Arsip Kategori: Kedai

Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme


Seni Lukis dan Seni Kata di Kedai Kampung Endeisme. Beberapa waktu lalu saya menerima undangan untuk berkunjung ke sebuah kedai yang baru dibuka, berikut peta lokasinya. Nama kedai tersebut adalah Kedai Kampung Endeisme. Undangan dari Tika Abdul Aziz itu saya keep sambil mencari waktu untuk pergi ke sana. Maklum, masih banyak pekerjaan yang menuntut harus diselesaikan dan tentu juga menghabiskan begitu banyak waktu. Selasa, 10 Maret 2020, barulah saya pergi ke Kedai Kampung Endeisme bareng Violin Kerong, Oedin, Cahyadi, dan Al. Rencananya sih bakal bikin konten Youtube si Oedin, tetapi malah jadinya untuk konten Youtube saya sendiri. Hahaha. Video kunjungan kami ke Kedai Kampung Endeisme bisa kalian lihat di bawah ini:


Baca Juga: Ngobrol-Ngobrol Santai Tema Konten Youtube Milik Oe Din

Seperti apa Kedai Kampung Endeisme dan seluk-beluknya bisa kalian tonton pada video di atas. Tapi bukan berarti saya tidak menulisnya hahaha. Kalau begitu, marilah kita tengok Kedai Kampung Endeisme.

Kedai Kampung Endeisme


Kedai Kampung Endeisme digagas oleh Adar dan Tika Abdul Aziz. Apakah saya mengenal keduanya? Iya dooong. Kenal sama Adar waktu dia bersama tim B13 Pu'urere mengikuti Lomba Mural Triwarna Soccer Festival 2019. B13 Pu'urere kemudian meraih Juara 1 lomba tersebut dengan tema mural Sindu dan Wati. Adar ini sejatinya seniman multi-talent. Dia juga yang menggambar peta Pulau Flores di Kafe Hola. Sedangkan Tika Abdul Aziz kenalnya lewat media sosial Facebook di mana saya sangat terpukau dengan kalimat-kalimat yang diposnya di media sosialnya Mark itu. Saya jadi ingat sama Aan Mansyur. Tika, dan dia lelaki bukan perempuan, dikenal lewat @petikata. Mungkinkah nama Tika diambil dari (pe)tika(ta)? Entah hahaha. Belum pernah ketemu langsung orangnya sih. Nanti deh kalau ketemu bakal saya tanya-tanya.

Anyhoo, Adar dan Tika menggagas Kedai Kampung Endeisme setelah melihat lahan/kios milik paman Adar yang terbengkelai di daerah Potu. Ketika mengantongi ijin memanfaatkan tempat itu, mereka berdua kemudian mulai mendesain kedainya. Tentu mereka dibantu oleh keluarga dan teman-teman. Menurut tuturan Adar, tujuan mereka membangun Kedai Kampung Endeisme bukan sekadar untuk tempat nongkrong biasa melainkan sebagai tempat merawat akal, tempat berdiskusi, juga tempat mereka turut membangun ekonomi kreatif bersama ibu-ibu masyarakat sekitar kedai. Merawat akal, ini menarik, seperti saya menyebut Universitas Flores (Uniflor) yang senantiasa merawat budaya.

Bicara Endeisme, sebenarnya Endeisme sendiri sudah lama ada, merupakan clothing line milik Adar dan Tika. Selain kaos, mereka juga memproduksi totebag. Uniknya mereka melukis sendiri kaos dan totebag tersebut. Setiap barang diproduksi spesial sehingga tidak ada yang sama antara pembeli satu dengan pembeli lainnya. Asyiiiik. Nanti saya juga mau ah pesan kaos di Endeisme. Kalau kalian tertarik juga, silahkan dipesan ke mereka. Kunjungi saja Kedai Kampung Endeisme, berdiskusi dengan pemiliknya, memesan kaos atau tas, sekaligus merawat akal.

Menu Bercitarasa 'Kampung'


Apa saja yang ditawarkan di Kedai Kampung Endeisme? Kedai selalu identik dengan kopi. Jelas, menu utama mereka ya kopi sebagai teman nongkrong dan mengobrol. Kopinya merupakan kopi Ende yang dibeli di Pasar Wolowona dan melewati proses manual: disangrai sendiri di dapur rumahan, dengan sedikit campuran jahe. Takaran jahenya ... rahasia dapur lah. Hehe. Kopi bercitarasa seperti inilah yang saya sebut cita rasa kampung yang ngangenin. Cita rasa yang membangkitkan memori rasa. Cara seduh kopinya pun manual a la rumahan, menggunakan sendok sebagai penakar kopi dan gula. Saat ini belum banyak varian kopi yang disediakan di Kedai Kampung Endeisme. Iya, namanya juga kedai baru, masih banyak yang harus dilengkapi.

Selain kopi, juga ada aneka minuman panas dan dingin seperti teh, cokelat, kopi susu, dan lain sebagainya. Sedangkan makanan, ada aneka mi + telur khas warkop. Tetapi di situ juga ada stoples berisi kripik. Kripik inilah yang dititip oleh ibu-ibu masyarakat setempat. Makanya tidak salah jika saya menulis Adar dan Tika turut membangun ekonomi kreatif. Semoga dalam kunjungan berikutnya, saya boleh melihat lebih banyak stoples jajanan milik ibu-ibu sekitar kedai. Insha Allah.

Ada hal yang juga perlu saya tulis terkait kopi ini. Adar dan Tika juga berencana memproduksi Kopi Endeisme yang dijual ke luar. Ke luar maksudnya adalah kopi tersebut tidak saja menjadi konsumsi kedai tetapi juga dikemas dengan menarik, diberi label, lantas dipasarkan ke masyarakat umum (ke luar Kabupaten Ende). Kalau begini saya jadi ingat sama Kopi Detusoko oleh RMC Detusoko yang dipelopori oleh Nando Watu, juga Virgil Coffee yang dimiliki oleh Karolus Naga. Saya percaya setiap kopi, terutama yang sudah diolah/disangrai, punya cita rasanya masing-masing. Tidak ada yang paling enak atau yang tidak enak. Ingat, makanan dan minuman itu hanya punya dua rasa. Pertama: enak. Kedua: enak sekali. That's all.

Konsep DIY


Soal Kedai Kampung Endeisme yang berkonsep DIY sudah saya ulas pada pos berjudul Barang-Barang DIY Kece di Kedai Kampung Endeisme. Meja, bangku, tulisan-tulisan, sampai aneka asesoris dibikin sendiri oleh Adar dan Tika. Kalau kalian ingin tahu lebih banyak tentang konsep DIY di kedai tersebut, silahkan klik tautan di atas. Yang jelas konsep DIY Kedai Kampung Endeisme merupakan cikal bakal judul pos ini. Seni lukis dan seni kata ... byuuuuh ... mantap. Oh ya, foto-fotonya pun bisa kalian di pos yang satu itu. Komplit.

No Wi-Fi


Zaman sekarang hampir semua kafe atau kedai menyediakan Wi-Fi. Padahal kan kita ke kafe karena pengen menikmati makanan dan minumannya serta bersantai bersama teman-teman, keluarga, juga kekasih uhuuuk. Sejatinya ke kafe itu untuk menciptakan waktu berkualitas melalui obrolan dan/atau diskusi. Bergesernya kafe yang kemudian menjadi tempat kerja, itu sah-sah saja. Tetapi kalau ke kafe untuk bekerja dan mencari Wi-Fi, jujur di Pohon Tua juga bisa. Bahkan Wi-Fi di Pohon Tua itu kencangnya supa amazing. Makanya ketika Adar berkata bahwa di Kedai Kampung Endeisme tidak tersedia Wi-Fi, itu saya acungi jempol! Makanya sore itu kami semua saling berinteraksi satu sama lain, mengobrol, haha hihi, mengumpulkan footage konten, dan lain sebagainya.


Saya akui, muncul rasa kagum ketika berada di Kedai Kampung Endeisme dan mengobrol bersama Adar. Mereka adalah anak muda yang menjawab tuntutan zaman. Zaman sekarang masih berharap menjadi ASN atau pegawai kantoran, sah-sah saja, tetapi itu bukan satu-satunya jalan hidup. Seperti isi buku-buku self improvement yang saya baca, manusia harus mengenal kelebihan dan kekurangannya, mengenal siapa dirinya, tahu cara menggali potensi dirinya, mampu menangkap peluang yang ada, mampu memanfaatkan sumber daya, untuk mencapai sukses. Itu yang saya lihat sudah dilakukan oleh Adar dan Tika. Ya, saya kagum pada mereka, pada kegigihan mereka, pada semangat mereka, pada kepedulian mereka.

Baca Juga: Merawat Budaya Bersama Uniflor Sebagai Mediator Budaya

Bagaimana tidak gigih? Kedai Kampung Endeisme tidak terletak di pusat kota. Letaknya di Potu, Jalan Woloare A, memang bukan lokasi pusat Kota Ende, tetapi tempat itu cukup ramai karena Jalan Woloare A sendiri merupakan jalan alternatif menuju Woloare. Tapi mereka gigih, tidak patah semangat untuk melaksanakan niat membuka kedai. Mari doakan agar mereka tidak patah semangat. Doakan agar kedai mereka menjadi besar a.k.a. ramai dikunjungi. Doakan agar semua rencana mereka terwujud. Karena, mereka adalah anak muda tangguh yang membuka sendiri lapangan pekerjaan di kota kita tercinta.

Bagaimana dengan kalian? Sudahkah kalian berkunjung ke Kedai Kampung Endeisme? Bagi tahu yuk di komen!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.