Lomba Selfie Pemilu


Karena hari ini momen Pemilu Presiden dan Legislatif, #RabuDIY ditiadakan. Haha. Ya, hari ini Rabu, 17 April 2019, Indonesia memilih. Siapa pun pilihan saya, kalian, mereka, semua tentu demi kebaikan negeri ini. Semoga yang terpilih kelak mampu membawa perubahan pada bangsa ini. Tentunya perubahan yang baik. Itu doa kita bersama. Dengan dilaksanakannya Pemilu, bukan berarti lini massa media sosial langsung sepi ... keriuhan antara kubu sana kubu sini masih akan terjadi sampai pelantikan. Percayalah. Hahaha. Banyak sabar yaaaaa.

Di Kabupaten Ende, KPUD menyelenggarakan lomba. Lomba Foto Selfie Pemilu 2019. Dengan persyaratan sebagai berikut:


Tidak disangka saya pun turut menjadi juri bersama dua fotografer lain yang sudah malang melintang di dunia fotografi dan terkenal sebagai fotografer andal: Om Edi Due dan Willy Zino. Sedangkan saya diminta menjadi juri mungkin karena ... errr ... suka foto saja haha. Malu sebenarnya saya menjadi juri begini, karena kemampuan fotografi saya di bawah standart, tapi karena sudah dipercayakan, ya harus bisa. Insha Allah.

Bagaimana dengan di daerah kalian? Ada lomba semacam ini kah? :)



Cheers.

Jaga Waka Nua


Event keren Triwarna Soccer Festival (TSF) 2019 telah berakhir 1 April kemarin. Meskipun demikian, gaungnya masih terdengar sampai hari ini. Masih banyak orang membicarakannya. Mulai dari kemenangan Ende Selatan FC (Kelurahan Ende Selatan), pagar tembok yang kini dipenuhi karya seni mural, keuntungan yang diraup khususnya oleh para pedagang asongan yang wara-wiri di dalam Stadion Marilonga, hingga UMKM dan komunitas yang diberi ruang stand/tenda pameran oleh panitia. Sungguh TSF dengan agenda utama laga sepak bola yang memperebutkan Piala Bupati ini terpatri di lubuk hati masyarakat Kabupaten Ende, dan menjadi semacam pengantar acara Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Ende (kemenangan petahana) pada tanggal 7 April 2019.

Selamat, Bapak Marsel Petu (Bupati) dan Bapak Djafar Ahmad (Wakil Bupati). Selamat melanjutkan pekerjaan yang telah Bapak berdua mulai dan terus melakukan perubahan positif pada Kabupaten Ende. Kami bangga.

Baca Juga: Fair Play Flag

TSF yang telah menggeliatkan berbagai lini khususnya perekonomian di Kabupaten Ende, bisa kalian baca pada pos TSF 'Story, punya satu jargon keren yaitu Jaga Waka Nua. Jargon ini melekat pada kaos panitia, pada baliho-baliho, pun pada banyak bendera supporter. Ya, kami harus jaga waka nua! Jadi, tidak heran jika mendadak mendengar ada yang nyeletuk: ideeee ma'e pemata, jaga waka nua hekow (duh, jangan berantem, jaga martabat kampung kita).

Jaga Waka Nua


Jaga waka nua merupakan jargon paling tepat pilihan panitia/penyelenggara. Saya salut sama yang menetapkan jargon ini, hahaha. Dan bagi saya, jaga waka nua ini punya banyak makna, kalau diresapi dalam-dalam. Secara etimologi, jaga waka nua yang terdiri dari tiga suku kata berarti menjaga martabat kampung.


Jaga = menjaga.
Waka = martabat/harga diri.
Nua = kampung.

Martabat/harga diri yang seperti apa yang harus dijaga? Itu yang akan saya jelaskan pada pos ini. Tentu dari sudut pandang saya pribadi. Dan sudut pandang dinosaurus juga. Apabila kalian Orang Ende, membaca pos ini, dan merasa tidak setuju dengan pos ini, silahkan tulis sendiri pendapat kalian tentang jaga waka nua, dan bagi tautan blog-nya pada saya. Tentu bakal saya baca. Berbagi pendapat tidak pernah merugi bukan?

Bilah Pemerintah


Dari pandangan mata saya pribadi, Kabupaten Ende merupakan kabupaten yang identik dengan turnamen sepak bola. Sebut saja, Universitas Flores (Uniflor) punya Ema Gadi Djou Memorial Cup (EGDMC), lantas ada pula Muthmainah Cup, dan turnamen lainnya antara lain Suratin Cup. Tahun 2017, Kabupaten Ende boleh berbangga dengan menjadi tuan rumah dari turnamen besar bernama El Tari Memorial Cup 2017 (ETMC) yang melibatkan semua kabupaten se-Provinsi Nusa Tenggara Timur. Standar Kabupaten Ende dalam ETMC 2017 sungguh luar biasa; penjemputan setiap kontingen dengan tari-tarian dan bahasa adat, launching atribut yaitu Burung Gerugiwa dan bola raksasa dengan perhentian yang melibatkan adat-istiadat, pertandingan di Stadion Marilonga yang berumput hijau - bahkan dapat dilakukan malam hari, hingga live streaming! Standar itu, dalam skala Provinsi Nusa Tenggara Timur, sangat tinggi.

Waka nua kami saat ETMC 2017 benar-benar terangkat dan terjaga dengan sangat spektakuler. Bukannya melebih-lebihkan, namun memang demikian adanya.

Baca Juga: Pola Timbal Balik

TSF 2019 harus mampu menandingi, atau harus melebihi, standar yang tercipta dari ETMC 2017 tersebut. Meskipun tanpa penjemputan kontingen setiap kecamatan dikarenakan ini adalah turnamen 'antar saudara kandung', namun kemeriahan dan pernak-pernik TSF 2019 mampu melebihi ETMC 2017. Kami harus menjaga waka nua ini. Jangan sampai malu-maluin bangsa dan negara haha. Oleh karena itu launching atribut TSF 2019 dilakukan sama persis pada saat ETMC 2017, yang dimulai dari Lapangan Perse (Kecamatan Ende Utara), diterusan dengan jalur yang telah diatur berikut perhentian setiap kecamatannya hingga berakhir di Stadion Marilonga. Sambutan dalam suasasa (bahasa adat) pun luar biasa.

Selain ajang sepak bola, TSF juga punya dua mata acara lain yaitu Lomba Mural dan Pameran dengan tema Bego Ga'i Night. Jujur, festival semacam ini memang hal yang baru bagi masyarakat Kabupaten Ende namun sekaligus merupakan sesuatu yang juga ditunggu-tunggu. Karena, kata orang, kami Orang Ende ini haus hiburan. Hahaha.

Jaga waka nua juga diwujudkan dalam bentuk kepanitiaan yang solid dan mampu bekerja dengan sangat baik sehingga tidak memalukan apa lagi sampai membanting harkat dan martabat. Maklum, saya melihat kebanyakan anggota panitia adalah orang-orang yang tahan banting dan pernah bekerja pada kepanitaan turnamen sepak bola juga. Jadi, urusan-urusan yang berhubungan dengan TSF 2019 ini bukan hal yang baru yang bikin kaget.

Bilah Pemain


Jaga waka nua tidak saja bermakna pada bilah pemerintah seperti yang tertulis di atas, tetapi juga bermakna untuk para pemain sepak bola dari setiap klub (kecamatan). Artinya ... my game is fair play! Iya, itu kesimpulan besarnya. Para pemain harus menjaga waka nua-nya melalui permainan-permainan yang ciamik alias tidak membikin malu. Kalah tidak mengapa, asal jangan sampai kalah total tanpa perlawanan yang imbang. 

Sekali dua memang terjadi ketegangan di tengah lapangan, hal-hal semacam itu acap tidak dapat dihindari, tetapi dapat diatasi oleh perangkat pertandingan. Kami yang berada di luar lapangan tidak punya kuasa kan hahaha. Pokoknya, para pesepakbola dari setiap klub pada TSF 2019 ini betul-betul jaga waka nua. Bayangkan jika pertandingan harus diperpanjang waktunya dan masih seri, sehingga harus dilakukan adu pinalti yang cukup panjang karena seri pula, sungguh terlalu. Hahaha. Saya yang akhirnya ikut menonton pun deg-degan.

Bilah Masyarakat


Dari bilah masyarakat, jaga waka nua berarti setiap orang harus mampu menjaga martabat/harga diri kampungnya. Kampung di sini berarti kecamatan asal maupun kecamatan domisili. Masyarakat yang dilingkupkan menjadi penonton dan supporter harus mampu bersikap kooperatif terhadap jalannya pertandingan dan hasilnya. Jangan sampai terjadi antara 'saudara kandung' saling kelahi haha. Jadi, sejauh saya menjadi panitia TSF 2019, tidak terjadi perkelahian yang berarti. Maksudnya, satu kali perkelahian terjadi di luar Stadion Marilonga hanya karena salah ucap dan ketersinggungan. Itu pun langsung diamankan oleh para aparat.

Secara umum, event Triwarna Soccer Festival menuai kritikan positif dari banyak orang, baik masyarakat Kabupaten Ende sendiri maupun yang dari luar.


Demikianlah tentang jaga waka nua yang selalu digaungkan saat event Triwarna Soccer Festival. Sebuah jargon dengan spirit dan makna yang sangat dalam. Dengan menjaga waka nua, maka kita niscaya mampu mewujudkan jargon Kabupaten Ende yaitu Ende Sare Lio Pawe. Dan saya pikir, kita semua sebaiknya menjadi orang yang bisa menjaga waka. Setuju? Yang setuju lekas komeeeen haha.

Baca Juga: Manis Akustik

Semangat Senin, kawan.


Cheers.

5 Steps To Marriage


Minggu, 24 Maret 2019, merupakan hari yang paling ditunggu oleh Keluarga Besar Pharmantara, Pua Ndawa, Bata, dan Pua Djombu. Hari itu merupakan hari perkawinan keponakan saya Angga dengan seorang perempuan cantik nan bersahaja bernama Titin. Keduanya tidak pacaran melainkan memilih melalui proses ta'aruf. Luar biasa ya ketika sepasang suami-isteri menikah, kemudian, setelah sebelumnya melalui proses ta'aruf. Tidak semua pasangan melakukan ta'aruf, memang, tergantung keinginan masing-masing.

Baca Juga: 5 Gaya Zawo Zambu

Seperti yang sudah sering saya tulis, bahwa di Kabupaten Ende hidup dua suku yaitu Suku Ende dan Suku Lio, tentu proses menuju pelaminan pun agak berbeda antara keduanya. Suku Ende, khususnya bagian pesisir pantai Kota Ende, terakulturasi dengan budaya Bugis atau Makassar dan Agama Islam. Kebanyakan Suku Lio terakulturasi dengan budaya Portugis (dari Flores Timur) dan Agama Katolik. Tahapan menuju perkawinan Suku Lio yang bergama Islam pun tidak sama persis dengan tahapan menuju perkawinan dari Suku Ende yang beragama Islam. Yang sama itu secara syariat Islam-nya. Secara adat/budaya masih ada perbedaannya.

Berdasarkan perkawinan kedua kakak saya, Kakak Nani Pharmantara dan Babe Didi Pharmantara, yang sama-sama menggunakan adat Suku Ende, pun baru-baru ini keponakan saya Angga yang menikahi Titin yang juga menggunakan adat perkawinan Suku Ende, saya bisa menyusun tentang 5 tahap menuju perkawinan. Cerita lain tentang perkawinan adat dari Suku Ende ini bisa kalian baca pada pos Pola Timbal Balik.

Baiklah, sesuai dengan judul, saat ini saya menulis tentang lima langkah yang wajib dilewati oleh calon pengantin sebelum Perkawinan. Untuk mempermudah penjelasan, si laki-laki saya tulis dengan nama Rojak, da si perempuan saya tulis dengan nama Rubiyah.

Cekidot!

1. Ta'aruf dan/atau Pacaran


Tidak semua pasangan memilih proses ta'aruf. Tidak semua pasangan memilih proses pacaran. Mana-mana suka, kembali pada kemauan masing-masing. Kalau melihat dari sisi syariat, ya jelas ta'aruf, agar terhindar dari perbuatan dosa. Namun, tidak selamanya pula orang yang pacaran itu melakukan perbuatan dosa karena mampu menahan diri dari godaan iblis. Insha Allah. Perkara-perkara ini tidak bisa dipukul sama rata. Itu pendapat saya pribadi.

2. Temba Zaza


Temba zaza atau timbang rasa merupakan kunjungan awal utusan orangtua Rojak ke rumah Rubiyah setelah mengetahui bahwa Rojak dan Rubiyah telah ber-ta'aruf dan/atau pacaran, serta berniat serius menuju pelaminan. Menurut pengamatan saya, temba zaza merupakan langkah pengukuhan. Sehingga secara adat kalau dilihat dari hubungan pacaran (bukan ta'aruf), baik orangtua Rojak dan Rubiyah, keluarga, tetangga, hingga teman-teman, tidak perlu mempertanyakan lagi: siapakah gerangan laki-laki yang sering bersama Rubiyah. Atau, siapakah gerangan perempuan yang sering diajak jalan-jalan sama Rojak.

Saat temba zaza, utusan orangtua Rojak akan membawa kue-kue dan buah-buahan yang diletakkan di atas dulang. Setelah itu, bisa jadi keesokan harinya keluarga Rubiyah memulangkan dulang-dulang tersebut, tapi bukan dulang kosong, melainkan ada isinya pula. Bisa pula dulang-dulang tersebut tidak perlu dikembalikan oleh keluarga Rubiyah. Tapi proses ini belum disebut bhaze duza (balik dulang). Tapi pola timbal balik tetap ada.

Usai temba zaza, maka keluarga Rojak dan Rubiyah melakukan pertemuan untuk berembug dan menentukan bersama beberapa perkara seperti diantaranya: hari dan tanggal nai ono (masuk minta atau lamaran) beserta buku pelulu, apa-apa saja yang perlu dibawa pada hari itu, termasuk tentang uang isi kumba isi ae nio. Uang isi kumba isi ae nio ini nantinya diserahkan kepada paman-paman dari Rubiyah, yang akan dibalikin dalam bentuk barang. Untuk itu, silahkan baca lagi pos Pola Timbal Balik, ya.

3. Nai Ono dan Buku Pelulu


Nai ono (masuk minta atau lamaran) dan buku pelulu. Untuk lebih memahaminya kalian bisa membaca pos berjudul Buku Pelulu. Melamar Rubiyah, keluarga besar Rojak telah diundang secara lisan sebelumnya (sodho sambu) oleh perwakilan keluarga inti Rojak. Yang diucapkan dalam sodho sambu itu, dalam Bahasa Indonesia, adalah sebagai berikut:

Kami mai sodho sambu mai Baba Ine ko Rojak, Hari Minggu jam empat kita wi nai ono fai ko Rojak ne'e acara buku pelulu. Mendhi ne'e kue se-bha(Kami datang menyampaikan pesan dari Bapak dan Mamanya Rojak. Hari Minggu jam empat kita bakal melamar perempuannya Rojak dan buku pelulu. Bawa sama kue sepiring ya).

Baca Juga: 5 Komoditas TSF

Lebih lengkapnya soal sodho sambu ini, bisa kalian baca pada pos Buku Pelulu.

Setelah semua keluarga berkumpul pada hari yang ditentukan, semua barang hantaran dinaikkan ke atas kendaraan, sedikit omongan dari pihak keluarga inti, maka berangkatlah keluarga Rojak menuju rumah Rubiyah. Di rumah Rubiyah pun tentu sudah menanti kaum keluarganya. Ramai? Pasti! Hehehe.

Apa saja yang diantarkan?
Mulai dari cincin, uang jajan dari calon mertua untuk Rubiyah, pakaian ini itu dan asesorisnya, sarung, hingga aneka kue yang sebelumnya sudah diantarkan oleh keluarga Rojak (dikumpulkan, sesuai omongan dari sodho sambu) sebelum pergi ke rumah Rubiyah.

Usai nai ono dan buku pelulu, selanjutnya adalah bhaze duza (balik dulang). Pihak Rubiyah bakal mengembalikan dulang-dulang yang diantar oleh pihak Rojak (bisa beberapa hari, biasanya satu minggu, setelah nai ono dan buku pelulu). Jumlah dulang yang dibalikin harus sama dengan yang diantarkan oleh pihak Rojak. Isinya sih boleh berbeda. Kalau sudah selesai tahap yang ini, maka selanjutnya adalah tahap mendhi belanja (belis) tadi. Tapi dalam adat Suku Ende dan Suku Lio, harus ada satu momen bernama minu ae petu (minum air panas).

Minu ae petu dilakukan oleh pihak yang hendak menyelenggarakan hajatan seperti pernikahan dan khitanan. Untuk keperluan pernikahan, minu ae petu hanya dilakukan oleh pihak calon pengantin laki-laki; mengundang kaum kerabat, tetangga, teman-teman, untuk duduk menikmati air panas dan tentu menyumbang sejumlah uang (yang dimasukkan ke dalam amplop) kepada tuan rumah. Menyumbang sejumlah uang ini bukan tujuan utama minu ae petu tapi kebersamaan merangkul kaum kerabat untuk suatu perayaanlah yang utama. Minu ae petu pun bukan berarti tamu yang datang hanya disuguhi air panas, melainkan teh, kopi, kudapan, hingga makan besar. Sekaya-kayanya orang Ende, pantang melewati minu ae petu, karena bakal dianggap melanggar adat dan kebiasaan masyarakat.

4. Mendhi Belanja / Antar Belis


Mendhi belanja, juga disebut dengan mengantar belis, dilakukan atas kesepakatan dari oleh kedua belah pihak. Pada zaman dahulu, mendhi belanja dipenuhi drama dimana kurir dari pihak Rojak harus bolak-balik antara rumah Rojak dan rumah Rubiyah karena uang belanja dan lain sebagainya yang masih dianggap kurang oleh pihak keluarga Rubiyah. Bolak-balik si kurir ini bisa memakan waktu berjam-jam.

Zaman sekarang, biasanya masing-masing orangtua sudah punya pembicaraan di balik layar, sehingga urusan kurir ini menjadi drama yang diatur. Mari kita simak:

DRAMA KURIR DALAM MENDHI BELANJA

Kurir: laki-laki utusan orangtua Rojak.
Contoh kesepakatan kedua belah pihak (Rojak dan Rubiyah):
- Uang belanja Rp 50.000.000
- Uang RT/RW Rp 750.000 
- Uang RT/RW dan Masjid Rp 1.000.000 
- Uang Isi Kumba Rp 6.000.000
- Uang Isi Ae Nio Rp 3.000.000
- Uang Air Susu Ibu, ditiadakan
- Seekor sapi
- Perlengkapan kamar pengantin komplit
- Perlengkapan untuk pengantin perempuan
- Dan lain sebagainya

Pada hari yang telah disepakati, keluarga Rubiyah telah menunggu kedatangan kurir terlebih dahulu ke rumah mereka. Lantas saat kurir datang, kurir bakal bilang bahwa yang disiapkan oleh keluarga Rojak adalah uang belanja sebesar Rp 30.000.000 dan uang-uang lain yang juga jumlahnya dikurangi dari kesepakatan di balik layar itu (namanya juga DRAMA!). Keluarga Rubiyah menolak. Kurir pura-pura pulang (satu blok dari rumah Rubiyah) lantas balik lagi dan menyampaikan uang belanja sebesar Rp 45.000.000 dan uang-uang lain yang jumlahnya dinaikkan sedikit. Keluarga Rubiyah menolak. Kurir pura-pura pulang, lagi, dan kembali ke rumah Rubiyah. Biasanya sampai tiga kali. Ketika mencapai Rp 50.000.000 beserta angka lain yang sudah disepakati di balik layar, maka keluarga Rubiyah setuju. Setelah itu barulah kurirnya pulang beneran dan proses mendhi belanja dilakukan.

Drama kurir ini paling saya sukai karena unik sekali. Bayangkan kalau zaman dahulu, drama dalam tanda kutip dimana si kurir beneran harus bolak-balik ke rumah Rojak ... fiuh. Asyik juga kalau menulis tentang drama ini di pos tersendiri hehe.

5. Tu Ata Nika / Jeju


Tu Ata Nika oleh keluarga Rojak juga disebut jeju. Jadi, setelah sodho sambu, keluarga Rojak bakal berkumpul di rumah di rumah Rojak satu jam sebelum ijab kabul di lokasi yang ditentukan (bisa di masjid, bisa di rumah Rubiyah). Lantas mereka beriringan ke lokasi ijab kabul. Biasanya satu pick up bakal diisi para pemain feko genda atau rebana juga boleh. Bunyi-bunyian khas menuju pelaminan begitu deh hehehe.


Demikianlah lima tahapan menuju pelaminan yang dilakukan baik oleh pihak Rojak. Di pihak Rubiyah sendiri bakal ada tradisi lain sebelum perkawinan keesokan hari seperti mandi kembang dan tandi kelambu. Tapi itu tidak saya hitungkan sebagai tahap menuju perkawinan melainkan sebagai adat khusus untuk pihak Rubiyah sebagai calon pengantin perempuan.

Baca Juga: 5 Jawara Mural

Bagaimana dengan tahapan-tahapan menuju perkawinan di daerah kalian, kawan? Feel free to write your mind on comment.


Cheers.

5 Steps To Marriage


Minggu, 24 Maret 2019, merupakan hari yang paling ditunggu oleh Keluarga Besar Pharmantara, Pua Ndawa, Bata, dan Pua Djombu. Hari itu merupakan hari perkawinan keponakan saya Angga dengan seorang perempuan cantik nan bersahaja bernama Titin. Keduanya tidak pacaran melainkan memilih melalui proses ta'aruf. Luar biasa ya ketika sepasang suami-isteri menikah, kemudian, setelah sebelumnya melalui proses ta'aruf. Tidak semua pasangan melakukan ta'aruf, memang, tergantung keinginan masing-masing.

Baca Juga: 5 Gaya Zawo Zambu

Seperti yang sudah sering saya tulis, bahwa di Kabupaten Ende hidup dua suku yaitu Suku Ende dan Suku Lio, tentu proses menuju pelaminan pun agak berbeda antara keduanya. Suku Ende, khususnya bagian pesisir pantai Kota Ende, terakulturasi dengan budaya Bugis atau Makassar dan Agama Islam. Kebanyakan Suku Lio terakulturasi dengan budaya Portugis (dari Flores Timur) dan Agama Katolik. Tahapan menuju perkawinan Suku Lio yang bergama Islam pun tidak sama persis dengan tahapan menuju perkawinan dari Suku Ende yang beragama Islam. Yang sama itu secara syariat Islam-nya. Secara adat/budaya masih ada perbedaannya.

Berdasarkan perkawinan kedua kakak saya, Kakak Nani Pharmantara dan Babe Didi Pharmantara, yang sama-sama menggunakan adat Suku Ende, pun baru-baru ini keponakan saya Angga yang menikahi Titin yang juga menggunakan adat perkawinan Suku Ende, saya bisa menyusun tentang 5 tahap menuju perkawinan. Cerita lain tentang perkawinan adat dari Suku Ende ini bisa kalian baca pada pos Pola Timbal Balik.

Baiklah, sesuai dengan judul, saat ini saya menulis tentang lima langkah yang wajib dilewati oleh calon pengantin sebelum Perkawinan. Untuk mempermudah penjelasan, si laki-laki saya tulis dengan nama Rojak, da si perempuan saya tulis dengan nama Rubiyah.

Cekidot!

1. Ta'aruf dan/atau Pacaran


Tidak semua pasangan memilih proses ta'aruf. Tidak semua pasangan memilih proses pacaran. Mana-mana suka, kembali pada kemauan masing-masing. Kalau melihat dari sisi syariat, ya jelas ta'aruf, agar terhindar dari perbuatan dosa. Namun, tidak selamanya pula orang yang pacaran itu melakukan perbuatan dosa karena mampu menahan diri dari godaan iblis. Insha Allah. Perkara-perkara ini tidak bisa dipukul sama rata. Itu pendapat saya pribadi.

2. Temba Zaza


Temba zaza atau timbang rasa merupakan kunjungan awal utusan orangtua Rojak ke rumah Rubiyah setelah mengetahui bahwa Rojak dan Rubiyah telah ber-ta'aruf dan/atau pacaran, serta berniat serius menuju pelaminan. Menurut pengamatan saya, temba zaza merupakan langkah pengukuhan. Sehingga secara adat kalau dilihat dari hubungan pacaran (bukan ta'aruf), baik orangtua Rojak dan Rubiyah, keluarga, tetangga, hingga teman-teman, tidak perlu mempertanyakan lagi: siapakah gerangan laki-laki yang sering bersama Rubiyah. Atau, siapakah gerangan perempuan yang sering diajak jalan-jalan sama Rojak.

Saat temba zaza, utusan orangtua Rojak akan membawa kue-kue dan buah-buahan yang diletakkan di atas dulang. Setelah itu, bisa jadi keesokan harinya keluarga Rubiyah memulangkan dulang-dulang tersebut, tapi bukan dulang kosong, melainkan ada isinya pula. Bisa pula dulang-dulang tersebut tidak perlu dikembalikan oleh keluarga Rubiyah. Tapi proses ini belum disebut bhaze duza (balik dulang). Tapi pola timbal balik tetap ada.

Usai temba zaza, maka keluarga Rojak dan Rubiyah melakukan pertemuan untuk berembug dan menentukan bersama beberapa perkara seperti diantaranya: hari dan tanggal nai ono (masuk minta atau lamaran) beserta buku pelulu, apa-apa saja yang perlu dibawa pada hari itu, termasuk tentang uang isi kumba isi ae nio. Uang isi kumba isi ae nio ini nantinya diserahkan kepada paman-paman dari Rubiyah, yang akan dibalikin dalam bentuk barang. Untuk itu, silahkan baca lagi pos Pola Timbal Balik, ya.

3. Nai Ono dan Buku Pelulu


Nai ono (masuk minta atau lamaran) dan buku pelulu. Untuk lebih memahaminya kalian bisa membaca pos berjudul Buku Pelulu. Melamar Rubiyah, keluarga besar Rojak telah diundang secara lisan sebelumnya (sodho sambu) oleh perwakilan keluarga inti Rojak. Yang diucapkan dalam sodho sambu itu, dalam Bahasa Indonesia, adalah sebagai berikut:

Kami mai sodho sambu mai Baba Ine ko Rojak, Hari Minggu jam empat kita wi nai ono fai ko Rojak ne'e acara buku pelulu. Mendhi ne'e kue se-bha(Kami datang menyampaikan pesan dari Bapak dan Mamanya Rojak. Hari Minggu jam empat kita bakal melamar perempuannya Rojak dan buku pelulu. Bawa sama kue sepiring ya).

Baca Juga: 5 Komoditas TSF

Lebih lengkapnya soal sodho sambu ini, bisa kalian baca pada pos Buku Pelulu.

Setelah semua keluarga berkumpul pada hari yang ditentukan, semua barang hantaran dinaikkan ke atas kendaraan, sedikit omongan dari pihak keluarga inti, maka berangkatlah keluarga Rojak menuju rumah Rubiyah. Di rumah Rubiyah pun tentu sudah menanti kaum keluarganya. Ramai? Pasti! Hehehe.

Apa saja yang diantarkan?
Mulai dari cincin, uang jajan dari calon mertua untuk Rubiyah, pakaian ini itu dan asesorisnya, sarung, hingga aneka kue yang sebelumnya sudah diantarkan oleh keluarga Rojak (dikumpulkan, sesuai omongan dari sodho sambu) sebelum pergi ke rumah Rubiyah.

Usai nai ono dan buku pelulu, selanjutnya adalah bhaze duza (balik dulang). Pihak Rubiyah bakal mengembalikan dulang-dulang yang diantar oleh pihak Rojak (bisa beberapa hari, biasanya satu minggu, setelah nai ono dan buku pelulu). Jumlah dulang yang dibalikin harus sama dengan yang diantarkan oleh pihak Rojak. Isinya sih boleh berbeda. Kalau sudah selesai tahap yang ini, maka selanjutnya adalah tahap mendhi belanja (belis) tadi. Tapi dalam adat Suku Ende dan Suku Lio, harus ada satu momen bernama minu ae petu (minum air panas).

Minu ae petu dilakukan oleh pihak yang hendak menyelenggarakan hajatan seperti pernikahan dan khitanan. Untuk keperluan pernikahan, minu ae petu hanya dilakukan oleh pihak calon pengantin laki-laki; mengundang kaum kerabat, tetangga, teman-teman, untuk duduk menikmati air panas dan tentu menyumbang sejumlah uang (yang dimasukkan ke dalam amplop) kepada tuan rumah. Menyumbang sejumlah uang ini bukan tujuan utama minu ae petu tapi kebersamaan merangkul kaum kerabat untuk suatu perayaanlah yang utama. Minu ae petu pun bukan berarti tamu yang datang hanya disuguhi air panas, melainkan teh, kopi, kudapan, hingga makan besar. Sekaya-kayanya orang Ende, pantang melewati minu ae petu, karena bakal dianggap melanggar adat dan kebiasaan masyarakat.

4. Mendhi Belanja / Antar Belis


Mendhi belanja, juga disebut dengan mengantar belis, dilakukan atas kesepakatan dari oleh kedua belah pihak. Pada zaman dahulu, mendhi belanja dipenuhi drama dimana kurir dari pihak Rojak harus bolak-balik antara rumah Rojak dan rumah Rubiyah karena uang belanja dan lain sebagainya yang masih dianggap kurang oleh pihak keluarga Rubiyah. Bolak-balik si kurir ini bisa memakan waktu berjam-jam.

Zaman sekarang, biasanya masing-masing orangtua sudah punya pembicaraan di balik layar, sehingga urusan kurir ini menjadi drama yang diatur. Mari kita simak:

DRAMA KURIR DALAM MENDHI BELANJA

Kurir: laki-laki utusan orangtua Rojak.
Contoh kesepakatan kedua belah pihak (Rojak dan Rubiyah):
- Uang belanja Rp 50.000.000
- Uang RT/RW Rp 750.000 
- Uang RT/RW dan Masjid Rp 1.000.000 
- Uang Isi Kumba Rp 6.000.000
- Uang Isi Ae Nio Rp 3.000.000
- Uang Air Susu Ibu, ditiadakan
- Seekor sapi
- Perlengkapan kamar pengantin komplit
- Perlengkapan untuk pengantin perempuan
- Dan lain sebagainya

Pada hari yang telah disepakati, keluarga Rubiyah telah menunggu kedatangan kurir terlebih dahulu ke rumah mereka. Lantas saat kurir datang, kurir bakal bilang bahwa yang disiapkan oleh keluarga Rojak adalah uang belanja sebesar Rp 30.000.000 dan uang-uang lain yang juga jumlahnya dikurangi dari kesepakatan di balik layar itu (namanya juga DRAMA!). Keluarga Rubiyah menolak. Kurir pura-pura pulang (satu blok dari rumah Rubiyah) lantas balik lagi dan menyampaikan uang belanja sebesar Rp 45.000.000 dan uang-uang lain yang jumlahnya dinaikkan sedikit. Keluarga Rubiyah menolak. Kurir pura-pura pulang, lagi, dan kembali ke rumah Rubiyah. Biasanya sampai tiga kali. Ketika mencapai Rp 50.000.000 beserta angka lain yang sudah disepakati di balik layar, maka keluarga Rubiyah setuju. Setelah itu barulah kurirnya pulang beneran dan proses mendhi belanja dilakukan.

Drama kurir ini paling saya sukai karena unik sekali. Bayangkan kalau zaman dahulu, drama dalam tanda kutip dimana si kurir beneran harus bolak-balik ke rumah Rojak ... fiuh. Asyik juga kalau menulis tentang drama ini di pos tersendiri hehe.

5. Tu Ata Nika / Jeju


Tu Ata Nika oleh keluarga Rojak juga disebut jeju. Jadi, setelah sodho sambu, keluarga Rojak bakal berkumpul di rumah di rumah Rojak satu jam sebelum ijab kabul di lokasi yang ditentukan (bisa di masjid, bisa di rumah Rubiyah). Lantas mereka beriringan ke lokasi ijab kabul. Biasanya satu pick up bakal diisi para pemain feko genda atau rebana juga boleh. Bunyi-bunyian khas menuju pelaminan begitu deh hehehe.


Demikianlah lima tahapan menuju pelaminan yang dilakukan baik oleh pihak Rojak. Di pihak Rubiyah sendiri bakal ada tradisi lain sebelum perkawinan keesokan hari seperti mandi kembang dan tandi kelambu. Tapi itu tidak saya hitungkan sebagai tahap menuju perkawinan melainkan sebagai adat khusus untuk pihak Rubiyah sebagai calon pengantin perempuan.

Baca Juga: 5 Jawara Mural

Bagaimana dengan tahapan-tahapan menuju perkawinan di daerah kalian, kawan? Feel free to write your mind on comment.


Cheers.

Pola Timbal Balik


Menulis pos ini sudah saya rencanakan jauh-jauh hari dan berusaha menulisnya dengan cermat berdasarkan penelitian dan penelaahan yang cukup matang. Kalaupun ada kekurangan, saya pikir kekurangan itu tidak masif. Saya tertarik dengan suatu pola yang berlaku dalam masyarakat. Masyarakat yang saya maksudkan di sini adalah masyarakat dari dua suku besar yang ada di Kabupaten Ende yaitu Suku Ende dan Suku Lio. Pola itu saya sebut pola timbal-balik; khususnya dalam perkara perkawinan.

Baca Juga: Manis Akustik

Bukan rahasia lagi jika kami yang hidup di Kabupaten Ende sering mendengar kalimat: ndoe, minta belis besar macam jual anak saja! Ya, kalimat itu memang menyakitkan tapi sering terucap di forum-forum tidak resmi apabila orang-orang mulai membicarakan belis. Bahkan dari MerdekaDotCom pada artikel berjudul Tradisi Belis, Budaya 'Mencekik Leher' Warga NTT dijelaskan tentang gading sebagai belis wajib di Kabupaten Flores Timur. Tapi tentu, beda kabupaten, beda pula belis-nya. Misalnya Suku Ende dan Suku Lio pantang meminta gading sebagai belis, kalau emas sih yess. Tidak bisa disama-ratakan begitu saja. Sehingga saran saya, jika ingin menulis tentang belis, pelajari terlebih dahulu suku mana yang hendak ditulis atau diulas.

Karena, bahkan, ada keluarga Suku Ende dan Suku Lio yang tidak terlalu memusingkan belis. Yang penting kelayakan, kepatutan, dan syariat atau secara agamanya dijalankan dengan baik.


Oleh karena itu, mari baca pos ini sampai selesai dengan cermat agar tidak terjadi salah tafsir. Kalau salah tafsir kan repot! Ibarat salah informasi yang kemudian disebarkan lagi dan menjadi hoax. Bisa-bisa kami, perempuan Kabupaten Ende, tidak ada yang melamar gara-gara disebut belis-nya mahal selangit.

Perpaduan Agama dan Budaya


Perkawinan di Indonesia tidak terlepas dari dua lingkup utama yaitu agama dan budaya (yang ketiga adalah peran pemerintah dalam pencatatan sipil). Perpaduan agama dan budaya dalam perkawinan ini berbeda-beda di setiap wilayah di Indonesia. Jangankan Indonesia, di Kabupaten Ende pun demikian adanya, tergantung asal suku calon pengantin perempuannya. Suku Ende atau Suku Lio. Karena saya berasal dari Suku Ende, mengikuti garis keturunan almarhum Bapa (we are patrilineal), maka saya pasti tahu tentang perkawinan adat Suku Ende. Yang namanya adat memang berat, tapi yang perlu diingat adalah kompromi dan kesepakatan kedua belah pihak. Kalau sama-sama ingin menjalankan syariat dan agar si laki-laki dan perempuan tidak melakukan hal-hal di luar aturan, segerakan perkawinan mereka dengan adat yang disertakan tapi tidak memberatkan.

Suku Ende


Suku Ende, terutama berakar pada bagian pesisir pantai Selatan hingga Pulau Ende, terakulturasi dengan agama Islam dan budaya yang dibawa oleh para pedagang/pelaut dari Bugis dan Makassar (dulu kami menyebutnya Ujung Pandang). Sehingga jarang sekali saya mendengar kata belis dari Suku Ende, melainkan mendhi belanja. Akan tetapi kata belis memang sulit dilepaskan rekatannya dari perkawinan.

Pola Timbal Balik dalam Adat Perkawinan Suku Ende


Menurut analisa saya, tidak seratus persen benar bila orang-orang berkata: belis sama dengan menjual anak perempuan kepada laki-laki yang meminangnya. Karena, berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi terhadap urusan perkawinan ini, saya paham betul bahwa selalu ada pola timbal balik dari semua tahap menuju perkawinan. Paling akhir, saya mengamati dan mempelajari pola timbal balik dari perkawinan keponakan laki-laki yaitu Angga dengan seorang perempuan bernama Titin, dari Suku Ende. Keduanya tidak pacaran melainkan memilih melewati/melalui proses ta'aruf

1. Timbal Balik Saat Nai Ono dan Buku Pelulu

Awal mula dari perkawinan Angga dan Titin adalah ta'aruf yang dilanjutkan dengan kunjungan awal keluarga laki-laki ke rumah keluarga perempuan yang disebut temba rasa. Tahap berikut adalah nai ono dan buku peluluNai ono merupakan kegiatan maso minta (masuk minta) atau lamaran. Kegiatan nai ono ini biasanya dibarengi dengan buku pelulu. Buku pelulu (sekatu uwi jawa) juga disebut mendi bha raka merupakan proses pihak laki-laki yang diwakili mayoritas oleh kaum perempuan mengantarkan barang-barang berupa cincin, dulang utama (waktu itu kami mengisi dulang utama dengan nasi tumpeng serta lauk-pauknya), uang jajan dari calon mertua pada calon anak mantu perempuan itu, hingga aneka kue-kue dan buah (yang disumbangkan oleh keluarga pihak laki-laki ini saat berkumpul). Pada buku pelulu Angga dan Titin, selain uang jajan dari calon mertua pada calon anak mantu, kakak saya Abang Nanu dan ipar saya Mbak Wati, juga memberikan sejumlah hadiah lain kepada Titin seperti sarung, baju, daleman, alas kaki, dan lain sebagainya. Dua pick up penuh dan bertumpuk dengan aneka barang hantaran buku pelulu.

Sebagian hantaran saat buku pelulu, Desember 2018. 

Si cantik, yang dibikin sama Mbak In, kakaknya Angga. 

Kakak Nani, memasang cincin hadiah dari Abang Nanu dan Mbak Wati untuk Titin. 

Sebagian kecil cucu Pua Ndawa dan Pua Djombu.

Lalu di mana pola timbal baliknya?

Dalam adat Suku Ende perkara perkawinan ini, setelah pihak keluarga calon pengantin laki-laki mengantarkan buku pelulu seperti yang sudah saya tulis di atas, maka keluarga calon pengantin perempuan akan melakukan bazhe duza/dhuza atau balik dulang atau mengembalikan dulang-dulang yang diantar sebelumnya oleh pihak keluarga laki-laki, tentu bukan dulang kosong tetapi harus ada isinya. Bazhe duza biasanya dilakukan beberapa hari setelah buku pelulu sesuai kesepakatan kedua belah pihak, agar pihak keluarga calon pengantin laki-laki juga bersiap-siap menjamu tamu. Dalam bazhe duza, jumlah dulang yang dibalikin harus sama dengan yang diantar. Isi dulangnya boleh berbeda dari yang diantar oleh pihak keluarga calon pengantin laki-laki, boleh sama, dan umumnya terdiri atas aneka kue dan buah-buahan. Inilah pola timbal balik yang saya maksudkan.

Baca Juga: Es Gula Moke

Jadi, pihak keluarga calon pengantin perempuan tidak semata-mata menerima seratus persen hantaran dari pihak keluarga calon pengantin laki-laki. Ada timbal baliknya. Pola timbal balik ini masih ada sampai pada saat setelah perkawinan berlangsung.

2. Mendhi Belanja, Bukan Belis

Meskipun namanya mendhi belanja atau mengantar uang belanja, bukan belis, namun tetap saja masyarakat Suku Ende menyebutnya belis. Karena, apa-apa yang diantar saat mendhi belanja ini umumnya sama dengan hantaran belis. Apa saja kah yang diantar saat mendhi belanja? Ini dia, antara lain:

a. Uang belanja.
b. Uang pemuda/lingkup RT.
c. Uang air susu ibu (kemarin ditolak oleh Mamanya Titin).
d. Seekor sapi.
e. Barang-barang kebutuhan perempuan.
f. Uang isi kumba isi ae nio untuk paman-paman si calon pengantin perempuan.

Totalannya bisa mencapai 100Juta, bahkan lebih. Uang belanja ya uang bumbu dan keperluan acara perkawinan nanti, uang pemuda ya untuk pemuda-pemudi setempat lingkungan si calon pengantin perempuan, uang air susu ibu semakin ke sini telah sering ditolak oleh para ibu, sapi untuk keperluan konsumsi acara perkawinan, barang-barang kebutuhan perempuan dari A sampai Z, isi kumba isi ae nio

3. Isi Kumba Isi Ae Nio

Menarik sekali membahas ini. Karena pola timbal balik juga terjadi di sini. Pihak keluarga calon pengantin laki-laki memang juga mengantar sejumlah uang untuk isi kumba isi ae nio saat mendhi belanja, tapi jangan salah, sebenarnya itu bakal dibalikin, kadang jauh lebih besar jumlahnya, oleh para Ka'e Embu. Ka'e embu adalah om/paman dari pengantin perempuan baik dari pihak Bapak maupun pihak Ibu. Jadi, setelah perkawinan berlangsung, pihak ka'e embu ini wajib mengantarkan isi kumba isi ae nio ke rumah pengantin laki-laki. Isi kumba ditanggung oleh paman dari pihak Ibu sedangkan isi ae nio ditanggung oleh paman dari pihak Bapak si pengantin perempuan.

Isi kumba biasanya berupa perlengkapan untuk pengantin perempuan, sedangkan isi ae nio berupa perlengkapan untuk pengantin laki-laki. 

SAH!

Sebagian kecil cucu Pua Ndawa dan Pua Djombu.

Kemarin, saat setelah pernikahan Angga dan Titin, ada tiga koper (karena zaman sekarang susah mencari gentong jadi memakai koper gedeeee) yang diantar oleh pihak pengantin perempuan. Satu koper lagi untuk siapa? Untuk saudari dari Bapaknya pengantin laki-laki. Ya, dalam hal ini Kakak Nani Pharmantara yang sebelum mendhi belanja sudah mengantarkan lebih dulu jatahnya yaitu seekor sapi kepada Abang Nanu Pharmantara. Seharusnya, sebagai adik dari Abang Nanu saya juga wajib mengantar eko (ekor, hewan) tetapi karena saya belum menikah dibolehkan untuk alpa hahaha.

See ...? Semuanya memakai pola timbal-balik.

Sehingga kalau ada yang menyamaratakan belis itu mencekik dan bikin bangkrut pihak laki-laki, menurut hemat saya ... tidak ah.

Soal pola timbal balik ini masih banyak loh dalam adat Suku Ende maupun Suku Lio, seperti weta ane itu hantaranya apa, dan kalau dibalik itu apa saja barangnya, dan lain sebagainya. Nanti saya ulas ya.

Ada Bedanya


Perbedaan ini bukan dari urusan suku saja, tetapi juga dari urusan kesepakatan kedua belah pihak. Oleh karena itu kalian masih bisa membaca tulisan tentang belis yang bikin pihak laki-laki kalang-kabut memenuhinya, tapi kalian juga bisa membaca tulisan saya tentang belis/mendhi belanja yang masih terhitung masuk akal. 

Makhluk Sosial dan Keluarga


Saya selalu bilang, jika kawin nanti (apabila diijinkan oleh Allah SWT), cukup di KUA dan makan keluarga, kemudian bubar. Apa yang saya sampaikan itu ditentang oleh keluarga dan bahkan teman-teman. Saya bilang: terlalu banyak uang dihambur-hamburkan, nanti. Mereka bilang: kalau menikah (mereka tidak pakai kata kawin karena mereka bukan orang Hukum, halah, hahaha) nanti yang memikirkan ini itu bukan kau, tapi keluarga, termasuk kami!

Ah, manusia adalah makhluk sosial yang mau tidak mau memang harus hidup bersama manusia lainnya dalam suka dan duka. 

 Rempongnya memakai sarung tenun ikat, hahaha.

Ihiiirrr ... 

Abang Nanu, Kakak Nani, Angga dan Titin, saya, Babe Didi.

Kalau kalian membaca pos 5 Yang Unik Dari Ende (Bagian 2), kalian pasti tahu soal minu ae petu. Pahami soal minu ae petu, kalian akan paham bagaimana cara pemenuhan belis atau keperluan mendhi belanja, selain dari tabungan pribadi. Karena kita, manusia, adalah makhluk sosial dan mempunyai keluarga yang tidak akan tinggal diam dalam urusan-urusan besar keluarga lainnya. Mau bilang: tidak perlu? Maka kita bakal melanggar adat-istiadat! Hahaha. Sumpah, meskipun hidup di zaman moderen dan di kota, saya tidak mau disebut melanggar atau meninggalkan adat. Karena saya, berakar dari dua adat yaitu adat Suku Ende (Bapa) dan adat Suku Lio (Mamatua).


Demikianlah pola timbal balik, pos yang sudah saya rencanakan jauh-jauh hari, tapi tentu harus melengkapi data sebelum berani mempublikasikannya. Intinya adalah belis/mendhi belanja itu adalah adat yang wajib dipenuhi, tetapi tidak boleh memberatkan, agar perkawinan dapat disegerakan. Oleh karena itu kesepakatan kedua belah pihak sangat diperlukan untuk mencapai mufakat sebelum hari perkawinan tiba. 

Baca Juga: Arekune

Bagaimana dengan daerah kalian, kawan? Yuk, share ...



Cheers.

5 Komoditas TSF


Berbicara tentang Triwarna Soccer Festival memang tidak ada habisnya. Selalu ada cerita, selalu ada bahan bekal pos blog. Boleh saya bilang ini tempat berburu dengan konten terkaya. Kali ini saya menulis tentang komoditas andalan yang rajin wara-wiri di sekitar Stadion Marilonga tempat event ini berlangsung. Komoditas yang dijual baik oleh para papa lele (pedagang kaki lima), pedagang asongan, maupun UMKM. Tapi sebelumnya, mari kita simak apa itu komoditas?

Baca Juga: 5 Jawara Mural

Menurut Wikipedia, komoditas adalah sesuatu benda nyata yang relatif mudah diperdagangkan, dapat diserahkan secara fisik, dapat disimpan untuk suatu jangka waktu tertentu dan dapat dipertukarkan dengan produk lainnya dengan jenis yang sama, yang biasanya dapat dibeli atau dijual oleh investor melalui bursa berjangka. Secara lebih umum, komoditas adalah suatu produk yang diperdagangkan, termasuk valuta asing, instrumen keuangan dan indeks.

Oleh karena itu, tidak salah jika setiap kali kata komoditas melintas di kepala saya, yang terbayang adalah hasil bumi (pertanian/perkebunan), hasil laut, dan hasil peternakan. Dan, tentu saja, sesuai judul pos ini, ada lima komoditas yang paling rajin wara-wiri di sekitar Stadion Marilonga pada hari-hari TSF berlangsung. Apa sajakah komoditas itu?

Cekidot!

1. Kopi


Kopi adalah komoditas dari hasil bumi yang paling utama dibutuhkan oleh orang-orang baik Panitia TSF, pengunjung pameran, maupun penonton pertandingan sepak bola. Jadi yang namanya kopi ini tidak pernah kehabisan stok. Thika Pharmantara yang tidak biasa ngopi pun akhirnya doyan.


Penyajian kopi berbeda-beda, tergantung siapa penjualnya. Apabila penjualnya pedagang papa lele, maka kopi disajikan di gelas kaca, tapi pembeli dapat meminta mengganti gelas kaca dengan gelas plastik (lagi-lagi gelas plastik) untuk dibawa alias tidak minum di tempat. Apabila penjualnya dari Komunitas Kopi Sokoria atau Komunitas RMC Detusoko maka mereka menyajikan kopi menggunakan gelas kertas lengkap dengan tutupannya. Sama juga dengan gelas dari brand TOP (Kopi TOP) yang umumnya menggunakan gelas kertas (panitia dapat gratisan ini setiap harinya, hahaha).

Selain kopi yang telah diseduh, ada pula kopi kemasan yang siap dibeli (sudah dalam bentuk bubuk). Komunitas Kopi Sokoria dan Komunitas RMC Detusoko menyediakannya. Berjenis umumnya Arabika dengan macam-macam merek lokal. Tapi jangan salah, merek lokal ini sudah sampai ke daerah lain di Indonesia bahkan luar negeri. Menariknya, di tenda pameran Komunitas Kopi Sokoria, pengunjung bisa turut menumbuk kopi cara manual, serta penjaga tendanya pada setiap Malam Minggu mengenakan pakaian adat Ende.

2. Jagung


Siapa yang tidak suka jagung? Di TSF jagung merupakan komoditas yang turut mewarnai proses penambalan perut hehe. Ada dua macam olahan jagung yaitu jagung rebus dan jagung bunga atau disebut brondong. Umumnya jagung rebus yang dijual itu kami sebut jagung manis. Karena rasanya maniiis banget! Namun, saya belum melihat penjual jagung rebus selama ini.


Seorang pedagang asongan dan keranjang dagangannya.

Entah berapa banyak kilogram jagung yang terjual setiap harinya. Yang jelas, tiada hari tanpa jagung baik rebus maupun brondong dan laris manis!

3. Telur Rebus


A-ha. Ini dia yang paling saya cari kalau lagi pengen makan Pop Mie. Sedap, tahu, Pop Mie ditambah telur rebus. Jadi, salah satu pala lele langganan saya itu hafal betul permintaan saya dari setiap event. Iya, kan kami nge-date terus dari El Tari Memorial Cup, EGDMC, sampai TSF ini. Makanya dia khusus siapkan Pop Mie dan telur rebus serta mencari saya untuk ngasih tahu kalau kesukaan saya itu sekarang ready stock di lapaknya.


Suatu kali dia bilang begini: Pop Mie telur tersedia, Ibu. Saya balas: Dangdut mie ada? Dia tergelak sambil geleng-geleng kepala.

4. Keripik


Di TSF keripik termasuk yang paling dicari. Orang Ende bilang: keripik enak untuk Oma Ami. Dan dua komoditas kripik utama yaitu keripik pisang dan keripik ubi/singkong. Khusus keripik ubi/singkong ada varian rasa. Balado? Ada! Keju? Ada juga dooonk. Eh, saya belum sempat memotret keripik. Nanti ya hahaha.

5. Kacang Ijo


Satu gelas (ya, plastik lagi) seharga lima ribu. Siapa sih yang tidak mau? Saya? Pasti mau lah! Tapi anehnya saya lebih suka kacang ijo yang isiannya lebih banyak mutiara ketimbang si kacang haha. Daaaan saya suka meminta es batu kepada penjualnya meskipun sedang hujan.


Ah sedapnya.

Baca Juga: 5 Mural Favorit

Berbicara tentang TSF memang tidak ada matinya! Selalu ada cerita, hehehe. Dan harapan saya, kalian tidak bosan membaca pos-pos di sini. Siapa tahu terhibur. Bahwa di kota kecil nun jauh di Timur, selalul ada hal-hal yang menarik untuk diketahui *halaaah* haha.

Oia, ada satu foto yang pengen saya pos juga kali ini. Ini fotonya waktu saya secara sengaja memotret Kakak Rikyn Radja yang sedang mengumumkan laga berikutnya serta aturan-aturan yang wajib diketahui oleh para supporter maupun penonton. Yang tidak disengaja adalah KILAT SAMBAR POHON KENARI yang muncul di jauh sana:


Momen yang pas, tapi tidak disengaja :D hehe.

Selamat mempersiapkan akhir minggu ya, kawan. Semoga apa yang kita lakukan setiap hari selalu bermanfaat.


Cheers.

TSF ‘Story


Saya pernah menulis tentang para pejuang ekonomi di pos berjudul Pejuang Ekonomi di EGDMC. Tentang sebuah event olahraga tahunan oleh organisasi Dokar (dosen dan karyawan) Universitas Flores yaitu Ema Gadi Djou Memorial Cup yang secara tidak langsung telah turut membantu para pejuang ekonomi. Para pejuang ekonomi yang saya maksudkan di sini adalah para pedagang yang menjual minuman dan makanan seperti kopi, teh, brondong, jagung rebus, telur rebus, aneka jajanan, hingga nasi limaribuan. Membaca pos Facebook Iskandar Awang Usman tentang event Triwarna Soccer Festival (TSF) membikin saya menyegerakan menulis ini. Karena, saya memang sudah merencanakan untuk menulis tentang kisah lain dari Triwarna Soccer Festival dalam TSF's Story.

Baca Juga: Es Gula Moke

Kutipan pos FB Abang Iskandar adalah sebagai berikut:


Pendapat blogger yang satu ini saya acungi jempol. Kami sama-sama melihat TSF sebagai suatu momen yang menggairahkan dan menggeliatkan, salah satunya, dunia perekonomian masyarakat Kabupaten Ende. Saya ingat, hari pertama TSF, saya dan Abang Iskandar sama-sama berkelana di tenda-tenda pameran berburu bahan bekal pos blog. Kalian juga bisa membaca salah satunya pada pos berjudul Be Art ini.

Triwarna Soccer Festival


Kembali menyegarkan ingatan kalian bahwa TSF merupakan pesta masyarakat Kabupaten Ende yang menggelar tiga mata acara sekaligus yaitu:


1. Pertandingan sepak bola yang memperebutkan Bupati Cup.
2. Pameran dengan tema Bego Ga'i Night.
3. Lomba Mural.

Pertandingan sepak bola dan pameran masih berlangsung dan akan sama-sama berakhir pada tanggal 31 Maret 2019, sedangkan Lomba Mural sudah kelar sejak tanggal 11 Maret 2019 kemarin dengan hadiah yang akan diterima saat malam final pertandingan sepak bola. Tentang para pemenang Lomba Mural ini bisa kalian baca di pos 5 Jawara Mural

Betul seperti yang ditulis Abang Iskandar bahwa TSF benar-benar telah mampu menggerakkan semua sektor, mulai dari sektor pertanian, perkebunan, peternakan, usaha kecil dan mikro, serta semua sektor jasa usaha lainnya yang mendapat imbasnya (positif). Kalian tentu bertanya-tanya, memangnya betul semua sektor itu tergerakkan hanya dari sebuah event TSF? Inilah yang akan saya bahas kali ini.

UMKM, Papa Lele, dan Pedagang Asongan


Pada dasarnya event pertandingan sepak bola apapun; baik Ema Gadi Djou Memorial Cup, El Tari Memorial Cup, Bupati Cup, Suratin Cup, dan lain-lainnya yang diselenggarakan di Stadion Marilonga membawa dampak positif kepada para pejuang ekonomi seperti para papa lele (pedagang kaki lima) dan pedagang asongan. Papa lele yang lapaknya berderet rapi di depan Stadion Marilonga merupakan pemandangan khas setiap kali event pertandingan sepak bola digelar. Pedagang asongan yang diijinkan memasuki Stadion Marilonga kala pertandingan berlangsung, atas ijin dan mendapat ID Card dari pantia, pun bukan hal yang baru. Umumnya mereka adalah masyarakat yang berdomisili di sekitar Stadion Marilonga yang mempunyai kios/warung juga di sekitar Stadion Marilonga lantas membuka lapak, dan/atau masyarakat yang dadakan berjualan karena melihat peluang mengumpulkan tambahan Rupiah.

Ini bukan brondong loh, tapi SORGUM! Dari Komunitas RMC Detusoko.

Pada event TSF, tidak hanya papa lele dan pedagang asongan saja yang terlihat di Stadion Marilonga. Dengan adanya Pameran bertema Bego Ga'i Night, panitia telah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para pelaku usaha baik usaha kecil maupun mikro untuk berpartisipasi, melalui pendaftaran secara gratis. Tenda-tenda pameran ini diisi oleh para pelaku usaha kecil dan mikro serta komunitas. Jadi, apabila kalian pergi ke Stadion Marilonga, di bagian depannya, parkiran, kalian akan melihat tenda-tenda pameran berderet rapi, berhadapan dengan lapak-lapak papa lele yang juga berderet rapi. Diantara mereka adalah area terbuka tempat arus manusia, pengunjung maupun penonton, hilir-mudik.

Tim Mural sedang ngopi di depan tenda pameran Komunitas Kopi Sokoria.

Kalian bisa melihat pengunjung menikmati kopi dari tenda pameran Komunitas Kopi Sokoria, pun juga bisa melihat pengunjung memesan kopi dari para pedagang papa lele. Kalian bisa melihat pengunjung memesan gorengan dari salah satu tenda pameran, pun juga bisa melihat pengunjung berdiri di depan lapak papa lele untuk membeli sebotol air mineral atau sebutir telur rebus. Kalian bisa melihat penonton pertandindang sepak bola yang membeli sekantong brondong di lapak papa lele, pun bisa melihat pedagang asongan yang tertawa bahagia karena sekali masuk ke dalam stadion dagangannya ludes dibeli para penonton.

Rejeki tidak akan tertukar. Itulah yang saya perhatikan selama TSF berlangsung.

Pengusaha Jasa


Ada banyak pengusaha jasa yang meraih keuntungan dari TSF; jasa transportasi, jasa sablon, jasa parkir, jasa ini itu. Semuanya memperoleh dampak (positif) dari satu event TSF.

Kita mulai dari pengusaha jasa transportasi. Kabupaten Ende merupakan kabupaten dengan kecamatan-kecamatan yang letaknya tidak hanya di dalam Ibu Kota yaitu Kota Ende saja, tetapi juga kecamatan-kecamatan di luar Ibu Kota. Logisnya, jangankan luar kota, yang di dalam kota saja butuh jasa transportasi untuk mencapai Stadion Marilonga. Jalan kaki sejauh lima sampai delapan kilometer memang bisa dilakukan, tapi begitu sampai di Stadion Marilonga, klub andalan kecamatan mereka sudah kelar bertanding. Haha. Bayangkan saja jarak dari Moni (Kecamatan Kelimutu) ke Kota Ende saja bisa membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam. Oleh karena itu transportasi merupakan jasa yang sangat dibutuhkan; ojek, angkot, mini bis, bis, sampai truk kayu yang dimodifikasi dengan bangku-bangku untuk penumpang manusia. 

Baca Juga: Lomba Mural Lagi

Selain transportasi, pengusaha jasa lainnya adalah jasa sablon. Pengusaha jasa sablon ini sudah mulai bergerak bahkan sebelum TSF dimulai. Mereka menerima pesanan sablon kostum pemain, kostum suporter, kostum official, dan lain sebagainya. Coba kalian bayangkan, ada dua puluh satu kecamatan yang artinya ada dua puluh satu tim! Teman saya dari #EndeBisa yaitu Ampape Sablon bahkan sering mempos di FB tentang pesanan-pesanan kaos menjelang dan bahkan saat TSF berlangsung.

Bagaimana dengan jasa parkir? Panitia TSF memang menyediakan tempat parkir khusus yang dijaga oleh aparat Dishub, tetapi masih banyak pula masyarakat yang memilih parkir-cepat di seberang jalan, di depan rumah-rumah warga. Maka jasa parkir yang ini jelas menguntungkan warga meskipun tanpa karcis tapi tetap laris karena kemudahannya memarkir dan mengeluarkan sepeda motor. Saya salah seorang panitia yang pada suatu malam memilih jasa parkir warga ini.

Nah, kalau jasa yang berikut ini adalah jasa yang berkaitan dengan kreativitas. Al dari Be Art memang menjual gelang tenun ikat (barang) pada tenda pamerannya. Tapi jangan salah, Al juga menerima jasa membikin nama pada gelang tersebut. By request. Ini keren kan, jasa yang ditawarkan Al ini laris-manis. Banyak yang memesan, custom, gelang tenun ikat dibordir nama mereka atau nama pasangan mereka atau nama klub sepak bola favorit mereka.

Gelang tenun ikat dari Be Art.

Sayangnya, ada peluang usaha jasa yang terlewatkan oleh masyarakat. Hari-hari terakhir ini Kota Ende diguyur hujan (dan angin kencang). Saya belum melihat ada yang menawarkan jasa payung dan jas hujan. Hehe. Hujan dan angin kencang ini sering merobohkan beberapa tenda pameran, tetapi Seksi Perlengkapan dan Seksi Kelistrikan dengan sigap memperbaikinya. Tentu dibantu oleh anggota panitia lainnya.

Sektor Pertanian/Perkebunan dan Sektor Peternakan


Apakah sektor-sektor ini tergerakkan? Ya, kawan. Sangat. Sektor pertanian/perkebunan, misalnya, kalian bisa melihat para papa lele yang menjual buah-buahan seperti ata nona (lagi musim dan manisnya aduhai!) serta yang menjual kopi. Pada Komunitas RMC Detusoko kalian juga bisa melihat ragam hasil bumi yang dipamerkan dan dijual seperti sorgum dan olahannya, kripik ubi, nanas kering, hingga kacang-kacangan. Tapi, apabila kita mundur ke belakang, maka kita akan menemukan bahwa sektor-sektor ini jelas tergerakkan sejak semula jadi.

Kok bisa, Teh?

Pertama, kalian sudah tahu kan bahwa banyak pedagang papa lele yang berjualan nasi limaribuan, kacang hijau dan es buah dalan cup plastik (sedih ya, plastik lagi), hingga brondong. Mari kita lihat perhitungan ekonominya:


Itu baru satu pedagang papa lele yang saya tanyai. Belum yang lainnya; baik pedagang papa lele, pedagang asongan, maupun pengusaha kecil dan mikro. Perbedaan yang sangat signifikan antara hari biasa dan hari-hari TSF. Dari situ, kalian juga pasti bisa menghitung bahan baku yang dibutuhkan bukan? Mulai dari beras, sayur-mayur, ikan/daging, telur, jagung, kacang hijau, buah-buahan, kopi, gula, dan lain sebagainya. Meningkatnya permintaan 'pasar' dari event TSF sebagai konsumen, menyebabkan meningkat pula pembelanjaan yang dilakukan oleh produsen.

Ma Otu, salah seorang tetangga saya yang turut berjualan, dadakan, di depan Stadion Marilonga, mengaku TSF telah turut membantu perekonomian keluarganya. Berjualan pada event TSF terutama saat klub-klub dari luar kota berlaga, membikin nasi limaribuannya laris-manis terjual dalam sekali angkot menurunkan penumpang luar kota! Astaga! Oleh karena itu, untuk sementara ia memilih berjualan di depan Stadion Marilonga saat TSF dan berhenti membantu mengelola kantin di Kampus 3 Uniflor. Nah!

Memperkenalkan Komunitas


Di Kabupaten Ende ini banyak sekali komunitas. Ada komunitas yang sudah sangat dikenal, ada pula yang masih baru. Beberapa komunitas yang turut meramaikan tenda-tenda pameran TSF antara lain KaFE yaitu komunitas fotografer Ende, Komunitas Literasi Milenial FTI, Komunitas RMC Detusoko, Komunitas Kopi Sokoria, Komunitas Be Art, Komunitas Rumah Baca Suka Cita, dan lain sebagainya. Saya sendiri, misalnya, melalui TSF jadi tahu ada Komunitas Kopi Sokoria dan Komunitas Rumah Baca Suka Cita.






Awesome!

Sarana Bermain dan Belajar Para Bocah


TSF tidak saja menjadi daya tarik orang dewasa, para bocah pun demikian. Bukan, bukan saja para bocah yang merupakan anak-anak dari para pengisi tenda pameran maupun anak-anak papa lele dan pedagang asongan. Ini adalah para bocah pengunjung yang secara sengaja memang diajak orangtuanya untuk turut menikmati euforia TSF terkhusus di sebuah tenda pameran milik Komunitas Ruman Baca Suka Cita. Rumah Baca ini bahkan menempati dua tenda pameran; menyediakan buku-buku untuk dibaca di tempat oleh para bocah yang berkunjung, pun menyediakan kertas-kertas bergambar yang siap diwarnai.



Berbahagialah kalian, para bocah! Hehe. Kalian jadi punya sarana bermain dan belajar. Bahkan Rumah Baca Suka Cita juga menggelar perlombaan mewarnai dengan peserta yang sangat banyak. Meskipun pernah ditunda karena cuaca yang sangat buruk, perlombaan ini tetap digelar pun di tengah cuaca buruk, tetapi dipindah lokasinya ke Kantor PDAM yang terletak di samping Stadion Marilonga.

Baca Juga: Arekune

Luar biasa. Menunduk hormat untuk para pengelola Rumah Baca Suka Cita dan panitia TSF Seksi Pameran.

Hiburan


Tidak bisa dipungkiri TSF adalah hiburan untuk masyarakat Ende. Karena pada malam minggu diselenggarakan panggung hiburan yang menghadirkan musisi-musisi lokal. Dua malam minggu yang lalu, panggung mini di depan Stadion Marilonga, menampilkan sekelompok musisi asal Moni (Kecamatan Kelimutu) yang membawakan lagu-lagu bernuansa reggae. A-yeee! Ramai sangat! Penonton yang usai menonton pertandingan sepak bola pun berjubel di depan panggung.

Bagi saya, hiburan lainnya adalah cuci mata hehehe. Senang sekali begitu melihat orang-orang hilir-mudik, kayak menonton fashion show. Ini memang pertandingan sepak bola, tapi penontonnya harus modis doooonk.

Yang Terlewatkan


Dari apa yang sudah saya ulas panjang-lebar di atas, kalian jadi paham bahwa apa yang dipos Abang Iskandar di FB-nya itu memang benar. TSF adalah pesta masyarakat Kabupaten Ende! Tapi, selain yang betul-betul tertangkap mata, hasil mengamati, serta wawancara, ada hal-hal yang terlewatkan. Masih, dari lini ekonomi. Yang pertama adalah supporter.


Suppoter cilik yang gembira karena tim andalannya menang.

Supporter tentu turut meningkatkan perekonomian dengan memesan kaos supporter kan. Tapi perlu kalian ketahui bahwa wajah dan, kadang, tubuh yang di-cat itu membikin para pemilik toko cat tersenyum senang hahaha. Belum lagi tenore (alat drumband) yang pasti disewa. Amboi ... betul-betul semua lini lah ini TSF membawa dampak positif.

Apresiasi


Saya, pribadi, sangat mengapresiasi Triwarna Soccer Festival. Hanya dari satu event, begitu banyak lini yang merasakan imbasnya, baik langsung maupun tidak langsung. Saya sangat mengapresiasi semua anggota panitia yang betul-betul memerhatikan masalah sampah. Sampah di dalam Stadion Marilonga maupun sampah di luar Stadion Marilonga. Seksi Perlengkapan sigap menyediakan karung-karung sampah yang setiap pagi langsung diangkut ke tempang pembuangan sampah. Sampah yang bisa dibakar, pasti langsung dibakar. Jika ada yang protes: ah, masa sih? Itu sampahnya setiap hari ada. Ya kan karena event ini masih berlangsung dan mungkin saat melintas di depan Stadion Marilonga pada saat panitia belum membersihkannya. Tapi percayalah, urusan sampah ini selalu dibahas setiap briefing malam usai pertandingan terakhir sebelum kami pulang.

Saya berharap event tahunan dengan menu utama pertandingan sepak bola ini bakal lebih baik dari tahun ke tahun, dengan menambahkan mata acara baru. Tak hanya Pameran dan Lomba Mural, dan hiburan, bisa pula ditambah dengan Lomba Fashion Show Tenun Ikat, atau lomba-lomba lainnya.

Baca Juga: Laut Belakang Sekolah

Demikianlah TSF's Story. Kisah yang luar biasa dari Triwarna Soccer Festival. Kami, masyarakat Ende bangga punya event sekeren ini. Karena ... Ende jadi lebih ramai! Hehe.

Semangat Senin, kawan, dan semoga hari-hari kalian menyenangkan.



Cheers.

5 Jawara Mural


Nampaknya saya masih akan terus menulis tentang event keren di Kabupaten Ende yaitu Triwarna Soccer Festival yang punya tiga mata acara yaitu event utama Bupati Cup, Pameran dengan tema Bego Ga'i Night, dan Lomba Mural. Sebagai anggota Tim Lomba Mural, saya tentu fokus pada lomba yang satu ini, yang telah berakhir tanggal 11 Maret 2019 kemarin (penambahan waktu satu hari). Dan kali ini ijinkan saya memamerkan lima jawara mural dari Lomba Mural Triwarna Soccer Festival.

Baca Juga: 5 Mural Favorit

Lima jawara mural ini murni keputusan juri yang mutlak alias tidak dapat diganggu-gugat; yang telah disetujui peserta melalui surat pernyataan. Saya menyaksikan sendiri betapa dewan juri harus bekerja keras untuk bisa menghasilkan keputusan tersebut. Awalnya hanya empat jawara yang ditentukan oleh panitia Triwarna Soccer Festival yaitu Juara I, Juara II, Juara III, dan Juara Favorit. Tetapi dewan juri yang baik hati itu kemudian memberikan satu hadiah khusus juri yaitu Juara Pilihan Juri yang hadiahnya pun dari para dewan juri. Uh wow sekali kan ya juri-juri kita ini. Mereka orang seni dan mereka tahu betapa seni sebenarnya tidak dapat diukur dengan Rupiah, tetapi mereka ingin bisa menyumbangkan rasa kagum mereka meskipun hanya untuk satu perserta.

Lomba Tanpa Biaya Pendaftaran


Saya pikir hal ini perlu kalian ketahui. Lomba Mural ini tidak dikenakan biaya pendaftaran sepeserpun oleh panitia alias gratis. Selain itu, panitia menyediakan cat dasar untuk para peserta loh yaitu masing-masing tim/peserta memperoleh cat hitam 2kg, cat putih 2kg, cat biru 1kg, cat merah 1kg, dan cat kuning 1kg. Apabila terjadi kekurangan cat, itu menjadi tanggungan peserta, serta tentunya peralatan melukis ditanggung sendiri oleh peserta. Panita juga menyediakan skafolding dua unit per tim/peserta.

Saya pikir, panitia sudah sangat baik ya hehehe. Tidak ada biaya pendaftaran, cat dasar ditanggung, menyiapkan skafolding, dan waktu lomba selama tujuh hari. Yang lebih penting, piala untuk Juara I, Juara II, Juara III, dan Juara Favorit ditiadakan. Kok itu menjadi penting? Karena, dengan meniadakan piala, panitia menawarkan biaya (bukan kompensasi tetapi apresiasi) kepada peserta yang tidak mendapat posisi juara. Dengan kata lain, semua peserta mendapat hadiah uang pembinaan meskipun uang pembinaan yang diperoleh tim/peserta yang tidak juara ini tidak sebesar yang diperoleh para juara. Dan setelah pertemuan kembali dengan para peserta, semuanya menyetujui. Ah, luar biasa.

Tema yang Unik


Berbeda dari lomba mural yang pernah diselenggarakan tahun 2014, kali ini temanya unik, menurut saya. Karena tema-tema yang ditentukan oleh Tim Lomba Mural, dibantu dewan juri, merupakan tema yang mungkin tidak terpikirkan oleh para peserta sebelumnya. Tema lebih kayak dan nyaris mengambil semua perkara dari Kabupaten Ende seperti tokoh atau pahlawan lokal, hasil bumi dan hasil laut khas Kabupaten Ende, properti adat, simbol adat, rumah adat, aktivitas harian masyarakat lokal, hingga tarian-tarian adat. Saya suka sama tema-temanya. Saat technical meeting, penarikan lot tema dan nomor bidang mural, dewan juri pun telah menjelaskan bahwa tim/peserta yang mendapat properti adat, misalnya, dapat mengeksplor seluas-luasnya hal-hal yang berkaitan dengan properti adat. Demikian kira-kira; silahkan berkreasi sebebas-bebasnya tanpa mengimbuh unsur-unsur politik dan menyinggung SARA.

Nah, saatnya sekarang saya membahas tentang para jawara Lomba Mural Triwarna Soccer Festival. Cekidoooot ...

Juara I: Sindu dan Wati


Sindu dan Wati sama-sama berarti wadah anyaman berbahan daun (daun lontar sih kebanyakan). Ini merupakan salah satu properti adat. Tema ini ditentukan oleh dewan juri dan dipilih peserta saat technical meeting (penarikan lot: tema dan bidang). Tim yang mendapat tema sindu dan wati adalah B13 Pu'u Zeze. Ini dia hasilnya:


Pergerakan tim ini memang lambat, menurut saya, tapi ternyata itu karena mereka sangat memerhatikan detail, yang menjadi salah satu unsur penilaian dewan juri. Lihat betapa detailnya mereka melukis sindu dan wati, biji kopi, sirih dan pinang, sarung tenun ikat yang dilipat dan diletakkan di atas wati, hingga bingkai motif tenun ikatnya. Juri sempat bertanya sangat lama soal pencahayaan serta memberi saran lipatan selendang bingkai yang seharusnya tidak terang pada lipatan tersebut (lebih gelap, harusnya).

Selamat ya! Kalian keren!

Juara II: Feko dan Lamba


Feko dan lamba merupakan alat musik tradisional dari Kabupaten Ende. Yang mendapat tema ini adalah Kelor Crew. Mereka betul-betul mengikuti arahan dewan juri tentang tema utama dengan unsur-unsur pendukungnya. Bisa kalian lihat pada gambar di bawah ini:


Saat presentasi, Kelor Crew menjelaskan tentang alat musik ini, termasuk tentang mengapa wajah salah seorang pemain alat musik berwarna kemerahan. Karena kebiasaan kita, kalau ada acara-acara adat, pasti minum satu sloki dua sloki moke. Ha ha ha. Orang Ende bilang: kena telak. Dari semua aliran realistik, Kelor Crew adalah tim yang paling mendekati.

Selamat, ya! Kalian keren!

Juara III: Gerugiwa


Yang satu ini sudah saya bahas di pos Teknik Airbrush. Mural tema (burung) Gerugiwa ini dibikin oleh Bimo Crew dengan Ketua Tim Anggi Mukin asal Ndona. Waktu Bimo Crew menjelaskan filosofinya, saya agak merinding. Imajinasi mereka sungguh 'liar'. Dan dalam seni, semakin 'liar' semakin uh wow hehe. Itu menurut saya. Kalau kalian tidak setuju, bodo amat!


Mural Gerugiwa ini punya begitu banyak filosofi (dari satu mural!). Nah, kalian harus membaca filosofinya di Pos Teknik Airbrush. Rugi kalau tidak membacanya hehehe. 

Selamat, ya! Kalian keren!

Juara Favorit: Sato dan Gambus


Sato dan gambus merupakan alat musik tradisional Kabupaten Ende. Konon, untuk tahu betul soal sato dan gambus, pesertanya yaitu PMI Kabupaten Sikka, berburu informasi hingga ke Desa Waturaka. Ya, mereka adalah satu-satunya tim/peserta dari luar Kabupaten Ende. Seharusnya ada satu lagi sih peserta dari Kabupaten Sikka, tapi Jenick mengundurkan diri. Ini dia hasilnya:


Keren ya. Digambarkan seorang lelaki bersarung ragi mite sedang memainkan alat musik. Dengan latar belakang Danau Kelimutu sebagai ikon wisata utama Kabupaten Ende. Menurut dewan juri, kelemahan gambar ini adalah pada pewarnaan dari si lelaki dengan warna-warna (alam) di sekitarnya. 

Selamat, ya! Kalian keren!

Juara Pilihan Juri: Rumah Adat


Di Kabupaten Ende ada banyak kampung adat yang terdiri dari rumah adat dan unsur-unsurnya. Di dalam murla karya Niporell Art ini kalian dapat melihat gambaran Kampung Adat Nggela (saya ingat betul kuburan berbentuk perahu tersebut). 


Ah, mereka membikin saya jadi pengen pergi ke Nggela lagi hehe. Saya memang selalu suka kampung adat serta simbol-simbolnya yang berfilosofi dalam.

Itu dia lima jawara mural dari Lomba Mural Triwarna Soccer Festival. Yang juara maupun belum juara, semua sama-sama hebat dan keren. Saya menunduk hormat untuk mereka semua.

Marilonga


Marilonga merupakan tema tokoh/pahlawan lokal yang diperoleh Win Art Tim. Meskipun belum juara, tapi saya suka bagaimana tim ini menggambarkan Marilonga yang sangat kami cintai itu:


Luar biasa!


Demikianlah lima jawara Lomba Mural Triwarna Soccer Festival. Melihat hasil karya mereka yang luar biasa membikin Ketua Panitia dalam acara penutupan kemarin mengatakan bahwa masih ada kesempatan untuk yang belum juara, untuk berkarya di lomba-lomba mural yang akan datang. Yipieeee! Artinya, akan ada lagi donk lomba mural. Iya sih, kan belum semua bidang di tembok pagar Stadion Marilonga terpenuhi.

Semoga.

Baca Juga: 5 Yang Cantik

Bagaimana, Himawan? Sudah terpenuhi juga rasa penasarannya kan? Hehehe. Semoga suka sama hasil karya para peserta ya. Next time saya akan ulas tentang mural-mural lain yang belum meraih juara dalam lomba kali ini. Dan, maafkan apabila belum bisa blogwalking haha. Maklum.



Cheers.

Triwarna Soccer Festival


Mumpung ada sedikit jeda waktu, boleh kan ya hari ini saya lebih giat menulis, salah satunya tentang Triwarna Soccer Festival. Ini adalah sebuah event keren yang bakal diselenggarakan di Kota Ende sebagai Ibu Kota Kabupaten Ende. Sebenarnya, apa itu Triwarna Soccer Festival? Mari, saya coba jelaskan satu-satu.

Triwarna


Triwarna. Tiga warna. Kalau kalian jeli, tanpa membaca penjelasan lebih lanjut pun pasti sudah tahu apa maksud atau makna dari Triwarna ini. Triwarna atau tiga warna merupakan ikon Kabupaten Ende yang kesohor hingga ke Riomaggiore. Kata Bupati Ende Bapak Marsel Petu, hewan komodo (dan dinosaurus) masih mungkin bisa dipindah dari satu tempat ke tempat lain tetapi Danau Kelimutu dengan tiga kawan dan tiga warna berbedanya itu, tidak mungkin dapat dipindah dari Kabupaten Ende ke ... ke Riomaggiore ... misalnya.

Baca Juga: Di SMK Tarbiyah Kami Berdoa Bersama

Betul sekali! Triwarna merupakan istilah lain dari Danau Kelimutu.

Soccer


Sepak bola. Jadi, sebenarnya di Kota Ende bakal digelar Bupati Cup, perhelatan olah raga sepak bola yang melibatkan klub sepak bola dari semua kecamatan di Kabupaten Ende. Akan tetapi dikarenakan perhelatan sepak bola tanpa embel-embel festival bakal berjalan begitu-begitu saja cenderung membosankan bagi yang kurang suka sepak bola tapi pengen merasakan keriuhannya, maka kata festival harus ditambahkan. Bukan hanya kata ... wujudkan suasana festival itu!

Festival


Selama kurang lebih sebulan, Stadion Marilonga kebanggaan kami itu bakal ramai sangat dengan bermacam kegiatan dalam embel-embel festival ini. Kegiatan itu antara lain:

1. Pameran.
2. Lomba Mural.
3. Panggung Komunitas.

Yang nomor tiga saya belum tahu nanti bakal seperti apa. Yang jelas sudah ada dalam benak saya betapa ramainya hari-hari Triwarna Soccer Festival kelak. Eh, sudah di depan mata dink! Maret!

Lalu, Apa Hubungan Saya Dengan TFS?


Universitas Flores, di bawah naungan Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) merupakan nama penyelenggara kegiatan sepak bola yang tidak perlu diragukan lagi manajemen dan personilnya. Oleh karena itu, sama halnya dengan El Tari Memorial Cup yang melibatkan semuah kabupaten se-Provinsi Nusa Tenggara Timur, Triwarna Soccer Festival pun melibatkan dua pihak sebagai panitianya yaitu Pemda Ende dan Uniflor. Ya, tebakan kalian benar, saya juga dipilih sebagai Panitia TFS bagian Lomba Mural. Horeeee akhirnya saya tidak ditempatkan di bagian Publikasi dan Dokumentasi. Yuhu sekali kaaaan. Dapat pengalaman baru.

Tim Lomba Mural


Di dalam tim Lomba Mural ini ada lima orang yang dilibatkan:

1. Violin Kerong.
2. Om Yonk (Komunitas Mural Ende).
3. Cesar Sarto.
4. Rolland.

Dan kelima adalah saya sendiri. Kami sudah selesai menyusun RAB dan sudah di-ACC untuk pembiayaan hadiah dan lain-lainnya dan bakal pertemuan lanjutan untuk pemantapan termasuk pendaftaran hehe. Duh, harus sesegera mungkin bikin pamflet. Saya malah bantuin tim Pameran bikin pamflet buat pendaftaran:


Bikinnya pakai apa, saudara-saudara? Pakai Canva, donk hehe. Terima kasih Canva, sudah sangat menolong saya selama ini.


Bagaimana Lomba Mural itu, sejauh mana persiapan, apa-apa saja yang harus kami persiapkan sebagai panitia, akan saya pos di lain kesempatan. Karena saya masih punya tugas ke Timur Pulau Flores, jadi harus bisa membagi waktu antara Tim Promosi Uniflor 2019 dengan Triwarna Soccer Festival. Hanya bisa berdoa semoga Allah SWT selalu melimpahkan kesehatan agar saya dapat menyelesaikan semua urusan/kegiatan dengan baik.

Baca Juga: Ponpes Walisanga Yang Penuh Warna

Oia, saya ganti template nih ... bagaimana pendapat kalian? Hehe.



Cheers.

5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)


Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki hal-hal unik. Keunikan ini telah ada bersama kehidupan masyarakat dan tumbuh berkembang dari zaman ke zaman. Misalnya keunikan Didong, kesenian dari Aceh yang dimulai sejak zaman Reje Linge XIII. Para seniman Didong dikenal dengan sebutan Ceh. Di dalam kesenian ini ada nilai-nilai religius, keindahan, dan kebersamaan. Peralatan yang digunakan adalah bantal dan tepukan tangan pemainnya.

Apabila Didong dari Aceh terlalu jauh, maka di Ende ada satu kegiatan yang disebut minu ae petu (minum air panas). Minu ae petu dilakukan oleh pihak yang hendak menyelenggarakan hajatan seperti pernikahan dan khitanan. Untuk keperluan pernikahan, minu ae petu hanya dilakukan oleh pihak calon pengantin laki-laki; mengundang kaum kerabat, tetangga, teman-teman, untuk duduk menikmati air panas dan tentu menyumbang sejumlah uang kepada tuan rumah. Menyumbang sejumlah uang ini bukan tujuan utama minu ae petu tapi kebersamaan merangkul kaum kerabat untuk suatu perayaanlah yang utama. Minu ae petu pun bukan berarti tamu yang datang hanya disuguhi air panas, melainkan teh, kopi, kudapan, hingga makan besar.

Baca Juga : 5 Kelas Blogging

Setelah menulis 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 1) yang juga bisa dibaca di blog yang ini, saatnya saya menulis 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2). Dari Bagian 1, kalian tentu tahu bahwa keunikan-keunikan ini saya kumpulkan dan tulis untuk bakal sebuah buku yang entah kapan terbitnya berjudul Endelicious. Bagi saya keunikan setiap daerah wajib diketahui oleh orang lain di luar daerah tersebut. Kalian tahu, betapa senangnya saya mendengar cerita Benny Reo, seorang sahabat yang dulu pernah bertugas di Pulau Sumba, saat dia bercerita tentang podhu, budaya mencari jodoh yang supeeeeer unik. Cerita tentang podhu tidak saya peroleh saat berada di Pulau Sumba. Intinya kira-kira seperti itu; saya juga ingin seperti itu, bisa menceritakan hal-hal unik dari daerah saya sendiri.

Sebelumnya, mari kita lihat apa saja 5 yang unik dari Ende bagian pertama:

1. Nama Unik.
2. Ende si 'Anak' Tengah. 
3. Dua Suku, Dua Bahasa.
4. Kami Penyingkat Kata.
5. Lima Menit Itu Memang Ada.

Melanjutkan keunikan Ende berikutnya ... cekidot!

1. Darat, Laut, Udara

Kabupaten Ende yang, dalam skala masyarakat di Pulau Kalimantan - misalnya disebut kecil, punya moda transportasi yang lengkap. Transportasi darat, transportasi laut, dan transportasi udara. Bahkan tahun 2003-an, Mami Yovita Atmadjaja sering saya godain karena waktu itu Banyuwangi belum punya bandara. Bandara Blimbingsari di Banyuwangi baru dibuka 29 Desember 2010. Moda transportasi darat didukung oleh jalan trans-Flores dari Labuan Bajo sampai Flores Timur yang tentu melintasi Ende sebagai 'anak' tengah. Moda transportasi laut didukung oleh Pelabuhan Bung Karno, Pelabuhan Ippi (I dan II), pelabuhan-pelabuhan lain yang mendukung bisnis dan perekonomian, serta pelabuhan rakyat. Moda transportasi udara didukung oleh Bandara H. Hasan Aroeboesman. 

Ini unik. Kabupaten sekecil ini punya prasarana transportasi darat, laut, dan udara. Komplit!

2. Gunung dan Pantai yang Tetanggaan

Bu Jokoooo ada termos es? Qiqiqi. Menulis tetanggan, saya jadi ingat iklan sirup penurun panas anak zaman baheula itu. Di Kabupaten Ende, gunung dan pantai itu tetanggaan. Terkhusus di Kota Ende, kalian bisa melihat Gunung Meja, Gunung Ia, berada di daerah tanjung, sementara di Teluk Ende kalian bisa melihat perahu-perahu nelayan berbaris. Kalau orang bilang asam di gunung garam di laut bertemu dalam satu belanga, maka di Ende yang namanya asam dan garam itu kalau mau ketemu ya ketemu saja. Haha!

Baca Juga : 5 Hasil Daur Ulang

3. Dua Lokasi Untuk Petani Batu

Di Ende ada dua lokasi petani batu yang sangat terkenal. Yang pertama adalah Pantai Penggajawa dimana para petani batu mengumpulkan batu-batu laut. Yang kedua adalah Samba dimana para petani batu menambang dan mengumpulkan batu-batu gunung. Dulu saya pernah bikin filem dokumenter tentang petani batu Samba, tapi sudah lupa disimpan di mana gegara laptop dan hard disk eror.

4. Kaya Corak Tenun Ikat

Kalian pasti tahu bahwa di Indonesia ini ada dua kain hasil kerajinan tangan yang bisa dipakai bolak-balik yaitu songket dan tenun ikat dari NTT. CMIIW alias correct me if I'm wrong. Nah, di Kabupaten Ende sendiri tenun ikat bukanlah sekadar hasil kebudayaan yang dipakai oleh laki-laki dan perempuan atau cinderamata yang diburu wisatawan. Tenun ikat merupakan lambang kebanggaan pemakainya berdasarkan corak, jenis, dan cara pembuatan. Saya pernah mengikuti lomba video dokumenter yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Video itu saya beri judul: Tenun Ikat, Karya Jenius dari Ende. Videonya masih ada tapi sayang belum saya unggah ke Youtube. Waktu itu masih pakai Ulead versi lama sehingga kualitas video tidak segarang kalau ngedit pakai Sony Movie Studio Planitum.

Kalian akan tahu bahwa tenun ikat berjenis Kembo itu harganya paling mahal karena proses pembuatannya dan bahan yang digunakan, jika dibanding tenun ikat berjenis Mangga atau Kelimara.

5. No Woman No Cry, No Jambret No Copet

Haha. Istilah ini sebenarnya berasal dari sahabat saya Ilham Himawan, sahabat yangmana kalau nongkrong kita punya aturan: tidak boleh berbicara tentang cerita yang sama. Oke, apa maksud poin nomor lima ini? Maksudnya adalah di Ende sulit ditemui adanya jambret dan copet. Kalaupun ada, sekali dua terjadi fenomena itu, langsung diciduk oleh polisi. Karena Ende ini kecil, kawan. Saya pernah kecurian laptop sekitar tahun 2013. Tapi berkat tetangga dan kecilnya Kota Ende, empat hari kemudian kami menyambangi rumah si Tina (namanya Tina emang) dan akhirnya laptop pun kembali ke tangan saya padahal si laptop sudah di tangan pembeli.

Waktu saudara saya dari Surabaya datang ke Ende, dia terheran-heran melihat kunci sepeda motor kadang dilepas di sepeda motor tanpa kuatir. Dia takut bukan main sepeda motornya dimaling. Hehe. Kemalingan sepeda motor memang bisa terjadi tapi sepuluh jari tangan bakal berlebih untuk menghitungnya.

Masih banyak yang unik lainnya dari Ende, tapi tentu tidak di pos ini. Nantikan di pos berikutnya.

Mari, kawan. Kita eksplor keunikan daerah kita masing-masing. Karena, kadang keunikan itu tidak tercetak di buku panduan wisata. Misalnya, cungkil mahatari, suatu istilah yang ... psstt ... not now. Hehehe :)

Baca Juga : 5 Tanaman Dapur di Rumah

Yuk ke Ende.



Cheers.