5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa


5 Catatan Penting Saat Saya Berkunjung ke Air Panas Soa. Banyak orang tidak tahu tentang Ae Sale Mengeruda. Tapi kalau Air Panas Soa (baca: So'a) semua orang pasti tahu. Sejak dulu saya pengen bisa pergi ke obyek wisata yang satu ini. Selalu gagal. Selalu batal. Akhirnya keinginan untuk berendam kaki di lokasi wisata yang terletak di Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada itu pun terwujud pada Minggu, 27 Oktober 2019. Sayangnya waktu pergi ke sana saya hanya merendam kaki, bukan seluruh badan. Sengaja sih ... tidak bawa pakaian ganti pun. Hehe. Yang penting saya sudah ke sana, memenuhi keinginan lama itu.

Ada banyak catatan penting dari perjalanan menuju Air Panas Soa hingga suasana di obyek wisata tersebut. Tapi, seperti biasa, di pos blog ini saya hanya merangkum lima saja. Mau tahu apa-apa saja? Marilah dibaca sampai selesai.

1. Jalur Dari Timur yang Bagus


Menuju Air Panas Soa ada dua jalur yang bisa ditempuh. Karena kami datang dari Timur, jalur yang ditempuh adalah Ende - Boawae - Soa. Untuk tiba di obyek wisata ini kami tidak perlu memutar dan/atau pergi terlebih dahulu ke Kota Bajawa yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Ngada. Cukup ke Kecamatan Boawae yang merupakan salah satu kecamatan dari Kabupaten Nagekeo, lantas mengikuti jalur, jalan aspal selebar sekitar dua meter, menuju Desa Piga, Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada.



Jalur Boawae - Soa ini sangat bagus: jalan aspal dan minim lubang. Tidak terlalu lebar, memang, tapi sepadan dengan kendaraan yang juga tidak seberapa ramai. Berasa seperti jalur/jalan privat. Akan sangat jauh berbeda jika mengikuti jalur utama Trans Flores: Boawae - Bajawa, silahkan berlomba-lomba dengan aneka kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil, truk, fuso, tanki minyak, dan lain sebagainya.

2. Entrance dan Parkiran yang Tertata Rapi


Saya suka entrance dan parkiran Air Panas Soa. Parkirannya tertata rapi, dengan pohon-pohon rindang menaungi pengunjung bersantai sejenak, disertai baliho dengan gambar informasi tentang obyek-obyek wisata yang ada di Kabupaten Ngada.



Rata-rata obyek wisata yang ada di baliho itu merupakan obyek wisata 'baru' sehingga jangan cari Kampung Adat Bena, kemungkinan tidak ada. Justru yang ada adalah Watunariwowo di Perbukitan Langa.

3. Jejeran Kios


Ini yang cukup penting dari suatu tempat wisata, terutama jika tempat wisatanya sangat jauh dari daerah perkotaan.


Jejeran kios ini sangat membantu pengunjung dari jauh, seperti kami, yang mengendarai sepeda motor. Maklum, cuaca sedang sangat panas-panasnya. Kalau melihat foto di atas, kalian akan melihat papan informasi karcis masuk. Tidak hanya di situ, di loket pembelian/pembayaran karcis pun ada kertas yang ditempel, kertas itu berisi informasi tentang karcis juga.

4. Pemetaan Lokasi di Dalam Air Panas Soa


Ini keren. Jadi, pemerintah tahu banget soal kebutuhan masyarakat atau pengunjung. Di dalam lokasi Air Panas Soa ada tiga pemetaan utama. Pertama: gazebo. Kedua: taman bunga dan taman buah. Tiga: tempat berendam/pemandian. Ketiganya dihubungkan dengan jalan setapak yang cukup rapi. Tetapi hari itu sedang ada pengerjaan/perbaikan sehingga kami harus memutar ke sana sini hehe.



Selain itu, disediakan pula kamar mandi tempat menyalin pakaian. Maklum, kami masih sangat teguh memegang adat ketimuran sehingga sangat sulit bagi kami memamerkan bodi dengan memakai bikini. Haha. Rata-rata orang yang berendam di Air Panas Soa, kalau lelaki mengenakan celana pendek, kalau perempuan mengenakan kaos dan celana pendek. Kalau yang berhijab tinggak disesuaikan saja. Yang jelas, semua masih sangat sopan untuk sebuah tempat pemandian umum seperti itu. Ingat, ngeres itu datangnya dari diri sendiri *ngikik*. Tempat menyalin baju di mana lagi kalau bukan di kamar mandi?

5. Memegang Adat


Di Air Panas Soa, bagian dekat loket penyerahan karcis masuk, berdiri gagah ngadu.


Ngadu merupakan simbol leluhur lelaki. Sedangkan simbol leluhur perempuan itu bernama bagha yang berbentuk rumah adat mini (ibu sebagai tempat penyimpanan makanan). Menariknya, ngadu yang ini berbeda dengan ngadu yang pernah saya potret di Kecamatan Aimere. Di Kecamatan Aimere, ngadu-nya tanpa tangan.

⇜⇝

Itu dia lima catatan penting saya saat berkunjung ke Ae Sale Mengeruda atau Air Panas Soa. Jelas ya, tempat wisata ini dikelola dengan sangat baik, semuanya serba teratur, jadi malu juga untuk buang sampah sembarangan. Hehe. Tempat sampah ada di mana-mana, makanya kesannya bersih sekali obyek wisata ini. Semua sama-sama menjaganya.
\

Baca Juga: 5 Jenis Tenun Ikat dari Provinsi Nusa Tenggara Timur

Yang jelas, kalau kalian pergi ke Air Panas Soa melewati jalur dari Timur, jangan lupa untuk mampir foto-foto di perbukitannya yang ausam! Informasi lengkap tentang perjalanan saya, Thika, dan Yusti ke Air Panas Soa, bisa kalian baca di pos berjudul Merendam Kaki di Obyek Wisata Ae Sale Mengeruda.

Yuk ah ...

#KamisLima



Cheers.

Belum Musim Liburan Tapi Jalan-Jalan Terus


Baca judulnya saja sudah bikin kesal kan ya. Belum musim liburan tapi jalan-jalan terus. Haha. Mohon maaf. Mohon maaf karena beberapa kali tidak update konten blog ini karena satu dan lain hal. Satu dan lain hal itu salah satunya jalan-jalan *ngakak guling-guling* demi menyenangkan diri sendiri. Memang betul, kadang otak saya terbolak-balik. Saatnya liburan  malah ngendon di kamar, saatnya bekerja malah jalan-jalan. Tapi toh jalan-jalannya bukan karena korupsi waktu kerja. Itu dilakukan setelah waktu kerja atau saat hari libur. Dosa, tahu, korupsi itu!

Baca Juga: Berburu Spot Foto Instagenic di Dapur Jadul

Minggu kemarin setelah saya bertugas ke luar kota, again, yaitu di Desa Tanali, dan jalan-jalan ke dua lokasi wisata yaitu Dapur Jadul di Pantai Raba dan Bukit Wolobobo di Kabupaten Ngada dengan view Gunung Inerie (yang ini belum saya tulis di blog travel), lagi-lagi saya diajak sama teman-teman ke lokasi embung. Namanya Embung Boelanboong di Kecamatan Wologai Tengah. Berangkatnya pukul 14.00 Wita. Memang! Itu sudah kesiangan. Tapi mengingat kami harus menyesuaikan waktu kerja masing-masing. Tentang embung ini nanti akan saya tulis lengkap di blog travel. Nantikan.

Keesokan harinya, Minggu (7 Juli 2019), saya diajak Kakak Nani Pharmantara pergi ke Mbay, again! Mana bisa saya tolak diajak sama kakak? Halah haha. Rencananya si Iwan dan Reni, keponakan saya itu, bakal membangun rumah sendiri. Karena kan selama ini mereka masih tinggal di rumah dinas Pustu Towak tempat Reni bekerja. Senangnya adalah meskipun tidak disuguhi daging bebek dan daging domba, padahal pengen, ikannya itu manisssss banget. Segar! Ikan yang baru saja ditangkap begitu jadi rasanya segar dan manis. Kami tidak menginap di Mbay, tapi rencananya Minggu depan bakal ke sana lagi saat fondasi hendak dibangun. Insha Allah.

Jadi, itu dia. Belum musim liburan tapi sayanya jalan-jalan terus. Ke Desa Tanali untuk meliput kegiatan Fakultas Teknik khususnya Prodi Sipil, ke Dapur Jadul memuaskan hasrat bersantai, ke Bukit Wolobobo dengan view Gunung Inerie, ke Embung Boelanboong, dan ke Mbay. Capek? Iya lah, jarak tempuhnya kan lumayan jauh, luar kota, dengan kondisi jalan berkelok-kelok yang bisa bikin pengendara dan penumpang mabok. Tapi saya senang.

Ada satu lagi kesibukan yang membikin saya kemarin sempat absen menulis dan belum bisa blogwalking ke blog kalian semua. Mohon maaf ya. Kesibukan itu berkaitan dengan stik keju dan stik bawang! Loh? Kok bisa? Iya nih. Ternyata ketika saya mencoba menawarkan stik keju dan stik bawang ke teman-teman, malah laris manis dan permintaan meningkat *tsah, meningkat, haha*. Jadi, saya harus dengan rela hati memenuhi permintaan stik keju dan stik bawang demi tabungan bekal membeli berlian *digampar dinosaurus*. Ada pula rencana yang harus saya wujudkan, Insha Allah, dan itu membutuhkan lebih banyak Rupiah. Hehe.

Baca Juga: Lebih Baik Sakit Hari Dari Pada Sakit Gigi Ini

Cerita tentang jalan-jalannya nanti dibaca di blog travel, ya. Siapa tahu bakal jadi magnet kalian ke Pulau Flores. Dan mohon maaf apabila belum sempat blogwalking. Tapi teteup saya pasti blogwalking karena itu adalah hiburan menyenangkan soalnya sekaligus menutrisi otak *kedip*.




Cheers.

Berburu Spot Foto Instagenic di Dapur Jadul di Raba


Saya sudah pernah menulis, bisa dicari di blog travel ini, tentang Ibu Kota Kabupaten Ende yaitu Kota Ende yang dikelilingi oleh gunung dan pantai. Ibarat asam di gunung, garam di laut, bertemu di mangkuk bernama Kota Ende. Alhamdulillah salah satu lokasi pantai di daerah Raba, sekitar sepuluh kilometer arah Barat Kota Ende, kemudian dimanfaatkan oleh pengurus dan pengelola Ponpes Panti Asuhan Wali Sanga, Kakak Nona Eka, sebagai tempat pelesir bernama Dapur Jadul.

Baca Juga: Seorang Kapten Kebanggaan yang Gugur Saat Bertugas

Dapur Jadul dibikin dengan konsep: tempat makan, tempat bersantai, dan tempat berburu foto. Seperti yang sudah sering saya bilang, suasana merupakan komoditi utama yang dijual, setidaknya demikian penilaian saya terhadap Dapur Jadul. Siapa sih yang tidak senang bersantai sekeluarga di tepi pantai, bisa main di pasir, makan-makan, bahkan bisa sambil tiduran karena disediakan pula beanbag. Karena, makanan bisa kita temukan di mana saja, termasuk di dalam Kota Ende yang dijamuri kafe kekinian, tapi suasana ... itu perkara lain.

Dari pintu masuk, pengunjung langsung disambut sama petugas parkir yang kadang membantu pengunjung memarkir kendaraan roda dua. Kalau roda empat, silahkan parkir di area roda empat lah. Setelah itu pengunjung disambut dua atau tiga petugas lagi yang mengenakan kain kotak-kotak, baik perempuan maupun laki-laki. Mereka ini yang bakal menyerahkan menu dan form pesanan. Dibawa saja dulu, nanti kalau sudah menentukan menu, boleh memanggil petugas yang lalu-lalang di sekitar. Jangan lupa menulis nama dan nomor meja. Meja-mejanya juga ada yang berbahan peti kayu/palet. Asyiklah!

Pusat Dapur Jadul, bagian dapur, terletak di sisi Timur, cukup luas, dengan bagian depan yang ditata apik pun menjadi spot foto seperti ranjang dengan aneka bunga, vespa jadul (seperti foto di atas), baliho besar yang keseluruhannya bergambar Bung Karno, latar kain-kain dengan pigura (kebesaran ini piguranya haha), hingga ornamen-ornamen unik.

Yang paling menarik, saya yakin ini magnet terbesar karena pertama di Kota Ende, adalah disediakannya motor ATV dengan track sepanjang pantai.  Ada dua motor ATV yang disediakan tapi tetap saja saya tidak kebagian. Antriannya panjang, woih. Semua orang harus 'menaikinya' dan mungkin mengendarai ATV merupakan cita-cita yang dibawa saar keluar rumah menuju Dapur Jadul. Saya harus ke sana lagi lah biar punya foto kekinian dengan motor ATV hahaha.

Karena saya sudah menulis tentang Dapur Jadul, lengkap pakai bonus kedipan mata, di blog travel, kalian bisa langsung membacanya di sana.

Baca Juga: PBSI Belajar Nge-blog

Yang jelas, Dapur Jadul yang terletak di pinggir Pantai Raba juga di pinggir Jalan Ende - Nangapanda (sekitar sepuluh kilometer ke arah Barat dari Kota Ende) itu sangat mempesona. Dapur Jadul memadukan atraksi wisata alam (pantai) dan wisata buatan (aneka spot foto instagenic). Tidak dikenakan biasa masuk, boleh membawa makanan dari luar, tapi tetap harus ada pesanan makanan ke dapurnya Dapur Jadul. Asyik kan?

Hyuk main ke sini :)




Cheers.

#PDL Kubur Batu di Lamboya



#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Menulis ini karena saat ini saya kembali tergabung dalam Panitia Tim Promisi Uniflor (Uniflor: Universitas Flores). Sebuah tim yang dibentuk dan diberikan SK khusus. Bisa bertindak khusus? Tergantung kebutuhan. Hahaha.

Baca Juga: Bikin Video Lip Sync

Apa Itu Tim Promosi Uniflor?


Bukankah Uniflor sudah punya website sendiri dan aneka akun media sosial? Kenapa harus ada tim khusus ini? Karena tim khusus ini lebih 'mengjangkau' masyarakat. Karena, tidak semua murid SMA dan orangtua yang menggunakan internet dan media sosial. Karena, kalaupun mereka menggunakan internet dan media sosial, belum tentu ragam e-poster yang dibagikan itu terlihat dan terbaca oleh mereka. Karena, seperti kata saya waktu masih kerja di radio, iklan adlip lebih pamungkas dari iklan rekaman.


Foto di atas adalah foto-foto ketika saya melakukan promosi Uniflor di Pulau Sumba tepatnya di Kabupaten Sumba Barat dan Kabupaten Sumba Tengah.

Siapa-Siapa Saja?


Ada dosen. Ada karyawan, atau di Uniflor lebih sering disebut pegawai. Istilah lainnya, ada tenaga pendidik dan ada tenaga kependidikan. Mereka-mereka yang dilihat mampu berbicara di muka publik dengan magnet yang lumayan kuat untuk menarik minat murid SMA khususnya yang duduk di kelas tiga. Tapi umumnya dosen dan pegawai Uniflor itu pasti mampu berbicara di muka publik karena setiap hari selalu berhadapan dengan (ribuan) mahasiswa.


Foto di atas bukan saya sedang menari loh hahaha. Tapi sedang menjelaskan tentang Uniflor kepada audiens. Cie. Dan cara pertama yang saya pakai adalah menanyakan apakah mereka kenal Rapper Family Clan sebuah grup rap dari Ende? Saya masih ingat betul waktu itu komunikasi langsung berjalan lancar gara-gara banyak dari mereka yang mengidolakan Rapper Family Clan. 

Ke Mana Saja?


Ini yang menarik. Tim Promosi Uniflor dikirimkan ke titik-titik di Pulau Flores. Kami menyebutnya Barat, Timur, Kota, Utara. Hanya pada tahun 2015 saja tim promosi ini menjelajah Pulau Sumba. Saya selalu suka bilang: nantikan kami di sekolah kalian ya!

Apa Kaitannya Sama Pos Ini?


Tahun 2015, seperti yang sudah kalian tahu dari cerita dan tulisan di atas, saya dan lima dosen lainnya (kelimanya laki-laki, jadi saya perempuan seorang dan pegawai seorang haha) berangkat ke Pulau Sumba untuk promosi Universitas Flores. Kami terbagi dalam tiga tim yaitu Tim Sumba Barat Daya, Tim Sumba Barat, dan Tim Sumba Timur. Dua tim pertama kemudian bergabung menuju Sumba Tengah untuk promosi kampus, lantas ke Sumba Timur untuk bersatupadu dengan tim lainnya dan menunggu waktu pulang ke Ende.

Saat berada di Pulau Sumba itu, kami sangat beruntung, karena sempat menyaksikan Pasola yang dilaksanakan di dua kabupaten yaitu di Kabupaten Sumba Barat Daya dan Kabupaten Sumba Barat. Ini fotonya waktu saya menyaksikan Pasola di Lamboya - Sumba Barat:


Baca Juga: #PDL Menjadi Hakim Anggota

Sehari sebelum Pasola (saat Pasola merupakan hari libur untuk kabupaten yang menyelenggarakannya) saya dan Pak As mengunjungi SMA di Lamboya. Dari SMA itu kami mampir ke bukit tempat kubur-kubur batu berdiri. Di Pulau Sumba, kubur batu dapat juga ditemui di daerah kota. Salah satunya seperti yang kalian lihat pada awal pos. Pemandangan di Lapangan Lamboya (tempat Pasola berlangsung) sungguh luar biasa. 


Lamboya yang cantik, denga jalan tanah/pasir putih (saya lupa menanyakan), dan hamparan bukit menghijau ... jadi mirip bukit-bukit di filem Teletubbies.



Dua foto di atas adalah foto bukit tempat kubur-kubur batu berdiri. Salah satunya yang ada sayanya donk hehe. Waktu mau difoto sambil saya memegangi kubur tersebut, dalam hati saya berkata: kakek, bapak, ibu, nenek, siapapun penghuni kubur ini, saya ijin buat foto, permisi ... Nah, setelah difoto saya masih melihat-lihat kubur batu lainnya dan mata saya menumbuk kubur batu yang tutupannya membuka. Astaga! Ini dia penampakannya:


Ada kain warna merah di situ. Yang lainnya bebatuan kecil, ada tulang juga kalau tidak salah sih hehe. Saya langsung berdiam diri dan berdoa untuk keselamatan mereka-mereka yang ada di dalam kubur-kubur batu di Bukit Lamboya. Karena tugas kita yang masih hidup adalah mendoakan mereka yang telah lebih dulu berpulang, tidak peduli apa agamanya, hehe. Menurut saya, kalau kalian tidak setuju, tidak masalah. Sayangnya waktu itu tidak ada penduduk lokal yang bisa saya tanya-tanya perihal kubur batu. Tidak masalah. Itu pertanda saya harus kembali ke sana untuk melakukannya *maunya!*.

Pernah, saya pernah begitu ... bagaimana dengan kalian?

Oia, jangan lupa bagi adik-adik yang duduk di bangku kelas 3 SMA, khusus area Pulau Flores dan sekitarnya, kuliah di Uniflor yuk! Kali ini saya kembali menjadi panitia Tim Promosi Uniflor yang bertugas di Kabupaten Ende, dan membantu area Mbay dan Mataloko.



Baca Juga: #PDL Piknik Setiap Minggu

Maaf, promosi di blog juga :D



Cheers.

#PDL Jalan Malam Keliling Kota

Simpang Lima Ende.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; jalan-jalan di sekitar Kabupaten Ende, backpacker-an ke tempat-tempat di luar Kota Ende, merusuhi acara, termasuk perbuatan iseng bin jahil bin nekat.

***

Saya ini orangnya tidak tentu. Kadang spontan, kadang penuh rencana. Ketika saya menjadi begitu spontan (halah, bahasanya) biasanya orang lain yang keki setengah mampus sampai ingin mengeluarkan isi otak saya. Tapi kalau sedang berencana dan orang lain melanggar rencana itu, suasana hati saya langsung memburuk penuh mendung hitam menggantung, tinggal tunggu petir dan guntur mengamuk. Jadi kalau ditanya saya ini tipe seperti apa ... bingung juga hahaha. Sulit mendeskripsikan diri sendiri. Yang jelas saya tidak suka makan orang, tidak suka lelaki, tidak suka tipu-tipu. Tipu itu ... apa ya ... sekali menipu nanti akan terus menipu. Itu menurut saya.


Omong-omong ... eh, nulis-nulis soal spontan dan penuh rencana ini, berkaitan dengan kegiatan jalan malam keliling kota yang seterusnya disebut JMKK (ini istilah dari sahabat saya si Sisi; namanya Sisi). Iya, pernah. Saya pernah jalan malam keliling kota. Demi apa, anak-anaaaak? Demi mengurangi kadar gula dalam darah. Soal bobot yang berkurang banyak, itu super bonus. Sebenarnya, ide awal JMKK ini datang dari Sisi. Tapi dia jalannya siang bolong. What? I can't! Pekerjaan tidak memungkinkan saya jalan siang bolong keliling kota yang kalau disingkat menjadi JSBKK. Soal singkatan ini, jangan pernah menyingkat nama saya karena jadinya PDIP.

Adalah Inggi alias Mei Ing, ya - dia lagi, yang menyarankan saya untuk JMKK. Syaratnya: setelah mandi dan Shalat Subuh Maghrib, JMKK, setelahnya tidak boleh mandi lagi thanks God, dan tidur. Apakah saya melakukannya? Belum. Saat Inggi menyarankan itu, saya masih uring-uringan dan lebih sering menghabiskan waktu di depan teve menonton serial ini itu yang tayang di Fox, AXN, StarWorld, NatGeo. Syukurlah sekarang teve telah tidak dinyalakan di rumah kami.

Lantas ...

Spontanitas itu pun datang ...


Tanpa persiapan, tanpa aba-aba, sore itu (yang saya ingat tahun 2012) saya mengajak asisten Mamatua yang lama yang dipanggil Mamasin (bukan Mamasia) JJMK! Belum selesai wajah melongo Mamasin, belum selesai otaknya mencerna ajakan JMKK yang sangat tiba-tiba itu, saya sudah menyeretnya menuju jalan raya. Tanpa sepatu. Mamasin meringis ingin menangis tapi karena saya mengajaknya mengobrol, sakit pada telapak kaki pun hilang atau dia pura-pura kakinya tidak sakit lagi. Waktu itu memang tidak pakai sepatu karena konon katanya bagusan tidak pakai sepatu.

Mural di Polres Ende. Ende Lio Sare Pawe.

JMKK bersama Mamasin waktu itu dilakukan kontinyu, setiap malam usai Shalat Maghrib, dengan rute yang berganti-ganti. Hari pertama rute-nya yang singkat-singkat saja. Hari berganti hari seolah waktu akaaan malah nyanyi lagunya sinetron Tersanjung haha. Hari-hari berikutnya rute kami menjadi lebih jauh. Yang biasanya hanya satu kilometer JMKK, menjadi enam kilometer. Pokoknya semakin banyak keringat yang keluar, semakin bahagia perasaan saya. Sebahagian kalian yang akhirnya dilamar :p

Apa efeknya?

Efek JMKK sangat luar biasa. 

Efek pertama adalah mengantuk. Setiap kali kadar gula dalam darah meningkat atau berkurang, beberapa penderita diabetes merasa sangat mengantuk + sekali. Parahnya kantuk ini menyerang kapan pun dia mau. Pernah saat sedang mengendarai Oim Hitup (my matic) dari luar kota menuju Kota Ende, saya nyaris keluar dari badan jalan. Tuhan, tolong ... kalian tahu kan kondisi jalan antar kabupaten di Pulau Flores? Kanan jurang, kiri tebing. Kanan tebing, kiri sawahnya orang. Alhamdulillah setelah berhenti sejenak, loncat-loncat, membayangkan wajah Ryan Gosling, saya bisa melanjutkan perjalanan dan tiba di rumah dengan selamat.


Enam bulan JMKK kontinyu, dengan sesekali absen, efek yang lebih kentara di mata orang lain adalah bobot. Haaa? Suara ndenga/sengau antara tidak percaya tapi senang banget sama penilaian orang.

Are you sure?

Really?

Iyess. Bobot saya berkurang ternyata dan itu saya sadari ketika berusaha memerhatikan pakaian di tubuh. Oh, iya agak longgar di sana, di sana, dan di sana. Lemak pipi pada ke mana ya? Artinya, JMKK benar-benar menyukseskan saya mengurangi kadar gula dalam darah. Bonus: bobot berkurang banyak!

Bunga di halaman orang haha.

Lanjutannya ini berhubungan dengan manusia sebagai makhluk lemah ciptaan Tuhan. Sebagai manusia lemah iman, yang suka lekas puas sama hasil, saya kemudian berhenti JMKK. Efeknya? Kadar gula dalam darah kembali naik gara-gara sedikit keringat yang dikeluarkan sejak berhenti JMKK itu. Payah lu Teh. Tentu, ketika kadar gula meningkat saya jadi sering mengantuk juga hahaha. Tapi kengerian sebenarnya bukan pada kadar gula dalam darah, melainkan neuropathy yang kemudian menyerang kedua kaki saya. Awalnya hanya satu jari yaitu jari manis di kaki kiri, akhirnya merambat ke seluruh kaki.

Dan saya masih menertawai betapa bodohnya saya berhenti JMKK waktu itu. Saya tertawa karena untung kaki saya yang mati rasa dan menjadi menjengkelkan kala tidur malam. Bagaimana kalau perasaan saya yang mati rasa?

Bueh.

Setelah itu saya masih saja dengan kebiasaan buruk yakni jarang olahraga. Sering melewatkan jalan sehat mingguan bersama teman-teman kantor. Sering melewatkan ajakan olahraga dari teman-teman lain. Hingga saya mulai diet DEBM pada tahun 2018 kemarin, yang menyebabkan kadar gula dalam darah saya kembali berhasil dirosotkan (APA PULA BAHASA INI) dari 400-an menjadi 50-an. Dan itu tidak boleh. Maka saya kembali mengkonsumsi karbo meski tidak banyak. Efeknya juga ke bobot tubuh. Itu pasti.


Pikir punya pikir, kalau DEBM utuh kadar gula dalam darah saya merosot terlalu jauh, sedangkan saya kembali mengkonsumsi sedikit karbo ... maka saya harus punya solusi lain.

A-ha!

*tring!*

JMKK!

Again.

Spontanitas JMKK kali ini melibatkan Ocha yang mana dia juga senang karena ingin membesarkan betis. Itu katanya Ochaaaa, bukan kata saya hehe. Sudah semingguan JMKK dan efeknya terasa sekali di kaki.

Kalau dulu JMKKnya hanya sambil mengobrol dengan Mamasin, maka sekarang JMKKnya sambil foto sana sini terutama kalau melihat tanaman di rumah orang. Gemas-gemas bergembira lah kita. Beberapa foto JJMK bisa kalian lihat sepanjang membaca pos ini.

Bagaimana dengan kalian? Pernah JMKK juga?


Cheers.

#PDL Harmonisasi Di Saung Angklung Udjo

Nemu foto ini di situs travelnya detik(dot)com.


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; termasuk tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***

Rabu kemarin saya membaca komentar dari Himawan pada pos Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah tentang penduduk lokal yang kebingungan waktu kami bertanya lokasi sanggar dimaksud. Himawan (or Hino) mengandaikan penduduk lokal sekitar sanggar juga dilibatkan di dalam kegiatan-kegiatan sanggar sehingga bisa sespektakuler Saung Angklung Mang Udjo atau Saung Angklung Udjo. Penduduk memang terlibat, namun anak-anaknya saja yang dilibatkan ikutan sanggar tersebut, berlatih Tari Topeng bersama cucu Miras yaitu Aerli.


Bicara soal Saung Angklung Udjo artinya bicara soal wisata budaya yang dijaga dan dilestarikan dengan kemasan sangat menarik. Saung Angklung Udjo terletak di Jalan Padasuka 118, Bandung, Jawa Barat. Lokasi ini dibagi-bagi menjadi tempat pertunjukan, toko souvenir, tempat makan, dan lain-lain yang tentu sekarang sudah jauh lebih berkembang. Tahun 2010 waktu ke Saung Angklung Udjo saya sangat menikmati cuci mata di toko souvenir-nya itu. Sebagai wanita imut dan beperasaan halus saya juga gemas donk melihat ragam benda mini-mini menggemaskan salah satunya gantungan kunci berbentuk angklung.


Hari itu saya dan Acie berkesempatan menonton Pertunjukan Bambu Petang. Seperti foto di awal pos ini kalian bisa melihat seorang perempuan berkebaya biru dan anak-anak kecil bermain angklung. Di sini lah proses pengenalan dan pelestariannya terjadi karena secara tidak langsung penonton dengan latar belakang beragam itu diedukasi tentang angklung; cara memegang, cara memainkannya, dan betapa angklung tidak dapat berdiri sendiri-sendiri alias memang harus dimainkan dalam kelompok, dengan anggota yang sudah tahu nada dasar yang mereka 'pegang'. Kira-kira begitulah.


Kemudian panitia/pengelola membagikan kami angklung masing-masing satu. Sudah tahu cara memegang dan memainkan alat musik ini, lantas perempuan berkebaya biru mengetes nada masing-masing kelompok, kira-kira sepuluh sampai limabelas orang per kelompok. Dia memberi instruksi pada kami. Kami, yang belum saling mengenal dan kebetulan sama-sama terdampar di suatu pertunjukan petang ini, hanya dengan melihat arah tangan si instruktur, bisa memainkan satu lagu dengan utuh yaitu lagu Ibu Kartini.


Aweeeesomeeee! Harmonisasi yang tercipta menggenapi kepuasan kami mengunjungi Saung Angklung Udjo. Terima kasih untuk pengalaman yang luar biasa ini.

Usai bermain angklung, kami menyaksikan pertunjukan wayang golek. Tapi saya lupa kisah tentang apakah yang ditampilkan hari itu.


Usai pertunjukan wayang golek, saya dan Acie masih sempat berlama-lama di toko souvenir, melihat sana-sini, cuci mata, gemas-gemasan sama penjaga lelaki, terus membeli beberapa souvenir, dan memutuskan untuk pulang. Kami masih punya tugas mencari lokasi pembuatan / pengrajin wayang golek. Untungnya saya masih menyimpan foto si bapak di bawah ini:


Situs yang memuat artikel tentang Golek; Bukan Boneka Biasa yang saya tulis untuk Detik, memang belum bisa dibuka, untungnya Om Bisot pernah membuat status tentangnya di Facebook. Hahaha. Sumpah, ngakak tiarap saya melihat foto yang satu ini:


Terima kasih, Om *jempol paling gede* berkat ini, tidak hilang jejak digitalnya *tsaaaah*.


Jadi kalau ditanya, pernahkah saya ke Saung Angklung Udjo? Pernah, saya pernah ke sana. Saya pernah bermain angklung dalam kelompok penonton dan kerja sama tim ini menghasilkan harmonisasi yang mengagumkan. Kita harus banyak belajar dari (filosofi) angklung ini. Dan pernah, saya juga pernah mengunjungi pengrajin wayang golek dan pura-pura memainkannya supaya difoto sama Acie. Ternyata saya pernah juga PERNAH SEBESAR ITU. Hahaha ...

Bagaimana dengan pengalaman kalian?


Cheers.

5 Yang Unik dari Ende (Bagian 1)


Waktu jadi penyiar radio alias radio jockey di Radio Gomezone saya selalu menuntut diri sendiri untuk lebih kreatif. Urusan kreatif ini, (ceritanya) pernah sudah hampir lelap terus sesuatu yang horor disebut ide terlintas. Langsung saya meloncat dari ranjang lantas menghidupkan laptop. Demi apa? Demi berusaha menjadi yang unik dengan ide yang terlintas itu; agar mudah dikenang dan sulit dilupakan. Kreatifitas itu berhubungan dengan program-program yang menarik pendengar, dan isi program itu haruslah berbobot agar kita tidak terkesan menjual kucing dalam karung. Sialnya, ide selalu muncul pada saat yang tidak kita duga; sudah hampir lelap, atau saat sedang ngetem di kamar mandi, atau saat sedang rapat di ruangan big boss.

Baca Juga:
 
For wai ai, menjadi penyiar itu tidak semudah cuap-cuap di depan cermin, jika itu yang kalian bayangkan. Otak harus terus di-klik-kanan dan pencet tulisan refresh.

Saya menjadi penyiar Radio Gomezone sejak tahun 2004. Radio (FM) tersebut lantas mati (suri) pada tahun 2009 karena satu dan lain sebab. Tahun 2016 radio tersebut kembali mengudara tetapi lewat jalur online. Lagi, karena satu dan lain sebab Radio Gomezone kembali mati (entah suri atau tidak), dan itu yang belum saya ketahui sampai sekarang. Apakah ada rencana untuk kembali menggeliatkannya atau tidak. Entah. Tetapi, yang perlu diingat, Radio Gomezone merupakan radio anak muda yang paling populer pada masanya dengan kunjungan Gomezoner (julukan untuk pendengarnya) ke studio itu bisa ... ah ... entahlah berapa banyak. Saya selalu kekenyangan setiap kali ada Gomezoner yang berkunjung ha ha ha.

Sebagai manajer operasional dan produser, salah satu tugas saya adalah membikin program. Tahun 2004-an, membikin program tidak sesulit tahun 2016, saya mengalami itu. Tahun 2016, harus putar otak kanan-kiri memikirkan bakal program (kece) untuk diudarakan di radio ini. Saya sendiri kemudian memegang program Variety Show yang mengudara setiap Senin - Sabtu, pukul 19.30 - 21.30 Wita, diantaranya Repeater, Review, Focus, Ngobras, Backpacker, sampai Tuwan Saturday Night Show.

Dibikin oleh Yoyok Purnomo.

Backpacker itu program yang menurut saya keren sekali. Kalau sudah mau mengudara Backpacker, sel-sel di tubuh saya seakan sedang menari rokatenda hahaha. Mengapa demikian? Karena saya dan Iwan Aditya (partner siaran) sama-sama tukang jalan. Selain itu, saya dan Martozzo Hann (partner videografer) sering jalan-jalan dan membikin video singkat tentang lokasi kita jalan-jalan itu (zigizeo). Ada saja yang selalu bisa kita bahas di program Backpacker. Salah satunya berjudul Yang Unik dari Ende!

Ide tentang yang unik dari Ende ini sebenarnya berasal dari tulisan di bakal buku saya yang berjudul Endelicious. 


Mungkin tulisan ini bakal dipos di blog atau harus dicarikan penerbit, nantilah. Yang jelas di dalam naskah itu saya menulis tentang hal-hal unik dari Ende yang ternyata ... banyak! Akhirnya yang unik dari Ende ini menjadi salah satu tema/bahasan di program Backpacker.

Oleh karena itu, kali ini saya ingin mengajak kalian untuk mengenal lima hal yang unik dari Ende (bagian 1, akan ada bagian 2, dan seterusnya kalau memang masih ada hahah).

Apa saja sih yang unik dari Ende?

Mari kita simak.

1. Nama Unik

Ende sudah ketahuan unik dari namanya saja. Kalian sering membaca SBY (Surabaya) atau DPS (Denpasar) kan? SBY dibaca Es Be Ye. Sama juga, DPS dibaca De Pe Es. Tetapi ND dibaca En De. Itulah keunikan terhakiki dari Ende. hehe. Jangan heran kalau kalian melihat anak muda memakai kaos yang tulisannya hanya dua huruf: ND. Dia pasti berasal dari Ende, our beautiful city.

2. Ende si 'Anak' Tengah

Kabupaten Ende berada di Pulau Flores. Tahukah kalian, titik tengah Pulau Flores berada di Kabupaten Ende? Titik tengah itu berada di KM 17 arat Timur dari Kabupaten Ende. Ada sebuah batu yang ditempeli prasasti bertulis Floresweg Geopend dengan tahun yang tertera 1925. Karena keberadaannya di tengah Pulau Flores ini lah maka mempermudah siapa pun yang hendak ke Barat maupun ke Timur. Asyik kan?

3. Dua Suku, Dua Bahasa

Di Ende mentap dua suku yaitu Suku Ende dan Suku Lio. Suku Ende ini di bagian pesisir Kota Ende sampai Nuabosi dan Nangapanda. Suku Lio di bagian Timur hingga perbatasan dengan Kabupaten Sikka (pemetaan secara garis besarnya seperti itu). Dua suku ini punya bahasa dan dialek yang berbeda yaitu bahasa Ende dan bahasa Lio. Jangan harap kalian yang bisa bahasa Ende sudah pasti bisa bahasa Lio ... belajar, bung :) qiqiqiqi. Pernah ada wacana menambahkan satu etnis yaitu Etnis Nage karena bahasa dan dialeknya agak berbeda, tapi saya belum tahu sampai di mana proses naskah akademik soal itu sekarang.

4. Kami Penyingkat Kata

Sudah tahu sahabat blogger saya, bang @indobrad yang sampai pernah membikin nama situsnya "Kopi Mana?". Kata bang Indobrad nama blog itu terinspirasi dari kami Orang Ende, yang suka menyingkat kata. Orang Ende ini penyingkat kata, perlu diulang. Kau pergi ke mana menjadi kopi mana, saya pergi ke pasar menjadi sa pi pasar, sudah biasa menjadi su biasa, dan lain sebagainya hehe. Kopi Mana di situs bang Indobrad itu merujuk pada dunia traveling-nya yang dimuat di situs tersebut. Cocok!

5. Lima Menit itu Memang Ada

Kalian sering membaca atau mendengar orang bilang, "tunggu lima menit"? Yang seperti itu memang terjadi di Ende, bukan kiasan semata. Kota Ende (Ibu Kota Kabupaten Ende) ini kecil. Panjang kotanya kalau boleh saya bilang hanya sekitar sepuluh kilometer saja. Jadi, tidak ada alasan jika sampai saya terlambat upacara Senin pagi, kecuali memang terlambat bangun. Hehe. Ke sana dekat, ke sini juga dekat.

***
 
Saya percaya daerah kalian juga pasti banyak hal-hal yang unik. Kenapa tidak coba menulisnya? Pasti bakal disukai karena yang unik-unik ini biasanya tidak tertulis di buku panduan wisata. Sama juga dengan pengalaman traveling tidak mungkin muncul di buku panduan wisata, oleh karena itu blog traveling pasti laris manis dikunjungi. Orang bakal lebih suka membaca pengalaman pribadi si traveler.

Bagaimana dengan kalian? Apa saja yang unik dari daerah kalian? Yuk berbagi di kolom komentar!


Cheers.

#PDL Datang, Makan, Ngerujak, Pulang

Mei dan Ocha di Saung Adat Kolibari.


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***
  

Rabu, 22 Agustus 2018, umat Muslim memperingati Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Saya juga menyebutnya Hari Kemenangan Atas Percaya dan Bakti serta pengorbanan pada Allah SWT yang waktu itu dilaksanakan oleh Nabi Ibrahim AS terhadap anaknya yaitu Nabi Ismail AS. Percaya dan bakti Nabi Ibrahim AS ini lah yang wajib kita contohi. Sebagai gantinya, domba diberikan Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS. Selain itu, saya juga menyebutnya Hari Raya Haji. Selamat kepada Bapak, Ibu, Saudara/i, semuanya yang telah menjalankan ibadah Haji. Insha Allah suatu saat nanti saya menyusul.

Baca Juga:

Sebenarnya hari libur Rabu kemarin itu saya tidak punya rencana ke mana-mana meskipun sudah diajak Kakak Pacar untuk makan siang di rumahnya. Permasalahan timbul setelah teman si Ocha yang bernama Mei datang ke rumah. Nampaknya mereka desperate karena dalam beberapa minggu belum pernah ke luar rumah untuk sekadar menikmati keindahan alam yang menakjubkan. Walhasil saya meminta Ocha menghubungi Akiem dan Effie; pasangan paling sering cek-cok se-dunia-kami. 

Pukul 14.00 Wita tiga motor matic berangkat menuju Kolibari. Mei memboceng Ocha, Akiem tentu dengan Effie, saya dan Thika. Sebelumnya saya sudah meminta Ocha menghubungi Kakak Pacar bahwa tawaran makan siang diterima dengan senang hati sekaligus membawa pasukan, hahaha.



Adalah sungkan yang tiada terkira ketika kami datang, kopi dan teh disuguhkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Inilah salah satu keistimewaan di Kolibari *tsah*. Lantas, tidak berapa lama, Kakak Pacar mengajak kami makan. Katanya, "Sudah dimasakin sama Kak Fitria tuh, sana gih kalian makan dulu sebelum dingin!" Hah? Jadi, mereka memasak hanya untuk kami berenam? Maluuuu *tutup muka tapi ngintip*



Makan siang yang kesorean itu disuguhi nasi merah dan aneka menu daging kambing. Ada semur, ada soto. Yang awalnya malu-malu, eh jadi kalap hahaha. Manapula dari rumah kakak ipar yang satu, mendadak kami mendapat kiriman sepiring semur lagi. Hah? Yang makan hanya enam orang tapi menunya untuk limabelas orang. Hehe. Pas lagi makan begitu, muncul makhluk bernama ngengat, berwarna kuning, hinggap di jari manis saya dan tak mau pergi.




Katanya sih itu pertanda. Pertanda apa saya tidak tahu. Mungkin pertanda bahwa ngengat juga butuh tempat untuk ngetem :D qiqiqiqi. Awalnya saya sudah pos di FB bahwa ini kupu-kupu, tapi Cahyadi mengoreksinya bahwa ini ngengat. Karena, sayap kupu-kupu akan terkatup apabila sedang hinggap/ngetem begitu.

Dan benar kata orang, membawa anak gadis itu adaaa saja ide dan kemauannya. Si Thika mengajak rujakan. Pepaya dan mangga pun langsung didatangkan dari kebun terdekat. Bahkan untuk cabe pun, di depan rumah kakak ipar ada pohon cabe lumayan gede:




Pengen angkut ini pohon cabe pulang ke rumah. Sore itu bermodal kacang, cabe, garam, dan gula sabu (gula kental asal Pulau Sabu), pepaya dan mangga dari kebun, maka jadilah rujaaaaak.




Habis ngerujak, eh si Kakak Pacar nawarin kelapa muda. Busyet dah. Anak-anak pada mau, tapi kelapanya masih dipetik sama si Arifin (adik si Arifin ini namanya Arif hahah), makanya mereka pada ngerusuh sama bocah setempat. Si Ocha main sepeda salah satu bocah. Thika, Mei, dan Effie malah main bulu tangkis. Sampai kemudian si Mei mengusulkan untuk mendaki ke bukit sebelah ke puncak Kezimara. Waaaa saya menyerah! Hiihi. Walhasil yang naik ke Kezimara cuma si Mei dan Ocha, Thika lanjut main bulu tangkis, saya dan Effie tidur, setelah saya menghabiskan satu kelapa muda nan segar.

Sekitar pukul 18.30 Wita kami pun pamit pulang. Ocha membawa oleh-oleh kelapa muda :D hehehe.

Pernah, saya pernah begitu, pergi ke rumah Kakak Pacar cuma untuk makan, ngerujak, pulang. Senang-senang di rumah orang belum ada hukum yang melarang. Boleh-boleh saja, sah-sah saja. Bagaimana dengan kalian?


Cheers.

#PDL Snorkeling di Perairan Pulau Tiga




#PDL adalah Pernah Dilakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; tentang perjalanan ke tempat-tempat di luar Kota Ende.

***
  

Saya tidak bisa berenang. It is funny! Indeed. Mengingat saya tinggal di Kota Ende yang dikelilingi laut (dan gunung). Bahkan jarak dari rumah saya ke Pantai Ende hanya membutuhkan waktu sepuluh menit berjalan kaki. Tapi saya tergila-gila sama laut. Untuk mengatasinya, setiap kali ke pantai/laut pasti membawa binen alias ban dalam mobil yang telah digelembungkan (dan/atau jerigen kosong). Lebih sering membawa binen karena satu binen bisa dipakai beberapa anak sekaligus. Hampir setiap rumah punya binen yang dikeluarkan setiap Hari Minggu saat anak-anak memutuskan untuk mandi laut ketimbang bermain masak-masakan atau main wayang.


Baca Juga:


Setelah besar (besar, bukan tua, hahaha), binen diganti lifejacket yang lebih sering kami sebut pelampung, itu pun milik Kakak Ilham Himawan, hahaha.

Bertentangan kan ya? Tergila-gila pada laut tetapi tidak bisa berenang. Padahal laut itu punya kadar garam yang bakal lebih memudahkan kita belajar berenang. Tapi, tetap saja sejak dulu sampai sekarang saya tidak sukses belajar berenang dengan mentor Pak Christian sekalipun di kolam renang Wailiti - Maumere. Yang ada, saya malah terpukau sama sesuatu berbentuk putih di dasar kolam, mencoba meraihnya, dan ternyata itu ... kaporit. Gua kira batu bertuah!

Mau ketawa ... ketawa saja ... :D

Tidak bisa berenang bukan aib, kawan. Tidak bisa berenang bukan obstacle yang meluruhkan semangat untuk cebar-cebur di laut. Kan ada pelampungnya Kak Ilham, hehe. 




Suatu kali kami, anak-anak Flobamora Community (Komunitas Blogger NTT) Chapte Ende, pergi ke Taman Laut 17 Pulau Riung atau biasa disebut Taman Laut Riung. Tujuannnya ada dua yaitu untuk bersenang-senang setelah dirundung aktivitas yang malang *halah* dan untuk menulis hasil perjalanan tersebut di blog sebagai salah satu cara mempromosikan wisata di NTT. Seperti biasa kami menginap di rumah Rustam, salah seorang sahabat masa SMA yang memiliki penginapan bernama Nirvana Bungalow. Setiap kali ke sana kami memang lebih sering tidur di rumah besar di bagian depan jejeran kamar-kamar bungalow. Sekalian berhemat. Sekalian bikin Rustam keki karena dapurnya otomatis dikuasai oleh kami. Haha.


Oskar, sahabat multi-talent!


Perahu motor sewaan yang membawa kami hari itu mengikuti rute umum yaitu dari Pelabuhan Riung ke Pulau Kelelawar terlebih dahulu ke arah Barat, baru kembali ke arah Timur melewati Pulau Rutong, Pulau Meja, daaaan sampailah ke Pulau Tiga. Rustam berkata bahwa jika ingin snorkeling, lakukan di perairan Pulau Tiga saja. Selain terumbu karangnya memukau, arusnya juga ramah jantung. Dan kami memang selalu ngetem di Pulau Tiga.


Ini namanya Pulau Kelelawar atau Pulau Ontoloe.


Sontak pelampung Kak Ilham menjadi primadona dan rebutan. Masalahnya, saat itu di Dermaga Riung belum ada tempat penyewaan pelampung. Walhasil, dengan sedikit lirikan Ibu Suri saya pun memperoleh kesempatan pertama *menulis ini rasanya lucu sekali*. Setelah pelampung dipakai, masker snorkel juga dipakai, meloncatlah saya ke laut menyusul si Rustam. Aksi meloncat ini meninggalkan perahu yang oleng di belakang akibat bobot saya memang tidak sedikit.

Kalian tahu ... batas antara dunia atas dan dunia bawah itu hanya gerakan mengangkat dan menenggelamkan kepala. Apa? Kalian sudah tahu? :p

Rustam memandu saya snorkeling selama kurang lebih tigapuluh menit. Bagi saya tidak ada satu pun yang dapat mengurangi kebahagiaan bisa menyaksikan pemandangan bawah laut yang memukau. Ikan-ikan hias aneka jenis dan bentuk berenang bebas, terumbu karang aneka bentuk dan warna yang cantik, mawar laut, bintang laut, semuanya ada. Andaikan di rumah saya ada kolam air laut yang luaaaas, saya bakal menjadikannya seperti taman laut di Riung ini. Tigapuluh menit, kayak lagunya Zamrud, sangat kurang. Saya masih mau terus skin dive. Tapi ... yang lain juga pengen snorkeling dan sama-sama tidak bisa berenang *ngakak tiarap*.


Dokter Said, sahabat sejak masa SMA sampai sekarang.


Saya sampai bilang: pengen ke Riung lagi tapi hanya untuk snorkeling. Tidak melakukan aktivitas lainnya! Dan benar. Pada kesempatan berikut-berikutnya setiap kali ke Riung yang paling pertama saya lakukan adalah snorkeling selama mungkin dan sepuas-puasnya, baru lah menikmati ikan dan cumi bakar di pantai Pulau Tiga. Snorkeling itu ibarat obat kehidupan saya *halah*. Hehe.

Pernah, saya pernah begitu :)

Bagaimana dengan kalian?


Cheers.

#PDL Pondok Batu Biru Penggajawa

Thika Pharmantara in action di Pondok Batu Biru.

Pulau Flores yang membentang dari Labuan Bajo (Barat) sampai ke Larantuka (Timur) punya titik tengah. Titik tengah Pulau Flores terletak di Kabupaten Ende tepatnya di KM 17 arah Timur Kota Ende, di pinggir jalan raya antar kabupaten se-Pulau-Flores. Titik tengah Pulau Flores ini ditandai dengan sebuah batu mirip menhir bernama Watu Gamba yang oleh penduduk setempat digambarkan sebagai seorang perempuan. Kembaran batu ini bernama Rera Nganggo yang digambarkan sebagai seorang laki-laki. Pada Watu Gamba menempel sebuah prasasti bertulis: Floresweg Geopend. Dapat dilihat pada foto si Regina, adik sepupu saya, di bawah ini:
 
Regina, adik sepupu saya yang menetap di Kota Maumere.

Baca Juga:

Lahir dan besar di Kota Ende, Ibu Kota Kabupaten Ende, membikin saya mudah mengeksplor tempat-tempat wisata yang ada di kabupaten tetangga seperti Taman Laut 17 Pulau Riung dan Kampung Adat Bena di Kabupaten Ngada, hamparan sabana di Kabupaten Nagekeo, pantai-pantai pasir putih di Kabupaten Sikka, mengikuti Semana Santa di Kabupaten Flores Timur, ke Pulau Rinca bertemu sahabat lama si komodo di Kabupaten Manggarai Barat, sampai keliling Pulau Adonara. Tapi, lahir dan besar di Kota Ende bukan jaminan saya sudah mengeksplor semua tempat wisata di Kabupaten Ende meskipun sebagian besarnya sudah saya jejaki seperti:

1. Danau Kelimutu.
2. Mata Air Ae Oka - Detusoko.
3. Pantai Anabhara (pasir putih).
4. Hutan Wisata Kebesani.
5. Pantai Batu Hijau Penggajawa.
6. Kampung Rumah Adat Wologai.
7. Pantai Mauwaru - Arubara.
8. Mendaki Gunung Meja dan Gunung Kengo.
9. Air Terjun Murundao - Moni.
10. Kolibari (bukit pandang) dan Kezimara.

Sepuluh dulu ya, nanti kalian ngiler hahaha. Sepuluh itu pun belum termasuk pantai-pantai di dalam Kota Ende sendiri, Situs Bung Karno, Taman Renungan Bung Karno, Gedung Imaculata, sampai Desa Adat dengan rumah adatnya di Wolotopo.

Yang menarik dari tempat wisata adalah tumbuh subur wisata buatan yang memadukan wisata alam dan kuliner. Salah satunya terletak di Pantai Penggajawa (arah Barat Kota Ende). Tempat ini bernama Pondok Batu Biru - Penggajawa. Kalau ada yang belum tahu, Penggajawa adalah nama desa dan nama pantai, tentu di pinggir laut / pantai tempat batu-batu berwarna hijau, biru, dan lainnya, berserak. Oleh para petani batu, batu-batu ini dikumpulkan dan diklasifikasikan berdasarkan ukuran dan warna. Batu-batu Penggajawa sudah sampai diekspor ke luar negeri diantaranya ke Eropa.

Salah seorang petani batu.

Batu-batunya unik!

Pondok Batu Biru berkonsep saung pinggir laut/pantai yang dibangun berbagai ukuran (untuk kelompok kecil dan/atau keluarga besar). Pemandangan utamanya jelas laut selatan Pulau Flores, bebatuan Pantai Penggajawa, dan Gunung Meja di arah Timurnya. Pengelola tempat ini tidak saja membangun tempat makan yang bagus tetapi juga spot-spot yang instagramable yang jadi buruan pengunjung, ruang shalat, kamar mandi yang selalu bersih dan stok air bersih yang tidak terbatas, serta menu-menu yang menggigit lidah.

Tangga menuju ayunan pinggir laut.

Ayunan sederhana tapi jadi salah satu magnet terpopuler. 

Ocha dan Stanis.

Setiap kali ke Pondok Batu Biru saya selalu diserang kantuk. Bagaimana tidak? Suasannya yang cozy benar-benar bikin pengen tidurrrrrr. Manapula makanan dan minuman yang dipesan sedang dipersiapkan, jadi sambil ngobrol - sambil tidur-tidur ayam, hehe.

Ini waktu perginya bareng Abah Yudin dan Ryan.

Karena ini pos tentang PDL (Pernah DiLakukan) jadi saya mau cerita bahwa saya sering pergi ke tempat makan Pondok Batu Biru ini baik sama teman-teman DMBC maupun sama teman-teman lainnya atau sama keluarga besar Pharmantara. Saya pernah pergi ke Pondok Batu Biru buat sesi foto-foto. Waktu itu berdua sama si Ocha saya pengen fotoin barang dagangan dengan lokasi berbeda. Si Ocha jadi modelnya *tsaaah*. Maka pergilah kami ke sana, eh si Stanis juga ikut. 
 
Sebelum foto-foto, kita pesan makanannya terlebih dahulu; ikan bakar, ikan kuah asam, tumis kangkung, dan es kelapa.


Ocha dan lembaran Sarung Mangga.

Ocha dan selendang tenun ikat.

Pas banget, usai foto-foto, makanannya pun disajikan di salah satu saung terbesar pilihan kami. Hanya bertiga dan memilih saung terbesar ukuran keluarga besar itu bikin keki, pastinya, hahaha. Makan sambil ngobrol, kuping dibuai debur ombak di pantai, mengasyikkan sekali. Kalau ada yang kurang, kita bakal minta tambah ke pelayannya, "Tambah seporsi ikan bakar donk!" dan lain sebagainya. Selesai makan tidak perlu ke kamar mandi, karena di sekitar saung tersedia tempat mencuci tangan lengkap dengan sabun dan kain lap tangannya.

Pernah, saya pernah begitu, pergi ke tempat wisata untuk foto-foto barang dagangan sambil menikmati wisata alam dan wisata kuliner sekaligus! Kata pepatah: sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Why not?

Sudah beberapa bulan ini tidak ke Pondok Batu Biru, nanti mau ke sana lagi ah :) Kalau kalian sempat ke Ende, coba mampir ke Pondok Batu Biru dan buktikan apa yang sudah saya ceritakan kali ini, tapi awas ketiduran sampai malam! Hahaha. Suasananya bikin ngantuk!



Cheers.