Kalau Tahu 5-Minutes Crafts Harus Tahu TheSoul Publishing

Kalau Tahu 5-Minutes Crafts Harus Tahu TheSoul Publishing. Do It Yourself (DIY). Dunia DIY pasti berhubungan dengan dunia craft dan life hack. Craft adalah kerajinan tangan. Life hack adalah tips sederhana tapi jitu untuk mengatasi masalah dalam keseharian umat manusia. Contoh craft adalah menyulam, membatik, menenun, membikin hiasan dinding berbahan keping CD, membikin pot bunga berbahan botol plastik, membikin keset dari handuk bekas, membikin dompet berbahan bungkus plastik (minuman) sasetan, hingga membikin bunga dari tali rafia dan tas kresek. Contoh life hack adalah memanfaatkan kaleng bekas minuman untuk merontokkan bulir jagung dari tongkol jagungnya, menggunakan lipatan kertas untuk membuka tutup botol kaca, memanfaatkan daun pepaya untuk mengusir nyamuk, hingga membersihkan barang berkarat dengan cara merendamnya dalam cairan berkola.

Baca Juga: Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah

Saya, kalian, mereka, pasti setidaknya satu kali dalam hidup pernah menonton tentang dunia DIY yang berhubungan dengan craft dan life hack ini. Tidak bisa dipungkiri bahwa 5-Minutes Crafts merupakan salah satu tayangan yang paling banyak mengulas tentang dunia DIY, craft, life hack. Kalau di-Indonesia-kan menjadi Kerajinan Tangan 5 Menit, meskipun untuk membikinnya membutuhkan waktu lebih dari lima menit. Saya mulai menonton video-video 5-Minutes Crafts dari media sosial Instagram, kemudian berlanjut ke Youtube. Awal mula mengetahui tentang 5-Minutes Crafts saat saya mulai terobsesi dengan dunia DIY. Waktu itu saya terus memperbarui pengetahuan tentang membikin sesuatu terutama berbahan barang bekas. Tak cukup sampai di situ, 5-Minutes Crafts kemudian punya sub-sub seperti Girly, Man, Kids, dan lain sebagainya.

Tapi tahukah kalian siapa dan/atau apa yang berada di balik tayangan-tayangan 5-Minutes Crafts? Sekarang ... saatnya kalian tahu.

TheSoul Publishing


5-Minutes Crafts tidak terlepas dari perusahaan bernama TheSoul Publishing. Penulisannya memang begitu, The dan Soul tidak dipisah. Dirilis dari situsnya, TheSoul Publishing adalah studio digital independen yang menghasilkan konten asli yang menyenangkan, informatif, dan menginspirasi audiens global. TheSoul Publishing merupakan salah satu perusahaan media online paling produktif dan populer di dunia dan menjangkau ratusan juta pengikut di Facebook dan pelanggan Youtube. Tim kreatif TheSoul Publishing berbasis global memberikan konten yang menarik untuk semua umur dalam delapan belas bahasa yang berbeda, didistribusikan melalui jaringan lintas platform yang digerakkan oleh media sosial.

Mulai dari hack yang praktis hingga proyek kerajinan yang cerdas, dari kiat kecantikan yang memusingkan hingga teka-teki yang memusingkan otak. Portofolio merek media TheSoul Publishing menekankan hal-hal positif, praktis, dan murni menghibur. Saluran TheSoul Publishing yang paling banyak ditonton adalah, tentu saja, 5-Minute Crafts. 5-Minute Crafts adalah merek dan/atau brand digital DIY nomor satu di dunia dan menempati peringkat di antara Top-5 dari semua Saluran YouTube. Makanya tidak salah saya menulis judul: Kalau Tahu 5-Minutes Crafts Harus Tahu TheSoul Publishing. Karena, 5-Minutes Crafts ini benar-benar jawara.

Selain 5-Minutes Crafts, TheSoul Publishing juga memproduksi konten/saluran lain seperti Bright Side, 7-Second Riddles, Actually Happened, 123 Go!, Avocado Couple, Frankenfood, Slick Slime Sam dam Doodland. Makanya tidak heran ketika melihat logo Bright Side, saya langsung teringat sama 5-Minutes Crafts ... bohlam! Dan sumpah, baru hari ini saya mengetahui koneksi antara keduanya. Mereka sama-sama diproduksi oleh TheSoul Publishing. Oalah ... hahaha.

Ide, Tim, dan Kerja Keras


Menonton video-video milik TheSoul Publishing di Youtube saya percaya bahwa di belakang layar ada banyak tim yang bekerja keras. Tim ini pasti dibagi berdasarkan salurannya masing-masing. Bahkan satu saluran, menurut saya, bisa terdiri dari banyak tim. Misalnya 5-Minutes Crafts yang terbagi dalam Girly, Man, Kids, pasti punya tim-nya masing-masing. Setiap tim pasti mempunyai orang-orang yang dijuluki tim kreatif. Ideas Team. Merekalah yang harus memutar otak untuk setiap kontennya, merekalah yang harus bekerja keras mewujudkan ide tersebut, merekalah yang harus pandai mengatur kanal kategori.

Kanal kategori?

Iya, itu bahasa yang saya gunakan.

Karena, dari setiap video 5-Minutes Crafts yang saya nonton, ada beberapa video yang sama, yang pernah tayang pada video lainnya. Kanal kategori ini penting sehingga mereka cukup membikin satu dua video baru untuk kategori yang sama, dan bisa menambahkan video-video yang sudah ada, asal kategorinya sama. Tapi bukan berarti mereka asal comot, ada kerja keras di situ. Memilah video, menyambungnya, menyunting ini itu, bukan perkara mudah, terutama untuk video berdurasi sampai puluhan menit.


Betapa beruntungnya saya, kalian, mereka, karena tahu tentang 5-Minutes Crafts dan saluran lain milik TheSoul Publishing. Apa saja yang sudah saya pelajari dari 5-Minutes Crafts? Hwah, banyak sekali, gengs. Menjadikan BH sebagai masker, membikin tas berbahan keping CD, membikin kursi/bangku dari rak telur, membikin makanan raksasa, nge-prank teman dengan makanan palsu, bagaimana caranya agar kemping jadi lebih menyenangkan, betapa menyenangkannya berkebun itu, memanfaatkan lem bakar untuk berbagai keperluan hidup, hingga menggunakan sendok untuk menggambar alis mata. Haha. Macam-macam ide kreatif mereka. Ada yang bisa kita tiru, ada yang tidak. Tergantung tingkat kesulitan masing-masing.

Baca Juga: Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan

Bagaimana dengan kalian, kawan? Pernahkan kalian membikin apa-apa yang kalian nonton dari 5 Minutes Crafts? Yang jelas, segala sesuatu yang beraroma DIY selalu menarik perhatian saya. Kami pernah membakar ayam di api unggun menggunakan aluminium foil. Haha. Gara-gara 5-Minutes Crafts itu! Ya ya ya sudah dulu ... nanti tidak selesai-selesai ceritanya. Yang jelas, hari ini kita semua tahu sesuatu di balik nama besar 5-Minutes Crafts. Mari ... ber-DIY-ria!

#RabuDIY



Cheers.

Pengalaman Menggunakan Camtasia Screen Recorder

Credits: TechSmith.

Pengalaman Menggunakan Camtasia Screen Recorder. Saya pernah menulis pos berjudul I Really Need a Screen Recorder for My Blogging Videos. Memang, saya sangat membutuhkan aplikasi screen recorder atau perekam layar agar lancar membikin video-video tutorial tema Blogging yang tayang di channel Youtube. Tentu yang bebas dari tanda air. Karena, aplikasi Free Screen Video Recorder yang telah terpasang di laptop ternyata menyertakan tanda air. Akhirnya saya diberikan aplikasi bernama Camtasia oleh Oedin. Kemudian, Camtasia menjadi teman sehari-hari dalam proses kreatif membikin video tutorial nge-blog mulai dari mendaftar akun blog pertama kali di platform Blogger, mengenal dashboard-nya, sampai yang paling baru tentang dapur entri blog. Tentu masih banyak video tema Blogging yang bakal tayang secara berkelanjutan di Youtube setiap Senin.

Baca Juga: Puasnya Melihat Hasil Foto dan Video Kamera Realme 5i

Bagaimana pengalaman saya menggunakan Camtasia?
Perlukah kalian mengetahuinya?
Hmmm ... perlu tahu atau tidak, bukan masalah, yang jelas saya ingin berbagi pengalaman saya. Jadi, marilah kita cari tahu!

Camtasia


Kenalan dulu yuk sama Camtasia. Wikipedia menulis sebagai berikut: Camtasia (/ kæmˈteɪʒə /) (sebelumnya Camtasia Studio) adalah rangkaian perangkat lunak, dibuat dan diterbitkan oleh TechSmith, untuk membuat tutorial dan presentasi video langsung melalui screencast, atau melalui plug-in rekaman langsung ke Microsoft PowerPoint. Area layar yang akan direkam dapat dipilih secara bebas, dan audio atau rekaman multimedia lainnya dapat direkam pada waktu yang sama atau ditambahkan secara terpisah dari sumber lain dan diintegrasikan dalam komponen Camtasia produk. Kedua versi Camtasia dimulai sebagai program tangkapan layar yang disempurnakan dan telah berevolusi untuk mengintegrasikan tangkapan layar dan alat pasca-pemrosesan yang ditargetkan pada pasar pengembangan multimedia informasi dan pendidikan.

Camtasia terdiri dari dua komponen utama:

Camtasia Recorder - alat terpisah untuk menangkap audio layar dan video
Editor Camtasia - komponen yang seluruh produk dinamai, yang kini menjadi alat pembuat multimedia dengan antarmuka "timeline" standar industri untuk mengelola beberapa klip dalam bentuk trek yang ditumpuk ditambah perangkat tambahan yang dirangkum di bawah ini.

Itu katanya Wikipedia yang saya terjemahkan menggunakan Google Translate! Hahahaha. 

Tapi memang betul, seperti itulah Camtasia. Tiga langkah utama yang tertera di situsnya adalah sebagai berikut:




Jujur, saya belum pernah memakai Camtasia untuk urusan yang berkaitan dengan Power Point. Saya memakai Camtasia semata-mata untuk merekam layar saja demi kepentingan video tutorial tema Blogging tersebut.

Bekerja Bersama Camtasia


Bagaimana cara menggunakannya? Mudah. 

1. Buka aplikasi Camtasia.
2. Pilih rekam layar.
3. Silahkan beraktivitas selama layar direkam.
4. Stop.
5. Preview.
6. Save menggunakan format Video File (*.avi).

Camtasia yang saya pakai itu Camtasia Studio 6. Hanya punya dua format penyimpanan, format pertama ya penyimpanan Camtasia, format kedua ya Audio Video Interleaved (AVI). Sayangnya, format AVI tersebut ditolak mentah-mentah oleh Sony Movie Studio Platinum 13. Oh Tuhan, apa salah dan dosa hambaaaaa. Hehe. Saya mencoba membuka file berformat AVI di aplikasi Proshow, ternyata bisa. Disimpan kembali dalam format MPEG (*.mpg). Alhamdulillah, format keluaran dari Proshow itu diterima dengan tangan terbuka oleh Sony Movie Studio Platinum 13. Lancar jaya! Tinggal mempercepat, menambah musik dan/atau audio, render, selesai. Kalian bisa melihat video-videonya di Youtube.


Menggunakan Camtasia tentu menyenangkan, terutama untuk kepentingan video tutorial tema Blogging, karena memang itulah yang saya cari. Meskipun untuk itu saya harus berputar-putar terlebih dahulu menggunakan Proshow, but it's okay

Baca Juga: Aplikasi Super Keren Untuk Para Pejalan Itu Bernama Relive

Bagaimana, kawan? Pengalaman saya ini cukup menggairahkan bukan? Hahaha. Apanya yang menggairahkan? Hahaha. Maksud saya, pasti kalian setidaknya juga kepikiran untuk menggunakan Camtasia, mungkin untuk keperluan lainnya. Tidak melulu harus untuk video tutorial bertema Blogging. Mungkin kalian pengen bikin tutorial tentang cara menggunakan Clan Lotus pada game Battle Realms? Boleh juga. Atau ... bagaimana membikin persentasi Power Point yang kece, silahkan. Yang jelas Camtasia sangat membantu saya. Insha Allah, kalian pun demikian.

Semoga bermanfaat.

#SelasaTekno



Cheers.

Eko Poceratu Nyong Maluku Yang Mendunia Melalui Puisi

Credits: Maluku Post.

Eko Poceratu Nyong Maluku Yang Mendunia Melalui Puisi. Menulis cerpen dan puisi sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar tidak semerta-merta membikin saya terbaptis menjadi sastrawan. Perlu saya akui, bergelut dengan dunia tulis-menulis berbeda dengan bergumul dalam dunia sastra. Pisau adalah pisau. Tapi pisau bisa berbeda fungsi di tangan seorang koki, dan di tangan seorang pembunuh. Kata-kata itu sama. Tapi makna bisa berbeda. Penulis merangkai kata menjadi suatu cerita. Sastrawan merangkai kata menjadi suatu seni bercerita. Dan, dalam dunia sastra kita tahu begitu banyak penyair. Chairil Anwar, Taufiq Ismail, W.S. RendraSapardi Djoko DamonoWidji Thukul, hingga Bara Patty Radja yang berasal dari Pulau Adonara di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Penyair adalah sastrawan hebat yang cerdas memilih diksi, merangkainya melalui kalimat-kalimat pendek namun padat dan syarat makna.

Baca Juga: Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya

Suatu kali, tanpa sengaja, saya melihat video berjudul Tak Harus Sedarah Untuk Menjadi Saudara. Seorang laki-laki muda berdiri di panggung, membaca puisi tersebut, dan saya ternganga sampai video mencapai detik paling akhir. Puisi yang dia bacakan tidak menggunakan Bahasa Indonesia baku melainkan bahasa Indonesia yang telah di-Maluku-kan serta dialeg khas yang kita tahu itu dari Provinsi Maluku. Kalian bingung? Ambil contoh dua kalimat berikut ini:

Bahasa Indonesia:
Darah kami adalah darah Indonesia
Kami bersatu untuk bisa merdeka
Tidak memandang suku atau agama

Bahasa Indonesia yang di-Ende-kan:
Kami pung darah ni darah Indonesia
Kami bersatu untuk bisa merdeka
Ti lihat suku atau agama

Sampai di sini kalian paham kan?

Apalah-apalah istilahnya, yang jelas hari itu dunia saya berubah. Laki-laki muda itu bernama Eko Poceratu. Sesaat setelah video Tak Harus Sedarah Untuk Menjadi Saudara saya jadikan status WhatsApp (WA), seorang adik bernama Tessa Ngga'a mengirimkan lebih banyak video puisi-puisi Eko Poceratu. Alamak, betapa beruntungnya saya! Ternyata saya tidak sendiri. Hahaha. Pada akhirnya saya memburu Eko, oalah bahasanya, hingga ke Youtube. Langsung subscribe, hidupkan lonceng notifikasi, like, share, dan bahagia setiap kali melihat notifikasi video puisi barunya diunggah. 

Eko Poceratu


Makassar Writers menulis sebagai berikut: Lahir di Tihulale, 2 Mei 1992. Sejak lulus SD sudah sudah tertarik dengan dunia sastra ketika membaca puisi W.S. Rendra di perpustakaan sekolah. Mulai merantau ke Ambon setelah lulus SD. Di bangku SMP mulai tekun menulis puisi dan cerpen untuk uang jajan dan tabungan. Kecintaan untuk menulis terbawa sampai kuliah. Sejak saat itu bersama kawan-kawan mendirikan Bengkel Sastra Batu Karang. Sekarang telah mendirikan Bengkel Sastra Kintal Sapanggal dan melakukan berbagai kegiatan sastra bersama remaja dan pemuda. Mendirikan taman baca dan mengadakan beberapa kelas untuk anak-anak sekolah. Selain itu, ikut bergabung dengan Bengkel Sastra Maluku, ibu dari komunitas sastra di Maluku yang telah melakukan kegiatan bersama seperti Konspirasi Puisi Jilid 1-3 (Konspirasi puisi mengangkat isu-isu terpanas di Maluku). Bersama Marthen Reasoa (Penyair) mengadakan Ranjang Puisi yang membahas puisi-puisi ranjang dengan tujuan mengurangi tindakan pelecehan dan pemerkosaan yang marak terjadi di Ambon, terkhusus kepada remaja dan pemuda.

Sedangkan dari blog Eko sendiri, tertera informasi sebagai berikut: Eko Saputra Poceratu, lahir di Tihulale, 2 Mei 1992. Ayah bernama Yohanes Poceratu dan ibu bernama Maria Pariama. Pernah tergabung dalam beberapa antologi bersama seperti, Antologi Puisi Biarkan Katong Bakalae (2013), Pemberontakan Dari Timur (2014), Antologi Mata Aru, Antologi Kita Dijajah Lagi (2017), Rasa Sejati (2018), Antologi Puisi Banjar Baru’s Rainy Day Literary Festival (2017-2018). Merupakan penulis Emerging di Makassar International Writer’s Festival di Fort Rotterdam (2018) dan salah satu penulis dalam Festival Sastra dan Rupa Kristiani di Jakarta (2018). Sampai saat ini telah menerbitkan sebuah novel romansa, Pelangi Biru (2013), Cerpen Di Jalan-Jalan yang Kita Curi (2014) dan telah menerbitkan Kumpulan Puisi Hari Minggu Ramai Sekali (2019).

Dari dua informasi di atas dapat saya simpulkan bahwa darah penyair tidak mengalir di setiap tubuh manusia. Darah itu harus punya aroma bakat, terkontaminasi, terus terasah dan dipoles hingga menghasilkan nada sendiri, diimbuh sesuatu yang saya sebut kecerdasan berpuisi. 

Ciri Khas yang Mendunia


Maluku Post menulis sebagai berikut: Penyair asal Maluku Eko Saputra Poceratu mendapat kesempatan residensi sebulan di Leiden, Negeri Belanda. Demikian pengumuman Komite Buku Nasional dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Situs www.Islandofimagination.id menyiarkan Pengumuman Penerima Residensi Penulis Indonesia 2019, persis pada HUT ke-74 RI, Sabtu (17/8).  Eko tidak sendiri.  Dia lolos bersama 33 penulis Indonesia lainnya, yang bakal menjalani masa residensi di berbagai kota dan negara di dalam dan luar negeri. Menurut situs tersebut, program residensi penulis Indonesia dilaksanakan pertama kali tahun 2016. Pada tahun 2019 ini, Tim Seleksi dari  Komite Buku Nasional dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyeleksi 437 aplikasi yang masuk. Tim memilih 34 nama yang akan mengikuti program residensi selama 1-3 bulan, antara Oktober-Desember 2019.

Berikutnya, kalau saya salah silahkan koreksi melalui komen di bawah untuk koreksi, saat berada di Belanda itu Eko tampil di De Balie, Amsterdam. De Balie adalah teater dan pusat politik, budaya dan media, dengan kafe-restoran di Kleine-Gartmanplantsoen 10, di Leidseplein di Amsterdam, Belanda. Itu kata Wikipedia. Hahaha. Ada dua puisi yang saya nonton videonya saat Eko tampil di De Balie yaitu Tak Harus Sedarah Untuk Menjadi Saudara dan Mana Ale Pung Maluku?. Dua puisi tersebut dibawakan full ciri khas Eko. Sangat berkarakter. Santai tapi menikam, kekuatan diksi, rima yang tepat, majas yang memukau, hingga dialeg Maluku yang kental. Kawan, ciri khas itu bakal langsung tertancap dalam jiwa semua orang yang menonton. Setidaknya itu yang terjadi pada saya.

Mari kita simak Tak Harus Sedarah Untuk Menjadi Saudara berikut ini:

Su paleng lama orang-orang di negara ini
Permasalahkan perbedaan itu deng ini
Mayoritas mau tekan minoritas
Popularitas jadi politik di atas kartas

Apa katong harus seagama, baru bisa dibilang sesama
Apa katong musti sedarah, baru bisa dibilang saudara
Apa katong harus sekandung, baru bisa dibilang gandong
Apa katong musti sesuku, baru bisa dibilang satu tungku
Apa katong musti seiman, baru bisa saling cinta
Apa katong musti seajaran, untuk saling mengerti perasaan

Kalo baku sayang sedangkal itu
Bagaimana kasih bisa menyatu?

Apa beta harus Jakarta, baru bisa dibilang Indonesia
Apa beta harus makan nasi, baru bisa disebut NKRI

Kalo keadilan seperti itu
Bagaimana perasaan bisa menyatu

Apa katong harus makan sawi, untuk jadi manusiawi
Apa katong musti satu RAS, untuk jadi manusia waras

Kalo kemanusiaan sedangkal itu
Dan kebinatangan sedalam laut,
Bagaimana cinta akan terselami

Apa beta harus lahir di Barat, untuk bisa adil di Timur
Apa beta musti blajar di Ibukota, baru di desa dapa jatah
Apa beta harus berpolitik, baru distrik dapa listrik
Apa beta harus punya investasi, baru dianggap punya kontribusi
Apa beta musti punya tambang, Baru dibilang bisa menyumbang
Apa beta musti punya emas, baru bisa jadi anak mas
Apa beta musti punya gas abadi, baru bisa dapat subsidi
Apa katong musti makan raskin, baru dibilang orang miskin

Kalo kehidupan sesempit itu
Lapang dada seng cukup
Tampung dalapang huruf:
S
E
N
G
S
A
R
A

SENGSARA.

*berdiri*
*tepuk tangan paling meriah*
*lempar bunga ke panggung*

Channel Youtube


Saya yakin kalian yang belum tahu Eko bakal sama ternganganya dengan saya. Haha. Jangan kuatir, kalian tentu bisa menonton dan mendengar suara Eko melalui video-video yang diunggah di channel Youtube-nya. Silahkan di-klik. Video terbarunya bikin perasaan jadi bemana begitu ... Cinta Perlu Pengakuan:



Hai lelaki di luar sana, cinta perlu pengakuan, jangan pakai kode-kode lagi, ya. Hahaha. Kalau cinta, akui. Jangan sembunyi. Huhuhu. Eko eee, entah kalimat apa lagi yang bisa saya sampaikan. Saya betul-betul kagum. Anyhoo, jangan lupa untuk subscribe dan turn on notifikasinya. Supaya kalian tidak melewatkan video baru yang diunggah Eko. Dia memang menggunggah video secara rutin. Mendengar suaranya ibarat menutrisi jiwa.


Saya perlu menulis epilog ini. Indonesia memang selalu terpusat di Jakarta dan/atau Pulau Bali. Tidak heran. Jakarta adalah Ibu Kota Negara. Pulau Bali adalah ikon pariwisata Indonesia. Yang hebat-hebat identik dengan Baratnya Indonesia. Ketika yang hebat itu datang dari Timur, murni lahir dan besar di Timur, ada kebanggaan dalam diri saya. Mungkin kalian orang dari Timurnya Indonesia juga sama bangganya. Perjuangan orang-orang dari Timur kini tidak sesulit dulu. Dulu, ada banyak pulau yang harus dilewati untuk bisa dikenal khalayak. Tapi sekarang, untung ada internet, kita tidak butuh beli tiket pesawat mahal-mahal untuk memperkenalkan karya kita pada khalayak melalui Jakarta. Musisi bisa langsung mengunggah karyanya di Youtube, Penyair pun demikian, bahkan konten-konten tentang indahnya Indonesia bagian Timur ini sudah bertebaran di Youtube dan dibikin sendiri oleh orang dari Timurnya Indonesia. Iya, internet memangkas birokrasi. Haha.

Baca Juga: Geser Dikit Halaman Hatimu dari Bara Patty Radja

Semoga pos hari ini cukup membahagiakan kalian. Sama seperti saya yang menulisnya dengan buncahan bahagia. Dan, mari angkat topi untuk Eko Poceratu, Nyong Maluku yang mendunia lewat puisi.

#SabtuReview



Cheers.

5 Kegiatan Yang Saya Lakukan Saat Di Rumah Saja


5 Kegiatan Yang Saya Lakukan Saat Di Rumah Saja. Hai semua bos-bosque. Pada hari-hari aktif bekerja acapkali saya diserang insomnia, sulit bangun pagi bahkan kesiangan, diganggu sama keinginan untuk liburan atau setidaknya di rumah saja untuk leyeh-leyeh; menonton Upin Ipin dan Larva sambil tiduran di lantai ubin yang dingin. Tapi ketika dirumahkan, tidur lebih lekas, bangun cukup pagi untuk skala universe saya, melakukan banyak kegiatan, dan merindukan hari-hari aktif bekerja. Pertanyaan besarnya adalah apakah saya saja atau kalian juga mengalaminya? Semoga kalian juga mengalaminya agar saya tidak merasa sendiri. Byuuuh. Hehe. Violin Kerong pernah bilang kalau dia dilanda kebosanan tingkat tinggi. Soalnya dirumahkan tidak sama dengan liburan, mau keluar rumah pun kita diwanti-wanti sama orang rumah, manapula traveling. Sama seperti saya mewanti-wanti Thika dan Melly setiap kali mereka keluar rumah.

Baca Juga: 5 Cara Sederhana (Saya) Melindungi Diri Dari Virus Corona

Empat belas hari #DiRumahSaja berakhir minggu ini. Senin depan, jika belum ada Surat Edaran yang baru dari Rektor Uniflor tentang perubahan waktu dan/atau perpanjangan waktu dirumahkan, maka saya sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Kembali mengikuti upacara bendera, kembali mencari berita, kembali mempublikasikan segala aktivitas yang terjadi di lingkungan Uniflor. Oleh karena itu saya ingin berbagi cerita dengan kalian semua tentang lima kegiatan yang saya lakukan selama di rumah saja.

Yuk, intip!

1. Nge-blog


Jelas ini yang utama meskipun masih belum bisa sepenuhnya blogwalking. Kenapa utama? Karena, jangankan di rumah saja, pada hari-hari aktif pun setiap hari saya nge-blog. Enaknya punya blog bertema harian ya begini. Ada saja yang bisa ditulis. Mulai dari teknologi sampai review. Mulai dari kegiatan sehari-hari sampai dunia Do It Yourself (DIY). Mulai dari kamu sampai ke dia. Haha. Nge-blog ibarat sekolah private. Karena, nge-blog bukan asal menulis saja tetapi juga harus bisa mencari informasi dan/atau referensi akan sesuatu yang hendak ditulis. Contohnya, menulis tentang situasi Itali saat virus Corona mulai tersebar di sana, saya tidak bisa asal menulis. Syukurnya sahabat masa SMA yang kini saya panggil Suster, bertugas di Roma, bisa menjadi narasumber tentang denda yang dikenakan kepada warga yang berkeliaran di taman dan jalanan, serta drone yang dimanfaatkan oleh pihak berwenang untuk memantau warganya. Terima kasih, Suster Marta Soge!


Video di atas adalah video wawancara dari channel si Oedin tentang blogger yang bisa keliling Indonesia. Gratis! Memang tidak semua titik di Indonesia, tetapi cukup menjadi pengalaman terfantastikapharmantara bagi saya pribadi. Insha Allah dapat menjadi inspirasi bagi penontonnya. Mengantongi tiket gratis ke Jakarta, Denpasar, hingga Makassar itu luar biasa. Siapa yang mau memberi kita tiket gratis? Haha. Tapi saat ini, dikasih tiket gratis pun saya tidak mau, kecuali tiket gratisnya boleh disimpan sampai badai ini berlalu.

2. Membikin Konten Youtube


Kegiatan yang baru tiga minggu belakangan saya geluti. Kondisi di rumah saja mendukung saya melakukannya! Hehe. Karena saya punya tiga tema konten Youtube yaitu Blogging, Podcastuteh, dan BlogPacker, maka saya harus pandai-pandai memanfaatkan waktu. Jangan sampai ada celah untuk bengong karena pasti merugi.



Video di atas merupakan salah satu konten dari channel Youtube saya dari tema Blogging. Iya, ada tiga tema yang secara kontinyu dapat kalian lihat selain Blogging, dua lainnya adalah Podcastuteh dan BlogPacker. Selain tiga tema tersebut, ada juga sih video lain yang saya unggah yang bersifat situasional *halaaaah*. Hahahaha.

3. Membaca Buku


Banyak buku yang belum sempat saya baca, satu per satu mulai dikeluarkan dari lemari. Mumpung banyak waktu ini.


Salah satu buku tersebut berjudul Bicara Itu Ada Seninya. Saya sering menulis tentang para penulis yang mengajarkan banyak hal baik pada pembacanya tanpa terkesan menggurui. Tetapi sebenarnya kalau penulis itu memang menggurui ya tidak masalah sepanjang mereka punya kapabilitas untuk melakukannya. Di dalam Bicara Itu Ada Seninya, pembaca diajak untuk mengetahui alasan takut berbicara. Salah satunya karena trauma salah ucap. Saya sering mengalami salah ucap. Tapi untuk sampai pada tahap trauma, belum. Karena toh saya pribadi tidak mengalami kendalam saat berbicara di muka publik. Itu saya. Tapi pasti beda dengan orang lain yang bahkan untuk berdiri di muka publik saja bergetar seluruh tubuh. Intinya adalah harus membuang rasa takut tersebut. Itu yang diungkapkan oleh Oh Su Hyang.

4. Proyek DIY


Huray!! Alhamdulillah, selama dirumahkan saya bisa mewujudkan salah satu keinginan yang sudah lama terpendam. Cie. Haha. Pada akhirnya saya, Thika Pharmantara, dan Melly, membikin lilin berbentuk telur. Proses membikin lilin berbentuk telur ini bisa kalian lihat pada video berikut:



Awalnya mungkin terlihat sulit, tetapi setelah memulai ... ternyata mudah. Yang dibutuhkan adalah ketekunan dan keseriusan saja. Tapi jangan lupa, harus bersenang-senang pula.

5. Berkebun


Dulu, saya sukses berkebun. Jangan berpikir tentang kebun dengan lahan super luas ya. Berkebun di sini artinya memanfaatkan space yang ada di rumah untuk diletakkan polybag yang sudah diisi tanah. Karena di rumah saya kesulitan mendapatkan tanah yang baik/berkualitas, saya perlu meminta tanah pada Abang Umar Hamdan si pentolan Anak Cinta Lingkungan (ACIL), serta meminta aneka bibit dari Cahyadi.


Bagian belakang rumah punya cukup space untuk berkebun haha. Selain empat tanaman sorgum yang sudah tumbuh besar dan sebentar lagi dapat dipanen, cieeee dipanen, juga ada tanaman merungge/marungge yang juga sudah bisa dipetik dan diolah atau ditumis sebagai teman nasi. Sedangkan tanaman lainnya baru saja ditanam bibitnya antara lain cabe, tomat, terung, sayur sawi, dan bengkoang. Ada dua bibit yang baru saya coba tanam yaitu kacang dan bunga matahari. Sementara besok lusa saya hendak menanam kentang dan ubi tatas. Semoga.


Asyik juga ... hehe. Di rumah saja tidak selamanya makan, tidur, pengen balik kantor, dan lain sebagainya. Di rumah saja malah memberi kesempatan saya melakukan banyak kegiatan, seperti lima kegiatan di atas.

Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca

Bagaimana dengan kalian, kawan? Apa sajakah kegiatan yang kalian lakukan saat di rumah saja? Komen di bawah. Saya berharap pos ini bermanfaat untuk kalian semua. Setidaknya, setelah membaca ini kalian langsung pergi ke belakang rumah dan mulai menanam tanaman-tanaman yang bermanfaat. Yuk!

#KamisLima



Cheers.

Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah


Membikin Sendiri Lilin Berbentuk Telur Untuk Paskah. Setiap menjelang Hari Raya Paskah, ada teman-teman yang menjual lilin Paskah dalam kemasan gelas mini di mana bagian luar gelas dicetak tulisan Paskah begitu. Sudah lama saya juga pengen bikin lilin semacam itu tapi bentuknya beda. Berbentuk telur! Kita semua tentu tahu bahwa Paskah identik dengan telur. Easter Egg. Keinginan yang lama terpendam itu baru bisa dilaksanakan Selasa kemarin. Maklum #DiRumahSaja harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Banyak yang mengeluh di rumah saja bikin mati gaya. Ah, siapa bilang? Hehe. Bagi saya, di rumah saja berarti bisa melakukan banyak hal, termasuk membenahi belakang rumah bekal berkebun! 

Baca Juga: Tiga Desk Organizer Mini Ini Benar-Benar Menggemaskan

Tapi hari ini saya belum bercerita tentang belakang rumah yang proyek DIY-nya sudah sudah dimulai itu. Hari ini saya akan menghadirkan cara membikin lilin berbentuk telur yang sebenarnya sangat mudah. Mari tengok bahan-bahannya:

1. Lilin.
2. Cangkang telur.
3. Crayon jika ingin lilinnya berwarna.
4. Suntikan (bekas tinta printer).

Untuk proses membikinnya, bisa kalian tengok pada video di bawah ini:


Selalu ada cerita menarik dari pengalaman pertama. Sama juga, kemarin itu untuk percobaan pertama, saya rasa cukup sukses menghasilkan lilin-lilin berbentuk telur. Kemarin itu bikinnya memang belum pakai crayon (untuk warna). Kami malah mencoba memakai pewarna makanan! Haha. Mana bisa. Yang ada di pewarna lari ke tempat lain si lilin lari ke tempat lain. Mereka tidak bisa kawin *ngakak*.

Bagaimana ... jika kalian masih #DiRumahSaja, yuk dicoba.

#RabuDIY



Cheers.

Puasnya Melihat Hasil Foto dan Video Kamera Realme 5i


Puasnya Melihat Hasil Foto dan Video Kamera Realme 5i. Sebenarnya saya membutuhkan kamera baru yang legit untuk keperluan pekerjaan. Tetapi, setelah dipikir-pikir, banyak telepon genggam dilengkapi dengan kamera yang mumpuni. Pekerjaan saya itu mobile, liputan ke sana sini, dan sejak lama saya memang lebih suka memakai kamera Xiaomi Redmi 5 Plus ketimbang Canon Eos600D untuk urusan pekerjaan ini. Oleh karena itu saya memutuskan untuk memiliki sebuah telepon genggam yang sudah lama bikin mupeng. Meskipun kata orang-orang hasil fotonya tidak realistis karena tone warna sepertinya ditingkatkan, tapi saya suka karena bukankah saya sendiri juga acap meningkatkan tone warna foto? Selain itu, konon telepon genggam yang satu ini punya mode wide, dan juga asyik banget kalau dipakai foto malam hari.

Baca Juga: Penelitian Ini Dilakukan Oleh Dosen dan Mahasiswa Uniflor

Eng ing eng ...

Namanya Realme 5i. Versi ekonomis dari Realme 5. Hehe.

Seperti apa sih Realme 5i ini? Sudah banyak artikel yang mengulas tentang Realme 5i. Saya bahkan sudah menonton ulasannya oleh David pada channel Gadgetin. Rencananya sih kemarin pengen bikin video unboxing tapi saya tidak berbakat. Hahahaha. Meskipun tidak bikin videonya, tapi mari kita unboxing Realme 5i.

Unboxing Realme 5i


Kotak Realme 5i berwarna kuning! Sebagai Presiden Negara Kuning, saya bangga. Haha. Di bagian depan seperti biasa ada tulisan 5i dan Realme. Di bagian belakang kotak ada keterangan: Massive Battery 5.000mAh, Ultra-Wide Quad Camera, Snapdragon 665 AIE, sama 6,5" (16,5cm) Mini-drop Display.


Waktu unboxing di dalam kotak tersebut terdapat: 1 telepon genggam Realme 5i, adaptor dan kabel (charger), kotak berisi kunci slot dan petunjuk pemakaian. Slot kartu bisa mengisi dua kartu nano dan satu kartu memori. Bagian belakang telepon genggam ini terdapat satu finger print, satu flash, dan empat kamera. Satu kamera lagi di bagian depan. Empat kamera di belakang itu terdiri dari: 12 MP kamera utama, 8 MP Wide, 2 MP Portrait, dan 2 MP makro. Sementara itu untuk fasilitas aplikasi kamera ini ada macam-macam: Video, Foto, Potret, terus ada pilihan foto Bentang Malam, Pano, Mode Pakar, Selang Waktu, Slo-Mo, dan Ultra Macro. Mode Wide sampai Penguat Kroma ada pada bagian atas layarnya.

Hasil Foto


Dan berikut hasil fotonya. Ini hasil foto kamera utama:


Yang ini hasil foto portrait (bokehnya itu):


Wide? Iya, ini hasil kamera wide-nya:


Dan yang berikut-berikut ini saya lupa mode apa hahaha.




Sementara saya belum mencoba foto di malam hari, di luar rumah, nanti deh bakal saya coba hehehe. Anyhoo, foto-foto di atas difoto tanpa harus mengatur ini itu dulu, jadi saya belum tahu seberapa bagusnya lagi hasil foto dan video dari Realme 5i.


Saya tidak membahas terlalu panjang tentang Realme 5i ini. Intinya telepon genggam ini asyik banget diajak foto dan merekam video. Hasilnya jauh lebih oke dari telepon genggam sebelumnya yaitu Xiaomi Redmi 5 Plus. Bagaimana jika dibandingkan dengan Redmi Note 8? Aaaaa, kata David, beda paling mendasar adalah pada kamera utama karena hasil kamera utama Redmi Note 8 punya resolusi 48 MP untuk kamera utama. Tapi hasilnya juga tidak berbeda jauh. Beda paling utama adalah warna hahaha. Seperti yang saya bilang, tone warna dari Realme 5i rada lebih tinggi dari tone sebenarnya.

Baca Juga: Tidak Punya Clip On Manfaatkan Telepon Genggam Kalian

Menurut saya, untuk ukuran kantong missqueen seperti saya, ditambah kebutuhan untuk pekerjaan dan hobi, saya pikir Realme 5i sudah bagus sekali. Bagaimana menurut kalian? Komen di bawah. Hehe.

#SelasaTekno



Cheers.

Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya


Jangan Suka Nyablak Karena Bicara Itu Ternyata Ada Seninya. Hai kalian bos-bos pembaca blog! Di rumah saja akibat penyebaran virus Corona di Indonesia memberi kesempatan pada kita untuk melakukan banyak kegiatan. Salah satunya: membaca buku. Coba kalian ingat-ingat lagi, sudah berapa banyak buku yang dibaca sepanjang tahun 2020 yang baru berjalan tiga bulan ini? Lima? Atau bahkan sudah enam belas buku? Tentu dua minggu dirumahkan bukan berarti saya semata-mata membaca buku. Banyak kegiatan lain yang juga dilakukan antara lain nge-blog dan membikin video: Blogging, BlogPacker, dan Podcastuteh untuk diunggah di Youtube. Yuhuuuuu. By the way, salah satu buku yang saya baca setelah buku berjudul The Secret of Ikigai adalah Bicara Itu Ada Seninya. Artinya, jangan suka nyablak! Haha.

Baca Juga: Fiersa Besari Memang Jagoannya Merangkai Kata-Kata

Seperti apa sih buku berjudul Bicara Itu Ada Seninya?

Cekidot!

Bicara Itu Ada Seninya


Bicara Itu Ada Seninya ditulis oleh Oh Su Hyang. Oh Su Hyang adalah seorang dosen dan pakar telekomunikasi di Korea Selatan. Jadi, kalian jangan hanya tahu K-Pop, Drama Korea, atau Tuba Entertainment yang memproduksi Larva, tetapi juga harus tahu bahwa dari negara unik itu juga ada seorang pakar telekomunikasi. Diterjemahkan oleh Asti Ningsih, buku terbitan Penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP) yang merupakan Kelompok Gramedia ini bersampul hitam dengan tulisan berhuruf besar berwarna putih. Tagline-nya: The Secret Habits to Master Your Art of Speaking (Rahasia Komunikasi yang Efektif)Sebanyak 238 kita akan diajarkan secara tidak langsung tentang seni berbicara. Tahukah kalian, ternyata storytelling merupakan plot yang kokoh?

Saya tertarik dengan narasi pada sambul belakang buku ini:

Ketika komunikasi menjadi hal yang penting untuk bersaing, pakar komunikasi Oh Su Hyang mengeluarkan buku yang sangat berarti. Selain berisi tentang pengalaman pengembangan diri, buku ini juga membahas tentang teknik komunikasi, persuasi, dan negosiasi.

Lalu bagaimana cara berbicara yang baik? Apakah berbicara dengan artikulasi yang jelas? Atau berbicara tanpa mengambil napas? Tidak! Sebuah ucapan yang bisa disebut baik adalah yang bisa menggetarkan hati. Ucapan seorang juara memililki daya tarik tersendiri. Ucapan pemandu acara memiliki kemampuan untuk menghidupkan suasana. Anda harus pandai berbicara untuk menunjukkan diri Anda kepada lawan bicara dalam kehidupan sosial. Orang yang berbicara dengan mahir akan menjadi lebih maju daripada yang lainnya. Untuk mencapai tujuan komunikasi, persuasi, dan negosiasi, Anda harus mengetahui metode komunikasi yang efisien.


Berisi bab-bab dengan bahasa yang ringan, pengalaman-pengalaman, ragam tips dan trik, saya pikir kalian wajib membaca buku yang satu ini.

Mengajarkan Tanpa Harus Menggurui


Saya sering menulis tentang para penulis yang mengajarkan banyak hal baik pada pembacanya tanpa terkesan menggurui. Tetapi sebenarnya kalau penulis itu memang menggurui ya tidak masalah sepanjang mereka punya kapabilitas untuk melakukannya. Di dalam Bicara Itu Ada Seninya, pembaca diajak untuk mengetahui alasan takut berbicara. Salah satunya karena trauma salah ucap. Saya sering mengalami salah ucap. Tapi untuk sampai pada tahap trauma, belum. Karena toh saya pribadi tidak mengalami kendalam saat berbicara di muka publik. Itu saya. Tapi pasti beda dengan orang lain yang bahkan untuk berdiri di muka publik saja bergetar seluruh tubuh. Intinya adalah harus membuang rasa takut tersebut. Itu yang diungkapkan oleh Oh Su Hyang.

Mengubah cara bicara, mengubah cara hidup, juga tertuang di dalam buku ini. Mengubah cara bicara tidak terjadi sekedip mata. Oh Su Hyang mengajarkan tentang latihan di balik panggung gelap, dengan contoh (alm.) Steve Jobs. Membaca bagian ini saya ingat diri sendiri. Jujur, saya seringkali berbicara dengan nada yang cukup tinggi, kecepatan cahaya, sehingga sering belepotan. Diimbuh suara yang cempreng. Oh lala, yang mendengar saya bicara pasti langsung sakit kepala. Tetapi setelah menjadi penyiar radio, saya harus bisa menjadi orang lain yang mendengarkan diri sendiri berbicara. Ah, ternyata memang benar, bicara itu ada seninya. Hahaha.

Perkara yang juga diajarkan Oh Su Hyang dalam Bicara Itu Ada Seninya adalah tentang Sepuluh Aturan Komunikasi:

1. Kata-kata yang tidak bisa diucapkan di "depan", jangan dikatakan di "belakang". Gunjingan sangatlah buruk.

2. Memonopoli pembicaraan akan memperbanyak musuh. Sedikit berbicara dan perbanyak mendengar. Semakin banyak mendengar akan semakin baik.

3.Semakin tinggi intonasi suara, makna dari ucapan akan semakin terdistorsi. Jangan menggebu-gebu. Suara yang rendah justru memiliki daya.

4. Berkata yang menyenangkan hati, buka sekadar enak didengar.

5. Katakan yang ingin didengar lawan bicara, bukan yang ingin diutarakan. Berbicara yang mudah dimengerti, bukan yang mudah diucapkan.

6. Berbicaralah dengan menutupi aib dan sering memuji.

7. Berbicara hal-hal yang menyenangkan, bukan yang menyebalkan.

8. Jangan hanya berkata dengan lidah, tetapi juga dengan mata dan ekspresi. Unsur non-verbal lebih kuat daripada unsur verbal.

9. Tiga puluh detik di bibir sama dengan tiga puluh tahun di hati. Sepatah kata yang kita ucapkan mungkin saja akan mengubah kehidupan seseorang.

10. Kita mengendalikan lidah, tapi ucapan yang keluar akan mengendalikan kita. Jangan berbicara sembarangan dan bertanggungjawablah terhadap apa yang sudah Anda ucapkan.


Sehingga, kalau kalian menyimpulkan buku ini tidak hanya menuangkan 'ilmu' berbicara di muka publik tetapi juga terhadap teman ... betul sekali. Tentunya masih banyak pelajaran lain yang bisa kalian ambil dari buku ini demi kelancaran komunikasi baik dengan orangtua, saudara, kawan, tetangga, kekasih, maupun musuh! Hehe.

Mengaplikasikannya Dalam Kehidupan Sehari-Hari


Beberapa teman-teman yang hendak mengikuti ujian skripsi sering bertanya pada saya, bagaimana bersikap di dalam ruang sidang skripsi. Saran saya pada mereka:

Pertama:
Harus menguasai penelitian yang sudah diubah dalam bentuk skripsi tersebut! Bagaimana bisa berbicara kalau materinya tidak dikuasai? Kuasai permasalahannya, kuasai undang-undang yang dipakai, kuasai pemecahan masalahnya.

Kedua:
Berbicara tanpa 'eee', tanpa 'anu'. Berbicaralah dengan tegas, lugas, tanpa keraguan sedikit pun, namun tidak berkesan sombong. Karena biarpun kalian menguasai 100% materi tetapi tidak didukung dengan kemampuan berbicara yang baik ... Wassalam. Oleh karena itu, harus berlatih berbicara dimulai dengan "Selamat pagi, nama saya Abcefg, NIM sekian, judul penelitian saya adalah Ini Itu Adalah Ini Itu".

Ketiga:
Menatap wajah dosen dengan tatapan pasti. Percaya diri.

Keempat:
Bawa selalu Tuhan dalam setiap perkataan.


Jadi, kawan, jangan pernah menganggap remeh para pewara alias master of ceremony. Apa pun acara kalian, tanpa pewara, bakal garing. Merekalah yang membawa acara kalian menjadi terarah dan meriah. Pewara bukan sekadar pewara, tetapi mereka harus menguasai pula inti acara yang dibawakan tersebut. Otak mereka harus menerima informasi-informasi baru, mengolahnya, untuk melengkapi pekerjaan membawa acara. Saya sering sedih kalau mendengar orang-orang berkata: apa eeee omong begitu saja bayar sampai jutaan. Kadang saya langsung membalas: mau yang murah? MC sendiri, jangan minta jasa MC kondang. Meskipun bukan pewara tapi saya sangat tahu persis betapa susahnya jadi pewara, terutama pewara perempuan yang selain mengandalkan otak dan seni berbicara, juga harus memerhatikan penampilan.

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua.

Selamat menikmati akhir minggu. Dan setidaknya saya cukup senang mendengar berita dari RRI Ende yang mengabarkan ODP di Ende dari 22 turun hingga 3. Dari 3 ODP, 2 sudah dirumahkan (karantina diri sendiri), 1 masih dirawat di ruang karantina RSUD Ende karena masih balita. Semoga badai ini lekas berlalu ...

#SabtuReview



Cheers.

#PDL Pernah Menikmati Masa Indah Bersama Walkman


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

#PDL Pernah Menikmati Masa Indah Bersama Walkman. Saya sedang di rumah saja, dan suasana sedang hujan. Hujan kadang membawa saya pada memori masa lalu. Jadi ingat dulu sering sumbatin lobang hidung pakai tisu, sering banget nongkrong dan ngopi di kafe, sering sakit kepala kalau melihat Pohon Tua berantakan, sering jalan ke luar daerah tanpa perencanaan, sering melakukan hal-hal gila. Eh, sekarang sih masih sering melakukan hal-hal gila meskipun frekuensinya berkurang drastis. Maklum, sudah uzur. Haha.

Baca Juga: #PDL Komputer Pentium II Andalan yang Dimuseumkan

Dan hari ini saya terbawa pada masa SMP dulu saat pertama kali berkenalan dengan sebuah benda bernama Walkman. Anak-anak zaman sekarang belum tentu tahu soal walkman ini. Haha. Alhamdulillah saya pernah menikmati masa indah bersamanya.

Menurut Wikipedia, Walkman adalah pemutar audio kaset sebagai pemutar audio dan video portabel. Walkman mengubah kebiasaan mendengarkan musik, sehingga seseorang dapat mendengarkan musik di mana saja. Walkman dirilis pada tahun 1979 dengan nama Walkman di Jepang, dan disebut Soundabout di negara seperti Amerika Serikat, Freestyle di Swedia dan Stowaway di Inggris Raya. Peralatan ini dibuat pada tahun 1978 oleh enjiner audio Nobutoshi Kihara untuk mantan ketua Sony Akio Morita, yang ingin mendengarkan musik ketika perjalanan dengan pesawat terbang. Morita tidak menyukai nama "Walkman" dan meminta untuk mengantinya, tetapi dibatalkan ketika pelaksana yuniornya telah memulai penjualannya dengan nama Walkman, sehingga akan mahal ketika diganti.

Mengapa disebut Walkman, mungkin karena orang-orang yang sedang berjalan tetap dapat mendengarkan musik kegemaran mereka. Haha. Asli, itu cuma terjemahan lurus, menurut saya. Yang jelas saya punya Walkman pertama bermerek Sanyo, bukan Sony. Mendengarkan Walkman ini pun harus pakai headset. Kemudian saya dibelikan Walkman yang bisa didengarkan tanpa harus menggunakan headset. Masa SMP saya begitu indah. Hehe. Kaset pita di rumah kami itu diletakkan dalam peti kayu super besar dan kebanyakan memuat musisi kegemaran (alm.) Kakak Toto Pharmantara seperti Iwan Fals, Doel Sumbang, Koes Plus, Fariz RM, Def Lepard, dan lain sebagainya. Setelah itu, saya mulai membeli sendiri kaset pita penyanyi favorit seperti, Trio Libels, Cool Colours, Oppie Andaresta, Java Jive, Slank, Imanez, sampai kompilasi kayak Pesta Rap.

Coba bayangkan:

1. Suasana hujan.
2. Ngemil es puter + alpukat.
3. Pisang mentah digoreng.
4. Dengerin Walkman.
5. Baca Wiro Sableng.

Surganya anak SMP waktu itu!

Baca Juga: #PDL Merawat Bumi Merupakan Bagian dari Merawat Akal

Zaman Walkman kemudian memudar dengan adanya Discman. Pelan-pelan kaset pita sudah tidak ditemukan lagi di toko kaset, berganti CD dan VCD. Padahal saya paling senang sama sampul kaset pita karena pasti memuat semua lirik lagu dalam album tersebut! zaman CD, kemudian VCD, kemudian DVD, menyebabkan pembajakan terjadi tanpa ampun dan menyebabkan begitu banyak musisi merugi. Tapi, yang namanya zaman ... semakin canggih ... ya begitu itu.

Tapi yang jelas, saya pernah menikmati masa indah bersama Walkman. Bagaimana dengan kalian? Komen di bawah. Hehe.

#PDL
#Jum'at



Cheers.

#PDL Pernah Menikmati Masa Indah Bersama Walkman


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

#PDL Pernah Menikmati Masa Indah Bersama Walkman. Saya sedang di rumah saja, dan suasana sedang hujan. Hujan kadang membawa saya pada memori masa lalu. Jadi ingat dulu sering sumbatin lobang hidung pakai tisu, sering banget nongkrong dan ngopi di kafe, sering sakit kepala kalau melihat Pohon Tua berantakan, sering jalan ke luar daerah tanpa perencanaan, sering melakukan hal-hal gila. Eh, sekarang sih masih sering melakukan hal-hal gila meskipun frekuensinya berkurang drastis. Maklum, sudah uzur. Haha.

Baca Juga: #PDL Komputer Pentium II Andalan yang Dimuseumkan

Dan hari ini saya terbawa pada masa SMP dulu saat pertama kali berkenalan dengan sebuah benda bernama Walkman. Anak-anak zaman sekarang belum tentu tahu soal walkman ini. Haha. Alhamdulillah saya pernah menikmati masa indah bersamanya.

Menurut Wikipedia, Walkman adalah pemutar audio kaset sebagai pemutar audio dan video portabel. Walkman mengubah kebiasaan mendengarkan musik, sehingga seseorang dapat mendengarkan musik di mana saja. Walkman dirilis pada tahun 1979 dengan nama Walkman di Jepang, dan disebut Soundabout di negara seperti Amerika Serikat, Freestyle di Swedia dan Stowaway di Inggris Raya. Peralatan ini dibuat pada tahun 1978 oleh enjiner audio Nobutoshi Kihara untuk mantan ketua Sony Akio Morita, yang ingin mendengarkan musik ketika perjalanan dengan pesawat terbang. Morita tidak menyukai nama "Walkman" dan meminta untuk mengantinya, tetapi dibatalkan ketika pelaksana yuniornya telah memulai penjualannya dengan nama Walkman, sehingga akan mahal ketika diganti.

Mengapa disebut Walkman, mungkin karena orang-orang yang sedang berjalan tetap dapat mendengarkan musik kegemaran mereka. Haha. Asli, itu cuma terjemahan lurus, menurut saya. Yang jelas saya punya Walkman pertama bermerek Sanyo, bukan Sony. Mendengarkan Walkman ini pun harus pakai headset. Kemudian saya dibelikan Walkman yang bisa didengarkan tanpa harus menggunakan headset. Masa SMP saya begitu indah. Hehe. Kaset pita di rumah kami itu diletakkan dalam peti kayu super besar dan kebanyakan memuat musisi kegemaran (alm.) Kakak Toto Pharmantara seperti Iwan Fals, Doel Sumbang, Koes Plus, Fariz RM, Def Lepard, dan lain sebagainya. Setelah itu, saya mulai membeli sendiri kaset pita penyanyi favorit seperti, Trio Libels, Cool Colours, Oppie Andaresta, Java Jive, Slank, Imanez, sampai kompilasi kayak Pesta Rap.

Coba bayangkan:

1. Suasana hujan.
2. Ngemil es puter + alpukat.
3. Pisang mentah digoreng.
4. Dengerin Walkman.
5. Baca Wiro Sableng.

Surganya anak SMP waktu itu!

Baca Juga: #PDL Merawat Bumi Merupakan Bagian dari Merawat Akal

Zaman Walkman kemudian memudar dengan adanya Discman. Pelan-pelan kaset pita sudah tidak ditemukan lagi di toko kaset, berganti CD dan VCD. Padahal saya paling senang sama sampul kaset pita karena pasti memuat semua lirik lagu dalam album tersebut! zaman CD, kemudian VCD, kemudian DVD, menyebabkan pembajakan terjadi tanpa ampun dan menyebabkan begitu banyak musisi merugi. Tapi, yang namanya zaman ... semakin canggih ... ya begitu itu.

Tapi yang jelas, saya pernah menikmati masa indah bersama Walkman. Bagaimana dengan kalian? Komen di bawah. Hehe.

#PDL
#Jum'at



Cheers.

5 Cara Sederhana (Saya) Melindungi Diri Dari Virus Corona

Credits: Canva.

5 Cara Sederhana (Saya) Melindungi Diri Dari Virus Corona. Sekitar satu atau dua bulan lalu saya tidak pernah berpikir virus Corona akan touch down di Kabupaten Ende. Maklum, menurut saya pribadi, apa-apa yang terjadi di Ibu Kota Indonesia belum tentu dapat terjadi di Kabupaten Ende yang jaraknya jauh dari pusat kehidupan negara itu. Bahkan ketika Pulau Bali mulai dikabarkan terkena imbas dari virus Corona, saya masih melenggang santai. Kabar sejumlah lokasi di beberapa kota mulai di-lockdown dan himbauan social distancing pun belum membikin saya berjaga-jaga. Sampai kemudian kabar virus Corona touch down di Kabupaten Ende, otak saya mulai bekerja keras. From Wuhan to Ende in, about, two months! Oke, ini bikin ketar-ketir tapi tidak boleh panik, apalagi sepanik orang-orang pada berita-berita yang memburu masker dan hand sanitizer.

Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca

Pemerintah Kabupaten Ende mengeluarkan surat edaran. Rektor Uniflor pun kemudian mengeluarkan surat edaran. Mahasiswa Uniflor dirumahkan. Dosen dan karyawan Uniflor pun dirumahkan. Dan kami dihimbau untuk menaati semua yang telah diatur oleh pemerintah. Jadi, saya sendiri juga mulai menerapkan aturan ini itu baik untuk diri sendiri maupun untuk penghuni Pohon Tua (rumah kami) untuk melindungi diri. Tentu yang saya lakukan ini berdasar pada aturan dan/atau himbauan dan/atau perintah dari pemerintah.

1. Stay at Home


Stay at home atau di rumah saja menghasilkan hashtag #DiRumahSaja. Study from home yang dilakukan melalui e-learning diberlakukan pada semua peserta didik semua jenjang pendidikan di Indonesia. Ada banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk memfasilitasi kegiatan tersebut. Tetapi, bagaimana dengan murid-murid SD dan SMP di desa-desa terpencil? Jangankan telepon genggam, ke sekolah saja ada yang memakai sandal atau bahkan tidak memakai alas kaki. Bukan tugas saya untuk memikirkannya, tetapi mau tidak mau saya memikirkannya juga. Belajar dari rumah jelas berbeda dengan belajar di rumah. Semoga guru-guru di desa-desa terpencil punya solusi untuk mengatasi hal ini. Atau, jika kalian tahu satu dua informasi tentang hal ini, silahkan komen di bawah.

Credits: Canva.

Work from home juga mudah dilakukan oleh para pekerja di kota, terutama kota besar. Internet menjadi solusi untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan dan/atau berkomunikasi dengan sesama rekan kerja dan atasan terkait tupoksi yang masih bisa dikerjakan dari rumah. Tetapi, bagaimana dengan mereka-mereka yang pekerjaannya harus di luar rumah? Petani, pedagang di pasar, pedagang keliling, dan lain sebagainya. Kemarin, Thika Pharmantara membeli bahan makanan mentah pada pedagang keliling. Saya syok. Syok karena kuatir dia keluar rumah dan berinteraksi dengan pedagang yang berkeliling Kota Ende dengan sepeda motornya itu. Syok karena bagaimana jika bahan makanan itu sudah terpapar virus Corona? Bagaimana jika Thika tidak memakai masker saat membelinya? Bagaimana jika Thika lupa mencuci tangan lantas memegang mata, hidung, dan mulut?

Oh la la ... Tapi, kami butuh makan (lauk, pauk), dan si pedagang juga butuh mencari nafkah untuk makan anak isterinya. Sungguh ini dilema.

Seperti masih belum cukup, sepagi tadi Thika dan Melly menggedor pintu kamar saya untuk bertanya: Encim mau pentol goreng? Hah!? Mau donk! Setelah menghabiskan sepiring pentol goreng, masih di tempat tidur, baru saya sadar soal ... bagaimana jika pentol gorengnya sudah terpapar virus Corona? Ha ha ha. Koplaaaaak.

Di luar dari dua kejadian di atas, yang jelas kami lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Stay at home. Iya. 90% kegiatan kami semenjak dikeluarkan surat edaran dilakukan di dan/atau dari rumah. Serta, kami selalu menjaga jarak, karena Pohon Tua cukup luas untuk kami melakukan itu. Satu duduk di sana, satu duduk di sini, satu nangkring di atap, kami masih bisa saling berkomunikasi dan berinteraksi dengan sangat baik. 

Ingat, stay at home!

2. Social Distancing


Stay at home merujuk pada social distancing alias menjaga jarak. Tapi social distancing tidak sama dengan stay at home. Apabila saya terpaksa harus keluar rumah, maka saya harus bisa menjaga jarak setidaknya satu meter dari lawan bicara.

Credits: Canva.

Memang betul, salah satu cara menjaga jarak adalah dengan di rumah saja. Tetapi, seperti yang saya tulis di atas, bagaimana dengan mereka-mereka yang pekerjaannya harus dilakukan di luar rumah? Bagaimana dengan Thika dan Melly yang harus pergi ke mini market, pasar tradisional, atau membeli bahan makanan pada pedagang makanan keliling? Bagaimana dengan para wartawan yang harus mencari berita untuk kita? Harus menjaga jarak. Selain menjaga jarak, tentu harus memakai masker dan wajib mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer.

3. Mencuci Tangan


Saya sudah pernah menulis bahwa mencuci tangan merupakan kebiasaan sehari-hari yang kemudian menjadi kebiasaan 'baru'. Kebiasaan yang paling sering bergema di rumah kami. Tidak peduli siapa pun yang masuk ke rumah, orang itu harus mencuci tangan. Bagi penghuni dan/atau orang-orang yang biasa berada di Pohon Tua, setiap kali masuk rumah mereka meluncur ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Bagi tamu, mau tidak mau kami menyodorkan hand sanitizer.

Credits: Canva.

Si bocah, Yoan, awalnya bandel banget kalau disuruh mencuci tangan, padahal dia itu paling sering masuk-keluar Pohon Tua. Entah pergi ke rumahnya sendiri, entah pergi main, entah dari mana dia. Setelah diberi pengarahan, setelah terus diomeli oleh orang se-Pohon Tua, Yona patuh. Pada akhirnya setiap kali dia masuk rumah, tanpa banyak cing-cong si bocah meluncur ke kamar mandi, mencuci tangan menggunakan sabun. Sama juga dengan saya. Setiap beberapa jam sekali, meskipun di rumah saja, tetap pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan, kemudian membasuh wajah.

4. Memakai Masker dan Kaca Mata


Konon masker menjadi langka. Sama halnya dengan hand sanitizer. Beruntungnya saya punya banyak selendang mini yang sering dijadikan masker dan/atau alas jilbab. Hahaha. Dan si Thika, entah bagaimana caranya, masih bisa membeli masker kain yang bisa dicuci.

Credits: Canva.

Thika dan Melly, setiap kali keluar rumah, selalu memakai kaca mata dan masker. Fungsinya adalah agar mereka punya sekian detik kesadaran untuk menyentuh mata, hidung dan mulut secara langsung dengan tangan saat sedang berada di luar rumah dan/atau saat belum mencuci tangan ketika pulang ke Pohon Tua. Dan kepada mereka berdua saya sering mengingatkan: apa pun yang terjadi, jangan menyentuh mata, hidung, dan mulut sebelum mencuci tangan, terutama jika kalian di luar rumah.

5. Membersihkan Pohon Tua


Jalur-jalur utama orang lalu-lalang di Pohon Tua menjadi perhatian khusus. Mama Sia bertugas untuk lebih rajin mengepel jalur-jalur tersebut, hahaha. Kalau sebelumnya sering banget bilang ke Mama Sia: sudah eeee Mama Sia tir usah terlalu rajin ngepel, ini rumah orang masuk keluar tiap hari. Tapi sekarang: Mama Sia eee jangan lupa ngepel.

Credits: Canva.

Kenapa begitu sih, Teh? Karena pengen saja melakukannya. Karena saya ingin setiap orang di dalam Pohon Tua punya kesadaran akan bahayanya virus Corona, betapa cepat penyebarannya, dan betapa sangat menyusahkannya ketika terpapar.


Keberadaan virus Corona mau tidak mau membikin manusia harus lebih aktif melindungi dirinya sendiri dengan cara-cara yang dianjurkan oleh pemerintah dan/atau WHO. Saya sampai berpikir bagaimana jika virus Corona adalah obat yang diminum Bumi untuk melawan virus keji dan paling bandel bernama Manusia? Haha. Setidaknya virus Corona membikin manusia yang bandel jadi lebih taat. 

Baca Juga: 5 Alasan Saya Menyebut Nuabosi Adalah Tanah Surga

Menulis ini bukan berarti saya sudah pasti kebal dari virus Corona karena kita tidak pernah tahu apa yang menunggu di depan sana. Tetapi sebagai manusia, layaklah saya berbagi pengalaman berdasarkan apa yang diperintahkan oleh pemerintah dan pengalaman di dalam Pohon Tua kepada kalian, bos-bos pembaca blog ini. Hehe. Sebagai manusia, Tuhan sudah melindungi kita dengan akal. Akal itu yang harus dimanfaatkan dalam situasi seperti sekarang ini, salah satunya adalah dengan menaati semua peraturan pemerintah, serta semua peraturan dari pimpinan/pemuka agama. Jadi, jangan pernah beralasan, ini kan kegiatan agama, Tuhan pasti melindungi kita. Iya, Tuhan melindungi kita dengan memberikan akal untuk berpikir dan mencerna, gunakanlah akal itu. Tetap berdo'a pada Tuhan, jelas! Tapi kalau dilarang berkumpul, patuhilah.

Credits: Canva.

See? Sederhana bukan melindungi diri dari virus Corona? Yang penting adalah bagaimana cara kita mengaplikasikan semua perintah/aturan pemerintah untuk kita dalam mengatasi/melindungi diri dari virus Corona. Dan, semua itu harus diimbangi dengan do'a kepada Tuhan.Di dunia ini, ikhtiar harus diimbangi dengan do'a. Kalau kita hanya melakukan salah satunya saja tanpa diimbangi dengan yang lain, entah mau jadi apa. Hehe.

Semoga bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.