Jaga Waka Nua


Event keren Triwarna Soccer Festival (TSF) 2019 telah berakhir 1 April kemarin. Meskipun demikian, gaungnya masih terdengar sampai hari ini. Masih banyak orang membicarakannya. Mulai dari kemenangan Ende Selatan FC (Kelurahan Ende Selatan), pagar tembok yang kini dipenuhi karya seni mural, keuntungan yang diraup khususnya oleh para pedagang asongan yang wara-wiri di dalam Stadion Marilonga, hingga UMKM dan komunitas yang diberi ruang stand/tenda pameran oleh panitia. Sungguh TSF dengan agenda utama laga sepak bola yang memperebutkan Piala Bupati ini terpatri di lubuk hati masyarakat Kabupaten Ende, dan menjadi semacam pengantar acara Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Ende (kemenangan petahana) pada tanggal 7 April 2019.

Selamat, Bapak Marsel Petu (Bupati) dan Bapak Djafar Ahmad (Wakil Bupati). Selamat melanjutkan pekerjaan yang telah Bapak berdua mulai dan terus melakukan perubahan positif pada Kabupaten Ende. Kami bangga.

Baca Juga: Fair Play Flag

TSF yang telah menggeliatkan berbagai lini khususnya perekonomian di Kabupaten Ende, bisa kalian baca pada pos TSF 'Story, punya satu jargon keren yaitu Jaga Waka Nua. Jargon ini melekat pada kaos panitia, pada baliho-baliho, pun pada banyak bendera supporter. Ya, kami harus jaga waka nua! Jadi, tidak heran jika mendadak mendengar ada yang nyeletuk: ideeee ma'e pemata, jaga waka nua hekow (duh, jangan berantem, jaga martabat kampung kita).

Jaga Waka Nua


Jaga waka nua merupakan jargon paling tepat pilihan panitia/penyelenggara. Saya salut sama yang menetapkan jargon ini, hahaha. Dan bagi saya, jaga waka nua ini punya banyak makna, kalau diresapi dalam-dalam. Secara etimologi, jaga waka nua yang terdiri dari tiga suku kata berarti menjaga martabat kampung.


Jaga = menjaga.
Waka = martabat/harga diri.
Nua = kampung.

Martabat/harga diri yang seperti apa yang harus dijaga? Itu yang akan saya jelaskan pada pos ini. Tentu dari sudut pandang saya pribadi. Dan sudut pandang dinosaurus juga. Apabila kalian Orang Ende, membaca pos ini, dan merasa tidak setuju dengan pos ini, silahkan tulis sendiri pendapat kalian tentang jaga waka nua, dan bagi tautan blog-nya pada saya. Tentu bakal saya baca. Berbagi pendapat tidak pernah merugi bukan?

Bilah Pemerintah


Dari pandangan mata saya pribadi, Kabupaten Ende merupakan kabupaten yang identik dengan turnamen sepak bola. Sebut saja, Universitas Flores (Uniflor) punya Ema Gadi Djou Memorial Cup (EGDMC), lantas ada pula Muthmainah Cup, dan turnamen lainnya antara lain Suratin Cup. Tahun 2017, Kabupaten Ende boleh berbangga dengan menjadi tuan rumah dari turnamen besar bernama El Tari Memorial Cup 2017 (ETMC) yang melibatkan semua kabupaten se-Provinsi Nusa Tenggara Timur. Standar Kabupaten Ende dalam ETMC 2017 sungguh luar biasa; penjemputan setiap kontingen dengan tari-tarian dan bahasa adat, launching atribut yaitu Burung Gerugiwa dan bola raksasa dengan perhentian yang melibatkan adat-istiadat, pertandingan di Stadion Marilonga yang berumput hijau - bahkan dapat dilakukan malam hari, hingga live streaming! Standar itu, dalam skala Provinsi Nusa Tenggara Timur, sangat tinggi.

Waka nua kami saat ETMC 2017 benar-benar terangkat dan terjaga dengan sangat spektakuler. Bukannya melebih-lebihkan, namun memang demikian adanya.

Baca Juga: Pola Timbal Balik

TSF 2019 harus mampu menandingi, atau harus melebihi, standar yang tercipta dari ETMC 2017 tersebut. Meskipun tanpa penjemputan kontingen setiap kecamatan dikarenakan ini adalah turnamen 'antar saudara kandung', namun kemeriahan dan pernak-pernik TSF 2019 mampu melebihi ETMC 2017. Kami harus menjaga waka nua ini. Jangan sampai malu-maluin bangsa dan negara haha. Oleh karena itu launching atribut TSF 2019 dilakukan sama persis pada saat ETMC 2017, yang dimulai dari Lapangan Perse (Kecamatan Ende Utara), diterusan dengan jalur yang telah diatur berikut perhentian setiap kecamatannya hingga berakhir di Stadion Marilonga. Sambutan dalam suasasa (bahasa adat) pun luar biasa.

Selain ajang sepak bola, TSF juga punya dua mata acara lain yaitu Lomba Mural dan Pameran dengan tema Bego Ga'i Night. Jujur, festival semacam ini memang hal yang baru bagi masyarakat Kabupaten Ende namun sekaligus merupakan sesuatu yang juga ditunggu-tunggu. Karena, kata orang, kami Orang Ende ini haus hiburan. Hahaha.

Jaga waka nua juga diwujudkan dalam bentuk kepanitiaan yang solid dan mampu bekerja dengan sangat baik sehingga tidak memalukan apa lagi sampai membanting harkat dan martabat. Maklum, saya melihat kebanyakan anggota panitia adalah orang-orang yang tahan banting dan pernah bekerja pada kepanitaan turnamen sepak bola juga. Jadi, urusan-urusan yang berhubungan dengan TSF 2019 ini bukan hal yang baru yang bikin kaget.

Bilah Pemain


Jaga waka nua tidak saja bermakna pada bilah pemerintah seperti yang tertulis di atas, tetapi juga bermakna untuk para pemain sepak bola dari setiap klub (kecamatan). Artinya ... my game is fair play! Iya, itu kesimpulan besarnya. Para pemain harus menjaga waka nua-nya melalui permainan-permainan yang ciamik alias tidak membikin malu. Kalah tidak mengapa, asal jangan sampai kalah total tanpa perlawanan yang imbang. 

Sekali dua memang terjadi ketegangan di tengah lapangan, hal-hal semacam itu acap tidak dapat dihindari, tetapi dapat diatasi oleh perangkat pertandingan. Kami yang berada di luar lapangan tidak punya kuasa kan hahaha. Pokoknya, para pesepakbola dari setiap klub pada TSF 2019 ini betul-betul jaga waka nua. Bayangkan jika pertandingan harus diperpanjang waktunya dan masih seri, sehingga harus dilakukan adu pinalti yang cukup panjang karena seri pula, sungguh terlalu. Hahaha. Saya yang akhirnya ikut menonton pun deg-degan.

Bilah Masyarakat


Dari bilah masyarakat, jaga waka nua berarti setiap orang harus mampu menjaga martabat/harga diri kampungnya. Kampung di sini berarti kecamatan asal maupun kecamatan domisili. Masyarakat yang dilingkupkan menjadi penonton dan supporter harus mampu bersikap kooperatif terhadap jalannya pertandingan dan hasilnya. Jangan sampai terjadi antara 'saudara kandung' saling kelahi haha. Jadi, sejauh saya menjadi panitia TSF 2019, tidak terjadi perkelahian yang berarti. Maksudnya, satu kali perkelahian terjadi di luar Stadion Marilonga hanya karena salah ucap dan ketersinggungan. Itu pun langsung diamankan oleh para aparat.

Secara umum, event Triwarna Soccer Festival menuai kritikan positif dari banyak orang, baik masyarakat Kabupaten Ende sendiri maupun yang dari luar.


Demikianlah tentang jaga waka nua yang selalu digaungkan saat event Triwarna Soccer Festival. Sebuah jargon dengan spirit dan makna yang sangat dalam. Dengan menjaga waka nua, maka kita niscaya mampu mewujudkan jargon Kabupaten Ende yaitu Ende Sare Lio Pawe. Dan saya pikir, kita semua sebaiknya menjadi orang yang bisa menjaga waka. Setuju? Yang setuju lekas komeeeen haha.

Baca Juga: Manis Akustik

Semangat Senin, kawan.


Cheers.

Triwarna Soccer Festival


Mumpung ada sedikit jeda waktu, boleh kan ya hari ini saya lebih giat menulis, salah satunya tentang Triwarna Soccer Festival. Ini adalah sebuah event keren yang bakal diselenggarakan di Kota Ende sebagai Ibu Kota Kabupaten Ende. Sebenarnya, apa itu Triwarna Soccer Festival? Mari, saya coba jelaskan satu-satu.

Triwarna


Triwarna. Tiga warna. Kalau kalian jeli, tanpa membaca penjelasan lebih lanjut pun pasti sudah tahu apa maksud atau makna dari Triwarna ini. Triwarna atau tiga warna merupakan ikon Kabupaten Ende yang kesohor hingga ke Riomaggiore. Kata Bupati Ende Bapak Marsel Petu, hewan komodo (dan dinosaurus) masih mungkin bisa dipindah dari satu tempat ke tempat lain tetapi Danau Kelimutu dengan tiga kawan dan tiga warna berbedanya itu, tidak mungkin dapat dipindah dari Kabupaten Ende ke ... ke Riomaggiore ... misalnya.

Baca Juga: Di SMK Tarbiyah Kami Berdoa Bersama

Betul sekali! Triwarna merupakan istilah lain dari Danau Kelimutu.

Soccer


Sepak bola. Jadi, sebenarnya di Kota Ende bakal digelar Bupati Cup, perhelatan olah raga sepak bola yang melibatkan klub sepak bola dari semua kecamatan di Kabupaten Ende. Akan tetapi dikarenakan perhelatan sepak bola tanpa embel-embel festival bakal berjalan begitu-begitu saja cenderung membosankan bagi yang kurang suka sepak bola tapi pengen merasakan keriuhannya, maka kata festival harus ditambahkan. Bukan hanya kata ... wujudkan suasana festival itu!

Festival


Selama kurang lebih sebulan, Stadion Marilonga kebanggaan kami itu bakal ramai sangat dengan bermacam kegiatan dalam embel-embel festival ini. Kegiatan itu antara lain:

1. Pameran.
2. Lomba Mural.
3. Panggung Komunitas.

Yang nomor tiga saya belum tahu nanti bakal seperti apa. Yang jelas sudah ada dalam benak saya betapa ramainya hari-hari Triwarna Soccer Festival kelak. Eh, sudah di depan mata dink! Maret!

Lalu, Apa Hubungan Saya Dengan TFS?


Universitas Flores, di bawah naungan Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) merupakan nama penyelenggara kegiatan sepak bola yang tidak perlu diragukan lagi manajemen dan personilnya. Oleh karena itu, sama halnya dengan El Tari Memorial Cup yang melibatkan semuah kabupaten se-Provinsi Nusa Tenggara Timur, Triwarna Soccer Festival pun melibatkan dua pihak sebagai panitianya yaitu Pemda Ende dan Uniflor. Ya, tebakan kalian benar, saya juga dipilih sebagai Panitia TFS bagian Lomba Mural. Horeeee akhirnya saya tidak ditempatkan di bagian Publikasi dan Dokumentasi. Yuhu sekali kaaaan. Dapat pengalaman baru.

Tim Lomba Mural


Di dalam tim Lomba Mural ini ada lima orang yang dilibatkan:

1. Violin Kerong.
2. Om Yonk (Komunitas Mural Ende).
3. Cesar Sarto.
4. Rolland.

Dan kelima adalah saya sendiri. Kami sudah selesai menyusun RAB dan sudah di-ACC untuk pembiayaan hadiah dan lain-lainnya dan bakal pertemuan lanjutan untuk pemantapan termasuk pendaftaran hehe. Duh, harus sesegera mungkin bikin pamflet. Saya malah bantuin tim Pameran bikin pamflet buat pendaftaran:


Bikinnya pakai apa, saudara-saudara? Pakai Canva, donk hehe. Terima kasih Canva, sudah sangat menolong saya selama ini.


Bagaimana Lomba Mural itu, sejauh mana persiapan, apa-apa saja yang harus kami persiapkan sebagai panitia, akan saya pos di lain kesempatan. Karena saya masih punya tugas ke Timur Pulau Flores, jadi harus bisa membagi waktu antara Tim Promosi Uniflor 2019 dengan Triwarna Soccer Festival. Hanya bisa berdoa semoga Allah SWT selalu melimpahkan kesehatan agar saya dapat menyelesaikan semua urusan/kegiatan dengan baik.

Baca Juga: Ponpes Walisanga Yang Penuh Warna

Oia, saya ganti template nih ... bagaimana pendapat kalian? Hehe.



Cheers.