Pesona Bumi Legenda Batik Nusantara


Meski pernah tenggelam, riwayat batik pun kini mulai mengeliat kembali. Perkembangan dunia busana membuat pengusaha Batik berbenah dan menyesuaikan dengan kekinian zaman. Pun demikian juga dengan Batik Pesisir. Semenjak beradab-abad lampau, batik merupakan perpaduan bukan hanya satu atau dua budaya melainkan banyak kebudayaan, pantas saja Batik bukan dikenal sebagai karya yang biasa namun bisa disebut Maha Karya Bangsa Indonesia.

Warna pesisir memiliki keunikannya tersendiri dan cenderung berani bermain warna. Jikalau Keraton Solo dan Yogyakarta memiliki tone warna cenderung gelap, pesisir justru sebaliknya sangat warna-warni terutama warna biru sedangkan untuk etnis Tionghoa berwarna merah cenderung marun. Coraknya sangat dominan dengan flora dan fauna seperti burung hong, naga, kapal, kereta kuda, bunga, pohon dan lainnya. 


Abad 18 lampau, kaum pribumi bukan hanya satu-satunya yang melakukan bisnis batik melaikan dari bangsa Eropa dan Tionghoa. Jikalau kaum perempuan peribumi cenderung menyukai corak warna yang berasal dari pengaruh Keraton Solo dan Yogyakarta, para Nyonya Eropa cenderung menyukai teduh dan pastel dengan corak dongeng putri salju atau gadis bertudung merah. Sedangkan Tioghoa sangat konsisten dengan warna merah sebagai keberuntungan. Selain mengembangkan dari bahan katun, etnis Tionghoa tertarik dengan kain berbahan sutera yang tersohor di negeri tirai bambu pada masanya.

Lockan, begitulah orang menyebut batik dari bahan sutera berbetuk sarung, selendang dan kain panjang. Perkembangan beradab silam membuat Tionghoa membuat lockan dari kain berukuran lebih kecil karena permintaan pasar yang luar biasa. 



Kini batik pesisir dikembangakan oleh Padepokan Pesisir yang didirikan oleh Haji Failasuf di Wiradesa, Kabupaten Pekalongan. Saat melakukan kunjungan, nuansa Batik sangat terasa mulai dari kereta kuda, bendera batik dan ornamen khas Jawa. Walau matahari sangat terik, namun semangat untuk mengetahui lebih dalam mengenai proses pembuatan batik itu lebih besar. Walaupun sebelumnya pernah mengunjungi proses pembuatan Lasem dan Cirebon sebagai dua kota lain penghasil batik, namun entah mengapa saya lebih senang berada di padepokan ini. 


Halaman luas dengan padepokan berada di tengah yang ramai dengan teman-teman dari Amazing Petung National Explore yang tengah beristirahat sambil menikmati makan siang. Saya pun bersantap siang kemudian tak berapa lama saya masuk ke gerbang di sisi kiri. Dan disanalah proses pembuatan batik dari awal hingga akhir dikerjakan oleh puluhan orang pekerja yang terampil. 



Panjang dan membutuhkan waktu yang lama, begitulah proses pembuatan Maha Karya ini. Namun, dapat disimpulkan menjadi 3 kegiatan penting yaitu memberikan lilin atau malam, pewarnaan dan pelepasan lilin pada kain (pelorotan). Canting seolah menjadi primadona dalam proses tahap awal. Pola-pola digambar pada kain katun polos sesuai dengan corak yang diinginkan. Biasanya kain akan diletakan pada Gawangan. Gawangan adalah tempat meletakan kain seperti layak gawang pada sepak bola, bentuknya perrsegi terbuat dari bambu. 


Setelah selesai diberikan malam, kemudian ditambahkan dengan warna-warna sesuai dengan kebutuhan. Warna-warna biasanya mengunakan bahan-bahan alami seperti orange diperoleh dari kunyit. Proses pewarnaan selesai kemudian dilanjutkan dengan pelepasan malam dari kain dengan teknik pencelupan kain kedalam air mendidih dan air dingin sekaligus. 


Setelah semuanya selesai, kemudian kain di jemur di terik matahari. Setelah kering, kain siap untuk di packing dan dipasarkan. Begitu mudah mengamati proses pembuatannya, namun sebenarnya proses ini sangat panjang. Tak heran batik tulis sangat fantastis harganya karena pembuatannya pun tidak main-main dan mengunkan seluruh hati dan pemikiran. Corak-corak yang dihasilkan pun buah dari karya yang mesti dihargai oleh siapapun. Namun, perkembangan dan tuntutan zaman, kemudian hadirlah batik printing yang disesuaikan dari batik tulis dan cap. 


Kini, Petung Kriyono pun memiliki coraknya tersendiri dan diluncurkan pada hari yang cerah tersebut oleh Bapak Asip Kholbihi, Bupati Kabupaten Pekalongan. Ragam batik ini tentunya akan memperkaya khasanah perbatikan di Kabupaten Pekalongan dan Indonesia. Petung Kriyono yang menjadi paru-paru Kabupaten Pekalongan sangat khas dengan flora dan faunanya sehingga dituangkan kedalam corak batik ini. 



Perjalanan di Kabupaten Pekalongan usai sampai disini. Namun, memori tentang Petung Kriyono dan Batik Pesisir khasnya tidak akan terlupakan begitu saja. Inilah oleh-oleh yang luar biasa dan tidak bisa diganti dengan hanya buah tangan berbentuk fisik semata. Saya bangga dengan kekayaan alam dan budayanya. Inilah cerita singkat dari Bumi Legenda Batik Nusantara, Kabupaten Pekalongan.

Menghirup Udara Petung Kriyono, Paru-Paru Tanah Jawa


Mata kantuk sirna ketika bis berhenti di Doro, sebuah Kecamatan di Kabupaten Pekalongan. Tujuan kami adalah Petung Kriyono, salah satu hutan penyangga di Pulau Jawa. Konon, Petung Kriyono tak hanya sebagai hutan saja melainkan tempat menyepi dan menemukan kedamaian. Kedamaian hakiki yang hilang pada generasi saat ini. Alam yang mempesona dihiasi keanekaragaman flora fauna cukup membersihkan hati dari Duniawi. Dan, perjalanan mencari sebuah kedamaian, kini dimulai.


Anggun Paris berbaris rapi di depan Kecamatan. Bentuknya memang tak secantik model dan iklan shampo, namun daya tahan dan kekuatan tak terkalahkan. Anggun Paris ini akan membawa kami menyusuri setiap sudut alam termasuk Curug Bajing. Anggun Paris penuh dengan besi beratapkan terpal. Suara mesin menderu, tangan saya berpegangan tiang penyanga yang terhubung dengan terpal. 

Matahari cukup kuat sinarnya, hingga saya harus memicingkan saat mulai meihat tumbuhan hijau di sisi kanan dan kiri. Jalanan aspal masih terlihat ketika jarak sudah mulai menjauh dari Doro dan memasuki kecamatan Petung Kriyono. Jika supir melintas tanpa mampir, dipastikan kami akan sampai di Dataran Tinggi Dieng yang berjarak puluhan kilometer di arah selatan. Kami hanya menjumpai hutan sebagai sumber mata pencarian masyarakat. Masyarakat mengenal bercocok tanam dari nenek moyang dari beradab-abad lampau. Tak hanya sayuran, namun kopi robusta pun sebgai salah satu yang tersohor di tanah Jawa.


“Kami senang menyambut tamu dari luar,” ujar Mas Anto, pemandu kami yang bersama-sama duduk di deratan belakang. Semenjak Petung Kriyono dikenal luas, pemuda-pemuda berlomba menawarkan jasa termasuk mendampingi tamu berkeliling destinasi unik di Petung Kriyono. Dan berkah itu pun datang kembali ketika rombongan berjumlah sekitar 70 orang menjelajah kawasan ini. Kami menyebut petualangan ini sebagai Amazing Petung National Explore 2017

Anggun Paris masih meraung-raung menaiki beberapa jalanan terjal walau belum terlalu extreme. Setelah melewati hutan pinus, kami pun sampai di pintu gerbang. Inilah Petung Kriyono dimana alam, budaya dan legenda menyatu dan tak terpisahkan.


Dua Penari meliuk-liuk mempesona puluhan pasang mata. Rempak nada sunda menjadi pembuka. Kemudian dilanjutkan dengan tarian selamat datang. Rentak tabuhan nada membuat nadi kami bergejolak dan bersemangat menjelajah beberapa destinasi wisata salah satunya Curug Sibedug. 

Selain dua penari, kami dihidangkan kopi khas Petung. Bagi penikmati kopi, dari aromanya saja sudah bisa membedakan kopi arabica atau robusta. Namun, saya membutuhkan waktu lama dan harus bertanya untuk memastikan kopi apakah ini. Setelah sampai dilidah, segala pertanyaan itu sirna, saya hanya menikmati setiap tegukan dan merasakan setiap aromanya.


Tiba-tiba di angkasa kami disambut dua benda terbang. Bukan Drone atau mahluk asing melainkan Elang Jawa yang langka. Menurut kepercayaan, Elang Jawa pantas disebut raja udara yang gagah dalam memangsa anak ayam atau hewan lainnya. Konon, dipercaya bahwa ketika elang berada diangkasa, artinya terdapat bangkai atau mangsa di bawahnya. Malang populasi terancam karena makin tergerusnya habitat asli di hutan hujan ini. Berlawanan dengan kepercayaan nenek moyang, kami percaya bahwa kemunculan dua elang ini adalah keberuntungan.Iya, kami beruntung dapat menikmati kekayaan alam seperti tempat ini. Anggun Paris memanggil, itu artinya kami harus segera melanjutkan perjalanan.


Debu dari jalan berbatuan dan aspal berhamburan. Memang atap Anggun Paris tertutup terpal namun tidak sepenuhnya melindungi kami dari debu. Setelah beberapa menit, air tejun persis di sebelah jalan terlihat jelas. Curug Sibedug berhias dengan merah putih. Airnya tak cukup deras karena kami datang pada saat musim kemarau melanda. Jarak dari pintu masuk menuju air terjun cukup dekat, tak lebih dari satu kilometer. Saya hanya masuk sampai ke tengah saja tanpa menaiki bebatuan ke arah tumpahan air terjun. Rupanya aliran air mengucur dari atas bukit bukan hanya satu melainkan dua sekaligus. Ketajuban saya bukan pada debit air maupun keindahan air terjunya, namun jarak dari jalan raya menuju ke air terjun sangatlah dekat. Jarang sekali menemukan air terjun seperti ini, beruntung sekali saya menemukannya di Petung Kriyono.



Siang mulai beradu dengan awan yang menghitam. Lagi-lagi rombongan kami diliputi keberuntungan, awan hitam dan biru saling berganti namun tidak ada satu pun air yang turun dari langit. Saya menelan ludah tanda kehausan, untung saja masih ada stok air mineral yang tadi dibagikan di Doro. Saya kembali melanjutkan perbincangan dengan Mas Anto yang sudah berada disamping. 

"Beruntung sekali hari ini tidak turun hujan, biasanya dari pagi sudah rintik-rintik," Mas Anto kembali menegaskan cuaca hari ini karena saya sempat menanyakannya. Ya saya dapat merasakan angin sepoi-sepoi dan terbukti beberapa teman mulai menahan kantuknya. Sementara itu, tak berapa lama kami telah sampai di Jembatan Sipinggit.


Kalau orang Jawa Barat memiliki Green Canyon, Petung Kriyono pun memiliki Black Canyon. Meskipun hitam, namun pesonanya tak kalah dengan Canyon-canyon lain. Bahkan, batu-batuan yang berada disekitar sungai dapat memacu adrenalin ketika melakukan rafting. Dipastikan, 2 jam tidak terasa dan ingin mengulang keseruannya. Sayang kami hanya berada disekitar jembatan Sipinggit saja, tidak melakukan rafting. Walaupun sebentar, kami dapat mengabadikan keelokan sungai dan bebatuan.


Selain rafting, sungai dimanfaatkan penduduk sebagai turbin dan mengaliri beberapa puluh rumah di desa Kayu Puring. Bayangkan jika malam tiba bisa dipastikan akan gelap tanpa adanya listrik jika tidak ada turbin pembangkit listrik ini. 

Lima menit setelah kami naik mobil, tiba-tiba saja kami berhenti. Ternyata alam memanggil kami. Di hadapan sudah terhampar sawah-sawah indah dan membentuk terasering. Letaknya persis disebelah jalan, jadi kami hanya turun dan mengeluarkan seluruh gadget yang ada.



Seorang putri turun dari kayangan. Dua sayap itu seperti terbang ketika tertiup angin. Dia melenggok mengikuti irama alam dan kemudian berjalan satu dua langkah mengerakan tangan seperti modal. Dia bukanlah putri kayangan sesungguhnya, hanya seorang penari yang menirukan pesona seorang putri kayangan. Kami membutuhkan seorang model agar bisa membuat pemandangan dalam lensa ini menjadi lebih hidup dan tidak kosong ataupun hampa.  

"Jarak ke Welo Asri hanya beberapa puluh menit saja, sudah dekat. " 

Benar kata Mas Anto, Anggun Paris ternyata sudah memasuki kawasan parkir Welo Asri. Mesin pun mati. Teman-teman yang berada di bak belakang langsung turun. Kami harus berburu dengan waktu, sebab masih ada dua destinasi lain yang harus kami datangi setelah ini. Mata saya langsung menatap jembatan bambu yang menghubungkan dua lokasi berbeda. Sontak teman-teman langsung berfoto di atas jembatan dengan tanda love di belakangnya. Seperti inilah cara kawasan Welo Asri menyambut kami, dengan cinta.



Petung Kriyono layak berjuluk Paru-Paru Tanah Jawa. Hutan alam ini ditetapkan sebagai Kawasan Hutan Tujuan Khusus (KHTK) dan satu-satunya hutan alam yang masih tersisa di pulau Jawa. Tak heran banyak satwa langka yang masih bertahan di sini, selain Elang Jawa, terdapat Owa-owa. Selain satwa, tumbuhan langka pun banyak ditemukan. Inilah laboratorium alam paling komplit yang melingkari sisi utara sabuk pengunungan Dieng. 

Setelah melawati jembatan bambu, sandal raksasa pun terlihat dengan jelas sebelum turunan ke bawah ke area sungai dan rumah pohon. Selain sungai terdapat curug kedunggede yang berada di bawah area ini. Airnya sangat jernih jika dilihat dari atas. Bahkan kadang-kadang berwarna kebiruan atau tosca. Di area sungai banyak bebatuan besar sampai kecil. Dari atas bisa melihat sungai dengan jelas.




Jika ke rumah pohon seharusnya hanya lurus saja dan melewati jembatan bambu hanya beberapa meter saja. Kemudian, pepohanan dengan ketinggian diatas dua meter akan sering kita lihat. Di pohon tertinggi itulah terdapat rumah pohon. Pantas saja disebut paru-paru, karena segala rupa bentuk pepohonan terdapat disekitar rumah pohon. Saya melihatnya seperti di Afrika karena memiliki sulur-sulur ranting yang tidak memanjang ke atas tidak seperti pohon di Indonesia yang biasanya tumbuh disetiap batang. Sungguh luar biasa saya bangga menjadi warga Jawa Tengah. 

Pemberhentian selanjutnya Curug Bajing. Konon, di kawasan ini terdapat banyak perampok yang sering menjarah semua harta warga. Hasil semua jarahan disembunyikan di balik bukit dan bersebelahan dengan air terjun. Warga pun tak dapat mengatasi perampok tersebut kemudian pindah ke desa di bawahnya. Lama-kelamaan akhirnya perampok tersebut tertangkap. Dari kejadian tersebut, tempat ini disebut sebagai Curug Bajing. Bajing diartikan sebagai perampok.



Kini, Curug Bajing tak seseram dahulu. Sebelum pintu masuk kami disambut warga yang berjualan mulai dari makanan sampai kopi khas Petung. Selanjutnya, kami dihadapkan dua pilihan antara Pohon Selfie atau Curug Bajing. Sebetulnya rasa penasaran ini ingin melihat pohon selfie setelah tadi di Welo Asri mendapati rumah pohon, namun kami diarahkan ke Curug terlebih dahulu.    

Jarak menuju curug harus ditempuh sekitar 15 menit dari pintu masuk. Kemudian untuk sampai di bawah air terjun, kami diharuskan untuk menambah sepuluh menit lagi perjalanan kebawah. Sebetulnya diposisi ini pun curug sudah terlihat dengan indah. Bahkan tempat terindah menikmati curug bukan dari jarak dekat namun jarak sedang seperti ini. Ini menurut saya yang malas menuju bawah karena pada saat pulang jalanan naik telah menanti.



Walau tak sampai ke bawah, udara sore itu cukup segar. Berbeda dengan polusi udara yang terjadi setiap sore di kota-kota besar termasuk Jakarta. Inilah surga, menikmati air terjun yang berada di perbukitan dengan pepohonan. It's perfect holiday. Andai saja saya bisa seharian disini, pastinya satu buah novel ditambah kopi hangat ataupun teh sudah menemani. Sayangnya matahari sudah mulai turun, meski sinarnya masih remang-remang.




Di Curug Bajing, banyak sekali spot untuk berfoto-foto, termasuk spot berbentuk gambar hati ataupun yang berbentuk kupu-kupu. Disamping itu, rumah diatas pohon walau tak setinggi di Welo Asri cukup memuaskan untuk berfoto ala-ala kekinian.

"Banyak sekali adat budaya yang masih kami laksanakan, salah satunya pada saat satu Suro."

Saya sudah berada di Anggun Paris dan meninggalkan Curug Bajing menuju Curug Lawe ketika salah satu pemandu menceritakan adat budaya yang masih dilaksanakan pada saat satu Suro. Kambing Kenditan dan Sedekah Telaga.

Kambing Kenditan bukanlah sembarang kambing. Kambing berwarna hitam ini memiliki garis putih yang melingkar diperutnya. Menurut keyakinan warga, kambing ini sangat spesial dan akan dipersembahkan ke bumi. Kepala kambing akan dipotong dan dikuburkan di tanah warisan para leluhur. Kemudian daging kambing akan dijadikan selamatan seluruh warga.

Berbeda lagi Sedekah Telaga. Telagan Mangunan di Petung Kriyono mempercayai kisah ular besar bernama Baru Klinting dan Putri Raja. Sampai saat ini, kisah itu masih dipercayai dan untuk menghormati kisah tersebut dan memberikan persembahan kepada telaga, digelarlah Sedekah Telaga. Satu kepala kerbau akan diarak dan kemudian dimasukan kedalam telaga pada satu Suro.



Udara sore sudah mulai terasa dingin. Dua cerita tadi cukup sebagai pengantar kami ke Curug Lawe. Setelah memasuki hutan pinus, kami pun sampai. Setelah turun, kami disambut puluhan anak sekolah dengan mengenakan pakaian gelap. Tak berapa lama kemudian, mereka menari dan menyanyikan lagu selamat datang. Meskipun ini akhir dari perjalana, namun saya yakin masih banyak lagi kesempatan untuk datang kembali di Paru-Paru Tanah Jawa. Dan, saya pasti akan kembali lagi. Saya berjanji.