Fajar Kristiono: Kalau Enggak Bisa Bokeh, Gue Main di Detail

Fajar Kristiono: Kalau Enggak Bisa Bokeh, Gue Main di Detail

Sabtu pagi 7 Desember 2019, saya berkesempatan menghadiri acara Marathon Workshop Fotografi yang digelar oleh Komunitas FOSE (Fotografi Secret) di Aeon Mall Cakung.  Dalam kesempatan ini saya menikmati banyak foto-foto anggota FOSE yang dipamerkan. Sayangnya saya hanya berkesempatan mengikuti workshop dari 1 pemateri dari 11 pemateri yang akan dihadirkan, yaitu materi "Lightning is easy" dari Kang Fajar Kristiono.
Pameran foto member FOSEdi Aeon Mall Cakung Desember 2019
Pameran foto member FOSE
Pada postingan sebelumnya: Marathon Workshop Fotografi Gratis Dari 11 Fotografer Kondang, saya sudah menyebutkan nama-nama ke-11 fotografer  yang menjadi pemateri dalam workshop fotografi tersebut. Beliau-beliau itu adalah Arbain Rambey, Hendra Lesmana, Ferry Ardianto, Rezki Sterneanto, Ully Zoelkarnain, Fajar Kristiono, WS Pramono, Dody S. Mawardi, Lateevhaq, Ridha Kusumabrata dan Darwis Triadi. 

Bagi yang belum kenal, Kang Fajar Kristiono ini adalah seorang fotografer profesional yang dikenal kerap mengabadikan karya fotografi portrait yang dramatis dan mengesankan. Prestasinya dalam bidang fotografi membuat salah satu merek kamera global memasukkannya dalam list "Sony Alpha Professional Photographer" bersama fotografer beken lain dari seluruh dunia. 

Pada hari kedua workshop yang akan digelar selama 3 hari ini, Kang Fajar bukan hanya memberikan workshop mengenai pencahayaan dalam fotografi, tapi juga berbagi cerita pengalaman untuk memotivasi fotografer pemula di antara para hadirin dan juga banyak berbagi tips memotret berdasarkan pengalamannya.

Kang Fajar Kristiono bercerita mengenai awal-awal ia belajar mengenal fotografi, bergabung dengan komunitas hingga akhirnya menjadi fulltime fotografer seperti sekarang ini. Awalnya ia terus mencoba memaksimalkan gear (peralatan memotret) yang dimilikinya, kemudian seiring perjalanan karir fotografinya yang makin berkembang, barulah ia meng-upgrade peralatan yang digunakan.

"Jangan terlalu terstigma dengan gear. Gue juga memulai dengan kamera dan lensa kit standar bawaan pabrik," ungkapnya memotivasi para hadirin. "kalau kamera gue enggak bisa bokeh, maka gue akan bermain detail".

Dimulailah eksplorasinya, bergabung dengan komunitas foto, mempelajari teknik-teknik fotografi secara otodidak hingga akhirnya memiliki style dan karakter yang ia rangkum dalam pelatihan-pelatihan fotografi dengan tema "Sense Of Color".

"Cari karakter foto yang berbeda lalu konsisten," ungkapnya ketika menjelaskan mengenai bagaimana ia membangun stylenya. "Harus berani egois sedikit dan berani mengajak model untuk berpose di lokasi yang berbeda, dan jangan ragu untuk mencetak hasilnya, agar kita tahu dan paham perbedaan tampilan di layar dan hasil cetaknya". Mengenai hasil cetakan itu menurutnya, juga bisa menjadi portofolio fisik yang bisa melengkapi portofolio online baik di media sosial atau di halaman-halaman internet.

Yang menarik dalam workshop ini Kang Fajar langsung mempraktekkan teori-teori yang telah ia sampaikan dan menjelaskan workflow yang sering ia terapkan. Baik memilih angle, mengukur kekuatan cahaya, setting-an kamera hingga di mana letak flash yang baik.
Praktek memotret dengan bantuan artificial lightning (flash)
Workflow atau langkah-langkah yang Kang Fajar lakukan dalam sesi pemotretan kalau tidak salah dengar, pertama-tama ia akan memotret landscape lokasi pemotretan tanpa model. 

"Kamera di-setting dengan ISO rendah agar foto tajam, dan angka aperture atau F yang besar agar foto lebih detail. Jika ISO dan F sudah dapat maka selebihnya untuk mendapatkan ambience yang sesuai cukup mainkan di shutter speed, jangan ubah setting-an ISO dan F."

Mendengar penjelasan lisan seperti itu, saya sebenarnya kurang paham apa yang dimaksud. Saya hanya mencatat dan menuangkannya kembali menjadi tulisan sambil meraba-raba apa sebenarnya yang dimaksud oleh Kang Fajar dengan penjelasan yang sangat teknis itu :)

"Kalau ada yang kurang jelas, materi-materi ini semua sudah ada di channel youtube gue," katanya. 

Ah, rupanya Kang Fajar sudah punya kunci cadangan untuk orang-orang awam yang baru belajar mengenal fotografi seperti saya.

Silakan berkunjung ke Youtube Kang Fajar, di sana ada 62 video yang bisa kita tonton untuk belajar lebih jauh mengenai materi-materi fotografi. Klik di SINI untuk berkunjung ke channel youtube beliau.

Setelah sesi materi selesai, Kang Fajar masih melayani pertanyaan-pertanyaan dari beberapa peserta yang memburunya hingga ke luar area acara. Dengan ramah beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dan kembali memberikan tips-tipsnya. 

Yang sempat saya tangkap Kang Fajar bilang, "Hobi jangan terlalu pakai nafsu, musti dihitung benefitnya."  Nah, ini kena banget, saya yang baru kenal fotografi dan belajar motret rasanya mau beli ini itu, untung saja uang pas-pasan jadi gak kebeli deh gear yang mahal-mahal itu :D 
Kang Fajar Kristiono menjawab pertanyaan hadirin seusai materi
Kang Fajar Kristiono menjawab pertanyaan hadirin seusai materi
Terima kasih Kang Fajar atas pengetahuan dan tips-tipsnya. Terima kasih juga kepada Komunitas FOSE, APFI Bekasi sebagai pelaksana event dan juga para sponsor yang telah menjadikan workshop gratis ini terlaksana.

Salam


Marathon Workshop Fotografi Gratis Dari 11 Fotografer Kondang

Marathon Workshop Fotografi Gratis Dari 12 Fotografer Kondang

Siap-siap, Ada Marathon Workshop Fotografi Gratis Dari 12 Fotografer Kondang

Komunitas FOSE (Fotografi Secret) kembali menggelar event fotografi terbesar di penghujung tahun 2019 ini. Tidak tanggung-tanggung, Marathon Workshop Fotografi Gratis Dari 12 Fotografer Kondang, Talkshow 12 tokoh Fotografer nasional, Pameran Foto, Lelang & Charity, Karnaval Budaya, Lomba Foto Model Pro, Lomba Foto Instagram dan sebagainya ini akan dihelat selama 3 hari, 6-8 Desember 2019 di Main Atrium AEON Mall Cakung, Jakarta Timur.

Komunitas FOSE (Fotografi Secret)

Sebelum lanjut, yuk kita kenalan dulu dengan FOSE. Komunitas FOSE (Fotografi Secret) adalah sebuah komunitas fotografi online di Telegram Group dengan nama akun @fotografisecrets dan memiliki galeri karya di Instagram @fotografisecret. Fose dibentuk pada tanggal 2 Juli 2017 oleh beberapa pemuda pecinta fotografi antara lain Bang Yan, Mbak Tarini dan kawan-kawan, saat ini anggota grup Telegram FOSE mencapai 1600 member aktif dari seluruh Indonesia.

Mengenai pameran foto hasil karya anggotanya, event ini adalah event ke-2 setelah pada tahun sebelumnya FOSE melaksanakan pameran foto dan workshop terkait fotografi dengan narasumber Roy Genggam pada 21-23 September 2018 di Mangga Dua Square, Jakarta Utara.

Foshare Day Marathon Workshop Fotografi

Foshare Day Marathon Workshop Fotografi ini akan menghadirkan 12 tokoh Fotografer nasional yang akan mengisi workshop dan talkshow, nah siapakah mereka?. Berikut 12 pemateri Marathon Workshop Fotografi, yaitu Arbain Rambey, Hendra Lesmana, Ferry Ardianto, Rezki Sterneanto, Ully Zoelkarnain, Fajar Kristiono, WS Pramono, Dody S. Mawardi, Lateevhaq, Ridha Kusumabrata dan Darwis Triadi. 

Pastinya masing-masing pemateri akan berinteraksi dengan pengunjung membahas berbagai isu tentang fotografi sesuai dengan keilmuan serta pengalaman narasumber yang tidak diragukan lagi kapasitasnya ini.

Lomba Foto Konsep Top Model Indonesia

Lomba Foto Konsep

3 Konsep berbeda;
Lomba foto ini akan mengambil 3 tema berbeda, yaitu;
1. Star Wars
2. Jumanji
3. Charlie's Angels

Acara juga akan dimeriahkan dengan lomba foto yang akan diadakan selama 2 hari pada tanggal 6 - 7 Desember bersama 9 Top Models Indonesia.

Jumat, 6 Desember 2019
1. Baby Margaretha @babymargaretha1
2. Karlin @karlin.h
3. Regita Kremer @regitakremer
4. Sandra Yunita @sandrayunita_
5. ⁨Novilia Annisa @noviliaannisaa

Sabtu, 7 Desember 2019
1. Jessica Wongso @jessysilanawong
2. Indri Mohana @yujinmohana
3. Adelia Zizi @adeliazizi9
4. Mira Persia @mirapersia
5. Sandra Yunita @sandrayunita_

Lomba Foto ini akan memperebutkan Hadiah dengan total nilai 12 juta rupiah;

Juara I
1 paket Visico VL 400, Terdiri dari :
2 pc Visico VL 400.
2 pc softbox 50x70cm.
2 pc light stand LS 8005.
1 pc trigger 816.
1 pc travel bag.

Juara II = 1 pc Visico speedlight VS 765 for Canon.

Juara III = 1 pc Digitec flashbot DBF-001 asesoris flash diffuser.

More BONUS by Focus Nusantara:
> Thinktank my 2nd brain Tablet.
> Thinktank my 2nd brain Laptop 15".

Registration 275K / day
Via Cheers App 250K / day
On the spot 300K / day
Kuota terbatas untuk 100 peserta.

Info lebih lanjut mengenai lomba foto, teman-teman dapat menghubungi: Hye Sin 0857 7539 3211 atau Tita 0878 8003 2090.

karnaval parade budaya kostum nusantara foto model MUA

Hal menarik lainnya adalah sesi Parade dan Karnaval Budaya yang dipersembahkan oleh Rumah Photo MUA Model (RPM) yang akan menampilkan sekitar 20 model dengan memakai kostum berwarna-warni ala Karnaval Jember. Semua model akan bergaya dan melintas di catwalk serta berinteraksi dengan pengunjung selama acara. Sesi pemotretan para model berbusana karnaval akan dilaksanakan pada akhir acara. 

Tentunya ini akan menjadi kesempatan hunting foto yang sangat menarik bagi para penggemar fotografi.

Jangan sampai terlewat yah :)


Cara Menghasilkan Potret Terbaik Saat Gerhana Bulan Dengan Menggunakan Smartphone

Cara Menghasilkan Potret Terbaik Saat Gerhana Bulan Dengan Menggunakan Smartphone
Memotret bulan dengan smartphone | credit: infoastronomy.org
Gerhana bulan merupakan fenomena langka yang tidak setiap hari terjadi. Jenis dari gerhana bulan pun sangat berbeda-beda tergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Keindahan dari gerhana bulan dapat dinikmati di tempat-tempat tertentu. Bahkan beberapa wisatawan rela berkunjung jauh agar dapat menikmati gerhana bulan tersebut. 

Jarak antara bumi dan bulan yang tidaklah dekat, membuat siapapun yang ingin mengabadikan momen tersebut memerlukan peralatan canggih. Bagi yang mempunyai kamera DSLR atau bantuan teleskop memotret bulan bukanlah hal yang dipermasalahkan. Mereka dapat mengambil gambar bulan lengkap dengan kawah yang ada di dalamnya. Namun, siapa sangka hanya dengan smartphone ternyata juga dapat menangkap kenangan dari fenomena gerhana bulan ini.

Berikut cara Memotret Gerhana Bulan Untuk Hasil Terbaik

Pilih Lokasi Tinggi dan Gelap

Memotret gerhana bulan dengan cara yang biasa-biasa tentunya akan menjadikan gambar menjadi tidak menarik. Bahkan terlihat gambar biasa, bukan seperti gerhana bulan.

Agar smartphone berfungsi secara optimal, maka diperlukan beberapa sentuhan. Carilah tempat terbaik untuk menyaksikannya. Pemandangan sekitar sangat mendukung hasil potretan agar tidak terlihat biasa. 

Tips lain adalah mencari lokasi yang tinggi jika memungkinkan. Lokasi yang tinggi mendukung untuk mendapatkan spot terbaik karena tidak terhalang oleh sesuatu. Selain itu juga aman dari asap polusi sehingga cahaya bulan terlihat secara maksimal.

Sedangkan mencari tempat yang gelap juga berfungsi agar fokus kamera hanya pada satu cahaya saja yaitu cahaya bulan. 

Atur Kamera Smartphone

Cara memotret gerhana bulan dengan smartphone memang dapat menghasilkan gambar terbaik jika fotografer tahu cara mengatur kamera. Kamera smartphone jaman sekarang yang sudah dilengkapi dengan mode manual (pro) sehingga dapat mengatur besaran ISO, EV, lama bukaan, AWB dan lain sebagainya. 

Gunakanlah mode manula dengan settingan utama ISO sekecil mungkin supaya gambar pada malam hari tidak banyak noise. perkecil juga EV dan kompensasikan dengan bukaan lensa yang lebih lama.

Pengaturan ini berfungsi untuk mengambil kontur alam sekitar yang cukup baik dan cahaya bulan yang tidak over bright. Cobalah mengambil foto dengan shutter speed yang bervariasi agar lama bukaan yang didapatkan juga pas. Jangan lupa untuk mematikan lampu flash terlebih dahulu. 

Atur komposisi dengan baik. untuk memudahkannya gunakanlah garis grid. Komposisi yang baik akan membuat hasil jepretan gerhana bulan layak dipamerkan di media sosial.

Beberapa kamera smartphone juga sudah disupport dengan mode RAW atau gambarnya tidak terkompres secara otomatis. Tentunya hasil foto yang dihasilkan akan lebih maksimal. 

Jangan Gunakan Zoom

Jika kamera smartphone tidak memiliki pembesaran optikal, maka jangan menggunakan mode zoom. Penggunaan mode tersebut akan terlihat sangat kasar. Sama hasilnya jika foto sudah jadi lalu di-crop.

Gunakanlah standar sesuai kemampuan pada kamera smartphone. Jangan lupa juga untuk tidak menggunakan filter apapun. Penggunaan filter akan membuat tidak terlihat detail.

Jika ingin mengeditnya, silahkan mengedit belakangan untuk perubahan warna dan lain-lain.


Cara Menghasilkan Potret Terbaik Saat Gerhana Bulan Dengan Menggunakan Smartphone
Tripod dan tambahan lensa khusus smartphone 

Pakai Tripod

Selain cara memotret gerhana bulan dengan settingan smartphone, tripod juga dapat menjadi pendukung lain. Memotret pada malam hari akan sering mendapatkan hasil yang pecah. Apalagi jika menggunakan shutter speed yang lebih lama. 

Memakai tripod menjadi solusi agar kamera tetap diam karena tertempel pada benda diam. Gunakanlah mode timer agar kamera benar-benar dalam keadaan diam tanpa guncangan saat menekan tombol.


Cara Menghasilkan Potret Terbaik Saat Gerhana Bulan Dengan Menggunakan Smartphone
Jenis lain smartphone holder / stabilizer

Perhatikan Waktu

Selain menguasai berbagai cara memotret gerhana bulan, perlu diperhatikan juga waktu pengambilan foto tersebut. Jadwal atau prediksi dari waktu gerhana yang sudah banyak dikeluarkan oleh BMKG dapat menjadi acuan. Pastikan mengambil foto pada puncak gerhana.

Demikian beberapa cara agar hasil jepretan gerhana bulan dengan menggunakan smartphone terlihat secara maksimal. Selamat mencoba!


Penulis, Fajrin


Memaksimalkan Aplikasi Editor Foto di Android

Memaksimalkan Aplikasi Editor Foto di Android
Kamera Xiaomi MiA1 + Lightroom & PicsArt
Kalau kamu senang memotret, berswafoto (selfie) dan swafoto bersama (wefie) di tempat-tempat unik dan mengunggah di akun sosial media, aplikasi seperti PicsArt, Snapseed, Photo Lab, Lightroom Mobile, Pixlr bisa jadi pilihan menarik. Kita dapat memperbaiki, mengubah, menambahkan efek-efek hingga menjadikannya gambar bergerak tanpa memerlukan komputer sama sekali karena semua bisa dilakukan di HP Android.

PicsArt Photo Studio, Snapseed, Photo Lab, Adobe Photoshop Lightroom Mobile, Pixlr dan aplikasi editing gambar sejenisnya ini semua tersedia di Google Play Android Market. Jangan khawatir, tutorial penggunaannya juga bertebaran di grup-grup facebook pengguna aplikasi ini dan di Youtube.

Umumnya, sebagian besar smartphone keluaran terbaru sudah dilengkapi dengan lensa kamera berspesifikasi tinggi dan fitur tambahan lainnya termasuk aplikasi atau menu untuk editing foto. Begitu pun aplikasi media sosial, semua sudah menyertakan menu editor sederhana dan filter foto untuk menambah efek foto sebelum dibagikan. Tapi, jika kita tidak puas dengan editor bawaan ponsel dan sosial media, maka kita dapat menggunakan beberapa aplikasi ini.

PicsArt Photo Studio, Snapseed, Photo Lab, Adobe Photoshop Lightroom Mobile, Pixlr memiliki tampilan menu yang sederhana dan user-friendly di mana kita dapat dengan cepat menguasainya dan segera dapat menggunakannya untuk menyesuaikan warna dan tampilan foto kita dengan fitur-fitur yang disediakan.

Beberapa aplikasi ini juga memiliki fitur kamera dalam aplikasi di mana kita dapat menerapkan efek foto secara langsung saat kita mengambil foto Anda. Selanjutnya Kita dapat mengedit gambar dan membagikannya dengan cepat di Facebook, Instagram, Twitter, dan lainnya.

Aplikasi editor juga menawarkan bingkai, efek, filter dan kolase yang beragam. Selain fitur edit foto yang mudah, bisa juga untuk montase (tukar wajah) dan menyatukan beberapa efek bersamaan supaya hasilnya keren dan unik. Mengolah foto di HP akan lebih cepat, praktis dan efisien dengan hasil yang tidak kalah keren dengan editor di komputer.
Memaksimalkan Aplikasi Editor Foto di Android
Kamera Samsung A7 + PicsArt
Banyak manfaat yang kita dapat dari hadirnya banyak aplikasi ini, semua aplikasi memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Beberapa manfaat editor foto di Android yang saya rasakan antara lain:

Mengapresiasi Karya Foto

Dengan memahami konsep editing foto, maka kita akan lebih bisa mengapresiasi foto-foto karya orang lain. Menikmati keindahan foto-foto karya fotografer dan menggugah kita untuk terus belajar banyak hal terkait fotografi. 

Menghargai karya orang lain adalah salah satu cara agar kita dapat mengenali kekurangan-kekurangan yang ada lalu berusaha belajar dan latihan untuk menghasilkan foto yang lebih baik. Tidak ada jalan pintas, belajar dan latihan akan menyibukkan kita memperbaiki diri tanpa perlu mencemooh kekurangan orang lain.

Pengisi Waktu Luang

Tidak ada lagi waktu luang yang terbuang percuma, seperti saat sedang menunggu antrian, sedang menggunakan KRL menuju stasiun yang dituju, kita bisa mengisi waktu luang dengan belajar mengedit foto.

Banyaknya bahan belajar dan tutorial di internet memudahkan kita untuk terus menambah pengetahuan lalu mempraktekkannya untuk menghasilkan karya sendiri yang lebih baik lagi.

Mengasah Kreativitas 

Kreativitas membebaskan kita dari keterbatasan-keterbatasan. Aplikasi-aplikasi yang tersedia membebaskan kita untuk mengolah sebuah foto sesuai dengan keinginan. Walaupun tidak semahir para profesional setidaknya kita dapat menghasilkan karya-karya sendiri yang unik. Fotografi adalah seni yang bukan saja memerlukan penguasaan teknik namun diperlukan kreativitas untuk membuat karya foto yang memuaskan.


***
Edit foto dengan PicsArt Android
Ada banyak aplikasi edit foto yang tersedia, sebaiknya kita belajar untuk menguasai salah satu aplikasi tersebut barulah kemudian mencoba aplikasi yang lain agar dapat mengetahui masing-masing kelebihan dan kekurangannya. Di antara 5 aplikasi yang sering saya gunakan, yaitu PicsArt Photo Studio, Snapseed, Photo Lab, Adobe Photoshop Lightroom Mobile, Pixlr, masih ada lagi banyak aplikasi serupa. Antara lain Adobe Photoshop Express, Aviary photo editor, PhotoDirector, AirBrush, Toolwiz Photos-Pro Editor, YouCam Perfect, dan lain-lain.

Kekurangan yang terasa mengganjal adalah ada beberapa aplikasi yang membutuhkan koneksi internet saat digunakan untuk mengedit foto. Ini menyulitkan saya karena ada saat di mana sambungan internet tidak tersedia karena buruknya sinyal dan alasan lain. Sementara aplikasi offline hanya menyediakan menu standar tanpa alat-alat editing yang lebih lanjut.
Jika kita sudah mengetahui kelebihan dan kekurangan dari aplikasi-aplikasi editing foto di Android tersebut, kita dapat mengatur aplikasi mana yang akan kita gunakan terlebih dahulu dan mana aplikasi untuk sentuhan akhir sebuah foto.

Saya selalu menggunakan Snapseed untuk perbaikan awal. Selain tidak perlu koneksi internet, Snapseed memiliki fitur koreksi foto yang cukup lengkap mulai dari memotong foto, meluruskan, menghapus elemen yang mengganggu hingga efek-efek filter. Setelah menggunakan Snapseed barulah saya akan menggunakan Lightroom jika ingin ada perbaikan warna atau pencahayaan foto, sedangkan untuk menyelesaikannya biasanya saya menggunakan PicsArt untuk menambahkan teks, menambahkan bingkai atau efek-efek filter yang saya inginkan.

Saran saya, untuk awal, belajarlah menggunakan aplikasi Snapseed milik Google yang tanpa iklan dan bisa digunakan offline tanpa butuh internet. Setelah itu barulah mencoba editor lain yang tutorialnya banyak dibagikan orang di Youtube.

Selamat belajar :)


#PDL Iseng Memotret Akim Tapi Hasilnya Bikin Senyum


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Pos #PDL merupakan cerita ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini.

⇜⇝

Akim adalah sahabat baik masa kuliah yang kemudian menjadi adek karena tidak mungkin dia menjadi kakak. Banyakan umur saya dari dia! Hehe.

Suatu sore yang iseng, karena iseng adalah nama tengah kami, sambil menunggu dosen yang belum datang juga, kami bermain-main di balkon lantai tiga Gedung Rektorat. Iya, pemandangan dari balkon ini luar biasa lah. Bisa melihat lanskap Kota Ende, bahkan kalau beruntung bisa melihat pesawat touch down dan take off. Sore itu, ketimbang saya melihat Akim memotret sana sini, saya suruh saja dia jadi model. Hasilnya ... bisa kalian lihat pada gambar di awal pos. Saya senyum ... senang. Bagus sih menurut saya meskipun tidak pakai kamera DSLR.

Tjakep kan?



Cheers.

Smartphone vs DSLR


Pada pos #SelasaTekno yang lalu yaitu LED for Camera, Kakak Vika dari Ratutips berkomentar bahwa dirinya pun lebih suka bikin video pakai smartphone atau handphone atau telepon genggam ketimbang pakai kamera. Kamera di sini maksudnya bisa kamera khusus video bisa pula DSLR. Alasannya pun sama: ribet kalau harus membawa kamera dengan tas khususnya itu. Kadang-kadang, apabila diperlukan, saya terpaksa mengeluarkan DSLR dari tasnya dan menyimpan di backpack meskipun dudukannya di dalam backpack tidak compact.

Baca Juga: Cetak Saring

Jadi hari ini saya menulis tentang perbandingan penggunaan hingga hasil antara smartphone dengan DSLR. Menulis DSLR karena memang saya memakai kamera single lens reflex yang digital. Dengar-dengar zaman sekarang banyak fotografer yang kembali pada SLR dengan mencetak hasil jepretannya sendiri di kamar gelap (manual). Kalau saya pribadi sih, karena memang bukan fotografer, dan gairahnya tidak seratus persen di dunia fotografi, yang praktis saja lah yang dipakai. Hehe *toss sama dinosarus*.

Praktis


Ya jelas, bagi saya si awam yang bukan fotografer, telepon genggam selalu lebih praktis ketimbang menenteng DSLR. Kenapa lebih memilih telepon genggam? Karena saya hanya perlu satu Xiaomi Redmi 5 Plus untuk memotret, merekam kegiatan melalui catatan suara, menulis flashnews-nya, hingga memberitakannya di ragam media sosial. Dan semua dapat saya lakukan di lokasi kegiatan tanpa harus kembali ke ruang kerja. Praktis, saya masih bisa meliput kegiatan lainnya, apabila dalam sehari ada lebih dari satu kegiatan kampus yang harus diliput.

Menggunakan DSLR jelas menguntungkan dari sisi kualitas foto yang dihasilkan. Tapi pekerjaan menjadi sangat tidak praktis dan cenderung lama karena menunda. Setelah memotret kegiatan (karena DSLR saya tidak punya Wi-Fi) saya harus kembali ke ruangan untuk memindahkan foto-foto dari kamera ke komputer, menulis flashnews, dan mempublikasikannya. Permasalahannya, kalau dalam sehari ada lebih dari satu kegiatan dan waktu kegiatan itu kadang-kadang melebihi batas waktu kerja, saya terpaksa menunda pekerjaan. Rajinnya sih saya menuntaskan pekerjaan di rumah.

Kecepatan Pemberitaan


Sebagai wartawan kampus yang tugasnya mempublikasikan hampir semua kegiatan kampus, baik kegiatan Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif), kegiatan Rektorat Uniflor, hingga kegiatan mahasiswa, saya membutuhkan akses super cepat ke berbagai media sosial. Oleh karena itu, demi kecepatan pemberitaan saya harus menggunakan telepon genggam. Kembali pada poin Praktis di atas. Kecepatan pemberitaan ini pun tidak saja berlaku di media sosial, tetapi juga di situs Uniflor, dan WAG-WAG kampus.

Kualitas


Kalau dilihat dari besarnya ukuran foto antara telepon genggam dan DSLR, menurut saya tidak berbeda jauh. Kalian bisa lihat perbedaannya pada dua foto berikut ini:

 Menggunakan Canon EOS 600D. Ukuran 10,9MB.

Menggunakan Xiaomi Redmi 5 Plus. Ukuran 5,64MB.

Waktu mengunggah keduanya foto asli tidak di-resize, tapi demi pos blog ini sama-sama berukuran large setelah diunggah. Perbedaan akan timbul jika di-zoom. Tingkat zoom yang sama, hasil foto menggunakan Canon EOS 600D masih jauh lebih baik ketimbang hasil foto menggunakan Xiomi Redmi 5 Plus yang mulai blur. Oleh karena itu, demi keperluan kalender kampus, misalnya, saya harus mau menenteng DSLR (meskipun tidak setiap hari) pada acara-acara dan/atau perayaan besar kampus.

Kesimpulan


Mau pakai telepon genggam atau DSLR, kembali pada diri kita masing-masing, nyamannya mau pakai yang mana dan untuk kebutuhan apa. Saya pribadi, orang awam di dunia fotografi, tentu lebih nyaman memakai telepon genggam untuk berbagai keperluan seperti pekerjaan kantor yang membutuhkan kecepatan pemberitaan pun untuk pos blog. Seperti kata Om Bisot dalam WAG Kelas Blogging NTT dan Kelas Blogging Online, foto untuk keperluan pos blog tidak perlu harus foto resolusi tinggi, foto harus di-resize serta diberi nama.

Baca Juga: Teknik Airbrush

Lagi pula, untuk momen yang terjadi super cepat, kejadian apapun yang kita temui dalam perjalanan misalnya, kita bisa langsung memotretnya menggunakan telepon genggam.


Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.

Studio JP Photography


Sebelumnya, baca dulu yang ini: Akhirnya Penyuka Kuning Menjadi Sarjana yang ditulis oleh Om Ihsan Dato. Hehe. Terimakasih Om Ihsan, Sabtu kemarin sudah langsung menulis blog dengan tema seorang perempuan yang dijuluki crazy capricorn. Huhuy!!!!! I'm so thankful.


***

Dunia fotografi di Kota Ende menggeliat sejak zaman dinosaurus berkoloni dan mengembara di bumi bertahun-tahun lampau. Skill para fotografer pun tidak perlu diragukan lagi dengan jam terbang tinggi dan pengalaman seabrek. Mereka hebat, mereka jago, mereka juara. Bahkan mereka membentuk komunitas fotografer. Komunitas yang menyatukan para fotografer dalam diskusi-diskusi, usul-saran yang membangun, saling berbagi cerita dan pengalaman. Kalau sekarang saya kurang tahu apakah komunitas tersebut masih ada atau sudah bubar. Beda dari dunia fotografi, dunia videografi belum seberapa karena videografer di Kota Ende belum sebanyak fotografer.

Saya pernah ditanya oleh orang-orang, "Menurut Kakak, siapa fotografer paling oke? Soalnya kami lagi cari jasa fotografer nih!" Maka saya menjawab nama-nama para fotografer yang saya kenal baik: Martozzo Hann, David Mozzar, Nick Amaraya, Jerry Pawe, Om Edi Du'e, Willy Zino, Alan RMC, Willy Keron, drg. Adel Riwu, Om Bolo, Noni Canon Santoso, dan lain-lain nama yang tidak bisa saya sebutkan satuper satu. Dulu saya juga menyebut nama Ady Mbuik, tapi dia kini lebih fokus ke jasa event organizer dan soundsystem.


Kenapa saya menjawab begitu? Karena, menurut saya yang awam dengan dunia fotografi, mereka semua bagus. Lagi pula rejeki bukan saya yang menentukan. Saya hanya bisa menyebut nama, soal pilihan tergantung pada yang mau menggunakan jasa fotografer. Bukan begitu? Begitu bukan? Qiqiqiq.


Meskipun fotografer di Kota Ende ini banyak tapi tidak bisa memilih semuanya sekaligus. Kecuali salah satu dari kami anak angkatnya Bill Gates atau masih saudara jauhnya Mark Zuckerberg. Maka Kamis kemarin, setelah Rabu pembagian jubah dan toga, kami memutuskan untuk foto studio di sebuah studio foto bernama JP Photography. JP singkatan dari Jerry Pawe, salah seorang fotografer ngetop Kota Ende. Ceritanya ketika saya hubungi, Om Je - demikian saya memanggilnya, membocorkan harga dan fasilitas yang didapat oleh pengguna jasa. Saya tidak langsung setuju melainkan harus rembug dulu bersama teman-teman Angkatan XXXIX. Setelah teman-teman setuju, barulah deal sama Om Je.

Studio JP Photography terletak di Jalan Gatot Soebroto tepatnya di belakang Apotik Gatsu Farma. Bangunannya bertingkat dua. Desain lantai bawah layaknya rumah-kantor. Tersedia seperangkat sofa, meja kerja, beberapa properti di bawah tangga, rak-rak berisi kamera jadul koleksian, foto-foto di dinding, serta motor jadul yang bisa kalian lihat di awal pos. Asisten Om Je menyambut kami dengan wajah ternganga terutama ketika melihat Ocha membawa dua jubah dengan hanger-nya sekalian. Maklum, dia tidak mau jubahnya kusut karena sudah diseterika setelah pembagian.


Om Je kemudian datang dan kami pindah ke lantai atas. Yuhuuuu. Di lantai atas tersedia studio foto dan kamar buat kaum hawa berganti baju. Saya, Indri, Ocha, dan Effie, langsung menguasai kamar karena kami harus dandan terlebih dahulu. Aduhai, meskipun tampilan luar saya preman begini, saya juga bisa dandan lah kalau sekadar eye shadow, blush on, gincu. Jadi lah itu. Tapi jangan paksa saya memakai eye liner, bisa perang dunia!


Setelah foto satuper satu, barulah foto barengan. Bahkan Om Je memberikan bonus bagi teman-teman lain yang pengen foto dengan baju berbeda. Semua teman sudah saya wanti-wanti di WAG membawa beberapa baju apabila hendak foto sendiri-sendiri tanpa jubah dan toga. Setelah foto sendiri-sendiri barulah foto bareng.

Apa pengalaman yang kami peroleh?

Foto di Studio JP Photography itu menyenangkan karena meskipun ada yang menunggu untuk sesi foto berikutnya tapi Om Je tidak memaksakan dirinya untuk 'harus lekas selesai'. Tidak. Om Je dengan sabar mengarahkan kami dan bahkan menawarkan sesi foto ini-itu. Selain itu, keramahan Om Je luar biasa bikin betah. Teman-teman yang kikuk seperti Mario, misalnya, diarahkan sampai benar-benar mendapat hasil yang bagus. Mana pula balkonnya luas jadi bisa leha-leha di situ sambil menunggu yang lain. Kan kita jadi betah. Kalau saja tidak ada daftar antrian malam itu, bisa-bisa kita tidur di studio fotonya Om Je. Hahaha.


Pasti ada yang bertanya-tanya; belum hari wisuda kenapa kami sudah melakukan sesi foto menggunakan jubah dan toga lengkap dengan kacu? Karena, pengalaman saya meliput kegiatan wisuda dari tahun ke tahun, sesi foto bersama usai wisuda tidak akan terlaksana. Alasannya? Yang pertama: sudah pasti lelah duluan duduk sekian jam di dalam ruangan. Yang kedua: usai kegiatan pasti pada selfie sana sini bareng ortu atau dosen atau teman. Yang ketiga: keluar dari Auditorium H. J. Gadi Djou itu masalah serius karena berdesak-desakan serta panas yang memapar (bahasanya, Teh :p) bakal bikin segalanya luntur termasuk semangat. Jadi, kami harus mencuri start untuk foto lebih awal.

Selama belum ada undang-undang yang mengaturnya, kami boleh foto curi start alias lebih awal dari hari wisuda.

Sudah selesai wisuda. Yang bekerja, kembali ke rutinitas. Yang belum bekerja, berjuang untuk mendapatkan pekerjaan yang kalau bisa sesuai dengan ilmu akademiknya. Sukses selalu untuk semua. Sukses juga untuk Mamatua tercinta. This is for you, Mom :)


I love you to the moon and back!



Cheers.

Foto Kreatif Untuk Pos Blog

Saya menyebutnya foto kreatif. Ketika kita memotret benda-benda dalam pengaturan tertentu untuk keperluan konten blog atau keperluan lainnya.

Saya selalu menulis: muatan dasar sebuah blog adalah tulisan. Foto dan video adalah elemen pendukung. Betapapun kalian mengaku tidak bisa menulis, untuk pos satu foto di blog pun kalian pasti mencantumkan caption, meskipun foto pun - konon - dapat menceritakan momen. Oleh karena itu konten tanpa foto terlihat hambar. Setidaknya ada satu foto yang menyertai konten tersebut dan rata-rata foto yang relevan.

Baca Juga:


Foto yang kita pakai untuk sebuah pos tidak selamanya harus menggunakan kamera-kamera canggih. Pengalaman, saya hanya menggunakan Canon EOS 600D dan lebih sering menggunakan kamera smartphone. Intinya bagi saya adalah sudut  pengambilan yang baik, foto tidak blur/buram, dan cukup mewakili apa yang ingin kita sampaikan. Kadang-kadang untuk sebuah pos blog saya tidak sekadar mengambil dari stok foto yang ada melainkan melakukan ritual menata dan memotret. Salah satu contoh demi pos ini, saya memotret ini:

Foto ini menggunakan Xiaomi Redmi 5 Plus. Itu bukan salah kameranya, melainkan salah tangan saya yang kadang suka buyutan, qiqiqiq. Nge-blur jadinya.

Sebenarnya saya lebih suka mengadakan terlebih dahulu fotonya, baru tulisannya. Dengan kata lain, foto-foto itu sudah ada dalam folder stok foto yang tinggal dipilih sesuai keperluan kontennya. Dan ternyata, saya punya banyak foto-foto kreatif yang bisa dipakai kapan saja saya mau seperti contoh berikut ini:

Waktu main ke Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah. Menggunakan Canon PowerShot A460 dan diedit menggunakan Photoscape.

Foto ini membawa saya pada memori seperti bertemu Mimi Rasinah secara langsung.

Atau seperti foto di bawah ini, foto yang saya ambil apabila melakukan perjalanan lintas Flores menggunakan sepeda motor tersayang Oim Hitup:

Lokasi sebelum memasuki Kota Mbay - Kabupaten Nagekeo. Menggunakan Sony DSC-W130 dan diedit menggunakan Photoscape.

Ada juga foto yang menggunakan Blackberry 9700 jaman dulu banget haha.

Foto salah satu rumah adat di Desa Adat Wologai, setelah desa tersebut kebakaran.

Saya memang tidak jago memotret tapi saya sangat suka memotret dan dipotret (heeeei, itu default). Oleh karena itu, saya akan selalu menyimpan foto-foto yang sempat diabadikan baik melalui kamera DSLR, kamera pocket, atau kamera smartphone. Mungkin tidak semua momen dapat saya tulis, tapi saya usahakan semua momen dapat diabadikan dalam bentuk foto dan/atau video.

Waktu lamaran anak tetangga saya. Menggunakan Canon EOS 100D.

Kalau yang ini waktu Ulangtahun Flobamora Community ke-6 di Bete Mini Cafe Ende. Menggunakan Nikon D5100.

Nongkrong di beach cafe yang ada di Pantai Ende, menggunakan Blakberry 9700.

Material untuk gorong-gorong (kalau tidak salah) pada salah satu titik perjalanan dari Kota Ende menuju Aigela (arah Barat Pulau Flores). Menggunakan Sony DSC-W130.

Atau yang satu ini saat melihat elang terbang!

Di Pantai Maurongga - Ende. Menggunakan Sony DSC-W130. Lagi-lagi.

Perjalanan dari Kota Ende menuju Pulau Ende (pulau di depan Pantai Ende). Kami menaiki kapal motor buat nangkep ikan punya teman, dan di bagian belakang kapal saya kaget melihat sampan ini. Sampan digunakan apabila air laut sedang surut dan kapal motor tidak bisa merapat ke dermaga. Unik kan? Yang tidak bisa berenang ketar-ketir naik turun sampan, hahaha. Menggunakan Sony DSC-W130.

Tak mau ketinggalan foto yang ini:

Matahari segera pulang. Menggunakan Sony DSC-W130.

Menggunakan Sony DSC-W130.

Wah, cukup banyak foto yang saya tampilkan kali ini. Masih ada beberapa sih, tapi nanti kalian mabuk karena foto-fotonya tidak sebagus foto kalian. Tapi saya suka mempunyai begitu banyak stok foto untuk digunakan kapan-kapan kalau perlu, atau ketika hendak menulis #PDL. 

Intinya adalah foto kreatif untuk pos blog itu tidak selamanya harus kita ambil dari internet. Bikin sendiri juga bisa, tergantung seberapa kuat kemauan kita. Kamera pun tidak selalu harus kamera yang bagus, karena kepuasan sebenarnya bukan berada pada pandangan mata orang lain, tetapi pada pandangan mata kita sendiri, karena kita yang merasakan langsung saat membidik.

Semoga bermanfaat.


Cheers.