Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru


Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru. Hal itu saya saksikan sendiri saat meliput kegiatan mahasiswa KKN-PPM di Dusun Detubapa, Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Sungguh menyenangkan menjadi tukang liput kampus, karena selain  tidak diam di ruangan dan bisa jalan-jalan ke luar kota, tambah ilmu itu berhukum fardhu'ain. Ya memang tambah ilmu lah, karena saya harus turut menyaksikan dan mendengarkan seluruh proses kegiatan, baik itu seminar/workshop hingga pelatihan ini itu, bahkan bisa memperoleh data yang disusun dalam bentuk slide maupun hardcopy, untuk bisa menulis berita yang bakal dipos di ragam media sosial dan website-nya Universitas Flores (Uniflor). Berita adalah tentang fakta yang harus berimbang. Bukan begitu?

Baca Juga: Terminal Stopkontak Ini Bisa Berotasi dan Mengecas HP

Sebelum melanjutkan tulisan ini, kalian boleh membaca pos Senin kemarin.

Baiklah.

Dari dua puluh mahasiswa, sejumlah lima belas peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang ditempatkan di Desa Wolofeo berasal dari Progi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Uniflor. Sebagian lagi yaitu lima mahasiswa berasal dari tiga program studi di Fakultas Ekonomi. Program kerja mereka di Desa Wolofeo pun tidak jauh-jauh dari dunia para petani yang mengelola lahan seperti sawah, kebun kopi, kebun kakao, kebun sayur, kebun cabai, dan lain sebagainya. Bahkan di Dusun Detubapa terpeta satu kebun contoh milik pemerintah daerah. Keren kan? Lebih keren lagi adalah Fakultas Pertanian juga punya satu perkebunan contoh di daerah Lokoboko! Makanya kuliah di Uniflor saja. Haha.

Kenapa saya menulis teknologi pertanian itu sangat menarik dan seru? Karena mendengar penjelasan mahasiswa maupun penjelasan Ibu Yus sebagai Dosen Pendamping Lapangan (DPL) dalam menjawabi pertanyaan warga Dusun Detubapa sangat luar biasa. Ibarat sedang menonton filem favorit. Ada dua hal paling menarik dan seru bagi saya. Yang pertama: menekan angka hama pada buah kakao. Yang kedua: cara memerangkap lalat pengganggu tanaman.

Anyhoo, sudah tahu filem favorit saya sekarang?

UPIN IPIN!

Menekan Angka Hama pada Buah Kakao


Saya tidak tahu nama hamanya. Bisa lalat, bisa juga yang lain. Yang jelas seorang bapak warga Dusun Detubapa, dengan topi kupluknya yang khas karena berposisi miring, bertanya tentang buah kakaonya yang rusak. Rusak di sini, si buah masih terlihat hijau sebagian pada bagian tangkai, dan kuning sebagian. Kadang buah kakaonya terlihat matang/masak tetapi ternyata busuk di dalam. Gara-gara itu, produksi kakaonya menurun dari tahun ke tahun. 

Menurut Ibu Yus, buah kakao yang terserang hama ini memang sulit karena induk melepas telur pada lekukan kulit buah kakao, lantas telur itu menjadi ulat, dan ulat itu yang bakal menggerogoti kulit buah hingga ke dalam. Ternyata teknologi yang digunakan untuk menekan angka hama dimaksud sangat sederhana. Oleh karena itu apabila pohon kakao berbuah dan buahnya hendak matang, buah tersebut dibungkus dengan plastik gula dan diikat pada bagian tangkai sedangkan bagian bawahnya tidak perlu diikat. Mengapa bagian bawah tidak perlu diikat? Melihat dari pola terbangnya induk yang sudah pasti menukik (ke bawah ya haha).

Dengan membungkus buah kakao dengan plastik gula tersebut, otomatis saat si induk sedang menukik hendak menyerang Negara Api langsung menabrak plastik. Hehe. 

Mengenai plastiknya, kami menyebut plastik gula, bisa dibeli di toko dalam bentuk roll dan dipakai sesuai kebutuhan (ukuran panjangnya). Harganya relatif murah. Murah tapi bisa membantu petani menekan angka hama pada buah kakao. 

Daya Tarik Seksualitas Palsu Lalat Betina


Ini menarik sekali. Saya sampai senyum-senyum sendiri. 

Ketika tanaman diserang hama lalat, terutama buah, memang sangat menjengkelkan para petani karena berpengaruh pada hasil panen. Oleh karena itu ketika ada warga Dusun Detubapa yang bertanya perihal lalat ini, seorang mahasiswa dibantu Ibu Yus menjelaskan cara membikin perangkap lalat jantan yang teknologinya super sederhana. Yang dibutuhkan hanyalah botol plastik bekas, sejumput kapas, kawat untuk mengikat botol plastik di tonggak, serta sebuah cairan bernama Petrogenol

Saya menyebutnya Petrogenol yang bahenol karena mampu memikat lalat jantan dengan daya seksualitas palsunya!

Botol plastik diberi lubang dua buah pada badannya, lalu diisi sedikit air, dan sejumput kapas tadi disuntik sekian cc (ukuran pastinya saya lupa, yang jelas sedikit saja) dan diletakkan di dalam botol, kemudian botol diikat dengan kawat di tonggak, horisontal. Posisi horisontalnya sedikiiiiit miring. Petrogenol inilah daya seksualitas palsu yang bakal menarik lalat jantan yang hendak menyerang Negara Tanah buah. Saat hendak menyerang buah, mencium aroma si betina palsu, langsung berbalik arah ke botol plastik dan masuk perangkap.

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Amboiiii. Begitu sederhananya teknologi membikin perangkap lalat yang bisa membantu petani agar hasil panennya tetap berlimpah.

⇜⇝

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernahkah kalian berurusan langsung dengan dunia para petani? Pernahkah kalian juga menyaksikan betapa menarik dan serunya teknologi (sederhana) pertanian itu? Bagi tahu donk di komen hehehe :)


#SelasaTekno



Cheers.

Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga


Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga. Ketika menyaksikan kegiatan itu, saya langsung teringat sama lagu Kolam Susu yang dinyanyikan Koes Plus. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Jangan memandang lirik lagu itu secara harafiah karena mustahil tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Lirik yang pendek itu punya makna yang sangat dalam. Dan makna itu saya temui ketika meliput kegiatan peserta KKN-PPM di Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, tepatnya di Dusun Detubapa.

Baca Juga: Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling

Selasa, 27 Agustus 2019, pukul 07.45 Wita saya dan Thika berangkat ke Dusun Detubapa karena kegiatan dimaksud dilaksanakan di rumah kepala dusun. Dusun ini terletak di pinggir jalan raya trans-Flores dan rumah kepala desa hanya sekitar tiga puluh meter dari jalan raya. Dari Kota Ende pun waktu tempuhnya hanya sekitar dua puluh lima menit. Akan tetapi perjuangan menuju rumah kepala dusun cukup berat karena begitu banyak guk-guk menggonggong. Haha. Lucunya, saya heboh teriak-teriak karena kuatir digigit guk-guk sedangkan Mama-Mama di situ dengan santai bilang: tenang, Ibu, anjingnya tidak gigit. Amboi, Mama, yang namanya guk-guk, meskipun super jinak, saya bakal menjauh kayak ketemu tukang kredit dinosaurus.


Tiba di rumah kepala dusun, sudah ada mahasiswa KKN-PPM yang sedang menyiapkan bahan ini itu. Sekalian sambil bertanya-tanya sambil menunggu Dosen Pendamping Lapangan (DPL) tiba. Sekitar pukul 10.00 Wita barulah kegiatan dilaksanakan.

Kegiatan apa sih?

Mari baca ...

Pembuatan Pupuk, Pestisida, dan MOL


KKN-PPM merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang tidak 100% hanya mengandalkan mahasiswa saja melainkan partisipasi dan keaktifan warga. Kalau KKN reguler itu umumnya semuanya berada di tangan mahasiswa, kalau KKN-PPM lebih kepada pemberdayaan masyarakat desanya sendiri. Oleh karena itu, warga Dusun Detubapa harus aktif dalam kegiatan pembuatan pupuk dan pestisida. Mahasiswa menyiapkan bahan, mengarahkan, memperhatikan, dan membantu. DPL akan mengoreksi bila ada kesilapan dari mahasiswa dalam menjelaskan dan hal itu biasa karena mahasiswa pun masih dalam proses belajar kan.


Menariknya, semua bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk cair, pupuk padat, pestisida nabati, dan MOL, berasal dari alam raya. Sebut saja daun sirsak, daun jagung, daun kirinyuh, lengkuas, tanah daerah perakaran, kotoran sapi (ternak lainnya), rumen (isi perut/usus) sapi, dedak, gula pasir, hingga air kelapa. Bahan lainnya hanya sabun colek dan terasi. Karena waktu itu MOL juga baru hendak dibikin secara alami, maka untuk pembuatan pupuk sementara masih memakai sedikit M4 yang dibeli di toko. Nanti kalau MOL yang dibikin sudah jadi, warga tidak perlu lagi memakai M4 tetapi memakai MOL yang mereka buat sendiri itu.


MOL itu singkatan dari atau Mikro Organisme Lokal. Ini merupakan larutan hasil proses fermentasi dari berbagai jenis bahan-bahan organik. Larutan MOL mengandung bakteri, perangsang pertumbuhan, unsur hara mikro dan makro, dan sebagai agens hayati pengendali hama dan penyakit tanaman.

Paham kan sekarang mengapa saya menulis judul memang betul orang bilang tanah kita tanah surga? Alam raya menyediakan, kita memanfaatkannya. Semoga dengan kegiatan ini warga Dusun Detubapa yang rata-rata adalah petani bisa menghemat biaya karena ketimbang membeli pupuk, pestisida, dan MOL di toko, mereka bisa membikinnya sendiri. Yang diperlukan adalah keuletan dan kesabaran karena untuk pupuk cair misalnya dibutuhkan waktu hingga empat minggu hingga dapat digunakan atau diaplikasikan ke tanaman.

Petani Cerdas


Kalau kalian masih memandang petani itu orang kampung, tolong singkirkan segera pikiran itu karena kalian salah dan kalian kampungan. Warga, bapak-bapak, para petani, yang saya lihat di Dusun Detubapa itu rata-rata cerdas dan trendi. Mereka punya segudang pertanyaan yang menuntut jawaban, serta tidak lagi tanpa alas kaki ke kebun tetapi memakai sepatu boot karet favorit saya kalau musim hujan tiba itu. Jadi waktu kegiatan, ada bapak-bapak yang segera balik dari kebun demi memperoleh ilmu dari mahasiswa KKN-PPM ini.



Tentu dengan kegiatan yang dilaksanakan itu, para petani bakal semakin cerdas dalam hal pengelolaan dan perawatan lahan mereka. Insha Allah.

Kudapan dan Makan Siang


Hari itu, saat proses pembuatan pupuk, pestisida, dan MOL, sedang berlangsung, tuan rumah menyuguhkan kudapan khas lokal yaitu pisang rebus, ubi jalar rebus, dan kopi/teh. Uh wow sekali ubi jalarnya manis dan bikin lidah menagih. Tentu, pisang dan ubi jalar ini bukan hasil membeli di pasar melainkan diperoleh dari kebun sendiri.



Makan siangnya pun tak kalah bikin lidah menagih. Terutama tumisan daun pepaya dan sambalnya! Ayam, ikan, tahu, sayur sawi, sudah sering saya makan. Tapi tumisan daun pepaya ini langka, manapula rasanya amboiiii. Memang betul orang bilang tanah kita tanah surga! Karena bahan-bahan tumisan sayur dan sambal itu diambil dari kebun sendiri. Mak, kapan kita bisa seperti orang desa ya ... punya lahan dan diolah sendiri.

⇜⇝

Kalau ditanya apakah saya mau tinggal di Dusun Detubapa? Ya mau saja lah haha. Terutama selama berada di sana saya tidak bisa menggunakan telepon genggam untuk berselancar di ragam media sosial karena sinyal 4G yang susaaaah sekali. Sinyal hanya bisa dipakai untuk menelpon dan mengirim pesan singkat. Ah, ternyata sumber internet masih jauh itu tak masalah ketimbang sumber air yang jauh. Haha. Hidup rasanya tenang sekali *ngikik*.

Baca Juga: Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya

Yang pasti harus diingat ... tanah kita memang tanah surga!


#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

5 Program KKN Uniflor Keren Dalam Pengabdian Masyarakat


Musim Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2019. Musim meliput hingga ke luar Kota Ende. Musim bersenang-senang bersama Onif Harem. Musim paling rajin mengganti oli di bengkel sampai digodain sama mas-masnya: olinya diminum sebagian kan(?). Musim pamer foto jalan-jalan. Haha. Yang jelas, belum musim liburan, meskipun kesannya jalan-jalan terus. Ini kerja, bung! Bung ... kuuuussss.

Baca Juga: 5 Kegiatan Kece Menyongsong Dies Natalis 39 Uniflor

Sejak mulai diberikan tugas untuk meliput kegiatan peserta KKN di berbagai daerah di Pulau Flores, saya sudah mulai pula mengumpulkan satu per satu program kerja yang menurut saya keren. Program kerja ini, selain KKN reguler (disebut begitu sih biasanya), ada yang memang termasuk dalam KKN-Tematik, ada pula KKN-PPM. KKN-PPM baru terlaksana tahun 2019 ketika proposal-proposal yang diajukan oleh P3KKN Uniflor lolos di Kemenristek Dikti untuk menerima dana hibah. Dana hibah ini bukan dipakai untuk keperluan dan kepentingan mahasiswa loh yaaaa, melainkan dipakai untuk menjalankan program kerja yang telah disusun dan/atau diusulkan untuk keperluan dan kepentingan masyarakat itu sendiri.

Dalam bidikan saya, ada 5 program KKN Uniflor keren dalam pengabdian kepada masyarakat. Mari simak!

1. Bangun Rumah


Ingat program televisi tentang bedah rumah? Di KKN Uniflor ada yang namanya bangun rumah. Bangun rumah dilakukan oleh kelompok KKN kelas pekerja (mahasiswa yang sudah bekerja). Tahap awal adalah mencari satu rumah yang tidak lagi layak huni di lokasi yang termasuk dalam lokasi KKN tahun bersangkutan. Inisiasi dilakukan dengan petinggi wilayah setempat seperti kepala desa dan/atau lurah beserta tokoh masyarakat. Si pemilik rumah kemudian diberitahu dan saat KKN tiba, pembangunan rumah pun dilakukan. Saya pernah menyaksikan sendiri pembangunan rumah Mama Sisi di Kecamatan Lepembusu Kelisoke. Luar biasa. Sampai mata berkaca-kaca melihatnya.

2. Penyuluhan


Penyuluhan terdengar tidak asing dan pasti sering dilakukan bukan? Tapi penyuluhan yang dilakukan murni oleh mahasiswa, terutama mahasiswa hukum, adalah sesuatu yang sangat luar biasa menurut saya. Bagaimana masyarakat diedukasi tentang pentingnya memahami tentang dunia hukum, yang paling sederhana pun, itu sangat bagus. Saya pernah meliput kegiatan ini di SMP Muhammadiyah Ende oleh mahasiswa KKN 2018.

3. Belajar Pertanian


Ini penting, terutama bagi masyarakat pedesaan yang rata-rata mempunyai lahan pertanian baik itu sawah maupun kebun. Saya melihat bagaimana mahasiswa KKN-PPM melakukannya di Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko. Rata-rata mahasiswa yang ditempatkan di lokasi ini pun berasal dari Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Uniflor. Demikian pula dengan Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Kegiatan mereka antara lain membuat pupuk bersama masyarakat hingga mengelola lahan. Ausam. Perlu diketahui, Uniflor mempunyai lahan luas sebagai kebun percontohan dan/atau tempat prakteknya mahasiswa Prodi Agroteknologi. Kita akan lihat hasil akhirnya nanti seperti apa. Yang jelas, pasti bakal saya pos.

4. Bangun Rumah Baca


Yang satu ini, juga poin nomor 3 dan 5, sama-sama KKN-PPM. Rumah baca tersebut dibangun di Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Proses pembangunan rumah baca dimulai dengan ritual adat oleh tokoh masyarakat dan/atau tokoh adat, tentu bersama para petinggi desa yaitu Kepdes, Sekdes, hingga Ketua PBD-nya. Setelah ritual, dilakukan peletakan batu pertama, dan rumah baca tersebu sedang dalam proses pembangunan (saat saya menulis ini). Semoga saya bisa ke sana saat peresmiannya! Ada yang mau menyumbang buku anak-anak? Yuk sumbang ke rumah baca baru di Desa Ngegedhawe!

5. Psikoedukasi


Awalnya saya bingung dengan istilah ini, tapi internet menyediakan segalanya. Jadi ringkasnya, psikoedukasi adalah pola/cara mengajak masyarakat dan/atau bersama-sama masyarakat mengenali apa permasalahan yang dihadapi selama ini, kemudian dicarilah solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Ini dilakukan di Desa Anaraja, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende. Hasilnya pun nanti pasti saya  pos. Ingin tahu perubahan dan penguatan dalam tubuh masyarakat setelah KKN-PPM ini seperti apa.

⇜⇝

Yang juga keren adalah, para peserta KKN pasti terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan adat yang dilaksanakan di desa. Kapan lagi bisa merasakan dan terjun langsung? Saya sendiri pernah merasakan dan mengikuti ritual adat Goro Fata Joka Moka 2016, serta menyaksikan perlombaan Naro (tarian adat Suku Ende, kalau Suku Lio menyebutnya Gawi). Menjelang 17-an, bakal lebih banyak lagi kegiatan yang akan dilaksanakan/dilakukan masyarakat tentu bersama-sama dengan mahasiswa yang KKN di lokasi mereka.

Baca Juga: 5 Wisata Dalam Kota Ende

Bagaimana dengan daerah kalian, kawan? Sudah memasuki Bulan Agustus ... persiapannya sudah mulai kencang dooonk hehehe. Bagi tahu yuk!



Cheers.