5 Keistimewaan Canva


Canva. Bukan kanvas. Saya sempat berpikir nama Canva terinspirasi dari kanvas *dipelototin dinosaurus*. Well, zaman sekarang saya jamin 80% pembaca blog ini pasti tahu Canva dan bahkan pernah menggunakannya untuk berbagai kebutuhan, salah satunya untuk memperindah pos blog. Bagi yang belum pernah tahu, coba deh intip situsnya.

Baca Juga: 5 Desa 5 Potensi

What is Canva?


Canva adalah sebuah situs yang menyediakan program untuk mendesain berbagai desain grafis antara lain Tumblr Graphic, Certificate, A4 Document, Book Cover, CD Cover, Photo Collage, Infographic, Year Book, Image Header, Blog Banner, Presentation, Flyer, Poster, E-mail Header, Twitter Post, Pinterest Graphic, sampai pos Facebook dan Instagram, dan lain sebagainya. All in one! Karena kerjanya langsung di situs Canva, untuk menggunakannya kita harus dalam posisi jongkok daring (saya mulai menggunakan padanan Bahasa Indonesia nih, semua berkat Kakak Rohyati). 

Sumber: Canva.

Sumber: Canva.

Sumber: Canva.

Beruntung ya bisa dapat pinjaman uang, kemudian mendirikan Fusion Books. Bisnis ini kemudian berkembang dan berkembang, menjadi Canva yang sekarang rajin saya gunakan. 

Is It Free?


Yess. It is free. Tapi ... ada juga yang berbayar. Untuk yang gratisan beberapa gambar menarik yang dipakai untuk suatu desain selalu diberi tanda air Canva itu sendiri. Ya kalau mau gambarnya tanpa tanda air, pakai yang berbayar. Sejauh ini saya memakai yang gratisan donk ... seperti tampang saya yang gratisan ini. Sayang, mencari-cari video tampang gratisan saya di Youtube yang diunggah sama Panitia ACI Detik Com 2010 susah sekali. Haha.


Jadi, Apa Istimewanya Canva?


Mengenal Canva memberikan begitu banyak pengalaman dan kemudahan pada saya yang pengen bisa mendesain tapi tidak bisa mendesain. Tapi bukan berarti saya menggunakan lurus-lurus 100% desain dari Canva, meskipun ada yang begitu, karena untuk beberapa desain saya hanya menggunakan tata letak dan huruf sedangkan gambarnya dari saya sendiri. Dan untuk itu saya menggunakan ... apa ... saudara-saudara? Iyess, Photoscape! Jangan tanya saya soal Photoshop karena pertanyaan itu sangat menyakitkan hati.

Selama menggunakan Canva saya jelas merasakan keistimewaannya ketimbang program desain daring lainnya. Mungkin ada program desain daring yang lebih istimewa dari Canva tapi saya menulis ini karena sudah mengalaminya alias pengalaman pribadi. Maklum, saya kan agak gagap teknologi, jadi maklumi saja ya.

Mari kita cek apa saja keistimewaan Canva menurut saya:

1. Mudah Mendaftarkan Akun


Ya, kalian bisa mendaftarkan akun dengan mudah di Canva. Tidak perlu melampirkan fotokopi KTP dan akun/rekening Bank dan/atau Paypal. A-haaa.

2. Dashboard yang User Friendly


Pengalaman saya menggunakan program daring lain, terutama yang video dan animasi, dashboard-nya bikin bingung dan bikin setress. Di Canva, kalian tidak akan menemukan kebingungan itu karena semuanya serba mudah mudah dan mudah. Silahkan log in, pilih jenis desain, pilih tema desain yang sudah ada gambar-gambarnya, silahkan diutak-atik. Asyik lah!

3. Banyak Pilihan Jenis Desain


Kalian mau mendesain apa? Silahkan pilih! Tumblr Graphic, Certificate, A4 Document, Book Cover, CD Cover, Photo Collage, Infographic, Year Book, Image Header, Blog Banner, Presentation, Flyer, Poster, E-mail Header, Twitter Post, Pinterest Graphic, sampai pos Facebook dan Instagram, dan lain-lain, dan seterusnya, dan sebagainya. Puas pokoknya.

4. Melimpahnya Pilihan Tema


Istimewa sekali tema-tema yang ditawarkan oleh Canva, untuk semua program daring gratisan! Ada template, element, text, dan background. Saya jarang memakai yang lain selain template alias yang sudah jadi alias siap pakai, tinggal mengubah tulisannya saja. Kadang-kadang saya hanya memakai tulisannya saja sedangkan gambar saya edit lagi memakai apa saudara-saudara???? Iyess, Photoscape! Dududud.

5. Proses Penyimpanan Hasil Desain yang Tidak Ribet


Tidak seribet saya menulis sub nomor lima ini hehe. Untuk menyimpan hasil desain bisa langsung diunduh, bisa juga dibagikan, dan khusus untuk saya: buka full screen lalu screenshoot untuk disunting di mana saudara-saudara???? Iyess, di Photoscape! Haha.

Baca Juga: 5 Keseruan Tinggal di Motorhome

Lima keistimewaan Canva, program desain daring, membikin saya betah dan akan selalu betah menggunakannya.


Bagaimana dengan kalian? Apa keistimewaan Canva menurut kalian (apabila memang menggunakannya juga)? Bagi tahu donk di papan komentar.


Akhir-akhir ini saya sering ngepos malam hari. Padahal biasanya ngepos pagi hari, kadang karena memang sudah menulis draft-nya. Maafkan ya, maklum sedang banyak pekerjaan, baik pekerjaan utama maupun pekerjaan atasan dan bawahan (karena pekerjaan sampingan sudah terlalu umum) qiqiqi. Ini saja menulis pos blog dengan posisi empat dokumen Word masih membuka menunggu dilanjutkan. Fiuh.

Mungkin ada yang berpikir, masih ada kerjaan kok malah ngepos blog? Karena, pekerjaan itu butuh selingan. Diantaranya kembali dari Al Baqarah dan menulis blog. Kalian juga pasti bilang otak saya kacau karena setiap setengah jam saya bakal bangun dan lari-lari kecil keliling rumah, atau melanjutkan permainan di telepon genggam, atau pergi mengobrol dengan Mamatua. Seperti ulasan pada beberapa halaman depan buku yang baru saya baca:



Mengatakan bahwa: jangan terlalu fokus. Haha. Padahal intinya bukan itu sih. Yang jelas buku ini nanti bakal saya bahas di #SabtuReview dan bukan Sabtu lusa.

Ya tuntutan pekerjaan itu tidak memberi saya ruang untuk bahkan menulis draf. Tapi itu bukan masalah, karena bagi saya menulis pos blog merupakan salah satu hiburan di sela-sela kesibukan. Ada seninya juga kan. Seni untuk memberikan diri jam istirahat agar bisa menghibur diri sendiri dengan hiburan pilihan sendiri. Ya karena kan mungkin kalian punya hiburan di sela-sela pekerjaan utama adalah tidur dan nongkrong di kafe, tapi kalau saya ... bisa dengan menulis konten/pos blog. Salah satunya. Salah lainnya ya tetap main Cooking Fever di Android *dicibirin dinosaurus*.

Jadi, demikianlah kawan cerita hari ini di #KamisLima. Semoga bermanfaat untuk kalian, mereka, dia, dia, dia ... cinta yang kutunggu tunggu tunggu *malah nyanyi*.


Eh, sudah nonton video lipsync saya belum? Nonton donk :D



Cheers.

5 Manfaat Teh Rosella



Kalian peminum teh? Jangan lewatkan pos tentang Kualitas Teh yang satu ini. Di pos itu kalian bakal menemukan proses pembuatan teh dari awal hingga akhir, hasil jalan-jalan gratis keliling Jawa Barat tahun 2010 yang lalu. Yuhuuuu. Sekalian promosi, haha.

Baca Juga: 5 Manfaat Buah Mengkudu

Selain kopi susu, saya juga suka minum teh. Bahkan, sebelum semacam kecanduan sama kopi susu, saya lebih dulu kecanduan sama teh pekat. Teh pekat itu maksudnya sekali seduh terdiri dari satu mug air panas, satu sendok gula, dan dua kantong teh merek Sari Wangi. Teh pekat saya minum pagi dan sore, terkadang malam pun juga. Makanya stok teh kami selalu berlimpah di dalam stoples-stoples persediaan. Aroma teh itu semacam aroma terapi yang melipur lara kala hujan dan sendiri. Duh ileeeeeh, bahasanyaaaaa.

Kalau kalian melihat gambar di awal pos, kalian pasti sudah tahu apa yang mau saya tulis di #RabuLima ini. Betul, kawan, saya mau menulis tentang teh rosella. Tapi sebelumnya, mari kita simak penjelasan tentang rosella yang telah ditulis dengan apik di Wikipedia:

Rosela, rosella, asam paya, asam kumbang dan asam susur atau Hisbiscus sabdariffa, adalah spesies bunga yang berasal dari benua Afrika. Mulanya bunga yang juga cantik untuk dijadikan penghias halaman rumah itu diseduh sebagai minuman hangat di musim dingin dan minuman dingin di musim panas. Di negeri asalnya, Afrika, rosela dijadikan selai atau jeli. Itu diperoleh dari serat yang terkandung dalam kelopak rosela, sementara di Jamaika, dibuat salad buah yang dimakan mentah. Adakalanya juga dimakan dengan kacang tumbuk atau direbus sebagai pengisi kue sesudah dimasak dengan gula. Di Mesir, rosela diminum dingin pada musim panas dan diminum panas saat musim dingin. Di Sudan, menjadi minuman keseharian dengan campuran garam, merica, dan tetes tebu. Minuman itu juga menghilangkan efek mabuk dan mencegah batuk. Tak jarang, rosela juga dimanfaatkan untuk diet, penderita batuk, atau diabetes gunakan gula rendah kalori seperti gula jagung. Selain itu, bubuk biji bunga rosela juga dapat dijadikan campuran minuman kopi.

Di Ende, umumnya rosella dijual dalam kemasan dan isinya berbentuk (kuncup) bunga seperti gambar dari Wikipedia berikut ini:


Sebenarnya saya bisa foto sendiri teh rosella yang ada di belakang, tapi lagi malas jalan ke belakang (ruang makan), jadi saya ambil saja gambar dari Wikipedia. Haha.

Perkenalan saya dengan teh rosella dimulai tahun 2010 ketika saya masih nguli di Kota Maumere, Kabupaten Sikka. Iya, waktu itu menambang berlian jauh banget dari Kota Ende. Ceritanya: suatu hari saya diajak makan coto Makassar sama teman-teman. Tidak disangka sore hari setelah makan siang yang bersantan itu membikin kepala saya memberat dengan dahsyatnya. Rasanya sungguh tidak enak. Kalau kalian pernah mengalami serangan darah tinggi, kira-kira seperti itulah yang saya rasakan. Waktu itu, karena tahun 2009 pernah punya pengalaman serangan darah tinggi gara-gara maag, saya langsung mengonsumsi ketimun dan memperbanyak minum air dingin/es. Lumayan, rasa tidak enak di kepala itu berangsur pulih.

Dalam percakapan saya dengan keponakan yang saat itu sedang kuliah di Farmasi di Malang, saya kemudian disarankan untuk mengonsumsi teh rosella. Seperti pada gambar awal pos, waktu itu teh rosella belum ada yang jual baik di Kota Maumere maupun di Kota Ende. Makanya saya meminta dia membawakannya dari Malang. Saya lupa waktu itu dia memang membawakannya waktu sekalian pulang liburan atau dikirim, pokoknya saya menerima satu kantong teh rosella dalam kemasan yang didominasi warna merah maroon begitu.

Kata keponakan saya, teh rosella itu sangat baik untuk kesehatan. "Bagus untuk pembuluh darah, Ncim, makanya kalau ada yang darah tinggi bisa minum seduhan teh rosella juga. Teh ini juga punya kandungan vitamin C yang tinggi jadi Encim kalau minum teh ini Insha Allah imun tubuhnya jauh lebih baik, jadi ... tidak gampang sakit." Dan itu terbukti, kawan. Bukan hisapan jempol belaka. Sepanjang satu tahun saya bekerja di Kota Maumere, Alhamdulillah tidak mudah terserang flu/pilek meskipun teman-teman lainnya sudah bersin-bersin di dekat saya *soalnya ditangkis sama dinosaurus*. Selain itu saya tidak lagi mengalami serangan darah tinggi yang bikin tidak dapat tidur itu. 

Rasa teh rosella tidak seperti teh umumnya yang kalian minum. Rasanya asam-asam gimana gituuu. Supaya enak diminum boleh mencampurnya dengan madu atau gula. Bagi penderita diabetes boleh dicampur gula jagung. Tapi sejak awal saya sudah meminum teh rosella tanpa campuran madu maupun gula. Lidah menjadi terbiasa dengan rasanya yang asam-asam ngangenin :p qiqiqi.

Jadi, secara umum, berdasarkan yang sudah saya alami sendiri dan hasil membaca sana sini, manfaat teh rosella bagi tubuh manusia antara lain:

1. Mengandung vitamin C.
2. Mengatasi tekanan darah tinggi.
3. Mengatasi asam urat.
4. Menjaga kesehatan ginjal.
5. Baik untuk penderita diabetes.

Untuk penjelasan dari masing-masing manfaat, kalian bisa membacanya di sini.

Baca Juga: 5 Manfaat Tertawa

Bagaimana, kawan ... sehat itu murah kan sebenarnya? Yang mahal itu sakit! Kalau sudah sakit, bisa-bisa biayanya mencakar langit. Tapi satu yang perlu diingat, saya tidak menyarankan teh rosella ini untuk kalian yang mengidap tekanan darah rendah ya. Sebaiknya kontrol dulu ke dokter hehe. Yang jelas, kalau kepala saya mendadak berat gara-gara maag, saya bakal minum segelas teh rosella.

Semoga bermanfaat!



Cheers.

1 Video, 3 Aplikasi



Sering bikin video? Tentu! Kalian, mereka, saya. Kita sering bikin video untuk berbagai keperluan, terutama zaman sekarang untuk vlog yang diunggah di Youtube. Aplikasi edit video yang dipakai pun beragam, baik aplikasi khusus untuk menyunting video di Android seperti KineMaster maupun di komputer dan/atau laptop seperti Adobe Premiere.

Baca Juga: Inovasi Joseph Joseph

Saya sendiri juga sering bikin video. Sayangnya, saya belum bisa memakai Adobe Premiere yang kesohor dan paling digemari teman-teman videografer di Ende. Alasannya sederhana: laptop yang saya pakai tidak mampu 'mengangkat' kalau pakai Adobe Premiere. Kalian tahu siput? Kira-kira kerja laptop saya jadi macam siput kalau pakai Adobe Premiere haha. Oleh karena itu harus ada solusi. Dan ... terima kasih Martozzo Hann, sampai saat ini saya masih memakai Sony Movie Studio Platinum (SMSP) versi 12 dan versi 13.

Sepanjang pengalaman saya membikin video, kalau memang mau hasilnya bagus, tidak bisa mengandalkan satu aplikasi saja. Terlebih jika video tersebut harus digabung dengan foto-foto pendukung lainnya. Agak kurang sedap dilihat apabila transisi dari gambar bergerak menuju gambar tidak bergerak Oleh karena itu untuk membikin foto itu terlihat 'hidup' harus pakai aplikasi lainnya sebelum digabung dalam time line pada aplikasi final.

Kali ini saya mau bercerita tentang tiga aplikasi yang selama ini senantiasa menemani kegiatan menyunting video di laptop. Laptop saya, bukan laptop tetangga. Mungkin menurut kalian tiga aplikasi ini sudah basi, tapi bagi saya tiga aplikasi ini sangat mendukung proses edit video. 

Aplikasi apa saja kah itu? Mari kita cek ...

1. Sony Movie Studio Platinum (SMSP)


Aplikasi yang satu ini boleh saya tulis sebagai aplikasi utama (aplikasi final). Yang terinstal di laptop saya ada dua versi yaitu 12 dan 13. Seringnya sih saya pakai yang versi 12 karena sejak awal sudah pakai versi itu sehingga sudah akrab sekali sama belantaranya. SMSP menyelamatkan saya dari aplikasi edit video sebelumnya. Aplikasi sebelum SMSP itu menurunkan kualitas video sehingga saya harus say good bye padanya. Maafkan ya.

Ini tampilan lembar kerja SMSP yang saat ini sedang saya kerjakan yaitu tentang potensi desa-desa di Kecamatan Ende.

Potongan video (beberapa foto) ini terlihat seperti barcode.


Proses mengedit ini sering saya sebut 'bikin pola' sedangkan proses render saya sebut 'menjahit'.

Kelemahan SMSP hanya satu yaitu transisi yang terbatas; yang itu-itu saja. Apapun transisi tambahan yang ditawarkan di internet pun berakhir pada kalimat: beli dooonk, yang gratisan sudah selesai masa pakai ini! Haha. Tapi tidak mengapa, karena jika saya mau lebih lelah sedikit, maka saya bisa membikin sendiri transisi yang diinginkan kayak punya Sam Kolder. 

2. ProShow Producer


Aplikasi kedua adalah ProShow Producer. Secara umum aplikasi ini juga bisa dipakai untuk menyunting video tetapi saya lebih suka memakainya untuk kebutuhan menyunting foto agar fotonya terlihat lebih hidup alias bergerak seperti sebuah video.


Pada gambar di atas, masih dari lembar kerja SMSP, kalian bisa melihat foto peta yang saya insert sebagai dukungan cut-to-cut video. Foto peta itu kalau dilihat sudah bergerak (saya pakai efek zoom dan pan begitu) sehingga transisi ke video berikutnya terlihat lebih sedap.

3. Photoscape


Ada apa antara saya dengan Photoscape!? Bukankah seharusnya saya melanjutkan belajar Photoshop? Hehe. Ah, dinosaurus manyun tuuuh gara-gara saya berhenti belajar Photoshop hanya karena otak saya sudah letih huhuhu. 


Photoscape membantu saya mengedit foto-foto mulai dari pencahayaan, warna, hingga untuk penggabungan beberapa foto sekaligus. Saya suka Photoscape karena memang menggunakannya super duper mudah! Selain Canva, saya juga mengandalkan Photoscape untuk foto-foto pendukung pos blog.

1 Video, 3 Aplikasi, itu yang saya gunakan demi membikin satu video ... siapa tahu kalian justru memakai lebih dari satu aplikasi.

Baca Juga: Living In A Camper

Biasanya saya akan membuat draf video terlebih dahulu. Setelah draf jadi, saya mengumpulkan materi-materinya. Materi ini terdiri dari video, foto, dan musik pendukung jika kita memang tidak memakai natural sound dari video yang bersangkutan. Supaya keren saja haha. Materi sudah lengkap atau 90% lengkap, saya buka lembar kerja di SMSP dan mulai membikin pola. Membikin pola sama lamanya dengan render. Hanya saja, lamanya membikin pola tergantung mood. Rata-rata video berdurasi 45 menit membutuhkan waktu dua hari atau tiga hari untuk pola-nya. Render-nya atau waktu jahitnya kan sudah ada rata-rata durasi. Terlama itu waktu saya bikin video untuk pernikahannya Om Nugie dan Tante Mercy, bisa memakan waktu satu minggu dan fokus terlama pada pola penari awalnya. Bisa dilihat pada video di bawah ini:


Okay, itu saja cerita hari ini tentang aplikasi-aplikasi yang saya gunakan untuk membikin atau edit video. Bagaimana dengan kalian? Jangan bilang kalian pakai Adobe Premiere huhuhu itu bikin iri to the max, tahuuuu.

Semoga bermanfaat!


Cheers.

Mamatua Project



Hari ini sedang tidak ingin menulis banyak. Haha. Maklum, sedang ada kesibukan yang juga membutuhkan konsentrasi. Hari ini saya cuma ingin menulis tentang salah satu resolusi yang tidak saya masukkan dalam pos soal resolusi-resolusi itu. Saya pikir, baik juga menulis ini, mungkin bisa jadi inspirasi untuk kalian *halaaah* hahaha.

Baca Juga: Proses Pembuatan Tenun Ikat

Namanya Mamatua Project. Proyek tentang mengumpulkan foto Mamatua dari hari ke hari yang sudah dimulai 1 Januari 2019 dan, Insha Allah, akan berakhir 31 Desember 2019. Memori telepon genggam saya tidak akan penuh hanya dengan memotret perempuan tercantik dalam hidup saya ini. Ya kaaan. She's so beautiful!


Kalau kalian pernah nonton filem Chef, tentu kalian tahu bahwa si anak punya proyek mengumpulkan video satu detik per hari selama perjalanan mereka bersama food truck itu. Nah, rencananya pengen bikin yang video, tapi belum kesampaian, ya sudah bikin foto-foto dulu. Foto-foto Mamatua ini pun nanti bakal saya bikinkan video kok ... Insha Allah.

Bagaimana dengan kalian? Punya proyek yang sama juga? Yuk share!



Cheers.

The Mentalist



Kalau kalian membaca pos tentang 5 Keseruan Tinggal di Motorhome, sedikit tidaknya sudah tahu tentang serial televisi yang satu ini. Sudah lama saya menonton The Mentalist, waktu itu masih menonton televisi yang kisahnya bisa kalian baca di pos tentang 5 Manfaat Tidak Menonton Televisi, di channel Fox atau Fox Crime. Saya lupa channel-nya karena sudah lama sekali. Saya memang tergila-gila pada serial-serial kriminal seperti Castle, Law & Order, Law & Order: Criminal Intent, Law & Order: Special Victims Unit, Criminal Minds, CSI dan fransaisnya, NCIS, Quantico, Sherlock, Hawaii Five-O, dan lain sebagainya. Jauh sebelum itu pun TVRI sudah bikin saya terpesona pada serial kriminal seperti Hunter, Remington Steele, dan yang paling fenomenal Twin Peaks.

Baca Juga: Dessy: Merayakan Natal di Vatikan Merupakan Berkat Berlimpah dari Tuhan

Gara-gara Hooq, saya kembali menonton The Mentalist secara semua season (dulu saya menulis session loh) lengkap tersaji. Senangnya hatiku hilang panas demamku karena bisa melanjutkan kisah si Patrick Jane dalam membantu para agen California Bureau of Investigation (CBI) yang berpusat di Sacramento. Bagi kalian yang belum pernah menonton The Mentalist dan memang ingin mencari hiburan serial kriminal, silahkan tonton dan rasakan sensasi yang berbeda dari serial kriminal lainnya.

Mari mengulas The Mentalist.

The Mentalist


The Mentalist merupakan serial kriminal yang menceritakan tentang tugas para agen di CBI yang kantor pusatnya di Sacramento dalam memecahkan kasus-kasus pembunuhan. Dalam menjalankan tugas, satuan agen (karena di CBI ini banyak satuan agen) yang dipimpin oleh Teresa Lisbon dibantu oleh Patrick Jane, seorang lelaki yang mengalami trauma berat karena isteri dan anaknya dibunuh secara brutal dan lantas terobsesi pada si pembunuh berantai bernama Red John tersebut.

Tokoh The Mentalist


The Mentalist diperankan oleh banyak aktor dan aktris karena kadang terjadi pergantian tokoh tertentu dan/atau karena si tokoh meninggal dunia. Tapi di sini saya hanya akan membahas tentang tokoh-tokoh sentral-nya saja. Dan seterusnya saya akan menulis nama family mereka.

Semua gambar tokoh ini diambil dari Wikipedia.


1. Teresa Lisbon

Teresa Lisbon merupakan agen sekaligus kepala satuan agennya. Karakter ini diperankan oleh Robin Tunney. Sebagai kepala satuan dia harus bisa bersikap adil pada semua agen-agennya termasuk pada konsultan yaitu Jane. Tantangan terberat Lisbon adalah bagaimana bisa 'mendisiplinkan' Jane yang kadang bikin para atasan kesal to the max.

2. Kimball Cho

Karakter Kimball Cho diperankan oleh mantan pacar saya Tim Kang. Waktu Cho punya pasangan yaitu inforwoman-nya sendiri yang syukurnya kemudian mereka putus, saya sampai tidak bisa tidur karena cemburu. Haha. Dia termasuk agen yang sedikit bicara, banyak kerja. Jangan pernah menanyakan pendapatnya karena dia punya jawaban favorit: ya atau tidak.

3. Wayne Rigsby

Meskipun sudah tahu Cho bakal jawab seperlunya saja, Rigsby paling doyan curhat sama sohibnya ini, terutama soal hubungan asmaranya baik dengan Van Pelt maupun dengan ibu dari puteranya Sarah Harrigan. Oh ya, Rigsby punya anak memang dari Harrigan, tapi kemudian dia justru menikahi Van Pelt, perempuan yang sangat dicintainya sejak pertama bertemu di CBI. Rigsby diperankan oleh Owain Yeoman.

4. Grace Van Pelt

Tinggi, cantik, pintar, kerjaannya selain di lapangan juga di bidang komputer dan jaringan. Gara-gara aturan lama yaitu sesama agen dilarang saling mendahului, eh sesama agen dilarang punya hubungan asmara, Van Pelt dan Rigsby pun putus. Gara-gara itu, Van Pelt pacaran sama agen FBI bernama Craig O'Laughlin yang ternyata kaki-tangannya Red John.

5. Patrick Jane

Ini dia tokoh paling menyebalkan sekaligus paling brilian. Jane adalah cenayang-palsu yang mencari uang lewat acara-acara tentang cenayang, padahal sesungguhnya dia hanya menggunakan kesempatan, momen, dan ketelitian dalam memerhatikan sesuatu. Menjadi masalah ketika di televisi dia semacam menantang Red John, si pembunuh berantai. Pulang ke rumah, isteri dan anak Jane tewas dibunuh oleh Red John. Bagaimana dia tahu? Karena di dinding kamar itu ada wajah senyum yang digambar menggunakan darah. Ciri khas Red John. Van Pelt diperankan oleh Amanda Righetti.

Garis Besar


Ada tujuh season The Mentalist. Pada masing-masing season, setiap episodenya menampilkan kasus demi kasus pembunuhan. Sebagai pengenalan, pada season pertama, kasus pembunuhan isteri dan anak Jane (oleh Red John) menyebabkan lelaki itu menghilang selama setahun, lantas mendadak muncul di kantor CBI untuk menanyakan proses penyelidikannya. Karena mengganggu, dengan penampilan awut-awutan dan selalu bertanya, Lisbon diminta untuk 'mengurusi' Jane. Jane pun diajak menuju lokasi pembunuhan yang sedang ditangani. Kasus ini, boleh dibilang kasus pertama Jane, dipecahkan dengan sangat mudah oleh Jane. Caranya melihat posisi korban, mencium aroma, mempelajari pakaian dan asesoris korban, sampai menyusun skenario kejadian, sungguh di luar pola kerja para agen.

Jane kemudian menerima kotak berkas kasus Red John atas kematian isteri dan anaknya, diberi sebuah meja menghadap jendela besar, untuk membaca berkas-berkasnya. Sampai gedung CBI kemudian direnovasi, area itu kemudian menjadi ruang kantor khusus untuk Jane dengan ciri khas jendela besarnya itu.

Ya, betul ... Jane lantas menjadi konsultan CBI. 

Meskipun setiap episode dari masing-masing season menampilkan begitu banyak kasus pembunuhan, namun Jane tidak pernah lupa pada berkas-berkas Red John tersebut. Inilah hebatnya The Mentalist, ada benang merah yang menghubungkan season satu sampai tujuh. Siapa Red John? Sudah terungkap di season enam. 

Benang Merah


Red John adalah benang merah The Mentalist. Red John; seorang pembunuh berantai yang selalu selangkah di depan Jane, punya sumber daya tidak terbatas, dan punya kaki-tangan yang loyal. Kaki-tangannya yang terakhir yang paling saya ingat adalah Lorelei Martins, yang sempat dekat dengan Jane, namun kemudian dibunuh juga oleh Red John dengan meninggalkan trade mark-nya yaitu senyum berdarah.

Membongkar kedok Red John sama dengan membongkar sindikat (wuih) penegak hukum korup di California; yang anggotanya mulai dari sherrif di desa sampai anggota CBI, FBI, jaksa, hakim, dan sebagainya. Red John sendiri ternyata seorang (semacam) sherrif yang sudah lama dicurigai baik oleh Lisbon maupun oleh Jane. Tapi mereka sering terkecoh. Hanya saja saya masih kurang sreg tentang penentuan tokoh yang ternyata adalah Red John ini, dan saya kurang suka titik tamatnya Red John. Selebihnya ... Ini serial cerdas.

Baca Juga: Don't Breathe

Seru ya menulis tentang The Mentalist. Setelah sekian lama hahaha. Saya pikir kalau kalian mau menontonnya, bagi yang belum menonton, itu bagus haha. Kita bisa diskusi bersama hehe.

Selamat berakhir pekan, kawan.


Cheers.

5 Desa 5 Potensi


Alhamdulillah awal tahun 2019 sudah banyak kegiatan yang saya lakukan baik kegiatan yang berhubungan dengan kampus, maupun kegiatan di luar kampus. Salah satu kegiatan di dalam kampus yang saya sukai adalah peliputan kegiatan Natal Bersama di Fakultas Ekonomi yaitu Misa Oikumene yang dipimpin oleh Pater John Ballan, SVD. dan Pendeta Ferluminggus Bako, Sth. Sedangkan kegiatan di luar kampus antara lain kegiatan #EndeBisa, ngemsi di acara ultah Ezra, ngumpulin batu bakal Stone Project (salah satu resolusi 2019), jalan-jalan awal tahun di Pantai Nangalala, hingga kerjaan tukang syuting di beberapa desa.

Baca Juga: 5 Keseruan Tinggal di Motorhome

Sebenarnya sudah lama saya menolak tawaran atau permintaan menjadi tukang syuting semacam syuting acara pernikahan. Alasannya sederhana: Cahyadi, tukang syuting andalan saya itu, sedang ada kerjaan lain yang tidak memungkinkannya untuk bekerja di pagi hari (misalnya syuting proses make up hingga pemberkatan di Gereja atau akad nikah di Masjid). Masa iya saya cuma menerima proyek syuting khusus resepsi yang umumnya dilakukan malam hari saja? Mana ada calon pengantin yang mau! Jadi, saya menolak proyek-proyek syuting itu meskipun Rupiah-nya menggoda imannya dinosaurus. Tapi ketika saya dihubungi oleh dua kecamatan yaitu Kecamatan Ende dan Kecamatan Ende Utara untuk mendokumentasikan kegiatan di desa di bawah payung Program Inovasi Desa (PID), saya langsung menyetujuinya. Alasannya juga sederhana: waktu kerja yang fleksibel.

Untuk Kecamatan Ende, Cahyadi mendapat tugas paling berat, karena lokasi desa-desa 'jajahannya' itu sangat jauh dan medan menuju lokasi yang tergolong berat. Sampai suatu kali Cahyadi pulang dan bercerita bahwa dia jatuh dari sepeda motor karena bebatuan jalanan yang tidak bisa diajak kompromi. Sedangkan untuk Kecamatan Ende Utara saya masih bisa menanganinya karena selain waktunya yang fleksibel, juga lokasinya masih dekat-dekat Kota Ende.

Dari video-video yang kemudian saya sunting, saya melihat bahwa setiap desa mempunyai potensi yang luar biasa besar, yang seharusnya menjadi fokus pemerintah untuk mengembangkannya. Agar apa? Agar masyarakat berdikari. Tentu, sebagai tahap atau langkah awal diperlukan bantuan seperti bimbingan dan pendampingan hingga dana. Bimbingan dilakukan bertahap oleh Tim PID maupun instansi terkait, sedangkan dana masih diusulkan dari dana desa.

Bapak Drs. Kapitan Lingga, Camat Ende Utara, mengungkapkan bahwa dana desa dapat dipakai untuk keperluan kelompok-kelompok dari upaya pemberdayaan masyarakat desa ini, asalkan betul dimanfaatkan dengan baik. Maksudnya adalah adanya laporan keuangan yang transparan dari penggunaan dana-dana tersebut. Kita tahu, dana desa telah membantu begitu banyak masyarakat desa untuk menikmati fasilitas diantaranya jalan desa yang dibikin baik menjadi jalan rabat, pembangunan kantor desa dan faskes, pembangunan fasilitas olahraga, hingga bantuan untuk kelompok-kelompok pemberdayaan masyarakat desa. Dana desa dilaporkan penggunaan/pemanfaatannya dua kali setahun. Jadi, setengah dana desa digelontorkan, enam bulan pelaporan baru setengahnya lagi digelontorkan. Kira-kira begitu informasi yang saya baca dari buku Dana Desa keluaran Kementrian Keuangan.

Kembali pada judul pos ini, 5 Desa 5 Potensi, saya ingin menulis tentang potensi lima desa yang telah kami dokumentasikan.

Apa saja potensi desa-desa tersebut?

1. Keripik Ubi dan Pisang


Desa Mbomba merupakan desa yang berada di bawah pemerintahan Kecamatan Ende Utara. Dua jenis hasil bumi unggulan dari desa ini adalah ubi (singkong) dan pisang. Oleh Tim PID, masyarakat desa khususnya kaum ibu dibentukkan kelompok kemudian diberdayakan untuk mengolah hasil bumi unggulan tersebut menjadi panganan tingkat dua berupa keripik ubi dan pisang.



Saya sudah merasakan hasil olahannya dan lidah saya jatuh cinta sama keripik ubinya, terutama yang belum dicampur bumbu tabur. Renyah dan gurih sekali, kawan. Rasanya mirip keripik ubi berbahan ubi Nuabosi. Untuk ubi Nuabosi, silahkan baca pos Puskesmas Cantik di Tanah Ubi Roti ini, ya.

2. Tenun Ikat


Sama dengan Desa Mbomba, Desa Gheoghoma juga terletak di wilayah Kecamatan Ende Utara. Kekayaan sumber daya dari desa ini yang diangkat oleh Tim PID adalah tenun ikatnya. Ada tiga kelompok penenun dari tiga dusun di Desa Gheoghoma yang telah dibentuk sejak tahun 2018. Mereka juga mendapatkan pendampingan dari instansi terkait salah satunya Perindustrian, serta menurut Kepala Desa, hasil tenun ikat dijual di Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Kita harapkan bersama tenun ikat dapat semakin naik nilainya di mata dunia karena proses pembuatannya cukup panjang dan melelahkan. Mereka, pada penenun itu jenius ya ... membikin motif itu! Sungguh jenius.


Pos lengkap tentang proses menenun di Desa Gheoghoma dapat kalian baca pada pos Proses Pembuatan Tenun Ikat ini.

Baca Juga: 5 Workshop Blogging & Social Media

3. Air Terjun Tonggo Papa


Sudah lama Air Terjun Tonggo Papa dikenal khalayak. Banyak yang ke sana loh termasuk teman-teman saya. Saya dan Kakak Pacar sepasukan pernah ke sana juga, tapi karena sayanya tidak kuat, karena kaki yang uzur, berhenti di tengah jalan. Mereka yang kuat, tapi karena solidaritas, justru ikutan berhenti menemani saya menikmati aroma dedaunan. Huhuhu.


Air terjun merupakan wisata alam yang paling banyak dijumpai di Kabupaten Ende. Di dekat Kota Ende saja ada Air Terjun Kedebodu. Air Terjun Tonggo Papa terletak di Desa Tonggo Papa, masih dalam wilayah Kecamatan Ende. Cahyadi yang mendokumentasikan ini. Yang saya suka adalah adanya wisata / atraksi wisata buatan seperti sayap kupu-kupu yang satu ini:


Artinya, baik pemerintah desa maupun masyarakat desa sama-sama sadar bahwa wisata alam akan lebih menarik dengan adanya wisata buatan sebagai pendukung (wisata utamanya). Haha. Itu analisa asal-asalan saya saja. Saya masih punya mimpi untuk 'harus' bisa turun-naik pergi-pulang Air Terjun Tonggo Papa. Doakan yaaaa *elus-elus kaki*.

4. Kemiri


Tidak disangka, berdasarkan pengakuan dari Kepala Desa Wologai, dinyatakan bahwa Desa Wologai sanggup memenuhi permintaan kemiri berapa ton pun. Tapi kalau minyak kemiri ... tunggu dulu. Karena itu masih merupakan rencana ke depan untuk menopang perekonomian masyarakat Desa Wologai - Kecamatan Ende.



Coba informasi ini saya peroleh dari dulu. Dulu itu ... saya dan Sisi, sahabat tergila, punya perusahaan kecil pembuatan minyak kemiri perawan haha. Maksudnya kami memproduksi minyal kemiri asli yang dikirim ke perusahaan teman di Belgia sana. Kemudian mandeg. Sebenarnya mandeg bukan karena kehabisan stok kemiri, yang adalah tidak mungkin, tapi karena satu dan lain hal *senyum manis*.

5. Virgin Coconut Oil


Kalau yang satu ini juga masih dari kelompok minyak perawan. Virgin coconut oil dari Desa Emburia - Kecamatan Ende. 


Tidak disangka di Desa Murundai yang letaknya super jauh dari Kota Ende itu sudah ada usaha pengolahan kepala menjadi virgin coconut oil dan bahkan telah diberi label! Mereka mengandalkan potensi pohon kelapa yang tumbuh subur di desa tersebut.


Prosesnya masih sederhana dan tentu masih membutuhkan bimbingan dan tambahan modal/dana. Tapi melihat hasil yang sudah dicapai sejauh ini, saya pikir dana harus digelontorkan untuk mereka. Baik dari dana desa maupun dari dana lainnya.

Setiap desa punya potensinya masing-masing. Tugas kita bersama adalah untuk melihat, menggali, mengembangkannya, hingga memperkenalkannya, demi masyarakat desa berdikari.


Di Kabupaten Ende ini banyak sekali desa (dan kelurahan) yang bisa terus digali potensinya baik potensi wisata maupun potensi hasil bumi. Semuanya masih dapat dikembangkan, terus-menerus, agar menjadi 'besar'. Tapi tentu harus ada upaya lain untuk mendukung itu semua. Desa Wologai misalnya. Desa yang jalannya luar biasa bikin jantung kebat-kebit dan bikin Cahyadi jatuh dari sepeda motor ini, akses jalannya itulah yang harus diperhatikan untuk mendukung proses jual-beli kemiri yang bisa dilayani berton-ton tersebut. Kan sayang kalau calon pembeli malas ke sana (untuk melihat kualitas kemiri misalnya) hanya gara-gara kondisi akses jalan.

Salah satu potensi desa yang pernah juga saya bahas di blog travel adalah Desa Manulondo. Di sana ada Ritual Goro Fata Joka Moka. Ini ritual tolak bala yang dilakukan bisa sampai tiga hari lamanya. Unik sekali ritual tersebut, silahkan baca kalau penasaran, dan itu merupakan potensi wisata budaya yang harus terus ada/berkelanjutan. Entah sekarang, apakah ritual tersebut masih terus dilaksanakan atau tidak. Belum lagi potensi di desa-desa lain seperti desa-desa penyangga Danau Kelimutu hingga desa-desa di wilayah pantai bagian Utara Kabupaten Ende (saya pernah peroleh informasi tentang hutan bakaunya). Luar biasa memang ... kita harus keep digging.

Baca Juga: 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)

Well, semoga pos ini bermanfaat bagi kalian semua. Siapa tahu kalian juga ingin menggali dan menceritakan lebih banyak potensi yang ada di desa kalian. Ya kan ... bagi tahu saja di papan komentar, nanti saya kunjungi blog-nya. Hehe.

Semoga bermanfaat!



Cheers.

5 Manfaat Buah Mengkudu

Gambar diambil dari Wikipedia.


Mengkudu disebut juga pace. Kalau menulis pace, pasti ingatnya julukan untuk laki-laki asal Papua yaitu Pace, sedangkan perempuannya Mace. Julukan-julukan ini berlaku untuk seluruh Indonesia meskipun beda sebutan. Misalnya laki-laki di Ende dipanggil Nara, perempuannya dipanggil Weta. Tapi jangan salah, kawan kami pun meskipun bukan orang Papua, nama panggilannya juga Pace meskipun nama aslinya itu Charlie atau Paskalis. 

Baca Juga: 5 Buah Penunjang Diet

Mari lanjutkan tentang mengkudu yang juga disebut pace ini. Mengkudu punya nama ilmiah Morinda citrifolia. Pohonnya cukup besar dan tinggi setinggi pohon jambu begitu tapi pokoknya jauh lebih besar dari pohon jambu. Kami punya satu pohon mengkudu di samping rumah dan satu pohon jambu di depan rumah, soalnya. Pohon mengkudu ini tidak akan pernah ditebang meskipun dedaunannya sering memenuhi atap kamarnya Thika. Ketimbang menebang, lebih baik dedaunannya saja yang dibersihkan.

Pohon mengkudu ini bermanfaat, selama yang saya tahu, adalah akar, daun, dan buahnya.

1. Akar

Di Kabupaten Ende, akar mengkudu (mengkudu disebut kembo) merupakan salah satu bahan alami untuk pewarnaan untaian benang bakal tenun ikat. Harga sarung Kembo tergolong paling mahal; disebabkan proses pembuatannya serta ketahanannya meskipun sering dipakai dan berusia uzur.

2. Daun

Mungkin alian lebih sering mendengar manfaat buah mengkudu ketimbang daun mengkudu. Waktu Mamatua sakit, kami sering merebus air bekal mandinya dengan daun mengkudu. Kata Mamatua, air daun mengkudu yang dipakai mandi itu bikin tubuhnya terasa lebih ringan.

3. Buah

Ini dia yang paling sering dibicarakan orang-orang. Buah mengkudu punya banyak sekali manfaat terutama untuk kesehatan. Ingat, sehat itu murah tapi sakit itu mahal!


Jadi, kali ini saya menulis tentang lima manfaat buah mengkudu untuk kesehatan. Satu-satunya sumber pendukung dari pos ini hanyalah Wikipedia. Yang lainnya adalah omongan Mamatua dan Mamasia yang senantiasa mengandalkan mengkudu.

1. Mengandung Vitamin dan Zat Penting Bagi Tubuh


Buah mengkudu disebut merupakan buah makanan bergizi lengkap karena mengandung begitu banyak zat nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Zat-zat tersebut antara lain protein, vitamin, dan mineral penting. Selenium yang merupakan salah satu mineral yang terdapat dalam buah mengkudu itu merupakan antioksidan yang hebat. Sedangkan beberapa senyawa lain antara lain xeronine, plants sterois, alizarin, lycine, sosium, caprylic acid, magnesium, dan lain sebagainya.

2. Bermanfaat Memulihkan Sel-Sel Tubuh


Mungkin yang membikin Mamatua begitu rajinnya meminum jus mengkudu, dan mandi air rebusan daun mengkudu. Setelah stroke, Mamatua jadi rajin meminum buah mengkudu yang sudah dihancurkan dan diambil airnya. Oke, rumah kami memang jadi bau sekali, terutama kulkas, tapi demi Mamatua ... no problemo. Selain buah mengkudu, saat Mamatua mengidap Strucma, yang dikonsumsi adalah jus air bawang merah dicampur air perasan daun damar. Terpenoid merupakan zat yang terkandung di dalam mengkudu, yang memantu dalam proses sintesis organik dam pemulihan sel-sel tubuh.

3. Mengandung Zat Anti Bakteri


Tidak disangka di dalam buah mengkudu juga terkandung zat anti bakteri yang dapat mematikan bakteri penyebab infeksi. Diantaranya Pseudomonas aeruginosa, Protens morganii, Staphylococcus aureus. Zat anti bakteri itu juga dapat mengontrol bakteri pathogen (mematikan) seperti Salmonella montivideo, S. schotmuelleri dan lain sebagainya.

4. Mengandung Zat Anti Alergi


Scolopetin merupakan senyawa yang sangat efektif sebagai unsur anti peradangan dan anti alergi.

5. Mengandung Zat Anti Kanker


Ini yang paling kita suka hahaha. Zat anti kanker yang terdapat dalam mengkudu paling efektif melawan sel-sel abnormal. 

Alam telah menyediakan, manusia harus rajin mencari tahu dan melakukan, kalau memang berniat untuk terhindar dari penyakit (meskipun tidak semua).


Beberapa informasi yang saya dengar dari orang-orang yang pernah mengonsumsi buah mengkudu, buah ini juga dapat mengobati penyakit-penyakit seperti rematik, penyakit jantung, kolesterol, hingga diabetes! A-ha. Ada yang terlalu manis hidupnya ... seperti saya? Yuk cobain jus buah mengkudu. Tapi harus tahan sama aromanya itu yaaa *dinosaurus menggeleng kuat-kuat*. Memang betul, kalau mau sehat, jalannya kadang berliku dan penuh semak.

Tapi jangan kuatir lah, sekarang ini sudah ada banyak buah mengkudu yang dikemas dengan sangat baik, di dalam kapsul, sehingga kalian tinggal meminumnya tanpa harus merasakan perihnya perasaan memarut/menghancurkan mengkudu untuk diambil air/jus-nya. Hehe. Masih terbayang wajah Mamasia, dulu, waktu membikin jus mengkudu untuk Mamatua. Kepalanya sampai geleng-geleng karena aromanya itu aduhai sekali.

Baca Juga: 5 Manfaat Dompet Obat

Bagaimana, kawan ... mau mencoba buah mengkudu?

Semoga bermanfaat!



Cheers.

Inovasi Joseph Joseph

Gambar diambil dari Mahome.Com.


Saya bersyukur, dalam perjalanan mengarungi belantara Youtube, antara tiny house, motorhome, street food, channel keren Insider, kehidupan primitif, ajang pencarian bakat semacam X-Factor dan The Voice, hingga proyek do it yourself yang kebanyakan oleh 5 Minutes Craft, masih bisa kesasar juga ke video-video inovasi. Salah satunya inovasi peralatan dapur. Meskipun perbuatan itu hanya membikin saya ngiler-ngiler sedap, karena tidak mampu membelinya atau karena belum butuh, tapi jelas hal-hal baru mampir di otak saya, dan itu menyenangkan.

Baca Juga: Living In A Camper

Video inovasi peralatan dapur itu sering menampilkan nama Joseph Joseph sebagai nama merek peralatan dapur yang ditampilkan. Agar kalian tidak penasaran, mari yuk kita kenalan. Jangan lupa siapkan cemilan dan minuman favorit supaya proses kenalan ini menjadi lebih menyenangkan *seruput jus kuku dinosaurus*.

Joseph Joseph


Dari channel Youtube ini, diketahui bahwa tersebutlah saudara kembar bernama Richard Joseph dan Antony Joseph yang mendirikan sebuah perusahaan bernama Joseph Joseph pada tahun 2003. Mereka menggabungkan pengalaman masing-masing dalam mendesain produk dan bisnis. Antony belajar desain di Central St Martins sementara Richard belajar bisnis di Universitas Cambridge. 

Penampakan si kembar, dari Pinterest.

Gantengnya bikin gagal fokus. Haha. Asyik ya punya saudara kembar kemudian berbisnis bareng. Siapa yang tidak mau, coba? 

"Innovation is at the heart of everything we do at Joseph Joseph, that’s why we make it our aim to identify everyday problems and solve them by designing functional solutions."
ANTONY & RICHARD JOSEPH


Mengkhususkan diri dalam peralatan dapur kontemporer, Joseph Joseph sekarang dikenal secara internasional karena memproduksi beberapa produk yang paling bergaya dan inovatif secara teknis, dan telah menjadi salah satu perusahaan dengan pertumbuhan tercepat di pasar peralatan rumah tangga di seluruh dunia. Kemampuan unik mereka untuk mencocokan bentuk dan fungsi telah membuat mereka mendapatkan pengakuan global.

Asesoris Dapur dan Kamar Mandi


Perusahaan Joseph Joseph mengkhususkan diri pada asesoris atau peralatan dapur dan rumah tangga. Hal tersebut tertera pada tagline situs mereka. Oleh karena itu, tidak heran video-video yang tayang di Youtube memang rata-rata video berjudul kitchen gadget atau bathroom. Mengapa mereka fokus pada peralatan dapur dan kamar mandi? Menurut analisa dinosaurus, itu karena mereka kesulitan mendesain pesawat luar angkasa.


Keplak dinosaurus!

Produk


Produk-produk inovasi dari perusahaan Joseph Joseph memadukan fungsi dan ketampanan sekaligus. Supaya kita sama-sama ngiler-ngiler sedap, yuk simak beberapa produk Joseph Joseph berikut ini:

Index Chopping Board


Punya papan iris atau talenan yang terindeks macam begini kan seru. Setiap papan diberi label/gambar sesuai peruntukannya. Supaya apa? Supaya tidak bercampur. Kan kurang seru aroma ikan menempel di keju yang dipotong apabila menggunakan papan iris yang sama. 

C-Pump

Ini dia penampakannya:


Asyik kan ya punya dispenser sabun cuci tangan macam begini sehingga tidak perlu pakai dua tangan hahaha. Tapi menggosok harus tetap dengan dua tangan dooonk, nanti tangan yang satu bingung.

Bathroom Flex (Steel Bundle)

Yang satu ini bagus sih, menurut saya, jadi ada dua barang sekali beli. Yang pertama sikat toilet. Yang kedua tempat sampah dua kotak; pemilahan sampah tergantung kebutuhan masing-masing orang.


Dan dari tiga barang yang tertera di pos ini, semuanya sudah ada harganya dalam Rupiah loh. Jadi, apabila kalian menginginkannya, cobalah mencari produk Joseph Joseph di market place yang ada. Atau cari saja Joseph Joseph cabang Indonesia.

Baca Juga: Gate: Rak Serbaguna

Semoga pos ini bermanfaat bagi kalian yang memang ingin mencari peralatan dapur dan kamar mandi, yang fungsinya bisa sama bisa juga lebih, tapi penampakkannya luar biasa bikin mata segar. Harganya pun saya pikir masih bersahabat dengan kantong kalian, kalau dengan kantong saya mungkin masih sangar hahaha.



Cheers.

Proses Pembuatan Tenun Ikat


Karena pos ini (cukup) bermanfaat bagi siapapun yang ingin tahu tentang proses pembuatan tenun ikat, menurut saya sih bermanfaat, saya mengunggah tulisan yang sama di dua blog secara bersamaan, blog yang ini dan blog yang itu. Supaya adil, merata, dan makmur. Saya paling tidak enak perasaan loh kalau dibilang tidak adil sama blog sendiri, terutama jika dinosaurus mendukung aksi protes blog-blog itu *digampar*. 


Tenun ikat merupakan salah satu ciri khas Indonesia bagian Timur. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sendiri setiap daerahnya mempunyai kekhasan motif-nya masing-masing. Jadi, kalau kalian bilang, "Ini tenun ikat NTT loh!" maka pasti ada yang bertanya, "NTT wilayah mana?" Hehe. Saya jamin kalian tidak bisa mengoleksi semua jenis tenun ikat asal NTT, kecuali:

1. Kalian jutawan yang duitnya bikin dinosarus mupeng. 
2. Kalian membelinya bertahap.

Baru-baru ini saya mendapat kesempatan super istimewa karena diperbolehkan meliput dan mendokumentasikan kegiatan proses pembuatan tenun ikat. Lokasinya di Desa Gheogoma, Kecamatan Ende Utara, Kabupaten Ende. Hanya sekitar tiga kilometer dari pusat Kota Ende. Kegiatan ini merupakan kegiatan dari PID Kecamatan Ende Utara; pemberdayaan masyarakat desa dengan menggali potensi desa, memberi pelatihan dan dana, mengembangkannya, hingga memasarkannya. Berkaitan dengan ini, kalian bisa membaca pos tentang 5 Keseruan Jadi Tukang Syuting.

Oia, sebelumnya kalian sudah harus tahu kalau di Kabupaten Ende tinggal dua suku besar yaitu Suku Ende dan Suku Lio, sehingga beberapa kata/istilah dalam proses ini memang berbeda dari bahasa dua suku tersebut.


Proses pembuatan tenun ikat di Desa Gheoghoma saat proses syuting kemarin diikuti oleh tiga kelompok yang telah dibentuk sejak tahun 2018 yaitu Kelompok Bunga Mawar dari Dusun Mau'munda, Kelompok Naganai dari Dusun Naganai, dan Kelompok Bunga Melati dari Dusun Nuarenggo.

Sekarang, mari kita simak satuper satu prosesnya:

1. Woe


Woe adalah proses menggulung benang sehingga berbentuk bola. Jadi, zaman dulu itu woe dilakukan dari bentuk kapas menjadi bentuk benang ke alat woe, lalu dari alat woe digulung lagi sehingga berbentuk gulungan benang (bola benang). Tapi sekarang, benang bakal tenun ikat ini dibeli di toko khusus yang menjualnya sehingga mempercepat proses awal ini. Bye bye pohon kapuk. Haha.


2. Meka


Setelah woe, proses berikutnya adalah meka. Meka merupakan proses mengurai gulungan benang ke alat meka seperti pada gambar berikut:



3. Go'a


Meskipun terlihat hampir sama dengan meka, go'a berbeda (merupakan proses selanjutnya) dan dilakukan di alat ndoa go'a. Proses ini bermaksud menentukan ukuran sarung tenun ikat nanti. Misalnya sarung Mangga milik saya yang dibikin oleh kakak ipar itu dibikin ukurannya lebih besar sesuai bodi dinosaurus hahaha. Ukuran normalnya sih tidak begitu.


4. Pete


Pete atau ikat/mengikat merupakan proses penentu motif yang diinginkan. Dari yang saya amati, pete terbagi atas dua. Yang pertama adalah proses memilah urat benang sehingga dikelompokkan dan diikat berdasarkan jumlah urat benang seperti pada gambar berikut:


Kemudian dilanjutkan dengan pete motif seperti pada gambar berikut:


Waktu saya tanya, motif apa yang dibuat, si Mama menjawab motif Labu. Dari hasil wawancara dengan perwakilan kelompok yaitu Gaudensia Titi, motif yang dihasilkan memang macam-macam, diantaranya motif Mangga, motif Nggaja, hingga motif yang dimodifikasi yaitu motif Burung Garuda seperti yang dipakai oleh Mama berikut ini:


Coba lihat lebih dekat/teliti, sarung yang dipakai oleh Mama ber-zambu (baju Ende) biru pencampur obat pewarna itu bermotif burung garuda. Keren ya.

Nah, nama daun yang dipakai untuk pete ini saya lupa hahaha. Sejenis daun kelapa tapi kata si Mama bukan daun kelapa.

5. Celup


Celup atau pencelupan atau pewarnaan dilakukan beberapa kali. Setelah benang tenun ikat di-pete, maka dilakukan pencelupan. Pada zaman dahulu bahan pewarna untuk pencelupan ini adalah bahan-bahan alami seperti akar mengkudu (kembo) dan daun taru tapi sekarang bahan-bahannya bisa dibeli di toko khusus yang menjualnya. Tapi jangan salah, beberapa penenun masih membikin tenun ikat dengan pewarna alami untuk menghasilkan sarung berjenis kembo yang super sekali dan harganya pun jutaan Rupiah.

Saat syuting kemarin, karena untuk kebutuhan video dokumenter saja, proses pencelupan dilakukan dua kali yaitu pertama pencelupan warna hitam:


Proses pencelupan pertama selalu warna hitam sebagai warna dasar. Campuran obat pencelupan warna hitam pertama harus pakai air panas. Apakah itu sebabnya para Mama ini memakai sarung tangan? Tidak juga. Mereka memakai sarung tangan selain karena panas juga agar tangan mereka tidak ikut berubah warna hahaha. Setelah pencelupan pertama untuk warna hitam ini, lagi-lagi mereka mencelup dengan warna hitam juga tapi campuran obatnya sudah pakai air dingin/biasa. Warna bakal tenun ikat ini dari oranye langsung berubah jadi hitam pekat (lebih hitam dari pencelupan hitam pertama).

Setelah itu dilakukan pencelupan warna kedua, warna yang diinginkan adalah merah:


Obat pewarnanya keren euy hehehe.

6. Mengurai


Setelah kering rangkaian benang yang dicelup, lantas dibuka ikatannya dan diurai seperti nampak pada gambar berikut ini:


Setelah diurai, lalu direntangkan untuk dipasang di alat tenun. Biasanya, menurut para Mama, dalam proses pencelupan setelahnya rangkaian benang diberi kanji agar kaku. Kenapa begitu? Supaya lebih mudah saat ditenun dooonk hehehe.


7. Senda


Senda artinya menenun. Selain bekal rangkaian benang yang sudah melalui tahap pencelupan dan penguraian di atas, juga menggunakan gulungan benang lain (berwarna hitam) yang diistilahkan dengan poke. Poke ini ya untuk menenun itu:


Kalian lihat Mama ber-zambu putih yang berhadapan wajah dengan si penenun? Dia sedang menggulung benang poke yang diletakkan di dalam semacam pipa paralon. Caranya dengan menggosok benang poke di betisnya (bisa muluuuuus tuh betis tak perlu dicukur hahaha) lalu digulung di kayu yang nanti diletakkan di dalam pipa itu. Poke atau lempar; maksudnya pipa dilempar diantara gugusan serat kain lalu ditenun, dipisah lagi serat kain berikutnya dalam satu gugusan lalu di-poke dan ditenun lagi. Sampai selesai. Bayangkan berapa banyak benang poke yang dipakai?


Nanti, agar lebih jelasnya, saya akan coba mempersingkat video proses pembuatan tenun ikat ini khusus di bagian senda dengan poke-nya itu.

Membikin tenun ikat tidak semudah yang dipikirkan orang lain, apalagi dengan cara tradisional seperti ini. Oleh karena itu saya sendiri sangat menyayangkan jika tenun ikat, karya jenius ini, kemudian dijual dengan harga murah.


Setelah selesai ditenun, kain tenun ikat dijahit berbentuk sarung. Saya sendiri punya tenun ikat motif Mangga yang masih bentuk lembaran alias belum dijahit menjadi sarung Mangga. Biasaaaa dikasih kakak ipar hahaha.

Akhirnya ... senang juga bisa menulis ini. Dulu pernah menulis tapi tidak selengkap sekarang. Senang sekali kan saya mendapat kesempatan emas meliput semua prosesnya dalam beberapa jam saja? Kalau hari biasa ... mana bisaaaaa. Kita harus menunggu. Misalnya satu penenun itu dia woe satu hari, terus meka dua hari, terus go'a berapa hari, celup berapa hari, lalu senda bisa tiga bulanan. Malah, kalau membikin sarung tenun ikat menggunakan pewarna alami, prosesnya bisa menahun.



Baca Juga: #EndeBisa Menggebrak SMKN 1 Ende

Demikian pemirsa, saya akhiri dulu pos ini. Semoga kalian suka!



Cheers.

Dessy: Merayakan Natal di Vatikan Merupakan Berkat Berlimpah dari Tuhan


Saya tidak bisa mengingat sejak kapan kami sahabatan. Sudah lama saling kenal, just say hi, kemudian mulai dekat dan bersahabat. Suka, duka, haha, hihi, kadang di kafe, seringnya di Pohon Tua. Bagi saya dia adalah perempuan hebat, penyiar kece, MC kesohor, isteri dan ibu yang luar biasa. Dan ketika Natal 2018 kemarin dia mendapat kesempatan merayakan Hari Raya Natal di Vatikan, bahkan diberi kesempatan mencium tangan Sri Paus, saya hanya bisa bilang: bangga saya sama kau, Des.

Baca Juga: Don't Breathe

Saya lalu berpikir, ini berita luar biasa, sayang jika tidak diviralkan. Saya lantas menulis di Facebook sebagai berikut:


Natalia Desiyanti merupakan salah seorang jurnalis Radio Republik Indonesia (RRI) asal Kabupaten Ende. Selain suaranya dikenal lewat udara dalam frekuensi siar Pro 1 RRI Ende, Natalia Desiyanti yang sehari-hari disapa Desy, juga dikenal sebagai MC kesohor Kabupaten Ende dengan jam terbang tinggi. Perayaan Hari Raya Natal, 25 Desember 2018, merupakan momen berharga yang tidak akan terlupakan oleh wanita yang bersuamikan Jerro Larantukan dengan putera-puteri Dimitri, Queenza, dan Gavriel. Desy merupakan satu-satunya jurnalis RRI yang lolos seleksi reporter yang diselenggarakan oleh RRI dan berkesempatan meliput perayaan Hari Raya Natal di Vatikan. Ini adalah mimpi semua Umat Katolik untuk bisa merayakan Hari Raya Natal langsung di pusat Gereja Katolik seluruh dunia.


Prestasi yang diraih Desy sebagai satu-satunya yang terpilih dari seleksi ribuan angkasawan dan angkasawati seluruh Indonesia ini masih menghadirkan rasa tidak percaya dalam hatinya. Ia yakin berkat Tuhan yang berlimpah serta potensi diri telah mengantarnya pada pengalaman rohani ini. Bukan cerita baru lagi jika masyarakat Indonesia Timur sering dipandang (serta, kadang memandang diri sendiri) sebelah mata. Kalah sebelum bertempur bukan sifatnya, sehingga Desy optimis dapat bersaing dan berkiprah di kancah nasional dan internasional. Ia melawan pesimisme dari lingkungan sekitar dengan karya dan prestasi yang bertahap dibangun dari fondasi hingga puncak. Oleh karena itu, kesempatan emas yang merupakan kepercayaan lembaga tempatnya berkarya harus dijalani dengan penuh tanggung jawab, sekaligus sebagai pembuktian bahwa potensi Indonesia Timur mampu berkiprah di tingkat Internasional.

Rentang waktu 1 minggu bertugas di Vatikan, Desy tinggal di Rumah SVD bersama para Imam SVD. Di Rumah SVD itu selain bersama para tamu wisatawan rohani lainnya dari beberapa negara di dunia, juga bersama Orang Indonesia Pertama Asal NTT, yang menjadi superior general ke 12 serikat sabda allah (SVD) Pater Paul Budi Kleden, SVD, Pater Markus Solo Kewuta yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Relasi Lintas Agama Asia Pasifik di Vatikan, dan beberapa pastor asal NTT lainnya. Selama menjalankan tugas jurnalistik pun, Desy didampingi Romo Leo Mali, yang juga berasal dari NTT yang saat ini sedang menyelesaikan pendidikan Doktor nya di Roma Italia. Hal inilah yang membuatnya semakin bangga menjadi Orang NTT sekaligus menjadi motivasi bagi Orang NTT lainnya untuk melakukan karya terbaik di bidangnya masing-masing.


Selama berada di Italia, Desy mengaku mengalami kendala antara lain penyesuaian suhu karena di Italia sedang musim dingin, penyesuaian menu makanan Italia, serta perbedaan waktu (7 jam) antara Italia dan Indonesia dimana waktu bekerja di Italia biasanya menjadi waktu istirahatnya di Indonesia, demikian pula sebaliknya waktu istirahat di Italia biasanya menjadi waktu bekerjanya di Indonesia. Namun kendala-kendala kecil itu lekas teratasi pada hari kedua tugasnya di sana.

Kembali ke Indonesia, ke Kota Ende, Desy dengan senang hati bercerita tentang pengalamannya bertugas di Vatikan kepada siapapun yang bertanya. Baginya, bercerita pengalaman bertemu orang-orang hebat asal NTT, mewawancarai Duta Besar RI untuk Tahkta Suci Vatikan, singgah ke tempat-tempat bersejarah di Roma dan di Vatikan, mengelilingi Basilika St. Petrus, dan menjadi satu-satunya jurnalis Indonesia yang diberi kesempatan beraudiensi dengan Sri Paus, merupakan kebanggaan serta dapat menjadi motivasi bagi siapapun untuk terus berusaha dan menjejakkan prestasi.

Terakhir, Desy berharap semoga pengalamannya dapat menjadi daya ungkit kepercayaan diri bagi sesama, bahwa tidak ada yang tidak mungkin , jika kita berusaha sungguh dalam nama Tuhan.

***

Ketika saya menulis ini, apalagi mengaku bahwa Desy adalah salah seorang sahabat saya, mungkin banyak yang mencibir.


Namun, sebagai seorang sahabat, apalah yang bisa saya lakukan selain menulis ini. Apabila Indonesia punya Good News From Indonesia, kenapa kita tidak punya Good News From Ende? Kabar baik harus diviralkan karena sesungguhnya saya bosan pada tsunami kebohongan yang menghantam negara ini.

Salam.


Pos/status di Facebook tersebut disukai 600-an Facebooker, dan masih terus bertamah. Tentu pos di Facebook tidak bisa menyelipkan foto seperti yang saya edit pada pos di blog ini. Di Facebook, pos tersebut hanya sebagai keterangan dari beberapa foto yang juga saya unggah.

Baca Juga: Sastra Indonesia di NTT dalam Kritik dan Esay

Seperti yang sudah saya tulis di atas, saya bangga padanya. Bersahabat dengannya menambah aura positif dalam hidup saya. Kami saling berbagi informasi, berbagi kesenangan, dan berbagi rejeki hahaha. 


Betul, seperti yang Dessy katakan sendiri bahwa perjalanannya ke Vatikan ini dapat menjadi daya ungkit bagi kita semua. Prestasi setiap orang beda-beda, tujuan tertinggi Insha Allah semua ingin meraihnya, yang perlu dilakukan adalah tetap optimis, tetap berusaha, dan tentu saja tetap berdo'a memohon ridho-Nya. 

Semoga menjadi inspirasi bagi kita semua :)



Cheers.