5 Cara Sederhana (Saya) Melindungi Diri Dari Virus Corona

Credits: Canva.

5 Cara Sederhana (Saya) Melindungi Diri Dari Virus Corona. Sekitar satu atau dua bulan lalu saya tidak pernah berpikir virus Corona akan touch down di Kabupaten Ende. Maklum, menurut saya pribadi, apa-apa yang terjadi di Ibu Kota Indonesia belum tentu dapat terjadi di Kabupaten Ende yang jaraknya jauh dari pusat kehidupan negara itu. Bahkan ketika Pulau Bali mulai dikabarkan terkena imbas dari virus Corona, saya masih melenggang santai. Kabar sejumlah lokasi di beberapa kota mulai di-lockdown dan himbauan social distancing pun belum membikin saya berjaga-jaga. Sampai kemudian kabar virus Corona touch down di Kabupaten Ende, otak saya mulai bekerja keras. From Wuhan to Ende in, about, two months! Oke, ini bikin ketar-ketir tapi tidak boleh panik, apalagi sepanik orang-orang pada berita-berita yang memburu masker dan hand sanitizer.

Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca

Pemerintah Kabupaten Ende mengeluarkan surat edaran. Rektor Uniflor pun kemudian mengeluarkan surat edaran. Mahasiswa Uniflor dirumahkan. Dosen dan karyawan Uniflor pun dirumahkan. Dan kami dihimbau untuk menaati semua yang telah diatur oleh pemerintah. Jadi, saya sendiri juga mulai menerapkan aturan ini itu baik untuk diri sendiri maupun untuk penghuni Pohon Tua (rumah kami) untuk melindungi diri. Tentu yang saya lakukan ini berdasar pada aturan dan/atau himbauan dan/atau perintah dari pemerintah.

1. Stay at Home


Stay at home atau di rumah saja menghasilkan hashtag #DiRumahSaja. Study from home yang dilakukan melalui e-learning diberlakukan pada semua peserta didik semua jenjang pendidikan di Indonesia. Ada banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk memfasilitasi kegiatan tersebut. Tetapi, bagaimana dengan murid-murid SD dan SMP di desa-desa terpencil? Jangankan telepon genggam, ke sekolah saja ada yang memakai sandal atau bahkan tidak memakai alas kaki. Bukan tugas saya untuk memikirkannya, tetapi mau tidak mau saya memikirkannya juga. Belajar dari rumah jelas berbeda dengan belajar di rumah. Semoga guru-guru di desa-desa terpencil punya solusi untuk mengatasi hal ini. Atau, jika kalian tahu satu dua informasi tentang hal ini, silahkan komen di bawah.

Credits: Canva.

Work from home juga mudah dilakukan oleh para pekerja di kota, terutama kota besar. Internet menjadi solusi untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dan/atau berkomunikasi dengan sesama rekan kerja dan atasan terkait tupoksi yang masih bisa dikerjakan dari rumah. Tetapi, bagaimana dengan mereka-mereka yang pekerjaannya harus di luar rumah? Petani, pedagang di pasar, pedagang keliling, dan lain sebagainya. Kemarin, Thika Pharmantara membeli bahan makanan mentah pada pedagang keliling. Saya syok. Syok karena kuatir dia keluar rumah dan berinteraksi dengan pedagang yang berkeliling Kota Ende dengan sepeda motornya itu. Syok karena bagaimana jika bahan makanan itu sudah terpapar virus Corona? Bagaimana jika Thika tidak memakai masker saat membelinya? Bagaimana jika Thika lupa mencuci tangan lantas memegang mata, hidung, dan mulut?

Oh la la ... Tapi, kami butuh makan (lauk, pauk), dan si pedagang juga butuh mencari nafkah untuk makan anak isterinya. Sungguh ini dilema.

Seperti masih belum cukup, sepagi tadi Thika dan Melly menggedor pintu kamar saya untuk bertanya: Encim mau pentol goreng? Hah!? Mau donk! Setelah menghabiskan sepiring pentol goreng, masih di tempat tidur, baru saya sadar soal ... bagaimana jika pentol gorengnya sudah terpapar virus Corona? Ha ha ha. Koplaaaaak.

Di luar dari dua kejadian di atas, yang jelas kami lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Stay at home. Iya. 90% kegiatan kami semenjak dikeluarkan surat edaran dilakukan di dan/atau dari rumah. Serta, kami selalu menjaga jarak, karena Pohon Tua cukup luas untuk kami melakukan itu. Satu duduk di sana, satu duduk di sini, satu nangkring di atap, kami masih bisa saling berkomunikasi dan berinteraksi dengan sangat baik. 

Ingat, stay at home!

2. Social Distancing


Stay at home merujuk pada social distancing alias menjaga jarak. Tapi social distancing tidak sama dengan stay at home. Apabila saya terpaksa harus keluar rumah, maka saya harus bisa menjaga jarak setidaknya satu meter dari lawan bicara.

Credits: Canva.

Memang betul, salah satu cara menjaga jarak adalah dengan di rumah saja. Tetapi, seperti yang saya tulis di atas, bagaimana dengan mereka-mereka yang pekerjaannya harus dilakukan di luar rumah? Bagaimana dengan Thika dan Melly yang harus pergi ke mini market, pasar tradisional, atau membeli bahan makanan pada pedagang makanan keliling? Bagaimana dengan para wartawan yang harus mencari berita untuk kita? Harus menjaga jarak. Selain menjaga jarak, tentu harus memakai masker dan wajib mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer.

3. Mencuci Tangan


Saya sudah pernah menulis bahwa mencuci tangan merupakan kebiasaan sehari-hari yang kemudian menjadi kebiasaan 'baru'. Kebiasaan yang paling sering bergema di rumah kami. Tidak peduli siapa pun yang masuk ke rumah, orang itu harus mencuci tangan. Bagi penghuni dan/atau orang-orang yang biasa berada di Pohon Tua, setiap kali masuk rumah mereka meluncur ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Bagi tamu, mau tidak mau kami menyodorkan hand sanitizer.

Credits: Canva.

Si bocah, Yoan, awalnya bandel banget kalau disuruh mencuci tangan, padahal dia itu paling sering masuk-keluar Pohon Tua. Entah pergi ke rumahnya sendiri, entah pergi main, entah dari mana dia. Setelah diberi pengarahan, setelah terus diomeli oleh orang se-Pohon Tua, Yona patuh. Pada akhirnya setiap kali dia masuk rumah, tanpa banyak cing-cong si bocah meluncur ke kamar mandi, mencuci tangan menggunakan sabun. Sama juga dengan saya. Setiap beberapa jam sekali, meskipun di rumah saja, tetap pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan, kemudian membasuh wajah.

4. Memakai Masker dan Kaca Mata


Konon masker menjadi langka. Sama halnya dengan hand sanitizer. Beruntungnya saya punya banyak selendang mini yang sering dijadikan masker dan/atau alas jilbab. Hahaha. Dan si Thika, entah bagaimana caranya, masih bisa membeli masker kain yang bisa dicuci.

Credits: Canva.

Thika dan Melly, setiap kali keluar rumah, selalu memakai kaca mata dan masker. Fungsinya adalah agar mereka punya sekian detik kesadaran untuk menyentuh mata, hidung dan mulut secara langsung dengan tangan saat sedang berada di luar rumah dan/atau saat belum mencuci tangan ketika pulang ke Pohon Tua. Dan kepada mereka berdua saya sering mengingatkan: apa pun yang terjadi, jangan menyentuh mata, hidung, dan mulut sebelum mencuci tangan, terutama jika kalian di luar rumah.

5. Membersihkan Pohon Tua


Jalur-jalur utama orang lalu-lalang di Pohon Tua menjadi perhatian khusus. Mama Sia bertugas untuk lebih rajin mengepel jalur-jalur tersebut, hahaha. Kalau sebelumnya sering banget bilang ke Mama Sia: sudah eeee Mama Sia tir usah terlalu rajin ngepel, ini rumah orang masuk keluar tiap hari. Tapi sekarang: Mama Sia eee jangan lupa ngepel.

Credits: Canva.

Kenapa begitu sih, Teh? Karena pengen saja melakukannya. Karena saya ingin setiap orang di dalam Pohon Tua punya kesadaran akan bahayanya virus Corona, betapa cepat penyebarannya, dan betapa sangat menyusahkannya ketika terpapar.


Keberadaan virus Corona mau tidak mau membikin manusia harus lebih aktif melindungi dirinya sendiri dengan cara-cara yang dianjurkan oleh pemerintah dan/atau WHO. Saya sampai berpikir bagaimana jika virus Corona adalah obat yang diminum Bumi untuk melawan virus keji dan paling bandel bernama Manusia? Haha. Setidaknya virus Corona membikin manusia yang bandel jadi lebih taat. 

Baca Juga: 5 Alasan Saya Menyebut Nuabosi Adalah Tanah Surga

Menulis ini bukan berarti saya sudah pasti kebal dari virus Corona karena kita tidak pernah tahu apa yang menunggu di depan sana. Tetapi sebagai manusia, layaklah saya berbagi pengalaman berdasarkan apa yang diperintahkan oleh pemerintah dan pengalaman di dalam Pohon Tua kepada kalian, bos-bos pembaca blog ini. Hehe. Sebagai manusia, Tuhan sudah melindungi kita dengan akal. Akal itu yang harus dimanfaatkan dalam situasi seperti sekarang ini, salah satunya adalah dengan menaati semua peraturan pemerintah, serta semua peraturan dari pimpinan/pemuka agama. Jadi, jangan pernah beralasan, ini kan kegiatan agama, Tuhan pasti melindungi kita. Iya, Tuhan melindungi kita dengan memberikan akal untuk berpikir dan mencerna, gunakanlah akal itu. Tetap berdo'a pada Tuhan, jelas! Tapi kalau dilarang berkumpul, patuhilah.

Credits: Canva.

See? Sederhana bukan melindungi diri dari virus Corona? Yang penting adalah bagaimana cara kita mengaplikasikan semua perintah/aturan pemerintah untuk kita dalam mengatasi/melindungi diri dari virus Corona. Dan, semua itu harus diimbangi dengan do'a kepada Tuhan.Di dunia ini, ikhtiar harus diimbangi dengan do'a. Kalau kita hanya melakukan salah satunya saja tanpa diimbangi dengan yang lain, entah mau jadi apa. Hehe.

Semoga bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.

5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca


5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca. Membaca buku merupakan kegiatan yang masih saya lakukan di sela-sela aktivitas lainnya seperti bekerja di kantor, nge-blog, membikin konten Youtube, berkomunitas, melancong, dan lain sebagainya. Buku, I mean the real book not e-book, masih dan akan terus menjadi bagian hidup saya. Memburu buku memang sudah saya hentikan; terakhir memburu buku Harry Potter and Deathly Hallows di Jakarta, bahkan buku itu belum diletakkan di rak Gramedia Salemba, haha. Tapi membeli buku masih terus saya lakukan. Kalian tahu bedanya kan. Memburu, artinya saya bisa berupaya sekeras mungkin untuk mendapatkan buku-buku baru dari penulis favorit. Membeli, artinya saya membeli buku yang menurut saya perlu dibeli. Dan akhir-akhir ini saya lebih sering membeli buku bertema self improvement.

Baca Juga: 5 Ranah Hukum di Indonesia yang Wajib Kalian Tahu

Apa sih self improvement itu?

Secara harafiah self improvement berarti perbaikan diri dan/atau memperbaiki diri. Lebih dalam, self improvement adalah tentang bagaimana kita mengenali diri sendiri baik kebiasaan baik, kebiasaan buruk, maupun potensi tersembunyi; untuk diperbaiki, dikelola, dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya demi peningkatan kualitas hidup. Self improvement berkaitan dengan personal development. Personal development atau pengembangan pribadi mencakup kegiatan yang meningkatkan kesadaran dan identitas, mengembangkan bakat dan potensi, membangun sumber daya manusia dan memfasilitasi kemampuan kerja, meningkatkan kualitas hidup dan berkontribusi pada perwujudan impian dan aspirasi.

Dalam salah satu video SCURD, Raditya Dika mengatakan bahwa dirinya kini menerapkan pola hidup minimalis. Teringat salah satu buku yang pernah saya baca berjudul Seni Hidup Minimalis. Buku itu mengajarkan pembacanya untuk lebih cerdas memilih dan memilah serta harus bisa tega membuang semua 'sampah' dari hidupnya. Apalah kita ini, yang bahkan punya lebih dari sepuluh tas, lebih dari sepuluh sepatu, lebih dari sepuluh botol parfum, dan merasa masih kurang? Byuuuuh! Mungkin itu memang sifat dasar manusia. Selalu merasa kurang. Telepon genggam saja harus dua. Haha. 

Membaca buku-buku bertema self improvement memang memberi pengaruh yang cukup besar bagi hidup saya. Entah dengan kalian. Dan kali ini saya akan merekomendasikan lima buku self improvement. Wajib kalian baca! Tapi kalau kalian tidak suka membacanya ... tidak apa-apa. Tergantung kesenangan dan kebiasaan saja.

Yuk tengok lima buku itu.

1. Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat


Buku ini ditulis oleh Mark Manson. Seorang blogger. Dia mengingatkan kita pada Raditya Dika, pada Kerani dari ChaosAtWork (My Stupid Boss), pada Trinity. Tulisan-tulisannya di blog didominasi dengan aneka tips dan/atau motivasi menarik tentang menjalani hidup, tanpa terkesan menggurui, dan menulisnya dari sudut pandang berbeda. Salah satu hal menarik dari buku ini adalah penjelasan tentang tetap positif. Bukankah kita sering sekali memotivasi diri sendiri untuk tetap positif? Mark Manson menulis bahwa pengingkaran terhadap emosi negatif menuntut kita untuk mengalami emosi negatif yang lebih dalam dan berkepanjang, serta disfungsi emosional. Terus menerus bersikap positif justru merupakan salah satu bentuk pengelakan terhadap masalah, dan bukan cara yang tepat untuk menyelesaikannya. Contoh yang dilampirkan Mark Manson adalah bahwa ketika kita marah pada seseorang, itu alami karena kemarahan adalah bagian dari kehidupan. Tapi ketika kita memilih untuk tidak memukul seseorang karena marah itu adalah pilihan tepat karena marah adalah alami dan memukul adalah perkara lain yang menimbulkan perkara yang lebih besar.

Hasrat untuk mengejar semakin banyak pengalaman positif sesungguhnya adalah sebuah pengalaman negatif. Sebaliknya, secara paradoksal, penerimaan seseorang terhadap pengalaman negatif justru merupakan sebuah pengalaman positif (Mark Manson, 2018:10).

Cobalah baca buku ini. Dan saya yakin kalian pasti suka.

Seni #2: Untuk bisa mengatakan "bodo amat" pada kesulitan, pertama-tama Anda harus peduli terhadap sesuatu yang jauh lebih penting dari kesulitan (Mark Manson, 2018:19).

2. Mendaki Tangga yang Salah 


Buku ini ditulis oleh Eric Barker dan diterbitkan oleh P.T. Gramedia Pustama Utama pada tahun 2019. Sebanyak 360 halaman mengajarkan pembacanya tentang banyak hal untuk lebih mengenali diri sendiri. Istilahnya: mau jadi apa kita kelak? Kenali diri sendiri! Dan, ah ya, saya tidak bisa untuk melewatkan yang satu ini: buku Mendaki Tangga Yang Salah diberikan oleh Ibu Rosalin Togo atau lebih dikenal dengan panggilan Mami Ocha yang saat ini sedang menempuh pendidikan S2 di Kota Surabaya. Terima kasih, Mami ... Pahlawan Intelektual saya! Hehe.

Eric Barker tidak berusaha menggurui. Dia lebih condong pada memberikan contoh perilaku, kesuksesan orang-orang besar dunia, hingga beragam teori, serta penelitian dan hasil penelitian para profesor dan/atau para pakar. Garis besar, benang merah, Mendaki Tangga Yang Salah adalah kenali diri sendiri. Kalau kita tidak sependapat, biarkanlah ketidaksependapatan itu menjadi nilai demokrasi dalam me-review buku. Haha. Apabila manusia mengenali diri sendiri maka dia akan tahu tangga mana yang harus dinaiki. Bukan begitu poinnya? Bayangkan saja jika kita tahu, tidak pandai, atau tidak berbakat membikin sketsa tetapi terus-terusan memaksakan diri hingga akhir hayat. Apa yang kita capai? Nothing.

Bab 1 Mendaki Tangga Yang Salah memoroskan kalimat judul Jika Ingin Sukses, Haruskah Kita Bermain Aman dan Melakukan Apa Yang Diperintahkan Kepada Kita

3. Mission Ini Possible


Misbahul Huda adalah penulis buku ini. Buku Mission Ini Possible dengan pengantar dari Dahlan Iskan ini sangat menarik di setiap lembarnya. Isinya merupakan pengalaman membangun dari si penulis; motivasi yang luar biasa. Saya mencintai buku-buku Ajahn Brahm tapi saya juga mencintai buku yang ditulis oleh Misbahul Huda ini. Bahkan pada halaman awal saya sudah terpesona:

Jika anda tidak berubah, anda akan punah. Kalimat yang sama pernah saya dengarkan saat sosialisasi oleh Telkomsel di Fakultas Ekonomi - Universitas Flores. Betul juga. Apalah kita ini jika terlalu idealis dengan dunia yang dulu. Menerima perubahan dan memanfaatkannya untuk hal-hal yang positif jauh lebih baik ketimbang membuang enerji untuk menolak perubahan yang terjadi. Setidaknya tidak perlu menolak, duduk diam-diam dan tenang-tenang saja lah ... menanti menjadi punah. Hehehe.

Ingat:
Satu-satunya bagian dari kita yang tak berubah adalah menjadi.

Buku ini sangat saya rekomendasikan kepada kalian semua. Isinya bagus. Ditulis dengan bahasa yang sangat mudah dipahami dan kadang-kadang menggunakan istilah-istilah bahasa Jawa. Kutipan-kutipan kalimat bijak yang diselipkan, selain sesuai dengan sub buku, juga sangat memotivasi pembacanya. Kadang, ketika ada orang yang tidak mau berubah, hanya dengan membaca sebuah buku niscaya dia akan berubah. Percayalah. Pendorong itu bukan hanya orangtua, pacar, suami/isteri, sahabat, tapi juga sebuah buku.

4. The Secret of Ikigai


Buku ini sudah saya baca tapi belum pernah menulis review-nya di blog ini. Buku dengan tagline: Rahasia Menemukan Kebahagiaan dan Umur Panjang Ala Orang Jepang ditulis boleh Irukawa Elisa. Setiap bab buku ini mengajarkan hal-hal yang familiar karena memang itu yang kita jalani sehari-hari. Salah satunya adalah menghindari prasangka. Kawan, susah sekali ... karena prasangka itu bagian dari hidup kita setiap harinya. Haha.

Tidak mudah menghindari prasangka dalam kehidupan bersosial. Sebagai manusia dalam keseharian, hampir setiap hari kita membangun prasangka tanpa kita sadari. Mulai dari prasangka positif maupun negatif. Prasangka ini pulalah yang menimbulkan penilaian like-dislike terhadap orang lain. Satu orang dengan orang yang lain pun akan memiliki penilaian yang berbeda, tergantung dari emosi (suasana hati) orang tersebut pada waktu itu. (Irukawa Elisa, 2019:47).

Seperti yang tertulis pada sampul belakangnya: Buku ini adalah buku yang tepat untuk Anda baca. Di sinilah Anda akan mengetahui ilmu Ikigai. Ikigai akan membantu Anda akan menemukan tujuan hidup Anda dan kebahagiaan hidup Anda. Ikigai mengajarkan cara hidup lebih mandiri, bermanfaat untuk diri sendiri dan juga untuk lingkungan. Inilah Ikigai, rahasia hidup bahagia, panjang umur dan penuh makna.

5. Berjalan di Atas Cahaya


Di luar dari perilaku atau omongannya yang disiarkan di berita, saya menyukai cara menulis Hanum Salsabiela Rais dalam buku Berjalan di Atas Cahaya; Kisah 99 Cahaya di Langit Eropa. Berjalan di Atas Cahaya merupakan buku catatan perjalanan Hanum Salsabiela Rais bersama tim ketika sedang bekerja alias melakukan peliputan untuk program Ramadhan sebuah stasiun teve swasta Indonesia. Lokasi liputannya adalah Eropa, sasaran liputannya adalah kaum Muslim yang hidup di benua itu beserta segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan berhijab (yang pasti mereka tahu hijab = Muslim). Kaum Muslimnya pun bukan semata-mata yang lahir dan besar di Eropa melainkan juga Orang Indonesia! Seperti Bunda Ikoy … misalnya. Hmm. Nampaknya stigma Muslim = teroris masih saja menghantui mereka meskipun teknologi yang mereka gunakan milyaran persen di atas teknologi manusia gua.

Berjalan di Atas Cahaya melibatkan dua kontributor lain yaitu Tutie Amaliah dan Wardatul Ula meskipun Hanum masih mendominasi dengan kisah-kisah ajaibnya. Saya jamin kalian akan sangat kaya pengetahuan setelah membaca Berjalan di Atas Cahaya. Salah satu yang paling saya gemari adalah Fenomena Gajah Terbang. Bagaimana kita, manusia yang berdosa ini, paling sering terkena sindrom fenomena gajah terbang. Meskipun kita tahu tidak ada gajah yang bisa terbang tapi begitu dengar kalimat, “lihat, gajah terbang!” pasti kepala langsung mendongak ke langit. Hehe. Artinya, janganlah langsung berpendapat pada sesuatu berdasarkan pendapat orang lain. Ah, keren sekali deh.

Kisah lain yang juga tak kalah seru adalah tentang Nur Dann. Si cantik ini berdakwah dengan cara nge-rap! Yoo-hoo. Karena Hanum juga melampirkan foto si Nur Dann, saya ternganga. Amboy, cantik sekali lah dia. Kisah lainnya adalah tentang Bunda Ikoy; Orang Indonesia yang sukses bekerja di perusahaan jam kelas dunia. Ya, mereka berjuang untuk bekerja dan hidup baik di tanah sekuler tersebut tanpa harus melepaskan hijab sebagai jati diri ke-Islam-annya. Taruhannya adalah iman. Sanggupkah kita menjaga iman ini tetap seperti yang kita inginkan?


Lima buku di atas betul-betul membikin otak saya seakan dibelah, pecah, membuka, untuk menampung lebih banyak hal-hal positif. Apakah dengan membaca buku-buku itu membawa perubahan dalam hidup saya? Ya, tentu. Lebih pandai memilah dan memilih, itu salah satunya. Tapi bukan berarti saya terbebas dari segala hal manusiawi lainnya. Tidak dooong. Namanya juga manusia, kesalahan masih tetap terjadi/ada. Kalau hanya karena membaca buku-buku self improvement saya kemudian tidak melakukan satu pun kesalahan, itu luar biasa hahaha. Tapi yang jelas, ada perubahan baik dalam hidup saya.

Baca Juga: 5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik

Semoga kalian juga punya kesempatan membaca buku-buku di atas. Amin. Tidak harus sekarang. Kapan saja kalian punya waktu/kesempatan. Karena, membaca tidak akan pernah membikin kita merugi.

Semoga bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.

5 Alasan Saya Menyebut Nuabosi Adalah Tanah Surga


5 Alasan Saya Menyebut Nuabosi Adalah Tanah Surga. Baca judul pos, langsung ingat sama lagu Kolam Susu dari Koes Plus kan? Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman. Secara harafiah, adalah mustahil tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman. Namun filosofi lirik lagu itu sangat kuat. Pertama: tongkat, kayu, dan batu jadi tanaman menunjukkan bahwa tanah di bumi Indonesia mempunyai tingkat kesuburan yang tinggi dan sangat baik dimanfaatkan untuk bercocok tanam. Kedua: kayu dan batu dapat menjadi media tempat tanaman lumut tumbuh subur. Dan siapa pun pasti tahu bahwa lumut memberikan manfaat baik bagi kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Salah satunya: oksigen.

Baca Juga: 5 Ranah Hukum di Indonesia yang Wajib Kalian Tahu

Tanah kita memang tanah surga. Secara pribadi saya melihatnya langsung di Pulau Flores. Persawahan di Kota Mbay, persawahan di Magepanda, persawahan unik lodok di Manggarai (yang ini sih masih baru mau pengen melihat langsung, haha), persawahan di Ekoleta dan Detusoko, kebun masyarakat di desa-desa, dan lain sebagainya. Sedangkan khusus untuk Nuabosi, ubi kayu Nuabosi merupakan salah satu komoditas andalan dari daerah tersebut. 

Orang NTT pasti tahu, setidaknya pernah mendengar, tentang Nuabosi. Nuabosi terletak di dataran Ndetundora, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende. Ada empat desa di dataran tinggi ini yaitu Desa Ndetundora I, Desa Ndetundora II, Desa Ndetundora III, dan Desa Randotonda. Tapi, Orang Ende lebih mengenal daratan ini, dari ujung ke ujung, dengan nama Nuabosi. Kalian bisa membaca tulisan lain tentang Nuabosi pada pos berjudul Puskesmas Cantik di Tanah Ubi Roti. Nuabosi merupakan daerah asal Nenek Sisilia Dhae, Mamanya Mamatua. Sedangkan Kakek Arnoldus Bata, Bapaknya Mamatua, berasal dari Faipanda di dataran tinggi Lepembusu-Kelisoke (dari arah Ende, sebelum Moni). Dari Kota Ende menuju Nuabosi hanya sekitar sepuluh sampai lima belas menit saja menggunakan kendaraan bermotor.

Pemandangan dari jalan menuju Ndetundora/Nuabosi.

Sekarang, marilah kita cek alasan saya menyebut Nuabosi adalah tanah surga.

Ubi Kayu Nuabosi


Ubi kayu Nuabosi telah menjadi komoditas unggulan Kabupaten Ende. Informasi tersebut saya dengar langsung dari Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarat (LP2M) Universitas Flores (Uniflor) sekaligus Ketua Program Pengembangan Desa Mitra Dr. Willybrordus Lanamana, MMA. saat memberikan sambutan dalam kegiatan pembukaan Program Pengembangan Desa Mitra di Desa Randotonda. Sedangkan Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Dr. Ernesta Leha, S.E., M.Agb. mengatakan bahwa ubi kayu Nuabosi telah menjadi legenda oleh-oleh khas Kabupaten Ende dari lini kuliner. Sepakat! Karena saat Gubernur NTT periode 1998-2008 Piet Alexander Tallo mengunjungi Kelurahan Potulando di Kabupaten Ende yang kebetulan Pohon Tua (nama rumah saya) ketempatan, selain disuguhkan kepada beliau dan tamu lain, ubi kayu Nuabosi mentah juga dibawa sebagai oleh-oleh.


Beberapa orang, termasuk saya, yang membeli ubi kayu Nuabosi di Pasar Mbongawani mungkin pernah kecewa. Karena tidak pandai memilih, saya pernah membawa pulang ubi kayu Nuabosi dengan kualitas bercampur antara yang betul-betul masih baru dengan yang sudah mengalami kepoyoan. Tapi bagi saya pribadi, kekecewaan itu bukan masalah besar. Hehe. Toh kami masih bisa menikmati ubi kayu Nuabosi yang digoreng, direbus, dan dibikin Tutela. Untuk tahu apa itu Tutela, silahkan baca pos berjudul Tutela, Bisnis Kuliner Karena Penasaran

Dari blog sebelah, waktu itu si Ovi yang masakin. Hehe.

Bagi saya, salah satu cara terbaik menikmati ubi kayu Nuabosi adalah dengan menikmatinya langsung di dataran Ndetundora. Digoreng atau direbus, sama-sama bikin lidah nge-jam. Karena banyak keluarga kami yang masih menetap di Nuabosi antara lain di Koponio saya dan teman-teman acap pergi ke sana untuk menikmati ubi kayu Nuabosi beserta menu lain seperti ikan bakar, sambal ikan, dan ngeta. Tentu sebelumnya harus diinformasikan terlebih dahulu. Biasanya sih sepupu saya si Ovi bakal berkolaborasi *tsah* bersama. Berkolaborasi rasanya kurang tepat, karena semua proses memasak dilakukan oleh Ovi seorang. Hahaha. Maafkan kakakmu ini ya, Vi.

Keramahan Penduduk


Saat Camat Ende Herman F. Teku, S.H. memberikan sambutan, dalam kegiatan pembukaan Program Pengembangan Desa Mitra di Desa Randotonda, saya mendengar beliau mengatakan bahwa warga Nuabosi merupakan warga yang bisa menerima pendatang atau hal-hal baru yang datang ke daerah mereka selama itu bertujuan positif. Memang benar. Bukan mengada-ada. Penduduk Nuabosi itu ramah sekali. Bukan karena saya juga berdarah Nuabosi dan makam moyang saya berada di Nuabosi. Tapi kalian akan mengalaminya sendiri. Datang ke Nuabosi, bertemu penduduk setempat, kalian pasti melihat senyum ramah dan anggukan-tipis. 

Jadi, kegiatan pembukaan Program Pengembangan Desa Mitra di Desa Randotonda, ketika kami selesai melakukan hela jo bersama penduduk, saya berniat untuk langsung pulang ke Kota Ende. Saya dicegat penduduk, seorang Bapak yang sedang memikul pacul, sebelumnya sama-sama di kebun lokasi hela jo. Katanya: Ibu, jangan dulu pulang, makan siang dulu, kami juga sudah siapkan ubi untuk ibu mereka bawa.

Pengen nangis. Haha. 

Aura Surga


Saya belum menemukan kata yang sepadan, tetapi aura surga rasanya cukup untuk mewakilkan perasaan saya setiap kali berada di Nuabosi. Jadi begini, saya pasti merasakan 'sesuatu' setiap pergi ke suatu daerah. Aura. Sebut saja begitu. Apakah cuma di Nuabosi saja saya merasakan aura surga? No! Di semua daerah di Pulau Flores saya merasakannya. Oleh karena itu, setiap kali hendak ke luar kota, perasaan saya diisi sesuatu yang saya sebut harapan (untuk menikmati semua yang telah dianugerahkan Tuhan termasuk alam yang indah ini).

Toleransi


Masyarakat di dataran Ndetundora sangat mengamalkan nilai-nilai toleransi. Sangat tinggi. Kalau keluarga saya, tentulah. Saat mengikuti kegiatan pembukaan Program Pengembangan Desa Mitra di Desa Randotonda, kami disuguhi ubi kayu Nuabosi yang digoreng dan direbus, serta sambal ikan teri. Ini baru makanan pembuka. Istilah kami: geli-geli perut. Hehe. Nah, saat sedang menikmati suguhan khas tersebut, salah seorang ibu datang pada saya dan berbisik. Tahu apa yang dibisik olehnya?

Ibu, adakah yang bisa kami minta tolong untuk potong ayam?

Sepersekian detik saya ternganga. Lantas menunjuk Om Ade.

Artinya, penduduk setempat amat sangat paham bahwa bagi kaum Muslim, jika hendak menikmati daging ayam, maka ayam tersebut dipotong/disembelih dengan tata cara Islam. Harus ada yang memegang bagian sayap dan kaki. Dan yang menyembelih harus menggunakan doa khusus. Sebagai umat Muslim, sebelumnya saya sudah berkata dalam hati, apabila disuguhkan menu daging ayam untuk makan siang, dan saya tidak tahu siapa yang menyembelih ayam tersebut, otomatis saya tidak memakannya. Pada kesempatan lain di desa-desa, apabila tahu-tahu menu daging ayam sudah tersaji, saya tidak tahu siapa yang menyembelih, dan dipaksa memakan, saya langsung saja bilang: jang marah, tadi ayamnya siapa yang potong? Miu mbe'o si, kami tazo ka ayam kalo potong bukan yang Muslim na. Apakah tuan rumah marah? Tidak, gengs. Mereka malah ngakak sambil menepuk jidad. Mereka lupa.

Merawat Budaya


Salah satunya yang saya saksikan dan alami sendiri adalah tentang hela jo. Saya harus menulis Correct Me If I'm Wrong (CMIIW). Siapa tahu waktu itu saya salah mendengar. Hela jo itu merupakan budaya/tradisi membajak sawah yang dilakukan bersama-sama oleh sekelompok petani. Membajak sawahnya tidak menggunakan traktor melainkan pacul! Sekelompok orang ini bakal membentuk barisan, lalu salah seorang mulai memberi komando, lantas mereka pun beraksi. Saling sahut dalam irama hela jo membikin hentakan pacul ke tanah semakin semangat dilakukan oleh kelompok petani ini. Saya juga coba melakukannya. Duh, jadi petani itu tidak mudah, gengs. Hehe.

Ini peletakan batu pertama rumah kompos yang dilaksanakan dengan ritual/adat. 

Hela jo.

Terberkatilah mereka semua.


Baca Juga: 5 Hal Yang Menghambat Saya Menulis dan Menyelesaikan Novel

Asyik kan ya. Hehe. 

Jadi itu dia lima alasan saya menyebut Nuabosi (Ndetundora) adalah tanah surga. Apakah saya masih ingin pergi ke sana lagi? Ya tentu donk. Itu tanah nenek moyang. Jaraknya juga dekat dari Kota Ende. Tidak sejauh jarak perasaan kita. Selain karena tanah nenek moyang, kegiatan Program Pengembangan Desa Mitra di Desa Randotonda baru dibuka sedangkan kegiatan itu akan berjalan selama tiga tahun. Horeeeee. Masih banyak waktu dan akan sering pergi ke Nuabosi. Masih ingin mengeksplor desa-desa lainnya. Doakan.

Bagi kalian yang berada di luar Kota Ende, mari yuk ke Ndetundora atau ke tempat yang lebih dikenal dengan nama Nuabosi!

#KamisLima



Cheers. 

5 Ranah Hukum di Indonesia yang Wajib Kalian Tahu


5 Ranah Hukum di Indonesia yang Wajib Kalian Tahu. Apa saja ranah hukum di Indonesia yang kalian ketahui? Kalau kalian hanya tahu tentang Hukum Pidana, Hukum Perdata, dan Hukum Adat, sudah sangat bagus! Karena itu merupakan ranah hukum yang paling sering berhubungan dengan masyarakat Indonesia setiap harinya. Tetapi tentu masih banyak ranah hukum yang patut kalian ketahui seperti Hukum Agraria karena berhubungan dengan tanah dan/atau kepemilikan tanah, sampai tata cara mengurus sertifikat di Kantor Pertanahan. Masih ada yang lain? Banyak! Ada Kompilasi Hukum Islam, ada Hukum Lingkungan, dan lain sebagainya. Itu pun belum termasuk hukum beracara (di pengadilan). Semua ada aturannya, semua ada tata caranya. 

Baca Juga: 5 Alasan Kalian Harus Melakukan Flores Overland Sekarang

Setelah melihat, memikirkan, dan menimbang, pada akhirnya saya harus menulis ini. Orang bilang: akhirnya tidak tahan juga. Bukan, bukan karena saya adalah pakar hukum. Tetapi sebagai orang yang pernah belajar hukum ada keinginan untuk menulis tentang dunia hukum juga, meskipun hanya materi seringan ini. Saya berpikir teman-teman yang tidak belajar hukum pun membutuhkan sedikit pengetahuan agar tidak salah kaprah. Dalam skala yang lebih luas, masyarakat umum pun sudah seharusnya tahu semua ranah hukum yang ada termasuk peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Karena, faktanya masih ada masyarakat yang belum tahu tentang Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Atau, masih ada yang belum tahu Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia. Makanya masyarakat pasrah saja setiap kali kolektor menyita kendaraan yang merupakan barang fidusia. Byuuuuh. Enggak boleh segampang itu barang fidusia disita. Huhu.

Sekarang, mari kita coba lihat lima ranah hukum yang menurut saya wajib diketahui oleh kalian semua. Cekidot!

1. Hukum Pidana


Hukum Pidana termasuk dalam hukum publik dan secara umum diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Ringkasnya Hukum Pidana mengatur hubungan antara masyarakat dengan pemerintah agar terwujud tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang baik. Oleh karena itu kita sering mendengar kata pelanggaran dan/atau melanggar. Memaki teman di media sosial, apalagi sampai menyebut nama, melanggar apa yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Dan itu ranahnya Hukum Pidana. Mencuri, membunuh, memperkosa, memanfaatkan anak di bawah umur untuk mencari nafkah, hingga menipu, semuanya berada dalam ranah Hukum Pidana. Dan ada undang-undang yang mengaturnya. Saya menyebutkan undang-undang turunan karena undang-undang tersebut disusun secara khusus dari apa yang sudah diatur di dalam KUHP.

2. Hukum Perdata


Disebut juga hukum privat dan secara umum diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPdt). Ringkasnya Hukum Perdata mengatur hubungan antara sesama manusia. Haha. Apa saja yang diatur di dalam Hukum Perdata? Banyak! Antara lain waris, anak, dan perjanjian/perikatan. Banyak pula undang-undang turunan dari KUHPdt ini. Ada saudara kalian yang ingin menguasai semua harta warisan orangtua? Larinya tentu ke Hukum Perdata. 

3. Hukum Adat


Saya paling suka berdiskusi tentang Hukum Adat. Apabila kalian tinggal di Kabupaten Ende, maka pasti sering mendengar istilah wale. Wale semacam pengembalian harkat dan martabat manusia setelah dilecehkan. Ambil contoh, ketika Fulan memperkosa Fulana, maka kasusnya dapat diteruskan ke ranah Hukum Pidana. Tetapi rembug kedua keluarga dapat saja menghasilkan: diselesaikan secara kekeluargaan. Disebut wale. Ada jumlah harta/benda tertentu yang harus diserahkan Fulan kepada Fulana sebagai wujud wale. Kalau wale sudah dilakukan maka kasus pemerkosaan tersebut tidak diteruskan ke ranah Hukum Pidana. Hukum Adat masih sangat kuat dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia terutama Masyarakat Hukum Adat. Apa saja yang diatur oleh Hukum Adat? Banyak! Selain tentang wale, ada tentang waris, ada tentang perkawinan, dan lain sebagainya.

4. Hukum Agraria


Ini dia hukum yang mengatur segala urusan tentang tanah. Kalian pasti akan berurusan dengan Kantor Pertanahan sebagai pihak yang mengeluarkan sertifikat tanah. Apabila ada tanah kalian yang belum bersertifikat, segera diurus, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari. Tapi kalau tanahnya merupakan tanah kerukan bakal bangun rumah, jangan coba-coba. Hahaha. Sebelum menerbitkan/mengeluarkan sertifikat tentu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh masyarakat. Tapi jangan kuatir, semua syaratnya itu adalah perkara-perkara dasar seperti KTP, rekomendasi ini itu, sampai dengan sertifikat asli dan/atau surat jual-belinya, sampai pada pengukuran ulang.

5. Hukum Lingkungan


Andai saja hukum lingkungan juga mengatur tentang sanksi terhadap masyarakat yang membuang sampah di sembarang tempat, saya bakal setuju sekali. Hehe. Hukum lingkungan mengatur banyak hal, salah satunya tentang lokasi tambang hingga jarak antara lokasi tambang dengan rumah penduduk. 


Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat pasti berhubungan dengan lima ranah hukum di atas, apabila dibandingkan dengan Hukum Tata Negara. Setiap hari pasti terjadi pencurian, penipuan, pelanggaran lalu lintas, pemerkosaan, kekerasan dalam rumah tangga, sampai emosi meledak-ledak di media sosial. Setiap hari pasti terjadi perjanjian/perikatan antara orang per orang atau orang dengan kelompok tertentu, perkawinan, sampai perebutan harta warisan. Setiap hari pasti terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh anggota Masyarakat Hukum Adat, seperti menggunakan tanah hak ulayat untuk membangun rumah pribadi. Setiap hari pasti terjadi kerusakan lingkungan oleh Bahan Berbahaya dan Beracun (3B).

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Menjadi warga negara yang baik, tentu merupakan harapan setiap orang. Tapi bagaimana bisa terwujud apabila masih ada masyarakat yang tidak tahu tentang hukum, serta peraturan yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara? Memang bukan tugas saya, tetapi setidaknya saya juga tergelitik untuk bisa membagi informasi kepada masyarakat umum/awam tentang dunia hukum. Alhamdulillah, meskipun bukan advokat (ngimpi) tapi saya masih bisa menyarankan ini itu kepada orang-orang yang dimulai dari anggota keluarga sendiri. Dan saya pikir, dengan mengetahui hukum yang mengatur kehidupan kita, setidaknya kita jadi lebih tahu diri dan lebih berhati-hati dalam bertindak. Bukan begitu? Begitu bukan? Hehe.

Semoga pos ini bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.

Gitaran? Saya Selalu Memainkan Lima Lagu Favorit Ini


Gitaran? Saya Selalu Memainkan Lima Lagu Favorit Ini. Seperti yang sudah sering ditulis sebelumnya, saya suka gitaran sambil bernyanyi, tapi saya bukan pemain gitar dan bukan penyanyi. Perpindahan kunci-kunci dasar saja masih bisa bikin jari-jemari terantuk di senar dan saling membelit. Bernyanyi saja tidak pernah 100% memenuhi nada. Tapi sebagai si tukang ngotot, tentu saya acuh sama kekurangan-kekurangan tersebut. Maafkanlah hamba. Hehe. Impian untuk bisa seperti Alanis Morissette, Jewel, atau Meredith Brooks masih menghantui sampai dengan saat ini. Kalau ada dari kalian yang tidak tahu siapa mereka, berarti masa remaja saya jauh lebih bahagia *dikeplak*. Saya bahkan sering merekam video saat sedang gitaran. Karena kualitasnya bakal bikin Youtube mencret maka tidak pernah dipublis di sana. Cukup dijadikan status WA saja. Makanya, kita temenan di WA, donk. Nomor WA saya ada di right bar.

Baca Juga: 5 Hal Yang Menghambat Saya Menulis dan Menyelesaikan Novel

Umumnya orang-orang yang tidak fasih gitaran akan memilih lagu-lagu pop, super slow, gemulai, dengan perpindahan kunci yang lama. Tapi karena saya ini si tukang ngotot, maka lagu-lagu yang dimainkan justru rata-rata bukan lagu bertempo lambat. Kalau itu masih belum cukup, ngototnya saya juga bisa dilihat pada proses pencarian kunci paling mudah dari lagu-lagu yang boleh dibilang sulit. Itu kan koplak. Makanya saya sering diketawain sama Mas Yoyok perihal kunci-kunci ini. Dia memang sering membantu, membantu membikin saya pusing tujuh keliling. Lha ... sudah tahu jari saya kesulitan sama kunci Bm, Cm, F#m, dia sering banget pilih kunci-kunci itu. Alhamdulillah ada Arya Nara. Silahkan cek channel Youtube Arya Nara kalau kalian ingin bisa gitaran, bernyanyi, menggunakan kunci-kunci alternatif paling mudah.

Akhir-akhir ini ada lima lagu yang paling sering saya nyanyikan sambil gitaran. Ada yang saya rekam videonya, ada pula yang berlalu begitu saja.

Mau tahu lagu-lagu tersebut?

Cekidot!

1. Love Yourself, Justin Bieber


Kita mulai dari Love Yourself oleh Justin Bieber. Sekitar tahun 2016 s.d. 2017 saat masih siaran di Radio Gomezone Flores (radio online) saya dan Mas Yoyok sering meng-cover lagu. Salah satunya Love Yourself. Lagu ini bertempo cukup cepat dengan lirik/kalimat panjang. Menyanyikan lagu ini cukup mudah bagi saya pribadi meskipun bahasa Inggrisnya kacau. Haha. Tapi memainkan kunci-kuncinya ... tunggu dulu. Sampai kemudian saya menonton video Arya Nara di Youtube. Baru saya bisa memainkannya sambil bernyanyi. Manapula dalam video tersebut Arya Nara juga memberikan tutorial cara menggenjreng. Jreng! Jreng! Maka jadilah. Mengingat Valentine sudah dekat, kalian janganlah coba-coba memainkan lagu ini di depan si dia apalagi di depan gebetan. Bisa bubar jalan.