5 Alasan Kalian Harus Melakukan Flores Overland Sekarang


5 Alasan Kalian Harus Melakukan Flores Overland Sekarang. Menulis Flores overland, jadi ingat sama blog bahasa Inggris saya yang satu itu. Haha. Tidak punya modal bahasa Inggris yang cukup, nekat membikin blog bahasa Inggris, jadinya keteteran. Mau terus-terusan meminta bantuan Cahyadi mengoreksi, malu hati, karena dia juga sibuk sama pekerjaannya sebagai guide. Nantilah baru saya jenguk lagi si blog bahasa Inggris yang satu itu (gas atau rem). Sekarang, saatnya saya membocorkan rahasia kenapa kalian harus melakukan Flores overland, sekarang. Kenapa sekarang? Seperti kata orang-orang: kalau bukan sekarang, kapan lagi? Haha.

Baca Juga: 5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik

Flores overland, arti sederhananya adalah kita mengarungi Pulau Flores dari ujung Barat ke ujung Timur, ataupun sebaliknya. Mengarungi pulau yang juga dikenal dengan nama Nusa Bunga ini tidak bisa dilakukan menggunakan pesawat, meskipun ada, namun tidak bisa runut menyisirnya. Masa iya dari Labuan Bajo ke Ende, terus kembali lagi ke Kota Ruteng (arah Barat) yang bertetangga dengan Kota Labuan Bajo? Satu-satunya cara mengarungi Pulau Flores, runut dari ujung ke ujung, adalah menggunakan transportasi darat seperti kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat. Sepeda, termasuk kendaraan roda dua, tidak saya sarankan. Tapi kalau kalian mau mencoba mengarungi Pulau Flores menggunakan sepeda, ya silahkan. Siapkan minyak urat sebanyak-banyaknya. Hehe *dikeplak dinosaurus*.

Bagaimana dengan lima alasan yang saya tulis di judul?

Marilah kita cek satu per satu ...

1. Transportasi Masuk ke Pulau Flores yang Mudah


Pada zaman dahulu, transportasi masuk dan keluar Pulau Flores tidak semudah zaman sekarang. Saya ingat pesawatnya waktu itu yang masuk-keluar Kota Ende hanya milik maskapai Merpati Nusantara Airlines, itupun jenis pesawatnya Casa. Coba kalian crosscheck di Google foto pesawat Merpati Casa C-212. Baling-baling dua. Untung bukan baling-baling bambu. Hehe. Saya pernah merasakan Casa C-212 dari Kota Ende ke Kota Bima, berganti pesawat Foker 27 ke Kota Denpasar, lantas naik Boeing 737-200 milik Bouraq Indonesia Airlines ke Kota Surabaya (penerbangan malam hari). Saat ini, meskipun banyak penumpang pesawat mengeluh karena bagasinya tidak bisa banyak-banyak, tapi transportasi udara masuk ke Pulau Flores jauh lebih rajin.

Pada zaman dahulu, perjalanan menggunakan kapal laut pun jangan ditanya. Perjalanan di laut bisa memakan waktu hingga enam hari karena kapal milik P.T. Pelni seperti KM. Kelimutu punya jadwal mampir di banyak pelabuhan (hitung saja dari Kota Ende ke Kota Surabaya). Bayangkan saja betapa bosannya penumpang yang berangkat dari Papua menuju Surabaya! Tapi sekarang, transportasi laut menjadi lebih mudah. Terutama di Kabupaten Ende, sejak Pelabuhan Ippi diperbarui dan ditambah dermaganya. Pun Pelabuhan Bung Karno yang mengalami nasib serupa: diperbaiki, diperbarui, ditambah armada kapalnya, dan tentu saja memudahkan kebutuhan transportasi masyarakat yang hendak keluar maupun masuk Kabupaten Ende dan sekitarnya.

Bila kalian memilih untuk melakukan Flores overland dengan titik mula Kota Labuan Bajo sebagai kota wisata paling ujung Barat dari Pulau Flores, maka kalian bisa menyewa sepeda motor maupun mobil (travel) untuk mengarungi Pulau Flores hingga ke ujung Timur. Tanjung Bunga di Kabupaten Flores Timur. Demikian pula sebaliknya.

2. Transportasi Lokal yang Mudah


Ini tidak kalah penting. Transportasi lokal harus dipikirkan baik-baik oleh para traveler karena berkaitan dengan mobilitas mereka dari satu tempat ke tempat lain. Selain banyaknya jasa penyewaan mobil maupun mobil travel (tapi kalian akan ditemani oleh supirnya), bagi yang mabuk darat tapi punya kemampuan mengendarai sepeda motor, boleh menyewa sepeda motor. Harga cukup bersahabat, menurut pendapat pribadi saya, dan beberapa penyewaan mempunya cabang di kota-kota lain sehingga memudahkan kalian ketika ingin mengembalikan kendaraan sewaan tersebut.

3. Jalanan Yang Mulus


Uh wow sekali saat menulis jalanan yang mulus. Pengalaman saya mengarungi Pulau Flores baik ke Barat maupun ke Timur, jalanan sudah banyak yang diperbaiki. Selain diperbaiki, masing-masing pemerintah daerah juga memutuskan untuk melebarkan badan jalan. Sumpah, saya bahagia melihat kelokan-kelokan maut itu kemudian diperlebar badan jalannya. Jalan yang mulus dan lebar tentu sangat menolong para pejalan, memuluskan perjalanan mereka, menekan angka kecelakaan. Kalian pasti tahu, lubang sekecil apapun apabila pengemudi tidak awas, bisa terjadi kecelakaan fatal. Saya sendiri sering mengingatkan diri untuk tidak terlalu ngegas, soalnya jalanan mulus bisa bikin kalap.

4. Lokasi Cantik Sepanjang Jalan


Jelaaaas. Kalian bisa berhenti berkali-kali hanya untuk sekadar memotret panorama dan/atau pemandangan alamnya. Jangankan saat melakukan Flores overland, saat saya hanya melakukan perjalanan dari Kota Ende ke Kota Boawae, misalnya, bisa berhenti berkali-kali hanya untuk mengabadikan pemandangan indah Pulau Flores. Pantai-pantai dari ketinggian, perbukitan, aktivitas penduduk. Rugi rasanya jika mengabaikan semua itu. Melakukan Flores overland ibarat mengeksplor satu pulau tapi menawarkan miliaran kesenangan.

5. Relasi Lokal


Adalah sangat menguntungkan apabila kalian punya relasi orang lokal. Kenalan, teman, atau kekasih? Terserah. Haha. Yang jelas, sepengetahuan saya, Orang Flores adalah orang-orang yang terbuka. Internet dan pertemanan melalui internet (Facebook, Twitter, blog, kenalan lewat WA). Semakin ke sini, kalian bisa menjalin semakin banyak pertemanan dengan orang-orang lokal di Pulau Flores. Percayalah, Orang Flores itu ramah-ramah.


Sejujurnya, sebagai Orang Flores, Orang Ende, saya sendiri juga ingin bisa melakukan Flores overland, utuh. Awal tahun 2019 saya memang melakukan Flores overland, tapi alasannya adalah dikarenakan pekerjaan mempromosikan kampus. Itu pun tidak semua wilayah di Pulau Flores. Saya kebagian jatah Kabupaten Nagekeo terus ke arah Timur hingga Kabupaten Flores Timur. Tentu saya melewatkan kesempatan ke Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Barat. Semoga tahun 2020 kesempatan untuk pergi ke tiga kabupaten itu dapat terwujud.

Baca Juga: 5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa

Bagaimana? Tertarik kan? Ayolah main-main ke Pulau Flores dan ber-Flores overland! Kalian akan merasakan sensasi yang supa amazing, dan bakal bikin kalian pengen kembali ke pulau cantik ini. Seperti kata anak-anak zaman sekarang: bukan kaleng-kaleng. Haha.

Ditunggu!

#KamisLima



Cheers.

5 Alasan Kalian Harus Melakukan Flores Overland Sekarang


5 Alasan Kalian Harus Melakukan Flores Overland Sekarang. Menulis Flores overland, jadi ingat sama blog bahasa Inggris saya yang satu itu. Haha. Tidak punya modal bahasa Inggris yang cukup, nekat membikin blog bahasa Inggris, jadinya keteteran. Mau terus-terusan meminta bantuan Cahyadi mengoreksi, malu hati, karena dia juga sibuk sama pekerjaannya sebagai guide. Nantilah baru saya jenguk lagi si blog bahasa Inggris yang satu itu (gas atau rem). Sekarang, saatnya saya membocorkan rahasia kenapa kalian harus melakukan Flores overland, sekarang. Kenapa sekarang? Seperti kata orang-orang: kalau bukan sekarang, kapan lagi? Haha.

Baca Juga: 5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik

Flores overland, arti sederhananya adalah kita mengarungi Pulau Flores dari ujung Barat ke ujung Timur, ataupun sebaliknya. Mengarungi pulau yang juga dikenal dengan nama Nusa Bunga ini tidak bisa dilakukan menggunakan pesawat, meskipun ada, namun tidak bisa runut menyisirnya. Masa iya dari Labuan Bajo ke Ende, terus kembali lagi ke Kota Ruteng (arah Barat) yang bertetangga dengan Kota Labuan Bajo? Satu-satunya cara mengarungi Pulau Flores, runut dari ujung ke ujung, adalah menggunakan transportasi darat seperti kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat. Sepeda, termasuk kendaraan roda dua, tidak saya sarankan. Tapi kalau kalian mau mencoba mengarungi Pulau Flores menggunakan sepeda, ya silahkan. Siapkan minyak urat sebanyak-banyaknya. Hehe *dikeplak dinosaurus*.

Bagaimana dengan lima alasan yang saya tulis di judul?

Marilah kita cek satu per satu ...

1. Transportasi Masuk ke Pulau Flores yang Mudah


Pada zaman dahulu, transportasi masuk dan keluar Pulau Flores tidak semudah zaman sekarang. Saya ingat pesawatnya waktu itu yang masuk-keluar Kota Ende hanya milik maskapai Merpati Nusantara Airlines, itupun jenis pesawatnya Casa. Coba kalian crosscheck di Google foto pesawat Merpati Casa C-212. Baling-baling dua. Untung bukan baling-baling bambu. Hehe. Saya pernah merasakan Casa C-212 dari Kota Ende ke Kota Bima, berganti pesawat Foker 27 ke Kota Denpasar, lantas naik Boeing 737-200 milik Bouraq Indonesia Airlines ke Kota Surabaya (penerbangan malam hari). Saat ini, meskipun banyak penumpang pesawat mengeluh karena bagasinya tidak bisa banyak-banyak, tapi transportasi udara masuk ke Pulau Flores jauh lebih rajin.

Pada zaman dahulu, perjalanan menggunakan kapal laut pun jangan ditanya. Perjalanan di laut bisa memakan waktu hingga enam hari karena kapal milik P.T. Pelni seperti KM. Kelimutu punya jadwal mampir di banyak pelabuhan (hitung saja dari Kota Ende ke Kota Surabaya). Bayangkan saja betapa bosannya penumpang yang berangkat dari Papua menuju Surabaya! Tapi sekarang, transportasi laut menjadi lebih mudah. Terutama di Kabupaten Ende, sejak Pelabuhan Ippi diperbarui dan ditambah dermaganya. Pun Pelabuhan Bung Karno yang mengalami nasib serupa: diperbaiki, diperbarui, ditambah armada kapalnya, dan tentu saja memudahkan kebutuhan transportasi masyarakat yang hendak keluar maupun masuk Kabupaten Ende dan sekitarnya.

Bila kalian memilih untuk melakukan Flores overland dengan titik mula Kota Labuan Bajo sebagai kota wisata paling ujung Barat dari Pulau Flores, maka kalian bisa menyewa sepeda motor maupun mobil (travel) untuk mengarungi Pulau Flores hingga ke ujung Timur. Tanjung Bunga di Kabupaten Flores Timur. Demikian pula sebaliknya.

2. Transportasi Lokal yang Mudah


Ini tidak kalah penting. Transportasi lokal harus dipikirkan baik-baik oleh para traveler karena berkaitan dengan mobilitas mereka dari satu tempat ke tempat lain. Selain banyaknya jasa penyewaan mobil maupun mobil travel (tapi kalian akan ditemani oleh supirnya), bagi yang mabuk darat tapi punya kemampuan mengendarai sepeda motor, boleh menyewa sepeda motor. Harga cukup bersahabat, menurut pendapat pribadi saya, dan beberapa penyewaan mempunya cabang di kota-kota lain sehingga memudahkan kalian ketika ingin mengembalikan kendaraan sewaan tersebut.

3. Jalanan Yang Mulus


Uh wow sekali saat menulis jalanan yang mulus. Pengalaman saya mengarungi Pulau Flores baik ke Barat maupun ke Timur, jalanan sudah banyak yang diperbaiki. Selain diperbaiki, masing-masing pemerintah daerah juga memutuskan untuk melebarkan badan jalan. Sumpah, saya bahagia melihat kelokan-kelokan maut itu kemudian diperlebar badan jalannya. Jalan yang mulus dan lebar tentu sangat menolong para pejalan, memuluskan perjalanan mereka, menekan angka kecelakaan. Kalian pasti tahu, lubang sekecil apapun apabila pengemudi tidak awas, bisa terjadi kecelakaan fatal. Saya sendiri sering mengingatkan diri untuk tidak terlalu ngegas, soalnya jalanan mulus bisa bikin kalap.

4. Lokasi Cantik Sepanjang Jalan


Jelaaaas. Kalian bisa berhenti berkali-kali hanya untuk sekadar memotret panorama dan/atau pemandangan alamnya. Jangankan saat melakukan Flores overland, saat saya hanya melakukan perjalanan dari Kota Ende ke Kota Boawae, misalnya, bisa berhenti berkali-kali hanya untuk mengabadikan pemandangan indah Pulau Flores. Pantai-pantai dari ketinggian, perbukitan, aktivitas penduduk. Rugi rasanya jika mengabaikan semua itu. Melakukan Flores overland ibarat mengeksplor satu pulau tapi menawarkan miliaran kesenangan.

5. Relasi Lokal


Adalah sangat menguntungkan apabila kalian punya relasi orang lokal. Kenalan, teman, atau kekasih? Terserah. Haha. Yang jelas, sepengetahuan saya, Orang Flores adalah orang-orang yang terbuka. Internet dan pertemanan melalui internet (Facebook, Twitter, blog, kenalan lewat WA). Semakin ke sini, kalian bisa menjalin semakin banyak pertemanan dengan orang-orang lokal di Pulau Flores. Percayalah, Orang Flores itu ramah-ramah.


Sejujurnya, sebagai Orang Flores, Orang Ende, saya sendiri juga ingin bisa melakukan Flores overland, utuh. Awal tahun 2019 saya memang melakukan Flores overland, tapi alasannya adalah dikarenakan pekerjaan mempromosikan kampus. Itu pun tidak semua wilayah di Pulau Flores. Saya kebagian jatah Kabupaten Nagekeo terus ke arah Timur hingga Kabupaten Flores Timur. Tentu saya melewatkan kesempatan ke Kabupaten Manggarai Timur, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Manggarai Barat. Semoga tahun 2020 kesempatan untuk pergi ke tiga kabupaten itu dapat terwujud.

Baca Juga: 5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa

Bagaimana? Tertarik kan? Ayolah main-main ke Pulau Flores dan ber-Flores overland! Kalian akan merasakan sensasi yang supa amazing, dan bakal bikin kalian pengen kembali ke pulau cantik ini. Seperti kata anak-anak zaman sekarang: bukan kaleng-kaleng. Haha.

Ditunggu!

#KamisLima



Cheers.

Gempa 12-12-92 Mengajarkan Kami Tentang Evakuasi


Gempa 12-12-92 Mengajarkan Kami Tentang Evakuasi. Sebelumnya saya mau menjelaskan, lagi, kenapa akhir-akhir ini sering banget tidak update pos di blog. Selain karena kesibukan yang maha tinggi, Selasa kemarin saya mendadak sakit. Serangan itu begitu mendadak, saat sedang berada di Ruangan Rektorat, tubuh seperti ditiban langit. Anehnya, ketika sudah terkapar di kasur di rumah, tubuh saya meriang hebat tapi saya sama sekali tidak kedinginan. Itu kipas angin malah 'menghantam' diri ini tanpa belas kasih. Dududu. Sampai-sampai saya menulis di Facebook, jangan-jangan ini anomali cuaca karena panas yang luar biasa akibat 'banyaknya proyek pengerjaan jalan'? Dosa, memang, kalau curigation begitu. Tapi kalau kalian berada di Kota Ende, kalian pasti bakal memikirkan hal yang sama. Ini sudah menjadi pemikiran berjamaahnya kami. Haha.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Mari kembali ke judul.

12 Desember 1992, atau banyak yang menulisnya 12-12-92, tanggal cantik bagi siapapun yang ingin melepas masa lajang. Ada dua 12 di situ. Tapi siapa sangka tanggal itu menjadi tanggal yang tidak akan pernah kami lupakan seumur hidup. Hari itu saya pulang lebih awal dengan dua alasan. Pertama: ujian. Kedua: demam. Bapa (alm.) dan Kakak Toto Pharmantara (alm.) sedang bermain Nintendo, game Tetris. Karena mereka sedang menguasai Nintendo maka saya memilih tidur saja. Demam ini. Tidak berapa lama saya mendengar suara Mama baru saja pulang dari sekolah, Mama menegur Bapa dan Kakak Toto untuk shalat, lantas terdengar suara air wudhu di kamar mandi. Iya, kamar saya waktu itu dekat sama kamar mandi utama tempat ember wudhu (dikasih keran dan penyangga sehingga letaknya lebih tinggi) terletak.

Kalau perhitungan saya tidak meleset, Mama baru selesai rakaat ketiga begitu, lalu bumi bergoncang sangat hebat! 

Saya pernah menulis tentang gempa ini di dua pos. Jangan bingung, pos tahun 2006 posisi bahasa saya super alay. Saya pikir kalian bakal lebih paham membaca pos pada tahun 2018.


*aku panik... banged*

Kenapa aku panik? Karena AKU PERNAH MERASAKAN YANG NAMANYA GEMPA DENGAN SKALA 7 RICHTER, MAN!! Gimana ngeliat rumah tetangga rata ama tanah!! Gimana ngeliat orang mati tertimpa rumah mereka sendiri!! Gimana orang2 yang lagi mandi lari TELANJANG keluar kamar mandi dengan panik! Saat itu, 12 DESEMBER 1992, aku yang sedang demam tinggi gak bisa manja2 sama mamah karena keadaan genting banged, tauuu!

By Tuteh Sunday, May 28, 2006 10 komentar


Saya masih kelas 2 SMP. Baru pulang ujian. Tubuh panas (sakit). Tetapi ketika bumi bergoncang yang dapat saya lakukan hanyalah meloncat dari kasur berlarian membabi-buta ke luar rumah. Perasaan kacau-balau melihat orang-orang memukul panci berteriak "Kami latu! Kami latu!". Teriakan itu berarti "Kami ada! Kami ada!" dan ditujukan kepada 'penjaga' bumi agar bumi tidak 'dia' goncangkan.

By Tuteh Monday, August 13, 2018 0 Comments 5 komentar


Semua orang berhamburan ke luar rumah, termasuk Bapa dan Kakak Toto yang sedang asyik bertarung angka Tetris, dan melihat tetangga yaitu Nene Rae (alm.) memukul panci sambil berteriak "Kami latu!". Mamatua adalah penghuni terakhir yang keluar rumah. Mamatua menyelesaikan shalat Dzuhur-nya. Ah, Mamatua ... Menurut pengakuan Mamatua, di tengah kepanikan orang-orang di sekitar halaman rumah, saat sedang hendak menuruni tangga rumah, Abang Nanu Pharmantara mengulurkan tangan dan berkata, "Mari, Ma, pegang saya punya tangan!" Malamnya, saat cerita-cerita, baru Mamatua paham yang menolongnya turun tangga itu bukan Abang Nanu karena posisi si anak sulung sedang bersama isteri dan anaknya. Lantas, siapa? Entahlah.

Pada 12 Desember 1992, gempa berkekuatan 7,8 SR mengguncang Kabupaten Ende, Kabupaten Sikka, dan daerah sekitarnya seperti Kabupaten Ngada dan Kabupaten Flores Timur. Di Kabupaten Ende gempa tidak berpotensi tsunami, tapi di Kabupaten Sikka tsunami setinggi 30-an meter yang menenggelamkan Pulau Babi dan menghancurkan daerah tepi pantai (apalagi di Kabupaten Sikka itu pantainya landai tipikal pantai Utara). Keesokan harinya Kakak Toto yang bekerja di P.T. Telkom mengabari kami yang sedang berkumpul di teras rumah dengan perasaan cemas, bahwa CNN mengabarkan Pulau Babi tenggelam. Informasi hanya kami peroleh dari Kakak Toto karena listrik padam total - kalau gempa tersebut disiarkan pun kami tidak dapat menyalakan televisi. Betul-betul saya merasakan suasana yang begitu mencekam.

Rumah kami yang waktu itu bermaterial papan (bagian depan) dan tembok (bagian belakang) tidak rubuh. Meja pimpong dibuka dan dibentang di ruang tamu. Kompor-kompor dipindah ke teras sebagai dapur sementara. Kami melatih diri sendiri untuk:

1. Evakuasi selekasnya.
2. Mandi dan buang air besar selekasnya.

Evakuasi selekasnya: kami beramai-ramai tidur di ruang tamu agar mudah berlarian ke luar apabila terjadi gempa susulan, dan iyess gempa susulan terjadi terus-menerus bahkan sampai sebulan dua bulan. Setiap kali gempa susulan, Kakak Didi Pharmantara bakal berlari hingga ke jalan besar dengan wajah pucat pasi. Kata Mamatua, wajar saja, Mama sedang mengandung Kakak Didi saat bencana alam Gunung Ia meletus dulu. Hehe. 

Mandi dan buang air selekasnya: kami tentu tidak ingin menjadi korban, dan harus berupaya untuk menyelamatkan diri, salah satunya dengan tidak latihan olah vokal di kamar mandi dan membaca novel Wiro Sableng saat sedang buang air besar. Haha.

Dua atau tiga hari kemudian saya ijin pada Bapa untuk jalan-jalan keliling kompleks. Bapa mengijinkan tapi dengan syarat kalau terjadi gempa jauhi rumah atau bangunan apapun serta jauhi tiang listrik alias carilah lapangan terdekat. Noted. Miris sekali perasaan saya melihat rumah tetangga pada rubuh rata dengan tanah. Rumah Ibu Imam, ibudannya Mas Yoyok sekeluarga, atapnya menempel dengan tanah. Ya, Tuhan. Sungguh ... menyakitkan. Saya juga melihat tenda-tenda didirikan sebagai tempat berlindung masyarakat. Banyak tenda berdiri di halaman-halaman rumah. Banyak lelaki yang bekerja membersihkan puing-puing, mungkin masih ada barang yang bisa diselamatkan. Terutama pakaian, kasur, bantal, selimut. Maklum, tidur di tenda tidak sama dengan tidur di rumah. Udara dingin tentu sangat menusuk. Sama juga seperti kami sekeluarga yang tidur di ruang tamu dengan posisi pintu membuka lebar. Angin malam menjadi sahabat karib selama berbulan-bulan.

Bantuan mulai berdatangan. Ada yang dari pemerintah seperti pembagian selimut, mie instan, hingga pembagian air bersih. Ada yang dari kantornya Kakak Toto. Ada pula dari keluarga besar kami di Surabaya. Alhamdulillah ... mengingat toko-toko belum semuanya dibuka. Di mana kami bisa membeli sembako waktu itu? Sekeping kerupuk sangat berarti. Hehe. Tapi yang jelas, semua informasi tentang gempa ini kami peroleh dari Kakak Toto. Setiap hari ada saja informasi baru atau berita baru yang dibawa pulang oleh Kakak Toto.

Saya lupa, sebulan atau tiga bulan, kemudian anak sekolah sudah kembali masuk sekolah. Syarat dari sekolah adalah: memakai celana panjang atau celana selutut dan membawa tikar. Kami bersekolah di bawah pohon rindang di sekitar sekolah, SMPN 2 Ende. Asyik juga belajar outdoor. Tapi belajar outdoor kami bukan karena kurikulum melainkan karena force majeur. Satu pelajaran yang paling saya ingat saat belajar outdoor adalah Klitika, pelajaran Bahasa Indonesia, oleh Ibu Siti.

Tapi ... di manakah Petrus?

Ini pertanyaan sejak hari pertama gempa mengguncang. Petrus adalah anak dari suatu desa yang tinggal bersama kami. Sejak hari gempa, dia menghilang. Kata Bapa, kemungkinan Petrus pulang ke desanya bertemu orangtua. Tapi, bukankah banyak kendaraan umum yang tidak beroperasi? Seminggu kemudian pertanyaan kami terjawab. Petrus kembali ke rumah sambil membawa sekarung sayuran dan seekor ayam. Dengan wajah lugunya dia bercerita bahwa berjalan kaki dari Ende ke desanya (sekitar 20 kilometer) memang melelahkan. Kadang dia berlari agar lekas tiba. Dia kuatir pada kedua orangtuanya. Alhamdulillah orangtuanya baik-baik saja. Kondisi mereka di desa jauh lebih baik karena untuk urusan makan-minum selalu ada: kebun dan sumber mata air. Jangan-jangan inilah yang menyebabkan saya punya impian tinggal di desa? Haha.

Baca Juga: 5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik

Gempa mengajarkan kami banyak hal. Salah satunya tentang evakuasi. Di rumah, sejak Mamatua stroke (tahun 2009) dan sejak sering terjadi gempa-gempa kecil, kami belajar mengevakuasi Mamatua. Instruksi dan latihannya lancar jaya. Tetapi suatu malam saat hujan dan gempa kecil terjadi, pada prakteknya begitu sulit karena Mamatua kan juga bertubuh besar dan posisi saat itu belum kami pakaikan kursi roda. Hehe. Indra dan Thika sudah berupaya membimbing Mamatua keluar rumah, kena hujan, eh gempanya berhenti. Latihan evakuasi akan menjadi lebih mudah, kini, karena kami tinggal mengangkat Mamatua ke kursi roda dan mendorongnya ke luar rumah. Tapi yang jelas, selalu berdoa memohon perlindungan Allah SWT.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Pernah kah kalian mengalaminya juga? Pernahkah gempa bumi terjadi di daerah kalian? Bagi tahu di komen.

Mengenang 27 tahun gempa Flores.

#KamisLegit



Cheers.

Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita


Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita. Sebagai manusia, kita seringkali dihinggapi rasa marah akibat kehilangan sesuatu. Sesuatu itu dapat berupa benda mati, dapat pula berupa benda hidup. Kita bisa saja dilanda amarah besar karena kehilangan alat tulis, atau sepotong pizza di kulkas. Kita bisa saja mengamuk karena bunga kesayangan digondol maling berikut wadahnya yang berharga ratusan ribu. Dan, kita juga bisa murka ketika kehilangan seseorang baik itu yang berhubungan darah maupun yang berhubungan emosi. Saya pernah murka pada diri sendiri karena tidak berada di Kota Ende ketika Allah SWT memanggil Bapa pulang ke surga. Saya juga pernah mengamuk pada anak badung yang melewati jalan depan rumah sambil sengaja merepetisi tarikan gas sepeda motor sehingga menimbulkan suara knalpot racing yang memekakkan kuping. Semua murka, amuk, amarah, adalah lumrah sebab kita hanyalah manusia.

Baca Juga: 5 Perkara Yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan

Menulis kata 'manusia' berarti menulis tentang diri saya sendiri, dia, kalian, mereka. Kita. Manusia-manusia penghuni alam raya. Makhluk ciptaanNya yang dilengkapi dengan akal dan perasaan. Bahkan, in case you forget about this, Allah SWT dengan penuh kasih sayang menciptakan manusia dan kita mengenalNya sebagai Maha yang penuh kasih sayang. QS Al Fatihah : 1 berkata "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang". Dan sudah seharusnya manusia saling mengasihi dan menyayangi dalam konteks universal. Dalam konteks privat, mengasihi dan menyayangi, akibat dari anugerah 'perasaan' itu, tercipta ketika ada percikan listrik. Antara seorang lelaki dengan seorang perempuan, tentu saja umumnya begitu. Tapi janganlah menutup mata bahwa konteks privat kasih sayang ini juga terjadi antara lelaki dengan lekaki, antara perempuan dengan perempuan. Gay. Lesbi. Lesbi, bukan let's be. Hehe.

Ketika lelaki dan perempuan, ambilah contoh yang umum, saling mengasihi dan menyayangi, atau saling cinta, ada desakan untuk harus memiliki. Apakah hanya saya saja yang berpikir begini atau kalian juga? Komen di bawah. Harus memiliki ini kemudian menjadi motivasi untuk berusaha melakukan yang terbaik bagi pasangan. Yang terbaik, dilakukan dengan dua cara. Cara pertama adalah menjadi diri sendiri. Cara kedua adalah menjadi seperti yang diinginkan oleh pasangan. Tentu kalian sudah bisa menebak cara mana yang paling ampuh dan bertahan selamanya.  

Menjadi diri sendiri untuk membahagiakan pasangan, meskipun terasa sedikit pahit, memang paling mujarab untuk sebuah hubungan. Tidak ada manusia yang ingin terus-terusan bermain opera di hadapan pasangannya. I guess. Seperti para pelakon di panggung, capek itu pasti. Belum lagi dosa. Maka bermain aman melalui kejujuran, menurut saya, mutlak dilakukan. Kejujuran pasangan pada awal suatu hubungan mungkin tidak dilakukan atau dialami oleh semua orang. Bisa jadi kejujuran seorang lelaki akan membikin seorang perempuan syok. Demikian pula sebaliknya. Tapi percayalah, kejujuran pasti selalu bisa diterima karena masih banyak manusia yang sangat menghargai sebuah kejujuran.

Menjadi seperti yang diinginkan oleh pasangan, meskipun manis, bukanlah sesuatu permulaan yang baik. Setidaknya menurut saya begitu. Karena, pasangan tidak akan melihat dan menerima diri kita seutuhnya. Yang dia lihat dan terima adalah sosok imajiner yang ada dalam pikirannya. Mau sampai kapan terus-terusan menjadi sosok imajiner pasangan kita? Oh, no. Membayangkannya saja saya sudah duluan capek, lelah, letih. I can't! Saya tidak bisa menjadi barbie, Elsa dari animasi Frozen, Upik Abu, atau menjadi Lara Croft yang super seksi. Bahkan saya tidak bisa menjadi seperti Mamatua yang begitu dipuja oleh Bapa. Tapi percayalah masih banyak yang melakoninya dengan pasal tidak ingin kehilangan pasangannya.

Kehilangan saja sudah bikin dada kita sesak. Apalagi kehilangan pasangan. Saya mengalaminya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Entah. Pasangan yang betul-betul disebut pasangan. Pasangan yang baru mulai atau hendak menjadi pasangan. Semoga kalian paham maksudnya. Pada suatu titik didih saya sadari bahwa kehilangan pasangan bukanlah perkara terbesar ranah asmara

Melepaskan sesuatu. Berat. Memang! Harus disikapi dengan seni sehingga yang tertinggal kemudian adalah tawa. Menertawai diri sendiri. Tidak menangis? Ah, sebagai manusia menangis merupakan perbuatan paling manusiawi. Tapi menangis tidak boleh menjadi bagian terbesar dari hidup kita. Jadi, kalau ditanya apakah saya menangis ketika kehilangan? Iya, saya menangis. Sejadinya. Sendiri. Kemudian otak saya mulai mencerna tentang kehilangan ini. Saya mengingat ketika bunga berikut wadahnya digondol maling. Murka. Lantas membiarkan. Siapa sangka saya dihadiahi bunga yang baru oleh orang lain? Saya juga ingat ketika uang saya hilang sekian ratus ribu. Mencari ke mana? Susah sekali kalau jatuh perkaranya soal uang yang hilang. Saya membiarkan saja. Siapa sangka rejeki lain datang dengan cara tidak terduga?

Melepaskan sesuatu itu memang berat. Apalagi ... sesuatu yang sudah kita anggap sebagai hak milik ternyata bukan milik kita. Lelaki. Seorang sahabat bercerita tentang lelaki yang pergi. Lelaki yang telah mengucapkan janji-janji manis di awal, berusaha meyakinkan dalam perjalanan hubungan itu, kemudian memutuskan pergi. Lelaki yang sudah si sahabat anggap sebagai hak milik. Namun, ada ketidakberdayaan yang menyebabkan si sahabat tidak mungkin mempertahankan lelaki(nya). Sementara itu, perasaan sudah mulai bermain-main dalam hubungan itu. Berat. Memang. Ketika mendengar cerita itu, otak saya mulai mencerna. Mungkin lelaki tidak mampu menerima kejujuran sahabat saya, meskipun si sahabat mampu menerima kejujuran lelaki(nya). Bagi lelaki, mana ada perempuan seterbuka dan sesantai itu terhadap masa lalu seorang lelaki yang kelam? Makhluk astral! Maka, kemudian sahabat saya ditinggalkan.

Pada sahabat saya mulai menceritakan tentang perbuatan-perbuatan yang menyenangkan: traveling, mengenal masyarakat di daerah lain, menikmati sunset, nongkrong di kafe, atau sekadar membaca buku self improvement. Sahabat saya tertawa saat saya bercerita tentang teman-teman terbaik di kelas yang berakhir menjadi pengabdi negara, dan teman-teman terburuk di kelas yang menjadi pengusaha sukses. Ah, melihatnya tertawa, saya tahu dia masih sedih tapi setidaknya cerita-cerita konyol saya mampu menguranginya walau hanya sedikit.

Saya pernah berada dalam posisi si sahabat. Ditinggalkan. Kehilangan. Menangis sejadinya. Sendiri. Tapi saya bukan tipe manusia yang bergembira dalam larutan kesedihan. Saya ingin menjadi yang berbeda. Mulai dengan mencerna bahwa setiap kehilangan niscaya akan diganti dengan sesuatu yang baru meskipun tidak harus sesuatu yang jauh lebih baik. Bunga dan wadahnya yang digondol maling itu diganti dengan bunga lain meskipun bukan mawar (bunga yang hilang itu adalah mawar). Saya mencerna bahwa desakan untuk memiliki seseorang adalah kesalahan fatal. Oleh karena itu desakan memiliki saya ganti dengan desakan untuk bersama-saja. Dan seseorang yang telah bersama kita, tanpa harus dimiliki itu, kemudian memutuskan pergi, saya harus melepaskan karena itu bukan milik saya. Seseorang itu adalah milik Allah SWT.

Apakah saya coba menulis tentang ikhlas di sini? Ah, tidak. Ikhlas adalah ilmu tertinggi yang belum bisa saya capai. Mencoba-ikhlas, itu dia. Mencoba-ikhlas dan menjalani kehidupan saya seperti semual jadi. Menikmati keajaiban demi keajaiban yang dicurahkan Allah SWT untuk saya. Menderita maag tapi masih bisa menegak kopi itu adalah keajaiban. Kadar gula dalam darah sangat tinggi tapi masih bisa menikmati cake manis tanpa keluhan adalah keajaiban. Neuropati tapi masih mampu naik-turun tangga tiga lantai adalah keajaiban. Setiap hari mendengar celoteh riang Mamatua bersama Mamasia adalah keajaiban. Pun diberi kesempatan merawat dua keponakan adalah keajaiban. Saya membuka pintu pandangan yang lain ketika pintu asmara saya rusak.
Terakhir, seni untuk melepaskan sesuatu atau seseorang yang bukan milik kita adalah dengan menyadari bahwa itu milik Allah SWT. Itu milik Tuhan. Dan urusan sama Allah SWT itu tidak boleh ada protes. Semakin memprotes, semakin berat yang akan kita pikul. Seni untuk melepaskan sesuatu atau seseorang yang bukan milik kita adalah dengan membiarkan atau mencoba-ikhlas. Seni untuk melepaskan sesuatu atau seseorang yang bukan milik kita adalah dengan membuka pintu pandangan yang lain ketika pintu asmara rusak. Bahwa apa yang dialami bukanlah end of the world. Jangan memikul apa yang tidak perlu dipikul. Biarkanlah.

Kita hanyalah manusia yang diciptakan Allah SWT bukan untuk memikul segalanya dalam hidup.[]



Cheers.

5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik


5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik. Sampah lagi, sampah lagi. Plastik lagi, plastik lagi. Sampah plastik lagi, sampah plastik lagi. Memang sudah sering saya menulis tentang sampah terutama sampah plastik. Tapi rasa-rasanya hampir setiap hari muncul ide baru, atau temuan baru di kepala saya, untuk menulisnya kembali dalam sudut pandang berbeda. Seperti hari ini, saya kembali harus menulis tentang mengurangi sampah plastik. Tidak saja bersumber dari rasa gemas melihat sampah plastik berserakan di Kota Ende selepas hujan, melainkan sampah plastik sebenarnya bisa dikurangi dengan perilaku sederhana. 

Baca Juga: 5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa

Perilaku sederhana berarti untuk turut mengurangi sampah plastik di semesta ini kita tidak perlu mengawalinya dengan konser Lady Antebellum. Tidak perlu harus melakukan ritual seperti bertapa tujuh hari tujuh malam di goa tujuh penjuru mata angin. Tidak juga harus duduk di DPR RI terus diserang kantuk. Hehe. 

Marilah kita cek lima perilaku sederhana untuk mengurangi sampah plasti a la saya.

1. Membawa Botol Air Minum


Lagi. Kampanye membawa sendiri tumbler atau botol air minum ke manapun pergi. Apabila semua orang melakukan hal ini, tidak saja niscaya mampu mengurangi sampah plastik tetapi juga mampu menempatkan diri untuk hidup hemat. Hidup hemat? Ya donk!

Kalian bisa membayangkan apabila dalam sehari membeli maksimal dua botol air mineral ukuran sedang sejumlah Rp 10K maka dalam sebulan dana yang digelontorkan untuk urusan dahaga ini sebesar Rp 300K. Coba dipikir, Rp 300K itu bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain dan/atau ditabung. Saya selalu membawa botol air minum maksimal dua botol per hari karena urusan dahaga saya melebihi orang lain. Hehe. Satu botol air minum masuk tas, satu lagi masuk jok motor. Apabila keduanya habis, saya akan mengisi botol air minum itu dari dispenser yang ada di ruangan-ruangan di Universitas Flores (Uniflor) atau di Kantin dan Warung Damai. 

Membawa sendiri botol air minum sudah menjadi gaya hidup dan kebanggaan saya pribadi. Bagaimana dengan kalian?

2. Menolak Tas Kresek


Menolak tas kresek baru saya lakoni setahun terakhir. Apabila barang belanjaan itu termasuk belanjaan kering yang bisa masuk ke dalam backpack atau jok motor, maka saya menolak tas kresek. Untuk dua botol teh kotak, sebungkus roti iris, atau sekotak rokok, yang rata-rata dibeli di supermarket, ya masuk backpack saja lah. Saya belum sampai pada tahap memanfaatkan rembi. Memang ada sorot mata aneh dari kasir dan atau pedagang/penjual, tapi mereka harus tahu bahwa dengan demikian saya sudah mengurangi sampah plastik di semesta raya.

Bagaimana bila belanja ke pasar tradisional yang otomatis ada daging, ikan, sayuran dan bahkan bumbu dapur? Mudah! Thika Pharmantara selalu membawa tas kresek sendiri dari rumah. Seperti yang sudah saya tulis di atas, bahwa belum sampailah pada tahap memanfaatkan rembi. Lagi pula pola belanja kami ke pasar tradisional adalah seminggu sekali (iya, belanja untuk kebutuhan makan seminggu). Mungkin suatu saat saya dan Thika bakal ke pasar membawa keranjang serta aneka kotak untuk mengisi ikan dan ayam yang biasanya dikasih wadah tas kresek.

3. Menggunakan Rembi


Ini yang sudah saya ulas pada pos Senin berjudul Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik? dan ada kaitanny sama poin nomor dua di atas. Saya pikir, pasti mampu! Karena, sebenarnya para mama sudah menggunakan keranjang berbahan plastik yang bisa dipakai berkali-kali, berbulan-bulan, bertahun-tahun, turun-temurun! Bagi yang belum menggunakan keranjang untuk berbelanja, khusus masyarakat Kabupaten Ende, tentu bisa menggunakan rembi. Optimis! Karena dengan berpikir dan bersikap optimis niscaya akan terwujud cita-cita bersama menggantikan tas belanjaan plastik/tas kresek dengan rembi.

4. Membawa Kotak Makan


Hampir sama dengan poin nomor satu di atas, membawa botol air minum sendiri, membawa kotak makan juga bisa dilakukan untuk mengurangi sampah plastik. Apakah saya sudah melakukannya? Sudah donk. Biasanya di dalam jok motor selalu tersedia satu kotak mungil tempat mengisi bekal/jajan dari rumah. Kotak itu juga bakal saya isi dengan makanan apabila ada makanan dari kantor/kampus yang perlu dibawa pulang ke rumah. Memang kita belum sepenuhnya melakukan ini, yaitu membawa kotak makan apabila hendak berbelanja ke warung, tetapi suatu saat pasti bisa terwujud. Mulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

5. Mendaur Ulang Sampah Plastik


Ini sudah pasti dan rasanya tidak perlu penjelasan lebih lengkap. Karena, dengan mendaur ulang sampah plastik otomatis akan mengurangi sampah plastik. Manapula sampah plastik yang didaur ulang itu alias barang hasil daur ulang sampah plastik itu bernilai ekonomis cukup tinggi apabila hendak dijual lagi. Ya, saya sudah melakukannya. Ya, saya sudah membuktikannya.

⇝⇜

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Sampah, terutama sampah plastik sudah semakin memberatkan bumi kita. Perilaku kita sendiri yang menentukannya: apakah bakal semakin berat ataukah sedikit lebih ringan? Tidak perlu berpikir terlalu tinggi untuk mengurangi sampah plastik di semesta raya, cukup dengan perilaku sederhana seperti lima poin di atas, saya pikir sudah sangat mampu.

Bagaimana menurut kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen!

#KamisLima



Cheers.

5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa


5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa. Banyak orang tidak tahu tentang Ae Sale Mengeruda. Tapi kalau Air Panas Soa (baca: So'a) semua orang pasti tahu. Sejak dulu saya pengen bisa pergi ke obyek wisata yang satu ini. Selalu gagal. Selalu batal. Akhirnya keinginan untuk berendam kaki di lokasi wisata yang terletak di Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada itu pun terwujud pada Minggu, 27 Oktober 2019. Sayangnya waktu pergi ke sana saya hanya merendam kaki, bukan seluruh badan. Sengaja sih ... tidak bawa pakaian ganti pun. Hehe. Yang penting saya sudah ke sana, memenuhi keinginan lama itu.

Ada banyak catatan penting dari perjalanan menuju Air Panas Soa hingga suasana di obyek wisata tersebut. Tapi, seperti biasa, di pos blog ini saya hanya merangkum lima saja. Mau tahu apa-apa saja? Marilah dibaca sampai selesai.

1. Jalur Dari Timur yang Bagus


Menuju Air Panas Soa ada dua jalur yang bisa ditempuh. Karena kami datang dari Timur, jalur yang ditempuh adalah Ende - Boawae - Soa. Untuk tiba di obyek wisata ini kami tidak perlu memutar dan/atau pergi terlebih dahulu ke Kota Bajawa yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Ngada. Cukup ke Kecamatan Boawae yang merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Nagekeo, lantas mengikuti jalur, jalan aspal selebar sekitar dua meter, menuju Desa Piga, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada.



Jalur Boawae - Soa ini sangat bagus: jalan aspal dan minim lubang. Tidak terlalu lebar, memang, tapi sepadan dengan kendaraan yang juga tidak seberapa ramai. Berasa seperti jalur/jalan privat. Akan sangat jauh berbeda jika mengikuti jalur utama Trans Flores: Boawae - Bajawa, silahkan berlomba-lomba dengan aneka kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil, truk, fuso, tanki minyak, dan lain sebagainya.

2. Entrance dan Parkiran yang Tertata Rapi


Saya suka entrance dan parkiran Air Panas Soa. Parkirannya tertata rapi, dengan pohon-pohon rindang menaungi pengunjung bersantai sejenak, disertai baliho dengan gambar informasi tentang obyek-obyek wisata yang ada di Kabupaten Ngada.



Rata-rata obyek wisata yang ada di baliho itu merupakan obyek wisata 'baru' sehingga jangan cari Kampung Adat Bena, kemungkinan tidak ada. Justru yang ada adalah Watunariwowo di Perbukitan Langa.

3. Jejeran Kios


Ini yang cukup penting dari suatu tempat wisata, terutama jika tempat wisatanya sangat jauh dari daerah perkotaan.


Jejeran kios ini sangat membantu pengunjung dari jauh, seperti kami, yang mengendarai sepeda motor. Maklum, cuaca sedang sangat panas-panasnya. Kalau melihat foto di atas, kalian akan melihat papan informasi karcis masuk. Tidak hanya di situ, di loket pembelian/pembayaran karcis pun ada kertas yang ditempel, kertas itu berisi informasi tentang karcis juga.

4. Pemetaan Lokasi di Dalam Air Panas Soa


Ini keren. Jadi, pemerintah tahu banget soal kebutuhan masyarakat atau pengunjung. Di dalam lokasi Air Panas Soa ada tiga pemetaan utama. Pertama: gazebo. Kedua: taman bunga dan taman buah. Tiga: tempat berendam/pemandian. Ketiganya dihubungkan dengan jalan setapak yang cukup rapi. Tetapi hari itu sedang ada pengerjaan/perbaikan sehingga kami harus memutar ke sana sini hehe.



Selain itu, disediakan pula kamar mandi tempat menyalin pakaian. Maklum, kami masih sangat teguh memegang adat ketimuran sehingga sangat sulit bagi kami memamerkan bodi dengan memakai bikini. Haha. Rata-rata orang yang berendam di Air Panas Soa, kalau lelaki mengenakan celana pendek, kalau perempuan mengenakan kaos dan celana pendek. Kalau yang berhijab tinggak disesuaikan saja. Yang jelas, semua masih sangat sopan untuk sebuah tempat pemandian umum seperti itu. Ingat, ngeres itu datangnya dari diri sendiri *ngikik*. Tempat menyalin baju di mana lagi kalau bukan di kamar mandi?

5. Memegang Adat


Di Air Panas Soa, bagian dekat loket penyerahan karcis masuk, berdiri gagah ngadu.


Ngadu merupakan simbol leluhur lelaki. Sedangkan simbol leluhur perempuan itu bernama bagha yang berbentuk rumah adat mini (ibu sebagai tempat penyimpanan makanan). Menariknya, ngadu yang ini berbeda dengan ngadu yang pernah saya potret di Kecamatan Aimere. Di Kecamatan Aimere, ngadu-nya tanpa tangan.

⇜⇝

Itu dia lima catatan penting saya saat berkunjung ke Ae Sale Mengeruda atau Air Panas Soa. Jelas ya, tempat wisata ini dikelola dengan sangat baik, semuanya serba teratur, jadi malu juga untuk buang sampah sembarangan. Hehe. Tempat sampah ada di mana-mana, makanya kesannya bersih sekali obyek wisata ini. Semua sama-sama menjaganya.
\

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Yang jelas, kalau kalian pergi ke Air Panas Soa melewati jalur dari Timur, jangan lupa untuk mampir foto-foto di perbukitannya yang ausam! Informasi lengkap tentang perjalanan saya, Thika, dan Yusti ke Air Panas Soa, bisa kalian baca di pos berjudul Merendam Kaki di Obyek Wisata Ae Sale Mengeruda.

Yuk ah ...

#KamisLima



Cheers.

5 Rencana Kegiatan Keren Menuju 40 Tahun Uniflor


5 Rencana Kegiatan Keren Menuju 40 Tahun Uniflor. Berapa tahun sudah saya menjadi bagian dari Universitas Flores (Uniflor)? Delapan tahun! Waktu yang lama untuk mencintai sampai ke sum-sum. Uhuk. Hahaha. Tahun 2020 Uniflor yang saya cintai ini akan berusia empat puluh. Panca Windu. Forty. The number that follows 39 and precedes 41. Usia yang matang, sesuai kata orang-orang, life begin at forty. Menuju empat puluh tahun usianya, Uniflor telah mulai mempersiapkan kepanitiaan dan rencana kegiatan seabrek. Uh wow sekali. Dan sebagai bagian dari kepanitiaan, saya merasa dialiri energi super sehingga akhirnya memutuskan perlu menulis ini. Meskipun, sebenarnya draf tulisan tentang dunia asmara sudah 90% rampung.

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Ada empat pilar utama dengan koordinator utama masing-masing yang ditetapkan sebagai dasar kegiatan-kegiatan menuju empat puluh tahun Uniflor. Empat pilar itu adalah Pilar A, Pilar B, Pilar C, dan Pilar D. Hahaha. Rincian nama pilar tidak dituliskan di sini. Setiap pilar punya daftar kegiatan/acara masing-masing. Misalnya Pilar A punya sepuluh kegiatan, Pilar B punya sebelas kegiatan, Pilar C punya delapan kegiatan, Pilar D punya dua kegiatan. Sementara saat ini saya cukup menulis lima kegiatan yang dirangkum dari kegiatan-kegiatan di bawah naungan empat pilar utama tersebut.

Sampai di sini kita sepemahaman kan ya.

Jadi, apa saja lima kegiatan, yang menurut saya keren, menuju empat puluh tahun Uniflor?

Cekidot!

1. Lomba Blog, Vlog, dan Foto


Ini dia kegiatan yang masuk dalam Pilar A. Kebetulan saya pula yang menjadi sub-koordinator Lomba Blog, Vlog, dan Foto. Begitu lomba-lomba ini di-mention dalam pertemuan pertama, rasanya seperti ditombak dari jarak sangat dekat. Tentu saya senang. Banget. Nge-blog sejak tahun 2002/2003, hiatus dan bangkit berkali-kali, menjadi pemateri blog bahkan hingga sekarang, membuka banyak Kelas Blogging Online bersama Om Bisot dan Kanaz, pernah membikin berbagai lomba blog waktu masih aktif di komunitas, kemudian dipercayakan mengkoordinir lomba seakbar ini ... supa amazing! Meskipun lomba-lomba ini baru akan dilaksanakan tahun depan tapi saya sudah selesai donk menyusun semua draf-nya. Saya memang gila. Kalau itu yang ingin kalian bilang. Haha. Selain lomba blog, vlog, dan foto, juga akan digelar lomba karya ilmiah dan lomba-lomba yang berhubungan dengan dunia akademik.

2. Seminar Nasional


Dunia universitas, dunia kampus, dunia akademik, harus bisa menyelenggarakan seminar baik yang tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Seminar tingkat lokal dan nasional memang sudah sering diselenggarakan di Uniflor. Saking seringnya, saya jadi punya banyak informasi baru karena harus meliput juga kan. Dan menuju empat puluh tahun Uniflor akan diselenggarakan seminar nasional, Insha Allah seminar internasional (ini masih wacana kalau internasional).

3. Edukasi Sampah dan Tentang Literasi


Dari Pilar B, ada banyak sekali kegiatan dan dua diantaranya saya gabungkan di sini yaitu edukasi sampah yang termasuk dalam baksos, serta literasi. Edukasi sampah nanti digabung dalam kegiatan bakti sosial: bersih-bersih sampah. Kenapa edukasi sampah ini penting? Karena selama ini banyak kegiatan membersihkan sampah tapi masih kurang eduksi tentang sampah: jenis sampah, pemilahan sampah, daur ulang sampah, sampah menjual barang hasil daur ulang sampah. Kalau rencana ini berjalan, saya bakal sangat happy. Sedangkan literasi itu wajib, karena mengingat mahasiswa KKN Uniflor 2019 telah membangun Rumah Baca Sao Moko Modhe di Kabupaten Nagekeo tepatnya di Desa Ngegedhawe. Artinya, literasi: pengumpulan dan penyumbangan buku untuk rumah baca, serta kegiatan pendukungnya nanti, merupakan kegiatan berkelanjutan. Kan bangga, Uniflor yang bermarkas di Kabupaten Ende membangun rumah baca di Kabupaten Nagekeo. Kan sayang, Kabupaten Ende belum melaksanakan Festival Literasi, sedangkan Kabupaten Nagekeo sudah melaksanakannya. Hiks.

4. Sunat Masal


Donor darah sudah sering dilakukan, dan memang akan dilakukan juga, tapi sunat masal? Ini yang juga supa amazing. Hehe. Waktu dicetus kegiatan kawin sunat masal saya terbengong-bengong. Hebat euy. Insha Allah kegiatan ini dapat terlaksana dan memberi berkah bagi banyak anak-anak (Muslim/Muslimah) di Kabupaten Ende. Amin.

5. Retret


Saya suka sekali ide yang satu ini. Perlu kalian ketahui, Uniflor punya kegiatan tahunan semacam Uniflor Family Day atau Tur Uniflor yang diikuti oleh dosen dan karyawan. Memang, kegiatan itu semacam kegiatan relaksasi dosen dan karyawan yang digabung pula dengan pengabdian kepada masyarakat di daerah tujuan. Biasanya bisa tiga hari kegiatan yang melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Tetapi kali ini diusulkan untuk dilaksanakan kegiatan retret lintas agama. Maksudnya, retret yang selama ini identik dengan Agama Katolik kemudian dibikin lebih universal, lintas agama, karena kita Indonesia! Yuhuuuuu.

⇜⇝

Lima kegiatan keren di atas memang tidak bisa mewakili semua kegiatan yang telah dirancang oleh panitia seperti kegiatan di bidang olah raga dan lain sebagainya. Yang jelas awal November 2019 bakal ada kegiatan akbar yang tujuannya me-launching dua perkara utama. Yang pertama: launching Ema Gadi Djou Memorial Cup. Yang kedua: launching Panitia 40 Tahun Uniflor. Kegiatan tersebut bakal diwujudkan dengan parade yang masif (saya melihat begitu banyak orang, termasuk mahasiswa, dilibatkan) dimana setiap program studi di Uniflor bakal tampil mewakili setiap kabupaten yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ya, Uniflor memang mediator budaya!

Baca Juga: 5 Program KKN Uniflor Keren Dalam Pengabdian Masyarakat

Doakan semua kegiatan yang sudah direncanakan dapat berjalan dengan baik ya, kawan. Yang jelas awal November nanti, saat perhelatan sepak bola Ema Gadi Djou Memorial Cup digelar, akan ada bazaar di depan Stadion Marilonga. Marilah kita ramai-ramai ke sana. Nanti ... hehe.

Satukan langkah, bulatkan tekad, menuju Uniflor bermutu!

#KamisLima



Cheers.

5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur


5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak saja kaya akan suku, tetapi juga kaya akan bahasa, adat istiadat, serta budaya. Salah satu hasil kebudayaan masyarakat Provinsi NTT adalah tenun ikat. Tenun ikat dari NTT dibikin secara manual oleh tangan-tangan bersahaja para penenun, dibumbu cinta kasih, dan melalui proses panjang yang memakan waktu hingga berbulan-bulan. Alat menenunnya pun masih menggunakan alat tenun tradisional. Selain menggunakan pewarna buatan pada tenun ikat, para penenun juga masih mempertahankan pewarna alami seperti akar mengkudu dan daun taru(m). Khusus di Kabupaten Ende, tenun ikat yang masih menggunakan pewarna alami ini terutama pada tenun ikat berjenis Kembo. Tidak heran harga Kembo sangat mahal. Bisa mencapai jutaan Rupiah.

Baca Juga: 5 Perkara yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan

Sebagai masyarakat Kabupaten Ende, Pulau Flores, tentu saya wajib memiliki tenun ikat, yang masih dalam bentuk lembaran maupun sudah menjadi sarung, untuk dipakai ke acara-acara tertentu, acara keluarga maupun acara kantor. Setidaknya satu perempuan Kabupaten Ende, baik Suku Ende maupun Suku Lio, harus punya satu sarung tenun ikat jenis manapun. Kebanyakan, perempuan Kabupaten Ende mempunyai dua sarung tenun ikat dan salah satunya pasti berjenis Kembo.

Sejak satu bulan lalu Universitas Flores (Uniflor) memberlakukan tata tertib berpakaian baru. Sebagai karyawati yang patuh *uhuk*, tentu saya harus mengikuti peraturan tersebut. Saya jadi gemar mencari tahu tenun ikat selain dari Kabupaten Ende. Peraturan berpakaian itu adalah setiap Hari Selasa memakai kemeja putih dan sarung tenun ikat khas Kabupaten Ende, setiap Hari Kamis memakai kemeja rapi dan kain dari daerah manapun di Nusantara. Tidak masalah, karena setelah membongkar lemari, saya punya beberapa tenun ikat Kabupaten Ende (berbagai jenis) juga tenun ikat dari kabupaten lain di Provinsi NTT. Tidak hanya itu, saya juga punya kain batik hadiah dari teman-teman: batik Bali, batik Madura, batik Jawa.

Menulis LIMA pada judul pos ini tentu bukan berarti di Provinsi NTT cuma ada lima jenis tenun ikat. Jangankan satu provinsi, satu kabupaten saja tidak bisa diwakili dengan lima jenis tenun ikat saja. Tapi, lima merupakan angka Kamis di blog ini, sehingga kali ini saya ingin menulis tentang lima jenis tenun ikat yang sudah berhasil saya kumpulkan. Hehe. Sombong sedikit tak masalah kan ya.

Marilah kita cek.

1. Sarung Mangga


Nama tenun ikatnya adalah Mangga, kalau sudah dijahit sarung, ya jadinya sarung Mangga. Sarung Mangga identik dengan warna hitam dipadu corak putih dan merah. Coraknya kecil-kecil dengan ikatan yang rapi. 


Harga sarung Mangga berkisar Rp 500K s.d. Rp 700K. Tidak semahal sarung Kembo. Sudah saya tulis di atas, Kembo itu mahal karena pewarnanya pewarna alami serta proses membikinnya yang super lama. Bisa mencapai enam bulanan. Makanya, memakai Kembo itu selalu membikin perempuan merasa jauh lebih bangga. Hehe. Mahal coy. Beda dengan perempuan Suku Ende yang umumnya memakai sarung Kembo dan/atau sarung yang katanya: tidak bernama, perempuan Suku Lio lebih banyak pilihan jenis sarungnya seperti sarung Kelimara, sarung Jara (ada cora kuda),  sarung Lepa, sarung Pundi, sarung Luka, dan lain-lainnya.

Untuk mengumpulkan semua jenis sarung dari Kabupaten Ende saja saya harus menunggu uangnya terkumpul, haha.

2. Tenun Ikat Sikku


Kalau kalian beranggapan tenun ikat asal Pulau Sumba itu hanya seperti yang diperdebatkan dengan tenun ikat Troso - Jepara, kalian salah. Pulau Sumba terbagi atas empat kabupaten yaitu Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Tengah, Kabupaten Sumba Barat, dan Kabupaten Sumba Barat Daya. Setiap kabupaten punya jenis tenun ikatnya masing-masing. Yang berbentuk fauna itu umumnya dari Kabupaten Sumba Timur. Sedangkan yang satu ini berasal dari Kabupaten Sumba Barat, saya beli waktu mempromosikan Uniflor beberapa tahun lalu:


Namanya Sikku. Berasal dari Kabupaten Sumba Barat di Pulau Sumba. Informasi tentang Sikku ini saya peroleh dari sahabat saya yang asli sana dan menetap di sana, Marten Bira. Saya punya dua tenun Sikku ini, satunya sudah dibikinkan gaun saat wisuda tahun 2018 lalu. Hehe. Yang satu ini masih saya pertahankan karena memang pengen memakainya dalam bentuk lembaran begini alias tidak perlu dijahitkan baju. Tahun 2015 saya membelinya seharga ... lupa ... sekitar Rp 300K sampai Rp 400K.

3. Sarung Kewatek 


Dari deskripsi yang saya peroleh dari berbagai sumber, maka sarung yang gambarnya di bawah ini bernama Kewatek, berasal dari Pulau Adonara. Kebetulan ada teman yang menjualnya dengan harga murah, langsung angkut, hanya Rp 400K. 


Satu-satunya yang tersisa alias sudah tidak ada pilihan lagi hahaha. Kenapa saya ngotot harus memilikinya? Karena ... kapan lagi? Pertama: masih bisa saya pakai setiap Hari Kamis sesuai aturan berpakaian di kantor. Kedua: koleksi. Perlahan-lahan. Saya masih pengen punya tenun ikat dari wilayah lain di Pulau Flores dan sekitarnya.

4. Hoba Nage


Tentang Hoba Nage dan bagaimana cara saya memburunya, itu perkara yang berkaitan dengan tema wisuda Uniflor 2019. Kalian bisa membaca ulasannya pada pos berjudul: Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo


Umumnya Hoba Nage dipakai oleh kaum perempuan dari Kabupaten Nagekeo. Sedangkan untuk laki-lakinya memakai Ragi Woi. Tapi di Kota Mbay, perempuan juga menggunakan Ragi Woi, tidak hanya laki-laki.

5. Ragi Woi


Ini dia si Ragi Woi. Saya mendapatkannya dari keponakan setelah mereka menikah. Iwan (keponakan saya) menikah dengan Reni (asal Danga, Kota Mbay, Kabupaten Nagekeo).


Kuningnya itu yang sangat khas, dan rasa-rasanya sangat cocok dipakai oleh Presiden Negara Kuning (sayaaaaa hahaha).

⇜⇝

Mempunyai lima jenis tenun ikat pada daftar di atas saja sudah membikin saya senang bukan kepalang. Akhirnya punya Kewatek! Akhirnya punya Hoba Nage! Meskipun memilikinya tidak pada satu masa bersamaan, tapi yang jelas sebagai masyarakat Provinsi NTT saya boleh berbangga pada orang luar. Pun, setidaknya saya masih bisa menjelaskan pada orang luar tentang asal daerah tenun ikat bersangkutan, nama/jenisnya, serta dipakai oleh laki-laki atau perempuan(?). Kan malu kalau ditanya sama orang luar, eeeeh tidak mampu menjawabnya, padahal informasinya bisa diperoleh dari mana saja, terutama dari penduduk/orang yang memang tahu benar.

Baca Juga: 5 Alasan Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo

Apakah saya masih mau mengumpulkan tenun ikat dari daerah lain di Pulau Flores dan/atau Provinsi NTT? Oh, tentu! Saya harus punya sarung/tenun ikat dari Kabupaten Manggarai (Kabupaten Manggarai Barat atau Kabupaten Manggarai Timur, mana-mana suka), Kabupaten Sikka, Kabupaten Pulau Lembata, bahkan dari Pulau Sabu. Dulu, saya punya selendang/syal asal Pulau Sabu tapi sudah saya berikan ke teman. Nanti cari lagi. Hehe.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi saya, mengumpulkan tenun ikat aneka jenis dari berbagai daerah merupakan perbuatan kecil demi melestarikan budaya dan membantu para penenun. Cuma perbuatan kecil, tapi kalau dilakukan oleh banyak orang, akan menjadi perbuatan besar. Bukan demikian? Demikian ... hehe.

#KamisLima



Cheers.

5 Perkara Yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan


5 Perkara Yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan. Tumben menulis ini. Memang. Adalah sangat di luar kebiasaan. Saya sendiri juga kaget kenapa mendadak ide ini muncul di kepala pada saat listrik padam, sehingga terpaksa drafnya saya tulis di aplikasi catatan smartphone, karena kuatir idenya menguap. Mungkin karena akhir-akhir ini linimassa media sosial, terutama Facebook, selain dipenuhi status dan share artikel demo RKUHP juga dipenuhi status dan artikel tentang bagaimana seharusnya membina hubungan. Mungkin juga karena selama hampir tujuh bulan terakhir saya memperbaiki dan mengasingkan diri dari perkara-perkara yang mengganggu pikiran dan perasaan. Mungkin. Artinya, tidak pasti.

Baca Juga: 5 Alasan Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo

Tulisan ini adalah tentang diri saya sendiri sebagai seorang perempuan. Perempuan lain mungkin juga butuh membacanya. Refleksi? Bukanlah. Curhat? Ah, Presiden Negara Kuning males curhat hahaha. Apa ya? Terserah kalian mengapresiasinya sebagai apa. Anyhoo, hubungan yang saya maksudnya di sini adalah hubungan asmara. Hubungan asmaranya pun antara lelaki dan perempuan. Kita sepemahaman dulu tentang ini.

Mari lah dimulai.

1. Hubungan Itu Tentang Chemistry


Saya sadari betul. Hubungan itu tentang chemistry. Tentang percikan kimiawi antara dua insan. Tanpanya, jangan coba dipaksakan. Dengannya, beranilah mencoba meskipun duri-duri melukai sampai berdarah-darah. Saya pernah berpikir bahwa lelaki yang bakal menciptakan percikan bersama saya itu harus setampan Orlando Bloom, sekharismatik Richard Gere, sekaya Bill Gates, atau yang jago sihir kayak Harry Potter. Ternyata ... Tidak. Karena chemistry itu sesuatu yang abstrak. Dia muncul bukan akibat dari fisik dan harta benda semata. Ada x-factor yang menyebabkan chemistry itu tercipta. Percayalah, saya sudah pernah melewatinya.

Bagi saya, chemistry itu tentang butterflies in my stomach. Tentang rindu yang tak terbantahkan. Tentang pertanyaan: who the hell are you? Tentang logika yang menguap. Tentang pandangan realistik yang tiba-tiba upside down sampai saya sepertinya tidak mengenal diri saya sendiri. Tentang rasa nyaman ketika bersamanya, face to face in real life maupun face to face by video call. Saya percaya, chemistry itu kekuatan paling dasar dari sebuah hubungan. Seperti lirik lagunya Babyface dan Des'ree. Fire. 

2. Hubungan Itu Tentang Kepastian


Ada lelaki yang tidak suka tentang hal ini. Menetapkan tanggal atau bulan jadian, misalnya. Tapi perempuan, terutama diri saya pribadi, harus punya tanggal jadian (oke, kita pacaran dan saling mengikatkan diri). Tanpanya, saya atau perempuan di luar sana bakal merasa oleng. Sepele memang, tapi percayalah, ini cukup penting. Ada teman yang bilang, pikiran ini muncul di benak saya gara-gara belajar hukum khususnya Hukum Perdata. Tidak juga ... sejak belum mengenal dunia hukum pun saya sudah punya pikiran seperti ini.

Bayangkan saja, jika ada pertanyaan: kapan kalian jadian? Lebih parah pertanyaan: kapan kalian menikah? Terus jawabnya: yaaa eeerrr ya itu tahun lalu entah kapan mendadak sudah jadian, pokoknya gitulah. Atau: mendadak saja kami sudah jadi suami isteri. Haha.

Kapan Indonesia merdeka?
Kapan pelantikan DPR?
Kapan WHO berdiri?

3. Hubungan Itu Tentang Komunikasi


Pentingkah komunikasi dalam sebuah hubungan? Bukankah saya milik kau, kau milik saya, sudah cukup? Bele (Om/Paman), saya bilang ya, komunikasi itu mahapenting meskipun tidak harus maharomantis. Komunikasi tidak perlu harus ada kata 'sayang' dan 'I love you' di dalamnya. Komunikasi, saling bercerita tentang kehidupan masing-masing, selera, warna favorit, kebiasaan, do and don't, keinginan masing-masing apabila hubungan ini diteruskan, bahkan keluarga. Perlulah ini dilakukan. Agar saling tahu baik buruknya. 

Kalau boleh saya tulis, komunikasi adalah jembatan penyeberangan perasaan dua insan yang sudah mau saling mengikatkan diri dalam suatu hubungan. Percayalah, dari komunikasi kita jadi tahu banyak tentang pasangan, yang selama ini mungkin hanya kita ketahui dari omongan dan bisik-bisik orang lain. Bukankah komunikasi juga merupakan elemen penting, secara umum, kehidupan umat manusia? Tanpanya, Upin Ipin takkan bisa belajar di Tadika Mesra. Haha.

Dan, tentu saja, komunikasi adalah penawar dari rindu yang tumpang tindih.

4. Hubungan Itu Tentang Saling Mengerti


Kata 'saling' ini harus diperhatikan. Karena, kadang lelaki mau dimengerti terapi tidak mau mengerti perempuan. Demikian pula sebaliknya, kadang perempuan hanya mau dimengerti tanpa mau mengerti si lelaki, gara-gara keseringan dengar lagunya Ada Band - Karena Wanita Ingin Dimengerti. Oleh karena itu, perhatikan kata 'saling'. Saling mengerti. Saat lelakinya sibuk, perempuan harus bisa mengerti. Demikian pula saat perempuanya sibuk, lelaki harus mengerti. Terutama jika keduanya sama-sama punya tingkat kesibukan super tinggi.

Tapi ingat, jangan pernah mengerti terhadap pasangan yang selingkuh. Itu kedunguan tingkat dewa. Oh saya sangat mengerti pasangan saya jadi saya ijinkan dia selingkuh. Mengertilah apabila dia tidak bisa menghubungi terus-menerus. Mengertilah apabila dia harus mementingkan keluarga dan teman-temannya terlebih dahulu. Mengertilah apabila dia harus tunduk pada atasannya karena di situlah sawah dan ladangnya.

Sebagai perempuan, tentu saya atau kalian ingin bisa mengerti si lelaki. Dan saya ingin semua orang mengerti bahwa apabila hubungan baru sampai tahap pacaran, janganlah meminta semua waktunya. Karena, sebelum mengenal kita dia sudah lebih dulu mengenal orangtuanya, kakak adiknya, keluarganya, tetangganya, teman-temannya. Apalah kita yang datang di pertengahan hidupnya? Makanya, saya paling anti sama pacar dan/atau isterinya teman yang suka menghalangi pertemanan atau persahabatan. Hei, kalau saya mau, sudah dari dulu saya kawin sama lakimu itu. Hahaha. Bercandaaaaa.

5. Hubungan Itu Tentang Harapan Bersama


Harapan sebuah perselingkuhan akan menimbulkan masalah besar. Pasangan si dia pasti tidak bisa menerimanya. Tapi harapan dua orang yang berpacaran dan/atau ta'aruf, dengan kondisi sama-sama bujang, itu pasti ada. Mana ada manusia yang maunya pacaran terus tanpa punya harapan duduk di pelaminan dan membina rumah tangga. Jadi tidak salah kalau saya menulis, hubungan itu tentang harapan bersama. Harapan ini dapat tercipta apabila telah lebih dulu tercipta chemistry, kepastian, komunikasi, dan saling mengerti.

⇜⇝

Setelah menulis semua di atas, lalu membacanya kembali, saya merasa lucu. Betul-betul ini sebuah ide yang tidak biasa untuk pos blog ini, tapi ide yang biasa untuk catatan pribadi di T-Journal. Meskipun tulisan ini adalah tentang saya pribadi, sebagai seorang perempuan yang belum menikah, namun ini berlaku untuk semua orang: lelaki dan perempuan. 

Baca Juga: 5 Program KKN Uniflor Keren Dalam Pengabdian Masyarakat

Kadang-kadang, ketika menjalani sebuah hubungan, kita berkata dalam hati: jalani saja dulu, biarkan mengalir, nanti juga mentok. Saya bertemu dan belajar dari seseorang yang menolak mentah-mentah kalimat 'jalani saja dulu'. Baginya, tidak ada kata jalani saja dulu. Apabila chemistry sudah tercipta, maka dia akan sungguh-sungguh melakoninya. Setelah lama saya pikir-pikir, ada benarnya. Jalani saja dulu itu semacam keputusasaan tanpa usaha untuk menjadikannya jadi. Atau, jalani saja dulu itu semacam ketidakpastian. Jalani saja dulu ... nanti kalau cek-cok pisah saja. Amboi, perasaan itu kalau bisa bicara dia bakal memaki kita hahaha.

Sekian dulu ya. Feel free kalau mau komentar.

Semoga bermanfaat :)

#KamisLima




Cheers.

5 Alasan Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo


5 Alasan Kenapa Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Sebelumnya, pos ini sudah saya tayangkan di Blog Travel. Beberapa minggu terakhir saya sering berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Alasannya macam-macam. Mulai dari kunjungan pribadi, sampai dengan kunjungan kenegaraan liputan kegiatan mahasiswa yang melaksanakan KKN-PPM di Kabupaten Nagekeo. Kabupaten yang diresmikan tahun 2007 ini merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Ngada. Berbeda dari kabupaten pemekaran lain yang pernah saya kunjungi yang mana terkesan dipaksakan, Kabupaten Nagekeo memang layak berdiri sendiri melihat berbagai potensi baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.

Juga Asyik Dibaca: Tahap-Tahap Menuju Pelaminan Dalam Adat Suku Ende


Ada banyak hal menarik bak magnet yang memanggil-manggil saya untuk terus ber-KakiKereta ke Kabupaten Nagekeo, soalnya keponakan saya juga sedang membangun rumah di daerah Towak. Tapi seperti biasa, karena saya tertarik dengan angka lima, kali ini saya menulis lima alasan kenapa kalian harus berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Kalau ada lagi alasan lainnya ... menyusul! Hehe.

1. Pesona Bukit-Bukit Sabana


Tidak dapat dipungkiri Kabupaten Nagekeo itu identik dengan perbukitan sabananya. Dan pemandangan itu mengingatkan saya pada Pulau Sumba. Perbukitan sabana ini mulai lebih banyak nampak sekitar sepuluh kilometer sebelum memasuki Ibu Kota Kabupaten Nagekeo yaitu Kota Mbay. Bahkan di daerah Penginanga, berdiri jejeran pohon gamal yang bisa jadi lokasi spot foto terkeceeeee. 


Saya pernah menulis tentang perbukitan ini dalam pos Bukit Sabana di Nagekeo. Pos lainnya berjudul The Gold and The Geautiful. Silahkan dibaca kedua pos itu untuk tahu dan ngiler sama foto-fotonya. Perbukitan sabana ini berubah-ubah warnanya tergantung musim. Ada tiga warna yang bisa kalian temui yaitu warna hijau, kuning keemasan, dan hitam (saat penduduk membakar lahan agar menyuburkan tanah).

2. Bukit Weworowet dan Festival Daging Domba


Kalian harus berkunjung ke Bukit Weworowet! Bukit unik ini terletak di Desa Waekokak pada jalan trans-Flores antara Kabupaten Nagekeo dengan daerah Riung.


Baru-baru ini saya menerima kiriman foto via WA dari Novi Azizah yang tinggal di Kota Mbay. Di foto itu jelas nampak keramaian di sekitar Bukit Weworowet. Ternyata sedang dibuka Restoran Daging Domba di sana, cikal bakal Festival Daging Domba yang bakal diselenggarakan pada Bulan Oktober 2019 nanti. Yuk ramai-ramai berkunjung saat Festival Daging Domba digelar. Tetapi informasi lebih jelas tanggalnya nanti ya. Ini baru informasi awal dari Novi Azizah, salah seoang aktivis muda di Kabupaten Nagekeo. Termasuk informasi tentang Festival Literasi oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo. Ausam!

3. Hasil Bumi, Hasil Laut, dan Peternakan


Orang bilang tanah kita tanah surga. Hehe. Itu ungkapan lirik lagu Koes Plus yang memang betul. Faktanya memang begitu. Kabupaten Nagekeo terkenal akan kuliner daging domba dan daging bebeknya. Ikan-ikan segar pun tak mau kalah. Dan pastinya hasil pertanian dan perkebunan. Kalian sudah tahu kalau Kabupaten Nagekeo dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil beras terbaik dari Pulau Flores?


Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo, pun ke Kota Mbay, kita akan merasakan dua suasana sekaligus. Suasana kota dan suasana pedesaan. Petak-petak sawah juga ada di daerah kota. Ini keren. Saya pernah melihat hal semacam ini waktu dulu pergi ke rumah Bapak Nadus dan Mama Mia (Kakaknya Mamatua) yang tinggal di Perumnas Monang-Maning, Denpasar, Bali.

Juga Asyik Dibaca: Dudo Bacarita Rame di Larantuka


Menariknya, masyarakat Kabupaten Nagekeo telah diingatkan oleh Bupati mereka sendiri yaitu Bapak Don, bahwa setiap kunjungan Bupati ke kecamatan/kelurahan/desa, tidak boleh disuguhkan makanan yang mewah. Bapak Don lebih suka hasil bumi yang disuguhkan seperti pisang dan ubi rebus beserta sambal.


Pisang dan ubi rebus serta sambal seperti gambar di atas saya nikmati saat Bapak Don meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe yang dibangun oleh mahasiswa peserta KKN-PPM di Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Bapak Don sendiri juga menikmatinya, bersama segelas kopi yang rasanya bikin lidah bergoyang salsa. Hehe.

4. Keramahan Masyarakat


Rata-rata Orang Indonesia itu ramah. Melihat dari cakupan masyarakat Pulau Flores, khususnya, keramahan itu sudah seperti nama tengah mereka. Tidak ada Orang Flores yang judes, kecuali kalau sedang PMS *ngakak*. Semuanya ramah. Apabila kalian bertamu, dan kalian disuguhi segelas kopi, maka kalian adalah keluarga mereka. Termasuk, masyarakat di Kabupaten Nagekeo.


Foto di atas, setelah makan siang di rumahnya Novi Azizah. Terima kasih Mamanya Novi (jilbab biru tua) sudah menjamu kami. Bukan makan siangnya saja, tetapi keramahan dan betapa Mama sudah menganggap kami seperti anak sendiri. Salam hormat!

5. Budaya yang Lestari


Alangkah ruginya saya ketika tahun 2018 tidak sempat menyaksikan acara Tinju Adat yang digelar di Kabupaten Nagekeo. Semoga acara Tinju Adat 2019 bisa saya saksikan sendiri. Selama ini hanya dikirimi video oleh teman-teman. Bahkan teman saya Sintus, seorang polisi yang bertugas di Ende tetapi berasal dari Kota Mbay, pernah melaksanakan acara adat potong gigi. Hwah, asyik ya.


Kalian tas yang dipakai oleh para lelaki di atas? Namanya tas Bere. Sama juga yang dipakai oleh lekaki dari Kabupaten Ngada. Ya namanya Kabupaten Nagekeo merupakan pemekaran dari Kabupaten Ngada, hehe. Hasil kebudayaan ini selalu pasti dipakai oleh kaum lelaki ketika menghadiri berbagai kegiatan, terutama kegiatan yang berhubungan dengan adat. Bupati Nagekeo, Bapak Don, bahkan pernah menyarankan kios-kios menyediakan Bere sebagai pengganti tas plastik.

⇜⇝

Itu dia lima alasan kenapa kalian harus berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Tentu masih banyak alasan lainnya tapi kali ini, sesuka hati saya menulisnya, lima terlebih dahulu. Kalau ada lagi, Insha Allah bakal saya tulis lagi. Setidaknya gambaran kalian tentang Kabupaten Nagekeo bertambah kan ya dengan membaca berbagai pos di blog ini. Siapa tahu Bulan Oktober nanti kita ketemu di Bukit Weworowet dalam Festival Daging Domba.

Juga Asyik Dibaca: Spot Instagenic di Hotel Pepita Mbay


Happy Traveling!

#KamisLima



Cheers.