Tempat Surat


Ketika hendak menulis judul First #DIY, saya ingat my first #DIY yang dibikin di atas tahun 2000-an bukanlah ini, jadi batal. Judulnya berganti menjadi Tempat Surat. #RabuDIY kali ini, hari dimana kita berkreasi sepuas-puasnya, saya mau menulis tentang tempat surat yang dibikin sendiri berbahan majalah lama. Kalau di rumah kalian menumpuk majalah dan koran lama, jangan dibuang, siapa tahu selepas membaca pos ini, kalian mau mencobanya, dan bahkan menghasilkan satu barang yang tentunya bermanfaat.

Baca Juga: Monotuteh

Meskipun zaman sekarang interaksi antar umat manusia lebih banyak tercipta di dunia daring, salah satunya surat berganti e-mail, tapi tempat surat masih terpajang di meja-meja kerja. E-mail memang praktis dan cepat, tapi surat jauh lebih tertancap di hati. Eaaaa. Hehe. Selama stempel perusahaan masih ada di meja kerja, selama itu pula surat (konvensional) akan hidup menemani kehidupan umat manusia. SK Kepegawaian saya, seperti kenaikan pangkat dan berkala, disampaikan ke saya dalam bentuk surat, bukan e-mail.

Oke, jadi apa saja bahan, alat, dan bagaimana cara membikinnya?

Bahan dan Alat


1. Majalah lama.
2. Lem tembak (hot glue).
3. Lem PVA.
4. Cutter.
5. Gunting.

Cara Membikin


Pertama:
Bikinlah pipa kertas. Caranya, bagi dua halaman majalah lama, lantas digulung membentuk pipa kertas. Berapa banyak yang harus dibikin? Bikin sebanyak-banyaknya! Apa lagi kalau pas ada waktu luang, bikin banyak, simpan di kaleng dalam posisi berdiri, kapan pun dibutuhkan tinggal ambil.


Kedua:
Pipa kertas tadi digulung membentuk lingkaran. Besarnya lingkaran tergantung mal yang dipakai. Misalnya pinsil, tube, atau tutup botol plastik.


Ketiga:
Membentuk tempat surat. Besarnya tempat surat tergantung pada selera masing-masing. Berapa banyak lingkaran kertas yang mau dipakai? Kalau saya sih bikin yang kecil-kecil saja. Hasilnya seperti yang di bawah ini:


Lumayan buat menyimpan satu dua surat yang belum dibaca atau surat yang masih dibutuhkan, sebelum disimpan di map berkas.

Baca Juga: Enchyz's Desk Organizer

Awal membikin tempat surat seperti ini, lamanya minta ampun! Karena tangan belum terbiasa memelintir kertas majalah menjadi pipa kertas kan. Manapula masih mencari mol untuk memelintir ini: lidi atau alat tulis berbodi kecil. Tapi lama-kelamaan jari saya menjadi terbiasa dan dalam semalam bisa menghasilkan puluhan pipa kertas. Tidak sadar sih, sambil mengobrol sambil membikinnya. Untuk membentuk pipa kertas menjadi lingkaran pun tidak sulit. Cukup pakai lem PVA saja demi merekatkannya. Sedangkan membentuknya menjadi tempat surat, harus pakai lem tembak (hot glue) supaya rekatnya erat dan lebih cepat.

Bagaimana? Mudah bukan? Yuk bikin!



Cheers.

Enchyz’s Desk Organizer


Barang-barang kerajinan tangan (craft) yang dibikin sendiri (do it yourself a.k.a. DIY) memang membutuhkan kesabaran dan waktu. Setelah belajar dan sukses menguasai langkah-langkah membikin desk organizer aneka ukuran, serta menggunakan sampul dari halaman-halaman majalah lama dan katalog, saya mulai menerima pesanan desk organizer custom. Pemberi order menyampaikan keinginan dan kebutuhan mereka, saya berusaha memenuhinya. Mudah? Tidak juga. Tapi kalau dikerjakan dengan hati yang riang gembira, akhirnya justru ketagihan.

Baca Juga: Coin Storage

Enchyz Manteiro adalah salah seorang teman kantor yang kemudian memesan desk organizer dan tempat tisu. Custom. Dia menginginkan desk organizer yang cukup besar sehingga bisa menyimpan amplop dan kertas-format disposisi, serta barang-barang lainnya semacam gunting, stapler, dan alat tulis. Khusus untuk desk organizer dan tempat tisu ini harus satu tema yang sama dan didominasi warna merah dan hitam. Ya, dia penyuka warna merah.

Enchyz's Desk Organizer


Putar otak. Saya mulai mengukur lebar kertas berukuran A4 karena kertas format disposisi itu berukuran setengah dari lembar A4. Biasanya. Dari ukuran dasar lebar A4 yang sekitar 8,5 sentimeter itu (saya genapkan menjadi 10 sentimeter, saya mulai membikin alas bakal desk organizer-nya. Otomatis panjang dan lebarnya harus menyesuaikan dengan kotak-kotak lain yang bakal mengisi desk organizer tersebut. Karena bikinnya sudah lama saya tidak bisa memotret langkah demi langkah, tapi saya pikir, dengan membaca cara membikin di bawah ini, kalian pasti sudah bisa membayangkannya ya.

Bahan:
1. Karton dari kardus.
2. Gulungan dalam bekas tisu-roll.
3. Kertas kado/sampul.
4. Cat warna merah, hitam, putih.
5. Lem PVA dan lem tembak (hot glue).

Alat:
1. Gunting.
2. Cutter.
3. Mistar.
4. Pistol hot glue.

Cara Membikin:
Pertama, bikin alas desk organizer menggunakan karton dari kardus bekas. Ukurannya, sekitar 18 sentimeter (karena sudah lama, dan waktu itu saya lebih sering memakai feeling ketimbang ukuran haha). Alas ini kemudian disampul kertas. Karena saya hendak mengecat alas ini, sehingga saya memakai kertas polos/HVS, bukan kertas koran. 

Kedua, cat alas tersebut dengan cat dasar warna merah, lantas digambar atau dicat tambahan warna hitam dan diberi titik-titik putih, terutama pada bagian pinggirnya.


Lihat pada panah dan lingkaran. Itu yang saya maksudkan dengan gambar seperti itu. Cuma setengah lingkaran warna hitam dan titik-titik putih. Kenapa harus di pinggir? Karena bagian tengahnya kan bakal diisi. Di pinggir supaya pasti terlihat mata hahaha.

Ketiga, bikin kotak-kotak bakal tempat penyimpanan: amplop, kertas format disposisi, alat tulis, dan barang-barang lainnya. Saya juga menggunakan gulungan dalam dari tisu roll atau tisu toilet. Kotak-kotak bakal penyimpanan ini tidak perlu ditutup salah satu sisinya, karena toh otomatis kalau ditempel di alas desk organizer dia bakal tertutup dengan sendirinya (bagian bawah). Jangan lupa ditutup sampul kertas kado/sampul yang sudah dipilih. Jadi temanya seiring sejalan dengan alasnya.

Keempat, rekatkan semua kotak penyimpanan pada alas desk organizer. Trada ... jadi deh.

Dan, adalah suatu kebanggaan setiap kali ke ruangannya Enchyz, saya masih melihat desk organizer ini berdiri gagah di meja kerjanya, berdampingan dengan tempat tisu.



Dua gambar di atas, merupakan penampakan desk organizer di meja kerja Enchyz. Senang sekali melihatnya haha. Isinya macam-macam, seperti yang kalian lihat pada gambar di atas, bantal stempel dan pelubang kertas, sayangnya, tidak bisa disimpan di desk organizer ini. Haha. Tapi tidak mengapa, yang penting bermanfaat.

Selain desk organizer, Enchyz juga memesan tempat tisu bertema sama. Penampakan tempat tisunya adalah sebagai berikut:


Cara membikinnya? Nah, saya belum pernah menulis #RabuDIY tentang membikin tempat tisu andalan ini kan ya. Jadi proses membikinnya bakal saya pos sendiri, dengan sedikit reka ulang haha. Sabarlah menanti.

Baca Juga: Travel Booth

Demikian #RabuDIY kali ini, semoga bermanfaat. Silahkan dicoba!



Cheers.

Travel Booth


Booth atau stan merupakan lokasi yang paling saya cari setiap kali menghadiri pesta pernikahan. Karena apa, saudara-saudara? Karena kalau tidak sempat foto bareng pengantinnya, dan kuatir pengantinnya lupa saya memenuhi undangan pesta pernikahannya, hasil foto di stan itu menjadi bukti terhakiki yang tidak bisa dibantah. Alasan itu mungkin terkesan terlalu dibuat-buat, padahal sebenarnya itu memang alasan yang saya buat-buat karena belum menemukan alasan lainnya *tertawa bahagia bersama dinosaurus*.

Baca Juga: Bunga Dinding

Semakin ke sini, wedding organizer dan/atau bahkan si empu acara, semakin kreatif dalam perkara membikin stan foto ini. Stan foto yang biasanya berlatar baliho bergambar si pengantin serta sanak keluarganya itu kemudian berubah lebih ceria seperti foto si Thika dan Evran di bawah ini:


Pada akhirnya pesta pernikahan, sekarang, menjadi tempat yang asyik untuk berburu stan foto dan spot-spot yang instagramable. Tidak percaya? Foto di bawah ini contohnya:



Lalu apa hubungannya stan foto dengan pos #RabuDIY kali ini? Mari simak ...

Awal Mula


Iwan Aditya, partner siaran saya yang uh wow lidahnya suka typo itu, mendadak punya gagasan brilian untuk membikin stan foto di kantor Radio Gomezone FM. Kantor itu lebih tepatnya disebut studio dua sebagai studio kerja, sedangkan studio satu adalah studio siaran. Gagasan Iwan itu: Ncim, bagaimana kalau kita bikin booth foto dari hasil menggabung gambar-gambar tempat wisata? Mata saya meliriknya ... malas ... lantas bertanya: Bikinnya pakai apa? Iwan tertawa dan membalas: Encim kan suka sama proyek-proyek DIY begitu, pasti Encim mau lah, kita bikin dari kalender-kalender lama dari kantor saya. Banyak sekali, Ncim!

A-ha! DIY! Gayung bersambut.

Baca Juga: Baskets

Fyi: saya dan Iwan memang partner siaran di Radio Gomezone FM, waktu itu, tapi kami sendiri juga punya pekerjaan tetap. Saya di Universitas Flores sedangkan Iwan di SwissContact. Di Radio Gomezone FM kami memegang Creative Show yang mengudara Senin sampai Sabtu, setiap malam, dengan mata acara berbeda seperti Focus, Review, Backpacker, hingga Tuwan Show (Tuteh Iwan Saturday Night Show) yang kocaknya tidak ketulungan.


Kembali ke gagasan si Iwan, kami akhirnya memutuskan bahwa stan itu bakal ditempel tepat di belakang meja kerja saya di studio dua. Huraaayyyy. Dan keesokan malamnya, Iwan menenteng satu kresek besar berisi kalender-kalender meja (spiral), seragam, yang tidak sempat dibagikan ke orang-orang. Ada hikmahnya juga qiqiqiq.

Proses Pembuatan


Pertama-tama kami melepaskan setiap lembar kalender dari spiralnya. Proses ini dibantu oleh Irwan. Hyess, jangan bingung, yang satunya Iwan, yang satunya lagi Irwan (dia waktu itu cuti kuliah, kuliahnya di Makassar).


Selama beberapa hari, kemudian, meja kerja saya menjadi milik mereka berdua. Semangat keduanya bikin saya menitikkan air mata. Halaaaaah hehe. Oh iya, dibalik map holder warna biru itu berdiri desk-organizer hasil #DIY saya sendiri dan mangkuk berbahan jin. Tapi soal ini dibahas lain waktu.

Setelah semua lembar kalender dilepas, proses selanjutnya adalah menggunakan lantai sebagai media terbesar untuk menyusun potongan gambar/halaman kalender. Iwan bertugas menyusun agar tidak ada gambar yang sama berurutan baik vertikal maupun horizontal, sedangkan Irwan bertugas memotong isolasi bening. Tugas saya sih cuma wara-wiri, sana-sini, tidak jelas, haha. Pompom girl lah. Hasil kerja keras ini ternyata bikin saya bahagia maksimal.

Travel Booth


Stan foto itu menjadi tempat favorit setiap kali ada tamu yang datang ke studio dua. Kan asyik bisa foto dengan latar belakang sekeren itu.


Mungkin bagi kalian, stan foto macam begini tidak ada magnetnya sama sekali, alias kalian mungkin tidak tertarik. Tapi bagi saya, Iwan, Irwan, dan para pecinta #DIY, ini adalah hasil karya yang memuaskan jiwa-raga. Kami menamainya travel-booth. Kata Iwan: cocok sekali, Ncim, kita berdua kan bawakan acara Blogpacker.

Another Ideas


Menulis #RabuDIY kali ini membikin ide lain muncul di benak saya. Apalagi sudah menjelang Ramadhan (dan Hari Raya Idul Fitri, hahaha). Memang ada niat untuk mengecat ulang dinding rumah. Tapi sepertinya salah satu dinding bakal saya bikin stan seperti travel booth itu deh. Gambarnya apa saja? Masih saya pikirkan soal gambar ini. Apakah bertema keluarga Pharmantara, atau bertema dunia traveling saya ... kita lihat saja nanti. Karena ini baru ide, jangan menagih janji ya, hehe.


Bagaimana, kawan, jadi kepikiran untuk membikin stan foto juga di rumah? Stan foto itu tidak selamanya harus sama dengan yang kami bikin ... .eh ... dibikin Iwan dan Irwan. Bisa juga stan fotonya berupa foto keluarga ditambah tulisan: Welcome to Pohon Tua. Pohon Tua adalah nama rumah saya. Atau tulisan: Travel Journey ditambah foto Himawan (kalau dibikin sama Himawan). Kak Rey, Kak Rohyati, Kak Iied, atau Kak Lantana pun bisa membikinnya. Kalau si Evvafebri si Mak Bowgel pasti seru karena punya banyak karakter bikinan sendiri.

Baca Juga: Monotuteh

Ber-DIY-ria memang selalu menyenangkan. Tidak peduli hasilnya rapi atau berantakan, sepanjang itu hasil karya sendiri, pasti menyenangkan dan ... puas.

Yuuuuuk dicoba :)



Cheers.

Baskets


#RabuDIY hari ini saya mau menulis tutorial sederhana membikin basket atau keranjang berbahan barang bekas. Saya sudah sering membikinnya baik yang kotak/persegi, bundar, maupun ulir. Dan ternyata setelah fakum hampir dua tahun, saya masih belum kehilangan keahlian untuk membikinnya. Ha ha ha sumpah, menulis keahlian serasa make up artist yang bisa 'menyulap' wajah begitu.

Baca Juga: Be Art

Lantas apa saja bahan-bahannya dan bagaimana cara pembuatannya? Mari kita simak.

Bahan-Bahan dan Alat:


1. Koran/kertas yang tidak dipakai lagi.
2. Lem PVAC (saya pakai Webber).
3. Lidi/sejenisnya untuk menggulung kertas.
4. Karton dari kardus bekas.
5. Cat (bila diperlukan).
6. Gunting.
7. Cutter.

Cara Membikin:


Pertama-tama membikin pipa kertas. Silahkan, koran/kertas dipotong; dibagi dua memanjang. Sayangnya untuk proses ini saya tidak sempat memotretnya, tapi kalian pasti menangkap maksudnya kan hehe. Mana yang lebih baik, kertas koran atau kertas HVS? Sama baiknya. Hanya saja kalau koran, hasil pipanya lebih panjang sehingga saat dipakai menganyam lebih asyik. Setelah dipotong, silahkan digulung menjadi pipa menggunakan lidi/sejenisnya. Hasilnya seperti gambar di bawah ini:


Bikin sebanyak-banyaknya! Supaya proses menganyam tidak terhambat pipa kertas yang habis. Saya dulu menyiapkan sampai berkaleng-kaleng pipa kertas. Tentu, dibantu Indra hehe.

Berikutnya, siapkan karton dari kardus bekas, dibikin dua berukuran sama. Besarny keranjang akan bergantung dari besarkan karton yang disiapkan oleh kita. Kenapa harus dua? Karena keduanya bakal mengapit tiang pipa kertas bakal anyaman nanti. Hasilnya seperti gambar di bawah ini:


Berapa jumlah tiang pipa? Harus ganjil. Tapi kenapa di atas gambar kok genap? Salah satunya merupakan tiang pipa untuk memulai anyaman, makanya letaknya berdekatan sama tiang satunya lagi:


Setelah itu ditindih pakai buku-buku atau alat berat juga boleh hahaha. Supaya apa? Supaya lem-nya menempel sempurna.


Biarkan semalaman sampai kering betul, atau pokoknya dirasa sudah cukup kering/kuat, maka penampakannya seperti gambar berikut ini:



Silahkan dianyam.


Ini dia hasilnya. Kaliah bisa melihat, besarnya keranjang tergantung pada lebar/besarnya karton dari kardus. Pada gambar di atas, ada yang sudah saya cat, ada yang belum saya cat, agar orang-orang tahu bahwa keranjang tersebut murni terbuat dari koran/kertas bekas.

Baca Juga: Monotuteh

Mudah bukan? Kalau saya yang kurang telaten ini bisa membikinnya, saya jamin kalian juga pasti bisa. Cukup kemauan dan mulai dari sekarang. 

Bisnis Receh yang Lumayan


Kalau kalian sedang berpikir tentang suatu bisnis, bisnis daur ulang ini merupakan bisnis receh yang lumayan. Lumayan buat penuhi kebutuhan sehari-hari. Misalnya dalam sebulan saya bisa menghasilkan 1,5Juta. Kan lumayan bisa buat beli listrik dan keperluan lainnya huehehe. Satu keranjang ukuran sedang saya hargai 25K saja. Ukuran kecil tergantung, ada yang 10K ada yang 15K. Kalau tempat tissu, harganya bisa 35K atau lebih tergantung permintaan.

Bagaimana, tertarik juga? Hyuk coba bikin!



Cheers.

5 Mural Favorit


Lomba Mural yang merupakan salah satu mata acara dari Triwarna Soccer Festival telah dibuka dengan resmi oleh Ketua Panitia yaitu Bapak Lori Gadi Djou pada Senin, 4 Maret 2019. Sejumlah limabelas peserta/kelompok mulai berkreasi di bidang pagar tembok stadion kebanggan kami Orang Ende, Stadion Marilonga. Terhitung telah empat hari lomba berjalan dan masih tersisa tiga hari lagi sebelum penjurian final dan pengumuman pemenang. Siapakah yang akan menjadi pemenang? Itu masih tanda tanya seperti pada gambar awal pos ini. Hehe.

Baca Juga: 5 Yang Cantik

Selama empat hari berjalan, sambil nongkrong dan ngopi di tenda pameran Komunitas Kopi Detusoko, tugas saya adalah memotret prosesnya. Karena ada dua skafolding yang ditumpuk agar peserta dapat mencapai bidang paling atas, saya kesulitan bisa memotret semuanya. Tapi setidaknya ada lima mural-sedang-proses yang menjadi favorit saya. Yuk kita cek ...

1. Perempuan Menenun


Salah satu tema mural adalah perempuan sedang menenun. Tema ini dipilih oleh panitia karena menenun merupakan salah satu aktivitas perempuan di Kabupaten Ende baik pada Suku Ende maupun pada Suku Lio. Tentang proses pembuatan tenun ikat dapat dilihat pada pos Proses Pembuatan Tenun Ikat. Salah satu pos kebanggaan saya hahaha.


Gambarannya seperti pada gambar di atas. Proses kelompok ini termasuk cepat karena pada hari pertama bidang ini masih kosong. Saya suka melihatnya.

2. Tokek


Tokek merupakan salah satu simbol yang melekat pada rumah-rumah adat dalam bentuk ukiran pada kayu-kayunya. Selain tokek saya pernah melihat simbol hewan seperti ayam. 


Peserta ini datang dari kelompok/komunitas difabel. Menariknya, mereka mengikuti arahan juri dimana tokek dapat dipasangkan pada benda-benda lain yang memang dapat dilekatkan. Jadi, di mana kah gambar tokeknya? Ada pada perisai yang dipegang oleh si pahlawan saat pulang berperang. Wah, mendengar penjelasan singkat dari pesertanya saja saya sudah bisa membayangkan bagaimana nanti hasilnya.

3. Feko dan Lamba


Feko dan lamba merupakan alat musik tradisional. Sama dengan penggambaran tokek di atas, feko dan lamba merupakan tema utama yang didukung oleh unsur-unsur lain yang mengikat seperti para pemainnya yang menggunakan pakaian adat.


Wajah salah seorang pemainnya realistis sekali ya. Hehehe. Duh kok saya jadi dagdigdug ya? Para peserta ini hebat-hebat semuanya. Mereka paham betul pengarahan dari dewan juri dan mereka sangat kreatif!

4. Marilonga


Marilonga adalah nama pahlawan lokal yang sangat kami banggakan dan patungnya dapat dilihat di daerah Wolowona sebagai pintu masuk Kota Ende bagian Timur. Stadionnya saja bernama Stadion Marilonga hehehe.


Gambaran umum Marilonga sudah bisa kalian lihat juga kan. Saya suka penambahan pahlawan lokal di bagian kanan atas sosok Marilonga.

5. Tarian Wanda Pa'u


Ini dia tarian kebanggaan kami. Tarian ini pasti ada di setiap acara baik tradisional maupun moderen. Sama seperti tarian Gawi. Tarian yang pasti menggunakan selendang ini sudah terlihat penarinya di bidang yang ditentukan.


Terima kasih yaaaa kalian semua kece badai!

Memang banyak yang realistik, tidak abstrak, tapi setidaknya lomba ini telah menjadi wadah dan alat penambang. Bahwa buktinya di Kabupaten Ende (serta peserta kabupaten sekitar yang juga ikutan), ada begitu banyak anak muda yang berbakat di dunia seni khususnya mural ini. 


Sebagai 'ibunya anak-anak' saya harus bisa untuk selalu ada untuk mereka, para peserta. Harus bisa mendengar dan memenuhi kebutuhan mereka. Tentu bukan saya pribadi, tapi oleh sub panitia lain. Misalnya ketersediaan skafolding hingga urusan tempat sampah setiap kelompok dipenuhi oleh Seksi Perlengkapan. Ketersediaan listrik untuk yang menggunakan teknik airbrush dipenuhi oleh Seksi Listrik dan Soundsystem. Ketersediaan air minum dipenuhi oleh Seksi Konsumsi. Saya dan teman-teman seperti Om Konk, Cesar, dan Rolland, hanya mengkoordinir saja.

Jadi, selama Lomba Mural ini panggilan saya macam-macam. Ada yang memanggil Kakak, ada yang memanggil Kakak Ibu, ada yang memanggil Ibu Negara, ada yang memanggil Ibu Yang Baik, dan lain sebagainya. Mana-mana suka. Saya asyik saja. Hahaha. Manapula bergaul sama seniman itu memang bikin hepi berlapis. 

Menariknya dari Triwarna Soccer Festival dengan pertandingan yang memperebutkan Bupati Cup, Bego Ga'i Night, hingga Lomba Mural, adalah diskusi demi diskusi. Setiap hari saya berdiskusi dengan banyak orang; sesama panitia, bareng peserta Lomba Mural, sama para pengisi tenda pameran, hingga pengunjung. Diskusi ini melahirkn ide-ide baru hingga memperbaiki beberapa hal. Kemarin malam misalnya, bersama Bapa Harry, Mas Chandra, dan Om Konk, kami berdiskusi tentang penambahan Aksara Lotta yang merupakan aksaranya Orang Ende pada mural yang dilombakan. Bersama Ferdianus Rega, misalnya, kami berdiskusi tentang kopi sebagai komoditas unggulan kami Orang Ende, Orang Flores, serta pengelolaannya. Jadi diskusi ini yang, menurut saya, semakin membuka wawasan.

Kembali pada Lomba Mural. 5 Mural Favorit bukan berarti mereka sudah pasti menang. Tidak, kawan. Saya tidak punya hak untuk menentukan, karena itu hak dewan juri yang mutlak, nanti, dan tidak bisa diganggu oleh siapapun. Bisa jadi yang favorit hari ini dapat berubah hehehe. Karena kan ini masih sedang dalam proses, bukan hasil akhir.

Baca Juga: Di Nagekeo Hati Saya Tertambat

Oh ya, di setiap bidang diwajibkan untuk dilengkapi dengan bingkai. Bingkai ini haruslah motif daerah. Motif tenun ikat. Kece lah.

Bagaimana dengan kalian? Apa cerita kalian hari ini, kawan?



Cheers.

Lomba Mural Lagi

Hasil Mural yang dibikin oleh Christian Lamatokan saat Lomba Mural Tahun 2014 di dinding pagar Stadion Marilonga sebelum kemudian tahun 2017 Stadion Marilonga direnovasi total dan menghasilkan dinding baru yang bakal dilombakan lagi tahun 2019.


Mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Itu kata Wikipedia. Bagi saya, mural adalah karya seni yang luar biasa mempesona. Tahun 2014 Dokar (Dosen dan Karyawan) Uniflor, sebuah organisasi intra kampus, pernah menyelenggarakan Lomba Mural yang pernah saya pos di Lomba Mural. Silahkan dibaca siapa tahu terpesona sama hasil muralnya hehe. Salah satu hasilnya saya kopas lagi dan bisa dilihat pada gambar di atas (awal pos).

Baca Juga: Arekune

Kenapa menampilkan gambar dari pos lama / kegiatan lama? Karena Lomba Mural Triwarna Soccer Festival 2019 baru dimulai hari ini, Senin 4 Maret 2019. Ya, betul, lomba ini merupakan salah satu mata acara dari rangkaian Triwarna Soccer Festival. Ada tiga acara besarnya yaitu pertandingan sepak bola yang memperebutkan Piala Bupati, Pameran dengan tema Bego Ga'i Night, dan Lomba Mural. Nanti saya bakal mengulas tentang Bego Ga'i Night ini. Yang jelas, sangat menarik. Oia, selain ditempatkan di Seksi Lomba Mural, saya juga diperbantukan di bagian Publikasi dan Dokumentasi terkhusus untuk Bego Ga'i Night dan Lomba Mural.


Awal diumumkan, Lomba Mural ini menerima pro dan kontra. Sejauh yang saya ingat, kontranya cuma dari satu akun Facebook. Yang lainnya mendukung. Saya sadari yang namanya lomba semacam ini, terutama yang berkaitan dengan publik, pasti ada pro dan kontranya bukan? Justru yang kontra ini menjadi semacam peringatan bagi penyelenggara untuk tahu seberapa jauh pendapat masyarakat tentang lomba semacam ini.

Peserta


Peserta Lomba Mural tahun 2019 adalah 15 (limabelas) peserta yang terdiri atas kelompok atau tim. Satu tim maksimal 5 (lima) orang dengan minimal batas usia 17 (tujuhbelas) tahun. Mengapa ada batasan usia? Untuk mengurangi ketimpangan hasil lomba nanti. Itu maksudnya. Meskipun didominasi dari Kabupaten Ende, pesertanya tidak hanya berasal dari Kabupaten Ende. Ada pula dari Kabupaten Sikka seperti PMI Kabupaten Sikka. 

Jumlah peserta ini jelas tidak dapat menutup 23 (duapuluh tiga) bidang dinding/tembok yang ada di pagar Stadion Marilonga. Tapi jangan kuatir, Komunitas Mural bakal membantu meletakkan karya mereka di bidang-bidang kosong yang ada.

Juri


Ada dua juri yang bakal menilai hasil Lomba Mural ini. Yang pertama Om Benny Laka yang dikenal sebagai seniman Kabupaten Ende. Nama besar Benny Laka tidak perlu diragukan lagi, kawan. Beliau itu semacam the one and only seniman segala lini. Yang kedua Om Johanes Konk dari Komunitas Mural Ende. Yang satu ini juga jangan ditanya lagi karya-karya muralnya ada di mana-mana. Seharusnya ada tiga juri, satunya Violin Kerong dari pihak panitia sekaligus seniman sketsa Ende. Tetapi musibah yang baru-baru ini menimpa keluarganya (rumahnya terbakar) menyebabkan beberapa bagian tubuhnya juga ikut terbakar, menyebabkan ia harus istirahat total.

Tema


Tema Lomba Mural berasal dari panitia yang bakal di-lot bersamaan dengan pemilihan bidang. Ini yang repot karena kami kekurangan personil (Viol) sehingga harus maksimal menentukan tema. Dibantu oleh Om Benny Laka, akhirnya kami memilih tema-tema besar seperti: rumah adat, tarian daerah, hasil bumi dan hasil laut, simbol adat, alat musik, tokoh, barang adat, hingga asesoris tradisional yang biasa dipakai kaum perempuan. Tema-tema besar itu menghasilkan tema kecil yang terdiri atas 15 (limabelas) tema sesuai jumlah peserta antara lain: burung gerugiwa sebagai hewan khas Danau Kelimutu, feko dan lamba sebagai alat musik tradisional, perempuan menenun sebagai aktivitas harian, Marilonga sebagai tokoh pahlawan lokal, hingga Gawi Eko Wawi dan Wanda Pa'u sebagai tarian khas Ende-Lio.

Waktu Pelaksanaan


Menulis ini seperti menyusun laporan koordinator ya hahaha. Mural dilaksanakan selama 7 (tujuh) hari dari tanggal 4 Maret 2019 s.d. 10 Maret 2019. Selama tujuh hari itu peserta diberikan waktu pukul 14.00 s.d. 18.00 Wita. Waktu yang cukup, menurut saya, karena dulu toh lomba ini diselenggarakan selama dua hari saja.


Lomba Mural sudah dimulai tadi siang, dibuka dan ditandai dengan tanda besar oleh Ketua Panitia Triwarna Soccer Festival Bapak Lori Gadi Djou. Saya bagian pegang ember cat saja ya haha.


Dan meskipun diberi waktu tujuh hari tadi sudah ada yang nampak gambaran besarnya:


Kami berharap para peserta dapat semaksimal mungkin berkarya dan berkreatifitas di bidang-bidang yang ada sesuai dengan tema yang telah dipilih/ditentukan. Ini bakal jadi salah satu ikon Kota Ende dari pintu masuk bagian Timur. Semoga! Demi Kabupaten Ende tercinta.

Menang dan kalah adalah perkara biasa dari sebuah perlombaan. Bukan begitu?

Begitu ... Hehe.


Cheers.

#EndeBisa Mengguncang SMAN 1 Ende



#EndeBisa merupakan salah satu upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan dalam lingkup kaum muda yang masih duduk di bangku SMA dan perguruan tinggi. Silahkan baca pos tentang #EndeBisa Menggebrak SMKN 1 Ende untuk tahu latar belakang #EndeBisa, apa itu #EndeBisa, dan apa saja yang ditawarkan oleh #EndeBisa. Termasuk, tentang Relawan Bung Karno Ende yang telah menggabungkan begitu banyak aktivis demi terlaksananya kegiatan ketje ini.

Baca Juga: Belajar Literasi Digital

Sabtu kemarin, 12 Januari 2019, #EndeBisa menyambangi SMAN 1 Ende setelah inisiasi sebelumnya oleh Relawan Bung Karno Ende. Saya sendiri memang tidak terlibat menjadi pemateri karena masih ada liputan (kerjaan) perayaan Natal Bersama di PBSI - Universitas Flores. Baru tiba di almamater saya SMAN 1 Ende sekitar pukul 11.30 Wita. Meskipun absen menjadi pemateri tapi saya tetap harus menjawab beberapa pertanyaan murid tentang dunia internet terkhusus yang ada kaitannya sama Literasi Digital. Alhamdulillah ya, haha. Senang sekali karena teman-teman Relawan Bung Karno Ende yang berkecimpung di dunia fotografi dan videografi (minggu lalu absen) juga turut serta, dan diliput langsung oleh wartawan Flores Pos.

Foto di atas, Armando (kiri - kaos abu-abu) dan Kiss (kanan - kaos merah). 

MC kali ini adalah Armando Abdullah. Dia adalah Penyiar Pro 2 RRI Ende sekaligus MC kondang Kota Ende yang dulunya adalah partner siaran saya waktu masih sama-sama di Radio Gomezone FM. Orangnya memang asli kocak dan gemar memotret sunrise atau suasana pagi Kota Ende.

Materi dan Goals


Materi apa saja yang disampaikan di hadapan sekitar 1.000an audiens? Audiens dengan semangat berkobar ingin memperoleh informasi dan menambah wawasan!

1. Pengantar tentang Relawan Bung Karno Ende oleh David Mossar


David Mossar, yang boleh saya bilang sebagai Wakil Koordinator Relawan Bung Karno Ende sekaligus bendaharanya. Fotografer kesohor ini sangat kharismatik dan low profile.


Sebagai penyusun acara, saya selalu ingin Relawan Bung Karno berada di urutan pertama sebagai pengantar kegiatan ini. Setelahnya, barulah kata sambutan dari pihak sekolah. Apa saja yang dijelaskan oleh David? Ringkasnya, David memperkenalkan tentang Relawan Bung Karno Ende dan berbagai aktivitas sosial yang telah dilakukan oleh komunitas ini. Salah satunya adalah konsentrasi terhadap perawatan bayi Anisa. 

Pasca operasi: benjolan besar di kening Anisa telah diangkat.

Kalian pasti tidak percaya bahwa saya pernah marah dan mengancam Mama Anisa yang pasca operasi kemudian ngotot harus pulang ke rumahnya di Pulau Ende karena merasa berat mengurusi Anisa sendirian di RSUD Ende. Padahal waktu itu saya sudah menawarkannya untuk makan siang akan kami siapkan, diantar ojek, dia fokus saja mengurus bayinya. Mama Anisa ini merasa 'sendiri' karena suaminya, setelah menerima uang bantuan, justru menghilang entah ke mana. Menurut saya, singkirkan dulu lah urusan suami-isteri karena kesehatan anak di atas segalanya, manapula Anisa masih demam tinggi dan pihak RSUD Ende belum mengijinkannya pulang.

Ah ... sudahlah ... nanti saya menangis lagi. Tenang di alam sana ya, Anisa.

Goal dari pengantar ini adalah #EndeKreative.

2. Etika Informasi oleh Ihsan Dato dari Komunitas SocMed Ende


Seharusnya materi kedua diisi oleh Komunitas ACIL Ende tetapi karena berhalangan maka langsung diisi oleh Ihsan Dato dari Komunitas SocMed Ende yang lahir dari rahim sebuah kegiatan keren bernama #SocMed4SocGood (Social Media for Social Good) akhir 2016 di Ende lalu yang diselenggrakan oleh Greeneration Foundation dan U.S. Embassy Jakarta.


Selain menjadi Koordinator dari Komunitas SocMed Ende dan dikenal sebagai Bapak Kepala Tata Usaha Fakultas Teknologi Informasi di Universitas Flores, Ihsan juga dikenal sebagai aktivis di kampungnya yaitu di Manulondo - Ndona dengan Lopo Cerdas. 

Goal dari materi ini adalah #EndeSocMed4SocGood.

3. Ayo Berwirausaha oleh Kiss dari Ampape Sablon


Usai kegiatan perdana di SMKN 1 Ende, David dihubungi oleh sahabatnya yaitu Kiss yang punya usaha Ampape Sablon. Singkatnya, Kiss ingin dapat menyuntik virus kepada audiens muda untuk melirik dunia wirausaha.


Dalam paparan materinya, Kiss yang merupakan Sarjana di bidang kehutanan ini bercerita tentang latar belakang mengapa dirinya kemudian banting setir ke dunia wirausaha khususnya sablon ini. Gagal di awal usaha itu pasti, tapi bagaimana caranya semangat untuk bangkit dan (kemudian) berhasil itu yang patut diteladani.


Kerennya, Kiss juga membawa peralatan sablonnya untuk langsung dipraktekkan di hadapan audiens. Bahkan, Kiss juga menyablon kaos dengan tulisan SMANSA 100% BIKIN KANGEN! Para murid juga boleh setor kaosnya yang mau disablon loh. Mereka tertarik sangat dengan sablon-sablon kaos begini. Mereka juga dapat hadiah kaos loh! Mana tahan. Hahaha.



Goal dari materi ini adalah #EndeBerwirausaha.

Baca Juga: 2019 Tetap Nge-blog

Kita berharap anak muda (peserta) mampu menggali potensi diri, mengembangkannya, dan dapat berwirausaha di tengah kancah pencarian kerja (usai lulus nanti) di masyarakat. Jangan berharap hanya jadi orang kantoran. Berwirausaha justru bagus sekali karena bisa bermanfaat bagi diri sendiri juga orang lain karena telah menciptakan lapangan kerja sendiri. Saya jadi ingat orasi Gubernur NTT Bapak Viktor Laiskodat saat wisuda kemarin.

Sudah dua sekolah yang dikunjungi oleh #EndeBisa, giliran sekolah kalian ... kapan? Haha. Jangan ditanya, kami harus membikin daftar tunggu.

Arand, salah seorang personil Relawan Bung Karno Ende yang juga punya komunitas di Kelurahan Mautapaga yaitu Mautapaga Creative.

Saya senang bisa kembali ke almamater tercinta. Mengingat Panggung Batara ini, mengingat dulu saya menyampaikan salam perpisahan dalam kegiatan perpisahan lulusan haha. Bapak Steff Hadun, masih mengabdi di SMAN 1 Ende, saya senang melihat beliau dengan senyum khasnya, dan terutama anak beliau saya kenal sebagai salah seorang penari kece asuhan Rikyn Radja. SMAN 1 Ende juga semakin bagus dilihat dari fisiknya, tentu juga dari mutu pendidikannya, dengan ikon komodo berikut ini:


Terakhir, saya harus mengakui sendiri bahwa #EndeBisa memang super keren. Niat kami untuk berbagi kebaikan telah terlaksana. Lalu, apabila semua sekolah sudah didatangi, bagaimana selanjutnya? Tenang, pemirsa. Setiap materi yang kami sampaikan itu adalah materi dasar, apabila terjadi kunjungan kedua, materi yang disampaikan merupakan kelanjutan (asalkan masih dalam tahun yang sama, dengan audiens yang sama) seperti belajar blog sebagai bentuk dari menjadi bermakna di belantara internet, belajar sablon (serta pelajaran lain dari pemateri wirausaha lainnya), belajar mengelola sampah serta tentu harus dimulai dari mengurangi sampah plastik. Karena, Indonesia telah darurat sampah.

Dan pada pos ini pula ijinkan saya mengucapkan turut berduka cita atas berpulangnya Bapak Media Sosial Indonesia Nukman Luthfie.


Beliaulah yang telah mengajari saya dalam sebuah FGD tentang mensinergikan blog dengan media sosial. Om Nukman, jalan bae-bae, kami mendoakanmu. Figur yang tak akan mudah hilang dari ingatan. Terimakasih untuk semua ilmu, informasi, dan wawasan, yang telah dibagi pada kami semua.



Cheers.

5 Hasil Daur Ulang


Hai semuaaa ... *angkat-angkat alis* hehe. Saya pernah menulis tentang Pemulung Rupiah. Bagaimana saya mendaur ulang sampah untuk menghasilkan barang bernilai ekonomis. Tapi pada pos itu saya hanya menampilkan satu gambar barang hasil daur ulang  yang saya sebut proyek Do It Yourself (DIY) Tuteh dari Rumah Daur Ulang Tuteh. Pasti banyak yang bertanya-tanya; mana hasil lainnya? Kok hanya satu yang dipos? Jangan-jangan ini hoax? Sabar, semua ada waktunya hehe.


Bisa menghasilkan satu barang daur ulang bukan perkara mudah. Banyak waktu yang saya habiskan; try and error. Saya harus rajin mencoba supaya hasilnya rapi dan bagus. Kadang-kadang saya harus mengeluarkan ekstra Rupiah untuk membeli pendukung proyek DIY ini seperti gunting, anakan pisau cutter, lem Webber, isolasi, sampai hekter. Tapi tidak masalah sepanjang hasilnya kemudian memuaskan hati, daaaan tentu saja menghasilkan Rupiah. Seperti memberi umpan untuk dimakan ikan. Hahaha.

Gara-gara barang daur ulang ini, saya dikunjungi Suzan, bule asal Cheko yang konsern sama masalah sampah dan telah banyak berkegiatan di Kecamatan Detusoko.

Sekalian kunjungan dan bertanya cara membikin dan bagaimana hasil penjualannya, Suzan juga merasakan makan pisang goreng + sambal hahaha. Jadi ingat tahun baruan kemarin, Suzan nongkrong bersama keluarga kami di teras rumah.

Kali ini saya ingin berbagi dengan kalian lima barang hasil daur ulang yang sudah mengalirkan Rupiah ke dompet, qiqiqiq. Mungkin sulit bagi kalian percaya sampah-sampah itu kemudian menghasilkan uang ... tapi kalian harus percaya karena saya sudah melakukan / mengalaminya sendiri.

Mari kita simak lima barang hasil daur ulang yang sudah saya bikin:

1. Pohon Natal

Pohon Natal ini saya bikin untuk lomba pohon Natal dari barang bekas yang diselenggarakan menjelang Hari Raya Natal oleh Universitas Flores (tahun 2017); tingkat Fakultas, Lembaga, dan UPT. Waktu itu KTU UPT Publikasi dan Humas, Om Robby Waturaka, berkata bahwa kita bakal ikut lomba dan otak saya langsung tertuju pada pipa-pipa koran yang menumpuk di rumah. Tanpa menunggu lama, saya langsung pulang ke rumah untuk membikinnya.


Satu kali sudah setengah berdiri, saya melihatnya terlalu renggang, maka harus dibongkar lagi dan dianyam ulang. Tante Lili Lamury, tetangga samping rumah, menghadiahkan tulisan Merry Christmas sedangkan saya membeli bola pimpong (soalnya yang bekas tidak ada) sebagai hiasannya. Cat yang dipakai adalah stok cat dari Rumah Daur Ulang Tuteh. Hehe. Bintang-bintangnya? Dari bintang yang ada pada kardus beer Bintang yang dicat merah.



Pohon Natal ini, di kantor, masih dihias lagi. Saya juga membikin Gua tempat bayi Yesus baru dilahirkan dengan keranjang anyaman. Tiga Raja (dari Timur) dibikin dari kemasan bekas deodoran.

Dulu ngumpulin barang bekas ditanyain apa manfaatnya. Kemudian botol bekas deodoran jadi boneka. Kalau di Rusia namanya Matryoshka Dolls. Kalau di Jepang namanya Kokeshi. Kalau hasil DIY saya namanya Tutehyoshka Dolls. Qiqiqiqiq. 
Di kantor, malaikatnya bukan boneka anime Jepang milik Indra Pharmantara itu di atas, tapi bekas botol parfum mini saya yang ada malaikatnya hahaha. Alasnya dihias serbuk kayu, lantas ada boneka keramik ternak dan gembala dari Kakak Rossa Budiarti, katanya itu kiriman dari Itali (salah satu gereja di sana).

Dan kami memenangkan lomba tersebut, dengan hadiah sebesar Rp 2.000.000 hehe. Senang sekali karena bisa menang ... duitnya juga doooonk.

2. Tempat Tisu

Adalah Kak Rikyn Radja, koreografel ternama Provinsi NTT, yang mulai memesan tempat tisu. Gara-gara pesanannya itu, tempat tisu menjadi barang yang paling laris dipesan oleh orang-orang. Pernah dalam sehari saya harus membikin sepuluh tempat tisu dengan ragam karakter yang kertasnya dibeli di Roxy. Kebanjiran pesanan tempat tisu membikin saya harus meninggalkan game favorit demi mengejar waktu agar pesanan selesai dibikin tepat waktu.


Saya jadi heran, apa sih yang membikin mereka tergila-gila pada tempat tisu ini? Soalnya yang dijual di toko kan banyak dan bagus-bagus. Mungkin karena mereka suka sama karakter dari kertas yang kami beli itu hehehe dan unik juga tempat tisu berbahan koran, kardus, serta lem tembak ini.

3. Desk Organizer

Ini dia barang yang paling pertama saya bikin untuk dipakai sendiri. Lalu, mulai membikin pesanannya Kakak Shinta Degor, dan menyusul pesanan lainnya. Desk organizer yang saya bikin tidak pernah sama satu dan lainnya. Sebelum bikin, saya selalu bertanya pada pemesan: ukuran, berapa kotak, warna, sampai karakter apa.


Adalah kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri melihat desk organizer yang sampai sekarang masih dipakai oleh teman-teman! Masih ada di meja mereka ... yuhuuu.

4. Hiasan Dinding

Saya belum kepikiran untuk bikin hiasan dinding, tapi karena Mila memesannya, maka harus putar otak untuk membikin. Bermodal pantat botol bekas air mineral dan kardus, maka jadilah hiasan dinding yang berikut ini:


Belum serapi jika kalian membelinya di toko, tapi Mila senang sekali dengan hiasan dinding ini. Ada dua buah jadi bisa digantung di samping kanan-kiri foto atau jam di dinding.
5. Dompet Koin

Satu-satunya produk yang saya bikin karena belum ada yang memesan lagi hahaha. Soalnya saya juga tidak mengecat botol plastiknya sih.


Ini bisa buat simpan koin, atau barang printilan lainnya semacam handsfree dan charger. Barang ini sudah saya berikan pada cucu saya si Syiva hehe.

Sampah dapat bermanfaat apabila kita mau sedikit lebih kreatif dan mau mencobanya. 

Dari lima barang di atas, saya tidak memasukkan item keranjang. Kenapa? Karena keranjang daur ulang itu sudah umum dibuat. Sudah tidak terhitung berapa banyak keranjang yang saya buat, bahkan pernah dipakai sebagai wadah makanan untuk lomba berbau kedaerahan begitu (saya lupa nama lombanya). Ada yang memesannya untuk tempat make up, ada pula sebagai wadah botol-botol obat. Yudith Ngga'a pernah memesannya untuk digunakan sebagai wadah hadiah bayi (baru lahir) temannya.


Atau yang satu ini, stoples permen yang dipesan Enchyz dan Sony. Saya memang tidak menyarankan stoples ini untuk makanan tanpa pembungkus karena kuatir sama cat-nya. Belum pakai cat khusus kertas soalnya.


Itu, gambar di atas, belum di-cat lagi (tiga kali lapis) makanya masih kelihatan belum rata cat-nya.
Wah, panjang juga pos ini, penuh gambar! Hehe. Tapi kalau tanpa gambar kan kurang afdol, makanya saya perbanyak gambarnya jadi tidak dibilang hoax. Semoga kalian suka sama gambar-gambarnya, kemudian ngiler, kemudian pesan pada saya bikin sendiri di rumah. Sekalian coba-coba dan menyingkirkan sampah di rumah bukan? Bahan-bahan dari semua barang daur ulang di atas pun mudah ditemui: koran, karton, kardus, botol plastik, bekas majalah, dan lain sebagainya. Sedangkan barang-barang pendukung kerja seperti gunting, cutter, berbagai lem.

Percik sedikit kreativitas ... tring tring ...

Semoga bermanfaat.


Cheers.