Indahnya Telaga Warna Dan Sejuknya Perkebunan Teh Gunung Mas Kabupaten Bogor


Kabupaten Bogor memiliki setiap jenis wisata olahraga yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Jabodetabek. Sebut saja Paralayang di kawasan Telaga Warna dan Perkebunan Teh Gunung Mas, Berkuda di sekitar kawasan Gunung Mas, Bersepeda mengelilingi Puncak Bogor, Arung Jeram di Sentul Bogor dan bermain Golf di padang golf di sekitar kawasan Sentul. Betapa lengkap wisata olahraga yang dimiliki oleh Kabupaten Bogor

Telaga Warna


Telaga Warna berada di kawasan Puncak Bogor, tepatnya di Puncak Pass Cisarua. Kawasan ini dikelola oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam dengan luas sekitar 5 hektare. Sebelum memasuki  Telaga Warna, kita disuguhkan hamparan kebun teh yang luas, so refreshing banget.  

Telaga Warna memiliki keunikan tersendiri karena dapat berubah-ubah warna tergantung dari warna tumbuhan dan cuaca yang berada disekitar telaga. Air dalam telaga akan memantulkan warna dalam waktu relatif singkat. Namun, kepercayaan penduduk terhadap asal-usul telaga warna ini memiliki cerita tersendiri. Konon ada kaitannya dengan sebuah legenda. Legenda Telaga Warna.



Legenda tersebut bermula dari Kerjaan Kutatanggeuhan. Dahulu Telaga Warna merupakan tempat patilasan atau peninggalan Kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Suarnalaya dengan permaisuri bernama Purbamanah. Prabu dan Permaisuri belum dikarunia seorang anak. Sang Raja kemudian melakukan pertapaan untuk mohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa. 

Setelah melakukan pertapaan, Sang Raja kemudian mendapatkan Wangsit untuk mengangkat seorang anak. Dan baru beberapa bulan mengambil anak, kemudian Permaisuri Hamil dan kemudian melahirkan seorang anak perempuan. 



Putri kemudian menjadi anak yang manja karena seluruh permintaan tak pernah ditolak oleh Raja dan Permaisuri. Sampai suatu saat, pada ulang tahunnya, Rakyat memberikan kado spesial berupa kalung. Namun tak disangka bukan diterima oleh Putri melainkan dibanting dan dibuanglah kalung tersebut. Sedih akan perbuatan Putrinya, Permaisuri kemudian mengeluarkan air mata, tak hanya Permaisuri melainkan seluruh penduduk Kerjaan ikut menangis dan mengakibatkan tengelamnya kerajaan. Kemudian tempat itulah yang kini disebut sebagai telaga warna. Konon warna-warni air telaga ini berasal dari kalung yang dibuang oleh Putri.

Wah, ternyata legenda yang beredar di masyarakat ini sungguh luar biasa ya. Percaya atau tidak legenda itu masih dipercaya oleh sebagian Masyarakat Bogor sampai sekarang. Perjalanan ke Telaga Warna ditempuh sekitar 1 jam dari pusat kota Bogor. Pintu masuk telaga, jika dari Bogor berpatokan pada Masjid Atta'awun. Sedangkan apabila dari Cianjur berpatokan pada restoran Rindu Alam. Transportasi sebaiknya mengunakan kendaraan pribadi. Telaga Warna buka dari jam 08.00 dan tutup pukul 17.00 WIB. Harga tiket masuk Rp 7.500 untuk setiap pengunjung.

Perkebunan Teh Gunung Mas


Gunung Mas menjadi magnet pengemar kebun teh seperti saya. Tradisi minum teh di keluarga masih mengalir sampai sekarang. Bahkan saat makan di warung pun pasti memesan teh seduh panas sebagai pelepas dahaga. Saat pertama kali melihat destinasi ini, saya masih mengira bahwa Gunung Mas merupakan sebuah perbukitan, namun tebakan itu terbukti salah ketika melihat kawasan ini dipenuhi kebun teh.

Dari pintu masuk utama, saya telah disambut oleh teh. Bahkan sampai kedalam, teh terlihat dimana-mana. Mata ini terlihat menikmati setiap pemandangan yang disuguhkan, bisa dibilang mata sangat relaks dan inilah terapi yang dibutuhkan oleh mata. Udara juga begitu segar, lepas dari udara polusi perkotaan. 


Wisata Agro (Agro Wisata) adalah sebutan yang cocok untuk kawasan Gunung Mas. Fasilitas yang disediakan pun sangat lengkap mulai dari kebun teh, camping, berkuda, tea walk, tea cafe, paralayang, pemandian air panas dan masih banyak fasilitas lainnya. Dapat saya katakan bahwa kawasan yang dikelola oleh Perkebunan Nusantara VIII ini sangat lengkap dan menjadi wisata yang ramah bagi anak dan keluarga. Apalagi di area ini juga disediakan penginapan yang bisa dipilih mulai dari kapasitas perorangan sampai ke rombongan dalam skala besar. Informasi lengkap mengenai penginapan bisa akses langsung ke sini.


Yang unik dari Gunung Mas adalah sejarah mengenai pembuatan teh yang telah menjadi tradisi. Pabrik teh yang beroperasi dari beberapa puluh tahun lalu masih kokoh berdiri. Tradisi minum teh memang sangat kental dalam masyarakat kita. Tak heran teh masih menjadi primadona. Namun di Gunung Mas, edukasi proses pembuatan teh dari pemetikan hingga menjadi produk dijadikan sebuah kemasan yang menarik. Pasti setiap penyuka teh akan penasaran bagaimana terciptanya setiap aroma khas teh itu berasal. Sayang sekali pada saat saya mengunjungi Gunung Mas, hujan lebat menyambut saya dan rombongan kami. Mungkin suatu saat saya akan kembali dan menikmati setiap aroma teh yang berada di pabrik maupun di tea corner, dibagian depan pintu masuk.

Kuda Siap Mengantar Pengunjung Ke Area Perkebunan Teh
Jarak Gunung Mas dari kota Bogor sekitar 1 jam mengunakan kendaraan pribadi. Apabila mengunakan kendaraan umum dari Bogor, maka terlebih dahulu mengunakan angkot dari stasiun Bogor menuju Botani Square, kemudian disamping jalan terdapat kendaraan elf putih seperti kendaraan pribadi dan kemudian turun di Gunung Mas.

Harga tiket masuk Perkebunan Teh Gunung Mas hanya Rp 10.000 dengan harga parkir sekitar Rp 7.500. Alamat di Jalan Raya Puncak, Cisarua, Bogor. Telepon 0251-8250356. Webiste www.pn8.co.id.

Weekend Escape : Serunya Body Rafting Di Citumang Green Valley


Waktu kecil dahulu saya sering nyebur ke bak mandi dengan dalih ingin mengurasnya padahal saya hanya ingin bermain air. Hampir setiap minggu rutinitas itu saya lakukan, dan hasilnya bukan mendapat dukungan malah menuai cibiran dari Mba Sri, pembantu rumah tangga di keluarga saya. Ternyata hobi saya berenang dalam bak mandi itu tak lantas membuat saya pun bisa berenang dengan sempurna di sungai. Teman-teman saya yang jago berenang asyik bermain air sampai ke tengah sungai yang deras, sementara saya harus menahan diri dan menjaga pakaian mereka. Semenjak saat itu, sungai menjadi momok.

Suatu sore tahun 2010, saya diajak sahabat saya, Ridwan untuk berenang di sebuah kompleks perumahan di Senayan. Saya lupa nama tempatnya, tapi kolam renang ini merupakan fasilitas sebuah perumahan beserta fitness. Ridwan mulanya tidak percaya saya tidak bisa berenang sama sekali. Setelah berada di kolam, barulah dia tertawa karena saya tidak bisa melakukan gerakan apapun karena berada di pinggir kolam dan begerak seadanya. 

  
Ridwan memberitahu saya bahwa sebetulnya belajar berenang sangatlah mudah. Ridwan menunjuk bocah kecil berusia tak lebih dari 5 tahun berenang kesana kemari dengan bantuan pelampung kecil. Saya pun malu dengan keadaan dimana saya tidak bisa berenang. Mulailah saya mencoba gerakan yang diajarkan. Mulanya sangat sulit menaklukan arus air, namun lama kelamaan saya bisa mengerakan kaki dan mengerakan tangan dengan leluasa. 

Gerakan kaki dan tangan saya praktekan terus menerus sampai akhirnya pada saat hari lain, saya pun mencoba gerakan yang sama dan akhirnya saya bisa berenang dengan sempurna meski dalam jarak yang tak begitu jauh. Untuk menguatkan kaki dan tangan agar bisa berenang dengan sempurna, saya pun mendaftar fitnes di sebuah hotel yang lengkap fasilitasnya terutama kolam renang. Sebulan kemudian, resmilah saya bisa berenang dengan sempurna. 


Pagi itu di HAU Citumang, setelah sarapan kami memiliki agenda yang menyenangkan, Body Rafting. Memang Citumang disebut sebagai lembah hijau yang menawan, atau bahasa kecenya "Green Valley". Jika di daerah lain terdapat Green Canyon, maka Citumang pun memiliki Green Valley yang siap menyambut kami. 

Saya dan teman-teman sudah siap dengan perlengkapan pelampung yang sudah dikenakan. Senyum dan wajah sumringah seakan tak pernah surut dari teman-teman yang berasal dari berbagai daerah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah serta Yogyakarta. Sepertiya tidak ada kelelahan padahal perjalanan panjang telah dilalui dari masing-masing daerah. 

Setelah lengkap, kami berkumpul di pintu masuk HAU Eco Lodge Citumang, tempat kami menginap dengan konsep unik berupa Kontainer. Dan, sepertinya di Indonesia HAU Citumanglah yang menjadi pioneer penginapan dengan konsep seperti ini. Selain kontainer, HAU Citumang juga sangat peduli dengan lingkungan terutama pepohon yang berada disekitar lodge yang dibiarkan tumbuh dan berkembang sebagai mestinya. 



Kami berjalan meninggalkan satu-satunya penginapan kontainer warna-warni di Citumang. Dari sini kami harus berjalan sekitar ratusan kilometer menuju sungai Citumang yang hijau. Sebetulnya dari penginapan kami dapat melihat sungai ini, namun karena sungai tersebut di bendung, maka kami hanya menyaksikan aliran kecil saja. 

Jalanan menuju hulu sungai Citumang cukup bagus karena sudah ditambah bebatuan sehingga tidak akan becek jika terkena hujan. Disamping kanan dan kiri terdapat pepohonan dan kebun warga sekitar sehingga tampak hijau dan tidak panas. 



Setelah ratusan meter sampailah pada pintu masuk ke Green Valley Citumang. Untuk masuk ke tempat ini dikenakan biaya sekitar Rp 19.000 pada saat weekdays dan Rp 24.000 pada saat weekend. Oh iya, selain warga lokal yang sering body rafting, ternyata banyak juga bule-bule yang mengunjungi tempat ini pada hari-hari tertentu seperti Jumat dan weekend. Bahkan setiap bulannya, akan berganti-ganti bule dari negara seperti Amerika Latin, Amerika Serikat, Eropa dan Australia. So, pilihlah hari Jumat jika ingin cuci mata dan mendapatkan jodoh bule, hahaha.

Suara aliran air sudah terdengar dari pintu masuk. Itu tandanya hulu sungai ini sudah tidak jauh. Dan, artinya kami akan bersenang-senang masuk dalam sungai dengan air yang sangat jernih. Namun, lagi-lagi kami harus menahan terlebih dahulu karena antrian yang lumayan panjang. Sambil menunggu, kami mencoba ikan yang dapat memijat kaki. Sebetulnya bukan memijat melainkan ikan pemakan sel kulit mati di kaki. Walhasil, kaki kami seperti distrum oleh ikan yang makan kulit mati. Lucu juga karena kami harus menahan antaraa geli dan sakit karena rasa tersetrum ikan tersebut. Hahaha. 



Penantian berakhir. It's time to rock. Lihat saja air hijau nan jernih itu sudah memanggil-manggil untuk direnangi. Tentu saja saya senang mencoba body rafting di sungai yang unik ini. Selama ini saya merasakan body rafting di sekitar Jawa Tengah dengan air yang kecoklatan, namun disini airnya sangat jernih dan hijau. Mungkin saja karena dikelilingi oleh pepohonan hijau sehingga sungainya pun memantulkan cahaya hijau. 

Kami tak langsung dibawa menuju sungai yang dalam, melainkan gua dengan bebatuan. Ternyata inilah yang dimaksud dengan tantangan terjun dari ketinggian 10 meter lebih dari mulut gua. Mas Nuz dan Khaerullah yang memberanikan diri naik ke atas dari akar-akar dan mencapai atas untuk kemudian terjun. Kang Geri sebetulnya ingin mencoba namun urung dan harus turun dari ketinggian 10 meter menjadi 4 meter saja. Kalau saya pastinya akan sulit naik dari akar-akar pohon untuk mencapai ke atas. Akhirnya saya hanya mencoba dari ketinggian tak lebih dari satu meter. 



Dan setelah memasuki sungai yang sebenarnya, kami ditantang untuk menjadi tarzan. Karena berat badan saya yang mencapai 100 kg, saya hanya pasrah dan mencoba sebisa saya. Belum menganyun sampai ketengah sungai, tali itu sudah tidak mampu menahan badan saya dan terjatuh ke sungai. Byuurr. 

Setelah itu kami bermain kereta-kereta dengan cara menyambungkan kaki dengan tangan orang sebelumnya. Cukup sulit awalnya, namun berkat bantuan para pemandu akhirnya kami dapat membentuk kereta-kereta dengan bagus. 



Setelah kereta, kami membentuk formasi lainnya yaitu seperti lingkaran dan berombak karena gerakan kaki kami. Setelah itu kami naik kembali ke bendungan untuk kemudian menyusuri sungaai kecil dan berakhir di parkiran dekat dengan pintu masuk HAU Citumang. 

Pengalaman body rafting kali ini memang sangat mengasyikan. Sudah saatnya untuk kembali ke rutinitas di depan laptop dan menghadapi polusi. Suatu saat, saya akan kembali lagi ke Citumang untuk menikmati alam yang masih tersembunyi.


Info mengenai tarif body rafting ini salah satunya http://www.bodyrafting-guhabau.com/2017/09/harga-paket-body-rafting-citumang-green.html .

Dan untuk informasi mengenai HAU Citumang bisa mengakses website http://haucitumang.hotel.mypangandaran.com/ atau dapat reservasi melalui nomor 0265-639380 / 081316987988 . 

Sensasi Menginap Di Kontainer HAU Citumang, Pangandaran


How Are You Citumang? Apa kabar hari ini? Sepertinya Citumang ingin menyapa kembali melalui alam yang indah dan sungai-sungainya yang jernih. Saya pun merindu dari dalam kalbu. Anggap saja saya lebay atau apapun itu, namun tak sedikitpun kerinduan ini ditutupi oleh keraguan. Dan, dari sinilah kisah HAU Citumang dimulai. 

Rencanannya dari Jakarta kami langsung naik kereta api menuju Kota Banjar, Jawa Barat. Saya dan Raisa aka Astari telah memesan tiket yang sama. Pukul 09.00 tepat kereta kami berangkat. Seharusnya kami berempat, namun dua orang dari Bogor belum memberikan kabar apapun. Tiba-tiba dari kursi sebelah kami muncul sosok seperti Khaerul. Dan, ternyata benar dia berada satu gerbong dengan kami. Sayangnya Teh Nita tidak dapat bergabung dengan kami. Saudara Teh Nita meninggal dunia, kami harus kehilangan satu travelmate


Kereta sempat berhenti beberapa kali di stasiun-stasiun yang menjadi rutenya. Saya sempat mengabadikan gerbong-gerbong kereta yang ditumpuk menjadi satu. Mungkin gerbong ini sudah tidak digunakan atau bahkan akan digunakan. Saya hanya kagum dengan keunikan tumpukan gerbong ini. 

Perjalanan ke kota Banjar ditempuh sekitar 8-9 jam dengan kereta ekonomi Serayu jurusan Purwokerto. Saya sempat membeli nasi 4 bungkus beserta gorengan, sementara Raisa membawa rendang. Maka lengkaplah piknik di kereta ini dimulai dari makan bekal bawaan kami. Pemandangan di luar sana sangat menyejukan, banyak pepohonan dan gunung disertai langit yang amat cerah. Menjelang siang, saya berusaha untuk menutup mata. Ternyata sangat susah mata ini untuk terpejam sebentar saja. Lagu-lagu dalam handphone pun sudah diputar berulang kali. 

Seharusnya sekitar pukul 5 sore kereta kami sudah sampai di Kota Banjar, namun karena terdapat kendala teknis, barulah sekitar jam 6 kurang, kami semuanya sampai di Banjar. Sambil menunggu rombongan dari Yogyakarta, kami pun rehat sebentar. Tak berapa lama kemudian, rombongan Yogyakarta pun sampai. Satu Elf dan mobil city car telah berada di luar. Kami pun langsung menuju HAU Citumang

Sesampainya di Citumang, sinyal mulai meredup. Bahkan di dalam kontainer pun, tidak ada satupun balok sinyal yang ditemukan. Jika ingin sinyal, kami harus ke area parkiran yang berada di depan pintu masuk. Tidak ada sinyal, artinya kami harus menikmati setiap hari disini dengan aktivitas yang menantang seperti body rafting dan berenang di sungai yang jernih. 



Malam tadi setelah mandi, saya sudah tidak bisa menahan kantuk sehingga pulas tertidur. Beruntung saya tidak mimpi yang aneh-aneh. Suasana malam memang agak sunyi karena pinggir penginapan ini adalah sungai dan hutan. Lain halnya ketika pagi sudah datang. Warna-warni kontainer cukup menghidupkan suasana disini. Saya segera mandi dan mencharge batere kamera. Tadi malam, saya lupa untuk mengcharge batere kamera kesayangan. 

Sebelum beraktivitas di siang nanti, saya sempat mengelilingi penginapan dengan konsep ECO Friendly. Saya cukup terkejut karena pohon-pohon yang berada di setiap sudut penginapan ini cukup terawat, bahkan terkesan pohon-pohon ini tidak ditebang pada saat perakitan kontainer tersebut dimulai. Terbukti dengan jalan menuju kontainer yang dibuat mengikuti pepohonan. Selain itu, pengolahan air limbah pun sangat diperhatikan sehingga pada saat pembuangan ke sungai tidak menimbulkan dampak yang merugikan. 


Saat perut memanggil, ternyata sudah masuk waktu sarapan. Saya bergegas menuju ke kontainer di depan yang merupakan restoran. Letaknya persis berdampingan dengan resepsionis yang berada di depan setelah pintu masuk. Teman-teman lain sudah berada di restoran. Saya bergegas mengambil paket sarapan yang telah disediakan. Nasi kuning dengan telur mata sapi serta sayuran dan krupuk. Bagi saya, menu ini pas untuk perut saya yang lapar tapi tidak terlalu ingin penuh perut ini. 


Setelah kenyang, saya menuju ke tempat kumpul yang berada di tengah-tengah penginapan. Saya menyebutnya sebagai tempat bermalas-malasan hehehe. Disitu terdapat bantal-bantal manja yang bisa membuat siapa saja tersihir dan tertidur sesaat setelah sarapan. Setiap saat, ada saja yang berada ditempat ini. Karena memang tempatnya yang teduh dibawah pohon-pohon dan sering dijadikan sebagai tempat santai dan membawa inspirasi.  

Tempat favorite saya yang lain adalah Instagram-able spot. Oh iya, selain menyediakan penginapan, HAU Citumang juga menyediakan tempat foto dengan membayar tiket sekitar 50 ribu rupiah. Terdapat sungai dengan balon-balon pelampung yang unik dan spot untuk foto yang terdapat di atas. Biasanya memang setelah body rafting di sungai Citumang, orang-orang akan melintas di depan penginapan. Bagi yang penasaran di dalam, maka akan bertanya apa saja yang menarik dari HAU Citumang. 



Wanna escape from daily routine? HAU Eco Lodge Citumang is your answer. Setidaknya dibutuhkan waktu 3 hari 2 malam untuk menikmati penginapan, body rafting di sungai dan mengelilingi hutan yang masih sangat segar udaranya. Bisa jadi inilah petualangan terseru yang bisa didapatkan dari menginap disini.

So, tunggu apalagi. Yuk menginap dan berpetualang di Citumang yang sungainya sejernih hatiku. Hehehe. 



Fasilitas 

HAU Citumang menyediakan kamar dengan kapasitas sekitar 3 orang dengan harga kamar weekdays Rp 750.000 dan weekend Rp 1.000.000. Harganya lumayan mahal, namun jika dibagi dengan penghuni kamar maka tidak lebih dari Rp 333.333 setiap orangnya. Selain itu terdapat Coffee Shop dan restoran sehingga tidak perlu khawatir jika malam-malam kelaparan. Pada saat saya kesana belum terdapat Wifi, namun ternyata sekarang sudah di pasang wifi di dalam kamar. Oh iya harga kamar termasuk sarapan ya.

Catatan Penting
  • Dari Jakarta dapat ditempuh melalui kereta dari Stasiun Pasar Senen dengan mengunakan KA Serayu tujuan Purwokerto kemudian turun di Stasiun Banjar dengan harga Rp 67.000. Kemudian dengan mobil carteran sekitar Rp 500.000 akan diantar menuju ke HAU Citumang. 
  • Sangat disarankan untuk ke sana beramai-ramai karena akses yang membutuhkan mobil carteran 
  • Body rafting dapat ditanyakan kepada pihak HAU Citumang, terdapat paket lengkap dengan body rafting
  • Dari pangandaran dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi sekitar 1 jam kurang
Credit foto to Astari www.ivegotago.com 

Informasi HAU Eco Lodge Citumang 

Alamat 

Sukamanah RT 1/Rw 6, Bojong, Parigi, Pangandaran, Jawa Barat 46393

Website 


Reservasi 

0265-639380 / 081316987988

Rate 

Weekdays : Rp 750.000
Weekend : Rp 1.000.000 

Instagram 

Maps