Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati


Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati. Saya, kalian, mereka, mungkin sering fokus pada hasil akhir namun melupakan proses menuju hasil. Belakangan, saya sering menulis proses ini dengan proses kreatif. Menulis tentang proses kreatif, saya jadi ingat tentang perjalanan. Betapa gila-gilaannya saya tancap gas setiap kali ke luar kota karena pengen segera tiba di kota tujuan. Bahkan sering terlambat ngerem dan masuk lubang. Suatu kali, saya dan Deni Wolo sama-sama berangkat ke Kota Mbay untuk menyaksikan Festival Kuliner Nakeng Lebu (daging domba) di Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Deni tidak bisa tancap gas karena memang tidak mau dan tidak terbiasa. Mengikuti ritme perjalanan Deni, saya justru lebih menikmati perjalanan luar kota tersebut. Banyak yang bisa saya perhatikan, lebih detil, dan saya sadar bahwa menikmati perjalanan ya yang seperti ini.


Setiap hari saya melakukan dan/atau melewati proses kreatif seperti menulis konten blog, menyunting foto, membikin cover atau feature picture konten blog di Canva, sampai menulis novel. Kadang membikin produk #DIY. Dalam dunia pekerjaan pun demikian, karena untuk menghasilkan satu berita saya harus menulis berita, menggali fakta (agar faktual), hingga menyunting foto pelengkap berita. Dan ketika terjun dalam dunia Exotic NTT Community, saya sadar, proses kreatif itu lebih rajin terjadi baik dilakukan oleh saya maupun oleh teman-teman.


Suatu kali saya menyaksikan proses kreatif yang dilakukan oleh Oedin, videografer sekaligus tukang sunting video Exotic NTT Community. Waktu itu Oedin membikin konten untuk channel Youtube-nya. Kontennya berupa wawancara Oedin dengan salah seorang anggota Exotic NTT Community yang juga dikenal sebagai E.thical Young Entrepreneur Ende 2019 dan mahasiswi Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor). Namanya Natalia Mudamakin. Wawancara dan/atau proses kreatifnya dilakukan di ruang tamu Pohon Tua (rumah saya). Jujur, saya sangat menikmati proses kreatif itu berjalan terutama bagaimana cara Oedin menggali informasi dari narasumbernya. Jelas saya melihat, Oedin berusaha bisa memperoleh footage sebaik-baiknya untuk mempermudahkannya menyunting video tersebut.

Lain lagi cerita saat kami harus pergi ke beberapa tempat berbeda untuk syuting footage bekal video para Exoter (sebutan untuk anggota Exotic NTT Community).

Watu Zaja, Bukit Marsel


Di lokasi ini proses kreatif berlangsung meriah karena diikuti oleh lebih banyak Exoter. Saya, David, Oedin, Arand, Violin, dan Thika. Kami dibantu pula oleh Om Alan dari RCM. Proses kreatif berkaitan dengan kesabaran. Karena ada enam Exoter yang harus dibikin/syuting footage-nya masing-masing, tentu harus mengantri kan. Di sinilah saya menikmati proses kreatif itu. Sebagai videografer, Oedin mengarahkan satu per satu Exoter untuk bergaya sesuai renjananya masing-masing.


Saya, misalnya, footage-nya adalah membaca. Sebagai subyek, saya harus bisa lebih sabar bertahan pada satu aksi/gaya sampai Oedin benar-benar puas. Sumpah, suka sekali sama proses kreatif yang dilakukan oleh Exoter. Sungguh, saya banyak belajar untuk jauh lebih sadar dan memerhatikan detil yang sering terlewatkan. Contohnya, saya bisa lebih leluasa mengeksplor Watu Zaja ketika menunggu giliran disyuting.

Aigela: Check Point Tiga Kabupaten


Ini dia perjalanan gila-gilaan. Bayangkan saja, untuk dua footage Exoter kami harus pergi jauh-jauh ke Aigela sejarak sekitar 60 kilometer dari Kota Ende. Proses kreatif yang saya nikmati tidak saja ketika Oedin mengambil footage Yoyok dan Cahyadi. Lebih dari itu! Selain kehujanan, takut sama petir yang sahut-sahutan, saya disuguhi pemandangan seorang lelaki sedang melaksanakan shalat Dzuhur.



Subhanallah. Saya benar-benar jatuh cinta dengan lelaki di dalam foto. Sayangnya, karena hujan saya tidak sempat berkenalan dengannya, karena kami kemudian ngetem di lapak berbeda. Mungkin kalian bakal bertanya, memangnya saya berani berkenalan dengannya? Berani donk! Untuk lelaki seperti itu, saya pasti berani. Sekadar mengajaknya mengobrol, berteman, haha hihi, kenapa tidak? Di sini saya menjadi semakin percaya bahwa setiap perjalanan mempunyai ceritanya sendiri-sendiri. Alhamdulillah saya diberikan pemandangan indah begitu oleh Allah SWT.

Pelabuhan Ende, Samba, Simpang Lima


Proses yang satu ini juga sangat saya nikmati. Waktu itu kami terpisah di mana saya, Yoyok, Violin, dan Natalia pergi ke Pelabuhan Ende untuk syuting footage-nya Nata. Sedangkan Arand, Tri, dan Man, pergi ke Barai menjemput Oedin untuk kemudian bergabung dengan kami di pelabuhan. Jujur, sudah beberapa bulan saya tidak mengumpulkan footage, apalagi mengarahkan subyek video. Tapi saat Nata mulai menari, sesuai renjananya, saya jadi lebih bersemangat mengarahkannya. Setelah saya, gantian Yoyok yang merekam aksi-aksi Nata, sampai kemudian rombongan dari Barai tiba di Pelabuhan Ende.

⇜⇝

Jadi, jelas ... bagi kalian yang sering mengabaikan proses kreatif, coba deh mulai memerhatikannya. Bandingkan saat kalian tidak menikmatinya atau menganggapnya sebagai angin lalu, dengan saat kalian menikmatinya dengan sungguh.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Bakal banyak banyak yang kita perhatikan dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Bakal banyak yang kita pelajari dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Detil-detil yang sering terlewatkan, bakal menjadi suatu cerita tersendiri ketika kita menikmati proses kreatif. Ayo, berhenti terburu-buru, mari nikmati!

#KamisLegit



Cheers.

Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati


Sering Diabaikan Namun Proses Kreatif Harus Kita Nikmati. Saya, kalian, mereka, mungkin sering fokus pada hasil akhir namun melupakan proses menuju hasil. Belakangan, saya sering menulis proses ini dengan proses kreatif. Menulis tentang proses kreatif, saya jadi ingat tentang perjalanan. Betapa gila-gilaannya saya tancap gas setiap kali ke luar kota karena pengen segera tiba di kota tujuan. Bahkan sering terlambat ngerem dan masuk lubang. Suatu kali, saya dan Deni Wolo sama-sama berangkat ke Kota Mbay untuk menyaksikan Festival Kuliner Nakeng Lebu (daging domba) di Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Deni tidak bisa tancap gas karena memang tidak mau dan tidak terbiasa. Mengikuti ritme perjalanan Deni, saya justru lebih menikmati perjalanan luar kota tersebut. Banyak yang bisa saya perhatikan, lebih detil, dan saya sadar bahwa menikmati perjalanan ya yang seperti ini.


Setiap hari saya melakukan dan/atau melewati proses kreatif seperti menulis konten blog, menyunting foto, membikin cover atau feature picture konten blog di Canva, sampai menulis novel. Kadang membikin produk #DIY. Dalam dunia pekerjaan pun demikian, karena untuk menghasilkan satu berita saya harus menulis berita, menggali fakta (agar faktual), hingga menyunting foto pelengkap berita. Dan ketika terjun dalam dunia Exotic NTT Community, saya sadar, proses kreatif itu lebih rajin terjadi baik dilakukan oleh saya maupun oleh teman-teman.


Suatu kali saya menyaksikan proses kreatif yang dilakukan oleh Oedin, videografer sekaligus tukang sunting video Exotic NTT Community. Waktu itu Oedin membikin konten untuk channel Youtube-nya. Kontennya berupa wawancara Oedin dengan salah seorang anggota Exotic NTT Community yang juga dikenal sebagai E.thical Young Entrepreneur Ende 2019 dan mahasiswi Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores (Uniflor). Namanya Natalia Mudamakin. Wawancara dan/atau proses kreatifnya dilakukan di ruang tamu Pohon Tua (rumah saya). Jujur, saya sangat menikmati proses kreatif itu berjalan terutama bagaimana cara Oedin menggali informasi dari narasumbernya. Jelas saya melihat, Oedin berusaha bisa memperoleh footage sebaik-baiknya untuk mempermudahkannya menyunting video tersebut.

Lain lagi cerita saat kami harus pergi ke beberapa tempat berbeda untuk syuting footage bekal video para Exoter (sebutan untuk anggota Exotic NTT Community).

Watu Zaja, Bukit Marsel


Di lokasi ini proses kreatif berlangsung meriah karena diikuti oleh lebih banyak Exoter. Saya, David, Oedin, Arand, Violin, dan Thika. Kami dibantu pula oleh Om Alan dari RCM. Proses kreatif berkaitan dengan kesabaran. Karena ada enam Exoter yang harus dibikin/syuting footage-nya masing-masing, tentu harus mengantri kan. Di sinilah saya menikmati proses kreatif itu. Sebagai videografer, Oedin mengarahkan satu per satu Exoter untuk bergaya sesuai renjananya masing-masing.


Saya, misalnya, footage-nya adalah membaca. Sebagai subyek, saya harus bisa lebih sabar bertahan pada satu aksi/gaya sampai Oedin benar-benar puas. Sumpah, suka sekali sama proses kreatif yang dilakukan oleh Exoter. Sungguh, saya banyak belajar untuk jauh lebih sadar dan memerhatikan detil yang sering terlewatkan. Contohnya, saya bisa lebih leluasa mengeksplor Watu Zaja ketika menunggu giliran disyuting.

Aigela: Check Point Tiga Kabupaten


Ini dia perjalanan gila-gilaan. Bayangkan saja, untuk dua footage Exoter kami harus pergi jauh-jauh ke Aigela sejarak sekitar 60 kilometer dari Kota Ende. Proses kreatif yang saya nikmati tidak saja ketika Oedin mengambil footage Yoyok dan Cahyadi. Lebih dari itu! Selain kehujanan, takut sama petir yang sahut-sahutan, saya disuguhi pemandangan seorang lelaki sedang melaksanakan shalat Dzuhur.



Subhanallah. Saya benar-benar jatuh cinta dengan lelaki di dalam foto. Sayangnya, karena hujan saya tidak sempat berkenalan dengannya, karena kami kemudian ngetem di lapak berbeda. Mungkin kalian bakal bertanya, memangnya saya berani berkenalan dengannya? Berani donk! Untuk lelaki seperti itu, saya pasti berani. Sekadar mengajaknya mengobrol, berteman, haha hihi, kenapa tidak? Di sini saya menjadi semakin percaya bahwa setiap perjalanan mempunyai ceritanya sendiri-sendiri. Alhamdulillah saya diberikan pemandangan indah begitu oleh Allah SWT.

Pelabuhan Ende, Samba, Simpang Lima


Proses yang satu ini juga sangat saya nikmati. Waktu itu kami terpisah di mana saya, Yoyok, Violin, dan Natalia pergi ke Pelabuhan Ende untuk syuting footage-nya Nata. Sedangkan Arand, Tri, dan Man, pergi ke Barai menjemput Oedin untuk kemudian bergabung dengan kami di pelabuhan. Jujur, sudah beberapa bulan saya tidak mengumpulkan footage, apalagi mengarahkan subyek video. Tapi saat Nata mulai menari, sesuai renjananya, saya jadi lebih bersemangat mengarahkannya. Setelah saya, gantian Yoyok yang merekam aksi-aksi Nata, sampai kemudian rombongan dari Barai tiba di Pelabuhan Ende.

⇜⇝

Jadi, jelas ... bagi kalian yang sering mengabaikan proses kreatif, coba deh mulai memerhatikannya. Bandingkan saat kalian tidak menikmatinya atau menganggapnya sebagai angin lalu, dengan saat kalian menikmatinya dengan sungguh.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Bakal banyak banyak yang kita perhatikan dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Bakal banyak yang kita pelajari dari sekitar ketika kita menikmati suatu proses, termasuk proses kreatif. Detil-detil yang sering terlewatkan, bakal menjadi suatu cerita tersendiri ketika kita menikmati proses kreatif. Ayo, berhenti terburu-buru, mari nikmati!

#KamisLegit



Cheers.

Ternyata Semua Khayalan Saya Dijawab Oleh Drama Korea


Ternyata Semua Khayalan Saya Dijawab Oleh Drama Korea. Pos kedua di tahun 2020 ini masih cubit-cubitan dengan drama Korea atau lebih sering disebut Drakor. Mungkin ada yang bakal bilang: tahun berapa ini, Teh, masih ngomongin Drakor saja. Sejujurnya saya bukan pecinta Drakor makanya tidak pernah memburu Drakor apalagi mengingat dan menghafal nama Oppa-Oppa gantengnya. Tapi itu bukan berarti saya tidak pernah menonton Drakor. Ada beberapa Drakor bagus yang saya tonton dan terus membekas dalam ingatan seperti Fated to Love You, Goblin, Oh My Venus, dan Full House. Judul terakhir adalah Drakor terakhir yang saya tonton pada Desember 2019 padahal dirilis tahun 2004. Entah mengapa waktu itu tidak ada keinginan menunggu Full House di televisi. Stasiun televisi yang menayangkannya pun saya tidak tahu.

Baca Juga: Sebuah Catatan Akhir Tahun Untuk Saya, Kalian, Mereka

Setelah menonton Full House, dan sempat menangis!, saya baru sadar bahwa Drakor menjawab semua khayalan saya. Manusia mana sih yang tidak pernah mengkhayalkan sesuatu? Kalian juga pasti pernah berkhayal hujan duit kan? Kalian juga pasti pernah berkhayal tidak perlu bekerja tetapi saldo di rekening terus membuncit kan? Kalau pernah, kalian tidak sendiri, ada saya menemani. Haha. 

Kembali pada Drakor yang menjawab semua khayalan saya...

Saya bukan penulis novel tapi tetap ngotot berusaha menulis novel. Kenapa? Karena khayalan saya, terutama tentang ranah asmara, sungguh membabi-buta dan merongrong. Jadi, harus ditulis. Terpaksa saya bocorkan bahwa di laptop tersimpan begitu banyak draf novel pada folder Ja'o Tulis yang tidak ingin saya terbitkan karena ceritanya tidak masuk akal. Semua ini gara-gara khayalan! Setiap malam sebelum tidur saya selalu menonton Upin Ipin, Larva, atau video-video inspirasi lain di Youtube sebagai prolog tidur. Saat Negara Kantuk mulai menyerang, biasanya saya membelakangi layar telepon genggam yang terus menayangkan video, sementara mata terpejam dan otak mengembara ke dunia lain. Dunia khayalan ... sampai kemudian saya jatuh tidur.

Apa isi khayalan saya?

Drakor?

Bukan!

Kisah-kisah percintaan absurd!

Laki-Lakinya Ganteng


Ini penting. Laki-laki dalam khayalan saya itu harus ganteng. Namanya juga mengkhayal. Mana mungkin saya mengkhayal pacaran dan menikah sama laki-laki yang wajahnya mirip juru bicaranya Sauron dari Lord of the Rings? Wajah gantengnyanya berubah-ubah sesuka saya. Bisa wajahnya Richard Gere, bisa juga wajahnya Orlando Bloom. Tapi akhir-akhir ini wajah seseorang di arah Barat Pulau Flores *ditampar dinosaurus*. Haha. Si laki-laki tidak boleh cerewet, jadi di dalam khayalan saya laki-laki itu pendiam tapi punya hujan perhatian. Perhatian ini kadang ditunjukkan lewat perbuatan dan perilaku, tapi bisa juga perhatian ini disembunyikan. Kalian bingung kan? Mana ada perhatian tapi disembunyikan? Pokoknya laki-laki itu harus begitu!

Selain ganteng, karena kegantengan tidak bisa bikin manusia kenyang, maka dia juga harus punya pekerjaan. Minimal punya bengkel tambal ban yang cabangnya ada di seluruh Indonesia. Haha. Saya pikir banyak perempuan juga mengkhayal tentang hal ini.

Perempuannya Berwajah Dongo


Haha. Gitu banget sih, Teh, sama khayalan sendiri. Dongo itu maksudnya si perempuan ini memang cantik, hanya saja rada bloon untuk keadaan tertentu. Ya, karena kalau laki-laki terpesona dan jatuh cinta pada perempuan cantik dan smart, itu terlalu mainstream. Perempuan yang dongo-dongo sedap bisa dilihat pada Goblin. Ha ha ha. Anyhoo, perempuannya cuma berwajah dongo ya, tapi dia harus cukup smart untuk bermanuver menghadapi sikap laki-laki ganteng itu.

Kisah (Cinta) Ajaib


Seperti layaknya Drakor, kisah cinta dalam khayalan saya itu supa ajaib. Dalam cerita berjudul Triplet, misalnya, salah satu dari tiga perempuan kembar itu punya kemampuan psikometri. Dalam dunia nyata, psikometri sulit diterima, tetapi dalam dunia khayal psikometri belum apa-apa dibandingkan para superhero. Kisah cinta di dalam Triplet bukanlah kisah cinta segi tiga melainkan bagaimana seorang perempuan harus mengalah ketika saudari kembarnya berulah hingga menyusul pula tanggung jawab besar yang harus dipikul. Termasuk perasaan. Amboi. Haha. Kalian boleh membaca Triplet yang saya bagi menjadi puluhan part. Cari saja di blog ini.

Ja'o Fonga Ne'e Kau lebih ajaib lagi. Khayalan saya menghasilkan satu draf utuh sebuah kisah cinta antara lelaki dan perempuan yang lama terpisah waktu. Naga-naganya ini juga akan menjadi latar belakang cerita baru yang sedang saya tulis berjudul Mai Ka. Ja'o Fonga Ne'e Kau diisi dengan cinta, penolakan, harga diri, egosi, cinta lagi, penolakan lagi, harga diri lagi, egois lagi, begitu seterusnya berputar-putar sampai yang baca (kalau nanti ada yang baca) merasa mual, kembung, pusing, lantas pingsan. Hehe. Ja'o Fonga Ne'e Kau tidak saya publikasikan di blog ini maupun blog manapun. Tidak juga berani saya tawarkan ke penerbit karena ceritanya terlalu absurd untuk diterima akal sehat.

Tapi, ada hal yang perlu kalian tahu tentang khayalan dan cerita-cerita yang saya tulis itu. Cinta yang sangat kuat bermain-main di sana. Iya, semuanya punya cinta yang sangat kuat sehingga saya sendiri merasa aneh. Apakah karena saya sendiri juga selalu punya cinta yang sangat kuat, yang sulit diganggu bahkan oleh lelaki paling ganteng sekalipun? Huhuy. Saya pikir, mungkin itu karena saya termasuk adalah Capricorn yang setia *keselek rambutan*. Dududu.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Sampai sekarang, meskipun tidak berbakat menulis novel, tapi saya masih ngotot menulis. Karena khayalan. Sekali lagi, karena khayalan. Sejujurnya saya ingin Mai Ka, cerita yang sedang saya tulis itu, setidaknya nanti dapat dibaca oleh lebih banyak orang. Diterbitkan sendiri maupun diterbitkan oleh penerbit. Karena Mai Ka merupakan oase yang menjawab banyak hal tentang dunia wisata di Pulau Flores. Loh? Bukan kisah cinta? Cinta selalu ada dooonk. Cinta yang kuat. Haha. Tapi dunia wisata pun memainkan peranan yang sangat kuat di dalamnya. Termasuk, nama-nama karakter yang saya pakai datang dari dunia nyata/kehidupan sehari-hari. Karena, memikirkan nama karakter sebuah cerita/novel itu juga butuh waktu yang lama untuk memikirkannya.

Bagaimana dengan kalian kawan? Pernahkah khayalan kalian dijawab dengan lugas oleh Drakor? Kalau pernah, bagi tahu di komen!

#KamisLegit



Cheers.

Bisakah Saya Berhenti Berpikir dan Bersikap Konyol?


Bisakah Saya Berhenti Berpikir dan Bersikap Konyol? Suatu kali ada seseorang, entah siapa saya lupa, yang bilang ke saya: sudah, stop diet, kamu itu jelek banget kalau kurus! Omongan itu semacam kalimat ampuh yang terlontar dari bibir pengacara kondang. A-ha! Mari makan, mari ngemil, karena kalau kurus saya jelek *digampar dinosaurus*. Tapi bukan karena omongan itu kemudian tubuh saya menjadi sulit mengempes. Mengempes atau mengempis? Dasarnya tulang saya yang gemuk. Haha. Yang jelas, porsi makan saya normal seperti rakyat jelata pada umumnya, porsinya sedikit tapi tambah terus *muka serius*. Hei kamuuuu yang mau pedekate jangan mundur doooonk. Seriusnya, yang jelas porsi normal atau sedikit lebih banyak, tubuh saya begini-begini saja.

Baca Juga: 5 Perkara yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan

Ketika suatu kali saya memasang wajah super serius, ada yang menyeletuk: tidak cocok! Haha. Mau tidak mau saya tertawa mendengarnya. Nampaknya wajah saya ini dari keluaran pabrik memang tidak digariskan untuk menjadi terlalu serius. Sama seperti otak saya yang sering sekali keluar dari jalur. Maksudnya sering banget otak saya ini mendadak mengalami jalur sibuk dimana orang lain sedang ngomong serius ke saya tetapi otak saya fokus memikirkan hal lainnya yang bisa jadi penting bisa jadi sangat remeh. Jadi, tidak ada salahnya kalau sedang mengobrol dengan saya kalian bertanya: lu dengerin nggak, Teh!? Sumpah, saya tidak akan tersinggung kalau kalian bertanya begitu, karena saya sendiri juga tidak kuasa menahan otak saya memasuki jalur sibuk.

Sama juga, untuk peristiwa-peristiwa penting lainnya, seringkali saya berulah konyol sampai pernah dikeplak sama Kakak. Tapi sebenarnya konyol ini bukan disengaja. Lhaaaa bemana lagi ... saat sedang Yassin-an sekeluarga besar mendadak saya tertidur begitu saja. Duhai, entah apa yang merasuki saya saat itu. Kepala saya dikeplak *ngakak guling-guling*. Atau, saat sedang santai bersama teman-teman, saya menyumpal kedua lobang hidung dengan tisu sampai yang melihat terkejut. Untungnya mereka sudah tahu perihal kekonyolan ini sehingga tidak sampai lah mereka mengeplak kepala saya.

Ternyata, urusan berpikir dan bersikap konyol ini merembet ke ranah nyaris-asmara. Pasti kalian bakal bilang: kok bisa? Ya, bisa. Jangan diikuti jejak konyol ini, karena kalau iman kalian tidak kuat, resiko silahkan tanggung sendiri.

Pada dasarnya saya suka berkhayal. Menulis fiksi memang butuh khayalan tingkat tinggi. Konyolnya, kalau sedang berkhayal saya tidak mengenal tempat. Kakak ipar saya, Mbak Wati, cuma bisa mengelus dada waktu melihat saya menyapu rumah sambil mulut komat-kamit. Dikiranya saya sedang membaca mantera, ternyata saya sedang bercerita. Coba kalian bayangkan, sambil menyapu rumah saja otak saya menyusun cerita asmara (fiksi)! Paling parah, saya menyusun fiksi saat sedang kendarai sepeda motor, terutama ke luar kota. Makanya, kalau hendak ke luar kota mengendarai sepeda motor sejak dari rumah sudah saya mulai Ayat Qursi agar keterusan dan otak saya tidak liar ke arah jalur sibuk.

Balik lagi ke urusan berpikir dan bersikap konyol yang merembet ke ranah nyaris-asmara. Otak saya itu sering banget ngelantur ke mana-mana. Waktu ada yang pedekate, baru pedekate nih, otak saya sudah menampilkan seseorang (lelaki dong) datang ke rumah secara mendadak, bawa batako buat lemparin kepala saya terus bilang pengen ngelamar. Tidak berhenti di situ! Cerita fiksi itu mulai dirangkai satu per satu. Mulai dari pedekate, pacaran, proses lamaran, menikah, punya anak, cek-cok, sampai manajemen emosi saya dan dia. Ya ampuuuun! Itu konyol sekali kan, kawan? Belum berhenti sampai di situ! Saat si dia berhenti pedekate alias menghilang pun otak saya masih melanjutkan cerita fiksi itu. Berulang-ulang.

Konyol to the max.

Nampaknya berpikir dan bersikap konyol sulit sekali terurai dari pribadi saya. Entah mengapa, otak saya begitu saja bermain liar, berkhayal, mengarang cerita fiksi. Untungnya, saya tidak terbawa pada kerja otak yang seperti itu. Maksudnya, saya tidak sampai berhalusinasi apalagi mengalami delusi. Hahaha. Bisa dibayangkan kalau itu terjadi? Tingkat konyolnya di atas pencapaian maksimum standar hidup manusia *ngakak guling-guling*.

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat Dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Apakah kalian juga mengalaminya? Kalau iya, artinya saya tidak sendiri. Tapi berpikir dan bersikap konyol ini ada manfaat positifnya. Misalnya, saat ini saya harus lebih intens merawat Mamatua karena kedua matanya kehilangan penglihatan. Pola berpikir dan sikap yang konyol ternyata sangat membantu menghibur beliau yang sangat kami sayangi itu. Misalnya selalu bertanya tentang biodata-nya beliau sendiri, mengajaknya bernyanyi, mencoba menggodanya dengan kalimat-kalimat konyol, dan lain sebagainya. Bagi saya, orang sakit tidak butuh dikasihani. Orang sakit butuh dihibur, terutama dengan hal-hal konyol-positif, agar semangat mereka tetap membara untuk menjalani hidup. Setidaknya, meskipun saat ini Mamatua praktis harus diurus a to z, tapi otak dan bibirnya tidak berhenti bekerja. Mamatua masih bisa bercerita tentang masa lalu, masih bisa meraba-raba kami yang duduk di dekatnya, masih bisa bercerita, berkomentar ini itu, bahkan menggoda Mamasia dan Mamalen yang senantiasa membantu kami mengurusinya.

Hati yang gembira adalah obat ~ H. J. Gadi Djou.

Life is good!

Kembali ke judul; bisakah saya berhenti berpikir dan bersikap konyol untuk semua lini kehidupan saya? Belum bisa. Kalau saya berhenti berpikir dan bersikap konyol ... bukan saya namanya. Haha.

Semoga bermanfaat!

#KamisLegit



Cheers.

Gempa 12-12-92 Mengajarkan Kami Tentang Evakuasi


Gempa 12-12-92 Mengajarkan Kami Tentang Evakuasi. Sebelumnya saya mau menjelaskan, lagi, kenapa akhir-akhir ini sering banget tidak update pos di blog. Selain karena kesibukan yang maha tinggi, Selasa kemarin saya mendadak sakit. Serangan itu begitu mendadak, saat sedang berada di Ruangan Rektorat, tubuh seperti ditiban langit. Anehnya, ketika sudah terkapar di kasur di rumah, tubuh saya meriang hebat tapi saya sama sekali tidak kedinginan. Itu kipas angin malah 'menghantam' diri ini tanpa belas kasih. Dududu. Sampai-sampai saya menulis di Facebook, jangan-jangan ini anomali cuaca karena panas yang luar biasa akibat 'banyaknya proyek pengerjaan jalan'? Dosa, memang, kalau curigation begitu. Tapi kalau kalian berada di Kota Ende, kalian pasti bakal memikirkan hal yang sama. Ini sudah menjadi pemikiran berjamaahnya kami. Haha.

Baca Juga: Sebuah Seni Untuk Melepaskan Sesuatu Yang Bukan Milik Kita

Mari kembali ke judul.

12 Desember 1992, atau banyak yang menulisnya 12-12-92, tanggal cantik bagi siapapun yang ingin melepas masa lajang. Ada dua 12 di situ. Tapi siapa sangka tanggal itu menjadi tanggal yang tidak akan pernah kami lupakan seumur hidup. Hari itu saya pulang lebih awal dengan dua alasan. Pertama: ujian. Kedua: demam. Bapa (alm.) dan Kakak Toto Pharmantara (alm.) sedang bermain Nintendo, game Tetris. Karena mereka sedang menguasai Nintendo maka saya memilih tidur saja. Demam ini. Tidak berapa lama saya mendengar suara Mama baru saja pulang dari sekolah, Mama menegur Bapa dan Kakak Toto untuk shalat, lantas terdengar suara air wudhu di kamar mandi. Iya, kamar saya waktu itu dekat sama kamar mandi utama tempat ember wudhu (dikasih keran dan penyangga sehingga letaknya lebih tinggi) terletak.

Kalau perhitungan saya tidak meleset, Mama baru selesai rakaat ketiga begitu, lalu bumi bergoncang sangat hebat! 

Saya pernah menulis tentang gempa ini di dua pos. Jangan bingung, pos tahun 2006 posisi bahasa saya super alay. Saya pikir kalian bakal lebih paham membaca pos pada tahun 2018.


*aku panik... banged*

Kenapa aku panik? Karena AKU PERNAH MERASAKAN YANG NAMANYA GEMPA DENGAN SKALA 7 RICHTER, MAN!! Gimana ngeliat rumah tetangga rata ama tanah!! Gimana ngeliat orang mati tertimpa rumah mereka sendiri!! Gimana orang2 yang lagi mandi lari TELANJANG keluar kamar mandi dengan panik! Saat itu, 12 DESEMBER 1992, aku yang sedang demam tinggi gak bisa manja2 sama mamah karena keadaan genting banged, tauuu!

By Tuteh Sunday, May 28, 2006 10 komentar


Saya masih kelas 2 SMP. Baru pulang ujian. Tubuh panas (sakit). Tetapi ketika bumi bergoncang yang dapat saya lakukan hanyalah meloncat dari kasur berlarian membabi-buta ke luar rumah. Perasaan kacau-balau melihat orang-orang memukul panci berteriak "Kami latu! Kami latu!". Teriakan itu berarti "Kami ada! Kami ada!" dan ditujukan kepada 'penjaga' bumi agar bumi tidak 'dia' goncangkan.

By Tuteh Monday, August 13, 2018 0 Comments 5 komentar


Semua orang berhamburan ke luar rumah, termasuk Bapa dan Kakak Toto yang sedang asyik bertarung angka Tetris, dan melihat tetangga yaitu Nene Rae (alm.) memukul panci sambil berteriak "Kami latu!". Mamatua adalah penghuni terakhir yang keluar rumah. Mamatua menyelesaikan shalat Dzuhur-nya. Ah, Mamatua ... Menurut pengakuan Mamatua, di tengah kepanikan orang-orang di sekitar halaman rumah, saat sedang hendak menuruni tangga rumah, Abang Nanu Pharmantara mengulurkan tangan dan berkata, "Mari, Ma, pegang saya punya tangan!" Malamnya, saat cerita-cerita, baru Mamatua paham yang menolongnya turun tangga itu bukan Abang Nanu karena posisi si anak sulung sedang bersama isteri dan anaknya. Lantas, siapa? Entahlah.

Pada 12 Desember 1992, gempa berkekuatan 7,8 SR mengguncang Kabupaten Ende, Kabupaten Sikka, dan daerah sekitarnya seperti Kabupaten Ngada dan Kabupaten Flores Timur. Di Kabupaten Ende gempa tidak berpotensi tsunami, tapi di Kabupaten Sikka tsunami setinggi 30-an meter yang menenggelamkan Pulau Babi dan menghancurkan daerah tepi pantai (apalagi di Kabupaten Sikka itu pantainya landai tipikal pantai Utara). Keesokan harinya Kakak Toto yang bekerja di P.T. Telkom mengabari kami yang sedang berkumpul di teras rumah dengan perasaan cemas, bahwa CNN mengabarkan Pulau Babi tenggelam. Informasi hanya kami peroleh dari Kakak Toto karena listrik padam total - kalau gempa tersebut disiarkan pun kami tidak dapat menyalakan televisi. Betul-betul saya merasakan suasana yang begitu mencekam.

Rumah kami yang waktu itu bermaterial papan (bagian depan) dan tembok (bagian belakang) tidak rubuh. Meja pimpong dibuka dan dibentang di ruang tamu. Kompor-kompor dipindah ke teras sebagai dapur sementara. Kami melatih diri sendiri untuk:

1. Evakuasi selekasnya.
2. Mandi dan buang air besar selekasnya.

Evakuasi selekasnya: kami beramai-ramai tidur di ruang tamu agar mudah berlarian ke luar apabila terjadi gempa susulan, dan iyess gempa susulan terjadi terus-menerus bahkan sampai sebulan dua bulan. Setiap kali gempa susulan, Kakak Didi Pharmantara bakal berlari hingga ke jalan besar dengan wajah pucat pasi. Kata Mamatua, wajar saja, Mama sedang mengandung Kakak Didi saat bencana alam Gunung Ia meletus dulu. Hehe. 

Mandi dan buang air selekasnya: kami tentu tidak ingin menjadi korban, dan harus berupaya untuk menyelamatkan diri, salah satunya dengan tidak latihan olah vokal di kamar mandi dan membaca novel Wiro Sableng saat sedang buang air besar. Haha.

Dua atau tiga hari kemudian saya ijin pada Bapa untuk jalan-jalan keliling kompleks. Bapa mengijinkan tapi dengan syarat kalau terjadi gempa jauhi rumah atau bangunan apapun serta jauhi tiang listrik alias carilah lapangan terdekat. Noted. Miris sekali perasaan saya melihat rumah tetangga pada rubuh rata dengan tanah. Rumah Ibu Imam, ibudannya Mas Yoyok sekeluarga, atapnya menempel dengan tanah. Ya, Tuhan. Sungguh ... menyakitkan. Saya juga melihat tenda-tenda didirikan sebagai tempat berlindung masyarakat. Banyak tenda berdiri di halaman-halaman rumah. Banyak lelaki yang bekerja membersihkan puing-puing, mungkin masih ada barang yang bisa diselamatkan. Terutama pakaian, kasur, bantal, selimut. Maklum, tidur di tenda tidak sama dengan tidur di rumah. Udara dingin tentu sangat menusuk. Sama juga seperti kami sekeluarga yang tidur di ruang tamu dengan posisi pintu membuka lebar. Angin malam menjadi sahabat karib selama berbulan-bulan.

Bantuan mulai berdatangan. Ada yang dari pemerintah seperti pembagian selimut, mie instan, hingga pembagian air bersih. Ada yang dari kantornya Kakak Toto. Ada pula dari keluarga besar kami di Surabaya. Alhamdulillah ... mengingat toko-toko belum semuanya dibuka. Di mana kami bisa membeli sembako waktu itu? Sekeping kerupuk sangat berarti. Hehe. Tapi yang jelas, semua informasi tentang gempa ini kami peroleh dari Kakak Toto. Setiap hari ada saja informasi baru atau berita baru yang dibawa pulang oleh Kakak Toto.

Saya lupa, sebulan atau tiga bulan, kemudian anak sekolah sudah kembali masuk sekolah. Syarat dari sekolah adalah: memakai celana panjang atau celana selutut dan membawa tikar. Kami bersekolah di bawah pohon rindang di sekitar sekolah, SMPN 2 Ende. Asyik juga belajar outdoor. Tapi belajar outdoor kami bukan karena kurikulum melainkan karena force majeur. Satu pelajaran yang paling saya ingat saat belajar outdoor adalah Klitika, pelajaran Bahasa Indonesia, oleh Ibu Siti.

Tapi ... di manakah Petrus?

Ini pertanyaan sejak hari pertama gempa mengguncang. Petrus adalah anak dari suatu desa yang tinggal bersama kami. Sejak hari gempa, dia menghilang. Kata Bapa, kemungkinan Petrus pulang ke desanya bertemu orangtua. Tapi, bukankah banyak kendaraan umum yang tidak beroperasi? Seminggu kemudian pertanyaan kami terjawab. Petrus kembali ke rumah sambil membawa sekarung sayuran dan seekor ayam. Dengan wajah lugunya dia bercerita bahwa berjalan kaki dari Ende ke desanya (sekitar 20 kilometer) memang melelahkan. Kadang dia berlari agar lekas tiba. Dia kuatir pada kedua orangtuanya. Alhamdulillah orangtuanya baik-baik saja. Kondisi mereka di desa jauh lebih baik karena untuk urusan makan-minum selalu ada: kebun dan sumber mata air. Jangan-jangan inilah yang menyebabkan saya punya impian tinggal di desa? Haha.

Baca Juga: 5 Perilaku Sederhana Untuk Mengurangi Sampah Plastik

Gempa mengajarkan kami banyak hal. Salah satunya tentang evakuasi. Di rumah, sejak Mamatua stroke (tahun 2009) dan sejak sering terjadi gempa-gempa kecil, kami belajar mengevakuasi Mamatua. Instruksi dan latihannya lancar jaya. Tetapi suatu malam saat hujan dan gempa kecil terjadi, pada prakteknya begitu sulit karena Mamatua kan juga bertubuh besar dan posisi saat itu belum kami pakaikan kursi roda. Hehe. Indra dan Thika sudah berupaya membimbing Mamatua keluar rumah, kena hujan, eh gempanya berhenti. Latihan evakuasi akan menjadi lebih mudah, kini, karena kami tinggal mengangkat Mamatua ke kursi roda dan mendorongnya ke luar rumah. Tapi yang jelas, selalu berdoa memohon perlindungan Allah SWT.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Pernah kah kalian mengalaminya juga? Pernahkah gempa bumi terjadi di daerah kalian? Bagi tahu di komen.

Mengenang 27 tahun gempa Flores.

#KamisLegit



Cheers.