Pesanan Barang DIY yang Berkembang Biak dan Senada


Pesanan Barang DIY yang Berkembang Biak dan Senada. Suatu kali Ibu Ayu Sulaeman, cucuk pemilik Rumah Makan Bangkalan yang kesohor se-Flores, yang juga punya rumah makan sendiri serta dikenal sebagai dosen Fakultas Hukum, memesan keranjang berbahan koran bekas yang bisa dipakai untuk menyimpan berbagai barang. Boleh dibilang ini adalah pesanan keranjang pertama. Untuk warnanya pun saya belum memakai cat minyak melainkan setiap pipa koran/kertas tersebut dibungkus menggunakan kertas kado. Masih ingat pos berjudul Kertas-Kertas Kado Menarik dan Lucu Pendukung Proyek DIY? Selain memproduksi tempat tisu, salah satu barang lainnya adalah keranjang pesanan Ibu Ayu tersebut.

Baca Juga: Mangkuk Serbaguna Berbahan Celana Jin Bekas

Saya tidak menyangka keranjang tersebut diletakkan di meja rias di kamarnya. Ausam sekali hahaha. Bangga gitu. Menjadi semakin bangga dan semakin makan puji (istilah Orang Ende nih) ketika Ibu Ayu memesan lebih banyak barang DIY/daur ulang yang menjadi teman setia keranjang pertama tadi dan semuanya bernuansa hijau. Mulai dari tempat tisu yang gambarnya bisa kalian lihat di awal pos, organizer sisir dan peniti, sampai keranjang mini untuk menyimpan arloji/jam tangan. Ini dia penampakannya ketika semuanya sudah menghuni meja rias:


Keren gitu melihatnya ya.

Ternyata membikin pesanan yang berkembang biak dan senada warnanya ini pernah menjadi rutinitas yang membikin saya lupa waktu. Asyik juga kalau kertas kado pada satu barang, kemudian warnanya dipadukan dengan cat-minyak pada barang lainnya. Hijau-hijau menggoda begitu hehe. Tantangannya ada pada cat-minyak yang warnanya harus dicampur dengan warna lain untuk menghasilkan satu warna pilihan. Misalnya hijau tua dicampur putih atau hitam.

Dari pesanan Ibu Ayu ini, dan karena hebatnya media sosial membagi ragam informasi yang kita pos, datanglah pesanan lain dari Kaprodi dan Sekprodi Akuntansi di Fakultas Ekonomi. Hasilnya bisa kalian lihat di bawah ini:



Seperti yang kalian lihat, ada pesanan keranjang besar serbaguna dan desk-organizer. Desk-organizer ini sebenarnya mau diletakkan di meja rias juga. Ceritanya Ibu Dewi dan Ibu Aini memesan desk-organizer yang bisa untuk menyimpan sisir dan segala barang lainnya, tapi yang ada juga tempat untuk menyimpan/menusuk pentul. Saya sih tinggal bikin sesuai permintaan ibu berdua hehe. Dan Alhamdulillah hasilnya memuaskan. Ibu Dewi suka warna hijau, Ibu Aini suka warna merah.

Belum berhenti sampai di situ, suatu kali Ibu Ina juga memesan beberapa barang dengan, harus, kertas kado yang sama. Jangan berbeda satu pun! Keranjang ulir (sayangnya keranjang ulir tidak ada di gambar di bawah ini), tempat tisu, dan desk-organizer. Ini saja, saya kok berat banget mau menukarnya dengan Rupiah karena cantik hahahaha.


Terima kasih, semuanya, sudah memesan barang-barang daur ulang ini di saya hehehe. Semoga akan tetap terus memberi manfaat! Amin.

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Saya sendiri masih pengen bisa membikin rangkaian barang-barang DIY yang bisa diletakkan di kamar antara lain keranjang besar, keranjang kecil, desk-organizer, wall-organizer, yang semuanya satu warna. Apa daya, kesibukan yang menggempur tidak bisa ditoleransi seperti tahun-tahun lalu. Bisa memenuhi janji untuk tetap meng-update blog saja sudah syukur bukan main, terutama karena saya memang pengen bisa menulis setiap hari, untuk blogwalking ... hiks. Jadi dalam sehari itu, setelah pulang kantor langsung menulis blog, setelah itu langsung membuka lembar kerja baik itu yang di Word maupun Sony Vegas, sampai malam hari.

Tapi saya janji pada Bang Day, Kakak Ella Fitria, Nassirullah Sitam, Ummu, dan kawan blogger lain yang masih sering ke sini ... I will kunjung balik. Hehe. 



Cheers.

Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling


Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling. Dalam rangka ulang tahun Universitas Flores (Uniflor) yang ke-39 (19 Juli 2019 kemarin), Fakultas Teknologi Informasi (FTI) menggelar lomba vlog dengan tema pariwisata, khususnya wisata alam Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lomba vlog memang baru pertama kali digelar di Uniflor untuk memberi variasi dari lomba-lomba yang umum diselenggarakan seperti lomba di lini akademik, lini olah raga, maupun di lini seni tarik suara.

Baca Juga: Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya

Saya memang tidak terlibat langsung dalam kepanitiaan tetapi turut membantu, meskipun tidak banyak, saat inisasi awal. Misalnya tentang kriteria vlog yang harus dipenuhi oleh para peserta. Karena saya diminta untuk turut menjadi juri lomba ini.


Selain saya, ada dua orang lainnya yang juga menjadi juri yaitu Alan dari Rafa Media Creative dan Ihsan Dato. Keduanya sehari-hari berkecimpung di dunia video, baik video kreatif yang dipos di Youtube, maupun video dokumentasi ragam kegiatan di Pulau Flores. Kualitasnya jangan ditanya lagi. Hehe. Lantas, bagaimana dengan saya? Bukankah orang mengenal saya sebagai blogger bukan vlogger? Ya saya memang lebih dikenal sebagai blogger karena semakin ke sini semakin jarang 'turun lapangan' karena sudah diwakili oleh videografer lain yaitu Cahyadi. Artinya? Artinya saya belum pensiun dari dunia videografi *kedip-kedip*.

6 Peserta Dengan 6 Video Kreatif


Kamis, 8 Agustus 2019, penjurian dilakukan di ruang dosen FTI. Ada enam peserta yang mendaftar. Enam peserta ini sudah lebih dari cukup mengingat lomba vlog baru pertama kali dilakukan di Uniflor untuk tingkat SMA dan Perguruan Tinggi, dan hadiahnya belum mencapai belasan hingga puluhan juta. Jangan dibandingkan dengan lomba vlog yang digelar oleh kementrian, misalnya. Tapi ini merupakan langkah awal yang bagus untuk kegiatan-kegiatan serupa di masa yang akan datang. Saya yakin, akan banyak lomba vlog yang digelar kelak oleh Uniflor.

Kriteria penilaian kami bukan dari device yang digunakan. Zaman sekarang device itu hanya penunjang. Peserta boleh memakai telepon genggam, camcorder, DSLR, hingga drone. Karena device ini terkait faktor kebiasaan saja. Ingat istilah the man behind the gun? Kriteria penilaian antara lain:

1. Memenuhi semua persyaratan yang diumumkan.
2. Kesesuaian vlog dengan tema.
3. Teknis: alur, penyuntingan, kesesuaian audio visual.
4. Pesan yang tersampaikan dengan jelas.

Enam peserta ini ada yang berasal dari SMA di Kota Ende seperti SMAK Syuradikara, ada pula mahasiswa dari Uniflor. Dari luar Kabupaten Ende juga ada antara lain dari Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Ngada termasuk mahasiswa dari UKI Ruteng. Video yang mereka kirimkan, menurut saya, bagus-bagus, kreatif, menarik, dan NTT banget. Hanya saja rata-rata banyak yang fokus pada video sehingga kurang memikirkan audio terlebihi balance antara natural sound, vlogger dan/atau narator, dan backsound. Padahal ini cukup penting agar pesan tersampaikan ke penonton. Karena vlog tidak hanya tentang gambar tetapi juga suara.

Ibarat Sedang Traveling


Ya, memang demikian adanya. Tempat-tempat yang disuguhkan dalam enam video tersebut bikin saya merasakan ibarat sedang traveling! Air Terjun Cunca Lega, air terjun dua tingkat di Kabupaten Manggarai membikin teringat Cunca Wulang di Kabupaten Manggarai Barat yang pernah saya kunjungi Mei 2014 silam. Air Panas So'a di Kabupaten Ngada membikin saya teringat Kolam Air Panas Ae Oka di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Bukit Zeda Zamba di Kota Ende yang membikin saya teringat Bukit Watunariwowo di Kabupaten Ngada. Pulau Sabu, membikin saya teringat pada traveling-list yang belum terpenuhi. Hehe.

Bukit Zeda Zamba ini unik. Ternyata, Abang Ooyi pernah menulisnya dalam pos Zeda Zamba Sebuah Kota yang Hilang (2). Silahkan dibaca. Banyak orang yang sudah tiba di puncaknya dan memamerkan foto-foto ciamik dari puncaknya. Kalau tidak salah bukit itu juga sering disebut Bukit Rodja. Dari Kota Ende, bukit itu memang semacam tidak terlihat karena terhalang Gunung Meja. Lokasinya berada diantara Gunung Meja dan Gunung Ia dengan medan yang cukup berat untuk didaki. Bagi orang-orang muda yang kuat, itu bukan masalah. Bagi saya ... itu masalah *ngakak*.

Menjuri lomba vlog tidak jauh beda juga dari menulis blog tentang wisata. Informatif itu hukumnya fadhu'ain. Nama tempat wisatanya, lokasinya, jarak tempuh dari kota terdekat, hingga transportasi yang digunakan. Informasi penting lainnya seperti jika ada biaya masuk berapakah harga tiketnya, musim/bulan apa yang baik datang ke lokasi tersebut, adakah pedagang makanan dan minuman, adakah pedagang cinderamata, dan lain sebagainya. Inilah informasi-informasi penting yang harus disampaikan selain obyek wisata itu sendiri.

Overall, saya menyukai semua video tersebut.

⇜⇝

Harapan saya, semakin banyak lomba vlog yang digelar. Karena apa? Karena vlog juga merupakan kekuatan Indonesia menawarkan pesona wisatanya kepada orang luar (buleeee). Vlog juga salah satu bentuk promosi gratis; terutama para travel vlogger yang mengunggah video mereka ke Youtube. Di satu sisi vlogger bisa memperoleh duit jajan dari me-monetize akun Youtube mereka, di sisi lain pariwisata Indonesia terpublikasikan/promosi gratis.

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe

Yang jelas, siapapun pemenang lomba vlog ini, saya hanya bisa mengucapkan selamat! Pengumuman resmi akan dikeluarkan oleh panitia penyelenggara. Terus berkarya, selalu kreatif, dan terus sebarkan kebaikan kepada semua orang!



Cheers.

Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling


Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling. Dalam rangka ulang tahun Universitas Flores (Uniflor) yang ke-39 (19 Juli 2019 kemarin), Fakultas Teknologi Informasi (FTI) menggelar lomba vlog dengan tema pariwisata, khususnya wisata alam Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lomba vlog memang baru pertama kali digelar di Uniflor untuk memberi variasi dari lomba-lomba yang umum diselenggarakan seperti lomba di lini akademik, lini olah raga, maupun di lini seni tarik suara.

Baca Juga: Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya

Saya memang tidak terlibat langsung dalam kepanitiaan tetapi turut membantu, meskipun tidak banyak, saat inisasi awal. Misalnya tentang kriteria vlog yang harus dipenuhi oleh para peserta. Karena saya diminta untuk turut menjadi juri lomba ini.


Selain saya, ada dua orang lainnya yang juga menjadi juri yaitu Alan dari Rafa Media Creative dan Ihsan Dato. Keduanya sehari-hari berkecimpung di dunia video, baik video kreatif yang dipos di Youtube, maupun video dokumentasi ragam kegiatan di Pulau Flores. Kualitasnya jangan ditanya lagi. Hehe. Lantas, bagaimana dengan saya? Bukankah orang mengenal saya sebagai blogger bukan vlogger? Ya saya memang lebih dikenal sebagai blogger karena semakin ke sini semakin jarang 'turun lapangan' karena sudah diwakili oleh videografer lain yaitu Cahyadi. Artinya? Artinya saya belum pensiun dari dunia videografi *kedip-kedip*.

6 Peserta Dengan 6 Video Kreatif


Kamis, 8 Agustus 2019, penjurian dilakukan di ruang dosen FTI. Ada enam peserta yang mendaftar. Enam peserta ini sudah lebih dari cukup mengingat lomba vlog baru pertama kali dilakukan di Uniflor untuk tingkat SMA dan Perguruan Tinggi, dan hadiahnya belum mencapai belasan hingga puluhan juta. Jangan dibandingkan dengan lomba vlog yang digelar oleh kementrian, misalnya. Tapi ini merupakan langkah awal yang bagus untuk kegiatan-kegiatan serupa di masa yang akan datang. Saya yakin, akan banyak lomba vlog yang digelar kelak oleh Uniflor.

Kriteria penilaian kami bukan dari device yang digunakan. Zaman sekarang device itu hanya penunjang. Peserta boleh memakai telepon genggam, camcorder, DSLR, hingga drone. Karena device ini terkait faktor kebiasaan saja. Ingat istilah the man behind the gun? Kriteria penilaian antara lain:

1. Memenuhi semua persyaratan yang diumumkan.
2. Kesesuaian vlog dengan tema.
3. Teknis: alur, penyuntingan, kesesuaian audio visual.
4. Pesan yang tersampaikan dengan jelas.

Enam peserta ini ada yang berasal dari SMA di Kota Ende seperti SMAK Syuradikara, ada pula mahasiswa dari Uniflor. Dari luar Kabupaten Ende juga ada antara lain dari Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Ngada termasuk mahasiswa dari UKI Ruteng. Video yang mereka kirimkan, menurut saya, bagus-bagus, kreatif, menarik, dan NTT banget. Hanya saja rata-rata banyak yang fokus pada video sehingga kurang memikirkan audio terlebihi balance antara natural sound, vlogger dan/atau narator, dan backsound. Padahal ini cukup penting agar pesan tersampaikan ke penonton. Karena vlog tidak hanya tentang gambar tetapi juga suara.

Ibarat Sedang Traveling


Ya, memang demikian adanya. Tempat-tempat yang disuguhkan dalam enam video tersebut bikin saya merasakan ibarat sedang traveling! Air Terjun Cunca Lega, air terjun dua tingkat di Kabupaten Manggarai membikin teringat Cunca Wulang di Kabupaten Manggarai Barat yang pernah saya kunjungi Mei 2014 silam. Air Panas So'a di Kabupaten Ngada membikin saya teringat Kolam Air Panas Ae Oka di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Bukit Zeda Zamba di Kota Ende yang membikin saya teringat Bukit Watunariwowo di Kabupaten Ngada. Pulau Sabu, membikin saya teringat pada traveling-list yang belum terpenuhi. Hehe.

Bukit Zeda Zamba ini unik. Ternyata, Abang Ooyi pernah menulisnya dalam pos Zeda Zamba Sebuah Kota yang Hilang (2). Silahkan dibaca. Banyak orang yang sudah tiba di puncaknya dan memamerkan foto-foto ciamik dari puncaknya. Kalau tidak salah bukit itu juga sering disebut Bukit Rodja. Dari Kota Ende, bukit itu memang semacam tidak terlihat karena terhalang Gunung Meja. Lokasinya berada diantara Gunung Meja dan Gunung Ia dengan medan yang cukup berat untuk didaki. Bagi orang-orang muda yang kuat, itu bukan masalah. Bagi saya ... itu masalah *ngakak*.

Menjuri lomba vlog tidak jauh beda juga dari menulis blog tentang wisata. Informatif itu hukumnya fadhu'ain. Nama tempat wisatanya, lokasinya, jarak tempuh dari kota terdekat, hingga transportasi yang digunakan. Informasi penting lainnya seperti jika ada biaya masuk berapakah harga tiketnya, musim/bulan apa yang baik datang ke lokasi tersebut, adakah pedagang makanan dan minuman, adakah pedagang cinderamata, dan lain sebagainya. Inilah informasi-informasi penting yang harus disampaikan selain obyek wisata itu sendiri.

Overall, saya menyukai semua video tersebut.

⇜⇝

Harapan saya, semakin banyak lomba vlog yang digelar. Karena apa? Karena vlog juga merupakan kekuatan Indonesia menawarkan pesona wisatanya kepada orang luar (buleeee). Vlog juga salah satu bentuk promosi gratis; terutama para travel vlogger yang mengunggah video mereka ke Youtube. Di satu sisi vlogger bisa memperoleh duit jajan dari me-monetize akun Youtube mereka, di sisi lain pariwisata Indonesia terpublikasikan/promosi gratis.

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe


Juara I ~ Veronika Raymond
SMAK Syuradikara Ende
Judul: Wisata Alam di Ende

Juara II ~ Irena Juniarti Veranda Rea
SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng
Judul: Air Terjun Cunca Lega Ruteng

Juara III ~ Chriakus Hendra Pola Nea
Fakultas Bahasa dan Sastra Uniflor
Judul: Pulau Raijua Anak Dara dari Selatan Indonesia

Yang jelas, siapapun pemenang lomba vlog ini, saya hanya bisa mengucapkan selamat! Kalian layak jadi jawara. Terus berkarya, selalu kreatif, dan terus sebarkan kebaikan kepada semua orang!



Cheers.

Kertas-Kertas Kado Menarik dan Lucu Pendukung Proyek DIY


Kertas-Kertas Kado Menarik dan Lucu Pendukung Proyek DIY. Bagaimana kalian menyebutnya? Kertas kado, juga? Di Ende kami menyebutnya kertas kado: lembaran berukuran sekitar satu kali setengah meter yang dipakai untuk membungkus kado, hadiah, pemberian. Tahun 2017 s.d. 2018 saya baru tahu kalau salah satu pusat  perbelanjaan di Ende yaitu Roxy, menjual kertas kado berbagai jenis kertas, ukuran, dan motif/gambar. Ini menarik, karena kertas-kertas kado menarik dan lucu tersebut kemudian turut menjadi salah satu bahan permanis proyek-proyek Do It Yourself (DIY) yang saya kerjakan baik untuk coba-coba maupun pesanan orang.


Sayangnya baru-baru ini saat saya ke Roxy, kertas kadonya tidak se'kaya' dulu. Mungkin karena sudah jarang saya membeli kan yaaa hahaha *dikeplak pemilik Roxy*. Lagi pula zaman sekarang ini orang-orang lebih suka memberikan amplop (berisi duit dooonk) ketimbang kado. Di setiap pesta pernikahan pun demikian, kado hanya diserahkan oleh kelompok tertentu, misalnya penyerahakan kado (berukuran super besar) dari teman-teman mempelai.

Awal Mula Masih Pakai Kertas Majalah


Iya, sebelum mengenal dan mulai berkreasi dengan kertas kado, saya memakai kertas majalah untuk proyek DIY salah satunya desk-organizer. Kertas majalahnya pun lebih sering majalah katalog dari Sophie Martin atau Ifa begitu *emak-emak pasti tahu ini* haha. Penuh warna. 


Gambar di atas, desk-organizer pertama yang saya bikin untuk Kakak Shinta Degor. Super sederhana dan yaaaah begitulah. Tapi desk-organizer ini masih dipakai sampai sekarang loh! Bangga. Haha.

Mulai Menggunakan Kertas Kado


Mulai menggunakan kertas kado justru bukan pada saat membikin desk-organizer melainkan saat membikin keranjang serbaguna. Belum terpikirkan keranjang mini serbaguna ini ternyata cikal bakal tempat tisu yang paling banyak dipesan orang. Penampakan awalnya seperti pada gambar berikut ini. Sudah menggunakan kertas kado. Kertas kadonya dililit pada pipa kertas (dari gulungan koran atau kertas) kemudian dibentuk.


Melihat kerajang serba guna ini, Kakak Rikyn Radja yang saat itu main ke rumah lantas memesan tempat tisu yang modelnya mirip-mirip ini. Tentu ukurannya harus disesuaikan dengan kotak/besarnya tisu (isi ulang/kemasan plastik bukan kotak). Bismillah. Saya coba bikinkan. Dan hasilnya seperti pada gambar di bawah ini.


Tempat tisu pesanan Kak Rikyn belum ada tutupannya karena memang belum berniat membikin yang ada tutupannya. Tapi kemudian diperbarui dengan menambahkan tutupan. Yang jelas, tempat tisu ini kemudian menjadi viral. Banyak teman yang memesan tempat tisu tapi ... dengan tema tertentu seperti misalnya Doraemon, Micky Mouse, Frozen, dan lain sebagainya. Saya sampai kewalahan karena amunisi utama tempat tisu ini adalah pipa kertas yangmana proses membikinnya cukup memakan waktu. Syukurnya saya dibantu dengan sungguh-sungguh oleh Indra Pharmantara yang saat itu baru saja pulang kuliah dari Jogja. Asyik ... ada asisten. Haha.

Maka bermunculan lah satuper satu tempat tisu bikinan saya di media sosial, terutama Facebook, dan semakin banyak pula pemesanan yang datang. Rejeki anak solehah memang diam di tempat lah. LOL! Berikut, kalian bisa melihat tempat-tempat tisu yang saya bikin dengan pemanis kertas-kertas kado tersebut.





Ini baru sebagian kecil dari foto-foto tempat tisu yang pernah saya bikin hehe. Kalau semuanya dipos di sini, bisa panjaaaaang sekali pos ini hanya terisi foto.

Tempat tisunya menjadi lebih rapi jali dan manis dilihat. Semua berkat kertas kado dan percikan kreativitas yang terlatih. Jari-jari ini ibarat mesin yang sudah tahu mau ngapain, pokoknya. Otak saya sudah menghafal ukuran tempat tisu baik alas/dasar hingga tutupan, lubang untuk mengeluarkan tisu, jumlah kotak dari pipa kertas termasuk sampai pada pegangan/penahan kanan kiri agar tutupan tidak liar ke sana sini. Semua ada ukuran pasti. Kali ini tidak mereka-reka seperti biasanya saya. Hehe.

Baca Juga: Bunga Dinding

Kertas-kertas kado menarik dan lucu itu ... sangat berjasa!

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernah bikin juga tempat tisu dari koran/majalah bekas, terutama mirip sama yang saya bikin? Bagi tahu yuk di komen :) semoga kreativitas akan terus hidup bersama kita sepanjang usia.



Cheers.

Tempat Cincin DIY Untuk Pernikahan Sahabat Saya Deasy Daulika


Tempat Cincin DIY Untuk Pernikahan Deasy Daulika. Tahun 2018 saya sudah mulai pasif ber-DIY-ria. Mulai jarang bikin barang DIY bukan berarti tidak ada yang memesan, tapi saya meminta maaf kepada para pemesan apabila barang yang dipesan tidak bisa lekas dibikin. Maklum, ternyata banyak pekerjaan lain yang membutuhkan skala prioritas. Menulis skala prioritas kesannya gaya banget gitu ya hahaha. Ya begitulah, aktivitas bergumul dengan kertas koran lantas betul-betul berhenti. Eiiiitssss tapi saya akan kembali memulainya. Setidaknya masih ada satu dua barang DIY yang saya bikin lah dalam setahun. Hiasan meja kaktus batu, misalnya.

Baca Juga: Mangkuk Serbaguna Berbahan Celana Jin

Tahun 2018, saat sedang sibuk membersihkan rumah, saya diminta oleh sahabat - teman kantor bernama Deasy Daulika. Deasy sedang mempersiapkan pernikahan dan meminta saya membikin tempat cincin untuknya. Meskipun sedang sibuk persiapan Hari Raya Idul Fitri, saya tetap meng-iya-kan permintaan Deasy, karena kapan lagi coba bisa membantu sahabat sendiri? Ya kan? Lagi pula membikin tempat cincin tidak serepot membikin keranjang anyaman berbahan koran yang banyak tahapnya itu.

Bingung Dengan Tema


Waktu sudah meng-iya-kan, saya malah bingung dengan temanya. Pengen banget bisa bikin tempat cincin yang unik untuk Deasy dan suaminya (waktu itu masih calon pengantin ya mereka berdua haha). Misalnya tempat cincin yang berbentuk dompet, tempat cincin berbahan bambu, tempat cincin dari kotak anyaman, dan lain sebagainya. Tapi waktu tidak mencukupi. Tema apa ya yang cocok? Ya sudah, yang biasa saja memakai kardus mini. Hanya saja ... saya sendiri yang membikinnya merasa tidak puas. Bagaimana dengan yang memesan, ya?

Alkisah, tahun 2018 itu saya membeli barang dari Kiki Arubone. Barang itu adalah satu set kotak-kotak plastik berbagai ukuran: dari yang paling besar sampai yang paling kecil. Tiba-tiba ide itu datang begitu saja. Membikin tempat cincin pernikahan menggunakan kotak plastik terkecil. Ya! Itu bisa sekali, kawan. Saya lantas meminta Thika Pharmantara untuk membeli kain dan pita serta beberapa hal lainnya yang dibutuhkan. Mari bekerja!

Alat dan Bahan


Alat dan bahan untuk tempat cincin DIY ini, seperti biasa, adalah:

1. Gunting/pisau cutter.
2. Lem tembak/hot glue.
3. Kain satin (warna biru).
4. Pita (secukupnya).
5. Spons.
6. Kotak plastik (kotak bumbu).

Cara Membikin


Cara membikinnya:

Pertama:
Gunting spons dua bagian sama ukuran. Kedua spons ini ukurannya harus ngepas sama kotak plastiknya: bersisian. Bagian tengahnya itu yang bakal jadi tempat meletakkan cincin (dua cincin). Setelah itu dibungkus dengan kain. Kalau sudah oke, direkatkan ke dalam kotak menggunakan hot glue.

Kedua:
Bagian atas spons dilingkari/hiasi dengan pita. Hal yang sama juga dilakukan: melilit badan kotak dengan pita.

Ketiga:
Untuk tutupannya, lingkari tutupan dengan pita. Lantas, gunting kain berbentul bundar sebanyak sembilan atau sepuluh lembar. Kain berbentuk budar ini disatukan, kemudian bagian tengahnya disisip jumputan kain kecil, kemudian diikat. Kalau dibalik, trada, jadi bunga. Hehe. Sederhana ya.

Keempat:
Sudah jadi *ditabok dinosaurus*.


Itu dia penampakan utuhnya. Sederhana tapi bikinnya pakai hati, eh pakai tangan dink, hehe, dan Alhamdulillah waktu itu Deasy suka sama hasilnya. Diambil dua hari sebelum pernikahan. 

Baca Juga: Stoples Kertas

Bagaimana, kawan? Sederhana tapi cantik kan? Yang pasti tempat cincin bikinan saya ini turut menjadi saksi janji pernikahan mereka berdua. Dan saya bangga. Dengan sangat jelas saya memang tidak mau menerima bayaran untuk tempat cincin ini. Ikhlas saya memang mau membuatnya untuk Deasy. Seperti yang sudah saya tulis di atas, kapan lagi bisa membantu teman di hari bahagianya? Membantu membeli sapi kan tidak mungkin. Hahaha.

Kalian juga pasti bisa bikin. Atau, apabila kalian juga pernah membikin tempat cincin berbeda bahan dan model, bagitahu donk tutorialnya ... terima kasih.



Cheers.

Cara Membikin Wadah Berbahan Semen dan Kaktus Batu


Hola! Ketemu lagi di #RabuDIY. Pada seri Horeday saya sudah menulis tentang Horeday #6: Well Done! I Finished My Stone Project. Rasanya kurang afdol bila di hari khusus proyek Do It Yourself (DIY) saya tidak menulis tentang cara membikinnya haha. Jadi, mari kita simak apa saja bahan dan tata cara membikin hiasan meja kaktus batu yang masuk dalam Stone Project, salah satu resolusi saya di tahun 2019.

Baca Juga: Tempat Alat Tulis

Membikinnya memang mudah. Siapkan dulu alat dan bahan yang bakal digunakan untuk proyek DIY yang satu ini.

Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang harus disiapkan adalah sebagai berikut.

Alat:
1. Gunting.
2. Pisau/cutter.
3. Lakban.


Bahan:
1. Semen.
2. Air secukupnya.
3. Wadah bakal proyek semen.
4. Batu pilihan.
5. Cat.
6. Tipeks bolpoin. 

Cara Membikin


Pertama-tama harus dibikin terlebih dahulu wadah berbahan semennya ya, kawan. Karena wadah itu yang bakal jadi tempat berdirinya si kaktus batu. 

Wadah semen:
Silahkan pilih dan siapkan wadah atau mal bakal wadah semen ini. Saya mengguakan tiga wadah yaitu kotak bekas teh kotak, botol plastik bekas Coca Cola yang bagian bawahnya berbentuk unik itu, dan tentu saja sarung tangan karet atau sering disebut handscoon. Kalian juga bisa menggunakan wadah seperti kain segi empat yang dicelupkan di adonan semen kemudian ditutup di gelas kertas/plastik. Tapi saya belum membikin wadah/pot yang seperti itu. Baru tiga bentuk saja seperti yang sudah ditulis di atas.

Langkah berikutnya: campurkan semen, saya memakai semen biasa yang bisa dibeli per-kilogram, dengan air secukupnya. Tanpa pasir! Karena kan kita tidak ingin membangun rumah tangga. Adonan semen ini tidak boleh terlalu encer karena bakal merusak hasilnya. Percaya lah, saya sudah mengalaminya jadi bisa menulis begitu. Haha. Setelah campuran semen dirasa oke, tidak terlalu encer, dan tidak terlalu padat. Semen sebanyak satu kilogram bisa menghasilkan enam wadah/pot loh.

Untuk kotak bekas teh kotak, setelah adonan semen dimasukkan ke kotaknya, bagian tengahnya diletakkan dua bungkus rokok yang sudah saya rekatkan (yang makan menghasilkan lubang). Karena rada susah kalau ditahan pakai batu, saya menahannya dengan lakban agar posisinya pas di tengah alias tidak miring.

Ini hasilnya yang sudah jadi.

Untuk botol plastik bekas Coca Cola, saya potong dulu setengah bagian botol plasti, lalu memakai bagian bawahnya yang diisi semen, dan untuk tengahnya saya tahan menggunakan gelas kertas atau gelas plastik. Untuk menahan gelas plastik di bagian tengah ini boleh dipakai pemberat batu atau barang lain yang bisa menstabilkan si gelas di tengah adonan semen di dalam botol.
Untuk sarung tangan karet, pertama-tama isi adonan di sarung tangan, kemudian diikat/tutup bagian atasnya. Agar hasilnya nanti si tangan dalam bentuk membuka begitu, letakkan di mangkuk kaca seukuran dan tetap ditahan dengan batu agar bentuknya bagus.

Setelah adonan dimasukkan ke dalam wadah/mol, diamkan seharian. Misalnya dibikin hari ini, besok baru boleh dibuka. Ditaksir saja adonan sudah kering begitu. Hehe. Membuka wadah tidak sulit. Pelan-pelan saja. Paling mudah memang membuka/melepaskan wadah kotak bekas teh kotak. Tinggal cabut bungkus rokoknya, terus sobek kotaknya, tradaaaa. Yang harus hati-hati yang botol dan sarung tangan karet. Ekstra hati-hati ya, jangan sampai pecah donk hasil kerja kita.

Kaktus batu:
Ini sih paling mudah bikinnya. Setelah batu dibersihkan, yang ukurannya kita sudah tahu pasti bakal muat di wadah/pot semen, lalu di-cat. Saya memakai cat minyak dua warna: hijau tua dan hijau muda. Cat salah satu sisinya dulu, lantas keringkan. Kalau sudah kering, cat lagi sisi satunya lagi. Kalau sudah kering semuanya, tinggal dibikin bunga kaktus menggunakan tipeks.

Kaktus Batu yang Menawan


Kaktus batu ini memang menawan dan saya letakkan di ruang tamu (tiga meja) satunya lagi saya letakkan di meja ruang keluarga.




TRADAAAAA ... Mudah bukan? Dua hari membikinnya, langsung jadi seperti ini, siapa yang tidak senang? Senang lah!

Baca Juga: Travel Booth

Ayo bikin! Kalian juga pasti bisa bikin. Asalkan jangan lupa memakai masker saat mencampur adonan semen supaya kalian tidak menghirup debu semen yang bertebangan di udara haha. Waktu itu saya lupa memakai masker jadinya ya bersin-bersin tak karuan. 

Selamat berkreativitas, kawan!



Cheers.

Tempat Alat Tulis


Rabu lagi. #RabuDIY lagi. Sebelumnya, ingin bertanya tentang puasanya kawan-kawan yang menjalankan ibadah di Bulan Ramadhan ini. Semoga puasanya lancar ya, ingat, tanggal 30 Mei itu ASN sudah liburan. Artinya, yang swasta seperti saya bisa mengikuti hahaha. Artinya lagi, puasanya harus lebih semangat karena sudah menjelang akhir. Tapi sayang, liburannya nanggung. Loh, kok nanggung? Betul-betul tidak tahu bersyukur! Bukan, kawan. Begini ... liburan dimulai tanggal 30 Mei kan, mau traveling ke mana, toh Lebarannya tanggal 5 Juni (Insha Allah), ditambah beberapa hari lagi libur, terus kembali bekerja. Nanggung kan? Yang nanggung ini sebaiknya disiasati dengan ber-DIY-ria saja. Haha.

Baca Juga: Sofa Drum

Baiklah, hari ini saya mau mengajak kalian semua membikin tempat alat tulis. Sederhana. Dan mudah dibikin. Awalnya membikin tempat alat tulis ini ya tidak sengaja. Karena apa? Karena saya orang yang sebentar bisa fokus, sebentar pikiran terbagi. Bayangkan saja, lagi asyik-asyiknya menganyam keranjang berbahan koran bekas, mendadak berhenti dan membikin tempat alat tulis. Kan asyem itu.

Pos kali ini juga tidak panjang-panjang. Saya tahu kalian bosan :p secara pun foto-fotonya tidak lengkap. Hanya satu foto saja yang bisa kalian lihat di awal pos.

Bahan dan Alat:


1. Botol plastik bekas.
2. Kain (apa saja untuk membungkusnya).
3. Jarum dan benang (warna senada kain).
4. Zipper / kancing tarik.
5. Gunting.
6. Pisau cutter.
7. Lem tembak / hot glue.

Cara Membikin:


Pertama:
Botol plastik dipotong 3/4 bagian kepala (dekat tutupnya) bisa dilihat gambar yang sudah jadi di awal pos. 

Kedua:
Pasangi zipper mengelilingi. Jadi, zipper-nya duluan baru kainnya. Kalau zipper kepanjangan, bisa dipotong/gunting saja sesuai lingkar botolnya.

Ketiga:
Lilit kainnya mengelilingi botol (lihat gambar di awal pos). Untuk merapikan kain pada tutupan tempat alat tulis, gunakan kembali tutupan botolnya. Untuk merapikan kain pada badan alat tulis (bagian pantat botol) pakai lem tembak atau hot glue saja.

TRADA!

Jadi deh. Semudah itu ... memang.

Pertanyaannya adalah apakah bisa dipakai? Ya bisa, donk. Saya memakainya beberapa kali sampai kemudian diminta teman. Dikasih? Ya kan saya baik hati ... dikasih saja hehe. Bikinnya mudah begini. Kalau kalian mau mencobanya, silahkan. Bisa juga dililit/bungkus kain, bisa juga ditempeli stiker atau kancing! Iya, kancing baju itu banyak manfaatnya kalau dalam dunia DIY bahkan bisa bikin gantungan kunci. Soal gantungan kunci kancing ini nanti saya pos lah. Tapi ada juga yang membikin hiasan dinding berbentuk pohon dan gajah menggunakan kancing. Tidak percaya? Coba cari di internet hehe.

Baca Juga: Stoples Kertas

Bagaimana ... mau mencobanya? Bagi tahu yuk di komen!



Cheers.

Google Photos

Foto diambil dari Wikimedia.


Saya, kalian, mereka, setiap hari mendokumentasikan kehidupan. Termasuk my dearest dinosaurus yang selalu terbawa-bawa dalam blog ini. Anak sekolah, orang kantoran, ibu rumah tangga, sekuriti, pengusaha, tukang bangunan, sosialita, terutama blogger dan Youtuber, sudah pasti mendokumentasikan kehidupan. Dari lini manapun, satu jenis dokumentasi yang pasti dilakukan adalah memotret dan menghasilkan foto! Setidaknya satu foto dari satu momen yang terjadi mampu mewakili. Foto merupakan hasil dokumentasi terbanyak di dunia ini. Terutama kalau yang memotret adalah perempuan dengan aksi memotret sebanyak tigapuluh kali, menghapus sebanyak duapuluh sembilan kali, lalu kembali memotret sebanyak yang dia mampu. Bisa dapat Nobel.

Baca Juga: Music From Youtube

Di mana kita menyimpan foto? Saya pernah menulis tentang media penyimpanan daring dalam pos Penyimpanan Online. Tapi zaman dulu itu tidak semudah zaman sekarang. Zaman dulu pikiran saya pasti mengarah pada kapasitas hardisk komputer yang mulai ngos-ngosan. Pernah saya menyimpan foto di DVD, waktu itu, demi melegakan ruangan di komputer. Kemudian mulailah kenalan sama flashdisk dan hardisk. Lalu saya mulai mengenal penyimpanan daring yang ternyata pun ada batasan-batasan susila kapasitas. Ya, ada batasnya, sehingga aksi menyimpan pun terbatas.

Setiap hari saya pasti memotret dan paling sering menggunakan Xiaomi Redmi 5 Plus. Kapasitas gawai yang saya pakai ini adalah 32GB tapi sudah dipotong ini itu semacam potongan pajak hadiah lomba. Aplikasi dan data aplikasi memakan ruang sebesar 9,37GB dan file lainnya itu mengunyah ruang sebanyak 5,27GB. Aktivitas memotret sering membikin gawai kepenuhan. Duh ... itu yang difoto apa saja sih!? Hehe. Yang jelas untuk keperluan pekerjaan saya lebih memilih gawai ketimbang kamera DSLR karena kemudahan dan kecepatan mengunggahnya ke berbagai media sosial. Yang lainnya ... foto (dan video) tidak jelas *ngikik*.

Masalah yang saya hadapi sebelumnya adalah ada begitu banyak foto yang bisa dipakai buat mempermanis pos blog. Menghapus foto yang sudah ada demi mengisi ruang dengan foto baru tentu bikin perasaan menjadi rela-tak-rela begitu. Hiks.

Untunglah semua pengguna Android (saya tidak tahu dengan pengguna iOS karena saya tidak pakai produk itu) boleh bersenang-senang dengan adanya layanan Google Photos. Sampai dua tahun lalu saya tidak begitu memedulikan Google Photos. Sampai kemudian saya kehilangan momen liputan (pekerjaan) gara-gara memori kepenuhan. Pada akhirnya saya menjadi orang yang paling gemar memotret dan merekam video tanpa perlu kuatir ini itu karena layanan Google Photos sangat membantu baik dalam hal pekerjaan maupun kesenangan saya nge-blog.

Langkah-langkah yang saya lakukan adalah sebagai berikut:

1. Memotret Sepuasnya


Kan sudah ada Google Photos. Saya tidak perlu kuatir memori kepenuhan! Karena toh setiap pagi galeri saya sudah kosong dan siap mengisi foto dan video baru. Saya juga tidak perlu sedikit-sedikit ngecek galeri gawai buat menghapus foto yang blur atau bocor. Itu bisa dilakukan nanti setelah pulang ke rumah.

2. Mengunggah/Backup Foto dan Video ke Google Photos


Pengaturan di gawai saya: foto-foto dan video dari gawai baru boleh terunggah ke Google Photos setelah ada koneksi Wi-Fi. Setiap berada di rumah, setelah koneksi internet diganti dari paket data ke Wi-Fi, mulailah satuper satu foto dan video terunggah ke Google Photos. Kalau sudah komplit di-backup, bakal ada pemberitahuan: Hapus sekian MB/GB dari perangkat.


Pada gambar di atas, apabila proses backup belum selesai atau sedang berjalan, maka pemberitahuan untuk menghapus sekian MB/GB dari perangkat pun sesuai dengan foto dan video yang sudah di-backup saja. Contoh di atas, ada 640 MB foto yang di-backup, maka ruang yang bisa saya bebaskan di galeri ya sebesar itu.

Anggap saja Google Photos adalah bank foto dan video milik pribadi.

3. Ambil Kapan Saja Saat Butuh


Saya selalu nge-blog, terutama saat mengetik konten/pos blog, menggunakan laptop. Kalau blogwalking sih saya tidak masalah menggunakan gawai. Ini hanya masalah kebiasaan saja. Google Photos mempermudah saya nge-blog. Proses unggah atau backup foto dan video ke Google Photos memang dilakukan melalui gawai, tapi saat nge-blog menggunakan laptop saya bisa langsung mengetik tautan http://photos.google.com maka dengan sendirinya bank foto dan video pribadi itu membuka. Oh ya, tentu langsung membuka ke akun saya karena Chrome di laptop saya tidak pernah log out dari akun Google/Gmail.

Foto yang saya butuhkan tinggal saya unduh dari Google Photos, tersimpan dengan manisnya di laptop dan menunggu untuk dieksekusi: crop dan tanda air. Selesai. Kalau fotonya sudah tidak dipakai lagi, ya tinggal hapus saja dari laptop. Sama juga sih kalau kalian nge-blog menggunakan gawai, kalau sudah selesai dipakai fotonya, bisa dihapus saja dari gawai. Bahkan, jika foto dan video tersebut sudah benar-benar tidak dipakai lagi, bisa juga dihapus dari Google Photosnya.

Asyik kan? 

Google Photos sangat membantu terutama untuk pos blog travel. Tahulah blog travel butuh banyak foto sementara menulisnya tidak setiap hari seperti blog ini. Kapanpun stamina saya siap untuk menulis perjalanan ke sana sini, tinggal buka Blogger, lalu buka Google Photos untuk memilih fotonya. Tidak perlu repot mencolok gawai ke laptop dan mengkopi foto dan video lagi.

Yaaaah bagi saya Google Photos telah sukses menekan angka colok-colokan antara gawai dengan laptop. Haha! Asalkan kalian memang menggunakan metode *tsaaaah metodeeee* yang saya pakai di atas.

Dengan demikian bisa melegakan ruang penyimpanan di gawai sampai 65%. Itu angka yang fantastis bagi saya. Pernah juga gawai saya legaaa sekali sampa sekitar 50% dari ruang penyimpanan yang 32GB sudah dipotong pajak aplikasi bawaan dan instalan. Dan, kapanpun saya membutuhkan foto dan video, tinggal unduh saja dari Google Photos, setelah selesai digunakan bisa langsung dihapus saja dari laptop. Menurut saya pribadi, ini adalah cara termudah bagi saya mengamankan foto dan video, serta cara termudah saya nge-blog.

Baca Juga: Pemateri Blog

Seperti biasa ... pertanyaan dari saya ... apakah kalian juga menggunakan metode yang kira-kira sama dengan yang saya gunakan? Hyuk bagi tahu di komen!




Cheers.

Sofa Drum


Hola! Sudah #RabuDIY lagi nih. Harinya kita berkreasi sebebas-bebasnya. Hari ini tidak banyak yang bisa saya tulis karena memang yang bakal ditampilkan bukan hasil kreasi tangan saya sendiri. Tapi saya yakin setelah melihat foto-fotonya kalian yang juga tergila-gila sama dunia DIY, craft, dan lifehack, percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin *dilirik malas sama dinosaurus*. Soalnya barang DIY yang satu ini memang sulit untuk dibikin sendiri. Setidaknya kalaupun mau bikin sendiri tetap membutuhkan tenaga ahli dari bengkel. Kecualiiiii kita punya perkakasnya dan sudah terbiasa menggunakan perkakas itu. Misalnya pemotong besi.

Baca Juga: Stoples Kertas

Ini dia DIY yang dulu bikin saya gila sampai-sampai semua orang kalau ngelihat drum pasti difoto dan dikirim ke saya hahaha.

Alkisah suatu hari saya harus pergi ke Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) - FKIP - Universitas Flores (Uniflor). Kenapa saya pergi ke sana? Karena akan ada visitasi dari tim asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Kamera ready. Mari berangkat! Sekitar satu menit mengendarai sepeda motor dari parkiran Gedung Rektorat ke parkiran FKIP, hehe. Begitu tiba di ruang tamu PGSD saya terbeliak. 

Really!???

Tidak mungkiiiinnn!!!!

Jadi saya bukan orang pertama yang bakal membikinnya!????

TIDAAAAAAAAAAAAAAAK!

Ini dia penampakannya:




Sofa berbahan drum itu nongkrong dengan manisnya di ruang tamu PGSD. Manapula pilihan warnanya bikin saya pengen mengangkut sofa ini pulang ke rumah: kuning (dan hitam). Amboi, begitu melihatnya, setelah syok, langsung minta teman-teman buat fotoin, haha. Untunglah mereka juga tahu kalau selama ini saya memang tergila-gila sama dunia DIY dan sering menulis status Facebook berikut foto tentang sofa drum ini.

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Bagaimana, kawan? Kalian suka juga kan sofa drum? Atauuuu jangan-jangan di rumah kalian sudah ada pula sofa drum ini? Bagi tahu donk di komen *kedip*.



Cheers.

Tempat Surat


Ketika hendak menulis judul First #DIY, saya ingat my first #DIY yang dibikin di atas tahun 2000-an bukanlah ini, jadi batal. Judulnya berganti menjadi Tempat Surat. #RabuDIY kali ini, hari dimana kita berkreasi sepuas-puasnya, saya mau menulis tentang tempat surat yang dibikin sendiri berbahan majalah lama. Kalau di rumah kalian menumpuk majalah dan koran lama, jangan dibuang, siapa tahu selepas membaca pos ini, kalian mau mencobanya, dan bahkan menghasilkan satu barang yang tentunya bermanfaat.

Baca Juga: Monotuteh

Meskipun zaman sekarang interaksi antar umat manusia lebih banyak tercipta di dunia daring, salah satunya surat berganti e-mail, tapi tempat surat masih terpajang di meja-meja kerja. E-mail memang praktis dan cepat, tapi surat jauh lebih tertancap di hati. Eaaaa. Hehe. Selama stempel perusahaan masih ada di meja kerja, selama itu pula surat (konvensional) akan hidup menemani kehidupan umat manusia. SK Kepegawaian saya, seperti kenaikan pangkat dan berkala, disampaikan ke saya dalam bentuk surat, bukan e-mail.

Oke, jadi apa saja bahan, alat, dan bagaimana cara membikinnya?

Bahan dan Alat


1. Majalah lama.
2. Lem tembak (hot glue).
3. Lem PVA.
4. Cutter.
5. Gunting.

Cara Membikin


Pertama:
Bikinlah pipa kertas. Caranya, bagi dua halaman majalah lama, lantas digulung membentuk pipa kertas. Berapa banyak yang harus dibikin? Bikin sebanyak-banyaknya! Apa lagi kalau pas ada waktu luang, bikin banyak, simpan di kaleng dalam posisi berdiri, kapan pun dibutuhkan tinggal ambil.


Kedua:
Pipa kertas tadi digulung membentuk lingkaran. Besarnya lingkaran tergantung mal yang dipakai. Misalnya pinsil, tube, atau tutup botol plastik.


Ketiga:
Membentuk tempat surat. Besarnya tempat surat tergantung pada selera masing-masing. Berapa banyak lingkaran kertas yang mau dipakai? Kalau saya sih bikin yang kecil-kecil saja. Hasilnya seperti yang di bawah ini:


Lumayan buat menyimpan satu dua surat yang belum dibaca atau surat yang masih dibutuhkan, sebelum disimpan di map berkas.

Baca Juga: Enchyz's Desk Organizer

Awal membikin tempat surat seperti ini, lamanya minta ampun! Karena tangan belum terbiasa memelintir kertas majalah menjadi pipa kertas kan. Manapula masih mencari mol untuk memelintir ini: lidi atau alat tulis berbodi kecil. Tapi lama-kelamaan jari saya menjadi terbiasa dan dalam semalam bisa menghasilkan puluhan pipa kertas. Tidak sadar sih, sambil mengobrol sambil membikinnya. Untuk membentuk pipa kertas menjadi lingkaran pun tidak sulit. Cukup pakai lem PVA saja demi merekatkannya. Sedangkan membentuknya menjadi tempat surat, harus pakai lem tembak (hot glue) supaya rekatnya erat dan lebih cepat.

Bagaimana? Mudah bukan? Yuk bikin!



Cheers.