Inilah Tempat Wisata Instagramable Di Kabupaten Kuningan

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Kadang kita jenuh dengan destinasi wisata (instagramable) yang itu-itu saja kayak Jakarta, Bali, Yogyakarta (Jogja), Malang, Banyuwangi, Semarang dan Bandung. Kalau ke luar negeri pun kita terpaku pada pilihan antara Singapore atau Malaysia. Sebelum ke luar negeri, kita lihat dulu deh tempat wisata yang instagramable tapi ngga terlalu jauh dari Jakarta. Dan, tempat ini bernama Kabupaten Kuningan, satu jam dari Cirebon yang merupakan gerbang pelabuhan di Jawa Barat. 

Siapa yang tidak tahu Kuningan? Sebuah tempat yang sangat penting pada saat pengukuhan Kemerdekaan Indonesia oleh Belanda. Linggarjati, namanya telah tersohor sebelum saya lahir dan hanya membacanya melalui buku sejarah di bangku sekolah. Kini, saya telah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana perjuangan delegasi Indonesia di sana. Selain Linggarjati, Kuningan memiliki wisata alam yang tidak kalah menarik loh. Bayangkan saja curug atau air terjun sangat banyak dan telaga atau waduk pun membuat Kuningan sangat bangga dengan kesejukannya. Pun, sebuah museum tempat benda-benda purbakala di simpan pun menawarkan pilihan lainnya bagi pecinta sejarah.

Saya kira Kuningan akan sangat panas seperti Cirebon, tapi ternyata Gunung Cermai membuat kabupaten yang sangat kental dengan angklung ini sangat sejuk dan cenderung dingin. Sialnya saya tidak membawa jaket tebal, hanya sebuah sweater yang melekat di badan. Tapi, bukan malah menyiutkan nyali, malah saya menantang alam Kuningan dengan bertelanjang dada pada saat di sebuah curug. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Setelah berlangsungnya acara International Angklung Festibval Kuningan 2018, tidak lengkap rasanya tidak berkunjung ke beberapa tempat wisata yang sangat Instagramable dan sangat mudah aksesnya. Saya yakin pada penasaran tempat wisata apa saja sih yang sangat instagramable, tapi ini bukan seluruh tempat, hanya beberapa saja yang sempat saya kunjungi. Karena sangat banyak tempat wisata lainnya yang tidak kalah bagus dari list ini. 

Museum Perundingan Linggarjati

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Museum Perundingan Linggarjati memang sangat layak mendapatkan tempat di hati masyarakat Kuningan. Bagaimana tidak, sebuah sejarah tercipta di tempat sejuk di bawah kaki gunung Ciremai yang indah. Deligasi Indonesia dan Belanda melakukan perundingan yang akan menentukan pengakuan kedaulatan kemerdekaan Indonesia. Bukan perkara mudah untuk membuat Belanda secara yuridis atau secara hukum mengakui kemerdekaan yang telah diproklamirkan oleh Soekarna-Hatta. Beruntung, suasana sejuk dan damai di Linggarjati membuat Belanda akhirnya melunak dan mengakui kedaulatan Indonesia. 

Jas Merah, jangan sekali-kali merupakan sejarah. Bukan kah dengan belajar dari masa lalu kita akan merasakan manfaat dan membuat kuta jadi waspada sekaligus bangga dengan perjuangan pendahulu-pendahulu kita yang bersemangat dengan kemerdekaan kita. Lalu apa yang sudah kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan ini? Jawablah dengan prestasi yang membanggakan negeri ini. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Gedung bergaya Eropa membuat tempat ini sangat bagus dan instagramable. Jangan lewatkan setiap sudut gedung ini, karena gedung ini pun membuat saya terkagum-kagum karena kecantikannya. Apalagi jika kita menemukan sudut yang pas seperti di bawah kaki gunung Ceremai maka keindahan pun tak dapat disembunyikan lagi. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Rumah Hobit Di Bukit Sukageuri, Palutungan 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Kalau bosan dengan pemandangan kota, tempat ini sangat cocok untuk melepas kepenatan. Pada saat pertama kali kesini, saya kira ini adalah hanya tempat biasa, namun setelah melihat banyak tempat seperti tempat selfie atau wefie. Kalau masalah viewnya jangan ditanya lagi karena banyak sekali spot-spot yang membuat foto kita makin bagus. 

Ternyata selain untuk rekreasi, tempat ini biasanya digunakan untuk camping. Area camping disediakan di sekitar parkiran dekat dengan kantin yang menjual berbagai macam makanan ringan dan juga mie instan serta lainnya. Jadi kalau misalnya laper karena kedingininan atau belum sarapan bisa sekedar melepas lapar disini. 



Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Situ Cicerem Telaga Biru

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Birunya air bukan hanya dimiliki oleh laut, ternyata Cicerem pun menyimpan air yang sangat jernih sehingga kadang kala bisa berwarna hijau tosca dan biru. Tidaklah seseram namanya, situ ini memang dibuat untuk menampung aliran air dari beberapa sumber mata air. Suasana hutan yang masih lebat membuat tempat ini sangat hijau dan sangat sejuk walau matahari sangat panas kalau misalnya datang pada saat siang. 

Jika weekend, banyak sekali keluarga yang datang dan mengunjungi tempat ini. Memang sangat disayangkan fasilitas toilet dan warung makan masih sedikit karena memang belum dikelola secara maksimal. Tapi, situ ini memang sangat layak untuk dikunjungi karena sangat instagramable dan bisa menemukan banyak ikan besar seperti koi dan emas. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Situs (Museum) Purbakala Cipari 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Jika tidak suka dengan alam, wisata sejarah dan purbakala bisa menjadi pilhan yang menarik. Situs purbakala Cipari adalah tempat yang sangat cocok untuk sekedar menyelami masa lampau. Di tempat inilah banyak ditemukan benda-benda peninggalan yang mungkin saja sudah ada pada masa peradaban awal manusia. Alat-alat rumah tangga dan bongkahan bangunan serta menhir mendominasi koleksi yang terdapat pada gedung museumnya. 

Saya terkesan dengan tempat ini, selain bisa menambah ilmu serta belajar bagaimana manusia dahulu menjalani kehidupan, tempat ini sangat cocok dijadikan obyek foto yang menakjubkan. Kesan tua namun sangat unik dengan nuansa-nuansa bebatuan yang tersusun dengan rapi.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Curug Putri Palutungan 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Konon katanya Curug ini adalah pemandian para putri dari kahyangan. Banyak sekali yang percaya jika mengunjungi tempat ini maka akan mendapatkan jodoh pangeran yang tampan. Saya pun percaya bahwa ini adalah pemandian para putri karena airnya sangat segar dan sejuk sekali. Selain itu, curug ini dipercaya akan mendatangkan jodoh dan dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Lagi-lagi saya percaya karena sebelum ke curug ini dibutuhkan olahraga jalan sehingga akan melancarkan peredaran darah, selain itu juga pemandangan alam yang sejuk membuat kita merasakan kedamaian. Kedua hal tersebut membuat kita merasa lebih segar dan rupawan sehingga sangat mungkin jika rutin dilakukan akan membuat wajah kita semakin menarik.

Khasiat air terjun memang sangat terbukti apalagi airnya berasal dari sumber mata air sehingga tidak heran jika ketika mandi di curug ini akan membuat perasaan kita lebih baik. Sugesti baik tentu saja akan membuat kita lebih damai dan percayalah jika kita merasakan kedamaian maka segala penyakit yang ada dalam tubuh kita bisa berkurang atau bahkan sembuh.

Tidak salah jika keindahan curug ini membuat saya betah berlama-lama dan mengabadikan sebanyak mungkin foto-foto yang tentu saja sangat instagramable sekali untuk koleksi di Instagram. 

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - Tempat Wisata Instagramable Kabupaten Kuningan

Kabupaten Kuningan masih menyimpang banyak sekali tempat wisata yang sangat indah. Perlu waktu yang lebih banyak untuk dapat menikmati seluruh wisatanya. Namun saya percaya kalau Tuhan mengijinkan, saya akan kembali lagi dan merasakan sensasi wisata di Kuningan dengan tempat-tempat yang menarik lainnya. Sampai jumpa di tempat wisata lainnya di Kuningan. 


Angklung Kini Mendunia Di International Angklung Festival Kuningan 2018

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

"Kalau mau ke curug harus ke Kabupaten Cirebon atau Kuningan yang banyak."

Kata-kata ini masih terngiang di telinga ketika memasuki pintu tol Cipali. Awal tahun ini saya sempat berkeinginan keliling Kabupaten Kuningan, bukan karena kuliner yang selalu berada salam pikiran saya selama ini,  melainkan pesona curugnya.

Konon,  Curug itu erat kaitannya dengan khayangan dan putri serta dayang-dayangnya. Impian kecil yang membawa saya ke Kuningan setelah lama   berucap dalam hati. Selain curug,  ternyata Angklunglah yang membawa saya betul-betul ke Kuningan untuk saat ini.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

"Angklung itu dari Kuningan?"

Antara tanya dan pernyataan, saya pun terkaget-kaget. Selama ini saya menganggap bahwa Angklung berasal dari Bandung. Dan, yang lebih membuka mata saya lebar-lebar adalah sosok Daeng Soetigna yang berguru pada Dad Jaya dari Kuningan sehingga Angklung menjelma menjadi alat musik yang bisa memainkan seluruh jenis musik baik itu dangdut,  pop,  rock dan musik populer di seluruh Dunia.

Ternyata kejutan tidak berhenti sampai disini. Kuningan dinobatkan sebagai Kabupaten Angklung di Indonesia. Sungguh luar biasa pencapaian Kuningan ini,  tak heran jika banyak sekali nuansa Angklung yang menyambut saya ketika memasuki Kuningan.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Perjalanan dari Jakarta sebetulnya bisa ditempuh dalam waktu sekitar 4-5 jam. Namun ternyata banyak pembangunan LRT/MRT sehingga waktu tempuh lebih lama dari seharusnya. Walaupun seperti itu, rasa senang akhirnya bisa ke Kuningan menepis semuanya. Coba bayangkan saja ketika anak kecil dikasih es krim maka dia akan ceria, begitu juga dengan saya,  seorang traveller pasti sangat senang menemukan destinasi baru.

Suasana panas menyambut saya dan beberapa teman dari Genpi dan wartawan senior. Saat itu entah berapa suhunya,  yang jelas badan saya sudah memberikan tanda dehidrasi. Walaupun panas, namun hati saya tetap sejuk, karena Kuningan tetap mempesona saya dengan gunung Ceremai yang saat itu sudah terlihat dari tol cipali tadi.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Kami menginap di Grand Purnama hotel,  tak jauh dari taman dan alun-alun kabupaten Kuningan. Malamnya, kami mencari kuliner khas Kuningan yang mampu melepas rasa lapar. Memang dari senja tadi, perut saya sudah meronta-ronta membutuhkan asupan yang lezat. Rombongan kami sampai di sebuah warung nasi Kasreng. Kasreng ini sebetulnya mirip angkringan di Yogyakarta,  hanya yang membedakan hanya lauk-pauknya yang banyak menyajikan pepes dan rebon atau udang, selain itu banyak menu yang serupa dengan angkringan. Jujur saya pengemar sate usus angkringan,  rasanya memang tiada duanyan. Nah,  kebetulan di warung ini terdapat sate usus, bedanya dengan sate usus Yogyakarta hanya kering atau basahnya saja,  selain itu rasanya hampir sama, mirip tahu tempe bacem kalo di Yogya.

Paginya, kami langsung menuju Museum Linggarjati. Kebetulan tempat pelaksanaan acara adalah museum perumusan naskah perjanjian Linggarjati. Nama Linggarjati ini telah tersohor semenjak kemerdekaan, bahkan berkat Linggarjati inilah kita dapat menikmati kemerdekaan seperti sekarang ini. Konon pada saat perundingan, angklung merupakan hiburan di sela-sela acara sehingga hiburan inilah yang membuat relaks dan menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan pihak Indonesia dengan percepatan peralihan kekuasan pada saat itu.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Kini angklung pun kembali membanggakan kita semua,  masyarakat Indonesia,  khususnya kabupaten Kuningan yang menggelar International Angklung Festival Kuningan 2018. Selain itu Kuningan juga telah dinobatkan sebagai Kabupaten Angklung sehingga sangat tepat sekali apabila festival ini berada di Kuningan.

Angklung itu bukan hanya alat musik semata,  melainkan sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat Kuningan. Mulai dari usia dini semenjak taman kanak-kanak sampai usia senja semuanya tahu cara memainkannya dengan baik. Bahkan pelajar SMP dan SMA pun membanggakan Kuningan dengan memenangkan lomba angklung tingkat Nasional.

Suasana Linggarjati cukup ramai walau acara masih belum mulai, anak-anak sampai orang dewasa sangat antusias dengan festival ini. Acara ini adalah agenda resmi dari Kementerian Pariwisata yang dicantumkan dalam calender of event. Dari seratus event yang menjadi prioritas,  festival Angklung inilah salah satu yang menarik untuk diikuti. Oh iya,  selain menjadi daya tarik wisatawan dalam negeri, Angklung juga memiliki daya tarik bagi wisatawan asing karena telah diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Wah, saya tak habis-habisnya berdecak kagum kepada angklung. Memang sudah saatnya kita menjaga dan melestarikan warisan ini agar generasi mendatang tidak kehilangan identitas bangsanya yang kaya akan warisan budaya.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Bapak Acep Purnama, Bupati Kuningan beserta perwakilan dari Kemenpar, Ibu Esthy Reko Astuti,  Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwsata Nusantara beserta rombongan telah hadir disambut dengan bunyi angklung dari ratusan anak-anak. Setelah itu, acara seremonial dan sambutan bergulir diakhiri dengan pemberian penghargaan kepada Kabupaten Kuningan yang diwakili oleh Bapak Acep Purnama.

Penampilan memukau datang dari SMP dan SMA yang memaikan Angklung dan menyajikan berbagai macam lagu mulai dari lagu sunda,  lagu populer Indonesia dan luar negeri yang dinyanyikan dengan apik oleh vokalis.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Layaknya orkresta,  angklung berbagai ukuran dan nada menciptakan harmoni yang sangat indah ditelinga. Jarang sekali saya dimanjakan oleh angklung dengan sedekat ini. Biasanya saya hanya mendengarkan angklung di rumah makan sunda,  itupun bukan suara asli melainkan suara rekaman saja. Kini, saya merasakan betapa kayaknya alat musik tradisional kita ini,  sudah saatnya kita bersama mengembangkan dan tetap melestarikan angklung agar tidak hilang oleh alat musik modern.

Bukan Angklung namanya kalau tidak memikat masyarakat Indonesia, namun ternyata bukan hanya orang Indonesia saja yang perkiat melain warga Jepang pun ikut menyumbang beberapa lagu. Bukan hanya dari Jepang saja, namun banyak dari negara lain seperti Algeria. Warga Jepang pun usianya bukan tergolong belia namun sudah memasuki usia senja. Namun semangat mereka untuk mempelajari alat musik Angklung ini patut diapresiasi.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Tahu lagu Kokoronotomo ? Iya pada sekitar tahun 80-90an, lagu ini sangat terkenal di masyarakat Indonesia karena lagunya yang sangat mudah dihafalkan dan bernada sangat bagus. Warga Jepang pun melantunkan lagu ini dengan sangat bagus dan berhasil memukau masyarakat Kuningan yang menyaksikan dari pagi.

Bukan hanya Jepang, lagu Korea seperti Du du du dari Blackpink pun dinyanyikan oleh musisi Kuningan dengan alunan angklung yang sangat merdu. Ternyata K Pop rasa Kuningan ini pun mampu membuat saya berdendang pada saat cuaca terik mulai berhasil membuat saya berkeringat.


Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Nah, kebanggaan kita bukan hanya sementara dan dibibirkan saja. Sudah saatnya kita menjaga angklung dengan ikut menjadi dutanya. Bagaimana caranya? Cukup membagikan blogpost ini pun kamu sudah menyebarkan kebanggaanmu terhadap angklung.

Kini, saatnya menjelajah wisata alam yang indah di Kuningan. Dan,  mari kita menuju ke destinasi selanjutnya. Nantikan di tulisan saya selanjutnya.

Bluepacker - Indonesian Travel Blogger - International Angklung Festival Kuningan 2018

Indahnya Telaga Warna Dan Sejuknya Perkebunan Teh Gunung Mas Kabupaten Bogor


Kabupaten Bogor memiliki setiap jenis wisata olahraga yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Jabodetabek. Sebut saja Paralayang di kawasan Telaga Warna dan Perkebunan Teh Gunung Mas, Berkuda di sekitar kawasan Gunung Mas, Bersepeda mengelilingi Puncak Bogor, Arung Jeram di Sentul Bogor dan bermain Golf di padang golf di sekitar kawasan Sentul. Betapa lengkap wisata olahraga yang dimiliki oleh Kabupaten Bogor

Telaga Warna


Telaga Warna berada di kawasan Puncak Bogor, tepatnya di Puncak Pass Cisarua. Kawasan ini dikelola oleh Badan Konservasi Sumber Daya Alam dengan luas sekitar 5 hektare. Sebelum memasuki  Telaga Warna, kita disuguhkan hamparan kebun teh yang luas, so refreshing banget.  

Telaga Warna memiliki keunikan tersendiri karena dapat berubah-ubah warna tergantung dari warna tumbuhan dan cuaca yang berada disekitar telaga. Air dalam telaga akan memantulkan warna dalam waktu relatif singkat. Namun, kepercayaan penduduk terhadap asal-usul telaga warna ini memiliki cerita tersendiri. Konon ada kaitannya dengan sebuah legenda. Legenda Telaga Warna.



Legenda tersebut bermula dari Kerjaan Kutatanggeuhan. Dahulu Telaga Warna merupakan tempat patilasan atau peninggalan Kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Suarnalaya dengan permaisuri bernama Purbamanah. Prabu dan Permaisuri belum dikarunia seorang anak. Sang Raja kemudian melakukan pertapaan untuk mohon petunjuk pada Yang Maha Kuasa. 

Setelah melakukan pertapaan, Sang Raja kemudian mendapatkan Wangsit untuk mengangkat seorang anak. Dan baru beberapa bulan mengambil anak, kemudian Permaisuri Hamil dan kemudian melahirkan seorang anak perempuan. 



Putri kemudian menjadi anak yang manja karena seluruh permintaan tak pernah ditolak oleh Raja dan Permaisuri. Sampai suatu saat, pada ulang tahunnya, Rakyat memberikan kado spesial berupa kalung. Namun tak disangka bukan diterima oleh Putri melainkan dibanting dan dibuanglah kalung tersebut. Sedih akan perbuatan Putrinya, Permaisuri kemudian mengeluarkan air mata, tak hanya Permaisuri melainkan seluruh penduduk Kerjaan ikut menangis dan mengakibatkan tengelamnya kerajaan. Kemudian tempat itulah yang kini disebut sebagai telaga warna. Konon warna-warni air telaga ini berasal dari kalung yang dibuang oleh Putri.

Wah, ternyata legenda yang beredar di masyarakat ini sungguh luar biasa ya. Percaya atau tidak legenda itu masih dipercaya oleh sebagian Masyarakat Bogor sampai sekarang. Perjalanan ke Telaga Warna ditempuh sekitar 1 jam dari pusat kota Bogor. Pintu masuk telaga, jika dari Bogor berpatokan pada Masjid Atta'awun. Sedangkan apabila dari Cianjur berpatokan pada restoran Rindu Alam. Transportasi sebaiknya mengunakan kendaraan pribadi. Telaga Warna buka dari jam 08.00 dan tutup pukul 17.00 WIB. Harga tiket masuk Rp 7.500 untuk setiap pengunjung.

Perkebunan Teh Gunung Mas


Gunung Mas menjadi magnet pengemar kebun teh seperti saya. Tradisi minum teh di keluarga masih mengalir sampai sekarang. Bahkan saat makan di warung pun pasti memesan teh seduh panas sebagai pelepas dahaga. Saat pertama kali melihat destinasi ini, saya masih mengira bahwa Gunung Mas merupakan sebuah perbukitan, namun tebakan itu terbukti salah ketika melihat kawasan ini dipenuhi kebun teh.

Dari pintu masuk utama, saya telah disambut oleh teh. Bahkan sampai kedalam, teh terlihat dimana-mana. Mata ini terlihat menikmati setiap pemandangan yang disuguhkan, bisa dibilang mata sangat relaks dan inilah terapi yang dibutuhkan oleh mata. Udara juga begitu segar, lepas dari udara polusi perkotaan. 


Wisata Agro (Agro Wisata) adalah sebutan yang cocok untuk kawasan Gunung Mas. Fasilitas yang disediakan pun sangat lengkap mulai dari kebun teh, camping, berkuda, tea walk, tea cafe, paralayang, pemandian air panas dan masih banyak fasilitas lainnya. Dapat saya katakan bahwa kawasan yang dikelola oleh Perkebunan Nusantara VIII ini sangat lengkap dan menjadi wisata yang ramah bagi anak dan keluarga. Apalagi di area ini juga disediakan penginapan yang bisa dipilih mulai dari kapasitas perorangan sampai ke rombongan dalam skala besar. Informasi lengkap mengenai penginapan bisa akses langsung ke sini.


Yang unik dari Gunung Mas adalah sejarah mengenai pembuatan teh yang telah menjadi tradisi. Pabrik teh yang beroperasi dari beberapa puluh tahun lalu masih kokoh berdiri. Tradisi minum teh memang sangat kental dalam masyarakat kita. Tak heran teh masih menjadi primadona. Namun di Gunung Mas, edukasi proses pembuatan teh dari pemetikan hingga menjadi produk dijadikan sebuah kemasan yang menarik. Pasti setiap penyuka teh akan penasaran bagaimana terciptanya setiap aroma khas teh itu berasal. Sayang sekali pada saat saya mengunjungi Gunung Mas, hujan lebat menyambut saya dan rombongan kami. Mungkin suatu saat saya akan kembali dan menikmati setiap aroma teh yang berada di pabrik maupun di tea corner, dibagian depan pintu masuk.

Kuda Siap Mengantar Pengunjung Ke Area Perkebunan Teh
Jarak Gunung Mas dari kota Bogor sekitar 1 jam mengunakan kendaraan pribadi. Apabila mengunakan kendaraan umum dari Bogor, maka terlebih dahulu mengunakan angkot dari stasiun Bogor menuju Botani Square, kemudian disamping jalan terdapat kendaraan elf putih seperti kendaraan pribadi dan kemudian turun di Gunung Mas.

Harga tiket masuk Perkebunan Teh Gunung Mas hanya Rp 10.000 dengan harga parkir sekitar Rp 7.500. Alamat di Jalan Raya Puncak, Cisarua, Bogor. Telepon 0251-8250356. Webiste www.pn8.co.id.

Weekend Escape : Serunya Body Rafting Di Citumang Green Valley


Waktu kecil dahulu saya sering nyebur ke bak mandi dengan dalih ingin mengurasnya padahal saya hanya ingin bermain air. Hampir setiap minggu rutinitas itu saya lakukan, dan hasilnya bukan mendapat dukungan malah menuai cibiran dari Mba Sri, pembantu rumah tangga di keluarga saya. Ternyata hobi saya berenang dalam bak mandi itu tak lantas membuat saya pun bisa berenang dengan sempurna di sungai. Teman-teman saya yang jago berenang asyik bermain air sampai ke tengah sungai yang deras, sementara saya harus menahan diri dan menjaga pakaian mereka. Semenjak saat itu, sungai menjadi momok.

Suatu sore tahun 2010, saya diajak sahabat saya, Ridwan untuk berenang di sebuah kompleks perumahan di Senayan. Saya lupa nama tempatnya, tapi kolam renang ini merupakan fasilitas sebuah perumahan beserta fitness. Ridwan mulanya tidak percaya saya tidak bisa berenang sama sekali. Setelah berada di kolam, barulah dia tertawa karena saya tidak bisa melakukan gerakan apapun karena berada di pinggir kolam dan begerak seadanya. 

  
Ridwan memberitahu saya bahwa sebetulnya belajar berenang sangatlah mudah. Ridwan menunjuk bocah kecil berusia tak lebih dari 5 tahun berenang kesana kemari dengan bantuan pelampung kecil. Saya pun malu dengan keadaan dimana saya tidak bisa berenang. Mulailah saya mencoba gerakan yang diajarkan. Mulanya sangat sulit menaklukan arus air, namun lama kelamaan saya bisa mengerakan kaki dan mengerakan tangan dengan leluasa. 

Gerakan kaki dan tangan saya praktekan terus menerus sampai akhirnya pada saat hari lain, saya pun mencoba gerakan yang sama dan akhirnya saya bisa berenang dengan sempurna meski dalam jarak yang tak begitu jauh. Untuk menguatkan kaki dan tangan agar bisa berenang dengan sempurna, saya pun mendaftar fitnes di sebuah hotel yang lengkap fasilitasnya terutama kolam renang. Sebulan kemudian, resmilah saya bisa berenang dengan sempurna. 


Pagi itu di HAU Citumang, setelah sarapan kami memiliki agenda yang menyenangkan, Body Rafting. Memang Citumang disebut sebagai lembah hijau yang menawan, atau bahasa kecenya "Green Valley". Jika di daerah lain terdapat Green Canyon, maka Citumang pun memiliki Green Valley yang siap menyambut kami. 

Saya dan teman-teman sudah siap dengan perlengkapan pelampung yang sudah dikenakan. Senyum dan wajah sumringah seakan tak pernah surut dari teman-teman yang berasal dari berbagai daerah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah serta Yogyakarta. Sepertiya tidak ada kelelahan padahal perjalanan panjang telah dilalui dari masing-masing daerah. 

Setelah lengkap, kami berkumpul di pintu masuk HAU Eco Lodge Citumang, tempat kami menginap dengan konsep unik berupa Kontainer. Dan, sepertinya di Indonesia HAU Citumanglah yang menjadi pioneer penginapan dengan konsep seperti ini. Selain kontainer, HAU Citumang juga sangat peduli dengan lingkungan terutama pepohon yang berada disekitar lodge yang dibiarkan tumbuh dan berkembang sebagai mestinya. 



Kami berjalan meninggalkan satu-satunya penginapan kontainer warna-warni di Citumang. Dari sini kami harus berjalan sekitar ratusan kilometer menuju sungai Citumang yang hijau. Sebetulnya dari penginapan kami dapat melihat sungai ini, namun karena sungai tersebut di bendung, maka kami hanya menyaksikan aliran kecil saja. 

Jalanan menuju hulu sungai Citumang cukup bagus karena sudah ditambah bebatuan sehingga tidak akan becek jika terkena hujan. Disamping kanan dan kiri terdapat pepohonan dan kebun warga sekitar sehingga tampak hijau dan tidak panas. 



Setelah ratusan meter sampailah pada pintu masuk ke Green Valley Citumang. Untuk masuk ke tempat ini dikenakan biaya sekitar Rp 19.000 pada saat weekdays dan Rp 24.000 pada saat weekend. Oh iya, selain warga lokal yang sering body rafting, ternyata banyak juga bule-bule yang mengunjungi tempat ini pada hari-hari tertentu seperti Jumat dan weekend. Bahkan setiap bulannya, akan berganti-ganti bule dari negara seperti Amerika Latin, Amerika Serikat, Eropa dan Australia. So, pilihlah hari Jumat jika ingin cuci mata dan mendapatkan jodoh bule, hahaha.

Suara aliran air sudah terdengar dari pintu masuk. Itu tandanya hulu sungai ini sudah tidak jauh. Dan, artinya kami akan bersenang-senang masuk dalam sungai dengan air yang sangat jernih. Namun, lagi-lagi kami harus menahan terlebih dahulu karena antrian yang lumayan panjang. Sambil menunggu, kami mencoba ikan yang dapat memijat kaki. Sebetulnya bukan memijat melainkan ikan pemakan sel kulit mati di kaki. Walhasil, kaki kami seperti distrum oleh ikan yang makan kulit mati. Lucu juga karena kami harus menahan antaraa geli dan sakit karena rasa tersetrum ikan tersebut. Hahaha. 



Penantian berakhir. It's time to rock. Lihat saja air hijau nan jernih itu sudah memanggil-manggil untuk direnangi. Tentu saja saya senang mencoba body rafting di sungai yang unik ini. Selama ini saya merasakan body rafting di sekitar Jawa Tengah dengan air yang kecoklatan, namun disini airnya sangat jernih dan hijau. Mungkin saja karena dikelilingi oleh pepohonan hijau sehingga sungainya pun memantulkan cahaya hijau. 

Kami tak langsung dibawa menuju sungai yang dalam, melainkan gua dengan bebatuan. Ternyata inilah yang dimaksud dengan tantangan terjun dari ketinggian 10 meter lebih dari mulut gua. Mas Nuz dan Khaerullah yang memberanikan diri naik ke atas dari akar-akar dan mencapai atas untuk kemudian terjun. Kang Geri sebetulnya ingin mencoba namun urung dan harus turun dari ketinggian 10 meter menjadi 4 meter saja. Kalau saya pastinya akan sulit naik dari akar-akar pohon untuk mencapai ke atas. Akhirnya saya hanya mencoba dari ketinggian tak lebih dari satu meter. 



Dan setelah memasuki sungai yang sebenarnya, kami ditantang untuk menjadi tarzan. Karena berat badan saya yang mencapai 100 kg, saya hanya pasrah dan mencoba sebisa saya. Belum menganyun sampai ketengah sungai, tali itu sudah tidak mampu menahan badan saya dan terjatuh ke sungai. Byuurr. 

Setelah itu kami bermain kereta-kereta dengan cara menyambungkan kaki dengan tangan orang sebelumnya. Cukup sulit awalnya, namun berkat bantuan para pemandu akhirnya kami dapat membentuk kereta-kereta dengan bagus. 



Setelah kereta, kami membentuk formasi lainnya yaitu seperti lingkaran dan berombak karena gerakan kaki kami. Setelah itu kami naik kembali ke bendungan untuk kemudian menyusuri sungaai kecil dan berakhir di parkiran dekat dengan pintu masuk HAU Citumang. 

Pengalaman body rafting kali ini memang sangat mengasyikan. Sudah saatnya untuk kembali ke rutinitas di depan laptop dan menghadapi polusi. Suatu saat, saya akan kembali lagi ke Citumang untuk menikmati alam yang masih tersembunyi.


Info mengenai tarif body rafting ini salah satunya http://www.bodyrafting-guhabau.com/2017/09/harga-paket-body-rafting-citumang-green.html .

Dan untuk informasi mengenai HAU Citumang bisa mengakses website http://haucitumang.hotel.mypangandaran.com/ atau dapat reservasi melalui nomor 0265-639380 / 081316987988 . 

Sensasi Menginap Di Kontainer HAU Citumang, Pangandaran


How Are You Citumang? Apa kabar hari ini? Sepertinya Citumang ingin menyapa kembali melalui alam yang indah dan sungai-sungainya yang jernih. Saya pun merindu dari dalam kalbu. Anggap saja saya lebay atau apapun itu, namun tak sedikitpun kerinduan ini ditutupi oleh keraguan. Dan, dari sinilah kisah HAU Citumang dimulai. 

Rencanannya dari Jakarta kami langsung naik kereta api menuju Kota Banjar, Jawa Barat. Saya dan Raisa aka Astari telah memesan tiket yang sama. Pukul 09.00 tepat kereta kami berangkat. Seharusnya kami berempat, namun dua orang dari Bogor belum memberikan kabar apapun. Tiba-tiba dari kursi sebelah kami muncul sosok seperti Khaerul. Dan, ternyata benar dia berada satu gerbong dengan kami. Sayangnya Teh Nita tidak dapat bergabung dengan kami. Saudara Teh Nita meninggal dunia, kami harus kehilangan satu travelmate


Kereta sempat berhenti beberapa kali di stasiun-stasiun yang menjadi rutenya. Saya sempat mengabadikan gerbong-gerbong kereta yang ditumpuk menjadi satu. Mungkin gerbong ini sudah tidak digunakan atau bahkan akan digunakan. Saya hanya kagum dengan keunikan tumpukan gerbong ini. 

Perjalanan ke kota Banjar ditempuh sekitar 8-9 jam dengan kereta ekonomi Serayu jurusan Purwokerto. Saya sempat membeli nasi 4 bungkus beserta gorengan, sementara Raisa membawa rendang. Maka lengkaplah piknik di kereta ini dimulai dari makan bekal bawaan kami. Pemandangan di luar sana sangat menyejukan, banyak pepohonan dan gunung disertai langit yang amat cerah. Menjelang siang, saya berusaha untuk menutup mata. Ternyata sangat susah mata ini untuk terpejam sebentar saja. Lagu-lagu dalam handphone pun sudah diputar berulang kali. 

Seharusnya sekitar pukul 5 sore kereta kami sudah sampai di Kota Banjar, namun karena terdapat kendala teknis, barulah sekitar jam 6 kurang, kami semuanya sampai di Banjar. Sambil menunggu rombongan dari Yogyakarta, kami pun rehat sebentar. Tak berapa lama kemudian, rombongan Yogyakarta pun sampai. Satu Elf dan mobil city car telah berada di luar. Kami pun langsung menuju HAU Citumang

Sesampainya di Citumang, sinyal mulai meredup. Bahkan di dalam kontainer pun, tidak ada satupun balok sinyal yang ditemukan. Jika ingin sinyal, kami harus ke area parkiran yang berada di depan pintu masuk. Tidak ada sinyal, artinya kami harus menikmati setiap hari disini dengan aktivitas yang menantang seperti body rafting dan berenang di sungai yang jernih. 



Malam tadi setelah mandi, saya sudah tidak bisa menahan kantuk sehingga pulas tertidur. Beruntung saya tidak mimpi yang aneh-aneh. Suasana malam memang agak sunyi karena pinggir penginapan ini adalah sungai dan hutan. Lain halnya ketika pagi sudah datang. Warna-warni kontainer cukup menghidupkan suasana disini. Saya segera mandi dan mencharge batere kamera. Tadi malam, saya lupa untuk mengcharge batere kamera kesayangan. 

Sebelum beraktivitas di siang nanti, saya sempat mengelilingi penginapan dengan konsep ECO Friendly. Saya cukup terkejut karena pohon-pohon yang berada di setiap sudut penginapan ini cukup terawat, bahkan terkesan pohon-pohon ini tidak ditebang pada saat perakitan kontainer tersebut dimulai. Terbukti dengan jalan menuju kontainer yang dibuat mengikuti pepohonan. Selain itu, pengolahan air limbah pun sangat diperhatikan sehingga pada saat pembuangan ke sungai tidak menimbulkan dampak yang merugikan. 


Saat perut memanggil, ternyata sudah masuk waktu sarapan. Saya bergegas menuju ke kontainer di depan yang merupakan restoran. Letaknya persis berdampingan dengan resepsionis yang berada di depan setelah pintu masuk. Teman-teman lain sudah berada di restoran. Saya bergegas mengambil paket sarapan yang telah disediakan. Nasi kuning dengan telur mata sapi serta sayuran dan krupuk. Bagi saya, menu ini pas untuk perut saya yang lapar tapi tidak terlalu ingin penuh perut ini. 


Setelah kenyang, saya menuju ke tempat kumpul yang berada di tengah-tengah penginapan. Saya menyebutnya sebagai tempat bermalas-malasan hehehe. Disitu terdapat bantal-bantal manja yang bisa membuat siapa saja tersihir dan tertidur sesaat setelah sarapan. Setiap saat, ada saja yang berada ditempat ini. Karena memang tempatnya yang teduh dibawah pohon-pohon dan sering dijadikan sebagai tempat santai dan membawa inspirasi.  

Tempat favorite saya yang lain adalah Instagram-able spot. Oh iya, selain menyediakan penginapan, HAU Citumang juga menyediakan tempat foto dengan membayar tiket sekitar 50 ribu rupiah. Terdapat sungai dengan balon-balon pelampung yang unik dan spot untuk foto yang terdapat di atas. Biasanya memang setelah body rafting di sungai Citumang, orang-orang akan melintas di depan penginapan. Bagi yang penasaran di dalam, maka akan bertanya apa saja yang menarik dari HAU Citumang. 



Wanna escape from daily routine? HAU Eco Lodge Citumang is your answer. Setidaknya dibutuhkan waktu 3 hari 2 malam untuk menikmati penginapan, body rafting di sungai dan mengelilingi hutan yang masih sangat segar udaranya. Bisa jadi inilah petualangan terseru yang bisa didapatkan dari menginap disini.

So, tunggu apalagi. Yuk menginap dan berpetualang di Citumang yang sungainya sejernih hatiku. Hehehe. 



Fasilitas 

HAU Citumang menyediakan kamar dengan kapasitas sekitar 3 orang dengan harga kamar weekdays Rp 750.000 dan weekend Rp 1.000.000. Harganya lumayan mahal, namun jika dibagi dengan penghuni kamar maka tidak lebih dari Rp 333.333 setiap orangnya. Selain itu terdapat Coffee Shop dan restoran sehingga tidak perlu khawatir jika malam-malam kelaparan. Pada saat saya kesana belum terdapat Wifi, namun ternyata sekarang sudah di pasang wifi di dalam kamar. Oh iya harga kamar termasuk sarapan ya.

Catatan Penting
  • Dari Jakarta dapat ditempuh melalui kereta dari Stasiun Pasar Senen dengan mengunakan KA Serayu tujuan Purwokerto kemudian turun di Stasiun Banjar dengan harga Rp 67.000. Kemudian dengan mobil carteran sekitar Rp 500.000 akan diantar menuju ke HAU Citumang. 
  • Sangat disarankan untuk ke sana beramai-ramai karena akses yang membutuhkan mobil carteran 
  • Body rafting dapat ditanyakan kepada pihak HAU Citumang, terdapat paket lengkap dengan body rafting
  • Dari pangandaran dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi sekitar 1 jam kurang
Credit foto to Astari www.ivegotago.com 

Informasi HAU Eco Lodge Citumang 

Alamat 

Sukamanah RT 1/Rw 6, Bojong, Parigi, Pangandaran, Jawa Barat 46393

Website 


Reservasi 

0265-639380 / 081316987988

Rate 

Weekdays : Rp 750.000
Weekend : Rp 1.000.000 

Instagram 

Maps