Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati


Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati. Saya, kalian, mereka, mungkin sering fokus pada hasil akhir namun melupakan proses menuju hasil. Belakangan, saya sering menulis proses ini dengan proses kreatif. Menulis tentang proses kreatif, saya jadi ingat tentang perjalanan. Betapa gila-gilaannya saya tancap gas setiap kali ke luar kota karena pengen segera tiba di kota tujuan. Bahkan sering terlambat ngerem dan masuk lubang. Suatu kali, saya dan Deni Wolo sama-sama berangkat ke Kota Mbay untuk menyaksikan Festival Kuliner Nakeng Lebu (daging domba) di Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Deni tidak bisa tancap gas karena memang tidak mau dan tidak terbiasa. Mengikuti ritme perjalanan Deni, saya justru lebih menikmati perjalanan luar kota tersebut. Banyak yang bisa saya perhatikan, lebih detil, dan saya sadar bahwa menikmati perjalanan ya yang seperti ini.


Setiap hari saya melakukan dan/atau melewati proses kreatif seperti menulis konten blog, menyunting foto, membikin cover atau feature picture konten blog di Canva, sampai menulis novel. Kadang membikin produk #DIY. Dalam dunia pekerjaan pun demikian, karena untuk menghasilkan satu berita saya harus menulis berita, menggali fakta (agar faktual), hingga menyunting foto pelengkap berita. Dan ketika terjun dalam dunia Exotic NTT Community, saya sadar, proses kreatif itu lebih rajin terjadi baik dilakukan oleh saya maupun oleh teman-teman.


Suatu kali saya menyaksikan proses kreatif yang dilakukan oleh Oedin, videografer sekaligus tukang sunting video Exotic NTT Community. Waktu itu Oedin membikin konten untuk channel Youtube-nya. Kontennya berupa wawancara Oedin dengan salah seorang anggota Exotic NTT Community yang juga dikenal sebagai E.thical Young Entrepreneur Ende 2019 dan mahasiswi Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor). Namanya Natalia Mudamakin. Wawancara dan/atau proses kreatifnya dilakukan di ruang tamu Pohon Tua (rumah saya). Jujur, saya sangat menikmati proses kreatif itu berjalan terutama bagaimana cara Oedin menggali informasi dari narasumbernya. Jelas saya melihat, Oedin berusaha bisa memperoleh footage sebaik-baiknya untuk mempermudahkannya menyunting video tersebut.

Lain lagi cerita saat kami harus pergi ke beberapa tempat berbeda untuk syuting footage bekal video para Exoter (sebutan untuk anggota Exotic NTT Community).

Watu Zaja, Bukit Marsel


Di lokasi ini proses kreatif berlangsung meriah karena diikuti oleh lebih banyak Exoter. Saya, David, Oedin, Arand, Violin, dan Thika. Kami dibantu pula oleh Om Alan dari RCM. Proses kreatif berkaitan dengan kesabaran. Karena ada enam Exoter yang harus dibikin/syuting footage-nya masing-masing, tentu harus mengantri kan. Di sinilah saya menikmati proses kreatif itu. Sebagai videografer, Oedin mengarahkan satu per satu Exoter untuk bergaya sesuai renjananya masing-masing.


Saya, misalnya, footage-nya adalah membaca. Sebagai subyek, saya harus bisa lebih sabar bertahan pada satu aksi/gaya sampai Oedin benar-benar puas. Sumpah, suka sekali sama proses kreatif yang dilakukan oleh Exoter. Sungguh, saya banyak belajar untuk jauh lebih sadar dan memerhatikan detil yang sering terlewatkan. Contohnya, saya bisa lebih leluasa mengeksplor Watu Zaja ketika menunggu giliran disyuting.

Aigela: Check Point Tiga Kabupaten


Ini dia perjalanan gila-gilaan. Bayangkan saja, untuk dua footage Exoter kami harus pergi jauh-jauh ke Aigela sejarak sekitar 60 kilometer dari Kota Ende. Proses kreatif yang saya nikmati tidak saja ketika Oedin mengambil footage Yoyok dan Cahyadi. Lebih dari itu! Selain kehujanan, takut sama petir yang sahut-sahutan, saya disuguhi pemandangan seorang lelaki sedang melaksanakan shalat Dzuhur.



Subhanallah. Saya benar-benar jatuh cinta dengan lelaki di dalam foto. Sayangnya, karena hujan saya tidak sempat berkenalan dengannya, karena kami kemudian ngetem di lapak berbeda. Mungkin kalian bakal bertanya, memangnya saya berani berkenalan dengannya? Berani donk! Untuk lelaki seperti itu, saya pasti berani. Sekadar mengajaknya mengobrol, berteman, haha hihi, kenapa tidak? Di sini saya menjadi semakin percaya bahwa setiap perjalanan mempunyai ceritanya sendiri-sendiri. Alhamdulillah saya diberikan pemandangan indah begitu oleh Allah SWT.

Pelabuhan Ende, Samba, Simpang Lima


Proses yang satu ini juga sangat saya nikmati. Waktu itu kami terpisah di mana saya, Yoyok, Violin, dan Natalia pergi ke Pelabuhan Ende untuk syuting footage-nya Nata. Sedangkan Arand, Tri, dan Man, pergi ke Barai menjemput Oedin untuk kemudian bergabung dengan kami di pelabuhan. Jujur, sudah beberapa bulan saya tidak mengumpulkan footage, apalagi mengarahkan subyek video. Tapi saat Nata mulai menari, sesuai renjananya, saya jadi lebih bersemangat mengarahkannya. Setelah saya, gantian Yoyok yang merekam aksi-aksi Nata, sampai kemudian rombongan dari Barai tiba di Pelabuhan Ende.

⇜⇝

Jadi, jelas ... bagi kalian yang sering mengabaikan proses kreatif, coba deh mulai memerhatikannya. Bandingkan saat kalian tidak menikmatinya atau menganggapnya sebagai angin lalu, dengan saat kalian menikmatinya dengan sungguh.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Bakal banyak banyak yang kita perhatikan dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Bakal banyak yang kita pelajari dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Detil-detil yang sering terlewatkan, bakal menjadi suatu cerita tersendiri ketika kita menikmati proses kreatif. Ayo, berhenti terburu-buru, mari nikmati!

#KamisLegit



Cheers.

Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati


Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati. Saya, kalian, mereka, mungkin sering fokus pada hasil akhir namun melupakan proses menuju hasil. Belakangan, saya sering menulis proses ini dengan proses kreatif. Menulis tentang proses kreatif, saya jadi ingat tentang perjalanan. Betapa gila-gilaannya saya tancap gas setiap kali ke luar kota karena pengen segera tiba di kota tujuan. Bahkan sering terlambat ngerem dan masuk lubang. Suatu kali, saya dan Deni Wolo sama-sama berangkat ke Kota Mbay untuk menyaksikan Festival Kuliner Nakeng Lebu (daging domba) di Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Deni tidak bisa tancap gas karena memang tidak mau dan tidak terbiasa. Mengikuti ritme perjalanan Deni, saya justru lebih menikmati perjalanan luar kota tersebut. Banyak yang bisa saya perhatikan, lebih detil, dan saya sadar bahwa menikmati perjalanan ya yang seperti ini.


Setiap hari saya melakukan dan/atau melewati proses kreatif seperti menulis konten blog, menyunting foto, membikin cover atau feature picture konten blog di Canva, sampai menulis novel. Kadang membikin produk #DIY. Dalam dunia pekerjaan pun demikian, karena untuk menghasilkan satu berita saya harus menulis berita, menggali fakta (agar faktual), hingga menyunting foto pelengkap berita. Dan ketika terjun dalam dunia Exotic NTT Community, saya sadar, proses kreatif itu lebih rajin terjadi baik dilakukan oleh saya maupun oleh teman-teman.


Suatu kali saya menyaksikan proses kreatif yang dilakukan oleh Oedin, videografer sekaligus tukang sunting video Exotic NTT Community. Waktu itu Oedin membikin konten untuk channel Youtube-nya. Kontennya berupa wawancara Oedin dengan salah seorang anggota Exotic NTT Community yang juga dikenal sebagai E.thical Young Entrepreneur Ende 2019 dan mahasiswi Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor). Namanya Natalia Mudamakin. Wawancara dan/atau proses kreatifnya dilakukan di ruang tamu Pohon Tua (rumah saya). Jujur, saya sangat menikmati proses kreatif itu berjalan terutama bagaimana cara Oedin menggali informasi dari narasumbernya. Jelas saya melihat, Oedin berusaha bisa memperoleh footage sebaik-baiknya untuk mempermudahkannya menyunting video tersebut.

Lain lagi cerita saat kami harus pergi ke beberapa tempat berbeda untuk syuting footage bekal video para Exoter (sebutan untuk anggota Exotic NTT Community).

Watu Zaja, Bukit Marsel


Di lokasi ini proses kreatif berlangsung meriah karena diikuti oleh lebih banyak Exoter. Saya, David, Oedin, Arand, Violin, dan Thika. Kami dibantu pula oleh Om Alan dari RCM. Proses kreatif berkaitan dengan kesabaran. Karena ada enam Exoter yang harus dibikin/syuting footage-nya masing-masing, tentu harus mengantri kan. Di sinilah saya menikmati proses kreatif itu. Sebagai videografer, Oedin mengarahkan satu per satu Exoter untuk bergaya sesuai renjananya masing-masing.


Saya, misalnya, footage-nya adalah membaca. Sebagai subyek, saya harus bisa lebih sabar bertahan pada satu aksi/gaya sampai Oedin benar-benar puas. Sumpah, suka sekali sama proses kreatif yang dilakukan oleh Exoter. Sungguh, saya banyak belajar untuk jauh lebih sadar dan memerhatikan detil yang sering terlewatkan. Contohnya, saya bisa lebih leluasa mengeksplor Watu Zaja ketika menunggu giliran disyuting.

Aigela: Check Point Tiga Kabupaten


Ini dia perjalanan gila-gilaan. Bayangkan saja, untuk dua footage Exoter kami harus pergi jauh-jauh ke Aigela sejarak sekitar 60 kilometer dari Kota Ende. Proses kreatif yang saya nikmati tidak saja ketika Oedin mengambil footage Yoyok dan Cahyadi. Lebih dari itu! Selain kehujanan, takut sama petir yang sahut-sahutan, saya disuguhi pemandangan seorang lelaki sedang melaksanakan shalat Dzuhur.



Subhanallah. Saya benar-benar jatuh cinta dengan lelaki di dalam foto. Sayangnya, karena hujan saya tidak sempat berkenalan dengannya, karena kami kemudian ngetem di lapak berbeda. Mungkin kalian bakal bertanya, memangnya saya berani berkenalan dengannya? Berani donk! Untuk lelaki seperti itu, saya pasti berani. Sekadar mengajaknya mengobrol, berteman, haha hihi, kenapa tidak? Di sini saya menjadi semakin percaya bahwa setiap perjalanan mempunyai ceritanya sendiri-sendiri. Alhamdulillah saya diberikan pemandangan indah begitu oleh Allah SWT.

Pelabuhan Ende, Samba, Simpang Lima


Proses yang satu ini juga sangat saya nikmati. Waktu itu kami terpisah di mana saya, Yoyok, Violin, dan Natalia pergi ke Pelabuhan Ende untuk syuting footage-nya Nata. Sedangkan Arand, Tri, dan Man, pergi ke Barai menjemput Oedin untuk kemudian bergabung dengan kami di pelabuhan. Jujur, sudah beberapa bulan saya tidak mengumpulkan footage, apalagi mengarahkan subyek video. Tapi saat Nata mulai menari, sesuai renjananya, saya jadi lebih bersemangat mengarahkannya. Setelah saya, gantian Yoyok yang merekam aksi-aksi Nata, sampai kemudian rombongan dari Barai tiba di Pelabuhan Ende.

⇜⇝

Jadi, jelas ... bagi kalian yang sering mengabaikan proses kreatif, coba deh mulai memerhatikannya. Bandingkan saat kalian tidak menikmatinya atau menganggapnya sebagai angin lalu, dengan saat kalian menikmatinya dengan sungguh.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Bakal banyak banyak yang kita perhatikan dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Bakal banyak yang kita pelajari dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Detil-detil yang sering terlewatkan, bakal menjadi suatu cerita tersendiri ketika kita menikmati proses kreatif. Ayo, berhenti terburu-buru, mari nikmati!

#KamisLegit



Cheers.

Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang


Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang. Sabtu, 4 Januari 2020, saya dan teman-teman Rumah'97 melaksanakan niat yang sudah lama tertunda yaitu reuni. Sayangnya, dari puluhan teman yang ada di WAG alumni itu, hanya lima orang yang bisa ikutan. Saya, Hilda yang pada tanggal 6 Januari 2020 sudah kembali ke Depok, Yusti si pemilik Kafe Hola, Ryan, dan Abah Yudin. Teman-teman lain sudah kembali beraktivitas sehingga mereka belum bisa bergabung. Tidak masalah. Tujuan kami hari itu adalah Dapur Jadul (baru) yang terletak di daerah Nangaba. Menurut Kakak Nona Eka, pemiliknya, itu disebut River Beach. Dulunya, Dapur Jadul terletak di Pantai Raba, sekitar 300 meter ke arah Barat dari lokasi baru.


Apa yang paling saya sukai dari Dapur Jadul? Desainnya yang luar biasa memikat dan menghibur mata. Begitu banyak spot instagenic dipasang di sana. Selain itu, ragam asesoris warna-warni juga membikin pengunjung terpesona. Nampaknya kreativitas tanpa batas memang bermain-main di tempat ini. Salut to the max. Oh ya, waktu kami pergi ke sana, masih banyak tukang bangunan sedang bekerja. Dapur Jadul di lokasi baru ini memang belum sepenuhnya jadi. Tapi itu tidak menyurutkan niat masyarakat untuk menikmati hari besama teman, keluarga, atau kekasih *perasaan teriris-iris menulis kekasih, hahaha*. Buktinya, Dapur Jadul masih ramai dikunjungi masyarakat: tua dan muda, meskipun pembangunan masih sedang berjalan.

Saat pergi ke sana bareng teman-teman Rumah'97 itulah saya memotret begitu banyak asesoris/pajangan di Dapur Jadul. Pernak-pernik, boneka, brojong bulat (semacam tiang bulat) dengan batu yang unik, botol-botol kaca, hingga wadah berisi beras warna-warni. A-ha! Saya ingat, dulu pernah pengen bikin beras warna-warni ini tetapi batal. Ini dia penampakan pajangan beras warna-warni dari Dapur Jadul.



Bagaimana kalau saya coba membikinnya? Bukankah saya sendiri juga punya kulit kerang dan siput yang dibawa Cahyadi dari Desa Kolipadan di Pulau Lembata?

Kali ini tidak boleh batal! Mari berkreasi!

Bahan dan Alat:
1. Beras. 
2. Pewarna.
3. Air untuk larutan pewarna.
4. Wadah untuk beras warna.
5. Kulit kerang/siput.

Pertama:
Jumlah beras tergantung keinginan/kebutuhan kalian. Bisa segenggam, bisa sekilo. Karena pewarna yang ada di rumah tinggal tiga warna: oranye, kuning, hijau, saya memisahkan beras ke dalam tiga wadah ukuran kecil. Bisa dilihat pada gambar di bawah:


Kedua:
Setiap wadah beras diisi air secukupnya untuk merendam atau mencampurnya dengan pewarna. Beri pewarna secukupnya pada masing-masing wadah beras yang telah diisi air, diaduk perlahan agar semua beras tercampur rata dengan pewarna. Silahkan lihat gambarnya:


Ketiga:
INGAT! JANGAN TERLALU LAMA! Sekitar tiga menit, saring airnya, dan beras yang sudah berubah warna itu disisihkan atau dikeringkan. Proses pengeringan bisa dengan cara alami yaitu dijemur di bawah sinar matahari. Bisa didiamkan saja semalam. Bisa juga dihadapkan di kipas angin. Dan saya menggunakan cara ketiga yaitu dihadapkan di kipas angin. Hehe. Tidak sabaran sih.


Keempat:
TRADA ... sudah jadi. Pokoknya kalau beras berwarna itu sudah kering, ya sudah jadi.


Bagaimana menjadikannya pajangan? Bisa berasnya dipisah, bisa digabungkan seperti pajangan beras berwarna yang saya lihat di Dapur Jadul. Seperti gambar berikut ini.


Maka saya bikin seperti ini:



Beras berwarna bisa diaplikasikan sendiri, bisa juga diberi pajangan tambahan. Seperti yang sudah saya tulis di atas, kebetulan saya juga punya kulit kerang dan siput yang dibawa Cahyadi dari Desa Kolipadan di Pulau Lembata. Ukurannya tidak besar, tapi lumayan kalau dibikin pajangan bersanding dengan beras berwarna. Oh ya, ini penampakan semula kulit kerang dan siput-siput itu. Terpaksa satu stoples kaca dikorbankan. Hahaha.





Selesai! Gelas piala berisi beras berwarna dan kerang serta siput itu kini telah menjadi pajangan cantik di meja-meja ruang tamu. Cantik kan? Cantik doooong, seperti yang bikin. Hehe.

Baca Juga: Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing

Bagaimana menurut kalian? Mudah sekali membikin pajangan cantik berbahan beras dan kulit kerang serta siput ini. Saya membikinnya hanya dalam waktu semalam. Tidak sampai sehari semalam! Tentu, untuk mengeringkan beras yang direndam air warna itu membutuhkan ketekunan dan keseriusan kipas angin *ngikik*. Sebenarnya, selain gelas piala, bisa juga beras berwarna ini diisi dalam wadah berupa bohlam lampu bekas. Tetapi zaman sekarang susah mencari bohlam lampu bekas, karena rata-rata lampu rumah itu umumnya sekarang berbentuk jari dan/atau spiral. Semoga nanti bisa menemukan bohlam lampu, terkhusus yang bening itu.

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian yang gemar berkreasi. Sampai jumpa minggu depan!

#RabuDIY



Cheers.

Gelang Berbahan Benang Wol Yang Mudah Dibikin Sendiri


Gelang Berbahan Benang Wol Yang Mudah Dibikin Sendiri. Masa kecil saya, kalau boleh mengklaim sendiri, merupakan masa kecil paling bahagia. Karena apa? Karena masa itu hanya ada telepon kabel, belum ada telepon genggam. Saya lebih banyak membaca buku dan bermain permainan tradisional bersama teman-teman dan kakak-kakak sepupu. Banyak permainan yang kami ciptakan sendiri. Betul sekali kalau orang bilang: keterbatasan mampu membikin manusia menjadi lebih kreatif. Bayangkan saja, bungkus bekas permen sugus adalah barang berharga yang bisa dijadikan duit mainan, dikumpulkan di dalam kotak mini, dan dibanggakan ke semua orang. 

Baca Juga: Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing

Kreatifitas masa kecil sebenarnya tidak selamanya karena keterbatasan. Waktu itu kami juga ingin bisa membikin sesuatu yang bisa dipamerkan pada orang lain, terutama orang dewasa. Selain bermain masak-betulan, di mana saya pernah mencuci beras sampai sepuluh kali sehingga rasa nasinya hancur-lebur, kami juga membikin sendiri gelang berbahan benang wol.

Melihat kakak sepupu membikin satu gelang berbahan benang wol, saya pun tak mau kalah. Bahannya cuma benang wol aneka warna saja! Karena benang wol nanti bakal dipintal (tiga utas) maka diperlukan tiga warna berbeda agar gelangnya nanti terlihat cantik. Benang wol yang dijual di Kota Ende kebanyakan benang wol untuk kerajinan tangan kristik, sehingga kami harus mendobel setiap warna. Satu warna bisa tiga sampai lima utas benang. Supaya apa? Supaya gelangnya lebih besar.


Membikin gelang berbahan benang wol ini super mudah (dan murah). Setelah akhir 2017 saya membikinnya untuk Jeki, Meli, Nabil, dan Cika, akhir tahun 2019 saya membikinnya lagi untuk Thika. Busyet, ponakan saya yang satu itu juga pengen pakai gelang berbahan benang wol. Haha.


Setelah menentukan berapa utas benang per warna, semua utas kemudian diikat bagian ujungnya, lalu dipintal (dicacing tiga). Supaya mantap, minta seseorang untuk menahan bagian ujung, atau bisa juga ditahan menggunakan pemberat (buku, seterika, atau jembatan). Setelah dipintal dan dirasa cukup, ukur terlebih dahulu lingkar gelang dengan tangan orang yang hendak memakainya. Kalau sudah pas, ikat lagi ujung satunya. Trada ... jadi deh. 

Baca Juga: Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca

Berbahan murah, mudah dibikin. Tunggu apa lagi? Bikin yuk gelang benang wol ini sebagai 'ikatan' di dalam keluarga. Meskipun tidak bisa dipakai terus-terusan, tetapi misalnya saat sedang traveling bareng keluarga, semua anggota keluarga memakai gelang ini, pasti seru dan membikin keluarga kalian menjadi pusat perhatian.

Selamat mencoba!

Semoga bermanfaat.

#RabuDIY



Cheers.

Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing


Membikin Aneka Kerajinan Tangan Berbahan Kancing. Do it yourself a.k.a. DIY selalu mampu membikin saya berdecak kagum. Hebatnya, itu berefek domino. Decak kagum itu berujung pada aksi membikin sendiri juga. Iya dooong. Prinsip saya, kalau orang lain bisa melakukannya, saya juga harus bisa. Kalau ternyata setelah dicoba berkali-kali gagal, artinya saya harus berhenti mencoba membikinnya. Selama ini gagalnya cuma sekali dua, selebihnya alhamdulillah sukses. Benar, hasil tidak pernah mengkhianati usaha. Kecuali usahanya setengah-setengah. Haha.

Baca Juga: Ruang Tamu Pohon Tua Kini Punya Galeri Mini Sketsa VK

Salah satu benda yang acap dipakai untuk berkreasi adalah kancing (baju). Saya melihat di internet, kancing baju dipakai untuk membikin lukisan (dahan dan ranting pohon), ada juga yang berbentuk hewan (gajah), dan lain sebagainya. Ndilalah, saya justru lebih terinspirasi ketika melihat gantungan kunci ruangannya Kakak Shinta Degor di kantor. Maka, dengan semangat 45 pergilah saya membeli aneka kancing baju di toko. Seharusnya kancing yang dipakai merupakan kancing dari baju-baju atau kemeja lama yang sudah tidak dipakai. Tetapi menurut saya tidak ada salahnya membeli saja kancingnya ketimbang menunggu baju-baju atau kemeja tersebut afkir.

Ayo siapkan!

1. Kancing baju.
2. Benang.
3. Ring gantungan kunci (kalau ada).

Caranya? Mudah. Cukup satukan kancing seperti pada gambar di bawah ini, dan jadi.


Unik dan keren kan? Iya dooong, bikin sendiri ini. Barang itu, sekalipun murah, pasti bagus asalkan dibikin sendiri. Haha.

Baca Juga: Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende

Untuk berkreasi tidak perlu terlalu pusing memikirkan ini dan itu. Yang penting ada ide, ada kemauan, pasti ada jalan. Kalau ide hanya sekadar berputar saja di kepala, barang impian tidak bakal jadi sampai kiamat. Ide itu sama seperti niat. Kalau tidak dijalankan ya percuma. Saya yakin kalian juga bisa bikin, mudah ini kok. Siapa tahu kalian bisa membikin tidak hanya gantungan kunci super sederhana, tapi bisa juga bikin gelang, anting, kalung, atau hiasan dinding! Ayo berkreasi sepuas-puasnya.

#RabuDIY



Cheers.

Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende


Konsep DIY Dari Brand-Brand Baru Wirausahawan Muda Ende. Senin kemarin, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91, saya berkesempatan meliput kegiatan keren yang diselenggarakan atas kerjasama Pemerintah Daerah Ende, E.thical, Rikolto, Universitas Flores (Uniflor), dan RRI Ende. Kegiatan dengan spirit Hari Sumpah Pemuda ini mengusung tema Dengan Semangat Sumpah Pemuda Kita Dorong Peran Orang Muda dalam Ekonomi Berkelanjutan dari Desa untuk Ende. Berlangsung di dua lokasi: Aula Lantai II Kantor Bupati Ende dan di halaman samping Kantor Bupati Ende, kegiatan ini menjadi momen memperkenalkan wirausahawan/i muda Ende dalam berinovasi: memikirkan tema, membangun brand, membikin prototype, hingga memamerkan dan memasarkan.

Baca Juga: Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel

Sebelumnya, sekitar satu bulan, telah diselenggarakan kegiatan Kewirausahaan Pemuda Berkelanjutan kerja sama E.thical, Ricolto, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Informasi Uniflor. Pesertanya berjumlah (24) dua puluh empat orang. 8 (delapan) peserta berasal dari Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor), 5 (lima) peserta berasal dari Fakultas Pertanian Uniflor, sedangkan 11 (sebelas) peserta lainnya merupakan anak muda kreatif dan berdaya juang tinggi yang berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Ende. Satu bulan kegiatan dengan berbagai bekal ilmu tersebut telah membentuk karakter wirausaha di dalam diri mereka. Sesuatu yang menurut saya supa amazing, apabila melihat output-nya.

Pasar E.thical


Hasil penggemblengan dua puluh empat peserta tersebut kemudian digelar pada Hari Sumpah Pemuda dengan tiga mata acara yaitu Presentasi Proposal, Pasar E.thical, dan Talkshow. Presentasi Proposal dilaksanakan di Aula Lantai II Kantor Bupati Ende, dimulai pukul 13.00 Wita, dimana masing-masing peserta diberi waktu sekitar tiga hingga lima menit untuk memperkenalkan brand dan produk mereka. Pukul 16.00 Wita, kegiatan dilanjutkan dengan Pasar E.thical dan Talkshow yang disiarkan secara langsung oleh RRI Ende.


Ethical Market Day atau Pasar Ethical merupakan pasar yang memamerkan hasil karya dua puluh empat peserta Kewirausahaan Pemuda Berkelanjutan dalam sembilan belas brand, yang sebelumnya telah memperoleh ilmu dan bekal untuk berwirausaha oleh tim dari Ethical yang bekerjasama dengan Rikolto, Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknologi Informasi Uniflor. Pada pasar itu berdiri stan-stan tempat peserta memperkenalkan usaha dan/atau brand, memamerkan produk, serta menjual produk mereka. Setiap stan dilengkapi dengan profil singkat wirausahawan/i muda tersebut serta nama serta penjelasan produk yang diproduksi. Selain itu juga hadir stan dari Lepa Lio Cafe asal Remaja Mandiri Community Detusoko.



Natalia Mudamakin, salah seorang mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi, merupakan wirausahawati muda yang mendirikan brand Palapa Rasa dengan motivasi kuat untuk menyediakan tempat bagi anak muda Ende untuk bekerja dan berdaya. Palapa Rasa merupakan brand snack buah organik khas pertama di Kabupaten Ende yang mengangkat cita rasa kuliner khas Flores. Natalia Mudamakin dengan brand Palapa Rasa meraih Juara 3 Ethical Entrepreneur Ende.


Credits: David Mossar. 

Elok merupakan brand yang dibikin oleh alumni Uniflor dari Fakultas Bahasa dan Sastra yaitu Cahyadi, yang melihat potensi dari lahan tidur terlantar di pekarangan rumah tangga-rumah tangga di Kota Ende. Melalui Elok, Cahyadi berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat lokal dan lahan tidur secara optimal demi terciptanya kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan. Sebagai bahan makanan alternatif rendah gula, Elok yang berbahan sorgum merupakan pilihan alternatif yang terjangkau, dan merupakan pilihan tepat penderita diabetes dan bagi siapa saja yang mencari alternatif karbohidrat sehat. Cahyadi dengan brand Elok meraih Juara 2 Ethical Entrepreneur Ende.



Ine Lawo merupakan brand usaha yang dibentuk oleh Karolina Dua Oga dan mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi Maria Yasinta Mau Rema dengan motivasi untuk mencegah punahnya keterampilan menenun. Visi Ine Lawo adalah melihat regenerasi pengrajin tenun muda di Kabupaten Ende. Fashion tenun moderen yang membangkitkan kecintaan pada budaya Ende, Ine Lawo memanfaatkan kain sisa tenun menjadi busana moderen untuk membangkitkan kembali kecintaan pada tradisi dan budaya menenun. Karolina Dua Oga dan Maria Yasinta Mau Rema dengan brand Ine Lawo meraih Juara 1 Ethical Entrepreneur Ende.

Pasar Ethical dikunjungi oleh masyarakat umum Kabupaten Ende yang tertarik dengan inovasi yang dilakukan oleh para wirausahawan/i muda Ende tersebut, salah satunya yang baru saja membuka usaha kafe Sahabat Kopi. Selain Elok, Ine Lawo, dan Palapa Rasa, brand lainnya antara lain Tamiimah, FloCo., Frame Culture, Famous De Flores, Poly Deli, Pemuda Berdikari, Teka Uta, Oster, Plastic Reduce Initiative, Daur Ulang Kreatif, Rae Chili Flores, Ende Creative Millenials, Able, Ecodes, Ecocamp, dan Briona Flower.


Pada acara Talkshow yang dimoderatori oleh Kakak Rossa Domingga dengan narasumber dua diantaranya Nando Watu dan Karolus Naga, saya mendengar kalimat inspirasi yaitu 3C: Content, Colaborate, Community. Artinya seorang wirausahawan/i harus mampu menyiapkan kontennya sendiri, tapi harus mampu pula berkolaborasi dan berkomunitas. Kolaborasi sebagai daya dongkrak brand, komunitas agar brand lebih banyak dikenal (seperti efek domino). Bahkan diberikan pula contoh dari ranah Youtube oleh para Youtuber.


Sebelum Talkshow pun saya sudah paham betul bahwa berbisnis butuh 3C itu. Dan perkara 3C saya temukan pada salah satu brand baru yaitu FloCo. Dua anak muda ini yaitu Petronela Ina dan Diana Segu memilih brand bernama FloCo. sebagai brand cokelat batang organik pertama di Ende yang menggunakan 100% bahan alami. Diolah dari biji cokelat pilihan, FloCo. adalah pilihan oleh-oleh yang tepat untuk para wisatawan baik domestik maupun internasional. Tujuan mereka mendirikan FloCo. adalah memutus tengkulak dengan meningkatkan kesejahteraan petani kakao.


Yang menarik dari FloCo. justru pada kemasannya yaitu sejenis wati yang cantik dengan tutupan. Kemasan ini dibikin oleh keluarga mereka. Ini salah satu contoh kolaborasi yang baik. Satu produk, tapi ada dua keuntungan yang diperoleh oleh pembeli kelak (karena yang dipamerkan kemarin masih prototype). Saya bilang pada mereka, "Cokelat itu biasa, di mana-mana ada, dan mungkin orang juga bakal memburu cokelat ini sebagai oleh-oleh. Tapi kalau melihat dari sisi oleh-olehnya, tentu kemasannya ini yang diburu." Iya, konten mereka adalah cokelat, kolaborasi mereka dengan pihak lain adalah kemasannya. Komunitas? Mereka sudah tergabung dalam komunitas wirausahawan muda tersebut, bersama 22 peserta lainnya. Supa amazing!

Konsep DIY


Ini keutamaan yang mau dibahas. Ketika tidak ada sesuatu yang memuaskan keinginan, maka harus bisa membikinnya sendiri. Pasar E.thical mengenyangkan jiwa DIY (Do It Yourself) saya. Rata-rata hampir semuanya memang berkonsep DIY.

Elok dari Cahyadi menggunakan wati serta kantong serut untuk mengisi sorgum sebagai produk andalannya. Saya sangat menyukai kantong serut yang dijahit sendiri oleh Cahyadi, atau oleh Mamanya. Terlihat unik karena tali serutnya menggunakan bahan goni. Kemudian, Cahyadi memberikan saya satu kantong serut ini:


Ine Lawo, saya setuju mereka jawara, membikin produk DIY dari kain tenun sisa. Kalau boleh saya bilang: Ine Lawo itu 100% DIY. Kain tenun sisa ini bisa diminta di penjahit. Tapi bisa juga sih meyiapkan kain tenun khusus untuk dikreasikan ini itu. Kain tenun sisa tidak saja diaplikasikan pada pakaian, seperti celana jin sobek yang ditambal tenunan atau kemeja, tapi mereka juga membikin aneka asesoris seperti bandana, anting-anting, kalung, dan lain sebagainya. Seperti foto di bawah ini, salah satu hasil DIY-nya Ine Lawo:


Dari brand Daur Ulang Kreatif (atau Plastic Reduce Initiative, saya lupa) saya menemukan tas daur ulang seperti pada foto di bawah ini:


Bagaimana tali rafia dibikin tas seperti foto di atas, itu adalah ketekunan, keuletan, dan daya kreativitas yang luar biasa!

Masih banyak barang DIY yang saya temui kemarin di Pasar E.thical. Selain wati sebagai kemasan cokelat FloCo., ada pula tas-tas kertas DIY yang ditempeli brand/logo, yang pastinya dibikin sendiri sama para wirausahawan muda Ende tersebut. Selain itu, kalau kalian melihat foto di awal pos, itu dari Frame Culture! Dia membikin frame dan aneka asesoris yang biasa dipakai orang-orang buat menghasilkan foto yang instagenic. Frame-nya jelas dibalut kain tenun ikat.

⇜⇝

Dari semua yang ditulis di atas, saya jadi ingat sama diri sendiri, yang meraup keuntungan belipat ganda hanya dengan mendaur ulang sampah. Brand saya waktu itu Rumah Kreatif Tuteh. Aneka produk sudah saya bikin, baik karena pengen bikin, maupun karena dipesan sama pelanggan *duhaaaiii, pelanggan* hehe. Tapi karena tuntutan pekerjaan lain yang membutuhkan skala prioritas, karena saya juga punya pekerjaan utama, usaha itu tidak saya teruskan. Padahal keuntungannya supa amazing. Karena kegemaran ber-DIY-ria itulah maka setiap Rabu tema pos ini adalah DIY. Hehe.


Credits: Ihsan Dato.

Bagaimana, kawan? Suka kan sama pos kali ini? Menambah informasi sekaligus cuci mata sama foto-fotonya *kedib*, karena saya sendiri juga suka sama foto-foto yang cuma dijepret menggunakan telepon genggam tersebut. Salah satu foto memang saya minta pada David Mossar, karena saya lupa memotret stan-nya Cahyadi. Dan satu foto dijepret oleh Om Ihsan Dato.

Semoga para peserta dapat melanjutkan apa yang sudah mereka rintis pada Hari Sumpah Pemuda tersebut.

Mari kita dukung!

#RabuDIY



Cheers.

Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel


Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel. Pos hari ini di #RabuDIY cukup singkat padat dan jelas. Karena apa? Karena saya bukan saya yang membikinnya melainkan teman kerja. Jadi, saya cuma pengen ngasih tahu ke kalian bahwa dari kain flanel yang biasanya dipakai untuk mempercantik stoples dan/atau tempat tisu bisa juga langsung diaplikasikan untuk dijadikan dompet. Seperti pada foto di awal pos. 

Baca Juga: Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah

Kuning? Iyess! Waktu ditanya saya jelas meminta dompet berwarna kuning dengan nama saya tertera di salah satu sisinya. Yang membikin ini teman kerja tetapi lebih dikenal sebagai dosen FKIP, namanya Ibu Purnama. Orangnya super kreatif! Sama seperti Violin Kerong hehe. Selain membikin dompet alat tulis berbahan kain flanel, Ibu Pur juga membikin ragam dompet rajutan, yang bahannya tidak saja benang/tali tetapi juga plastik kresek. Ada beberapa dompet lain yang dibikin menggunakan plastik bekas bungkus Nescafe.

Uh wow! Kreatif sekali.

Terbukti mantan sampah tidak selamanya harus dibuang kan? Masih bisa digunakan kembali setelah didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi lebih tinggi. Seperti apa yang sudah dilakukan oleh banyak orang. Saya, kalian, mereka.

Semoga menjadi inspirasi ...

#RabuDIY



Cheers.

Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah


Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah. Sudah berapa lama saya mengenal komunitas bernama Anak Cinta Lingkungan (ACIL)? Sudah sangat lama. Sebenarnya maksud hati ingin turut terlibat di dalamnya tetapi kesibukan pekerjaan dan urusan ini itu memang sangat tidak bisa mentolerir. Sedih? Iya. Makanya saya memutuskan untuk solo karir, maksudnya saya tidak terlalu terlibat dalam komunitas manapun, kecuali Stand Up Comedy Endenesia. Kenapa? Karena Stand Up Comedy Endenesia merupakan komunitas dengan konsep yang benar-benar beda dari banyak komunitas yang pernah saya ikuti selama ini. Selain itu tingkat kegiatannya pun tidak terlalu padat, selain lomba setiap Jum'at ada open mic, sehingga tidak terlalu dipermasalahkan apabila saya absen, kan saya bukan komika. Hehe.

Baca Juga: Manfaatkan Celana Jin Bekas Untuk Mempercantik Sofa

Kembali ke ACIL. Karena hari ini #RabuDIY, maka tidak ada salahnya saya menulis tentang Komunitas ACIL Ende, atau ACIL (saja). Apa dan bagaimana ACIL? Silahkan dibaca sampai selesai, siapa tahu bisa membawa inspirasi bagi kalian. 

A C I L


Sudah lama tahu ACIL, tapi alangkah lebih bagus informasi tentang ACIL saya peroleh langsung dari salah seorang pengurusnya. Dari blog-nya Abang Iskandar Awang Usman, saya peroleh informasi tentang ACIL. Komunitas yang berkonsentrasi pada anak dan lingkungan ini didirikan pada Rabu, 4 Desember 2013 dengan basecamp di Jalan Adi Sucipto RT/RW 02/08, Ippi, Kelurahan Tetandara, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende. Sayangnya tidak ditulis memang siapa-siapa pendiri dan pengurusnya. Tetapi jelas saya tahu sebagiannya, seperti Abang Umar Hamdan sang ketua, Abang Iskandar, Abang Antho, Filzha, dan lain-lain yang namanya tidak saya tulis karena kuatir salah.


Foto di atas, waktu penyerahan bantuan mantel hujan anak-anak dari Relawan Taman Bung Karno Ende kepada ACIL. Dari saya belum berhijab sampai berhijab, sudah melekat sama ACIL. Haha.


Sampai saya sudah berhijab, main ke markas ACIL, waktu itu kita dari Komunitas SOSMED Ende memang pengen berbagi, bermain, dan belajar bersama anggota ACIL yang rata-rata anak-anak usia TK sampai SMP. Kalau sudah SMA dan/atau lewat dari itu, boleh donk jadi pengasuh juga (silahkan daftar).

Mari cerita-cerita dulu tentang ACIL. Dulu saya pernah ikut kegiatan ACIL di halaman belakang rumah Wakil Bupati Ende, Bapak Djafar, di Jalan Soekarno. Dari situ saya jadi tahu bahwa ACIL yang beranggotakan anak-anak itu punya kegiatan rutin setiap hari Minggu, serta kegiatan-kegiatan lainnya. Markas mereka di Ippi itu merupakan rumah yang dihuni oleh Abang Umar Hamdan sekeluarga yang pada bagian halamannya didirikan saung kreatif. Saung ini berisi rak-rak buku, dan aneka barang kebutuhan belajar bersama. Dari situ ragam kegiatan ACIL lainnya berlangsung.


Kegiatan-kegiatan ACIL yang saya rangkum dari pandangan mata *cieee* antara lain belajar -  membaca - bermain edukatif di saung baca mereka, penanaman bibit atau pembibitan pohon dan tanaman lainnya, penghijauan, bersih-bersih sampah di titik-titik yang ditentukan, pemilahan sampah, hingga daur ulang sampah. Bukan cerita baru, kemudian, apabila Abang Umar dan kawan-kawan sebagai pengurus dan pengasuh ACIL diminta menjadi narasumber dengan materi utama sampah dan pengelolaannya. Kami pernah pula sama-sama menjadi pemateri dalam kegiatan #EndeBisa dengan goal utama #EndeKreativitas, #EndeBelajarLiterasiDigital, #EndeBebasSampah, #EndeSocMed4SocGood, #EndeBerwirausaha.


Rasanya pengen kembali ke aula SMKN 1 Ende dengan ribuan pesertanya itu. Hahaha.

ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah


Komunitas yang berkonsentrasi pada masalah sampah ada banyak. Tapi yang betul-betul tuntas dengan masalah sampah ini saya baru melihatnya dalam tubuh ACIL. Mereka tidak saja memberi contoh lewat aksi bersih-bersih sampah, tetapi juga mengedukasi masyarakat, serta melaksanakan kewajiban moril untuk mendaur ulang sampah. Waktu berkunjung ke markas ACIL saya tahu bahwa proses daur ulang ini dilakukan oleh semua anggota ACIL baik anak-anak maupun pengasuh/pengurus, serta pendamping hidup mereka. Seperti isterinya Abang Umar. 

Sampah yang didaur ulang terjadi setelah proses pemilahan. Umumnya sampah plastik akan dikumpulkan dan dibersihkan agar dapat didaur ulang. Waktu berkunjung ke sana saya sempat fotoin barang-barang daur ulang yang bejibun itu tetapi saya file fotonya entah di mana. Untung saya masih bisa mendapatkan foto-foto yang dulu dipos Abang Nurdin di Facebook.




Sampah plastik, juga kertas, didaur ulang menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi dari bentuk semula. Apa saja hasil daur ulang itu? Pada gambar di atas kalian bisa melihat ada miniatur rumah adat, tempat penyimpanan file, dan tas selempang. Selain itu masih banyak produk lainnya seperti tempat sepatu gantung, dompet, keranjang, hingga tudung saji. Apa saja yang bisa didaur ulang, ditambah percikan kreativitas, maka produk daur ulang pun tercipta. Produk-produk itu pun dijual, hasilnya ditabung di tabungan ACIL, dan bakal digunakan untuk keperluan kegiatan ACIL itu sendiri. Ini kan keren.


Foto di atas, Abang Umar tidak sadar saya potret dari belakang saat kegiatan penghijauan di Pantai Anaraja. Dia memakai tas selempang daur ulang. Tas yang sama juga dia pakai saat menghadiri Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay Sabtu lalu. Konsisten! Mereka selalu memberi contoh, tidak hanya sekadar bicara. Si Filza juga sering banget pakai tas ini. Kan saya jadi pengen punya juga. Hahaha.


Sedangkan foto di atas, saya sedang mencoba alat pungut sampah #DIY yang dibikin oleh Abang Iskandar. Ah, mereka sangat kreatif. 

Mengurangi, Bukan Menghilangkan


Ini yang juga penting dibahas. Melalui kegiatan-kegiatannya, termasuk menjadi pemateri/pembicara dalam seminar tentang sampah, sudah jelas Abang Umar dan kawan-kawan berusaha menanamkan konsep Reuse, Reduce, Recycle atau 3R. Kalau di-Indonesiakan menjadi pakai ulang, kurangi, daur ulang. Konsep itu merupakan konsep global yang digaungkan di mana-mana. Karena, manusia sebagai penikmat semesta tidak bisa menutup satu pintu. Menutup satu pintu sama dengan menghancurkan pintu lainnya.

Bingung?

Mari saya jelaskan.

Plastik tidak bisa dihilangkan dalam kehidupan manusia alias manusia tidak bisa berhenti begitu saja dari yang namanya plastik. Bila itu terjadi, hutan yang menjadi korban. Itu pasti. Contoh paling sederhana saya lihat dari sumpit yang ada di rumah. Sumpit itu terbuat dari plastik dan dipakai berulang-ulang. Bayangkan bila sumpit semata-mata terbuat dari kayu. Coba kalian bayangkan sendiri. Mautak mau kita harus sepakat bahwa plastik masih memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia, terutama masyarakat Indonesia. Sama juga dengan contoh sebuah rumah makan yang menyiapkan sarung tangan plastik kepada pelanggannya dengan alasan hemat air. Air memang hemat, sampah plastik tambah banyak.

Di Indonesia, rata-rata produk yang kita konsumsi menggunakan wadah plastik. Air galon, air minum kemasan, botol sampo, produk sasetan, produk isi ulang, taplak meja, baliho, barang rumah tangga, sampai karpeg pun berbahan plastik. Ada pula yang menggunakan kertas seperti bungkus sabun. Hal ini berbeda dari beberapa supermarket di luar negeri yang sudah menyediakan beberapa produk tanpa kemasan. Iya kah? Iya donk. Itu manfaatnya membaca. Hahaha. Jadi, pengelola supermarket menyediakan produk, misalnya minyak goreng dan/atau sampo, yang disimpan di dispenser khususnya. Pelanggan harus membawa botolnya sendiri dari rumah dan tinggal menakar sesuai kebutuhan. Asyik kan?

Jelas, plastik memang tidak bisa semerta-merta hilang dari kehidupan kita. Bayangkan saja kalau mantel hujan terbuat dari koran. Hehe. Bijaknya adalah 3R tadi. 

Mengurangi sampah plastik sudah saya lakukan. Mungkin juga sudah kalian lakukan. Ya, saya selalu membawa botol minum ke mana pun pergi karena enggan membeli air minum kemasan. Selain berhemat, saya mengurangi sumbangan sampah plastik. Bahkan membeli barang di kios pun, kalau barang itu bisa masuk ransel, saya menolak diberikan kresek oleh penjualnya. Sederhana, memang. Dan saya bahagia menjalaninya. 

Mendaur ulang sudah saya lakukan. Kalian tahu kan kalau pos #RabuDIY berawal dari kegemaran saya ber-DIY-ria. Mendaur ulang! Apa saja. Plastik termasuk di dalamnya. Pot-pot bunga, celengan, dompet receh, dan hiasan dinding merupakan beberapa barang daur ulang yang saya bikin. 



Memakai kembali produk plastik juga sudah saya lakukan. Meskipun sering menolak kresek dari para penjual, tetapi berbelanja di supermarket membikin ransel saya kepenuhan untuk diisi barang kebutuhan satu bulan. Oleh karena itu, plastik-plastik dari supermarket itu selalu kami simpan, bahkan ada kotak khusus, untuk nanti dipakai kembali. Memakai kembali barang plastik ini juga bisa dilihat dari pot bunga yang sebelumnya merupakan baskom kebutuhan dapur (yang kemudian retak/pecah).

⇜⇝

Kita semua bisa melakukannya: 3R. Asal ada kemauan. Mulai dari yang paling sederhana saja: membawa botol minum dan menolak kresek apabila barangnya bisa masuk ransel/tas yang kita pakai. Dari satu orang menjadi seratus orang ... bagus sekali ... sudah mengurangi begitu banyak sampah plastik di semesta ini. 

Baca Juga: Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca

Kembali ke ACIL. Saya salut sama pengurus/pengelolanya. Bagaimana mereka konsisten mendaur ulang sampah, itu patut diacungi jempol dan diberikan apresiasi tersendiri. Apabila kalian tidak bisa mendaur ulang sendiri, kumpulkan dan serahkan sampah plastik (tapi yang sudah dibersihkan ya) kepada ACIL, agar mereka yang mendaur ulang. Apabila kalian mau mendukung ACIL, boleh juga dengan membeli produk-produk DIY hasil daur ulang yang telah mereka bikin. Kenapa tidak?

Yuk, kurangi sampah plastik!

#RabuDIY



Cheers.

Manfaatkan Celana Jin Bekas Untuk Mempercantik Sofa


Manfaatkan Celana Jin Bekas Untuk Mempercantik Sofa. Berapa banyak barang yang kita buang dalam sebulan? Sekardus? Dua kardus? Apakah celana jin termasuk di dalamnya? Oh, sayang sekali kalau begitu, karena celana jin punya begitu banyak manfaat justru setelah tidak dipakai lagi. Haha. Dinosaurus melirik malas kalau saya sudah menulis begini. Tapi kenyataannya memang demikian. Ketika celana jin masih baik atau bagus, alias masih terus kita pakai, ya fungsinya paling-paling hanya dipakai sebagai bawahan. Akan tetapi bila sudah tidak dipakai lagi, celana jin punya banyak manfaat dan paling pertama bisa jadi keset kamar mandi *ngakak guling-guling*.

Baca Juga: Andaikan Ada Seorang Saja Thomas Dambo di Kota Ende

Keset kamar mandi pun kadang tidak dibikin apa-apa terhadap celana jin tersebut. Cukup dilipat, jadi deh. Dududu. Betapa pemalasnya. Saya.

Saya pernah memanfaatkan celana jin yang tidak dipakai lagi ini untuk membikin berbagai barang dalam proyek-proyek Do It Yourself alias DIY. Tentu, semua atas bantuan video-video tutorial atau how to yang berserakan di Youtube. Tapi, jelas percikan kreativitas itu harus ada. Kalau tidak, ya percuma donk. Barang-barang yang pernah saya bikin dari celana jin itu antara lain tas selempang besar, tas selempang kecil, desk organizer, hingga mangkuk celana jin. Sudah ada pula yang saya ulas di blog ini. Silahkan cari sendiri posnya, yaaa.

Ini salah satu tas jin yang saya bikin.

Hari ini saya mau mengajak kalian melihat-lihat rumah saya, Pohon Tua, dengan seperangkat sofa kayu yang jok dan sandarannya kemudian saya selimuti, cie, cengan celana jin bekas.

Ceritanya, saat menjelang Hari Raya Idul Fitri dua tahun yang lalu, saya berencana untuk memperbaiki sofa kayu yang kainnya sudah mreyap-mreyap gara-gara digauk kekucingan kami. Sungguh, kekucingan kami itu kalau tinggal di rumah kalian pasti sudah bikin kalian depresi. Kekucingan di rumah kami selalu menyasar sofa hingga gorden untuk pemanasan kuku mereka. Haha. Tapi kami tidak pernah protes pada kekucingan karena kami sayang mereka. Dududu. Alhamdulillah kekucingan juga sayang kami, buktinya mereka betah tinggal bersama kami.

Maka, saya menghubungi Om Fals untuk memperbaiki sofa kayu tersebut tetapi kain yang digunakan adalah celana jin bekas. Adalah tugas Mamasia dan Thika Pharmantara membongkar kardus-kardus berisi celana jin yang masih saya pertahankan dalam inspeksi tahunan. Iya, seharusnya sudah dibuang, tapi bertahun-tahun, saat inspeksi barang bekas, tetap saja celana-celana jin itu dikebas, dilipat, disimpan kembali di dalam kardus. Tanpa banyak protes, seperangkat sofa kayu diangkut oleh Om Fals berikut tumpukan celana jin bekas.

Saat hari raya, sofa itu belum datang ...

What!?

Ya, betul sekali, kawan. Sofa-sofa itu datang dua minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Ini betul-betul kocak, tapi menyenangkan, karena bikin ngakak. Saya senang, meskipun telat dari hari perjanjian, karena sofanya kemudian menjadi cantik sekali. Kalian bisa melihatnya pada gambar-gambar berikut ini:



Yang paling detail itu pada sandarannya. Untuk sandaran, Om Fals khusus memakai bagian saku celana jin denga label yang masih tertempel. Serunya lagi dikasih paku semaca paku tekan, sehingga nampak gimanaaaaa gitu.



Sofa celana jin itu kemudian mengisi ruang tamu Pohon Tua dengan cantiknya. Banyak yang memuji, dan saya cuma bisa bilang, itu dibikin sama Om Fals, meskipun ide awalnya dari saya. Toh saya juga tidak pandai bermain-main dengan dunia pertukangan hahaha. Makanya, pada pos ini pun saya tidak menulis langkah-langkah membikin sofa celana jin, karena memang tidak tahu caranya. Itu urusannya Om Fals.

Baca Juga: Mempermudah Hidup Dengan Life Hack

Jadi, kalau di rumah kalian ada banyak celana jin yang tidak terpakai lagi entah karena sesak entah karena ada yang sobek entah karena bosan, jangan dibuang. Manfaatkan untuk membikin barang-barang DIY. Kalau bingung, tinggal buka Youtube dan mencari inspirasi di sana. Kalau masih bingung juga, baca-baca pos di blog saya. Siapa tahu ada yang nyangkut di kepala.

Selamat berkreasi!

#RabuDIY



Cheers.

Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca


Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca. Sepertinya sudah berabad saya tidak menulis tentang dunia Do It Yourself (DIY) di #RabuDIY. Padahal, banyak yang ingin ditulis, baik hasil kreasi sendiri maupun orang lain. Maklum lah ya, padatnya jadwal liputan ditambah keasyikan kembali memainkan Virtual Villagers 5, membikin saya jadi begini. Halaaah. Haha. Sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak nge-game tapi tetap saja masih bisa dipengaruhi sihir game. Pekerjaan meliput sana-sini hingga ke luar kota itu memang menguras energi dan nge-game sebenarnya salah satu remedy selain nge-blog. Membela diri.

Baca Juga: Pesanan Barang DIY yang Berkembang Biak dan Senada

Waktu Jum'at kemarin meliput kegiatan di Desa Ngegedhawe, kalian bisa baca pos berjudul Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe, saya menemukan barang-barang alias asesoris yang dibikin sendiri oleh para peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di sana. Bahkan sambil menunggu kedatangan Bupati Nagekeo, beberapa peserta masih membikin papan tulis mini! Kreatif sekali mereka, dan itu menginspirasi saya menulis pos hari ini.

Papan Tulis Mini


Orang sering menyebutnya mini blackboard. Sudah sering saya mengimpikan papan tulis mini semacam ini. Dari hasil berselancar di dunia maya, oh tentu Youtube punya porsi terbesar, suka sekali saya melihat berbagai fungsi papan tulis mini. Selain penataan rumah yang menggunakan papan tulis mini, kafe-kafe juga sering menggunakannya untuk menulis berbagai menu yang tersedia pada hari bersangkutan. Sering nonton video tentang food truck? Hyes! Papan tulis mini sangat berguna untuk menginformasikan kepada calon pembeli tentang makanan yang ready serta harganya.

Papan tulis mini ini semacam marka yang sebenarnya tidak perlu, tetapi dibutuhkan untuk mempercantik rumah. Karena bagaimanapun orang yang datang ke rumah kita pasti sudah tahu fungsi setiap ruangan: ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, dapur, kamar mandi, dan lain sebagainya. Orang tidak perlu harus melihat keterangan pada papan tulis mini itu terlebih dahulu. Tetapi ada sensasi estetika yang membikin papan tulis mini mengimbuh aura positif di dalam rumah kita. Iya, itu pendapat pribadi saya. Hehe.

Di Rumah Baca Sao Moko Modhe, papan tulis mini mengisi ruang dalam tempat buku-buku tersimpan di rak. Pada hari itu pun beberapa mahasiswa masih membikin papan tulis mini ini (sudah saya tulis di atas, tetapi harus diulang, hahaha).


Melky, salah seorang mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019, terkejut waktu saya menghampiri dan bertanya: kalau dijual, berapa harganya per buah? Mungkin dia dan teman-temannya tidak menyangka saya bakal bertanya demikian. Mungkin mereka belum melihat peluang usaha dari papan tulis mini hasil bikinan sendiri itu. Menurut Melky, saya bisa membeli papan tulis mini dengan harga sekitar Rp 25K/buah. Hwah, murah lah menurut saya. Langsung pesan sepuluh papan tulis mini yang nanti bakal dia antar ke rumah kalau sudah selesai pengerjaanya. Hurayyyy!

Aneka Hiasan Dinding


Yang juga tidak kalah menarik dari Rumah Baca Sao Moko Modhe adalah aneka hiasan dindingnya. Jelas itu semua dibikin sendiri oleh mereka. Bisa kalian lihat pada gambar di bawah ini:





Sederhana namun indah kau mencintaiku. Eh, itu lirik lagunya Anji haha. Sederhana namun indah untuk menghiasi sebuah rumah baca di pelosok. Bahkan yang tulisan Let's Read itu mengingatkan saya pada zaman dahulu kala, saat saya masih SD, membantu (alm.) Kakak Toto Pharmantara membikin logo Telkom (logo lama) menggunakan kertas hasil dari alat pelubang kertas itu. Dominasi warna biru: biru tua, biru muda, dan putih. Saya betul-betul menginspirasi saya untuk membikinnya juga nanti, sekalian bernostalgia. Seperti akan sangat keren kalau tulisan BlogPacker dibikin seperti itu. Tulisan yang diisi dengan potongan kertas. Potongan kertasnya bisa berbentuk serampangan bisa juga hasil dari kertas hasil alat pelubang kertas.

Baca Juga: Andaikan Ada Seorang Saja Thomas Dambo di Kota Ende

Yang lupua saya foto adalah gantungan hiasan pada bagian teras rumah baca ... yang terbuat dari gelas plastik bekas minuman. Nanti deh kalau sempat ke sana lagi. Insha Allah.

⇜⇝

Dunia kreativitas, dunia seni, adalah dunia tanpa batas. Selalu ada yang bisa dihasilkan oleh orang-orang kreatif meskipun dengan bahan seadanya. Bahkan dalam konsep DIY, bagaimana kita bisa memanfaatkan apa yang ada, menjadikannya barang berdaya guna lebih, bahkan bisa mendatangkan Rupiah. Jangan salah, saya sudah pernah menikmati jutaan Rupiah hanya dari barang bekas semacam kertas koran, majalah, kardus, botol plastik, gelas plastik, dan lain sebagainya. Seperti yang sudah sering saya tulis: yang dibutuhkan hanyalah percikan kreativitas.

Selamat mencoba!



Cheers.