#PDL Ini Bukan Cyber Crime



#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Tahun 2010 saya tergoda membikin blog di BlogDotCom. Judulnya Ini Bukan Cyber Crime. Kisah di dalam blog itu adalah tentang kelucuan dan kekonyolan yang terjadi di sebuah tempat berkumpulnya banyak orang bernama warnet. Bagi kalian yang pernah bekerja di warnet pun pasti tahu bahwa kalau mau haha hihi cukup nongkrong di warnet saja, pasti terhibur.

Baca Juga: #PDL Menulis Tentang Toleransi

Ratusan tahun-tahun yang indah bergelung dalam gelombang industri warnet, saya merasa jadi karyawati warnet terfavorit dan terabadi sepanjang masa. Mulai dari jaman kuda gigit DIAL UP ampe kuda lari secepat SPEEDY, saya udah di sini … di tempat ini … war-net.

W.a.r.n.e.t

Satuper satu kisah asmara terjadi di tempat ini. Mungkin karena saya ini rajin, jadi saya merangkumnya dalam dokumen Word agar mudah mengenangnya kembali. Eh, benar saja, blog yang itu sudah tidak bisa dibuka. Tak apalah, lagi pula bahasa yang saya pakai di blog itu sungguh jauh dari kesempurnaan terhakiki. Haha.

Salah satunya adalah kisah Mister Hallo.


Mister Hallo


Awalnya saya tidak begitu peduli pada si Bapak yang satu ini. Dia termasuk yang paling rajin datang ke warnet. Gejala alam yang terjadi setiap kali dia datang adalah bergetarnya seluruh bumi gara-gara suaranya kencang banget, dan membahana, padahal dia cuma sedang mengobrol sama lawan bicaranya di henpon (handphone). Gara-gara itu saya menjulukinya Mister Hallo. Jiji, teman kerja, cuma bisa ngikik kalau Mister Hallo muncul di warnet. Artinya, kesabaran kita bakal diuji. Lagi dan lagi.

Suatu hari batang hidung Mister Hallo muncul di warnet.

Mister Hallo:
Masalah itu kan sudah saya bilang nggak secepatnya bisa diurusi. Saya masih ngurus beberapa blah blah bleh.

Dia berdiri di depan meja kami (saya dan Jiji), menatap kami dengan tatapan saya-mau-ngenet-nih. Dan lewat gerakan tangan yang naujubileh, karena dia tidak mau meninggalkan obrolannya di henpon, saya menunjuk komputer Nomor 1. Dia langsung menuju ke komputer itu, lantas menjepit henpon diantara dagu dan bahu, lantas mulai mengetik. Duileeeh ... pakai headset atau handsfree kan bisa.

Tidak berapa lama berselang, tangan Mister Hallo terangkat, melambai-lambai kayak nyiur ditiup topan, tapi still sibuk berbicara di henpon. Warrrggghhh! Kalau didatangi pun dia cuma menunjuk ke layar monitor sambil pasang tampang ini-gimana-sih-ngopinya-ke-flashdisk? Lantas, dia pun selesai mengobrol di henpon. Terus dia cabut flashdisk dan datangi kami sambil bilang, "Mbak, mau nge-print!

Saya:
Nama file-nya apa, Pak?

Mister Hallo:
(Menatap ke arah saya dan Jiji. Heran. Bingung. Kening berkerut). Hmmm tadi saya simpan pakai nama apa ya? Coba saya lihat dulu ...

Saya dan Jiji mulai tidak ikhlas karena bersamaan datang pula dua mahasiswa yang hendak mencetak tugas kuliah mereka. Nampanya mereka sedang terburu-buru karena harus menyetor tugas ke dosen. Sementara itu Mister Hallo masih berkutat dengan komputer kami, mencari file yang disimpannya tadi dari komputer Nomor 1.

Saya:
Tadi simpan file-nya pakai nama apa, Pak?

Mister Hallo:
Tadi saya simpan pokoknya. Hmmm. He eh. He eh. Iya. Uuuummmm. Nama file-nya apa yaaaaa. Saya juga lupa ini file-nya. Namanya apa yaaaaa.

Ya mana saya tahu!!!!!

Saya: 
Pak, bisa ke komputer client lagi dan ngecek di sana? Kami mau ...

Lalu Mister Hallo terkejut parah, saya pikir karena sudah ketemu file-nya, eh ternyata karena henponnya berdering. Dia terus meninggalkan kami yang sedang menunggu otaknya bekerja normal mengenali file sendiri, dan menempelkan henpon ke kuping: Halloooooo Pak Candraaaaa ...

Doh, naseb!


Mister Hallo hanyalah satu dari sekian banyak tingkah konyol para pelanggan warnet yang bisa bikin otak saya cenat-cenut. Kalian juga pasti bakal kesal banget kalau mendadak datang seorang perempuan yang mengenakan pakaian super lengkap sampai sarung tangan di tengah cuaca panas menyengat lantas menyodorkan flashdisk sambil bilang, "Kak, tolong print, semuanya ada di FLEDI."

Saya langsung membayangkan Hogwarts dengan Profesor Snape sedang mengayunkan tongkat sambil bilang, "Fledi!"


Pernah, saya pernah melakukannya, menulis kisah konyol yang terjadi di warnet, dan menyimpannya dalam dokumen Word. Buat dibaca-baca lagi haha. Ternyata, ada untungnya juga menyimpan kembali tulisan dari blog itu, karena sekarang blog yang bersangkutan sudah tidak bisa diakses.

Selamat melanjutkan liburan, kawan ...


Cheers.

Sarasehan di SMPN Satap Koawena


Akhirnya bertemu Jembatan Gantung warna kuning itu lagi. Jembatan yang membikin jantung berdegup lebih kencang. Padahal waktu pertama kali melintasi jembatan ini saya sudah bilang: tobat. Tapi setobat-tobatnya saya, siapa sangka bakal melintasinya lagi? Coba nonton video berikut ini supaya ikut merasakan guncangannya. Thika Pharmantara saja sampai nyeletuk: Baca Ayat Kursi dulu! Haha. Koplak memang anak itu.




Cuplikan cerita tentang kegiatan ini bisa dibaca di pos berjudul 5 Workshop Blog & Social Media. Sekarang saatnya bercerita panjang lebar tentang kegiatan yang digagas oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknologi Informasi (FTI) dari Universitas Flores (Uniflor). Saya menerima undangan dari Kepala Tata Usaha FTI yaitu Om Ihsan untuk menjadi pemateri dalam kegiatan sarasehan dimaksud pada Sabtu, 17 November 2018. Begitu tahu lokasinya, jantung saya berdegup kencang karena ... seperti yang sudah kalian lihat pada video di atas. Dududud.

Baca Juga : Mengetik 10 Jari Itu Biasa

Kegiatan sarasehan dimulai pukul 10.30 Wita setelah saya tiba di lokasi pukul 08.00 Wita haha. Om Ihsan salah informasi nih. Tapi tidak mengapa. Sambil menunggu, sambil sarapan nasi kuning, sambil mengobrol dengan beberapa mahasiswa FTI yang sudah duluan datang. Kegiatan sarasehan berlangsung di ruang laboratorium SMPN Satap Koawena yang terletak di Kelurahan Rewarangga, Kecamatan Ende Timur, Kabupaten Ende.

Ada tiga narasumber yang dihadirkan pada kesempatan ini. Narasumber pertama Wakil Dekan FTI Maria Adelvin Londa, S.Kom, M.T., yang menyampaikan materi tetnang Manfaat Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Dunia Pendidikan diantaranya tentang software dan hardware yang sering digunakan sebagai instrumen pendidikan dalam dunia pendidikan. Narasumber kedua dari Komunitas SocMed Ende Ihsan Dato, S.Sos., yang menyampaikan materi tentang Etika Penggunaan Media Sosial dengan slogan Piki Ne Ote Timba Ne Ate (berpikir dengan akal dan pertimbangkan dengan hati) yang bermakna dalam bermedia sosial wajib berpikir dan menimbang terlebih dahulu bahan postingan sebelum diunggah ke media sosial. Kalau kalian pernah tahu soal Internetsehat atau ICTWatch, slogan seperti itu juga ada dalam bahasa Inggris yaitu: Wise While Online, Think Before Posting.


Sebagai pemateri ketiga (meskipun urutannya saya yang kedua), materi yang disampaikan adalah tentang Literasi Digital. Materi yang sama yang berasal dari Internetsehat. Saya mendapatkannya dari Kanaz di Kelas Blogging NTT. Sifat materi ini adalah creative common, artinya boleh disebarkan seluas-luasnya.

Hyess.

Yang menarik dari kegiatan ini adalah sesi tanya jawab. Awalnya saya pikir anak-anak SMP ini bakal enggan bertanya karena materi disampaikan sudah menjelang siang, lapar dan haus itu pasti, mana pula sudah kebayang bakal main sama teman-teman karena wiken. Tapi ternyata saya salah. Ketika Nata, moderator, memberikan kesempatan bertanya, malah begitu banyak tangan yang diangkat ke udara. Wah, luar biasa. Lucunya, lima penanya pertama, perempuan, punya nama depan dan nama tengah yang sama dengan si moderator: NATALIA! Luar bisa nama ini sakti banget sampai banyak dipakai hehehe.

Baca Juga : Kami Latu Untuk Miu

Pertanyaannya merata ditujukan untuk tiga pemateri. Senang sekali ketika salah seorang penanya berbisik pada moderator, "Mau tanya untuk Ibu yang pakai jilbab pink itu." Yang bikin saya ngikik dan balas, "Ini fushia bukan pink." LOL. Padahal mana saya tahu urusan warna begitu haha. Asal nyeletuk saja. Pertanyaan antara lain tentang contoh data pribadi itu seperti apa, tentang menjual hasil bumi lewat internet itu bagaimana, dan lain sebagainya.


Kegiatan berakhir pukul 13.30 Wita. Panjang juga kan? Iya, yang bikin panjang itu sesi tanya-jawabnya. Diakhiri dengan foto bersama, saya jadi pengen balik lagi ke sini dan ngasih materi soal blog dan kepenulisan. Semoga yaaa suatu saat nanti. Sekarang fokus sama kegiatan lain dulu.

Semoga, semua materi / informasi yang disampaikan dapat bermanfaat bagi peserta sarasehan, termasuk guru-guru, semoga kami dapat kembali ke SMPN Satap Koawena dengan jembatan gantung warna kuningnya yang cihuy itu.

Baca Juga : Dr. Zeus's Quote

Bagi saya, memberikan materi seperti kegiatan di SMPN Satap Koawena itu membangkitkan kenangan tentang kegiatan serupa. Salah satunya, saya pernah mengajari bapak-bapak petani (kelapa, kakao, vanili dan lain sebagainya) di Hotel Silvia - Maumere. Materinya tentang membikin e-mail, membikin blog di Blogger, membikin akun media sosial, dan bagaimana mensinergikan blog dengan media sosial. Kan luar biasa. Hehe. Mungkin, setelah agak terhenti sekian lama, akan kembali ada cerita-cerita tentang kegiatan serupa. Beda tempat, beda orang, beda materi. Yang jelas, bersedekah tidak selamanya harus dalam bentuk barang, dan berbagi tidak pernah merugi.


Semangat terus :)



Cheers.

Belajar Literasi Digital


Hai semua, apa kabar? 

Tumben nanya begitu di awal pos *habis kesambit penunggu tanaman sawi di belakang rumah*.


Akhirnya materi yang sudah lama ditunggu tersampaikan juga di Kelas Blogging NTT oleh Kakak Anazkia. Tapi karena Kanaz-nya sedang sibuk berat, cieee uhuk, maka diteruskan oleh Om Bisot. Apakah materi tersebut? Literasi Digital. Materi ini termasuk materi yang saya tunggu-tunggu loh. Tidak selamanya mentor tahu segalanya kan? Hihihi. Jadi, begitu jarum jam memasuki waktu 21.00 Wita, saya berusaha untuk memantau WAG. Berusaha ... karena malam itu juga sedang mengerjakan sesuatu bersama Kakak Pacar. Silahkan berimajinasi apa yang kami lakukan. Qiqiqiqi. 

Apa itu literasi digital?

Menurut materi (creative common) yang disampaikan oleh Kanaz, literasi digital adalah:


Gambar di atas, juga beberapa gambar berikutnya di dalam pos ini, diambil dari materi tersebut, yang disusun oleh Relawan TIK, Internetsehat, dan ICT Watch. Secara umum yang dimaksud dengan literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten/informasi, dengan kecakapan kognitif ataupun teknikal. Ada banyak model kerangka (framework) untuk literasi digital yang dapat ditemukan di internet, dengan ragam nama dan bentuk. Setiap model memiliki keunikan dan keunggulannya masing-masing.

Ada tiga kerangka atau pilar utama literasi digital yang tertera di mater ini (yang mana materi ini disampaikan pada Mini Workshop di Wonosobo, 19 Februari 2018) yaitu proteksi, hak-hak, dan pemberdayaan:


Proteksi mencakup perlindungan data pribadi, keamanan daring, dan privasi individu (dan resiko personal). Hak-hak mencakup kebebasan berekspresi, kekayaan intelektual, dan aktivisme sosial (berkumpul, berserikat). Pemberdayaan mencakup jurnalisme warga, kewirausahaan, dan etika informasi. Jadi, ketika bicara tentang literasi digital, kita bicara tentang tiga kerangka tersebut di atas, yang pembahasan lengkapnya ada di dalam materi tersebut. Materi yang sangat lengkap karena membahas tentang data pribadi, hak-hak pengguna internet, serta pemberdayaan pengguna internet; jurnalisme warga, kewirausahaan, dan etika informasi.


Di tengah lautan hoaks yang menghantam di Indonesia bak tsunami, dengan kasus terfenomenal tentang oplas seorang ibu yang you know who, literasi digital ini penting diketahui oleh semua orang. Agar apa? Agar kita tidak menjadi si penyebar hoaks apalagi si pembuat hoaks. Ini berkaitan dengan kerangka ketiga sub etika informasi di atas. Dulu juga sudah ada kode etik online yang sayangnya belum diketahui semua orang, atau sudah diketahui tetapi diabaikan.


Duhai Kakanda, bunuh saja akyu dari pada diabaikan. Diabaikan itu syakiiittt.
Filter informasi ini penting karena sudah ada hukum yang mengaturnya yaitu Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Meskipun UU ITE ini penuh kontroversi namun tidak semua pasalnya merugikan netizen. Terutama perasaan netizen yang rentan karena putus cinta perlu dilindungi dari hoaks. Halaah hahaha. Maksud saya adalah sesama netizen harus menghargai orang lain ketika kita memberikan informasi; jangan sampai memberikan informasi palsu.

Jangan sampai jadi pembuat dan penyebar hoaks!

Jadi, meskipun kalian sudah tahu, saya sarankan kepada kita semua untuk membaca baik-baik kerangka literasi digital karena sangat bermanfaat bagi kehidupan maya kita, termasuk anak-anak kita. Hehe. Ini adalah panduan untuk kita agar kita tidak terseret ke ranah hukum hanya karena tidak paham atau karena pura-pura tidak paham/tahu. Tapi, bukan berarti sudah ada hukum yang mengaturnya, kita jadi enggan memilah yang mana kritikan, yang mana gosip, yang mana hoaks. Kritikan itu perlu selama itu bersifat membangun/mengoreksi yang disertai data.

Berbicara soal data, ini penting sekali. Semua orang tentu tidak ingin menyampaikan berita burung atau berita 'sekadar'nya bukan? Sama juga ketika kita menulis konten blog. Sertakan data entah data itu berdasarkan pengalaman pribadi, data berdasarkan literasi yang kita baca, data berdasarkan wawancara, data berdasarkan pesan atau data dari sponsor. Semuanya data. Oleh karena itu, jangan pernah mengabaikan pos/konten sebuah blog, karena blogger tidak asal menulis saja.

Banyak blogger yang melakukan riset terlebih dahulu sebelum membuat/menulis konten.


Semoga bermanfaat.


Cheers.