Semarak Bulan Puasa Ramadhan Di Grand Cempaka Hotel


Rajab menginjak 10 hari terakhir, dan artinya Bulan Ramadhan akan datang. Sahur lagi, Buka Puasa Bersama lagi, ngabuburit lagi, berburu takjil lagi dan masih banyak kebiasaan pada bulan penuh berkah ini segera kita rasakan. Sebagian dari kita pasti akan mencari-cari Jadwal Imsakiyah atau Sholat, kemudian mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental. 

Minggu pertama Bulan Ramadhan, keluarga merupakan prioritas utama. Buka Puasa Bersama keluarga sudah menjadi tradisi dan tidak akan dilewatkan begitu saja. Bagi keluarga besar biasanya secara bergiliran menjadi tuan rumah dan menyediakan semua masakannya. Nah biasanya yang tak mau repot mengadakan acara tersebut di Hotel. Kebetulan Grand Cempaka Hotel, Jakarta, sudah memiliki pilihan menu.


Yup, Harmoni Resturant di Hotel Grand Cempaka menyediakan buffet dengan pilihan menu antara lain Gudeg dan Nasi Kebuli. Gudeg mengingatkan kita pada kota Yogyakarta, sebuah kota dengan kebudayaan yang kental. Sedangkan Nasi Kebuli erat kaitannya dengan nuansa Arab dan Timur Tengah. Dua tradisi yang berbeda namun menyatu dalam Bulan Ramadhan kali ini.


Gudeg memiliki citarasa manis biasa ditemukan di Yogyakarta. Namun, Harmoni Restaurant menyelaraskannya dengan menambahkan sensasi pedas. Variasi gudeg sebetulnya sangat beragam, namun Gudeg Yogyakarta lebih terkenal. Gudeg terdiri dari gudeg basah, kering dan Solo. Pembeda dari ketiganya hanya pada Areh. Gudeg kering disajikan dengan Areh kental, sedangkan gudeg basah disajikan dengan Areh encer. Lain lagi dengan gudeg Solo yang Arehnya berwarna putih. Grand Cempaka Hotel menyajikan Gudeg dengan Areh kental.


Bagi pecinta masakan dari kambing harus mencoba Nasi Kebuli. Nasi ditanak dengan campuran kaldu kambing dan susu kambing. racikan berikutnya adalah minyak samin untuk menumis rempah-rempah termasuk jintan, kapulaga, kayu manis dan pala. Bayangkan aroma yang tercium dari racikan kaya rempah-rempah di Nasi Kebuli ini.

Nasi Kebuli sangat terkenal diMasyarakat Betawi dan Keturunan Arab di Indonesia. Tastenya memang mirip dengan Nasi Briyani, sehingga sangat mudah untuk diterima dikalangan Muslim. Selain Ramadhan, Nasi kebuli biasanya disajikan pada saat momen Hari Besar Islam seperti Maulid Nabi Besar, Lebaran dan Idul Qurban.


Kedua Menu, Gudeg dan Nasi Kebuli merupakan pilihan Buffet di Harmoni Restaurant. Ragam menu lainnya seperti ayam goreng, mie goreng, sayur dan pilihan lainnya juga melengkapi buffet ini.

Paket Menu Ramadhan dan Lebaran Di Hotel Grand Cempaka


Berapa sih harga yang tiwarkan untuk menikmati buffet pada saat berbuka puasa? Tenang saja, hanya dengan Rp 130.000/net termasuk ta'jil dan makan malam. Nah, bagi yang menginap di Hotel Grand Cempaka, dikenakan rate harga kisaran mulai dari Rp 644.000 sudah termasuk Sahur atau makan pagi (sarapan) untuk dua orang. Paket Ramadhan ini berlaku mulai dari 25 Mei - 25 Juni 2017.



Setelah Bulan Ramadhan, tersedia paket lebaran dengan rate harga yang sama Rp 644.000/net per kamar termasuk makan pagi untuk dua orang. Selain itu terdapat paket Halal Bi Halal yang bisa dinikmati dengan harga Rp 200.000 dengan coffee break dan makan siang/malam.


Silahkan yang sudah memantapkan pilihan buka puasa dan berkumpul pada halal bi halal bisa melakukan pemesanan +62 21 4260015 . So, enjoy your Holy Month with your family and friends.

Harmoni Restaurant 
Hotel Grand Cempaka 
Jl. Letjen. Suprapto
Cempaka Putih, Jakarta Pusat
Webiste : www.grandcempaka.co.id

Menikmati Pesona Tari Guel Kala Senja Di Danau Laut Tawar, Takengon


"Selamat datang di negeri di atas awan, Takengon"
Awan putih dan langit biru menyambut kami siang itu. Matahari engan menyapa dan bersembunyi di balik bukit, namun mendung pun urung datang, jadilah siang itu redup dan terang. Kaki saya terhenti ketika dipersimpangan antara landasan pacu dan jalan menuju terminal kedatangan. Kamera saku kemudian melaksanakan tugasnya mengabadikan pemandagan di sekiling Bandara. Rembele, begitulah masyarakat menyebut bandar udara yang hanya dapat menampung pesawat berkapasitas kurang dari 100 orang. Sebenarnya saya masih mengira kalau Rembele identik dengan Indonesia Timur, namun ternyata Aceh pun memiliki nama Bandara yang cukup unik.

Setelah mengambil bagasi, kami dijemput dengan dua kendaraan, karena memang jumlah kami hampir genap 10 orang. Mata saya masih takjub dengan paduan warna putih dan bitu yang menghias langit. Langit inilah yang saya temukan setahun silam di Pulau Rote. Tidak ada langit yang tidak sempurna di Rote ini, saya menyebutnya berkali-kali pada perjalanan lalu. Dan, kemudian saya menemukan langit yang sama, bahkan saya baru sadar kalau Takegon layak mendapatkan julukan "Negeri Di Atas Awan"


Sejauh mata memandang, pohon hijau menghias di kanan kiri. Roda mobil berderit tanda mengerem. Sebelah kanan kami terdapat kebun kopi dan bangunan seperti saung, rumah makan khas Sunda yang terbuat dari bambu. Setelah melihat ke dalam, ternyata inilah Kafe Kopi. Bentuknya memang sangat tradisional, hampir seluruhnya terbuat bambu dan kayu. 

Di tempat duduk di samping kami, sekitar empat orang sedang menikmati kopi. Sangat lumrah warga Takengon menikmati kopi sebagai sebuah sajian yang wajib setiap harinya. Kedai, kafe atau pun warung kopi dimana pun selalu ramai. 

"Kedai kopi itu tempat melakukan pertemuan bisnis mulai dari uang receh sampai milyaran. Dan biasanya kami membawa bolpoint dan stempel." 

Pemiliki Kafe menjelaskan mengapa tradisi minum kopi dan bersosialisasi di kedai sangat digemari di daerah penghasil kopi Arabica terbaik di Indonesia. Dari kedai kecil ini terciptalah bisnis milyaran. Apabila saya mengidolakan toilet sebagai sumber ide yang tak pernah surut, maka warga Takengon mengatakan kedai adalah sumber ide dan bisnis yang tak pernah padam.


Perbincangan asik kami terhenti ketika sebuah botol disajikan. Eits, botol ini bukanlah minuman memabukan, namun kopi pekat dengan fermentasi. Melihat kopi hitam saja saya sudah tidak berselera, ditambah dengan campuran fermentasi, maka 100 persen saya tidak akan mencoba setetes pun. Beberapa orang kemudian menenguknya dan terlihat baik-baik saja, tanpa ada yang kejang-kejang, pingsan atau bahkan mati mendadak. 

Oke, jadi saya memutuskan untuk mencobanya. Hidung saya menangkap aroma tajam dan asam. Hingga akhirnya lidah saya merasakan kopi pahit dengan asam yang keterlaluan. Ah, apa enaknya kopi ini? Namun, pengemar kopi memang memiliki seleranya sendiri-sendiri. Kopi hitam fermentasi ini pun ternyata sangat digemari, terutama oleh Gondrong, pemilik kafe Seladang. 

Kopi Hitam Fermentasi yang belum diseduh dengan air.
Jalanan aspal sedikit berlubang tak menghentikan laju mobil. Malah kecepatannya semakin bertambah, sementara pepohonan disekitar kami berubah menjadi pemadangan Danau. Inilah Danau Laut Tawar, sebuah rumah bagi suku Gayo, masyarakat menyebutnya Tanoh Gayo atau Dataran Tinggi Gayo. 



Lebih dari 5.000 hektare luas Danau Laut Tawar membuatnya disejajarkan dengan Danau-Danau luas di Sumatra, seperti Danau Toba, Sumatra Utara dan Danau Ranau, Lampung dan Sumatra Selatan. Pantas saja disebut sebagai Negeri Di Atas Awan, yang saya lihat sepanjang perjalanan adalah keindahan Danau disandingkan dengan pepohonan hijau serta langit yang selalu cerah dengan putih birunya. 

Dalamnya Danau Laut Tawar pun siapa yang tahu dan menjadi misteri yang tak terpecahkan sampai sekarang. Banyak sekali misteri dan legenda yang melekat dan sudah turun temurun diceritakan oleh masyarakatnya. Dan, inilah salah satu legenda yang tersohor dari Takengon, Aceh Tengah. 

Dahulu kala, seorang Putri Raja yang mendiami wilayah ini disukai oleh Pangeran dari Kerajaan lain. Putri tersebut akhirnya dioersunting oleh Pangeran. Namun malang, Sang Putri tidak mendapatkan restu dari orang tuanya. Namun kemudian orang tuanya hanya berpesan saat melakukan pelarian jangan sekali-kali menoleh dan teruslah menghadap ke depan. 

Sang Putri tidak tega meninggalkan orang tua. Saat pergi meninggalkan daerahnya, sang Putri pun menoleh ke belakang untuk melihat orang tuanya. Karena pesan orang tuanya dilangar, Langit pun murka dan petir pun menyambar serta menurunkan hujan deras. Sang Putri pun menangis disertai dengan air hujan. Lama kelamaan terciptalah sebuah Danau laut Tawar. Inilah legenda yang beredar di masyarakat. 


Asam Jing Khas Gayo.
Tak lengkap menikmati Danau Laut Tawar tanpa menikmati sajian kulinernya. Kami berhenti disebuah restoran. One-One Cafe tepatnya (Baca On ne - On ne Ka fe, bukan one-one kafe). Restoran ini terletak di Kampung One-One dekat dengan Teluk One-One. Restoran yang menyajikan santap siang ikan air tawar seperti Mujahir dan Bawal. Selain ikan, sajian lainnya adalah Udang, namun jenisnya bukan udang laut melaikan udang air tawar.Tak lengkap rasanya tidak menikmati sayuran dan sambal. Sayurnya terbuat dari sayur dau labu sementara sambalnya racikan antara terong belanda dan cabai. 

Sajian lain yang terbuat dari ikan air tawar adalah Masam Jing khas Gayo (Dikenal juga sebagai Asam Jing). Sepintas Asam Jing seperti pindang ikan patin dengan kuah kuning. Rahasianya terdapat pada kacang-kacangan dan kunyit sebagai bumbu-bumbu. Dari segi taste memang sangat kaya rempah dan sudah menjadi ciri khas masakan Dataran Tinggi Gayo ini.


Hari berganti, Danau Laut Tawar masih menampakan keanggunanya. Awan putih kini agak berubah keabuan, sementara langit biru agak tertutup hari ini. Saya dan rombongan melanjutkan separuh hari menyaksikan sebuah pertunjukan Tari Guel. Kami hampir menyusuri kawasan Danau dari sebelah timur. Selain menyaksikan tari, tujuan lainnya adalah berburu sunset di Danau Laut Tawar. 

Taufik dan Alma tengah bersiap mengenakan baju adat khas Gayo. Baju didominasi warna hitam dengan warna lain seperti merah, kuning, hijau dan putih sebagai motifnya. Baju adat disebut Kerawang. Setiap warna memiliki artinya sendiri dan berhubungan erat dengan alam. 

Tari Guel dahulunya dilakukan untuk mendapatkan Gajah Putih sebagai salah satu hadiah untuk Putri Sultan Aceh. Sengada, Putra Raja Linge XII, bermimpi dan bertemu dengan seseorang bernama Bener Meria. Dalam mimpinya, ia diharuskan menangkap seekor Gajah Putih untuk dipersembahkan kepada Sultan Aceh. 



Sesuai dengan petunjuk, Ia mengadakan kenduri dan melakukan tarian dengan gerakan-gerakan serta diiringi oleh musik. Tak hanya Sengada saja yang melakukan tarian, namun kemudian warga sekitar pun melakukannya. Berkat tarian tersebut, muncullah Gajah Putih ditengah pesta. Sesuai petunjuk Bener Meria, Gajah Putih kemudian dijinakan dan ditangkap untuk dipersembahkan kepada Putri Kesultanan Aceh. 

Tari Guel memiliki gerakan yang cukup mudah seperti gerakan-gerakan hewan dipadukan dengan musik dan suara nyanyian khas Gayo. Baju Kerawang yang warnanya mencolok mampu menyihir penonton untuk mengikuti gerakannya. Inilah yang dimaksud dengan kemagisan Tari Guel. 

Matahari kemudian mulai tengelam di balik bukit. Kami pun masih sempat berbincang-bincang di bibir Danau. Kamera kami pun masih sempat mengabadikan sunset. Walaupun tak seindah yang dibayangkan, namun keindahan dan pesona Danau Laut Tawar di Dataran Tinggi Gayo ini cukup kami nikmati degan senda gurau yang tak ada habis-habisnya. 



The Passport Cafe, The Gate To The World


Tidak memiliki banyak waktu untuk berkeliling Dunia, namun ingin merasakan atmosfir asyiknya traveling menjelajah Dunia? Saya punya penawarnya, mampirlah ke The Passport Cafe, di Tangerang. Namanya juga Passport, tentu saja benda ini merupakan benda terpenting jika kamu ingin ke luar negeri. So, bersiap-siaplah menjelajah Dunia tanpa harus membeli tiket pesawat terbang, tempat menginap apalagi membawa bagasi dengan berat lebih dari 20 kilogram. Cukup dengan mengoyang lidah saja, Negara seperti Jepang, Jerman, Italia dan lainnya sudah kamu kunjungi. Luar biasa.

The Passport ini bisa dijangkau dengan berkendara kurang lebih 1 jam dari Statsiun Rawa Buntu, apabila kamu dari Jakarta. Apabila dari Tangerang, cukup kunjungi saja deretan ruko dalam perumahan Gading Serpong Summarecon. Atau alternatif terakhir, gunakan layanan ojek online atau taksi.

Konsep Cafe



Begitu masuk ke dalam Cafe, suasana klasik dan modern cukup terasa. Warna-warna gelap seperti hitam, cokelat dan abu-abu dipilih untuk mewakili kesan minimalis namun tetap modern. Furniturnya pun tampak menyesuaikan dengan warna dinding yang cenderung gelap. Memang karena letaknya di ruko yang terbatas sehingga suasana terasa agak sempit. Namun, begitu naik ke lantai 2, ruangannya menjadi sangat luas dengan beberapa meja besar dan kecil yang dipadupadankan. 

Saya tertarik dengan walls art dengan beberapa tulisan yang menghias sebagian besar dinding. Orang bilang sih, instagramable banget. Yup, sekitar 3 walls art ini mengangkat kopi sebagai teman terbaik pada saat mampir ke Cafe. Kembali lagi ke lantai satu, persis sebelum anak tangga, terdapat beberapa jenis biji kopi. Biji kopinya sebagian besar dari Sumatera dan Jawa sebagai salah satu penghasil biji kopi dengan kualitas terbaik di Indonesia. 

"Coffee is always a good idea", salah satu walls art ini membuat saya ingin memesan sebuah kopi dan merasakan sensasinya, kemudian dari kopi ini timbul ide-ide terbaik. Bohong kalau saya suka kopi, namun lebih bohong lagi kalau saya tidak suka kopi. Memang saya pengemar rahasia kopi, orang lebih sering saya mengkonsumsi teh dari pada kopi. Namun, makin sering menikmati kopi, saya jadi suka. 

Selain Walls Art, terdapat pojok Eropa dengan ruang tamu lengkap dengan tungku perapian layaknya rumah-rumah khas benua biru. 

Aneka Makanan Dunia Di The Passport


Pilihan menu makanan sangat berangam, mulai dari menu Indonesia sampai belahan Dunia seperti Eropa dan Asia. Seperti saya yang mencoba Wagyu dan Panacota. Wagyu dengan eropan style ini memang sangat lezat, apalagi dengan saus dan sayuran membuat Wagyu ini sempurna. Namun, karena saya tak banyak mengetahui tentang Wagyu, saya hanya merasakan kelezatan daging yang dibakar dengan kematangan medium atau setengah matang. 

Panacota sebagai dessert ini memang menarik untuk dinikmati. Apalagi kelembeutan Panacota ini membuat lidah mearasakan sensasi manis yang sangat saya sukai. Mengenai minuman, pilihan kopi, teh, jus dan lainnya sangat beragam. 

Bagi yang berada di daerah Tangerang, sangat rekomen sekali The Passport Cafe. 

Informasi The Passport Cafe 

Alamat Lengkap :
 Jl. Ki Hajar Dewantara No. 39, Pakulonan Baru,
Kelapa Dua, Tangerang, Banten


Saatnya Memacu Adrenaline Dengan River Tubing Sungai Pusur Klaten


Dalam kamus saya, adrenaline adalah ketakutan. Artinya apapun yang memacu adrenaline adalah menakutkan dan harus dihindari. Namun, sejalan dengan waku saya belajar untuk menaklukan adrenaline dan pelan-pelan bersahabat dengannya. Dahulu, wahana-wahana di Dufan adalah momok, namun sekarang dufan adalah kesenangan yang harus dirayakan. Kini, satu per satu saya mulai bermain dengan adrenaline, walaupun menurut khalayak umum masih dianggap belum begitu memacu adrenaline.

Explore Indonesia Jogja 2016 bersama Aqua Lestari membuka mata saya dan rombongan. Kami diajak untuk liburan sekaligus memacu adrenaline dengan mendatangi tempat water sport yang berada di Klaten, Jawa Tengah. Sebut saja River Tubing, salah satu water sport yang memacu adrenaline dan tenar di social media. Klaten ternyata memiliki River Tubing salah satunya adalah dikawasan sepanjang Sungai Pusur.


Beberapa tahun lalu, sungai pusur lebih mirip TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah dari hulu sampai hilirnya. Warga berlomba-lomba membuang setiap limbah rumah tangga setiap hari selama puluhan tahun. Akibatnya, Sungai Pusur berubah menjadi tercemar dan tak elok dipandang mata. 

Aqua Lestari bersama pemuda-pemuda dari kecamatan Polan Harjo, Klaten berhasil mendobrak kebiasaan membuang sampah tersebut dengan program bank sampah dan kerajinan dari limbah sampah. Hasilnya, luar biasa, sampah yang tadinya mengunung dan menumpuk ditepian sungai, lenyap dalam sekejap. Sungai kembali bersih dan membuat pemuda-pemuda berinisiatif memanfaatkan sungai menjadi water sport yang memacu adrenaline.


Siap Memacu Adrenaline


Kami berpacu dengan waktu, karena matahari sebentar lagi akan tenggelam. Hampir pukul 4 sore ketika pick up tiba ditempat. Saya tak membawa apapun kecuali tubuh dan baju yang melekat. Beberapa orang menenteng action cam untuk mengabadikan keseruan sore itu. Sehari sebelumnya, kami telah bermain dengan adrenaline di Sungai Oyo, sekitar Yogyakarta. Dan kali ini, kami pun melakukan hal yang sama, namun medannya tentu akan berbeda. Sensasinya juga berbeda.

Sebelum berangkat ke sungai, kami mendapatkan penjelasan singkat mengenai alat dan keamanan yang digunakan saat menyusuri sungai pusur. Terdapat helm dan baju pelampung yang kami gunakan, sedangkan kami mengunakan ban besar selama menyusuri sungai.

Kami harus meneteng sendiri ban besar sampai ke sungai yang tak jauh dari tempat mendapatkan briefing tadi. Hanya saja kami harus melewati rumah-rumah warga sebelum sampai di sungai.


Dan, akhirnya sungai pusur pun terlihat dengan jelas didepan mata. Airnya nampak bening cendrung cokelat karena tanah yang berada disekitar sungainya berwarna cokelat gelap. Struktur sungai pusur ini cenderung berbatu dan arusnya lumayan deras. Bisa dibayangkan betapa tertantangnya kami menjelajah sungai pusur ini.

Ban dilemparkan ke sungai, kemudian kami harus melawati bendungan ter;ebih dahulu sebelum berpacu dengan arus. Dan yup, kemudian setelah sampai bawah ban dinaiki dan akhirnya kami siap berpacu dengan adrenaline.


Awalnya saya sempat terjatuh beberapa kali, namun akhirnya saya bisa mengendalikan ban dengan baik dan melaju. Karena bebatuan dan sungainya tak terlalu lebar, sempat membuat ban saya tersangkut kembali, namun beruntung saya lolos kembali.

Sungguh petualangan yang sangat menyenangkan sekali. Apalagi Sungai Pusur ini menjadi salah satu River Tubing yang dikelola sendiri oleh pemuda desa di Klaten, Jawa Tengah .Apabila berminat untuk memacu adrenaline, informasi selengkapnya bisa ke fanpage River Tubing Sungai Pusur.


Terima kasih Airport.id dan Aqua lestari serta sponspor lain dalam acara Explore Indonesia Jogja 2016.



Yuk Bermain Air Di JogjaBay Pirates Adventure Waterpark


Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa

Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda berani berangkat sekarang
Ke laut kita ramai-ramai

Sejenak lagu masa kecil tentang seorang pelaut terngiang di kepala ketika bus rombongan kami melaju menuju salah satu waterpark ternama di Yogyakarta. Saya bersama rombongan Explore Indonesia 2016, berencana mengunjungi JogjaBay. Lokasinya berada di daerah Sleman, Yogyakarta. Tepat setahun lalu, waterpark ini diresmikan di area sekitar 7,7 hektare. Tak heran apabila JogjaBay merupakan salah satu water theme park terbesar, tercanggih dan terlengkap di Indonesia.

Bagaimana dengan wahana permainannya? 19 wahana permainan sangat ready untuk menjamu tamu yang haus memacu adrenalinenya. Saya adalah salah satunya. Walau bukan penyuka hal extreme, namun tak salahnya mencoba beberapa permainan seperti how to survive in tsunami and earthquake, bekti adventure, volcano coaster dan masih banyak lainnya.


Ayo Main Air 



Suasana kapal dan bajak laut sangat kental ketika saya masuk di area depan sebelum pintu masuk. Kapal besar dengan menara mercusuar diujung sebelah kanan seakan menujukan bahwa inilah saat yang tepat untuk bermain air dan memacu adrenaline kita. Setelah memasuki pintu utama, kami disambut petugas tiket dengan beberapa loket yang buka. Harga tiket masuk saat weekdays sekitar Rp 90.000 (Dewasa) dan Rp 60.000 (Anak-anak), sedangkan Weekend harga tiket Rp 100.000 (Dewasa) dan Rp 75.000 (Anak-anak). Untuk anak-anak dibawah 2 tahun, tidak dikenakan tiket masuk atau free, sedangkan batas antara anak-anak dan dewasa ditentukan dengan tinggi 110 cm. So, bagi anak-anak yang telah melewati papan pengukur akan dikenakan biaya yang sama dengan orang dewasa.

Dan here we go, mari kita bermain air. Welcome to pirates and water world ya. Hal pertama yang dilakukan untuk bermain air adalah melihat-lihat wahana mana yang paling cocok untuk saya mainkan, dan pilihan saya jatuh pada how to survive in tsunami and earthquake dan bekti adventure. Mood untuk mencoba wahana lain memang tak muncul pada saat itu, tapi yang terpenting adalah menikmati setiap permainannya kan. Trust me, it is more enjoyable than you play alot things


Kami menuju tempat menaruh semua barang-barang. Untung saja hanya satu tas yang saya bawa. Memang sebaiknya tidak membawa banyak barang untuk masuk ke wahana permainan. Apalagi barang-barang elektronik yang mudah rusak jika terkena air seperti laptop, kamera dan smartphone tanpa case anti air. Yuk saatnya bermain air.

Tip Bermain Air Di JogjaBay


Tentu sangat menyenangkan bermain wahana di JogjaBay, namun ada baiknya mengetahui beberapa tipnya. Mau tahu?

Waktu Berkunjung 

Waktu yang pas untuk berkunjung ke JogjaBay adalah Weekdays dan bukan musim liburan. Sudah menjadi rahasia umum kalau pada musim liburan, waterpark akan sangat ramai dengan pengunjung, maka hindarilah mengajak keluarga pada saat musim seperti ini.

Bawalah Perlengkapan Seperlunya

Saat bermain air, tentunya sangat repot apabila membawa seluruh perlengkapan yang ada. Cukup membawa barang perlengkapan seperlunya, seperti action cam dan perlengkapan berenang. Dengan bawaan ringkas, maka kita akan sangat menikmati permainan air tanpa memikirkan barang bawaan kita.


Pakai Lotion atau Sunblock

Jangan sampai lupa satu barang ini karena sangatlah penting untuk menjaga kulit kita. Tak mau kan kalau kulit menjadi hitam dan terbakar gara-gara terkena sinar matahari yang menyengat, maka bawalah sunblock pada saat sebelum bermain air.

Isi Perut Terlebih Dahulu

Bermain air sangat rawan terhadap masuk angin dan demam, maka sangat disarankan untuk mengisi perut terlebih dahulu. JogjaBay menyedikan beragam makanan seperti bakso, siomay, nasi goreng dan macam-macam lainnya. Kalau lapar atau perut kosong, bisa mengisinya di area makanan dan minuman.


Pilih Wahana Yang Pas 

Nah, ini yang paling penting. Pilihlah wahana yang pas buat kamu. Kalau punya masalah dengan jantung atau memiliki jantung lemah hindari wahana yang memacu adrenaline dan pilihlah wahana yang aman bagimu. Kalau misalnya tidak punya riwayat penyakit, kamu bebas memilih wahana apapun, tapi lagi-lagi perhatikan safetynya sebelum bermain di wahana tersebut.

Wahana dan Fasilitas JogjaBay



Drama Musikal

JogjaBay memiliki pertunjukan Drama Musikal yang tentunya sangat menarik untuk ditonton. Drama Musikal menyuguhkan Icon Karakter diantaranya Lawana, putri cantik, Jose, pemuda tampan, Mimi, kucing sang putri Lawana dan masih banyak karakter lainnya. Pertunjukan ini dapat dilihat setiap hari sabtu dan minggu pukul 15.00-16.00 WIB.

Wahana

JogjaBay memiliki 19 wahana yang menunjang pengunjung bermain seharian dari jam buka sampai jam tutup. Wahana tersebut antara lain Memo Racer, Bekti Adventure, Volcano Coaster, Timo-timo rider, Jolie Raft River, Brando Boomerang, Ziggy Giant Barrel, Mimi Family, Hip Playground, South Beach, dan masih banyak lainnya.


Fasilitas 

Nah, setelah lelah bermain beberapa wahana air, saatnya menikmati fasilitas lainnya yang ada di JogjaBay. Kawasan ini memiliki Restoran seperti Pirate Palace, Gili-gili BBQ, Dapur Lawana, Pool Bar, Mimi Gemi, Timo Memo dan lainnya. Sedangkan yang mau belanja oleh-oleh, JogjaBay Store memiliki banyak koleksi pernak-pernik dan oleh-oleh.

Fasilitas lainnya adalah Spa, Gazebo, Penyewaan loker, penyewaan handuk, layanan foto, Musholla, area parkir, kamar mandi dan lain-lain.


Sore hari waktunya kami pulang meninggalkan wahana dan berganti pakaian kering. Kami melewati beberapa toko souvenir sebelum akhirnya keluar dari wahana. Sangat menyenangkan bermain air bersama rombongan Explore Indonesia 2016 di Jogja yang diselengarakan oleh airport.id. Terima kasih kepada JogjaBay yang sudah menerima kami dengan tangan terbuka.


Informasi JogjaBay

Alamat 
Jalan Maguwoharjo, Depok
Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta

Jam buka 
Senin - Jumat : 09.00 - 18.00 WIB
Sabtu - Minggu : 08.00 - 18.00 WIB

Harga Tiket 
Weekdays
Dewasa : Rp 90.000
Anak-anak (Lansia diatas 65 tahun) : Rp 60.000
Weekend 
Dewasa : Rp 100.000
Anak-anak (Lansia diatas 65 tahun) : Rp 75.000
Tinggi badan diatas 110 cm dikategorikan sebagai dewasa.

Website 
www.jogjabay.com

Maps 

Citarasa Ikan Dari Bumi Sriwijaya


Ikan, Tekwan, Jembatan. Asosiasi kata ini mengalir dalam benak saya. Ikan itu ditangkap dibawah jembatan ketika memancing dan selanjutnya dibuat tekwan. Wah, itu dia rupanya. Lalu, apa hubungannya dengan Bumi Sriwijaya? Tentu saja, Tekwan ini merupakan salah satu kuliner khas selain pempek, salah satu oleh-oleh terkenal di Palembang. Sedangkan jembatan, kita tahu bahwa Palembang ini memiliki jembatan sebagai simbol kota yang menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir dari aliran sungai Musi.

Pindang Ikan Patin


Pada awal tahun, saya berkunjung ke Sumatera Selatan, tepatnya kota Prabumulih, sekitar 3 jam dari Palembang. Seperti biasa, jika berkunjung ke suatu daerah, saya secara sengaja mencoba kuliner yang ada disana. Tersebutlah pindang ikan patin. Ikan patin merupakan salah satu ikan tawar yang dibudidayakan. Ikan patin dahulunya berasal dari Sungai Mekong dan dibawa oleh sudagar-saudagar Tiongkok serta menyebar ke berbagai daerah di Jalur Sutera dan salah satunya Sungai Musi, Palembang.

Pindang ikan patin cenderung berkuah bening dan tak pekat. Rahasianya, pindang tersebut tidak mengunakan santan, malah nanas digunakan sebagai bumbu masakan beserta serai dan kemanggi. Racikan bumbu lain seperti kunyit, lengkuas cabai dan lainnya membuat masakan ini spesial. 


Ketika menyuapkan satu sendok kuah, lidah saya merasakan sensasi segar dari nanas dan bumbu lain bercampur menjadi satu. Saya sebetulnya tidak suka daun kemanggi, namun karena kuahnya terasa segar dan akan lebih lengkap dengan kemanggi, maka dengan senang hati, saya melahapnya. Kemudian, ikan patin telah siap untuk disantap. Ikan pati memilik tekstur yang lembut. Rasanya sedikit tawar namun dengan kuah segar, ikan patin menjelma menjadi primadona. 

Ikan patin seperti ikan pada umumnya, merupakan sumber protein dan asam lemak yang baik bagi tubuh. Tak cukup sampai disitu, ikan patin juga mengandung banyak vitamin, Omega 3, zat besi, yodium dan masih banyak lainnya. Santaplah dengan nikmat karena pindang ikan patin ini sangat sehat bila dikonsumsi berkelanjutan. 

Tekwan


Tekwan, salah satu makanan favorite saya, selain pempek. Kebetulan beberapa hari lalu, saya berkunjung ke salah satu restoran Palembang di Pegangsaan, Jakarta Pusat. Tujuannya hanya menikmati pindang ikan patin dan tekwan. Memang tekwan mudah ditemukan pada restoran yang menyedikan pempek. Bisa dibilang, tekwan ini adalah pempek versi kuah. 

Tekwan seperti yang banyak diceritakan, berasal dari kata "Bekotek Samo Kawan" yang berarti berkumpul sama teman-teman. Memang sudah menjadi bagian dari gaya hidup ketika menikmati masakan ini, lebih enak secara beramai-ramai karena bisa comot sana comot sini, icip sana icip sini. Atau menurut cerita lainnya, Tekwan berasal dari kata take one atau ambil satu-satu. Memang bentuk tekwan yang mirip dengan bakso ini membuat kita leluasa memakannya satu persatu. 


Tekwan memiliki teksur yang sama dengan dengan pempek karena terbuat dari ikan tenggiri. Selain ikan tenggiri, karena memiliki persamaan dengan bakso maka terdapat mie sohun, timun, bengkuang dan semua bumbu. Dan, rasanya memang tak bisa bohong, tekwan ini seperti bakso namun lebih sehat karena terbuat dari ikan.

Lalu apa khasiat yang terkandung didalamnya? Ikan tengiri memiliki protein dan lemak yang baik untuk tubuh atau lemak sehat. Ikan tenggiri memang masih memiliki kerabat dengan tuna dan tongkol.


Di Putra Sriwijaya, saya menemukan salah satu songket Sriwijaya yang merupakan perpaduan antara budaya Tiongkok, Arab dan India, setelah terjadi akulturasi dan perpaduan antara seni tenun yang akhirnya menghasilkan songket ini. Sungguh karya yang luar biasa. Antara kuliner dan songket ini, saya serasa dibawa kembali pada saat mengunjungi Palembang dan Prambumulih beberapa bulan silam. 

Dan berikut adalah Vlog saat mencoba kedua masakan tekwan dan pindang ikan patin. 


Tulisan ini diikutsertakan dalam Jelajah Gizi Minahasa oleh Sarihusada dan Nutrisi Untuk Bangsa
Jelajah Gizi

Shy Shy Cat (Malu-Malu Kucing) : Ketika Perjodohan dan Persahabatan Diuji



Saat menonton youtube, tak sengaja referensi video lain menunjukan saya kepada Shy Shy Cat. Rasa penasaran membuat saya menonton trailernya dari awal sampai habis. Dan hasilnya, saya menanti film ini rilis di bioskop. Bagai mendapat durian runtuh, seorang teman lama menghubungi saya dan menawarkan premier film ini. Tanpa basa-basi, saya langsung saja menerima undangan ini dengan senang hati, baru nerima undangan nonton film aja sudah senang apalagi nerima undangan nikah, eh, baper deh jadinya.

Silahkan bagi yang belum nonton trailer filmnya. 


Shy shy cat adalah terjemahan bebas dari Malu-malu kucing, terjemahan ini bukan dalam arti sebenarnya, namun lebih ke arah "terjemahan secara komedi" atau biasa dilakukan pada saat belajar bahasa Inggris di sekolah dulu. Maklum, setting tempat film adalah Sindang Barang, sebuah desa di Sukabumi yang semangat mempelajari bahasa Inggris. Wow, semangatnya itu loh yang patut diapresiasi. Keep going, Sindang Barang

Nirina Zubir dan Acha Septriasa, dua pemain ini pernah membintangi film yang sama yaitu Heart beberapa tahun silam. Bisa dikatakan film ini sebuah film reuni bagi keduanya. Hal ini membuat chemistry yang dibangun keduanya sangat natural dan tidak membutuhkan waktu untuk memahami karakter masing-masing. Di film ini, keduanya berperan sebagai sahabat yang saling membantu dalam suka dan duka. Pemeran lainnya adalah Fedi Nuril, Tika Bravani dan Titi Kamal. Fedi Nuril berperan sebagai sahabat masa kecil Nirina, sedangkan Tika bersama Acha menjadi sahabat masa kini. Titi Kamal merupakan teman main pada saat di kampung dahulu.

Sinopsis : Ketika Perjodohan dan Persahabatan Diuji 


Mira (Nirina Zubir) sudah sukses membangun karirnya di Jakarta. Di ulang tahunnya ke 30, sang Abah (Budi Dalton), seorang jawara kampung pemilik padepokan silat, menagih janji agar Mira pulang ke desa Sindang Barang, untuk dijodohkan dengan Otoy, teman masa kecilnya. Mira tidak mau pulang kampung karena merasa desanya tidak pernah maju-maju, apalagi dijodohkan dengan Otoy (Fedi Nuril), anak yang seingatnya menyebalkan. Untuk menyiasatinya, Mira dibantu oleh dua sahabat, yaitu Jessy (Acha Septriasa) dan Umi (Tika Bravani) berniat menggagalkan perjodohan itu.

Namun saat kembali ke desa Sindang Barang, Mira, Jessy dan Umi mendapati semua kondisi sudah berbeda, dan mereka dihadapkan dengan pilihan sulit yang menguji persahabatan mereka setelah melihat Otoy sekarang.


Review 


Titi Kamal Sedang Diwawancarai 
Otoy pernah berkata bahwa " Orang kota atau orang yang memiliki ilmu namun tidak memiliki pegangan agam yang kuat, sedangkan orang desa Sindang Barang memiliki tradisi agama yang kuat namun tidak memiliki ilmu yang tinggi ". Otoy merupakan pemuda desa dengan pendidikan tinggi di Mesir dan kembalilagi membangun desanya. Seperti kita ketahui, banyak pemuda desa yang hilang dan mencari nafkah di kota-kota besar seperti Jakarta, namun paradigma itu ingin dihilangkan dan diubah oleh Otoy.

Sungguh saya tersentuh dengan salah satu pesan moral ini, apalagi pemuda desa seyogyanya membangun desanya agar dapat bersaing di tingkat nasional bahkan internasional. Bahkan di film ini, Sindang Barang memiliki WIFI super cepat dan english day pada hari tertentu. Hal ini ingin menunjukan secara tegas bahwa desa siap menerima orang kota atau luar negeri yang ingin berwisata dan menikmati alam dan perkebunan yang luas.


Untuk segi pemain, cast menempatkan aktor-aktor yang pas dengan karakternya. Sebut saja Acha Septriasa yang memerankan Jessy yang penuh dengan drama dan lebay. Soleh Solihun berhasil mengocok perut penonton dengan perannya yang ceplas-ceplos. Nirina Zubir dengan kekuatan acting berhasil menghidupkan karakter Mira dan Tika Bravani dengan karakter Umi yang mengalami depresi. Sedangkan pemeran lain seperti Ade Fitria Sechan, Dwi Sasono, Juwita Bahar, Adelia Rasya, Budi Dalton, Iszur Muchtar dan cast lainnya cukup tepat dan sangat menghibur.

Foto Bareng Sarah Sechan? Bukan ini Adiiknya Ade Sechan ehehehe
Humor yang disuguhkan sangat menghibur, namun lagi-lagi kendala bahasa masih terjadi, karena beberapa dialog dalam bahasa Sunda tidak diterjemahkan. Humor dibangun berdasarkan situasi dan bahasa memang harus dicerna terlebih dahulu sebelum tertawa. Kadang selera humor satu orang dengan yang lain berbeda, namun saya jamin, film ini menghadirkan humor secara universal dan dapat dinikmati oleh segala usia.

Sinematografi memiliki peranan penting dalam film ini. Kualitas dan pengambilan gambar alam dan seting tempat sangat bagus, namun untuk pengambilan gambar antar adegan zoom pemain masih terlihat tidak sesmooth yang dibayangkan. Sound pun memilki sedikit masalah dalam memotong adegan Mira yang sedang monolog atau sedang bekata dalam hati. Mungkin saya kurang paham secara teknis, namun menurut saya masih kurang rapi pada bagian ini saja, adegan lain sudah sangat sempurna.

Seting tempat yang mengangkat budaya sunda memiliki nilai yang tinggi. Film ini berani menampilkan budaya diwakili oleh pencak silat, seni kecapi dan bahasa sunda. Saya salut dengan tim produksi yang mengangkat kembali unsur budaya Indonesia melalui budaya Sunda. Applause untuk tim produksi. Salut banget.

Secara keseluruhan, film ini sangat layak ditonton bersama keluarga dan teman-teman atau bahkan pacar dan gebetan asal jangan bawa mantan aja ya nanti baper. Selamat menonton ya pada tanggal 3 November 2016 di bioskop kesayangan anda.

Cast 

Producers : Starvision 
Director: Monty Tiwa
Writers: Adhitya Mulya, Monty Tiwa
Stars: Nirina Zubir, Fedi Nuril, Acha Septriasa, Tika Bravani, Titi Kamal, Izhur Muchtar, Soleh Solihun, Juwita Bahar, Adelia Rasya, Ade Fitria Sechan, Budi Dalton, Cecep Arif Rahman

Yuk Joged Bareng Nirina, Acha dan Tika 


Lasem : Tiongkok Kecil Di Tanah Jawa

bluepackerid.com - Lasem : Tiongkok Kecil Di Tanah Jawa

Selain Semarang yang memiliki Klenteng Sam Poo Kong dan erat kaitannya dengan Laksamana Cheng Ho, Lasem pun memiliki sejarah panjang tentang Opium dan Tiongkok. Maka tak jarang, masyarakat menyebutnya dengan Tiongkok Kecil di Jawa Tengah. Lasem telah mengikuti kemajuan jaman dengan berdiri bangunan megah masa kini, namun kejayaan masa lalunya pun tetap abadi dan lestari.

Lasem berjarak sekitar 119 KM dari Semarang. Apabila ditempuh mengunakan bus umum hanya sekitar 3 jam perjalanan. Moda transportasi yang digunakan bisa bus umum, mobil travel dan mobil pribadi. Lasem merupakan salah satu kecamatan di Rembang, jalur pantai utara (pantura) yang menghubungkan Semarang dan Surabaya. 

Saya bersama seorang kawan seperti tersedot kedalam jembatan masa lampau di Lasem. Saya tidak merencanakan dengan matang kunjungan kali ini. Hanya berbekal kenekatan semata, referensi blog teman dan bantuan mbah google, Lasem akan menjadi menarik dan petualangan kami dimulai. Namun, diawal perjalanan masalah itu datang, kami belum memesan satu pun hotel. Beruntung sekali mbah google menunjukan kami sebuah hostel sederhana dengan tarif 110 ribu semalam. Kami pun selamat malam ini, dan mengumpulkan energi untuk petualangan esok hari.

Klenteng Gie Yong Bio dan Pusat Batik Lasem 

bluepackerid.com - Lasem : Tiongkok Kecil Di Tanah Jawa

bluepackerid.com - Lasem : Tiongkok Kecil Di Tanah Jawa

Pada abad ke-14 dan 15, Lasem merupakan salah satu tempat berkembangnya imigram asal Tiongkok selain Semarang dan Surabaya. Laksamana Cheng Ho, sebagai perwakilan dari Dinasti Ming menjadi salah satu perwakilan politik dengan Kerajaan Majapahit. Di Sungai Babagan Lasem, seluruh transaksi perdagangan dilakukan, lambat laut bermukimlah penduduk imigram asalah Tiongkok dan membangunan rumah pecinan dan tempat peribadahan seperti klenteng.

Klenteng yang masih berdiri di Lasem adalah Gie Yong Bio, Cu An Kiong dan Po An Bo. Di Gie Yong Bio adalah klenteng Istimewa yang dibangun untuk menghormati pahlawan Lasem yaitu Tan Kee Wie, Oey Ing Kiat dan Raden Panji Margono. Klenteng ini berdiri pada tahun 1780 setelah perang melawan VOC pada tahun 1742 dan 1750. Ketiga pahlawan ini secara bersama-sama melawan VOC dan mengangkat sumpah sebagai saudara angkat.

bluepackerid.com - Lasem : Tiongkok Kecil Di Tanah Jawa

bluepackerid.com - Lasem : Tiongkok Kecil Di Tanah Jawa

Raden Panji mungkin adalah satu-satunya Kongco pribumi. Kongco merupakan sebutan kakek buyut dan memiliki altar penyembahan di klenteng ini. Selain di Gie Yong Bio, Raden Panji memiliki altar pada klenteng Cu An Kiong.

Memasuki pintu gerbang yang didominasi warna khas merah, saya terkagum dengan tembok keramik yang dipenuhi dengan gambar-gambar. Gambar ini hampir semunya ditulis dengan aksara kanji bahasa Mandarin. Sedangkan gambar memperlihatkan adegan-adegan dari dewa-dewa yang dipuja. Meski altar atau tempat pemujaan tak sebesar klenteng lainnya, namun halaman depan cukup besar ditambah dengan altar bagian samping.

bluepackerid.com - Lasem : Tiongkok Kecil Di Tanah Jawa

Gie Yong Bio terletak di gerbang pintu masuk Desa Babagan, populer sebagai kampung Batik. Tak lengkap rasanya, jika tak melihat batik Lasem lebih dekat. Belum lama kaki ini melangkah, tembok besar dengan pintu besar dengan arsitektur abad 15 masih kokoh dan indah.

Hanya cat dan tembok luar saja yang terkelupas membuka lapisan bata merah menambah keunikan bangunan ini. Kami sengaja berlama-lama di jalan hanya untuk mengabadikan rumah-rumah yang tampak sepi dan hanya beberapa sepeda motor lalu lalang. Kadang-kadang ada juga sepeda yang wara-wari dengan orang yang berjalan beriringan. Namun, sayang kami harus buru-buru menuju salah satu rumah batik di ujung jalan berliku ini.

bluepackerid.com - Lasem : Tiongkok Kecil Di Tanah Jawa

bluepackerid.com - Lasem : Tiongkok Kecil Di Tanah Jawa

Corak batik Lasem sangat dipengaruhi oleh budaya Tionghoa. Masyarakat Tionghoa sangat mempercayai bahwa hewan dan tumbuhan merupakan pembawa keberkahan dalam kehidupan. Sebut saja burung Hong dan Naga yang banyak digunakan sebagai simbol keberuntungan. Lasem pun memiliki ciri khas dalam motifnya. Motif Sekar Jagad, Latohan dan Watu Pecah, ketiga motif inilah yang dikembangkan sebagai ciri khas Lasem.

Motif Latohan berasal dari buah tanaman yang hidup ditepi laut. Lasem terkenal sebagai pesisir pantai utara sehingga tumbuhan ini sangat sering dijumpai. Sedangkan Sekar Jagad berasal dari kumpulan motif bunga yang berserak. Lain Latohan ataupun Sekar Jagad yang berasal dari tumbuhan, motif Watu Pecah berasal dari peristiwa pembangunan jalan Daendels, yaitu pada saat masyarakat diminta memecah batu besar menjadi kecil-kecil.

Rumah batik yang kami kunjungi nampak sepi, hanya terdapat seorang bapak dan seorang anak yang sedang bermain. Dengan ramah, bapak tersebut mempersilahkan kami masuk.

"Kebetulan yang sedang membatik libur hari ini," Ujar Bapak tersebut dari luar.

Di dalam terdapat beberapa orang yang tengah memilah-milah batik. Kami berdua langsung nimbrung dan duduk. Kami larut dalam cerita sambil melihat beberapa motif batik. Sebetulnya kami ingin berlama-lama, namun waktu kami hanya sampai sore dan harus kembali ke Semarang.

Sebelum pamit, kami menanyakan Makam Han Wee Sing yang terkenal itu. Kami hanya mendapatkan sedikit penjelasan tentang jalan yang kami lalui. Petunjuk arah menuntun kami ke arah yang benar. Dan pada ujung beberapa belokan kami pun sempat bertanya, dan sampailah pada makam Han.

Misteri Makam Han Wee Sing

bluepackerid.com - Lasem : Tiongkok Kecil Di Tanah Jawa

Di kala terik matahari tepat berada diatas kepala, kami melanjutkan pencarian terhadap salah satu makam yang melegenda. Legenda kutukan kepada Marga atau pemiliki nama Han, bagi laki-laki yang berbisnis, maka akan bangkrut, bagi perempuan tidak akan memiliki keturunan. Mitos ini sampai saat ini masih dipercayai, bahkan pemilik marga Han tidak akan melintas atau bepergian baik jalur darat ataupun udara melalui Lasem.

Menurut Legenda, Han Wee Sing adalah saudagar kaya raya dan memiliki dua putra. Han Wee Sing terkenal karena sifatnya yang baik hati dan suka berbagi, bertolak belakang dengan kedua putranya yaitu Han Te Su dan Han Te Ngo. Keduanya suka menghamburkan uang dan berjudi. Kekayaan Han Wee Sing berangsur berkurang sehingga jatuh miskin.

bluepackerid.com - Lasem : Tiongkok Kecil Di Tanah Jawa

Pada saat kematian Han Wee Sing pun harus menderita, karena uang hasil sumbangan kematiannya pun digunakan kedua putranya untuk berjudi. Akhirnya jenazah Han Wee Sing pun dimakamkan dengan hanya membungkusnya dengan kain. Tak sampai ke pemakaman, kemudian terjadi mendung dan hujan badai. Setelah hujan, ditempat jenazah Han Wee Sing pun kemudian membentuk sebuah makam. Tak lama kemudian, dari makam terdengar suara kutukan keluarga Han tidak boleh tinggal dan Menetap di Lasem.


bluepackerid.com - Lasem : Tiongkok Kecil Di Tanah Jawa

Begitulah legenda ini mengusik saya untuk mampir ke Makam dan sekedar melihat dari dekat. Ternyata jalan yang ditempuh tak semulus yang dibayangkan. Kami harus menyusuri kebun milik warga setelah pemakaman yang berada di depan sebelum kebun. Makam Han Wee Sing ternyata sangat tersembunyi. Di tutupi pohon jati yang masih muda dan dipagari oleh bambu. Kami masuk dan melihat lebih dekat makam yang tampak terawat dengan bong, batu nisan berwarna putih serta diukir huruf Mandarin bertuliskan nama Marga Han.

Bulu kudu saya sedikit merinding padahal waktu itu masih siang bolong. Tak berapa lama, saya dan teman saling berpandang dan berbalik badan segera keluar dari Makam Han yang penuh dengan kutukan.

Rumah Candu dan Klenteng Cu An Kiong 


Kami menyusuri jalan raya berukuran bernama Dasun, Desa Soditan. Tujuan kami adalah Rumah Candu, atau nama lainya adalah Opium. Cuaca mendung ketika kami sampai pada pintu gerbang berwarna jingga dan diatas bertuliskan Lawang Ombo. Kami sempat melihat ke kanan dan ke kiri dan melihat ke dalam, namun tak satupun orang terlihat.

Tak patah arang, kami berjalan ke pintu lainnya yang tak jauh dari pintu gerbang. Pintu berwarna kuning dan lebih kecil dari pintu sebelumnya. Kami mengetuk beberapa kali, namun tetap tak ada jawaban. Kami kembali lagi ke pintu utama, sambil melihat-lihat siapa tahu ada orang setelah kami ketuk. Dan hasilnya nihil, hanya suara sahutan anjing penjaga saja yang menyambut kami kemudian.



Dahulu Candu atau Opium sangat terkenal pada abad 19. Candu ditukar dengan senjata api dan digunakan sebagai salah satu alat melawan penjajah. Karena takut terlihat atau tertangkap Belanda pada waktu itu, Lawang Ombo inilah yang dijadikan sebagai lalu lintas Opium. Di dalam rumah, terdapat sebuah lubang berukuran tak lebih dari 3 meter dan berhubungan langsung dengan sungai menuju ke laut.

Lubang tersebut masih ada namun telah mengalami penyempitan ataau ditutupu sehingga hanya berdiameter 1 meter saja. Menurut sumber, pemilik rumah ini adalah Liem Kim Slok, seorang syahbandar yang melakukan perdagangan atau penyelundupan Opium terhdap kapal-kapal yang berlabuh di Lasem.



Berdekatan dengan Lawang Ombo, terdapat sebuah klenteng tertua yang dibangun pada tahun 1335 dan direnovasi pada tahun 1838, bernama Klenteng Cu An Kiong. Bisa dikatakan Klenteng ini adalah terbesar diantara ketiga klenteng yang ada di Lasem.

Pada abad 15, Masyarakat Tionghoa datang dan membabat hutan Jati untuk dijadikan rumah dan rumah peribadahan termasuk Klenteng. Cu An Kiong dahulunya dibangun mengunakan kayu jati sebagai tiang penyanganya. Sampai saat ini kedua tiang penyanga masih mengunakan kayu jati dan belum pernah diganti sampai sekarang.



Ukiran-ukiran dalam Klenteng merupakan hasil karya dari ahli ukir yang didatangkan langsung dari Guangdong, Tiongkok. Tak lama setelah menyelesaikan ukirannya, ahli ukir tersebut menetap di Kabupaten Kudus dan mengajarkan seni ukir.

Aliran sungai di Lasem yang bermuara ke Laut menyebabkan perkembangan pesat. Salah satu sumber menyatakan bahwa Laksamana Cheng Ho pernah mendarat di depan Klenteng dan berinteraksi dengan warga dan melakukan perdagangan serta alih teknologi seperti pertanian dan peternakan.

Lasem memiliki ratusan situs heritage atau kota tua yang wajib dijaga oleh kita bersama. Memasuki Lasem, sama seperti menikmati Tiongkok dalam versi lebih mini. Menginjakan kaki di Lasem seperti memasuki peradaban masa lalu yang masih terjaga. Tak hanya instagramable namun sangat menarik menyimak cerita sejarah yang menyatu didalamnya.

Lasem, saya akan kembali lagi, itu janji saya.

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah "  

Delicious Indonesian Signature Dish At Porta Venezia, Aryaduta Semanggi


Kadang Ibukota menawarkan kerinduan yang sempurna pada kampung disana. Walaupun banyak pula penawar atas kerinduan sesaat yang memanjakan semua indera termasuk indera perasa. Kampung halaman saya berada di pesisir pantai utara, jadi wajar selera masakan saya pun tak jauh-jauh dari masakan jawa yang manis, semanis saya hehehe. 

Citarasa masakan jawa identik dengan kuah kental, manis dan sambal ini setidaknya identik dengan masakan nusantara yang mengenal sambal dan rempah sebagai bumbunya. Meskipun tak bisa digeneralisir, namun setidaknya masakan di Pulau Jawa memiliki citarasa nusantara secara umum. Apalagi bagi orang yang Indonesia di luar negeri sana, pasti akan kangen dengan masakan masa kecilnya. Nah, yang saya rasakan saat ini. Rindu seindunya dengan masakan rumah.


Porta Venezia, sebuah gerbang menuju Milan, Italia. Nama ini diabadikan sebagai salah satu restoran masakan Italia di Jakarta, tepatnya di Semanggi. Porta Venezia merupakan bagian dari Arya Duta Hotel Semanggi. Saya cukup familiar dengan kawasan ini, dulu kantor saya sangat dekat dengan semanggi dan setiap saat pasti bolak-balik ke Semanggi. Namun, untuk saat ini, saya cukup jarang ke Semanggi, malah saya lebih sering ke Kuningan City karena menemukan tempat baru untuk sekedar nongkrong atau menyelesaikan tulisan di blog saya.

Dihibur sama Live Music Keren :D
Indonesian Signature Dish 


Porta Venezia memiliki ciri khas Italia yang kental, bahkan setelah ditelusuri melalui google pun, banyak review menyatakan bahwa tempat ini memiliki spesialisasi dalam masakan Italia atau Europian taste. Namun, kali ini saya diajak menikmati sajian khusus bertema Indonesian Dish, sebuah citarasa yang sangat saya kenal dengan ramuan rempah dan bahan-bahan lain yang khas.

Dalam kamus saya, Makanan Indonesia tidak pernah gagal memuaskan indra perasa, bahkan selalu mempesona dan penuh senasi sehingga ingin menikmatinya lagi dan lagi. Selain Makanan, Indonesia memiliki beragam ramuan rempah yang beragam sebut saja jahe, kunir, beras kencur, bandrek dan lain-lain. Bayangkan sajian makanan dan minuman Indonesia dalam bentuk yang lebih cantik dan indah berada dalam satu waktu yang sama. Bisa ditebak, saya tak ingin menyantapnya melainkan memotretnya berlama-lama untuk mencari angle terbaik.

Appetizer 

Makanan pembuka biasanya dibuka dengan makanan ringan pengugah selera makan seperti gorengan, sup atau salad, namun Porta Venezia justru menyajikan gado-gado, rujak dan lumpia. Oh wow, how came gado-gado and rujak be part of this appetizer? Biasanya kan gado-gado disajikan sebagai menu utama. Hahaha tenang pemirsa, gado-gado atau rujak ini justru akan mengugah selera makan loh.

Gado-gado


Jika yang kamu bayangkan adalah gado-gado dengan porsi besar dan mengenyakan itu salah besar. Totally wrong. Porsinya cukup sedikit dibandingkan dengan gado-gado pada umumnya. Penyajiannya pun sangat indah. Pertama melihat bukanya ingin menyantap tapi malah memandanganya saja karena indah.

Masalah rasa, gado-gado ini sebagian besar berisi sayuran rebus dengan sambal khas gado-gadonya. Saya sangat suka dengan sambalnya. Racikan sambalnya sangat pas bahkan sangat enak untuk ukuran gado-gado.

Rujak Buah 


Kombinasi buah segar dan sambal kacang membuat mulut merasakan sensasi segar. Mungkin inilah satu alasan mengapa rujak buah menjadi salah satu appetizer kali ini. Untuk buah saya memang pemilih, sehingga tak semua buah menarik selera saya. Coba ada mangga didalamnya, maka mulut ini tak akan berhenti mengunyah.

Lumpia 


Lumpia yang saya kenal itu biasanya berisi rebung (tunas pohon bambu), makluma saja saya dulu pernah menetap di Semarang. Lumpian sebetulnya isinya sangat beragam dan bisa diisi apapun seperti daging, sayura atau bahkan buah, oh wow. Dihadapan saya sudah disuguhkan lumpia dengan isi bihun dan udang yang mejulur dari lapisan luar yang renyah. Dapat dibayangkan bahwa paduan bihun dan udang memiliki taste tersendiri dan enak menurut saya.

Main Course  

Sepertinya saya memang menunggu-nunggu menu utama hadir untuk dihidangkan. Dari daftar yang dihidangkan terdapat empat menu utama yaitu Indonesian Seafood Platter, Gurame Pecak, Iga Sambal Mangga dan Tongseng Kambing. It's look so tasty banget ya. Mari kita menjelajah rasa demi rasa.

Indonesian Seafood Platter


Ada tuna, sate lilit, udang, sambal dan nasi. Paket komplit banget ini mah namanya. Secara personal saya menikmati tuna dan sambal, sedangkan rasa sate lilit memang tidak semenarik tuna tadi. Untuk udang, dengan ukuran yang begitu besar dan digoreng garing membuat kombinasi seafood platter ini makin komplit.

Gurame Pecak 


Gurame ukuran sedang dengan sambal diatasnya membuat sajian ini luar biasa perfect. Apalagi sambal yang diracik mengugah selera makan dan menyantapnya lagi dan lagi.

Iga Sambal Mangga


Iga ini diapain juga pasti hasilnya enak banget hehehe. Kali ini sajian Iga dibakar dengan matang ditambah dengan sambal mangga yang segar. Oh rasanya tuh pengen makan iga ini lagi.

Tongseng Kambing


I love the sweet thing. Dan tongseng kambing yang disajikan benar-benar semanis yang dirasakan dan daging kambingnya pun empuk. Jadi tidak ada alasan lain kecuali harus menikmatinya kan.

Dessert

Dessert is always in my list. Pokoknya kalo bagian ini saya selalu exicited banget. Apalagi dessert yang disajikan namanya unik-unik seperti Chocolate Talam Jagung, Es Selendang Mayang dan Colenak.

Chocolate Talam Jagung



Yang terpenting dalam sajian ini adalah cokelat dan jagung. Cokelat sangat dominan dipadu dengan bagian atas yang manis dan berisi jagung dalam adonan. Butuh waktu untuk menerka-nerka dimanakah jagung itu berada.

Es Selendang Mayang 



Es krim hampir saja meleleh karena saya asik memotret dessert ini. Ketika menyuapkan satu sendok teh ke dalam mulut, es krim ini menyatu dengan gula jawa cair. Setelah itu suapan kedua, barulah saya meraasakan perpaduan sempurna antara es, gula jawa dan pacar cina atau lebih seperti dawet teksturnya.

Colenak


Sajian ini hampir membuat saya tertipu. Tebak apa isi bagian bawah? bukan seperti yang dibayangkan sebelumnya, isinya adalah peyuem atau singkong yang difermentasi dan kemudian disajikan sedemekian rupa. Secara personal, saya hanya menikmatinya 60 persen saja, selebihnya saya hanya meringis merasakan rasa asam. Memang saya menghindari jenis peyeum ini dan hanya mencobanya sedikit saja.

Live Music Dan Sajian Lain




Nah kalau malam sabtu berada disekitar semanggi dan ingin dinner dengan suasana Italia atau Eropa bisalah mampir ke Porta Venezian. Masalah harga, all in dinner atau buffet ini biasa dibandrol dengan hanya puluhan ribu saja atau dibawah 100 rb. Wow, harga fantastis namun kelasnya bintang banyak kan.




Informasi Porta Venezia , Aryaduta Semanggi , Jakarta

Alamat Lengkap 
AryaDuta Semanggi
Jl. Garsium Dalam No. 8, Karet Semanggi
Jakarta Selatan 12930

Phone 
+62 21 251 5151

Email 
info.semanggi@aryaduta.com

Website 
www.aryaduta.com

Maps 

Serunya Nonton Ketoprak Di Pasar Malam Ngarsopuro Solo


Malam minggu di Solo merupakan malam yang panjang, bagaimana tidak, banyak sekali alternatif hiburan masyarakat yang hadir di sekitar jantung kota seperti di Jalan Diponegoro, Solo. Ngarsopuro Night Market atau lebih dikenal sebagai Pasar Malam Ngarsopuro adalah salah satunya. Dulu, sebelum ditertibkan menjadi kawasan budaya, jalan Diponegoro dipenuhi pedagang elektronik hampir sepanjang jalan, namun semenjak tahun 2009, jalanan ini berubah menjadi sebuah kawasan yang nyaman bagi warga. Jalan ini berhubungan langsung dengan Pura Mangkunegaran, salah satu Keraton terpenting di Solo.

Solo selalu menjadi daftar utama untuk saya kunjungi, dan baru tahun inilah saya dapat mewujudkan impian saya. Bolehlah eforia ini saya rayakan dengan teman yang kebetulan tinggal di Solo. Halim, Jejak Bocah Hilang, secara sengaja mengajak saya ke Ngarsopuro. Tentu saja saya segera mengiyakan saja tanpa berpikir panjang.



Pasar Malam selalu menyajikan sesuatu berbeda disetiap kota, entah karena tradisi, barang yang dijual, atraksi, kuliner dan budaya yang bercampur dalam satu tempat. Di pasar malam ini pula saya dapat merasakan suasana keakraban dan interaksi sesama warga dengan natural. Dan tentu saja menikmati obrolan logat Jawa yang kental dan sangat berbeda dengan kota lain. Karena hal itulah yang membuat saya jatuh hati pada pasar malam. 

Halim muncul tepat dibawah Tulisan Ngarsopuro. Wajahnya tergurat senyum khasnya, sementara kacamata beberapa kali ia betulkan. Kami pun berbincang sebentar sebelum mampir ke es krim Tentrem. Bagi penyuka es krim, wajib mampir ke sini karena enak dan harganya lumayan murah. Selain es krim, terdapat sajian menu tradisional salah satunya nasi liwet. 



Jalan Diponegoro sengaja ditutup setelah maghrib menyambut pasar malam. Ngarsopuro hadir hanya pada saat malam minggu saja, jadi keberuntungan bagi saya dapat menikmati malam minggu disini. Selain pasar malam, ternyata pada waktu itu juga dilaksanakan festival ketoprak, jadi lengkaplah keberuntungan malam itu di Solo.

Festival ketoprak diadakan di depan Pasar Triwindu, sebuah pasar yang menjual barang-barang antik dan langka. Pasar Triwindu berada di tengah jalan Diponegoro. Halaman yang sangat luas menjadi salah satu alasan festival ketoprak diadakan disini. 

Sebelum menonton festival ketoprak, saya sengaja berputar-putar terlebih dahulu melihat barang-barang yang dijual disepanjang jalan. Dan, ternyata tak sekedar barang-barang biasa, namun sangat luar biasa. Sebut saja kerajinan rumah-rumahan yang terbuat dari kayu dan jerami. Kemudian lampu hias warna-warna yang terbuat dari botol plastik bekas minuman. Dan tentunya gantungan kunci berbetuk tokoh kartun yang menarik.


Salut dengan kreatifitas warga Solo dalam menjual barang-barang tak biasa hasil dari kreasi mereka sendiri. Sesuatu yang tak bernilai seperti botol bekas, jerami, kain perca atau lainnya disulap menjadi sesuatu dengan nilai ekonomis yang tinggi. Luar biasa kerennya.Bagi fashion lover, tenang saja karena baju, celana atau kain batik dengan harga murah namun kualitasnya lumayan pun dijual di sini. 


Menonton Festival Ketoprak 


Kapan terakhir menonton ketoprak? Pertanyaan itu mendadak muncul ketika berada di depan Pasar Triwindu. Pasar yang hiruk-pikuk dan penuh barang dagangan berubah menjadi pangung utama. Nampak beberapa lakon memainkan peran. Wajah pria dan wanita telah berubah setelah diberikan make-up pangung. Beberapa lakon memang terlihat lucu sebelum mengelurkan dialognya. Iya, bisa ditebak bahwa kali ini ketopraknya menampilkan adegan humor.

Solo bisa dibilang sebagai kota 'Ketoprak'. Bahkan grup lawak Srimulat pun lahir dari kota Solo ini. Pantas saja pemeran ketoprak rata-rata memiliki keahlian dalam mengocok perut warga dengan dagelan yang dibuatnya. Selain Srimulat, dulu pernah digaungkan ketoprak humor sebagai salah satu ikon ketoprak dan ditayangkan ke seluruh penjuru Indonesia. Tentu saja saya adalah salah satu penikmat tayangan ini pada saat populer di era tahun 90-an. 



Cerita ketoprak mengangkat wajah masyarakat tempo dahulu dengan kostum tradisional jawa. Dialog diucapkan dalam bahasa jawa namun kadang kala terdapat beberapa kalimat dalam bahasa Indonesia. Saya cukup paham karena mengerti bahasa jawa secara umum. Seting pangung cukup sederhana namun terdapat layar besar yang digunakan sebagai background. Walau sederhana namun dapat menampilkan suasana tempo dulu seperti pasar dan bangunan tempo dulu. 

Saya cukup menikmati ketoprak ini sebagai salah satu nostalgia masa kecil dahulu. Dahulu saya sering menonton Wayang Kulit pada saat tetangga mengadakan hajatan, namun sekarang telah bergeser menjadi hiburan lain yang lebih modern. Rasanya ingin sekali membuat ketoprak menjadi satu kemasan hiburan menarik di televisi. Semoga saja ketoprak dan kebudayaan lain dapat menjadi tonton yang ditunggu. Semoga bisa terwujud, amin.