Arsip Kategori: Inspirasi

5 Kegiatan New Normal Saya Sebelum New Normal Diberlakukan


5 Kegiatan New Normal Saya Sebelum New Normal Diberlakukan. Saya sudah menulis pos berjudul Sebenarnya Istilah New Normal Bukan Sesuatu Yang New. Dari sudut pandang saya sebagai awam. Karena sejak lahir hingga seterusnya, manusia mengalami atau merasakan atau menjalani yang disebut new normal itu. Silahkan baca pos melalui tautan di atas. Bagi saya pribadi new normal sudah dimulai sejak Maret 2020 saat work from home. Semua yang bukan kebiasaan kemudian menjadi kebiasaan. Senin kemarin new normal mulai diberlakukan, termasuk di Universitas Flores (Uniflor). Kami kembali bekerja seperti hari-hari kemarin tetapi wajib mengikuti protokol kesehatan yang berlaku. Kita ulangi ya: memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun minimal dua puluh detik dan/atau membersihkan tangan menggunakan hand sanitizer sebelum menyentuh wajah (mata, hidung, mulut), menyemprot cairan disinfektan pada benda/tempat sebelum kita menempati atau menyentuhnya, rajin olah raga, minum vitamin (jaga kesehatan tubuh).

Dan jangan lupa, kalau bisa di rumah saja ... ya di rumah saja (selain ke kantor) hehehe.

Baca Juga: 5 Kegiatan Yang Saya Lakukan Saat Di Rumah Saja

Berikut ini ada lima kegiatan new normal saya sebelum new normal diberlakukan Senin kemarin. Sekalian nostalgia prematur bahwa saya pernah menjalaninya sejak Maret 2020 hingga 15 Juni 2020.

Jadi, apa saja 5 kegiatan new normal saya pada masa pandemi Covid-19?

Cekidot!

1. Bangun Tidur Langsung Nyalakan Laptop


Kebiasaan yang benar-benar baru. Sebelum pandemi Covid-19 menyerang, pada hari kerja setiap bangun tidur saya harus menuju kamar mandi untuk mandi dan diteruskan dengan bersiap-siap berangkat kerja. Sejak #DiRumahSaja diberlakukan, setiap bangun tidur di pagi hari saya langsung memencet tombol power laptop. Laptop-nya masih loading, lalu saya ke kamar mandi. Untuk mandi? Tidak. Haha. Mandi bisa nanti. Menghadap laptop artinya bekerja (nge-game kalau pekerjaan sudah selesai). Memangnya apa yang saya kerjakan? Bukannya saya tidak pergi meliput, tidak memotret kegiatan kampus, dan lain sebagainya? Ini yang perlu kalian tahu. Hehe.

Pekerjaan saya di Universitas Flores (Uniflor) memang sebagai tukang cari berita, tukang liput, tukang publikasi. Tapi itu bukan berarti saya semata-mata memperoleh informasi dari 'turun lapangan'. Terima kasih pada internet di mana banyak informasi dan foto yang bisa saya peroleh melalui pesan WhatsApp (WA) untuk kemudian disusun menjadi berita. Selain kegiatan daring, ada juga kegiatan luring. Apabila membutuhkan informasi tambahan seperti pendapat petinggi/pejabat Uniflor, saya bisa memohon pada beliau-beliau melalui WA juga. Alhamdulillah, beliau-beliau sangat kekinian dan sangat membantu. Saya bersyukur karena petinggi/pejabat Uniflor semuanya ramah dan menganggap kami tidak sebagai bawahan tetapi juga sebagai keluarga (adik/kakak) sehingga suasana pekerjaan memang jauh lebih menyenangkan.

Oh ya, bekerja dari rumah artinya bisa memakai pakaian rumah. Hihihi.

Sekarang sih, sejak 15 Juni 2020, sudah kembali bekerja seperti biasa: memakai pakaian kerja dan harus bersepatu haha.

2. Ke Kantor Dua Hari/Kali Seminggu 


Diberlakukannya piket membikin saya punya dua hari penuh di kantor (pada jam kerja) yaitu Senin dan Selasa. Karena tidak ada apel/upacara bendera Senin, maka saya tidak perlu menabrak pintu lemari alih-alih masuk kamar mandi, hahaha. Ada kerinduan untuk apel/upacara bendera Senin, ada kerinduan nongkrong di kantin bersama kakak-kakak lainnya, ada kerinduan merasakan perasaan was-was karena terlambat bangun. Tapi selama Covid-19 masih lalu-lalang, semua harus ditahan. Nah, kalau saya ke kantor, saya berusaha untuk bisa memperoleh sebanyak-banyaknya informasi bakal berita.

Sisi positifnya dari piket-piketan ini adalah: hemat deodorant dan parfum *dikeplak Dinosaurus*.

Sekarang sih, sejak 15 Juni 2020, sudah kembali bekerja seperti biasa: Senin sampai Sabtu.

3. Menjaga Protokol Kesehatan (Ekstrim)


New normal! Protokol kesehatan pada masa pandemi Covid-19 ini harus diterapkan dengan sungguh. Bahkan teman-teman mengatakan saya ekstrim. Setiap kali keluar rumah saya wajib memakai masker, menyiapkan hand sanitizer, dan menyiapkan disinfektan. Disinfektan itu sudah disimpan di wadah bekas parfum jadi bisa disemprot kapan pun saya mau dan/atau merasa 'terancam'. Hehe. Sebelum pegang gagang pintu semprot disinfektan, sebelum duduk meja kursi di kantor semprot disinfektan, bahkan saat hendak pulang dari kantor pun disinfektan saya semprotkan pada sepeda motor Onif Harem dan helem. Saya pikir ini perlu dilakukan karena kita tidak pernah tahu di mana kah Covid-19 berada.

Setiap orang yang masuk ke dalam rumah wajib disemprotkan disinfektan dengan mereka menutup mata dan memutar badan. Ha ha ha. Setelah itu dilanjutkan dengan mencuci tangan di kamar mandi atau memakai hand sanitizer. Cahyadi dan Kahar paling suka ngakak setiap kali mereka datang ke rumah gara-gara disinfektan ini. Dan tentu, kami pun wajib menjaga jarak. Memang ekstrim, tapi itulah apa yang bisa saya upayakan untuk menjaga diri sendiri dan orang lain. Ayo ditiru! Jangan andalkan hand sanitizer saja.

Sekarang sih, sejak 15 Juni 2020, protokol kesehatan tetap berjalan dan tetap (dikatakan sama teman-teman) ekstrim.

4. Berkebun


Ya jelas. Berkebun merupakan salah satu cara untuk mengisi waktu luang saat masih work from home. Selesai mengetik berita, langsung ke kebun mini. Selesai memandikan Mamatua, langsung ke kebun mini. Pokoknya kebun mini yang tidak seberapa itu mendapat perhatian yang sama dengan hal-hal lainnya. Untuk cerita-cerita tentang kebun mini di beranda belakang Pohon Tua, silahkan baca pos-pos berikut ini:

5 Kegiatan Yang Saya Lakukan Saat Di Rumah Saja
Membikin Kebun Mini di Beranda Belakang Pohon Tua
Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy
5 Tanaman Kebutuhan Dapur Ini Sangat Mudah Ditanam

Sekarang sih, sejak 15 Juni 2020, sudah kembali bekerja seperti biasa: berkebun tetap berjalan! Bahkan saya juga kembali menanam bunga-bunga. Hehe.

5. Menonton Video di Youtube


Aaaah kembali lagi ke Youtube sebagai hiburan. Bagi bos-bos yang sering main ke blog ini pasti tahu bahwa saya berhenti menonton televisi. Itu bukan berarti saya sama sekali berhenti menonton video/gambar bergerak haha. Youtube masih menjadi pilihan sebagai pengantar tidur. Upin Ipin, Larva, Oggy, semuanya jelas. Tapi beberapa minggu terakhir saya keranjingan menonton Shaun the Sheep dan Jewel in the Palace. Selain menghibur, keduanya sama-sama meninggalkan makna dan nilai yang sangat dalam bagi penonton. Nanti akan saya ulas tentang keduanya dan alasan saya menonton ulang.


Bagaimana dengan kalian?

Baca Juga: 5 Buku Self Improvement yang Wajib Kalian Baca

Menyoal new normal, kita wajib mematuhinya, untuk memulai kehidupan seperti sedia kala namun dengan memerhatikan protokol kesehatan. Ini bukan masalah siapa yang bertahan dialah yang hidup. Bukan. Ini masalah kepentingan kita masing-masing terutama para pekerja yang menopang perekonomian kehidupan rumah tangga. Cara-cara yang bisa kita lakukan agar tetap bisa bekerja tetapi juga menjaga diri dari Covid-19 adalah menjaga protokol kesehatan. Ingat, selain yang sering kalian lakukan (protokol kesehatan) selalu bawa disinfektan dalam kemasan kecil (botol parfum) agar bisa disemprot kapan pun kalian mau, atau seperti saya, menyemprotnya kapan pun saya merasa 'terancam'. Terlihat sepele tapi menurut saya ini tindakan yang bagus.

Semoga bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.

Ternyata Mudah Membikin Mangkuk Berbahan Koran


Ternyata Mudah Membikin Mangkuk Berbahan Koran. Hampir dua mingguan saya absen dari blog ini, dan itu menimbulkan kerinduan yang teramat sangat. Meskipun sudah berjanji pada diri sendiri untuk nge-blog setiap hari, tetapi ternyata ada masa-masa 'lumpuh'. Waktu yang Allah SWT berikan sehari dua puluh empat jam tidak cukup untuk memenuhi semuanya. Agar tidak depresi *hayah, gaya banget depresi* saya harus memerhatikan skala prioritas. Itu yang diajarkan oleh Bapa (alm.) dan Mamatua. Skala prioritas sangat membantu saya menyelesaikan semua pekerjaan, baik pekerjaan kantor maupun pekerjaan sampingan, dengan baik. Insha Allah. Setelah rentetan pekerjaan itu selesai, akhirnya saya bisa bernafas lega, dan mulai kembali membikin video untuk channel Youtube dan mulai menulis konten blog.

Baca Juga: Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat

Menjelang Lebaran kemarin saya mengajak Melly untuk membikin mangkuk koran. Mangkuk koran ini sudah lama saya ingin membikinnya tapi selalu terkendala ini itu. Akhirnya saya menitipkan Thika dan Melly untuk membeli lem sejenis Weber dan balon. Balon? Yakin? Iya, yakin. Karena memang itu bahan dasarnya. Bagi kalian yang mau membikinnya juga, karena sangat mudah, coba baca sampai selesai.

Apa yang perlu dipersiapkan?

Alat dan bahan:
1. Koran/kertas bekas.
2. Balon.
3. Lem Weber.

Cara membikin:
1. Gunting koran/kertas seukuran dua jari.
2. Tiup balon (besarnya sesuai keinginan).
3. Campurkan lem dengan air secukupnya.
4. Rendam potongan koran di lem, lalu tempelkan pada balon.
5. Jemur hingga kering.
6. Kempiskan balon.
7. Mangkuk koran sudah jadi.

Mudah bukan?

Saya tidak sempat memotret proses membikinnya. Melly pun demikian. Karena tangan kami berlumuran lem. Haha. Harus diingat: untuk memperoleh mangkuk koran yang tebal dan kuat, jangan pelit dengan lem dan harus tiga sampai empat lapis potongan koran. Bahkan ada yang sampai lima lapis untuk memperoleh hasil yang maksimal. Sedangkan untuk penampilan/estetika, mangkuk koran dapat dicat. Saya pribadi memilih untuk tidak mengecatnya agar bahan korannya tetap terlihat. Unik sekali.


Mangkuk koran bisa dipergunakan untuk berbagai keperluan antara lain tempat permen, tempat benang-benang dan jarum, tempat menyimpan segala sesuatu barang-barang mini agar tidak tercerai-berai. Dua mangkuk koran di atas merupakan percobaan pertama. Saya tidak menyangka percobaan pertama langsung sukses. Biasanya bakal gagal dulu. Haha. Alhamdulillah.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Saya selalu suka #RabuDIY. Tema ini tidak saja menjadi media saya berbagi tutorial dan hasil karya bikinan sendiri, tetapi juga sekaligus motivasi saya untuk tidak melupakan dunia DIY yang begitu saya gandrungi. Bahwa, begitu banyak barang bekas maupun barang baru yang bisa dikreasikan untuk menjadi barang lainnya yang punya nilai ekonomi lebih tinggi. Koran bekas mungkin tidak ada artinya bagi sebagian orang tapi bagi saya koran bekas sangat penting untuk dunia DIY. Balon pun demikian, mungkin sebagian orang hanya memanfaatkannya sebagai penghias dekorasi pesta ulang tahun, tapi ternyata balon punya banyak manfaat, termasuk pot dari semen! Nanti ya bakal saya bikin dan menulisnya untuk kalian.

Jadi, tunggu apa lagi? Ayo berkreasi sepuas-puasnya. Mumpung #DiRumahSaja. Hehe.

Semoga bermanfaat!

#RabuDIY



Cheers.

Ngoblog Soal Digital Marketing Bareng Nunik Utami di Live IG


Ngoblog Soal Digital Marketing Bareng Nunik Utami di Live IG. Silahkan baca dulu pos berjudul Mengintip Talkshow Keren a la Blogfam di Live Instagram. Ya, reborn kali ini Blogger Family (Blogfam) betul-betul mantul karena diisi dengan kegiatan talkshow yang dijadwal secara berkala di live Instagram. Baik narasumber maupun host-nya sama-sama anggota Blogfam. Materinya pun luar biasa. Mulai dari kepenulisan buku anak, foto pakai telepon genggam, hingga podcast. Itu berarti anggota Blogfam memang luar biasa karena untuk talkshow bergengsi pun belum perlu mengundang narasumber dari luar Blogfam. Sombong? Tidak. Kenapa sombong? Ini kan kenyataan yang tidak bisa dihindari lagi. Hehe.

Baca Juga: Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online

Sebagai salah seorang anggota Blogfam, saya pun menjadi host pada edisi ke-empat talkshow ini. Sementara itu sampai dengan saat ini talkshow masih berjalan, menghadirkan narasumber-narasumber kece badai tralala yang rugi banget kalau sampai kalian tidak menonton dan berinteraksi. Soalnya selain berbagi informasi ada juga doorprize-nya. Anyhoo mungkin kalian bertanya-tanya apa kaitannya Ngoblog (Ngobrol Bareng Blogfam) sama #SelasaTekno. Sangat berkaitan, gengs. Pertama: Ngoblog dilakukan melalui sistem digital/internet. Kedua: Kak Nunik Utami bicara tentang atau temanya adalah Ditigal Marketing.

Ngoblog waktu itu agak molor karena ternyata di rumah Kak Nunik listrik padam. Sambil menunggu, sambil saya menyapa teman-teman yang sudah siap menunggu materi digital marketing itu.

Berdasarkan hasil talkshow, izinkan saya membikin rangkuman berikut ini.

Pada zaman dahulu kita menjual segala sesuatu secara konvensional/tradisional: di pasar, di toko, dari pintu ke pintu, juga dari mulut ke mulut. Tapi sejak ada internet, kemudian menjamurnya media sosial, tren berjualan pun mengikuti perkembangan zaman (internet). Para pedagang dapat memanfaatkan internet, dalam hal ini media sosial untuk menjual barang dagangan mereka. Media sosial itu antara lain blog, Youtube, Facebook, Instagram, Twitter, Tumblr, dan lain sebagainya. Tidak lupa aplikasi mengobrol seperti WhatsApp, Telegram, dan sebangsanya. Meskipun hanya menjangkau para pengguna internet, tetapi digital marketing sangat ampuh. Ada unsur efektif dan efisiennya. Secara waktu, tentu lebih hemat. Secara biaya, bisa sekalian dengan biaya pribadi menggunakan internet dan tidak perlu membangun toko/kios fisik.

Selain menggunakan media sosial pribadi, para pedagang juga bisa memanfaatkan market place (e-commerce) seperti Lazada, Tokopedia, Blibli, Shopee, hingga Buka Lapak. Caranya: secara umum cukup mendaftarkan toko di market place tersebut dan mengikuti semua syarat yang ditentukan. Kalau tidak salah, sebagai penjual, kita baru boleh menerima uang pembelian barang dari pengelola market place setelah barang yang dikirimkan tiba di tujuan atau diterima oleh pembeli. Kalau saya salah, mohon koreksi.

Digital marketing tidak selamanya bermakna kita/pedagang menjual barang dagangan melalui internet (media sosial). Digital marketing juga bermakna mem-branding diri. Bagi para blogger dan youtuber, branding diri ini penting. Karena sejatinya bagi blogger dan youtuber yang hendak meraih keuntungan dari blog dan channel Youtube, harus pandai 'menjual diri'. Pedagang memang bisa menjual barang dagangan melalui blog dan Youtube, tetapi mereka juga bisa memperoleh keuntungan lain apabila blog dan Youtube-nya dikelola dengan baik. Semua blogger dan youtuber pasti tahu tentang hal ini.

Apakah tren digital marketing akan mengalahkan atau melumpuhkan pasar konvensional? Tentu tidak. Meskipun arah ke digital marketing semakin kuat, seperti beberapa petani menjual hasil panen melalui internet (dikelola oleh Bumdes), tapi begitu banyak orang masih memilih pasar konvensional. Buktinya Pasar Mbongawani Ende masih ramai setiap hari, toko-toko pun demikian, bahkan pedagang buah pinggir jalan masih dikerubuti pembeli. Karena apa? Karena masih banyak pedagang yang tidak menggunakan internet bahkan sama sekali tidak tahu soal internet, dan banyak pembeli yang juga tidak menggunakan internet bahkan sama sekali tidak tahu soal internet. Kata Mamatua, ada seni tersendiri berinteraksi dengan para pedagang di pasar. Seni tawar-menawar! Hahaha.

Jadi itu dia rangkumannya, gengs.

Baca Juga: Mengenal PhotoScape Untuk Keperluan Sunting Foto

Kak Nunik Utami adalah contoh paling nyata yang sukses berkiprah melalui digital marketing. Sebagai penulis buku, ia juga memanfaatkan blog dan media sosial untuk mempromosikan buku-bukunya. Sebagai pedagang hijab, ia memanfaatkan berbagai lini agar hijab dagangannya diburu pembeli. Tetapi ada yang harus dipelajari di sini yaitu pandai melihat peluang dan keinginan pasar. Niscaya berkat doa dan usaha insha Allah sukses. Kapankah itu? Mulai dari sekarang. Karena Kak Nunik tidak menunggu harus sempurna untuk memulai. Saya, kalian, mereka, pun juga harus begitu. Mulailah terlebih dahulu. Segala sesuatunya akan kita ketahui dan pelajari seiring berjalannya usaha.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Piknik Encim and The Gank di Tengah Pandemi Covid-19


Piknik Encim and The Gank di Tengah Pandemi Covid-19. Halo semua! Sudah lama, lama, lama sekali kalian tidak bertemu tulisan baru di blog ini. So sorry, keasyikan sama Horeday jadi lupa ngasih semacam notifikasi pada kalian. Hehe. Yang jelas, saya ingin mengucapkan Selamat Merayakan Idul Fitri bagi teman-teman yang merayakannya, meskipun sudah lewat jauh, dan semoga puasanya pada Bulan Ramadan kemarin betul-betul membersihkan hati dan pikiran saya, kalian, mereka. Insha Allah. Amin.


Baca Juga: Membagi Masker dan Tetap Menjaga Protokol Kesehatan

Sebenarnya sejak tahun lalu saya sudah berencana untuk close house (lawannya open house kan ya, haha). Rencananya Idul Fitri tahun 2020 ini saya bakal mengajak semua penghuni Pohon Tua termasuk Mamasia dan Mamalen untuk pelesir ke Riung. Kalau Riung terlalu jauh, menginap di hotel di Kota Ende pun boleh lah. Intinya kami tidak membikin kue, tidak memasak masakan khas Idul Fitri, serta tidak menerima tamu. Ndilalah, Covid-19 mewujudkan rencana itu *ngakak*. Kami memang tidak ke mana-mana alias #DiRumahSaja sekaligus tidak menerima tamu. Apakah dengan demikian pengeluaran terpangkas? Terpangkas sedikit, karena kami tetap membikin kudapan dan memasak meskipun jumlahnya sangat sedikit. Sesuai jumlah penghuni Pohon Tua dan anggota keluarga besar Pharmantara dan Abdullah Achmad (the only one kakak ipar laki-laki).


Hari kedua Idul Fitri saya pergi (untuk kedua kali) bersilaturahmi ke rumah Abang Nanu Pharmantara bersama Kakak Nani Pharmantara dan suaminya Ka'e Dul. Dari situ tercetus ide untuk piknik keesokan harinya. Selasa! Amboiiii rencana mendadak ini ... apakah terlaksana? Jelas! Melalui WAG Encim and The Gank, semua orang kebagian bekal bawaan. Piknik kali ini agak berbeda karena kami juga membawa tenda. Oh ya, bagi kalian yang penasaran dengan keseruan piknik Encim and The Gank ini, silahkan  nonton video berikut:


Sudah nonton videonya? 

Seru kan?


Nah, pasti ada yang bertanya mengapa kami 'berani-beraninya' piknik di tengah pandemi Covid-19 ini? Pasti kalian betul-betul emosi dengan keluarga kami kan? Hehe. Tidak apa-apa, setiap orang berhak untuk marah pada masa seperti sekarang ini. Inilah yang saya tulis pada deskripsi video tersebut:

Setelah sekian lama akhirnya keluarga besar kami, Keluarga Pharmantara dan Keluarga Abdullah Achmad, memutuskan untuk piknik. Kali ini pikniknya di Kali Nangaba. Meskipun piknik, kami tetap berusaha menjaga protokol kesehatan ya, gengs. Jangan marah atau menyalahkan keluarga kami karena piknik di tengah pandemi Covid-19. Yang perlu diketahui adalah bahwa Kali Nangaba itu panjaaaaang, dan area kering di sekitarnya sangat luas, sehingga jarak antara keluarga kami dengan orang lain lebih dari 10 meter. Tentu kami juga tidak ingin hal-hal buruk menimpa ... Insha Allah. Amin.

Tentu kami semua mengikuti protokol kesehatan yang dianjurkan. Semua kendaraan yang dipakai baik sepeda motor maupun mobil disemprot dengan disinfektan terlebih dahulu. Semua orang, sebelum berangkat, wajib mencuci tangan dengan sabun minimal dua puluh detik dan wajib memakai masker. Di Kali Nangaba (kami jarang menyebut sungai), jarak antara rombongan kami dengan orang-orang lainnya lebih dari sepuluh meter, bahkan lebiiiiiih lagi. Setiap orang tentu tidak mau terinfeksi Covid-19 bukan? 


Saya berharap kalian juga demikian ... masih bisa menikmati kebersamaan dengan keluarga di tengah pandemi Covid-19. Amin.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

Mengintip Talkshow Keren a la Blogfam di Live Instagram


Mengintip Talkshow Keren a la Blogfam di Live Instagram. Saya sudah menulis tentang Blogfam Reborn, tetapi belum sempat dipublis. Nanti deh. Blogger Family (Blogfam) bukan nama baru di kancah komunitas blog Indonesia. Ada beberapa komunitas blogger yang terinspirasi dari Blogfam dan dibangun oleh anggota Blogfam itu sendiri. Meskipun sempat mengalami mati suri namun Blogfam tetap dan akan selalu ada. Kali ini Blogfam kembali dengan inovasi baru yang menurut saya ... sudah seharusnya dilakukan hehe. Karena apa? Karena anggota Blogfam itu hebat-hebat dan bolehlah berbagi cerita, informasi, ilmu, pengalaman, kepada orang lainnya.

Baca Juga: Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online

Meskipun bersifat daring, karena komunitas blogger pasti terjadi atau ada atau dibangun karena daring, tapi Blogfam sudah melaksanakan ratusan kegiatan luring. Itu dulu, ketika level kesibukan setiap anggota belum tiba di nirwana. Haha. Saat ini, setiap anggota super sibuk (termasuk saya, oih), ditambah lagi dengan Covid-19 yang mengharuskan kita lebih sering berada di rumah. Menyikapinya, maka bersingungan dengan Blogfam Reborn, dilakukan kegiatan keren yang tidak mengharuskan anggotanya keluar rumah. Cukup bermodalkan telepon genggam dan pulsa internet, voilaaaaa ...

Talkshow Live Instagram


Talkshow live Instagram dilakukan melalui aplikasi Instagram. Tajuk besar yang diambil adalah NGOBLOG: NGOBROL BARENG BLOGFAM. Kegiatan ini sudah berjalan? Sudah dong! Sudah dua kali malah.



Dan akan berlanjut pada yang berikut ini:



Jangan lewatkan, ya!

Teknisnya?


Nah ini dia, kita bicara tentang #SelasaTekno hehe. Awalnya saya juga bingung karena belum pernah melakukan live Instagram. Setelah saya cari tahu, ternyata mudah saja. Anyhoo, Instagram Live adalah fitur di Instagram Stories yang memungkinkan pengguna untuk mengalirkan video ke pengikut dan terlibat dengannya secara real time. Saat pengguna menyiarkan streaming video langsung di akun mereka, sebuah cincin menyoroti gambar profil mereka di Cerita Instagram untuk memperingatkan pengikut bahwa mereka dapat melihat siaran langsung. Selain itu, kita juga bisa mengundang pengguna Instagram lain bergabung ... makanya dapat tercipta talkshow.

Mudah saja:

Login pada akun Instagram yang akan melakukan live, kemudian setelah live kita bisa mengundang narasumber yang sudah disepakati (tentu sedang daring juga narasumbernya). Selesai.


Bagi kalian yang haus informasi-informasi keren, pastikan untuk mengikuti akun Blogfam di Instagram dan selalu memantau. Rugi lah kalau kalian melewatkan informasi-informasi keren itu. Hehe. Insha Allah akan bisa terus berjalan.

Baca Juga: Ternyata Ada Teknologi Self-Sanitizing Door Handle Loh

Semoga pos ini bermanfaat untuk kalian semua. Ingat selalu pada masa Covid-19 ini jagalah protokol kesehatan. Menjaga jarak (aman), memakai masker, mencuci tangan dengan sabun minimal dua puluh detik dan/atau mencuci tangan dengan hand sanitizer, menyemprot disinfektan. Salam semangat dan salam sehat untuk kita semua.

#SelasaTekno



Cheers.

Menambah Wawasan Bersama Building A Ship While Sailing


Menambah Wawasan Bersama Building A Ship While Sailing. Salah satu buku yang saya baca saat work from home demi menjalankan #DiRumahSaja berjudul Building A Ship While Sailing. Sebuah buku yang dibagikan langsung oleh penulisnya usai kegiatan seminar sekaligus peluncuran buku tersebut di Auditorium H. J. Gadi Djou tanggal 25 Agustus 2017. Sudah lama diluncurkan kenapa baru dibaca sekarang? Karena saya baru saja memperolehnya dari Kakak Shinta Degor. Haha. Dan lumayan juga buku ini dibaca di masa pandemi Covid-19, mengisi waktu, sembari nge-blog dan berkebun mini di beranda belakang Pohon Tua. Dan yang namanya buku, tentu selalu baik untuk dibaca, selama buku itu memang merupakan buku yang bermanfaat.

Baca Juga: Menonton Ulang Suami-Suami Yang Masih Takut Sama Isteri

Bagi kalian yang penasaran, marilah kita kenalan sama buku ini.

Building A Ship While Sailing


Building A Ship While Sailing ditulis oleh S. D. Darmono, Chairman Jababeka Group. Buku bersampul hitam dengan foto sang penulis ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia. Sebanyak 222 halaman kita tidak saja disuguhi bermacam teori tetapi juga quote menarik, serta foto-foto. Menurut S. D. Darmono, judul buku ini diinspirasi oleh Prof. Dr. Emil Salim beberapa tahun lalu ketika meresmikan Botanical Garden yang dibangun Jababeka di Cikarang, Bekasi. Sambil bergurau Prof. Dr. Emil Salim mengatakan, kita ini membangun negeri seperti membangun kapal sambil berlayar.

Pengantar buku ditulis oleh Prof. Dr. Komarudin Hidayat, Ketua Tidar Heritage Foundation (THF). Menurut beliau:

Setelah membaca buku ini, kita akan semakin mengenal kesungguhan dan kedalaman berpikir Mas Darmono untuk mengabdikan diri kepada bangsanya. (Hidayat dalam Darmono, 2017:xvii).

Terhitung 10 Bab tersaji dalam Building A Ship While Sailing. Dan saya memaknainya sebagai pelajaran tentang sejarah membangun negeri dari banyak aspek. Perjuangan tidak akan pernah berhenti.

Bergerak Maju Tanpa Melupakan Sejarah


Pada bab-bab awal Building A Ship While Sailing pembaca diajak menelusuri sejarah bangsa ini. Mulai dari Indonesia di zaman purba, nusantara di era Mahapahit, kemudian Indonesia dan kesultanan, hingga meluruskan pandangan tentang pribumi. Membaca tentang keteladanan tokoh bangsa membikin jiwa patriot dalam diri saya memberontak pula. Apa yang sudah saya lakukan untuk Indonesia? Hiks. Tahunya cuma berkoar-koar di media sosial, mengeluh tentang hal-hal yang tidak penting. Sedangkan Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, hingga John Lie Tjeng Tjoan, alias Jahja Daniel Dharma; satu-satunya milisi Indonesia keturunan Tionghoa yang meraih pangkat Laksamana Muda dan diberikan gelar Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia.

Mengapa sejarah dan tokoh-tokoh besar bangsa diulas di dalam Building A Ship While Sailing? Karena tidak ada yang namanya depan tanpa belakang. Tidak ada yang namanya masa depan tanpa sejarah. Seperti ... apakah itu masih disebut putih bila tidak ada hitam? Kira-kira seperti itulah. Pembaca diajak untuk memahami tentang pembangunan bangsa ini sejak awal mula, simpang-siurnya kondisi pada zaman perjuangan dulu, hingga perjuangan tak kenal ampun para tokoh besar bangsa ketika Indonesia diproklamirkan merdeka, bagaimana Indonesia harus bergaul dan bergaung di dunia/global, bagaimana sebuah kapal yang belum sempurna harus mengarungi lautan yang ganas. Ya, bagaimana kemudian kapal ini terus bertahan di lautan ganas tersebut.

Wisata budaya merupakan poin yang paling saya soroti dari Building A Ship While Sailing. Ulasannya lengkap dan luas. Menurut Darmono, pariwisata merupakan salah satu sektor utama yang harus mulai dikembangkan dan dikelola dengan sangat serius untuk meningkatkan pendapatan regional dan nasional di Indonesia. Ada beberapa alasan mendasar kenapa pariwisata harus ditempatkan sebagai salah satu sektor penting pembangunan ekonomi. Alasan yang pertama tidak terlepas dari perubahan dunia. Dunia tengah memasuki gelombang revolusi ketiga setelah dua revolusi sebelumnya, yakni revolusi politik dan revolusi industri. Revolusi ketiga ini berlangsung pada wilayah teknologi komunikasi-informasi dan transportasi. Situasi ini memberikan pengaruh yang sangat besar pada dunia pariwisata.

Sangat setuju!

Memulai Tidak Menunggu Sempurna


Ini garis besar yang saya tangkap setelah membaca Building A Ship While Sailing. Bagaimana kita memulai tanpa menunggu sempurna. Saya contohkan diri sendiri yang dulu ketika hendak berhijab selalu punya pernyataan: kumpulkan pakaian lengan panjang dan aneka hijab dulu, baru berhijab. Sampai kapan? Entah. Oleh karena itu pada suatu pagi saya menyingkirkan pernyataan sinting itu dan mulai berhijab. Hijrah yang terasa begitu menyenangkan karena justru setelah dilakukan, justru berjalan dengan mulus. Kendalanya ada ... kalau jilbab yang hendak saya pakai ternyata masih basah. Hahaha.


Baca Juga: Inilah Bukti Bahwa Takut Tidak Butuh Penampakan Setan

Bagaimana, kawan? Tertarik untuk membaca buku Building A Ship While Sailing juga? Silahkan. Saya jamin kalian tidak akan menyesal. Wawasan pasti bertambah. Apa yang saya tulis cuma sebagian kecil dari nilai-nilai yang diperoleh usai membacanya. Berjuanglah, blended dengan kondisi sekarang, dan naikkan layar meskipun kapal kalian belum sempurna terbentuk. Percayalah, banyak pelajaran yang bisa kita peroleh selama perjalanan ini dan pengalaman itu dapat menjadi penyempurna perjalanan.

Semoga bermanfaat.

#SabtuReview



Cheers.

#PDL Mempromosikan Universitas Flores di Pulau Sumba


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

***

#PDL Mempromosikan Universitas Flores di Pulau Sumba. Saat ini Universitas Flores (Uniflor) sedang dalam tahap mempromosikan kampus dan menerima pendaftaran calon mahasiswa baru. Pada saat seperti ini saya selalu teringat masa-masa menjadi tim promosi Uniflor. Salah satunya adalah pergi ke Pulau Sumba. Pulau sabana. Pulau berjuta kuda. Pulau dengan adat dan budaya yang sangat kental di setiap jengkalnya. Kalau ditanya apakah saya ingin kembali ke Pulau Sumba? Tentu! Tidak saja untuk menyaksikan kembali Pasola, tetapi juga untuk mengkesplor setiap sudutnya. Semoga.







Pernah, saya pernah melakukannya, dan ingin melakukannya lagi. Bekerja sambil #KakiKereta. Semoga Covid-19 lekas berlalu agar kita bisa jalan-jalan lagi. Amin YRA. Hehe.

#PDL



Cheers.

5 Tanaman Kebutuhan Dapur Ini Sangat Mudah Ditanam


5 Tanaman Kebutuhan Dapur Ini Sangat Mudah Ditanam. Halo semua. Masih #DiRumahSaja? Tentu. Sudah mulai bosan? Jangan dong. Hehe. Bosan bisa bikin stres. Stres adalah salah satu sumber penyakit. Mari kita lawan kebosanan akibat Covid-19 dengan berkebun. Rajin-rajinlah menonton video berkebun di Youtube karena itu bisa menjadi sumber inspirasi berkegiatan selama masa karantina ini. Berkebun merupakan salah satu upaya untuk ketahanan pangan setidaknya ketahanan pangan di dalam rumah sendiri. Kalau kalian menonton serial The Walking Dead, kalian pasti tahu bahwa untuk mengatasi urusan makan dan minum, para penyintas itu berkebun dan memelihara ternak (babi) demi kelangsungan hidup mereka di tengah kepungan para zombie. Mungkin kalian bahal bilang, ini terlambat! Harusnya berkebun dilakukan sejak dulu sehingga sekarang, pada masa Covid-19, kita tinggal meneruskan dan bahkan memanen. Tapi bukankah lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali?

Baca Juga: 5 Manfaat, 5 Tips, 5 Quotes, dan Pos Rangkuman Lainnya

Berkebun tidak membutuhkan lahan besar berhektar-hektar. Namanya berkebun mini. Dilakukan di rumah. Lain cerita kalau kalian mempunyai pekarangan yang luas depan, belakang, samping kanan dan kiri dari rumah, tentu bakal banyak banget tanaman yang bisa ditanam sembari mengisi waktu ketika pekerjaan yang dilakukan di dan/atau dari rumah sudah selesai. Saya sendiri juga tidak punya lahan (tanah/pekarangan) yang banyak, sehingga memanfaatkan polybag merupakan pilihan tepat. Tanah yang diisi di polybag diperoleh dari Abang Umar Hamdan dan Cahyadi. Ada juga tanah dari pekarangan samping Pohon Tua (dekat jalan). Yang penting adalah keuletan dan ketekunan merawat tanaman-tanaman tersebut, termasuk memberi pupuk dan menyemprot cairan anti hama, serta memberi kesempatan kepada tanaman disentuh sinar matahari untuk perkembangannya.

Berkebun di masa Covid-19 merajalela ini harus melihat-lihat juga tanaman mana yang lekas tumbuh dan bisa dikonsumsi. Kalau kita memilih menanam pepaya, misalnya, tentu tidak bisa lekas panen dalam tempo minggu atau tiga bulan. Pepaya setidaknya membutuhkan waktu sampai sembilan bulan untuk bisa dipanen. Oleh karena itu, pintar-pintar memilih tanamannya ya. Kali ini saya bakal menulis tentang lima tanaman kebutuhan dapur yang sangat mudah ditanam dan boleh dibilang jangka waktu panennya cukup cepat. 

Marilah kita cari tahu!

1. Sorgum


Bagaimana bisa sorgum tumbuh di tanah sisa beranda belakang Pohon Tua yang cuma sebesar 1 x 1 meter itu, kalian bisa membaca pos berjudul Panen Sorgum Untuk Pertama Kalinya Sungguh Bikin Happy. Sorgum merupakan tanaman yang sangat mudah ditanam. Gali tanah, isi bibit sorgum, biarkan saja. Dalam waktu sebulan saja sudah mulai kelihatan bibitnya tumbuh. Jangan salah, penampakan pohon sorgum ini mirip pohon jagung tapi mereka berbeda. Hehe. Dalam waktu tiga bulan, sorgum sudah bisa dipanen. Bagaimana cara memanennya, kalian bisa membaca pos di atas, atau menonton video berikut ini: 


Sorgum yang sudah dipanen itu dirontokkan bulirnya, lantas dijemur. Bisa juga dijemur baru dirontokkan bulirnya. Tinggal pilih mana yang paling gampang. Saya mencoba mengelola biji sorgum ini. Pertama-tama digoreng layaknya jagung bunga. Bisakah? Bisa! Jadinya: sorgum bunga. Karena waktu itu hanya mencoba, ya tidak banyak ... hehe.


Keesokan harinya tiga genggam sorgum kami coba tanak layaknya menanak nasi menggunakan panci (bukan di magicom). Ternyata ... bisa! Amboi, bahagianya saya melihat sorgum itu di piring. Langsung saya tata, untuk keperluan foto, dengan bahan apa pun yang ada di meja karena saat itu si Thika masih memasak lauk-pauk bekal makan malam. Hehe. 


Tak ada daun sop, cabe ijo pun jadi *ngakak guling-guling*.

2. Cabe


Cabe termasuk tanaman kebutuhan dapur yang dimanfaatkan sehari-hari untuk membikin sambal. Tanpa tomat pun, cabe yang diulek bercampur garam dan bawang sudah bisa menemani nasi yang kita makan. Sejak ditanam, cabe mulai berbuah dan bisa dipanen/dipetik dalam jangka waktu yang lumayan singkat sekitar satu sampai dua bulan, dan seterusnya selama dia terus berbunga maka insha Allah berbuah.


Menanam cabe bukan baru pertama kali bagi saya. Dulu saya juga menanamnya dan setelah tumbuh besar hampir setiap hari kami menikmati cabe hasil tanam sendiri ini. Bibit cabe dibeli di Toko Sabatani. Saya suka sekali sama toko ini karena semua kebutuhan berkebun tersedia. Yang jelas, harus bawa duit! Haha. Pada foto di atas ada pohon cabe rawit dan pohon cabe keriting yang juga sudah berbuah. Dua anakan cabe ini saya peroleh dari Cahyadi.

3. Kangkung


Kangkung merupakan tanaman yang paling mudah tumbuh dan paling cepat dipanen. Bahkan, kalian tidak perlu membeli bibit kangkung, cukup memanfaatkan batang-batang kangkung yang daunnya sudah dipakai/dimasak. Tidak percaya? Kangkung yang kalian lihat pada gambar berikut ini merupakan hasil dari menanam kembali batang kangkung yang daunnya sudah kami konsumsi loh.


Dari saat menanam sampai dipanen hanya membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga minggu. Lumayan cepat kan? Saat ini saya juga sedang menanam kangkung tapi bukan batangnya melainkan bibitnya. Dari video di Youtube ada bermacam cara menanam bibit kangkung. Katanya bibit harus direndam terlebih dahulu dengan air sebelum ditanam. Oleh karena itu kami mencoba dua cara. Pertama: bibit langsung ditanam pada media tanam di polybag. Kedua: bibit direndam terlebih dahulu dengan air sebelum ditanam pada media tanam di polybag. Nanti kita lihat hasilnya. Mana yang duluan tumbuh. Soalnya baru dilakukan/ditanam kemarin.

4. Bawang Merah


Menanam bawang merah saya lakukan hanya karena ikut-ikut, gara-gara melihat video di Youtube. Cara menanamnya atau membudidayakannya pun bermacam-macam. Saya lantas mencoba menanam beberapa bawang di polybag yang ukurannya agak besar. Saya menanamnya pada tanggal 17 April kalau tidak salah. Saya pikir, sepertinya bawang ini tidak bakal tumbuh karena naga-naganya bakal tamat. Eh, tetapi suatu pagi saya dikejutkan dengan pertumbuhan daun bawangnya! Amboiiii ... bahagia hati saya melihatnya.


Gara-gara itu, saya kembali mencoba menanam bawang dengan teknik lain yaitu semacam hidroponik tapi ini yang super sederhana saja. Awalnya juga saya pikir bakal tamat generasi penanaman kedua ini. Tetapi ternyata ... tumbuh. Bawang ini saya tanam sekitar awal Mei.


Kalau kalian lihat ada penampakan kulit telur, iya, saya menghancurkan kulit-kulit telur dan menyiramnya di tanah tempat tanaman tumbuh. Apa manfaat kulit telur bagi tanaman ... nanti bakal saya ulas haha.

5. Toge


Toge (tauge) merupakan sayuran yang tidak perlu ditanam, sebenarnya, tetapi kalau kalian mau bolehlah menanam bibit kacang ijo (hijau). Hanya bermodalkan kacang ijo kemasan 5K kami bisa menikmati toge selama dua hari (dibagi dua).


Membikin toge sangat mudah. Tinggal direndam, lantas dibiarkan saja di wadah dengan ditutup kain. Hasilnya seperti yang kalian lihat di atas.


Selain lima tanaman di atas, ada juga bibit sawi yang kami tanam. Tetapi karena salah menanam, di mana saya menanam dalam jumlah banyak per polybag, sebagiannya mati, sebagiannya hidup. 


Katanya sawi sudah bisa dipanen setelah usia satu sampai dua bulan. Mungkin karena media tanam waktu itu belum dicampur bokasi, dan cara menanam yang salah, makanya sudah sebulanan lebih sawinya tetap begitu-begitu saja, alias pertumbuhannya sangat lambat. Tapi tidak mengapa. Ini menjadi pembelajaran bagi saya untuk ke depannya. Setidaknya sawinya tetap tumbuh meskipun sangat lambat.

Baca Juga: 5 Kegiatan Yang Saya Lakukan Saat Di Rumah Saja

Berkebun memang sangat menyenangkan terutama pada saat sekarang di mana kita lebih banyak berada di rumah. Setiap pagi saya selalu dikejutkan dengan perubahan tanaman-tanaman ini (saat mereka mulai tumbuh besar). Tanaman-tanaman yang sudah besar saya letakkan di luar beranda yang tidak beratap sedangkan yang masih kecil dikeluarkan setiap pagi dan dimasukkan kembali setiap sore. Tidak lupa untuk menyiramnya pagi dan sore, tapi tidak sama takaran air untuk setiap tanaman. Dikira-kira saja lah. 

Semoga bermanfaat!

#KamisLima



Cheers.

Produk DIY Bertebaran di TK Uniflor dan Kober Yapertif


Produk DIY Bertebaran di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Kalau kalian membaca pos kemarin, Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online, tentu kalian tahu bahwa kemarin saya berkegiatan di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Sambil bekerja, mata saya memerhatikan ruang-ruang kelas yang ditata apik di mana ada pemilahan: area drama, area sains, area balok, dan lain sebagainya. Dinding-dinding ruang kelasnya dipenuhi gambar antara lain gambarnya murid-murid dan tulisan bergambar seperti pohon tema. Selain rak-rak berisi buku, juga ada kardus berisi aneka permainan edukatif dan meja tempat memajang aneka permainan dan hasil kerajinan tangan murid-murid. Bagi saya, tempat pendidikan anak ini sangat instagenic. Manapula tembok panjang (tembok taman bermain) di depan jejeran kelas dipenuhi lukisan tokoh-tokoh kartun.

Baca Juga: Jangan Dibuang, Tutup Botol Plastik Mempunyai Banyak Manfaat

Menjadi guru TK dan guru Kober tentu harus kreatif. Senin kemarin waktu merekam footage bahan pembelajaran online-nya Ibu Gin (setelah merekam Ibu Efi), pada tema ajar rumah adat kan sudah ada rumah adat yang digambar (selain maket rumah adat), Ibu Efi berinisiatif mengumpulkan daun-daun kering bakal digunakan untuk ditempel bagian atap dan dindingnya, dan dipraktekkan oleh Ibu Gin. Ini kan super kreatif. Merangsang otak anak-anak untuk lebih kreatif, sekreatif guru mereka. Iya, saya kagum sekali pada mereka.

Kembali lagi pada tema hari ini #RabuDIY, maka ijinkan saya membagitahu kepada kalian bahwa di TK Uniflor dan Kober Yapertif bertebaran produk-produk DIY yang membikin saya berkata: wow! Saya harus menulis tentang ini.

Boneka Benang Wol


Benang wol dapat kita manfaatkan untuk berbagai kerajinan tangan. Saya pernah menulis Gelang Berbahan Benang Wol Yang Mudah Dibikin Sendiri. Umumnya orang-orang tahu benang wol sebagai bahan dasar membikin kerajinan tangan kristik. Selain benang wol, menyulam kristik juga membutuhkan media yaitu kain kristik, gambar (ada buku gambar khusus kristik ini), dan sebagian orang membutuhkan pemidang. Selain kristik, benang wol dimanfaatkan untuk merajut: membikin topi, kaos kaki bayi, bahkan gelang anyaman (bukan gelang seperti yang saya bikin tetapi ini lebih rumit). Benang wol juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan lilitan botol-hias. Macam-macam manfaat benang wol ini.

Di TK Uniflor dan Kober Yapertif saya menemukan kerajinan tangan dari benang wol, tanpa repot membikinnya. Ini dia penampakannya:


Asli, saya terkejut. Ternyata bisa juga benang wol dibikin boneka tanpa harus repot ini itu. Tinggak menyatukan dua benang wol, dikasih dasi dari benang wol lainnya, dikasih mata dan hidung. Jadi deh. Sepertinya saya ingin mencoba membikinnya juga. Imut dan unik ... bikin gemaaaaas. Seru juga kalau untuk rambut dipakaikan benang wol warna hitam hehehe. Tunggu tanggal mainnya! Saat ini saya masih serius mengurus kebun mini di beranda belakang Pohon Tua dulu ya. Hehe.

Boneka Berbahan Karton/Kardus Bekas


Saat sedang merekam footage bahan pembelajaran online-nya Ibu Efi, Pak Beldis datang membawa boneka berbahan kardus bekas yang dipakaikan pakaian adat Ende yaitu lawo lambu/zawo zambu. Awalnya boneka ini tidak mempunyai wajah, hanya kepala begitu saja. Tetapi tak berapa lama Pak Beldis kembali datang dan menempel wajah pada bonekanya! Amboiiiii kreatifitas seorang guru jangan diuji. Ha ha ha. Cantik kan bonekanya?


Sumpah! Bibir saya sudah hampir bilang: bonekanya untuk saya saja, yaaaaa. Hehe. Bagus sekali ini kalau dijadikan pajangan di rumah. Kebayang kan kalau di ruang tamu ada rak kayu yang memajang boneka-boneka hasil karya sendiri alias hasil DIY. Bangga. Itu pasti. Manapula unik begitu. Sungguh, saya terpesona.


Masih banyak produk DIY lain di TK Uniflor dan Kober Yapertif. Selain dua boneka di atas, saya juga melihat begitu banyak hiasan gantungan yang dibikin sendiri oleh guru-guru di sana yang mempercantik ruang kelas. Bahannya yang sederhana saja alias bisa juga dari barang daur ulang seperti sedotan dan gelas plastik yang digunting sedemikian rupa menjadi lebih cantik, lantas disatukan dengan benang dan dijadikan hiasan gantung. Saya juga melihat media pembelajaran seperti pasir, batu, dan air. Ini menarik. Selain mengenal benda alam, batu juga dimanfaatkan untuk belajar berhitung para murid.

Baca Juga: Membikin Pajangan Cantik Berbahan Beras dan Kulit Kerang

Nah, bagian pasir, batu, dan air ini saya lupa nama areanya apa (kan ada area drama, area sains, area balok, dan lain sebagainya) tapi cantik sekali lantainya diletakkan aneka benda alam seperti itu. Nanti deh kalau ke sana lagi bakal saya foto hahaha. Maklum, memerhatikan sekeliling dilakukan sambil melaksanakan pekerjaan utama.

Bagaimana, kawan. Tertarik ingin membikin boneka seperti dua gambar di atas? Yuuuuk ... tidak pernah merugi mencoba hal-hal bermanfaat.

#RabuDIY



Cheers.

Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online


Guru TK Pun Harus Menyiapkan Materi Pembelajaran Online. Selain Universitas Flores (Uniflor), Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif) juga menaungi dua lembaga pendidikan anak yaitu TK Uniflor dan Kober Yapertif. Lembaga pendidikan anak itu tidak hanya Taman Kanak-Kanak (TK) saja. Ada yang disebut Kelompok Bermain (Kober). Keduanya sama-sama lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Bedanya, ada pada regulasi yang mengatur tentang TK dan Kober ini. Pasal 28 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional berbunyi sebagai berikut:

Ayat (1):
Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar.

Ayat (2):
Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.

Ayat (3):
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-kanak (TK), Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

Ayat (4):
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

Ayat (5):
Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

Ayat (6):
Ketentuan mengenai pendidikan anak usia dini sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Baca Juga: Ternyata Bisa Juga Saya Membikin Video Tutorial Blogging

Rentang usia anak untuk Kober antara 2 s.d. 4 tahun. Rentang usia anak untuk TK antara 4 s.d. 6 tahun (sampai cukup usia memasuki bangku Sekolah Dasar). Sedangkan Taman Pendidikan Anak (TPA) biasanya untuk anak berusia 0 s.d. 2 tahun. Adanya TPA sangat membantu orangtua yang baik Bapak maupun Mama bekerja di luar rumah karena anak tidak saja mempunyai teman bermain tetapi juga diberikan pendidikan-pendidikan dasar oleh para pengelola TPA. Kalau begini saya jadi ingat dua buku yang ditulis oleh Mas Bukik Setiawan yang berjudul Anak Bukan Kertas Kosong dan Bakat Bukan Takdir.

Fast forward, saya dan Om Ihsan Dato ditugaskan untuk membikin video profil TK Uniflor dan Kober Yapertif. Tentu dalam masa pandemi Covid-19 akan sangat sulit mengumpulkan anak-anak, manapula anak-anak (dan lansia) kan sangat rentan. Alhamdulillah banyak footage video lama yang masih kami simpan dan bisa dipakai; anaknya Om Ihsan kan juga bersekolah di TK Uniflor. Selain itu kami juga ditugaskan untuk membikin video materi pembelajaran online. Ini yang asyik, karena inilah inti tulisan saya hari ini.

Senin kemarin, kebetulan jadwal piket saya menjaga gawang di kantor (Senin dan Selasa), saya bertugas merekam video pembelajaran online untuk murid TK Uniflor. Ketika sampai di lokasi, dua guru yang sudah siap direkam adalah Ibu Efi dan Ibu Gin. Maka, kami bertiga ditemani Kepala Sekolah Ibu Ross pergi ke ruang kelas untuk keperluan ini. Tentu menjaga protokol kesehatan yaitu menjaga jarak dan memakai masker. Tetapi ketika saya merekam, guru yang bersangkutan tidak memakai masker karena jarak antara saya (dan kamera) dengan guru yang sedang mengajar lebih dari satu meter. Lebih jauh dari jarak protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Sedangkan saya sendiri tetap memakai masker dan beberapa kali membasuh tangan dengan hand sanitizer. Hahaha.

Ibu Efi memulai terlebih dahulu. Pura-puranya di dalam kelas juga ada murid, sebenarnya tidak ada. Haha. Ini akting tapi based on true story. Kenapa harus pura-pura ada muridnya? Supaya Ibu Efi mengajarnya lebih rileks seperti hari-hari normal. Dimulai dari menyapa anak-anak, bernyanyi memuji dan berterima kasih pada Tuhan, dan berdo'a. Lalu Ibu Efi mulai mengajarkan materi/tema yaitu tentang angka, warna, dan bendera. Pindah ke kelas selanjutnya saya merekam Ibu Gin. Dengan pembuka yang hampir sama dan materi/tema yaitu tentang rumah adat, membikin mozaik rumah adat, bendera, Presiden dan Wakil Presiden, hingga daerah Ende. Meskipun perkiraan saya hasilnya nanti setiap video materi pembelajaran hanya berdurasi sekitar lima sampai delapan menit, tapi proses syutingnya memakan waktu lebih dari dua jam. Iya, karena selain ada yang harus diulang, beberapa hal juga harus dipersiapkan terlebih dahulu.

Footage video pembelajaran itu sedang saya persiapkan untuk disunting dan nantinya akan diunggah di akun Youtube TK Uniflor dan Kober Yapertif untuk dipelajari oleh murid dari rumah mereka masing-masing.

Kawan, saya pernah membikin pernyataan: NGEMSI DI ACARA ULTAH ANAK-ANAK 1000 KALI LEBIH SULIT KETIMBANG NGEMSI DI ACARA ORANG DEWASA. Karena apa? Karena saya harus punya banyak trik agar anak-anak patuh dan mengikuti acara hingga selesai. Mereka dapat bersenang-senang bersama saya sebagai pembawa acara. Itulah sebabnya saya kagum sekali pada guru-guru TK dan Kober di mana pun mereka berada karena merekalah tumpuan awal pendidikan dan akhlak seorang anak! Memposisikan diri sebagai murid TK Uniflor saat merekam aksi dua guru tersebut di atas mengajar, saya terharu sekali. Membayangkan Mamatua dulu juga mengajar murid SD ... tentu harus punya trik, pun harus banyak gaya. Terberkatilah kalian wahai para guru. Saya sayang kalian semua.

Baca Juga: Ternyata Ada Teknologi Self-Sanitizing Door Handle Loh

Mau tidak mau, Covid-19 mengubah banyak hal di dunia ini, termasuk belajar anak-anak. Bagi anak-anak yang orangtuanya mempunyai akses yang baik untuk internet, tentu ini perkara mudah, karena mereka dapat menonton materi pembelajaran online di Youtube bersama anak. Tetapi bagaimana dengan orangtua yang sulit dengan akses internet dan bahkan listrik di daerahnya pun belum tersedia? Apakah mereka juga menjalankan sistem pembelajaran online atau e-learning ini? Tentu tidak. Lantas, bagaimana caranya? Ini yang saya tidak tahu karena belum pernah berkomunikasi atau bertanya-tanya pada guru-guru di desa/kampung. Semoga ada kesempatan melakukannya.

Bagaimana dengan di daerah kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen.

#SelasaTekno



Cheers.