Natal di Ende



Rabu kali ini tidak ada tips hidup sehat haha. Mari kita nikmati saja suasana yang baik ini.

Sebelumnya saya mohon maaf apabila tidak akan mengijikan seorang pun berkomentar tentang perdebatan boleh atau tidak mengucapkan Selamat Hari Raya Natal kepada saudara/saudari yang merayakannya. Karena, di Kabupaten Ende kami tidak memikirkan hal-hal semacam itu. Yang kami tahu, semuanya bersaudara, dan sesama saudara sudah selayaknya saling menghargai perbedaan dan bertoleransi antar umat beragama yang telah hidup sejak kami lahir. Deal ya hehe.

Baca Juga: 5 Manfaat Bernyanyi

25 Desember 2018, Hari Raya Natal. Seperti yang sudah kalian ketahui, apabila sudah sering main blog ini, bahwa keluarga besar Mamatua merayakan Natal. Sejak pagi saya dan Thika Pharmantara sudah beberes rumah karena Mamasia tidak masuk kerja soalnya beliau kan juga merayakan Natal. Setelah beberes kami masih bersantai main game, haha, sampai akhirnya sadar bahwa begitu banyak rumah yang harus dikunjungi. Mengajak Mely, keponakannya Mamasia, dia mau. Ya sudah, yuk bersiap.

Baru hendak bersiap, Tante Lila Lamury sudah datang membawa sepiring kudapan khas Hari Raya Natal. Horeee. Terimakasih Tante yang baik hati. Padahal baru kemarin saya mengantar sestoples stik keju dan kue tart untuk si Tante yang terjadwal selalu mengantar puding untuk kami saat Hari Raya Idul Fitri.


Kue sagu dan kukis itu favorit lah haha. 

Perjalanan bersilaturahmi kali ini berpacu dengan cuaca. Soalnya langit mendung dan dinosaurus sedang kurang enak bodi, jadi kita harus tahu diri untuk tidak duduk berjam-jam di rumah keluarga, pun di rumah Oma Gita, adiknya Mamatua. Meskipun berpacu dengan waktu, seperti biasa by default, kita selalu makan siang di rumah Kakak Selvy Bata, anaknya (alm.) Bapa Frans Bata, adiknya Mamatua. Sudah menolak, tapi dipelototin hahah.

Kakak Selvy Bata. Kaka sepupu yang baik hati, yang bekerja di Dinas Pariwisata Ende.

Setelah perjalanan siang yang super panjang, malamnya pun kami masih sempat mengunjungi beberapa rumah. Melintasi Jalan Melati, ini dia pemandangan yang tersaji:


Kurang bagus ya hasil fotonya. Tak apalah. Nah, pemandangan seperti ini dapat dilihat di beberapa jalan seperti salah satunya di Jalan Garuda. Rata-rata masyarakat berlomba-lomba memasang ornamen Natal seperti Pohon Natal dan lampu-lampu sepanjang jalan. Seni sekali kalau kata Orang Ende hehehe.

Baca Juga: 5 Manfaat Berpikiran Positif

Berangkat menuju rumah Effie Rere sahabat saya, saya lebih dulu mengirim pesan WA untuk meminta secangkir kopi hitam dengan sedikit gula. Rasanya begitu enak. Dan saya yakin itu kopi yang disangrai dan digiling sendiri (olahan rumah) karena menemukan satu biji kopi ini:


Satu rumah terakhir yang kami kunjungi adalah rumah Kakak Yuni Turu, salah seorang anak perepuannya Oma Gita. Eh, di sana ketemu Abang Nanu Pharmantara dan Mbak Wati.


Yang rencananya hanya sebentar, jadi berlama-lama mengobrol ngalor-ngidul. Maklum, meskipun Kota Ende ini kecil, tapi kami bersaudara tidak mungkin kan mengobrol setiap hari karena semuanya punya kesibukan masing-masing.

Selesai sudah haha. Mari pulang.

Demikian cerita Natal kemarin. Cerita seru yang belum tentu dapat tersaji seru juga di tulisan ini. Biar kami yang merasakannya saja *senyum manis*. Bagaimana dengan kalian? Cerita yuk di papan komentar.



Cheers.