengantri kan. Di sinilah saya menikmati proses kreatif itu. Sebagai videografer, Oedin mengarahkan satu per satu Exoter untuk bergaya sesuai renjananya masing-masing.


Saya, misalnya, footage-nya adalah membaca. Sebagai subyek, saya harus bisa lebih sabar bertahan pada satu aksi/gaya sampai Oedin benar-benar puas. Sumpah, suka sekali sama proses kreatif yang dilakukan oleh Exoter. Sungguh, saya banyak belajar untuk jauh lebih sadar dan memerhatikan detil yang sering terlewatkan. Contohnya, saya bisa lebih leluasa mengeksplor Watu Zaja ketika menunggu giliran disyuting.

Aigela: Check Point Tiga Kabupaten


Ini dia perjalanan gila-gilaan. Bayangkan saja, untuk dua footage Exoter kami harus pergi jauh-jauh ke Aigela sejarak sekitar 60 kilometer dari Kota Ende. Proses kreatif yang saya nikmati tidak saja ketika Oedin mengambil footage Yoyok dan Cahyadi. Lebih dari itu! Selain kehujanan, takut sama petir yang sahut-sahutan, saya disuguhi pemandangan seorang lelaki sedang melaksanakan shalat Dzuhur.



Subhanallah. Saya benar-benar jatuh cinta dengan lelaki di dalam foto. Sayangnya, karena hujan saya tidak sempat berkenalan dengannya, karena kami kemudian ngetem di lapak berbeda. Mungkin kalian bakal bertanya, memangnya saya berani berkenalan dengannya? Berani donk! Untuk lelaki seperti itu, saya pasti berani. Sekadar mengajaknya mengobrol, berteman, haha hihi, kenapa tidak? Di sini saya menjadi semakin percaya bahwa setiap perjalanan mempunyai ceritanya sendiri-sendiri. Alhamdulillah saya diberikan pemandangan indah begitu oleh Allah SWT.

Pelabuhan Ende, Samba, Simpang Lima


Proses yang satu ini juga sangat saya nikmati. Waktu itu kami terpisah di mana saya, Yoyok, Violin, dan Natalia pergi ke Pelabuhan Ende untuk syuting footage-nya Nata. Sedangkan Arand, Tri, dan Man, pergi ke Barai menjemput Oedin untuk kemudian bergabung dengan kami di pelabuhan. Jujur, sudah beberapa bulan saya tidak mengumpulkan footage, apalagi mengarahkan subyek video. Tapi saat Nata mulai menari, sesuai renjananya, saya jadi lebih bersemangat mengarahkannya. Setelah saya, gantian Yoyok yang merekam aksi-aksi Nata, sampai kemudian rombongan dari Barai tiba di Pelabuhan Ende.

⇜⇝

Jadi, jelas ... bagi kalian yang sering mengabaikan proses kreatif, coba deh mulai memerhatikannya. Bandingkan saat kalian tidak menikmatinya atau menganggapnya sebagai angin lalu, dengan saat kalian menikmatinya dengan sungguh.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Bakal banyak banyak yang kita perhatikan dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Bakal banyak yang kita pelajari dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Detil-detil yang sering terlewatkan, bakal menjadi suatu cerita tersendiri ketika kita menikmati proses kreatif. Ayo, berhenti terburu-buru, mari nikmati!

#KamisLegit



Cheers.