Smartphone vs DSLR


Pada pos #SelasaTekno yang lalu yaitu LED for Camera, Kakak Vika dari Ratutips berkomentar bahwa dirinya pun lebih suka bikin video pakai smartphone atau handphone atau telepon genggam ketimbang pakai kamera. Kamera di sini maksudnya bisa kamera khusus video bisa pula DSLR. Alasannya pun sama: ribet kalau harus membawa kamera dengan tas khususnya itu. Kadang-kadang, apabila diperlukan, saya terpaksa mengeluarkan DSLR dari tasnya dan menyimpan di backpack meskipun dudukannya di dalam backpack tidak compact.

Baca Juga: Cetak Saring

Jadi hari ini saya menulis tentang perbandingan penggunaan hingga hasil antara smartphone dengan DSLR. Menulis DSLR karena memang saya memakai kamera single lens reflex yang digital. Dengar-dengar zaman sekarang banyak fotografer yang kembali pada SLR dengan mencetak hasil jepretannya sendiri di kamar gelap (manual). Kalau saya pribadi sih, karena memang bukan fotografer, dan gairahnya tidak seratus persen di dunia fotografi, yang praktis saja lah yang dipakai. Hehe *toss sama dinosarus*.

Praktis


Ya jelas, bagi saya si awam yang bukan fotografer, telepon genggam selalu lebih praktis ketimbang menenteng DSLR. Kenapa lebih memilih telepon genggam? Karena saya hanya perlu satu Xiaomi Redmi 5 Plus untuk memotret, merekam kegiatan melalui catatan suara, menulis flashnews-nya, hingga memberitakannya di ragam media sosial. Dan semua dapat saya lakukan di lokasi kegiatan tanpa harus kembali ke ruang kerja. Praktis, saya masih bisa meliput kegiatan lainnya, apabila dalam sehari ada lebih dari satu kegiatan kampus yang harus diliput.

Menggunakan DSLR jelas menguntungkan dari sisi kualitas foto yang dihasilkan. Tapi pekerjaan menjadi sangat tidak praktis dan cenderung lama karena menunda. Setelah memotret kegiatan (karena DSLR saya tidak punya Wi-Fi) saya harus kembali ke ruangan untuk memindahkan foto-foto dari kamera ke komputer, menulis flashnews, dan mempublikasikannya. Permasalahannya, kalau dalam sehari ada lebih dari satu kegiatan dan waktu kegiatan itu kadang-kadang melebihi batas waktu kerja, saya terpaksa menunda pekerjaan. Rajinnya sih saya menuntaskan pekerjaan di rumah.

Kecepatan Pemberitaan


Sebagai wartawan kampus yang tugasnya mempublikasikan hampir semua kegiatan kampus, baik kegiatan Yayasan Perguruan Tinggi Flores (Yapertif), kegiatan Rektorat Uniflor, hingga kegiatan mahasiswa, saya membutuhkan akses super cepat ke berbagai media sosial. Oleh karena itu, demi kecepatan pemberitaan saya harus menggunakan telepon genggam. Kembali pada poin Praktis di atas. Kecepatan pemberitaan ini pun tidak saja berlaku di media sosial, tetapi juga di situs Uniflor, dan WAG-WAG kampus.

Kualitas


Kalau dilihat dari besarnya ukuran foto antara telepon genggam dan DSLR, menurut saya tidak berbeda jauh. Kalian bisa lihat perbedaannya pada dua foto berikut ini:

 Menggunakan Canon EOS 600D. Ukuran 10,9MB.

Menggunakan Xiaomi Redmi 5 Plus. Ukuran 5,64MB.

Waktu mengunggah keduanya foto asli tidak di-resize, tapi demi pos blog ini sama-sama berukuran large setelah diunggah. Perbedaan akan timbul jika di-zoom. Tingkat zoom yang sama, hasil foto menggunakan Canon EOS 600D masih jauh lebih baik ketimbang hasil foto menggunakan Xiomi Redmi 5 Plus yang mulai blur. Oleh karena itu, demi keperluan kalender kampus, misalnya, saya harus mau menenteng DSLR (meskipun tidak setiap hari) pada acara-acara dan/atau perayaan besar kampus.

Kesimpulan


Mau pakai telepon genggam atau DSLR, kembali pada diri kita masing-masing, nyamannya mau pakai yang mana dan untuk kebutuhan apa. Saya pribadi, orang awam di dunia fotografi, tentu lebih nyaman memakai telepon genggam untuk berbagai keperluan seperti pekerjaan kantor yang membutuhkan kecepatan pemberitaan pun untuk pos blog. Seperti kata Om Bisot dalam WAG Kelas Blogging NTT dan Kelas Blogging Online, foto untuk keperluan pos blog tidak perlu harus foto resolusi tinggi, foto harus di-resize serta diberi nama.

Baca Juga: Teknik Airbrush

Lagi pula, untuk momen yang terjadi super cepat, kejadian apapun yang kita temui dalam perjalanan misalnya, kita bisa langsung memotretnya menggunakan telepon genggam.


Bagaimana dengan kalian, kawan? Bagi tahu yuk di komen :)



Cheers.

Studio JP Photography


Sebelumnya, baca dulu yang ini: Akhirnya Penyuka Kuning Menjadi Sarjana yang ditulis oleh Om Ihsan Dato. Hehe. Terimakasih Om Ihsan, Sabtu kemarin sudah langsung menulis blog dengan tema seorang perempuan yang dijuluki crazy capricorn. Huhuy!!!!! I'm so thankful.


***

Dunia fotografi di Kota Ende menggeliat sejak zaman dinosaurus berkoloni dan mengembara di bumi bertahun-tahun lampau. Skill para fotografer pun tidak perlu diragukan lagi dengan jam terbang tinggi dan pengalaman seabrek. Mereka hebat, mereka jago, mereka juara. Bahkan mereka membentuk komunitas fotografer. Komunitas yang menyatukan para fotografer dalam diskusi-diskusi, usul-saran yang membangun, saling berbagi cerita dan pengalaman. Kalau sekarang saya kurang tahu apakah komunitas tersebut masih ada atau sudah bubar. Beda dari dunia fotografi, dunia videografi belum seberapa karena videografer di Kota Ende belum sebanyak fotografer.

Saya pernah ditanya oleh orang-orang, "Menurut Kakak, siapa fotografer paling oke? Soalnya kami lagi cari jasa fotografer nih!" Maka saya menjawab nama-nama para fotografer yang saya kenal baik: Martozzo Hann, David Mozzar, Nick Amaraya, Jerry Pawe, Om Edi Du'e, Willy Zino, Alan RMC, Willy Keron, drg. Adel Riwu, Om Bolo, Noni Canon Santoso, dan lain-lain nama yang tidak bisa saya sebutkan satuper satu. Dulu saya juga menyebut nama Ady Mbuik, tapi dia kini lebih fokus ke jasa event organizer dan soundsystem.


Kenapa saya menjawab begitu? Karena, menurut saya yang awam dengan dunia fotografi, mereka semua bagus. Lagi pula rejeki bukan saya yang menentukan. Saya hanya bisa menyebut nama, soal pilihan tergantung pada yang mau menggunakan jasa fotografer. Bukan begitu? Begitu bukan? Qiqiqiq.


Meskipun fotografer di Kota Ende ini banyak tapi tidak bisa memilih semuanya sekaligus. Kecuali salah satu dari kami anak angkatnya Bill Gates atau masih saudara jauhnya Mark Zuckerberg. Maka Kamis kemarin, setelah Rabu pembagian jubah dan toga, kami memutuskan untuk foto studio di sebuah studio foto bernama JP Photography. JP singkatan dari Jerry Pawe, salah seorang fotografer ngetop Kota Ende. Ceritanya ketika saya hubungi, Om Je - demikian saya memanggilnya, membocorkan harga dan fasilitas yang didapat oleh pengguna jasa. Saya tidak langsung setuju melainkan harus rembug dulu bersama teman-teman Angkatan XXXIX. Setelah teman-teman setuju, barulah deal sama Om Je.

Studio JP Photography terletak di Jalan Gatot Soebroto tepatnya di belakang Apotik Gatsu Farma. Bangunannya bertingkat dua. Desain lantai bawah layaknya rumah-kantor. Tersedia seperangkat sofa, meja kerja, beberapa properti di bawah tangga, rak-rak berisi kamera jadul koleksian, foto-foto di dinding, serta motor jadul yang bisa kalian lihat di awal pos. Asisten Om Je menyambut kami dengan wajah ternganga terutama ketika melihat Ocha membawa dua jubah dengan hanger-nya sekalian. Maklum, dia tidak mau jubahnya kusut karena sudah diseterika setelah pembagian.


Om Je kemudian datang dan kami pindah ke lantai atas. Yuhuuuu. Di lantai atas tersedia studio foto dan kamar buat kaum hawa berganti baju. Saya, Indri, Ocha, dan Effie, langsung menguasai kamar karena kami harus dandan terlebih dahulu. Aduhai, meskipun tampilan luar saya preman begini, saya juga bisa dandan lah kalau sekadar eye shadow, blush on, gincu. Jadi lah itu. Tapi jangan paksa saya memakai eye liner, bisa perang dunia!


Setelah foto satuper satu, barulah foto barengan. Bahkan Om Je memberikan bonus bagi teman-teman lain yang pengen foto dengan baju berbeda. Semua teman sudah saya wanti-wanti di WAG membawa beberapa baju apabila hendak foto sendiri-sendiri tanpa jubah dan toga. Setelah foto sendiri-sendiri barulah foto bareng.

Apa pengalaman yang kami peroleh?

Foto di Studio JP Photography itu menyenangkan karena meskipun ada yang menunggu untuk sesi foto berikutnya tapi Om Je tidak memaksakan dirinya untuk 'harus lekas selesai'. Tidak. Om Je dengan sabar mengarahkan kami dan bahkan menawarkan sesi foto ini-itu. Selain itu, keramahan Om Je luar biasa bikin betah. Teman-teman yang kikuk seperti Mario, misalnya, diarahkan sampai benar-benar mendapat hasil yang bagus. Mana pula balkonnya luas jadi bisa leha-leha di situ sambil menunggu yang lain. Kan kita jadi betah. Kalau saja tidak ada daftar antrian malam itu, bisa-bisa kita tidur di studio fotonya Om Je. Hahaha.


Pasti ada yang bertanya-tanya; belum hari wisuda kenapa kami sudah melakukan sesi foto menggunakan jubah dan toga lengkap dengan kacu? Karena, pengalaman saya meliput kegiatan wisuda dari tahun ke tahun, sesi foto bersama usai wisuda tidak akan terlaksana. Alasannya? Yang pertama: sudah pasti lelah duluan duduk sekian jam di dalam ruangan. Yang kedua: usai kegiatan pasti pada selfie sana sini bareng ortu atau dosen atau teman. Yang ketiga: keluar dari Auditorium H. J. Gadi Djou itu masalah serius karena berdesak-desakan serta panas yang memapar (bahasanya, Teh :p) bakal bikin segalanya luntur termasuk semangat. Jadi, kami harus mencuri start untuk foto lebih awal.

Selama belum ada undang-undang yang mengaturnya, kami boleh foto curi start alias lebih awal dari hari wisuda.

Sudah selesai wisuda. Yang bekerja, kembali ke rutinitas. Yang belum bekerja, berjuang untuk mendapatkan pekerjaan yang kalau bisa sesuai dengan ilmu akademiknya. Sukses selalu untuk semua. Sukses juga untuk Mamatua tercinta. This is for you, Mom :)


I love you to the moon and back!



Cheers.

Foto Kreatif Untuk Pos Blog

Saya menyebutnya foto kreatif. Ketika kita memotret benda-benda dalam pengaturan tertentu untuk keperluan konten blog atau keperluan lainnya.

Saya selalu menulis: muatan dasar sebuah blog adalah tulisan. Foto dan video adalah elemen pendukung. Betapapun kalian mengaku tidak bisa menulis, untuk pos satu foto di blog pun kalian pasti mencantumkan caption, meskipun foto pun - konon - dapat menceritakan momen. Oleh karena itu konten tanpa foto terlihat hambar. Setidaknya ada satu foto yang menyertai konten tersebut dan rata-rata foto yang relevan.

Baca Juga:


Foto yang kita pakai untuk sebuah pos tidak selamanya harus menggunakan kamera-kamera canggih. Pengalaman, saya hanya menggunakan Canon EOS 600D dan lebih sering menggunakan kamera smartphone. Intinya bagi saya adalah sudut  pengambilan yang baik, foto tidak blur/buram, dan cukup mewakili apa yang ingin kita sampaikan. Kadang-kadang untuk sebuah pos blog saya tidak sekadar mengambil dari stok foto yang ada melainkan melakukan ritual menata dan memotret. Salah satu contoh demi pos ini, saya memotret ini:

Foto ini menggunakan Xiaomi Redmi 5 Plus. Itu bukan salah kameranya, melainkan salah tangan saya yang kadang suka buyutan, qiqiqiq. Nge-blur jadinya.

Sebenarnya saya lebih suka mengadakan terlebih dahulu fotonya, baru tulisannya. Dengan kata lain, foto-foto itu sudah ada dalam folder stok foto yang tinggal dipilih sesuai keperluan kontennya. Dan ternyata, saya punya banyak foto-foto kreatif yang bisa dipakai kapan saja saya mau seperti contoh berikut ini:

Waktu main ke Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah. Menggunakan Canon PowerShot A460 dan diedit menggunakan Photoscape.

Foto ini membawa saya pada memori seperti bertemu Mimi Rasinah secara langsung.

Atau seperti foto di bawah ini, foto yang saya ambil apabila melakukan perjalanan lintas Flores menggunakan sepeda motor tersayang Oim Hitup:

Lokasi sebelum memasuki Kota Mbay - Kabupaten Nagekeo. Menggunakan Sony DSC-W130 dan diedit menggunakan Photoscape.

Ada juga foto yang menggunakan Blackberry 9700 jaman dulu banget haha.

Foto salah satu rumah adat di Desa Adat Wologai, setelah desa tersebut kebakaran.

Saya memang tidak jago memotret tapi saya sangat suka memotret dan dipotret (heeeei, itu default). Oleh karena itu, saya akan selalu menyimpan foto-foto yang sempat diabadikan baik melalui kamera DSLR, kamera pocket, atau kamera smartphone. Mungkin tidak semua momen dapat saya tulis, tapi saya usahakan semua momen dapat diabadikan dalam bentuk foto dan/atau video.

Waktu lamaran anak tetangga saya. Menggunakan Canon EOS 100D.

Kalau yang ini waktu Ulangtahun Flobamora Community ke-6 di Bete Mini Cafe Ende. Menggunakan Nikon D5100.

Nongkrong di beach cafe yang ada di Pantai Ende, menggunakan Blakberry 9700.

Material untuk gorong-gorong (kalau tidak salah) pada salah satu titik perjalanan dari Kota Ende menuju Aigela (arah Barat Pulau Flores). Menggunakan Sony DSC-W130.

Atau yang satu ini saat melihat elang terbang!

Di Pantai Maurongga - Ende. Menggunakan Sony DSC-W130. Lagi-lagi.

Perjalanan dari Kota Ende menuju Pulau Ende (pulau di depan Pantai Ende). Kami menaiki kapal motor buat nangkep ikan punya teman, dan di bagian belakang kapal saya kaget melihat sampan ini. Sampan digunakan apabila air laut sedang surut dan kapal motor tidak bisa merapat ke dermaga. Unik kan? Yang tidak bisa berenang ketar-ketir naik turun sampan, hahaha. Menggunakan Sony DSC-W130.

Tak mau ketinggalan foto yang ini:

Matahari segera pulang. Menggunakan Sony DSC-W130.

Menggunakan Sony DSC-W130.

Wah, cukup banyak foto yang saya tampilkan kali ini. Masih ada beberapa sih, tapi nanti kalian mabuk karena foto-fotonya tidak sebagus foto kalian. Tapi saya suka mempunyai begitu banyak stok foto untuk digunakan kapan-kapan kalau perlu, atau ketika hendak menulis #PDL. 

Intinya adalah foto kreatif untuk pos blog itu tidak selamanya harus kita ambil dari internet. Bikin sendiri juga bisa, tergantung seberapa kuat kemauan kita. Kamera pun tidak selalu harus kamera yang bagus, karena kepuasan sebenarnya bukan berada pada pandangan mata orang lain, tetapi pada pandangan mata kita sendiri, karena kita yang merasakan langsung saat membidik.

Semoga bermanfaat.


Cheers.