Ketika Keberadaanmu Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri

Gambar diambil dari: Wikipedia.

Ketika Keberadaanmu Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri. Kalimat itu belum selesai. Kelanjutannya terungkap tidak melalui satu dua kata melainkan satu pos utuh! Penasaran kan? Makanya, dibaca sampai selesai #SabtuReview kali ini, ya! Hehe.

Baca Juga: Segudang Tanda Tanya Setelah Menonton Shutter Island

#SabtuReview kali ini masih datang dari lini filem. Buku, mana buku? Ada memang buku yang saya baca demi beberapa urusan pekerjaan tapi bukunya berjudul Tindak Pidana Terhadap Kehormatan Pengertian dan Penerapannya, Pidana Penghinaan adalah Pembatasan Kemerdekaan Berpendapat yang Inkonstitusional, Tindak Pidana Pers (Penyerangan Terhadap Kepentingan Hukum yang Dilindungi dengan Mempublikasikan Tulisan), dan Kamus Hukum. Kalian pasti bakal ngelempari saya pakai bakiak kalau sampai me-review buku-buku tersebut. Haha. Kecuali ada yang me-request khusus, Insha Allah saya review *ngikik*.

Jadi, filem apa yang saya bahas? Yuk simak!

Missing Link


Missing Link, dirilis tahun 2019 tepatnya bulan April, merupakan filem jenis animasi stop-motion yang ditulis dan disutradarai oleh Chris Butler dan diproduseri oleh Laika bekerja sama dengan Annapurna Pictures. Pengisi suaranya antara lain Hugh Jackman, Zoe Saldana, Emma Thompson, Stephen Fry, David Walliams, Timothy Olyphant, Matt Lucas, Amrita Acharia, dan Zach Alifianakis. Ya, itu yang tertulis di Wikipedia.

Setelah dirilis, filem ini mendapat banyak tanggapan positif dari para kritikus yang memuji tentang set filem yang dibuat dengan indah dan suasana yang menyenangkan dan santai.

The Missing Link


Filem ini dibuka dengan adegan pencari makhluk mitos bernama Sir Lionel Frost sedang berada di atas sampan bersama asistennya yaitu Mr. Lint untuk menemukan dan mengabadikan monster monster sejenis loch ness. Dan mereka gagal. Kamera yang telah memotret si mosnter hancur bersama sampan yang berkeping-keping di laut, dihancurkan oleh si monster. Mr. Lint mengundurkan diri sebagai asisten Sir Lionel Frost karena tidak ingin hidupnya berakhir terlalu cepat. Pada saat itulah Sir Lionel Frost membaca surat dari seseorang yang mengabarkan tentang keberadaan makhluk yang disebut Sasquatch.

Demi bisa bergabung dengan komunitas orang-orang hebat yang dipimpin oleh Lord Piggot-Dunceby, Sir Lionel Frost akan membuktikan bahwa Sasquatch ini betul ada. Dan dia memulai perjalanannya untuk mencari si makhluk mitos.

Awalnya saya berpikir pencarian si makhluk ini yang bakal lama ... ternyata. Cepat saja perjalanan Sir Lionel Frost ke Pasific Northwest, menemukan Sasquatch di hutan, terkejut karena Sasquatch ini ternyata bisa bicara! Tidak hanya itu, Sasquatch juga yang mengirimkan surat itu kepada Sir Lionel Frost. Kemudian Sasquatch diberi nama Link, senada sama nama asisten lamanya Sir Lionel Frost yang bernama Lint.

Dari cerita Link, bisa disimpulkan dia adalah the real missing link dari kerabat jauhnya yang hidup di Himalaya. Kerabat jauh si Link ini adalah yeti, makhluk mitos yang dikejar banyak orang juga. Sayangnya Sir Lionel Frost tidak tahu bahwa untuk menghalangi maksud dan tujuannya, Lord Piggot-Dunceby menyewa pembunuh bayaran yaitu Stenk. Sadis ya haha. Setuju membantu Link, perjalanan pun dimulai dengan pertama-tama mencuri peta lokasi Shangri-La di kediaman Adelina Fortnight yang adalah mantan pacarnya Sir Lionel Frost. Ndilalah Adelina pun ikut dalam perjalanan ke Himalaya.

Perjuangan demi perjuangan menghindari Stenk, hubungan Frost - Link yang kemudian menjadi lebih baik setelah diintervensi Adelina, serta sulitnya medan yang ditempuh, membawa mereka ke lembah Shangri-La. Mereka memang menemukan Kuil Yeti yang terhubung dengan dataran di sebelahnya melalui jembatan es. Link alias Susan (iya dia memilih nama ini dalam obrolan bersama Sir Lionel Frost di kapan) sangat bahagia. Tapi ...

Link, Sadis Ditolak Oleh Kaum Sendiri


Ratu dengan wajah bengis itu ternyata menolak keberadaan Link dan menjebloskan mereka bertiga ke penjara bawah tanah. Sementara itu ketika mereka berhasil meloloskan diri, malah terjebak di tengah jembatan karena di hadapan mereka telah menunggu Lord Piggot-Dunceby beserta asistennya dan Stenk. Nyawa jadi taruhan. Tapi pada akhirnya jembatan rubuh, Lord Piggot-Dunceby jatuh bersama runtuhan jembatan, Stenk berusaha menyelamatkan diri tetapi tetap saja menyusul Lord Piggot-Dunceby. Sir Lionel Frost, Link, dan Adelina pun selamat.

Keluarga Bukan Hanya Darah


Filem ini mengajarkan pada saya banyak hal. Salah satunya adalah keluarga bukan hanya darah. Buktinya, si Sasquatch yaitu Link yang masih kerabatnya yeti saja ditolak oleh Ratu Yeti. Padahal mereka masih satu lingkaran! Sedangkan Sir Lionel Frost dan Adelina yang tidak punya hubungan apa-apa dengan Link kemudian menjadi 'keluarga'nya si tautan yang hilang ini. Menulis ini saya jadi ingat meme yang sering muncul di time line Facebook: Kalau kau miskin, kau dijauhi - Kalau kau kaya, kau punya banyak saudara. Alias, banyak yang bakal mengakuimu sebagai saudara. Haha. Masa iya? Iya juga kali ya. Dan percaya tidak percaya hal-hal semacam ini terjadi pula dalam kehidupan kita dan/atau orang-orang di sekitar kita.

Saya tidak saja punya banyak teman tapi juga punya banyak saudara karena teman-teman adalah saudara. Apakah mereka harus kaya raya baru diakui sebagai saudara? Tidak lah. Cuma orang-orang lemah saja yang begitu. Haha. Siapapun kalian, kalau berteman dengan saya, ya sudah saya anggap saudara sendiri. Susah senang kita bersama.

Pelajaran lain yang saya petik dari filem Missing Link adalah tentang perjuangan. Hasil tidak pernah mengkhianati perjuangan. Dalam filem ini, Link memang tidak berhasil berkumpul dan tinggal bersama kerabat jauhnya itu, tetapi dia akhirnya hidup bebas dan bahagia bersama Sir Lionel Frost dalam petualangan-petualangan mereka mencari makhluk mitos. Itulah hasil yang dicapai: bebas dan bahagia.

Membikin Missing Link


Baru-baru ini saya menonton di Youtube tentang proses membikin filem animasi stop-motion yang ternyata asyik sekali! Lebih asyik lagi, video dari channel-nya Insider itu mengulik proses membikin filem Missing Link!



Aaaah ternyata begitu toh proses bikin animasi stop-motion.

⇜⇝

Bagaimana, kawan? Seru kan? Membaca review-nya seru. Menonton proses membikin animasi stop-motion juga seru. Melihat setiap divisi dengan pekerjaan kreatifnya masing-masing itu membikin saya lupa waktu. Nontonnya pun berulang-ulang. Bagaimana mereka mengubah set demi set itu, pergerakannya, pengisian suara (dubbing), sampai membikin banyak wajah dengan ekspresi berbeda, sungguh luar biasa. Kita bisa menyaksikan hasil akhirnya dalam filem Missing Link.

Baca Juga: The Willis Clan

Missing Link mungkin bakal mengingatkan kalian pada Shaun The Ship. Hehe. Yang jelas, selamat menikmati weekend.



Cheers.

5 Program KKN Uniflor Keren Dalam Pengabdian Masyarakat


Musim Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2019. Musim meliput hingga ke luar Kota Ende. Musim bersenang-senang bersama Onif Harem. Musim paling rajin mengganti oli di bengkel sampai digodain sama mas-masnya: olinya diminum sebagian kan(?). Musim pamer foto jalan-jalan. Haha. Yang jelas, belum musim liburan, meskipun kesannya jalan-jalan terus. Ini kerja, bung! Bung ... kuuuussss.

Baca Juga: 5 Kegiatan Kece Menyongsong Dies Natalis 39 Uniflor

Sejak mulai diberikan tugas untuk meliput kegiatan peserta KKN di berbagai daerah di Pulau Flores, saya sudah mulai pula mengumpulkan satu per satu program kerja yang menurut saya keren. Program kerja ini, selain KKN reguler (disebut begitu sih biasanya), ada yang memang termasuk dalam KKN-Tematik, ada pula KKN-PPM. KKN-PPM baru terlaksana tahun 2019 ketika proposal-proposal yang diajukan oleh P3KKN Uniflor lolos di Kemenristek Dikti untuk menerima dana hibah. Dana hibah ini bukan dipakai untuk keperluan dan kepentingan mahasiswa loh yaaaa, melainkan dipakai untuk menjalankan program kerja yang telah disusun dan/atau diusulkan untuk keperluan dan kepentingan masyarakat itu sendiri.

Dalam bidikan saya, ada 5 program KKN Uniflor keren dalam pengabdian kepada masyarakat. Mari simak!

1. Bangun Rumah


Ingat program televisi tentang bedah rumah? Di KKN Uniflor ada yang namanya bangun rumah. Bangun rumah dilakukan oleh kelompok KKN kelas pekerja (mahasiswa yang sudah bekerja). Tahap awal adalah mencari satu rumah yang tidak lagi layak huni di lokasi yang termasuk dalam lokasi KKN tahun bersangkutan. Inisiasi dilakukan dengan petinggi wilayah setempat seperti kepala desa dan/atau lurah beserta tokoh masyarakat. Si pemilik rumah kemudian diberitahu dan saat KKN tiba, pembangunan rumah pun dilakukan. Saya pernah menyaksikan sendiri pembangunan rumah Mama Sisi di Kecamatan Lepembusu Kelisoke. Luar biasa. Sampai mata berkaca-kaca melihatnya.

2. Penyuluhan


Penyuluhan terdengar tidak asing dan pasti sering dilakukan bukan? Tapi penyuluhan yang dilakukan murni oleh mahasiswa, terutama mahasiswa hukum, adalah sesuatu yang sangat luar biasa menurut saya. Bagaimana masyarakat diedukasi tentang pentingnya memahami tentang dunia hukum, yang paling sederhana pun, itu sangat bagus. Saya pernah meliput kegiatan ini di SMP Muhammadiyah Ende oleh mahasiswa KKN 2018.

3. Belajar Pertanian


Ini penting, terutama bagi masyarakat pedesaan yang rata-rata mempunyai lahan pertanian baik itu sawah maupun kebun. Saya melihat bagaimana mahasiswa KKN-PPM melakukannya di Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko. Rata-rata mahasiswa yang ditempatkan di lokasi ini pun berasal dari Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Uniflor. Demikian pula dengan Dosen Pendamping Lapangan (DPL). Kegiatan mereka antara lain membuat pupuk bersama masyarakat hingga mengelola lahan. Ausam. Perlu diketahui, Uniflor mempunyai lahan luas sebagai kebun percontohan dan/atau tempat prakteknya mahasiswa Prodi Agroteknologi. Kita akan lihat hasil akhirnya nanti seperti apa. Yang jelas, pasti bakal saya pos.

4. Bangun Rumah Baca


Yang satu ini, juga poin nomor 3 dan 5, sama-sama KKN-PPM. Rumah baca tersebut dibangun di Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Proses pembangunan rumah baca dimulai dengan ritual adat oleh tokoh masyarakat dan/atau tokoh adat, tentu bersama para petinggi desa yaitu Kepdes, Sekdes, hingga Ketua PBD-nya. Setelah ritual, dilakukan peletakan batu pertama, dan rumah baca tersebu sedang dalam proses pembangunan (saat saya menulis ini). Semoga saya bisa ke sana saat peresmiannya! Ada yang mau menyumbang buku anak-anak? Yuk sumbang ke rumah baca baru di Desa Ngegedhawe!

5. Psikoedukasi


Awalnya saya bingung dengan istilah ini, tapi internet menyediakan segalanya. Jadi ringkasnya, psikoedukasi adalah pola/cara mengajak masyarakat dan/atau bersama-sama masyarakat mengenali apa permasalahan yang dihadapi selama ini, kemudian dicarilah solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Ini dilakukan di Desa Anaraja, Kecamatan Nangapanda, Kabupaten Ende. Hasilnya pun nanti pasti saya  pos. Ingin tahu perubahan dan penguatan dalam tubuh masyarakat setelah KKN-PPM ini seperti apa.

⇜⇝

Yang juga keren adalah, para peserta KKN pasti terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan adat yang dilaksanakan di desa. Kapan lagi bisa merasakan dan terjun langsung? Saya sendiri pernah merasakan dan mengikuti ritual adat Goro Fata Joka Moka 2016, serta menyaksikan perlombaan Naro (tarian adat Suku Ende, kalau Suku Lio menyebutnya Gawi). Menjelang 17-an, bakal lebih banyak lagi kegiatan yang akan dilaksanakan/dilakukan masyarakat tentu bersama-sama dengan mahasiswa yang KKN di lokasi mereka.

Baca Juga: 5 Wisata Dalam Kota Ende

Bagaimana dengan daerah kalian, kawan? Sudah memasuki Bulan Agustus ... persiapannya sudah mulai kencang dooonk hehehe. Bagi tahu yuk!



Cheers.

Pesanan Barang DIY yang Berkembang Biak dan Senada


Pesanan Barang DIY yang Berkembang Biak dan Senada. Suatu kali Ibu Ayu Sulaeman, cucuk pemilik Rumah Makan Bangkalan yang kesohor se-Flores, yang juga punya rumah makan sendiri serta dikenal sebagai dosen Fakultas Hukum, memesan keranjang berbahan koran bekas yang bisa dipakai untuk menyimpan berbagai barang. Boleh dibilang ini adalah pesanan keranjang pertama. Untuk warnanya pun saya belum memakai cat minyak melainkan setiap pipa koran/kertas tersebut dibungkus menggunakan kertas kado. Masih ingat pos berjudul Kertas-Kertas Kado Menarik dan Lucu Pendukung Proyek DIY? Selain memproduksi tempat tisu, salah satu barang lainnya adalah keranjang pesanan Ibu Ayu tersebut.

Baca Juga: Mangkuk Serbaguna Berbahan Celana Jin Bekas

Saya tidak menyangka keranjang tersebut diletakkan di meja rias di kamarnya. Ausam sekali hahaha. Bangga gitu. Menjadi semakin bangga dan semakin makan puji (istilah Orang Ende nih) ketika Ibu Ayu memesan lebih banyak barang DIY/daur ulang yang menjadi teman setia keranjang pertama tadi dan semuanya bernuansa hijau. Mulai dari tempat tisu yang gambarnya bisa kalian lihat di awal pos, organizer sisir dan peniti, sampai keranjang mini untuk menyimpan arloji/jam tangan. Ini dia penampakannya ketika semuanya sudah menghuni meja rias:


Keren gitu melihatnya ya.

Ternyata membikin pesanan yang berkembang biak dan senada warnanya ini pernah menjadi rutinitas yang membikin saya lupa waktu. Asyik juga kalau kertas kado pada satu barang, kemudian warnanya dipadukan dengan cat-minyak pada barang lainnya. Hijau-hijau menggoda begitu hehe. Tantangannya ada pada cat-minyak yang warnanya harus dicampur dengan warna lain untuk menghasilkan satu warna pilihan. Misalnya hijau tua dicampur putih atau hitam.

Dari pesanan Ibu Ayu ini, dan karena hebatnya media sosial membagi ragam informasi yang kita pos, datanglah pesanan lain dari Kaprodi dan Sekprodi Akuntansi di Fakultas Ekonomi. Hasilnya bisa kalian lihat di bawah ini:



Seperti yang kalian lihat, ada pesanan keranjang besar serbaguna dan desk-organizer. Desk-organizer ini sebenarnya mau diletakkan di meja rias juga. Ceritanya Ibu Dewi dan Ibu Aini memesan desk-organizer yang bisa untuk menyimpan sisir dan segala barang lainnya, tapi yang ada juga tempat untuk menyimpan/menusuk pentul. Saya sih tinggal bikin sesuai permintaan ibu berdua hehe. Dan Alhamdulillah hasilnya memuaskan. Ibu Dewi suka warna hijau, Ibu Aini suka warna merah.

Belum berhenti sampai di situ, suatu kali Ibu Ina juga memesan beberapa barang dengan, harus, kertas kado yang sama. Jangan berbeda satu pun! Keranjang ulir (sayangnya keranjang ulir tidak ada di gambar di bawah ini), tempat tisu, dan desk-organizer. Ini saja, saya kok berat banget mau menukarnya dengan Rupiah karena cantik hahahaha.


Terima kasih, semuanya, sudah memesan barang-barang daur ulang ini di saya hehehe. Semoga akan tetap terus memberi manfaat! Amin.

Baca Juga: Ruang Tamu DIY

Saya sendiri masih pengen bisa membikin rangkaian barang-barang DIY yang bisa diletakkan di kamar antara lain keranjang besar, keranjang kecil, desk-organizer, wall-organizer, yang semuanya satu warna. Apa daya, kesibukan yang menggempur tidak bisa ditoleransi seperti tahun-tahun lalu. Bisa memenuhi janji untuk tetap meng-update blog saja sudah syukur bukan main, terutama karena saya memang pengen bisa menulis setiap hari, untuk blogwalking ... hiks. Jadi dalam sehari itu, setelah pulang kantor langsung menulis blog, setelah itu langsung membuka lembar kerja baik itu yang di Word maupun Sony Vegas, sampai malam hari.

Tapi saya janji pada Bang Day, Kakak Ella Fitria, Nassirullah Sitam, Ummu, dan kawan blogger lain yang masih sering ke sini ... I will kunjung balik. Hehe. 



Cheers.

Terminal Stopkontak Ini Bisa Berotasi dan Mengecas HP


Terminal Stopkontak Ini Bisa Berotasi dan Mengecas HP. Bagaimana kalian menyebutnya? Saya biasa menyebutnya kabel roll atau terminal colokan. Seringnya sih kabel roll. Seperti apapun bentuknya; bundar, persegi, persegi panjang, nama yang benar adalah terminal stopkontak stop kontak antara kau dan aku hahaha. Terima kasih Andi Sadam untuk penjelasannya. Ingat, ya, namanya terminal stopkontak. Dan kali ini di #SelasaTekno mari bicara tentang terminal stopkontak canggih yang satu ini.

Baca Juga: Belajar di Luar Ruangan Bukan Masalah Dengan Nika Chair

Sebelumnya, perlu diketahui, semua foto/gambar di pos ini diambil dari YankoDesign. Jadi saya tidak perlu menjelaskan sumber gambar per gambar. Setuju? Setuju dooonk. Hehe.

Wall-Ti Tap Power Strip


Itu namanya. Wall-Ti Tap Power Strip. Benda canggih ini didesain oleh Eunsang Lee. Berbeda dari terminal stop kontak yang kita kenal dan/atau pakai sehari-hari, Wall-Ti Tap Power Strip lebih unik dan kece. Di mana letak keunikannya? 

Pertama, bentuknya persegi dengan lubang di bagian tengah seperti donat. Adakah donat segi empat? Ada donk, kakak ipar saya sering bikin donat segi empat, tentu dengan lubang di bagian tengahnya.  Hehe. Lihat gambar berikut:


Selain dapat diletakkan di meja, bisa juga digantung. Oleh karena itu, saya menyebutnya unik. 

Bagian dalam Wall-Ti Tap Power Strip, dapat berotasi sehingga memudahkan penggunanya. Misalkan kita sudah menghubungkan satu perangkat ke Wall-Ti Tap Power Strip, untuk menghubungkan steker lainnya tinggal diputar saja. Bayangkan kalau kita harus memasukkan steker ke bagian atas, seringnya sulit, diputar saja jadi tetap bisa dicolok pada bagian bawah (yang kosong, setelah diputar).

Mengisi Daya Baterai Tanpa Kabel


Ini penting. Barang seperti terminal stopkontak kalau hanya dipakai seperti fungsi utamanya saja kan biasa. Untuk apa membeli Wall-Ti Tap Power Strip kalau bisa membeli terminal stopkontak yang umum dijual di toko? Wall-Ti Tap Power Strip dapat mengecas atau mengisi daya telepon genggam, tanpa kabel. Untuk melakukannya, tinggal letakkan telepon genggam di bagian atasnya:



Whoaaaa ausam sekali!

Baca Juga: Tungku Kemping Mini yang Praktis dan Keren

Hanya saja saya belum mendapat infomasi lebih jelasnya tentang Wall-Ti Tap Power Strip ini, apakah sudah dijual bebas ataukah baru prototype. Atau, jangan-jangan ada dari kalian yang sudah punya barang ini di rumah? Hyuuuuu jadi iri hehe.

Bagaimana menurut kalian, kawan? Canggih dan keren kan?



Cheers.

Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling


Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling. Dalam rangka ulang tahun Universitas Flores (Uniflor) yang ke-39 (19 Juli 2019 kemarin), Fakultas Teknologi Informasi (FTI) menggelar lomba vlog dengan tema pariwisata, khususnya wisata alam Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lomba vlog memang baru pertama kali digelar di Uniflor untuk memberi variasi dari lomba-lomba yang umum diselenggarakan seperti lomba di lini akademik, lini olah raga, maupun di lini seni tarik suara.

Baca Juga: Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya

Saya memang tidak terlibat langsung dalam kepanitiaan tetapi turut membantu, meskipun tidak banyak, saat inisasi awal. Misalnya tentang kriteria vlog yang harus dipenuhi oleh para peserta. Karena saya diminta untuk turut menjadi juri lomba ini.


Selain saya, ada dua orang lainnya yang juga menjadi juri yaitu Alan dari Rafa Media Creative dan Ihsan Dato. Keduanya sehari-hari berkecimpung di dunia video, baik video kreatif yang dipos di Youtube, maupun video dokumentasi ragam kegiatan di Pulau Flores. Kualitasnya jangan ditanya lagi. Hehe. Lantas, bagaimana dengan saya? Bukankah orang mengenal saya sebagai blogger bukan vlogger? Ya saya memang lebih dikenal sebagai blogger karena semakin ke sini semakin jarang 'turun lapangan' karena sudah diwakili oleh videografer lain yaitu Cahyadi. Artinya? Artinya saya belum pensiun dari dunia videografi *kedip-kedip*.

6 Peserta Dengan 6 Video Kreatif


Kamis, 8 Agustus 2019, penjurian dilakukan di ruang dosen FTI. Ada enam peserta yang mendaftar. Enam peserta ini sudah lebih dari cukup mengingat lomba vlog baru pertama kali dilakukan di Uniflor untuk tingkat SMA dan Perguruan Tinggi, dan hadiahnya belum mencapai belasan hingga puluhan juta. Jangan dibandingkan dengan lomba vlog yang digelar oleh kementrian, misalnya. Tapi ini merupakan langkah awal yang bagus untuk kegiatan-kegiatan serupa di masa yang akan datang. Saya yakin, akan banyak lomba vlog yang digelar kelak oleh Uniflor.

Kriteria penilaian kami bukan dari device yang digunakan. Zaman sekarang device itu hanya penunjang. Peserta boleh memakai telepon genggam, camcorder, DSLR, hingga drone. Karena device ini terkait faktor kebiasaan saja. Ingat istilah the man behind the gun? Kriteria penilaian antara lain:

1. Memenuhi semua persyaratan yang diumumkan.
2. Kesesuaian vlog dengan tema.
3. Teknis: alur, penyuntingan, kesesuaian audio visual.
4. Pesan yang tersampaikan dengan jelas.

Enam peserta ini ada yang berasal dari SMA di Kota Ende seperti SMAK Syuradikara, ada pula mahasiswa dari Uniflor. Dari luar Kabupaten Ende juga ada antara lain dari Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Ngada termasuk mahasiswa dari UKI Ruteng. Video yang mereka kirimkan, menurut saya, bagus-bagus, kreatif, menarik, dan NTT banget. Hanya saja rata-rata banyak yang fokus pada video sehingga kurang memikirkan audio terlebihi balance antara natural sound, vlogger dan/atau narator, dan backsound. Padahal ini cukup penting agar pesan tersampaikan ke penonton. Karena vlog tidak hanya tentang gambar tetapi juga suara.

Ibarat Sedang Traveling


Ya, memang demikian adanya. Tempat-tempat yang disuguhkan dalam enam video tersebut bikin saya merasakan ibarat sedang traveling! Air Terjun Cunca Lega, air terjun dua tingkat di Kabupaten Manggarai membikin teringat Cunca Wulang di Kabupaten Manggarai Barat yang pernah saya kunjungi Mei 2014 silam. Air Panas So'a di Kabupaten Ngada membikin saya teringat Kolam Air Panas Ae Oka di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Bukit Zeda Zamba di Kota Ende yang membikin saya teringat Bukit Watunariwowo di Kabupaten Ngada. Pulau Sabu, membikin saya teringat pada traveling-list yang belum terpenuhi. Hehe.

Bukit Zeda Zamba ini unik. Ternyata, Abang Ooyi pernah menulisnya dalam pos Zeda Zamba Sebuah Kota yang Hilang (2). Silahkan dibaca. Banyak orang yang sudah tiba di puncaknya dan memamerkan foto-foto ciamik dari puncaknya. Kalau tidak salah bukit itu juga sering disebut Bukit Rodja. Dari Kota Ende, bukit itu memang semacam tidak terlihat karena terhalang Gunung Meja. Lokasinya berada diantara Gunung Meja dan Gunung Ia dengan medan yang cukup berat untuk didaki. Bagi orang-orang muda yang kuat, itu bukan masalah. Bagi saya ... itu masalah *ngakak*.

Menjuri lomba vlog tidak jauh beda juga dari menulis blog tentang wisata. Informatif itu hukumnya fadhu'ain. Nama tempat wisatanya, lokasinya, jarak tempuh dari kota terdekat, hingga transportasi yang digunakan. Informasi penting lainnya seperti jika ada biaya masuk berapakah harga tiketnya, musim/bulan apa yang baik datang ke lokasi tersebut, adakah pedagang makanan dan minuman, adakah pedagang cinderamata, dan lain sebagainya. Inilah informasi-informasi penting yang harus disampaikan selain obyek wisata itu sendiri.

Overall, saya menyukai semua video tersebut.

⇜⇝

Harapan saya, semakin banyak lomba vlog yang digelar. Karena apa? Karena vlog juga merupakan kekuatan Indonesia menawarkan pesona wisatanya kepada orang luar (buleeee). Vlog juga salah satu bentuk promosi gratis; terutama para travel vlogger yang mengunggah video mereka ke Youtube. Di satu sisi vlogger bisa memperoleh duit jajan dari me-monetize akun Youtube mereka, di sisi lain pariwisata Indonesia terpublikasikan/promosi gratis.

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe

Yang jelas, siapapun pemenang lomba vlog ini, saya hanya bisa mengucapkan selamat! Pengumuman resmi akan dikeluarkan oleh panitia penyelenggara. Terus berkarya, selalu kreatif, dan terus sebarkan kebaikan kepada semua orang!



Cheers.

Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling


Menjuri Lomba Vlog Tentang Wisata Ibarat Sedang Traveling. Dalam rangka ulang tahun Universitas Flores (Uniflor) yang ke-39 (19 Juli 2019 kemarin), Fakultas Teknologi Informasi (FTI) menggelar lomba vlog dengan tema pariwisata, khususnya wisata alam Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Lomba vlog memang baru pertama kali digelar di Uniflor untuk memberi variasi dari lomba-lomba yang umum diselenggarakan seperti lomba di lini akademik, lini olah raga, maupun di lini seni tarik suara.

Baca Juga: Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya

Saya memang tidak terlibat langsung dalam kepanitiaan tetapi turut membantu, meskipun tidak banyak, saat inisasi awal. Misalnya tentang kriteria vlog yang harus dipenuhi oleh para peserta. Karena saya diminta untuk turut menjadi juri lomba ini.


Selain saya, ada dua orang lainnya yang juga menjadi juri yaitu Alan dari Rafa Media Creative dan Ihsan Dato. Keduanya sehari-hari berkecimpung di dunia video, baik video kreatif yang dipos di Youtube, maupun video dokumentasi ragam kegiatan di Pulau Flores. Kualitasnya jangan ditanya lagi. Hehe. Lantas, bagaimana dengan saya? Bukankah orang mengenal saya sebagai blogger bukan vlogger? Ya saya memang lebih dikenal sebagai blogger karena semakin ke sini semakin jarang 'turun lapangan' karena sudah diwakili oleh videografer lain yaitu Cahyadi. Artinya? Artinya saya belum pensiun dari dunia videografi *kedip-kedip*.

6 Peserta Dengan 6 Video Kreatif


Kamis, 8 Agustus 2019, penjurian dilakukan di ruang dosen FTI. Ada enam peserta yang mendaftar. Enam peserta ini sudah lebih dari cukup mengingat lomba vlog baru pertama kali dilakukan di Uniflor untuk tingkat SMA dan Perguruan Tinggi, dan hadiahnya belum mencapai belasan hingga puluhan juta. Jangan dibandingkan dengan lomba vlog yang digelar oleh kementrian, misalnya. Tapi ini merupakan langkah awal yang bagus untuk kegiatan-kegiatan serupa di masa yang akan datang. Saya yakin, akan banyak lomba vlog yang digelar kelak oleh Uniflor.

Kriteria penilaian kami bukan dari device yang digunakan. Zaman sekarang device itu hanya penunjang. Peserta boleh memakai telepon genggam, camcorder, DSLR, hingga drone. Karena device ini terkait faktor kebiasaan saja. Ingat istilah the man behind the gun? Kriteria penilaian antara lain:

1. Memenuhi semua persyaratan yang diumumkan.
2. Kesesuaian vlog dengan tema.
3. Teknis: alur, penyuntingan, kesesuaian audio visual.
4. Pesan yang tersampaikan dengan jelas.

Enam peserta ini ada yang berasal dari SMA di Kota Ende seperti SMAK Syuradikara, ada pula mahasiswa dari Uniflor. Dari luar Kabupaten Ende juga ada antara lain dari Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Ngada termasuk mahasiswa dari UKI Ruteng. Video yang mereka kirimkan, menurut saya, bagus-bagus, kreatif, menarik, dan NTT banget. Hanya saja rata-rata banyak yang fokus pada video sehingga kurang memikirkan audio terlebihi balance antara natural sound, vlogger dan/atau narator, dan backsound. Padahal ini cukup penting agar pesan tersampaikan ke penonton. Karena vlog tidak hanya tentang gambar tetapi juga suara.

Ibarat Sedang Traveling


Ya, memang demikian adanya. Tempat-tempat yang disuguhkan dalam enam video tersebut bikin saya merasakan ibarat sedang traveling! Air Terjun Cunca Lega, air terjun dua tingkat di Kabupaten Manggarai membikin teringat Cunca Wulang di Kabupaten Manggarai Barat yang pernah saya kunjungi Mei 2014 silam. Air Panas So'a di Kabupaten Ngada membikin saya teringat Kolam Air Panas Ae Oka di Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende. Bukit Zeda Zamba di Kota Ende yang membikin saya teringat Bukit Watunariwowo di Kabupaten Ngada. Pulau Sabu, membikin saya teringat pada traveling-list yang belum terpenuhi. Hehe.

Bukit Zeda Zamba ini unik. Ternyata, Abang Ooyi pernah menulisnya dalam pos Zeda Zamba Sebuah Kota yang Hilang (2). Silahkan dibaca. Banyak orang yang sudah tiba di puncaknya dan memamerkan foto-foto ciamik dari puncaknya. Kalau tidak salah bukit itu juga sering disebut Bukit Rodja. Dari Kota Ende, bukit itu memang semacam tidak terlihat karena terhalang Gunung Meja. Lokasinya berada diantara Gunung Meja dan Gunung Ia dengan medan yang cukup berat untuk didaki. Bagi orang-orang muda yang kuat, itu bukan masalah. Bagi saya ... itu masalah *ngakak*.

Menjuri lomba vlog tidak jauh beda juga dari menulis blog tentang wisata. Informatif itu hukumnya fadhu'ain. Nama tempat wisatanya, lokasinya, jarak tempuh dari kota terdekat, hingga transportasi yang digunakan. Informasi penting lainnya seperti jika ada biaya masuk berapakah harga tiketnya, musim/bulan apa yang baik datang ke lokasi tersebut, adakah pedagang makanan dan minuman, adakah pedagang cinderamata, dan lain sebagainya. Inilah informasi-informasi penting yang harus disampaikan selain obyek wisata itu sendiri.

Overall, saya menyukai semua video tersebut.

⇜⇝

Harapan saya, semakin banyak lomba vlog yang digelar. Karena apa? Karena vlog juga merupakan kekuatan Indonesia menawarkan pesona wisatanya kepada orang luar (buleeee). Vlog juga salah satu bentuk promosi gratis; terutama para travel vlogger yang mengunggah video mereka ke Youtube. Di satu sisi vlogger bisa memperoleh duit jajan dari me-monetize akun Youtube mereka, di sisi lain pariwisata Indonesia terpublikasikan/promosi gratis.

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe


Juara I ~ Veronika Raymond
SMAK Syuradikara Ende
Judul: Wisata Alam di Ende

Juara II ~ Irena Juniarti Veranda Rea
SMAK St. Fransiskus Xaverius Ruteng
Judul: Air Terjun Cunca Lega Ruteng

Juara III ~ Chriakus Hendra Pola Nea
Fakultas Bahasa dan Sastra Uniflor
Judul: Pulau Raijua Anak Dara dari Selatan Indonesia

Yang jelas, siapapun pemenang lomba vlog ini, saya hanya bisa mengucapkan selamat! Kalian layak jadi jawara. Terus berkarya, selalu kreatif, dan terus sebarkan kebaikan kepada semua orang!



Cheers.

5 Ide Pemanfaatan Ruang Serba Sempit di Rumah Tipe 36

Sumber: Mas Chandra.

5 Ide Pemanfaatan Ruang Serba Sempit di Rumah Tipe 36. Kredit rumah? Kenapa tidak? Melihat kemampuan sendiri setiap bulan, mencoba berhitung lebih serius, apa keuntungan apa ruginya, lalu putuskan! Lagi pula rumah tersebut belum tentu langsung dihuni karena bisa pula dikontrak oleh orang lain soalnya sudah punya rumah warisan orangtua hahaha. Kalau urusannya sama kontrak-mengontrak, tentu ada sedikit fee yang masih bisa diperoleh bukan? Jadi, kalau ada yang bertanya tentang mengkredit rumah, tentu saya meng-iya-kan. Manapula tipe rumahnya adalah 36, yang membikin saya seakan telah (padahal belum) mewujudkan impian untuk tinggal di tiny house.

Baca Juga: 5 Lokasi Terdekat Untuk Berwisata Sekitar Kota Ende

Rumah tipe 36 memang kecil. Hanya ada ruang tamu, dua kamar, satu kamar mandi, dan dapur. Halaman belakang-kanan-kiri dikasih space dua meter sedangkan halaman depan tiga meter. Tidak ada ruang makan, tidak ada ruang keluarga, tidak ada perpusakaan mini, tidak ada semua yang sekunder di dalam rumah tipe 36. Oleh karena itu, penghuninya harus bisa putar otak agar semua space di dalam rumah tersebut terpenuhi bahkan satu ruangan punya banyak fungsi.

Ini adalah impian ... jadi jangan tanya fotonya. Haha.

1. Manfaatkan Sofa/Kursi Ruang Tamu Sebagai Tempat Penyimpanan


Berdasarkan menonton segala video tentang konsep rumah mini, hampir semua item yang ada di dalam rumah bisa dijadikan tempat untuk menyimpan barang. Ruang tamu rumah tipe 36 itu kecil kan ya, sehingga tidak mungkin bisa memuat seperangkat sofa yang dibeli di toko furnitur. Paling-paling seperangkat sofa itu akan dipisah agar muat di ruang tamu, sisanya diletakkan di ruangan lain. Tapi permasalahannya sofa yang dibeli di toko furnitur tentu yang itu-itu saja. Jadi, bagi yang ingin tinggal di rumah tipe 36, cobalah pergi ke tukang kayu atau tukang furnitur untuk memesannya langsung. Dikustom.

Semua rumah mini akan memanfaatkan sofa sebagai tempat penyimpanan. Sehingga sofanya akan terlihat seperti kotak dengan tutupan pada bagian atas. Ada yang tutupannya disatukan dengan busa. Ada pula yang tidak; kotak punya tutupan tersediri yang dipasangi engsel, lantas ditutupi lagi dengan busa bersarung. Coba kalian menonton video rumah mini, konsepnya pasti sama seperti itu.

2. Manfaatkan Dinding Ruang Tamu Untuk Menggantung Rak-Rak Buku dan Penyimpanan Kotak Serbaguna


Sayang sekali jika dinding ruang tamu kosong melompong atau hanya dipakai untuk menggantung pigura foto. Alangkah bagusnya dinding ini dipasangi rak-rak gantung untuk menyimpan buku serta kotak-kotak serbaguna lainnya. Satu dua boneka atau patung mungil juga dapat digantung di situ. Selain itu, sudut ruang tamunya pun bisa dimanfaatkan dengan meletakkan rak mini. Pokoknya otak harus bermain indah untuk bisa mewujudkannya.

3. Meja Lipat yang Tidak Tersembunyi tapi Tidak Terlihat


Nah, bingung juga kan? Haha. Separuh ruang tamu dapat dimanfaatkan sebagai ruang kerja sekaligus ruang makan. Caranya adalah gunakan meja lipat! Saat tidak digunakan si meja bisa dilipat ke dinding dan menjadi lukisan atau hiasan dinding. Saat mau digunakan, tinggal dibuka (pakai penyangganya). Keren kan? Kalau area meja ini belum digunakan, bisa dipakai untuk tidur-tiduran beralas karpet.

4. Tempat Tidur Dengan Laci


Ini yang bakal saya wujudkan dalam waktu dekat. Haha. Sudah ngobrol-ngobrol dengan Mas Chandra yang barang furniturnya kece badai karena menggunakan kayu solid yang kuat. Kalian bisa melihat contohnya di foto cover awal pos. Tempat tidur seperti ini jelas sangat berguna karena kolongnya tidak dibiarkan kosong-melompong tetapi dipasangi kotak/laci yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan barang terutama selimut, seprei, bantal cadangan, atau bahkan pakaian! Tergantung kebutuhan masing-masing orang.

5. Lagi dan Lagi, Rak di Dapur


Dapur rumah tipe 36 sangat mini. Hanya ada sink dan space untuk meletakkan satu kompor. Bagian bawah sink memang bisa dipakai untuk menyimpan barang-barang seperti aneka cairan dan alat kebersihan. Di mana menyimpan beras, gula, teh, dan lain sebagainya? Dari yang saya lihat, dinding di bagian atas sink dan sekitarnya bisa dimanfaatkan untuk keperluan yang satu ini. Siapkan rak sesuai ukuran, dan siapkan kotak-kotak plastik untuk menyimpan semua kebutuhan. Kalau bisa diberi label jadi lebih keren. Sedangkan kulkas dapat diletakkan di sekitar dapur atau di samping space yang digunakan sebagai meja makan.

Selesai!

Asyik juga ternyata kalau menulis tentang ide pemanfaatan ruang ini. Itu pun masih kurang. Apabila rumahnya bertingkat, tangga pun dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan ini itu.

Baca Juga: 5 Keistimewaan Canva

Saya yakin saat ini banyak teman-teman yang juga berpikiran sama, untuk tinggal di rumah mini setipe 36, karena perawatannya jauh lebih mudah dan murah. Rumah kecil itu, meskipun hanya dari menonton video dan dalam bayangan saja, sungguh hangat rasanya. Semoga suatu saat nanti saya bisa mewujudkan untuk tinggal di rumah mini setipe 36. Insha Allah. Tapi itu bukan berarti saya tidak mencintai Pohon Tua (nama rumah kami). Saya mencintai Pohon Tua lebih dari rumah manapun. Ini tempat saya tumbuh kembang sampai sekarang ini hehehe.

Bagaimana dengan kalian, kawan?



Cheers.

Andaikan Ada Seorang Saja Thomas Dambo di Kota Ende

Andaikan Ada Seorang Saja Thomas Dambo di Kota Ende. Saya sudah sering bercerita tentang Kirsten Dirksen dengan video-video amazing-nya di Youtube. Bahkan pos #SelasaTekno kemarin pun masih dari video milik Kirsten Dirksen. Wanita yang telah menikah dengan tiga orang anak ini selalu menawarkan konsep-konsep rumah mini dari berbagai belahan dunia. Kalau kemarin kita bertemu di #SelasaTekno maka hari ini kita kembali ke dunia kreasi, dunia daur ulang, dunia DIY, dan life hacks di #RabuDIY!

Baca Juga: Kertas-Kertas Kado Menarik dan Lucu Pendukung Proyek DIY

Video unggahan Kirsten Dirksen tidak semata-mata tentang rumah mini, rumah unik, rumah mobil, rumah bongkar-pasang, dan rumah lainnya. Suatu malam saya menonton salah satu video unggahan Kirsten Dirksen yang begitu memukau. Sampai tiga kali saya menontonnya!

Thomas Dambo, Si Seniman Daur Ulang


Kalian pasti pernah melihat di televisi atau di internet patung-patung kayu raksasa yang dibangun di tengah hutan. Contohnya seperti berikut ini:


Seniman yang berada dibaliknya bernama Thomas Dambo. Dia adalah sebagai seniman yang berasal dan tinggal di Copenhagen, Denmark. Bersama dua orang teman/kru, dia membikin proyek yang indah dan menyenangkan terbuat dari sampah atau barang daur ulang. Barang-barang ini mereka temukan di sekitar kota: tempat pembuangan sampah umum atau tempat sampah pinggir jalan. Mengumpulkan sampah pun unik: pakai gerobak besi dengan boks kayu yang dipasang ke sepeda. Thomas Dambo tidak pakai mobil meskipun pasti bisa membelinya dengan mudah. Mengantar barang daur ulang pesanan pun dilakukan memakai gerobak, kadang ditarik kalau barangnya terlalu besar. Hwah. Ausam lah.

Dengan melakukan ini Thomas Dambo berharap dapat menginspirasi orang untuk bersenang-senang dan menganggap sampah sebagai sumber daya. Untuk itu dia punya bengkel kerja yang super besar dan halaman luas tempat dia bisa memamerkan pula hasil karya lainnya.


Thomas Dambo membuat apa saja dari proyek desain kecil seperti furnitur dan desain interior hingga proyek seni kecil dan besar, sering melibatkan lingkungannya dan orang-orang di sekitarnya. Kalian bisa melihat proyek-proyeknya di situs utama, atau bisa juga di berbagai media sosial seperti Youtube, Facebook, Instagram, dan Twitter.

Kreatif, Unik, Menyenangkan


Orang kreatif memang selalu bisa berpikir out of the box dan hasilnya mencengangkan. Kalau sudah mencengangkan pasti menyenangkan. Pada video yang saya tonton, dengan mudahnya Thomas Dambo mengubah peti kayu menjadi rangka sofa/kursi. Dengan mudahnya dia menjelaskan bahwa jenis plastik yang ini bisa dipakai sebagai bulu patung burung karena fleksibel. Tapi tentu tidak mudah juga untuk mendorong gerobaknya baik memuat sampah maupun memuat hasil daur ulang atau hasil karyanya.


Tidak hanya patung, masih banyak lagi hasil karya Thomas Dambo yang sudah dibagi dalam kategori antara lain: Happy Wall, Hidden Giants, Interior Design, Plastic Sculptures, Scenography, Sculptures, Street Art, Trollhunt, dan lain sebagainya.

Saya suka Happy Wall. Dinding panjang itu diisi dengan kotak-kotak kecil dengan warna bebeda yang bisa dimainkan dengan membentuk huruf/kata tertentu. Coba kalian lihat gambar di bawah ini:



Kalian bisa lihat, sepanjang dindingnya itu dipasangi engsel pintu. Warna dasar utama dinding ini adalah hitam. Warna-warna lain, bisa bergradasi atau lebih daru satu warna, merupakan warna yang akan membentuk huruf atau emoticon saat engselnya dibalik. Lebih jelasnya pada gambar kedua yang ada tiga perempuan itu hahaha. Ini ... bagaimana seorang Thomas Dambo berpikir memanfaatkan engsel untuk Happy Wall ... bikin otak kita minder.

Karya lain Thomas bisa kalian lihat berikut ini:




Andaikan ada seorang saja Thomas Dambo di Kota Ende, dalam sekejap mata dia sudah bisa bikin wajah kota ini menjadi lebih berwarna, mengurangi sampah, dan bisa bikin proyek besar bersama suatu komunitas/masyarakat. Bisa  jadi akan dibangun kampung bernama Kampung Thomas Dambo. Haha. Saya membayangkan Happy Wall itu dipasang di lokasi wisata baik wisata alam maupun biasa buatan. Amboi, siapa sih yang tidak mau foto-foto dengan latar Happy Wall yang tertulis nama kita? Ide ini menarik ... lebih menarik lagi kalau ada yang bisa mewujudkannya di Kota Ende *digampar dinosaurus*.

Baca Juga: Cara Membikin Wadah Berbahan Semen dan Kaktus Batu

Bagaimana, kawan? Kece-badai semua kan hasil karya seniman daur ulang yang satu ini? Betul-betul nyeni dan tidak setengah-setengah. Sampai punya bengkel yang luasnya seperti lapangan bola begitu! Haha. Betul-betul, ya ... kalau boleh saya ulangi. Thomas Dambo bikin otak saya jadi MINDER!



Cheers.

Kerennya Prefab House Dengan Tiga Ruangan Berotasi


Kristen Dirksen memang luar biasa. Perempuan ini bekerja bersama suami, ditemani ketiga anaknya, menjangkau berbagai belahan dunia, untuk menunjukan pada para penonton channel-nya yaitu Kirsten Dirksen tentang banyak hal terutama rumah. Rumah mini, rumah unik, rumah bongkar-pasang, rumah mobil, rumah ramah lingkungan, rumah loteng, rumah setengah ukuran, dan lain sebagainya. Kalau diberi kesempatan bertemu perempuan berambut kriwil itu, saya bakal memeluknya erat-erat. Terima kasih sudah memberikan begitu banyak inspirasi untuk penghuni bumi, salah satunya saya. Haha.

Baca Juga: Filmora Aplikasi Sunting Video Android yang Juga Mengasyikan

Salah satu videonya tentang rumah mini dan unik adalah tentang Prefab House yang satu ini. Masih prototype dari pembangun/pengembang. Jadi asyik begitu ada lahan super luas dan di atasnya berdiri rumah berbagai model dan ukuran. Tapi kalau ditanya apakah saya mau tinggal di rumah seperti itu? Tidak. Alasannya nanti saya ceritakan di akhir pos, ya.

Rumah Mini dan Unik


Rumah ini sangat kecil dan berbentuk unik. Dan perlu diketahui bahwa semua foto yang tampil di pos ini diambil dari video dimaksud. Ini dia penampakan rumah tersebut:


Terlihat sangat mini dan bisa diistilahkan seperti kotak sepatu. Hehe. Tapi uniknya karena rumah ini punya pintu depan hampir selebar rumah dengan bahan kaca. Ada satu lagi pintu masuk bagian belakang yang berbentuk oval. 

Ruang depan rumah ini adalah ruang tamu dan ruang keluarga. Jadi sebelah kanan (dilihat dari arah rumah, bukan dari arah kita) adalah area ruang tamu dan sebelah kiri adalah area ruang keluarga. Bedanya, di depan ruang tamu langsung terletak silinder sepanjang enam meter yang memuat tiga ruangan dan bisa berotasi. Sedangkan di depan ruang keluarga ada lorong ke pintu belakang dengan satu kamar mandi yang ada WC-nya.


Perancangnya bernama Luigi Colani dan pengembangnya adalah Hanse House. Seperti semua karya Colani (lahir pada tahun 1928, ia bekerja untuk perusahaan mobil dan pesawat terbang utama, serta NASA), prototipe rotorhome memiliki beberapa garis lurus dan sebaliknya penuh dengan kurva dan bentuk ergonomis. Pabrik prefab Jerman Hanse Haus membangun rumah pada tahun 2004 untuk menunjukkan kurangnya batasan dalam cetakan.

Silinder yang Berotasi


Ini inti dari rumah yang satu ini. Silinder sepanjang enam meter yang terletak tepat di depan ruang tamu, saling berhadapan, itu bisa berotasi dan memuat tiga ruangan berbeda fungsi di dalamnya. Unik kan? Untuk rotasi pun cuma menekan tombol berbeda warna (warna menunjukan ruangan) dan berputar 270 derajat setiap arah. Ada tiga ruangan dengan fungsi berbeda yaitu kamar tidur, dapur, dan kamar mandi (tanpa WC).

Tekan tombolnya dan tombol satu lagi di bawah.

Tradaaaa ... kamar mandi.

Kamar tidur.

Dapurnya kayak begini.

Saat sedang mendemonstrasikan silinder ini dimana suami Kirsten Dirksen sedang berada di kamar tidur, si pengembang bilang bisa sembunyikan pacar kalau suami mendadak pulang ke rumah. Dan saya ngakak. Tujuan yang sungguh tidaaaaaak bagus. Hahaha. Tapi boleh juga *digampar*.

Mau Tinggal di Rumah Seperti Ini?


Tidak! Saya tidak akan mau hahaha. Pertama, tidak etis untuk orang Indonesia kamar mandinya langsung menghadap ruang tamu dan nampak terbuka seperti itu (kaca). Itu ridikulus hehe, meskipun ada kamar mandi lainnya yang terpisah (yang ada WC-nya). Kedua, saya tidak bisa berada di dapur super bersih seperti itu, rasanya tidak tega, LOL! Ketiga, tidurnya jadi kayak gimanaaa ya. Pokoknya ogaaaah kalau disuruh tinggal di rumah seperti ini.

Baca Juga: Blog It! Pilihan Nge-blog Pakai Smartphone

Tapi rumah ini dapat menjawab kebutuhan orang-orang sana yang budayanya tidak seperti Orang Indonesia. Manapula lahan semakin menipis, rumah mini jadi pilihan, dan kalau unik itu bonus.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Mau tinggal di rumah seperti ini? Canggih sih teknologinya, kan sekarang #SelasaTekno, tapiiiii ... pikir-pikir dulu hahaha.




Cheers.

Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya


Influencer Kocak yang Nekad Untuk Pertama Kalinya. Hari itu, saya sedang meliput kegiatan mahasiswa KKN-PPM 2019 Uniflor (yang mendapat dana hibah dari Kemenristek Dikti) di Desa Wolofeo, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, berjarak sekitar duapuluh lima kilometer dari Kota Ende. Saat sedang ketawa-ketiwi mendengar omongan Bapak Kepala Desa, satu pesan WA yang masuk ke telepon genggam sungguh membikin jantung serasa copot. Soalnya kondisi sinyal di Desa Wolofeo sangat tidak seksi sehingga saya kuatir itu pesan WA nyasar. Haha. Intinya saya dihubungi oleh Kakak Olenka dari Kemenkominfo Jakarta untuk menjadi influencer dalam suatu kegiatan.

Baca Juga: Literasi Desa, Program Keren KKN-PPM di Desa Ngegedhawe

Influencer? Sudah bisakah saya disebut itu? Kalau sampai diminta begitu, tentu sudah ada pertimbangan ini-itu kan ya. Baiklah saya terima meskipun pikiran dipenuhi kekuatiran. Tapi seperti kata Adele: you'll never know if you never try to forget your past and simply be mine. Haha. Awalnya saya berpikir menjadi influencer tentang hal-hal yang berkaitan dengan TIK semacam pemanfaatan media sosial untuk perubahan, atau bagaimana anak muda dapat menjadi agen perubahan melalui dunia TIK, atau bagaimana masyarakat awam bisa mengajak orang lain datang ke daerah wisata mereka hanya melalui tulisan dan foto di blog. Berpikir seperti itu wajar saja karena ini Kemenkominfo.

Ternyata saya diminta berbicara dari sisi seorang influencer tentang STUNTING!

Apa? Stuntman? Hehe *ditabok dinosaurus*.

Karena hanya punya waktu dua hari untuk mempersiapkan jiwa, dan ritual mandi kembang, saya langsung menyusun draf di aplikasi catatan telepon genggam. Tulisan di draf ini intinya bagaimana saya sebagai orang awam melihat stunting dan budaya/kebiasan masyarakat lokal. Karena, saya bukan ahli gizi, bukan dokter, bukan praktisi medis, sehingga bukan kapasitas saya untuk bicara tentang porsi kadar gizi yang dibutuhkan tubuh per hari atau tentang asupan gizi anak selama 1.000 hari terhitung sejak masih dalam kandungan.

Audiens Dari Berbagai Lini


Aula Lantai II Hotel Grand Wisata penuh sesak saat saya tiba Kamis, 1 Agustus 2019, siang. Saya memang datang siang, saat makan siang, untuk mendapat makan gratis karena sesi saya adalah sesi paling akhir. Ternyata MC kegiatan ini sahabat saya sendiri. Kalian harus membaca pos berjudul Dessy: Merayakan Natal di Vatikan Merupakan Berkat Berlimpah dari Tuhan untuk tahu lebih detail si MC. Iya, Dessy adalah MC kegiatan tersebut.


Sambil melihat-lihat situasi, saya tahu bahwa yang hadir ini tidak saja anak sekolah setingkat SMA, tetapi ada juga mahasiswa termasuk mahasiswa Uniflor, guru-guru, ibu-ibu PKK, Ikatan Bidan Indonesia Cabang Ende, orang-orang komunitas, kepala dinas/kantor dan kepala bagian, dan lain sebagainya. Eh ternyata ada Mas Alimin, sahabat saya yang bekerja di Diskominfo Ende. Dan kebiasaan memang sulit dikekang. Ketemu Mas Alimin malah saling ngecap kayak orang ngerap. Haha.

Stunting Bukan Berarti Turunan


Ini inti yang saya bicarakan kemarin selain selipan tentang gejala stunting hingga pola hidup bersih dan sehat. Inti dari yang saya bicarakan adalah sebagai berikut:

Stunting adalah isu yang hangat dibicarakan karena terkait dengan masa awal seorang anak manusia sejak masih dalam kandungan, asupan gizi, hidup bersih dan sehat. Apa yang terjadi selama ini, kita percaya kondisi seorang anak mengalami stunting itu karena gen, karena turunan. Kalau Orangtuanya seperti itu, pasti anaknya nanti juga.

Pandangan ini belum berhenti.

Kadang kalau lihat anak-anak tingginya tidak sesuai usia, terus orangtuanya punya postur yang tinggi, tetap saja, kita bilang: pasti turunan dari opa Oma, atau Om tante. Asalkan bukan karena turunannya tetangga.

Karena menjadi kebiasaan untuk berpikir ke situ, kita lantas terbawa dengan kondisi ini ...

Akibatnya kita cenderung membiarkan anak yang masih usia dini dengan pertumbuhan terlambat seperti itu. Cenderung bilang begini: Biar saja, bukan urusan kita. Yang lebih parah, anak yang mengalami stunting justru dapat perlakuan body shaming, dibully karena kondisi tubuhnya.

Dulu saya lahir prematur. Delapan bulan sekian hari dengan bobot sekilo-an saja, dan sebesar botol kaca begitu. Orangtua saya sampai tidak berani menggendong. Sekarang orangtua saya takut malah menggendong ... Beratnya luar biasa. Haha. Sejak kecil yang saya tahu makanannya harus seimbang. Ikan, terutama ikan goreng itu jadi cemilan. Saya suka makan ikan, makan buah, pokoknya apa saja lah yang disiapkan sama orangtua. Dan pada akhirnya jadi seperti sekarang ini.


Itu saya kopas loh. Kebiasan menulis haha dan hehe di blog pun terbawa di situ dan terbawa saat saya bicara. Ck ck ck. Jadi ingat dulu waktu masih jadi penyiar radio, sering di-SMS sama pendengar, cuma untuk minta saya ketawa. Halaaaah.

Selain itu saya juga menyampaikan bahwa kesehatan anak-anak itu menjadi tanggungjawab masyarakat umum, bukan saja orangtua atau keluarganya. Apabila kita punya teman baru menikah, seringlah memberikan informasi tentang stunting, memeriksakan kesehatan anaknya pada ahli medis, dan lain sebagainya. Atau jika kita melihat batita bersama orangtuanya dengan kondisi kurang normal, bolelah kita melakukan pendekatan kepada orangtua si batita dan bercerita tentang stunting. Siapa tahu orangtuanya tidak sadar. Apalagi NTT ini nomor satu anak dengan stunting.

Kisah Seorang Ibu


Sudah menjadi kebiasaan saya setiap kali menjadi pembicara sekaligus ngelawak. Interaktif dengan audiens itu perlu, menurut saya, sebagai katrol apakah audiens memperhatikan atau masa bodoh? Ternyata, alhamdulillah, audiens perhatian banget sama saya. Haha. Saya meminta salah seorang audiens untuk maju ke depan dan bercerita pengalamannya dengan anak-anak atau bocah entah itu terkait masalah kebersihan atau tentang dunia membaca-menulis. Salah seorang ibu guru dari SMA Swasta Adhyaksa pun maju.

Ibu bercerita tentang kondisi dua anaknya. Anak pertama mengalami stunting, anak kedua tumbuh sehat. Cerita si Ibu sungguh menyentuh hati. Ada pesan yang langsung dipahami oleh semua audiens hari itu:

Pesan Pertama:
Stunting harus dikenali sejak dini dan jangan dibiarkan. Pembiaran akan membuat kita terlambat sadar bahwa si anak mengalami stunting.

Pesan Kedua:
"Anak pertama menjadi seperti itu mungkin karena saya baru menikah, baru punya anak, belum ada pengalaman," kata si Ibu. Ini pesan yang juga masuk dalam daftar kegiatan kemarin. Salah satunya: jangan menikah terlalu dini!

Terima kasih, Ibu.

Instragram Menjadi Mulutgram


Karena diminta menjadi influencer ya sekalian saya saya mempengaruhi audiens untuk menyebarkan kegiatan hari itu. Peserta yang sudah follow IG-nya @Genbestid saya minta untuk dapat menjadi mulutgram. Yaitu menyebarkan informasi tentang stunting kepada semua orang di sekitar mereka. Seperti yang saya tulis di atas, tanggungjawab moral masyarakat.

Mulutgram punya konotasi negatif. Memang. Seperti kata Dana SUCI dalam salah satu tampilannya "Iklan Menjebak" yaitu tentang getok tular (dari mulut ke mulut). Tapi kalau mulutgram tentang informasi positif saya pikir itu akan sangat luar biasa. Bayangkan saja, hitunglah ada seratus audiens. Setiap audies punya lima anggota keluarga di rumahnya. Pulang dari kegiatan mereka lantas bercerita ke anggota keluarga. Sudah berapa orang yang tahu tentang stunting? Itu baru keluarga, belum teman kantor, teman nongkrong, dan seterusnya.

Mulutgram itu penting.


Saya hanya bisa bilang: sudah memberikan yang terbaik pada hari itu di hadapan ratusan audiens di Aula Lantai II Hotel Grand Wisata. Kurang lebihnya, mohon dimaafkan. Hehe.

Baca Juga: Gotong Royong Itu Masih Hidup dalam Tubuh Masyarakat

Ayo, cegah stunting!

Jadi generasi bersih dan sehat!

#Genbestid
#GenbestEnde
#SadarStunting



Cheers.