5 Lokasi Terdekat Untuk Berwisata Sekitar Kota Ende


Hola! Ketemu lagi di #KamisLima. Apakah lima hal yang bakal saya tulis kali ini? Yaaaa sudah ketahuan dari judulnya *dijitak dinosaurus*. Kali ini saya mau menulis tentang liima lokasi terdekat untuk berwisata di sekitar Kota Ende. Kenapa menulis ini? Karena ada beberapa tempat wisata ter-update, baik atraksi wisata alam maupun atraksi wisata buatan, yang wajib kalian ketahui jika hendak datang ke Ende. Atraksi utama, Danau Kelimutu, tentu tidak akan saya bahas di sini. Atraksi wisata sejarah di dalam kota pun tidak akan saya bahas karena sudah pernah ditulis di pos berjudul 5 Wisata di Dalam Kota Ende.

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

Jadi, apa saja lima lokasi terdekat untuk berwisata di sekitar Kota Ende? Mari kita cari tahu *suara gong guedeeee banget*. Semua ini gara-gara aksi jalan-jalan padahal belum musim liburan lagi. Haha.

1. Dapur Jadul, Pantai Raba


Pos tentang Dapur Jadul di Pantai Raba selengkapnya bisa kalian baca di blog travel pada pos berjudul Dapur Jadul, Bukan Dapur Biasa. Dapur Jadul menawarkan atraksi wisata alam yaitu pantai yang dipadu dengan atraksi wisata buatan yaitu spot-spot instagenic. Selain itu kalian juga bisa bersantai di beanbag-nya, menikmati suasana dan makanan serta minuman! Ingat, es tiramisu itu enaknya luar biasa bikin kangen. Cihuy!


Jaraknya hanya 10-an kilometer dari Kota Ende, arat Barat. Dekat lah :)

2. Embung Boelanboong, Wologai Tengah


Embung ini dulunya bernama Embung Resetlemen sesuai nama dusunnya. Namanya kemudian berubah menjadi Embung Boelanboong. Di sekitar embung ini dibangun saung-saung untuk bersantai, spot-spot instagenic, taman bunga dengan bibit-bibit bunga yang sedang tumbuh (waktu saya ke sana), serta kalian bisa memesan kopi, teh, dan jagung rebus! Suka sekali sunset-an di embung ini, meskipun yaaaa ... pulang ke Kota Ende pasti dingin banget dalam musim yang sedang sangat dingin ini. Jaraknya sekitar 45 kilometer dari Kota Ende.


Kalau kalian mau tahu lebih detail tentang embung ini, silahkan baca pos berjudul Sunset di Embung Boelanboong, Wologai Tengah.

3. Kampung Adat Saga


Kalau dari Kota Ende menuju cabang menuju Desa Adat Saga ini hanya sekitar 20 kilometer. Sayangnya saya belum ke sana. Jadi, belum bisa lah saya menulis sedikit panjang tentang kampung adat yang satu itu. Tapi tenang saja, rencananya baru Hari Minggu depan, atau depannya lagi. Tapi yang jelas saya pasti menulisnya di blog travel.

4. Jalur Trekking


Jalur trekking yang satu ini sebenarnya berada di dekatnya Embung Boelanboong juga, di sisi Barat. Ada gapura besar yang menandainya.


Jalur trekking dari Wologai Tengah menuju Danau Kelimutu. Kalau kalian masih kuat jalan, tidak seperti saya yang sudah uzur, boleh dicoba jalur yang satu ini. Selamat berjuang dan menikmati alam! Hehe. Jarak dari Kota Ende ke lokasi gapura ini hanya sekitar 45 kilometer saja.

5. Pantai Aeba'i


Kalau kalian rajin main ke blog travel saya, pasti sudah tidak asing lagi dengan Pantai Aeba'i, pantai favorit keluarga kami berpiknik! Encim and the gank wajib ke sini hehe.

Bersama Harry Kawanda, traveler of the century. Haha.

Piknik mah tidak perlu jauh. Apalagi piknik sekeluarga. Jaraknya hanya sekitar 3 kilometer dari pusat Kota Ende. Pantai, laut, Pulau Ende Kota Ende ... komplit pemandangannya.

⇝⇜

Itu dia lima lokasi terdekat untuk berwisata di sekitar Kota Ende. Tentunya selain atraksi utama yang selalu kami banggakan, Danau Kelimut, pun wisata sejarah jejak Bung Karno ketika diasingkan ke Kota Ende. Semoga suatu saat nanti kalian akan datang ke sini dan ikut menikmati semua yang sudah saya tulis di sini, termasuk di blog travel.

Baca Juga: 5 Blogger Kocak

Ditunggu di Ende, ya!



Cheers.

Perjalanan Rock’N’Rain


Sebagai kuli saya harus berupaya memenuhi panggilan tugas. Tugas meliput kegiatan kampus ini macam-macam. Kadang lokasi kegiatan hanya di sekitar areal kampus: Kampus I, Kampus II, Kampus III. Kadang lokasi kegiatan berada di luar kampus seperti di Planet Mars dan Cybertron liputan kegiatan mahasiswa KKN di SMPN Satap Koawena. Kadang waktunya pun tidak melulu pagi atau antara waktu kerja (pukul 08.00 sampai 14.00 Wita) seperti ketika harus meliput kegiatan mahasiswa KKN pada pukul dua pagi nan horor suatu sore di sebuah sekolah dasar di daerah Ndao. Ya, tidak tentu waktu dan lokasinya.

Baca Juga: Nggela Bangkit dan Membangun Kembali

Baru-baru ini, tempatnya Jum'at (23 November 2018) saya memenuhi panggilan tugas meliput kegiatan Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Flores. Kegiatan pengabdian masyarakat oleh dosen dan mahasiswa tersebut dilaksanakan di Kelurahan Bokasape, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Jarak antara Ende menuju Kelurahan Bokasape ini sekitar 65 kilometer. Kelurahan Bokasape sendiri terletak tepat di jantung Kecamatan Wolowaru, terletak di pinggir jalan trans-Flores, tempat kendaraan lalu-lalang dan ngetem untuk beristirahat di warung-warung makan yang ada. Istilah saya: check point.

Perjalanan Rock'N'Rain


Baru kali ini saya mengalami perjalanan yang luar biasa kuyup. Sejak hendak meninggalkan Ende, saya dan dua pejalan tangguh, Mila dan Santy, harus melakukan persiapan ekstra. Kami harus memakai mantel sejak belum keluar rumah (dari rumahnya Mila). Saling pandang, saling mengejek, lantas terbahak-bahak melihat penampakan masing-masing dengan mantel hujan super lengkap begitu. Mirip astronot kesasar. Biasanya kan hanya memakai jas hujan. Kali ini saya dan Mila memakai jas + celana hujan sedangkan Santy memakai mantel hujan yang dipadukan dengan celana hujan. Sayangnya saya tidak memakai sandal-sepatu karet (Crocs) melainkan memakai sepatu kanvas.

Langit sebelah Barat agak cerah. Demikian batin saya. Artinya masih ada harapan kami bisa melepas mantel dalam perjalanan nanti. Maka, berangkatlah kami bertiga menuju arah Barat Kota Ende. Saya sendirian mengendarai Onif Harem, sedangkan Santy membonceng Mila.

Semakin jauh dari Kota Ende tidak sedikit pun pertanda hujan bakal berhenti, bahkan semakin deras, sedangkan kami harus berpacu dengan waktu karena rombongan tujuh bis kayu dan satu mini bis Uniflor sudah berangkat duluan. Melihat kondisi alam yang separuh bersahabat, karena untungnya tidak ada petir yang saling sambar, saya berniat untuk membeli kresek bakal membungkus kaki yang memakai sepatu kanvas itu! Haha. Sekitar sepuluh kilometer memasuki Kecamatan Detusoko, Mila dan Santy berhenti di sebuah kios pinggir jalan. Kesempatan itu memberi waktu pada saya untuk memakai kresek membungkus kaki.

Baca Juga : Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Santy histeris melihatnya dan ngotot ingin memotret tapi karena cuaca tidak memungkinkan kami tetap melanjutkan perjalanan hingga tiba di Lepa Lio Cafe di Kecamatan Detusoko.


Impian Santy akhirnya terwujud. Haha. Bergaya di depan Lepa Lio Cafe bikin orang-orang yang lalu-lalang pada melongo. Mereka melongo melihat cover sepatunya. Termasuk Nando Watu dan Eka Raja Kopo, dua pentolan RMC Detusoko yang mengelola Lepa Lio Cafe. Haha. 

Mengobrol sambil ngopi di Lepa Lio Cafe sangat menyenangkan. Banyak hal yang kami dapatkan dari hasil mengobrol bersama Nando dan Eka. Mereka sangat luar biasa. Ngopi di kala hujan itu memang tjakep sekali. Waktu yang sangat pas. Kisah tentang Lepa Lio Cafe dan RMC Detusoko dapat dibaca di blog travel saya.


Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di Lepa Lio Cafe. Perjalanan harus dilanjutkan. Ratusan orang menunggu kami di sana. Terimakasih Nando, Eka, dan Aram. Kalian baik.


Kabut Yang Turun


Lepas dari Kecamatan Detusoko, hingga memasuki daerah Ndu'aria, suasana menjadi sangat gelap. Kabut turun hingga ke aspal dan menyebabkan jarak pandang hanya sekitar lima sampai sepuluh meter saja. Lampu kendaraan dan lampu sein langsung kami nyalakan untuk memberi peringatan pada kendaraan dari depan bahwa kami latu, haha. Kecepatan pun dikurangi. Kendaraan jadi kayak merayap meraba dalam gulita begitu. Salah satu tebing sedang dalam tahap pengerjaan sehingga tanah-tanah yang memenuhi aspal ditambah air hujan bikin jalanan menjadi super licin. Tuhan, derita pejalan yang mabuk kendaraan roda empat ya begini. Harus siap segala cuaca.

Tiba di Kelurahan Bokasape


Tiba di Kelurahan Bokasape, kegiatan sudah dimulai, yaitu penyambutan oleh pihak Kelurahan Bokasape di halaman samping kantor. Segera lepaskan mantel, meskipun cuaca masih gerimis, lantas meliput. Untung yaaa masih sempat haha. Kegiatan di Kelurahan Bokasape diselenggarakan hingga Sabtu, dan Minggunya peserta pengabdian masyarakat pun pulang ke Kota Ende.



Salah satu bangunan di samping Kantor Kelurahan Bokasape yang bikin hati tidak tahan untuk dipotret! Tentang kegiatan-kegiatan lainnya di Kelurahan Bokasape, bakal saya tulis terpisah.

Pulang Pun Kami Rock'N'Rain


Kami bertiga pulang ke Kota Ende pada Minggu pagi yang lumayan cerah. Yakin cuaca akan sangat bersahabat. Dari Kelurahan Bokasape kami mampir dulu ke Lepembusu tepatnya di Puskesmas Peibenga untuk bertemu Om Ludger. Niatnya untuk menyerahkan hadiah dari lomba/PR di Kelas Blogging NTT, eh kami justru terpikat sama pemandangannya. Dududu itu bukit-bukit di belakang puskesmas konon bakal mirip bukit dalam Teletubbies! Makanya disebut juga dengan nama itu. Mila bahkan mendapat bibit/anakan bunga bakung dari Om Ludger. Terima kasih, Om.


Semoga suatu saat kami dapat kembali ke sini, dan Om Ludger bakal memenuhi janjinya untuk mengantar kami ke puncak tertinggi Lepembusu. Huhuy!



Dalam perjalanan pulang dari Puskesmas Peibenga menuju Kota Ende inilah hujan kembali mengguyur. Fiuh. Berhenti sesaat di lapak di Detukeli untuk memakai mantel/jas hujan, dan kebut ke arah Kota Ende. 

Baca Juga : Sarasehan di SMPN Satap Koawena

Perjalanan ini memang perjalanan yang Rock'N'Rain karena perjalanan kami melintasi trans-Flores 65 kilometer pergi-pulang itu ditemani hujan, hujan, dan hujan. Bagi kalian mungkin 65 kilometer itu tidak seberapa, tapi bagi kami itu luar biasa terutama saat hujan. Jalanan berliku penuh kelokan khas trans-Flores itu licin, ditambah kubangan air yang terciprat jika berpapasan dengan kendaraan lain yang sama-sama tidak mau pelan (kami juga tidak mau pelan donk haha), serta lokasi proyek yang penuh tanah basah, dus kabut yang turun ke aspal menyebabkan jarak pandang menjadi lebih pendek ... amazing kami masih bisa terbahak-bahak sepanjang jalan.

I will always remember ...

Bagaimana dengan kalian? Pernahkah punya pengalaman seperti ini juga? 

***

Tulisan serupa juga bisa dibaca di Rock'N'Rain Sepanjang Ende Menuju Wolowaru.



Cheers.

Perjalanan Rock’N’Rain


Sebagai kuli saya harus berupaya memenuhi panggilan tugas. Tugas meliput kegiatan kampus ini macam-macam. Kadang lokasi kegiatan hanya di sekitar areal kampus: Kampus I, Kampus II, Kampus III. Kadang lokasi kegiatan berada di luar kampus seperti di Planet Mars dan Cybertron liputan kegiatan mahasiswa KKN di SMPN Satap Koawena. Kadang waktunya pun tidak melulu pagi atau antara waktu kerja (pukul 08.00 sampai 14.00 Wita) seperti ketika harus meliput kegiatan mahasiswa KKN pada pukul dua pagi nan horor suatu sore di sebuah sekolah dasar di daerah Ndao. Ya, tidak tentu waktu dan lokasinya.

Baca Juga: Nggela Bangkit dan Membangun Kembali

Baru-baru ini, tempatnya Jum'at (23 November 2018) saya memenuhi panggilan tugas meliput kegiatan Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Flores. Kegiatan pengabdian masyarakat oleh dosen dan mahasiswa tersebut dilaksanakan di Kelurahan Bokasape, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende. Jarak antara Ende menuju Kelurahan Bokasape ini sekitar 65 kilometer. Kelurahan Bokasape sendiri terletak tepat di jantung Kecamatan Wolowaru, terletak di pinggir jalan trans-Flores, tempat kendaraan lalu-lalang dan ngetem untuk beristirahat di warung-warung makan yang ada. Istilah saya: check point.

Perjalanan Rock'N'Rain


Baru kali ini saya mengalami perjalanan yang luar biasa kuyup. Sejak hendak meninggalkan Ende, saya dan dua pejalan tangguh, Mila dan Santy, harus melakukan persiapan ekstra. Kami harus memakai mantel sejak belum keluar rumah (dari rumahnya Mila). Saling pandang, saling mengejek, lantas terbahak-bahak melihat penampakan masing-masing dengan mantel hujan super lengkap begitu. Mirip astronot kesasar. Biasanya kan hanya memakai jas hujan. Kali ini saya dan Mila memakai jas + celana hujan sedangkan Santy memakai mantel hujan yang dipadukan dengan celana hujan. Sayangnya saya tidak memakai sandal-sepatu karet (Crocs) melainkan memakai sepatu kanvas.

Langit sebelah Barat agak cerah. Demikian batin saya. Artinya masih ada harapan kami bisa melepas mantel dalam perjalanan nanti. Maka, berangkatlah kami bertiga menuju arah Barat Kota Ende. Saya sendirian mengendarai Onif Harem, sedangkan Santy membonceng Mila.

Semakin jauh dari Kota Ende tidak sedikit pun pertanda hujan bakal berhenti, bahkan semakin deras, sedangkan kami harus berpacu dengan waktu karena rombongan tujuh bis kayu dan satu mini bis Uniflor sudah berangkat duluan. Melihat kondisi alam yang separuh bersahabat, karena untungnya tidak ada petir yang saling sambar, saya berniat untuk membeli kresek bakal membungkus kaki yang memakai sepatu kanvas itu! Haha. Sekitar sepuluh kilometer memasuki Kecamatan Detusoko, Mila dan Santy berhenti di sebuah kios pinggir jalan. Kesempatan itu memberi waktu pada saya untuk memakai kresek membungkus kaki.

Baca Juga : Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Santy histeris melihatnya dan ngotot ingin memotret tapi karena cuaca tidak memungkinkan kami tetap melanjutkan perjalanan hingga tiba di Lepa Lio Cafe di Kecamatan Detusoko.


Impian Santy akhirnya terwujud. Haha. Bergaya di depan Lepa Lio Cafe bikin orang-orang yang lalu-lalang pada melongo. Mereka melongo melihat cover sepatunya. Termasuk Nando Watu dan Eka Raja Kopo, dua pentolan RMC Detusoko yang mengelola Lepa Lio Cafe. Haha. 

Mengobrol sambil ngopi di Lepa Lio Cafe sangat menyenangkan. Banyak hal yang kami dapatkan dari hasil mengobrol bersama Nando dan Eka. Mereka sangat luar biasa. Ngopi di kala hujan itu memang tjakep sekali. Waktu yang sangat pas. Kisah tentang Lepa Lio Cafe dan RMC Detusoko dapat dibaca di blog travel saya.


Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di Lepa Lio Cafe. Perjalanan harus dilanjutkan. Ratusan orang menunggu kami di sana. Terimakasih Nando, Eka, dan Aram. Kalian baik.


Kabut Yang Turun


Lepas dari Kecamatan Detusoko, hingga memasuki daerah Ndu'aria, suasana menjadi sangat gelap. Kabut turun hingga ke aspal dan menyebabkan jarak pandang hanya sekitar lima sampai sepuluh meter saja. Lampu kendaraan dan lampu sein langsung kami nyalakan untuk memberi peringatan pada kendaraan dari depan bahwa kami latu, haha. Kecepatan pun dikurangi. Kendaraan jadi kayak merayap meraba dalam gulita begitu. Salah satu tebing sedang dalam tahap pengerjaan sehingga tanah-tanah yang memenuhi aspal ditambah air hujan bikin jalanan menjadi super licin. Tuhan, derita pejalan yang mabuk kendaraan roda empat ya begini. Harus siap segala cuaca.

Tiba di Kelurahan Bokasape


Tiba di Kelurahan Bokasape, kegiatan sudah dimulai, yaitu penyambutan oleh pihak Kelurahan Bokasape di halaman samping kantor. Segera lepaskan mantel, meskipun cuaca masih gerimis, lantas meliput. Untung yaaa masih sempat haha. Kegiatan di Kelurahan Bokasape diselenggarakan hingga Sabtu, dan Minggunya peserta pengabdian masyarakat pun pulang ke Kota Ende.



Salah satu bangunan di samping Kantor Kelurahan Bokasape yang bikin hati tidak tahan untuk dipotret! Tentang kegiatan-kegiatan lainnya di Kelurahan Bokasape, bakal saya tulis terpisah.

Pulang Pun Kami Rock'N'Rain


Kami bertiga pulang ke Kota Ende pada Minggu pagi yang lumayan cerah. Yakin cuaca akan sangat bersahabat. Dari Kelurahan Bokasape kami mampir dulu ke Lepembusu tepatnya di Puskesmas Peibenga untuk bertemu Om Ludger. Niatnya untuk menyerahkan hadiah dari lomba/PR di Kelas Blogging NTT, eh kami justru terpikat sama pemandangannya. Dududu itu bukit-bukit di belakang puskesmas konon bakal mirip bukit dalam Teletubbies! Makanya disebut juga dengan nama itu. Mila bahkan mendapat bibit/anakan bunga bakung dari Om Ludger. Terima kasih, Om.


Semoga suatu saat kami dapat kembali ke sini, dan Om Ludger bakal memenuhi janjinya untuk mengantar kami ke puncak tertinggi Lepembusu. Huhuy!



Dalam perjalanan pulang dari Puskesmas Peibenga menuju Kota Ende inilah hujan kembali mengguyur. Fiuh. Berhenti sesaat di lapak di Detukeli untuk memakai mantel/jas hujan, dan kebut ke arah Kota Ende. 

Baca Juga : Sarasehan di SMPN Satap Koawena

Perjalanan ini memang perjalanan yang Rock'N'Rain karena perjalanan kami melintasi trans-Flores 65 kilometer pergi-pulang itu ditemani hujan, hujan, dan hujan. Bagi kalian mungkin 65 kilometer itu tidak seberapa, tapi bagi kami itu luar biasa terutama saat hujan. Jalanan berliku penuh kelokan khas trans-Flores itu licin, ditambah kubangan air yang terciprat jika berpapasan dengan kendaraan lain yang sama-sama tidak mau pelan (kami juga tidak mau pelan donk haha), serta lokasi proyek yang penuh tanah basah, dus kabut yang turun ke aspal menyebabkan jarak pandang menjadi lebih pendek ... amazing kami masih bisa terbahak-bahak sepanjang jalan.

I will always remember ...

Bagaimana dengan kalian? Pernahkah punya pengalaman seperti ini juga? 

***

Tulisan serupa juga bisa dibaca di Rock'N'Rain Sepanjang Ende Menuju Wolowaru.



Cheers.