#EndeBisa Mengguncang SMAN 1 Ende



#EndeBisa merupakan salah satu upaya pemberdayaan masyarakat yang dilakukan dalam lingkup kaum muda yang masih duduk di bangku SMA dan perguruan tinggi. Silahkan baca pos tentang #EndeBisa Menggebrak SMKN 1 Ende untuk tahu latar belakang #EndeBisa, apa itu #EndeBisa, dan apa saja yang ditawarkan oleh #EndeBisa. Termasuk, tentang Relawan Bung Karno Ende yang telah menggabungkan begitu banyak aktivis demi terlaksananya kegiatan ketje ini.

Baca Juga: Belajar Literasi Digital

Sabtu kemarin, 12 Januari 2019, #EndeBisa menyambangi SMAN 1 Ende setelah inisiasi sebelumnya oleh Relawan Bung Karno Ende. Saya sendiri memang tidak terlibat menjadi pemateri karena masih ada liputan (kerjaan) perayaan Natal Bersama di PBSI - Universitas Flores. Baru tiba di almamater saya SMAN 1 Ende sekitar pukul 11.30 Wita. Meskipun absen menjadi pemateri tapi saya tetap harus menjawab beberapa pertanyaan murid tentang dunia internet terkhusus yang ada kaitannya sama Literasi Digital. Alhamdulillah ya, haha. Senang sekali karena teman-teman Relawan Bung Karno Ende yang berkecimpung di dunia fotografi dan videografi (minggu lalu absen) juga turut serta, dan diliput langsung oleh wartawan Flores Pos.

Foto di atas, Armando (kiri - kaos abu-abu) dan Kiss (kanan - kaos merah). 

MC kali ini adalah Armando Abdullah. Dia adalah Penyiar Pro 2 RRI Ende sekaligus MC kondang Kota Ende yang dulunya adalah partner siaran saya waktu masih sama-sama di Radio Gomezone FM. Orangnya memang asli kocak dan gemar memotret sunrise atau suasana pagi Kota Ende.

Materi dan Goals


Materi apa saja yang disampaikan di hadapan sekitar 1.000an audiens? Audiens dengan semangat berkobar ingin memperoleh informasi dan menambah wawasan!

1. Pengantar tentang Relawan Bung Karno Ende oleh David Mossar


David Mossar, yang boleh saya bilang sebagai Wakil Koordinator Relawan Bung Karno Ende sekaligus bendaharanya. Fotografer kesohor ini sangat kharismatik dan low profile.


Sebagai penyusun acara, saya selalu ingin Relawan Bung Karno berada di urutan pertama sebagai pengantar kegiatan ini. Setelahnya, barulah kata sambutan dari pihak sekolah. Apa saja yang dijelaskan oleh David? Ringkasnya, David memperkenalkan tentang Relawan Bung Karno Ende dan berbagai aktivitas sosial yang telah dilakukan oleh komunitas ini. Salah satunya adalah konsentrasi terhadap perawatan bayi Anisa. 

Pasca operasi: benjolan besar di kening Anisa telah diangkat.

Kalian pasti tidak percaya bahwa saya pernah marah dan mengancam Mama Anisa yang pasca operasi kemudian ngotot harus pulang ke rumahnya di Pulau Ende karena merasa berat mengurusi Anisa sendirian di RSUD Ende. Padahal waktu itu saya sudah menawarkannya untuk makan siang akan kami siapkan, diantar ojek, dia fokus saja mengurus bayinya. Mama Anisa ini merasa 'sendiri' karena suaminya, setelah menerima uang bantuan, justru menghilang entah ke mana. Menurut saya, singkirkan dulu lah urusan suami-isteri karena kesehatan anak di atas segalanya, manapula Anisa masih demam tinggi dan pihak RSUD Ende belum mengijinkannya pulang.

Ah ... sudahlah ... nanti saya menangis lagi. Tenang di alam sana ya, Anisa.

Goal dari pengantar ini adalah #EndeKreative.

2. Etika Informasi oleh Ihsan Dato dari Komunitas SocMed Ende


Seharusnya materi kedua diisi oleh Komunitas ACIL Ende tetapi karena berhalangan maka langsung diisi oleh Ihsan Dato dari Komunitas SocMed Ende yang lahir dari rahim sebuah kegiatan keren bernama #SocMed4SocGood (Social Media for Social Good) akhir 2016 di Ende lalu yang diselenggrakan oleh Greeneration Foundation dan U.S. Embassy Jakarta.


Selain menjadi Koordinator dari Komunitas SocMed Ende dan dikenal sebagai Bapak Kepala Tata Usaha Fakultas Teknologi Informasi di Universitas Flores, Ihsan juga dikenal sebagai aktivis di kampungnya yaitu di Manulondo - Ndona dengan Lopo Cerdas. 

Goal dari materi ini adalah #EndeSocMed4SocGood.

3. Ayo Berwirausaha oleh Kiss dari Ampape Sablon


Usai kegiatan perdana di SMKN 1 Ende, David dihubungi oleh sahabatnya yaitu Kiss yang punya usaha Ampape Sablon. Singkatnya, Kiss ingin dapat menyuntik virus kepada audiens muda untuk melirik dunia wirausaha.


Dalam paparan materinya, Kiss yang merupakan Sarjana di bidang kehutanan ini bercerita tentang latar belakang mengapa dirinya kemudian banting setir ke dunia wirausaha khususnya sablon ini. Gagal di awal usaha itu pasti, tapi bagaimana caranya semangat untuk bangkit dan (kemudian) berhasil itu yang patut diteladani.


Kerennya, Kiss juga membawa peralatan sablonnya untuk langsung dipraktekkan di hadapan audiens. Bahkan, Kiss juga menyablon kaos dengan tulisan SMANSA 100% BIKIN KANGEN! Para murid juga boleh setor kaosnya yang mau disablon loh. Mereka tertarik sangat dengan sablon-sablon kaos begini. Mereka juga dapat hadiah kaos loh! Mana tahan. Hahaha.



Goal dari materi ini adalah #EndeBerwirausaha.

Baca Juga: 2019 Tetap Nge-blog

Kita berharap anak muda (peserta) mampu menggali potensi diri, mengembangkannya, dan dapat berwirausaha di tengah kancah pencarian kerja (usai lulus nanti) di masyarakat. Jangan berharap hanya jadi orang kantoran. Berwirausaha justru bagus sekali karena bisa bermanfaat bagi diri sendiri juga orang lain karena telah menciptakan lapangan kerja sendiri. Saya jadi ingat orasi Gubernur NTT Bapak Viktor Laiskodat saat wisuda kemarin.

Sudah dua sekolah yang dikunjungi oleh #EndeBisa, giliran sekolah kalian ... kapan? Haha. Jangan ditanya, kami harus membikin daftar tunggu.

Arand, salah seorang personil Relawan Bung Karno Ende yang juga punya komunitas di Kelurahan Mautapaga yaitu Mautapaga Creative.

Saya senang bisa kembali ke almamater tercinta. Mengingat Panggung Batara ini, mengingat dulu saya menyampaikan salam perpisahan dalam kegiatan perpisahan lulusan haha. Bapak Steff Hadun, masih mengabdi di SMAN 1 Ende, saya senang melihat beliau dengan senyum khasnya, dan terutama anak beliau saya kenal sebagai salah seorang penari kece asuhan Rikyn Radja. SMAN 1 Ende juga semakin bagus dilihat dari fisiknya, tentu juga dari mutu pendidikannya, dengan ikon komodo berikut ini:


Terakhir, saya harus mengakui sendiri bahwa #EndeBisa memang super keren. Niat kami untuk berbagi kebaikan telah terlaksana. Lalu, apabila semua sekolah sudah didatangi, bagaimana selanjutnya? Tenang, pemirsa. Setiap materi yang kami sampaikan itu adalah materi dasar, apabila terjadi kunjungan kedua, materi yang disampaikan merupakan kelanjutan (asalkan masih dalam tahun yang sama, dengan audiens yang sama) seperti belajar blog sebagai bentuk dari menjadi bermakna di belantara internet, belajar sablon (serta pelajaran lain dari pemateri wirausaha lainnya), belajar mengelola sampah serta tentu harus dimulai dari mengurangi sampah plastik. Karena, Indonesia telah darurat sampah.

Dan pada pos ini pula ijinkan saya mengucapkan turut berduka cita atas berpulangnya Bapak Media Sosial Indonesia Nukman Luthfie.


Beliaulah yang telah mengajari saya dalam sebuah FGD tentang mensinergikan blog dengan media sosial. Om Nukman, jalan bae-bae, kami mendoakanmu. Figur yang tak akan mudah hilang dari ingatan. Terimakasih untuk semua ilmu, informasi, dan wawasan, yang telah dibagi pada kami semua.



Cheers.

5 Hasil Daur Ulang


Hai semuaaa ... *angkat-angkat alis* hehe. Saya pernah menulis tentang Pemulung Rupiah. Bagaimana saya mendaur ulang sampah untuk menghasilkan barang bernilai ekonomis. Tapi pada pos itu saya hanya menampilkan satu gambar barang hasil daur ulang  yang saya sebut proyek Do It Yourself (DIY) Tuteh dari Rumah Daur Ulang Tuteh. Pasti banyak yang bertanya-tanya; mana hasil lainnya? Kok hanya satu yang dipos? Jangan-jangan ini hoax? Sabar, semua ada waktunya hehe.


Bisa menghasilkan satu barang daur ulang bukan perkara mudah. Banyak waktu yang saya habiskan; try and error. Saya harus rajin mencoba supaya hasilnya rapi dan bagus. Kadang-kadang saya harus mengeluarkan ekstra Rupiah untuk membeli pendukung proyek DIY ini seperti gunting, anakan pisau cutter, lem Webber, isolasi, sampai hekter. Tapi tidak masalah sepanjang hasilnya kemudian memuaskan hati, daaaan tentu saja menghasilkan Rupiah. Seperti memberi umpan untuk dimakan ikan. Hahaha.

Gara-gara barang daur ulang ini, saya dikunjungi Suzan, bule asal Cheko yang konsern sama masalah sampah dan telah banyak berkegiatan di Kecamatan Detusoko.

Sekalian kunjungan dan bertanya cara membikin dan bagaimana hasil penjualannya, Suzan juga merasakan makan pisang goreng + sambal hahaha. Jadi ingat tahun baruan kemarin, Suzan nongkrong bersama keluarga kami di teras rumah.

Kali ini saya ingin berbagi dengan kalian lima barang hasil daur ulang yang sudah mengalirkan Rupiah ke dompet, qiqiqiq. Mungkin sulit bagi kalian percaya sampah-sampah itu kemudian menghasilkan uang ... tapi kalian harus percaya karena saya sudah melakukan / mengalaminya sendiri.

Mari kita simak lima barang hasil daur ulang yang sudah saya bikin:

1. Pohon Natal

Pohon Natal ini saya bikin untuk lomba pohon Natal dari barang bekas yang diselenggarakan menjelang Hari Raya Natal oleh Universitas Flores (tahun 2017); tingkat Fakultas, Lembaga, dan UPT. Waktu itu KTU UPT Publikasi dan Humas, Om Robby Waturaka, berkata bahwa kita bakal ikut lomba dan otak saya langsung tertuju pada pipa-pipa koran yang menumpuk di rumah. Tanpa menunggu lama, saya langsung pulang ke rumah untuk membikinnya.


Satu kali sudah setengah berdiri, saya melihatnya terlalu renggang, maka harus dibongkar lagi dan dianyam ulang. Tante Lili Lamury, tetangga samping rumah, menghadiahkan tulisan Merry Christmas sedangkan saya membeli bola pimpong (soalnya yang bekas tidak ada) sebagai hiasannya. Cat yang dipakai adalah stok cat dari Rumah Daur Ulang Tuteh. Hehe. Bintang-bintangnya? Dari bintang yang ada pada kardus beer Bintang yang dicat merah.



Pohon Natal ini, di kantor, masih dihias lagi. Saya juga membikin Gua tempat bayi Yesus baru dilahirkan dengan keranjang anyaman. Tiga Raja (dari Timur) dibikin dari kemasan bekas deodoran.

Dulu ngumpulin barang bekas ditanyain apa manfaatnya. Kemudian botol bekas deodoran jadi boneka. Kalau di Rusia namanya Matryoshka Dolls. Kalau di Jepang namanya Kokeshi. Kalau hasil DIY saya namanya Tutehyoshka Dolls. Qiqiqiqiq. 
Di kantor, malaikatnya bukan boneka anime Jepang milik Indra Pharmantara itu di atas, tapi bekas botol parfum mini saya yang ada malaikatnya hahaha. Alasnya dihias serbuk kayu, lantas ada boneka keramik ternak dan gembala dari Kakak Rossa Budiarti, katanya itu kiriman dari Itali (salah satu gereja di sana).

Dan kami memenangkan lomba tersebut, dengan hadiah sebesar Rp 2.000.000 hehe. Senang sekali karena bisa menang ... duitnya juga doooonk.

2. Tempat Tisu

Adalah Kak Rikyn Radja, koreografel ternama Provinsi NTT, yang mulai memesan tempat tisu. Gara-gara pesanannya itu, tempat tisu menjadi barang yang paling laris dipesan oleh orang-orang. Pernah dalam sehari saya harus membikin sepuluh tempat tisu dengan ragam karakter yang kertasnya dibeli di Roxy. Kebanjiran pesanan tempat tisu membikin saya harus meninggalkan game favorit demi mengejar waktu agar pesanan selesai dibikin tepat waktu.


Saya jadi heran, apa sih yang membikin mereka tergila-gila pada tempat tisu ini? Soalnya yang dijual di toko kan banyak dan bagus-bagus. Mungkin karena mereka suka sama karakter dari kertas yang kami beli itu hehehe dan unik juga tempat tisu berbahan koran, kardus, serta lem tembak ini.

3. Desk Organizer

Ini dia barang yang paling pertama saya bikin untuk dipakai sendiri. Lalu, mulai membikin pesanannya Kakak Shinta Degor, dan menyusul pesanan lainnya. Desk organizer yang saya bikin tidak pernah sama satu dan lainnya. Sebelum bikin, saya selalu bertanya pada pemesan: ukuran, berapa kotak, warna, sampai karakter apa.


Adalah kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri melihat desk organizer yang sampai sekarang masih dipakai oleh teman-teman! Masih ada di meja mereka ... yuhuuu.

4. Hiasan Dinding

Saya belum kepikiran untuk bikin hiasan dinding, tapi karena Mila memesannya, maka harus putar otak untuk membikin. Bermodal pantat botol bekas air mineral dan kardus, maka jadilah hiasan dinding yang berikut ini:


Belum serapi jika kalian membelinya di toko, tapi Mila senang sekali dengan hiasan dinding ini. Ada dua buah jadi bisa digantung di samping kanan-kiri foto atau jam di dinding.
5. Dompet Koin

Satu-satunya produk yang saya bikin karena belum ada yang memesan lagi hahaha. Soalnya saya juga tidak mengecat botol plastiknya sih.


Ini bisa buat simpan koin, atau barang printilan lainnya semacam handsfree dan charger. Barang ini sudah saya berikan pada cucu saya si Syiva hehe.

Sampah dapat bermanfaat apabila kita mau sedikit lebih kreatif dan mau mencobanya. 

Dari lima barang di atas, saya tidak memasukkan item keranjang. Kenapa? Karena keranjang daur ulang itu sudah umum dibuat. Sudah tidak terhitung berapa banyak keranjang yang saya buat, bahkan pernah dipakai sebagai wadah makanan untuk lomba berbau kedaerahan begitu (saya lupa nama lombanya). Ada yang memesannya untuk tempat make up, ada pula sebagai wadah botol-botol obat. Yudith Ngga'a pernah memesannya untuk digunakan sebagai wadah hadiah bayi (baru lahir) temannya.


Atau yang satu ini, stoples permen yang dipesan Enchyz dan Sony. Saya memang tidak menyarankan stoples ini untuk makanan tanpa pembungkus karena kuatir sama cat-nya. Belum pakai cat khusus kertas soalnya.


Itu, gambar di atas, belum di-cat lagi (tiga kali lapis) makanya masih kelihatan belum rata cat-nya.
Wah, panjang juga pos ini, penuh gambar! Hehe. Tapi kalau tanpa gambar kan kurang afdol, makanya saya perbanyak gambarnya jadi tidak dibilang hoax. Semoga kalian suka sama gambar-gambarnya, kemudian ngiler, kemudian pesan pada saya bikin sendiri di rumah. Sekalian coba-coba dan menyingkirkan sampah di rumah bukan? Bahan-bahan dari semua barang daur ulang di atas pun mudah ditemui: koran, karton, kardus, botol plastik, bekas majalah, dan lain sebagainya. Sedangkan barang-barang pendukung kerja seperti gunting, cutter, berbagai lem.

Percik sedikit kreativitas ... tring tring ...

Semoga bermanfaat.


Cheers.

#PDL Membuat Flyer Menggunakan Power Point



#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; termasuk tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***

Saya bukan desainer flyer, pamflet, brosur, dan sejenisnya. Kelas saya masih sangat sangat sangat jauh dari julukan desainer. Mana bisa disebut desainer apabila belajar Photoshop hanya sekenanya, kemudian pelajaran itu terhenti karena malas, dan terlantarlah ilmu Photoshop yang baru sedikit saya pelajari itu. Sejauh ini, untuk mengedit foto saya masih memakai Photoscape, itupun dengan pilihan kreatifitas yang teramat sedikit. Tapi lumayanlah untuk orang setipe saya yang tidak terlalu tekun dengan Photoshop, Photoscape bisa memenuhi kebutuhan dasar seperti resize, crop, insert text and image, bikin halaman, mengatur kecerahan, memberi efek ini-itu, dan lain sebagainya.

Baca Juga:

Makanya saya tidak ngeke/ngoyo belajar mendesain apapun yang berkaitan dengan flyer, brosur, dan sejenisnya. Tapi belajar video itu mutlak karena saya bekerja juga di bidang itu. Meskipun videonya tidak seberapa bagus, setidaknya bisa lah yaaaa *sombong sedikit*.

Dalam beberapa kesempatan, saya harus memaksakan diri membikin flyer. Bingung mau pakai apa. Photoshop saya buta knob (Orang Ende bilang). Photoscape tidak bisa memenuhi keinginan saya berkreasi lebih tinggi. Akhirnya saya coba menggunakan Power Point. Wah? Power Point? Yakin lu, Teh? Iya! Power Point! Sudah berapa kali Power Point tertulis di paragraf ini, masa iya kalian masih tidak percaya?

Adalah kreatifitas sebagai dasar untuk bisa bikin flyer pakai Power Point. Tanpa itu, rasanya sulit. Yeeekan (menjiplak Bang Ragil Duta ini yeeekan). Dan ternyata setelah brosing di internet, saya bukan satu-satunya makhluk di Planet Bumi yang mendesain flyer menggunakan Power Point. Bahkan, saya termasuk yang paling telat! Hah! Saya telat, Mas! Kamu telat berapa bulan, Teh!? Orang lain sudah lama kalik bikin flyer pakai Power Point. Dan Office 10 memang  menyediakan template flyer di Power Point-nya! Makjang! Selama ini saya sembunyi di gua mana kah?

Jadi, apa langkah-langkah yang harus ditempuh untuk bisa membikin flyer menggunakan Power Point? Ituuuu akan menjadi satu pos terpisah, kawan. Jangan buru-buru. I promise you. Pada pos ini, saya hanya mau bilang; manfaatkan free background (picture) yang bisa kalian unduh bebas di internet karena atas seijin yang punya, dan berkreasilah.

Hanya itu yang saya bisa ...

Pertama coba desan pakai Power Point itu ketika Prodi Pendidikan Biologi dibuka. UPT Publikasi dan Humas bertugas mempromosikan program studi baru ini melalui iklan-iklan di koran, baliho, dan iklan radio. Untuk iklan radio sih mudah, saya bikin iklan radionya hanya beberapa jam saja. Tinggal rekam suara, cari backsound yang kece, edit di Adobe Audition, mix all. Tradaaa jadilah iklan itu. Tapi iklan untuk koran dan baliho ini yang susah. Maka saya membuka Power Point dan mulai berkreasi. Ini dia hasil pertamanya:


Tidak sebagus yang kalian bayangkan, tapi saya merasa cukup puas dengan desain ini karena latar belakangnya menggunakan gambar yang tersebar bebas di internet. Desain yang sama juga dicetak untuk baliho.

Seperti yang orang bilang; sekali membikinnya bakal ketagihan, maka bikinlah lagi saya flyer berikut ini:


Flyer-nya disukai, bahkan diambil untuk dijadikan bahan backdrop kegiatan tersebut. Sel-sel di jari saya seperti kesetrum melihatnya *lebay*. Ternyata saya masih bisa bermanfaat juga untuk dunia flyer-flyer-an ini. Diantara flyer yang saya buat itu ada yang memang diminta oleh panitia acara (herannya percaya sama saya), ada pula atas inisiatif sendiri karena ketimbang pengumuman bagus hanya ber-teks mending dibikin JPEG saja. Sedikit kegiatan mengunduh dan kreatifitas, jadilah flyer.

Untuk flyer ini, kegiatannya ditunda, diganti dengan kegiatan Dialog Nasional 24 Indonesia Maju oleh Kementrian Sosial, LPP Edukasi, Dirjen Dikti, dan Uniflor. Oh iya, pada tautan itu (tunjuk kiri) kalian bisa mendapatkan tiga materi pada kegiatan dialog tersebut. Silahkan diunduh bagi yang membutuhkan.

Bagi saya, inti sebuah flyer adalah pesannya tersampaikan. 

Apakah dengan demikian saya akan belajar lagi Photoshop? Tunggu dulu, kawan. Belajar Photoshop itu susah loh (menurut saya), dan saya belum punya niat tulus untuk kembali mempelajari layer, masking, dan lain istilah di aplikasi itu. Berilah saya kesempatan bahagia bersama Power Point hingga saatnya nanti belajar Photoshop.

Pernah, saya pernah begitu. Bagaimana, apakah kalian juga punya pengalaman mendesain flyer menggunakan Power Point? Atau kalian belajar desain di Canva?


Cheers.

Foto Kreatif Untuk Pos Blog

Saya menyebutnya foto kreatif. Ketika kita memotret benda-benda dalam pengaturan tertentu untuk keperluan konten blog atau keperluan lainnya.

Saya selalu menulis: muatan dasar sebuah blog adalah tulisan. Foto dan video adalah elemen pendukung. Betapapun kalian mengaku tidak bisa menulis, untuk pos satu foto di blog pun kalian pasti mencantumkan caption, meskipun foto pun - konon - dapat menceritakan momen. Oleh karena itu konten tanpa foto terlihat hambar. Setidaknya ada satu foto yang menyertai konten tersebut dan rata-rata foto yang relevan.

Baca Juga:


Foto yang kita pakai untuk sebuah pos tidak selamanya harus menggunakan kamera-kamera canggih. Pengalaman, saya hanya menggunakan Canon EOS 600D dan lebih sering menggunakan kamera smartphone. Intinya bagi saya adalah sudut  pengambilan yang baik, foto tidak blur/buram, dan cukup mewakili apa yang ingin kita sampaikan. Kadang-kadang untuk sebuah pos blog saya tidak sekadar mengambil dari stok foto yang ada melainkan melakukan ritual menata dan memotret. Salah satu contoh demi pos ini, saya memotret ini:

Foto ini menggunakan Xiaomi Redmi 5 Plus. Itu bukan salah kameranya, melainkan salah tangan saya yang kadang suka buyutan, qiqiqiq. Nge-blur jadinya.

Sebenarnya saya lebih suka mengadakan terlebih dahulu fotonya, baru tulisannya. Dengan kata lain, foto-foto itu sudah ada dalam folder stok foto yang tinggal dipilih sesuai keperluan kontennya. Dan ternyata, saya punya banyak foto-foto kreatif yang bisa dipakai kapan saja saya mau seperti contoh berikut ini:

Waktu main ke Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah. Menggunakan Canon PowerShot A460 dan diedit menggunakan Photoscape.

Foto ini membawa saya pada memori seperti bertemu Mimi Rasinah secara langsung.

Atau seperti foto di bawah ini, foto yang saya ambil apabila melakukan perjalanan lintas Flores menggunakan sepeda motor tersayang Oim Hitup:

Lokasi sebelum memasuki Kota Mbay - Kabupaten Nagekeo. Menggunakan Sony DSC-W130 dan diedit menggunakan Photoscape.

Ada juga foto yang menggunakan Blackberry 9700 jaman dulu banget haha.

Foto salah satu rumah adat di Desa Adat Wologai, setelah desa tersebut kebakaran.

Saya memang tidak jago memotret tapi saya sangat suka memotret dan dipotret (heeeei, itu default). Oleh karena itu, saya akan selalu menyimpan foto-foto yang sempat diabadikan baik melalui kamera DSLR, kamera pocket, atau kamera smartphone. Mungkin tidak semua momen dapat saya tulis, tapi saya usahakan semua momen dapat diabadikan dalam bentuk foto dan/atau video.

Waktu lamaran anak tetangga saya. Menggunakan Canon EOS 100D.

Kalau yang ini waktu Ulangtahun Flobamora Community ke-6 di Bete Mini Cafe Ende. Menggunakan Nikon D5100.

Nongkrong di beach cafe yang ada di Pantai Ende, menggunakan Blakberry 9700.

Material untuk gorong-gorong (kalau tidak salah) pada salah satu titik perjalanan dari Kota Ende menuju Aigela (arah Barat Pulau Flores). Menggunakan Sony DSC-W130.

Atau yang satu ini saat melihat elang terbang!

Di Pantai Maurongga - Ende. Menggunakan Sony DSC-W130. Lagi-lagi.

Perjalanan dari Kota Ende menuju Pulau Ende (pulau di depan Pantai Ende). Kami menaiki kapal motor buat nangkep ikan punya teman, dan di bagian belakang kapal saya kaget melihat sampan ini. Sampan digunakan apabila air laut sedang surut dan kapal motor tidak bisa merapat ke dermaga. Unik kan? Yang tidak bisa berenang ketar-ketir naik turun sampan, hahaha. Menggunakan Sony DSC-W130.

Tak mau ketinggalan foto yang ini:

Matahari segera pulang. Menggunakan Sony DSC-W130.

Menggunakan Sony DSC-W130.

Wah, cukup banyak foto yang saya tampilkan kali ini. Masih ada beberapa sih, tapi nanti kalian mabuk karena foto-fotonya tidak sebagus foto kalian. Tapi saya suka mempunyai begitu banyak stok foto untuk digunakan kapan-kapan kalau perlu, atau ketika hendak menulis #PDL. 

Intinya adalah foto kreatif untuk pos blog itu tidak selamanya harus kita ambil dari internet. Bikin sendiri juga bisa, tergantung seberapa kuat kemauan kita. Kamera pun tidak selalu harus kamera yang bagus, karena kepuasan sebenarnya bukan berada pada pandangan mata orang lain, tetapi pada pandangan mata kita sendiri, karena kita yang merasakan langsung saat membidik.

Semoga bermanfaat.


Cheers.