Teknologi Dasar yang Setidaknya Harus Dikuasai oleh Manusia


Saya pernah menulis tentang Teknologi Dasar. Inti dari pos itu adalah tentang bagaimana manusia zaman sekarang 'mereka-ulang' teknologi dan teknik dasar yang digunakan oleh manusia zaman purba untuk, misalnya, membangun rumah bahkan rumah bertingkat, membangun kolam renang dengan aliran air dari sumber mata air, membikin tempat pembakaran dan penyulingan tuak dari nangka dan beras, membikin api, memasak menggunakan batu dan bantuan panas matahari, dan lain sebagainya. Teknologi-teknologi dasar itulah yang menurut saya setidaknya memang harus dikuasai manusia. Terkhusus teknologi dan teknik membangun rumah.

Baca Juga: Re: Ease

Baru-baru ini dinding dapur belakang (dapur basah) rumah saya rubuh satu sisinya. Dinding itu tidak kuat menahan dorongan akar pohon yang tidak kami sangka terpeta diantara dinding dapur dengan tembok penyokong rumah tetangga sebelah atas. Tidak main-main akar pohon itu, setelah digali, besarnya bisa sepelukan tiga orang dewasa. Awwww. Pantas saja dinding rumah rubuh alias jebol. Tapi selalu ada hikmah dari setiap kejadian bukan? Alhamdulillah Mamasia yang saat itu sedang mencuci baju tidak tertimpa pecahan dinding. Alhamdulillah kami serumah jadi tahu teknologi dan teknik dasar membangun dinding.

Rumah Dua Musim


Pohon Tua, rumah induk keluarga Pharmantara, saya sebut sebagai rumah dua musim yang dikerjakan tidak secara bersamaan. Bagian belakang rumah terdiri atas ruang makan, ruang keluarga, dapur bersih, tiga kamar mandi (salah satunya kemudian berubah menjadi kamar), dua WC, dapur kotor, dan dua kamar tidur. Tembok bagian belakang ini dikerjakan sudah sangat lama oleh alm. Nene Linus (mertuanya Mamasia) tentu bersama alm. Bapa. Bentuknya temboknya 'bengkok' di mana-mana, dengan kayu-kayu penyangga yang simpang-siur serta tripleks-tripleks tua nan uzur. Sampai-sampai kami sering ngetawain rumah ini sambil guyon. Bagian belakang rumah dikerjakan pada 'Musim Harus Jadi' dengan lantai semen.

Bagian belakang: Musim Harus Jadi.

Bagian depan rumah, setelah direnovasi, terdiri atas teras, ruang tamu, dan dua kamar tidur. Bagian depan rumah ini dikerjakan juga masih oleh alm. Nene Linu dan dibantu (dimandori) oleh alm. Bapa, dengan tingkat kemiringan yang masih bisa mengelabui mata *ngakak guling-guling*. Bagian depan rumah ini dikerjakan pada 'Musim Jadilah Rumah yang Bagus' dengan lantai keramik dan atap yang lumayan tinggi.

Bagian depan: Musim Jadilah Rumah yang Bagus.

Jadi, kalau kalian datang ke Pohon Tua, akan menemukan rumah dua musim pengerjaan yang bentuknya secara estetika akan sangat jauh berbeda. Tapi, tetap saja rumah bagian belakang itu selalu menjadi tempat favorit untuk kumpul-kumpul karena rasanya hangat dan selalu penuh cinta *ditonjok dinosaurus*. Bukan berarti ruang tamu tidak nyaman dan hangat, tetapi kalian pasti tahu yang namanya ruang makan dan ruang keluarga selalu memberi perasaan nyaman yang 'lebih'.

12 Juni 2019


Pada tanggal keramat itu, saat saya sedang bekerja di kamar, terdengar suara gemuruh diiringi teriakan Mamasia yang kabur ke luar. Ternyata dinding dapur basah, paling belakang rumah, rubuh. Dinding yang rubuh itu hanya sekitar tujuh batako disusun sejajar saja tapi tetap lah membikin jantung kebat-kebit karena di sebelahnya ada dinding dengan bak air cuci piring menempel. Semua tenaga yang bisa diandalkan kemudian datang membantu memotong pohon ara yang berdiri, ternyata, diantara dinding dapur dan tembok penyokong tersebut.

Akar pohon ara ini sungguuuuh besar!

Keesokan hari, setelah dibersihkan, terlihatlah akar pohon yang super besar dan harus dipotong menggunakan mesin sensor. Parang biasa mah iwa negi, kata Orang Ende. Bisa kalian bayangkan, untuk memotong, membersihkan area pengerjaan, hingga sensor akar pohon membutuhkan waktu dua hari.

Kenapa Dikerjakan Sendiri?


Karena tukang yang seharusnya mengerjakannya ngambek dengan suatu alasan hahaha kemudian pulang ke rumahnya. Kata kakak ipar saya, Ka'e Dul, sudahlah kita kerjakan sendiri. Yang macam begini mudah saja asalkan tidak terburu-buru. Pasir, semen, batako, siap. Tenaga? Masa iya Ka'e Dul mengerjakannya seorang diri sedangkan Eda Tuke (suami Mamasia) sedang sakit? Maka hari Jum'atnya, tanggal 14 Juni 2019, kami serumah berganti profesi menjadi asisten tukang bangunan. Hahahaha.

Teknologi dan Teknik Dasar


Saya kira membangun dinding/tembok menggunakan batako itu mudah saja. Tinggal susun dan dilapisi campuran semen. Tidak begitu, kawan! Beruntunglah Ka'e Dul ini meskipun ASN tapi suka mengerjakan hal-hal semacam ini, yang sangat 'laki', jadi kami tidak susah hahaha. Mau memanggil tukang lainnya, dilarang Ka'e Dul, sudahlah dikerjakan sendiri saja. Aman saja. Ka'e Dul memang menguasai teknik menyusun dinding batako semacam ini, termasuk rumah mereka bagian belakang itu dikerjakan sendiri loh, hanya saja kondekturnya alias asisten yang tidak ada sehingga kami serumah bergotong-royong. Hyess, Encim and The Gank bahu-membahu dengan caranya masing-masing.

Misalnya pada hari pertama, Ka'e Dul dan Kakak Nani beserta calon anak mantu cs membantu membersihkan, termasuk Abang Nanu Pharmantara, Angga dan Mbak In, kemudian kami urunan untuk membeli material dan membayar biaya ini-itu. Have fun sekali.

Ayo, Thika!

Teknik dasar yang harus dilakukan adalah mengukur. Setelah mengukur, Ka'e Dulu mulai membikin mal dari kayu untuk menahan adonan awal/fondasi baru. Setelah itu baru diukur lagi rata atasnya, jangan sampai musim pertama terulang lagi hahaha. Tekniknya itu kadang kita yang awam tidak paham kenapa harus begini, kenapa harus begitu, kenapa ada selang pengukur, kenapa harus pakai besi, dan lain sebagainya. Pada akhirnya kami paham setelah dijelaskan oleh Ka'e Dul. Wah, sudah bisa nih kami jadi tukang bangunan.

Enu, si Serba Bisa.

Kerja bersama ini menjadi lebih ramai dan seru karena teman Thika yang tinggal bersama kami, namanya Enu, punya tingkah unik. Cewek bertubuh mungil ini ternyata ... luar biasa. Kerja apa saja bisa! Tapiiii posisi baju/atasan harus di dalam bawahan. RAPI JALI! Sumpah, saya ngakak guling-guling melihat tingkah si Enu yang serba bisa ini.

Tangan belepotan campuran semen, kaos tetap masuk dalam!

Urusan membangun dinding ini tidak terlepas dari campuran pasir dan semen yang takarannya sudah ditentukan oleh Ka'e Dul. Dan Kakak Nani tidak mau kalah membantu dengan kondisi tangan kirinya patah. Tangan kiri ini sudah dioperasi dengan memasang pen, tetapi harus dioperasi ulang karena pen-nya bergeser, tapi bergesernya bukan karena mencampur adonan semen ya hahaha.

Kakak Nani.

Dengan bangganya Kakak Nani bilang begini, "Biar saya yang campur adonan dengan air! Encim tugas siram-siram air saja. Untung saya bawa sekop mini andalan ini." Hahaha. Love you, Kak.

Dua cewek ini 'sudah tidak ada obatnya kalau ketemu kamera'.

Betul juga kata Ka'e Dul. Dikerjakan sendiri, pelan-pelan, jadi juga. Buktinya, meskipun asistennya rada-rada berotak miring semua, dinding itu berdiri juga dan sekarang hanya tinggal mengerjakan ini itu yang sedikit lebih detail.

Ini foto haru Jum'at kemarin sih. Sekarang sudah selesai.

Kerja bersama, ramai-ramai, memang selalu menyenangkan, apalagi bersama keluarga besar. Senangnya lagi, kami selalu ditemani dengan kopi/teh dan pisang-kapuk-mentah goreng dan sambal khas Enu! Yuhuuuu. Pisang mentah ini belum ada lawannya lah kalau sore hari duduk mengaso bersama keluarga. Selain itu, menu harian juga diatur bersama. Biasanya kan hanya saya dan Thika yang mengaturnya. Kali ini ditambah Kakak Nani. Misalnya hari ini sop buntut dan semur, besok ayam goreng tepung dan tumis sawi, besoknya ikan, dan seterusnya. Alhamdulillah ngidam saya pengen makan sayur nangka santan (gudeg tapi beda sedikit sih bumbunya) dicampur buntut sapi pun kesampaian. Hyess! Haha. Selama ini kan males banget masak yang repot begitu, seringnya lauk digoreng dan dibumbu sama sayur ditumis saja.

Baca Juga: Pemateri Blog

Selalu ada hikmah :D

Jadi demikian, kawan, pos #SelasaTekno sekalian curhat tentang dinding dapur belakang yang rubuh itu. Semoga tidak bikin kalian kesal ya hahaha. Setidaknya saya sudah paham betul tentang teknologi dan teknik dasar membangun dinding rumah. Jadi kepikiran membangun rumah mini ... lebih mini dari rumah tipe 36 yang mulai saya lirik meskipun harus mengangsur *dicipok dinosaurus*. 




Cheers.

Horeday #3: Pharmantara Big Family and Happy Eid Raya


Hari ketiga HOREDAY: Kisah-Kisah Saat Horeday. Saya memang mengkhususkan seminggu ini untuk bercerita hari-hari liburan seru, tak selamanya tentang Hari Raya Idul Fitri itu sendiri, yang saya alami baik bersama keluarga maupun bersama teman-teman. Kisah lainnya bisa kalian baca (di bawah ini):


⇜⇝

Idul Fitri. Hari yang ditunggu-tunggu oleh umat Muslim. Hari kemenangan setelah sebulan penuh, terutama laki-laki, menjalankan puasa mengalahkan segala hawa nafsu. Hari yang mempertemukan semua anggota keluarga Pharmantara! Asyik! Hehe. Seperti yang sudah sering saya tulis, kami memang tinggal di Kota Ende yang kecil, tapi masing-masing punya kesibukan dan aktivitas harian/rutin. Otomatis tidak setiap hari kami bisa berkumpul haha hihi. Selain piknik setiap dua minggu sekali, Idul Fitri merupakan momen yang mempertemukan kami semua. Sayangnya Idul Fitri tahun ini keluarga Abang Nanu Pharmantara liburan ke Kota Kupang. Yah ... kurang ramai karena tidak ada Syiva haha.

Idul Fitri dimulai dengan sakit gigi. Ya, salah satu geraham atas gigi saya itu bermasalah. Pertama, berlubang. Kedua, sejak kepentok sikat gigi, jadi sering eror. Tapi meskipun malam sebelum Idul Fitri saya hanya tidur satu jam, pergi ke Lapangan Pancasila untuk Shalat Eid itu tetap dijalani. Alasannya? Ketimbang berusaha tidur dengan gigi nyut-nyutan, lebih baik tetap shalat dengan gigi nyut-nyutan. Setidaknya khusyuk selama sekitar sepuluh menit itu jauh lebih baik. Menurut saya. Haha. Gigi ini sungguh terlalu.

Sebagian dari kami, usai Shalat Eid.

Usai Shalat Eid kami mulai saling mencari-cari anggota lainnya untuk sama-sama berangkat ke pemakaman umum di Jalan Perwira. Sudah menjadi rutinitas setiap kali Idul Fitri; shalat ↠ ke makam Bapa, Kakak Toto, dan Wawan ↠ pulang ke Pohon Tua ↠ sungkem dan makan bersama ↠ pergi ke rumah Paman dan Bibi. 

Empat penghuni utama Pohon Tua.

Meskipun gigi sedang nyut-nyutan saya tetap menikmati makanan khas Idul Fitri yang kali ini agak berbeda. Tidak ada opor dan ketupat! Haha. Kami menyiapkan nasi, sup ayam, ayam tomat, sayur tumis, kering tempe, kerupuk, dan sambal. Betul-betul di luar kebiasaan. Memang sengajaaaa. Hal yang sama juga terjadi dengan beberapa kudapan; dua kudapan adalah kudapan tradisional.


Encim and The Gank, assshiaaap, yang memang hebring dan heboh ini membikin Pohon Tua yang biasanya sepi menjadi supeerrrrr ramai! Mengobrol, haha hihi, makan minum, saling ejek, tingkah para cucu, sampai yang pedekate *uhuk*, pokoknya momen itu selalu bikin kangen. Keluarga besar ini memang kocak, terutama saat sungkeman ke Mamatua. Banyak kali itu wejangan dan doa-doa serta tiupan-tiupan ke ubun-ubun *LOL!*. 

Shalat, sudah.
Nyekar, sudah.
Sungkeman, sudah.
Makan-makan, sudah.
Saatnya silaturahmi ke rumah Paman Bibi!

Di rumah Bibi Hawa dan anaknya Rudi Pua Ndawa (dan Aynun).

Kalian lihat tawa saya yang lebar itu? Itu palsu. Karena sesungguhnya gigi saya sedang berada di puncak tertinggi rasa sakit.

Mengunjungi rumah Paman dan Bibi diteruskan ke rumah orangtua anggota keluarga baru, yaitu orangtuanya Titin (isterinya Angga). Luar biasa di rumah orang para cucu membikin acara sendiri yang super heboh sampai semacam terjadi ledakan bom nuklir di rumah itu hahahahaha. Sumpah, saya hanya bisa tertawa sambil menahan sakit gigi. Sakit gigi yang luar biasa ini mengantar saya tidur di sofa ruang tamu rumah calon mertuanya Kakak Nani Pharmantara. Qiiqiqiqi. Sampai tuan rumah cukup repot pula melihat saya. Ah ... penuh cerita Idul Fitri kali ini.

Pulang ke Pohon Tua, setelah menegak salah satu pain killer, saya tepar sampai malam hari. Alhamdulillah Kakak Didi Pharmantara mau berlama-lama di Pohon Tua untuk menemani tamu. Katanya saya kerjain dia hahaha. Maklum lah, ketimbang saya memaksakan diri duduk bersama tamu dengan kondisi begini? 

Clue, salah seorang tamu: traveler of the century! Haha.

Keajaiban terjadi ketika Stanis datang ke rumah dan menyarankan Kataflam bubuk sekaligus dua sachet. Ini namanya kebetulan yang manis. Karena ... saya punya dua orang tamu, traveler, yang baru tiba dari Moni. Nah, mereka bakal menginap semalam di Ende (Stanis menyiapkan rumahnya, dan terima kasih banget untuk itu). Ketika mereka tiba, saya baru selesai menegak Kataflam bubuk itu (dicampur air donk) ... dan efeknya cukup cepat! Nyeri hilang. Sekitar pukul 21.00 Wita akhirnya saya dan Stanis menjemput sang tamu dan mengantar mereka beristirahat di rumah Stanis. Tentang tamu-tamu ini, nantikan kisahnya besok!

⇜⇝

Keluarga kami, Pharmantara beserta  keluarga lain akibat dari kawin-mawin yaitu keluarga Abdullah (suami Kakak Nani Pharmantara) memang selalu heboh dan kocak di setiap kesempatan. Bukan berarti kami tidak mengalami susah dan sulitnya hidup. Kami mengalaminya juga, termasuk berantem dan saling diam! Tapi darah yang kental ini tidak dapat encer hanya karena berantem kan ya. Dan saya bahagia memiliki mereka semua dalam hidup ini. Love them all.




Cheers.

Bukber Hebring


Sebelum memasuki Bulan Ramadhan, sudah tertulis di Arekune (T-Journal) tentang agenda buka puasa Keluarga Besar Pharmantara. Atau, kami lebih suka menulis: Encim and The Gank. Karena selain Keluarga Besar Pharmantara, di dalamnya juga ada Keluarga Abdullah Achmad, suami dari Kakak Nani Pharmantara yang lebih sering saya panggil Ka'e (Kakak) Dul. Kegiatan bukber ini tidak kami lakukan pada tahun kemarin. Saya pikir, bukber keluarga harus berjalan, karena sudah lama pula kami jarang ngumpul akibat pekerjaan dan kesibukan masing-masing orang. Maklum, semua keponakan saya sudah tidak bisa dijewer lagi kupingnya kan, sudah pada dewasa dan punya dunianya sendiri. Hehe.

Baca Juga: PBSI Belajar Ngeblog

Oleh karena itu, meskipun ada undangan bukber lain, saya harus tetap mengutamakan bukber keluarga besar kami, karena saya yang menggagasnya. Seperti Sabtu, 25 Mei 2019, ada tiga agenda bukber. Pertama: Pembubaran Panitia Triwarna Soccer Festival sekaligus bukber di Rumah Jabatan Wakil Bupati Ende Bapak Djafar Ahmad. Kedua: Pembubaran Panitia Bukber Alumni Spendu 94 Ende di Paradise Cafe. Ketiga: Bukber Pharmantara yang Hebring haha. Jelas saya harus merelakan dua agenda lainnya demi keluarga *tsaaaah* terbaca seperti cinta dan bela negara banget kan.

Minggu pertama Ramadhan, tepatnya Sabtu, 11 Mei 2019, bukber dilaksanakan di Pohon Tua. Rumah saya. Bukannya sebagai adik bungsu seharusnya saya mendapat jatah minggu terakhir Ramadhan? Itu kalau hitungnya ber-kakak-adek tapi karena di Pohon Tua masih ada Mamatua jadi Pohon Tua harus di'tua'kan. 

Minggu Pertama Ramadhan


Pohon Tua yang biasanya sepi dan lebih sering terdengar suara ana eda congklak serta sesekali suara Mamatua memanggil penghuni lainnya, kemudian menjadi ramai. Anak, cucu, dan cecenya Mamatua berkumpul sekitar pukul 17.30 Wita. Meskipun tidak semua, rasanya rumah kami yang biasanya terasa lapang mendadak sempit! Haha. Maklum, semua aktivitas ramai-ramai itu memang lebih menyenangkan dilakukan di bagian belakang (ruang keluarga) ketimbang ruang tamu. Sudah saya bilang, ruang tamu rumah saya itu semacam pajangan saja. Padahal ruang belakang itu tidak sebersih ruang tamu manapula lantainya itu lantai semen. Tapi tetap saja orang-orang pada suka ... lebih 'hangat' mungkin ya. Hehe.



Karena saat waktu berbuka tiba sebagian menu masih dimasak (supaya makanannya hangat saat disantap) saya tidak sempat memotret lagi menu-menu buka puasanya. Ya sudahlah. Next time.

Minggu Kedua Ramadhan


Minggu kedua, tepatnya Sabtu, 18 Mei 2019 bukber dilaksanakan di rumah kakak pertama Abang Nanu Pharmantara. Lagi-lagi, meskipun tidak anggota lengkap yang berkumpul, tetap saja suasana riuh dan hebring tercipta. Keluarga kami ini memang begini. Selalu ramai di setiap kesempatan yang diimbuh tingkah laku dua cecenya Mamatua Rara dan Syiva. Tidak bisa saya bayangkan keriuhannya jika Iwan dan Reny serta dua anak mereka Andika dan Rayhan datang ke Ende (karena mereka menetap di Kota Mbay - Kabupaten Nagekeo).




Hari itu saya tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah Rara, Indi, dan Syiva, meniru tariannya Black Pink (CMIIW). Kami masih bertahan hingga para lelaki pulang shalat Tarawih dari masjid loh! Dan kehebringan itu masih berlangsung hingga bukber ketiga Sabtu kemarin. 

Minggu Ketiga Ramadhan


Minggu ketiga Ramadhan, Sabtu, 25 Mei 2019, bukber dilaksanakan di rumah Ka'e Dul dan Kakak Nani Pharmantara. Undangan sudah disebar via WAG Encim and The Gank. Saatnya ngumpul lagi! Horeeee! Saya terpaksa meninggalkan dua agenda lain seperti yang sudah ditulis di atas. Ya gimana lagi doooonk. Ngumpul bareng keluarga itu terasa jauh lebih apa ya ... lebih gimana gitu. Hehe. Pokoknya kalau ada agenda ngumpul bareng keluarga, itu wajib!




Tetap ya, menu ikan bakar itu berhukum fardhu 'ain. Habis bukber kemarin, saya masih bertahan cukup lama juga di rumah Kakak Nani karena biasa ... sister punya urusan ... hehe.

Seharusnya masih ada cerita bukber minggu keempat di rumah Babe Didi Pharmantara, tapi sepertinya minggu keempat kami telah sibuk dengan kegiatan menjelang Idul Fitri sehingga ... lihat saja nanti. Soalnya keluarga Abang Nanu semuanya berlibur ke Kupang. Pengen juga sih Idul Fitri tidak ada di rumah, jalan-jalan, tapi Pohon Tua adalah 'pusat' dan orang-orang pasti datang ke rumah. Jaga kandang? Masih menjadi kewajiban saya hahaha.

Hiburan Rara dan Syiva


Rara dan Syiva ini memang selalu penghangat makanan suasana. Sayangnya saya belum mengkompilasi semua video mereka berdua, belum juga mengeditnya, dan belum mengunggahnya di Youtube. Mohon bersabar ya. Tapi kalau kita berteman di WA, sudah pasti kalian bisa melihat video dengan tingkah dua krucil itu di Status WA. Pokoknya, kedua krucil ini lah yang selalu hebring! Tanpa penampilan keduanya, suasana pasti hanya ramai-riuh saja, tidak sampai sehebring itu. Saya pasti ngakak parah setiap kali merekam (video) mereka berdua. Tingkah mereka sudah macam orang kesurupan begitu ... LOL!


Cerita tentang keluarga kami memang tidak ada habisnya, saya rasa demikian pula keluarga kalian. Bersama keluarga selalu ada suasana hebring yang tercipta, selalu saja menghangatkan jiwa, selalu saja bikin bahagia. Berantem antara kakak-adek itu biasa, yang tidak biasa adalah kembali saling merangkul karena darah tidak akan terputus begitu saja. Dan saya sudah mengalaminya ... pasang surut ... seperti itu. Tapi terpenting ... kita menikmatinya dengan ikhlas.

Baca Juga: Encim and The Gank

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi tahu donk suasana bukber keluarga kalian!



Cheers.

Encim and The Gank


Sudah tahu kan kalau saya dipanggil Encim oleh para keponakan yang lucu, imut, iseng, konyol, jadi pengen jambak satu-satu itu? Panggilan Encim ini kemudian tersebar ke mana-mana sehingga rata-rata saya dipanggil Encim alih-alih dipanggil Alanis Morissette Tuteh. Bahkan cucu-cucu pun memanggil saya dengan Oma Encim. Okay, stop it! Sounds very old I am! Dan karena saya adalah Presiden Negara Kuning dengan wilayah tak terbatas, sombong sedikit, maka jadilah sebuah kelompok bernama Encim and The Gank. Bukan nama grup musik, bukan nama girlband, bukan nama pemenang Nobel. Hanya nama sebuah kelompok kecil dari keluarga besar kami: Pharmantara yang bergabung dengan marga keluarga lain, kakak ipar saya, dari kawin-mawin.

Baca Juga: SUC Endenesia #1

Sebuah WAG kemudian dibikin dengan nama Encim and The Gank. Isinya tidak hanya saya dan para keponakan, tetapi juga Kakak Nani Pharmantara. Haha. Ini kakak perempuan saya satu-satunya kenapa pula nongol di WAG. Menariknya Encim and The Gank selalu kompak dan selalu punya ide-ide cemerlang dan rencana-rencana besar meskipun bermodal minim. Dan betapa bahagianya saya berada di tengah-tengah mereka, demikian pula yang mereka rasakan, karena kebahagiaan tidak diciptakan oleh orang lain tetapi oleh kita sendiri. Kalau kalian berteman dengan saya di WA, kalian pasti sering melihat tulisan atau foto atau video yang saya jadikan status WA. Banyakan sih tentang mereka; gank gila ini.

Encim and The Gank zaman dulu. Haha.

Sebelum Bulan Ramadhan ada saja pesan di WAG tentang piknik, piknik, dan piknik. Iya, kami semua memang ingin mengulang, seperti masa-masa dulu, piknik di pantai, piknik di kali, atau sekadar jalan-jalan ke luar kota menikmati jagung rebus. Karena, dalam seminggu pun belum tentu kami semua bertemu! Amboiiii padahal Ende sekecil ini. Maklum, semua keponakan saya punya kesibukan/pekerjaan sehingga kalau ada rencana kumpul-kumpul atau piknik begitu pasti ditanggapi dengan super antusias. Kiki, keponakan saya yang berprofesi sebagai bidan selalu meminta rencana dilempar sejak jauh hari agar dia bisa mengatur jadwal dinas.

Cieeeee segitunya demi keriuhan Encim and The Gank.

Piknik Saat Badai


Beberapa kali Encim and The Gank piknik tapi yang paling heboh itu piknik yang satu ini. Saya sudah mengunggah videonya di Youtube tentang piknik gila bin konyol ini. Tapi rencananya bakal saya hapus dulu dan disunting ulang karena ternyata musik yang saya pakai itu punya hak cipta. Ah, kenapa pula mereka menyebarkan musik-musik itu di internet!? Hihihi. Jadi bakal saya ganti musiknya dengan musik yang disediakan gratis oleh Youtube. Horeeeeee.

Sebelumnya, piknik di Pantai Aebai juga, dalam kondisi cuaca normal.

Nah, piknik ini memang ajaib. Keluarga kami punya aturan kalau sudah niat harus diwujudnyatakan. Seperti piknik di Pantai Aebai seminggu sebelum Bulan Ramadhan itu. Kami tahu langit mendung. Kami tahu langit bahkan sudah memainkan intro manis melalui rintik-rintik. Kami tahu angin kencang bertiup tak pakai perasaan serta ombak bergulung cukup hebat menimbulkan bunyi riuh tak terkira. Tapi niat harus terlaksana. Kloter pertama berangkat ke Pantai Aebai, lokasi yang sama dengan pertimbangan banyak yang jualan tempurung bekal membakar ayam dan ikan, dengan perasaan tak menentu dan banyak membaca doa agar langit kembali cerah.

Kloter kedua tiba dengan membawa terpal. Terpal yang ... sobek. Ha ha ha ha ha ... koplak. Beruntunglah terpal berhasil didirikan atas bantuan Kakak Ipar saya Kae Dul dan calon mantunya Solihin. Tentu dibantu oleh anggota gank yang tidak banyak memberi bantuan hehe. Tempurung berhasil dibakar demi mematangkan ayam dan ikan. Hore!

Di bawah lindungan terpal sobek. Haha.

Kelurga kami memang gila. Orang itu kalau hujan-hujan memilih untuk santai di rumah, nge-blog, ngopi, ngemil, tidur-tiduran. Keluarga kami malah memilih untuk piknik dan niat membawa terpal. Ini kalau tidak gila ya ekstrim. Solihin, calonnya si Kiki, serta temannya Thika, turut menjadi korban kegilaan keluarga kami.

Buka Puasa Bersama


Sudah sejak April saya menulis rencana-rencana besar untuk Mei. Bisa dilihat pada halaman dari T-Journal berikut ini:


Ada sekitar empat Sabtu yang direncanakan untuk buka puasa dengan judul besar Bukber Pharmantara. Kebetulan kami bersaudara kandung ada empat jadi tepat. Alhamdulillah Sabtu kemarin sudah terlaksana buka puasa bersama di Pohon Tua (nama rumah Mamatua tempat saya tinggal haha). Next di rumah Abang Nanu Phamantara, Kakak Nani Pharmantara, dan Kakak Didi Pharmantara.


Foto di atas diambil saat sebagian anggota lain belum datang jadi belum lengkap dan belum ramai. Tapi tidak masalah, keriuhan tetap terjadi di Pohon Tua.

Baca Juga: Buruh Migran

Kenapa riuh? Yang pertama karena tipikal Orang Ende kalau bicara itu tidak bisa pelan dan volume harus kencang. Sehingga, ada istilah, dua orang Ende bertemu saja sudah ramai macam sekampung. Orang luar mungkin berpikir kami sedang kelahi nyatanya tidak. Memang demikianlah tipikal bicara Orang Ende. Yang kedua adalah karena darah Pharmantara umumnya memang begitu. Kalau ngomong kadang macam orang ngotot begitu padahal cuma cerita biasa ha ha ha. Makanya riuh itu pasti terjadi. Apa lagi kalau si Rara dan Syiva sudah kumpul ... ampun dijeeee.

Salah satu menu andalan kalau piknik.

Ah, bahagia. Kadang saya terkikik sendiri kalau mengingat ulah Encim and The Gank, dimana kakak-kakak saya turut terbawa arus, karena ada saja yang aneh dan konyol yang terjadi kalau kami sekeluarga besar sudah kumpul. Para keponakan saya ini kadang suka nyeletuk: besok-besok kalau Encim punya anak, bakal kita suruh-suruh, terus kalau nakal kita masukin ke kardus dan kirim ke negeri antah-berantah. Dudududuuuu ...


Beda dulu dan sekarang ... dulu para keponakan rata-rata masih kecil dan masih sekolah. Jadi kalau ngumpul topiknya pun tidak jauh dari kegiatan sekolah mereka dan satu dua urusan asmara. Sekarang kalau ngumpul topiknya bisa macam-macam asal Rara dan Syiva mainnya rada jauh dari tempat kita mengobrol. Banyak topik yang dibahas dan saya betul-betul menikmati proses curhat, tukar pendapat, dan saling menasihati bersama mereka. Dus rata-rata semua keponakan saya sudah bekerja jadi saya asyik saja kalau ditraktir sama mereka *muka polos*.

Time flies ...

Bagaimana dengan kalian, kawan? Buka puasa bareng keluarga pasti seru kan ya. Manapula keluarga besar. Semoga puasa saya, kalian, dan semua orang yang menjalankannya, lancar dan ikhlas demi hari kemenangan nanti.

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Selamat melanjutkan puasa!



Cheers.

The Willis Clan

Sumber: Wikipedia.

Sebagian orang yang pernah menonton ajang pencarian bakat terutama America's Got Talent musim sembilan pasti tahu mereka. Ya, mereka memang mencapai perempat final, dan akhirnya harus menyerah alias tersingkirkan. Tapi mereka adalah inspirasi terkuat saat itu, terkhusus inspirasi keluarga America, sehingga dibikinkan reality show yang tayang di TLC. Tahun 2015 dan 2016 merupakan kejayaan mereka pada stasiun teve TLC. Lantas mereka seakan menghilang ... ada apakah gerangan? Itu yang terus saya cari tahu dan akhirnya ... ketemu! Penemuan yang menyakitkan.

Baca Juga: Bodo Amat

The Willis Clan. Satu nama yang membikin saya teringat pada keluarga sendiri. Saat dulu Bapa (alm.) membeli perangkat band dan band keluarga kami diberi nama Jemiri Band. Jemiri itu singkatan dari Jodoh Mati Rejeki (adalah milik Allah SWT). Para pemain Jemiri Band ada Kakak Toto Pharmantara (alm) di drum, Abang Nanu Pharmantara di gitar, dan dibantu oleh teman-teman mereka lainnya. Saya sendiri tidak pernah diijinkan bernyanyi di Jemiri Band. Haha *diketawain dinosaurus*. Ya sudahlah.

Kembali pada The Willis Clan. Mari kita simak ...

The Willis Clan


Kakek Willis sangat berduka saat kehilangan enam anaknya dalam sebuah kecelakaan fatal. Kecelakaan ini menjadi berita nasional terkait politik di Illinois dimana banyak orang dipenjara karena skandal suap untuk pembuatan SIM. Kehilangan yang amat sangat dalam itu kemudian 'terbayarkan' dengan kelahiran cucu-cucu dari anak-anaknya. Salah satu anaknya bernama Toby yang menikahi Brenda saat usia masih sangat muda. Pada usia tigapuluh Toby mendapat uang sejumlah $100 sebagai ganti rugi atas meninggalnya enam saudara kandungnya dalam sebuah kecelakaan tersebut. Dengan uang itu Toby pensiun dini pada usia tigapuluh tahun dan dia mulai membesarkan anak-anak bersama Brenda.

Anak-anak Toby dan Brenda dididik dengan sangat ketat. Mereka sangat berbakat di dunia musik; bermain alat musik, bernyanyi, dan menari, bahkan menciptakan lagu. Mereka diberi nama The Willis Clan. The Willis Clan muncul di ajang pencarian bakat America's Got Talent musim sembilan pada tahun 2014. Melihat duabelas anak beda usia muncul di panggung bikin syok para juri. Terutama si bungsu Jada yang imutnya bikin Mel B gemas to the max. Melihat pertunjukkan mereka membikin para juri mengacung jempol. Mereka hebat!

Uniknya, semua nama anak-anaknya Toby dan Brenda ini berawalan huruf J. Mereka adalah Jessica, Jeremiah, Jennifer, Jeanette, Jackson, Jedidiah, Jasmine, Juliette, Jamie, Joy-Anna, Jaeger, dan Jada. Semuanya sangat good looking dengan tubuh proposional yang bikin saya iri. Hiks.

Their Music


Setelah mengikuti America's Got Talent, The Willis Clan wara-wiri di televisi dalam reality show bertajuk The Willis Family yang tayang di TLC. Selain itu mereka juga tampil dari satu panggung ke panggung lain. Musik mereka mengingatkan kita pada musik tradisional dari Irlandia. Sebagian lagu-lagu The Corrs juga punya ciri seperti ini. Ya, mereka masih berdarah Irlandia. Tidak salah jika mereka juga pandai menari Irish Dance, yang ditunjukkan dalam setiap penampilan/pertunjukan mereka di panggung. Musik mereka didukung dengan permainan ciamik ragam alat musik seperti gitar, biola, suling, akordion, cajoon, dan lain sebagainya.

I do love their music!

Phenomenal Song and Dance


Satu lagu The Willis Clan yang bisa saya dengarkan puluhan kali dalam sehari berjudul 100 Times Better. Lagu ini punya musik yang renyah dan lirik yang manis. 

Games up
It all went out the window, Baby
What can I say
I wouldn't want it any other way
Live and learn
And our love will last
Whatever I do
Is a hundred times better with you

Itu penggalan lirik 100 Times Better yang menjadi favorit saya belakangan ini hehe. Pokoknya suka banget sama lagu ini dan saya jamin kalian juga bisa suka.

Nah, menariknya, lagu ini selalu menjadi semacam lagu pamungkas yang mengiringi The Willis Clan menari. A very very very sweet dance! Saya sampai membikin status di Facebook, meminta Kakak Rikyn Radja mengajari saya menari seperti The Willis Clan. Haha. Sungguh, tidak tahu malu saya ini. Videonya bisa kalian lihat di bawah ini:



Keren kan?

Tragedi


Nama The Willis Clan lantas memudar setelah menggaung di seluruh dunia melalui reality show di TLC. Ayah dari duabelas anak itu, Toby Willis, ditangkap pada tahun 2016 atas tuduhan pelecehan seksual dan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur yang dilakukannya pada tahun 2004. Dunia seperti runtuh. Ya, runtuh, karena anak-anak di bawah umur itu adalah anak-anak perempuannya sendiri. Merujuk pada tiga anak perempuan tertuanya yaitu Jessica, Jennifer, Jeanette. Sungguh, membaca berita itu, juga menonton videonya, bikin saya geregetan. Why father Toby? Bahkan setelah Jessica menikah, Toby suka mengucilkan suami Jessica apabila dianggapnya melanggar aturan keluarga. Ck ck ck. Sungguh otoriter. Ter-la-luuuu.

Pada tahun 2017 Toby mengaku atas empat tuduhan pemerkosaan anak. Dia menerima hukuman dua puluh lima tahun penjara dengan dua dakwaan, dan dua hukuman empat puluh tahun untuk dua dakwaan lainnya. Sedih. Tapi setimpal dengan perbuatannya, termasuk terhadap anak-anaknya sendiri. Ya kan? Derita Brenda pasti sangat berat; pengkhianatan terjadi dan dilakukan oleh orang yang sangat dia cintai.

Bangkit Lagi


Setiap orang pasti pernah jatuh, tapi belum tentu setiap orang yang jatuh itu dapat bangkit lagi dan bersinar. The Willis Clan sejak kecil diajarkan untuk saling menyayangi. Duabelas orang itu kalau tidak saling menyayangi bisa kacau dunia rumah tangga kan haha. Makanya The Willis Clan kemudian bangkit lagi, bersama Ibu mereka tentu saja, dan mengeluarkan single Speak My Mind. Mereka lantas merilis album pada September 2018. Silahkan cari dan dengarkan lagu-lagu mereka. Kalau kalian penasaran ... sih. Tapi bagi saya, 100 Times Better masih jadi favorit! Yuhuuuu!


The Willis Clan, di luar tingkah laku Toby, merupakan bukti pada kita semua bahwa keluarga merupakan tempat terbaik untuk pulih dari segala masalah. Tiga anak perempuan tertua Toby dan Brenda yang mengalami pelecehan seksual oleh Toby bangkit lagi dan tentu atas dukungan keluarga terutama Brenda dan tiga anak laki-laki tertuanya. Mereka berenam (enam anak tertua Toby dan Brenda) melaju terus di dunia musik sementara adik-adik mereka diharapkan untuk tidak terlalu tersorot setelah Toby tertangkap.

Baca Juga: Pembalasan Laut

Bagaimana dengan kalian, kawan? Pernahkah kalian menonton The Willis Clan? Sukakah kalian dengan lagu-lagu mereka? Kalau saya sih hyess. Semua tentang mereka bakal selalu menjadi kesenangan saya.



Cheers.

Momen Liburan Tahun Baru Bersama Keluarga Di Kampung Halaman

salmanbiroe - Indonesian Lifestyle Blogger - Momen Liburan Tahun Baru Bersama Keluarga Di Kampung Halaman

Momen apa yang paling berharga di Tahun Baru? Tentu saja bisa kumpul bersama keluarga di kampung halaman, Pemalang. Tapi, karena banyak sekali hal yang harus dilakukan di Jakarta, jadi saya harus urungkan terlebih dahulu. 

"Man, kapan pulang?"

Pertanyaan dari Adik atau Ayah ini memang bikin baper. Disatu sisi saya kangen rumah, tapi disisi lain saya harus menyelesaikan semua pekerjaan. Memang tidak ada tradisi apapun ketika tahun baru, tapi ketika semua orang berkumpul bersama keluarga, rasa kangen itu timbul. 

Beda dengan Lebaran yang liburannya cukup panjang, momen tahun baru ini hanya libur satu hari saja sehingga serba nanggung. Tapi, rumah memang selalu membawa pada kerinduan yang penuh.

salmanbiroe - Indonesian Lifestyle Blogger - Momen Liburan Tahun Baru Bersama Keluarga Di Kampung Halaman

salmanbiroe - Indonesian Lifestyle Blogger - Momen Liburan Tahun Baru Bersama Keluarga Di Kampung Halaman

Selain pada keluarga, kuliner di kampung memang bikin kangen. Setiap beberapa hari sekali, saya selalu makan lotek. Lotek ini mirip dengan pecel. Bedanya hanya diproses pembuatannya saja. Kalau lotek ini sayuran dan bumbunya diulek, sedangkan pecel bumbunya hanya disiramkan saja. Selain murah, makanan ini juga sehat karena banyak sayurannya. 

Keluarga dan kuliner udah, ternyata yang bikin kangen selanjutnya adalah kucing. Yes, saya suka banget sama kucing. Sejak kecil memang sudah pelihara kucing, dan sampai sekarang pun banyak kucing yang ada di kampung. Meskipun kucing kampung, namun bulu-bulunya juga cantik banget. 

salmanbiroe - Indonesian Lifestyle Blogger - Momen Liburan Tahun Baru Bersama Keluarga Di Kampung Halaman

Bukan hanya satu atau dua, tapi kami memiliki belasan kucing. Sudah bisa dibayangkan bahwa rumah kami sangat ramai dengan suara meong pada saat memberikan makanan pada pagi dan sore hari. Dulu, almarhum Kakak sangat rajin merawat dan memberi makan setiap pagi dan sore. Racikan nasi dengan ikan teri selalu menarik perhatian kucing yang sedang berada di luar. Tak sampai 1 menit, seluruh kucing telah berkumpul dan menanti makanan mereka. 

salmanbiroe - Indonesian Lifestyle Blogger - Momen Liburan Tahun Baru Bersama Keluarga Di Kampung Halaman

Momen spesial tetaplah pada saat Lebaran, dimana lontong opor menjadi masakan terlezat yang ada di Dunia. Masakan rumah memang tidak ada duanya. Kadang saya selalu menemukan lontong opor di daerah lain, tapi selalu menyimpulkan kalau ini belum sebandung dengan yang ada di rumah. Ya, karena momennya yang sangat pas dan bisa kumpul dengan keluarga. 

salmanbiroe - Indonesian Lifestyle Blogger - Momen Liburan Tahun Baru Bersama Keluarga Di Kampung Halaman

Yang bikin kangen selanjutnya itu Shafira. Anak perempuan dari adik saya ini memang ceriwis banget. Kalau ketemu saya pasti ada saja yang mau dibicarakan, memang awalnya sangat pemalu tapi kalau sudah lama dan akrab maka Shafira ini akan ngobrol apapun mulai dari mainan sampai hal-hal yang kecil seperti makanan. 

Pada saat Umroh bersama, kebetulan Shafira ikut dengan rombongan. Hebat ya, bocah usia 3 tahun ini sudah pergi Mekkah dan menemui Ka'bah. Betul-betul sebuah mimpi yang menjadi nyata. Pada saat usia 3 tahun mungkin saya hanya di rumah dan bermain saja. 

Sebagai paman Shafira, saya ingin dia mendapatkan sebuah kepastian dalam masa depan. Masa depan tentu saja bermula dari pendidikan. 2 tahun lagi, Shafira akan memasuki bangku sekolah dasar. Tidak ada salahnya mulai dipersiapkan yang menjadi kebutuhan dan dana untuk sekolah nantinya. Dan, tentu saja kita tidak tahu akan kejadian di masa datang seperti apa, maka dari itu diperlukan Happy Edu

salmanbiroe - Indonesian Lifestyle Blogger - Momen Liburan Tahun Baru Bersama Keluarga Di Kampung Halaman

Happy Edu dari Happy One ID membantu perlindungan pendidikan anak apabila terjadi kecelakaan terhadap tertanggung. So, asuransi santunan pendidikan ini merupakan jaminan pendidikan anak yang sangat baik disiapkan dari sedini mungkin. Informasi lengkap bisa dicek melalui https://www.happyone.id/happy-edu/product-info .