Surga Hijau Di Indonesia Timur Bernama Papua


Ketika mendapatkan kabar dari rekan kerja bahwa saya akan berangkat ke Papua tentu saja kaget dan tidak menyangka sama sekali. Mungkin ini adalah kesempatan mengunjungi bagian Indonesia paling Timur dengan keindahan dan kehijauannya. 

"Jadi sebelum ke Raja Ampat kamu mesti minum pil kina."

Corina, rekan kerja saya memberikan penjelasan bahwa Papua memang masih pandemi malaria, jadi kita harus berjaga-jaga sebelum berangkat. Dan, satu hal yang bikin saya melayang adalah Raja Amat. Siapa sih yang tidak ingin berwisata ke gugusan pulau paling indah di Indonesia ini? Dan, ternyata ini benar terjadi, bukan mimpi lagi. 

"Terus, setelah minum pil kina. Apalagi yang perlu dipersiapkan?"

"Jangan lupa bawa lotion anti nyamuk ya. Dan, yang paling penting adalah bawa kamera sama baju buat renang."

Saya terawa. Di benak saya hanya ada gugusan pulau dengan pemandangan pantai yang indah. 

"Kita kerja ya, tapi bisa sambil liburan juga karena depan mess kita ya udah pantai gitu."

Oke, memang tujuan utama saya saat ini adalah kerja, namun bisa menikmati pemandangan indah di Raja Ampat. Namun, inilah salah satu destinasi impian yang akhirnya terwujud juga. Papua, here i come. 


Penerbangan dari Jakarta menuju ke Papua ditempuh sekitar 4 jam dengan transit di Makassar, Sulawesi Selatan. Bisa dibilang beberapa pesawat dari wilayah Barat Indonesia yang ingin menuju Timur berhenti sejenak di Bandara transit ini. Jangan bertanya-tanya kenapa harus transit, karena ini memang peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam. sekarang ini bisa dijumpai rute penerbangan langsung dari Jakarta menuju Papua

Lagi-lagi saya merasa beruntung, bagaimana tidak, Saya pun belum pernah menginjakan kaki secara langsung di pulau Sulawesi. Dengan pesawat transit ini, saya resmi menjejakan kaki di Sulawesi. Bagi saya hal-hal yang sederhana seperti inilah yang membuat saya sering mengucapkan syukur atas pencapaian yang belum tentu bisa dilakukan semua orang termasuk mengunjungi pulau yang dihuni burung dari surga, Cenderawasih, Papua

Saya hanya sempat berfoto-foto sebentar dan kembali melakukan cek in dan melanjutkan perjalanan dengan pesawat yang lebih kecil dari sebelumnya. sebetulnya saya merasa agak cemas, karena Corina sempat memberi gambaran pesawat apa yang akan saya naiki nanti. 

"Ini nih, pesawatnya Man."

Corina menujukan gambar pesawat kecil dan beberapa diantaranya mengalami nasib naas yaitu menabrak bukit.

"Beneran?"

Corian tertawa. Saya pun tersenyum kecut sambil mengumpulkan nyali untuk menghadapi kenyataan nanti. 

Dan, ternyata pesawat kecil itu pun tak nyata. Betul memang sebelumnya rute ini mengunakan pesawat yang lebih kecil, namun sekarang telah berubah menjadi pesawat boing yang lebih besar dan jauh dari gambaran lalu. 

Saya menghela napas tanda satu persatu kepanikan mulai hilang. Dan, sekarang saatnya istirahat dan memejamkan mata sambil bermimpi di tepi pantai diantara gugusan pulau di Raja Ampat. 



Perjalanan ke Raja Ampat memang panjang, namun bagi saya ini adalah sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan sampai kapan pun. Setelah naik pesawat, perjalanan selanjutnya adalah naik kapal express menuju Pulau Waigeo, salah satu pulau terbesar dari gugusan pulau di Raja Ampat. Setelah itu barulah kami menaiki kapal boat kecil yang dapat menampung sekitar belasan orang. 

Sepanjang perjalanan, sebetulnya saya sangat takut bertemu dengan buaya, karena banyak sekali pertemuan antara air sungai dengan air laut yang sangat disenangi oleh buaya. Tapi ketakutan saya tidak terjadi, malahan saya asyik berfoto dan menikmati matahari yang hampir tenggelam di Raja Ampat. Ini salah satu momen terbaik karena bisa menyaksikan Sunset untuk pertama kalinya di Raja Ampat, Papua.



Kata orang, tak lengkap rasanya jika sudah pernah ke Jakarta dan Bali yang mewakili Indonesia bagian Barat dan Tengah, tanpa mengunjungi Papua sebagai simbol dari Indonesia Timur. Dan, pada hari itu juga, rasanya hari itulah hari terbaik yang penah saya rasakan dibawah langit Papua yang sedikit demi sedikit mulai menghitam karena matahari pun sebentar lagi mulai tenggelam. 

Setelah itu hari-hari saya lalu dengan beberapa hal yang harus dikerjakan seperti mengecek kantor, pembukuan dan produk yang dihasilkan seperti mutiara. Iya, klien saya ini menghasilkan produk mutiara untuk perhiasan dan salah satu tempat untuk menghasilkan produk mutiaranya adalah di teluk Alyui.


Kabar baiknya adalah saya dan Corina dapat melihat secara langsung kegiatan panen mutiara dilaut lepas disekitar Alyui. Tentu saja ini akan menjadi kegiatan yang menyenangkan serasa sedang liburan saja, bahkan ketika liburan pun belum tentu mendapatakn momen yang luar biasa seperti ini. 

Selain itu kegiatan kami adalah menikmati pantai dan bercengkrama dengan Orang Papua Asli karena sebagian besar pekerja disana berasal dari Papua. Ada yang dari Sorong, Waigeo dan lainnya. Anak-anak kecil pun senang diajak ngobrol meskipun sebetulnya masih malu-malu karena tidak percaya diri dengan logat Papua pada saat mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Indonesia. Namun, senyum mereka sudah menenangkan hati dan terpancar dari sorot mata mereka. 


Ah, menatap mata polos mereka seperti berkaca beberapa puluh tahun lalu ketika saya masih polos dan bermain kesana kemari tanpa memiliki ketakutan akan sesuatu hal. Selain keramahan orangnya, saya kangen dengan pancake.

"Pancake?"

"Iya ini pancake buatan Mama."

Corina menunjuk ke arah dapur ketika makan siang. Mungkin karena ada beberapa orang asing ang tinggal disana, jadi makanannya pun disediakan berbagai jenis termasuk pancake tersebut. 

"Cobain deh."

Tanpa menunggu lagi, saya melahap beberapa potong pancake rasa cokelat. Rasanya sangat lezat sekali seperti direstoran hotel berskala internasional. Disitu kadang saya selalu merasa bahwa saya adalah orang yang selalu menerima banyak kebaikan dari orang lain dan kali ini saya menerimanya di Raja Ampat. 


Rasanya tak rela jika saya harus meninggalkan Raja Ampat begitu cepat, namun setiap pertemuan harus ada perpisahan. Berat memang meninggalkan keindahan dan keramahan penduduknya. Apalagi setiap harinya saya isi dengan bermain di pantai dan menjelajah pepohonan di teluk Alyui. Apalagi setelah bermain di pasir dan berenang di tepian pantai, membuat saya tidak rela meninggalkannya begitu saja. 

Sebelum pulang, kami sempat makan siang dan berpesan kepada Mama, sang juru masak untuk membuat pancake sebagai bekal perjalanan kami di kapal nanti menuju ke Sorong. Saya hanya mengharapkan satu atau dua buah pancake saja sudah cukup sekali.

"Ini Man pancake pesenan."

Corina memberikan bungkusan plastik besar dengan lipatan kertas minyak didalamnya. Ternyata Mama memberikan bukan satu atau dua buah pancake, tapi 10 buah pancake yang masih hangat. Saya terharu sekali dengan kebaikannya. Sepanjang perjalanan dikapal, saya selalu menyanjung bahwa inilah pancake paling enak yang pernah saya makan. 


Raja Ampat memberikan memori yang sangat indah. Walaun sudah sembilan tahun lalu saya ke gugusan pulau paling indah ini, tetapi saya masih sangat ingat setiap detail keindahan pantai, hutan, pulau, pelabuhan, penduduk, dan lainnya.
Sekarang ini, Papua menjelma menjadi salah satu destinsi yang sangat digemari karena banyak sekali hal yang bisa dilakukan salah satunya adalah menjelajah hutan yang masih rimbun dengan berbagai jenis tumbuhan yang sangat unik dan tidak ditemukan di hutan mana pun seperti di Jawa, Sumatera atau bahkan Sulawesi. Hutan ini menjadikan Papua sebagai destinasi wisata hijau di Indonesia. Jika orang lain menyebutnya demikian, saya lebih tepat menyebutnya sebagai Surga Hijau Di Indonesia Timur.


Apabila diberikan kesempatan kembali lagi ke Papua, saya telah memiliki beberapa wishlist destinasi mana saja yang harus saya kunjungi.

Taman Nasional Teluk Cendrawasih

Ke Papua tak lengkap rasanya kalau tidak ke satu Taman Nasional yang mendunia ini. Hampir sekitar 90 persen Taman Nasional ini merupakan perairan dan memiliki banyak sekali jenis ikan dan ragam hewan laut lainnya yang menjadikan pemandangannya sungguh indah dan wajib dikunjungi.

Lembah Baliem

Lembah ini merupakan tempat tinggal dari 3 suku asli Papua yaitu Lani, Dani dan Yali. Suku Dani merupakan salah satu yang paling saya ingat, ketika mempresentasikan suku asli di Indonesia pada saat SMA. Dan yang paling mengagumkan adalah pakaian adat yang digunakan seperti koteka dan rumbai.

Danau Sentani

Salah satu alasan mengapa danau Sentani menjadi destinasi yang harus dikunjungi adalah danau ini merupakan salah satu yang terbesar di Papua dengan luas sekitar 9000 hektar. Dengan luasnya ini danau ini memiliki banyak ragam budaya dan kuliner sehingga menarik untuk menelusurinya. 

Sebagai traveler, tak bijak rasanya untuk tidak menyuarakan bahwa berwisata pun kita harus bijak dan menjaga tempat wisata yang kita kunjungi. Sebagai contoh apabila kita mengunjungi suatu tempat maka jangan mengambil apapun kecuali foto, jangan membunuh apapun kecuali waktu dan jangan meninggalkan apapun selain jejak. 

Melalui tulisan ini saya juga selalu berpesan untuk  mendukung segala bentuk kegiatan untuk membuat Indonesia kembali lebih hijau terutama daerah Papua. EcoNusa selalu sejalan dengan tujuan travel blogger seperti saya untuk memajukan wisata dan potensi lokal terutama di Papua. Walaupun hanya dengan kata-kata, semoga masyarakat semakin mencintai wisata lokal terutama Papua dan memajukannya sebagai bagian dari kecintaan kita sebagai orang Indonesia. 


In Case You Didn’t Know There’s Already an e-Court in Indonesia


In Case You Didn't Know There's Already an e-Court in Indonesia. Waktu saya masih sekitar SMP atau SMA, Kakak Toto Pharmantara (alm.) pernah bilang bahwa suatu saat nanti dunia pendidikan bakal canggih banget dimana paper bakal menjadi less, hahaha, karena semua bakal pakai komputer. Catatan pelajaran pun bisa disimpan ke komputer, PR atau tugas juga bisa dikumpulkan dalam bentuk soft file melalui disket, dan lain-lain aktivitas. Dan itu memang terjadi meskipun tidak 100% paperless. Tapi kita tahu bahwa telah ada begitu banyak aplikasi dan bantuan digital untuk dunia pendidikan. Sebut saja adanya Edmodo, adanya Ruang Guru, tugas-tugas dikumpulkan melalui e-mail dan/atau pos blog, serta ada pula yang mengumpulkan tugas yang soft file-nya disimpan di flashdisk. Ya, karena zaman sekarang disket sudah wassalam.

Baca Juga: Antara Dua Patung Pahlawan dan Kerja Logika Manusia

Lantas apa korelasi paragraf di atas dengan e-Court? Teknologi. Kekinian. Memangkas jarak dan waktu(?). Mari simak sama-sama yang berikut ini.

e-Court


Kalian tentu tahu, apa saja yang ada huruf e di depannya pasti berhubungan dengan dunia digital atau fokusnya ke dunia internet. E-court merupakan singkatan dari electronic court yang berarti pengadilan elektronik. Di Indonesia, pengaturan tentang e-court dituangkan dalam Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2018 tentang Administrasi Perkara di Pengadilan Secara Elektronik. Peraturan ini dikeluarkan menimbang tuntutan dan perkembangan zaman yang mengharuskan adanya pelayanan administrasi perkara di pengadilan secara lebih efektif dan efisien demi terwujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menurut Buku Panduan E-Court yang diterbitkan oleh Mahkamah Agung Republik Indonesia, pengertian e-court adalah:

E-Court adalah sebuah instrumen Pengadilan sebagai bentuk pelayanan terhadap masyarakat dalam hal Pendaftaran perkara secara online, Taksiran Panjar Biaya secara elektronik, Pembayaran Panjar Biaya secara online, Pemanggilan secara online dan Persidangan secara online mengirimkan dokumen persidangan (Replik, Duplik, Kesimpulan, Jawaban). Aplikasi e-court perkara diharapkan mampu meningkatkan pelayanan dalam fungsinya menerima pendaftaran perkara secara online dimana masyarakat akan menghemat waktu dan biaya saat melakukan pendaftaran perkara. (Tim Penyusun Buku Panduan E-Court, 2019:7).

Ada 4 (empat) pelayanan e-court yang dijelaskan di dalam Buku Panduan E-Court yaitu:

1. Pendaftaran Perkara Online (e-Filling)


Pendaftaran Perkara Online dalam aplikasi e-court untuk saat ini baru dibuka jenis pendaftaran untuk perkara gugatan, bantahan, gugatan sederhana, dan permohonan. Pendaftaran Perkara ini adalah jenis perkara yang didaftarkan di Peradilan Umum, Peradilan Agama dan Peradilan TUN yang dalam pendaftarannya memerlukan effort atau usaha yang lebih, dan hal ini yang menjadi alasan untuk membuat e-court salah satunya adalah kemudahan berusaha.

Keuntungan Pendaftaran Perkara secara online melalui Aplikasi e-court yang bisa diperoleh dari aplikasi ini adalah:

a. Menghemat Waktu dan Biaya dalam proses pendaftaran perkara.
b. Pembayaran Biaya Panjar yang dapat dilakukan dalam saluran multi chanel atau dari berbagai metode pembayaran dan bank.
c. Dokumen terarsip secara baik dan dapat diakses dari berbagai lokasi dan media.
d. Proses Temu Kembali Data yang lebih cepat.

2. Pembayaran Panjar Biaya Online (e-Payment)


Dalam pendaftaran perkara, pengguna terdaftar akan langsung mendapatkan SKUM yang di-generate secara elektronik oleh aplikasi e-court. Dalam proses generate tersebut sudah akan dihitung berdasarkan Komponen Biaya apa saja yang telah ditetapkan dan dikonfigurasi oleh Pengadilan, dan Besaran Biaya Radius yang juga ditetapkan oleh Ketua Pengadilan sehingga perhitungan taksiran biaya panjar sudah diperhitungkan sedemikian rupa dan menghasilkan elektronik SKUM atau e-SKUM.

3. Pemanggilan Elektronik (e-Summons)


Sesuai dengan Perma Nomor 3 Tahun 2018 bahwa Pemanggilan yang pendaftarannya dilakukan dengan menggunakan e-Court, maka pemanggilan kepada Pengguna Terdaftar dilakukan dilakukan secara elektronik yang dikirimkan ke alamat domisili elektronik pengguna terdaftar. Akan tetapi untuk pihak tergugat untuk pemanggilan pertama dilakukan dengan manual dan pada saat tergugat hadir pada persidangan yang pertama akan diminta persetujuan apakah setuju dipanggilan secara elektronik atau tidak, jika setuju maka akan pihak tergugat akan dipanggil secara elektronik sesuai dengan domisili elektronik yang diberikan dan apabila tidak setuju pemanggilan dilakukan secara manual seperti biasa.

4. Persidangan Elektronik (e-Litigasi)


Aplikasi e-court juga mendukung dalam hal persidangan secara elektronik sehingga dapat dilakukan pengiriman dokumen persidangan seperti Replik, Duplik, Kesimpulan dan atau Jawaban secara elektronik yang dapat diakses oleh Pengadilan dan para pihak. Pasal 2 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2018 tentang Administrasi Perkara di Pengadilan Secara Elektronik mengemukakan: Peraturan ini dimaksudkan sebagai landasan hukum penyelenggaraan administrasi perkara di pengadilan secara elektronik untuk mendukung terwujudnya tertib administrasi perkara yang profesional, transparan, akuntabel, efektif, efisien dan modern.

Kendala?


Iya, ada kendalanya. Yang mendaftar perkara melalui aplikasi dan/atau layanan e-court adalah advokat yang sudah disumpah. Kenapa? Karena advokat tersebut harus mengisi nomor Berita Acara pengambilan sumpah pada kolom yang disediakan. Sementara itu, masih banyak advokat yang belum disumpah, tetapi sudah bisa praktek, sehingga ini menjadi kendala tersendiri untuk bisa mendaftarkan perkara melalui e-court. Itu kendala pertama, kendala kedua ya tentu pihak yang berperkara, apabila memang mau memakai advokat yang pendaftaran perkaranya melalui e-court tentu tidak bisa memakai sembarang advokat (harus advokat yang sudah disumpah). Sementara itu, kita tahu bahwa kadang-kadang pihak yang berperkara membutuhkan advokat yang ada hubungan emosionalnya, atau setidaknya advokat favorit.


Saya belum melakukan riset yang lebih dalam tentang e-court ini. Tetapi setidaknya melalui pos ini, saya dan juga kalian, tahu bahwa di Indonesia sudah ada e-court. Hanya saja kalau untuk skala Kota Ende, menurut hemat saya, kurang efektif karena kan Kota Ende ini kecil jadi urusan waktu dan jarak bukan masalah. Advokat pun banyak berada di Pengadilan Negeri Ende. Kalau mau mendaftarkan perkara, hanya dua langkah. Haha. Tapi, kalau untuk tertib administrasi advokat, boleh juga, sehingga mau tidak mau semua advokat harus mengambil sumpah advokat (Nomor Berita Acara).

Bagaimana pendapat kalian tentang e-court ini? Bagi tahu donk di komen!

Semoga bermanfaat.

#SelasaTekno



Cheers.

Ini Dia Fakta Sejarah Candi Borobudur yang Harus Kalian Tahu

Foto tahun 2006, baru dipamer tahun 2019.

Ini Dia Fakta Sejarah Candi Borobudur yang Harus Kalian Tahu. Tahun 2006, dalam perjalanan panjang Ende - Surabaya - Jakarta - Yogyakarta - Surabaya - Ende, saya berkesempatan pergi ke Candi Borobudur. Waktu itu saya mengendarai sepeda motor sewaan dengan angka speedometer tinggi, haha hihi sepanjang perjalanan, tahu-tahu sudah tiba. Itu adalah salah satu cita-cita lama yang baru terwujud tahun 2006! Cita-cita lama lainnya adalah menumpang andong di Jalan Malioboro terus teriak kencang-kencang: Jogjaaaaa, saya naik andoooong! Sampai dilihatin orang-orang dan teman-teman saya menutup wajah saking malunya. Haha. Sayangnya waktu itu saya belum membikin blog Tuteh Travel sehingga cerita tentang kampungannya saya saat naik andong belum pernah dipublikasikan di blog khusus wisata itu.

Tahun 2006, kamera yang dipakai untuk foto-foto pun masih kamera saku dan negatif filemnya dicuci-cetak di tempat khusus. Saya belum pakai DSLR pun telepon genggamnya masih seperti yang dipakai Sanchai dalam Meteor Garden itu. Alhamdulillah saya termasuk orang yang menghargai perjalanan sendiri sehingga ketika membongkar album lama, tradaaaa masih ketemu foto waktu ke Candi Borobudur, seperti yang kalian lihat di awal pos (foto di atas foto, hehe). Tahun 2006, untuk masuk ke Candi Borobudur belum diberlakukan memakai kain batik yang disediakan oleh pengelola.

Ternyata banyak fakta sejarah Candi Borobudur yang belum diketahui masyarakat Indonesia. Kalian pasti kepo pengen tahu juga kan? Makanya, baca sampai selesai. Tapi sebelumnya, marilah kita kenalan (lagi) dengan candi yang satu ini.

Candi Borobudur


Siapa yang tidak kenal Candi Borobudur? Yuk, segarkan kembali ingatan tentang candi yang satu ini. Candi Borobudur merupakan bangunan candi Buddha yang hingga saat ini masih menjadi pusat beribadahan umat Buddha di dunia. Meskipun diperkirakan sudah berdiri sejak tahun 825 Masehi, hingga saat ini Candi Borobudur masih menjadi daya tarik yang spektakuler bagi berbagai kalangan. Mulai dari wisatawan mancanegara dan domestik, penggiat studi sejarah dan budaya, arkeolog, dan lain-lain. Hingga sekarang candi yang juga terkenal dengan stupa-nya itu tidak hanya menjadi obyek wisata saja, melainkan juga berkembang menjadi pusat budaya bagi masyarakat setempat.

Zaman itu disuruh pose begini, manut saja, hahaha.

Berapa harga tiket masuk Candi Borobudur? Murah! Hanya Rp 35.000! Saya tidak membandingkan harga tiket masuk ini dengan harga tiket masuk obyek wisata lainnya karena setiap obyek wisata tentu punya manajemennya masing-masing termasuk dalam perkara menentukan biaya tiket masuk.

7 Fakta Sejarah Candi Borobudur


Di balik keelokan Candi Borobudur, ada fakta sejarah yang mungkin belum diketahui oleh sebagian masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, hari ini ijinkan saya *tsah* menulis tentang 7 fakta sejarah Candi Borobudur. Mari kita mulai.

1. Situs Warisan Dunia UNESCO


Candi Borobudur dinobatkan sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia. Perlu kalian ketahui, bahwa hingga saat ini memiliki status sebagai Situs Warisan Dunia. Pengabsahan ini telah ditetapkan oleh UNESCO sejak tahun 1991. Dengan demikian diharapkan Candi Borobudur bisa mendapatkan perawatan, pengamanan, dan pelestarian, agar dapat diteruskan kepada generasi-generasi mendatang. Sebagai Orang Indonesia, saya bangga dengan pengakuan yang luar biasa ini.

2. Kuil Buddha Terbesar


Guinness World Record mencatat nama Borobudur sebagai kuil Agama Budha terbesar dunia. Dengan luas mencapai 15.129 meter persegi, catatan volume candi ini memiliki panjang 1000 meter dan tinggi 42 meter. Borobudur juga memiliki 10 tingkat serta 72 stupa. Catatan ini menjadikan Candi Borobudur sebagai pusat ibadah umat Buddha terbesar di dunia. Tidak heran ketika Hari Raya Waisak, Borobudur akan dipenuhi oleh umat Buddha dari berbagai penjuru dunia.

3. Sir Thomas Stamford Raffles


Orang Inggris yang pernah menjadi Gubernur di Hindia Belanda ini ternyata memiliki peran penting dalam menggaungkan nama Candi Borobudur. Sejak situs candi ditemukan di bawah gundukan pasir, H.C. Cornelius diutus untuk mencari kebenaran akan adanya candi tersebut. Raffles sendiri memiliki peran penting melalui bukunya “History of Java” dimana nama Bore-Budur tertulis di buku tersebut. Raffles juga menceritakan bagaimana proses-proses yang dilakukan oleh Cornelius dan para prajuritnya dalam menangani situs candi ini ketika pertama kali ditemukan. Buku legendaris ini menjadi salah satu tahap awal Borobudur dikenal oleh dunia.

4. Jam Matahari Raksasa


Ternyata bentuk melingkar di bagian atas candi, serta susunan stupa di bawah stupa induk memiliki fungsi lain selain pusat ibadah. Pada masa kerajaan dahulu, susunan stupa ini menjadi jam matahari yang berguna untuk menentukan waktu. Petunjuk waktu ini mengandalkan arah putar matahari dan bayangan dari stupa akan menunjukan waktu tertentu. Jadi, sejak zaman itu teknologi sederhana penunjuk waktu sudah dipakai. Hebat, ya.

5. Pernah Jadi Korban Terorisme


Terorisme ternyata pernah merambah situs Candi Borobudur, jauh sebelum era terorisme modern saat ini. Pada tahun 1985, situs candi Borobudur pernah diguncang bom yang merusak setidaknya 9 stupa secara permanen. Serangan ini jelas merusak peninggalan sejarah meskipun dalang kejadian ini telah mendapat hukuman. Ya namanya juga peninggalan sejarah, harus dijaga, bukan dirusak dengan cara-cara tidak terpuji seperti itu. Ini harus menjadi perhatian bersama dalam hal pelestarian situs sejarah dan budaya agar kelak menjadi bekal untuk generasi masa depan.

6. Relik Borobudur di 6 Museum Dunia


Potongan bagian atau relik dari candi Borobudur ternyata tersebar di setidaknya 6 museum besar di dunia. Sebut saja Museum Louvre di Paris, Perancis dan Museum Nasional Bangkok, di Thailand. Bagian-bagian candi ini dahulu sering dijadikan cinderamata bagi pemimpin-pemimpin dunia.

7. Arca Stupa Induk


Stupa induk Candi Borobudur yang menjadi pusat bangunan ini memiliki ukuran terbesar pada struktur candi yang tampak sepenuhnya tertutup tanpa rongga. Ternyata di dalam stupa induk ini dahulu ditemukan arca Buddha yang tertimbun material stupa induk. Patung yang saat ini dikenal sebagai “The Unfinished Buddha” karena banyak yang meyakini patung ini memang tidak diselesaikan namun memiliki bentuk Buddha yang sangat jelas. Saat ini wisatawan bisa menemukan patung ini berada di bagian luar Museum Karmawibhangga. 

⇜⇝

7 fakta sejarah Candi Borobudur di atas sebaiknya memang harus diketahui oleh lebih banyak orang, khususnya Orang Indonesia. Agar apa? Agar Orang Indonesia semakin bangga dan menanamkan rasa cinta serta memiliki. Ketika sudah tumbuh rasa cinta, apapun akan dilakukan untuk mempertahankannya. Bukan begitu? Ya begitu dooonk. Ternyata urusan cinta memang jatuhnya sama juga. Harus bisa menjaga, memelihara, melestarikan.


Kalau ditanya: apakah masih mau ke Candi Borobudur lagi? Ya, jelas donk. Tentu banyak perubahan yang terjadi sejak tahun 2006 itu. Bila kalian penasaran dengan misteri yang ada dibalik kemegahan Candi Borobudur, marilah datang ke situs Buddha yang berlokasi di Magelang, Jawa Tengah. Jangan ragu membayar harga tiket masuk candi borobudur, karena harganya yang terjangkau bisa mengantar kalian menjelajahi sudut-sudut situs bersejarah yang terkenal di dunia ini. Pun, di dalam kompleks candi ini juga kalian bisa belajar banyak hal terkait sejarah dan perkembangan adat budaya. 

Tunggu apa lagi? Yang di luar Pulau Jawa, buru tiket pesawat diskonannya mulai dari sekarang! Hehe.



Cheers.

Pariwisata Nusantara


Sudah lama saya tidak me-review buku di #SabtuReview. Buku terakhir yang saya baca berjudul Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson dan sudah saya review di pos berjudul Bodo Amat. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik dari buku bersampul oranye itu. Sementara buku yang selalu berada di dalam tas, yang bisa saya baca kapan saja, berjudul The Book of Origins karya Trevor Homer juga sudah saya review di pos berjudul The Book of Origins. Tentu, pengetahuan tentang segala sesuatu paling pertama di dunia ini kian bertambah. Saya pikir, sekarang saatnya me-review satu buku menarik terutama bagi kalian para traveler atau siapapun yang berencana keliling Indonesia. 

Baca Juga: Are They Dead?

Menulis tentang buku yang satu ini membikin saya teringat seorang sahabat traveler perempuan bernama Ika Soewadji. Kalau kalian belum mengenal Ika Soewadji, silahkan kenalan dulu melalui akun IG-nya:


Memangnya, apa hubungan antara buku yang bakal saya review dengan Ika? Karena buku tersebut adalah pemberian Ika berikut satu paket buku lainnya tentang Indonesia. Sama seperti buku Travel Writer yang juga diberikan oleh Ika. Meskipun tidak berhubungan darah tapi kami adalah kaka-ade, saudara, yang dipertemukan oleh dunia blog dan traveling. Percayalah, mengenal Ika merupakan salah satu anugerah terbaik dari Allah SWT untuk saya.

Jadi, mari kita kenalan dengan buku yang satu ini.

Tentang Informasi Pariwisata Nusantara


Informasi Pariwisata Nusantara, sebuah buku bersampul cokelat dengan aksen wayang kulit di depannya, diterbitkan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia bekerjasama dengan Garuda Indonesia, dan ASEAN (Southeast Asia). Pada sampul belakang jelas-jelas tertulis: tidak untuk diperjualbelikan. Ya Alhamdulillah saya bisa mendapatkannya dari Ika. Mungkin waktu itu Ika mengikuti kegiatan yang digelar kementrian, secara dia kan travel blogger kesohor, dan mendapatkan paket buku-buku gratis dari acara itu, kemudian dikirimkan pada saya.

Buku ini tidak punya kata pengantar atau sekapur sirih. Dibuka dengan halaman Peta Kepulauan Indonesia dan halaman Sekilas Sejarah Pariwisata Indonesia. Sudah, itu saja. Selanjutnya 'petualangan' dimulai dari Sumatera hingga Papua.

Isi Informasi Pariwisata Nusantara


Namanya juga buku tentang pariwisata, isinya ya pasti tentang atraksi pariwisata dari seluruh Indonesia yang dimulai dari Sumatera sampai Papua. Ada pengaturan sub pada setiap provinsi dan daerah istimewanya. Sub-sub itu antara lain Profil singkat provinsi dan/atau daerah istimewa yang bersangkutan, Wisata Alam, Wisata Pantai, Wisata Gunung, Wisata Petualangan, Wisata Sejarah, Wisata Budaya, Wisata Museum, Wisata Kerajinan, Wisata Taman Nasional, hingga informasi penting seperti Transportasi, Akomodasi, Travel Agent, dan informasi alamat kantor dinas yang berkaitan dari provinsi dimaksud.

Paket komplit!

Jadi, kalau saya bilang sudah tahu banyak tentang Yogyakarta, belum tentu juga haha. Saya baru tahu soal Upacara Cing-Cing Goling dari buku ini.

Pada ritual ini, ratusan ayam panggang, lauk pauk dan nasi dibagikan kepada para pengunjung serta masyarakat di dekat bendungan. Selain itu juga ditampilkan cerita rakyat yang disajikan dalam bentuk fragmen. Upacara ini dilakukan sebagai wujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keberhasilan panen.
Lokasi:
Digelar di Dusun Gedangan, Desa Gedangang, Kec. Karangmojo, Kab. Gunungkidul. Bisa ditempuh dengan kendaraan bermotor ke lokasi. (Informasi Pariwisata Nusantara,tt, 201).

Sebagai Orang NTT, tentu saya suka membaca bagian Provinsi Nusa Tenggara Timur. Ternyata, banyak sekali atraksi wisata yang juga baru saya ketahui setelah membaca buku Informasi Pariwisata Nusantara ini.


Yang membikin buku ini lebih menarik, selain informasi lengkap tentang Indonesia ada di dalamnya, adalah foto-foto yang melengkapi setiap artikel/informasi singkatnya. Foto-foto itu begitu memukau, penuh warna alam yang cerah dan indah, yang membikin para pembaca tertarik untuk menyiapkan waktu keliling Indonesia. Duuuuh niat keliling Indonesia tertunda melulu *halaaaah, ditabok dinosaurus*.

Kritik


Baru kali ini saya mengkritik buku hahaha. Eh, atau sudah pernah ya? Pokoknya begini ... untuk buku sebagus ini sayang sekali apabila diterbitkan terbatas dan tidak untuk diperjualbelikan. Tidak hanya para traveler, kita sebagai Orang Indonesia tentu tergila-gila dengan buku semacam ini. Banyak informasi yang mungkin baru kita tahu, yang bisa jadi magnet penarik jiwa untuk pergi ke sana, baik diri kita sendiri maupun wisatawan mancanegara (apagila diterbitkan dalam bahasa Inggris pula). Semua orang pasti tahu Raja Ampat di Papua Barat sana, tapi belum semua orang tahu tentang Pantai Pulau Jefman dan Pantai Pulau Rumberfon yang indah itu, misalnya.


Demikian tentang buku Informasi Pariwisata Nusantara yang sayangnya tidak dijual bebas di toko buku. Beruntunglah saya bisa mendapatkannya sebuah, hehe. Bagaimana dengan kalian, kawan? Yang belum pernah membacanya maupun yang sudah pernah membacanya, apa tanggapan kalian tentang buku keren ini? Bagi tahu yuk di komen!

Baca Juga: The Kings

Selamat dua minggu puasa :*



Cheers.

Destinasi Wisata Anti Mainstream Dan Instagramable Di Indonesia


Siapa yang pengen liburan dan bersenang-senang? Atau malah pengen mengabadikan setiap momen liburan dengan destinasi wisata yang anti mainstream dan instagramble. Mungkin karena pada setiap jalan-jalan atau liburan hanya fokus dengan hotel dan tiket saja tanpa sempat memikirkan apa saja destinasi yang unik dan cocok buat foto-foto. Yes,  Instagram itu sudah menjadi candu yang sulit dilepaskan karena setiap hari kita dimanjakan dengan foto-foto bagus yang wow dan menyenangkan mata kita, padahal dibalik itu dibutuhkan banyak waktu lagi untuk menghasilkan foto yang ngga itu-itu aja dan anti mainstream.

Sebetulnya di Indonesia itu banyak banget tempat-tempat yang sudah kita kenal dan memang menjadi salah satu magnet untuk datang ke sana. Sebut saja Bali dan Yogyakarta. Bali itu sudah menjadi icon wisata Indonesia. Bahkan setiap saya ke luar negeri,  pasti orang luar negeri sangat mengenal Bali jauh lebih banyak hal dibandingkan dengan saya yang asli dari Indonesia.

"Nasi Goreng."

Saat saya berada di Gala Yuzawa, salah satu tempat bermain ski di Jepang. Seorang petugasnya langsung menyebutkan kata nasi goreng.

"Oishii."

Saya langsung merespon dengan bahasa Jepang yang berarti enak. Kemudian dia tersenyum dan kemudian dia menyebutkan makanan lain lain seperti gado-gado. Saya sempat takjub dengan kecintaannya dengan masakan Indonesia.

"Bulan depan saya akan ke Bali."

Dia kemudian menerangkan dalam bahasa Inggris bahwa ia sering bolak-balik ke Bali.

"Kamu punya cowok orang Bali?"

Dia tertawa sementara antrian lainnya masih mengular dan membiarkan kami bercanda. Dia mengangguk dan sangat senang dengan orang Indonesia yang sangat baik dan ramah.

Saya bangga sekali dengan keramahan dan kebaikan yang sering kita sampaikan lewat senyum,  dan harusnya kita bangga juga dengan wisata Indonesia.

Nah,  saya akan membeberkan beberapa tempat yang sebetulnya sangat Instagramable dan Anti Mainstream di Indonesia.

Bali


Walaupun Bali sudah sangat ternama dan sering berkunjung ke sana,  tapi sebetulnya masih banyak yang belum dijelajahi. Salah satunya adalah Karang Asem. Di Karang Asem banyak sekali tempat yang masih sangat bagus dan jarang di kunjungi karena lumayan memakan waktu kalau kita menginap di area sekitar Denpasar. Kurang lebih sekitar 2 jam waktu perjalanan sehingga tidak menjadi wisata favorite.

Walaupun tidak menjadi tempat favorite,  tapi banyak sekali tempat yang harus dikunjugi salah satunya adalah Taman Bunga Kasna. Sangat jarang orang yang mau berkunjung ke sana,  padahal pemandangannya dan taman bunganya sangat bagus. Bahkan bunga yang ditanam ini pun sebetulnya untuk dijual. Karena itulah,  bunganya menjadi sangat terawat dan sangat rindang. Bukan hanya bunga saja, tapi ada beberapa tempat selfie yang cocok untuk koleksi foto di feed Instagram.

Selain taman bunga Kasna, Karang Asem memiliki Taman Air Tirta Gangga,  Istana Air Taman Ujung dan Pura Lempuyangan yang masih sangat hits.

Jakarta


Walaupun bukan tempat wisata yang favorite,  tapi Jakarta sebetulnya memiliki banyak tempat yang instagramable dan bisa dijumpai disekeliling kita. Bahkan sebagai penduduk Jakarta pun,  saya baru tahu kalau banyak tempat kece buat menambah koleksi feed Instagram. Pasti pada penasaran kan?

Sebut saja Gelora Bung Karno, salah satu kawasan olahraga yang beberapa waktu lalu menjadi buah bibir karena sukses menyelenggarakan Asian Games ini memiliki spot-spot yang jarang di ketahui oleh orang. Kalau yang sering olahraga disekitar komplek ini pasti sudah tahu spot-spot mana saja yang sering digunakan untuk foto-foto kece.

Istora Senayan sebetulnya gedung lama, namun setelah direnovasi dan dipercantik dengan banyak alang-alang membuat Istora semakin Insagramable banget. Bukan hanya alang-alang saja yang mempercantik,  tapi gedung-gedung pencakar langit pun mampu menghias foto kita menjadi sangat kece.

Selain kawasan GBK,  Jembatan Penyebrangan Orang atau JPO di sekitaran GBK juga patut dicoba untuk menambah warna-warni Instagram kamu.

Solo


Siapa bilang Solo itu ngga menarik? Sebetulnya, Solo memiliki banyak tempat foto yang bagus seperti di Mangkunegaran. Salah satu Keraton di Solo ini memiliki sentuhan klasik dengan sentuhan Eropa pada beberapa bagian. Dahulu,  Sultan memiliki hubungan yang baik dengan Kerjaan lain di wilayah Eropa sehingga mendapatkan benda-benda yang menjadi bagian dari Keraton.

Seperti pada wilayah dalam yang sangat klasik dengan taman serta air mancur yang menambah Solo menjadi sangat Istimewa.

Masih Banyak Yang Lain

Sebetulnya masih banyak sekali tempat yang sangat Instagramable di Indonesia, bahkan disekitar kita pun banyak sekali yang kece-kece tapi tidak kita ketahui.

Nah salah satunya yang bisa kunjungi adalah Sumatera Barat. Provinsi dengan Ibu Kota Padang ini selalu memikat hati. Bukan hanya karena banyak warung nasi Padang saja namun karena keindahan alam yang mampu menyihir kita untuk tetap tinggal dan lama berlibur. Mau tahu apa saja destinasi yang mampu memikat hati kita? Penasaran? klik di sini aja .

Sebetulnya masih banyak yang lain yang bisa dijelajahi,  nah saya akan bahas tempat lainnya di postingan selanjutnya.

Selamat berlibur dan keliling Indonesia ya.



Destinasi Wisata Anti Mainstream Dan Instagramable Di Indonesia


Siapa yang pengen liburan dan bersenang-senang? Atau malah pengen mengabadikan setiap momen liburan dengan destinasi wisata yang anti mainstream dan instagramble. Mungkin karena pada setiap jalan-jalan atau liburan hanya fokus dengan hotel dan tiket saja tanpa sempat memikirkan apa saja destinasi yang unik dan cocok buat foto-foto. Yes,  Instagram itu sudah menjadi candu yang sulit dilepaskan karena setiap hari kita dimanjakan dengan foto-foto bagus yang wow dan menyenangkan mata kita, padahal dibalik itu dibutuhkan banyak waktu lagi untuk menghasilkan foto yang ngga itu-itu aja dan anti mainstream.

Sebetulnya di Indonesia itu banyak banget tempat-tempat yang sudah kita kenal dan memang menjadi salah satu magnet untuk datang ke sana. Sebut saja Bali dan Yogyakarta. Bali itu sudah menjadi icon wisata Indonesia. Bahkan setiap saya ke luar negeri,  pasti orang luar negeri sangat mengenal Bali jauh lebih banyak hal dibandingkan dengan saya yang asli dari Indonesia.

"Nasi Goreng."

Saat saya berada di Gala Yuzawa, salah satu tempat bermain ski di Jepang. Seorang petugasnya langsung menyebutkan kata nasi goreng.

"Oishii."

Saya langsung merespon dengan bahasa Jepang yang berarti enak. Kemudian dia tersenyum dan kemudian dia menyebutkan makanan lain lain seperti gado-gado. Saya sempat takjub dengan kecintaannya dengan masakan Indonesia.

"Bulan depan saya akan ke Bali."

Dia kemudian menerangkan dalam bahasa Inggris bahwa ia sering bolak-balik ke Bali.

"Kamu punya cowok orang Bali?"

Dia tertawa sementara antrian lainnya masih mengular dan membiarkan kami bercanda. Dia mengangguk dan sangat senang dengan orang Indonesia yang sangat baik dan ramah.

Saya bangga sekali dengan keramahan dan kebaikan yang sering kita sampaikan lewat senyum,  dan harusnya kita bangga juga dengan wisata Indonesia.

Nah,  saya akan membeberkan beberapa tempat yang sebetulnya sangat Instagramable dan Anti Mainstream di Indonesia.

Bali


Walaupun Bali sudah sangat ternama dan sering berkunjung ke sana,  tapi sebetulnya masih banyak yang belum dijelajahi. Salah satunya adalah Karang Asem. Di Karang Asem banyak sekali tempat yang masih sangat bagus dan jarang di kunjungi karena lumayan memakan waktu kalau kita menginap di area sekitar Denpasar. Kurang lebih sekitar 2 jam waktu perjalanan sehingga tidak menjadi wisata favorite.

Walaupun tidak menjadi tempat favorite,  tapi banyak sekali tempat yang harus dikunjugi salah satunya adalah Taman Bunga Kasna. Sangat jarang orang yang mau berkunjung ke sana,  padahal pemandangannya dan taman bunganya sangat bagus. Bahkan bunga yang ditanam ini pun sebetulnya untuk dijual. Karena itulah,  bunganya menjadi sangat terawat dan sangat rindang. Bukan hanya bunga saja, tapi ada beberapa tempat selfie yang cocok untuk koleksi foto di feed Instagram.

Selain taman bunga Kasna,  Karang Asem memiliki Taman Air Tirta Gangga,  Istana Air Taman Ujung dan Pura Lempuyangan yang masih sangat hits.

Jakarta


Walaupun bukan tempat wisata yang favorite,  tapi Jakarta sebetulnya memiliki banyak tempat yang instagramable dan bisa dijumpai disekeliling kita. Bahkan sebagai penduduk Jakarta pun,  saya baru tahu kalau banyak tempat kece buat menambah koleksi feed Instagram. Pasti pada penasaran kan?

Sebut saja Gelora Bung Karno, salah satu kawasan olahraga yang beberapa waktu lalu menjadi buah bibir karena sukses menyelenggarakan Asian Games ini memiliki spot-spot yang jarang di ketahui oleh orang. Kalau yang sering olahraga disekitar komplek ini pasti sudah tahu spot-spot mana saja yang sering digunakan untuk foto-foto kece.

Istora Senayan sebetulnya gedung lama, namun setelah direnovasi dan dipercantik dengan banyak alang-alang membuat Istora semakin Insagramable banget. Bukan hanya alang-alang saja yang mempercantik,  tapi gedung-gedung pencakar langit pun mampu menghias foto kita menjadi sangat kece.

Selain kawasan GBK,  Jembatan Penyebrangan Orang atau JPO di sekitaran GBK juga patut dicoba untuk menambah warna-warni Instagram kamu.

Solo


Siapa bilang Solo itu ngga menarik? Sebetulnya, Solo memiliki banyak tempat foto yang bagus seperti di Mangkunegaran. Salah satu Keraton di Solo ini memiliki sentuhan klasik dengan sentuhan Eropa pada beberapa bagian. Dahulu,  Sultan memiliki hubungan yang baik dengan Kerjaan lain di wilayah Eropa sehingga mendapatkan benda-benda yang menjadi bagian dari Keraton.

Seperti pada wilayah dalam yang sangat klasik dengan taman serta air mancur yang menambah Solo menjadi sangat Istimewa.

Masih Banyak Yang Lain

Sebetulnya masih banyak sekali tempat yang sangat Instagramable di Indonesia, bahkan disekitar kita pun banyak sekali yang kece-kece tapi tidak kita ketahui.

Nah salah satunya yang bisa kunjungi adalah Sumatera Barat. Provinsi dengan Ibu Kota Padang ini selalu memikat hati. Bukan hanya karena banyak warung nasi Padang saja namun karena keindahan alam yang mampu menyihir kita untuk tetap tinggal dan lama berlibur. Mau tahu apa saja destinasi yang mampu memikat hati kita? Penasaran? klik di sini aja .

Sebetulnya masih banyak yang lain yang bisa dijelajahi,  nah saya akan bahas tempat lainnya di postingan selanjutnya.

Selamat berlibur dan keliling Indonesia ya.






Kita, Orang Indonesia


Indonesia, negara kita tercinta ini, merupakan negara kepulauan. Karena kepulauan, sulit untuk menyamaratakan pembangunan. Karena, biaya untuk membangun satu gedung sekolah di Jakarta, misalnya, tidak sama dengan membangun satu gedung sekolah di Ende. Biaya material tentu berbeda, biaya transportasi berbeda, dan biaya jasa tukang bangunan juga berbeda. Berbeda yang saya maksudkan di sini adalah bisa saja harga semen di Jakarta lebih murah Rp 5.000 ketimbang di Ende. Atau bisa saja biaya jasa tukang bangunan di Ende jauh lebih murah ketimbang di Jakarta. Iya, karena di Ende kan seringnya pakai jasa keluarga atau saudara. Hehe.


Biaya dua gedung sekolah di Jakarta mungkin bisa sama dengan biaya satu setengah gedung sekolah di Ende.

Kita, Orang Indonesia yang terpisah pulau dan berbeda adat budayanya ini, disatukan oleh Bhineka Tunggal Ika. Tapi semboyan itu tidak selamanya dapat menyatukan kita karena perbedaan pandangan politik, misalnya. Yang lebih parah, perbedaan pandangan politik ini dapat berkembang menjadi dasar penilaian keberhasilan dan kemajuan negara ini. Kelompok A akan berkata kelompok B (yang sedang berkuasa) tidak baik dan menyengsarakan rakyat. Kelompok B juga bisa mengatakan sebaliknya terhadap kelompok A dan/atau kelompok C (apabila ada kelompok C). Harusnya setiap kelompok tunjukkan dan buktikan saja pada masyarakat keberhasilan masing-masing. Salah satu kalimat yang pernah saya baca di internet berbunyi : balas dengan karya untuk semua omongan jelek tentang kita.

Kita, Orang Indonesia yang terpisah pulau dan berbeda adat budayanya ini, selain disatukan oleh Bhineka Tunggal Ika, juga dapat disatukan melalui olahraga. Hari ini kita musuhan, tapi apabila tim jagoan kita ternyata sama, besok kita adalah sahabat dan harus saling mendukung. Bila perlu, hancurkan mereka yang tidak sepaham dengan kita. Kadang, nyawa bukan lah sesuatu yang patut dihormati. Harusnya kita bisa menghargai perbedaan tim jagoan karena kalau semuanya sama, tidak seru.


Kita, Orang Indonesia yang terpisah pulau dan berbeda adat budaya ini, selain disatukan oleh Bhineka Tunggal Ika dan olahraga, juga disatukan oleh bencana alam. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang menginginkan bencana alam terjadi. Akan tetapi, kehendakNya tidak bisa kita tolak. Tapi apabila terjadi bencana alam, Orang Indonesia termasuk yang paling kompak, bahu-membahu, memberikan pertolongan kepada saudara-saudara yang menjadi korban bencana alam. Lewat kampanye di media sosial, #PrayForLombok dan #PlayForPalu, misalnya. Bisa juga dengan menjadi relawan dan menyumbangkan dana dan/atau barang. 


Kita, Orang Indonesia yang terpisah pulau dan berbeda adat budayanya ini, selain bisa disatukan oleh Bhineka Tunggal Ika, olahraga, dan kejadian (yang tidak kita inginkan) bencana alam, juga dapat disatukan lewat musik. Konser Sheila On 7 misalnya, kaum muda berdesakan dengan yang sudah lewat 40 tahun karena kesamaan selera. Lagi pula, siapa sih yang tidak cinta Sheila On 7? Mereka salah satu legenda Indonesia yang tidak akan pernah pudar. Buktinya, sahabat saya Effie dan si Kakak Pacar masih suka menyanyikan lagu-lagu mereka.


Kita, Orang Indonesia, juga kadang menjadi bahan lelucon satu sama lain. Tapi saya pikir, tidak perlu merasa terhina apabila kita juga sering membuat lelucon tentang orang lain. Karena, Life Is Fun and Life Is Funny :) Selalu ada timbal-balik bukan?


Kita, Orang Indonesia, berbeda itu sudah menjadi hal dasar kehidupan kita. Tapi jangan jadikan perbedaan sebagai alasan untuk bertindak semena-mena atau sesuka hati. Mari membangun. Mari memajukan bangsa ini. Mari mendidik penerus bangsa. Mari menjadi Orang Indonesia yang berbudi dan punya tanggungjawab moral terhadap diri sendiri serta orang lain.

Saya, Orang Indonesia ... entah kenapa menulis ini ...


Cheers.

Pantai Papuma Memanggilku Kembali Ke Jember


Saya ingat betul ketika saya harus menjadwal ulang pesawat yang harusnya akan saya naiki sore itu. Masalahnya saya harus menempuh perjalanan yang tidak bisa diprediksi kapan sampai di bandara Juanda, Sidoarjo. Kalaupun nekat dengan menggunakan kendaraan apapun, maka tidak akan terkejar. Untung saja pesawat bisa dijadwalkan besok siang. Ituplah sepenggal kisah ketika saya dan teman kerja yang mengunjungi Gunung Bromo dari Malang dan sebelumnya dari Jember. Peristiwa ini memang menjadi pelajaran bagi saya untuk betul-betul mempersiapkan diri jauh-jauh hari segala hal yang berhubungan dengan traveling atau jalan-jalan. 

Ada bagian pahit yang saya alami setelah manis yang sebelumnya dicicipi. Hidup memang berputar dan itulah yang menjadi keseruan tersendiri. Namun, ternyata bagian manis itu selalu terjadi di Jember, sebelah barat dari Malang. Beruntung saya selalu kembali ke Jember dalam beberapa kali tugas kerja dengan beberapa orang yang berbeda. 


"Kita 2 kali ke Jember bareng ya Bang."

Kata Bom-Bom, panggilan rekan kerja, ketika sudah berada di mobil travel yang membawa kami dari Bandara Juanda. Saya tersenyum, dan mulai ngobrol ngalor ngidul tentang rencana yang akan kami lakukan di hotel ataupun kulineran di sekitar Jember. 

Saya selalu senang berada di Jember karena satu hal, yaitu harga makanan yang selalu membuat saya bertanya-tanya. Memang benar ya harganya segini? Sambil bertanya dan terheran-heran ketika saya dan Bom-bom menghabiskan 2 mangkok dengan harga 6 ribu saja. Selain makanan, saya menyukai wisata alamnya yang begitu indah. Kami pernah diajak keliling ke Rembangan dengan pemandangan bukit yang sangat indah dan banyak produk pertanian yang dijual salah satunya susu murni segar. 


Setahun berlalu, saya berganti partner. Kali ini saya bersama bos, namun masih sangat muda. Sama dengan Bom-bom, dia pun berencana untuk mengexplore Surabaya setelah dari Jember. Dan, pada tahun inilah saya berkesempatan mengunjungi pantai dengan pasir putih di Jember, Pantai Papuma. 

"Saya kira pantainya berpasir hitam."

Saya sedikit terperangah melihat pasirnya yang begitu putih. Saya membandingkan dengan pantai Parangtritis di Yogyakarta yang pasirnya hitam dan kecokelatan. 

Beberapa tahun berlalu, kini saya kembali lagi ke Jember. Sepertinya ada panggilan yang mengharuskan saya ke Jember. Sepertinya Papuma ingin memperlihatkan kembali kecantikannya setelah lama tak bersua. Pantai Papuma memanggilku kembali ke Jember. Disinilah perjalanan menyenangkan dimulai. 



Kami bertiga, saya bersama Aris dan Doel harus menempuh perjalanan 12 jam dari Jakarta menuju Surabaya sebelum ke Jember. Di Stasiun Gubeng inilah akhirnya kami rombongan blogger berkumpul setelah melakukan perjalanan dari daerah masing-masing. Bukan hanya dari Jakarta, beberapa diantaranya dari Surabaya, Bojonegoro, Pemalang, Bandung, dan daerah lainnya. Rasanya sangat lama kami tidak bersua, senang sekali dapat melepas rindu pada saat yang lain sedang terlelap pada dini hari. Dan, pukul 4 lebih kami harus masuk ke Peron dan melanjutkan kembali perjalanan ke Jember.

Tiba di Jember, Pritha dan Kang Nana serta beberapa orang dari Blogger Jember menyambut kami dan tak lupa sarapan di sebuah warung gudeg pecel yang ternama di Jember. Setelah puas makan, akhirnya kami melepas penat dan lelah di Hotel Lestari, salah satu hotel pertama di Jember.



Keesokan harinya, kami mengunjungi kebun Tembakau. Disinilah kami belajar mengenai Tembakau mulai dari menanam, merawat, memupuk, dan memanen. Setelah memanen, kemudian masuk ke tahap selanjutnya mulai dari dipilih daunya, dirangkai dan dikeringkan. Ternyata tidak cukup sampai pengeringan saja, masih banyak tah selanjutnya di Pabrik pengolahan dan penyimpanan. Dan, akhirnya siap untuk diracik menjadi cerutu atau Cigar terbaik di BIN (Boss Image Nusantara).

Selain ke kebun dan pabrik tembakau, kami juga mengunjungi Museum Tembakau satu-satunya di Jawa Timur, bahkan di Indonesia. Setelah berlelah dengan Tembakau berakhir di Taman Botani Sukorambi. Dihari berikutnya, selain ke pantai papuma, kami juga mengunjungi Pusat Penelitian Kopi dan Kakao, satu-satunya di Indonesia. Bagian ini akan saya tulis terpisah nantinya. 



Melepas rindu dengan pasir putih Papuma, saya makin takjub dengan perubahan yang terjadi disini. Selepas kami turun dari Bus, kami berjalan menyusuri sepanjang pantai. Dulu, tidak seramai ini dan sedikit sekali bangunan permanen seperti villa atau penginapan seperti yang saya lihat saat ini.  

Tak hanya pantai yang menarik perhatian saya, deretan perahu yang bersandar itu sempat menarik perhatian saya sebelum berlalu menjadi pasir putih kembali. Sepanjang jalan menuju Sitihingil memang sudah beraspal. Dulu, saya tidak terlalu jelas melihatnya hanya saja setiap mobil atau motor yang melintas selalu berbenturan dengan batu. 

Jalan menuju Sitihinggil memang tidak terlalu menanjak, namun cukup menguras keringat karena cuaca Jember sedang sangat panas dan teriknya. Tidak ada yang tidak mungkin, iya saya selalu menyemangati diri ketika bertemu dengan medan yang menanjak naik atau beranak tangga seperti jalan menuju bukit tinggi di kawasan pantai Papuma. 


"Ayo Man, kamu bisa. Ayo Man!" 

Ternyata tidak ada orang lain yang tersisa selain saya yang masih menaiki anak tangga. Saya mengatur nafas agar dapat naik dengan cepat. Sebelum anak tangga terakhir, saya sempat mengambil foto dan hasilnya memang sangat bagus. 

Bagai mendapat durian runtuh, saya terpesona dengan pemandangan dari atas bukit Sitihinggil. Seluruh pantai dan kawasan sekitar pantai cukup mengobati perjuangan menuju ke atas tadi. Selain menikmati pemdangan, kami juga disugguhkan es kelapa muda yang sangat segar. Inilah kombinasi yang sangat menyenangkan pemandangan indah dan es kelapa muda. Seperti surga dan kenikmatan dunia, itulah yang bisa saya gambarkan dari balik penglihatan saya. 


Rasanya saya ingin berlama-lama di Tanjung Papuma ini, namun ternyata kami harus kembali melanjutkan perjalanan guna mengakhiri perjalanan selama 3 hari di Jember. Rasanya sangat kurang sekali untuk menikmati wisata unik di Jember. Semoga Tuhan mengabulkan permintaan saya untuk kembali lagi ke Jember suatu hari nanti. Namun, tenang saja, tulisan tentang keindahan dan keunikan Jember akan saya sharing beberapa minggu kedepan. 

Terima kasih kepada Blogger Jember dan Taman Botani Sukorambi serta pihak-pihak sponsor seperti BIN Cigar, Bedhag Kopi, Fondre - Oleh-oleh Jember, Repri (Penyewaan alat camping), Nyonya Ama Catering, Hotel Lestari, Pengelola Tanjung Papuma, dan Warung Kembang.



Asian Games dan Menjadi Tuan Rumah Yang Baik

Gambar diambil dari sini.


Hip hip huray! ASIAN GAMES 2018 TELAH DIMULAI! Bangga jadi Orang Indonesia!

Selamat Defia Rosmaniar dari Cabang Taekwondo yang telah menyumbangkan emas pertama untuk Indonesia, negeri tercintaaaaaa!!!!

*Ini siapa sih yang bekep mulut saya!? Ngaku!*

*Rapihin jilbab*


Baca Juga:

Okay ...

Sudahlah ...

Tidak perlu membikin saya iri dengan bercerita tentang bagaimana meriahnya opening ceremony Asian Games 2018. Jangankan menonton langsung, menonton di teve pun saya tidak. Bukan karena tidak punya teve, teve ini banyak, tapi karena kami memang tidak lagi menonton teve sejak ... hmmm ... saya lupa sudah berapa tahun tidak menonton teve. Gantinya kami selalu live streaming (internet). Tapi, karena ada satu dua urusan kemarin Sabtu itu, saya pun tidak dapat menonton opening ceremony yang megah meriah gegap gempita itu di teve *apa sih* hehe.

Masih ada closing ceremony *berharap*

Eh, masih bisa cari video-nya di Youtube buat ditonton ulang. Okay, I will.

Berbicara tentang Asian Games yang diselenggarakan di Indonesia (Jakarta dan Palembang), artinya berbicara tentang menjadi tuan rumah yang baik. Filosofinya adalah ketika tamu datang ke rumah kita, ada minimal segelas air putih yang disuguhkan; dan maksimal kopi/teh, cemilan, makan malam. Tapi apalah artinya suguhan tuan rumah yang serba menggiurkan apabila tidak dibarengi dengan tingkah laku yang santun?

Tamu: Terimakasih kopinya, Nyonya ...

Tuan Rumah: Habis minum, CUCI CANGKIRNYA!

Yaoloh ...

Menjadi tuan rumah artinya siap melayani tamu dengan santun, dengan baik, dan tentu meninggalkan kesan yang tak terlupakan (kesan yang baik!). Sebagai Orang Indonesia saya yakin saudara-saudara di Jakarta dan Palembang telah mempersiapkan diri untuk menjadi tuan rumah yang santun dan baik. Insha Allah. Karena saat ini 'wajah Indonesia' berada di dua kota tersebut. Yang mau berdemo ditahan dulu soalnya wartawan pasti sibuk meliput di arena hihihi. Iya, ditahan dulu lah sampai perhelatan ini berakhir. 

Ini ibarat keluarga ...

Di dalam keluarga, bakulahi antar kakak-adik atau antara orangtua-anak biasa terjadi. Silang pendapat, salah paham, baper, dan lain sebagainya. Tetapi ketika ada tamu yang datang, anggota keluarga yang sedang bersengketa biasanya bakal mesraaaa. Karena apa? Karena jangan sampai orang luar tahu borok keluarga kita, biar kita yang tahu, biar kita sendiri yang selesaikan.

Sesederhana itu.

That's it! Haha. Itu poin yang mau saya sampaikan setelah memutar ke sana-sini.

Mari dukung Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang. Mari tunjukan kita Indonesia yang cinta damai *halah apa ini bahasanya*.


Cheers.