5 Keseruan Tinggal di Motorhome

Gambar di atas diambil dari situs Australian Motorhomes.


Seperti yang sudah saya janjikan pada pos Living in a Campervan, kali ini saya akan menulis tentang keseruan tinggal di motorhome. Niat sebelumnya sih menulis keseruan tinggal di campervan tapi sekalian saja motorhome ya. Menurut saya pribadi, motorhome adalah kendaraan roda empat berbagai jenis dan berbagai ukuran yang dimodifikasi dan difungsikan sebagai alat transportasi sekaligus hunian asyik. Bahkan dalam serial The Mentalist pun si Patrick Jane pada akhirnya membeli sebuah motorhome. Dari semua gambar motorhome dalam katalog, Jane yang kesohor dengan tingkah konyol-brilian itu justru membeli yang old style. Ini dia penampakannya:


Jane butuh rumah yang dia bawa ke mana-mana dan bisa diparkir di dekat gedung FBI di Austin karena dia memang tipe laki-laki yang tidak mau ribet meskipun suka memicu keributan dengan analisanya yang cerdas tapi frontal. Meskipun tanpa kamar mandi tapi motorhome milik Jane ini cukup komplit. Dapur harus ada karena dia suka minum teh, dan tentu sofa untuk tidur pun wajib ada karena dia suka tidur-tiduran sambil memikirkan solusi untuk memecahkan kasus pembunuhan. Dia memang bukan orang FBI tapi dia adalah konsultan yang dipakai oleh FBI. Jadi ingat serial Castle kan? Penulis buku misteri, Castle, yang dipakai oleh New York Police Department untuk membantu memecahkan kasus yang dihadapi/dikerjakan.

Baca Juga: 5 Keseruan Jadi Tukang Syuting

Gaya banget si Jane waktu punya motorhome ini (gambar diambil dari situs Australian Motorhomes):


Mari kita tinggalkan Jane yang sedang hepi pada gambar di atas, S6 dan S7 dia sudah punya motorhome ini, dan kembali pada topik hari ini yaitu tentang keseruan tinggal di motorhome.

Apakah saya sudah punya motorhome? Kalau kata itu dipisah, motor dan home, ya punya lah meskipun home-nya masih milik orangtua haha. Tapi sekian lama bergulat dengan Youtube khususnya video tentang tiny house dan motorhome, saya jadi iri melihat betapa bangga dan bahagianya para pemilik motorhome memperkenalkan hunian mereka itu. Perkenalan mereka biasanya begini: haaaaai saya Tuteh dan ini rumah saya selama enam tahun terakhir *sambil tunjuk RV (Recreational Vehicle) di belakang*. Hahaha.

Jadi, apa saja keseruan tinggal di motorhome versi (mimpi) saya? Yuk kita periksa sama-sama.

1. Kreativitas Memodifikasi


Meskipun sudah banyak perusahaan yang memproduksi motorhome komplit dari A sampai Z, tapi masih banyak orang yang memilih untuk memodifikasi sendiri mobil mereka. Harga bukan alasan utama sih karena toh biaya memodifikasi juga tergolong mahal. Saya yakin, urusan memodifikasi sendiri sesuai keinginan ini lah yang membikin masih banyak orang memilih untuk tidak membeli motorhome siap pakai melainkan bekerja bersama orang bengkel untuk memodifikasi mobil mereka. Urusan kreativitas dalam memodifikasi ini keren banget (kalau menonton videonya). Bagaimana mereka menggambar/merancang, menghitung ini itu, memilih bahan, menentukan barang mana yang dipakai/disimpan dan mana yang tidak, sampai proses pengerjaan dan finishing.

Urusan memodifikasi ini tidak berhenti setelah si pemilik mulai tinggal di dalam motorhome loh. Serunya, setelah enam bulan atau setahun, mereka bakal kembali ke bengkel untuk meminta bantuan tambahan ini, pengurangan itu, dan lain sebagainya. Keren kan? Your home, your style.

2. Belajar Mengendalikan Ego


Serunya ketika memutuskan untuk tinggal di motorhome adalah mengendalikan ego. Kok bisa ego dibawa-bawa? Karena pemilik motorhome yang sebelumnya tinggal di rumah normal harus memilah dan memilih barang mana yang dibawa serta serta menjadi penghuni motorhome, dan barang mana yang ditinggalkan atau disumbangkan pada orang lain. Pasti pusing! Orang semacam saya pasti bakal butuh waktu lima tahun untuk proses memilih dan memilah ini hahaha. Beberapa pemilik motorhome bahkan menjual rumah sekalian perabotan di dalamnya, untuk kemudian membeli perabotan lain (baru maupun loakan) yang cocok dengan motorhome mereka.

Coba kalian bayangkan, pakaian yang tiga lemari harus dikurangi sampai bahkan tinggal selemari saja, sepatu-sepatu pun demikian, belum lagi koleksian buku. Beberapa pemilik tetap mempertahankan rak buku mini di dalam motorhome mereka. Sebagai identitas, I guess.

3. Listrik Tenaga Matahari dan Hemat Air


Bukan rahasia lagi bila listrik dalam motorhome bersumber dari panel surya yang dipasang di atap mobil atau di samping kanan-kiri. Kadang ada pula panel yang bisa dicopot apabila kebutuhan listrik sudah mencukupi. Tidak perlu memikirkan kios penjual token listrik *ngikik* tapi tentu panel dan baterai itu harganya juga tidak murah. 

Berikutnya air. Karena toilet rata-rata yang composting sehingga kebutuhan air untuk toilet pun dapat dihemat. Tapi nih, yang kayak gini belum cocok di Indonesia yang rata-rata sejak kecil sudah mengenal sistem toilet-banjir-air, kalau airnya sedikit ada perasaan 'tidak bersih' yang menggerogoti perasaan hahaha. Saya sih begitu. Makanya emoh banget buang air besar di pesawat ha ha ha.

4. Traveling Sesuka Hati


Namanya juga motorhome, bagi yang gemar traveling se-daratan maupun beda daratan, sudah pasti pakai motorhome lebih menyenangkan sekalian hemat biaya. Bayangkan saja traveling ke banyak kota tanpa harus mengeluarkan sepeserpun untuk menginap. Cihuy sekali lah itu. Motorhome ini paling cocok memang untuk mereka-mereka yang kerjanya freelance dan pekerjaan itu dapat dilakukan secara daring. Seru!

5. Sunrise Everywhere


Berdasarkan apa yang saya tonton selama ini, yang paling dinanti oleh orang-orang yang tinggal di motorhome adalah sunrise. Bangun tidur di lokasi berbeda, menikmati sunrise bahkan dari titik paling strategis ... siapa bisa menolak? Kalian pasti juga tidak menolak kan? Hehe. Kecuali si Jane *ngikik* kebanyakan dia bangun pagi dengan pemandangan gedung FBI itu.


Tinggal di motorhome memang menyenangkan tapi tidak semua orang bisa menjalaninya. Saya sudah pernah menulisnya dalam pos tentang Living in a Campervan.

Baca Juga: 5 Kegiatan Pertama di 2019

Bagaimana? Seru kan ya tinggal di motorhome? Kita berkreasi sepuas-puasnya, belajar mengendalikan ego, listrik tenaga matahari dan hemat air, traveling sesuka hati, dan karena itu bisa menikmati sunrise (dan sunset) dari mana pun lokasi yang diinginkan. Manapula pasti kita bisa sombong sedikit lah sama orang lain karena punya rumah yang unik mirip bekicot haha. Satu yang pasti, kalau ada bencana bisa mengungsi membawa rumah sekalian *pikiran gila*.

Siapa tahu suatu saat keinginan ini akan terwujud. Amin.



Cheers.

5 Keseruan Tinggal di Motorhome

Gambar di atas diambil dari situs Australian Motorhomes.


Seperti yang sudah saya janjikan pada pos Living in a Campervan, kali ini saya akan menulis tentang keseruan tinggal di motorhome. Niat sebelumnya sih menulis keseruan tinggal di campervan tapi sekalian saja motorhome ya. Menurut saya pribadi, motorhome adalah kendaraan roda empat berbagai jenis dan berbagai ukuran yang dimodifikasi dan difungsikan sebagai alat transportasi sekaligus hunian asyik. Bahkan dalam serial The Mentalist pun si Patrick Jane pada akhirnya membeli sebuah motorhome. Dari semua gambar motorhome dalam katalog, Jane yang kesohor dengan tingkah konyol-brilian itu justru membeli yang old style. Ini dia penampakannya:


Jane butuh rumah yang dia bawa ke mana-mana dan bisa diparkir di dekat gedung FBI di Austin karena dia memang tipe laki-laki yang tidak mau ribet meskipun suka memicu keributan dengan analisanya yang cerdas tapi frontal. Meskipun tanpa kamar mandi tapi motorhome milik Jane ini cukup komplit. Dapur harus ada karena dia suka minum teh, dan tentu sofa untuk tidur pun wajib ada karena dia suka tidur-tiduran sambil memikirkan solusi untuk memecahkan kasus pembunuhan. Dia memang bukan orang FBI tapi dia adalah konsultan yang dipakai oleh FBI. Jadi ingat serial Castle kan? Penulis buku misteri, Castle, yang dipakai oleh New York Police Department untuk membantu memecahkan kasus yang dihadapi/dikerjakan.

Baca Juga: 5 Keseruan Jadi Tukang Syuting

Gaya banget si Jane waktu punya motorhome ini (gambar diambil dari situs Australian Motorhomes):


Mari kita tinggalkan Jane yang sedang hepi pada gambar di atas, S6 dan S7 dia sudah punya motorhome ini, dan kembali pada topik hari ini yaitu tentang keseruan tinggal di motorhome.

Apakah saya sudah punya motorhome? Kalau kata itu dipisah, motor dan home, ya punya lah meskipun home-nya masih milik orangtua haha. Tapi sekian lama bergulat dengan Youtube khususnya video tentang tiny house dan motorhome, saya jadi iri melihat betapa bangga dan bahagianya para pemilik motorhome memperkenalkan hunian mereka itu. Perkenalan mereka biasanya begini: haaaaai saya Tuteh dan ini rumah saya selama enam tahun terakhir *sambil tunjuk RV (Recreational Vehicle) di belakang*. Hahaha.

Jadi, apa saja keseruan tinggal di motorhome versi (mimpi) saya? Yuk kita periksa sama-sama.

1. Kreativitas Memodifikasi


Meskipun sudah banyak perusahaan yang memproduksi motorhome komplit dari A sampai Z, tapi masih banyak orang yang memilih untuk memodifikasi sendiri mobil mereka. Harga bukan alasan utama sih karena toh biaya memodifikasi juga tergolong mahal. Saya yakin, urusan memodifikasi sendiri sesuai keinginan ini lah yang membikin masih banyak orang memilih untuk tidak membeli motorhome siap pakai melainkan bekerja bersama orang bengkel untuk memodifikasi mobil mereka. Urusan kreativitas dalam memodifikasi ini keren banget (kalau menonton videonya). Bagaimana mereka menggambar/merancang, menghitung ini itu, memilih bahan, menentukan barang mana yang dipakai/disimpan dan mana yang tidak, sampai proses pengerjaan dan finishing.

Urusan memodifikasi ini tidak berhenti setelah si pemilik mulai tinggal di dalam motorhome loh. Serunya, setelah enam bulan atau setahun, mereka bakal kembali ke bengkel untuk meminta bantuan tambahan ini, pengurangan itu, dan lain sebagainya. Keren kan? Your home, your style.

2. Belajar Mengendalikan Ego


Serunya ketika memutuskan untuk tinggal di motorhome adalah mengendalikan ego. Kok bisa ego dibawa-bawa? Karena pemilik motorhome yang sebelumnya tinggal di rumah normal harus memilah dan memilih barang mana yang dibawa serta serta menjadi penghuni motorhome, dan barang mana yang ditinggalkan atau disumbangkan pada orang lain. Pasti pusing! Orang semacam saya pasti bakal butuh waktu lima tahun untuk proses memilih dan memilah ini hahaha. Beberapa pemilik motorhome bahkan menjual rumah sekalian perabotan di dalamnya, untuk kemudian membeli perabotan lain (baru maupun loakan) yang cocok dengan motorhome mereka.

Coba kalian bayangkan, pakaian yang tiga lemari harus dikurangi sampai bahkan tinggal selemari saja, sepatu-sepatu pun demikian, belum lagi koleksian buku. Beberapa pemilik tetap mempertahankan rak buku mini di dalam motorhome mereka. Sebagai identitas, I guess.

3. Listrik Tenaga Matahari dan Hemat Air


Bukan rahasia lagi bila listrik dalam motorhome bersumber dari panel surya yang dipasang di atap mobil atau di samping kanan-kiri. Kadang ada pula panel yang bisa dicopot apabila kebutuhan listrik sudah mencukupi. Tidak perlu memikirkan kios penjual token listrik *ngikik* tapi tentu panel dan baterai itu harganya juga tidak murah. 

Berikutnya air. Karena toilet rata-rata yang composting sehingga kebutuhan air untuk toilet pun dapat dihemat. Tapi nih, yang kayak gini belum cocok di Indonesia yang rata-rata sejak kecil sudah mengenal sistem toilet-banjir-air, kalau airnya sedikit ada perasaan 'tidak bersih' yang menggerogoti perasaan hahaha. Saya sih begitu. Makanya emoh banget buang air besar di pesawat ha ha ha.

4. Traveling Sesuka Hati


Namanya juga motorhome, bagi yang gemar traveling se-daratan maupun beda daratan, sudah pasti pakai motorhome lebih menyenangkan sekalian hemat biaya. Bayangkan saja traveling ke banyak kota tanpa harus mengeluarkan sepeserpun untuk menginap. Cihuy sekali lah itu. Motorhome ini paling cocok memang untuk mereka-mereka yang kerjanya freelance dan pekerjaan itu dapat dilakukan secara daring. Seru!

5. Sunrise Everywhere


Berdasarkan apa yang saya tonton selama ini, yang paling dinanti oleh orang-orang yang tinggal di motorhome adalah sunrise. Bangun tidur di lokasi berbeda, menikmati sunrise bahkan dari titik paling strategis ... siapa bisa menolak? Kalian pasti juga tidak menolak kan? Hehe. Kecuali si Jane *ngikik* kebanyakan dia bangun pagi dengan pemandangan gedung FBI itu.


Tinggal di motorhome memang menyenangkan tapi tidak semua orang bisa menjalaninya. Saya sudah pernah menulisnya dalam pos tentang Living in a Campervan.

Baca Juga: 5 Kegiatan Pertama di 2019

Bagaimana? Seru kan ya tinggal di motorhome? Kita berkreasi sepuas-puasnya, belajar mengendalikan ego, listrik tenaga matahari dan hemat air, traveling sesuka hati, dan karena itu bisa menikmati sunrise (dan sunset) dari mana pun lokasi yang diinginkan. Manapula pasti kita bisa sombong sedikit lah sama orang lain karena punya rumah yang unik mirip bekicot haha. Satu yang pasti, kalau ada bencana bisa mengungsi membawa rumah sekalian *pikiran gila*.

Siapa tahu suatu saat keinginan ini akan terwujud. Amin.



Cheers.

5 Keseruan Jadi Tukang Syuting



Sejak memperoleh ilmu tukang syuting dari Mas Dandhy Laksono dari WatchcDoc, saat menang menjadi salah seorang sutradara filem dokumenter Linimassa 3, saya terus berupaya mengasah kemampuan membikin video dalam tiga hal:

1. Proses syuting.
2. Proses sunting.
3. Suara (narasi, musik, dan natural sound).

Baca Juga: 5 Kegiatan Pertama di 2019

Ketiganya merupakan modal dasar sebuah video terutama video dokumenter. Modal tersiernya sih tergantung masing-masing tukang syuting. Meskipun teman-teman videografer lain di Ende sudah fasih memakai Adobe Premiere, saya masih betah memakai Sony Movie Studio Platino 12 (dan 13). Padahal saya pernah memakai Adobe Premiere dan merasakan keasyikannya terutama transisi yang kece-kece tapi satu dan lain hal membikin saya terpaksa meninggalkannya. Sebelumnya saya menggunakan perkakas sunting bernama Ulead dengan output video yang jatuh hingga titik nadir: jangankan 4K, HD saja tidak.

Baru-baru ini (saya tidak dapat menyebut harinya tapi yang jelas tidak lebih dari tiga hari, haha) saya menerima pekerjaan membikin video dokumenter tentang pengolahan keripik ubi dan pisang di Desa Mbomba, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende. Jarak dari Kota Ende ke Desa Mbomba sekitar delapan kilometer saja. Dari jalan utama Ende - Nuabosi belok masuk ke jalan rabat, kondisinya lumayan baik meskipun tanjakan dan turunannya cukup bikin Thika Pharmantara yang saya bonceng sesekali memekik kuatir. Iya, dia kuatir kami masuk berita di koran dengan judul berita: Tante dan Keponakan Terperosok di Kebun Warga Mbomba.

Terus foto selfie. Haha.


Seharusnya ini tugas Cahyadi sebagai tukang syuting andalan saya, tetapi karena dia sedang berada di Kota Maumere, saya terpaksa turun tangan. Akhir-akhir ini saya lebih sering duduk di depan laptop untuk menyunting saja. Terakhir saya turut turun ke lapangan untuk video dokumenter adalah proyek dari Kak John Ire dengan video bertajuk Desa Siaga, yang kemudian berubah menjadi Paroki Siaga.

Baiklah. Karena pengalaman ini masih segar dan hampir sama dengan pengalaman tempo dulu waktu masih aktif di lapangan, jadi tidak ada salahnya saya menulis tentang lima keseruan si tukang syuting. Mari kita cek:

1. Melempar Ide


Menjadi tukang syuting bukan berarti menerima bersih semua yang disiapkan oleh si pemberi job. Kalau hanya sekadar job mendokumentasikan pernikahan, khitanan, aqiqah, ulangtahun, dan sambut baru, misalnya, tinggal mengikuti draft yang sudah disiapkan oleh mereka saja. Membikin video dokumenter yang terencana memang butuh ide, usul, dan saran, dari semua pihak, baik si pemberi job maupun si tukang syuting. Saya pribadi merasa senang-senang saja turut melempar ide dalam diskusi sebelum syuting dimulai. Biasanya saya memberi contoh video dokumenter yang pernah saya bikin, sampai menawarkan shootlist. Di dalam shootlist sudah memuat waktu, time, scene, keterangan sound (natural, musik, atau narator), pakaian, dan lain sebagainya.

Kalau begitu video dokumenternya tidak asli? Asli donk. Shootlist dibikin berdasarkan apa yang mau ditampilkan (dirapikan) dan hanya menjadi panduan. Urusan percakapan, boleh bahasa sehari-hari atau bahasa daerah. Urusan narasumber pun silahkan menggunakan gaya bicaranya sendiri.

2. Perjalanan ke Desa-Desa


Kondisi alam dan jalanan Pulau Flores terutama ke desa dan dusun tidak semulus jalan trans Flores. Khusus perjalanan ke Desa Mbomba, kami harus melintasi daerah tambang batu yaitu Samba yang kondisi jalannya tidak mulus sama sekali. Kalau wajah, itu jerawatnya jerawat batu! Hehe. Termasuk juga akses jalan menuju desa yang memang jalan rabat tetapi tanjakan dan turunannya lumayan lah membikin Thika Pharmantara merinding qiqiqiq. 

Tapi, bagi saya, perjalanan ke desa itu ibarat piknik, jadi dijalani dengan senang hati. Pemandangannya bikin lupa kalau punya banyak tanggungan hidup. Tsaaah! Haha!

3. Mengarahkan Narasumber


Fotografer pasti sering menemukan model yang susah sekali diarahkan. Sama juga dengan videografer. Saya pernah membikin video klip untuk sebuah lagu berjudul Putera Puteri Matahari. Mengarahkan penyaninya dan/atau modelnya memang susah-susah gampang. Nah, narasumber pun demikian. Ada narasumber yang memang sejak dari lahir gaya bicaranya lugas. Ada narasumber yang harus diarahkan berkali-kali, bahkan proses syutingnya harus diulang terus-menerus untuk memperoleh hasil yang baik.

Baca Juga: 5 Blogger Kocak

4. Menjadi Model Contoh


Ini kaitannya sama nomor tiga di atas. Kalau aktor (cie) dan/atau narasumber belum maksimal, maka tukang syuting yang harus jadi model contoh seperti gambar berikut ini:


Apa yang saya inginkan, harus bisa saya contohkan. Atau seperti kemarin saat saya harus mencontohkan kalimat narasi untuk salah seorang narasumber (Ketua Kelompok Pengolahan Keripik Ubi dan Pisang) tanpa meninggalkan ciri khas seperti dialek.

5. Segelas Kopi Untuk Persaudaraan


Di mana pun saya bekerja sebagai tukang syuting; dalam kota maupun luar kota, segelas kopi merupakan ciri khas yang sulit dilepaskan. Angkat gelasmu, kawan, mari kita toss persaudaraan. Manapula kopinya adalah kopi olahan sendiri yang hmmmm.

Menjadi tukang syuting memang dikelilingi kisah seru, tapi pernah juga sedih karena dianggap remeh gara-gara kameranya berukuran kecil. Padahal harganya sama dengan yang berukuran besar itu. Huhuhu. Kualitas masih dilihat dari ukuran *ngikik*.

Saat ini Cahyadi sendiri masih menyelesaikan syuting di beberapa desa. Turunnya saya kemari ke Desa Mbomba pun hanya karena dia memang sedang tidak berada di tempat kan. Alhamdulillah dia sudah kembali ke Ende jadi saya bisa fokus pada sunting ini itu saja. Hasil syuting yang di Desa Mbomba pun sudah bisa dinikmati tetapi belum final. Pihak pemberi job harus menonton terlebih dahulu, meminta penyuntingan lagi, baru deh kelar. 

Baca Juga: 5 Workshop Blogging & Social Media

Dalam hati berdoa semoga mereka tidak meminta disunting lagi hahaha.



Cheers.

5 Kegiatan Pertama di 2019



Baru kemarin bikin resolusi untuk tahun 2019, sekarang sudah ngepos tentang salah satu resolusi itu haha. Rajinnya ngegas bener. Memang! Anyhoo, mohon maaf apabila Rabu kemarin tidak sempat pos apa-apa, saya agak syibuk bersama dinosaurus di Isla Nubar. Dan saya yakin, teman-teman juga pasti masih sibuk dengan kegiatan mengisi liburan bersama keluarga dan/atau sendirian. Lihat! Hari-hari liburan akan berakhir!

Baca Juga: 5 Dari 2018 dan Akan 2019

Mengawali tahun 2019, saya sudah melakukan beberapa hal dari resolusi diantaranya tetap nge-blog dan memulai Stone Project.

Mari kita mulai tentang lima kegiatan pertama di tahun 2019.

*tiup terompet*

1. T-Jounal


Si Mak Bowgel, Ewafebri, adalah mata airnya haha. Saya menyukai semua pos di blog-nya tentang Bullet Journal. Tapi sayang, saya belum bisa membikin Bullet Journal, jadi saya hanya melanjutkan apa yang sudah saya lakukan yaitu menulis jurnal di buku.



Karena buku atau agenda saya sudah pada penuh, maka saya memilih memakai binder kuning bekas zaman kuliah dulu. Lumayan, isinya bisa dibongkar-pasang. 

Memulai T-Journal saat tahun baru itu bikin gemas karena toko-toko ATK masih pada tutup sehingga belum sempat membeli stabilo. Huhu. Tidak cantik. Eh, belum cantik. Nanti lah dipercantik haha. Tengkyu Evva.

2. Stone Project


Stone Project merupakan salah satu resolusi 2019. Saya memulainya dengan mengumpulkan bebatuan dari Pantai Penggajawa. Pergi ke Pantai Penggajawa bareng sahabat saya yang bekerja di Jakarta dan sedang liburan di Ende, Hilda, dan tentu bersama Thika dan Meli.



Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekalian #KakiKereta, jalan-jalan, menghirup udara liburan yang di ambang usai.



Rencananya memang mengupulkan, tetapi karena cuaca sedang rintik manja dan kita tidak mungkin turun ke pantai (karena semakin lama maka rintik berubah menjadi hujan), jadi mending membeli saja di seorang Mama yang sedang menunggui batu jualannya. Setengah plastik merah besar diharga 25K.

3. Mamatua Project


Yang satu ini memang tidak ada di resolusi 2019. Mamatua Project adalah proyek saya dan Thika yaitu memotret Mamatua setiap harinya. Hyess, kami telah mengumpulkan tiga foto haha. 

4. Craft


Lucu juga, baru awal tahun sudah mulai nge-craft. Nge-craft yang satu ini asyik sih.

Baca Juga: 5 Blogger Kocak

Jadi, ceritanya si Hilda meminta bantuan saya untuk menjadi MC ultah anaknya; Ezra. Sekalian saya diminta membantu mendekorasi rumahnya buat lokasi acara ultah ini.

Sudah lama saya pamit dari dunia per-MC-an, bahkan ada yang gemas karena saya menolak semua permintaan MC untuk acara nikah dan ultah anak-anak. Tapi, saya tidak bisa menolak permintaan Hilda, kawan. Itu tidak mungkin. Dan, menjadi MC ultah anak-anak sama dengan kerja super keras agar acaranya menjadi ramai dan meriah. Salah satu upaya saya adalah menyiapkan kado-kado mungil yang bakal dikasih ke anak/tamu yang berani maju untuk permainan dan bernyanyi.


Nge-craft-nya adalah membikin tas kertas mini untuk mengisinya dengan kudapan khas anak-anak. 

5. MC


Nah, ini dia yang saya lakukan sore tadi. Kegiatan yang membikin baju saya basah keringat haha. Menjadi MC ultah anak-anak, betul, adalah kerja super keras. Bagaimana anak-anak harus turut berpartisipasi agar acaranya meriah. Ternyata bakat memang tidak bisa luntur begitu saja *muka sombong* sekian lama mundur dari panggung MC, saya ternyata tidak kehilangan aura *tsaaaah*. Masih bisa membikin acara ramai, meriah, dan penuh tawa. 



Ini sih nge-MC sekalian reuni sama teman-teman masa SMU dulu haha. 


Libur telah usai hari ini. Besok, semua dosen dan karyawan Universitas Flores akan mengikuti apel pagi di Auditorium H. J. Gadi Djou, sambil merayakan Natal Bersama. Seperti apa keseruannya ... nantinya Senin :) haha.

Baca Juga: 5 Peserta Favorit Kelas Blogging

Bagaimana dengan kalian, kawan? Kegiatan apa yang telah dilakukan di awal tahun 2019 ini? Bagi tahu doooonk.

Semangat!


Cheers.

5 Dari 2018 dan Akan 2019



Hari Raya, baik Idul Fitri maupun Natal, di Kota Ende tidak berpatokan pada kalender apalagi pada emosi dinosaurus yang tidak stabil. Maksud saya adalah, silaturahmi dan/atau open house, akan terus berlangsung sampai satu minggu lamanya. Waktu masih kecil saya bingung melihat orang-orang masih datang ke rumah pada hari ketiga, keempat, kelima, setelah Idul Fitri. Setelah dijelaskan sama Mamatua baru saya paham. Bahwa terkadang dua hari tidak cukup untuk bersilaturahmi ke semua rumah keluarga, tetangga, teman-teman, dinosaurus, hingga Isla Nublar.

Baca Juga: 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)

Dengan berlalunya tanggal 25 Desember 2018, kini giliran kita semua menantikan Tahun Baru 2019. Telah banyak teman blogger yang menulis resolusi 2019. Saya pun termasuk, menulis ringan tentang 2019 Tetap Nge-blog. Tentu saja 2019 saya tidak hanya tetap nge-blog. Tetap bersahabat dengan dinosaurus salah satunya.


Inilah tahun kebangkitan dinosaurus. Api dari ritus kebangkitan ini masih terus menyala. Saya pikir lucu juga, setelah lama bermain gila dengan blog ini, kemudian baru mulai mengajaknya serius ke pelaminan menyongsong masa depan yang lebih baik. Duileeeeh haha. Semua peristiwa yang terjadi dalam hidup manusia itu pasti penting. Namun, tentu saja selalu ada yang lebih menonjol. Peristiwa yang benar-benar membahagiakan maupun yang sangat menampar (memotivasi).

Mari kita mulai:

1. Semangat Nge-blog


Nomor satu. Semangat nge-blog. Sekitar Februari 2018 saya dan dinosaurus kembali ke peradaban ranah blog setelah ritus kebangkitan dilakukan. Anggap saja sebagai pelunasan hutang karena sebelumnya sering sekali saya mengabaikan blog ini. Bukankah perasaan yang diabaikan itu jauh lebih sakit ketimbang ditinju? Haha. Eh, bukan pengalaman pribadi yaaa. Bukaaan.

Gara-gara kembali (rajin) nge-blog, jadi punya banyak teman baru. Mengenal Risna dengan Sukaraja-nya, Himawan Sant dengan Trip of Mine, Pak Martin di Kaka Vila, ada pula Mamak Bowgel Ewafebri yang fokus menulis tentang Bullet Journal, serta teman-teman lainnya dari Komunitas Blogger Perempuan. Tentu tetap menjalin hubungan baik dengan teman blogger sejak zaman purba seperti Om Bisot dan Kak Anazkia.

2. DEBM


Diet Enak Bahagia Menyenangkan atau DEBM. Kalian bisa mencari tahu tentang diet ini di Facebook. Gara-gara diet ini gula darah saya bisa turun, bobot pun berkurang, bahkan kondisi mata menjadi lebih baik karena setiap hari saya mengkonsumsi telur.

3. Kelas Blogging


Tahun 2018, bersama Kak Anazkia dan Om Bisot, membuka kelas blogging melalui WAG. Pertama Kelas Blogging NTT (Angkatan I dan Angkatan II), lalu ada Kelas Blogging Flopala, Kelas Blogging dan Fotografi Menwa, dan terakhir Kelas Blogging Online. Di kelas blogging saya tidak saja menjadi salah seorang mentornya, tetapi juga turut belajar lagi dan lagi. Rasanya senang sekali kembali berinteraksi dengan banyak orang yang mau belajar blog. Jadi ingat zaman dulu, dari sekolah ke sekolah, dari komunitas ke komunitas, mahasiswa hingga dosen, saya menjadi pemateri untuk belajar membikin dan mengelola blog. Seperti CLBK. Hahaha.

4. Olah Raga


Hyess! Olah raga ini penting. Tahun 2018 saya kembali melakukan JMKK (Jalan Malam Keliling Kota) yang kadang diganti dengan menari sendirian di dalam kamar. Kalau menari sendirian di luar kamar nanti dihina sama Thika hahaha. Olah raga ini penting karena sehari-hari pekerjaan saya lebih lengket sama kursi dan laptop atau komputer.

5. Wisuda


Akhirnya. Setelah menunggu selama satu tahun usai ujian skripsi, hari wisuda pun tiba. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Hehe. Mengejar S2 bukan prioritas sih, tapi kalau ada kesempatan ... boleh lah ... kelak.


Baca Juga: 5 Alasan Kenapa Harus Nge-blog

Terima kasih Allah SWT atas semua peristiwa di tahun 2018. Yang baik, Alhamdulillah. Yang buruk, pun Alhamdulillah. Keduanya sama-sama mengajarkan kita pelajaran yang tidak diperoleh di bangku sekolah. Pelajaran yang mahal karena dibayar dengan waktu.

Sampai jumpa nanti di KALEITUTEHSKOP!


Hai 2019 *lambai-lambai tangan* kita akan berjumpa, Insha Allah, dalam suasana yang lebih baik dan penuh harapan. Apa saja resolusi saya di tahun 2019?

1. Tetap bersyukur pada Allah SWT.
2. Tetap nge-blog.
3. Mencoba berkreasi dengan batu.
4. Rajin ngantor :D
5. Beli mobil.

Mohon maaf, yang nomor lima itu terketik oleh jari tanpa konfirmasi ke otak. Kata si jari, "Siapa tahuuuu Abang Nanu Pharmantara serius menjual mobil lamanya untuk kau tooo. Judulnya beli mobil bekas." 

HA HA HA ...


Bagi saya, resolusi mungkin dapat berubah, namun resolusi merupakan panduan dasar langkah kita ke depan.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Apa pencapaian kalian di tahun 2018, dan apa yang hendak kalian lakukan di tahun 2019? Pencapaian di tahun 2018, seremeh apa pun itu, patut kita rayakan. Resolusi untuk tahun 2019, sesederhana pun, boleh kita tulis sebagai pengingat bahwa kita pernah berharapan ... andaikata tidak terwujud ya tidak apa-apa. Selama Allah SWT masih memberi kesempatan untuk mewujudkannya, lakukan di lain kesempatan.

Baca Juga: 5 Tanaman Dapur di Rumah

Selamat menikmati Kamis yang manis :)



Cheers.

5 Dari 2018 dan Akan 2019



Hari Raya, baik Idul Fitri maupun Natal, di Kota Ende tidak berpatokan pada kalender apalagi pada emosi dinosaurus yang tidak stabil. Maksud saya adalah, silaturahmi dan/atau open house, akan terus berlangsung sampai satu minggu lamanya. Waktu masih kecil saya bingung melihat orang-orang masih datang ke rumah pada hari ketiga, keempat, kelima, setelah Idul Fitri. Setelah dijelaskan sama Mamatua baru saya paham. Bahwa terkadang dua hari tidak cukup untuk bersilaturahmi ke semua rumah keluarga, tetangga, teman-teman, dinosaurus, hingga Isla Nublar.

Baca Juga: 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)

Dengan berlalunya tanggal 25 Desember 2018, kini giliran kita semua menantikan Tahun Baru 2019. Telah banyak teman blogger yang menulis resolusi 2019. Saya pun termasuk, menulis ringan tentang 2019 Tetap Nge-blog. Tentu saja 2019 saya tidak hanya tetap nge-blog. Tetap bersahabat dengan dinosaurus salah satunya.


Inilah tahun kebangkitan dinosaurus. Api dari ritus kebangkitan ini masih terus menyala. Saya pikir lucu juga, setelah lama bermain gila dengan blog ini, kemudian baru mulai mengajaknya serius ke pelaminan menyongsong masa depan yang lebih baik. Duileeeeh haha. Semua peristiwa yang terjadi dalam hidup manusia itu pasti penting. Namun, tentu saja selalu ada yang lebih menonjol. Peristiwa yang benar-benar membahagiakan maupun yang sangat menampar (memotivasi).

Mari kita mulai:

1. Semangat Nge-blog


Nomor satu. Semangat nge-blog. Sekitar Februari 2018 saya dan dinosaurus kembali ke peradaban ranah blog setelah ritus kebangkitan dilakukan. Anggap saja sebagai pelunasan hutang karena sebelumnya sering sekali saya mengabaikan blog ini. Bukankah perasaan yang diabaikan itu jauh lebih sakit ketimbang ditinju? Haha. Eh, bukan pengalaman pribadi yaaa. Bukaaan.

Gara-gara kembali (rajin) nge-blog, jadi punya banyak teman baru. Mengenal Risna dengan Sukaraja-nya, Himawan Sant dengan Trip of Mine, Pak Martin di Kaka Vila, ada pula Mamak Bowgel Ewafebri yang fokus menulis tentang Bullet Journal, serta teman-teman lainnya dari Komunitas Blogger Perempuan. Tentu tetap menjalin hubungan baik dengan teman blogger sejak zaman purba seperti Om Bisot dan Kak Anazkia.

2. DEBM


Diet Enak Bahagia Menyenangkan atau DEBM. Kalian bisa mencari tahu tentang diet ini di Facebook. Gara-gara diet ini gula darah saya bisa turun, bobot pun berkurang, bahkan kondisi mata menjadi lebih baik karena setiap hari saya mengkonsumsi telur.

3. Kelas Blogging


Tahun 2018, bersama Kak Anazkia dan Om Bisot, membuka kelas blogging melalui WAG. Pertama Kelas Blogging NTT (Angkatan I dan Angkatan II), lalu ada Kelas Blogging Flopala, Kelas Blogging dan Fotografi Menwa, dan terakhir Kelas Blogging Online. Di kelas blogging saya tidak saja menjadi salah seorang mentornya, tetapi juga turut belajar lagi dan lagi. Rasanya senang sekali kembali berinteraksi dengan banyak orang yang mau belajar blog. Jadi ingat zaman dulu, dari sekolah ke sekolah, dari komunitas ke komunitas, mahasiswa hingga dosen, saya menjadi pemateri untuk belajar membikin dan mengelola blog. Seperti CLBK. Hahaha.

4. Olah Raga


Hyess! Olah raga ini penting. Tahun 2018 saya kembali melakukan JMKK (Jalan Malam Keliling Kota) yang kadang diganti dengan menari sendirian di dalam kamar. Kalau menari sendirian di luar kamar nanti dihina sama Thika hahaha. Olah raga ini penting karena sehari-hari pekerjaan saya lebih lengket sama kursi dan laptop atau komputer.

5. Wisuda


Akhirnya. Setelah menunggu selama satu tahun usai ujian skripsi, hari wisuda pun tiba. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Hehe. Mengejar S2 bukan prioritas sih, tapi kalau ada kesempatan ... boleh lah ... kelak.


Baca Juga: 5 Alasan Kenapa Harus Nge-blog

Terima kasih Allah SWT atas semua peristiwa di tahun 2018. Yang baik, Alhamdulillah. Yang buruk, pun Alhamdulillah. Keduanya sama-sama mengajarkan kita pelajaran yang tidak diperoleh di bangku sekolah. Pelajaran yang mahal karena dibayar dengan waktu.

Sampai jumpa nanti di KALEITUTEHSKOP!


Hai 2019 *lambai-lambai tangan* kita akan berjumpa, Insha Allah, dalam suasana yang lebih baik dan penuh harapan. Apa saja resolusi saya di tahun 2019?

1. Tetap bersyukur pada Allah SWT.
2. Tetap nge-blog.
3. Mencoba berkreasi dengan batu.
4. Rajin ngantor :D
5. Beli mobil.

Mohon maaf, yang nomor lima itu terketik oleh jari tanpa konfirmasi ke otak. Kata si jari, "Siapa tahuuuu Abang Nanu Pharmantara serius menjual mobil lamanya untuk kau tooo. Judulnya beli mobil bekas." 

HA HA HA ...


Bagi saya, resolusi mungkin dapat berubah, namun resolusi merupakan panduan dasar langkah kita ke depan.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Apa pencapaian kalian di tahun 2018, dan apa yang hendak kalian lakukan di tahun 2019? Pencapaian di tahun 2018, seremeh apa pun itu, patut kita rayakan. Resolusi untuk tahun 2019, sesederhana pun, boleh kita tulis sebagai pengingat bahwa kita pernah berharapan ... andaikata tidak terwujud ya tidak apa-apa. Selama Allah SWT masih memberi kesempatan untuk mewujudkannya, lakukan di lain kesempatan.

Baca Juga: 5 Tanaman Dapur di Rumah

Selamat menikmati Kamis yang manis :)



Cheers.

5 Ide Kandang Natal DIY



Holaaa Kamis manis :)

Senin kemarin saya ngepos soal Lomba Membikin Kandang Natal antar unit di Universitas Flores. Penilaian yang akan dilaksanakan Sabtu besok tentu membikin saya harus putar otak. Seperti apa modelnya, apa bahannya, bagaimana cara membikinnya. Tidak mudah memang. Apalagi ada kata 'minimalis' dalam persyaratan lomba. 

Baca Juga: 5 Manfaat Tidak Menonton Televisi

Gara-gara kata 'minimalis' ini, kandang gede yang sudah dibikin harus saya rombak menjadi lebih mini, minimalis, tapi tetap manis, seperti Kamis. Ini sih penampakan yang sudah jadi:


Tapi harus dirombak hehe.

Karena kemarin saya cukup lama ngeronda di Youtube dan IG demi mencari informasi tambahan untuk membikin kandang Natal ini, maka hari ini saya pengen menulis tentang ide membikin kandang Natal yang Do It Yourself (DIY). Mudah dibikin dan hanya membutuhkan sedikit percikan kreativitas.

Mari kita lihat, apa saja ide itu?

1. Koran


Kandang Natal berbahan koran ini memang tidak semudah kandang Natal berbahan kardus. Karena eh karena harus membikin pipa berbahan koran (yang dipelintir). Setelah itu bikin pola alasnya, dan mulai menganyam. Caranya kira-kira sama dengan membikin Pohon Natal yang pernah saya bikin tahun lalu. Tingkat kecermatan dan detail sangat diperlukan untuk membikin kandang Natal berbahan koran.

2. Botol Plastik


Dari yang saya lihat di Youtube, banyak juga yang membikin kandang Natal berbahan botol plastik. Bentuknya bisa macam-macam, tergantung mal yang dipakai juga. Jangan lupa, harus berani bereksperimen untuk mendapatkan hasil yang bagus. Selain botol plastik, bisa juga menggunakan gelas plastik.

3. Kayu dan Bambu


Kalau ini sih bahan yang umumnya digunakan untuk membikin kandang Natal. Biasanya untuk atap digunakan alang-alang, sedangkan untuk alas/rumput digunakan serbuk kayu yang bisa diperoleh dari bengkel kayu. 

Baca Juga: 5 Peserta Favorit Kelas Blogging

4. Piring Kertas


Salah satu video yang saya nonton adalah tutorial membikin kandang Natal menggunakan piring kertas (bundar) yang ditekuk-tekuk, dihekter, lalu membentuk gua. Prosesnya memang mudah dan bakal jadi sangat manis apabila bentuknya sempurna.

5. Kardus + Koran


Inilah bahan kandang Natal yang saya bikin seperti gambar di atas. Menggunakan kardus dan koran. Oh tentu, harus menggunakan cat juga dooonk supaya jadi tjakep hehe.

Masih banyak ide lainnya, silahkan dicari sendiri, siapa tahu kalian juga ingin membikin sendiri kandang Natal untuk diletakkan di depan atau di pojok rumah, berdekatan dengan Pohon Natalnya.

Saya tidak ingin berlama-lama menulis ini, karena harus kembali ke bengkel kerja alias ruang tamu yang sudah kacau balau begitu hahaha. Lihat saja penampakannya:


Maafkan kami, Mamasia, telah membuatmu lelaaaaah menyapu dan membersihkan semua benda-benda ini haha. Sampai tadi saat Mamasia hendak menyapu saya bilang: nanti saja lah, Mamasia, kalau sudah selesai kami bereskan. 

Baca Juga: 5 Yang Unik Dari Ende (Bagian 2)

Demikian ... semoga bermanfaat ya, kawan! Selamat berkreasi.



Cheers.

5 Manfaat Tidak Menonton Televisi



Televisi merupakan salah satu sumber informasi dan hiburan dalam keluarga. Ragam berita tentang kehidupan dinosaurus dan anak cucu dikemas apik dengan host yang kalau tidak ganteng pasti cantik, dan tentu saja cerdas. Berbagai gosip mulai dari gosip artis sampai gosip calon artis disajikan lezat bak sekotak alu ndene dalam kardus. Belum lagi aneka talkshow, filem, kisah petualangan, sampai reality show yang tidak real itu. Semua itu digenapkan dengan suguhan sinetron yang dulu saya sebut industri air mata. Industri air mata ini, dari yang saya dengar, sudah berkembang menjadi industri yang lebih menakutkan, industri percontohan kehidupan anak sekolah.

Coba yaaa itu anak sekolah di kehidupan nyata tidak pakai rok mini di atas lutut secara langsung dipanggil guru BP buat diceramahin tiga jam. Coba yaaa itu anak sekolah di kehidupan nyata zaman dulu itu berani menantang mata guru saja sudah kena hukum. Di sinetron, anak sekolah berani baku jawab dengan guru bahkan bersikap kurang patut. 

Baca Juga: 5 Blogger Kocak

Karena di saya sering nonton televisi sampai larut, maka saya kemudian memutuskan untuk membeli televisi sendiri yang diletakkan di dalam kamar. Sehingga saya menonton televisi menggunakan Tekomvision sedangkan Mamatua menonton televisi menggunakan parabola model lama yang ukurannya lebih besar.

Dulu, saya menyukai beberapa program dari stasiun televisi Indonesia seperti TransTV, Trans7, dan NET. Seringnya saya menonton stasiun televisi luar seperti National Geographic, StarWorld, Fox, AXN, AFC, TLC, E!, dan lain sebagainya. Saya penikmat serial-serial ketje seperti Law & OrderCriminal Minds, NCIS, Castle, Grey Anatomy, Royal Pain, dan tentu saja The Walking Dead. Pssst, saya pernah bolos kerja hanya karena jam tayang The Walking Dead pindah ke pukul 10.00 Wita. Haha. Koplak. Jadi ingat waktu SMA juga sering bolos setiap Sabtu demi menonton filem Vampir China di RCTI. 

Mamatua saya tercinta yang baru berulangtahun pun gemar menonton televisi setiap usai shalat Subuh. Mama Dedeh! Mamatua dan Mama Dedeh itu sulit dipisahkan. Televisi akan dimatikan (mati?) setelah pukul 06.00 Wita usai lagu Indonesia Raya berkumandang. Dulu, lagu Indonesia Raya di rumah saya merupakan lagu wajib yang disetel kencang. Volume televisi FULLvolume receiver FULL. Hasilnya tetangga hanya bisa mengelus dada dan saya melenting dari kasur dengan mata nanar.

Sampai kemudian, piala dunia tahun 2014, kakak saya meminjam parabola besar punya Mamatua. Akhirnya Mamatua harus rela menonton sambungan pararel dari kamar saya. Itu pun tidak lama karena kemudian kalau tidak salah di tahun 2015 sesuatu terjadi pada jaringan Telkomvision, sumber penghiburan di televisi di rumah. Entah apa yang terjadi sehingga parabolanya tidak bisa menangkap sinyal yang diteruskan ke receiver. Saya sempat mati gaya. Mamatua bingung karena tidak dapat melihat wajah bulat manis Mama Dedeh dan tidak bisa mengumandangkan lagu Indonesia Raya. Mamasia jadi nganga kalau kerjaan sudah beres karena tidak ada yang bisa dia lakukan. Hasilnya Mamatua dan Mamasia menonton Mama Dedeh menggelar turnamen congklak.

Tapi hidup terus berjalan. Ya iya laaah hahaha. Dan setelah bertahun-tahun tidak ada televisi saya merasakan manfaat yang mungkin juga sudah duluan dirasakan oleh Om Gustri Brewon. Adalah Om Gusti, aktivis yang saya tahu memperjuangkan hak-hak penderita HIV dan Aids di NTT, yang pernah bercerita pada saya bahwa dirinya dan keluarga tidak menonton televisi. Awalnya saya terkejut. Tapi tentu Om Gusti punya alasannya sendiri. Dan ternyata saya kemudian juga tidak menonton televisi untuk waktu yang cukup lama - sampai sekarang.

Baca Juga: 5 Peserta Favorit Kelas Blogging

Jadi, apa saja manfaat tidak menonton televisi?

1. Menghemat Listrik


Mungkin ada yang bakal ngetawain saya menulis ini, tapi faktanya memang demikian. Karena tidak menonton televisi, penggunaan listrik menjadi jauh lebih hemat. Mungkin kalian juga bisa menerapkan aturan jam televisi boleh dinyalakan di rumah untuk menghemat listrik. Tapi bagi kami selama sekitar tiga tahunan belakangan ini, manfaat tidak menonton televisi adalah terjadinya penghematan listrik yang sangat signifikan. Maklum, kadang saya sendiri sering ketiduran saat sedang menonton televisi hahaha. Gantian televisi yang menonton saya.

2. Tidak Menjadi Korban Industri Air Mata


Setidaknya saya tidak lagi melihat Mamatua atau Mamasia mengomel  saat dan/atau setelah menonton sinetron di televisi. Pasang wajah sedih, dan nyaris menangis! Ketika ditanya, mereka bilang kasihan sama si Anu yang ternyata tokoh sinetron. Mereka kini lebih sering menggelar turnamen congklak. Qiqiqiq.

3. Selalu Ada Waktu Untuk Menulis


Ya, selalu ada waktu untuk menulis dan membaca. Dulu, bisa berjam-jam duduk di depan televisi, bahkan sambil tiduran dan ketiduran di kasur. Tapi sejak tidak menonton televisi, rasanya punya waktu cukup banyak untuk nge-blog; menulis dan blogwalking. Bahkan saya juga punya lebih banyak waktu untuk membaca buku-buku yang masih dibungkus plastik (saking lamanya menumpuk di lemari). Setiap malam sebelum tidur pun saya masih membaca puluhan artikel dari banyak situs favorit.

4. Kerja Otak Lebih Baik


Ini yang saya rasakan. Kerja otak menjadi lebih baik karena lebih banyak menulis dan membaca. Rasanya tidak perlu emosian sama tingkah suami artis Anu, tidak perlu emosian sama juri-juri ajang pencarian bakat menyanyi, dan lain sebagainya. Menulis, membaca, bermain game, menonton filem, traveling ... betul-betul mengisi waktu dengan baik versi saya. Heran ya ... dulu saya bisa menonton televisi berjam-jam bahkan sampai ketiduran dan membiarkan televisinya terus menyala sampai pagi!

5. Tidak Kecanduan


Karena tidak menonton televisi untuk waktu yang cukup lama, dengan sendirinya kecanduan televisi luntur dan hilang. Awal tidak menonton televisi rasanya sakau. Aduh ini gimana ya. Aduh sudah sampai mana ya The Walking Dead-nya. Aduh ... tapi sekarang tidak lagi. 

Tidak menonton televisi ternyata bermanfaat kan? Toh segala informasi dan hiburan pun bisa diperoleh dari internet.

Baca Juga: 5 Kelas Blogging

Semua poin yang tertulis di atas merupakan apa yang betul-betul saya alami dan rasakan setelah sejak 2015 tidak menonton televisi. Jelas, hemat listrik itu pasti hahaha. Bagaimana dengan kalian? Apakah kalian masih menonton televisi? Apakah ada yang kecanduan televisi? Apakah ada yang seperti saya tidak menonton televisi? 

Share yuk di komen :)


Cheers.