Anak Gunung Krakatau Yang Legendaris



Rakata, Danan dan Perbuatan membentuk sebuah gugusan pada sebelum 1883 dan berdiri kokoh di perairan antara pulau Jawa dan Sumatra. Debu membumbung tinggi hingga menutupi sebagian Bumi, Ombak pun takalah ganas hingga memporak porandakan garis pantai Jawa dan Sumatra yang berbatasan langsung dengan Gugusan Krakatau. Dahsyatnya letusan membuat seluruh penerbangan di tunda dan mengacaukan jaringan radio di belahan Bumi lain.

Kini, hanya tinggal Rakata saja yang masih berdiri. Namun, berjalannya waktu, Gunung Krakatau mewariskan kedahsyatannya kepada sang penerus, Anak Gunung Krakatau.

____

Saya dan Hanum beserta Rombongan dari Badan Penghubung Provinsi Lampung berada dalam satu kapal. Suhu udara masih terlalu dingin untuk bersentuhan. Suara Ayam pun belum terdengar sepenuhnya. Malam kemarin, kami masih sempat menyaksikan perdebatan apakaha Anak Gunung Krakatau ini layak kami singgahi? Dan, dini hari inilah kami akan menjejakan kaki di sana. 

Saya masih menahan kantuk ketika beberapa orang masih lalu lalang mencari posisi yang enak untuk berada dengan mimpi kembali. Saya memilihi posisi di bagian belakang, menghadap mesin yang keras dan meraung-raung nanti. Nantinya keras suara akan berada dengan ombak dan mesin, jadi bicaralah melalui bahasa isyarat atau whatsapp jika menemukan sinyal. Dan, sinyal pun di sini bak permata yang sulit ditemukan.

Mesin menderu, tanda perjalanan selama beberapa jam ke depan dimulai. Saya tak dapat menahan kantuk dan langsung terlelap meski suara mesin lebih keras dari suara macam yang meraung. Dari Pulau Sebesi, Anak Gunung Krakatau dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 3 jam. Sedangkan dari Pelabuhan Bom, Pulau Sebesi berjarak 3-4 jam. Anak Gunung Krakatau memang sudah tampak dari pulau Sebesi walaupun hanya siluet saja. 

Sang Legenda memang menawan, mampu menarik ratusan bahkan ribuan orang untuk menatap keindahannya dari dekat. Namun, sudah layaknya sebagai pejalan yang baik, untuk terus menjaga dan melestarikan keberlangsungan Anak Gunung Krakatau. Saya pun termasuk satu di dalam keriaan, namun memang tak boleh terlalu berlebihan agar tidak terjadi hal-hal yang akan mendatangkan malapetaka. Alam akan merespon setiap perbuatan yang kita lakukan, sehingga sangat disarankan berbuat baik terhadap alam. Sebelum sampai, banyak sekali yang menyarankan untuk tidak membuang sampah sembarangan dan merusak pohon. 

Saya jadi ingat kutipan "Jangan mengambil apapun selain gambar, jangan meninggalkan sesuatu selain jejak kaki dan ..... ". Kata-kata ini masih terngiang-ngiang dan akan terus tertanam di hati ini.

Suara teriakan membangungkan saya. Tubuh masih memerintahkan untuk tetap berada di kapal sampai kapal ini benar-benar berlabuh di bibir pantai Anak Gunung Krakatau. Saya menengok ke samping, matahari masih merah dan muncul perlahan-lahan. Nampaknya matahari tertahan oleh sekawanan awan yang dari kemarin gemar berbondong-bondong menutup langit.

" Mas, ayo naik, " Rupanya Hanum sudah berada diatas kapal dan siap untuk turun. Saya masih memegang kamera dan merekam setiap kejadian yang ada. Saya bilang untuk turun duluan dan saya akan menyusul kemudian. Ombak pantai pagi itu tak terlalu tinggi. Pasir berwarna hitam menyambut kami. Beberapa pantai di Lampung memang memiliki pasir putih, namun tidak dengan Anak Gunung Krakatau yang masih sering erupsi dan meluapkan lava sehingga pasirnya berwarna hitam. 

Untuk mendaki Anak Gunung Krakatau memang dibutuhkan waktu sekitar 1 jam, tergantung siapa yang naik dan seberapa sering melakukan aktivitas di Gunung. Dan, sayalah orang yang paling newbie dalam urus pendakian. Mungkin dari postur saja bisa ditebak bahwa saya bukanlah orang yang sanggup naik ke atas sana. Namun, pagi itu dengan bekal semangat dan tekat, saya pun mengusir semua keraguan. Yes, saya bisa. 

Sebelum melakukan aktivitas, kami telah disuguhkan sarapan. Dengan segera kami makan untuk menambah tenaga dan agar tak terjadi sesuatu apapun diatas sana. Setelah selesai, bungkus dan box makanan kami kumpulkan agar petugas mudah membereskannya. 

----

Satu per satu membentuk barisan mengikuti petugas yang berada di depan. Jalur pendakian memang tak serumit yang dibayangkan. Pohon-pohon rambat dan pinus sangat mendominasi saat melewati rute pertama. Jalannya masih landai dan belum menanjak. Barulah pada saat kami menemukan pohon pinus yang besar dan sudah mulai jarang tumbuhan, jalannya pun mulai terjal, menanjak dan berpasir. Kontur tanahnya memang hanya pasir yang tak padat sehingga memang harus berhati-hati untuk memanjat sampai di atas. 

Sebetulnya terdapat 2 jalur yaitu jalur kanan dan jalur kiri. Jalur kanan sangat menanjak namun tak begitu jauh sedangkan jalur kiri lebih landai dan lumayan jauh. 

Karena ketidaktahuan, saya hanya mengikuti rombongan lain yang telah sampai di puncak dengan begitu cepat. Saya dan Mba Evi masih menapaki satu per satu bebatuan yang membantu kami berpijak. Bisa di bayangkan betapa terengah-engahnya nafas ketika baru setengah perjalanan. Namun, pemandangan dibawah serta laut yang indah membantu saya cooling down dan melanjutkan langkah demi langkah.

Saya salut dengan pendaki Gunung. Mereka memiliki endurance dan semangat yang kuat untuk melewati ribuan kilometer untuk mencapai puncak Gunung. Mungkin, suatu saat saya pun akan mendaki Gunung apapun termasuk Gunung yang tak terduga sebelumnya seperti Puncak Jaya Wijaya, Amin.

Arief Pokto dan rombongan lain telah menyisakan saya dan Mba Evi saja yang masih berkutat dengan langkah menuju puncak. Sambil bergaya dan difoto, itulah yang membuat nafas kami menjadi kuat. Sementara rombongan blogger telah mengabadikan keindahan Anak Gunung Krakatau, kami pun terpacu untuk sampai sesegera mungkin. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, dan langkah terakhir sebelum mencapai puncak. 

Yes, Alhamdulillah akhirnya saya telah menaklukan Anak Gunung Krakatau. Walau tingginya tak mencapai 1.000 mdpl, namun pencapaian ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Setidaknya ceklist saya sudah berkurang dan ceklist lain telah menanti.

 ---

Sambil memegang Merah Putih dengan background puncak Anak Gunung Krakatau, nasionalisme saya seolah bertambah tebal. Alam dan budaya kita yang tak ternilai harganya harus di jaga dan dilestarikan. Kalau bukan oleh kita, lalu siapa lagi? 

Bunga Bangkai dan Rafflesia Arnoldi, Sebuah Perjumpaan Pertama Di Bengkulu


Saya belum pernah berjumpa dengan Rafflesia ataupun Bunga Bangkai. Sambil selalu melihat-lihat foto dan video kiriman dari teman yang telah menyaksikan secara langsung Puspa Langka yang habitatnya tersebar di Sumatera terutama Bengkulu. Dan, tak terpikir oleh saya bahwa saya akan menyaksikan bukan hanya satu melainkan dua puspa sekaligus yaitu Bunga Bangkai dan Bunga Rafflesia Arnoldi. 

Rafflesia, nama ini tidak asing ditelinga, bahkan seantero Indonesia dahulu pun sangat mengenal beliau. Dialah Sir Thomas Stamford Raffles yang menemukan bunga unik dan besar seperti bokor atau cawan penampung air. Sebetulnya seorang pemandu dari Indonesialah yang menemukan dalam rombongan ekspedisi bersama Dr. Joseph Arnold. Perpaduan dari dua Tokoh tersebut sehingga  salah satu puspa langka ini dijuluki Rafflesia Arnoldi. Bunga berdiameter sampai 100 cm ini dapat ditemukan di semenanjung Malaya, Sumatra, Kalimantan dan Filipina.

Indonesia patut berbangga. Setidaknya 27 jenis Rafflesia, Sumatera memiliki 11 jenis dan 4 diantaranya terdapat di Bengkulu. Tak heran jika Bengkulu menasbihkan sebagai "Bumi Rafflesia" di Indonesia bahkan di Dunia. Bak cendawan di musim hujan, Rafflesia pun masih sering ditemukan tak jauh dari jalan raya diantara hutan. Bahkan jika masuk ke dalam hutan yang berjarak beberapa kilometer, sering ditemukan Rafflesia berdampingan antara jantan dan betina. What a wonderful Rafflesia.

Antri Melihat Rafflesia Arnoldi
Selain Rafflesia Arnoldi, Bengkulu memiliki 3 jenis lainnya yaitu Rafflesia Gatutensis Meijer, Rafflesia Hasseltii Suringar dan Rafflesia Bengkuluensis. Gatutensis Meijer dapat ditemukan di Bengkulu Utara dengan diameter 40-60 cm dan ditemukan oleh Meijer pada tahun 1984. Hasseltii Suringar merupakan Rafflesia paling cantik seperti cendawan merah-putih atau cendawan harimau. Spesies ini ditemukan oleh Suringar pada tahun 1979 dan dapat ditemukan di Kabupaten Lebong. Sedangkan Bengkuluensis, sesuai dengan namanya merupakan spesies yang ditemukan di tanah Bengkulu dengan diameter 50-55 cm. Bengkuluensis dapat ditemukan di daerah Taman Nasional Bukit Barisan, Bengkulu.

Bibit Rafflesia Arnoldi
Seperti mendapat durian runtuh, pada saat bus melaju dan kantuk yang mendera, sayup-sayup terdengar bahwa kami mendapatkan 2 bunga bangkai mekar sekaligus. Rafflesia Arnoldi dan Amorphophallus Titanum adalah nama latin kedua Bunga Bangkai tersebut. Masyarakat sering salah kaprah dengan kedua jenis bunga bangkai, bahkan sering menyamakan keduanya sebagai satu jenis. Kenyataannya sangat berbeda dan bahkan bentuknya pun berbeda. Rafflesia cenderung seperti bentuk bunga dengan 5 putiknya sedangkan bunga bangkai sangat tinggi sekitar 3 meter lebih. 

Saat laju bis makin pelan, saya menyiapkan kamera di dalam tas. Sementara teman-teman lain masih terlelap dalam mimpi masing-masing. Bis berhenti tepat di tengah hutan sekitar 2 jam dari kota Bengkulu. Kawasan ini masih termasuk dalam Taman Nasional Bukit Barisan sehingga untuk mencapai hutan ini pun mesti berkelok-kelok mengikuti bentuk jalan dan kontur tanahnya.


Kami turun dar Bis menuju hutan yang tak jauh sekitar 10 meter. Pada saat berada jalan menuju hutan, saya mendengar bahwa kami harus melewati 30 meter untuk sampai dan melihat Rafflesia. Wajah saya dan teman-teman berubah mengerut, tanda tidak percaya 100 persen apa yang dikatakan oleh pemandu kami. Namun, anggap saja betul bahwa jalan yang kami lewati nanti berjarak 30 meter.

Hutan tidak terlalu basah. Dan matahari memang dari tadi bersinar tak henti-hentinya. Cuaca memang mendukung kami untuk menyusuri hutan tanpa terkena lumpur yang basah akibat hujan. Berbeda dengan beberapa hari lalu yang sempat diguyur hujan dan membasahi permukaan tanah.

Bagai antri beras dan sembako, kami berbaris rapi berbanjar mengikuti jalur yang telah dibuat dua hari lalu ketika pertama kali Rafflesia mekar. Bunga ini hanya bertahan paling lama 5-7 hari saja. Semakin hari bunga akan layu dan kecantikannya pun turut lenyap. Beruntung, ini masih hari ketiga, bunga masih dalam keadaan segar.

Bunga Rafflesia sebetulnya tanaman parasit yang sangat bergantung pada tumbuhan inangnya. Dan tumbuhan inang Rafflesia adalah tumbuhan Liana yang digunakan untuk tempat membelit. Setelah itu kemudian dari tanah akan tumbuh tunas dan berubah menjadi bunga Rafflesia.


Setelah saya berjalan menurun mengikuti jalurnya, akhirnya terlihat juga bunga Rafflesia. Dan, ini pertama kalinya saya melihat dengan mata kepala sendiri Bunga Rafflesia yang selama ini saya idamkan. Diameter perut saya yang lebar ternyata masih lebih lebar diameter Bunganya, dan ini yang membuat saya merasa bahagia. Rafflesia ternyata masih lebih gemuk dibandingkan saya ya. Mohon diabaikan saja ya, hahaha.


What a lucky day for me. Sangat beruntung sekali karena dalam satu hari, saya bisa melihat langsung Bunga Bangkai atau Amorphophallus Titanum. Sebelumnya rombongan kami berhenti terlebih dahulu di danau Mas Harun Bestari sebelum mengunjungi habitat bunga bangkai.

Sama dengan Rafflesia Arnoldi, Bunga Bangkai termasuk Puspa Langka dan sangat dilindungi, bahkan telah masuk dalam konservasi sehingga keberlangsungan bunga bangkai ini bisa di jaga. Berbeda dengan Rafflesia yang harus melewati beberapa puluh meter, saya hanya turun beberapa anak tangga dan bunga bangkai terlihat dengan jelas.


Dari atas tunas bunga sudah terlihat dengan jelas dan terlihat tidak begitu besar. Namun, ketika saya berdampingan dengan bunga, saya tak dapat menandingi tinggi yang mencapai sekitar 3 meter lebih. Bunga Bangkai selain di Sumatra, juga terdapat di Istana Bogor, namun saya belum pernah menemukan Bunga Bangkainya secara langsung.

   
Setelah layu, Bunga Bangkai akan tumbuh tunas-tunas atau bibit kecil sebagai cikal bakal tumbuh bunga bangkai kembali. Secara detail bisa dilihat di bagan berikut ini.

Siklus hidup Bunga Bangkai memang sangat lambat bahkan bisa ber tahun-tahun untuk mendapatkan bunga kembali. Oleh karenanya, kita wajib bersyukur dapat melihat bunga langka dalam waktu satu hari. Orang lain pun belum tentu seberuntung dengan yang saya lihat. Dan, kita patut berbangga dan melestarikan puspa langka yang menjadi identitas sebuah bangsa.


Bak seorang artis, Puspa ini menjadi serbuan blogger dan influencer dari beberapa daerah di Indonesia. Inilah Bengkulu, Inilah kebanggaan kita semua sebagai "Bumi Rafflesia".

How “Indon” Can You Go?

Bukan bermaksud melunturkan semangat memperingati kemerdekaan Indonesia, tapi sekedar menumpahkan uneg-uneg saja. Kemarin saya melihat karikatur ini di akun twitter @ndorokakung. Menurut saya, karikatur ini sarat makna. Siapapun pembuatnya, saya salut! Maafkan karena keterbatasan yang saya punya, saya nggak bisa menelusuri siapa pembuat karikatur ini. Melihat tikus-tikus yang menggerogoti bendera Indonesia yang sedang dijahit, pikiran… Read More How “Indon” Can You Go?

Flashmob Tarian Daerah Membuat Bangga Menjadi Indonesia (Indonesia Is Me 2017)


Hari minggu pagi yang biasanya ramai dengan orang berolahraga kali ini mendadak berubah. Setidaknya dua ribuan orang memadati jalan di depan FX Sudirman. Mereka bukanlah orang yang mau menuntut kenaikan upah atau pun demo lainnya. Mereka akan melakukan flashmob tarian dari berbagai daerah di Indonesia. Momen Car Free Day memang membuat aksi flashmob ini semarak dan penuh dengan orang-orang yang penasaran dengan anak-anak yang berpakaian ala-ala penari. 

Tak berapa lama, segerombolan laki-laki berbaju seperti suku indian di Amerika berteriak-teriak dan melompat. Langkah kaki tak berirama dan suara teriakannya pun bersahut-sahutan melengking tinggi. Iya, inilah tarian Cakalele atau Kabasaran dari Suku Minahasa, Sulawesi Utara. Memang tarian ini adalah tarian masyarakat yang telah pulang dari medan peperangan dan meraih kemenangan. Parang dan kayu penangkis digerak-gerakan mengikuti irama yang tak mereka ucapkan. Sungguh menarik mengikuti aksi mereka. 


Menari merupakan seni yang menarik. Setiap orang suka menari tanpa disadari. Dan, Indonesia memiliki ragam tarian yang sangat banyak. Maka tak heran, tarian dari Indonesia sangat menarik untuk diikuti oleh wisatawan baik dalam maupun luar negeri. Bahkan, sering mendengar orang asing yang sangat senang belajar tarian terutama di pulau Dewata. Duh, bangganya menjadi Indonesia. Apaalagi momen HUT Kemerdekaan seperti ini membuat semakin cinta terhadap negeri kita ini. 


Selanjutnya adalah Tari Piring dari Sumatera Barat. Tarian ini berasal dari Suku Minangkabau, Solok, Sumatera Barat. Piring dalam bahasa Minangkabau disebut Piriang. Bukan sulap bukan sihir, inilah tarian yang membuat kita berdecak kagum. Pasalnya butuh keahlian khusus agar piring tidak jatuh dan pecah. Selain mengengam dengan benar, gerakan yang serba cepat pun membuat lebih ekstra hati-hati. Inilah salah satu tarian yang membuat sport jantung. 


Wajah anak-anak yang polos dan penuh keceriaan membuat minggu pagi ini berwarna. Selendang dengan kain tradisional membalut tubuh kecil. Kepala disanggul kecil dengan hiasan bunga dan pernak-pernik berwarna-warni. Dua ribu anak telah siap dengan beragam tarian diantaranya Tari Puspanjali dari Bali, Tari Maumere dari NTT, Tari Siri Kuning dan Ondel-ondel dari Betawi, Tari Tor-tor dari Sumatera Utara, Giring-giring dari Kalimantan, dan terakhir Tari Yamko dari Papua



Sebelumnya dibuka dengan Tarian kabasaran dan Tari Piring, kali ini 7 tarian nonstop ditarikan oleh dua ribu anak-anak. Program ini merupakan rangkaian dari program PESTA MERDEKA dari Synthesis Development bekerjasama dengan Belantara Budaya. Belantara Budaya merupakan sanggar bagi ribuan anak-anak yang mempelajari tarian tradisional dan gratis tidak dipunggut biaya sepeser pun. Dan, Synthesis Development merupakan salah satu developer terbaik di Indonesia dengan membangun diantaranya yaitu Samara Suites, Prajawangsa City dan Synthesis Residence dengan ciri khas Indonesia sebagai bagian yang tak terpisahkan. 


Dan, spesial dalam beberapa hari ini ada Pesta Merdeka. Apa itu Pesta Merdeka? Promo apartemen beli 1 gratis 1 dan menangkan hadianya iphone 7, Macbook Air, paket liburan ke Bali dan voucher MAP. Oh iya, selain itu akan mendapatkan bebas service charge selama 3 bulan dan bebas biaya peralihan. Jangan ketinggalan ya hanya di Grand Atrium, Kota Kasablanka. 


Selain diskon dan promo ini, terdapat rangkaian acara sampai tanggal 20 Agustus 2017 di Kota Kasablanka. Berikut rangkaian acaranya :

11 Agustus 2017 Press Conference Indonesia Is Me
13 Agustus 2017 Tunjukan Indonesiamu, dengan flashmob tarian berbagai daerah
15 Agustus 2017 Pesona Kopi dan Cokelat Indonesia 
16 Agustus 2017 Rumahku Budayaku
17 Agustus 2017 Pagelaran Wayang Kulit dan Tembang Jawa Kuno Dalang Cilik Bayu Ananta
18 Agustus 2017 Bincang Sore "Jelita Nagri"
19 Agustus 2017 TIRAKAT by Lulu Lutfi Labibi
20 Agustus 2017 Bincang Minggu Pagi : INVESTASI MASA KINI, InspirAksi bersama Maman Suherman (Kang Maman) dan rekan, Penampilan dari Orkesta Negeri "The Brother"

Wah, banyak banget ya acara-acara menarik di Grand Atrium, Kota Kasablanka. Yuk ikutin promo menarik dan ikuti acaranya.


Pesona Bumi Legenda Batik Nusantara


Meski pernah tenggelam, riwayat batik pun kini mulai mengeliat kembali. Perkembangan dunia busana membuat pengusaha Batik berbenah dan menyesuaikan dengan kekinian zaman. Pun demikian juga dengan Batik Pesisir. Semenjak beradab-abad lampau, batik merupakan perpaduan bukan hanya satu atau dua budaya melainkan banyak kebudayaan, pantas saja Batik bukan dikenal sebagai karya yang biasa namun bisa disebut Maha Karya Bangsa Indonesia.

Warna pesisir memiliki keunikannya tersendiri dan cenderung berani bermain warna. Jikalau Keraton Solo dan Yogyakarta memiliki tone warna cenderung gelap, pesisir justru sebaliknya sangat warna-warni terutama warna biru sedangkan untuk etnis Tionghoa berwarna merah cenderung marun. Coraknya sangat dominan dengan flora dan fauna seperti burung hong, naga, kapal, kereta kuda, bunga, pohon dan lainnya. 


Abad 18 lampau, kaum pribumi bukan hanya satu-satunya yang melakukan bisnis batik melaikan dari bangsa Eropa dan Tionghoa. Jikalau kaum perempuan peribumi cenderung menyukai corak warna yang berasal dari pengaruh Keraton Solo dan Yogyakarta, para Nyonya Eropa cenderung menyukai teduh dan pastel dengan corak dongeng putri salju atau gadis bertudung merah. Sedangkan Tioghoa sangat konsisten dengan warna merah sebagai keberuntungan. Selain mengembangkan dari bahan katun, etnis Tionghoa tertarik dengan kain berbahan sutera yang tersohor di negeri tirai bambu pada masanya.

Lockan, begitulah orang menyebut batik dari bahan sutera berbetuk sarung, selendang dan kain panjang. Perkembangan beradab silam membuat Tionghoa membuat lockan dari kain berukuran lebih kecil karena permintaan pasar yang luar biasa. 



Kini batik pesisir dikembangakan oleh Padepokan Pesisir yang didirikan oleh Haji Failasuf di Wiradesa, Kabupaten Pekalongan. Saat melakukan kunjungan, nuansa Batik sangat terasa mulai dari kereta kuda, bendera batik dan ornamen khas Jawa. Walau matahari sangat terik, namun semangat untuk mengetahui lebih dalam mengenai proses pembuatan batik itu lebih besar. Walaupun sebelumnya pernah mengunjungi proses pembuatan Lasem dan Cirebon sebagai dua kota lain penghasil batik, namun entah mengapa saya lebih senang berada di padepokan ini. 


Halaman luas dengan padepokan berada di tengah yang ramai dengan teman-teman dari Amazing Petung National Explore yang tengah beristirahat sambil menikmati makan siang. Saya pun bersantap siang kemudian tak berapa lama saya masuk ke gerbang di sisi kiri. Dan disanalah proses pembuatan batik dari awal hingga akhir dikerjakan oleh puluhan orang pekerja yang terampil. 



Panjang dan membutuhkan waktu yang lama, begitulah proses pembuatan Maha Karya ini. Namun, dapat disimpulkan menjadi 3 kegiatan penting yaitu memberikan lilin atau malam, pewarnaan dan pelepasan lilin pada kain (pelorotan). Canting seolah menjadi primadona dalam proses tahap awal. Pola-pola digambar pada kain katun polos sesuai dengan corak yang diinginkan. Biasanya kain akan diletakan pada Gawangan. Gawangan adalah tempat meletakan kain seperti layak gawang pada sepak bola, bentuknya perrsegi terbuat dari bambu. 


Setelah selesai diberikan malam, kemudian ditambahkan dengan warna-warna sesuai dengan kebutuhan. Warna-warna biasanya mengunakan bahan-bahan alami seperti orange diperoleh dari kunyit. Proses pewarnaan selesai kemudian dilanjutkan dengan pelepasan malam dari kain dengan teknik pencelupan kain kedalam air mendidih dan air dingin sekaligus. 


Setelah semuanya selesai, kemudian kain di jemur di terik matahari. Setelah kering, kain siap untuk di packing dan dipasarkan. Begitu mudah mengamati proses pembuatannya, namun sebenarnya proses ini sangat panjang. Tak heran batik tulis sangat fantastis harganya karena pembuatannya pun tidak main-main dan mengunkan seluruh hati dan pemikiran. Corak-corak yang dihasilkan pun buah dari karya yang mesti dihargai oleh siapapun. Namun, perkembangan dan tuntutan zaman, kemudian hadirlah batik printing yang disesuaikan dari batik tulis dan cap. 


Kini, Petung Kriyono pun memiliki coraknya tersendiri dan diluncurkan pada hari yang cerah tersebut oleh Bapak Asip Kholbihi, Bupati Kabupaten Pekalongan. Ragam batik ini tentunya akan memperkaya khasanah perbatikan di Kabupaten Pekalongan dan Indonesia. Petung Kriyono yang menjadi paru-paru Kabupaten Pekalongan sangat khas dengan flora dan faunanya sehingga dituangkan kedalam corak batik ini. 



Perjalanan di Kabupaten Pekalongan usai sampai disini. Namun, memori tentang Petung Kriyono dan Batik Pesisir khasnya tidak akan terlupakan begitu saja. Inilah oleh-oleh yang luar biasa dan tidak bisa diganti dengan hanya buah tangan berbentuk fisik semata. Saya bangga dengan kekayaan alam dan budayanya. Inilah cerita singkat dari Bumi Legenda Batik Nusantara, Kabupaten Pekalongan.

Semarak Bulan Puasa Ramadhan Di Grand Cempaka Hotel


Rajab menginjak 10 hari terakhir, dan artinya Bulan Ramadhan akan datang. Sahur lagi, Buka Puasa Bersama lagi, ngabuburit lagi, berburu takjil lagi dan masih banyak kebiasaan pada bulan penuh berkah ini segera kita rasakan. Sebagian dari kita pasti akan mencari-cari Jadwal Imsakiyah atau Sholat, kemudian mempersiapkan diri baik secara fisik maupun mental. 

Minggu pertama Bulan Ramadhan, keluarga merupakan prioritas utama. Buka Puasa Bersama keluarga sudah menjadi tradisi dan tidak akan dilewatkan begitu saja. Bagi keluarga besar biasanya secara bergiliran menjadi tuan rumah dan menyediakan semua masakannya. Nah biasanya yang tak mau repot mengadakan acara tersebut di Hotel. Kebetulan Grand Cempaka Hotel, Jakarta, sudah memiliki pilihan menu.


Yup, Harmoni Resturant di Hotel Grand Cempaka menyediakan buffet dengan pilihan menu antara lain Gudeg dan Nasi Kebuli. Gudeg mengingatkan kita pada kota Yogyakarta, sebuah kota dengan kebudayaan yang kental. Sedangkan Nasi Kebuli erat kaitannya dengan nuansa Arab dan Timur Tengah. Dua tradisi yang berbeda namun menyatu dalam Bulan Ramadhan kali ini.


Gudeg memiliki citarasa manis biasa ditemukan di Yogyakarta. Namun, Harmoni Restaurant menyelaraskannya dengan menambahkan sensasi pedas. Variasi gudeg sebetulnya sangat beragam, namun Gudeg Yogyakarta lebih terkenal. Gudeg terdiri dari gudeg basah, kering dan Solo. Pembeda dari ketiganya hanya pada Areh. Gudeg kering disajikan dengan Areh kental, sedangkan gudeg basah disajikan dengan Areh encer. Lain lagi dengan gudeg Solo yang Arehnya berwarna putih. Grand Cempaka Hotel menyajikan Gudeg dengan Areh kental.


Bagi pecinta masakan dari kambing harus mencoba Nasi Kebuli. Nasi ditanak dengan campuran kaldu kambing dan susu kambing. racikan berikutnya adalah minyak samin untuk menumis rempah-rempah termasuk jintan, kapulaga, kayu manis dan pala. Bayangkan aroma yang tercium dari racikan kaya rempah-rempah di Nasi Kebuli ini.

Nasi Kebuli sangat terkenal diMasyarakat Betawi dan Keturunan Arab di Indonesia. Tastenya memang mirip dengan Nasi Briyani, sehingga sangat mudah untuk diterima dikalangan Muslim. Selain Ramadhan, Nasi kebuli biasanya disajikan pada saat momen Hari Besar Islam seperti Maulid Nabi Besar, Lebaran dan Idul Qurban.


Kedua Menu, Gudeg dan Nasi Kebuli merupakan pilihan Buffet di Harmoni Restaurant. Ragam menu lainnya seperti ayam goreng, mie goreng, sayur dan pilihan lainnya juga melengkapi buffet ini.

Paket Menu Ramadhan dan Lebaran Di Hotel Grand Cempaka


Berapa sih harga yang tiwarkan untuk menikmati buffet pada saat berbuka puasa? Tenang saja, hanya dengan Rp 130.000/net termasuk ta'jil dan makan malam. Nah, bagi yang menginap di Hotel Grand Cempaka, dikenakan rate harga kisaran mulai dari Rp 644.000 sudah termasuk Sahur atau makan pagi (sarapan) untuk dua orang. Paket Ramadhan ini berlaku mulai dari 25 Mei - 25 Juni 2017.



Setelah Bulan Ramadhan, tersedia paket lebaran dengan rate harga yang sama Rp 644.000/net per kamar termasuk makan pagi untuk dua orang. Selain itu terdapat paket Halal Bi Halal yang bisa dinikmati dengan harga Rp 200.000 dengan coffee break dan makan siang/malam.


Silahkan yang sudah memantapkan pilihan buka puasa dan berkumpul pada halal bi halal bisa melakukan pemesanan +62 21 4260015 . So, enjoy your Holy Month with your family and friends.

Harmoni Restaurant 
Hotel Grand Cempaka 
Jl. Letjen. Suprapto
Cempaka Putih, Jakarta Pusat
Webiste : www.grandcempaka.co.id

Menikmati Pesona Tari Guel Kala Senja Di Danau Laut Tawar, Takengon


"Selamat datang di negeri di atas awan, Takengon"
Awan putih dan langit biru menyambut kami siang itu. Matahari engan menyapa dan bersembunyi di balik bukit, namun mendung pun urung datang, jadilah siang itu redup dan terang. Kaki saya terhenti ketika dipersimpangan antara landasan pacu dan jalan menuju terminal kedatangan. Kamera saku kemudian melaksanakan tugasnya mengabadikan pemandagan di sekiling Bandara. Rembele, begitulah masyarakat menyebut bandar udara yang hanya dapat menampung pesawat berkapasitas kurang dari 100 orang. Sebenarnya saya masih mengira kalau Rembele identik dengan Indonesia Timur, namun ternyata Aceh pun memiliki nama Bandara yang cukup unik.

Setelah mengambil bagasi, kami dijemput dengan dua kendaraan, karena memang jumlah kami hampir genap 10 orang. Mata saya masih takjub dengan paduan warna putih dan bitu yang menghias langit. Langit inilah yang saya temukan setahun silam di Pulau Rote. Tidak ada langit yang tidak sempurna di Rote ini, saya menyebutnya berkali-kali pada perjalanan lalu. Dan, kemudian saya menemukan langit yang sama, bahkan saya baru sadar kalau Takegon layak mendapatkan julukan "Negeri Di Atas Awan"


Sejauh mata memandang, pohon hijau menghias di kanan kiri. Roda mobil berderit tanda mengerem. Sebelah kanan kami terdapat kebun kopi dan bangunan seperti saung, rumah makan khas Sunda yang terbuat dari bambu. Setelah melihat ke dalam, ternyata inilah Kafe Kopi. Bentuknya memang sangat tradisional, hampir seluruhnya terbuat bambu dan kayu. 

Di tempat duduk di samping kami, sekitar empat orang sedang menikmati kopi. Sangat lumrah warga Takengon menikmati kopi sebagai sebuah sajian yang wajib setiap harinya. Kedai, kafe atau pun warung kopi dimana pun selalu ramai. 

"Kedai kopi itu tempat melakukan pertemuan bisnis mulai dari uang receh sampai milyaran. Dan biasanya kami membawa bolpoint dan stempel." 

Pemiliki Kafe menjelaskan mengapa tradisi minum kopi dan bersosialisasi di kedai sangat digemari di daerah penghasil kopi Arabica terbaik di Indonesia. Dari kedai kecil ini terciptalah bisnis milyaran. Apabila saya mengidolakan toilet sebagai sumber ide yang tak pernah surut, maka warga Takengon mengatakan kedai adalah sumber ide dan bisnis yang tak pernah padam.


Perbincangan asik kami terhenti ketika sebuah botol disajikan. Eits, botol ini bukanlah minuman memabukan, namun kopi pekat dengan fermentasi. Melihat kopi hitam saja saya sudah tidak berselera, ditambah dengan campuran fermentasi, maka 100 persen saya tidak akan mencoba setetes pun. Beberapa orang kemudian menenguknya dan terlihat baik-baik saja, tanpa ada yang kejang-kejang, pingsan atau bahkan mati mendadak. 

Oke, jadi saya memutuskan untuk mencobanya. Hidung saya menangkap aroma tajam dan asam. Hingga akhirnya lidah saya merasakan kopi pahit dengan asam yang keterlaluan. Ah, apa enaknya kopi ini? Namun, pengemar kopi memang memiliki seleranya sendiri-sendiri. Kopi hitam fermentasi ini pun ternyata sangat digemari, terutama oleh Gondrong, pemilik kafe Seladang. 

Kopi Hitam Fermentasi yang belum diseduh dengan air.
Jalanan aspal sedikit berlubang tak menghentikan laju mobil. Malah kecepatannya semakin bertambah, sementara pepohonan disekitar kami berubah menjadi pemadangan Danau. Inilah Danau Laut Tawar, sebuah rumah bagi suku Gayo, masyarakat menyebutnya Tanoh Gayo atau Dataran Tinggi Gayo. 



Lebih dari 5.000 hektare luas Danau Laut Tawar membuatnya disejajarkan dengan Danau-Danau luas di Sumatra, seperti Danau Toba, Sumatra Utara dan Danau Ranau, Lampung dan Sumatra Selatan. Pantas saja disebut sebagai Negeri Di Atas Awan, yang saya lihat sepanjang perjalanan adalah keindahan Danau disandingkan dengan pepohonan hijau serta langit yang selalu cerah dengan putih birunya. 

Dalamnya Danau Laut Tawar pun siapa yang tahu dan menjadi misteri yang tak terpecahkan sampai sekarang. Banyak sekali misteri dan legenda yang melekat dan sudah turun temurun diceritakan oleh masyarakatnya. Dan, inilah salah satu legenda yang tersohor dari Takengon, Aceh Tengah. 

Dahulu kala, seorang Putri Raja yang mendiami wilayah ini disukai oleh Pangeran dari Kerajaan lain. Putri tersebut akhirnya dioersunting oleh Pangeran. Namun malang, Sang Putri tidak mendapatkan restu dari orang tuanya. Namun kemudian orang tuanya hanya berpesan saat melakukan pelarian jangan sekali-kali menoleh dan teruslah menghadap ke depan. 

Sang Putri tidak tega meninggalkan orang tua. Saat pergi meninggalkan daerahnya, sang Putri pun menoleh ke belakang untuk melihat orang tuanya. Karena pesan orang tuanya dilangar, Langit pun murka dan petir pun menyambar serta menurunkan hujan deras. Sang Putri pun menangis disertai dengan air hujan. Lama kelamaan terciptalah sebuah Danau laut Tawar. Inilah legenda yang beredar di masyarakat. 


Asam Jing Khas Gayo.
Tak lengkap menikmati Danau Laut Tawar tanpa menikmati sajian kulinernya. Kami berhenti disebuah restoran. One-One Cafe tepatnya (Baca On ne - On ne Ka fe, bukan one-one kafe). Restoran ini terletak di Kampung One-One dekat dengan Teluk One-One. Restoran yang menyajikan santap siang ikan air tawar seperti Mujahir dan Bawal. Selain ikan, sajian lainnya adalah Udang, namun jenisnya bukan udang laut melaikan udang air tawar.Tak lengkap rasanya tidak menikmati sayuran dan sambal. Sayurnya terbuat dari sayur dau labu sementara sambalnya racikan antara terong belanda dan cabai. 

Sajian lain yang terbuat dari ikan air tawar adalah Masam Jing khas Gayo (Dikenal juga sebagai Asam Jing). Sepintas Asam Jing seperti pindang ikan patin dengan kuah kuning. Rahasianya terdapat pada kacang-kacangan dan kunyit sebagai bumbu-bumbu. Dari segi taste memang sangat kaya rempah dan sudah menjadi ciri khas masakan Dataran Tinggi Gayo ini.


Hari berganti, Danau Laut Tawar masih menampakan keanggunanya. Awan putih kini agak berubah keabuan, sementara langit biru agak tertutup hari ini. Saya dan rombongan melanjutkan separuh hari menyaksikan sebuah pertunjukan Tari Guel. Kami hampir menyusuri kawasan Danau dari sebelah timur. Selain menyaksikan tari, tujuan lainnya adalah berburu sunset di Danau Laut Tawar. 

Taufik dan Alma tengah bersiap mengenakan baju adat khas Gayo. Baju didominasi warna hitam dengan warna lain seperti merah, kuning, hijau dan putih sebagai motifnya. Baju adat disebut Kerawang. Setiap warna memiliki artinya sendiri dan berhubungan erat dengan alam. 

Tari Guel dahulunya dilakukan untuk mendapatkan Gajah Putih sebagai salah satu hadiah untuk Putri Sultan Aceh. Sengada, Putra Raja Linge XII, bermimpi dan bertemu dengan seseorang bernama Bener Meria. Dalam mimpinya, ia diharuskan menangkap seekor Gajah Putih untuk dipersembahkan kepada Sultan Aceh. 



Sesuai dengan petunjuk, Ia mengadakan kenduri dan melakukan tarian dengan gerakan-gerakan serta diiringi oleh musik. Tak hanya Sengada saja yang melakukan tarian, namun kemudian warga sekitar pun melakukannya. Berkat tarian tersebut, muncullah Gajah Putih ditengah pesta. Sesuai petunjuk Bener Meria, Gajah Putih kemudian dijinakan dan ditangkap untuk dipersembahkan kepada Putri Kesultanan Aceh. 

Tari Guel memiliki gerakan yang cukup mudah seperti gerakan-gerakan hewan dipadukan dengan musik dan suara nyanyian khas Gayo. Baju Kerawang yang warnanya mencolok mampu menyihir penonton untuk mengikuti gerakannya. Inilah yang dimaksud dengan kemagisan Tari Guel. 

Matahari kemudian mulai tengelam di balik bukit. Kami pun masih sempat berbincang-bincang di bibir Danau. Kamera kami pun masih sempat mengabadikan sunset. Walaupun tak seindah yang dibayangkan, namun keindahan dan pesona Danau Laut Tawar di Dataran Tinggi Gayo ini cukup kami nikmati degan senda gurau yang tak ada habis-habisnya. 



The Passport Cafe, The Gate To The World


Tidak memiliki banyak waktu untuk berkeliling Dunia, namun ingin merasakan atmosfir asyiknya traveling menjelajah Dunia? Saya punya penawarnya, mampirlah ke The Passport Cafe, di Tangerang. Namanya juga Passport, tentu saja benda ini merupakan benda terpenting jika kamu ingin ke luar negeri. So, bersiap-siaplah menjelajah Dunia tanpa harus membeli tiket pesawat terbang, tempat menginap apalagi membawa bagasi dengan berat lebih dari 20 kilogram. Cukup dengan mengoyang lidah saja, Negara seperti Jepang, Jerman, Italia dan lainnya sudah kamu kunjungi. Luar biasa.

The Passport ini bisa dijangkau dengan berkendara kurang lebih 1 jam dari Statsiun Rawa Buntu, apabila kamu dari Jakarta. Apabila dari Tangerang, cukup kunjungi saja deretan ruko dalam perumahan Gading Serpong Summarecon. Atau alternatif terakhir, gunakan layanan ojek online atau taksi.

Konsep Cafe



Begitu masuk ke dalam Cafe, suasana klasik dan modern cukup terasa. Warna-warna gelap seperti hitam, cokelat dan abu-abu dipilih untuk mewakili kesan minimalis namun tetap modern. Furniturnya pun tampak menyesuaikan dengan warna dinding yang cenderung gelap. Memang karena letaknya di ruko yang terbatas sehingga suasana terasa agak sempit. Namun, begitu naik ke lantai 2, ruangannya menjadi sangat luas dengan beberapa meja besar dan kecil yang dipadupadankan. 

Saya tertarik dengan walls art dengan beberapa tulisan yang menghias sebagian besar dinding. Orang bilang sih, instagramable banget. Yup, sekitar 3 walls art ini mengangkat kopi sebagai teman terbaik pada saat mampir ke Cafe. Kembali lagi ke lantai satu, persis sebelum anak tangga, terdapat beberapa jenis biji kopi. Biji kopinya sebagian besar dari Sumatera dan Jawa sebagai salah satu penghasil biji kopi dengan kualitas terbaik di Indonesia. 

"Coffee is always a good idea", salah satu walls art ini membuat saya ingin memesan sebuah kopi dan merasakan sensasinya, kemudian dari kopi ini timbul ide-ide terbaik. Bohong kalau saya suka kopi, namun lebih bohong lagi kalau saya tidak suka kopi. Memang saya pengemar rahasia kopi, orang lebih sering saya mengkonsumsi teh dari pada kopi. Namun, makin sering menikmati kopi, saya jadi suka. 

Selain Walls Art, terdapat pojok Eropa dengan ruang tamu lengkap dengan tungku perapian layaknya rumah-rumah khas benua biru. 

Aneka Makanan Dunia Di The Passport


Pilihan menu makanan sangat berangam, mulai dari menu Indonesia sampai belahan Dunia seperti Eropa dan Asia. Seperti saya yang mencoba Wagyu dan Panacota. Wagyu dengan eropan style ini memang sangat lezat, apalagi dengan saus dan sayuran membuat Wagyu ini sempurna. Namun, karena saya tak banyak mengetahui tentang Wagyu, saya hanya merasakan kelezatan daging yang dibakar dengan kematangan medium atau setengah matang. 

Panacota sebagai dessert ini memang menarik untuk dinikmati. Apalagi kelembeutan Panacota ini membuat lidah mearasakan sensasi manis yang sangat saya sukai. Mengenai minuman, pilihan kopi, teh, jus dan lainnya sangat beragam. 

Bagi yang berada di daerah Tangerang, sangat rekomen sekali The Passport Cafe. 

Informasi The Passport Cafe 

Alamat Lengkap :
 Jl. Ki Hajar Dewantara No. 39, Pakulonan Baru,
Kelapa Dua, Tangerang, Banten


Saatnya Memacu Adrenaline Dengan River Tubing Sungai Pusur Klaten


Dalam kamus saya, adrenaline adalah ketakutan. Artinya apapun yang memacu adrenaline adalah menakutkan dan harus dihindari. Namun, sejalan dengan waku saya belajar untuk menaklukan adrenaline dan pelan-pelan bersahabat dengannya. Dahulu, wahana-wahana di Dufan adalah momok, namun sekarang dufan adalah kesenangan yang harus dirayakan. Kini, satu per satu saya mulai bermain dengan adrenaline, walaupun menurut khalayak umum masih dianggap belum begitu memacu adrenaline.

Explore Indonesia Jogja 2016 bersama Aqua Lestari membuka mata saya dan rombongan. Kami diajak untuk liburan sekaligus memacu adrenaline dengan mendatangi tempat water sport yang berada di Klaten, Jawa Tengah. Sebut saja River Tubing, salah satu water sport yang memacu adrenaline dan tenar di social media. Klaten ternyata memiliki River Tubing salah satunya adalah dikawasan sepanjang Sungai Pusur.


Beberapa tahun lalu, sungai pusur lebih mirip TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah dari hulu sampai hilirnya. Warga berlomba-lomba membuang setiap limbah rumah tangga setiap hari selama puluhan tahun. Akibatnya, Sungai Pusur berubah menjadi tercemar dan tak elok dipandang mata. 

Aqua Lestari bersama pemuda-pemuda dari kecamatan Polan Harjo, Klaten berhasil mendobrak kebiasaan membuang sampah tersebut dengan program bank sampah dan kerajinan dari limbah sampah. Hasilnya, luar biasa, sampah yang tadinya mengunung dan menumpuk ditepian sungai, lenyap dalam sekejap. Sungai kembali bersih dan membuat pemuda-pemuda berinisiatif memanfaatkan sungai menjadi water sport yang memacu adrenaline.


Siap Memacu Adrenaline


Kami berpacu dengan waktu, karena matahari sebentar lagi akan tenggelam. Hampir pukul 4 sore ketika pick up tiba ditempat. Saya tak membawa apapun kecuali tubuh dan baju yang melekat. Beberapa orang menenteng action cam untuk mengabadikan keseruan sore itu. Sehari sebelumnya, kami telah bermain dengan adrenaline di Sungai Oyo, sekitar Yogyakarta. Dan kali ini, kami pun melakukan hal yang sama, namun medannya tentu akan berbeda. Sensasinya juga berbeda.

Sebelum berangkat ke sungai, kami mendapatkan penjelasan singkat mengenai alat dan keamanan yang digunakan saat menyusuri sungai pusur. Terdapat helm dan baju pelampung yang kami gunakan, sedangkan kami mengunakan ban besar selama menyusuri sungai.

Kami harus meneteng sendiri ban besar sampai ke sungai yang tak jauh dari tempat mendapatkan briefing tadi. Hanya saja kami harus melewati rumah-rumah warga sebelum sampai di sungai.


Dan, akhirnya sungai pusur pun terlihat dengan jelas didepan mata. Airnya nampak bening cendrung cokelat karena tanah yang berada disekitar sungainya berwarna cokelat gelap. Struktur sungai pusur ini cenderung berbatu dan arusnya lumayan deras. Bisa dibayangkan betapa tertantangnya kami menjelajah sungai pusur ini.

Ban dilemparkan ke sungai, kemudian kami harus melawati bendungan ter;ebih dahulu sebelum berpacu dengan arus. Dan yup, kemudian setelah sampai bawah ban dinaiki dan akhirnya kami siap berpacu dengan adrenaline.


Awalnya saya sempat terjatuh beberapa kali, namun akhirnya saya bisa mengendalikan ban dengan baik dan melaju. Karena bebatuan dan sungainya tak terlalu lebar, sempat membuat ban saya tersangkut kembali, namun beruntung saya lolos kembali.

Sungguh petualangan yang sangat menyenangkan sekali. Apalagi Sungai Pusur ini menjadi salah satu River Tubing yang dikelola sendiri oleh pemuda desa di Klaten, Jawa Tengah .Apabila berminat untuk memacu adrenaline, informasi selengkapnya bisa ke fanpage River Tubing Sungai Pusur.


Terima kasih Airport.id dan Aqua lestari serta sponspor lain dalam acara Explore Indonesia Jogja 2016.



Yuk Bermain Air Di JogjaBay Pirates Adventure Waterpark


Nenek moyangku seorang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa

Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda berani berangkat sekarang
Ke laut kita ramai-ramai

Sejenak lagu masa kecil tentang seorang pelaut terngiang di kepala ketika bus rombongan kami melaju menuju salah satu waterpark ternama di Yogyakarta. Saya bersama rombongan Explore Indonesia 2016, berencana mengunjungi JogjaBay. Lokasinya berada di daerah Sleman, Yogyakarta. Tepat setahun lalu, waterpark ini diresmikan di area sekitar 7,7 hektare. Tak heran apabila JogjaBay merupakan salah satu water theme park terbesar, tercanggih dan terlengkap di Indonesia.

Bagaimana dengan wahana permainannya? 19 wahana permainan sangat ready untuk menjamu tamu yang haus memacu adrenalinenya. Saya adalah salah satunya. Walau bukan penyuka hal extreme, namun tak salahnya mencoba beberapa permainan seperti how to survive in tsunami and earthquake, bekti adventure, volcano coaster dan masih banyak lainnya.


Ayo Main Air 



Suasana kapal dan bajak laut sangat kental ketika saya masuk di area depan sebelum pintu masuk. Kapal besar dengan menara mercusuar diujung sebelah kanan seakan menujukan bahwa inilah saat yang tepat untuk bermain air dan memacu adrenaline kita. Setelah memasuki pintu utama, kami disambut petugas tiket dengan beberapa loket yang buka. Harga tiket masuk saat weekdays sekitar Rp 90.000 (Dewasa) dan Rp 60.000 (Anak-anak), sedangkan Weekend harga tiket Rp 100.000 (Dewasa) dan Rp 75.000 (Anak-anak). Untuk anak-anak dibawah 2 tahun, tidak dikenakan tiket masuk atau free, sedangkan batas antara anak-anak dan dewasa ditentukan dengan tinggi 110 cm. So, bagi anak-anak yang telah melewati papan pengukur akan dikenakan biaya yang sama dengan orang dewasa.

Dan here we go, mari kita bermain air. Welcome to pirates and water world ya. Hal pertama yang dilakukan untuk bermain air adalah melihat-lihat wahana mana yang paling cocok untuk saya mainkan, dan pilihan saya jatuh pada how to survive in tsunami and earthquake dan bekti adventure. Mood untuk mencoba wahana lain memang tak muncul pada saat itu, tapi yang terpenting adalah menikmati setiap permainannya kan. Trust me, it is more enjoyable than you play alot things


Kami menuju tempat menaruh semua barang-barang. Untung saja hanya satu tas yang saya bawa. Memang sebaiknya tidak membawa banyak barang untuk masuk ke wahana permainan. Apalagi barang-barang elektronik yang mudah rusak jika terkena air seperti laptop, kamera dan smartphone tanpa case anti air. Yuk saatnya bermain air.

Tip Bermain Air Di JogjaBay


Tentu sangat menyenangkan bermain wahana di JogjaBay, namun ada baiknya mengetahui beberapa tipnya. Mau tahu?

Waktu Berkunjung 

Waktu yang pas untuk berkunjung ke JogjaBay adalah Weekdays dan bukan musim liburan. Sudah menjadi rahasia umum kalau pada musim liburan, waterpark akan sangat ramai dengan pengunjung, maka hindarilah mengajak keluarga pada saat musim seperti ini.

Bawalah Perlengkapan Seperlunya

Saat bermain air, tentunya sangat repot apabila membawa seluruh perlengkapan yang ada. Cukup membawa barang perlengkapan seperlunya, seperti action cam dan perlengkapan berenang. Dengan bawaan ringkas, maka kita akan sangat menikmati permainan air tanpa memikirkan barang bawaan kita.


Pakai Lotion atau Sunblock

Jangan sampai lupa satu barang ini karena sangatlah penting untuk menjaga kulit kita. Tak mau kan kalau kulit menjadi hitam dan terbakar gara-gara terkena sinar matahari yang menyengat, maka bawalah sunblock pada saat sebelum bermain air.

Isi Perut Terlebih Dahulu

Bermain air sangat rawan terhadap masuk angin dan demam, maka sangat disarankan untuk mengisi perut terlebih dahulu. JogjaBay menyedikan beragam makanan seperti bakso, siomay, nasi goreng dan macam-macam lainnya. Kalau lapar atau perut kosong, bisa mengisinya di area makanan dan minuman.


Pilih Wahana Yang Pas 

Nah, ini yang paling penting. Pilihlah wahana yang pas buat kamu. Kalau punya masalah dengan jantung atau memiliki jantung lemah hindari wahana yang memacu adrenaline dan pilihlah wahana yang aman bagimu. Kalau misalnya tidak punya riwayat penyakit, kamu bebas memilih wahana apapun, tapi lagi-lagi perhatikan safetynya sebelum bermain di wahana tersebut.

Wahana dan Fasilitas JogjaBay



Drama Musikal

JogjaBay memiliki pertunjukan Drama Musikal yang tentunya sangat menarik untuk ditonton. Drama Musikal menyuguhkan Icon Karakter diantaranya Lawana, putri cantik, Jose, pemuda tampan, Mimi, kucing sang putri Lawana dan masih banyak karakter lainnya. Pertunjukan ini dapat dilihat setiap hari sabtu dan minggu pukul 15.00-16.00 WIB.

Wahana

JogjaBay memiliki 19 wahana yang menunjang pengunjung bermain seharian dari jam buka sampai jam tutup. Wahana tersebut antara lain Memo Racer, Bekti Adventure, Volcano Coaster, Timo-timo rider, Jolie Raft River, Brando Boomerang, Ziggy Giant Barrel, Mimi Family, Hip Playground, South Beach, dan masih banyak lainnya.


Fasilitas 

Nah, setelah lelah bermain beberapa wahana air, saatnya menikmati fasilitas lainnya yang ada di JogjaBay. Kawasan ini memiliki Restoran seperti Pirate Palace, Gili-gili BBQ, Dapur Lawana, Pool Bar, Mimi Gemi, Timo Memo dan lainnya. Sedangkan yang mau belanja oleh-oleh, JogjaBay Store memiliki banyak koleksi pernak-pernik dan oleh-oleh.

Fasilitas lainnya adalah Spa, Gazebo, Penyewaan loker, penyewaan handuk, layanan foto, Musholla, area parkir, kamar mandi dan lain-lain.


Sore hari waktunya kami pulang meninggalkan wahana dan berganti pakaian kering. Kami melewati beberapa toko souvenir sebelum akhirnya keluar dari wahana. Sangat menyenangkan bermain air bersama rombongan Explore Indonesia 2016 di Jogja yang diselengarakan oleh airport.id. Terima kasih kepada JogjaBay yang sudah menerima kami dengan tangan terbuka.


Informasi JogjaBay

Alamat 
Jalan Maguwoharjo, Depok
Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta

Jam buka 
Senin - Jumat : 09.00 - 18.00 WIB
Sabtu - Minggu : 08.00 - 18.00 WIB

Harga Tiket 
Weekdays
Dewasa : Rp 90.000
Anak-anak (Lansia diatas 65 tahun) : Rp 60.000
Weekend 
Dewasa : Rp 100.000
Anak-anak (Lansia diatas 65 tahun) : Rp 75.000
Tinggi badan diatas 110 cm dikategorikan sebagai dewasa.

Website 
www.jogjabay.com

Maps