5 Komoditas TSF


Berbicara tentang Triwarna Soccer Festival memang tidak ada habisnya. Selalu ada cerita, selalu ada bahan bekal pos blog. Boleh saya bilang ini tempat berburu dengan konten terkaya. Kali ini saya menulis tentang komoditas andalan yang rajin wara-wiri di sekitar Stadion Marilonga tempat event ini berlangsung. Komoditas yang dijual baik oleh para papa lele (pedagang kaki lima), pedagang asongan, maupun UMKM. Tapi sebelumnya, mari kita simak apa itu komoditas?

Baca Juga: 5 Jawara Mural

Menurut Wikipedia, komoditas adalah sesuatu benda nyata yang relatif mudah diperdagangkan, dapat diserahkan secara fisik, dapat disimpan untuk suatu jangka waktu tertentu dan dapat dipertukarkan dengan produk lainnya dengan jenis yang sama, yang biasanya dapat dibeli atau dijual oleh investor melalui bursa berjangka. Secara lebih umum, komoditas adalah suatu produk yang diperdagangkan, termasuk valuta asing, instrumen keuangan dan indeks.

Oleh karena itu, tidak salah jika setiap kali kata komoditas melintas di kepala saya, yang terbayang adalah hasil bumi (pertanian/perkebunan), hasil laut, dan hasil peternakan. Dan, tentu saja, sesuai judul pos ini, ada lima komoditas yang paling rajin wara-wiri di sekitar Stadion Marilonga pada hari-hari TSF berlangsung. Apa sajakah komoditas itu?

Cekidot!

1. Kopi


Kopi adalah komoditas dari hasil bumi yang paling utama dibutuhkan oleh orang-orang baik Panitia TSF, pengunjung pameran, maupun penonton pertandingan sepak bola. Jadi yang namanya kopi ini tidak pernah kehabisan stok. Thika Pharmantara yang tidak biasa ngopi pun akhirnya doyan.


Penyajian kopi berbeda-beda, tergantung siapa penjualnya. Apabila penjualnya pedagang papa lele, maka kopi disajikan di gelas kaca, tapi pembeli dapat meminta mengganti gelas kaca dengan gelas plastik (lagi-lagi gelas plastik) untuk dibawa alias tidak minum di tempat. Apabila penjualnya dari Komunitas Kopi Sokoria atau Komunitas RMC Detusoko maka mereka menyajikan kopi menggunakan gelas kertas lengkap dengan tutupannya. Sama juga dengan gelas dari brand TOP (Kopi TOP) yang umumnya menggunakan gelas kertas (panitia dapat gratisan ini setiap harinya, hahaha).

Selain kopi yang telah diseduh, ada pula kopi kemasan yang siap dibeli (sudah dalam bentuk bubuk). Komunitas Kopi Sokoria dan Komunitas RMC Detusoko menyediakannya. Berjenis umumnya Arabika dengan macam-macam merek lokal. Tapi jangan salah, merek lokal ini sudah sampai ke daerah lain di Indonesia bahkan luar negeri. Menariknya, di tenda pameran Komunitas Kopi Sokoria, pengunjung bisa turut menumbuk kopi cara manual, serta penjaga tendanya pada setiap Malam Minggu mengenakan pakaian adat Ende.

2. Jagung


Siapa yang tidak suka jagung? Di TSF jagung merupakan komoditas yang turut mewarnai proses penambalan perut hehe. Ada dua macam olahan jagung yaitu jagung rebus dan jagung bunga atau disebut brondong. Umumnya jagung rebus yang dijual itu kami sebut jagung manis. Karena rasanya maniiis banget! Namun, saya belum melihat penjual jagung rebus selama ini.


Seorang pedagang asongan dan keranjang dagangannya.

Entah berapa banyak kilogram jagung yang terjual setiap harinya. Yang jelas, tiada hari tanpa jagung baik rebus maupun brondong dan laris manis!

3. Telur Rebus


A-ha. Ini dia yang paling saya cari kalau lagi pengen makan Pop Mie. Sedap, tahu, Pop Mie ditambah telur rebus. Jadi, salah satu pala lele langganan saya itu hafal betul permintaan saya dari setiap event. Iya, kan kami nge-date terus dari El Tari Memorial Cup, EGDMC, sampai TSF ini. Makanya dia khusus siapkan Pop Mie dan telur rebus serta mencari saya untuk ngasih tahu kalau kesukaan saya itu sekarang ready stock di lapaknya.


Suatu kali dia bilang begini: Pop Mie telur tersedia, Ibu. Saya balas: Dangdut mie ada? Dia tergelak sambil geleng-geleng kepala.

4. Keripik


Di TSF keripik termasuk yang paling dicari. Orang Ende bilang: keripik enak untuk Oma Ami. Dan dua komoditas kripik utama yaitu keripik pisang dan keripik ubi/singkong. Khusus keripik ubi/singkong ada varian rasa. Balado? Ada! Keju? Ada juga dooonk. Eh, saya belum sempat memotret keripik. Nanti ya hahaha.

5. Kacang Ijo


Satu gelas (ya, plastik lagi) seharga lima ribu. Siapa sih yang tidak mau? Saya? Pasti mau lah! Tapi anehnya saya lebih suka kacang ijo yang isiannya lebih banyak mutiara ketimbang si kacang haha. Daaaan saya suka meminta es batu kepada penjualnya meskipun sedang hujan.


Ah sedapnya.

Baca Juga: 5 Mural Favorit

Berbicara tentang TSF memang tidak ada matinya! Selalu ada cerita, hehehe. Dan harapan saya, kalian tidak bosan membaca pos-pos di sini. Siapa tahu terhibur. Bahwa di kota kecil nun jauh di Timur, selalul ada hal-hal yang menarik untuk diketahui *halaaah* haha.

Oia, ada satu foto yang pengen saya pos juga kali ini. Ini fotonya waktu saya secara sengaja memotret Kakak Rikyn Radja yang sedang mengumumkan laga berikutnya serta aturan-aturan yang wajib diketahui oleh para supporter maupun penonton. Yang tidak disengaja adalah KILAT SAMBAR POHON KENARI yang muncul di jauh sana:


Momen yang pas, tapi tidak disengaja :D hehe.

Selamat mempersiapkan akhir minggu ya, kawan. Semoga apa yang kita lakukan setiap hari selalu bermanfaat.


Cheers.

5 Jawara Mural


Nampaknya saya masih akan terus menulis tentang event keren di Kabupaten Ende yaitu Triwarna Soccer Festival yang punya tiga mata acara yaitu event utama Bupati Cup, Pameran dengan tema Bego Ga'i Night, dan Lomba Mural. Sebagai anggota Tim Lomba Mural, saya tentu fokus pada lomba yang satu ini, yang telah berakhir tanggal 11 Maret 2019 kemarin (penambahan waktu satu hari). Dan kali ini ijinkan saya memamerkan lima jawara mural dari Lomba Mural Triwarna Soccer Festival.

Baca Juga: 5 Mural Favorit

Lima jawara mural ini murni keputusan juri yang mutlak alias tidak dapat diganggu-gugat; yang telah disetujui peserta melalui surat pernyataan. Saya menyaksikan sendiri betapa dewan juri harus bekerja keras untuk bisa menghasilkan keputusan tersebut. Awalnya hanya empat jawara yang ditentukan oleh panitia Triwarna Soccer Festival yaitu Juara I, Juara II, Juara III, dan Juara Favorit. Tetapi dewan juri yang baik hati itu kemudian memberikan satu hadiah khusus juri yaitu Juara Pilihan Juri yang hadiahnya pun dari para dewan juri. Uh wow sekali kan ya juri-juri kita ini. Mereka orang seni dan mereka tahu betapa seni sebenarnya tidak dapat diukur dengan Rupiah, tetapi mereka ingin bisa menyumbangkan rasa kagum mereka meskipun hanya untuk satu perserta.

Lomba Tanpa Biaya Pendaftaran


Saya pikir hal ini perlu kalian ketahui. Lomba Mural ini tidak dikenakan biaya pendaftaran sepeserpun oleh panitia alias gratis. Selain itu, panitia menyediakan cat dasar untuk para peserta loh yaitu masing-masing tim/peserta memperoleh cat hitam 2kg, cat putih 2kg, cat biru 1kg, cat merah 1kg, dan cat kuning 1kg. Apabila terjadi kekurangan cat, itu menjadi tanggungan peserta, serta tentunya peralatan melukis ditanggung sendiri oleh peserta. Panita juga menyediakan skafolding dua unit per tim/peserta.

Saya pikir, panitia sudah sangat baik ya hehehe. Tidak ada biaya pendaftaran, cat dasar ditanggung, menyiapkan skafolding, dan waktu lomba selama tujuh hari. Yang lebih penting, piala untuk Juara I, Juara II, Juara III, dan Juara Favorit ditiadakan. Kok itu menjadi penting? Karena, dengan meniadakan piala, panitia menawarkan biaya (bukan kompensasi tetapi apresiasi) kepada peserta yang tidak mendapat posisi juara. Dengan kata lain, semua peserta mendapat hadiah uang pembinaan meskipun uang pembinaan yang diperoleh tim/peserta yang tidak juara ini tidak sebesar yang diperoleh para juara. Dan setelah pertemuan kembali dengan para peserta, semuanya menyetujui. Ah, luar biasa.

Tema yang Unik


Berbeda dari lomba mural yang pernah diselenggarakan tahun 2014, kali ini temanya unik, menurut saya. Karena tema-tema yang ditentukan oleh Tim Lomba Mural, dibantu dewan juri, merupakan tema yang mungkin tidak terpikirkan oleh para peserta sebelumnya. Tema lebih kayak dan nyaris mengambil semua perkara dari Kabupaten Ende seperti tokoh atau pahlawan lokal, hasil bumi dan hasil laut khas Kabupaten Ende, properti adat, simbol adat, rumah adat, aktivitas harian masyarakat lokal, hingga tarian-tarian adat. Saya suka sama tema-temanya. Saat technical meeting, penarikan lot tema dan nomor bidang mural, dewan juri pun telah menjelaskan bahwa tim/peserta yang mendapat properti adat, misalnya, dapat mengeksplor seluas-luasnya hal-hal yang berkaitan dengan properti adat. Demikian kira-kira; silahkan berkreasi sebebas-bebasnya tanpa mengimbuh unsur-unsur politik dan menyinggung SARA.

Nah, saatnya sekarang saya membahas tentang para jawara Lomba Mural Triwarna Soccer Festival. Cekidoooot ...

Juara I: Sindu dan Wati


Sindu dan Wati sama-sama berarti wadah anyaman berbahan daun (daun lontar sih kebanyakan). Ini merupakan salah satu properti adat. Tema ini ditentukan oleh dewan juri dan dipilih peserta saat technical meeting (penarikan lot: tema dan bidang). Tim yang mendapat tema sindu dan wati adalah B13 Pu'u Zeze. Ini dia hasilnya:


Pergerakan tim ini memang lambat, menurut saya, tapi ternyata itu karena mereka sangat memerhatikan detail, yang menjadi salah satu unsur penilaian dewan juri. Lihat betapa detailnya mereka melukis sindu dan wati, biji kopi, sirih dan pinang, sarung tenun ikat yang dilipat dan diletakkan di atas wati, hingga bingkai motif tenun ikatnya. Juri sempat bertanya sangat lama soal pencahayaan serta memberi saran lipatan selendang bingkai yang seharusnya tidak terang pada lipatan tersebut (lebih gelap, harusnya).

Selamat ya! Kalian keren!

Juara II: Feko dan Lamba


Feko dan lamba merupakan alat musik tradisional dari Kabupaten Ende. Yang mendapat tema ini adalah Kelor Crew. Mereka betul-betul mengikuti arahan dewan juri tentang tema utama dengan unsur-unsur pendukungnya. Bisa kalian lihat pada gambar di bawah ini:


Saat presentasi, Kelor Crew menjelaskan tentang alat musik ini, termasuk tentang mengapa wajah salah seorang pemain alat musik berwarna kemerahan. Karena kebiasaan kita, kalau ada acara-acara adat, pasti minum satu sloki dua sloki moke. Ha ha ha. Orang Ende bilang: kena telak. Dari semua aliran realistik, Kelor Crew adalah tim yang paling mendekati.

Selamat, ya! Kalian keren!

Juara III: Gerugiwa


Yang satu ini sudah saya bahas di pos Teknik Airbrush. Mural tema (burung) Gerugiwa ini dibikin oleh Bimo Crew dengan Ketua Tim Anggi Mukin asal Ndona. Waktu Bimo Crew menjelaskan filosofinya, saya agak merinding. Imajinasi mereka sungguh 'liar'. Dan dalam seni, semakin 'liar' semakin uh wow hehe. Itu menurut saya. Kalau kalian tidak setuju, bodo amat!


Mural Gerugiwa ini punya begitu banyak filosofi (dari satu mural!). Nah, kalian harus membaca filosofinya di Pos Teknik Airbrush. Rugi kalau tidak membacanya hehehe. 

Selamat, ya! Kalian keren!

Juara Favorit: Sato dan Gambus


Sato dan gambus merupakan alat musik tradisional Kabupaten Ende. Konon, untuk tahu betul soal sato dan gambus, pesertanya yaitu PMI Kabupaten Sikka, berburu informasi hingga ke Desa Waturaka. Ya, mereka adalah satu-satunya tim/peserta dari luar Kabupaten Ende. Seharusnya ada satu lagi sih peserta dari Kabupaten Sikka, tapi Jenick mengundurkan diri. Ini dia hasilnya:


Keren ya. Digambarkan seorang lelaki bersarung ragi mite sedang memainkan alat musik. Dengan latar belakang Danau Kelimutu sebagai ikon wisata utama Kabupaten Ende. Menurut dewan juri, kelemahan gambar ini adalah pada pewarnaan dari si lelaki dengan warna-warna (alam) di sekitarnya. 

Selamat, ya! Kalian keren!

Juara Pilihan Juri: Rumah Adat


Di Kabupaten Ende ada banyak kampung adat yang terdiri dari rumah adat dan unsur-unsurnya. Di dalam murla karya Niporell Art ini kalian dapat melihat gambaran Kampung Adat Nggela (saya ingat betul kuburan berbentuk perahu tersebut). 


Ah, mereka membikin saya jadi pengen pergi ke Nggela lagi hehe. Saya memang selalu suka kampung adat serta simbol-simbolnya yang berfilosofi dalam.

Itu dia lima jawara mural dari Lomba Mural Triwarna Soccer Festival. Yang juara maupun belum juara, semua sama-sama hebat dan keren. Saya menunduk hormat untuk mereka semua.

Marilonga


Marilonga merupakan tema tokoh/pahlawan lokal yang diperoleh Win Art Tim. Meskipun belum juara, tapi saya suka bagaimana tim ini menggambarkan Marilonga yang sangat kami cintai itu:


Luar biasa!


Demikianlah lima jawara Lomba Mural Triwarna Soccer Festival. Melihat hasil karya mereka yang luar biasa membikin Ketua Panitia dalam acara penutupan kemarin mengatakan bahwa masih ada kesempatan untuk yang belum juara, untuk berkarya di lomba-lomba mural yang akan datang. Yipieeee! Artinya, akan ada lagi donk lomba mural. Iya sih, kan belum semua bidang di tembok pagar Stadion Marilonga terpenuhi.

Semoga.

Baca Juga: 5 Yang Cantik

Bagaimana, Himawan? Sudah terpenuhi juga rasa penasarannya kan? Hehehe. Semoga suka sama hasil karya para peserta ya. Next time saya akan ulas tentang mural-mural lain yang belum meraih juara dalam lomba kali ini. Dan, maafkan apabila belum bisa blogwalking haha. Maklum.



Cheers.

5 Mural Favorit


Lomba Mural yang merupakan salah satu mata acara dari Triwarna Soccer Festival telah dibuka dengan resmi oleh Ketua Panitia yaitu Bapak Lori Gadi Djou pada Senin, 4 Maret 2019. Sejumlah limabelas peserta/kelompok mulai berkreasi di bidang pagar tembok stadion kebanggan kami Orang Ende, Stadion Marilonga. Terhitung telah empat hari lomba berjalan dan masih tersisa tiga hari lagi sebelum penjurian final dan pengumuman pemenang. Siapakah yang akan menjadi pemenang? Itu masih tanda tanya seperti pada gambar awal pos ini. Hehe.

Baca Juga: 5 Yang Cantik

Selama empat hari berjalan, sambil nongkrong dan ngopi di tenda pameran Komunitas Kopi Detusoko, tugas saya adalah memotret prosesnya. Karena ada dua skafolding yang ditumpuk agar peserta dapat mencapai bidang paling atas, saya kesulitan bisa memotret semuanya. Tapi setidaknya ada lima mural-sedang-proses yang menjadi favorit saya. Yuk kita cek ...

1. Perempuan Menenun


Salah satu tema mural adalah perempuan sedang menenun. Tema ini dipilih oleh panitia karena menenun merupakan salah satu aktivitas perempuan di Kabupaten Ende baik pada Suku Ende maupun pada Suku Lio. Tentang proses pembuatan tenun ikat dapat dilihat pada pos Proses Pembuatan Tenun Ikat. Salah satu pos kebanggaan saya hahaha.


Gambarannya seperti pada gambar di atas. Proses kelompok ini termasuk cepat karena pada hari pertama bidang ini masih kosong. Saya suka melihatnya.

2. Tokek


Tokek merupakan salah satu simbol yang melekat pada rumah-rumah adat dalam bentuk ukiran pada kayu-kayunya. Selain tokek saya pernah melihat simbol hewan seperti ayam. 


Peserta ini datang dari kelompok/komunitas difabel. Menariknya, mereka mengikuti arahan juri dimana tokek dapat dipasangkan pada benda-benda lain yang memang dapat dilekatkan. Jadi, di mana kah gambar tokeknya? Ada pada perisai yang dipegang oleh si pahlawan saat pulang berperang. Wah, mendengar penjelasan singkat dari pesertanya saja saya sudah bisa membayangkan bagaimana nanti hasilnya.

3. Feko dan Lamba


Feko dan lamba merupakan alat musik tradisional. Sama dengan penggambaran tokek di atas, feko dan lamba merupakan tema utama yang didukung oleh unsur-unsur lain yang mengikat seperti para pemainnya yang menggunakan pakaian adat.


Wajah salah seorang pemainnya realistis sekali ya. Hehehe. Duh kok saya jadi dagdigdug ya? Para peserta ini hebat-hebat semuanya. Mereka paham betul pengarahan dari dewan juri dan mereka sangat kreatif!

4. Marilonga


Marilonga adalah nama pahlawan lokal yang sangat kami banggakan dan patungnya dapat dilihat di daerah Wolowona sebagai pintu masuk Kota Ende bagian Timur. Stadionnya saja bernama Stadion Marilonga hehehe.


Gambaran umum Marilonga sudah bisa kalian lihat juga kan. Saya suka penambahan pahlawan lokal di bagian kanan atas sosok Marilonga.

5. Tarian Wanda Pa'u


Ini dia tarian kebanggaan kami. Tarian ini pasti ada di setiap acara baik tradisional maupun moderen. Sama seperti tarian Gawi. Tarian yang pasti menggunakan selendang ini sudah terlihat penarinya di bidang yang ditentukan.


Terima kasih yaaaa kalian semua kece badai!

Memang banyak yang realistik, tidak abstrak, tapi setidaknya lomba ini telah menjadi wadah dan alat penambang. Bahwa buktinya di Kabupaten Ende (serta peserta kabupaten sekitar yang juga ikutan), ada begitu banyak anak muda yang berbakat di dunia seni khususnya mural ini. 


Sebagai 'ibunya anak-anak' saya harus bisa untuk selalu ada untuk mereka, para peserta. Harus bisa mendengar dan memenuhi kebutuhan mereka. Tentu bukan saya pribadi, tapi oleh sub panitia lain. Misalnya ketersediaan skafolding hingga urusan tempat sampah setiap kelompok dipenuhi oleh Seksi Perlengkapan. Ketersediaan listrik untuk yang menggunakan teknik airbrush dipenuhi oleh Seksi Listrik dan Soundsystem. Ketersediaan air minum dipenuhi oleh Seksi Konsumsi. Saya dan teman-teman seperti Om Konk, Cesar, dan Rolland, hanya mengkoordinir saja.

Jadi, selama Lomba Mural ini panggilan saya macam-macam. Ada yang memanggil Kakak, ada yang memanggil Kakak Ibu, ada yang memanggil Ibu Negara, ada yang memanggil Ibu Yang Baik, dan lain sebagainya. Mana-mana suka. Saya asyik saja. Hahaha. Manapula bergaul sama seniman itu memang bikin hepi berlapis. 

Menariknya dari Triwarna Soccer Festival dengan pertandingan yang memperebutkan Bupati Cup, Bego Ga'i Night, hingga Lomba Mural, adalah diskusi demi diskusi. Setiap hari saya berdiskusi dengan banyak orang; sesama panitia, bareng peserta Lomba Mural, sama para pengisi tenda pameran, hingga pengunjung. Diskusi ini melahirkn ide-ide baru hingga memperbaiki beberapa hal. Kemarin malam misalnya, bersama Bapa Harry, Mas Chandra, dan Om Konk, kami berdiskusi tentang penambahan Aksara Lotta yang merupakan aksaranya Orang Ende pada mural yang dilombakan. Bersama Ferdianus Rega, misalnya, kami berdiskusi tentang kopi sebagai komoditas unggulan kami Orang Ende, Orang Flores, serta pengelolaannya. Jadi diskusi ini yang, menurut saya, semakin membuka wawasan.

Kembali pada Lomba Mural. 5 Mural Favorit bukan berarti mereka sudah pasti menang. Tidak, kawan. Saya tidak punya hak untuk menentukan, karena itu hak dewan juri yang mutlak, nanti, dan tidak bisa diganggu oleh siapapun. Bisa jadi yang favorit hari ini dapat berubah hehehe. Karena kan ini masih sedang dalam proses, bukan hasil akhir.

Baca Juga: Di Nagekeo Hati Saya Tertambat

Oh ya, di setiap bidang diwajibkan untuk dilengkapi dengan bingkai. Bingkai ini haruslah motif daerah. Motif tenun ikat. Kece lah.

Bagaimana dengan kalian? Apa cerita kalian hari ini, kawan?



Cheers.

5 Yang Cantik


Tidak banyak foto pemandangan yang bisa saya abadikan dalam perjalanan ke sebagian Pulau Flores waktu kegiatan Tim Promosi Uniflor 2019 kemarin, baik ke Barat, Utara, dan Timur. Saya sendiri juga tidak membaca Canon Eos600D andalan karena berat lah di backpack dan cuaca sedang kurang bersahabat alias kuatir diguyur hujan tengah jalan. Lebih tepatnya saya tidak mau repot hahaha. Oleh karena itu saya hanya bisa merangkum lima yang cantik dari perjalanan kemarin-kemarin itu, dari perhentian demi perhentian yang bikin Violin rada bingung kok tiba-tiba sepeda motor di belakangnya menghilang. Haha.

Cekidot!

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

1. Memasuki Kota Mbay


Kota Mbay merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo. Termasuk kabupaten tetangga yang bersinggungan langsung dengan Kabupaten Ende. Perbatasannya adalah Nangamboa (Kabupaten Ende) dan Nangaroro (Kabupaten Nagekeo). Beda dari kota-kota lain di Pulau Flores, Kota Mbay bertopografi datar dengan pemandangan alam yang memikat terutama padang sabana di sekelilingnya; termasuk pada saat hendak memasuki kota ini.


Ini fotonya pagi hari sebelum memasuki Kota Mbay. Adem banget ya melihatnya. Saya suka sekali foto-foto di lokasi ini (sebelum memasuki Mbay). Seperti sebelum memasuki surga *dikeplak*.

2. Rumah Impian


Bukit Weworowet yang terletak di Desa Waikokak di Kabupaten Nagekeo ini memang merupakan salah satu titik terlama wisatawan berhenti untuk sekadar mengabadikan pemandangan alamnya yang luar biasa bikin betah. Tentang Bukit Weworowet bisa kalian lihat videonya di Youtube. Nah, yang satu ini adalah foto sebuah rumah berlatar Bukit Weworowet.


Apa yang kalian lihat? Iya, bukit dan rumah, itu jelas. Saya melihat impian di foto ini. Impian bocah SD zaman dulu setiap kali menggambar pemandangan; gunung, rumah, sawah. Kalau yang ini; bukit, rumah, ladang. Saya mau donk punya rumah ini, sayang sudah ada yang punya, lagian belum kuat lah saya buat beli rumah hahaha.

3. Memasuki Desa Niranusa


Kecamatan Maurole terkenal akan garis pantai berpasir putihnya. Ketika hendak memasuki Desa Niranusa di Kecamatan Maurole, di dataran tingginya, kalian akan disuguhi pemandangan ini:


Pemandangannya itu seakan mengajak kita: nyebuuuuur, yuk! Kalau tidak mengingat berkas-berkas ini itu, sudah pasti saya nyebur dan pulang dalam keadaan basah kuyup hahaha. 

Saya punya banyak foto laut dari lokasi yang sama. Ini foto terbaru dua minggu lalu waktu pergi ke Utara untuk sosialisasi Universitas Flores. Pasir putihnya terdiri dari pecahan koral bercampur pasir putih itu sendiri. Beberapa teman traveler yang datang ke Kabupaten Ende, tepatnya ke Danau Kelimutu, pulangnya pasti saya racuni untuk pergi ke sini hehe.

Tanjung Kajuwulu


Namanya Tanjung Kajuwulu, terletak di Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Daerah Magepanda sendiri merupakan daerah di pesisir Pantai Utara yang pemandangannya bakal bikin kalian tercengang!


Di bukit dekat Tanjung Kajuwulu ini dibangun menara pandang. Sayang saya tidak foto dari menara pandangnya. Pun tak jauh dari situ ada Bukit Salib, iya ada salib besar warna putih berdiri gagah di sebuah bukit yang untuk menuju ke sana disediakan anak-anak tangga.

Nikong Gete


Dalam perjalanan pulang dari Kota Larantuka ke Kota Maumere, saya melihat pemandangan ini. Sulit untuk tidak mengerem Onif Harem. Lantas bertanya pada seorang anak di situ nama daerah ini. Dia menjawab, "Nikong Gete." Nah, mungkin kuping saya kurang baik pendengarannya, apabila salah nama ini mohon dikoreksi hahaha.


Sunset-nya itu, mana tahan eyke ...


Kesimpulannya? Mari yuk ke Pulau Flores dan nikmati sendiri keindahannya. Karena Pulau Flores tidak hanya tentang Labuan Bajo, Danau Kelimutu, Pantai Anabhara, Magepanda, atau Puncak Konga di Titihena. Masih banyak daerah menarik lainnya yang bisa dieksplor ... dan tentu bagi kami anak daerah ... harus bisa menceritakannya pada dunia.



Cheers

5 Keistimewaan Canva


Canva. Bukan kanvas. Saya sempat berpikir nama Canva terinspirasi dari kanvas *dipelototin dinosaurus*. Well, zaman sekarang saya jamin 80% pembaca blog ini pasti tahu Canva dan bahkan pernah menggunakannya untuk berbagai kebutuhan, salah satunya untuk memperindah pos blog. Bagi yang belum pernah tahu, coba deh intip situsnya.

Baca Juga: 5 Desa 5 Potensi

What is Canva?


Canva adalah sebuah situs yang menyediakan program untuk mendesain berbagai desain grafis antara lain Tumblr Graphic, Certificate, A4 Document, Book Cover, CD Cover, Photo Collage, Infographic, Year Book, Image Header, Blog Banner, Presentation, Flyer, Poster, E-mail Header, Twitter Post, Pinterest Graphic, sampai pos Facebook dan Instagram, dan lain sebagainya. All in one! Karena kerjanya langsung di situs Canva, untuk menggunakannya kita harus dalam posisi jongkok daring (saya mulai menggunakan padanan Bahasa Indonesia nih, semua berkat Kakak Rohyati). 

Sumber: Canva.

Sumber: Canva.

Sumber: Canva.

Beruntung ya bisa dapat pinjaman uang, kemudian mendirikan Fusion Books. Bisnis ini kemudian berkembang dan berkembang, menjadi Canva yang sekarang rajin saya gunakan. 

Is It Free?


Yess. It is free. Tapi ... ada juga yang berbayar. Untuk yang gratisan beberapa gambar menarik yang dipakai untuk suatu desain selalu diberi tanda air Canva itu sendiri. Ya kalau mau gambarnya tanpa tanda air, pakai yang berbayar. Sejauh ini saya memakai yang gratisan donk ... seperti tampang saya yang gratisan ini. Sayang, mencari-cari video tampang gratisan saya di Youtube yang diunggah sama Panitia ACI Detik Com 2010 susah sekali. Haha.


Jadi, Apa Istimewanya Canva?


Mengenal Canva memberikan begitu banyak pengalaman dan kemudahan pada saya yang pengen bisa mendesain tapi tidak bisa mendesain. Tapi bukan berarti saya menggunakan lurus-lurus 100% desain dari Canva, meskipun ada yang begitu, karena untuk beberapa desain saya hanya menggunakan tata letak dan huruf sedangkan gambarnya dari saya sendiri. Dan untuk itu saya menggunakan ... apa ... saudara-saudara? Iyess, Photoscape! Jangan tanya saya soal Photoshop karena pertanyaan itu sangat menyakitkan hati.

Selama menggunakan Canva saya jelas merasakan keistimewaannya ketimbang program desain daring lainnya. Mungkin ada program desain daring yang lebih istimewa dari Canva tapi saya menulis ini karena sudah mengalaminya alias pengalaman pribadi. Maklum, saya kan agak gagap teknologi, jadi maklumi saja ya.

Mari kita cek apa saja keistimewaan Canva menurut saya:

1. Mudah Mendaftarkan Akun


Ya, kalian bisa mendaftarkan akun dengan mudah di Canva. Tidak perlu melampirkan fotokopi KTP dan akun/rekening Bank dan/atau Paypal. A-haaa.

2. Dashboard yang User Friendly


Pengalaman saya menggunakan program daring lain, terutama yang video dan animasi, dashboard-nya bikin bingung dan bikin setress. Di Canva, kalian tidak akan menemukan kebingungan itu karena semuanya serba mudah mudah dan mudah. Silahkan log in, pilih jenis desain, pilih tema desain yang sudah ada gambar-gambarnya, silahkan diutak-atik. Asyik lah!

3. Banyak Pilihan Jenis Desain


Kalian mau mendesain apa? Silahkan pilih! Tumblr Graphic, Certificate, A4 Document, Book Cover, CD Cover, Photo Collage, Infographic, Year Book, Image Header, Blog Banner, Presentation, Flyer, Poster, E-mail Header, Twitter Post, Pinterest Graphic, sampai pos Facebook dan Instagram, dan lain-lain, dan seterusnya, dan sebagainya. Puas pokoknya.

4. Melimpahnya Pilihan Tema


Istimewa sekali tema-tema yang ditawarkan oleh Canva, untuk semua program daring gratisan! Ada template, element, text, dan background. Saya jarang memakai yang lain selain template alias yang sudah jadi alias siap pakai, tinggal mengubah tulisannya saja. Kadang-kadang saya hanya memakai tulisannya saja sedangkan gambar saya edit lagi memakai apa saudara-saudara???? Iyess, Photoscape! Dududud.

5. Proses Penyimpanan Hasil Desain yang Tidak Ribet


Tidak seribet saya menulis sub nomor lima ini hehe. Untuk menyimpan hasil desain bisa langsung diunduh, bisa juga dibagikan, dan khusus untuk saya: buka full screen lalu screenshoot untuk disunting di mana saudara-saudara???? Iyess, di Photoscape! Haha.

Baca Juga: 5 Keseruan Tinggal di Motorhome

Lima keistimewaan Canva, program desain daring, membikin saya betah dan akan selalu betah menggunakannya.


Bagaimana dengan kalian? Apa keistimewaan Canva menurut kalian (apabila memang menggunakannya juga)? Bagi tahu donk di papan komentar.


Akhir-akhir ini saya sering ngepos malam hari. Padahal biasanya ngepos pagi hari, kadang karena memang sudah menulis draft-nya. Maafkan ya, maklum sedang banyak pekerjaan, baik pekerjaan utama maupun pekerjaan atasan dan bawahan (karena pekerjaan sampingan sudah terlalu umum) qiqiqi. Ini saja menulis pos blog dengan posisi empat dokumen Word masih membuka menunggu dilanjutkan. Fiuh.

Mungkin ada yang berpikir, masih ada kerjaan kok malah ngepos blog? Karena, pekerjaan itu butuh selingan. Diantaranya kembali dari Al Baqarah dan menulis blog. Kalian juga pasti bilang otak saya kacau karena setiap setengah jam saya bakal bangun dan lari-lari kecil keliling rumah, atau melanjutkan permainan di telepon genggam, atau pergi mengobrol dengan Mamatua. Seperti ulasan pada beberapa halaman depan buku yang baru saya baca:



Mengatakan bahwa: jangan terlalu fokus. Haha. Padahal intinya bukan itu sih. Yang jelas buku ini nanti bakal saya bahas di #SabtuReview dan bukan Sabtu lusa.

Ya tuntutan pekerjaan itu tidak memberi saya ruang untuk bahkan menulis draf. Tapi itu bukan masalah, karena bagi saya menulis pos blog merupakan salah satu hiburan di sela-sela kesibukan. Ada seninya juga kan. Seni untuk memberikan diri jam istirahat agar bisa menghibur diri sendiri dengan hiburan pilihan sendiri. Ya karena kan mungkin kalian punya hiburan di sela-sela pekerjaan utama adalah tidur dan nongkrong di kafe, tapi kalau saya ... bisa dengan menulis konten/pos blog. Salah satunya. Salah lainnya ya tetap main Cooking Fever di Android *dicibirin dinosaurus*.

Jadi, demikianlah kawan cerita hari ini di #KamisLima. Semoga bermanfaat untuk kalian, mereka, dia, dia, dia ... cinta yang kutunggu tunggu tunggu *malah nyanyi*.


Eh, sudah nonton video lipsync saya belum? Nonton donk :D



Cheers.

5 Desa 5 Potensi


Alhamdulillah awal tahun 2019 sudah banyak kegiatan yang saya lakukan baik kegiatan yang berhubungan dengan kampus, maupun kegiatan di luar kampus. Salah satu kegiatan di dalam kampus yang saya sukai adalah peliputan kegiatan Natal Bersama di Fakultas Ekonomi yaitu Misa Oikumene yang dipimpin oleh Pater John Ballan, SVD. dan Pendeta Ferluminggus Bako, Sth. Sedangkan kegiatan di luar kampus antara lain kegiatan #EndeBisa, ngemsi di acara ultah Ezra, ngumpulin batu bakal Stone Project (salah satu resolusi 2019), jalan-jalan awal tahun di Pantai Nangalala, hingga kerjaan tukang syuting di beberapa desa.

Baca Juga: 5 Keseruan Tinggal di Motorhome

Sebenarnya sudah lama saya menolak tawaran atau permintaan menjadi tukang syuting semacam syuting acara pernikahan. Alasannya sederhana: Cahyadi, tukang syuting andalan saya itu, sedang ada kerjaan lain yang tidak memungkinkannya untuk bekerja di pagi hari (misalnya syuting proses make up hingga pemberkatan di Gereja atau akad nikah di Masjid). Masa iya saya cuma menerima proyek syuting khusus resepsi yang umumnya dilakukan malam hari saja? Mana ada calon pengantin yang mau! Jadi, saya menolak proyek-proyek syuting itu meskipun Rupiah-nya menggoda imannya dinosaurus. Tapi ketika saya dihubungi oleh dua kecamatan yaitu Kecamatan Ende dan Kecamatan Ende Utara untuk mendokumentasikan kegiatan di desa di bawah payung Program Inovasi Desa (PID), saya langsung menyetujuinya. Alasannya juga sederhana: waktu kerja yang fleksibel.

Untuk Kecamatan Ende, Cahyadi mendapat tugas paling berat, karena lokasi desa-desa 'jajahannya' itu sangat jauh dan medan menuju lokasi yang tergolong berat. Sampai suatu kali Cahyadi pulang dan bercerita bahwa dia jatuh dari sepeda motor karena bebatuan jalanan yang tidak bisa diajak kompromi. Sedangkan untuk Kecamatan Ende Utara saya masih bisa menanganinya karena selain waktunya yang fleksibel, juga lokasinya masih dekat-dekat Kota Ende.

Dari video-video yang kemudian saya sunting, saya melihat bahwa setiap desa mempunyai potensi yang luar biasa besar, yang seharusnya menjadi fokus pemerintah untuk mengembangkannya. Agar apa? Agar masyarakat berdikari. Tentu, sebagai tahap atau langkah awal diperlukan bantuan seperti bimbingan dan pendampingan hingga dana. Bimbingan dilakukan bertahap oleh Tim PID maupun instansi terkait, sedangkan dana masih diusulkan dari dana desa.

Bapak Drs. Kapitan Lingga, Camat Ende Utara, mengungkapkan bahwa dana desa dapat dipakai untuk keperluan kelompok-kelompok dari upaya pemberdayaan masyarakat desa ini, asalkan betul dimanfaatkan dengan baik. Maksudnya adalah adanya laporan keuangan yang transparan dari penggunaan dana-dana tersebut. Kita tahu, dana desa telah membantu begitu banyak masyarakat desa untuk menikmati fasilitas diantaranya jalan desa yang dibikin baik menjadi jalan rabat, pembangunan kantor desa dan faskes, pembangunan fasilitas olahraga, hingga bantuan untuk kelompok-kelompok pemberdayaan masyarakat desa. Dana desa dilaporkan penggunaan/pemanfaatannya dua kali setahun. Jadi, setengah dana desa digelontorkan, enam bulan pelaporan baru setengahnya lagi digelontorkan. Kira-kira begitu informasi yang saya baca dari buku Dana Desa keluaran Kementrian Keuangan.

Kembali pada judul pos ini, 5 Desa 5 Potensi, saya ingin menulis tentang potensi lima desa yang telah kami dokumentasikan.

Apa saja potensi desa-desa tersebut?

1. Keripik Ubi dan Pisang


Desa Mbomba merupakan desa yang berada di bawah pemerintahan Kecamatan Ende Utara. Dua jenis hasil bumi unggulan dari desa ini adalah ubi (singkong) dan pisang. Oleh Tim PID, masyarakat desa khususnya kaum ibu dibentukkan kelompok kemudian diberdayakan untuk mengolah hasil bumi unggulan tersebut menjadi panganan tingkat dua berupa keripik ubi dan pisang.



Saya sudah merasakan hasil olahannya dan lidah saya jatuh cinta sama keripik ubinya, terutama yang belum dicampur bumbu tabur. Renyah dan gurih sekali, kawan. Rasanya mirip keripik ubi berbahan ubi Nuabosi. Untuk ubi Nuabosi, silahkan baca pos Puskesmas Cantik di Tanah Ubi Roti ini, ya.

2. Tenun Ikat


Sama dengan Desa Mbomba, Desa Gheoghoma juga terletak di wilayah Kecamatan Ende Utara. Kekayaan sumber daya dari desa ini yang diangkat oleh Tim PID adalah tenun ikatnya. Ada tiga kelompok penenun dari tiga dusun di Desa Gheoghoma yang telah dibentuk sejak tahun 2018. Mereka juga mendapatkan pendampingan dari instansi terkait salah satunya Perindustrian, serta menurut Kepala Desa, hasil tenun ikat dijual di Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Kita harapkan bersama tenun ikat dapat semakin naik nilainya di mata dunia karena proses pembuatannya cukup panjang dan melelahkan. Mereka, pada penenun itu jenius ya ... membikin motif itu! Sungguh jenius.


Pos lengkap tentang proses menenun di Desa Gheoghoma dapat kalian baca pada pos Proses Pembuatan Tenun Ikat ini.

Baca Juga: 5 Workshop Blogging & Social Media

3. Air Terjun Tonggo Papa


Sudah lama Air Terjun Tonggo Papa dikenal khalayak. Banyak yang ke sana loh termasuk teman-teman saya. Saya dan Kakak Pacar sepasukan pernah ke sana juga, tapi karena sayanya tidak kuat, karena kaki yang uzur, berhenti di tengah jalan. Mereka yang kuat, tapi karena solidaritas, justru ikutan berhenti menemani saya menikmati aroma dedaunan. Huhuhu.


Air terjun merupakan wisata alam yang paling banyak dijumpai di Kabupaten Ende. Di dekat Kota Ende saja ada Air Terjun Kedebodu. Air Terjun Tonggo Papa terletak di Desa Tonggo Papa, masih dalam wilayah Kecamatan Ende. Cahyadi yang mendokumentasikan ini. Yang saya suka adalah adanya wisata / atraksi wisata buatan seperti sayap kupu-kupu yang satu ini:


Artinya, baik pemerintah desa maupun masyarakat desa sama-sama sadar bahwa wisata alam akan lebih menarik dengan adanya wisata buatan sebagai pendukung (wisata utamanya). Haha. Itu analisa asal-asalan saya saja. Saya masih punya mimpi untuk 'harus' bisa turun-naik pergi-pulang Air Terjun Tonggo Papa. Doakan yaaaa *elus-elus kaki*.

4. Kemiri


Tidak disangka, berdasarkan pengakuan dari Kepala Desa Wologai, dinyatakan bahwa Desa Wologai sanggup memenuhi permintaan kemiri berapa ton pun. Tapi kalau minyak kemiri ... tunggu dulu. Karena itu masih merupakan rencana ke depan untuk menopang perekonomian masyarakat Desa Wologai - Kecamatan Ende.



Coba informasi ini saya peroleh dari dulu. Dulu itu ... saya dan Sisi, sahabat tergila, punya perusahaan kecil pembuatan minyak kemiri perawan haha. Maksudnya kami memproduksi minyal kemiri asli yang dikirim ke perusahaan teman di Belgia sana. Kemudian mandeg. Sebenarnya mandeg bukan karena kehabisan stok kemiri, yang adalah tidak mungkin, tapi karena satu dan lain hal *senyum manis*.

5. Virgin Coconut Oil


Kalau yang satu ini juga masih dari kelompok minyak perawan. Virgin coconut oil dari Desa Emburia - Kecamatan Ende. 


Tidak disangka di Desa Murundai yang letaknya super jauh dari Kota Ende itu sudah ada usaha pengolahan kepala menjadi virgin coconut oil dan bahkan telah diberi label! Mereka mengandalkan potensi pohon kelapa yang tumbuh subur di desa tersebut.


Prosesnya masih sederhana dan tentu masih membutuhkan bimbingan dan tambahan modal/dana. Tapi melihat hasil yang sudah dicapai sejauh ini, saya pikir dana harus digelontorkan untuk mereka. Baik dari dana desa maupun dari dana lainnya.

Setiap desa punya potensinya masing-masing. Tugas kita bersama adalah untuk melihat, menggali, mengembangkannya, hingga memperkenalkannya, demi masyarakat desa berdikari.


Di Kabupaten Ende ini banyak sekali desa (dan kelurahan) yang bisa terus digali potensinya baik potensi wisata maupun potensi hasil bumi. Semuanya masih dapat dikembangkan, terus-menerus, agar menjadi 'besar'. Tapi tentu harus ada upaya lain untuk mendukung itu semua. Desa Wologai misalnya. Desa yang jalannya luar biasa bikin jantung kebat-kebit dan bikin Cahyadi jatuh dari sepeda motor ini, akses jalannya itulah yang harus diperhatikan untuk mendukung proses jual-beli kemiri yang bisa dilayani berton-ton tersebut. Kan sayang kalau calon pembeli malas ke sana (untuk melihat kualitas kemiri misalnya) hanya gara-gara kondisi akses jalan.

Salah satu potensi desa yang pernah juga saya bahas di blog travel adalah Desa Manulondo. Di sana ada Ritual Goro Fata Joka Moka. Ini ritual tolak bala yang dilakukan bisa sampai tiga hari lamanya. Unik sekali ritual tersebut, silahkan baca kalau penasaran, dan itu merupakan potensi wisata budaya yang harus terus ada/berkelanjutan. Entah sekarang, apakah ritual tersebut masih terus dilaksanakan atau tidak. Belum lagi potensi di desa-desa lain seperti desa-desa penyangga Danau Kelimutu hingga desa-desa di wilayah pantai bagian Utara Kabupaten Ende (saya pernah peroleh informasi tentang hutan bakaunya). Luar biasa memang ... kita harus keep digging.

Baca Juga: 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)

Well, semoga pos ini bermanfaat bagi kalian semua. Siapa tahu kalian juga ingin menggali dan menceritakan lebih banyak potensi yang ada di desa kalian. Ya kan ... bagi tahu saja di papan komentar, nanti saya kunjungi blog-nya. Hehe.

Semoga bermanfaat!



Cheers.

5 Keseruan Tinggal di Motorhome

Gambar di atas diambil dari situs Australian Motorhomes.


Seperti yang sudah saya janjikan pada pos Living in a Campervan, kali ini saya akan menulis tentang keseruan tinggal di motorhome. Niat sebelumnya sih menulis keseruan tinggal di campervan tapi sekalian saja motorhome ya. Menurut saya pribadi, motorhome adalah kendaraan roda empat berbagai jenis dan berbagai ukuran yang dimodifikasi dan difungsikan sebagai alat transportasi sekaligus hunian asyik. Bahkan dalam serial The Mentalist pun si Patrick Jane pada akhirnya membeli sebuah motorhome. Dari semua gambar motorhome dalam katalog, Jane yang kesohor dengan tingkah konyol-brilian itu justru membeli yang old style. Ini dia penampakannya:


Jane butuh rumah yang dia bawa ke mana-mana dan bisa diparkir di dekat gedung FBI di Austin karena dia memang tipe laki-laki yang tidak mau ribet meskipun suka memicu keributan dengan analisanya yang cerdas tapi frontal. Meskipun tanpa kamar mandi tapi motorhome milik Jane ini cukup komplit. Dapur harus ada karena dia suka minum teh, dan tentu sofa untuk tidur pun wajib ada karena dia suka tidur-tiduran sambil memikirkan solusi untuk memecahkan kasus pembunuhan. Dia memang bukan orang FBI tapi dia adalah konsultan yang dipakai oleh FBI. Jadi ingat serial Castle kan? Penulis buku misteri, Castle, yang dipakai oleh New York Police Department untuk membantu memecahkan kasus yang dihadapi/dikerjakan.

Baca Juga: 5 Keseruan Jadi Tukang Syuting

Gaya banget si Jane waktu punya motorhome ini (gambar diambil dari situs Australian Motorhomes):


Mari kita tinggalkan Jane yang sedang hepi pada gambar di atas, S6 dan S7 dia sudah punya motorhome ini, dan kembali pada topik hari ini yaitu tentang keseruan tinggal di motorhome.

Apakah saya sudah punya motorhome? Kalau kata itu dipisah, motor dan home, ya punya lah meskipun home-nya masih milik orangtua haha. Tapi sekian lama bergulat dengan Youtube khususnya video tentang tiny house dan motorhome, saya jadi iri melihat betapa bangga dan bahagianya para pemilik motorhome memperkenalkan hunian mereka itu. Perkenalan mereka biasanya begini: haaaaai saya Tuteh dan ini rumah saya selama enam tahun terakhir *sambil tunjuk RV (Recreational Vehicle) di belakang*. Hahaha.

Jadi, apa saja keseruan tinggal di motorhome versi (mimpi) saya? Yuk kita periksa sama-sama.

1. Kreativitas Memodifikasi


Meskipun sudah banyak perusahaan yang memproduksi motorhome komplit dari A sampai Z, tapi masih banyak orang yang memilih untuk memodifikasi sendiri mobil mereka. Harga bukan alasan utama sih karena toh biaya memodifikasi juga tergolong mahal. Saya yakin, urusan memodifikasi sendiri sesuai keinginan ini lah yang membikin masih banyak orang memilih untuk tidak membeli motorhome siap pakai melainkan bekerja bersama orang bengkel untuk memodifikasi mobil mereka. Urusan kreativitas dalam memodifikasi ini keren banget (kalau menonton videonya). Bagaimana mereka menggambar/merancang, menghitung ini itu, memilih bahan, menentukan barang mana yang dipakai/disimpan dan mana yang tidak, sampai proses pengerjaan dan finishing.

Urusan memodifikasi ini tidak berhenti setelah si pemilik mulai tinggal di dalam motorhome loh. Serunya, setelah enam bulan atau setahun, mereka bakal kembali ke bengkel untuk meminta bantuan tambahan ini, pengurangan itu, dan lain sebagainya. Keren kan? Your home, your style.

2. Belajar Mengendalikan Ego


Serunya ketika memutuskan untuk tinggal di motorhome adalah mengendalikan ego. Kok bisa ego dibawa-bawa? Karena pemilik motorhome yang sebelumnya tinggal di rumah normal harus memilah dan memilih barang mana yang dibawa serta serta menjadi penghuni motorhome, dan barang mana yang ditinggalkan atau disumbangkan pada orang lain. Pasti pusing! Orang semacam saya pasti bakal butuh waktu lima tahun untuk proses memilih dan memilah ini hahaha. Beberapa pemilik motorhome bahkan menjual rumah sekalian perabotan di dalamnya, untuk kemudian membeli perabotan lain (baru maupun loakan) yang cocok dengan motorhome mereka.

Coba kalian bayangkan, pakaian yang tiga lemari harus dikurangi sampai bahkan tinggal selemari saja, sepatu-sepatu pun demikian, belum lagi koleksian buku. Beberapa pemilik tetap mempertahankan rak buku mini di dalam motorhome mereka. Sebagai identitas, I guess.

3. Listrik Tenaga Matahari dan Hemat Air


Bukan rahasia lagi bila listrik dalam motorhome bersumber dari panel surya yang dipasang di atap mobil atau di samping kanan-kiri. Kadang ada pula panel yang bisa dicopot apabila kebutuhan listrik sudah mencukupi. Tidak perlu memikirkan kios penjual token listrik *ngikik* tapi tentu panel dan baterai itu harganya juga tidak murah. 

Berikutnya air. Karena toilet rata-rata yang composting sehingga kebutuhan air untuk toilet pun dapat dihemat. Tapi nih, yang kayak gini belum cocok di Indonesia yang rata-rata sejak kecil sudah mengenal sistem toilet-banjir-air, kalau airnya sedikit ada perasaan 'tidak bersih' yang menggerogoti perasaan hahaha. Saya sih begitu. Makanya emoh banget buang air besar di pesawat ha ha ha.

4. Traveling Sesuka Hati


Namanya juga motorhome, bagi yang gemar traveling se-daratan maupun beda daratan, sudah pasti pakai motorhome lebih menyenangkan sekalian hemat biaya. Bayangkan saja traveling ke banyak kota tanpa harus mengeluarkan sepeserpun untuk menginap. Cihuy sekali lah itu. Motorhome ini paling cocok memang untuk mereka-mereka yang kerjanya freelance dan pekerjaan itu dapat dilakukan secara daring. Seru!

5. Sunrise Everywhere


Berdasarkan apa yang saya tonton selama ini, yang paling dinanti oleh orang-orang yang tinggal di motorhome adalah sunrise. Bangun tidur di lokasi berbeda, menikmati sunrise bahkan dari titik paling strategis ... siapa bisa menolak? Kalian pasti juga tidak menolak kan? Hehe. Kecuali si Jane *ngikik* kebanyakan dia bangun pagi dengan pemandangan gedung FBI itu.


Tinggal di motorhome memang menyenangkan tapi tidak semua orang bisa menjalaninya. Saya sudah pernah menulisnya dalam pos tentang Living in a Campervan.

Baca Juga: 5 Kegiatan Pertama di 2019

Bagaimana? Seru kan ya tinggal di motorhome? Kita berkreasi sepuas-puasnya, belajar mengendalikan ego, listrik tenaga matahari dan hemat air, traveling sesuka hati, dan karena itu bisa menikmati sunrise (dan sunset) dari mana pun lokasi yang diinginkan. Manapula pasti kita bisa sombong sedikit lah sama orang lain karena punya rumah yang unik mirip bekicot haha. Satu yang pasti, kalau ada bencana bisa mengungsi membawa rumah sekalian *pikiran gila*.

Siapa tahu suatu saat keinginan ini akan terwujud. Amin.



Cheers.

5 Keseruan Tinggal di Motorhome

Gambar di atas diambil dari situs Australian Motorhomes.


Seperti yang sudah saya janjikan pada pos Living in a Campervan, kali ini saya akan menulis tentang keseruan tinggal di motorhome. Niat sebelumnya sih menulis keseruan tinggal di campervan tapi sekalian saja motorhome ya. Menurut saya pribadi, motorhome adalah kendaraan roda empat berbagai jenis dan berbagai ukuran yang dimodifikasi dan difungsikan sebagai alat transportasi sekaligus hunian asyik. Bahkan dalam serial The Mentalist pun si Patrick Jane pada akhirnya membeli sebuah motorhome. Dari semua gambar motorhome dalam katalog, Jane yang kesohor dengan tingkah konyol-brilian itu justru membeli yang old style. Ini dia penampakannya:


Jane butuh rumah yang dia bawa ke mana-mana dan bisa diparkir di dekat gedung FBI di Austin karena dia memang tipe laki-laki yang tidak mau ribet meskipun suka memicu keributan dengan analisanya yang cerdas tapi frontal. Meskipun tanpa kamar mandi tapi motorhome milik Jane ini cukup komplit. Dapur harus ada karena dia suka minum teh, dan tentu sofa untuk tidur pun wajib ada karena dia suka tidur-tiduran sambil memikirkan solusi untuk memecahkan kasus pembunuhan. Dia memang bukan orang FBI tapi dia adalah konsultan yang dipakai oleh FBI. Jadi ingat serial Castle kan? Penulis buku misteri, Castle, yang dipakai oleh New York Police Department untuk membantu memecahkan kasus yang dihadapi/dikerjakan.

Baca Juga: 5 Keseruan Jadi Tukang Syuting

Gaya banget si Jane waktu punya motorhome ini (gambar diambil dari situs Australian Motorhomes):


Mari kita tinggalkan Jane yang sedang hepi pada gambar di atas, S6 dan S7 dia sudah punya motorhome ini, dan kembali pada topik hari ini yaitu tentang keseruan tinggal di motorhome.

Apakah saya sudah punya motorhome? Kalau kata itu dipisah, motor dan home, ya punya lah meskipun home-nya masih milik orangtua haha. Tapi sekian lama bergulat dengan Youtube khususnya video tentang tiny house dan motorhome, saya jadi iri melihat betapa bangga dan bahagianya para pemilik motorhome memperkenalkan hunian mereka itu. Perkenalan mereka biasanya begini: haaaaai saya Tuteh dan ini rumah saya selama enam tahun terakhir *sambil tunjuk RV (Recreational Vehicle) di belakang*. Hahaha.

Jadi, apa saja keseruan tinggal di motorhome versi (mimpi) saya? Yuk kita periksa sama-sama.

1. Kreativitas Memodifikasi


Meskipun sudah banyak perusahaan yang memproduksi motorhome komplit dari A sampai Z, tapi masih banyak orang yang memilih untuk memodifikasi sendiri mobil mereka. Harga bukan alasan utama sih karena toh biaya memodifikasi juga tergolong mahal. Saya yakin, urusan memodifikasi sendiri sesuai keinginan ini lah yang membikin masih banyak orang memilih untuk tidak membeli motorhome siap pakai melainkan bekerja bersama orang bengkel untuk memodifikasi mobil mereka. Urusan kreativitas dalam memodifikasi ini keren banget (kalau menonton videonya). Bagaimana mereka menggambar/merancang, menghitung ini itu, memilih bahan, menentukan barang mana yang dipakai/disimpan dan mana yang tidak, sampai proses pengerjaan dan finishing.

Urusan memodifikasi ini tidak berhenti setelah si pemilik mulai tinggal di dalam motorhome loh. Serunya, setelah enam bulan atau setahun, mereka bakal kembali ke bengkel untuk meminta bantuan tambahan ini, pengurangan itu, dan lain sebagainya. Keren kan? Your home, your style.

2. Belajar Mengendalikan Ego


Serunya ketika memutuskan untuk tinggal di motorhome adalah mengendalikan ego. Kok bisa ego dibawa-bawa? Karena pemilik motorhome yang sebelumnya tinggal di rumah normal harus memilah dan memilih barang mana yang dibawa serta serta menjadi penghuni motorhome, dan barang mana yang ditinggalkan atau disumbangkan pada orang lain. Pasti pusing! Orang semacam saya pasti bakal butuh waktu lima tahun untuk proses memilih dan memilah ini hahaha. Beberapa pemilik motorhome bahkan menjual rumah sekalian perabotan di dalamnya, untuk kemudian membeli perabotan lain (baru maupun loakan) yang cocok dengan motorhome mereka.

Coba kalian bayangkan, pakaian yang tiga lemari harus dikurangi sampai bahkan tinggal selemari saja, sepatu-sepatu pun demikian, belum lagi koleksian buku. Beberapa pemilik tetap mempertahankan rak buku mini di dalam motorhome mereka. Sebagai identitas, I guess.

3. Listrik Tenaga Matahari dan Hemat Air


Bukan rahasia lagi bila listrik dalam motorhome bersumber dari panel surya yang dipasang di atap mobil atau di samping kanan-kiri. Kadang ada pula panel yang bisa dicopot apabila kebutuhan listrik sudah mencukupi. Tidak perlu memikirkan kios penjual token listrik *ngikik* tapi tentu panel dan baterai itu harganya juga tidak murah. 

Berikutnya air. Karena toilet rata-rata yang composting sehingga kebutuhan air untuk toilet pun dapat dihemat. Tapi nih, yang kayak gini belum cocok di Indonesia yang rata-rata sejak kecil sudah mengenal sistem toilet-banjir-air, kalau airnya sedikit ada perasaan 'tidak bersih' yang menggerogoti perasaan hahaha. Saya sih begitu. Makanya emoh banget buang air besar di pesawat ha ha ha.

4. Traveling Sesuka Hati


Namanya juga motorhome, bagi yang gemar traveling se-daratan maupun beda daratan, sudah pasti pakai motorhome lebih menyenangkan sekalian hemat biaya. Bayangkan saja traveling ke banyak kota tanpa harus mengeluarkan sepeserpun untuk menginap. Cihuy sekali lah itu. Motorhome ini paling cocok memang untuk mereka-mereka yang kerjanya freelance dan pekerjaan itu dapat dilakukan secara daring. Seru!

5. Sunrise Everywhere


Berdasarkan apa yang saya tonton selama ini, yang paling dinanti oleh orang-orang yang tinggal di motorhome adalah sunrise. Bangun tidur di lokasi berbeda, menikmati sunrise bahkan dari titik paling strategis ... siapa bisa menolak? Kalian pasti juga tidak menolak kan? Hehe. Kecuali si Jane *ngikik* kebanyakan dia bangun pagi dengan pemandangan gedung FBI itu.


Tinggal di motorhome memang menyenangkan tapi tidak semua orang bisa menjalaninya. Saya sudah pernah menulisnya dalam pos tentang Living in a Campervan.

Baca Juga: 5 Kegiatan Pertama di 2019

Bagaimana? Seru kan ya tinggal di motorhome? Kita berkreasi sepuas-puasnya, belajar mengendalikan ego, listrik tenaga matahari dan hemat air, traveling sesuka hati, dan karena itu bisa menikmati sunrise (dan sunset) dari mana pun lokasi yang diinginkan. Manapula pasti kita bisa sombong sedikit lah sama orang lain karena punya rumah yang unik mirip bekicot haha. Satu yang pasti, kalau ada bencana bisa mengungsi membawa rumah sekalian *pikiran gila*.

Siapa tahu suatu saat keinginan ini akan terwujud. Amin.



Cheers.

5 Keseruan Jadi Tukang Syuting



Sejak memperoleh ilmu tukang syuting dari Mas Dandhy Laksono dari WatchcDoc, saat menang menjadi salah seorang sutradara filem dokumenter Linimassa 3, saya terus berupaya mengasah kemampuan membikin video dalam tiga hal:

1. Proses syuting.
2. Proses sunting.
3. Suara (narasi, musik, dan natural sound).

Baca Juga: 5 Kegiatan Pertama di 2019

Ketiganya merupakan modal dasar sebuah video terutama video dokumenter. Modal tersiernya sih tergantung masing-masing tukang syuting. Meskipun teman-teman videografer lain di Ende sudah fasih memakai Adobe Premiere, saya masih betah memakai Sony Movie Studio Platino 12 (dan 13). Padahal saya pernah memakai Adobe Premiere dan merasakan keasyikannya terutama transisi yang kece-kece tapi satu dan lain hal membikin saya terpaksa meninggalkannya. Sebelumnya saya menggunakan perkakas sunting bernama Ulead dengan output video yang jatuh hingga titik nadir: jangankan 4K, HD saja tidak.

Baru-baru ini (saya tidak dapat menyebut harinya tapi yang jelas tidak lebih dari tiga hari, haha) saya menerima pekerjaan membikin video dokumenter tentang pengolahan keripik ubi dan pisang di Desa Mbomba, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende. Jarak dari Kota Ende ke Desa Mbomba sekitar delapan kilometer saja. Dari jalan utama Ende - Nuabosi belok masuk ke jalan rabat, kondisinya lumayan baik meskipun tanjakan dan turunannya cukup bikin Thika Pharmantara yang saya bonceng sesekali memekik kuatir. Iya, dia kuatir kami masuk berita di koran dengan judul berita: Tante dan Keponakan Terperosok di Kebun Warga Mbomba.

Terus foto selfie. Haha.


Seharusnya ini tugas Cahyadi sebagai tukang syuting andalan saya, tetapi karena dia sedang berada di Kota Maumere, saya terpaksa turun tangan. Akhir-akhir ini saya lebih sering duduk di depan laptop untuk menyunting saja. Terakhir saya turut turun ke lapangan untuk video dokumenter adalah proyek dari Kak John Ire dengan video bertajuk Desa Siaga, yang kemudian berubah menjadi Paroki Siaga.

Baiklah. Karena pengalaman ini masih segar dan hampir sama dengan pengalaman tempo dulu waktu masih aktif di lapangan, jadi tidak ada salahnya saya menulis tentang lima keseruan si tukang syuting. Mari kita cek:

1. Melempar Ide


Menjadi tukang syuting bukan berarti menerima bersih semua yang disiapkan oleh si pemberi job. Kalau hanya sekadar job mendokumentasikan pernikahan, khitanan, aqiqah, ulangtahun, dan sambut baru, misalnya, tinggal mengikuti draft yang sudah disiapkan oleh mereka saja. Membikin video dokumenter yang terencana memang butuh ide, usul, dan saran, dari semua pihak, baik si pemberi job maupun si tukang syuting. Saya pribadi merasa senang-senang saja turut melempar ide dalam diskusi sebelum syuting dimulai. Biasanya saya memberi contoh video dokumenter yang pernah saya bikin, sampai menawarkan shootlist. Di dalam shootlist sudah memuat waktu, time, scene, keterangan sound (natural, musik, atau narator), pakaian, dan lain sebagainya.

Kalau begitu video dokumenternya tidak asli? Asli donk. Shootlist dibikin berdasarkan apa yang mau ditampilkan (dirapikan) dan hanya menjadi panduan. Urusan percakapan, boleh bahasa sehari-hari atau bahasa daerah. Urusan narasumber pun silahkan menggunakan gaya bicaranya sendiri.

2. Perjalanan ke Desa-Desa


Kondisi alam dan jalanan Pulau Flores terutama ke desa dan dusun tidak semulus jalan trans Flores. Khusus perjalanan ke Desa Mbomba, kami harus melintasi daerah tambang batu yaitu Samba yang kondisi jalannya tidak mulus sama sekali. Kalau wajah, itu jerawatnya jerawat batu! Hehe. Termasuk juga akses jalan menuju desa yang memang jalan rabat tetapi tanjakan dan turunannya lumayan lah membikin Thika Pharmantara merinding qiqiqiq. 

Tapi, bagi saya, perjalanan ke desa itu ibarat piknik, jadi dijalani dengan senang hati. Pemandangannya bikin lupa kalau punya banyak tanggungan hidup. Tsaaah! Haha!

3. Mengarahkan Narasumber


Fotografer pasti sering menemukan model yang susah sekali diarahkan. Sama juga dengan videografer. Saya pernah membikin video klip untuk sebuah lagu berjudul Putera Puteri Matahari. Mengarahkan penyaninya dan/atau modelnya memang susah-susah gampang. Nah, narasumber pun demikian. Ada narasumber yang memang sejak dari lahir gaya bicaranya lugas. Ada narasumber yang harus diarahkan berkali-kali, bahkan proses syutingnya harus diulang terus-menerus untuk memperoleh hasil yang baik.

Baca Juga: 5 Blogger Kocak

4. Menjadi Model Contoh


Ini kaitannya sama nomor tiga di atas. Kalau aktor (cie) dan/atau narasumber belum maksimal, maka tukang syuting yang harus jadi model contoh seperti gambar berikut ini:


Apa yang saya inginkan, harus bisa saya contohkan. Atau seperti kemarin saat saya harus mencontohkan kalimat narasi untuk salah seorang narasumber (Ketua Kelompok Pengolahan Keripik Ubi dan Pisang) tanpa meninggalkan ciri khas seperti dialek.

5. Segelas Kopi Untuk Persaudaraan


Di mana pun saya bekerja sebagai tukang syuting; dalam kota maupun luar kota, segelas kopi merupakan ciri khas yang sulit dilepaskan. Angkat gelasmu, kawan, mari kita toss persaudaraan. Manapula kopinya adalah kopi olahan sendiri yang hmmmm.

Menjadi tukang syuting memang dikelilingi kisah seru, tapi pernah juga sedih karena dianggap remeh gara-gara kameranya berukuran kecil. Padahal harganya sama dengan yang berukuran besar itu. Huhuhu. Kualitas masih dilihat dari ukuran *ngikik*.

Saat ini Cahyadi sendiri masih menyelesaikan syuting di beberapa desa. Turunnya saya kemari ke Desa Mbomba pun hanya karena dia memang sedang tidak berada di tempat kan. Alhamdulillah dia sudah kembali ke Ende jadi saya bisa fokus pada sunting ini itu saja. Hasil syuting yang di Desa Mbomba pun sudah bisa dinikmati tetapi belum final. Pihak pemberi job harus menonton terlebih dahulu, meminta penyuntingan lagi, baru deh kelar. 

Baca Juga: 5 Workshop Blogging & Social Media

Dalam hati berdoa semoga mereka tidak meminta disunting lagi hahaha.



Cheers.

5 Kegiatan Pertama di 2019



Baru kemarin bikin resolusi untuk tahun 2019, sekarang sudah ngepos tentang salah satu resolusi itu haha. Rajinnya ngegas bener. Memang! Anyhoo, mohon maaf apabila Rabu kemarin tidak sempat pos apa-apa, saya agak syibuk bersama dinosaurus di Isla Nubar. Dan saya yakin, teman-teman juga pasti masih sibuk dengan kegiatan mengisi liburan bersama keluarga dan/atau sendirian. Lihat! Hari-hari liburan akan berakhir!

Baca Juga: 5 Dari 2018 dan Akan 2019

Mengawali tahun 2019, saya sudah melakukan beberapa hal dari resolusi diantaranya tetap nge-blog dan memulai Stone Project.

Mari kita mulai tentang lima kegiatan pertama di tahun 2019.

*tiup terompet*

1. T-Jounal


Si Mak Bowgel, Ewafebri, adalah mata airnya haha. Saya menyukai semua pos di blog-nya tentang Bullet Journal. Tapi sayang, saya belum bisa membikin Bullet Journal, jadi saya hanya melanjutkan apa yang sudah saya lakukan yaitu menulis jurnal di buku.



Karena buku atau agenda saya sudah pada penuh, maka saya memilih memakai binder kuning bekas zaman kuliah dulu. Lumayan, isinya bisa dibongkar-pasang. 

Memulai T-Journal saat tahun baru itu bikin gemas karena toko-toko ATK masih pada tutup sehingga belum sempat membeli stabilo. Huhu. Tidak cantik. Eh, belum cantik. Nanti lah dipercantik haha. Tengkyu Evva.

2. Stone Project


Stone Project merupakan salah satu resolusi 2019. Saya memulainya dengan mengumpulkan bebatuan dari Pantai Penggajawa. Pergi ke Pantai Penggajawa bareng sahabat saya yang bekerja di Jakarta dan sedang liburan di Ende, Hilda, dan tentu bersama Thika dan Meli.



Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekalian #KakiKereta, jalan-jalan, menghirup udara liburan yang di ambang usai.



Rencananya memang mengupulkan, tetapi karena cuaca sedang rintik manja dan kita tidak mungkin turun ke pantai (karena semakin lama maka rintik berubah menjadi hujan), jadi mending membeli saja di seorang Mama yang sedang menunggui batu jualannya. Setengah plastik merah besar diharga 25K.

3. Mamatua Project


Yang satu ini memang tidak ada di resolusi 2019. Mamatua Project adalah proyek saya dan Thika yaitu memotret Mamatua setiap harinya. Hyess, kami telah mengumpulkan tiga foto haha. 

4. Craft


Lucu juga, baru awal tahun sudah mulai nge-craft. Nge-craft yang satu ini asyik sih.

Baca Juga: 5 Blogger Kocak

Jadi, ceritanya si Hilda meminta bantuan saya untuk menjadi MC ultah anaknya; Ezra. Sekalian saya diminta membantu mendekorasi rumahnya buat lokasi acara ultah ini.

Sudah lama saya pamit dari dunia per-MC-an, bahkan ada yang gemas karena saya menolak semua permintaan MC untuk acara nikah dan ultah anak-anak. Tapi, saya tidak bisa menolak permintaan Hilda, kawan. Itu tidak mungkin. Dan, menjadi MC ultah anak-anak sama dengan kerja super keras agar acaranya menjadi ramai dan meriah. Salah satu upaya saya adalah menyiapkan kado-kado mungil yang bakal dikasih ke anak/tamu yang berani maju untuk permainan dan bernyanyi.


Nge-craft-nya adalah membikin tas kertas mini untuk mengisinya dengan kudapan khas anak-anak. 

5. MC


Nah, ini dia yang saya lakukan sore tadi. Kegiatan yang membikin baju saya basah keringat haha. Menjadi MC ultah anak-anak, betul, adalah kerja super keras. Bagaimana anak-anak harus turut berpartisipasi agar acaranya meriah. Ternyata bakat memang tidak bisa luntur begitu saja *muka sombong* sekian lama mundur dari panggung MC, saya ternyata tidak kehilangan aura *tsaaaah*. Masih bisa membikin acara ramai, meriah, dan penuh tawa. 



Ini sih nge-MC sekalian reuni sama teman-teman masa SMU dulu haha. 


Libur telah usai hari ini. Besok, semua dosen dan karyawan Universitas Flores akan mengikuti apel pagi di Auditorium H. J. Gadi Djou, sambil merayakan Natal Bersama. Seperti apa keseruannya ... nantinya Senin :) haha.

Baca Juga: 5 Peserta Favorit Kelas Blogging

Bagaimana dengan kalian, kawan? Kegiatan apa yang telah dilakukan di awal tahun 2019 ini? Bagi tahu doooonk.

Semangat!


Cheers.