Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel


Ini Dia Dompet Alat Tulis Cantik Berbahan Kain Flanel. Pos hari ini di #RabuDIY cukup singkat padat dan jelas. Karena apa? Karena saya bukan saya yang membikinnya melainkan teman kerja. Jadi, saya cuma pengen ngasih tahu ke kalian bahwa dari kain flanel yang biasanya dipakai untuk mempercantik stoples dan/atau tempat tisu bisa juga langsung diaplikasikan untuk dijadikan dompet. Seperti pada foto di awal pos. 

Baca Juga: Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah

Kuning? Iyess! Waktu ditanya saya jelas meminta dompet berwarna kuning dengan nama saya tertera di salah satu sisinya. Yang membikin ini teman kerja tetapi lebih dikenal sebagai dosen FKIP, namanya Ibu Purnama. Orangnya super kreatif! Sama seperti Violin Kerong hehe. Selain membikin dompet alat tulis berbahan kain flanel, Ibu Pur juga membikin ragam dompet rajutan, yang bahannya tidak saja benang/tali tetapi juga plastik kresek. Ada beberapa dompet lain yang dibikin menggunakan plastik bekas bungkus Nescafe.

Uh wow! Kreatif sekali.

Terbukti mantan sampah tidak selamanya harus dibuang kan? Masih bisa digunakan kembali setelah didaur ulang menjadi barang bernilai ekonomi lebih tinggi. Seperti apa yang sudah dilakukan oleh banyak orang. Saya, kalian, mereka.

Semoga menjadi inspirasi ...

#RabuDIY



Cheers.

Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android


Menambah Akun Pada Satu Aplikasi Instagram di Android. Sering lihat teman punya lebih dari satu akun Facebook. Alasan yang pertama: karena quota perteman sudah penuh, alasan yang kedua: lupa username dan password sehingga perlu bikin akun baru, alasan yang ketiga: akun diretas. Saya hanya punya satu akun Facebook, the one and only, dan belum kepikiran untuk membikin akun tambahan. Tetapi saya mengelola banyak akun Facebook dari akun utama tersebut khususnya akun grup dan fanpage khususnya yang berkaitan dengan kampus. Sama juga dengan Twitter, saya mengelola lebih dari satu akun di luar akun pribadi alias akun utama, karena berbagai sebab antara lain komunitas dan kampus. Tapi khusus Instagram (IG) saya benar-benar hanya mengelola satu akun pribadi! Tidak ada akun lain yang saya kelola.

Baca Juga: Ternyata Teknologi Pertanian Itu Sangat Menarik dan Seru

Adalah satu kemudahan ketika kita mendaftar satu akun, khususnya media sosial, tetapi bisa mengelola akun lainnya yang ditambahkan. Sehingga untuk berpindah akun tidak perlu melakukan log out dan log in yang tentunya rempong sekali, tetapi cukup klik akun mana yang ingin diaktifkan/dipakai untuk pos sesuatu. Sangat mudah terutama untuk para pengguna Android.

Seperti yang sudah saya tulis, berbeda dengan Facebook dan Twitter yang mana saya mengelola banyak akun tanpa harus log out dan log in kembali, menambah akun di IG adalah perkara yang benar-benar baru bagi saya karena mengepos di IG pun tidak serajin mengepos di Facebook dan Twitter. Orang lain tentu sudah tahu tentang perkara yang satu ini karena ada pengguna yang ingin memisahkan antara akun Instagram (IG) pribadi dengan akun IG khusus bisnis. Sedangkan saya harus belajar dan mencari tahu sana sini agar bisa melakukannya.

Apa pasal sampai saya ngotot menambahkan akun IG? Cekidot.

Bertemu Abhi Ray


Sudah saya bilang kalau saya jarang mengepos di IG, otomatis jarang pula memerhatikan DM-nya. Sampai kemudian Kakak Rohyati Sofyan mengajak ikutan Indonesia Saling Follow di IG. Baru saya ngeh ternyata ada banyak DM dari teman-teman dan salah satunya dari Abhi Ray. Abhi Ray adalah sahabat blog sejak zaman dulu kala, sekitar tahun 2003 atau 2004-an yang dikenal sebagai salah seorang founder Segelas Air Putih. Segelas Air Putih awalnya melalui sebuah mailing-list, tempat berbagi cerita inspiratif yang membangun dan memotivasi, kemudian pakai .org, dan sangat membantu saya dalam mengelola program radio yang berhubungan dengan kisah-kisah inspirasi. Tentu, membaca kisah-kisah inspirasi di Radio Gomezone waktu itu atas ijin Abhi Ray dan kawan-kawan juga.

DM Abhi Ray itu bertanya tentang nomor WA. Selanjutnya kami mengobrol lewat WA. Inilah yang membikin saya terharu. Saya baru sekali bertemu Abhi Ray saat ke Jakarta dulu, tahu persis orangnya super baik. Sifatnya yang menginspirasi dan memotivasi tidak bisa hilang, pun saat kami mengobrol via WA. Abhi Ray menyarankan saya untuk membikin akun IG yang berkaitan dengan informasi wisata dan/atau suatu daerah. Beliau bahkan menyarankan nama-nama akunnya. Awalnya saya berkata pada beliau bahwa untuk perkara-perkara informasi berkaitan dengan wisata atau daerah itu sudah tersedia di I am Blocpacker, blog travel milik saya. Tapi kata Abhi Ray, zaman berubah, blog mungkin masih tapi IG lebih.

Ide tentang IG ini menarik juga. Maka malam itu saya mencoba mencari tahu caranya menambah akun baru di IG. Karena, oh yaaaa saya tidak tahu. Uh lala syekali kan. Hehe. Ternyata caranya sangat mudah, hampir sama dengan menambah akun di Twitter.

Dua Akun IG Dalam Satu Aplikasi


Caranya ternyata lumayan mudah. Berdasarkan pengalaman saya, pakailah nomor telepon genggam yang dipasang di perangkat smartphone, lagi pula e-mail saya sudah dipakai untuk mendaftar akun IG pertama kali dulu. Setelah nomor teleponnya ready, mari mendaftar. Pertama-tama tentu harus membuka aplikasi IG terlebih dahulu *ngikik*.


Klik beranda / akun IG kita di pojok kanan bawah samping kanannya ikon hati. Kalau sudah di beranda akun kita, lihat pojok kanan atas, itu nama akunnya @tutehpharmantara. Lihat yang saya lingkari merah? Klik di situ.


Maka akan terbuka halaman seperti pada gambar di atas. Lihat, ada tulisan Tambahkan Akun seperti yang saya lingkari merah di atas. Itu saya screenshoot dalam posisi sudah mendaftar/menambah akun @info_flores (sudah daftar ini ceritanya). Klik tambah akun, maka pengguna akan diantar pada halaman pendaftaran awal, seperti kita mendaftar pertama kali. Ikuti langkah-langkahnya sampai selesai. Dan, akhirnya akun @info_flores pun sudah jadi. Saya tidak menampilkan screenshoot langkah-langkahnya di sini hahaha. Soalnya akunnya sudah jadi dan tidak kepikiran untuk membikin lagi. Pokoknya tidak susah dan tidak rempong kok menambah akun di IG ini.


Akun @info_flores baru ada satu pos, dengan delapan pengikut. Jangan lupa untuk ikuti ya, pasti bakal diikuti balik!

Ternyata semudah itu menambah akun pada satu aplikasi IG di Android.

Baca Juga: Teknik, Koreo, dan Seni Pada Sesi Foto Prewedding

Saat ini saya sedang mengumpulkan materi untuk akun IG: @info_flores. Materinya juga ada yang diusulkan oleh Abhi Ray, dan memang saya punya banyak sekali materi untuk akun tersebut. Bisa diambil dari blog travel, bisa juga mengubek foto-foto yang masih tersimpan rapi di Google Photos, tinggal ditambah satu dua caption (paragraf) sebagai keterangan. Manapula saya bakal kembali keliling Pulau Flores sehingga bisa sekalian menambah isi @info_flores. Yang jelas foto-foto dan video (kalau mau video) bakal saya kasih tanda air dulu hehehe.

Bagaimana dengan kalian, kawan? Berapa akun yang kalian punya di IG? Bagaimana dengan mengelolanya, susah atau mudah? Karena, konsisten merupakan hal yang cukup sulit untuk dijalani oleh saya dan/atau kalian.

Semoga bermanfaat!

#SelasaTekno



Cheers.

Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo


Persiapan Kegiatan Wisuda Dengan Tema Kabupaten Nagekeo. Kabupaten Nagekeo. Lagi! Hehe. Rajin sekali menulis tentang Kabupaten Nagekeo! Ya mau bagaimana lagi. Saya memang sering ke Kabupaten Nagekeo, khususnya Ibu Kotanya yaitu Kota Mbay untuk beberapa urusan, baik urusan pribadi maupun urusan pekerjaan. Sehingga sayang sekali kalau tidak menulis tentang kabupaten tersebut terutama tempat wisata hingga ragam kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah sana. Terakhir, saya ke Kota Mbay untuk menyaksikan sendiri Festival Literasi Nagekeo 2019. Betul juga kata anak-anak sana: Nagekeo Gaga Ngeri!


Berkaitan dengan Universitas Flores a.k.a. Uniflor. Dalam Bulan Oktober tepatnya tanggal 12 nanti bakal ada kegiatan wisuda. Dan Uniflor memang selalu punya tema berbeda setiap tahunnya. Tema ini berkaitan dengan kabupaten yang ada di Pulau Flores dan sekitarnya. Mau tahu serunya? Yuk baca sampai selesai! Hehe.

Uniflor Sebagai Mediator Budaya


Uniflor, universitas pertama di Pulau Flores yang berdiri tahun 1980, punya visi besar yaitu Menjadi Universitas Unggul dan Terpercaya Sebagai Mediator Budaya. Kenapa mediator budaya? Menurut analisa saya pribadi, hal ini dikarenakan mahasiswa Uniflor berasal dari berbagai daerah di Pulau Flores dan sekitarnya, pun dari daerah lain di luar Pulau Flores. Uniflor harus bisa menyatukan mereka semua. Ini analisa pribadi ya, hehe. Karena sepanjang yang saya lihat, toleransi di Uniflor itu sangat tinggi. Toleransi ini tidak saja dari lini lintas agama: kalian bisa melihat Suster dan muslimah bercadar jalan bersamaan sambil berdiskusi, tapi juga lintas suku: kalian bisa melihat anak Manggarai berdebat ilmiah dengan anak asal Pulau Lembata.

Salah satu wujud Uniflor sebagai mediator budaya bisa dilihat pada saat kegiatan wisuda. Panitia wisuda akan dibentuk kira-kira satu bulan sebelumnya. Pada pertemuan pembentukan panitia itu, biasanya saya paling suka menunggu penyampaian soal tema. Setiap tahun Uniflor mengusung tema berbeda/kabupaten berbeda. Maka, pada wisuda tahun 2019 ini tema yang diusung adalah Kabupaten Nagekeo. Artinya, dekorasi dan panggung harus ada unsur Kabupaten Nagekeo. Pakaian panitianya harus pakaian adat Kabupaten Nagekeo. Sua sasa/penyambutan wisudawan di pintu masuk dan tarian pun harus tarian dari daerah Nagekeo. Sedangkan wisudawan, tidak pernah dipaksakan pakaian tradisional yang mau dipakai. Bebas. Lagi pula kan tertutup jubah. Hehe.

Pakaian Tradisional/Adat Kabupaten Nagekeo


Setelah tahu tentang tema kabupaten yang diusung, maka mulailah saya sibuk mencari informasi tentang pakaian tradisional Nagekeo. Setahu saya, Kabupaten Nagekeo hanya punya satu jenis/motif tenun ikat. Dan saya salah. Kedunguan tingkat tertinggi saya adalah itu. Hahaha. Saya pernah memakai sarung itu dalam suatu video klip seperti screen shoot di bawah ini:


Kain tenun ikat di atas biasa dipakai oleh Orang Mbay. Warna hitam dengan aksen warna kuning (hyess, my colour!).

Berdasarkan informasi dari Wikipedia, terima kasih Wikipedia, ada tiga jenis tenun ikat dari Kabupaten Nagekeo yaitu Hoba Nage, Ragi Woi, dan Dawo. Orang Keo Tengah menyebut ketiga jenis kain ini dengan Dawo Nangge, Duka Wo'i, dan Dawo Ende. Tapi tentu saya akan mengikut penamaan secara umum yaitu Hoba Nage, Ragi Woi, dan Dawo.

Seperti apa penampakannya? Mari kita lihat:

1. Hoba Nage


2. Ragi Woi


3. Dawo (Dawo Ende)


Terus, laki-lakinya biasa memakai apa? Biasanya laki-laki memakai kemeja putih dan Ragi Woi.

Berdasarkan informasi yang saya peroleh dari teman-teman Orang Nagekeo, juga isteri keponakan yang asli Danga - Mbay - Nagekeo, ada dua jenis utama sarung tenun ikat yang sering dipakai oleh penduduk Kabupaten Nagekeo yaitu Hoba Nage dan Ragi Woi. Mereka menyebutnya tenun ikat Nage dan tenun ikat Mbay. Menurut sebagian orang Ragi Woi itu khusus dipakai oleh laki-laki sedangkan Hoba Nage khusus dipakai oleh perempuan. Tetapi di Kota Mbay, Ragi Woi dipakai oleh laki-laki dan perempuan. Tidak ada perbedaan. Sedangkan di daerah sekitar Kecamatan Boawae, laki-laki khusus memakai Ragi Woi dan perempuan khusus memakai Hoba Nage.

Makanya, saya sering melihat teman-teman perempuan dari Kota Mbay memakai Ragi Woi, dipadukan dengan atasan warna putih (tak selamanya warna hitam) seperti yang juga saya pakai pada foto di awal pos dan foto berikut ini:


Saya dan Deni Parera, penyanyi bersuara emas, sama-sama memakai Ragi Woi. Bagi masyarakat Kabupaten Nagekeo, itu bukan masalah. Bahkan menurut Abang yang aseli Orang Nagekeo khususnya Kecamatan Boawae, apa yang saya pakai itu sudah benar dan nanti kalau saat wisuda tinggal pakai begitu saja. Beres.

Tetapi sebenarnya atasan untuk perempuan itu seperti foto berikut ini:


Nama baju ini Kodo. Kodo ini dihiasi dengan bordiran tangan, bukan mesin loh! Keren dan sangat unik kan?

Berburu Hoba Nage


Dipikir-pikir, ketimbang menyewa lebih baik saya membeli saja Hoba Nage. Kata teman kerja, Mama Sedes, ada yang sedang jual murah dipatok tenun ikat Hoba Nage seharga Rp 550K saja. Tentu saja saya mau! Lagi pula ini bisa jadi inventaris, alias kalau nanti kembali dibutuhkan, sudah punya barangnya, tidak perlu pusing mencari. Hanya saja saya belum menerima tenun ikatnya, masih menerima fotonya saja hahaha. Nanti tenun ikat Hoba Nage dalam bentuk lembaran itu bakal saya jahitkan menjadi sarung.

Selain itu, saya juga bertanya-tanya pada teman yang bermukim di Kota Mbay yaitu Daniel Daki Disa. Nah padanya saya juga bisa meminta tolong untuk menyewakan Kodo dan Hoba Nage, dikirim ke Ende, kalau sudah selesai dipakai bisa dikembalikan. Doakan semoga tanggal 12 Oktober nanti saya sudah bisa memakai pakaian adat Kabupaten Nagekeo, ya!

⇜⇝

Pertanyaannya sekarang adalah kenapa saya sampai ngotot harus bisa memakai pakaian adat Kabupaten Nagekeo saat kegiatan wisuda nanti? Untuk menjawabnya, kita harus kembali pada Uniflor sebagai mediator budaya.

Kepanitiaan wisuda selalu terdiri atas dosen dan karyawan Uniflor. Dosen dan karyawan Uniflor datang dari berbagai daerah di Pulau Flores dan sekitarnya. Bisa kalian bayangkan, ketika tema wisuda jatuh pada Kabupaten Ende, semua dosen dan karyawan yang bukan Orang Ende harus berupaya untuk mencari dan memakai pakaian adat Kabupaten Ende. Khusus perempuan disebut Lawo Lambu / Zawo Zhambu. Khusus laki-laki memakai kemeja putih, destar (ikat kepala), dan sarung laki-laki bernama Ragi Mite.

Baca Juga: Kisah Dari Rumah Baca Sao Moko Modhe di Desa Ngegedhawe

Ketika tema jatuh pada kabupaten lain selain Kabupaten Ende, tentu kami harus menghormati dan menghargai keputusan tersebut dengan cara mengikuti ketentuan yang ditetapkan untuk panitia. Bagi saya pribadi ini adalah tantangan tersendiri: mencari pakaian tradisional/adat Kabupaten Nagekeo. Seandainya pun gagal membeli Hoba Nage, saya masih bisa memakai Ragi Woi dan atasan warna hitam (disesuaikan dengan Kodo). Lagi pula, adalah sesuatu yang sangat membahagiakan diri saya pribadi apabila bisa mengenakan pakaian tradisional/adat dari daerah lain di Pulau Flores. Sesuatu yang mengenyangkan sukma. Hehe.

Nantikan cerita dan foto-fotonya, ya!

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

5 Perkara Yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan


5 Perkara Yang Saya Sadari Tentang Sebuah Hubungan. Tumben menulis ini. Memang. Adalah sangat di luar kebiasaan. Saya sendiri juga kaget kenapa mendadak ide ini muncul di kepala pada saat listrik padam, sehingga terpaksa drafnya saya tulis di aplikasi catatan smartphone, karena kuatir idenya menguap. Mungkin karena akhir-akhir ini linimassa media sosial, terutama Facebook, selain dipenuhi status dan share artikel demo RKUHP juga dipenuhi status dan artikel tentang bagaimana seharusnya membina hubungan. Mungkin juga karena selama hampir tujuh bulan terakhir saya memperbaiki dan mengasingkan diri dari perkara-perkara yang mengganggu pikiran dan perasaan. Mungkin. Artinya, tidak pasti.

Baca Juga: 5 Alasan Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo

Tulisan ini adalah tentang diri saya sendiri sebagai seorang perempuan. Perempuan lain mungkin juga butuh membacanya. Refleksi? Bukanlah. Curhat? Ah, Presiden Negara Kuning males curhat hahaha. Apa ya? Terserah kalian mengapresiasinya sebagai apa. Anyhoo, hubungan yang saya maksudnya di sini adalah hubungan asmara. Hubungan asmaranya pun antara lelaki dan perempuan. Kita sepemahaman dulu tentang ini.

Mari lah dimulai.

1. Hubungan Itu Tentang Chemistry


Saya sadari betul. Hubungan itu tentang chemistry. Tentang percikan kimiawi antara dua insan. Tanpanya, jangan coba dipaksakan. Dengannya, beranilah mencoba meskipun duri-duri melukai sampai berdarah-darah. Saya pernah berpikir bahwa lelaki yang bakal menciptakan percikan bersama saya itu harus setampan Orlando Bloom, sekharismatik Richard Gere, sekaya Bill Gates, atau yang jago sihir kayak Harry Potter. Ternyata ... Tidak. Karena chemistry itu sesuatu yang abstrak. Dia muncul bukan akibat dari fisik dan harta benda semata. Ada x-factor yang menyebabkan chemistry itu tercipta. Percayalah, saya sudah pernah melewatinya.

Bagi saya, chemistry itu tentang butterflies in my stomach. Tentang rindu yang tak terbantahkan. Tentang pertanyaan: who the hell are you? Tentang logika yang menguap. Tentang pandangan realistik yang tiba-tiba upside down sampai saya sepertinya tidak mengenal diri saya sendiri. Tentang rasa nyaman ketika bersamanya, face to face in real life maupun face to face by video call. Saya percaya, chemistry itu kekuatan paling dasar dari sebuah hubungan. Seperti lirik lagunya Babyface dan Des'ree. Fire. 

2. Hubungan Itu Tentang Kepastian


Ada lelaki yang tidak suka tentang hal ini. Menetapkan tanggal atau bulan jadian, misalnya. Tapi perempuan, terutama diri saya pribadi, harus punya tanggal jadian (oke, kita pacaran dan saling mengikatkan diri). Tanpanya, saya atau perempuan di luar sana bakal merasa oleng. Sepele memang, tapi percayalah, ini cukup penting. Ada teman yang bilang, pikiran ini muncul di benak saya gara-gara belajar hukum khususnya Hukum Perdata. Tidak juga ... sejak belum mengenal dunia hukum pun saya sudah punya pikiran seperti ini.

Bayangkan saja, jika ada pertanyaan: kapan kalian jadian? Lebih parah pertanyaan: kapan kalian menikah? Terus jawabnya: yaaa eeerrr ya itu tahun lalu entah kapan mendadak sudah jadian, pokoknya gitulah. Atau: mendadak saja kami sudah jadi suami isteri. Haha.

Kapan Indonesia merdeka?
Kapan pelantikan DPR?
Kapan WHO berdiri?

3. Hubungan Itu Tentang Komunikasi


Pentingkah komunikasi dalam sebuah hubungan? Bukankah saya milik kau, kau milik saya, sudah cukup? Bele (Om/Paman), saya bilang ya, komunikasi itu mahapenting meskipun tidak harus maharomantis. Komunikasi tidak perlu harus ada kata 'sayang' dan 'I love you' di dalamnya. Komunikasi, saling bercerita tentang kehidupan masing-masing, selera, warna favorit, kebiasaan, do and don't, keinginan masing-masing apabila hubungan ini diteruskan, bahkan keluarga. Perlulah ini dilakukan. Agar saling tahu baik buruknya. 

Kalau boleh saya tulis, komunikasi adalah jembatan penyeberangan perasaan dua insan yang sudah mau saling mengikatkan diri dalam suatu hubungan. Percayalah, dari komunikasi kita jadi tahu banyak tentang pasangan, yang selama ini mungkin hanya kita ketahui dari omongan dan bisik-bisik orang lain. Bukankah komunikasi juga merupakan elemen penting, secara umum, kehidupan umat manusia? Tanpanya, Upin Ipin takkan bisa belajar di Tadika Mesra. Haha.

Dan, tentu saja, komunikasi adalah penawar dari rindu yang tumpang tindih.

4. Hubungan Itu Tentang Saling Mengerti


Kata 'saling' ini harus diperhatikan. Karena, kadang lelaki mau dimengerti terapi tidak mau mengerti perempuan. Demikian pula sebaliknya, kadang perempuan hanya mau dimengerti tanpa mau mengerti si lelaki, gara-gara keseringan dengar lagunya Ada Band - Karena Wanita Ingin Dimengerti. Oleh karena itu, perhatikan kata 'saling'. Saling mengerti. Saat lelakinya sibuk, perempuan harus bisa mengerti. Demikian pula saat perempuanya sibuk, lelaki harus mengerti. Terutama jika keduanya sama-sama punya tingkat kesibukan super tinggi.

Tapi ingat, jangan pernah mengerti terhadap pasangan yang selingkuh. Itu kedunguan tingkat dewa. Oh saya sangat mengerti pasangan saya jadi saya ijinkan dia selingkuh. Mengertilah apabila dia tidak bisa menghubungi terus-menerus. Mengertilah apabila dia harus mementingkan keluarga dan teman-temannya terlebih dahulu. Mengertilah apabila dia harus tunduk pada atasannya karena di situlah sawah dan ladangnya.

Sebagai perempuan, tentu saya atau kalian ingin bisa mengerti si lelaki. Dan saya ingin semua orang mengerti bahwa apabila hubungan baru sampai tahap pacaran, janganlah meminta semua waktunya. Karena, sebelum mengenal kita dia sudah lebih dulu mengenal orangtuanya, kakak adiknya, keluarganya, tetangganya, teman-temannya. Apalah kita yang datang di pertengahan hidupnya? Makanya, saya paling anti sama pacar dan/atau isterinya teman yang suka menghalangi pertemanan atau persahabatan. Hei, kalau saya mau, sudah dari dulu saya kawin sama lakimu itu. Hahaha. Bercandaaaaa.

5. Hubungan Itu Tentang Harapan Bersama


Harapan sebuah perselingkuhan akan menimbulkan masalah besar. Pasangan si dia pasti tidak bisa menerimanya. Tapi harapan dua orang yang berpacaran dan/atau ta'aruf, dengan kondisi sama-sama bujang, itu pasti ada. Mana ada manusia yang maunya pacaran terus tanpa punya harapan duduk di pelaminan dan membina rumah tangga. Jadi tidak salah kalau saya menulis, hubungan itu tentang harapan bersama. Harapan ini dapat tercipta apabila telah lebih dulu tercipta chemistry, kepastian, komunikasi, dan saling mengerti.

⇜⇝

Setelah menulis semua di atas, lalu membacanya kembali, saya merasa lucu. Betul-betul ini sebuah ide yang tidak biasa untuk pos blog ini, tapi ide yang biasa untuk catatan pribadi di T-Journal. Meskipun tulisan ini adalah tentang saya pribadi, sebagai seorang perempuan yang belum menikah, namun ini berlaku untuk semua orang: lelaki dan perempuan. 

Baca Juga: 5 Program KKN Uniflor Keren Dalam Pengabdian Masyarakat

Kadang-kadang, ketika menjalani sebuah hubungan, kita berkata dalam hati: jalani saja dulu, biarkan mengalir, nanti juga mentok. Saya bertemu dan belajar dari seseorang yang menolak mentah-mentah kalimat 'jalani saja dulu'. Baginya, tidak ada kata jalani saja dulu. Apabila chemistry sudah tercipta, maka dia akan sungguh-sungguh melakoninya. Setelah lama saya pikir-pikir, ada benarnya. Jalani saja dulu itu semacam keputusasaan tanpa usaha untuk menjadikannya jadi. Atau, jalani saja dulu itu semacam ketidakpastian. Jalani saja dulu ... nanti kalau cek-cok pisah saja. Amboi, perasaan itu kalau bisa bicara dia bakal memaki kita hahaha.

Sekian dulu ya. Feel free kalau mau komentar.

Semoga bermanfaat :)

#KamisLima




Cheers.

Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah


Komunitas ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah. Sudah berapa lama saya mengenal komunitas bernama Anak Cinta Lingkungan (ACIL)? Sudah sangat lama. Sebenarnya maksud hati ingin turut terlibat di dalamnya tetapi kesibukan pekerjaan dan urusan ini itu memang sangat tidak bisa mentolerir. Sedih? Iya. Makanya saya memutuskan untuk solo karir, maksudnya saya tidak terlalu terlibat dalam komunitas manapun, kecuali Stand Up Comedy Endenesia. Kenapa? Karena Stand Up Comedy Endenesia merupakan komunitas dengan konsep yang benar-benar beda dari banyak komunitas yang pernah saya ikuti selama ini. Selain itu tingkat kegiatannya pun tidak terlalu padat, selain lomba setiap Jum'at ada open mic, sehingga tidak terlalu dipermasalahkan apabila saya absen, kan saya bukan komika. Hehe.

Baca Juga: Manfaatkan Celana Jin Bekas Untuk Mempercantik Sofa

Kembali ke ACIL. Karena hari ini #RabuDIY, maka tidak ada salahnya saya menulis tentang Komunitas ACIL Ende, atau ACIL (saja). Apa dan bagaimana ACIL? Silahkan dibaca sampai selesai, siapa tahu bisa membawa inspirasi bagi kalian. 

A C I L


Sudah lama tahu ACIL, tapi alangkah lebih bagus informasi tentang ACIL saya peroleh langsung dari salah seorang pengurusnya. Dari blog-nya Abang Iskandar Awang Usman, saya peroleh informasi tentang ACIL. Komunitas yang berkonsentrasi pada anak dan lingkungan ini didirikan pada Rabu, 4 Desember 2013 dengan basecamp di Jalan Adi Sucipto RT/RW 02/08, Ippi, Kelurahan Tetandara, Kecamatan Ende Selatan, Kabupaten Ende. Sayangnya tidak ditulis memang siapa-siapa pendiri dan pengurusnya. Tetapi jelas saya tahu sebagiannya, seperti Abang Umar Hamdan sang ketua, Abang Iskandar, Abang Antho, Filzha, dan lain-lain yang namanya tidak saya tulis karena kuatir salah.


Foto di atas, waktu penyerahan bantuan mantel hujan anak-anak dari Relawan Taman Bung Karno Ende kepada ACIL. Dari saya belum berhijab sampai berhijab, sudah melekat sama ACIL. Haha.


Sampai saya sudah berhijab, main ke markas ACIL, waktu itu kita dari Komunitas SOSMED Ende memang pengen berbagi, bermain, dan belajar bersama anggota ACIL yang rata-rata anak-anak usia TK sampai SMP. Kalau sudah SMA dan/atau lewat dari itu, boleh donk jadi pengasuh juga (silahkan daftar).

Mari cerita-cerita dulu tentang ACIL. Dulu saya pernah ikut kegiatan ACIL di halaman belakang rumah Wakil Bupati Ende, Bapak Djafar, di Jalan Soekarno. Dari situ saya jadi tahu bahwa ACIL yang beranggotakan anak-anak itu punya kegiatan rutin setiap hari Minggu, serta kegiatan-kegiatan lainnya. Markas mereka di Ippi itu merupakan rumah yang dihuni oleh Abang Umar Hamdan sekeluarga yang pada bagian halamannya didirikan saung kreatif. Saung ini berisi rak-rak buku, dan aneka barang kebutuhan belajar bersama. Dari situ ragam kegiatan ACIL lainnya berlangsung.


Kegiatan-kegiatan ACIL yang saya rangkum dari pandangan mata *cieee* antara lain belajar -  membaca - bermain edukatif di saung baca mereka, penanaman bibit atau pembibitan pohon dan tanaman lainnya, penghijauan, bersih-bersih sampah di titik-titik yang ditentukan, pemilahan sampah, hingga daur ulang sampah. Bukan cerita baru, kemudian, apabila Abang Umar dan kawan-kawan sebagai pengurus dan pengasuh ACIL diminta menjadi narasumber dengan materi utama sampah dan pengelolaannya. Kami pernah pula sama-sama menjadi pemateri dalam kegiatan #EndeBisa dengan goal utama #EndeKreativitas, #EndeBelajarLiterasiDigital, #EndeBebasSampah, #EndeSocMed4SocGood, #EndeBerwirausaha.


Rasanya pengen kembali ke aula SMKN 1 Ende dengan ribuan pesertanya itu. Hahaha.

ACIL dan Konsistensinya Mendaur Ulang Sampah


Komunitas yang berkonsentrasi pada masalah sampah ada banyak. Tapi yang betul-betul tuntas dengan masalah sampah ini saya baru melihatnya dalam tubuh ACIL. Mereka tidak saja memberi contoh lewat aksi bersih-bersih sampah, tetapi juga mengedukasi masyarakat, serta melaksanakan kewajiban moril untuk mendaur ulang sampah. Waktu berkunjung ke markas ACIL saya tahu bahwa proses daur ulang ini dilakukan oleh semua anggota ACIL baik anak-anak maupun pengasuh/pengurus, serta pendamping hidup mereka. Seperti isterinya Abang Umar. 

Sampah yang didaur ulang terjadi setelah proses pemilahan. Umumnya sampah plastik akan dikumpulkan dan dibersihkan agar dapat didaur ulang. Waktu berkunjung ke sana saya sempat fotoin barang-barang daur ulang yang bejibun itu tetapi saya file fotonya entah di mana. Untung saya masih bisa mendapatkan foto-foto yang dulu dipos Abang Nurdin di Facebook.




Sampah plastik, juga kertas, didaur ulang menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi dari bentuk semula. Apa saja hasil daur ulang itu? Pada gambar di atas kalian bisa melihat ada miniatur rumah adat, tempat penyimpanan file, dan tas selempang. Selain itu masih banyak produk lainnya seperti tempat sepatu gantung, dompet, keranjang, hingga tudung saji. Apa saja yang bisa didaur ulang, ditambah percikan kreativitas, maka produk daur ulang pun tercipta. Produk-produk itu pun dijual, hasilnya ditabung di tabungan ACIL, dan bakal digunakan untuk keperluan kegiatan ACIL itu sendiri. Ini kan keren.


Foto di atas, Abang Umar tidak sadar saya potret dari belakang saat kegiatan penghijauan di Pantai Anaraja. Dia memakai tas selempang daur ulang. Tas yang sama juga dia pakai saat menghadiri Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay Sabtu lalu. Konsisten! Mereka selalu memberi contoh, tidak hanya sekadar bicara. Si Filza juga sering banget pakai tas ini. Kan saya jadi pengen punya juga. Hahaha.


Sedangkan foto di atas, saya sedang mencoba alat pungut sampah #DIY yang dibikin oleh Abang Iskandar. Ah, mereka sangat kreatif. 

Mengurangi, Bukan Menghilangkan


Ini yang juga penting dibahas. Melalui kegiatan-kegiatannya, termasuk menjadi pemateri/pembicara dalam seminar tentang sampah, sudah jelas Abang Umar dan kawan-kawan berusaha menanamkan konsep Reuse, Reduce, Recycle atau 3R. Kalau di-Indonesiakan menjadi pakai ulang, kurangi, daur ulang. Konsep itu merupakan konsep global yang digaungkan di mana-mana. Karena, manusia sebagai penikmat semesta tidak bisa menutup satu pintu. Menutup satu pintu sama dengan menghancurkan pintu lainnya.

Bingung?

Mari saya jelaskan.

Plastik tidak bisa dihilangkan dalam kehidupan manusia alias manusia tidak bisa berhenti begitu saja dari yang namanya plastik. Bila itu terjadi, hutan yang menjadi korban. Itu pasti. Contoh paling sederhana saya lihat dari sumpit yang ada di rumah. Sumpit itu terbuat dari plastik dan dipakai berulang-ulang. Bayangkan bila sumpit semata-mata terbuat dari kayu. Coba kalian bayangkan sendiri. Mautak mau kita harus sepakat bahwa plastik masih memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia, terutama masyarakat Indonesia. Sama juga dengan contoh sebuah rumah makan yang menyiapkan sarung tangan plastik kepada pelanggannya dengan alasan hemat air. Air memang hemat, sampah plastik tambah banyak.

Di Indonesia, rata-rata produk yang kita konsumsi menggunakan wadah plastik. Air galon, air minum kemasan, botol sampo, produk sasetan, produk isi ulang, taplak meja, baliho, barang rumah tangga, sampai karpeg pun berbahan plastik. Ada pula yang menggunakan kertas seperti bungkus sabun. Hal ini berbeda dari beberapa supermarket di luar negeri yang sudah menyediakan beberapa produk tanpa kemasan. Iya kah? Iya donk. Itu manfaatnya membaca. Hahaha. Jadi, pengelola supermarket menyediakan produk, misalnya minyak goreng dan/atau sampo, yang disimpan di dispenser khususnya. Pelanggan harus membawa botolnya sendiri dari rumah dan tinggal menakar sesuai kebutuhan. Asyik kan?

Jelas, plastik memang tidak bisa semerta-merta hilang dari kehidupan kita. Bayangkan saja kalau mantel hujan terbuat dari koran. Hehe. Bijaknya adalah 3R tadi. 

Mengurangi sampah plastik sudah saya lakukan. Mungkin juga sudah kalian lakukan. Ya, saya selalu membawa botol minum ke mana pun pergi karena enggan membeli air minum kemasan. Selain berhemat, saya mengurangi sumbangan sampah plastik. Bahkan membeli barang di kios pun, kalau barang itu bisa masuk ransel, saya menolak diberikan kresek oleh penjualnya. Sederhana, memang. Dan saya bahagia menjalaninya. 

Mendaur ulang sudah saya lakukan. Kalian tahu kan kalau pos #RabuDIY berawal dari kegemaran saya ber-DIY-ria. Mendaur ulang! Apa saja. Plastik termasuk di dalamnya. Pot-pot bunga, celengan, dompet receh, dan hiasan dinding merupakan beberapa barang daur ulang yang saya bikin. 



Memakai kembali produk plastik juga sudah saya lakukan. Meskipun sering menolak kresek dari para penjual, tetapi berbelanja di supermarket membikin ransel saya kepenuhan untuk diisi barang kebutuhan satu bulan. Oleh karena itu, plastik-plastik dari supermarket itu selalu kami simpan, bahkan ada kotak khusus, untuk nanti dipakai kembali. Memakai kembali barang plastik ini juga bisa dilihat dari pot bunga yang sebelumnya merupakan baskom kebutuhan dapur (yang kemudian retak/pecah).

⇜⇝

Kita semua bisa melakukannya: 3R. Asal ada kemauan. Mulai dari yang paling sederhana saja: membawa botol minum dan menolak kresek apabila barangnya bisa masuk ransel/tas yang kita pakai. Dari satu orang menjadi seratus orang ... bagus sekali ... sudah mengurangi begitu banyak sampah plastik di semesta ini. 

Baca Juga: Kreativitas Peserta KKN-PPM Uniflor 2019 di Rumah Baca

Kembali ke ACIL. Saya salut sama pengurus/pengelolanya. Bagaimana mereka konsisten mendaur ulang sampah, itu patut diacungi jempol dan diberikan apresiasi tersendiri. Apabila kalian tidak bisa mendaur ulang sendiri, kumpulkan dan serahkan sampah plastik (tapi yang sudah dibersihkan ya) kepada ACIL, agar mereka yang mendaur ulang. Apabila kalian mau mendukung ACIL, boleh juga dengan membeli produk-produk DIY hasil daur ulang yang telah mereka bikin. Kenapa tidak?

Yuk, kurangi sampah plastik!

#RabuDIY



Cheers.

Teknik, Koreo, dan Seni Pada Sesi Foto Prewedding


Teknik, Koreo, dan Seni Pada Sesi Foto Preweding. Sudah lama sahabat yang sudah saya anggap adik sendiri, Mila Wolo, meminta bantuan untuk foto prewedding. Prewedding-nya Mila dan kekasihnya yaitu Aram Ismail, bukan saya. Kita sepemahaman dulu dalam hal ini. Hahaha. Adalah sesuatu yang sulit menyatukan waktu begitu banyak orang. Menyatukan waktu Mila dan Aram saja harus mundur dari minggu ke minggu. Maklum, Mila menetap dan bekerja di Kota Ende, Aram yang asli Ende menetap dan bekerja di Kecamatan Pulau Ende. Mereka dipisahkan air garam. Hehe. Sedangkan kami yang membantu terwujudnya sesi foto prewedding itu juga punya aktivitas dan kesibukan sendiri.

Baca Juga: Proshow Aplikasi Sunting Video Jadul Tapi Menarik Diulik

Pada akhirnya kesepakatan itu tiba. Sabtu, 21 September 2019, kami melakukannya. Sesi foto prewedding, bukan melakukan yang lain. Siapa-siapa yang terlibat dalam kegiatan ini selain saya?


1. Anto Ngga'a.
2. Kiki Abdullah.
3. Thika Pharmantara.
4. Solihin.

Sebenarnya ada seorang lagi yang saya ajak tapi dianya tidak bisa. Atau tidak mau? Ah, entahlah. Pokoknya dia tidak ikut. Eh? Kok jadi ngotot menulis si dia ini? Ah, sudahlah. Saya dan Anto Ngga'a harus minta ijin di kantor, keponakan saya Kiki pun harus mengurus tiga ibu hamil terlebih dahulu di puskesmas, Solihin (calon suaminya Kiki) sedang free time, Thika sedang tidak kuliah. Mari berangkat! Ada beberapa lokasi yang disepakati, termasuk dengan wardrobe yang sudah saya susun dan sebarkan ke para anggota huru-hara ini.

Lokasi Andalan yang Tutup


Merupakan kebanggaan kami, Orang Ende, bisa foto prewedding mengenakan pakaian adat dan difoto di rumah adat (manapun). Pukul 10.30 Wita sepakat berkumpul di depan Museum Tenun Ikat yang berbentuk rumah adat/panggung itu. Ndilalah area Taman Renungan Bung Karno (yang bertetangga dengan) dan Museum Tenun Ikat ditutup total. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan masuk. Siapalah kami, rakyat jelata yang cuma sedang mencari lokasi foto prewedding. Lokasi andalan yang tutup ini mengantar kami ke Pantai Mbu'u. Sebuah pantai dalam perjalanan menuju Wolotopo. Cuuuuum!

Matahari Tengah Kepala


Sangat sulit bagi Anto mencari spot dan titik bidik terbaik. Pukul 11.00 seharusnya sudah mulai sesi foto, tetapi Kiki dan Solihin malah baru tiba di Pantai Mbu'u. Dan, Kiki tidak mau kedatangannya sia-sia. Dia harus merias si Mila terlebih dahulu. Pokokny! Apalah daya ... kami pun menunggu dengan tabah ... sambil meminta Thika menulis papan ini. Oh ya, papan mini ini saya pesan di Melky, mahasiswa yang KKN-PPM di Desa Ngegedhawe. Sebenarnya papan tulis (hitam) tapi dia sudah terlanjur membikin warna cokelat. Hajar saja.


Setelah menunggu sekitar setengah abad, Mila pun sudah selesai dirias. Mari kita memulai! Dan Anto semakin pusing kepala karena matahari sudah berada di tengah kepala alias sulit mendapatkan titik untuk membidik karena kami juga tidak membawa reflektor. Aslinya sih memang tidak punya reflektor, tapi kan kami bisa meminjam pada teman-teman fotografer. Ya sudahlah, semangat tidak boleh kendor. Mari kita abadikan!



Dari lokasi Pantai Mbu'u kami meluncur ke bakal kafe yang masih sedang dipersiapkan untuk dibuka. Lokasinya tidak jauh-jauh dari Pantai Mbu'u. Untungnya diijinkan untuk foto-foto di sana sama pemiliknya, cus kami menambal perut dengan menu-menu yang disiapkan sama yang punya gawe. Hahaha. Sambil makan, gantian mengarahkan gaya / koreo untuk Aram dan Mila. Gantian sama si Kiki.

Gedung Imaculata dan Pohon Tua


Gedung Imaculata, gedung bersejarah tempat Bung Karno mementaskan tonil-tonilnya, merupakan lokasi berikutnya. Lokasinya hanya lima langkah dari Pohon Tua (rumah saya). Tapi hari itu kami tidak mampir ke Pohon Tua terlebih dahulu melainkan langsung ke gedung tersebut. Dulu saya memang termasuk orang yang tidak setuju Gedung Imaculata dipugar 100% sampai kehilangan bentuk aslinya. Aaaah, siapalah saya. Haha. Yang penting sekarang bisa dinikmati oleh siapa saja.

Dan yang punya gawe malah sakit perut! Menunggulah kami *ngikik*.


Untuk sesi foto di Gedung Imaculata, make up harus diganti sama yang lebih tebal hahaha. Kiki kembali beraksi dan kami yang lain menunggu dengan sabar dan tabah. Huhuhu. Kasihan Anto belum makan ini, pikiran saya, tapi anaknya memang tidak rewel jadi santai saja. Kalau kata lagu, kasih sloooooow.


Lepas dari Gedung Imaculata barulah kami pulang ke Pohon Tua, sekalian makan siang, istirahat, untuk sesi berikutnya.


Lelah? Pasti. Sejak pukul 10.00 Wita hingga menjelang maghrib. Makanya foto di atas itu bukan di dalam ruangan sebenarnya melainkan di teras rumah saya haha.

Tekni, Koreo, dan Seni


Ini yang mau saya bahas di pos hari ini. Saya pernah memang foto prewedding orang lain. Tapi waktu itu fotonya tidak dengan pasukan lengkap dan harus menggunakan metode tertentu *tsah*. Manapula masih susah untuk mengkoreo (bahasanyaaaaa) yang punya gawe. Pada sesi foto yang ini, saya belajar banyak teknik, koreo, dan seni sebuah sesi foto prewedding. Lagi pula saya kan bukan fotografer. Apalaaaah saya ini.


Terbiasa mengabadikan momen pernikahan, misalnya, bukan berarti langsung bisa untuk melakukannya saat sesi foto prewedding. Teknik yang saya pelajari dari Anto sangat banyak: pencahayaan, komposisi ini itu, sampai ratio dan sudut pengambilan.

Dari teknik, kita bergeser ke koreo dan seni. Keduanya melekat erat. Mengarahkan calon pengantin dalam sesi foto prewedding tidak semudah saat membidik akad nikah, misalnya. Sesi foto prewedding membutuhkan sedikit drama pengarahan. Mungkin ada yang bakal bilang mudah saja, kan tinggal lihat di internet, lalu dicontohkan. Tidak semudah itu. Kita harus memperhatikan kondisi si calon pengantin juga. Apakah mereka siap untuk koreo ini itu? Kalau mereka siap, hajar saja, kalau tidak ... ya terpaksa diganti.

Di situ seninya. Lebih seni lagi kalau calon pengantinnya usil macam Aram, sering mencolek Mila, terus ngakak, terus diulang lagi. Begitu seterusnya.

Baca Juga: Jangan Hanya Tahu 2D Karena Animasi Itu Banyak Jenisnya

Ternyata, dari sebuah sesi foto prewedding saya belajar banyak hal. Komponen-komponen yang harus disiapkan sebelum sesi foto itu pun banyak: ragam properti pendukung, wardrobe, make up, lokasi, tukang bidik dengan skill mumpuni dan pandai membaca situasi, dan tentu yang punya gawe. Tanpa kehadiran si calon pengantin, apalah artinya sesi foto prewedding ini. Hahaha.

Bagaimana dengan kalian, pernahkah memotret prewedding teman juga? Bagi tahu yuk di komen.

#SelasaTekno



Cheers.

Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay


Cerita Dari Festival Literasi Nagekeo 2019 di Kota Mbay. Dua minggu yang lalu saya menerima pesan WA dari seseorang yang nomornya belum tersimpan di telepon genggam. Sumpah, mau bertanya: ini siapa(?) saya sungkan, kuatir dibilang sombong. Lagi pula profile picture-nya bukan foto diri melainkan gambar Bunda Maria yang kemudian diganti dengan gambar Yesus. So I have no idea who is he/she. Isi pesan WA itu adalah lampiran draf kegiatan Festival Literasi Nagekeo 2019. Sampai orang itu mengiriman revisi draf kegiatan dimaksud pun saya masih sungkan bertanya, lantas hanya bisa mengucapkan terima kasih serta janji bakal hadir pada malam Minggu.

Baca Juga: Semua Anak Indonesia Harus Menonton Upin Ipin (Bahagian 2)

Apa itu Festival Literasi Nagekeo 2019? Kenapa pula saya berjanji untuk hadir saat malam Minggu? Kalian kepo kah? Hahaha. Kalau kepo, hyuk dibaca sampai selesai!

Hari Literasi Internasional


Mari pukul mundur ke tahun 1965. Sumber Wikipedia menjelaskan bahwa Hari Literasi Internasional (International Literacy Day/ILD) atau Hari Aksara Internasional/Sedunia atau Hari Melek Huruf Internasional, yang diperingati setiap tanggal 8 September, merupakan hari yang diumumkan oleh UNESCO pada 17 November 1965 sebagai peringatan untuk menjaga pentingnya melek huruf bagi setiap manusia, komunitas, dan masyarakat. Setiap tahun, UNESCO mengingatkan komunitas internasional untuk selalu dalam kegiatan belajar. Hari Melek Huruf Internasional ini diperingati oleh seluruh negara di dunia.

Nagekeo, Kabupaten Literasi.

Sedangkan dari Kompas, begini informasi yang saya peroleh: Melansir dari situs resmi UNESCO, tahun 2019 ini UNESCO akan memberikan penghargaan kepada program dan individu yang berjasa terkait literasi di seluruh dunia dalam tema "Literasi dan Multilinguaisme". Sejak tahun 1967, UNESCO telah memberikan rekognisi dan bantuan bagi lebih dari 490 proyek dan program di bidang literasi yang dijalankan baik oleh pemerintah, Organisasi Non-Pemerintah (LSM), maupun individu di seluruh dunia.

Tahun ini, UNESCO International Literacy Prizes terbagi menjadi dua jenis penghargaan yang akan diberikan kepada lima penerima, yakni: UNESCO King Sejong Literacy Prize, dimana penghargan ini diberikan untuk dua pemenang dengan program yang berfokus pada pengembangan dan pengunaan pendidikan dan pelatihan literasi bahasa ibu. UNESCO Confucius Prize for Literacy, penghargaan tersebut terbentuk pada 2005 atas dukungan Pemerintah Cina. Penghargaan ini diberikan kepada tiga pemenang dengan program yang mempromosikan literasi orang dewasa terutama yang berada di daerah pedesaan dan untuk remaja putus sekolah utamanya kaum perempuan Masing-masing pemenang akan mendapatkan medali, piagam penghargaan dan uang sejumlah 20.000 dolar Amerika Serikat.

Nge-blog merupakan salah satu cara berliterasi.

Jadi kita sepemahaman ya, bahwa Hari Literasi Internasional diperingati setiap tanggal 8 September. Kita juga harus sepemahaman bahwa, also from Wikipedia, bahwa Literasi adalah istilah umum yang merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa. Sedangkan, menurut data dari Literasi Digital keluaran Internetsehat, secara umum yang dimaksud dengan literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), untuk menemukan, mengevaluasi, memanfaatkan, membuat dan mengkomunikasikan konten/informasi, dengan kecakapan kognitif maupun teknikal. 

Jadi, kalau bisa saya simpulkan, kegiatan literasi adalah kegiatan membaca, menggali informasi, mengelola/mengolah informasi, serta menyebarkan kembali informasi tersebut. Salah satunya dengan nge-blog. Salah duanya dengan mendongeng. Sala(h)tiga-nya di Pulau Jawa. Hehe.

Hari Literasi Nagekeo 2019


Kabupaten Nagekeo, dengan Ibu Kota bernama Kota Mbay, merupakan kabupaten yang sedang sangat getol membangun diantaranya membangun di ranah literasi. Bupati Nagekeo, Bapak Don, saat meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe berkata bahwa awalnya beliau kurang perhatian dengan urusan literasi ini, sampai kemudian beliau mengunjungi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia di Salemba - Jakarta, beliau menjadi sangat paham pentingnya literasi untuk pembangunan. Artinya, mencerdaskan masyarakat tidak hanya berkonsentrasi pada pendidikan akademik saja, tetapi harus diimbuh dengan berliterasi yang diperoleh/dilakukan di luar bangku sekolah/kuliah.

Oleh karena itu, kesimpulan saya, sampailah pada titik Kabupaten Nagekeo kemudian menggelar kegiatan akbar Festival Literasi Nagekeo 2019 selama empat hari, dimulai Jum'at (27 September 2019) sampai dengan Senin (30 September 2019. Dan saya, menyesuaikan dengan waktu kerja, baru bisa dan hanya bisa hadir pada malam Minggu (Sabtu, 28 September 2019).


Meskipun tiba di Kota Mbay pukul 12.00-an Wita, tapi saya baru bisa menuju Lapangan Berdikari, tempat kegiatan ini digelar, pukul 20.30 Wita. Alasannya karena masih menunggu keponakan saya, si Iwan. Tiba di depan Lapangan Berdikari, kendaraan baik roda empat maupun roda dua penuh di sisi kanan dan kiri jalan. Sementara itu dari panggung di dalam lapangan terdengar bunyi-bunyian dari alat musik tradisional, ada sekelompok penari sedang pentas. Bergegaslah kami berlima: saya, Iwan, Reni (isterinya Iwan), Andika dan Rayhan (anaknya mereka berdua).


Suasana di dalam Lapangan Berdikari mengingatkan saya pada Pameran Pembangunan yang dulu rajin banget dilaksanakan di Stadion Marilonga, Kota Ende. Itu, saat saya masih SD lah. Ada panggung hiburan/pentas seni sekaligus panggung perlombaan, ada stan-stan dari berbagai kecamatan di Kabupaten Nagekeo juga stan dari kabupaten lainnya termasuk Kabupaten Ende, ada banyak pedagang mainan anak-anak dan balon hias, ada pula warung-warung dadakan dengan menu khusus daging domba, dan lain sebagainya. Pada stan-stan itu juga ada yang memamerkan sekaligus menjual tenun ikat khas Kabupaten Nagekeo baik lembaran besar maupun selendang mini/syal serta hasil kerajinan tangan lainnya.

Banyak Hal Menarik dan Tidak Terduga


Sangat tidak terduga karena saya bertemu mereka. Siapakah mereka?

Penggemar


Penggemar nih ye! Haha. Sampai disenyum-senyumin sama Iwan dan Reni. Kami memulai senang-senang malam itu dengan berkeliling stan yang ada di tepi Lapangan Berdikari. Saat kami tiba di stan Pariwisata Nagekeo, mendadak seorang ibu yang juga berdiri di situ meminta foto bareng saya.



Terima kasih, ibu, sudah mau foto bareng saya. Siapa pun ibu, saya tidak bermaksud apa-apa menulis penggemar, hanya bercanda. Hehe.

Mer Mola Neu


Ini keren. Tidak terduga, bisa bertemu Mer Mola Neu. Mer Mola Neu adalah young (woman) entrepreneur asal Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Provinsi NTT, dengan brand Sehelai & Renjana. Produknya banyak, antara lain tas berbahan tenun ikat, buku/notes dengan cover bergaya kedaerahan dari beberapa daerah di Pulau Flores, gantungan kunci, stiker, bahkan ada pula kripik. Stan mereka sangat menarik dengan baliho warna kuning bertulis Sehelai & Renjana. Tapi, dari semua produknya, saya paling demen sama buku/notes tersebut.


Sebagai Presiden Negara Kuning, sudah lama saya memesan buku / notes bersampul kuning dengan empat kosa kata bahasa daerah Nagekeo ini. Sudah dikirim ke Ende dan saya tinggal mengambil (dan bayar) di tempat drop. Tapi saya lupa alias kelupaan terus! Sampai-sampai saya memarahi diri sendiri yang terlalu sering lupa. Saat keliling stan di Festival Literasi Nagekeo 2019, bertemulah saya dengan stan milik anak muda kreatif ini. Meskipun Insha Allah saya akan kembali ke Kabupaten Nagekeo (Kota Mbay) untuk beberapa urusan, tapi saya tidak mau kehilangan kesempatan lagi untuk memiliki buku ini. Harus beli! Dibanderol Rp 40K sudah dapat tambahan satu gantungan kunci. Aye!

Tidak mungkin pula melewatkan kesempatan untuk berfoto bersamanya. Adalah kebanggaan bagi saya pribadi bisa bertemu dengan orang-orang muda hebat yang kreatif dan terus berkarya, menemukan inovasi-inovasi baru dengan menyertakan budaya dan kearifan lokal. Dari mereka pula budaya kita tetap lestari. Keren benar Mer dan Wilfrid ini. Tasnya juga keren, Mer *muka memelas, hahaha*.

Kalau kalian tanya, apa yang paling memuaskan saya sebagai si tukang jalan, jelas human interest-nya. Karena dari penduduk lokal kita pun BERLITERASI (membaca, mencari informasi, mengolah informasi, dan membagi informasi). Informasi yang kadang tidak terlampir di buku pariwisata paketan. Sama juga, kalau kalian membaca blog saya, seperti itulah informasi yang kalian dapat *sombong sikit sekalian promosi*. Jangan lupa kalian bertanya dengan nada sinis, emang penting saya ngegas dari Ende ke Mbay untuk bersileweran di Festival Literasi Nagekeo 2019? Tidak penting untuk kalian, tidak penting untuk saya. Tapi ... bermakna dan menambah khasanah hidup saya pribadi. Sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan Rupiah (kecuali Euro boleh lah) hahaha.

Abang Umar Hamdan dan Abang Iskandar Awang Usman


Waktu saya melihat pos Abang Umar Hamdan di Facebook bahwa dia sedang berada di lokasi Festival Literasi Nagekeo 2019, siang-siang begitu, pengen ngegas dari Towak ke Lapangan Berdikari, tapi masih pengen menikmati obrolan bersama keponakan. Janji ketemu malam saja sekalian.



Kami anak kembar yang kalau sedang berdiskusi macam orang sedang berantem. Sering pula kami bentrok. Tapi kami tidak pernah musuhan. Hahaha. Dewasa sekali dua orang ini kan? Oh ya, Abang Umar Hamdan bersama tim dari Anak Cinta Lingkungan (ACIL) tergabung dalam Forum Giat Literasi Kabupaten Ende (FGL). FGL digandeng oleh Perpusda Ende untuk bersama-sama mengisi stand mereka. Oleh karena itu tidak heran stan ini termasuk yang paling ramai terutama saat Kakak Ev dari Rumah Baca Sukacita berdongeng. Uh wow sekali. Sayang saya tidak sempat mengabadikan aksi Kakak Ev mendongeng.


Anak-anak adalah masa depan negeri ini. Sejak dini mereka sudah harus mengenal literasi itu seperti apa. Jauhkan mereka dari gadget, berikan kesempatan pada mereka menikmati dunia anak-anak yang sesungguhnya. Terima kasih teman-teman FGL Kabupaten Ende, terima kasih Perpusda Kabupaten Ende, kalian semua hebat dan bergaya!

Rossa


Di dalam WAG Alumni Smansa Ende, saya sempat bilang kalau ada teman yang sedang berada di Kota Mbay, ketemuan yuk di Lapangan Berdikari. Ndilalah saat sedang berkeliling saya dicolek seseorang. Haaaah???? Rossa!


Sahabat masa SMA. Tidak disangka ya, setelah haha hihi di WAG, malah ketemuan di Festival Literasi Nagekeo 2019.

Kegiatan Bermanfaat Yang Harus Berkelanjutan


Kita sering terbawa euforia pada suatu kegiatan, tapi kemudian kegiatan itu selesai. Tidak ada lanjutannya. Tapi saya berharap agar festival semacam ini harus terus berkelanjutan karena selama manusia berkembang biak, selama itu pula tunas-tunas muda manusia ada di muka bumi. Festival Literasi Nagekeo 2019 harus jadi entrance untuk kegiatan serupa di masa datang.

Kegiatan ini bermanfaat karena tidak saja berfokus pada dunia literasi itu sendiri tetapi banyak lini yang terlibat. Lihat saja, pada stan Kecamatan Boawae saya melihat ragam kerajinan tangan dipamerkan:



Kerajinan tangan ini salah satu dari kerajinan tangan jenis lain seperti tenun ikat, selendang, gantungan kunci tenun ikat, dan lain sebagainya. Selain itu, di dalam stan ini juga ada yang jualan minuman semacam kacang hijau dan es buah begitu.

Di atas saya sudah menulis bahwa ada para pedagang mainan anak-anak dan balon hias dan kuliner atau makanan lokal khas Kabupaten Nagekeo yang paling sering diburu yaitu daging domba. Dalam bahasa Nagekeo daging domba disebut nake lebu. Nake itu bahasa daerah untuk daging. Lebu ya domba. Ternyata sama juga dengan Orang Ende yang menyebut daging dengan nake.


Sayangnya, akibat trauma sama aroma daging domba beberapa saat lalu, saya tidak jadi makan malam di warung dadakan daging domba ini. Tapi tetaplah saya mau menyaksikan Festival Daging Domba pada Bulan November nanti!

⇜⇝

Jadi jelas, Festival Literasi Nagekeo 2019 telah mampu mengangkat dan mendukung banyak lini. Tidak hanya dunia literasi, tetapi juga menggeliatkan perekonomian masyarakat. Ada buku, ada dongeng, ada mewarnai, ada informasi tentang pengelolaan sampah dan hasilnya, ada hasil kerajinan tangan, ada yang jualan kopi Bajawa (dari Kabupaten Ngada), ada pula pedagang kaki lima, dan tentu saja warung dengan menu utama daging domba. Sekali lagi, kegiatan ini harus berkelanjutan.

Baca Juga: Pola Timbal Balik

Malam itu kami menikmati makan malam di warung ayam lalapan, berdampingan sama tempat sablonnya Raiz Muhammad. Malam itu, saya juga tidak bertemu teman-teman lain seperti Novi Azizah dan Jane Wa'u (MC-nya). Tidak masalah. Yang jelas saya sudah menyaksikan sendiri Festival Literasi Nagekeo 2019. Saya sudah bersenang-senang dan menambah ilmu. Saya sudah bertemu banyak orang dan hal-hal yang tidak terduga. Saya sudah sayang kamu. Eh, saya sudah menambah khasanah untuk diri pribadi.

Sampai jumpa di festival-festival berikutnya!

Info:
Stan - berasal dari bahasa Inggris stand, tempat pamer/menjual barang.
Renjana - passion, hasrat.

#SeninCerita
#CeritaTuteh



Cheers.

5 Alasan Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo


5 Alasan Kenapa Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Sebelumnya, pos ini sudah saya tayangkan di Blog Travel. Beberapa minggu terakhir saya sering berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Alasannya macam-macam. Mulai dari kunjungan pribadi, sampai dengan kunjungan kenegaraan liputan kegiatan mahasiswa yang melaksanakan KKN-PPM di Kabupaten Nagekeo. Kabupaten yang diresmikan tahun 2007 ini merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Ngada. Berbeda dari kabupaten pemekaran lain yang pernah saya kunjungi yang mana terkesan dipaksakan, Kabupaten Nagekeo memang layak berdiri sendiri melihat berbagai potensi baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.

Juga Asyik Dibaca: Tahap-Tahap Menuju Pelaminan Dalam Adat Suku Ende


Ada banyak hal menarik bak magnet yang memanggil-manggil saya untuk terus ber-KakiKereta ke Kabupaten Nagekeo, soalnya keponakan saya juga sedang membangun rumah di daerah Towak. Tapi seperti biasa, karena saya tertarik dengan angka lima, kali ini saya menulis lima alasan kenapa kalian harus berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Kalau ada lagi alasan lainnya ... menyusul! Hehe.

1. Pesona Bukit-Bukit Sabana


Tidak dapat dipungkiri Kabupaten Nagekeo itu identik dengan perbukitan sabananya. Dan pemandangan itu mengingatkan saya pada Pulau Sumba. Perbukitan sabana ini mulai lebih banyak nampak sekitar sepuluh kilometer sebelum memasuki Ibu Kota Kabupaten Nagekeo yaitu Kota Mbay. Bahkan di daerah Penginanga, berdiri jejeran pohon gamal yang bisa jadi lokasi spot foto terkeceeeee. 


Saya pernah menulis tentang perbukitan ini dalam pos Bukit Sabana di Nagekeo. Pos lainnya berjudul The Gold and The Geautiful. Silahkan dibaca kedua pos itu untuk tahu dan ngiler sama foto-fotonya. Perbukitan sabana ini berubah-ubah warnanya tergantung musim. Ada tiga warna yang bisa kalian temui yaitu warna hijau, kuning keemasan, dan hitam (saat penduduk membakar lahan agar menyuburkan tanah).

2. Bukit Weworowet dan Festival Daging Domba


Kalian harus berkunjung ke Bukit Weworowet! Bukit unik ini terletak di Desa Waekokak pada jalan trans-Flores antara Kabupaten Nagekeo dengan daerah Riung.


Baru-baru ini saya menerima kiriman foto via WA dari Novi Azizah yang tinggal di Kota Mbay. Di foto itu jelas nampak keramaian di sekitar Bukit Weworowet. Ternyata sedang dibuka Restoran Daging Domba di sana, cikal bakal Festival Daging Domba yang bakal diselenggarakan pada Bulan Oktober 2019 nanti. Yuk ramai-ramai berkunjung saat Festival Daging Domba digelar. Tetapi informasi lebih jelas tanggalnya nanti ya. Ini baru informasi awal dari Novi Azizah, salah seoang aktivis muda di Kabupaten Nagekeo. Termasuk informasi tentang Festival Literasi oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo. Ausam!

3. Hasil Bumi, Hasil Laut, dan Peternakan


Orang bilang tanah kita tanah surga. Hehe. Itu ungkapan lirik lagu Koes Plus yang memang betul. Faktanya memang begitu. Kabupaten Nagekeo terkenal akan kuliner daging domba dan daging bebeknya. Ikan-ikan segar pun tak mau kalah. Dan pastinya hasil pertanian dan perkebunan. Kalian sudah tahu kalau Kabupaten Nagekeo dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil beras terbaik dari Pulau Flores?


Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo, pun ke Kota Mbay, kita akan merasakan dua suasana sekaligus. Suasana kota dan suasana pedesaan. Petak-petak sawah juga ada di daerah kota. Ini keren. Saya pernah melihat hal semacam ini waktu dulu pergi ke rumah Bapak Nadus dan Mama Mia (Kakaknya Mamatua) yang tinggal di Perumnas Monang-Maning, Denpasar, Bali.

Juga Asyik Dibaca: Dudo Bacarita Rame di Larantuka


Menariknya, masyarakat Kabupaten Nagekeo telah diingatkan oleh Bupati mereka sendiri yaitu Bapak Don, bahwa setiap kunjungan Bupati ke kecamatan/kelurahan/desa, tidak boleh disuguhkan makanan yang mewah. Bapak Don lebih suka hasil bumi yang disuguhkan seperti pisang dan ubi rebus beserta sambal.


Pisang dan ubi rebus serta sambal seperti gambar di atas saya nikmati saat Bapak Don meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe yang dibangun oleh mahasiswa peserta KKN-PPM di Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Bapak Don sendiri juga menikmatinya, bersama segelas kopi yang rasanya bikin lidah bergoyang salsa. Hehe.

4. Keramahan Masyarakat


Rata-rata Orang Indonesia itu ramah. Melihat dari cakupan masyarakat Pulau Flores, khususnya, keramahan itu sudah seperti nama tengah mereka. Tidak ada Orang Flores yang judes, kecuali kalau sedang PMS *ngakak*. Semuanya ramah. Apabila kalian bertamu, dan kalian disuguhi segelas kopi, maka kalian adalah keluarga mereka. Termasuk, masyarakat di Kabupaten Nagekeo.


Foto di atas, setelah makan siang di rumahnya Novi Azizah. Terima kasih Mamanya Novi (jilbab biru tua) sudah menjamu kami. Bukan makan siangnya saja, tetapi keramahan dan betapa Mama sudah menganggap kami seperti anak sendiri. Salam hormat!

5. Budaya yang Lestari


Alangkah ruginya saya ketika tahun 2018 tidak sempat menyaksikan acara Tinju Adat yang digelar di Kabupaten Nagekeo. Semoga acara Tinju Adat 2019 bisa saya saksikan sendiri. Selama ini hanya dikirimi video oleh teman-teman. Bahkan teman saya Sintus, seorang polisi yang bertugas di Ende tetapi berasal dari Kota Mbay, pernah melaksanakan acara adat potong gigi. Hwah, asyik ya.


Kalian tas yang dipakai oleh para lelaki di atas? Namanya tas Bere. Sama juga yang dipakai oleh lekaki dari Kabupaten Ngada. Ya namanya Kabupaten Nagekeo merupakan pemekaran dari Kabupaten Ngada, hehe. Hasil kebudayaan ini selalu pasti dipakai oleh kaum lelaki ketika menghadiri berbagai kegiatan, terutama kegiatan yang berhubungan dengan adat. Bupati Nagekeo, Bapak Don, bahkan pernah menyarankan kios-kios menyediakan Bere sebagai pengganti tas plastik.

⇜⇝

Itu dia lima alasan kenapa kalian harus berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Tentu masih banyak alasan lainnya tapi kali ini, sesuka hati saya menulisnya, lima terlebih dahulu. Kalau ada lagi, Insha Allah bakal saya tulis lagi. Setidaknya gambaran kalian tentang Kabupaten Nagekeo bertambah kan ya dengan membaca berbagai pos di blog ini. Siapa tahu Bulan Oktober nanti kita ketemu di Bukit Weworowet dalam Festival Daging Domba.

Juga Asyik Dibaca: Spot Instagenic di Hotel Pepita Mbay


Happy Traveling!

#KamisLima



Cheers.

5 Alasan Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo


5 Alasan Kenapa Kalian Harus Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Sebelumnya, pos ini sudah saya tayangkan di Blog Travel. Beberapa minggu terakhir saya sering berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Alasannya macam-macam. Mulai dari kunjungan pribadi, sampai dengan kunjungan kenegaraan liputan kegiatan mahasiswa yang melaksanakan KKN-PPM di Kabupaten Nagekeo. Kabupaten yang diresmikan tahun 2007 ini merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Ngada. Berbeda dari kabupaten pemekaran lain yang pernah saya kunjungi yang mana terkesan dipaksakan, Kabupaten Nagekeo memang layak berdiri sendiri melihat berbagai potensi baik sumber daya alam maupun sumber daya manusianya.

Juga Asyik Dibaca: Tahap-Tahap Menuju Pelaminan Dalam Adat Suku Ende


Ada banyak hal menarik bak magnet yang memanggil-manggil saya untuk terus ber-KakiKereta ke Kabupaten Nagekeo, soalnya keponakan saya juga sedang membangun rumah di daerah Towak. Tapi seperti biasa, karena saya tertarik dengan angka lima, kali ini saya menulis lima alasan kenapa kalian harus berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Kalau ada lagi alasan lainnya ... menyusul! Hehe.

1. Pesona Bukit-Bukit Sabana


Tidak dapat dipungkiri Kabupaten Nagekeo itu identik dengan perbukitan sabananya. Dan pemandangan itu mengingatkan saya pada Pulau Sumba. Perbukitan sabana ini mulai lebih banyak nampak sekitar sepuluh kilometer sebelum memasuki Ibu Kota Kabupaten Nagekeo yaitu Kota Mbay. Bahkan di daerah Penginanga, berdiri jejeran pohon gamal yang bisa jadi lokasi spot foto terkeceeeee. 


Saya pernah menulis tentang perbukitan ini dalam pos Bukit Sabana di Nagekeo. Pos lainnya berjudul The Gold and The Geautiful. Silahkan dibaca kedua pos itu untuk tahu dan ngiler sama foto-fotonya. Perbukitan sabana ini berubah-ubah warnanya tergantung musim. Ada tiga warna yang bisa kalian temui yaitu warna hijau, kuning keemasan, dan hitam (saat penduduk membakar lahan agar menyuburkan tanah).

2. Bukit Weworowet dan Festival Daging Domba


Kalian harus berkunjung ke Bukit Weworowet! Bukit unik ini terletak di Desa Waekokak pada jalan trans-Flores antara Kabupaten Nagekeo dengan daerah Riung.


Baru-baru ini saya menerima kiriman foto via WA dari Novi Azizah yang tinggal di Kota Mbay. Di foto itu jelas nampak keramaian di sekitar Bukit Weworowet. Ternyata sedang dibuka Restoran Daging Domba di sana, cikal bakal Festival Daging Domba yang bakal diselenggarakan pada Bulan Oktober 2019 nanti. Yuk ramai-ramai berkunjung saat Festival Daging Domba digelar. Tetapi informasi lebih jelas tanggalnya nanti ya. Ini baru informasi awal dari Novi Azizah, salah seoang aktivis muda di Kabupaten Nagekeo. Termasuk informasi tentang Festival Literasi oleh Pemerintah Kabupaten Nagekeo. Ausam!

3. Hasil Bumi, Hasil Laut, dan Peternakan


Orang bilang tanah kita tanah surga. Hehe. Itu ungkapan lirik lagu Koes Plus yang memang betul. Faktanya memang begitu. Kabupaten Nagekeo terkenal akan kuliner daging domba dan daging bebeknya. Ikan-ikan segar pun tak mau kalah. Dan pastinya hasil pertanian dan perkebunan. Kalian sudah tahu kalau Kabupaten Nagekeo dikenal sebagai salah satu kabupaten penghasil beras terbaik dari Pulau Flores?


Berkunjung ke Kabupaten Nagekeo, pun ke Kota Mbay, kita akan merasakan dua suasana sekaligus. Suasana kota dan suasana pedesaan. Petak-petak sawah juga ada di daerah kota. Ini keren. Saya pernah melihat hal semacam ini waktu dulu pergi ke rumah Bapak Nadus dan Mama Mia (Kakaknya Mamatua) yang tinggal di Perumnas Monang-Maning, Denpasar, Bali.

Juga Asyik Dibaca: Dudo Bacarita Rame di Larantuka


Menariknya, masyarakat Kabupaten Nagekeo telah diingatkan oleh Bupati mereka sendiri yaitu Bapak Don, bahwa setiap kunjungan Bupati ke kecamatan/kelurahan/desa, tidak boleh disuguhkan makanan yang mewah. Bapak Don lebih suka hasil bumi yang disuguhkan seperti pisang dan ubi rebus beserta sambal.


Pisang dan ubi rebus serta sambal seperti gambar di atas saya nikmati saat Bapak Don meresmikan Rumah Baca Sao Moko Modhe yang dibangun oleh mahasiswa peserta KKN-PPM di Desa Ngegedhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Bapak Don sendiri juga menikmatinya, bersama segelas kopi yang rasanya bikin lidah bergoyang salsa. Hehe.

4. Keramahan Masyarakat


Rata-rata Orang Indonesia itu ramah. Melihat dari cakupan masyarakat Pulau Flores, khususnya, keramahan itu sudah seperti nama tengah mereka. Tidak ada Orang Flores yang judes, kecuali kalau sedang PMS *ngakak*. Semuanya ramah. Apabila kalian bertamu, dan kalian disuguhi segelas kopi, maka kalian adalah keluarga mereka. Termasuk, masyarakat di Kabupaten Nagekeo.


Foto di atas, setelah makan siang di rumahnya Novi Azizah. Terima kasih Mamanya Novi (jilbab biru tua) sudah menjamu kami. Bukan makan siangnya saja, tetapi keramahan dan betapa Mama sudah menganggap kami seperti anak sendiri. Salam hormat!

5. Budaya yang Lestari


Alangkah ruginya saya ketika tahun 2018 tidak sempat menyaksikan acara Tinju Adat yang digelar di Kabupaten Nagekeo. Semoga acara Tinju Adat 2019 bisa saya saksikan sendiri. Selama ini hanya dikirimi video oleh teman-teman. Bahkan teman saya Sintus, seorang polisi yang bertugas di Ende tetapi berasal dari Kota Mbay, pernah melaksanakan acara adat potong gigi. Hwah, asyik ya.


Kalian tas yang dipakai oleh para lelaki di atas? Namanya tas Bere. Sama juga yang dipakai oleh lekaki dari Kabupaten Ngada. Ya namanya Kabupaten Nagekeo merupakan pemekaran dari Kabupaten Ngada, hehe. Hasil kebudayaan ini selalu pasti dipakai oleh kaum lelaki ketika menghadiri berbagai kegiatan, terutama kegiatan yang berhubungan dengan adat. Bupati Nagekeo, Bapak Don, bahkan pernah menyarankan kios-kios menyediakan Bere sebagai pengganti tas plastik.

⇜⇝

Itu dia lima alasan kenapa kalian harus berkunjung ke Kabupaten Nagekeo. Tentu masih banyak alasan lainnya tapi kali ini, sesuka hati saya menulisnya, lima terlebih dahulu. Kalau ada lagi, Insha Allah bakal saya tulis lagi. Setidaknya gambaran kalian tentang Kabupaten Nagekeo bertambah kan ya dengan membaca berbagai pos di blog ini. Siapa tahu Bulan Oktober nanti kita ketemu di Bukit Weworowet dalam Festival Daging Domba.

Juga Asyik Dibaca: Spot Instagenic di Hotel Pepita Mbay


Happy Traveling!

#KamisLima



Cheers.

Manfaatkan Celana Jin Bekas Untuk Mempercantik Sofa


Manfaatkan Celana Jin Bekas Untuk Mempercantik Sofa. Berapa banyak barang yang kita buang dalam sebulan? Sekardus? Dua kardus? Apakah celana jin termasuk di dalamnya? Oh, sayang sekali kalau begitu, karena celana jin punya begitu banyak manfaat justru setelah tidak dipakai lagi. Haha. Dinosaurus melirik malas kalau saya sudah menulis begini. Tapi kenyataannya memang demikian. Ketika celana jin masih baik atau bagus, alias masih terus kita pakai, ya fungsinya paling-paling hanya dipakai sebagai bawahan. Akan tetapi bila sudah tidak dipakai lagi, celana jin punya banyak manfaat dan paling pertama bisa jadi keset kamar mandi *ngakak guling-guling*.

Baca Juga: Andaikan Ada Seorang Saja Thomas Dambo di Kota Ende

Keset kamar mandi pun kadang tidak dibikin apa-apa terhadap celana jin tersebut. Cukup dilipat, jadi deh. Dududu. Betapa pemalasnya. Saya.

Saya pernah memanfaatkan celana jin yang tidak dipakai lagi ini untuk membikin berbagai barang dalam proyek-proyek Do It Yourself alias DIY. Tentu, semua atas bantuan video-video tutorial atau how to yang berserakan di Youtube. Tapi, jelas percikan kreativitas itu harus ada. Kalau tidak, ya percuma donk. Barang-barang yang pernah saya bikin dari celana jin itu antara lain tas selempang besar, tas selempang kecil, desk organizer, hingga mangkuk celana jin. Sudah ada pula yang saya ulas di blog ini. Silahkan cari sendiri posnya, yaaa.

Ini salah satu tas jin yang saya bikin.

Hari ini saya mau mengajak kalian melihat-lihat rumah saya, Pohon Tua, dengan seperangkat sofa kayu yang jok dan sandarannya kemudian saya selimuti, cie, cengan celana jin bekas.

Ceritanya, saat menjelang Hari Raya Idul Fitri dua tahun yang lalu, saya berencana untuk memperbaiki sofa kayu yang kainnya sudah mreyap-mreyap gara-gara digauk kekucingan kami. Sungguh, kekucingan kami itu kalau tinggal di rumah kalian pasti sudah bikin kalian depresi. Kekucingan di rumah kami selalu menyasar sofa hingga gorden untuk pemanasan kuku mereka. Haha. Tapi kami tidak pernah protes pada kekucingan karena kami sayang mereka. Dududu. Alhamdulillah kekucingan juga sayang kami, buktinya mereka betah tinggal bersama kami.

Maka, saya menghubungi Om Fals untuk memperbaiki sofa kayu tersebut tetapi kain yang digunakan adalah celana jin bekas. Adalah tugas Mamasia dan Thika Pharmantara membongkar kardus-kardus berisi celana jin yang masih saya pertahankan dalam inspeksi tahunan. Iya, seharusnya sudah dibuang, tapi bertahun-tahun, saat inspeksi barang bekas, tetap saja celana-celana jin itu dikebas, dilipat, disimpan kembali di dalam kardus. Tanpa banyak protes, seperangkat sofa kayu diangkut oleh Om Fals berikut tumpukan celana jin bekas.

Saat hari raya, sofa itu belum datang ...

What!?

Ya, betul sekali, kawan. Sofa-sofa itu datang dua minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Ini betul-betul kocak, tapi menyenangkan, karena bikin ngakak. Saya senang, meskipun telat dari hari perjanjian, karena sofanya kemudian menjadi cantik sekali. Kalian bisa melihatnya pada gambar-gambar berikut ini:



Yang paling detail itu pada sandarannya. Untuk sandaran, Om Fals khusus memakai bagian saku celana jin denga label yang masih tertempel. Serunya lagi dikasih paku semaca paku tekan, sehingga nampak gimanaaaaa gitu.



Sofa celana jin itu kemudian mengisi ruang tamu Pohon Tua dengan cantiknya. Banyak yang memuji, dan saya cuma bisa bilang, itu dibikin sama Om Fals, meskipun ide awalnya dari saya. Toh saya juga tidak pandai bermain-main dengan dunia pertukangan hahaha. Makanya, pada pos ini pun saya tidak menulis langkah-langkah membikin sofa celana jin, karena memang tidak tahu caranya. Itu urusannya Om Fals.

Baca Juga: Mempermudah Hidup Dengan Life Hack

Jadi, kalau di rumah kalian ada banyak celana jin yang tidak terpakai lagi entah karena sesak entah karena ada yang sobek entah karena bosan, jangan dibuang. Manfaatkan untuk membikin barang-barang DIY. Kalau bingung, tinggal buka Youtube dan mencari inspirasi di sana. Kalau masih bingung juga, baca-baca pos di blog saya. Siapa tahu ada yang nyangkut di kepala.

Selamat berkreasi!

#RabuDIY



Cheers.