5 Swafoto Terfavorit


Dari pos tentang Lomba Selfie Pemilu 2019, kalian tentu sudah tahu bahwa pada hari pencoblosan Rabu 17 April 2019 kemarin telah diselenggarakan Lomba Selfie Pemilu 2019 oleh KPU Kabupaten Ende. Foto yang dilombakan adalah foto hasil swafoto baik selfie maupun wefie yang dikirim ke halaman Facebook PPID KPU Kabupaen Ende. Total hadiah sejumlah Rp 12.000.000 untuk sepuluh pemenang itu lumayan kan. Peserta lomba bahkan tidak perlu mengeluarkan biaya sepeserpun. Hanya bermodal swafoto di TPS dan memenuhi syarat lainnya, kreatif dan unik, dikirim ke halaman Facebook PPID KPU Kabupaten Ende, dapat hadiah.

Baca Juga: 5 Patterns

Bersama Om Eddy Du'e dan Willy Zino, dua fotografer profesional, saya turut menjadi juri lomba ini. Proses penjurian berlangsung sejak Rabu hingga Minggu (lima hari), termasuk pada hari Minggu itu juri dan EO bertemu Bapak/Ibu Komisioner KPU Kabupaten Ende. Banyak perkara yang dibahas, mulai dari para juara lomba yang sudah ditentukan oleh juri serta alasan dibalik kemenangan mereka, hingga perkara lain yang bersifat rahasia alias tidak boleh saya tulis di blog haha. 

Dari tiga puluh foto yang dipilih, melalui diskusi yang alot kemudian tersaring sepuluh foto juara, dengan rincian Juara I sampai Juara Haparan III, dua Juara Foto Tergenic, dan dua Juara Foto Terunik. 

Tapi, seperti biasa, saya punya lima foto terfavorit dari sepuluh foto para juara. Kenapa itu menjadi foto favorit saya ... mari kita simak.

1. Anastasia Lawera dan Kawan-Kawan


Puluhan kali saya harus bolak-balik me-reload lini massa PPID KPU Kabupaten Ende demi melihat foto unggahan baru. Yang jelas, semua foto yang terpilih harus diunggah pada hari Pemilu tersebut, dikirim bukan di-tag, swafoto, ada nuansa TPS, dan unik. Sampai batas waktu yang ditentukan saya sudah menyetor foto-foto pilihan saya pada anggota juri lainnya. Oh, tentu, pada akhirnya saya memilih foto ini sebagai foto terfavorit versi saya.


Ide orisinil. Paling unik dari yang terunik. Sungguh luar biasa. Niat banget kan? Pakai roll-rambut (sudah lama banget tidak melihat perempuan pakai roll-rambut), panci, baskom, wajan, dan lain sebagainya. Kalau boleh saya berpendapat temanya adalah: Genk Hebring dan Hak Pilihnya. Haha. Pada akhirnya mereka pun meraih Juara I dari Lomba Selfie Pemilu 2019 ini.

2. Izha Umar Ra'i Se'a


Pertama melihat foto ini, dibanding foto-foto lainnya, satu elemen yang paling menonjol adalah selempangnya. Elemen kedua yang menonjol dan saya suka adalah kaos yang dipakai si jilbab hitam yang bertulis Kelimutu National Park. Kalian tahu kan, Kelimutu National Park merupakan salah satu identitas Kabupaten Ende.


Melihat selempangnya ini, saya pikir ini termasuk peserta yang juga niat banget mengikuti Lomba Selfie Pemilu 2019. No golput! Sesuai pesan KPU untuk para millenials. Memilih dan menjadi bijak bukan hanya milik orangtua, kaum muda pun demikian. Uh she up kata Thika mah hahaha.

3. Anggreany Renata Huki


Aaah. So clean. So fresh. So white. So happy. Begitu melihat foto ini, perasaan jadi adem gitu, manapula gigi gingsulnya bikin iri, haha. Ini foto punya komposisi yang serba pas untuk sebuah swafoto, menurut saya. Pemilik foto pun sangat good looking.


Wajah cerianya seakan mengajak orang lain untuk turut ceria, bersama-sama, merayakan Pemilu, yang merupakan pesta rakyat Indonesia. Sehari-hari saya memanggilnya Ar. Eits, tapi bukan karena kami saling kenal dan dia lantas menjadi juara. Oh no no no. Obyektifitas adalah poin pertama saat menjadi juri. Kelayakan dia menjadi juara pun diakui oleh anggota juri lainnya.

4. Anjelina Seda


Ini termasuk foto favorit saya karena apa saudara-saudara? Siblings in dominant blue! Kalau dipikir, ini foto unik dan langka. Karena, kapan lagi ada swafoto pas Pemilu dengan anggota keluarga baik kandung dan sepupu ngumpul heboh begini? Makanya, menurut saya ini foto ciamik, termasuk dalam terfavorit versi saya.


Warna-warna di dalam foto ini saling merangkul. Dimulai dari kursi-kursi di TPS. lantas saudara/i yang baju biru mengapit yang berbaju merah dan kuning. Kan asyik ini. Sudah pasti niaaaatttt.

5. Ve Joseph Tena


Yess! She's so metal! Hehe. Sejak mula, gayanya yang metal begini sudah menjadi perhatian para juri. Unik kan ya. Karena dari semua peserta lomba ini, yang foto dengan gaya jari metal ya si Ve.


Terima kasih, Ve, sudah memberi warna lain pada Lomba Selfie Pemilu 2019. Saya percaya dia punya segudang ide apabila lomba-lomba semacam ini digelar ... di tahun-tahun mendatang. Sumpah, saya sangat percaya.


Bagaimana dengan kalian, kawan? Apakah kemarin ada lomba semacam ini di daerah kalian? Kalau ada, pasti seru ya, dan jurinya juga pusing memilih karena diikuti oleh lebih banyak orang, terutama untuk kabupaten yang jauh lebih besar/luas dari Kabupaten Ende. Kalau ada lagi lomba semacam ini, saya memilih untuk jadi peserta ah. Soalnya Juara I saja mendapat hadiah Rp 2.500.000 loh. Hahaha. Penyerahan hadiah dilakukan Kamis, 25 April 2018 di kantor KPU Kabupaten Ende.

Baca Juga: 5 Gaya Zawo Zambu

Nah, lepas Lomba Selfie Pemilu 2019, pada akhirnya rencana sejak 3 April 2019 harus kami laksanakan. Saya, Udo Petruz, dan Andi Ginta. Lomba Stand Up Comedy ENDEnesia. Seharusnya lomba ini digelar tanggal 27 April 2019 tapi diundur hingga 5 Mei 2019. Soal ini bakal saya bahas di lain kesempatan. Tentu, selain sebagai penyelenggara, saya juga sebagai jurinya. Uuuuh she upppp.

#LifeIsGood
#ItMustBe



Cheers.

Tempat Surat


Ketika hendak menulis judul First #DIY, saya ingat my first #DIY yang dibikin di atas tahun 2000-an bukanlah ini, jadi batal. Judulnya berganti menjadi Tempat Surat. #RabuDIY kali ini, hari dimana kita berkreasi sepuas-puasnya, saya mau menulis tentang tempat surat yang dibikin sendiri berbahan majalah lama. Kalau di rumah kalian menumpuk majalah dan koran lama, jangan dibuang, siapa tahu selepas membaca pos ini, kalian mau mencobanya, dan bahkan menghasilkan satu barang yang tentunya bermanfaat.

Baca Juga: Monotuteh

Meskipun zaman sekarang interaksi antar umat manusia lebih banyak tercipta di dunia daring, salah satunya surat berganti e-mail, tapi tempat surat masih terpajang di meja-meja kerja. E-mail memang praktis dan cepat, tapi surat jauh lebih tertancap di hati. Eaaaa. Hehe. Selama stempel perusahaan masih ada di meja kerja, selama itu pula surat (konvensional) akan hidup menemani kehidupan umat manusia. SK Kepegawaian saya, seperti kenaikan pangkat dan berkala, disampaikan ke saya dalam bentuk surat, bukan e-mail.

Oke, jadi apa saja bahan, alat, dan bagaimana cara membikinnya?

Bahan dan Alat


1. Majalah lama.
2. Lem tembak (hot glue).
3. Lem PVA.
4. Cutter.
5. Gunting.

Cara Membikin


Pertama:
Bikinlah pipa kertas. Caranya, bagi dua halaman majalah lama, lantas digulung membentuk pipa kertas. Berapa banyak yang harus dibikin? Bikin sebanyak-banyaknya! Apa lagi kalau pas ada waktu luang, bikin banyak, simpan di kaleng dalam posisi berdiri, kapan pun dibutuhkan tinggal ambil.


Kedua:
Pipa kertas tadi digulung membentuk lingkaran. Besarnya lingkaran tergantung mal yang dipakai. Misalnya pinsil, tube, atau tutup botol plastik.


Ketiga:
Membentuk tempat surat. Besarnya tempat surat tergantung pada selera masing-masing. Berapa banyak lingkaran kertas yang mau dipakai? Kalau saya sih bikin yang kecil-kecil saja. Hasilnya seperti yang di bawah ini:


Lumayan buat menyimpan satu dua surat yang belum dibaca atau surat yang masih dibutuhkan, sebelum disimpan di map berkas.

Baca Juga: Enchyz's Desk Organizer

Awal membikin tempat surat seperti ini, lamanya minta ampun! Karena tangan belum terbiasa memelintir kertas majalah menjadi pipa kertas kan. Manapula masih mencari mol untuk memelintir ini: lidi atau alat tulis berbodi kecil. Tapi lama-kelamaan jari saya menjadi terbiasa dan dalam semalam bisa menghasilkan puluhan pipa kertas. Tidak sadar sih, sambil mengobrol sambil membikinnya. Untuk membentuk pipa kertas menjadi lingkaran pun tidak sulit. Cukup pakai lem PVA saja demi merekatkannya. Sedangkan membentuknya menjadi tempat surat, harus pakai lem tembak (hot glue) supaya rekatnya erat dan lebih cepat.

Bagaimana? Mudah bukan? Yuk bikin!



Cheers.

Smartphone vs DSLR


Pada pos #SelasaTekno yang lalu yaitu LED for Camera, Kakak Vika dari Ratutips berkomentar bahwa dirinya pun lebih suka bikin video pakai smartphone atau handphone atau telepon genggam ketimbang pakai kamera. Kamera di sini maksudnya bisa kamera khusus video bisa pula DSLR. Alasannya pun sama: ribet kalau harus membawa kamera dengan tas khususnya itu. Kadang-kadang, apabila diperlukan, saya terpaksa mengeluarkan DSLR dari tasnya dan menyimpan di backpack meskipun dudukannya di dalam backpack tidak compact.

Baca Juga: Cetak Saring

Jadi hari ini saya menulis tentang perbandingan penggunaan hingga hasil antara smartphone dengan DSLR. Menulis DSLR karena memang saya memakai kamera single lens reflex yang digital. Dengar-dengar zaman sekarang banyak fotografer yang kembali pada SLR dengan mencetak hasil jepretannya sendiri di kamar gelap (manual). Kalau saya pribadi sih, karena memang bukan fotografer, dan gairahnya tidak seratus persen di dunia fotografi, yang praktis saja lah yang dipakai. Hehe *toss sama dinosarus*.

Praktis


Ya jelas, bagi saya si awam yang bukan fotografer, telepon genggam selalu lebih praktis ketimbang menenteng DSLR. Kenapa lebih memilih telepon genggam? Karena saya hanya perlu satu Xiaomi Redmi 5 Plus untuk memotret, merekam kegiatan melalui catatan suara, menulis flashnews-nya, hingga memberitakannya di ragam media sosial. Dan semua dapat saya lakukan di lokasi kegiatan tanpa harus kembali ke ruang kerja. Praktis, saya masih bisa meliput kegiatan lainnya, apabila dalam sehari ada lebih dari satu kegiatan kampus yang harus diliput.

Menggunakan DSLR jelas menguntungkan dari sisi kualitas foto yang dihasilkan. Tapi pekerjaan menjadi sangat tidak praktis dan cenderung lama karena menunda. Setelah memotret kegiatan (karena DSLR saya tidak punya Wi-Fi) saya harus kembali ke ruangan untuk memindahkan foto-foto dari kamera ke komputer, menulis flashnews, dan mempublikasikannya. Permasalahannya, kalau dalam sehari ada lebih dari satu kegiatan dan waktu kegiatan itu kadang-kadang melebihi batas waktu kerja, saya terpaksa menunda pekerjaan. Rajinnya sih saya menuntaskan pekerjaan di rumah.

Kecepatan Pemberitaan


Sebagai wartawan kampus yang tugasnya mempublikasikan hampir semua kegiatan kampus, baik kegiatan Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif), kegiatan Rektorat Uniflor, hingga kegiatan mahasiswa, saya membutuhkan akses super cepat ke berbagai media sosial. Oleh karena itu, demi kecepatan pemberitaan saya harus menggunakan telepon genggam. Kembali pada poin Praktis di atas. Kecepatan pemberitaan ini pun tidak saja berlaku di media sosial, tetapi juga di situs Uniflor, dan WAG-WAG kampus.

Kualitas


Kalau dilihat dari besarnya ukuran foto antara telepon genggam dan DSLR, menurut saya tidak berbeda jauh. Kalian bisa lihat perbedaannya pada dua foto berikut ini:

 Menggunakan Canon EOS 600D. Ukuran 10,9MB.

Menggunakan Xiaomi Redmi 5 Plus. Ukuran 5,64MB.

Waktu mengunggah keduanya foto asli tidak di-resize, tapi demi pos blog ini sama-sama berukuran large setelah diunggah. Perbedaan akan timbul jika di-zoom. Tingkat zoom yang sama, hasil foto menggunakan Canon EOS 600D masih jauh lebih baik ketimbang hasil foto menggunakan Xiomi Redmi 5 Plus yang mulai blur. Oleh karena itu, demi keperluan kalender kampus, misalnya, saya harus mau menenteng DSLR (meskipun tidak setiap hari) pada acara-acara dan/atau perayaan besar kampus.

Kesimpulan


Mau pakai telepon genggam atau DSLR, kembali pada diri kita masing-masing, nyamannya mau pakai yang mana dan untuk kebutuhan apa. Saya pribadi, orang awam di dunia fotografi, tentu lebih nyaman memakai telepon genggam untuk berbagai keperluan seperti pekerjaan kantor yang membutuhkan kecepatan pemberitaan pun untuk pos blog. Seperti kata Om Bisot dalam WAG Kelas Blogging NTT dan Kelas Blogging Online, foto untuk keperluan pos blog tidak perlu harus foto resolusi tinggi, foto harus di-resize serta diberi nama.

Baca Juga: Teknik Airbrush

Lagi pula, untuk momen yang terjadi super cepat, kejadian apapun yang kita temui dalam perjalanan misalnya, kita bisa langsung memotretnya menggunakan telepon genggam.


Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.

Politik Itu Abu-Abu


Pemilu serentak telah selesai dilaksanakan pada Rabu 17 April 2019. Pencoblosan tercepat adalah pencoblosan surat suara pertama, untuk calon Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, termasuk penghitungan suaranya. Karena kita tidak dipusingkan dengan begitu banyak pilihan. Hanya ada nol satu dan nol dua. Hanya ada kiri dan kanan. Beda dengan empat surat suara lainnya; begitu banyak foto, begitu banyak nama, begitu banyak pertimbangan. Dan, meskipun banyak lembaga telah merilis hasil quick count, tapi tetap kita harus menunggu, serta menghormati keputusan dan pengumuman resmi dari KPU. 

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Politik itu fifty shades of grey abu-abu. Semua orang pun tahu. Fulan pun harusnya demikian. Oleh karena itu, apabila Fulan bukanlah orang yang terjun berkuyup-kuyupan dalam politik, jagalah baik-baik jari (media sosial yang punya rekam jejak digital) dan lisan (perkataan). Karena, kadang Fulan tidak sadar, saat sedang hanyut ke hilir seturut arus politik dengan begitu bergairahnya, orang-orang yang awalnya bersama Fulan turut ke hilir, satuper satu kembali ke hulu. Bahkan, ada yang berbalik menertawai Fulan yang kebingungan di hilir. Kan asyeeeem itu. Qiqiqiq ;)

Tidak ada lawan dan kawan abadi dalam politik. Saya sering membaca tulisan ini. Siapa yang mencetusnya? Kancah perpolitikan itu sendiri. Prabowo mendukung Jokowi-BTP menuju DKI 1 dan DKI 2, kemudian pecah kongsi ketika Jokowi-Kalla maju sebagai paslon Presiden dan Wapres pada tahun 2014, karena saat itu pun Prabowo-Hatta pun maju sebagai paslon Presiden dan Wapres. Ngabalin berada di kubu siapa tahun 2014? Kemudian, Ngabalin bekerja di Kantor Kepala Staf Kepresidenan. Masih banyak contoh lain yang membuktikan bahwa tidak ada lawan dan kawan abadi dalam politik.

Sebagai warga negara, warga negara yang tidak kuyup terjun dalam dunia politik, tentu kita boleh-boleh saja menulis opini tentang para politikus bangsa ini. Si Ini kalau ngetwit tidak berpikir terlebih dahulu dan seringnya memprovokasi, Si Itu suka bikin statement yang merugikan kredibilitas politikus lain, Si Anu gemar pindah-pindah partai, dan lain sebagainya. Tapi haruslah disampaikan dengan bahasa yang sopan. Karena, apabila tidak sopan, apa bedanya kita dengan Si Itu yang ngetwit tidak berpikir terlebih dahulu dan seringnya memprovokasi? Yang harus diingat adalah, setelah musim terpanas politik ini berakhir, kita tetap bekerja di perusahaan yang sama dengan gaji yang sama (bisa jadi naik), dan Insha Allah punya teman yang sama (bahkan bertambah).

Politik itu abu-abu, tapi janganlah yang abu-abu ini memecahkan persaudaraan dan persahabatan. Politik itu abu-abu, tapi pilihan tidak. Maksudnya, karena bingung dengan abu-abu ini, jadi malah golput. Jangan donk he he he. Saya yakin kalian semua juga tidak mau berada di area abu-abu sehingga memutuskan untuk tidak memilih. Ya kan? Politik itu jangan keliwat pakai urat, nanti stroke.

Baca Juga: Fair Play Flag

Mari kembalikan media sosial dengan warna-warna cerah kehidupan ...



Cheers.

Dikunjungi Legolas


#PDL adalah Pernah Dilakukan. Pos #PDL setiap Jum'at ini merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

Saya sudah pernah cerita bahwa rumah saya, si Pohon Tua, merupakan tempat yang cukup ramai di Planet Bumi dikarenakan para krucil tetangga. Ramainya bisa jadi karena mereka datang belajar bersama Mamatua. Ramainya bisa jadi karena dulu pun di rumah saya ada tempat penyewaan Play Station alias PS. Kasus kehilangan flashdisk game PS bukan barang baru tapi toh biarkan saja, namanya juga anak-anak. Kadang keinginan yang super untuk memiliki membikin mereka terpaksa mencabut flashdisk, dan dibayang-bayangi sedikit rasa berdosa.

Baca Juga: Nokia 5300

Berkaitan dengan pos ini, saya pikir aksi cepat memotret yang menjadi kebiasaan saya selama ini ternyata ada manfaatnya juga pos serupa #PDL. Karena, pada suatu hari saat sedang duduk nganga di rumah menyaksikan tingkah krucil yang sedang bermain PS, tahu-tahu datang anak ini, berdiri menghalangi pandangan saya. Busyet!

SAYA DIKUNJUNGI LEGOLAS!


Siap mencabut anak panah dan memanah mobil-mobil di dalam game PS. Haha. Sumpah, ini salah satu foto terbaik krucil yang pernah main di rumah saya. Tinggal cek kupingnya mirip kuping para elf atau tidak *ngikik*. 

Pernah, saya pernah begitu, langsung potret ketika melihat hal-hal seunik ini. Bagaimana dengan kalian?



Cheers.

5 Momen Paskah


Hari Raya Paskah jatuh pada hari Minggu, 21 April 2019. Berbeda dari Hari Raya Natal, suasana menjelang Paskah atau Pra Paskah sudah dimulai empat puluh hari sebelumnya, yang pada setiap Jum'at dikenakan puasa dan ritus Jalan Salib. Pra Paskah merupakan persiapan sebelum Minggu Suci atau Pekan Suci. Minggu Suci dimulai dari hari Minggu, 14 April 2019, yang dinamai Minggu Palma. Ada yang menyebutnya Minggu Daun-Daun. Minggu Suci ini berlanjut pada (Rabu Trewa - di Kota Larantuka), Kamis Putih, Jum'at Agung, Sabtu Santo, dan Minggu Paskah. Tanpa membaca dari sumber manapun saya tahu persis tentang hal ini karena saya tinggal di lingkungan dimana keluarga kami adalah satu-satunya Muslim. Bahkan jarak Gereja Kathedral Ende hanya tiga menit berjalan kaki dari rumah saya.

Baca Juga: 5 Patterns

Paskah merupakan hari tentang bangkitnya Yesus Kristus setelah disalib pada Jum'at Agung. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Paskah dirayakan secara akbar di semua daerah, terutama di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur dengan Semana Santa. Para peziarah datang dari penjuru dunia. Ada yang seorangan, ada yang berkelompok. Saya pernah menyaksikan Semana Santa di Kota Larantuka, pada tahun 2011, bersama seorang sahabat petualang bernama Acie. Kisah perjalanan itu bisa dibaca di pos Long Journey.

Entah dengan daerah lainnya, tapi kalau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, semua sekolah dan institusi libur sejak Kamis sebelum Jum'at Agung. Kemarin, liburnya sudah dimulai dari hari Rabu bertepatan dengan momen Pemilu. Libur, siapa yang tidak senang? Tapi, libur yang tidak sampai dua minggu itu membikin kami tidak mungkin pergi terlalu jauh sampai ke luar tata surya, kuatir masih belum tiba di rumah saat waktu liburan usai. Iya, liburnya hanya sampai tanggal 22 April 2019. Rekomendasi tempat menghabiskan waktu libur Paskah bisa dibaca di pos 5 Tempat Berlibur Paskah di Flores.

Hari ini saya mau berbagi cerita dengan kalian tentang 5 momen (menjelang dan saat) Paskah yang terjadi di Pulau Flores. Yuk baca ...

1. Latihan Paduan Suara


Sejak memasuki masa puasa menjelang Paskah, setiap Hari Jum'at dilaksanakan Jalan Salib, termasuk juga di kantor saya, diikuti oleh teman-teman yang merayakannya. Selain itu, hampir setiap malam saya mendengar tetangga kompleks yang tergabung dalam 'lingkungan' latihan paduan suara. Latihan paduan suara atau koor untuk Misa di Gereja.

Salah satu gereja yang ada di Kota Larantuka. Di dekat gereja ini, berseberangan jalan, berdiri Patung Mater Dolorosa (Bunda yang berduka).

Menariknya mendengar teman-teman dan/atau tetangga latihan koor adalah kita jadi tahu prosesnya. Dari mengenal sebuah lagu, proses, hingga betul-betul fasih menyanyikannya dalam harmonisasi paduan suara.

2. Going Back East


Kembali ke Timur, kembali ke Kota Larantuka, sebagai kota pusat perayaan akbar Paskah yaitu Semana Santa dilaksanakan. Momen perjalanan ke Kota Larantuka merupakan sesuatu yang menyenangkan. Jalan sendiri maupun bersama teman-teman, mana-mana suka. Tahun ini banyak teman saya yang berangkat ke Kota Larantuka.

Patung Mater Dolorosa di Taman Doa Mater Dolorosa.

Saya sih pengen ke sana lagi untuk menyaksikan kemeriahan dan khidmatnya Jum'at Agung di Kota Reinha itu, tapi sayang ... Februari kemarin kan saya baru saja ke Kota Larantuka. Hiks. Kasihan Onif Harem kalau diajak jalan jauh terus-terusan.

3. Mencium Jubah Tuan Ma


Di Kota Larantuka, tepatnya di Kapela Tuan Ma, tersimpan patung besar Bunda Maria yang disebut Tuan Ma. Setiap tahun, umat setempat dan peziarah, akan pergi ke Kapela Tuan Ma untuk mencium jubahnya. Ritus ini dilakukan pada Jum'at Agung (pagi hingga siang hari) sebelum Prosesi Laut. Usai prosesi laut, Tuan Ma akan diarak menuju Gereja Kathedral.

Ritual mengarak Patung Tuan Ma menuju Gereja Kathedral untuk persiapan malam Jum'at Agung (Jalan Salib).

 Prosesi Laut.

4. Tablo

Tablo adalah treatikal Jalan Salib yang dilakukan pada Jum'at Agung. Tidak semua gereja melaksanakan tablo, tapi setiap tahun pasti ada tablo. Melaksanakan Jalan Salib dengan betul-betul melakukan apa yang dulu dialami Yesus. Ada pemuda terpilih yang akan memikul Salib dan disiksa layaknya yang dialami dulu oleh Yesus. Inilah perayaan Jum'at Agung.

5. Minggu Paskah


Dari pengamatan saya, Minggu Paskah merupakan perayaan kemuliaan atas bangkitnya Yesus. Di setiap kota di Kabupaten Ende, tidak ada yang terlalu istimewa dari Minggu Paskah, karena keistimewaanya terutama pada Jum'at Agung tadi. Tapi teteup lah di setiap rumah pasti ada acara makan-makan sekeluarga.


Menulis ini, bukan berarti saya yang paling tahu tentang momen-momen (menjelang dan saat) Paskah. Teman-teman yang beragama Katolik tentu lebih tahu. Saya menulisnya dari sudut pandang awam yang menyaksikan sendiri keadaan di sekitar tentang momen-momen Paskah ini.

Baca Juga: 5 Steps to Marriage

Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.

5 Momen Paskah


Hari Raya Paskah jatuh pada hari Minggu, 21 April 2019. Berbeda dari Hari Raya Natal, suasana menjelang Paskah atau Pra Paskah sudah dimulai empat puluh hari sebelumnya, yang pada setiap Jum'at dikenakan puasa dan ritus Jalan Salib. Pra Paskah merupakan persiapan sebelum Minggu Suci atau Pekan Suci. Minggu Suci dimulai dari hari Minggu, 14 April 2019, yang dinamai Minggu Palma. Ada yang menyebutnya Minggu Daun-Daun. Minggu Suci ini berlanjut pada (Rabu Trewa - di Kota Larantuka), Kamis Putih, Jum'at Agung, Sabtu Santo, dan Minggu Paskah. Tanpa membaca dari sumber manapun saya tahu persis tentang hal ini karena saya tinggal di lingkungan dimana keluarga kami adalah satu-satunya Muslim. Bahkan jarak Gereja Kathedral Ende hanya tiga menit berjalan kaki dari rumah saya.

Baca Juga: 5 Patterns

Paskah merupakan hari tentang bangkitnya Yesus Kristus setelah disalib pada Jum'at Agung. Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Paskah dirayakan secara akbar di semua daerah, terutama di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur dengan Semana Santa. Para peziarah datang dari penjuru dunia. Ada yang seorangan, ada yang berkelompok. Saya pernah menyaksikan Semana Santa di Kota Larantuka, pada tahun 2011, bersama seorang sahabat petualang bernama Acie. Kisah perjalanan itu bisa dibaca di pos Long Journey.

Entah dengan daerah lainnya, tapi kalau di Provinsi Nusa Tenggara Timur, semua sekolah dan institusi libur sejak Kamis sebelum Jum'at Agung. Kemarin, liburnya sudah dimulai dari hari Rabu bertepatan dengan momen Pemilu. Libur, siapa yang tidak senang? Tapi, libur yang tidak sampai dua minggu itu membikin kami tidak mungkin pergi terlalu jauh sampai ke luar tata surya, kuatir masih belum tiba di rumah saat waktu liburan usai. Iya, liburnya hanya sampai tanggal 22 April 2019. Rekomendasi tempat menghabiskan waktu libur Paskah bisa dibaca di pos 5 Tempat Berlibur Paskah di Flores.

Hari ini saya mau berbagi cerita dengan kalian tentang 5 momen (menjelang dan saat) Paskah yang terjadi di Pulau Flores. Yuk baca ...

1. Latihan Paduan Suara


Sejak memasuki masa puasa menjelang Paskah, setiap Hari Jum'at dilaksanakan Jalan Salib, termasuk juga di kantor saya, diikuti oleh teman-teman yang merayakannya. Selain itu, hampir setiap malam saya mendengar tetangga kompleks yang tergabung dalam 'lingkungan' latihan paduan suara. Latihan paduan suara atau koor untuk Misa di Gereja.

Salah satu gereja yang ada di Kota Larantuka. Di dekat gereja ini, berseberangan jalan, berdiri Patung Mater Dolorosa (Bunda yang berduka).

Menariknya mendengar teman-teman dan/atau tetangga latihan koor adalah kita jadi tahu prosesnya. Dari mengenal sebuah lagu, proses, hingga betul-betul fasih menyanyikannya dalam harmonisasi paduan suara.

2. Going Back East


Kembali ke Timur, kembali ke Kota Larantuka, sebagai kota pusat perayaan akbar Paskah yaitu Semana Santa dilaksanakan. Momen perjalanan ke Kota Larantuka merupakan sesuatu yang menyenangkan. Jalan sendiri maupun bersama teman-teman, mana-mana suka. Tahun ini banyak teman saya yang berangkat ke Kota Larantuka.

Patung Mater Dolorosa di Taman Doa Mater Dolorosa.

Saya sih pengen ke sana lagi untuk menyaksikan kemeriahan dan khidmatnya Jum'at Agung di Kota Reinha itu, tapi sayang ... Februari kemarin kan saya baru saja ke Kota Larantuka. Hiks. Kasihan Onif Harem kalau diajak jalan jauh terus-terusan.

3. Mencium Jubah Tuan Ma


Di Kota Larantuka, tepatnya di Kapela Tuan Ma, tersimpan patung besar Bunda Maria yang disebut Tuan Ma. Setiap tahun, umat setempat dan peziarah, akan pergi ke Kapela Tuan Ma untuk mencium jubahnya. Ritus ini dilakukan pada Jum'at Agung (pagi hingga siang hari) sebelum Prosesi Laut. Usai prosesi laut, Tuan Ma akan diarak menuju Gereja Kathedral.

Ritual mengarak Patung Tuan Ma menuju Gereja Kathedral untuk persiapan malam Jum'at Agung (Jalan Salib).

 Prosesi Laut.

4. Tablo

Tablo adalah treatikal Jalan Salib yang dilakukan pada Jum'at Agung. Tidak semua gereja melaksanakan tablo, tapi setiap tahun pasti ada tablo. Melaksanakan Jalan Salib dengan betul-betul melakukan apa yang dulu dialami Yesus. Ada pemuda terpilih yang akan memikul Salib dan disiksa layaknya yang dialami dulu oleh Yesus. Inilah perayaan Jum'at Agung.

5. Minggu Paskah


Dari pengamatan saya, Minggu Paskah merupakan perayaan kemuliaan atas bangkitnya Yesus. Di setiap kota di Kabupaten Ende, tidak ada yang terlalu istimewa dari Minggu Paskah, karena keistimewaanya terutama pada Jum'at Agung tadi. Tapi teteup lah di setiap rumah pasti ada acara makan-makan sekeluarga.


Menulis ini, bukan berarti saya yang paling tahu tentang momen-momen (menjelang dan saat) Paskah. Teman-teman yang beragama Katolik tentu lebih tahu. Saya menulisnya dari sudut pandang awam yang menyaksikan sendiri keadaan di sekitar tentang momen-momen Paskah ini.

Baca Juga: 5 Steps to Marriage

Bagaimana dengan kalian? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.

Lomba Selfie Pemilu


Karena hari ini momen Pemilu Presiden dan Legislatif, #RabuDIY ditiadakan. Haha. Ya, hari ini Rabu, 17 April 2019, Indonesia memilih. Siapa pun pilihan saya, kalian, mereka, semua tentu demi kebaikan negeri ini. Semoga yang terpilih kelak mampu membawa perubahan pada bangsa ini. Tentunya perubahan yang baik. Itu doa kita bersama. Dengan dilaksanakannya Pemilu, bukan berarti lini massa media sosial langsung sepi ... keriuhan antara kubu sana kubu sini masih akan terjadi sampai pelantikan. Percayalah. Hahaha. Banyak sabar yaaaaa.

Di Kabupaten Ende, KPUD menyelenggarakan lomba. Lomba Foto Selfie Pemilu 2019. Dengan persyaratan sebagai berikut:


Tidak disangka saya pun turut menjadi juri bersama dua fotografer lain yang sudah malang melintang di dunia fotografi dan terkenal sebagai fotografer andal: Om Edi Due dan Willy Zino. Sedangkan saya diminta menjadi juri mungkin karena ... errr ... suka foto saja haha. Malu sebenarnya saya menjadi juri begini, karena kemampuan fotografi saya di bawah standart, tapi karena sudah dipercayakan, ya harus bisa. Insha Allah.

Bagaimana dengan di daerah kalian? Ada lomba semacam ini kah? :)



Cheers.

LED for Camera


Meskipun setiap Selasa menulis pos blog bertema #SelasaTekno, bukan berarti saya paling tahu sama semua hal/barang baru di dunia teknologi, karena yang namanya teknologi sudah pasti akan terus berinovasi dan berkembang. Teknologi yang dibahas pun tidak selamanya harus yang canggih seperti Phone to Phone Charger. Toh saya juga menulis tentang hal-hal yang jaraknya cukup jauh dari teknologi kekinian. Pos tentang Teknologi Dasar, misalnya, sangat jauh dari kecanggihan teknologi zaman sekarang. 

Baca Juga: The Pause Pod

Baru-baru ini, saat sedang tidur-tiduran sambil menonton video di Youtube, saya melihat sebuah benda berbentuk lingkaran (bulat-ceper) berwarna biru muda. Itu pasti jepit rambut si Thika Pharmantara yang jalan-jalan keliling rumah lantas nyasar di kamar saya. Tapi yang namanya manusia, rasa penasaran itu pasti ada, dan ketika saya perhatikan baik-baik, detail si benda terlalu aneh untuk sebuah jepit rambut. Jadi, apakah sebenarnya benda itu? Jawabannya datang dari Meli, anak tetangga yang saban hari main di rumah, yang saat itu sedang daring menggunakan laptop saya.


"Encim tidak tahu kah ini apa? Aduuuuh ..." dengan mimik wajah dan nada suara menghina. Dasar ana lo o (anak kecil).

Lantas, masih dengan wajah menghina, dia memencet tombol dan ... TRADAAAA. Nyala! Saya terkejut.

LED Ring


Ternyata itu LED Ring. Oalah. Maklum, saya tidak seperti si Thika yang rajin cuci mata di toko daring. Ternyata rajin cuci mata di toko daring itu ada manfaatnya juga hahaha. Meli, yang sebelumnya sudah dicerahkan oleh Thika, lantas menjelaskan cara menggunakan LED Ring tersebut. Duh, betapa kampungannya saya. Sampai nganga begitu. Nganga karena gaya Meli menjelaskan itu mirip profesor hahaha.

LED Ring dipasang di telepon genggam demi keperluan memotret dan merekam video. Terutama memotret dan merekam video dalam kondisi minim cahaya. Saya pernah mencoba menggunakan LED Ring milik Thika ini waktu merekam video lucu-lucuan di bawah ini:


Hasilnya? Lumayan lah, kurang bersemut. Secara, penerangan di kamar saya kan tidak seterang-benderang di ruang tamu. Oh iya, pada akhirnya lampu di kamar saya wassalam dan saya menggantinya dengan yang baru. Lebih terang dari sebelumnya. Dan seandainya saya merekam video di kamar ditambah LED Ring ini, saya yakin hasilnya jauh lebih terang.

Baca Juga: Backpack Tuteh

Meskipun LED Ring yang dibeli Thika ini cuma semacam miniatur dari yang sesungguhnya, tapi saya pikir sudah cukup membantu buat acara foto-foto dan rekam video amatir (menggunakan telepon genggam). Entah kenapa akhir-akhir ini saya lebih suka merekam video menggunakan telepon genggam ketimbang kamera video maupun DSLR.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Sudah pernah coba juga?



Cheers.

Jaga Waka Nua


Event keren Triwarna Soccer Festival (TSF) 2019 telah berakhir 1 April kemarin. Meskipun demikian, gaungnya masih terdengar sampai hari ini. Masih banyak orang membicarakannya. Mulai dari kemenangan Ende Selatan FC (Kelurahan Ende Selatan), pagar tembok yang kini dipenuhi karya seni mural, keuntungan yang diraup khususnya oleh para pedagang asongan yang wara-wiri di dalam Stadion Marilonga, hingga UMKM dan komunitas yang diberi ruang stand/tenda pameran oleh panitia. Sungguh TSF dengan agenda utama laga sepak bola yang memperebutkan Piala Bupati ini terpatri di lubuk hati masyarakat Kabupaten Ende, dan menjadi semacam pengantar acara Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Ende (kemenangan petahana) pada tanggal 7 April 2019.

Selamat, Bapak Marsel Petu (Bupati) dan Bapak Djafar Ahmad (Wakil Bupati). Selamat melanjutkan pekerjaan yang telah Bapak berdua mulai dan terus melakukan perubahan positif pada Kabupaten Ende. Kami bangga.

Baca Juga: Fair Play Flag

TSF yang telah menggeliatkan berbagai lini khususnya perekonomian di Kabupaten Ende, bisa kalian baca pada pos TSF 'Story, punya satu jargon keren yaitu Jaga Waka Nua. Jargon ini melekat pada kaos panitia, pada baliho-baliho, pun pada banyak bendera supporter. Ya, kami harus jaga waka nua! Jadi, tidak heran jika mendadak mendengar ada yang nyeletuk: ideeee ma'e pemata, jaga waka nua hekow (duh, jangan berantem, jaga martabat kampung kita).

Jaga Waka Nua


Jaga waka nua merupakan jargon paling tepat pilihan panitia/penyelenggara. Saya salut sama yang menetapkan jargon ini, hahaha. Dan bagi saya, jaga waka nua ini punya banyak makna, kalau diresapi dalam-dalam. Secara etimologi, jaga waka nua yang terdiri dari tiga suku kata berarti menjaga martabat kampung.


Jaga = menjaga.
Waka = martabat/harga diri.
Nua = kampung.

Martabat/harga diri yang seperti apa yang harus dijaga? Itu yang akan saya jelaskan pada pos ini. Tentu dari sudut pandang saya pribadi. Dan sudut pandang dinosaurus juga. Apabila kalian Orang Ende, membaca pos ini, dan merasa tidak setuju dengan pos ini, silahkan tulis sendiri pendapat kalian tentang jaga waka nua, dan bagi tautan blog-nya pada saya. Tentu bakal saya baca. Berbagi pendapat tidak pernah merugi bukan?

Bilah Pemerintah


Dari pandangan mata saya pribadi, Kabupaten Ende merupakan kabupaten yang identik dengan turnamen sepak bola. Sebut saja, Universitas Flores (Uniflor) punya Ema Gadi Djou Memorial Cup (EGDMC), lantas ada pula Muthmainah Cup, dan turnamen lainnya antara lain Suratin Cup. Tahun 2017, Kabupaten Ende boleh berbangga dengan menjadi tuan rumah dari turnamen besar bernama El Tari Memorial Cup 2017 (ETMC) yang melibatkan semua kabupaten se-Provinsi Nusa Tenggara Timur. Standar Kabupaten Ende dalam ETMC 2017 sungguh luar biasa; penjemputan setiap kontingen dengan tari-tarian dan bahasa adat, launching atribut yaitu Burung Gerugiwa dan bola raksasa dengan perhentian yang melibatkan adat-istiadat, pertandingan di Stadion Marilonga yang berumput hijau - bahkan dapat dilakukan malam hari, hingga live streaming! Standar itu, dalam skala Provinsi Nusa Tenggara Timur, sangat tinggi.

Waka nua kami saat ETMC 2017 benar-benar terangkat dan terjaga dengan sangat spektakuler. Bukannya melebih-lebihkan, namun memang demikian adanya.

Baca Juga: Pola Timbal Balik

TSF 2019 harus mampu menandingi, atau harus melebihi, standar yang tercipta dari ETMC 2017 tersebut. Meskipun tanpa penjemputan kontingen setiap kecamatan dikarenakan ini adalah turnamen 'antar saudara kandung', namun kemeriahan dan pernak-pernik TSF 2019 mampu melebihi ETMC 2017. Kami harus menjaga waka nua ini. Jangan sampai malu-maluin bangsa dan negara haha. Oleh karena itu launching atribut TSF 2019 dilakukan sama persis pada saat ETMC 2017, yang dimulai dari Lapangan Perse (Kecamatan Ende Utara), diterusan dengan jalur yang telah diatur berikut perhentian setiap kecamatannya hingga berakhir di Stadion Marilonga. Sambutan dalam suasasa (bahasa adat) pun luar biasa.

Selain ajang sepak bola, TSF juga punya dua mata acara lain yaitu Lomba Mural dan Pameran dengan tema Bego Ga'i Night. Jujur, festival semacam ini memang hal yang baru bagi masyarakat Kabupaten Ende namun sekaligus merupakan sesuatu yang juga ditunggu-tunggu. Karena, kata orang, kami Orang Ende ini haus hiburan. Hahaha.

Jaga waka nua juga diwujudkan dalam bentuk kepanitiaan yang solid dan mampu bekerja dengan sangat baik sehingga tidak memalukan apa lagi sampai membanting harkat dan martabat. Maklum, saya melihat kebanyakan anggota panitia adalah orang-orang yang tahan banting dan pernah bekerja pada kepanitaan turnamen sepak bola juga. Jadi, urusan-urusan yang berhubungan dengan TSF 2019 ini bukan hal yang baru yang bikin kaget.

Bilah Pemain


Jaga waka nua tidak saja bermakna pada bilah pemerintah seperti yang tertulis di atas, tetapi juga bermakna untuk para pemain sepak bola dari setiap klub (kecamatan). Artinya ... my game is fair play! Iya, itu kesimpulan besarnya. Para pemain harus menjaga waka nua-nya melalui permainan-permainan yang ciamik alias tidak membikin malu. Kalah tidak mengapa, asal jangan sampai kalah total tanpa perlawanan yang imbang. 

Sekali dua memang terjadi ketegangan di tengah lapangan, hal-hal semacam itu acap tidak dapat dihindari, tetapi dapat diatasi oleh perangkat pertandingan. Kami yang berada di luar lapangan tidak punya kuasa kan hahaha. Pokoknya, para pesepakbola dari setiap klub pada TSF 2019 ini betul-betul jaga waka nua. Bayangkan jika pertandingan harus diperpanjang waktunya dan masih seri, sehingga harus dilakukan adu pinalti yang cukup panjang karena seri pula, sungguh terlalu. Hahaha. Saya yang akhirnya ikut menonton pun deg-degan.

Bilah Masyarakat


Dari bilah masyarakat, jaga waka nua berarti setiap orang harus mampu menjaga martabat/harga diri kampungnya. Kampung di sini berarti kecamatan asal maupun kecamatan domisili. Masyarakat yang dilingkupkan menjadi penonton dan supporter harus mampu bersikap kooperatif terhadap jalannya pertandingan dan hasilnya. Jangan sampai terjadi antara 'saudara kandung' saling kelahi haha. Jadi, sejauh saya menjadi panitia TSF 2019, tidak terjadi perkelahian yang berarti. Maksudnya, satu kali perkelahian terjadi di luar Stadion Marilonga hanya karena salah ucap dan ketersinggungan. Itu pun langsung diamankan oleh para aparat.

Secara umum, event Triwarna Soccer Festival menuai kritikan positif dari banyak orang, baik masyarakat Kabupaten Ende sendiri maupun yang dari luar.


Demikianlah tentang jaga waka nua yang selalu digaungkan saat event Triwarna Soccer Festival. Sebuah jargon dengan spirit dan makna yang sangat dalam. Dengan menjaga waka nua, maka kita niscaya mampu mewujudkan jargon Kabupaten Ende yaitu Ende Sare Lio Pawe. Dan saya pikir, kita semua sebaiknya menjadi orang yang bisa menjaga waka. Setuju? Yang setuju lekas komeeeen haha.

Baca Juga: Manis Akustik

Semangat Senin, kawan.


Cheers.