5 Yang Cantik


Tidak banyak foto pemandangan yang bisa saya abadikan dalam perjalanan ke sebagian Pulau Flores waktu kegiatan Tim Promosi Uniflor 2019 kemarin, baik ke Barat, Utara, dan Timur. Saya sendiri juga tidak membaca Canon Eos600D andalan karena berat lah di backpack dan cuaca sedang kurang bersahabat alias kuatir diguyur hujan tengah jalan. Lebih tepatnya saya tidak mau repot hahaha. Oleh karena itu saya hanya bisa merangkum lima yang cantik dari perjalanan kemarin-kemarin itu, dari perhentian demi perhentian yang bikin Violin rada bingung kok tiba-tiba sepeda motor di belakangnya menghilang. Haha.

Cekidot!

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

1. Memasuki Kota Mbay


Kota Mbay merupakan Ibu Kota Kabupaten Nagekeo. Termasuk kabupaten tetangga yang bersinggungan langsung dengan Kabupaten Ende. Perbatasannya adalah Nangamboa (Kabupaten Ende) dan Nangaroro (Kabupaten Nagekeo). Beda dari kota-kota lain di Pulau Flores, Kota Mbay bertopografi datar dengan pemandangan alam yang memikat terutama padang sabana di sekelilingnya; termasuk pada saat hendak memasuki kota ini.


Ini fotonya pagi hari sebelum memasuki Kota Mbay. Adem banget ya melihatnya. Saya suka sekali foto-foto di lokasi ini (sebelum memasuki Mbay). Seperti sebelum memasuki surga *dikeplak*.

2. Rumah Impian


Bukit Weworowet yang terletak di Desa Waikokak di Kabupaten Nagekeo ini memang merupakan salah satu titik terlama wisatawan berhenti untuk sekadar mengabadikan pemandangan alamnya yang luar biasa bikin betah. Tentang Bukit Weworowet bisa kalian lihat videonya di Youtube. Nah, yang satu ini adalah foto sebuah rumah berlatar Bukit Weworowet.


Apa yang kalian lihat? Iya, bukit dan rumah, itu jelas. Saya melihat impian di foto ini. Impian bocah SD zaman dulu setiap kali menggambar pemandangan; gunung, rumah, sawah. Kalau yang ini; bukit, rumah, ladang. Saya mau donk punya rumah ini, sayang sudah ada yang punya, lagian belum kuat lah saya buat beli rumah hahaha.

3. Memasuki Desa Niranusa


Kecamatan Maurole terkenal akan garis pantai berpasir putihnya. Ketika hendak memasuki Desa Niranusa di Kecamatan Maurole, di dataran tingginya, kalian akan disuguhi pemandangan ini:


Pemandangannya itu seakan mengajak kita: nyebuuuuur, yuk! Kalau tidak mengingat berkas-berkas ini itu, sudah pasti saya nyebur dan pulang dalam keadaan basah kuyup hahaha. 

Saya punya banyak foto laut dari lokasi yang sama. Ini foto terbaru dua minggu lalu waktu pergi ke Utara untuk sosialisasi Universitas Flores. Pasir putihnya terdiri dari pecahan koral bercampur pasir putih itu sendiri. Beberapa teman traveler yang datang ke Kabupaten Ende, tepatnya ke Danau Kelimutu, pulangnya pasti saya racuni untuk pergi ke sini hehe.

Tanjung Kajuwulu


Namanya Tanjung Kajuwulu, terletak di Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka. Daerah Magepanda sendiri merupakan daerah di pesisir Pantai Utara yang pemandangannya bakal bikin kalian tercengang!


Di bukit dekat Tanjung Kajuwulu ini dibangun menara pandang. Sayang saya tidak foto dari menara pandangnya. Pun tak jauh dari situ ada Bukit Salib, iya ada salib besar warna putih berdiri gagah di sebuah bukit yang untuk menuju ke sana disediakan anak-anak tangga.

Nikong Gete


Dalam perjalanan pulang dari Kota Larantuka ke Kota Maumere, saya melihat pemandangan ini. Sulit untuk tidak mengerem Onif Harem. Lantas bertanya pada seorang anak di situ nama daerah ini. Dia menjawab, "Nikong Gete." Nah, mungkin kuping saya kurang baik pendengarannya, apabila salah nama ini mohon dikoreksi hahaha.


Sunset-nya itu, mana tahan eyke ...


Kesimpulannya? Mari yuk ke Pulau Flores dan nikmati sendiri keindahannya. Karena Pulau Flores tidak hanya tentang Labuan Bajo, Danau Kelimutu, Pantai Anabhara, Magepanda, atau Puncak Konga di Titihena. Masih banyak daerah menarik lainnya yang bisa dieksplor ... dan tentu bagi kami anak daerah ... harus bisa menceritakannya pada dunia.



Cheers

Timur Punya Cerita


Halo hola! Tidak terasa sudah tiga hari saya tidak nge-blog. Tidak menulis cerita. Tidak memperbarui konten blog. Pun lebih lama lagi; saya jarang blogwalking dan merusuh di blog kawan blogger sekalian. Sakau? Sedikit. Tapi lelah ini telah lebih dulu merenggut kesadaran sehingga perjalanan ke dunia mimpi menjadi begitu mulus tanpa jerawat. Saya bahkan tidak diijinkan untuk protes. Perjalanan ini, sesungguhnya, telah mengajarkan saya dan dinosaurus rasa rindu pada bantal dan guling. Haha. Maka hari ini, setelah 680an kilometer berkendara bersama Onif Harem, saya punya kesempatan yang begitu banyak untuk menulis, menulis, dan menulis.

Baca Juga: Hiasan Dinding DIY

Peringatan: pos ini akan sangat panjang tapi penuh cerita menarik terutama #JalanJalanKerja memberikan saya kesempatan untuk mencapai beberapa lokasi wisata.

Mari kita mulai cerita panjang ini.

Menyisir Timur Pulau Flores dari Kota Ende Menuju Kota Maumere


Senin, 18 Februari 2019. Sepagi itu, pukul 04.00 Wita saya dan Thika sudah bersiap. Rencananya kami, tim sepeda motor, berangkat pukul 05.00 Wita dari Kota Ende menuju Ibu Kota Kabupaten Sikka yaitu Kota Maumere. Malam sebelumnya tim bis Uniflor sudah duluan berangkat. Tim motor ini terdiri dari: Pak Anno Kean, Pak Us Bate, Ibu Violin Kerong, Cesar Sarto, Rolland, dan saya yang ditemani Thika. Meskipun saya memanggil mereka dengan embel-embel 'Pak' dan 'Ibu' tapi sebenarnya usia mereka masih muda. Ndilalah kami malah baru ngegas pukul 05.45 Wita karena masih menunggu Pak Us yang pada WAG menulis otw tapi baru tiba  di check point satu jam setelahnya. Haha.

Sepagi itu speedometer masih bergerak normal antara 60km/jam sampai 80km/jam. Saya tahu, tiga sepeda motor yang dikendarai para lelaki itu memang sengaja menahan gas agar sepeda motor yang dikendarai dua perempuan (saya dan Viol) bisa seirama dengan mereka. Tiba di Kecamatan Wolowaru sekitar pukul 07.30 Wita kami beristirahat sejenak untuk ngopi-ngopi di sebuah warkop yang pemiliknya ramah sekali. Tidak marah meskipun kami ributnya bukan main. 


Jarak dari Kota Ende ke Kecamatan Wolowaru adalah 65 kilometer. Betul, menuju Kecamatan Wolowaru kami melewati Kecamatan Detusoko.

Kelokan Antara Kecamatan Wolowaru dan Kecamatan Watuneso yang Bikin Mabuk



Inilah titik perjalanan paling membosankan; Kecamatan Wolowaru - Kecamatan Watuneso yang berjarak 28,1 kilometer. Membelah hutan, sekali dua bertemu rumah penduduk, dan kelokan (kadang kelokan kanan-kiri itu tidak ada jedanya sama sekali) tiada akhir. Viol memimpin di depan. Kepemimpinan Viol dalam iring-iringan ini membikin para lelaki sadar bahwa tidak ada gunanya mereka menahan gas dan speedometer. Haha. Tapi kelokan jelas membikin saya pusing bukan main dan percaya bahwa menjadi seorang Valentino Rossi itu tidak mudah. Tiba di SMA pertama dalam perjalanan menyisir ini, saya dan Viol saling mengeluh pusing. Thika? Aduhai keponakan paling setia itu cuma bisa menelan lidah getir.


Sekolah pertama yang kami kunjungi, yang merupakan bagian tugas saya dan Viol adalah SMA Karitas Watuneso. Sayangnya kami tidak dapat bersosialisasi karena murid-murid sedang punya kegiatan. Hiks. Menitip pamflet setelah bertemu kepala sekolah kami pun pamit.


Setelah pamit, tim sepeda motor berpencar. Pak Anno dan Pak Us melanjutkan perjalanan ke kecamatan lain di Kabupaten Sikka, kami yang tersisa menuju Kecamatan Paga.

Kecamatan Paga dan Pantainya


Kecamatan Watuneso dan Kecamatan Paga adalah dua kecamatan yang membatasi wilayah Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka. Jaraknya hanya 14,6 kilometer. 


Di Kecamatan Paga, tim sepeda motor berpencar lagi. Cesar dan Rollan segera meluncur menuju sebuah SMK di Kecamatan Lela. Di Paga, saya dan Viol berhenti untuk mengunjungi SMA Alvarez Paga yang dipimpin oleh seorang Romo. Kami diberi kesempatan untuk melakukan sosialisasi di salah satu kelas dalam jeda tryout sesi satu. 


Kecamatan Paga terkenal akan garis pantainya yang memukau, berpasir putih, mempunyai pemecah ombak, serta dari kejauhan nampak ombak bergelung meskipun bukan ombak besar untuk surfing itu. Di tepi pantai juga terdapat saung dan bale-bale untuk beristirahat. Memesan kopi? Silahkan. Fotonya nanti dalam perjalanan pulang hehe.

Mencari SMA Negeri Nita


SMA Negeri Nita tidak terletak di jalan trans Pulau Flores sehingga saya dan Viol harus bertanya sana-sini terlebih dahulu. Tapi ... a-ha! Kembali Thika memainkan Google Map. Ketemu! Di SMA Negeri Nita kami diijinkan melakukan sosialisasi kepada murid-murid. Rasanya senang sekali ketika mereka sangat menghargai perjalanan jauh kami dari Kabupaten Ende hahaha.



Ke mana setelah SMA Negeri Nita? Kami meluncur ke Kota Maumere sebagai Ibu Kota Kabupaten Sikka. Masih ada tiga sekolah tujuan kami yaitu MAS Muhammadiyah, SMKN 2 Maumere, dan SMA Negeri Magepanda.

Ikan Hiu dan I Love You


Inilah sekolah yang pemandangan lautnya saya pos Senin kemarin; Laut Belakang Sekolah. MAS Muhammadiyah terletak di wilayah Nangahure (arah Utara) dari Kabupaten Sikka. Sayangnya kami tidak dapat melakukan sosialisasi di sekolah ini karena murid-murid sedang bersiap untuk Shalat Duhur. Yang lucunya, Thika malah digoda oleh seorang murid laki-laki yang dengan nekatnya datang ke ruang guru dan berkata: 

Assalamu'alaikum, Kakak. Ikan hiu (ada lanjutannya tapi tidak kedengaran jelas), I love you!

Saya dan Viol menahan ngakak. Tuhaaaaan. Thika oh Thika, masih dianggap anak SMP atau SMA saja dirimu itu. Padahal sudah tahun kedua kuliah hahaha. Gara-gara itu, akhirnya kami memanggil Thika dengan julukan IKAN HIU.



Sungguh kalau saya diijinkan sekolah lagi, saya mau sekali sekolah di MAS Muhammadiyah ini, biar tiap hari sepulang sekolah bisa nyebur dan bergabung dengan para nelayan.

Alumni Uniflor Ada Di Mana-Mana


Sebenarnya kami sudah ingin menyerah dan pergi ke hotel tempat semua anggota tim menginap di Hotel El Tari Indah. Tapi kok sayang, karena letak SMKN 2 Maumere ini sudah cukup dekat dari MAS Muhammadiyah, lebih ke arah Utara. Maka kami pun tiba di sekolah yang ternyata sekolah pelayaran ini. Meskipun tidak sempat memberikan sosialisasi, hanya menyerahkan surat dan pamflet, tapi kami beruntung bertemu alumni Uniflor yang mengajar di sana.


Sebenarnya bukan hanya di sekolah ini terdapat alumni Uniflor yang mengabdi sebagai guru, hampir di semua sekolah yang dikunjungi juga ada alumni Uniflor, hanya saja tidak bisa bertemu karena mereka sedang mengajar sedangkan kami terburu waktu.

Bertemu Ocepp Rewell


Dari SMKN 2 Maumere kami memutuskan untuk pergi ke Hotel El Tari Indah yang terletak di Jalan El Tari Kota Maumere. Hotel ini terletak tepat di pinggir jalan. Di bagian depannya terdapat restoran mini yang juga dimiliki oleh si pemiliki hotel.


Usai makan siang, soto ayam kampung, saya memutuskan untuk segera check in dan beristirahat. Saya ngorok, Viol ke rumah saudaranya, Thika pergi jalan-jalan bersama keponakan lain bernama Vil yang memang tinggal di Kota Maumere bersama orangtuanya. Sebenarnya ada banyak orang yang ingin saya temui di Kota Maumere baik sahabat maupun keluarga. Tapi ... sumpah, tubuh saya butuh dicas utuh haha. Senangnya adalah si Ocha alias Ocepp Rewell berjanji akan datang ke hotel. Hore!


Ocha datang ke hotel tak lama setelah Thika pulang dari mengunjungi rumah-rumah keluarga termasuk ke Kantor Telkom untuk bertemu keluarga yang bekerja di sana. Dari Tanta Ella (mamanya Vil) Thika membawa cumi, ikan, sambal, dan peyek kacang. Ocha membawa burger, sukun goreng, dan martabak manis. Oalaaaah ... diet saya hancur sehancur-hancurnya pada hari itu. Mengobrol bersama Ocha menuntaskan rindu pada bawelnya dia hahaha. Kami masih haha-hihi sampai selepas maghrib, saatnya kami harus ke Tobuk Gramedia untuk bisnis Triwarna Soccer Festival terutama bagian pameran dan membeli buku pesanan Meli.

MoF Art Gallery (and Cafe)


Urusan bisnis di Tobuk Gramedia Maumere, dengan supervisor-nya karena manajer sedang tidak di tempat, belanja-belenji termasuk membeli agenda cover kuning bekal lanjutan T-Journal, kami merapat ke MoF Art Gallery (and Cafe) yang terletak di Pasar Senja.




Usai makan malam, kembali ke hotel, dan saya pun tidur. Tidur kesorean, karena toh Ocha dan Thika masih kembali ke Tobuk Gramedia untuk membeli novel dan Viol masih kembali ke rumah saudaranya. Pokoknya saya butuh tidur!

Sekolah Di Negeri Dongeng


Selasa, 19 Februari 2019, masih satu sekolah yang harus saya dan Viol kunjungi yaitu SMA Negeri Magepanda. Perjalanan menuju Magepanda sekitar 34,4 kilometer (pergi-pulang 68 kilometer) dengan bertemu dua kali jalan putus yang tentu tidak akan bisa dilewati saat hujan. Untung ... cuaca cerah! Google Map membantu kami menemukan sekolah ini karena memang tidak terletak di pinggir jalan utama.


Inilah sekolah di negeri dongeng, terletak di kaki bukit-bukit hijau yang mirip Bukit Teletubbies. Saya juga mau ah sekolah lagi di SMA ini hahaha. Manapula Kepseknya ramah sekali, suka guyon, dan banyak bercerita ini itu. Kami juga bertemu alumni Uniflor yang sudah lamaaaaa sekali lulus, dan dua alumni lainnya yang lulus di atas tahun 2000.


Kata Kepsek, "Ibu ... kalau sekarang mendung, saya terpaksa ibu pulang ke Maumere karena kalau mulai hujan, saya jamin ibu terpaksa menginap di sini! Hahaha!"

Dan inilah kondisi salah satu ruas jalan yang putus (sangat dalam) sehingga kalau hujan, dialiri air yang meluap:


Harus hati-hati dan pelan-pelan jika tidak ingin mencium tanah kering berdebu serta bebatuannya. Tapi pemandangan jalan putus ini ibarat secuil halangan karena pemandangan sepanjang jalan dari Kota Maumere ke Magepanda itu ausam sekali! 





Menuju Kabupaten Flores Timur


Pulang dari SMA Negeri Magepanda kami kembali ke hotel untuk makan siang dan melanjutkan perjalanan ke arah Timur (lagi) yaitu ke Kabupaten Flores Timur dengan jarak 128 kilometer. Ada banyak sekali SMA yang menanti kami di sana hahaha. Gayanya menulis ini.


Perjalanannya jauh. Memang. Kami lebih dulu berangkat dari tim bis. Sempat istirahat di Boru dan Puncak Konga di Titihena sebelum menuju Kota Larantuka sebagai Ibu Kota Kabupaten Flores Timur.




Pokoknya, nanti ya akan saya ulas satu-satu lebih detail. Pos ini secara garis besar saja ... garis besar yang lumayan panjang *senyum malu*.

Papi Mami di Puumbao


Sayangnya kami tidak berlama-lama di rumah Pak Anno di Waibalun karena Papi Mami sudah menunggu di Puumbao, di Kota Larantuka-nya. Saya, Viol, dan Thika memang tidak menginap di Hotel Lestari Larantuka karena memang ingin menginap di rumah Papi Nani Resi dan Mami Dete yang dulunya tinggal di Kota Ende. Kedua orangtua yang baik ini sudah menunggu kami dan menyiapkan makan malam. Tak lupa kopi! Yuhuuuu. Kisah tentang Papi Mami di lain pos ya.

Ini fotonya waktu mau pulang. Wajah si Mami sedih begitu karena rumahnya kembali sepi.

Malam itu, Cesar dan Rolland bergabung, kami mengobrol ramai di rumah Papi Mami yang sejuk dan nyaman itu. Papi mendengarkan dan terbahak-bahak mendengar celoteh kami. Mami lebih memilih duduk di teras sambil mengunyah sirih-pinang. Sepulang Cesar dan Rolland pun, kami masih mengobrol di teras sambil Mami memijit Viol dan Saya. Ikan Hiu? Eh, Thika? Ngorok!

3 SMA di Larantuka

Rabu, 20 Februari 2019, ada tiga SMA yang wajib kami kunjungi sementara tim bis menuju Tanjung Bunga. Cesar dan Rolland pun mendapat jatah tiga SMA. Okay, mari jalan! Setelah menegak kopi yang dibikin Mami, kami pun berangkat.

"Jalan bae-bae, Oa eeee. Jangan makan di luar, pulang makan di rumah!" pesan Mami.







Dan tentu saja kami pulang makan siang di rumah karena Mami sudah memasak ... ikan goreng segar yang manis dan sambalnya itu cihuy banget! Aduhai Papi Mami, kalian begitu luar biasa, hati kalian lapangnya luar biasa. Saya belajar banyak dari kalian. Sungguh ... saya pengen nangis. Terima kasih Papi Mami; kami datang, kami ribut, kami kotorkan rumah, kami pulang. Hehe.

Kembali ke Kota Maumere


Ya, setelah makan siang dan dibekali pula pisang goreng dan sambal maknyus a la Mami, kami pun pamit pulang ke Kota Maumere, pamitan sama tim bus dan sebagian tim motor yang masih menginap semalam di Waibalun, di rumah orangtuanya Pak Anno. Perjalanan siang itu mengantar kami tiba di daerah Kabupaten Sikka pada senja hari. Tentu, kami mampir sebentar di Boru untuk ngopi dan menikmati pisang goreng serta sambal maknyus itu.




Kaki saya sungguh lelah karena mengendarai Onif Harem yang matic, kaki jarang diluruskan.

Tiba di Kota Maumere sudah gelap. Kami langsung ke rumah kakaknya Viol. Saya sudah tidak bisa bergerak lagi. Langsung tepat setelah mandi dan keramas (aduh ini kepala guatalnya tak tahan hahaha). Sampai keesokan harinya, pagi-pagi hari, saya dan Thika pergi ke rumah Tanta Ella di daerah Misir Kota Maumere, yang disusul Cesar dan Rolland.

Keluarga Adalah Segalanya


Kamis, 21 Februari 2019, di rumah Tanta Ella kami disuguhi kopi dan tentu ditahan untuk makan terlebih dahulu sebelum ngegas ke Kota Ende.


Sungguh, keluarga adalah segalanya. Berhubungan darah atau tidak, mereka akan selalu menanti kedatangan keluarga lainnya dengan wajah berseri-seri dan kelapangan hati yang luar biasa. Mereka tidak akan rela keluarga lainnya terkena hujan apalagi lapar! Tidak akan pernah terjadi hal semacam itu. Mereka, bahkan, akan mengomelimu kalau tidak mampir. Sungguh ... keluarga adalah segalanya.

Terimakasih Tanta Ella, Bapatua, dan Vil. Terima kasih.

Ngopi di Paga dan Persawahan di Detusoko


Mari pulang kampung. Perjalanan pulang ini berformasi: saya, Thika, Cesar, Rolland, dan Rudi. Viol masih bertahan di Kota Maumere mengurusi pekerjaannya sehingga sepeda motornya dibawa pulang oleh Rudi. Dalam perjalanan pulang ini, mungkin karena setelah makan siang, saya didera kantuk yang luar biasa hebat. Akhirnya menyerah dan berhenti di saung pinggir jalan di Paga (dan pinggir pantai) untuk ngopi sejenak.


Anak pemilik saung, namanya Cici. Dia begitu cantik dan membikin saya harus memotretnya saat itu juga hehe. Sedangkan Thika memilih pergi ke pantai untuk foto-foto di sana. Nanti deh hasilnya saya pamerkan di lain pos. Kuatir kalian iri hahahah.

Setelah ngopi-ngopi di sini, kami terus ngegas ke Ende tanpa berhenti karena saya sudah sangat merindukan Mamatua. Satu kali berhenti di daerah Detusoko untuk memotret pemandangan ini:


Terima kasih Allah SWT atas alam yang indah ini.


Senin - Kamis. Perjalanan panjang ke arah Timur Pulau Flores di dua kabupaten. Lelah tapi menyenangkan. Saya selalu suka #JalanJalanKerja begini. Karena ketika urusan pekerjaan sudah selesai, bisa sekalian jalan-jalan kan hehe. Pos yang panjang ini pun belum sempurna. Masih banyak yang ingin saya ceritakan terpisah ... karena memang harus dipisah. Semoga mata kalian tidak eror setelah membaca pos yang panjang ini hahaha *cubit dinosaurus*.

Perjalanan setotal 680an kilometer. Done!

Well, selamat berakhir pekan, kawan! 



Cheers.

Utara Punya Cerita

Pemandangan pantai di puncak bukit sebelum Desa Niranusa di Kecamatan Maurole.

Sesuai jadwal dari Panitia Tim Promosi Uniflor 2019, hari ini saya dan tiga teman lainnya yaitu Kakak Sinta Degor (Sindeg), Deni Wolo (Dewo), dan Rudi, berangkat ke wilayah Utara Kabupaten Ende. Sebelumnya, tepatnya kemarin malam, kami kaget menerima kiriman video dari teman yang tahu jadwal keberangkatan kami ini tentang putusnya jalan di daerah Fataatu akibat hujan deras. Tapi kami berempat tetap harus berangkat agar dapat melihat langsung kondisi jalan, dan bisa memutuskan apakah nanti perjalanan dapat dilanjutkan atau tidak.

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

Terhitung ada lima SMA yang wajib kami kunjungi yaitu:

1. SMA Negeri Detusoko.
2. SMA Negeri Welamosa.
3. SMK Negeri 3 Ende di Ekoae.
4. SMK Negeri 5 Ende di Maukaro.
5. SMA Negeri Maurole.
6. SMA Dharma Bakti di Maurole.

Keberangkatan Yang Delay


Bukan cuma penumpang pesawat terbang saja yang mengalami delay. Tadi pagi pun kami delay satu jam gara-gara menunggu Dewo yang terlambat bangun. Haha. Saya dan Rudi kemudian menikmati kopi panas dan kudapan di rumah Kakak Sindeg sembari menunggu Dewo. Keberangkatan yang seharusnya pukul 06.30 Wita, delay sampai pukul 07.30 Wita. Untuk tahu rute perjalanan kami, silahkan perhatikan peta berikut ini:


Rute-nya cukup ngeri kan. Oia, di peta ini tidak ada daerah Welamosa. Welamosa terletak antara Detusoko dan Ekoae.

Bertemu Mantan Guru Olah Raga di SMA Negeri Detusoko


SMA Negeri Detusoko, SMA pertama yang kami kunjungi, terletak di puncak bukit. Coba kalian perhatikan fotonya:


Jalan masuk menuju SMA Negeri Detusoko sungguh ekstrim tanjakannya (pun turunannya). Oleh karena itu saya dan Dewo terpaksa ke sekolah itu berdua saja, tanpa boncengan, sedangkan Kakak Sindeg dan Rudi menunggu di jalan besar. Harus begitu, ketimbang mereka berdua terpaksa turun di tengah perjalanan yang mendaki ke puncak gunung itu.

Di SMA Negeri Detusoko kami disambut seorang guru yang kemudian memberikan buku tamu. Urusan lapor-melapor selesai, kami dipersilahkan memasuki ruang Kepala Sekolah. Ketika saya dan Dewo masuk ke ruang Kepala Sekolah itu lah saya terkejut bukan main karena ternyata Kepala Sekolah SMA Negeri Detusoko adalah ...

"Pak Tobi?!"

"Hah? Tuty?"

Ah, kesal juga kenapa dipanggil Tuty bukan Tuteh hahaha. Bapak Tobias Dawi adalah guru olah raga saya dulu waktu di SMA Negeri 1 Ende. Saya lihat, di tangan beliau, SMA Negeri Detusoko menjadi sangat bagus. Terlihat dari baliho di tempat penerimaan tamu; yang memajang kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler murid-muridnya. Bahkan dari cerita Pak Tobi, SMA Negeri Detusoko bakal dijadikan SMA unggulan, selain telah menjadi sekolah induk untuk SMA lainnya karena di sekolah ini telah dibangun laboratorium komputer tempat murid kelas XII kelak mengikuti Ujian Nasional. Pak Tobi, semoga Allah SWT senantiasa merahmatinya demi kemajuan pendidikan di daerah kami.


Oleh Pak Tobi kami diberikan waktu sebanyak-banyaknya, semampu kami, untuk mempromosikan Universitas Flores kepada para murid kelas XII. Terima kasih ... kami harus melanjutkan perjalanan setelah selesai menyampaikan materi unggulan Uniflor kepada murid-murid.

Dua Kali Melintasi Jalan Putus


Tujuan kami berikutnya adalah SMA Negeri Welamosa (yang tidak saya cantumkan di peta di atas). Sepanjang perjalanan di daerah persawahan betapa senangnya hati melihat para petani sedang menanam padi.


Menuju ke SMA Negeri Welamosa ini, kami harus melewati satu jalan yang putus, seperti video yang dikirimkan teman pada malam sebelumnya. Jalan yang putus itu ternyata masih bisa dilalui meskipun harus berjuang sampai sepatu saya basah kuyup. Foto berikut ini adalah foto saat perjalanan pulang dimana saya sudah memakai sandal biru dengan sepatu digantung di belakang Onif Harem.


Sungguh, apabila berani tidak menurunkan kaki, maka terjatuh itu pasti. Karena apa? Karena di dasarnya itu selain bebatuan besar digenapkan dengan pasir. Hilang keseimbangan sedikit saja, sudah pasti gubrak manja. Nah dari jalan putus pertama di Fataatu ini kami langsung menuju ke SMA Negeri Welamosa yang ternyata ... masih harus melewati jalanan yang kerikil jalanannya lepas begitu menuju bukit. Ngeri-ngeri sedap. Tapi, bukankah saya bisa memakai mantel sepatu? Sebenarnya! Tapi mantel sepatu belum tuntas saya kerjakan, baru sampai tahap menggunting pola saja. Sedangkan di sekitar lokasi ini tidak ada kios/warung tempat saya bisa membeli kresek merah andalan qiqiqiq.


Ya sudah ... mari melanjutkan perjalanan. Dari sekolah ini kami harus melintasi satu lagi jalan putus yang harus dilintasi dengan MENURUNKAN KAKI. Demi keselamatan saya dan si bayi Onif Harem.

Tim Yang Dipecah


Mengingat waktu yang tidak mencukupi apabila kami berempat harus terus bersama, maka tim ini harus dipecah. Karena Ekoae + Maukaro - Maurole itu berpisah jalan. Dewo dan Rudi mendapat jatah ke SMK Negeri 3 Ende di Ekoae dan SMK Negeri 5 Ende di Maukaro. Saya dan Kakak Sindeg langsung ke Maurole yaitu SMA Negeri Maurole dan SMA Dharma Bakti. Janji ketemu makan siang di Maurole.

Alumni Uniflor Ada Di Mana-Mana!


Kami tiba di SMA Negeri Maurole saat para guru sedang pertemuan dan murid kelas XII sedang berkumpul di halaman dan sekitarnya, menunggu para guru selesai pertemuan. Apabila menunggu, belum tentu kami dapat melakukan sosialisasi dan bisa jadi kami kehilangan kesempatan di SMA Dharma Bakti. Ya sudah, lanjut ke SMA Dharma Bakti, yuk! Di SMA Dharma Bakti kami disambut oleh Wakil Kepala Sekolah yang ternyata ...

"Saya ini alumni Uniflor juga, Ibu. Rata-rata guru di sini juga alumni Uniflor. Dulu saya di Prodi Matematika. Oh iya, sudah ke SMA Negeri? Itu Kepala Sekolah SMA Negeri Maurole juga alumni Uniflor!"

Sungguh alumni Uniflor ada di mana-mana. Dan, tentu, terima kasih karena sudah mengijinkan saya dan Kakak Sindeg mempromosikan Uniflor ke para murid meskipun siang sudah semakin membikin perut menagih janji makan siang. Oh iya, sekadar catatan, akhirnya teman saya Diwan Paka Pega yang mengajar di SMA Negeri Maurole protes karena saya tidak kembali mampir ke sekolahnya hhahaha. Next time ya.

Warung Family


Dari SMA Dharma Bakti, saya dan Kakak Sindeg masih mampir di sebuah toko besar tempat saya dulu sering berbelanja kebutuhan pengungsi erupsinya Gunung Rokatenda. Namanya Haldes, kalau agak keliru namanya - maafkan ya. Rencananya pengen beli sepatu boot karet yang dipakai petani buat ke sawah itu. Tapi tidak ada. Ya sudah terima apa yang ada:

1. Membuka sepatu dan kaos kaki yang basah kuyup.
2. Mencuci kaki dengan Aqua (kaki saya sombong hari ini).
3. Membeli sandal.
4. Mengikat sepatu di bagian belakang Onif Harem.


Usai urusan bersih-bersih dan mengisi bensin, kami meluncur ke sebuah warung makan bernama Family. Uh wow sekali namanya. Di samping warung makan ini ada warung bakso tapi kami tentu lebih memilih nasi. Sekalian juga memesankan untuk Dewo dan Rudi yang sudah berangkat menuju Maurole dimana mereka tidak bisa pergi ke SMK Negeri 5 di Maukaro karena kondisi jalan yang super hancur akibat hujan.


Kembali ke Warung Family, saya menikmati makan siangnya yang menggiling lidah terutama sambelnya itu loh. Segar warhaha sekali. Dan kopi susunya ... wuih!



Saat sedang makan di warung itulah, saya teringat Yoan Ameraya, sahabat - adik - yang bertugas di Polsek Maurole. Susah memang sinyal, tidak semulus di Ende, haha, tapi pada akhirnya Yoan menelepon saya dan meminta saya menunggu. Tapi menunggu adalah hal yang sudah saya sadari sejak kenal Yoan ... bisa-bisa saya menginap di Maurole haha. Saya dan Kakak Sindeg pun bergegas menuju Polsek Maurole sedangkan Dewo dan Rudi sudah duluan ngegas ke arah Ende.

Yoan, Wisudawan Yang Terselip


Yoan adalah adik - sahabat yang sama-sama diwisuda tahun lalu. Lucunya, si tukang tidur ini ketiduran pada hari wisuda. Mama Emmi Gadi Djou meminta saya harus bisa 'mendatangkan' Yoan ke Auditorium H. J. Gadi Djou. Saya menghubungi semua orang yang menurut saya tetangganya, juga saudara-saudaranya. Fiuh. Jadi, meskipun mahasiswa Fakultas Hukum sudah selesai dipindah kucirnya, Yoan diselip di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), tepat wisudawan terakhir setelah FKIP.


Meskipun bertugas sebagai Polisi tapi Yoan punya kemampuan lain yang luar biasa yaitu pandai bermain alat musik terutama orgen dan gitar, serta bernyanyi! Satu keluarganya semua memang punya bakat seperti Enol dan Nick yang dikenal sebagai fotografer. Yoan juga idolanya Mamatua karena dialah satu-satunya sahabat saya yang sering mengiringi Mamatua bernyanyi Teluk Bayur. Aduhaaaaiii mereka berdua kompak sekali *ngakak guling-guling*.


Terima kasih Yoan, dari foto di atas saya jadi tahu ternyata kalau tampak belakang itu foto saya menjadi jauh lebih bagus dari tampak depan wakakakaka.

Rumah Para Pengungsi


Kalau kalian membaca Pos #PDL Piknik Setiap Minggu, pasti tahu kedekatan hubungan emosional saya dengan para pengungsi akibat erupsinya Gunung Rokatenda kan. Perjalanan tadi itu, saya melihat rumah-rumah pengungsi sudah lama dibangun (terakhir kabarnya tahun 2014 Mama Muna bercerita tentang bantuan rumah).


Itulah bentuk rumah mereka, para pengungsi, dengan ladang jagung di sekitarnya/halaman. Mereka, benar-benar telah bangkit dan membangun kembali. Semoga kehidupan mereka sejahtera. Hanya doa yang bisa saya panjatkan pada Tuhan untuk mereka.

Pemandangan Dari Ketinggian


Maurole terkenal akan pantainya yang luar biasa kece. Salah satu pemandangan pantai ini dari ketinggian/bukit sebelum memasuki Desa Niranusa. Akhirnya saya dan Kakak Sindeg foto-foto dulu di tempat ini sebelum melanjutkan perjalanan pulang.



Kalau ada yang bikin kafe di ketinggian ini ... pasti ramai! Karena ini merupakan jalur Pantura (Pantai Utara) antara Kabupaten Ende dan Kabupaten Sikka.


Fiuh ... akhirnya selesai juga cerita perjalanan hari ini. Kalian tentu ngeri juga membacanya. Super panjang! Tapi percayalah, bacalah semuanya, sudah saya bagi per sub, jadi lebih mudah untuk dibaca. Halaaaaah. Hahahah *ditimpuk dinosaurus*.

Baca Juga: 5 Desa 5 Potensi

Semua catatan perjalanan dalam rangka mempromosikan Uniflor ini banyak yang belum semua saya pilah, terutama untuk dipos di blog travel. Proses memilah per cerita masih berlanjut, dan proses menulis satu per satu ... belum sama sekali. Haha. Nantilah, mungkin kesibukan akan semakin bertambah dengan masuknya saya sebagai Tim Lomba Mural dalam perhelatan Triwarna Soccer Festival. Tapi saya yakin, segala sesuatu akan selesai juga jika dikerjakan perlahan-lahan. Bukan begitu? Begitu bukan?

Selamat menyambut akhir pekan, kawan. 


Cheers.

Istana Negara Kuning


Sebagai Presiden Negara Kuning, yang beranggotakan dua petinggi, saya memang belum punya istana. Mencari istana, karena kalau bisa mencari kenapa harus membangun(?), memang tidak mudah. Banyak perkara yang harus saya pertimbangkan, selain warna yang dipilih sebagai identitas istana, seperti kerelaan pemilik bangunan untuk bangunannya saya jadikan istana. Dinosaurus saja sampai pusing tujuh keliling menunggu saya menemukan istana. Siapa sangka, Istana Negara Kuning itu tidak saya temukan di Kota Ende melainkan di sebuah kota yang sangat jauh bernama Mbay di Kabupaten Nagekeo?

Baca Juga: Di Nagekeo Hati Saya Tertambat

Anyhoo, kedua petinggi Negara Kuning itu adalah Wakil Presiden bernama Indi dan Duta Besar bernama Syiva. Meskipun Wakil Presiden telah berkhianat dan memilih untuk mengabdi pada Negara Merah, tapi saya masih tetap menganggapnya Wakil Presiden karena belum menemukan pengganti yang pas (otaknya).

 Wakil Presiden yang berkhianat ke Negara Merah.

Duta Besar yang bergaya Don Yuan.

Penemuan Istana Negara Kuning ini sangat tidak disengaja. Dalam perjalanan dinas di Kabupaten Nagekeo, tepatnya setelah melaksanakan tugas di Aesesa dan Marpokot - dalam perjalanan kembali ke Kota Mbay, saya menemukan si istana. Penampakannya bisa kalian lihat di awal pos. Berdiri gagah dan sangat mencolok. Nama istana itu adalah Masjid Baiturahman Alorongga. Ketika melihatnya, saya harus turun dari Onif Harem untuk memungut hati saya yang jatuh ke aspal. Sungguh, bangunan ini sangat pantas menjadi Istana Negara Kuning bentukan saya itu. Saya langsung ingat bahwa semua yang kita lakukan telah ditetapkan oleh Allah SWT dan menemukan istana ini pun sudah rencanaNya. Ada yang batuk? Hahaha.

Saya jadi ingat. Pada tahun 2010, saya dan seorang sahabat yang super baik yaitu Ilham Himawan pernah punya proyek impian memotret semua masjid yang kami temui di Pulau Flores. Apakah proyek itu terlaksana? Iya! Tapi sayang, foto-foto itu ada yang terhapus seiring bergantinya gawai pintar sebelum disimpan di Google Foto. Entah bagaimana dengan foto-foto yang dikumpulkan Ilham. Saya bahkan pernah menulis di Kompasiana, jangan dicari akun itu mungkin sudah terhapus, tentang Kota 1000 Masjid (Ende). Kalian mau tahu? Daerah Kota Ende bagian pesisir itu saya juluki daerah LIMA METER MASJID. Lima meter memang hiperbola, tapi kalau kalian melihat sendiri, pasti bakal angguk-angguk juga kenapa saya juluki seperti itu. Suara adzan-nya sahut-sahutan.

Setiap kali keluar kota, meski kadang ingat kadang lupa, saya masih sempat memotret masjid yang berdiri di pinggir jalan (masjid/surau). Ada perasaan bemana gitu yang tidak bisa saya jelaskan di sini setiap kali melihat masjid dalam perjalanan ke tempat yang jauh dari rumah. Seperti melihat rumah sendiri; tempat saya bisa tidur apabila mengantuk selama perjalanan, tempat saya melaksanakan shalat, tempat saya merasa nyaman level galaksi. Saya pikir, mungkin itu jugalah yang dirasakan oleh para musafir atau para pejalan lainnya jika pergi jauh dari rumah.

Urusan mengantuk ini, dalam suatu perjalanan spektakuler yang bisa kalian baca di pos #PDL Laja dan Toleransi yang Tinggi, saya dan Kakak Pacar pernah keluar rumah usai Subuh. Selama perjalanan dari Kota Ende menuju Laja, kantuk menyerang saya tanpa ampun. Pada akhirnya kami, yang memang malam sebelumnya kurang tidur, memutuskan untuk tidur di teras masjid yang ada di Kota Boawae (masih Kabupaten Nagekeo tapi jalurnya ke arah Barat terus ke Kabupaten Ngada, kalau Kota Mbay jalurnya ke arah Utara). Luar biasa. Dua jam kami tidur pulas. Bahkan saat marbot menyarankan Kakak Pacar (saat itu terjaga) agar saya pindah saja tidur di dalam masjid bagian shaf perempuan, Kakak Pacar menolak dengan halus karena konon saya bisa jadi Sea Nettle kalau sedang pulas dipaksa bangun. Hahaha.

Baca Juga: 5 Manfaat Teh Rosella

Kembali pada Istana Negara Kuning. Saya berpikir, memang susah juga kalau istananya jauh begitu. Tapi mungkin ini pertanda bahwa saya harus sering-sering datang ke Kota Mbay sebagai bentuk tanggungjawab seorang Presiden terhadap istananya. Okay, sampai di sini saya hentikan dulu ketimbang kalian merutuk hahaha. 

Jadi, itu dia oleh-oleh lain yang bisa saya ceritakan di sini dari perjalanan ke Kabupaten Nagekeo selain Bukit Weworowet, Embung Waekokak, menikmati bebek panggang di rumah keponakan, SPBU yang dijual, menginap di Hotel Pepita yang bakal saya bahas nanti, sampai tentang SMA-SMA yang saya kunjungi di Aesesa dan Marpokot. Sayangnya saya tidak sempat pergi ke Pelabuhan Marpokot, padahal sudah 'di depan mata'. Maklum, hari itu gerimisnya cukup kencang cenderung hujan sehingga kami harus ngegas pulang sebelum kamera-kamera yang dibawa Cesar dan Rolland menjadi kebasahan terus demam, flu, pilek. Kasihan kan ... pekerjaan yang menanti masih seabrek.

Hyuk kawan, jalan-jalan ke Pulau Flores. Salah satunya ke Kabupaten Nagekeo. Dijamin, tidak bakal menyesal dan malah ketagihan ingin selalu kembali hahaha.



Cheers.

Hello East, Nantikan Kedatangan Kami

Onif Harem; si tangguh yang setia. Haha.


Tidak terasa sudah lewat sepuluh hari Tim Promosi Uniflor 2019 bergerak dan bergerilya dari satu daerah ke daerah lainnya demi mempromosikan Uniflor agar lebih dikenal khalayak terutama murid Kelas XII SMA. Kloter pertama telah menjejakkan kaki di:


1. Kabupaten Nagekeo.
2. Kabupaten Ngada.
3. Kabupaten Manggarai Timur.
4. Kabupaten Manggarai.
5. Kabupaten Manggarai Barat.
6. Dalam Kota Ende.
7. Pulau Adonara (Kabupaten Flores Timur).
8. Pulau Solo (Kabupaten Flores Timur).

Tersisa beberapa titik yang harus diselesaikan antara lain:

1. Luar Kota Ende.
2. Kabupaten Sikka.
3. Kabupaten Flores Timur bagian kota (Larantuka).
4. Kabupaten (Pulau) Lembata.

Baca Juga: Di Nagekeo Hati Saya Tertambat

Jalan masih panjang. Tim Flores Bagian Barat dengan bis kece yang mereka sebut bis tayo itu, haha, akan membantu Tim Flores Bagian Timur. Tentu, termasuk saya. Tadi, kami melakukan meeting evaluasi termasuk perencanaan ke Timur. Timur tidak terlihat lurus-lurus saja karena kami harus membagi ke bagian Utara (Pantura, kesenangan saya) tempat beberapa SMA berdiri. Perjalanan ke Utara ini dilakukan sambil menunggu perjalanan ke Timur, minggu depan. Dan hyess, saya dan Kakak Sinta Degor sama-sama ditugaskan ke wilayah Detusoko, Ekoae, dan Maurole.

Mari kita lihat peta berikut ini:

Dari Kota Ende ke Kecamatan Maurole.

Dari Kota Ende ke Kota Maumere - Kabupaten Sikka.

Dari Kota Ende ke Kota Larantuka - Kabupaten Flores Timur.

Dari Kota Ende ke Kabupaten (Pulau) Lembata.

Khusus perjalanan dari Kota Ende ke Kabupaten (Pulau) Lembata, tidak ditempuh berdasarkan rute di dalam peta di atas melainkan via Kota Larantuka. Jadi, tim ini akan berhenti di beberapa titik, sama dengan rute ke Barat yang menginap di beberapa titik, dan melanjutkan perjalanan pada hari berikutnya. Seterusnya begitu sampai semua tugas terlaksana dan kembali ke Kota Ende.

Hello East


Perjalanan terakhir saya ke Flores bagian Timur ini adalah ... saya lupa. Sudah lama sekali. Kalau ke Timur masih wilayah Kabupaten Ende seperti Kecamatan Detusoko, Kecamatan Wolowaru, atau ke Sokoria buat makan kepiting kare sih terakhir di tahun 2017. Ke Kota Maumere, kalau tidak salah, terakhir tahun 2016 saat berburu buku-buku di Gramedia Maumere. Ke Kota Larantuka, kalau tidak salah, terakhir tahun 2011 saat mengantar teman traveler mengikuti prosesi Semana Santa (menjelang Hari Raya Paskah). Sudah pasti banyak yang berubah dari dua kota tersebut dan nampaknya 'kami akan bertemu' segera. Hehe.


Bagi saya, menjalankan tugas luar kantor seperti ini merupakan anugerah karena sekalian bisa jalan-jalan. Namanya: Jalan Jalan Kerja. Apabila pekerjaan pada titik/kota tertentu sudah selesai, saya bisa jalan-jalan. Kabupaten Sikka sendiri menawarkan begitu banyak destinasi wisata, khususnya pantai dan/atau laut, kepada wisatawan. Banyak resort yang berdiri seperti Sea World, Pantai Waiara, hingga Coconut Garden Beach Resort. Sedangkan di Kota Larantuka sendiri, meskipun kami datang bukan pada saat menjelang Hari Raya Paskah, banyak pantai-pantai keren yang juga sangat memikat hati. Ceritanya nanti ya, menyusul, kalau saya sempat ke pantai-pantai itu lagi.

Semangat!


Cheers.

Ponpes Walisanga yang Penuh Warna


Setelah Senin mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) di Kabupaten Nagekeo, sekalian menikmati Jalan-Jalan Kerja yang cihuynya luar biasa itu, hari ini saya menjalankan tugas menuju SMA-SMA di wilayah Kabupaten Ende bagian kota. Bersama Om Ihsan dan Ibu Neneng, kami saling berbagi sekolah dan kasih sayang, hahaha. Masing-masing mendapat jatah enam SMA. Tidak perlu menunggu dinosaurus ngajak traveling ke Alaska, setelah logistik terpenuhi, saya (mengajak Thika) berangkaaaaaat!

Baca Juga: 5 Manfaat Teh Rossela

SMA Apa Saja?


Ada enam SMA dan/atau sederajat yang surat penunjukannya saya pegang. Daftar sekolah-sekolah itu antara lain:

1. MAS Ponpes (Pondok Pesantren) Walisanga Ende.
2. SMA Negeri 2 Ende.
3. SMK Perikanan Tarbiyah Ende.
4. SMA Swasta Adhyaksa Ende.
5. SMA Katolik Taruna Vidya Ende.
6. SMA Katolik St. Petrus Ende.

Melihat nama MAS Ponpes Walisanga tertera di salah satu amplop, saya langsung membayangkan wajah Kakak Noka Eka, pemilik dan pengurus yayasannya. Di tangan Kakak Noka inilah kondisi Ponpes Walisanga menjadi begitu hidup dan penuh warna. Jiwa membangunnya luar biasa. Kerja sama antara Ponpes Walisanga dengan pihak luar, termasuk bantuan dan hibah ini itu, pun terjalin dengan sangat baik dan manis. Saya mengikuti perkembangan Ponpes Walisanga dari Cahyadi, tukang syuting andalan, karena dia juga beraktivitas di Ponpes Walisanga. Sudah lama saya belum pergi ke Ponpes Walisanga.

Maka, saya memutuskan untuk terlebih dahulu pergi ke pondok pesantren sekaligus sekolah yang berdiri gagah di kaki Gunung Meja itu.

Tourist Information Center Gunung Meja


Sebelum memasuki lokasi Ponpes Walisanga, sekitar limapuluh meter, ada satu bangunan berdiri. Sudah lama juga bangunan ini diresmikan tapi sayanya saja yang belum pernah datang ke sini. Iya, kan sudah saya tulis di atas, sudah lama saya tidak ke Ponpes Walisanga.


Saya belum tahu apa manfaat dibangunnya tempat ini. Karena, bagian dalam (mungkin perkantoran) sangat sepi alias tidak ada petugas sehingga saya tidak bisa bertanya-tanya untuk menggali lebih dalam informasi. Saya lihat, tempat ini seperti tidak dirawat karena rumput-rumput liar tumbuh subur dengan riang-gembira. Ya sudah, mari lanjutkan perjalanan ke tujuan utama ... urusan ini bisa dituntaskan lain waktu.

Ponpes Walisanga yang Penuh Warna


Sudah lama saya tidak ke Pondok Pesantren Walisanga yang terletak di kaki Gunung Meja ini. Sudah tiga kali menulis ini, haha. Begitu memasukinya, seperti gambaran di dalam kepala saya berdasarkan cerita dari Cahyadi dan foto-foto di Facebook, tempat ini sungguh luar biasa!

Lingkungan Ponpes Walisanga dari kejauhan.

Saya bertemu guru yang kemudian mendampingi saya mempromosikan Uniflor di kelas 12 MAS Ponpes Walisanga. Setelah promosi, saatnya mengeksplor sekitaran pondok pesantren, tetapi sayang tidak bisa semuanya meskipun ingin sekali pergi ke kebun-kebun mereka, karena waktu yang tidak mengijinkan. Masih ada SMA lain yang menanti.


Ponpes Walisanga, oleh Kakak Nona Eka, diubah menjadi sangat memikat dengan warna-warna cerah hampir setiap incinya, termasuk masjid. Belum lagi, sebagai orang yang saya tahu sangat kreatif, Kakak Nona Eka juga membikin banyak spot foto yang Instagramable menggoda iman. Salah satunya bisa kalian lihat pada foto di atas. Sore-sore duduk ngopi di situ ... sambil kerja ... suasana tenang ... huhuy!

Cahyadi kemudian mengajak saya ke tamannya. Menurut Cahyadi, salah seorang anak Kakak Nona Eka bakal bikin kafe di taman tersebut. Nah, ini yang keren. Selama ini kan si beliau punya angkringan di Jalan Soekarno - Ende. Kalau bikin kafe di taman ini kan bagus juga, tinggal mencari 'suguhan unik' lain apa yang mau ditawarkan ke pengunjung. Misalnya pengalaman berkebun, pengalaman berkreasi DIY, atau apalah. Boleh juga ada suguhan kesenian dari anak-anak pondok pesantren. Yang penting jangan hanya menu makan dan minum karena makan dan minum bisa diperoleh masyarakat di wilayah kota tanpa perlu harus pergi ke kaki Gunung Meja.



Seperti yang sudah saya tulis di atas, saya tidak bisa berlama-lama di Ponpes Walisanga karena harus melanjutkan tugas ke SMA lainnya. Tapi saya bakal kembali ke sini. Pokoknya. Hehe *seret dinosaurus*.

Masa SMA yang Seru


Pergi ke empat sekolah lainnya, kemudian - setelah dari MAS Ponpes Walisanga, saya membayangkan masa SMA yang seru. Yaaaaa kan dulu saya juga pernah SMA haha di SMA Negeri 1 Ende. Menjadi anak putih - abu-abu itu super cool. Karena apa? Karena tiga tahun menjadi anak putih - biru. Cukup membosankan. Hahaha. Bukan ... bukan itu saja. Menjadi anak putih - abu-abu, waktu itu, membayangkan sudah diijinkan punya gebetan. Ternyata ... tidak. Orangtua saya tidak mengijinkannya. Manapula kakak lelaki saya pada suka melotot parah. Huhuhu.

Keseruan terutama saya peroleh saat mengunjungi SMA Katolik Tarvid. Karena ini Rabu, yang oleh Gubernur NTT dicanangkan sebagai English Day, maka kami disambut dengan bahasa Inggris oleh guru-guru di sana. Termasuk Bapak Kepseknya juga! Meskipun ada salah-salah kata, tapi Bapak Kepsek ini sungguh bikin kagum. Prinsip kami sama. Ini English Day, bukan Grammar Day. Jadi boleh saja berbicara bahasa Inggris meskipun patah-patah qiqiqiq. Toss dulu donk, Bapak. Yang penting kan tidak merugi. Toh hanya disuruh bicara bahasa Inggris, tidak mesti harus sesuai aturan baku. Ya kan ya kaaaan.

Memasuki salah satu kelas 12, saya teringat masa SMA dulu, karena masih jeda pelajaran ... ribut dan saling goda itu pasti terjadi. Ya ampuuun! Jadi kangen sama teman-teman SMA Kelas 3 Bahasa dulu! Kelas paling eror! Hahaha. Ada murid yang suka godain temannya, ada murid yang (tadi duduk paling depan) sibuk membaca, ada yang mengobrol riuh. Pokoknya seru memang masa SMA. Duhai, adik-adik tercinta, suatu saat nanti kalian akan merindukan kekonyolan masa SMA ini. Sumpah. Percayalah sama Presiden Negara Kuning.


Dari enam SMA, masih ada satu SMA lagi yang belum sempat saya datangi yaitu SMA Katolik St. Petrus yang bertetangga sama Bandara H. Hasan Aroeboesman. Insha Allah ... besok.

Baca Juga: 5 Manfaat Buah Mengkudu

Dan bagi kalian yang baru hari ini membaca blog ini lagi, pasti bingung kenapa Rabu tidak ada tips kesehatan? Baca pos ini: Uniflor Goes to School untuk tahu mengapa kebiasaan selama ini berubah (tanpa tema harian). Tenang saja, ini tidak selamanya kok, setelah 20 Februari nanti saya Insha Allah bakal kembali dengan pos-pos bertema. Hehe.

Selamat beraktivitas, kawan!



Cheers.

Di Nagekeo Hati Saya Tertambat



Kemarin, Senin 4 Februari 2019, sekitar pukul 06.10 Wita, Onif Harem saya pacu menuju arah Barat Pulau Flores. Di belakang saya Thika Pharmantara, keponakan cantik itu huhuhu, duduk manis di boncengan dengan tenang sambil berharap Encimnya tidak mendadak diserang kantuk. Perjalanan ini adalah perjalanan dinas, pekerjaan khusus mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) kepada murid kelas 12 atau Kelas 3 di SMA-SMA se-Pulau Flores dan sekitarnya. 

Baca Juga: 1 Video, 3 Aplikasi


Sarapan Jagung Pulut Rebus


Tiba di Aigela sekitar pukul 07.00 Wita, percabangan menuju Kabupaten Ngada dan menuju Ibu Kota Kabupaten Nagekeo (Kota Mbay), kami memutuskan untuk beristirahat sejenak demi menghangatkan perut yang terasa dingin dan kesepian. Sebenarnya Thika membawa bekal nasi dan nugget, tapi entah dia lebih memilih jagung pulut rebus. Saya sendiri lebih membutuhkan secangkir kopi panas. Beruntung satu lapak sudah dibuka sehingga bisa menikmati jagung pulut rebus dan secangkir kopi yang rasanya ... tidak ada lawan. Sambalnya ini yang bikin Thika tidak nyenyak tidur, terbayang-bayang di lidah. Haha.


Rombongan yang menggunakan bis Tim Promosi Uniflor 2019 telah tiba di Kota Mbay. Artinya kami harus bergegas. Jalanan dari cabang Aigela menuju Kota Mbay telah jauuuuh lebih bagus. Ngebut? Pasti. Tapi hati-hati hewan seperti anjing dan kambing yang piknik pagi di jalanan. Kalau mendekati Kota Mbay (sampai menuju Riung) itu lebih banyak kambing dan sapi.



Memasuki Ibu Kota Nagekeo ini sekitar pukul 07.45, dari ketinggian tempat bukit-bukit sabana terlihat menawan, Kota Mbay yang bertopografi datar terlihat jelas. Kami hampir saja ditilang di dekat Kantor Bupati Nagekeo, untung mata saya masih bisa awas, lantas mencari jalur belakang yang memutar. Haha.

Tiba di rumah Pak Selis, salah seorang dosen Uniflor, koordinator lapangan yaitu Ibu Juwita mulai membagi tugas. Siapa yang ke sekolah A, siapa yang ke sekolah B, dan seterusnya. Tetapi karena minimnya kendaraan, tim tidak bisa dipecah begitu saja. Hitung-hitung, hanya ada dua kendaraan yaitu bis Tim Promosi Uniflor 2019 dan Onif Harem milik saya. Akhirnya saya (ditemani Thika) yang adalah penyusup untuk Tim Barat ini mendapat jatah tiga sekolah di luar Kota Mbay yaitu di Kecamatan Aesesa dan Marpokot, sedangkan anggota tim yang lain mendapat jatah tiga sekolah di wilayah Kota Mbay.

Okay. Mari berangkat!

SPBU Yang Dijual


Di Tengah jalan saya bertemu dengan Tim Kreatif, Cesar dan Roland, yang akhirnya mereka berdua mengikuti saya ke Aesesa dan Marpokot.


Usai kunjungan ke tiga sekolah yaitu SMKN 1 Aesesa, SMAS Katolik Stella Maris, dan MAS, kami kembali ke rombongan untuk makan siang. Padahal kami sudah duluan makan sih, soalnya Cesar dan Roland benar-benar sakau kopi. Karena rombongan  masih menunggu makan siangnya, saya pergi ke rumah keponakan di wilayah Towak (arah menuju Riung). Oia, foto SPBU yang dijual di atas, membikin saya memaksa Cesar dan Roland untuk mengekori hahaha, pengen difoto di situ pokoknya! Unik sih hehe, karena kan biasanya yang dijual itu bensin dan solar, bukan SPBU. Sayang ya SPBU ini dijual. Entah kenapa.

Pustu Towak


Towak merupakan wilayah Kabupaten Nagekeo yang letaknya berada di jalan Trans Mbay - Riung. Untuk diketahui, Riung yang terkenal dengan Taman Laut 17 Pulau Riung itu, berada di wilayah Kabupaten Ngada bukan Kabupaten Nagekeo. Rumah keponakan saya Iwan, dan istrinya Reni, merupakan rumah dinas dari Pustu Towak karena Reni adalah bidan yang bertugas di situ. Di sana sudah menanti pula dua cucu saya yang luar biasa bikin kangen Andika dan Rayhan *peluk-peluk*. Begitu melihat saya dan Thika mereka langsung teriak, "Oma Enciiiimmm!!!!" Haha.

Rumah ini berada di tengah ladang milik masyarakat dengan jarak rumah lumayan jauh-jauhan. Mulailah kami mengobrol ngalor-ngidul, saya terkaget-kaget waktu ada tetangganya yang datang mengantar ikan segar hasil memancing di laut, terpikat sama rasa kopinya, dan direcoki sama dua penjahat cilik Andika dan Rayhan. Saat sedang mengobrol (obrolan yang super lama dari pukul 13.00 Wita sampai sekitar pukul 15.00 Wita), Iwan pamit membantu tetangganya yang sedang mengumpulkan kembali padi (yang dijemur) untuk disimpan di gudang. Maklum, cuaca sedang mendung. Dari Iwan pula saya peroleh banyak cerita tentang dirinya yang tidak pernah kesulitan beras karena selalu dibagi sama tetangga yang punya sawah berhektar-hektar. Kata Reni, "Encim, kami tidak pernah susah beras dan sayur. Ikan pun sering dapat murah."


Di atas, foto saat nyaris selesai menyimpan padi (tepat di depan rumah Iwan dan Reni). Untung masih sempat fotoin hehe. Saya pergi ke tempat ini setelah Cesar dan Roland menyusuli kami ke Towak karena mereka bosan di hotel; penginapan tim kami yaitu Hotel Pepita.


Ada yang tahu nama tanaman ini? Saya pernah memotretnya di Ende, di wilayah Nangaba. Kalau di sekitar rumah Iwan dan Reni, tanaman ini tumbuh subuuuurrrrr dan super banyaaaaak. Selain itu, pohon marungge/kelor pun jangan ditanya, di belakang rumah juga tumbuh pohon marungge. Makanya Reni bilang beras dan sayur tidak pernah kesusahan. Jadi iri maksimal! Sayangnya Reni tidak sempat memasak sayur marungge untuk kami.

Bukit Weworowet


Noviea Azizah adalah puteri Mbay yang adalah lulusan Prodi Sastra Inggris Uniflor tahun 2018. Novi tiba di rumah Iwan dan Reni sekitar pukul 16.30. Kami lantas pamit pada Iwan, karena Reni sedang pergi ke Posyandu, untuk pergi ke Bukit Weworowet. Ini memang sudah niat. Jarak tempuh menuju Bukit Weworowet ini hanya sekitar duapuluh menit dari Towak. Bukit Weworowet terletak di Desa Waekakok, masih wilayah Kabupaten Nagekeo.


Dulunya bukit ini saya tulis Bukit Robert ternyata saya salah ha ha ha. Anggap saja kesalahan telah diperbaiki ya.




Saya sering foto-foto di sini, zaman dahulu, waktu masih rajin ke Riung buat mengantar teman-teman traveler. Weworowet semacam ikon antara Mbay - Riung yang sulit diabaikan karena keindahannya. Dulu, dari sudut tertentu bukit ini nampak seperti lelaki yang sedang tidur. Dan kalau beruntung, kalian bisa menikmati bunga-bunga kuning yang tumbuh di kaki bukit.

Silahkan nonton video berikut ini:


Dari sudut lain, Bukit Weworowet akan terlihat seperti gambar di bawah ini:

Ini sih rumah impian!

Ausam sekali, kawan. Tak terbantahkan! Kata Novi, dia dan komunitas kreatifnya memang hendak membangun kafe di spot tempat kami memotret si bukit. Aduuuuh saya bakal jadi orang pertama yang ngopi-ngopi di situ!

Dari Bukit Weworowet kami diajak ke sebuah embung yang saya lupa namanya haha.


Puas melihat-lihat, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Soalnya matahari juga sudah mulai tenggelam. Mari pulang, marilah pulang, marilah pulang, bersama-sama ...

Bebek dan Ikan Panggang


Tiba di Towak saya melihat Iwan sedang mengangkat kayu-kayu ... ternyata di belakang rumah sedang terjadi pembakaran haha. Reni sedang meracik bumbu. Mari membantu supaya lekas selesai. Diiringi dengan listrik padam (sekitar setengah jam), dan Iwan menjemput Deni di Hotel Pepita, jadilah malam itu kami menikmati suguhan yang luar biasa memikat lidah. Orang Flores memang luar biasa kalau sama tamu, apalagi kalau tamunya itu masih berpangkat Encim hahaha.


Wah, lupa foto bebek panggangnya (kelihatan paling sudut tuh). Tak apalah. Oia, kata Iwan, "Encim, untung sekarang belum musim domba, kalau tidak ... Encim harus rasakan daging domba sini ... wuih!" Tenang saja, anak ... ke Towak saya akan kembali! Haha *ketawa raksasa*.

Selesai makan malam kami masih mengobrol tentang yang horor-horor bikin ngeri karena sekitar rumah Iwan kan gelap gulita (ladang), terus balik ke Hotel Pepita, sekitar pukul 23.00 Wita. Tapi di Kota Mbay masih lumayan ramai karena sedang ada pasar malam. Sayang saya tidak mampir ke pasar malam padahal sudah diajak Novi. Lelah cuy!

Hotel Pepita


Nanti ya baru saya menulis tentang hotel ini. Yang jelas hotel ini bagus, pelayanan bagus, sarapan enak ... dan nyaman lah.






Saatnya pulang ke Ende!

Sebenarnya, sebagai anggota susupan di Tim Barat, saya diperbantukan dari Kabupaten Nagekeo hingga Kabupaten Ngada tepatnya di Mataloko. Tapi karena mengingat SMA-SMA di Kota Ende sendiri sangat banyak (apalagi Kabupaten Ende -  kecamatan di luar kota), saya harus segera pulang ke Ende supaya Rabu bisa melaksanakan tugas utama. Kan tidak lucu, tugas bantuan terselesaikan dengan baik, tugas utama malah keteteran. Dududud.

Selasa, 5 Februari 2019, Hari Raya Imlek, saya dan Thika kembali ke Ende sedangkan bis Tim Promosi Uniflor 2019 berangkat ke Mataloko untuk meneruskan tugas hingga ke Labuan Bajo. Sepulang mereka dari Labuan Bajo nanti, kami akan sama-sama pergi ke Kota Maumere dan Kota Larantuka bersama Tim Timur (jika berkenan) sedang tim yang 'menjelajah' Pulau Lembata dan Pulau Adonara telah melaksanakan tugas pada hari yang sama.


Seperti yang sudah saya tulis di pos sebelumnya, karena kondisi sedang dalam masa tugas, saya tidak mengepos seperti biasanya (tema harian). Supaya ide dan cerita tidak menguap dari benak. Dan tentu saja akan lebih banyak foto hahaha. Namanya juga Jalan-Jalan Kerja *ngikik*. 

Baca Juga: Inovasi Joseph Joseph

Semua yang saya tulis hari ini masih general saja, belum bisa mengulas satu-satu, belum mengulas lebih detail, tentu juga tentang Presiden Kuning yang 'menemukan' kerajaannya. Nanti deh kalau sudah punya lebih banyak waktu. Yang jelas, hati saya tertambat di Nagekeo, sejak dulu dan belum berubah sampai hari ini. Kabupaten ini menawarkan sejuta pesona ... dan saya terpesona sungguh.

Terima kasih masih menyempatkan diri main-main ke blog ini :D



Cheers.

5 Kegiatan Pertama di 2019



Baru kemarin bikin resolusi untuk tahun 2019, sekarang sudah ngepos tentang salah satu resolusi itu haha. Rajinnya ngegas bener. Memang! Anyhoo, mohon maaf apabila Rabu kemarin tidak sempat pos apa-apa, saya agak syibuk bersama dinosaurus di Isla Nubar. Dan saya yakin, teman-teman juga pasti masih sibuk dengan kegiatan mengisi liburan bersama keluarga dan/atau sendirian. Lihat! Hari-hari liburan akan berakhir!

Baca Juga: 5 Dari 2018 dan Akan 2019

Mengawali tahun 2019, saya sudah melakukan beberapa hal dari resolusi diantaranya tetap nge-blog dan memulai Stone Project.

Mari kita mulai tentang lima kegiatan pertama di tahun 2019.

*tiup terompet*

1. T-Jounal


Si Mak Bowgel, Ewafebri, adalah mata airnya haha. Saya menyukai semua pos di blog-nya tentang Bullet Journal. Tapi sayang, saya belum bisa membikin Bullet Journal, jadi saya hanya melanjutkan apa yang sudah saya lakukan yaitu menulis jurnal di buku.



Karena buku atau agenda saya sudah pada penuh, maka saya memilih memakai binder kuning bekas zaman kuliah dulu. Lumayan, isinya bisa dibongkar-pasang. 

Memulai T-Journal saat tahun baru itu bikin gemas karena toko-toko ATK masih pada tutup sehingga belum sempat membeli stabilo. Huhu. Tidak cantik. Eh, belum cantik. Nanti lah dipercantik haha. Tengkyu Evva.

2. Stone Project


Stone Project merupakan salah satu resolusi 2019. Saya memulainya dengan mengumpulkan bebatuan dari Pantai Penggajawa. Pergi ke Pantai Penggajawa bareng sahabat saya yang bekerja di Jakarta dan sedang liburan di Ende, Hilda, dan tentu bersama Thika dan Meli.



Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sekalian #KakiKereta, jalan-jalan, menghirup udara liburan yang di ambang usai.



Rencananya memang mengupulkan, tetapi karena cuaca sedang rintik manja dan kita tidak mungkin turun ke pantai (karena semakin lama maka rintik berubah menjadi hujan), jadi mending membeli saja di seorang Mama yang sedang menunggui batu jualannya. Setengah plastik merah besar diharga 25K.

3. Mamatua Project


Yang satu ini memang tidak ada di resolusi 2019. Mamatua Project adalah proyek saya dan Thika yaitu memotret Mamatua setiap harinya. Hyess, kami telah mengumpulkan tiga foto haha. 

4. Craft


Lucu juga, baru awal tahun sudah mulai nge-craft. Nge-craft yang satu ini asyik sih.

Baca Juga: 5 Blogger Kocak

Jadi, ceritanya si Hilda meminta bantuan saya untuk menjadi MC ultah anaknya; Ezra. Sekalian saya diminta membantu mendekorasi rumahnya buat lokasi acara ultah ini.

Sudah lama saya pamit dari dunia per-MC-an, bahkan ada yang gemas karena saya menolak semua permintaan MC untuk acara nikah dan ultah anak-anak. Tapi, saya tidak bisa menolak permintaan Hilda, kawan. Itu tidak mungkin. Dan, menjadi MC ultah anak-anak sama dengan kerja super keras agar acaranya menjadi ramai dan meriah. Salah satu upaya saya adalah menyiapkan kado-kado mungil yang bakal dikasih ke anak/tamu yang berani maju untuk permainan dan bernyanyi.


Nge-craft-nya adalah membikin tas kertas mini untuk mengisinya dengan kudapan khas anak-anak. 

5. MC


Nah, ini dia yang saya lakukan sore tadi. Kegiatan yang membikin baju saya basah keringat haha. Menjadi MC ultah anak-anak, betul, adalah kerja super keras. Bagaimana anak-anak harus turut berpartisipasi agar acaranya meriah. Ternyata bakat memang tidak bisa luntur begitu saja *muka sombong* sekian lama mundur dari panggung MC, saya ternyata tidak kehilangan aura *tsaaaah*. Masih bisa membikin acara ramai, meriah, dan penuh tawa. 



Ini sih nge-MC sekalian reuni sama teman-teman masa SMU dulu haha. 


Libur telah usai hari ini. Besok, semua dosen dan karyawan Universitas Flores akan mengikuti apel pagi di Auditorium H. J. Gadi Djou, sambil merayakan Natal Bersama. Seperti apa keseruannya ... nantinya Senin :) haha.

Baca Juga: 5 Peserta Favorit Kelas Blogging

Bagaimana dengan kalian, kawan? Kegiatan apa yang telah dilakukan di awal tahun 2019 ini? Bagi tahu doooonk.

Semangat!


Cheers.