Masih Banyak Cerita Menarik Dari Kabupaten Nagekeo


Masih Banyak Cerita Menarik Dari Kabupaten Nagekeo. Kamis, 9 Januari 2020, lagi-lagi saya tancap gas menuju Kabupaten Nagekeo. Sepertinya dari semua kabupaten yang ada di Pulau Flores khususnya dan Provinsi Nusa Tenggara Timur umumnya, Nagekeo merupakan kabupaten yang paling sering saya kunjungi baik untuk meliput kegiatan kampus maupun karena kepentingan pribadi. Keberangkatan saya kemarin itu karena hendak meliput kegiatan Uniflor Road Show 2020 oleh Panitia Panca Windu Uniflor 2020 yang diselenggarakan di Lapangan Berdikari, Kota Mbay. Uniflor Road Show 2020 diselenggarakan Sabtu, 11 Januari 2020, tapi saya memilih berangkat dua hari lebih awal karena diperbolehkan. Haha. Lagi pula saya juga harus pergi ke sekolah-sekolah untuk mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) bersama Kakak Shinta Degor dan Pak Anno Kean. Ya, kami masih menjadi bagian dari Tim Promosi Uniflor.

Baca Juga: Jangan Mengeluh: Hidup Memang Penuh Warna dan Cerita

Sebenarnya dari Ende saya hendak tancap gas sendirian ke Kota Mbay, Ibu Kota Kabupaten Nagekeo, tetapi setelah japri sama Kahar yang kebagian jadi anggota panitia seksi perlengkapan, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat bersama. Terpaksa meninggalkan rombongan pertama lainnya yang masih siap-siap. Tancap gas tanpa jeda sedikit pun terbayarkan ketika mulut sibuk mengunyah butir jagung pulut rebus di Aigela, sebagai check point tiga kabupaten: Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, Kabupaten Nagekeo. Dari Aigela, perjalanan dilanjutkan ke Kota Mbay. Tiba Kamis sore menjelang maghrib, saya dan Kahar langsung menikmati mi ayam yang rasanya aduhai dan saya lupa nama warung kecil itu. Hehe. Lantas kami menuju rumah Novi Azizah di daerah Alorongga (masih daerah kota), alih-alih menginap di rumah keponakan saya di Towak.

Di Aigela.

Melepas lelah, ngopi, mengobrol, haha hihi, bersama Kahar dan Novi, rasanya sangat menyenangkan. Dari situ saya mendengar banyak cerita masa kecil mereka yang bahagia, karena Kahar juga pernah bersekolah (SD) di Kabupaten Nagekeo. Salah satunya: sarapan nasi disiram kopi-panas. Wow! Bagian ini bakal saya ceritakan di pos tersendiri. Haha. Bagi mereka kisah ini semacam aib, tapi bagi saya kisah ini merupakan sesuatu yang harus diceritakan karena unik.

Karena satu dan lain hal, beberapa teman panitia yang tiba Kamis malam, menginap pula di rumah Novi. Terima kasih yang luar biasa untuk Mama dan Novi yang sudah menerima kami semua. Hehe. Terkhusus empat teman lainnya itu: Om Evan, Sotter, Willy, Marten. Kalau Kahar sih menginap di rumah kakaknya yang memang berdomisili di Kota Mbay. Sedangkan saya sendiri memang sering menginap di rumah Novi atau di rumah keponakan. Meskipun baru keluar dari rumah sakit, tapi Mama begitu tulus menerima kedatangan teman-teman lain di rumah itu. Ah, serasa home sweet home.

Akhirnya saya punya banyak cerita dari perjalanan ini selain kegiatan Uniflor Road Show 2020!

Yuk mari kita cari tahu apa saja cerita menarik dari Kabupaten Nagekeo tercinta ini *kedip-kedip*.

Kebun Sayur


Jum'at, 10 Januari 2020, merupakan hari terbaik sekaligus tersibuk khusus untuk saya dan Novi. Hari itu saya dan Novi sudah punya rencana jalan-jalan. Jalan-jalan yang cukup panjang dan lama. Tapi, mengingat ada empat teman lain yang menginap di rumah Novi, kami kemudian memutuskan untuk terlebih dahulu pergi ke pasar dan memasak makan siang karena Mama belum kami ijinkan masuk dapur. Di pasar, kami hanya membeli ikan, tahu-tempe, dan bumbu, sedangkan sayurnya dibeli langsung di kebun sayur! Menurut Novi, lebih baik membeli sayur langsung di kebun karena bakal dapat banyak. Lha, saya pikir kebunnya itu jauuuuh banget. Karena kan judulnya 'kebun' begitu. Ternyata lokasi kebun sayur ini tidak sampai 500 meter dari rumah Novi. Uh lala. Manapula sepeda motor bisa langsung diparkir di depan rumah pemiliknya.


Namanya juga kebun sayur, areanya luas (sekitar satu hektar), dipergunakan oleh pemiliknya untuk menanam bermacam jenis sayuran seperti kangkung, sawi, terung, pucuk labu, bayam (juga bayam merah) dan lain sebagainya. Begitu tiba di depan rumah pemiliknya yang sepetak dua petak itu, Novi langsung bilang, "Beli sayur kangkung lima ribu, sayur sawi lima ribu, terung lima ribu." Saya pikir, dapatnya paling segitu-segitu juga, tidak super wow seperti yang dibilang Novi sebelumnya. Lantas mata saya mengekori si Mama yang mengambil parang dan pergi ke kebun. Seperti terhipnotis, saya menyusulinya. Ya ampun, cara si Mama menebas sayuran begitu semangat padahal kan kami hanya membeli 15K kalau ditotal!


Bagi saya pribadi yang tinggal di Kota Ende, melihat sayur seharga 15K dengan jumlah segitu banyaknya, sungguh di luar ekspetasi. Istilah orang pasar: kami membeli langsung dari tangan pertama. Ceritanya bakal beda kalau membelinya dari tangan kedua apalagi tangan ketiga. Noted.


Karena banyaknya sayuran itu, semua diletakkan di bagian depan motor matic saya. Dalam perjalanan pulang ke rumah saya merasa seperti pedagang sayur sungguhan ha ha ha. Tinggal teriak, "Sayur! Sayur!" Tiba di rumah, saya dan Novi langsung mengeksekusi segala bahan bekal makan siang: ikan, tempe-tahu, sayuran. Kami harus bergegas karena waktu semakin mepet. Jalan-jalan harus terlaksana! Saat sedang memasak, Oston dari kepanitiaan mengirim pesan WA pada saya, bersedia untuk bertemu band lokal yang bakal tampil sebagai band pembuka kegiatan Uniflor Road Show 2020. Nama band-nya Alf The Bond Band. Dan karena Novi yang merekomendasikan mereka, maka Novi pun meninggalkan saya untuk menemani anak-anak band bertemu Oston.


Begitu si Novi pulang kembali ke rumah, gantian saya yang ijin pergi bertemu para bedebah. Iya, saya menerima pesan WA dari Ruztam Effendi, sahabat masa SMA yang punya Nirvana Bungalow di Riung. Ajakan makan siang! Saya pamit pergi bertemu Ruztam di Rumah Makan Mini Indah. Masaknya gantian begitu ... ceritanya.

Bedebah Bertemu Para Bedebah


Adalah hal yang lumrah apabila saya sering memanggil teman-teman masa SMA dengan istilah bedebah. Hehe. Rasanya ada yang kurang apabila kata itu tidak terlontar. Dari rumahnya Novi menuju Rumah Makan Mini Indah, a la prasmanan, hanya memakan waktu sekitar lima menit. Ndilalah di sana sudah ada Ruztam, dan Bruno! Dua sahabat masa SMA yang masih ramai di WAG alumni ini sudah menanti dengan wajah sumringah. Ya Tuhan, saya kangen banget sama mereka. Terlebih Ruztam. Kalau Bruno kan pernah ketemu di akhir 2019, ditraktir sama dia di El Cafe - Mbay.


Makan siang kami diwarnai saling ngecap, saling mengumpat, saling menasihati (ini bagian paling sedikit), dan haha hihi gaje. Sebenarnya saya pengen mengajak mereka melanjutkan ngopi di rumah Novi (saya memang tamu kurang ajar, sudah menginap, bertingkah seakan rumah sendiri, hahaha), tetapi kedatangan Ruztam ke Kota Mbay adalah untuk berbelanja kebutuhan Nirvana Bungalow sehingga dia tidak bisa terlalu lama bersantai. Baiklah. Siang itu kami berpisah di depan Rumah Makan Mini Indah dengan janji bakal ketemu malam minggu di Lapangan Berdikari untuk menyaksikan Uniflor Road Show 2020, tetapi kemudian ... ya bisa kalian tebak ... kami tidak bertemu lagi karena kesibukan mereka juga berada di level galaksi.

Terima kasih, para bedebah!

Love youuuuu all!

Taman Wisata Hutan Mangrove


Balik ke rumah, Novi sudah selesai memasak dan bahkan empat teman kami sudah selesai makan siang. Beres semuanya, saya dan Novi melaksanakan rencana jalan-jalan. Sekitar pukul 14.00 Wita, kami meluncur ke Desa Marapokot yang selama ini dikenal karena adanya pelabuhan: Pelabuhan Marapokot. Waktu tempuh sekitar 15 sampai 20 menit dari pusat Kota Mbay. Tujuan kami ke Desa Marapokot tentu saja Taman Wisata Hutan Mangrove (bakau). Kalian mungkin bakal bertanya-tanya, apa sih menariknya hutan mangrove? Dan kenapa pula ada embel-embel 'taman wisata'? Makanya, baca sampai selesai. Haha. Jangan di-skip!


Adalah sekelompok anak muda di Desa Marapokot, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, yang berupaya untuk menggali dan memanfaatkan potensi hutan mangrove yang ada di wilayah mereka, yaitu wilayah pantai, menjadi destinasi wisata. Mereka kemudian membangun spot-spot instagenic antara lain jembatan dan tempat bersantai. Jembatan-jembatan dibuat bermaterial bambu dan kayu, tidak lupa hiasan lampion-lampion di atas jembatan, dan tempat bersantai/duduk bermaterial ban bekas, spot-spot instagenic dengan tulisan-tulisan menarik/kekinian. Tidak lupa cat warna-warni semakin memikat mata.


Baca Juga: Ngana Ate Sebuah Blog (Puisi) Baru Yang (Terpaksa) Dibikin


Inilah yang saya sebut dengan perpaduan antara wisata alam dan wisata buatan. Salut sama anak muda Desa Marapokot! Kalian hebat!



Puas foto-foto, saya dan Novi duduk mengaso di jembatan paling ujung yang berhadapan dengan perairan luas, dan mengobrol. Jujur, tempat ini bisa menjadi tempat 'melarikan diri' dari segala kepenatan dunia. Hehe. Nyamaaaaan banget. Jujur, saya bukan tipe orang yang suka 'melarikan diri' dari segala problematika hidup, paling parah ya menulis dan nge-game. Tapi bagi saya lokasi ini bisa jadi tempat merenung mikirin jodoh yang belum tiba juga. Andai kata ada secangkir kopi menemani, pasti lebih betah, malas pulang ke rumah!


Oh ya, biaya masuk Taman Wisata Hutan Mangrove hanya sebesar 5K. Murah sekali untuk kesenangan yang bisa didapatkan di sana. Dan saat datang ke sana pun, pengunjungnya hanya saya dan Novi. Berasa berada di hutan pribadi.


Taman Wisata Hutan Mangrove ini mengingatkan saya pada perjalanan tahun 2010 di Cilacap, Provinsi Jawa Barat, menyusuri labirin mangrove. Waktu itu kami menyewa perahu untuk menyusuri labirin mangrove tersebut.



Semoga saya masih bisa kembali ke tempat ini untuk sesi foto pre-wedding ... ngimpi boleh ya. Haha. Bagi kalian yang hendak pergi ke Kabupaten Nagekeo, khususnya Kota Mbay, jangan sampai lupa berkunjung ke Taman Wisata Hutan Mangrove.

Rumah Pohon


Dari Taman Wisata Hutan Mangrove, kami tancap gas ke Pelabuhan Marapokot yang jaraknya hanya sekitar lima menit berkendara. Tujuan kami adalah Rumah Pohon yang sejak lama sudah dipromosikan Novi tapi belum kesampaian ke sana. Rumah Pohon berlokasi di Pelabuhan Marapokot sekitar 10 meter sebelum pintu masuk pelabuhan di sisi kiri. Saya tidak tahu nama pohon yang dipakai sebagai base rumah pohon ini, tetapi sangat menarik melihat rumah pohon karena belum pernah melihat yang seperti ini.


Kata Novi, Rumah Pohon ini milik pamannya, jadi kami mah bebas jungkir balik di situ. Hanya saja saat kami datang kondisinya sedang terkunci sehingga harus naik melewati balok yang uh wow bikin gagal ginjal. Hehe. Novi saja yang bisa memanjat, saya menyerah!


Di Rumah Pohon tidak seberapa lama, kami memutuskan untuk pulang kembali ke Kota Mbay. Mendadak mengantuk euy.

Oh ya, yang juga harus kalian tahu bahwa malam harinya kami semua diundang makan bebek panggang dan ikan panggang di Towak, di rumah keponakan saya Iwan dan Reni. Aduhai! Meskipun sempat tunggu-menunggu, gara-gara Kahar ini mah, akhirnya tiba juga di rumah dinas Pustu Towak tersebut.


Dari penampakannya saja menggoda iman. Bagaimana dengan rasanya? Ya jelas bikin iman runtuh. Hehe. Selain bebek panggang, ikan panggang, ada pula ikan goreng, sayur merungge, dan sambal jeruk. Sudah ya, jangan diteruskan, nanti kalian ngiler. Hehe. Yang jelas menu ini selalu disiapkan oleh keponakan saya kalau berkunjung. Berasa jadi ratu. Jangan lupa, saya kan Presiden Negara Kuning.

Uniflor Road Show 2020


Ini kegiatan utama pada Sabtu, 11 Januari 2020. Sebelumnya, pagi hari, saya dan Tim Promosi Uniflor pergi ke SMA-SMA di Kota Mbay dan sekitarnya, termasuk ke Desa Marapokot dan daerah Aeramo! Sedangkan malamnya, saya wajib meliput kegiatan Uniflor Road Show 2020 tersebut, yang juga dihadiri oleh Bupati Nagekeo yaitu Bapak Don. Untuk kegiatan tersebut, kalian bisa membaca berita yang sudah saya unggah ke media sosial. Berikut, salah satu tautannya:



Silahkan dibaca. Inilah salah satu wujud dari pekerjaan saya selama ini. In case kalau ada yang kepo kok sepertinya saya jalan-jalan terus. Hehe.


Saya yakin masih banyak cerita menarik lainnya dari Kabupaten Nagekeo yang bisa ditulis di blog, tapi tentu saya harus mengeksplornya terlebih dahulu. Kalian sabar menanti kan? Sama, saya juga sabar menanti, menanti saatnya jalan-jalan lagi. Hehe.

Baca Juga: Bergeliat Bersama Exotic NTT Community: Travel Explore Share

Secara pribadi saya mengucapkan terima kasih kepada Mama, Mamanya Novi, yang meskipun dalam kondisi sakit, masih begitu perhatian dan peduli pada saya dan teman-teman lain yang menginap di rumah. Mama sudah kami anggap seperti Mama sendiri. May Allah SWT bless you always, Ma. Mama adalah yang terbaik bagi kami. Terima kasih juga untuk Novi, pada akhirnya niat jalan-jalan ke Taman Wisata Hutan Mangrove dan Rumah Pohon terlaksana juga minggu kemarin. Sungguh masih banyak hutang kita (saya) karena kita belum pergi ke Pulau Ri'i Taa dan pabrik garam itu ya, Nov. Insha Allah next time. Terima kasih, Nov. Terima kasih. Pun, terima kasih untuk keponakan saya: Iwan dan Reni, juga dua cucu saya: Andika dan Rayhan, atas segala pengertian kenapa saya belum bisa menginap di rumah kalian beberapa kali ke Kota Mbay. Nanti ya, Insha Allah.

Semoga saya masih bisa kembali ke Kabupaten Nagekeo untuk mengeksplor lebih banyak tempat wisatanya. Doakan! Kalian juga doooonk, main-mainlah ke Kabupaten Nagekeo, siapa tahu kita ketemu di jalan. Hehe.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

#PDL Bertemu Pom Bensin yang Dijual di Kabupaten Nagekeo


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

#PDL Bertemu Pom Bensin yang Dijual di Kabupaten Nagekeo. Sebelumnya saya ingin mengucapkan alhamdulillah karena pos bertema #PDL, Pernah DiLakukan, masih bertahan sampai hari ini, hari ketiga di tahun 2020. Memangnya ada tema yang berubah. Iya, ada. Tema #RabuLima berganti menjadi #RabuDIY. Tema #KamisLima memang tidak berganti sepenuhnya dengan #KamisLegit tetapi diselang-seling sekehendak hati. Haha. Yang pasti tema harian ini turut membantu saya menulis blog setiap hari, turut mewujudkan keinginan saya menjadikan blog sebagai majalah pribadi. Insha Allah tahun 2020 ini semangat nge-blog tetap menyala seperti tahun-tahun kemarin.

Baca Juga: #PDL Dari Gantung Sepatu Sampai Terjebak Debu

Banyak sudah kisah #PDL yang saya tulis. Hari ini saya mau bercerita tentang perjalanan di awal 2019 kemarin saat mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) ke SMA-SMA di Pulau Flores dan sekitarnya. 

Hari itu, bersama Thika, Cesar, dan Rolland, setelah mempromosikan Uniflor di tiga SMA dalam wilayah Kecamatan Aesesa, kami hendak memutar balik kembali ke Kota Mbay, Ibu Kota Kabupaten Nagekeo. Tujuan kami hanya satu: rumah makan! Maklum, perut sudah mulai merintih sedih. Perjalanan kembali ke Kota Mbay ditingkahi dengan gerimis manis yang hampir saja membikin kami menyerah. Lantas pemandangan itu terlihat. Sebuah pom bensin yang terabaikan seperti perasaan yang terabaikan begitu menarik hati. Fotonya bisa kalian pada awal pos. Iya, pom bensin itu dijual. Entah sekarang, setahun kemudian, apakah sudah ada yang membelinya atau belum.

Thika, Cesar, dan Rolland cuma bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah saya yang ngotot minta dipotret di depan pom bensin itu. Haha. Kapan lagi, coba? Foto itu, setelah diunggah ke media sosial, menuai komentar ini itu. Ada yang bilang: yang dijual itu yang sandaran kah? Hihi. Jelasnya saya bertanya-tanya kenapa sebuah pom bensin sampai dijual. Apakah karena merugi? Apakah karena proyeknya tidak berlanjut seperti pom bensin di Kabupaten Ende yang terletak di daerah Roworeke itu? Atau karena alasan lain? Padahal daerah tersebut cukup ramai dan jauh dari pom bensin yang ada di daerah Danga Kota Mbay. Entahlah.

Setelah foto di depan pom bensin yang dijual itu, kami melanjutkan perjalanan ke Kota Mbay. Iya, masih rumah makan menjadi tujuan utama. Sepanjang jalan disuguhi pemandangan persawahan hijau sungguh anugerah terindah. Tapi, pemandangan persawahan hijau jelas tidak mampu menambal perut yang rintihannya semakin menjadi.


Di depan Pasar Mbay bertemulah kami dengan Rumah Makan Mini Indah. Rumah makan ini a la masakan Padang begitu.


Alhamdulillah, sebagai pembuka segelas es teh manis cukup memuaskan dahaga dan lelah seharian perjalanan dari Kota Ende ke Kota Mbay yang dilanjutkan dengan promosi Uniflor ke SMA-SMA. Makan beratnya? Ada dooong. Haha. Ayam goreng, karena saya pecinta Upin Ipin, tentu menjadi rebutan cacing-cacing perut yang sebelumnya khidmat konser lagu-lagunya Linkin Park.

Baca Juga: #PDL Nasi Bambu, Penghormatan Tuan Rumah Pada Tamu

Pernah, saya pernah begitu. Memanfaatkan momen perjalanan dengan sebaik-baiknya. Salah satunya dengan jeli memerhatikan keadaan sekitar dalam perjalanan itu, agar tidak kehilangan kesempatan mengabadikan segala sesuatu yang unik, aneh, ajaib, yang mungkin terlewatkan oleh orang lain. Atau, orang lain tidak berselera memotret sebuah pom bensin yang dijual karena menurut mereka tidak ada faedah. Tapi bagi saya, semua pasti berfaedah. Buktinya, foto itu menjadi bekal pos #PDL hari ini. Dan, kalian jadi tahu ceritanya.

Bagaimana dengan kalian? Pernah begitu juga? Bagi tahu yuk di komen!

#PDL



Cheers.

Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae


Bertemu Banyak Kejutan Manis di Kecamatan Boawae. Kamis, 21 November 2019, saya bertemu Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Flores (Uniflor) yaitu Pak Roni di depan pintu ruang kerja Ketua Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif). Baru saya tahu kalau Prodi Sastra Inggris pada fakultas yang beliau pimpin hendak melakukan kegiatan English Week di Kelurahan Natanage, Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo. Pak Roni bertanya apakah permintaan meliput harus mengirimkan surat kepada UPT Publikasi dan Humas? Untuk situasi yang mendesak, karena rombongan akan berangkat dua jam lagi, saya bilang surat boleh menyusul dan saya akan berangkat ke sana namun beda waktu alias menyusul.

Baca Juga: Mampukah Rembi Menggantikan Peran Tas Belanjaan Plastik?

Hari itu saya masih harus menyelesaikan dua berita untuk dipublis, menyelesaikan satu dua pragraf proposal yang hendak diambil, serta menyimpan beberapa foto. Tapi sebelumnya, saya sudah selesaikan packing pakaian dan keperluan lainnya, dan Thika Pharmantara sudah membantu saya mengganti oli serta mengisi bensin Onif Harem. Pukul 14.35 barulah saya berangkat ke arah Barat Pulau Flores. 

English Week


English Week merupakan kegiatan rutin Prodi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Sastra, Uniflor. Ini merupakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pada fakultas lain, kegiatan PKM rutin ini punya nama berbeda, misalnya Fakultas Hukum menamai kegiatan PKM dengan Study Tour. Meskipun judulnya week (minggu atau seminggu) tapi kegiatannya tidak penuh seminggu alias tujuh hari. English Week dimulai Kamis dan berakhir Minggu. Dan baru kali ini saya meliput langsung kegiatan English Week. Alasan paling utama adalah kegiatan ini ditetapkan sebagai bagaian dari kegiatan menyongsong Panca Windu Uniflor di tahun 2020 nanti.


Setelah perjalanan yang mulus, karena sebagaian besar ruas jalan yang kemarin-kemarin diperbaiki sudah selesai, saya tiba di Kantor Kelurahan Natanage pukul 16.30 Wita. Iya, perjalanan saya tempuh sekitar dua jam. Penyambutan dan pembagian tempat tinggal peserta English Week dilakukan di Aula Lantai II Kantor Kelurahan Natanage. Setiap mahasiswa dibagi per Rukun Tetangga (RT) beserta dosen dan karyawan. Setiap RT menampung enam hingga sembilan peserta. Sedangkan saya memilih untuk menginap di Wisma Nusa Bunga yang letaknya sangat dekat dengan Kantor Kelurahan Natanage, tepat di depan Kantor BRI.


Kegiatan-kegiatan English Week antara lain: diskusi, kerja bakti, knowledge service, pentas seni, dan berbagai lomba lainnya. Saya sangat menyukai kegiatan-kegiatan English Week tersebut. Inilah yang dinamakan bekerja dan bersenang-senang sekaligus. Haha. Terutama pada kegiatan knowledge service itu, selingan antara satu materi dengan materi lainnya diisi dengan nyanyian oleh murid-murid SMPSK Kota Goa. Dan mereka sungguh mengejutkan saya!

Kejutan #1: Sistem Belajar Outdoor


Jum'at, 22 November 2019, saya meliput kegiatan seminar dan workshop atau disebut knowledge service yang diselenggarakan di SMP Swasta Katolik (SMPSK) Kota Goa, tepatnya di ruang perpustakaan. Letak sekolah ini sekitar dua kilometer dari Kantor Kelurahan Natanage. Oh ya, peserta kegiatan knowledge service adalah perwakilan guru SMP dan SMA yang ada di Kecamatan Boawae dengan pemateri salah satunya Rektor Uniflor Bapak Dr. Simon Sira Padji, M.A. Yang mengejutkan saya saat berjalan dari parkiran menuju perpustakaan adalah sekelompok murid dan guru yang sedang melakukan kegiatan belajar-mengajar di bawah pohon rindang yang dilengkapi dengan bangku-bangku taman. Ausam!


Ini mengejutkan saya, pribadi. Sungguh. Murid-murid, meskipun belajar di luar ruangan, terlihat tetap serius mendengarkan informasi yang disampaikan oleh guru mereka. Tertib! Saya memang belum menggali lebih dalam informasi tentang SMPSK Kota Goa. Tetapi kalau boleh saya simpulkan, sekolah ini semacam sekolah favorit, sekolah contoh, dengan sistem pembelajaran yang luar biasa, serta didikan kedisiplinan yang sangat tinggi terhadap peserta didik.

Kejutan #2: Penyanyi Bersuara Berlian


Mana pernah saya sangka bahwa di daerah seperti Kecamatan Boawae tersimpan talenta dalam dunia tarik suara. Usai materi dari Rektor Uniflor, dua murid perempuan tampil di hadapan peserta knowledge transfer membawakan dua lagu keren. Saya sangat terkejut karena lagu yang dinyanyikan itu bukan lagu-lagu yang sering dipilih oleh murid SMP dan SMA yang umumnya lagu-lagu Indonesia yang rata-rata mudah dinyanyikan a la akustik. Banyangkan saja betapa senangnya saya ketika mereka dengan sempurna menyanyikan Something Just Like This dari The Chainsmokers! Disusul Mahadewi dari Padi.


Suara mereka, kata saya, kalau saya juri The Voice, langsung pencet tombol biar kursinya langsung berputar! Hehe. Sayangnya saya tidak sempat memotret waktu mereka bernyanyi, adanya cuma video, hehehe.

Lagu berikutnya, setelah materi tentang Edmodo yang disampaikan oleh Pak Roni, adalah ... 2002 dari Anne Marie, Brave-nya Sara Bareilles, dan satu lagu lama milik Obbie Mesakh berjudul Kisah Kasih di Sekolah. Saya, sekali lagi, terkejut pada pilihan lagu mereka yang tidak biasa. Mereka tidak memilih lagu-lagu yang sendang hits saat ini dan menampilkannya dengan sempurna. Siang itu saya bersyukur karena telah melakukan pilihan tepat: meliput kegiatan English Week! Meskipun jauh dari Kota Ende, tapi sepadan dengan apa yang saya alami.


Boleh saya simpulkan, selain sistem pembelajaran yang luar biasa bagus, murid-murid juga digembleng melalui ekstrakurikuler, tentu sesuai minat dan bakat, dengan super serius sehingga menghasilkan penampilan yang supa amazing

Kejutan #3: R-Musth


Kejutan yang satu ini memang tidak berasal dari kegiatan English Week melainkan kegiatan pribadi saya hahaha. Di Kecamatan Boawae, di depan Kantor Kelurahan Natanage, saya bertemu Raiz Muhammad yang aslinya berdomisili di Kota Mbay. Heran juga, kenapa Raiz berada di Boawae? Ternyata Raiz sedang membantu kakaknya mengelola usaha si kakak, karena si kakak sedang ke luar kota. Sedangkan usaha Raiz yang berada di Kota Mbay dijagain oleh adiknya. Wah, keluarga mereka sungguh menerapkan sistem tolong-menolong. Hahaha. Dari situ kami janjian untuk nongkrong di sebuah kafe, rekomendasinya Raiz. Nongkrongnya malam hari donk, setelah kegiatan liputan selesai dilakukan. 


Kamis malam, iya malam Jum'at, saya dibonceng Viktor mengekori Raiz menuju kafe bernama R-Musth. R-Musth terletak di pinggir jalan utama, Trans-Flores, dengan papan nama yang memudahkan kalian jika ingin pergi ke sana juga, serta berkonsep setengah dinding. Karena berkonsep setengah dinding, tidak dibutuhkan jendela apapun. Hehe. Pemilik R-Musth bernama Mustofa/Mustafa, lelaki berwajah Jawa dengan ciri khas topi fedora atau bowler begitu. Orangnya ramah pun. Kata Raiz, meskipun berdarah Jawa tapi Mustafa dan keluarganya sudah dianggap sebagai Orang Boawae. Mustafa sendiri lahir dan besar di situ.


R-Musth menawarkan aneka kopi, khas kafe a la anak muda, tetapi tidak lupa makanannya juga. Salah satu makanannya adalah nasi goreng. Favoritnya Raiz nih! Hehe. Saya dan Raiz memesan cappucino (espresso dengan susu dan busa susu yang tebal), sedangkan Viktor memesan susu panas. Penambal perut, kami memesan nasi goreng. Yuuuuhhhh nasi gorengnya enak sekali sampai saya bilang: kalau si Thika Pharmantara menetap di Boawae, setiap malam dia pasti makan di R-Musth! Haha. 



Kejutan ke-tiga ini masih berlanjut ketika setelah Raiz pamit pergi membeli rokok dan kembali bersama seorang lelaki bernama Sam (Sampeth). Ndilalah, Sam adalah adik kandungnya Ruztam, sahabat karib saya sejak zaman SMA, si pemilik Nirvana Bungalow di Riung! Sepertinya dunia memang sangat sempit. Dan malam itu kami mengobrol dan mendiskusikan banyak hal. Saya selalu suka berdiskusi, dengan siapapun, terutama dengan anak muda yang 'bergerak' demi kemajuan, baik kemajuan diri sendiri maupun kemajuan lingkungannya. Dan saya sangat bersyukur malam itu bisa melakukannya bersama Raiz, Viktor, dan Sam. Anyhoo, terima kasih Raiz atas traktirannya!

⇜⇝

Kegiatan English Week masih berlanjut hingga Sabtu, 23 November 2019. Hari Minggu, 24 November 2019, peserta berwisata ke Ae Sale Mengeruda atau dikenal dengan nama Air Panas Soa (baca: So'a). Sedangkan saya sendiri pada Jum'at sore sudah ngegas ke Kota Mbay untuk suatu urusan dan kembali ke Kota Ende pada Sabtu pagi. Tentu, di Kota Mbay saya bertemu Bruno Rae, sahabat karib masa SMA (sama kayak Ruztam) dan ditraktir di El Cafe.

Well, ini perjalanan pekerjaan yang menyenangkan bukan? Termasuk yang penuh kejutan.

Mau lagi?

Mau donk ... akhir November! Haha.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp


Cerita Dari Wisuda Uniflor 2019 Sampai Iya Boleh Camp. Sebenarnya Senin ini di #SeninCerita dan #CeritaTuteh ada banyak yang ingin saya tulis, gado-gado, campur-campur, tapi sebagian sudah saya tulis di blog travel dalam pos berjudul Konsep Pecinta Alam dan Traveling di Kafe Hola dan pos berjudul Pemburu Sunset: Pantai Ndao - Ende. Alhamdulillah. Tersisa beberapa cerita saja dan dua diantaranya tertuang dalam pos hari ini tentang kegiatan Wisuda Uniflor 2019 dan kegiatan Iya Boleh Camp yang diselenggarakan pada hari yang sama. Sabtu! Makanya Sabtu yang harusnya diisi dengan #SabtuReview absen dulu. Hehe. Satu cerita lagi tentang IG: @info_flores bakal saya pos pada #SelasaTekno.

Baca Juga: Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo

Dua kegiatan dalam satu hari ... sibuk donk? Lumayan sibuk sih. Tapi menyenangkan karena pada akhirnya saya menetapkan tanggal 12 Oktober sebagai Hari Kemerdekaan Negara Kuning. Kepo kan? Makanya, dibaca sampai selesai *kedib*.

Bangun Lebih Pagi Demi Dirias


Cerita ini bermula dari Sabtu subuh di mana saya bangun lebih pagi untuk mandi dan bersiap-siap sambil menunggu keponakan saya Kiki Abdullah datang. Iya, dia yang merias wajah saya. Sepanjang saya bekerja di Uniflor, baru Sabtu kemarin saya mau dirias untuk kegiatan wisuda. Biasanya sih wajah polos lugu seperti hari-hari biasa. Hehe. Entah. Saya juga masih berpikir kenapa pada tahun 2019 saya mau dirias seperti itu sama Kiki. Riasannya sederhana/ringan sesuai permintaan saya tapi Kiki tidak mau melewatkan bulu mata dan softlens.


Gosh! Wajah saya yang berminyak sungguh keterlaluan. Haha. Maaf ya, Ki. Janji deh saya akan lebih rajin merawat wajah berminyak ini. Dududud.


Setelah saya dirias, giliran Thika, karena dia juga bakal tampil di Iya Boleh Camp, menemani Syiva gantiin Bundanya emoh tampil dalam Lomba Parade Pakaian Nusantara. Selesai dirias, dengan perasaan berbunga-bunga berangkatlah saya ke kampus yang ternyata sudah cukup ramai. 

Wisuda Uniflor 2019


Beberapa hari terakhir saya sudah sering menulis tentang kegiatan wisuda Uniflor 2019 yang diselenggarakan pada tanggal 12 Oktober. Sejumlah 769 Wisudawan-Wisudawati boleh berbangga, pun orangtua mereka. Tahun 2019 panitia menetapkan tema yaitu Kabupaten Nagekeo. Oleh karena itu mulai dekorasi panggung, aneka booth foto, sampai pakaian baik pakaian panitia maupun dosen dan karyawan Uniflor harus bertema Kabupaten Nagekeo. Khusus pakaian lebih tepatnya pakaian tradisional Kabupaten Nagekeo.


Pakaian tradisional Kabupaten Nagekeo dapat dibagi sebagai berikut:

1. Perempuan

Perempuan Kabupaten Nagekeo memakai kain tenun ikat bernama Hoba Nage yang warnanya didominasi merah, dan baju bernama Kodo berbahan beludru yang berwarna hitam dengan aksen bordiran kuning/emas berpadu bordiran merah. Kalau bukan beludru, kain hitam apa saja pun boleh sebagai bahan Kodo ini. Tetapi, untuk perempuan yang menetap di Kota Mbay, umumnya memakai tenun ikat bernama Ragi Woi dipadu atasan warna putih, hitam, atau kuning. Kadang juga memakai Ragi Woi dipadu Kodo.


Hoba Nage dan Kodo itu seperti yang dipakai oleh Kakak Ully Nggaa (kanan dari pembaca) yang memakai ikat kepala itu.

2. Lelaki

Lelaki Kabupaten Nagekeo memakai kemeja putih lengan panjang, tenun ikat Ragi Woi, dipadu selendang yang dilipat sedemikan rupa melingkar dada dan bahu.



Sabtu kemarin saya senang sekali karena nuansa kuning ada di mana-mana, meskipun banyak juga yang memakai Hoba Nage. Bahkan para penari perempuan penyambut Wisudawan dan Wisudawati memakai Ragi Woi yang dibikin persis rok, dan atasan Kodo. Ausam!




Betul-betul harinya Negara Kuning. Dan sebagai Presiden Negara Kuning saya sampai menitikkan air mata haru. Hehe.


Dan yang tidak boleh dilupakan, anak-anak Resimen Mahasiswa (Menwa) juga turut ambil bagian dalam pengamanan kegiatan wisuda kemarin. Keren kan? Uniflor itu lokasinya boleh di kampung, tapi segala sesuatunya tidak kalah dengan universitas lain di kota besar. Kami punya segalanya, sombong sedikit boleh kan, terutama ragam fasilitas ini itu terkait dunia akademik dan fasilitas pendukungnya.

Iya boleh Camp


Adalah Rikyn Radja, koreografer kondang itu, menghubungi saya untuk menjadi juri Lomba Mewarnai kegiatan Iya Boleh Camp yang diselenggarakan oleh Nestle Dancow. Mengutip dari yang ditulis Kakak Mey Patty di status Facebooknya, Iya Boleh Camp merupakan Parenting Event yang sudah diselenggarakan di 94 kota di seluruh Indonesia dan Sabtu tanggal 12 Oktober 2019 kemarin dilaksanakan di Kota Ende. Iya, Kota Ende adalah kota yang ke-95. Sebagai Orang Ende, tentu saya bangga kegiatan berskala nasional ini bisa digelar di Kota Ende. Anak-anak di kota kami membutuhkan kegiatan serupa untuk lebih mengasah bakat dan kreatifitas mereka.

Iya Boleh Camp menggelar tiga lomba yaitu:
1. Lomba Aksi Cilik yang diikuti 21 anak.
2. Lomba Parade Pakaian Nusantara yang diikuti 33 pasang (anak dan mama/pendamping).
3. Lomba Mewarnai yang diikuti oleh 276 anak.
Dari total 400-an pendaftar.


Awalnya saya memang hanya dihubungi untuk menjadi juri Lomba Mewarnai saja, tetapi saat TM ternyata saya dan Kakak Mey bersama-sama menjuri tiga lomba yang digelar tersebut. Baiklah. Yang paling menarik dari Iya Boleh Camp adalah dress code-nya adalah kuning! Oh My God! Saya berbunga-bunga. Hehe.

Makanya, Sabtu kemarin setelah hadir di kegiatan wisuda, bersama-sama Kakak Rosa mengurus ini itu yang berkaitan dengan seksi kepanitiaan kami, saya pun ijin pergi ke Graha Ristela yang terletak di Jalan El Tari, Ende. Ini gedung baru serbaguna yang cukup besar-memanjang dan sering dipakai untuk acara pernikahan dan/atau kegiatan ini itu. Tiba di Graha Ristela, untungnya masih dapat space parkir sepeda motor, saya langsung melenggang ke dalam ruangan mencari meja juri. Hehe. Ketemu Kakak Mey, duduk santai sedikit, acara akhirnya dimulai. Alhamdulillah.


Acara dimulai dengan penampilan drum band cilik dari TK Al Hikmah Ende, ada juga penampilan dari TK lainnya dan diteruskan dengan Lomba Aksi Cilik. Aksi Cilik ini maksudnya anak dan Mama tampil di panggung, bergoyang mengikuti lagu yang diudarakan, dan dinilai oleh juri. Apa saja yang dinilai? Ya kekompakan anak dan Mama, bounding mereka, sampai dengan kesesuaian antara gerak dan lagu. Anak-anak yang tampil dalam Lomba Aksi Cilik ini masih di bawah lima tahun, dan tentu tidak sulit untuk menentukan siapa yang juara. Karena, begitu banyak anak yang malu-malu bahkan seperti ketakutan di panggung, dan beberapa anak yang begitu lincah di panggung beraksi bersama Mamanya. Kita bisa melihat betapa pentingnya peran Mama di rumah ya hahaha.

Setelah Lomba Aksi Cilik, Lomba Parade Pakaian Nusantara pun dimulai. Tiga puluh tiga pasangan Mama-anak berlenggak-lenggok di atas panggung bak peragawati kawakan. Hehe. Apa saja yang dinilai? Pertama kesesuaian busana Mama-anak, teknik catwalk dan kekompakan di atas panggung, penguasaan panggung, hingga nilai modifikasi busananya. Meskipun banyak yang tampil Mama dan anak perempuan, tetapi ada juga Mama dan anak lelaki. Asyik lah. Manapula busana tradisionalnya keren-keren: dimodifikasi dengan sangat baik. Namun tidak bisa dipungkiri ada Mama yang seolah tampil cetar sendiri sedangkan anaknya celingak-celinguk, ada yang betul-betul kompak kayak anak kembar, ada yang mandek memeluk Mamanya di panggung. Haha.


Yang terakhir, Lomba Mewarnai. Waktu Lomba Mewarnai selama empat puluh lima menit memberi waktu kepada saya dan Kakak Mey untuk menilai dua lomba sebelumnya. Ndilalah, penilaian kami sama! Ini yang dinamakan juri sama-sama obyektif sehingga tidak sulit menentukan juara-juaranya. Bayangkan kalau ada juri yang subyektif lantas perdebatan menjadi terlalu alot. Bagi saya, lomba manapun, baik yang diikuti remaja maupun anak-anak, juri harus obyektif. Tidak boleh ada kata kasihan di dalam penilaian karena itu akan merusak reputasi hahaha. Tidak boleh bilang: kasihan si anak sudah berusaha. Juri harus menilai berdasarkan poin penilaian yang sudah ditetapkan. Itu saja.

Menilai kertas-kertas hasil mewarnai pun tidak seberapa sulit. Saya sudah sering menjuri lomba mewarnai, selalu diajak sama juri kondang Om Beny Laka, jadi tahu bagaimana menjuri lomba mewarnai bahkan yang diikuti oleh ratusan anak. Sabtu kemarin, empat juara Lomba Mewarnai memang menghasilkan gambar yang baik: pilihan warna, kesesuaian warna dengan tema, kerapian, garis batas, gaya arsir, hingga daya kreatif-nya. Penilaian itu saya pelajari dari Om Beny Laka, sang maestro. Jadi saya juga bisa menjelaskan kenapa si A juara satu, kenapa si B juara dua, dan seterusnya. Sayangnya kemarin tidak diberi kesempatan menjelaskan. Hehe. Tapi saya sudah siap pelurunya lah.

Mana saya tahu kalau yang juara Parade Pakaian Nusantara adalah sahabat saya Mei Ing dan anaknya yang bernama Rachel? Yang saya tahu cuma nomor tampilnya saja. Mana saya tahu kalau yang juara Lomba Mewarnai itu Andien, anaknya Ibu Nuraini? Ndilalah Andien adalah juara tiga lomba mewarnai sebelumnya yang tingkat kabupaten. Pokoknya saya jujur saja kalau dalam soal menilai. Hahahaha. Selamat kepada para juara, sampai ketemu di kegiatan berikutnya!



Yang pasti, saya terpukau sama empat hasil mewarnai seperti pada foto di atas. Mereka jelas tidak juara, tapi mereka unik, karena berani berkhayal dan bermain dengan warna-warna di luar warna yang seharusnya. Bahkan salah satunya, kiri atas, betul-betul abstrak! Haha.

Hari Kemerdekaan Negara Kuning


Negara Kuning bentukan saya dengan saya sendiri sebagai Presidennya sudah lama berdiri sejak tahun 2013-an. Tapi belum pernah saya menentukan Hari Kemerdekaannya. Boleh lah ya, karena suatu negara boleh dipersiapkan terlebih dahulu. Macam Indonesia, negaranya sudah lama ada, tapi belum punya pemimpin karena masih terkapling dalam wilayah-wilayah kecil (kerajaan salah satunya), lalu dijajah, lalu merdeka pada 17 Agustus 1945.

Baca Juga: Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga

Sama juga dengan Negara Kuning!

Jadi, kalau ada yang tanya kapan Negara Kuning merdeka? Jawabannya 12 Oktober 2019, enam tahun setelah dibentuk *ngakak guling-guling*.

Demikianlah, kawan, cerita hari ini dari kegiatan Sabtu kemarin. Semoga menghibur kalian yang membacanya ya.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo


Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo. Kabupaten Nagekeo. Lagi! Hehe. Rajin sekali menulis tentang Kabupaten Nagekeo! Ya mau bagaimana lagi. Saya memang sering ke Kabupaten Nagekeo, khususnya Ibu Kotanya yaitu Kota Mbay untuk beberapa urusan, baik urusan pribadi maupun urusan pekerjaan. Sehingga sayang sekali kalau tidak menulis tentang kabupaten tersebut terutama tempat wisata hingga ragam kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah sana. Terakhir, saya ke Kota Mbay untuk menyaksikan sendiri Festival Literasi Nagekeo 2019. Betul juga kata anak-anak sana: Nagekeo Gaga Ngeri!


Berkaitan dengan Universitas Flores a.k.a. Uniflor. Dalam Bulan Oktober tepatnya tanggal 12 nanti bakal ada kegiatan wisuda. Dan Uniflor memang selalu punya tema berbeda setiap tahunnya. Tema ini berkaitan dengan kabupaten yang ada di Pulau Flores dan sekitarnya. Mau tahu serunya? Yuk baca sampai selesai! Hehe.

Uniflor Sebagai Mediator Budaya


Uniflor, universitas pertama di Pulau Flores yang berdiri tahun 1980, punya visi besar yaitu Menjadi Universitas Unggul dan Terpercaya Sebagai Mediator Budaya. Kenapa mediator budaya? Menurut analisa saya pribadi, hal ini dikarenakan mahasiswa Uniflor berasal dari berbagai daerah di Pulau Flores dan sekitarnya, pun dari daerah lain di luar Pulau Flores. Uniflor harus bisa menyatukan mereka semua. Ini analisa pribadi ya, hehe. Karena sepanjang yang saya lihat, toleransi di Uniflor itu sangat tinggi. Toleransi ini tidak saja dari lini lintas agama: kalian bisa melihat Suster dan muslimah bercadar jalan bersamaan sambil berdiskusi, tapi juga lintas suku: kalian bisa melihat anak Manggarai berdebat ilmiah dengan anak asal Pulau Lembata.

Salah satu wujud Uniflor sebagai mediator budaya bisa dilihat pada saat kegiatan wisuda. Panitia wisuda akan dibentuk kira-kira satu bulan sebelumnya. Pada pertemuan pembentukan panitia itu, biasanya saya paling suka menunggu penyampaian soal tema. Setiap tahun Uniflor mengusung tema berbeda/kabupaten berbeda. Maka, pada wisuda tahun 2019 ini tema yang diusung adalah Kabupaten Nagekeo. Artinya, dekorasi dan panggung harus ada unsur Kabupaten Nagekeo. Pakaian panitianya harus pakaian adat Kabupaten Nagekeo. Sua sasa/penyambutan wisudawan di pintu masuk dan tarian pun harus tarian dari daerah Nagekeo. Sedangkan wisudawan, tidak pernah dipaksakan pakaian tradisional yang mau dipakai. Bebas. Lagi pula kan tertutup jubah. Hehe.

Pakaian Tradisional/Adat Kabupaten Nagekeo


Setelah tahu tentang tema kabupaten yang diusung, maka mulailah saya sibuk mencari informasi tentang pakaian tradisional Nagekeo. Setahu saya, Kabupaten Nagekeo hanya punya satu jenis/motif tenun ikat. Dan saya salah. Kedunguan tingkat tertinggi saya adalah itu. Hahaha. Saya pernah memakai sarung itu dalam suatu video klip seperti screen shoot di bawah ini:


Kain tenun ikat di atas biasa dipakai oleh Orang Mbay. Warna hitam dengan aksen warna kuning (hyess, my colour!).

Berdasarkan informasi dari Wikipedia, terima kasih Wikipedia, ada tiga jenis tenun ikat dari Kabupaten Nagekeo yaitu Hoba Nage, Ragi Woi, dan Dawo. Orang Keo Tengah menyebut ketiga jenis kain ini dengan Dawo Nangge, Duka Wo'i, dan Dawo Ende. Tapi tentu saya akan mengikut penamaan secara umum yaitu Hoba Nage, Ragi Woi, dan Dawo.

Seperti apa penampakannya? Mari kita lihat:

1. Hoba Nage


2. Ragi Woi


3. Dawo (Dawo Ende)


Terus, laki-lakinya biasa memakai apa? Biasanya laki-laki memakai kemeja putih dan Ragi Woi.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari teman-teman Orang Nagekeo, juga isteri keponakan yang asli Danga - Mbay - Nagekeo, ada dua jenis utama sarung tenun ikat yang sering dipakai oleh penduduk Kabupaten Nagekeo yaitu Hoba Nage dan Ragi Woi. Mereka menyebutnya tenun ikat Nage dan tenun ikat Mbay. Menurut sebagian orang Ragi Woi itu khusus dipakai oleh laki-laki sedangkan Hoba Nage khusus dipakai oleh perempuan. Tetapi di Kota Mbay, Ragi Woi dipakai oleh laki-laki dan perempuan. Tidak ada perbedaan. Sedangkan di daerah sekitar Kecamatan Boawae, laki-laki khusus memakai Ragi Woi dan perempuan khusus memakai Hoba Nage.

Makanya, saya sering melihat teman-teman perempuan dari Kota Mbay memakai Ragi Woi, dipadukan dengan atasan warna putih (tak selamanya warna hitam) seperti yang juga saya pakai pada foto di awal pos dan foto berikut ini:


Saya dan Deni Parera, penyanyi bersuara emas, sama-sama memakai Ragi Woi. Bagi masyarakat Kabupaten Nagekeo, itu bukan masalah. Bahkan menurut Abang yang aseli Orang Nagekeo khususnya Kecamatan Boawae, apa yang saya pakai itu sudah benar dan nanti kalau saat wisuda tinggal pakai begitu saja. Beres.

Tetapi sebenarnya atasan untuk perempuan itu seperti foto berikut ini:


Nama baju ini Kodo. Kodo ini dihiasi dengan bordiran tangan, bukan mesin loh! Keren dan sangat unik kan?

Berburu Hoba Nage


Dipikir-pikir, ketimbang menyewa lebih baik saya membeli saja Hoba Nage. Kata teman kerja, Mama Sedes, ada yang sedang jual murah dipatok tenun ikat Hoba Nage seharga Rp 550K saja. Tentu saja saya mau! Lagi pula ini bisa jadi inventaris, alias kalau nanti kembali dibutuhkan, sudah punya barangnya, tidak perlu pusing mencari. Hanya saja saya belum menerima tenun ikatnya, masih menerima fotonya saja hahaha. Nanti tenun ikat Hoba Nage dalam bentuk lembaran itu bakal saya jahitkan menjadi sarung.

Selain itu, saya juga bertanya-tanya pada teman yang bermukim di Kota Mbay yaitu Daniel Daki Disa. Nah padanya saya juga bisa meminta tolong untuk menyewakan Kodo dan Hoba Nage, dikirim ke Ende, kalau sudah selesai dipakai bisa dikembalikan. Doakan semoga tanggal 12 Oktober nanti saya sudah bisa memakai pakaian adat Kabupaten Nagekeo, ya!

⇜⇝

Pertanyaannya sekarang adalah kenapa saya sampai ngotot harus bisa memakai pakaian adat Kabupaten Nagekeo saat kegiatan wisuda nanti? Untuk menjawabnya, kita harus kembali pada Uniflor sebagai mediator budaya.

Kepanitiaan wisuda selalu terdiri atas dosen dan karyawan Uniflor. Dosen dan karyawan Uniflor datang dari berbagai daerah di Pulau Flores dan sekitarnya. Bisa kalian bayangkan, ketika tema wisuda jatuh pada Kabupaten Ende, semua dosen dan karyawan yang bukan Orang Ende harus berupaya untuk mencari dan memakai pakaian adat Kabupaten Ende. Khusus perempuan disebut Lawo Lambu / Zawo Zhambu. Khusus laki-laki memakai kemeja putih, destar (ikat kepala), dan sarung laki-laki bernama Ragi Mite.

Baca Juga: Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Ketika tema jatuh pada kabupaten lain selain Kabupaten Ende, tentu kami harus menghormati dan menghargai keputusan tersebut dengan cara mengikuti ketentuan yang ditetapkan untuk panitia. Bagi saya pribadi ini adalah tantangan tersendiri: mencari pakaian tradisional/adat Kabupaten Nagekeo. Seandainya pun gagal membeli Hoba Nage, saya masih bisa memakai Ragi Woi dan atasan warna hitam (disesuaikan dengan Kodo). Lagi pula, adalah sesuatu yang sangat membahagiakan diri saya pribadi apabila bisa mengenakan pakaian tradisional/adat dari daerah lain di Pulau Flores. Sesuatu yang mengenyangkan sukma. Hehe.

Nantikan cerita dan foto-fotonya, ya!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay


Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay. Dua minggu yang lalu saya menerima pesan WA dari seseorang yang nomornya belum tersimpan di telepon genggam. Sumpah, mau bertanya: ini siapa(?) saya sungkan, kuatir dibilang sombong. Lagi pula profile picture-nya bukan foto diri melainkan gambar Bunda Maria yang kemudian diganti dengan gambar Yesus. So I have no idea who is he/she. Isi pesan WA itu adalah lampiran draf kegiatan Festival Literasi Nagekeo 2019. Sampai orang itu mengiriman revisi draf kegiatan dimaksud pun saya masih sungkan bertanya, lantas hanya bisa mengucapkan terima kasih serta janji bakal hadir pada malam Minggu.

Baca Juga: Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 2)

Apa itu Festival Literasi Nagekeo 2019? Kenapa pula saya berjanji untuk hadir saat malam Minggu? Kalian kepo kah? Hahaha. Kalau kepo, hyuk dibaca sampai selesai!

Hari Literasi Internasional


Mari pukul mundur ke tahun 1965. Sumber Wikipedia menjelaskan bahwa Hari Literasi Internasional (International Literacy Day/ILD) atau Hari Aksara Internasional/Sedunia atau Hari Melek Huruf Internasional, yang diperingati setiap tanggal 8 September, merupakan hari yang diumumkan oleh UNESCO pada 17 November 1965 sebagai peringatan untuk menjaga pentingnya melek huruf bagi setiap manusia, komunitas, dan masyarakat. Setiap tahun, UNESCO mengingatkan komunitas internasional untuk selalu dalam kegiatan belajar. Hari Melek Huruf Internasional ini diperingati oleh seluruh negara di dunia.

Nagekeo, Kabupaten Literasi.

Sedangkan dari Kompas, begini informasi yang saya peroleh: Melansir dari situs resmi UNESCO, tahun 2019 ini UNESCO akan memberikan penghargaan kepada program dan individu yang berjasa terkait literasi di seluruh dunia dalam tema "Literasi dan Multilinguaisme". Sejak tahun 1967, UNESCO telah memberikan rekognisi dan bantuan bagi lebih dari 490 proyek dan program di bidang literasi yang dijalankan baik oleh pemerintah, Organisasi Non-Pemerintah (LSM), maupun individu di seluruh dunia.

Tahun ini, UNESCO International Literacy Prizes terbagi menjadi dua jenis penghargaan yang akan diberikan kepada lima penerima, yakni: UNESCO King Sejong Literacy Prize, dimana penghargan ini diberikan untuk dua pemenang dengan program yang berfokus pada pengembangan dan pengunaan pendidikan dan pelatihan literasi bahasa ibu. UNESCO Confucius Prize for Literacy, penghargaan tersebut terbentuk pada 2005 atas dukungan Pemerintah Cina. Penghargaan ini diberikan kepada tiga pemenang dengan program yang mempromosikan literasi orang dewasa terutama yang berada di daerah pedesaan dan untuk remaja putus sekolah utamanya kaum perempuan Masing-masing pemenang akan mendapatkan medali, piagam penghargaan dan uang sejumlah 20.000 dolar Amerika Serikat.

Nge-blog merupakan salah satu cara berliterasi.

Jadi kita sepemahaman ya, bahwa Hari Literasi Internasional diperingati setiap tanggal 8 September. Kita juga harus sepemahaman bahwa, also from Wikipedia, bahwa Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. Sedangkan, menurut data dari Literasi Digital keluaran Internetsehat, secara umum yang dimaksud dengan literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten/informasi, dengan kecakapan kognitif maupun teknikal. 

Jadi, kalau bisa saya simpulkan, kegiatan literasi adalah kegiatan membaca, menggali informasi, mengelola/mengolah informasi, serta menyebarkan kembali informasi tersebut. Salah satunya dengan nge-blog. Salah duanya dengan mendongeng. Sala(h)tiga-nya di Pulau Jawa. Hehe.

Hari Literasi Nagekeo 2019


Kabupaten Nagekeo, dengan Ibu Kota bernama Kota Mbay, merupakan kabupaten yang sedang sangat getol membangun diantaranya membangun di ranah literasi. Bupati Nagekeo, Bapak Don, saat meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe berkata bahwa awalnya beliau kurang perhatian dengan urusan literasi ini, sampai kemudian beliau mengunjungi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Salemba - Jakarta, beliau menjadi sangat paham pentingnya literasi untuk pembangunan. Artinya, mencerdaskan masyarakat tidak hanya berkonsentrasi pada pendidikan akademik saja, tetapi harus diimbuh dengan berliterasi yang diperoleh/dilakukan di luar bangku sekolah/kuliah.

Oleh karena itu, kesimpulan saya, sampailah pada titik Kabupaten Nagekeo kemudian menggelar kegiatan akbar Festival Literasi Nagekeo 2019 selama empat hari, dimulai Jum'at (27 September 2019) sampai dengan Senin (30 September 2019. Dan saya, menyesuaikan dengan waktu kerja, baru bisa dan hanya bisa hadir pada malam Minggu (Sabtu, 28 September 2019).


Meskipun tiba di Kota Mbay pukul 12.00-an Wita, tapi saya baru bisa menuju Lapangan Berdikari, tempat kegiatan ini digelar, pukul 20.30 Wita. Alasannya karena masih menunggu keponakan saya, si Iwan. Tiba di depan Lapangan Berdikari, kendaraan baik roda empat maupun roda dua penuh di sisi kanan dan kiri jalan. Sementara itu dari panggung di dalam lapangan terdengar bunyi-bunyian dari alat musik tradisional, ada sekelompok penari sedang pentas. Bergegaslah kami berlima: saya, Iwan, Reni (isterinya Iwan), Andika dan Rayhan (anaknya mereka berdua).


Suasana di dalam Lapangan Berdikari mengingatkan saya pada Pameran Pembangunan yang dulu rajin banget dilaksanakan di Stadion Marilonga, Kota Ende. Itu, saat saya masih SD lah. Ada panggung hiburan/pentas seni sekaligus panggung perlombaan, ada stan-stan dari berbagai kecamatan di Kabupaten Nagekeo juga stan dari kabupaten lainnya termasuk Kabupaten Ende, ada banyak pedagang mainan anak-anak dan balon hias, ada pula warung-warung dadakan dengan menu khusus daging domba, dan lain sebagainya. Pada stan-stan itu juga ada yang memamerkan sekaligus menjual tenun ikat khas Kabupaten Nagekeo baik lembaran besar maupun selendang mini/syal serta hasil kerajinan tangan lainnya.

Banyak Hal Menarik dan Tidak Terduga


Sangat tidak terduga karena saya bertemu mereka. Siapakah mereka?

Penggemar


Penggemar nih ye! Haha. Sampai disenyum-senyumin sama Iwan dan Reni. Kami memulai senang-senang malam itu dengan berkeliling stan yang ada di tepi Lapangan Berdikari. Saat kami tiba di stan Pariwisata Nagekeo, mendadak seorang ibu yang juga berdiri di situ meminta foto bareng saya.



Terima kasih, ibu, sudah mau foto bareng saya. Siapa pun ibu, saya tidak bermaksud apa-apa menulis penggemar, hanya bercanda. Hehe.

Mer Mola Neu


Ini keren. Tidak terduga, bisa bertemu Mer Mola Neu. Mer Mola Neu adalah young (woman) entrepreneur asal Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Provinsi NTT, dengan brand Sehelai & Renjana. Produknya banyak, antara lain tas berbahan tenun ikat, buku/notes dengan cover bergaya kedaerahan dari beberapa daerah di Pulau Flores, gantungan kunci, stiker, bahkan ada pula kripik. Stan mereka sangat menarik dengan baliho warna kuning bertulis Sehelai & Renjana. Tapi, dari semua produknya, saya paling demen sama buku/notes tersebut.


Sebagai Presiden Negara Kuning, sudah lama saya memesan buku / notes bersampul kuning dengan empat kosa kata bahasa daerah Nagekeo ini. Sudah dikirim ke Ende dan saya tinggal mengambil (dan bayar) di tempat drop. Tapi saya lupa alias kelupaan terus! Sampai-sampai saya memarahi diri sendiri yang terlalu sering lupa. Saat keliling stan di Festival Literasi Nagekeo 2019, bertemulah saya dengan stan milik anak muda kreatif ini. Meskipun Insha Allah saya akan kembali ke Kabupaten Nagekeo (Kota Mbay) untuk beberapa urusan, tapi saya tidak mau kehilangan kesempatan lagi untuk memiliki buku ini. Harus beli! Dibanderol Rp 40K sudah dapat tambahan satu gantungan kunci. Aye!

Tidak mungkin pula melewatkan kesempatan untuk berfoto bersamanya. Adalah kebanggaan bagi saya pribadi bisa bertemu dengan orang-orang muda hebat yang kreatif dan terus berkarya, menemukan inovasi-inovasi baru dengan menyertakan budaya dan kearifan lokal. Dari mereka pula budaya kita tetap lestari. Keren benar Mer dan Wilfrid ini. Tasnya juga keren, Mer *muka memelas, hahaha*.

Kalau kalian tanya, apa yang paling memuaskan saya sebagai si tukang jalan, jelas human interest-nya. Karena dari penduduk lokal kita pun BERLITERASI (membaca, mencari informasi, mengolah informasi, dan membagi informasi). Informasi yang kadang tidak terlampir di buku pariwisata paketan. Sama juga, kalau kalian membaca blog saya, seperti itulah informasi yang kalian dapat *sombong sikit sekalian promosi*. Jangan lupa kalian bertanya dengan nada sinis, emang penting saya ngegas dari Ende ke Mbay untuk bersileweran di Festival Literasi Nagekeo 2019? Tidak penting untuk kalian, tidak penting untuk saya. Tapi ... bermakna dan menambah khasanah hidup saya pribadi. Sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan Rupiah (kecuali Euro boleh lah) hahaha.

Abang Umar Hamdan dan Abang Iskandar Awang Usman


Waktu saya melihat pos Abang Umar Hamdan di Facebook bahwa dia sedang berada di lokasi Festival Literasi Nagekeo 2019, siang-siang begitu, pengen ngegas dari Towak ke Lapangan Berdikari, tapi masih pengen menikmati obrolan bersama keponakan. Janji ketemu malam saja sekalian.



Kami anak kembar yang kalau sedang berdiskusi macam orang sedang berantem. Sering pula kami bentrok. Tapi kami tidak pernah musuhan. Hahaha. Dewasa sekali dua orang ini kan? Oh ya, Abang Umar Hamdan bersama tim dari Anak Cinta Lingkungan (ACIL) tergabung dalam Forum Giat Literasi Kabupaten Ende (FGL). FGL digandeng oleh Perpusda Ende untuk bersama-sama mengisi stand mereka. Oleh karena itu tidak heran stan ini termasuk yang paling ramai terutama saat Kakak Ev dari Rumah Baca Sukacita berdongeng. Uh wow sekali. Sayang saya tidak sempat mengabadikan aksi Kakak Ev mendongeng.


Anak-anak adalah masa depan negeri ini. Sejak dini mereka sudah harus mengenal literasi itu seperti apa. Jauhkan mereka dari gadget, berikan kesempatan pada mereka menikmati dunia anak-anak yang sesungguhnya. Terima kasih teman-teman FGL Kabupaten Ende, terima kasih Perpusda Kabupaten Ende, kalian semua hebat dan bergaya!

Rossa


Di dalam WAG Alumni Smansa Ende, saya sempat bilang kalau ada teman yang sedang berada di Kota Mbay, ketemuan yuk di Lapangan Berdikari. Ndilalah saat sedang berkeliling saya dicolek seseorang. Haaaah???? Rossa!


Sahabat masa SMA. Tidak disangka ya, setelah haha hihi di WAG, malah ketemuan di Festival Literasi Nagekeo 2019.

Kegiatan Bermanfaat Yang Harus Berkelanjutan


Kita sering terbawa euforia pada suatu kegiatan, tapi kemudian kegiatan itu selesai. Tidak ada lanjutannya. Tapi saya berharap agar festival semacam ini harus terus berkelanjutan karena selama manusia berkembang biak, selama itu pula tunas-tunas muda manusia ada di muka bumi. Festival Literasi Nagekeo 2019 harus jadi entrance untuk kegiatan serupa di masa datang.

Kegiatan ini bermanfaat karena tidak saja berfokus pada dunia literasi itu sendiri tetapi banyak lini yang terlibat. Lihat saja, pada stan Kecamatan Boawae saya melihat ragam kerajinan tangan dipamerkan:



Kerajinan tangan ini salah satu dari kerajinan tangan jenis lain seperti tenun ikat, selendang, gantungan kunci tenun ikat, dan lain sebagainya. Selain itu, di dalam stan ini juga ada yang jualan minuman semacam kacang hijau dan es buah begitu.

Di atas saya sudah menulis bahwa ada para pedagang mainan anak-anak dan balon hias dan kuliner atau makanan lokal khas Kabupaten Nagekeo yang paling sering diburu yaitu daging domba. Dalam bahasa Nagekeo daging domba disebut nake lebu. Nake itu bahasa daerah untuk daging. Lebu ya domba. Ternyata sama juga dengan Orang Ende yang menyebut daging dengan nake.


Sayangnya, akibat trauma sama aroma daging domba beberapa saat lalu, saya tidak jadi makan malam di warung dadakan daging domba ini. Tapi tetaplah saya mau menyaksikan Festival Daging Domba pada Bulan November nanti!

⇜⇝

Jadi jelas, Festival Literasi Nagekeo 2019 telah mampu mengangkat dan mendukung banyak lini. Tidak hanya dunia literasi, tetapi juga menggeliatkan perekonomian masyarakat. Ada buku, ada dongeng, ada mewarnai, ada informasi tentang pengelolaan sampah dan hasilnya, ada hasil kerajinan tangan, ada yang jualan kopi Bajawa (dari Kabupaten Ngada), ada pula pedagang kaki lima, dan tentu saja warung dengan menu utama daging domba. Sekali lagi, kegiatan ini harus berkelanjutan.

Baca Juga: Pola Timbal Balik

Malam itu kami menikmati makan malam di warung ayam lalapan, berdampingan sama tempat sablonnya Raiz Muhammad. Malam itu, saya juga tidak bertemu teman-teman lain seperti Novi Azizah dan Jane Wa'u (MC-nya). Tidak masalah. Yang jelas saya sudah menyaksikan sendiri Festival Literasi Nagekeo 2019. Saya sudah bersenang-senang dan menambah ilmu. Saya sudah bertemu banyak orang dan hal-hal yang tidak terduga. Saya sudah sayang kamu. Eh, saya sudah menambah khasanah untuk diri pribadi.

Sampai jumpa di festival-festival berikutnya!

Info:
Stan - berasal dari bahasa Inggris stand, tempat pamer/menjual barang.
Renjana - passion, hasrat.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Foto bersama Bupati Nagekeo Bapak Don, dan Dosen Pendamping Lapangan (DPL).


Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe. Jum'at, 6 September 2019, saya kembali memacu Onif Harem ke arah Barat Pulau Flores. Tujuan saya apalagi kalau bukan Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Alhamdulillah, cuaca sudah tidak seberapa dingin, dan pagi itu meskipun masih mampir di Aigela untuk menikmati jagung pulut rebus sekalian melemaskan otot kaki, haha, saya (ditemani Thika Pharmantara) tiba di lokasi lebih mula dari waktu kegiatan.

Baca Juga: Memang Betul Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga

Memangnya, ada apa lagi di Desa Ngegedhawe? Kalau kalian sering membaca blog ini, pasti tahu bahwa saya ini si tukang liputnya UPT Publikasi dan Humas Uniflor. Tujuan saya ke sana adalah meliput kegiatan peresmian rumah baca yang dibangun oleh mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang ditempatkan di Desa Ngegedhawe.

Rumah Baca Sao Moko Modhe


Saat tiba di dusun terluar dari Desa Ngegedhawe, mata saya menangkap sebuah rumah mini, nampak baru, dengan hiasan warna-warni, terletak di tanah lapang luas. Saya pastikan itu adalah rumah baca dimaksud setelah melihat mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang mengenakan kaos biru khas mereka. Perlu diketahui Rumah Baca Sao Moko Modhe dibangun oleh mahasiswa peserta KKN-PPM Uniflor 2019 yang ditempatkan di Desa Ngegedhawe atas proposal yang menerima dana  hibah Kemeristekdikti tahun 2019 (ada tiga proposal, tiga desa lokasi pengabdian, yang lolos mendapat dana hibah tersebut).


Menurut informasi yang saya peroleh tanah tempat dibangunnya rumah baca ini merupakan tanah lapang milik Pemerintah Desa Ngegedhawe. Boleh dikatakan ini merupakan tanah lapang serba guna tempat masyarakat desa melakukan aktivitas bersama selain di kantor desa mereka sendiri. Di tanah lapang ini sebelumnya sudah ada aula-tanpa-dinding dan lapangan voli. Sekarang sudah ditambah dengan rumah baca dan rencananya bakal dibangun lapangan futsal. Menurut saya pribadi, tanah lapang ini bakal jadi pusat kreativitas masyarakat Desa Ngegedhawe. Kenapa? Nanti akan saya jelaskan di bawah, hehe.


Saya tidak sempat menanyakan ukuran rumah baca, tapi kalau dilihat, ukurannya sekitar 4 x 8 meter. Kalau salah, maafkan. Dibagi sepertiga untuk ruangan tempat menyimpan rak buku serta buku-buku yang sementara sudah disiapkan oleh mahasiswa dan DPL. Sedangkan sisanya merupakan teras berdinding setengah yang dihiasi gantungan cantik hasil Do It Yourself (DIY) berbahan gelas plastik. Halamannya juga cukup luas, ditanami tanaman ini itu, serta dibangun sekitar empat permainan anak-anak yang juga hasil DIY. Jangan lupa, pagar dan gerbangnya juga keren. Kreatif!

Kembali ke dalam ruangan, selain rak buku dan buku-buku, juga nampak hiasan hasil DIY mahasiswa. Masih minim, tapi sudah sangat membantu masyarakat Desa Ngegedhawe khususnya anak-anak usia TK dan SD, serta orangtua. Orangtua? Iya, di sana ada juga buku-buku edukasi khusus misalnya untuk pertanian, spiritual, dan lain sebagainya.


Sementara itu yang juga sangat menarik perhatian saya adalah jalan masuk dari gerbang menuju rumah baca yang dibikin semacam setapak mini menggunakan bata merah. Lihat gambar di bawah ini:


Pada akhirnya saya bertemu tiga DPL yaitu Pak Gusty, Pak Usbat, dan Ibu Helen. Dari Pak Gusty saya mendapat informasi tentang arti dari moko modhe. Menurut Pak Gusty moko modhe berarti teman baik. Sehingga jika digabung dengan rumah baca maka Rumah Baca Sao Moko Modhe merupakan teman baik semua orang, siapapun, yang ingin lebih tahu tentang banyak hal, ingin lebih tahu tentang dunia, lewat aktivitas membaca buku. Ya, buku pun merupakan teman baik kita semua. Tidak pernah berkhianat si buku itu! Hehe.

Diresmikan Oleh Bupati (Keren) Bapak Don


Bupati Nagekeo, Bapak Johanes Don Bosco Do, yang juga seorang dokter, datang meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe. Gayanya santai dan gaul. Makanya saya menyebut beliau keren. Keren sekali malahan. Saya sering melihat bupati dikawal serta ditemani belasan bahkan puluhan orang yang sibuk ini itu sehingga terkesan masyarakat heh jauh-jauh sana jangan terlalu dekat! Tapi ini ... kok sepi? Aaah ternyata menurut teman-teman yang tinggal di Kota Mbay, Bapak Don memang tidak terlalu suka kawalan berlapis hahaha. Makanya suasana waktu itu sangat bersahabat. Bapak Don seperti kawan lama yang sowan begitu.


Bahkan, pihak Bagian Humas dan Protokol Setda Kabupaten Nagekeo tidak terlalu mempermasalahkan masyarakat yang ingin mengambil video dan foto. Semua punya hak yang sama, tidak ada yang bertindak: heh minggir! Hahaha. Saya takjub melihat Kabag Humas dan Protokol yang betul-betul menjalankan tugas beliau.



Dua foto di atas ... santai kan gaya Bapak Don?

Baca Juga: Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling

Dalam sambutannya, dengan sering menyelip istilah dan bahasa daerah Nagekeo, serta guyonan yang bikin masyarakat ngakak, Bapak Don menggunakan banyak analogi sederhana yang mudah dipahami. Selain menekankan bahwa rumah baca hanyalah pemicu sedangkan selanjutnya adalah tergeraknya hati masyarakat untuk memanfaatkan rumah baca tersebut, Bapak Don juga menyelip pesan tentang kearifan lokal yaitu penggunaan tas anyaman alih-alih menggunakan tas plastik sebagai media untuk membawa barang belanjaan.

Pesan lain yang disampaikan adalah tentang rumah tangga. Kalau membangun rumah tangga, atau setelah berumah tangga dan punya rumah, jangan mengutamakan membeli kasur pegas kalau fasilitas MCK serta bak air belum dibangun. Karena itu adalah dasar agar masyarakat hidup sejahtera.


Lagi, dari informasi yang saya dengar dari teman-teman yang tinggal di Kota Mbay seperti Noviea Azizah, Bapak Don kalau berkunjung ke desa itu tidak mau ada acara pengalungan selendang untuk penyambutan. Terus, masyarakat juga jangan sampai ada yang menyembelih hewan ternak untuk acara makan siang kegiatan kunjungan dimaksud. Makanya kemarin itu kami kudapannya sangat sederhana tapi kok bikin lidah ketagihan ya? Kopinya pun bikin Thika Pharmantara ketagihan. Haha. Ini dia kudapan kami saat acara diskusi santai:


Sungguh saya sangat beruntung dan bersyukur bisa bertemu langsung Bapak Don yang rendah hati dan ramah dengan semua orang. Terus bangun Nagekeo, Bapak! Saya sih ... hanya pengunjung yang sering menikmati keindahan Nagekeo dan bertugas menulisnya di blog. Hahaha.

Mengumpulkan Buku


Dari kegiatan di Rumah Baca Sao Moko Modhe tersebut di atas, resmi ya nulisnya hahaha, maka saya mengajak teman-teman semua untuk berpartisipasi dengan cara menyumbangkan buku untuk Rumah Baca Sao Moko Modhe. Bukunya tidak saja buku sekolah untuk anak usia TK dan SD tetapi juga buku cerita anak dan majalah untuk orangtua (apalagi kalau majalah Intisari begitu). Bisa dikumpulkan melalui saya, yang nanti bakal saya antar sendiri ke sana. Bisa juga diantarkan sendiri ke sana nanti bisa tanyakan kontak Sekdes Ngegedhawe pada saya. 


Sudah berapa buku yang terkumpul? Belum ada kalau di saya mah ... haha. Masih dalam tahap kampanye sana sini. Doakan semoga banyak buku yang bisa terkumpul ya! Amin!

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe

Salam literasi untuk kita semua.



Cheers.