Nostalgia Alanis


Tahun 90-an sampai awal tahun 2000 betul-betul merupakan tahun keemasan dunia musik baik nasional maupun internasional. Ini murni pendapat saya pribadi. Pada rentang tahun itu, selain bersahabat dengan Hilda dan Yusti, saya juga bersahabat dengan Music Television (MTV) dan Channel V. Betapa Bapa sampai pusing kepala karena saya menyambung televisi dengan speaker gede milik Jemiri Soundsystem. Selain punya band bernama Jemiri, kami juga punya unit-unit soundsystem yang disewakan. Bisa kalian bayangkan, itu yang sedang tidur sore, bisa kejengkang dari ranjang gara-gara suara yang menggelegar ha ha ha.

Pssstttt ... gara-gara iklan Durex yang waktu itu luar biasa rajin wara-wiri di MTV, Bapa mulai kesal dan akhirnya melarang saya menyambungkan soundsystem ke televisi gara-gara ada kata kondom. Sebagai gantinya Bapa membelikan saya speaker mini. Huhu. DUREX, THE INTERNATIONAL NAME FOR QUALITY CONDOM. Tanpa mencontek pun jargon ini masih melekat erat di otak saya *nyengir*.

Baca Juga: Double Ending

Tahun-tahun itu, internet belum menjajah Kota Ende, pun masih menjadi sesuatu yang langka. Jadi, kalau pengen menonton video musik favorit, ya akses Youtube cuma mengandalkan MTV dan Channel V meskipun lebih seringnya menonton MTV. Makanya, anak MTV tahun 90-an pasti tahu Mike Kaseem, Nadia Hutagalung, sampai Jammie Aditya, Alex Abbad, Donita, Sarah Sechan, dan lain sebagainya. Oh ya, salah satu acaranya adalah MTV Most Wanted, dan saya pernah me-request lagu atau video musik melalui mesin fax kantor! Dududud.

Karena tidak ada internet, untuk bisa menonton video musik favorit pun harus bisa memilah acaranya. Karena kan tidak bisa memilih seenak udel dan video musik favorit tidak tayang setiap jam. Kalau MTV Most Wanted, sudah pasti video favorit di-request juga sama orang lain dalam skala rata-rata. Biasanya, untuk lagu-lagu yang kurang saya suka, volume speaker dikurangi, tapi begitu intro video musik favorit terdengar, volume speaker langsung tancap gas! Ngeeeeng ngeng! Pernah dalam sehari saya pantengin MTV terus demi menonton lagi dan lagi video klipnya Celine Dion dari lagu berjudul That's The Way It Is. Aduhai apa kabar As Long As You Love Me dari Backstreet Boys, Radiohead dengan Creep-nya, Wild World-nya Mr. Big, Madonna dengan Frozen, sampai Ironic milik Alanis Morissette.

Nah, nama terakhir ini yang bakal saya bahas kali ini di #SabtuReview.

Alanis Morissette


Nama besar Alanis Morissette begitu terpatri di hati. Perempuan dengan kecantika alami, sangat enerjik, punya suara yang unik dan powerfull, penampilannya sporty-casual, rambut panjang bukan berarti tidak boleh tomboy, gelang-gelang yang dipakainya, sampai kecerdasan dan kepiawaiannya menulis lirik lagu. Selain Alanis, nama lain yang juga dikenal menulis sendiri lagu-lagunya adalah Jewel. Aaah waktu itu belum ada si Taylor Swift ya hahah.


Balik ke Alanis, karena saya tidak sempat mewawancarainya secara personal *dijumroh warga* jadi lagi-lagi Wikipedia menjadi sumber rujukan. 

Nama lengkapnya adalah Alanis Nadine Morissette, lahir 1 Juni 1974, kembaran sama Indra Pharmantara tanggal lahirnya haha. Dia dikenal sebagai penyanyi, penulis lagu, produser rekaman, dan aktris asal Kanada. Alanis dikenal karena suaranya yang lembut seperti mezzo-sporano. Alanis memulai karirnya di Kanada pada awal 1900-an dengan dua album dance-pop yang agak sukses. Setelah itu, sebagian dari kesepakatan rekaman, ia pindah ke Holmby Hills, Los Angeles dan pada tahun 1995 merilis Jagged Little Pill, album yang lebih berorientasi pada genre rock.

Jagged Little Pill ini termasuk album yang masih melekat di otak saya hahah. Album ini terjual lebih dari 33 juta kopi secara global dan merupakan karyanya yang paling diakui secara kritis. Pada tahun 1998, Alanis merilis album berikutnya yaitu Supposed Former Infatuation Junkie.

Di atas tahun 2000-an Alanis mengambil alih proses kreatif dan memproduksi album studio berikutnya diantaranya Under Rug Swept (2001), So-Called Chaos (2004), dan Flavours of Entanglement (2006). Album studio kedelapannya dan yang terbaru hingga saat ini, Havoc and Bright Lights, dirilis pada 2011. Alanis telah menjual lebih dari 75 juta rekaman di seluruh dunia dan dijuluki Queen of Alt-Rock Angst oleh Rolling Stone.

Pada 16 Maret 2018, Alanis menampilkan lagu yang disebut Ablaze selama tur-nya. Pada bulan Oktober 2018, Alanis mengungkapkan di media sosial bahwa ia telah menulis 23 lagu baru dan mengisyaratkan sebuah album baru yang bakal dirilis 2019 dengan taggar #alanismorissettenewrecord2019. 

Jagged Little Pill


Dari semua album Alannis, menurut pendapat saya, Jagged Little Pill lah master piece. Album ini mengandung lagu-lagu yang luar biasa kuat. Karena, Jagged Little Pill tidak menjual satu single andalan saja, melainkan keseluruhan yang dikandungnya! Hebatnya lagi, hampir semua lagu-lagu itu punya video musik yang rajin wara-wiri di MTV dan Channel V.

Song List Jagged Little Pill

All I Really Want
You Oughta Know
Perfect
Hand in My Pocket
Right Through You
Forgiven
You Learn
Head Over Feet
Mary Jane
Ironic
Not The Doctor
Wake Up

Pertama kenal Alanis Morissette, di MTV, melalui video musik Ironic. Kalau kalian belum nonton, coba deh ditonton. Atau ... tonton ulang saja di Youtube! Lirik Ironic mengisahkan tentang hal-hal ironi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dari penggalan liriknya: an old man turned ninety-eight, he won the lottery and died the next day. Kita semua pasti pernah mengalami hal-hal beraroma ironi seperti itu. Misalnya: di media sosial Facebook kita adalah orang yang sangat ramah dan suka memerhatikan status orang lain, tapi di kehidupan nyata kita ternyata orang yang sulit bergaul dan selalu menaruh curiga.

Video musik Ironic dikemas sangat apik. Sebuah mobil yang dikendarai oleh empat orang berbeda penampilan tapi semuanya diperankan oleh Alanis by her self. Silahkan lihat video musik di bawah ini untuk lebih jelasnya:


Selanjutnya saya jatuh cinta sama Alanis dan mulai rajin menunggu video musiknya tayang di MTV dan Channel V. Ah, Hand in My Pocket, Head Over Feet, All I Really Want ... dududu ... yuk langsung ke Youtube dan bernostalgia dengan Alanis Morissette!

Lagu-lagu Alanis Morissette merupakan lagu sepanjang masa yang tak lekang oleh waktu. Kalian tentu tidak asing pula dengan Thankyou dan Uninvited kan? Sama, saya juga. Dan masih suka mendengarnya. Tapi kalau ditanya, lagu Alanis yang paling sering saya nyanyikan, bahkan berusaha mengiringi diri sendiri dengan gitar, sudah pasti Hand in My Pocket. Kalau ada yang tidak suka sama lirik lagu ini, sungguh terrrrrr laaaa luuuuu. Penggalannya ini saja sudah bikin kita sadar untuk lebih menikmati hidup.

I'm broke but I'm happy, I'm poor but I'm kind
I'm short but I'm healthy, yeah
I'm high but I'm grounded, I'm sane but I'm overwhelmed
I'm lost but I'm hopeful, baby
What it all comes down to
Is that everything's gonna be fine, fine, fine
'Cause I've got one hand in my pocket
And the other one is giving a high five

Bagaimana, kawan? Dalam sekali kan makna lirik lagunya?

Baca Juga: Flores: Adventure Trails

Semoga kalian juga suka Alanis Morissette. So, let's high five! Because, even though we are poor. it doesn't matters, as long as we are happy.



Cheers.

5 Patterns


Saya suka memotret, tapi saya bukan fotografer. Oleh karena itu saya sampai punya blog khusus foto yang sampai sekarang tidak lagi saya perbarui. Sangat sulit menerima kenyataan ketika ada yang datang ke rumah atau lewat SMS dan WA, meminta saya menjadi fotografer suatu acara. Perkawinan, misalnya. Dengan sangat ringan hati saya menolak, karena meskipun sering memegang kamera dan memotret, saya bukan fotografer profesional yang itu, yang dimaksudkan oleh orang-orang dengan fotografer (profesional). Saya kuatir momen penting perkawinan lolos, tidak terdokumentasikan. Bisa-bisa saya dicekik dinosaurus kalau sampai hal itu terjadi. 

Baca Juga: 5 Steps to Marriage

Saya suka memotret (pengulangan ini perlu), memotret apa saja, yang menurut saya harus dipotret. Jangan sampai terlewatkan! Waktu tahu soal Google Photos dan penyimpanan otomatis serta abadi itu, kegilaan memotret ini semakin menjadi, biarin ah, yang penting bisa disimpan di Google Photos. Saat saring-menyaring nanti kan bisa dihapus kalau dirasa foto tersebut tidak berfaedah *pasang muka polos tanpa dosa*. Selain kaki dan tangan sendiri, saya paling suka melihat pola-pola tertentu, yang disebut pattern. Pattern yang nampak mata ini bisa berdiri sendiri, bisa pula menjadi latar belakang dari suatu obyek misalnya kaki dan tangan saya. Haha. Teteup.

Pattern


Wikipedia mengatakan bahwa, pattern adalah pola desain atau pola rancangan (bahasa Inggris: design pattern). Ini adalah sebuah istilah di dalam rekayasa perangkat lunak yang mengacu pada solusi umum yang bisa dipergunakan kembali atau berulang-ulang untuk menyelesaikan masalah-masalah yang umum terjadi dalam konteks tertentu atau khusus yang ditemui pada desain perangkat lunak. Sebuah pola desain yang sudah terbentuk bukan berarti desain tersebut dapat langsung digunakan untuk menulis program.

Itu kata Wikipedia.

Menurut pengertian dangkal saya, pattern adalah pola desain. Itu saja. Sesuatu pola desain yang menurut saya unik. 

Pattern dan Kaki


Dua hal yang sulit dipisahkan, terutama pattern yang bagus itu terletak di bawah, alias buat diinjak (lantai/tanah/bebatuan). Sejauh ini ada beberapa foto yang saya sukai, dan menjadi inspirasi. Siapa tahu kelak bakal bikin yang macam begitu juga.

1. Batu Kotak di Taman Panti Asuhan Ponpes Wali Sanga

Waktu itu tujuan ke Panti Asuhan Ponpes Wali Sanga adalah untuk mempromosikan Universitas Flores (Uniflor) pada murid-murid MAS yang ada di sana. Kalian bisa membaca pos lengkapnya di Ponpes Walisanga yang Penuh Warna.


Ini adalah pattern dari pecahan bebatuan (persegi) alias batu kotak yang dicat warna-warni. Melihat pemandangan ini, koleksi foto pattern dan kaki pun bertambah satu.

2. Lantai di Hotel Pepita Mbay

Tentang Hotel Pepita Mbay, kalian bisa membacanya di pos Spot Instagenic di Hotel Pepita Mbay. Iya, itu di blog travel yang sana.


Lantai ini bukan lantai keseluruhan hotel loh ya, melainkan hanya ada pada bagian yang tanpa atap saja, misalnya area outdoor yang berseberangan dengan ruang makan. Membikin lantai seperti ini tentu membutuhkan ketelatenan tingkat tinggi. Idenya cemerlang sekali ini.

3. Setapak Menuju Fakultas Bahasa dan Sastra

Di Universitas Flores, ada satu setapak yang saat saya melintasinya, langsung bikin langkah saya terhenti.


Ini semacam pola yang tanpa sengaja dibikin sama tukang bangunan kampus (iya, kampus punya tukang bangunan langganan loh). Setelah setapaknya dibikin, terus saat semen masih basah, ditarik zigzag menggunakan kuas begitu. Dari hasilnya, saya membayangkan proses pembuatannya. Mungkin para tukang bangunan itu tidak sengaja, tapi justru menghasilkan sesuatu yang unik untuk dipotret dengan obyek kaki saya ha ha ha.

Pattern Lainnya


Saya menjanjikan lima pattern kan ya. Nah, dua pattern tersisa ini sebenarnya pilihan dari begitu banyak pattern yang saya potret; makanan, dinding, lantai, dan lain sebagainya. Tapi karena quota sudah penuh *halah* jadi hanya dua yang terpilih.

4. Tenda Perkawinan (Terop)

Hari itu, masih pagi sekali, saya sudah berada di rumah Ibu Ayu Sulaeman untuk mendokumentasikan acara akad nikahnya bersama Pak Yayan. Luangnya waktu membikin mata saya mulai liar memerhatikan sekitar. Dan tradaaaa ...


Kain-kain yang dipakai untuk menjadi, semacam, plafon tenda perkawinan ini begitu unik. Pilihan warnanya juga cerdas. Tidak menunggu lama. Jegreg!

5. Tebing Menuju Nangapanda

Saya tidak tahu nama daerah ini, yang jelas tebing ini terletak di pinggir jalan Trans-Flores, dari Ende menuju Nangapanda (demikian pula sebaliknya).


Made by nature. Dulunya, pattern di tebing ini lebih kentara/nampak (bold) ketimbang sekarang. Untungnya saya masih sempat dipotret di tempat ini.


Pattern yang termuat di pos ini tentu dapat menjadi inspirasi kita bersama. Misalnya, rumah kalian mempunyai halaman depan yang luas. Selain bisa ditanami TOGA (Tanaman Obat Keluarga) atau pepohonan, bisa juga space kosongnya dibikin seperti taman Panti Asuhan Ponpes Wali Sanga di atas; batu kotak di-cat warna-warni, sebagai pengganti paving taman. Kalau saya sih lebih mudahnya: membeli batuan hijau di Pantai Penggajawa (berbagai ukuran) dan dituangkan saja di situ hahaha.

Baca Juga: 5 Komoditas TSF

Bagaimana dengan kalian? Terutama kalian yang tinggal di kota besar, tentu lebih sering menemukan pattern-pattern unik nan memikat kan? Bagi tahu yuuuuk :)



Cheers.

Enchyz’s Desk Organizer


Barang-barang kerajinan tangan (craft) yang dibikin sendiri (do it yourself a.k.a. DIY) memang membutuhkan kesabaran dan waktu. Setelah belajar dan sukses menguasai langkah-langkah membikin desk organizer aneka ukuran, serta menggunakan sampul dari halaman-halaman majalah lama dan katalog, saya mulai menerima pesanan desk organizer custom. Pemberi order menyampaikan keinginan dan kebutuhan mereka, saya berusaha memenuhinya. Mudah? Tidak juga. Tapi kalau dikerjakan dengan hati yang riang gembira, akhirnya justru ketagihan.

Baca Juga: Coin Storage

Enchyz Manteiro adalah salah seorang teman kantor yang kemudian memesan desk organizer dan tempat tisu. Custom. Dia menginginkan desk organizer yang cukup besar sehingga bisa menyimpan amplop dan kertas-format disposisi, serta barang-barang lainnya semacam gunting, stapler, dan alat tulis. Khusus untuk desk organizer dan tempat tisu ini harus satu tema yang sama dan didominasi warna merah dan hitam. Ya, dia penyuka warna merah.

Enchyz's Desk Organizer


Putar otak. Saya mulai mengukur lebar kertas berukuran A4 karena kertas format disposisi itu berukuran setengah dari lembar A4. Biasanya. Dari ukuran dasar lebar A4 yang sekitar 8,5 sentimeter itu (saya genapkan menjadi 10 sentimeter, saya mulai membikin alas bakal desk organizer-nya. Otomatis panjang dan lebarnya harus menyesuaikan dengan kotak-kotak lain yang bakal mengisi desk organizer tersebut. Karena bikinnya sudah lama saya tidak bisa memotret langkah demi langkah, tapi saya pikir, dengan membaca cara membikin di bawah ini, kalian pasti sudah bisa membayangkannya ya.

Bahan:
1. Karton dari kardus.
2. Gulungan dalam bekas tisu-roll.
3. Kertas kado/sampul.
4. Cat warna merah, hitam, putih.
5. Lem PVA dan lem tembak (hot glue).

Alat:
1. Gunting.
2. Cutter.
3. Mistar.
4. Pistol hot glue.

Cara Membikin:
Pertama, bikin alas desk organizer menggunakan karton dari kardus bekas. Ukurannya, sekitar 18 sentimeter (karena sudah lama, dan waktu itu saya lebih sering memakai feeling ketimbang ukuran haha). Alas ini kemudian disampul kertas. Karena saya hendak mengecat alas ini, sehingga saya memakai kertas polos/HVS, bukan kertas koran. 

Kedua, cat alas tersebut dengan cat dasar warna merah, lantas digambar atau dicat tambahan warna hitam dan diberi titik-titik putih, terutama pada bagian pinggirnya.


Lihat pada panah dan lingkaran. Itu yang saya maksudkan dengan gambar seperti itu. Cuma setengah lingkaran warna hitam dan titik-titik putih. Kenapa harus di pinggir? Karena bagian tengahnya kan bakal diisi. Di pinggir supaya pasti terlihat mata hahaha.

Ketiga, bikin kotak-kotak bakal tempat penyimpanan: amplop, kertas format disposisi, alat tulis, dan barang-barang lainnya. Saya juga menggunakan gulungan dalam dari tisu roll atau tisu toilet. Kotak-kotak bakal penyimpanan ini tidak perlu ditutup salah satu sisinya, karena toh otomatis kalau ditempel di alas desk organizer dia bakal tertutup dengan sendirinya (bagian bawah). Jangan lupa ditutup sampul kertas kado/sampul yang sudah dipilih. Jadi temanya seiring sejalan dengan alasnya.

Keempat, rekatkan semua kotak penyimpanan pada alas desk organizer. Trada ... jadi deh.

Dan, adalah suatu kebanggaan setiap kali ke ruangannya Enchyz, saya masih melihat desk organizer ini berdiri gagah di meja kerjanya, berdampingan dengan tempat tisu.



Dua gambar di atas, merupakan penampakan desk organizer di meja kerja Enchyz. Senang sekali melihatnya haha. Isinya macam-macam, seperti yang kalian lihat pada gambar di atas, bantal stempel dan pelubang kertas, sayangnya, tidak bisa disimpan di desk organizer ini. Haha. Tapi tidak mengapa, yang penting bermanfaat.

Selain desk organizer, Enchyz juga memesan tempat tisu bertema sama. Penampakan tempat tisunya adalah sebagai berikut:


Cara membikinnya? Nah, saya belum pernah menulis #RabuDIY tentang membikin tempat tisu andalan ini kan ya. Jadi proses membikinnya bakal saya pos sendiri, dengan sedikit reka ulang haha. Sabarlah menanti.

Baca Juga: Travel Booth

Demikian #RabuDIY kali ini, semoga bermanfaat. Silahkan dicoba!



Cheers.

Backpack Tuteh


Saya pernah menulis tentang Backpacks Impian di #SelasaTekno Kenapa? Karena bakpack, daypack, tas punggung, ransel, apa pun sebutannya, sudah menjadi barang yang menemani aktivitas harian kita. Ke kantor, sekadar piknik, traveling, pasti backpack ini nangkring di punggung. Dan inovasi backpack sungguh mengagumkan. Mempunyai lebih dari satu backpack pun bukan karena maruk, melainkan karena disesuaikan dengan kebutuhan, karena rempong kan harus gonta-ganti isi backpack; antara isi backpack saat dipakai ke kantor, dan isi backpack saat dipakai bersantai atau piknik dan/atau traveling.

Baca Juga: Cetak Saring

Saya termasuk pengguna aktif bakpack *tsah* ke mana pun pergi, kecuali untuk pergi-pergi yang cuma membutuhkan waktu satu atau dua jam pilihan tas yang dibaca bisa tas selempang mini. Kalau Bapa Sam sih setia sama tas selempang Alto-nya. Meskipun mempunyai banyak backpack tapi pasti ada backpack andalan kan. Ya, saya punya backpack andalan yang katanya mirip backpack yang dipakai oppa-oppa dari Korea sana. Haha. Belinya di Kakak Rosa Budiarti dari toko daring temannya.

Backpack Andalan dan Isinya


Backpack andalan saya bisa kalian lihat penampakannya pada awal pos, atau bisa juga pada gambar di bawah ini:


Kalau bepergiannya ke tempat yang jauh dan agak lama, pilihannya bisa Consina atau Eiger, tapi pun kadang saya memanggul si backpack hitam ini. Sayangnya backpack ini, meskipun andalan, tapi bagian dalamnya tidak se-compact yang kalian kira.


Tidak seperti backpack (kantoran) umumnya yang menyediakan tempat laptop, backpack ini mulus-mulus saja haha. Cuma dua kantong kecil tempat menyimpan handphone dan kartu nama (kalau ada), ya barang-barang kecil begitu. Sehingga untuk membuatnya dapat 'menyangga' saya menempatkan map keras di bagian belakang. Kalian bisa lihat isinya, botol minum dan payung tidak dapat berdiri gagah, apalagi dompet dan lain barang.

Pos Tentang Backpack Custom


Baru-baru ini, tepatnya tanggal 4 April 2019, saya membikin status Facebook tentang sebuah backpack custom:


Lalu teman saya Enchyz Manteiro menanggapinya, bukan di komentar, melainkan saat kami bertemu di kantin kampus. Enchyz menunjukkan foto backpack bayi/balita yang dibelinya dari toko daring. Wah, bukan main saya jadi mupeng! 

Yang ini dari Lazada.

 Yang ini dari Tokopedia.

Bayangkan, punya backpack model begini (eeeeh modelnya mirip backpack hitam andalan saya kan, hahaha). Tempat botolnya saja banyak (di bagian depan). Bagian dalamnya banyak laci sehingga barang-barang bisa tersimpan dengan compact-nya. Laci-laci itu memang untuk mengisi diaper dan bermacam kebutuhan bayi/balita, tapi bisa kita ganti dengan botol minum tambahan, payung, dompet alat tulis, dompet obat, dan lain sebagainya. Masih bisa juga sih buat menyimpan laptop, tergantung pengaturan.

Canggih! Tidak ada ceritanya botol minum jatuh tertidur di alas backpack hahaha.

Backpack Tuteh


Backpack impian saya pun menari-nari di kepala. Membeli atau membikin sendiri. Dan dengan lancangnya saya mulai menggambar si backpack Tuteh ini. Saya pikir, para penjahit sudah tahu apa mau-maunya saya kan hehe. Otak mereka super canggih lah.




Maaf, saya bukan tukang gambar, dan jelas tidak bisa menggambar, jadi cukup segini bisanya saya menggambar backpack Tuteh haha. Yang jelas backpack ini harus bisa berdiri gagah saat diletakkan di atas meja atau atas lantai. So compact pula.


Jadi itu dia backpack Tuteh, backpack yang saya cita-citakan. Setelah menulis Backpacks Impian, Indra Pharmantara memang membeli backpack Bobby yang canggih itu. Tapi kok saya rasanya kurang sreg saat memakainya. Makanya saya masih mencari backpack yang betul-betul memenuhi keinginan dan kebutuhan, sekaligus menggambarnya hahaha. 

Tapi ... kayaknya saya tergoda untuk membeli bakpack bayi/balita seperti yang dibeli sama Enchyz Manteiro deh. Dududud ...

Baca Juga: Re:Ease

Bagaimana dengan kalian, kawan? Seperti apakah backpack yang kalian senangi? Bagi tahu yuuuuk di komen!



Cheers.

Fair Play Flag


Meskipun sering menjadi bagian dari panitia ajang sepak bola di Kabupaten Ende, namun sejatinya saya bukan pecinta olah raga sepak bola. Makanya saya terpaksa menolak ajakan Mas Chandra dari bagian Publikasi dan Dokumentasi, misalnya dalam Triwarna Soccer Festival, untuk turut menjadi komentator dalam video live streaming yang tayang di Youtube. Apa itu offside? Aduh, saya tidak paham. Makanya saya sangat kagum pada kaum perempuan yang fasih sama dunia sepak bola ini, terutama bagaimana cara mereka berkomentar tentang klub-klub favorit mereka. Lha sejak dulu cuma nama Maradona saja yang terpatri di kepala gara-gara euforia zaman SD ha ha ha.


Pada ajang Triwarna Soccer Festival, setiap kali usai pertandingan terakhir, pasti dilaksanakan briefing. Yang dibahas saat briefing ini umumnya evaluasi kegiatan pada hari tersebut, permasalahan dan solusi, laporan keuangan, pemilihan empat orang petugas pemegang bendera fair play, dan ditutup dengan do'a. Jika ada yang berulangtahun biasanya akan diramaikan dengan aksi menyiram air haha. Kocak memang. Hiburan saat diri sudah letih maksimal.

Malam itu, saat briefing, ketua panitia membaca nama-nama yang direkomendasikan untuk membawa bendera fair play. Terkejut ketika nama yang disebutkan adalah nama perempuan, bukan laki-laki (pada umumnya). Shinta Degor, Yudith Ngga'a, Narti, Tuteh.

What!? Haha. Bakal seruuuuu.

Fair Play Flag


Fair Play Flag merupakan bendera warna kuning, oh hyess kuning, yang pada bendera tersebut tertulis My Game is Fair Play. Bendera kebanggaan itu tidak terlepas dari FIFA (Federation Internationale de Football Association). My Game is Fair Play secara terjemahan bebas dan singkat a la saya berarti: junjung tinggi sportifitas. Hehe. Sportifitas di sini tidak saja bagi para pemainnya saja, tapi juga manajer dan coach, serta supporter. Bagi kalian yang sangat memahami dunia sepak bola, rasanya apa yang saya tulis tentang ini masih sangat miskin. Tapi tidak mengapa, itu adalah pemahaman dangkal saya tentang fair play.

Empat Perempuan Cantik


Kembali pada empat perempuan anggota panitia Triwarna Soccer Festival, maka pada hari yang ditentukan, kami pun bertugas membawa bendera fair play bertulis My Game is Fair Play. Jangan lupa pakai rompinya ya hehe.




Keberadaan kami sebagai pembawa bendera My Game is Fair Play tentu bikin heboh. Karena, lazimnya yang membawa bendera ini adalah laki-laki. Hal ini memang baru pertama kali terjadi di Kota Ende dalam ajang-ajang pertandingn sepak bola, tapi pernah terjadi di daerah lain seperti berita dari BolaDotCom dengan judul 6 Mojang Cantik Pembawa Bendera Fair Play Laga Persib. Senang banget waktu baca berita itu, artinya kami berempat tidak sendiri. Sama-sama cantik. Hahaha.

Siapa sangka, kemudian, banyak teman-teman yang membikin status tentang kami berempat? Salah satunya si penggila bola Sherif Montana:

Terima kasih Sherif.

Dan banyak yang memotret serta mengirimkan fotonya via WA dan inbox pada saya. Ah, terima kasih. Kami memang bikin heboh.


Kalau ditanya, mau lagi? Ya jelas saya mau lagi membawa bendera kebanggaan tersebut. Unik sih. Saya kan memang paling suka jadi pusat perhatian *digampar warga berjamaah*.

Baca Juga: Manis Akustik



Itu dia cerita hari ini, dari serba-serbi Triwarna Soccer Festival, dan menjadi pembawa bendera My Game is Fair Play merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya dan teman-teman lainnya. Masih banyak serba-serbi lainnya, kisah lainnya, yang bakal saya pos tapi tidak hari ini. Nanti ya, satuper satu. Semoga pos ini bisa menyuntik lebih banyak semangat Senin pada kalian semua. Hehe.



Cheers.

Double Ending


Bagi para penikmat filem, menonton filem merupakan proses otak turut bekerja untuk terlebih dahulu menyelesaikan kisah dari filem yang ditonton. Menebak. Itu kata sederhananya. Selama kita belum menonton trailer dan membaca review-nya terlebih dahulu. Menonton Fight Club, misalnya, otak saya bekerja keras menebak akhir filem tersebut, yang kemudian ditampar twist ending yang bikin melongo. Atau, saat saya menonton The Sixth Sense, sama rasanya saat ditampar dari twist ending Fight Club. Ah, ya, sama dengan menit-menit pertama menonton Split.

Baca Juga: Relikui Kematian #2

Kadang-kadang kita bakal bilang: tuuuuh kaaaan benar kah tebakan saya, ketika tebakan kita sama dengan adegan berikutnya dan/atau akhir filem yang bersangkutan. Pernahkah tebakan kalian diamini oleh akhir sebuah filem? Saya pernah. Tapi seringnya gagal. Haha. Saat menonton Train to Bussan dan Ia am Legend, misalnya, tebakan saya tentang pemeran utama yang selalu selamat alias tidak mati ... salah total. Duh, stigma pemeran utama selalu selamat nampaknya memang harus dihapuskan dari otak saya.

Filem-filem twist ending memang harus diakui super keren. Angkat jempol. Benar-benar menguras otak saat menontonnya dan membikin melongo pada ending-nya.

Tapi ... bagaimana perasaan kita ketika tahu bahwa filem favorit kita ternyata double ending? Lantas muncul pertanyaan, kenapa filem yang ditonton sebelumnya (bioskop) berbeda ending dengan yang ditonton ulang lewat DVD? Atau, bagaimana bisa filem yang sama, yang disedot gratisan tapi beda waktu dan sumber penyedotan, kemudian berbeda ending?

Double Ending


Double ending di sini dimaksudkan untuk filem-filem yang ternyata punya alternatif lain sebagai penutup cerita. Pertama kali tahu soal ini dari sebuah perdebatan panjang bersama teman sekolah saya Penny Kamadjaja. Penny bercerita tentang akhir sebuah filem yang dia tonton di bioskop. Jelas saya membantah karena akhir dari filem yang sama, yang saya tonton di DVD, berbeda dari yang dia ceritakan. Perdebatan panjang tidak dapat dihindari. Kami nyaris menggunakan ilmu silat demi membela harga diri. 

Ternyata, kami sama-sama benar.

Memang Ada!


Double ending memang ada. Alternatif yang sengaja disediakan oleh pembuat filemnya. Alternatif ini umumnya hanya satu (jadi ada dua jenis ending saja) tapi kadang-kadang tiga. Kenapa ada double ending ini tidak terlepas dari penonton-responden. Semacam uji coba dari sebuah filem. Tanggapan responden inilah yang menjadi acuan apakah ending perlu diubah atau tidak. Asyik banget kalau begitu jadi responden ya haha.

Baca Juga: Survival Movies

Kali ini saya hanya akan membahas satu filem yang pernah saya tonton, yang punya double ending atau punya lebih dari satu alternatif ending. Filem itu berjudul I am Legend.

Mari kita cek.

I am Legend


Pertama menonton I am Legend yang diperankan oleh Will Smith ini jelas bukan di bioskop. Karena kalau kalian membaca pos Mereview Filem (dan Buku), sudah dijelaskan mengapa saya sering me-review filem lama. Pertama kali menonton I am Legend itu sekitar tahun 2009 atau 2011. Kemudian, tahun 2018 kemarin saya mengulas tentang filem-filem bertema zombie pada pos 5 Filem Zombie Favorit. I am Legend termasuk di dalamnya, meskipun musuh Robert Neville (Will Smith) tidak disebut zombie melainkan Darkseeker. Bedanya? Darkseeker ini makhluk yang cerdas sedangkan otak zombie itu sudah gagal total.

Pada pos itu kalian bakal membaca review saya tentang kematian Robert Neville di akhir cerita. 

Terakhir, Robert memang menemukan anti virusnya, tapi dia harus mati di dalam tempat persembunyiannya demi menyelamatkan seorang perempuan dan anak kecil yang dia percaya akan membawa anti virus itu ke tempat perlindungan.

Baru-baru ini saya menonton ulang I am Legend karena memang suka sama ceritanya. Dan pada akhir cerita saya dibikin melongo. Dalam hati saya berkata: lagi-lagi double ending. Dan teringat perdebatan panjang antara saya dan Penny pada masa lampau. Alternatif lain akhir kisah I am Legend adalah Robert Neville selamat alias tidak meninggal dunia dalam ledakan. Karena, dia mempelajari ternyata Darkseeker ini punya perasaan pula (dan tentu otaknya juga cerdas). Robert, si wanita, dan anak kecil itu pun selamat dan bersama-sama menuju tempat perlindungan.

Dari kedua ending tersebut, yang mana yang kalian suka?

Namun, sebenarnya responden tidak menyukai akhir yang bahagia, haha. Makanya dibikin akhir cerita Robert meninggal dunia.

Masih banyak filem-filem lain yang juga punya double ending. Dan mungkin kalian juga sudah menonton semua versi/alternatif ending-nya. Sebut saja filem The Butterfly Effect dan Titanic. Saya sih sudah menonton filem-filem lama tersebut, tapi belum menonton versi lain dari akhir filemnya jadi belum bisa menulisnya di sini. Kalau I am Legend sih jelas sudah saya tonton kedua versi ending-nya jadi bisa menulisnya.

Baca Juga: The Willis Clan

Well, selamat berakhir pekan, kawan. Silahkan cari ending alternatif dari filem favorit kalian!


Cheers.

Pengumpul Pin


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

*** 

Dalam dunia blogging, identitas blogger dan/atau komunitas blogger diwakilkan dalam bentuk berbagai barang antara lain kaos, backpack, drawing bag, buku catatan, alat tulis, mug, hingga pin. Setiap acara blogger mulai dari Pesta Blogger, Blogger Nusantara, Asean Blogger, dan kegiatan lainnya seperti FGD yang melibatkan blogger, setiap peserta pasti mendapat barang-barang identitas ini. Zaman dulu, waktu masih sangat aktif dalam berbagai kegiatan luring blogging, dan kegiatan-kegiatan serupa masih ramai digelar, saya pasti memperoleh barang-barang ini. 

Baca Juga: Memen

Di bawah ini adalah beberapa barang identitas yang tempat penyimpanannya masih terjangkau tangan, saat menulis ini bisa sempat memotretnya, barang lainnya kudu dicari di lemari-lemari haha.

Kaos Pesta Blogger 2008 yang dikirimkan oleh Om Bisot

Kopdar Blogger Nusantara 2011 dibawain sama Yudith Ngga'a. 

Kopdar Blogger Nusantara 2012 di Makassar.

Salah satu barang identitas ini adalah pin bros. Pin bros atau disingkat pin, merupakan barang identitas yang paling ringan dan paling hemat tempat. Jadi, banyak juga blogger yang membawanya sebagai wakil dari komunitas blogger-nya atau komunitas lainnya. Saking banyaknya pin yang saya peroleh, saya sampai memasangnya di bagian depan backpack atau di tali tas selempang. Selain dari komunitas dan perorangan, saya juga mendapat pin-pin cantik dari taman nasional salah satunya Taman Nasional Kelimutu.

Penampakan pin-pin itu dapat kalian lihat pada foto di awal pos, sisanya bisa dilihat di bawah ini:


Tapi itu baru sebagian saja. Sebagian lainnya entah ada di mana haha. 

Sampai sekarang saya masih suka mengumpulkan pin, lumayan dipakai di jilbab wkwkwkw, karena saya tipenya sederhana. Cukup jilbab segi empat yang dilipat menjadi segitiga, peniti (saya tidak terbiasa memakai pentul) dan pin sebagai penyambung. Pin-pin lainnya seperti pin Relawan Taman Bung Karno, pin Ratenggoji, dan lain sebagainya.


Jadi, pernah ... saya pernah melakukannya. Mengumpulkan pin dari banyak komunitas blogger, blogger, hingga institusi lainnya. Bangga memakainya (di tas/backpack). Kalau kalian ingin mengirimkan saya pin, boleh juga lah hahaha.

Baca Juga: Masak di Kantor

Bagaimana dengan kalian, kawan?


Cheers.

5 Steps To Marriage


Minggu, 24 Maret 2019, merupakan hari yang paling ditunggu oleh Keluarga Besar Pharmantara, Pua Ndawa, Bata, dan Pua Djombu. Hari itu merupakan hari perkawinan keponakan saya Angga dengan seorang perempuan cantik nan bersahaja bernama Titin. Keduanya tidak pacaran melainkan memilih melalui proses ta'aruf. Luar biasa ya ketika sepasang suami-isteri menikah, kemudian, setelah sebelumnya melalui proses ta'aruf. Tidak semua pasangan melakukan ta'aruf, memang, tergantung keinginan masing-masing.

Baca Juga: 5 Gaya Zawo Zambu

Seperti yang sudah sering saya tulis, bahwa di Kabupaten Ende hidup dua suku yaitu Suku Ende dan Suku Lio, tentu proses menuju pelaminan pun agak berbeda antara keduanya. Suku Ende, khususnya bagian pesisir pantai Kota Ende, terakulturasi dengan budaya Bugis atau Makassar dan Agama Islam. Kebanyakan Suku Lio terakulturasi dengan budaya Portugis (dari Flores Timur) dan Agama Katolik. Tahapan menuju perkawinan Suku Lio yang bergama Islam pun tidak sama persis dengan tahapan menuju perkawinan dari Suku Ende yang beragama Islam. Yang sama itu secara syariat Islam-nya. Secara adat/budaya masih ada perbedaannya.

Berdasarkan perkawinan kedua kakak saya, Kakak Nani Pharmantara dan Babe Didi Pharmantara, yang sama-sama menggunakan adat Suku Ende, pun baru-baru ini keponakan saya Angga yang menikahi Titin yang juga menggunakan adat perkawinan Suku Ende, saya bisa menyusun tentang 5 tahap menuju perkawinan. Cerita lain tentang perkawinan adat dari Suku Ende ini bisa kalian baca pada pos Pola Timbal Balik.

Baiklah, sesuai dengan judul, saat ini saya menulis tentang lima langkah yang wajib dilewati oleh calon pengantin sebelum Perkawinan. Untuk mempermudah penjelasan, si laki-laki saya tulis dengan nama Rojak, da si perempuan saya tulis dengan nama Rubiyah.

Cekidot!

1. Ta'aruf dan/atau Pacaran


Tidak semua pasangan memilih proses ta'aruf. Tidak semua pasangan memilih proses pacaran. Mana-mana suka, kembali pada kemauan masing-masing. Kalau melihat dari sisi syariat, ya jelas ta'aruf, agar terhindar dari perbuatan dosa. Namun, tidak selamanya pula orang yang pacaran itu melakukan perbuatan dosa karena mampu menahan diri dari godaan iblis. Insha Allah. Perkara-perkara ini tidak bisa dipukul sama rata. Itu pendapat saya pribadi.

2. Temba Zaza


Temba zaza atau timbang rasa merupakan kunjungan awal utusan orangtua Rojak ke rumah Rubiyah setelah mengetahui bahwa Rojak dan Rubiyah telah ber-ta'aruf dan/atau pacaran, serta berniat serius menuju pelaminan. Menurut pengamatan saya, temba zaza merupakan langkah pengukuhan. Sehingga secara adat kalau dilihat dari hubungan pacaran (bukan ta'aruf), baik orangtua Rojak dan Rubiyah, keluarga, tetangga, hingga teman-teman, tidak perlu mempertanyakan lagi: siapakah gerangan laki-laki yang sering bersama Rubiyah. Atau, siapakah gerangan perempuan yang sering diajak jalan-jalan sama Rojak.

Saat temba zaza, utusan orangtua Rojak akan membawa kue-kue dan buah-buahan yang diletakkan di atas dulang. Setelah itu, bisa jadi keesokan harinya keluarga Rubiyah memulangkan dulang-dulang tersebut, tapi bukan dulang kosong, melainkan ada isinya pula. Bisa pula dulang-dulang tersebut tidak perlu dikembalikan oleh keluarga Rubiyah. Tapi proses ini belum disebut bhaze duza (balik dulang). Tapi pola timbal balik tetap ada.

Usai temba zaza, maka keluarga Rojak dan Rubiyah melakukan pertemuan untuk berembug dan menentukan bersama beberapa perkara seperti diantaranya: hari dan tanggal nai ono (masuk minta atau lamaran) beserta buku pelulu, apa-apa saja yang perlu dibawa pada hari itu, termasuk tentang uang isi kumba isi ae nio. Uang isi kumba isi ae nio ini nantinya diserahkan kepada paman-paman dari Rubiyah, yang akan dibalikin dalam bentuk barang. Untuk itu, silahkan baca lagi pos Pola Timbal Balik, ya.

3. Nai Ono dan Buku Pelulu


Nai ono (masuk minta atau lamaran) dan buku pelulu. Untuk lebih memahaminya kalian bisa membaca pos berjudul Buku Pelulu. Melamar Rubiyah, keluarga besar Rojak telah diundang secara lisan sebelumnya (sodho sambu) oleh perwakilan keluarga inti Rojak. Yang diucapkan dalam sodho sambu itu, dalam Bahasa Indonesia, adalah sebagai berikut:

Kami mai sodho sambu mai Baba Ine ko Rojak, Hari Minggu jam empat kita wi nai ono fai ko Rojak ne'e acara buku pelulu. Mendhi ne'e kue se-bha(Kami datang menyampaikan pesan dari Bapak dan Mamanya Rojak. Hari Minggu jam empat kita bakal melamar perempuannya Rojak dan buku pelulu. Bawa sama kue sepiring ya).

Baca Juga: 5 Komoditas TSF

Lebih lengkapnya soal sodho sambu ini, bisa kalian baca pada pos Buku Pelulu.

Setelah semua keluarga berkumpul pada hari yang ditentukan, semua barang hantaran dinaikkan ke atas kendaraan, sedikit omongan dari pihak keluarga inti, maka berangkatlah keluarga Rojak menuju rumah Rubiyah. Di rumah Rubiyah pun tentu sudah menanti kaum keluarganya. Ramai? Pasti! Hehehe.

Apa saja yang diantarkan?
Mulai dari cincin, uang jajan dari calon mertua untuk Rubiyah, pakaian ini itu dan asesorisnya, sarung, hingga aneka kue yang sebelumnya sudah diantarkan oleh keluarga Rojak (dikumpulkan, sesuai omongan dari sodho sambu) sebelum pergi ke rumah Rubiyah.

Usai nai ono dan buku pelulu, selanjutnya adalah bhaze duza (balik dulang). Pihak Rubiyah bakal mengembalikan dulang-dulang yang diantar oleh pihak Rojak (bisa beberapa hari, biasanya satu minggu, setelah nai ono dan buku pelulu). Jumlah dulang yang dibalikin harus sama dengan yang diantarkan oleh pihak Rojak. Isinya sih boleh berbeda. Kalau sudah selesai tahap yang ini, maka selanjutnya adalah tahap mendhi belanja (belis) tadi. Tapi dalam adat Suku Ende dan Suku Lio, harus ada satu momen bernama minu ae petu (minum air panas).

Minu ae petu dilakukan oleh pihak yang hendak menyelenggarakan hajatan seperti pernikahan dan khitanan. Untuk keperluan pernikahan, minu ae petu hanya dilakukan oleh pihak calon pengantin laki-laki; mengundang kaum kerabat, tetangga, teman-teman, untuk duduk menikmati air panas dan tentu menyumbang sejumlah uang (yang dimasukkan ke dalam amplop) kepada tuan rumah. Menyumbang sejumlah uang ini bukan tujuan utama minu ae petu tapi kebersamaan merangkul kaum kerabat untuk suatu perayaanlah yang utama. Minu ae petu pun bukan berarti tamu yang datang hanya disuguhi air panas, melainkan teh, kopi, kudapan, hingga makan besar. Sekaya-kayanya orang Ende, pantang melewati minu ae petu, karena bakal dianggap melanggar adat dan kebiasaan masyarakat.

4. Mendhi Belanja / Antar Belis


Mendhi belanja, juga disebut dengan mengantar belis, dilakukan atas kesepakatan dari oleh kedua belah pihak. Pada zaman dahulu, mendhi belanja dipenuhi drama dimana kurir dari pihak Rojak harus bolak-balik antara rumah Rojak dan rumah Rubiyah karena uang belanja dan lain sebagainya yang masih dianggap kurang oleh pihak keluarga Rubiyah. Bolak-balik si kurir ini bisa memakan waktu berjam-jam.

Zaman sekarang, biasanya masing-masing orangtua sudah punya pembicaraan di balik layar, sehingga urusan kurir ini menjadi drama yang diatur. Mari kita simak:

DRAMA KURIR DALAM MENDHI BELANJA

Kurir: laki-laki utusan orangtua Rojak.
Contoh kesepakatan kedua belah pihak (Rojak dan Rubiyah):
- Uang belanja Rp 50.000.000
- Uang RT/RW Rp 750.000 
- Uang RT/RW dan Masjid Rp 1.000.000 
- Uang Isi Kumba Rp 6.000.000
- Uang Isi Ae Nio Rp 3.000.000
- Uang Air Susu Ibu, ditiadakan
- Seekor sapi
- Perlengkapan kamar pengantin komplit
- Perlengkapan untuk pengantin perempuan
- Dan lain sebagainya

Pada hari yang telah disepakati, keluarga Rubiyah telah menunggu kedatangan kurir terlebih dahulu ke rumah mereka. Lantas saat kurir datang, kurir bakal bilang bahwa yang disiapkan oleh keluarga Rojak adalah uang belanja sebesar Rp 30.000.000 dan uang-uang lain yang juga jumlahnya dikurangi dari kesepakatan di balik layar itu (namanya juga DRAMA!). Keluarga Rubiyah menolak. Kurir pura-pura pulang (satu blok dari rumah Rubiyah) lantas balik lagi dan menyampaikan uang belanja sebesar Rp 45.000.000 dan uang-uang lain yang jumlahnya dinaikkan sedikit. Keluarga Rubiyah menolak. Kurir pura-pura pulang, lagi, dan kembali ke rumah Rubiyah. Biasanya sampai tiga kali. Ketika mencapai Rp 50.000.000 beserta angka lain yang sudah disepakati di balik layar, maka keluarga Rubiyah setuju. Setelah itu barulah kurirnya pulang beneran dan proses mendhi belanja dilakukan.

Drama kurir ini paling saya sukai karena unik sekali. Bayangkan kalau zaman dahulu, drama dalam tanda kutip dimana si kurir beneran harus bolak-balik ke rumah Rojak ... fiuh. Asyik juga kalau menulis tentang drama ini di pos tersendiri hehe.

5. Tu Ata Nika / Jeju


Tu Ata Nika oleh keluarga Rojak juga disebut jeju. Jadi, setelah sodho sambu, keluarga Rojak bakal berkumpul di rumah di rumah Rojak satu jam sebelum ijab kabul di lokasi yang ditentukan (bisa di masjid, bisa di rumah Rubiyah). Lantas mereka beriringan ke lokasi ijab kabul. Biasanya satu pick up bakal diisi para pemain feko genda atau rebana juga boleh. Bunyi-bunyian khas menuju pelaminan begitu deh hehehe.


Demikianlah lima tahapan menuju pelaminan yang dilakukan baik oleh pihak Rojak. Di pihak Rubiyah sendiri bakal ada tradisi lain sebelum perkawinan keesokan hari seperti mandi kembang dan tandi kelambu. Tapi itu tidak saya hitungkan sebagai tahap menuju perkawinan melainkan sebagai adat khusus untuk pihak Rubiyah sebagai calon pengantin perempuan.

Baca Juga: 5 Jawara Mural

Bagaimana dengan tahapan-tahapan menuju perkawinan di daerah kalian, kawan? Feel free to write your mind on comment.


Cheers.

5 Steps To Marriage


Minggu, 24 Maret 2019, merupakan hari yang paling ditunggu oleh Keluarga Besar Pharmantara, Pua Ndawa, Bata, dan Pua Djombu. Hari itu merupakan hari perkawinan keponakan saya Angga dengan seorang perempuan cantik nan bersahaja bernama Titin. Keduanya tidak pacaran melainkan memilih melalui proses ta'aruf. Luar biasa ya ketika sepasang suami-isteri menikah, kemudian, setelah sebelumnya melalui proses ta'aruf. Tidak semua pasangan melakukan ta'aruf, memang, tergantung keinginan masing-masing.

Baca Juga: 5 Gaya Zawo Zambu

Seperti yang sudah sering saya tulis, bahwa di Kabupaten Ende hidup dua suku yaitu Suku Ende dan Suku Lio, tentu proses menuju pelaminan pun agak berbeda antara keduanya. Suku Ende, khususnya bagian pesisir pantai Kota Ende, terakulturasi dengan budaya Bugis atau Makassar dan Agama Islam. Kebanyakan Suku Lio terakulturasi dengan budaya Portugis (dari Flores Timur) dan Agama Katolik. Tahapan menuju perkawinan Suku Lio yang bergama Islam pun tidak sama persis dengan tahapan menuju perkawinan dari Suku Ende yang beragama Islam. Yang sama itu secara syariat Islam-nya. Secara adat/budaya masih ada perbedaannya.

Berdasarkan perkawinan kedua kakak saya, Kakak Nani Pharmantara dan Babe Didi Pharmantara, yang sama-sama menggunakan adat Suku Ende, pun baru-baru ini keponakan saya Angga yang menikahi Titin yang juga menggunakan adat perkawinan Suku Ende, saya bisa menyusun tentang 5 tahap menuju perkawinan. Cerita lain tentang perkawinan adat dari Suku Ende ini bisa kalian baca pada pos Pola Timbal Balik.

Baiklah, sesuai dengan judul, saat ini saya menulis tentang lima langkah yang wajib dilewati oleh calon pengantin sebelum Perkawinan. Untuk mempermudah penjelasan, si laki-laki saya tulis dengan nama Rojak, da si perempuan saya tulis dengan nama Rubiyah.

Cekidot!

1. Ta'aruf dan/atau Pacaran


Tidak semua pasangan memilih proses ta'aruf. Tidak semua pasangan memilih proses pacaran. Mana-mana suka, kembali pada kemauan masing-masing. Kalau melihat dari sisi syariat, ya jelas ta'aruf, agar terhindar dari perbuatan dosa. Namun, tidak selamanya pula orang yang pacaran itu melakukan perbuatan dosa karena mampu menahan diri dari godaan iblis. Insha Allah. Perkara-perkara ini tidak bisa dipukul sama rata. Itu pendapat saya pribadi.

2. Temba Zaza


Temba zaza atau timbang rasa merupakan kunjungan awal utusan orangtua Rojak ke rumah Rubiyah setelah mengetahui bahwa Rojak dan Rubiyah telah ber-ta'aruf dan/atau pacaran, serta berniat serius menuju pelaminan. Menurut pengamatan saya, temba zaza merupakan langkah pengukuhan. Sehingga secara adat kalau dilihat dari hubungan pacaran (bukan ta'aruf), baik orangtua Rojak dan Rubiyah, keluarga, tetangga, hingga teman-teman, tidak perlu mempertanyakan lagi: siapakah gerangan laki-laki yang sering bersama Rubiyah. Atau, siapakah gerangan perempuan yang sering diajak jalan-jalan sama Rojak.

Saat temba zaza, utusan orangtua Rojak akan membawa kue-kue dan buah-buahan yang diletakkan di atas dulang. Setelah itu, bisa jadi keesokan harinya keluarga Rubiyah memulangkan dulang-dulang tersebut, tapi bukan dulang kosong, melainkan ada isinya pula. Bisa pula dulang-dulang tersebut tidak perlu dikembalikan oleh keluarga Rubiyah. Tapi proses ini belum disebut bhaze duza (balik dulang). Tapi pola timbal balik tetap ada.

Usai temba zaza, maka keluarga Rojak dan Rubiyah melakukan pertemuan untuk berembug dan menentukan bersama beberapa perkara seperti diantaranya: hari dan tanggal nai ono (masuk minta atau lamaran) beserta buku pelulu, apa-apa saja yang perlu dibawa pada hari itu, termasuk tentang uang isi kumba isi ae nio. Uang isi kumba isi ae nio ini nantinya diserahkan kepada paman-paman dari Rubiyah, yang akan dibalikin dalam bentuk barang. Untuk itu, silahkan baca lagi pos Pola Timbal Balik, ya.

3. Nai Ono dan Buku Pelulu


Nai ono (masuk minta atau lamaran) dan buku pelulu. Untuk lebih memahaminya kalian bisa membaca pos berjudul Buku Pelulu. Melamar Rubiyah, keluarga besar Rojak telah diundang secara lisan sebelumnya (sodho sambu) oleh perwakilan keluarga inti Rojak. Yang diucapkan dalam sodho sambu itu, dalam Bahasa Indonesia, adalah sebagai berikut:

Kami mai sodho sambu mai Baba Ine ko Rojak, Hari Minggu jam empat kita wi nai ono fai ko Rojak ne'e acara buku pelulu. Mendhi ne'e kue se-bha(Kami datang menyampaikan pesan dari Bapak dan Mamanya Rojak. Hari Minggu jam empat kita bakal melamar perempuannya Rojak dan buku pelulu. Bawa sama kue sepiring ya).

Baca Juga: 5 Komoditas TSF

Lebih lengkapnya soal sodho sambu ini, bisa kalian baca pada pos Buku Pelulu.

Setelah semua keluarga berkumpul pada hari yang ditentukan, semua barang hantaran dinaikkan ke atas kendaraan, sedikit omongan dari pihak keluarga inti, maka berangkatlah keluarga Rojak menuju rumah Rubiyah. Di rumah Rubiyah pun tentu sudah menanti kaum keluarganya. Ramai? Pasti! Hehehe.

Apa saja yang diantarkan?
Mulai dari cincin, uang jajan dari calon mertua untuk Rubiyah, pakaian ini itu dan asesorisnya, sarung, hingga aneka kue yang sebelumnya sudah diantarkan oleh keluarga Rojak (dikumpulkan, sesuai omongan dari sodho sambu) sebelum pergi ke rumah Rubiyah.

Usai nai ono dan buku pelulu, selanjutnya adalah bhaze duza (balik dulang). Pihak Rubiyah bakal mengembalikan dulang-dulang yang diantar oleh pihak Rojak (bisa beberapa hari, biasanya satu minggu, setelah nai ono dan buku pelulu). Jumlah dulang yang dibalikin harus sama dengan yang diantarkan oleh pihak Rojak. Isinya sih boleh berbeda. Kalau sudah selesai tahap yang ini, maka selanjutnya adalah tahap mendhi belanja (belis) tadi. Tapi dalam adat Suku Ende dan Suku Lio, harus ada satu momen bernama minu ae petu (minum air panas).

Minu ae petu dilakukan oleh pihak yang hendak menyelenggarakan hajatan seperti pernikahan dan khitanan. Untuk keperluan pernikahan, minu ae petu hanya dilakukan oleh pihak calon pengantin laki-laki; mengundang kaum kerabat, tetangga, teman-teman, untuk duduk menikmati air panas dan tentu menyumbang sejumlah uang (yang dimasukkan ke dalam amplop) kepada tuan rumah. Menyumbang sejumlah uang ini bukan tujuan utama minu ae petu tapi kebersamaan merangkul kaum kerabat untuk suatu perayaanlah yang utama. Minu ae petu pun bukan berarti tamu yang datang hanya disuguhi air panas, melainkan teh, kopi, kudapan, hingga makan besar. Sekaya-kayanya orang Ende, pantang melewati minu ae petu, karena bakal dianggap melanggar adat dan kebiasaan masyarakat.

4. Mendhi Belanja / Antar Belis


Mendhi belanja, juga disebut dengan mengantar belis, dilakukan atas kesepakatan dari oleh kedua belah pihak. Pada zaman dahulu, mendhi belanja dipenuhi drama dimana kurir dari pihak Rojak harus bolak-balik antara rumah Rojak dan rumah Rubiyah karena uang belanja dan lain sebagainya yang masih dianggap kurang oleh pihak keluarga Rubiyah. Bolak-balik si kurir ini bisa memakan waktu berjam-jam.

Zaman sekarang, biasanya masing-masing orangtua sudah punya pembicaraan di balik layar, sehingga urusan kurir ini menjadi drama yang diatur. Mari kita simak:

DRAMA KURIR DALAM MENDHI BELANJA

Kurir: laki-laki utusan orangtua Rojak.
Contoh kesepakatan kedua belah pihak (Rojak dan Rubiyah):
- Uang belanja Rp 50.000.000
- Uang RT/RW Rp 750.000 
- Uang RT/RW dan Masjid Rp 1.000.000 
- Uang Isi Kumba Rp 6.000.000
- Uang Isi Ae Nio Rp 3.000.000
- Uang Air Susu Ibu, ditiadakan
- Seekor sapi
- Perlengkapan kamar pengantin komplit
- Perlengkapan untuk pengantin perempuan
- Dan lain sebagainya

Pada hari yang telah disepakati, keluarga Rubiyah telah menunggu kedatangan kurir terlebih dahulu ke rumah mereka. Lantas saat kurir datang, kurir bakal bilang bahwa yang disiapkan oleh keluarga Rojak adalah uang belanja sebesar Rp 30.000.000 dan uang-uang lain yang juga jumlahnya dikurangi dari kesepakatan di balik layar itu (namanya juga DRAMA!). Keluarga Rubiyah menolak. Kurir pura-pura pulang (satu blok dari rumah Rubiyah) lantas balik lagi dan menyampaikan uang belanja sebesar Rp 45.000.000 dan uang-uang lain yang jumlahnya dinaikkan sedikit. Keluarga Rubiyah menolak. Kurir pura-pura pulang, lagi, dan kembali ke rumah Rubiyah. Biasanya sampai tiga kali. Ketika mencapai Rp 50.000.000 beserta angka lain yang sudah disepakati di balik layar, maka keluarga Rubiyah setuju. Setelah itu barulah kurirnya pulang beneran dan proses mendhi belanja dilakukan.

Drama kurir ini paling saya sukai karena unik sekali. Bayangkan kalau zaman dahulu, drama dalam tanda kutip dimana si kurir beneran harus bolak-balik ke rumah Rojak ... fiuh. Asyik juga kalau menulis tentang drama ini di pos tersendiri hehe.

5. Tu Ata Nika / Jeju


Tu Ata Nika oleh keluarga Rojak juga disebut jeju. Jadi, setelah sodho sambu, keluarga Rojak bakal berkumpul di rumah di rumah Rojak satu jam sebelum ijab kabul di lokasi yang ditentukan (bisa di masjid, bisa di rumah Rubiyah). Lantas mereka beriringan ke lokasi ijab kabul. Biasanya satu pick up bakal diisi para pemain feko genda atau rebana juga boleh. Bunyi-bunyian khas menuju pelaminan begitu deh hehehe.


Demikianlah lima tahapan menuju pelaminan yang dilakukan baik oleh pihak Rojak. Di pihak Rubiyah sendiri bakal ada tradisi lain sebelum perkawinan keesokan hari seperti mandi kembang dan tandi kelambu. Tapi itu tidak saya hitungkan sebagai tahap menuju perkawinan melainkan sebagai adat khusus untuk pihak Rubiyah sebagai calon pengantin perempuan.

Baca Juga: 5 Jawara Mural

Bagaimana dengan tahapan-tahapan menuju perkawinan di daerah kalian, kawan? Feel free to write your mind on comment.


Cheers.

Coin Storage


Setiap hari saya, kalian, mereka, berurusan dengan uang; baik uang kertas maupun uang koin. Meskipun banyak yang lebih suka memakai kartu kredit dan/atau kartu debet, serta bertransaksi daring, namun tidak bisa dipungkiri umumnya kita selalu membawa uang kertas karena uang kertas itu ringan dan compact tersimpan di dalam dompet. Selain itu, rata-rata di Indonesia kita masih menggunakan transaksi manual alias belum semua masyarakat Indonesia, terutama para pedagang di pasar tradisional menggunakan jenis pembayaran daring. Uang kertas memang beda dengan uang koin. Ya iyalaaaah. Satu keping uang koin bukan masalah. Seratus keping uang koin ... bikin dinosaurus mendadak bisa berkotek.

Baca Juga: Travel Booth

Saya termasuk orang yang suka melihat dan menyimpan uang koin karena terinspirasi dari Paman Gober. Iya, saya punya banyak uang koin tersimpan di laci mini. Uang koin biasa didapat dari uang kembalian belanjaan. Untuk uang koin yang baru diterima, biasanya tercecer begitu saja di meja, lalu saya satukan di satu tempat, untuk kemudian disimpan di laci mini. Uang koin ini ada gunanya loh, terkhusus di akhir bulan buat beli kecap hahahaha.


Suatu hari, setelah menonton video #DIY di Youtube, saya mencoba membikin satu tempat penyimpanan (barang mini) yang gambarnya bisa kalian lihat pada awal pos.

Coin Storage


Tidak disangka barang yang saya bikin itu kemudian menjadi coin storage meskipun masih ditemani sama earphone. Sampai kemudian menjadi coin storage pun tidak sengaja. Ya karena itu tadi, uang kembalian belanja-belenji yang tercecer lantas tanpa sengaja dimasukin ke dalamnya, dan jadilah coin storage bikinan sendiri. Setelah dilihat-lihat, kok bagus ya punya coin storage seperti itu.

Bahan, Alat, dan Cara Membikin


Sayang ya, itu sudah lama saya bikin, dan waktu itu tidak terpikirkan untuk menjadikannya satu pos #RabuDIY, lha karena waktu itu kan saya sibuk ini itu, sehingga mengabaikan blog ini adalah konsekuensinya (bilang saja malas update blog, haha!). Jadi, maafkan jika tidak ada foto bahan dan proses membikinnya. Tapi saya yakin, dengan melihat foto di awal pos dan cara membikinnya, kalian pasti bisa.

Bahan dan Alat:
1. Dua botol plastik bekas air mineral.
2. Zipper.
3. Cutter.
4. Gunting.
5. Hot glue (and gun) / lem tembak.

Cara Membikin:
Pertama: potong kedua botol plastik bekas air mineral (bisa juga botol plastik bekas minuman bersoda, terutama yang bagian bawahnya bergelombang/berbunga) dengan tujuan menggunakan bagian bawah/pantat botolnya. Ukurannya bisa sama tinggi, bisa pula yang satu lebih tinggi dari yang lain (bawahan dan atasan). Waktu itu saya memotongnya sama tinggi. Oh ya, untuk ukuran botolnya sih bebas, tergantung kalian mau yang besar atau yang kecil.

Kedua: sesuaikan terlebih dahulu ukuran zipper, melingkari botol. Kalau kepanjangan yang tinggal dipotong. Kalau kependekan? Beli baru! Hehe.

Baca Juga: Bunga Dinding

Ketiga: rekatkan zipper menggunakan lem tembak. Selain menggunakan lem tembak, kalian juga bisa pakai alternatif lain yaitu menjahitnya. 

Keempat: JADI DEH.

Sangat mudah bukan? Tapi, apabila kalian ingin mempermanis coin storage tersebut, bisa kok dicat, atau ditempeli kain perca, bisa pula ditempeli pita atau mata boneka, mana-mana suka. Kalau saya sih, karena untuk dipakai sendiri ya polos-polos saja alias tembus pandang khas botol plastik air mineral. Kalau Mak Bowgel, Evvafebri, pasti bisa menempelnya dengan karakter Bowgel. Aaah iri benar saya sama kecerdasan dan kreativitasnya menciptakan tokoh imut begitu. Ciri khas!


Membikin barang DIY yang satu ini termasuk yang paling mudah dan paling cepat. Tidak perlu  membikin pipa kertas, tidak perlu menganyam, tidak perlu kesabaran, tidak juga harus ulet! Cukup ikuti langkah-langkah di atas, sudah pasti kalian bisa membikinnya juga. Yakin deh, pasti bisa. Lha saya yang tidak telaten saja bisa, kalian pasti bisa juga doooonk.

Khusus untuk satu (maaf cuma satu) blogger perempuan, siapa yang bisa membikinnya dengan cepat dan mengirimkan foto langkah-langkah membikinnya ke nomor WA saya, bakal saya kasih dompet koin yang satu ini (tapi warna/tenun ikatnya beda ya):


Silahkan bikin, DEADLINE pengiriman foto coin storage bikinan sendiri yang dikirim ke nomor WA saya adalah Kamis 4 April 2019. Kok mepet sekali waktunya? Ya karena kan bikinnya mudah haha *aduh, sandal siapa ini nyasar di kepala saya!?*. Saya menghitung dari siapa yang mengirimkan foto terlebih dahulu hari Kamis itu ya, karena kan cuma SATU dompet koin yang saya siapkan.  Jadi, saya pra minta maaf apabila nanti balasannya adalah: sudah dimenangkan oleh si Kakak Itu. Nomor WA saya: 085239014948.

Baca Juga: Baskets

Selamat ber-DIY-ria.
Selamat berkreasi!



Cheers.