25 Paroki Mautapaga, 73 TNI


Sabtu kemarin ada dua kegiatan yang saya ikuti. Kegiatan yang pertama adalah jalan sehat dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Paroki Santo Yosef Freinademetz atau Paroki Mautapaga yang ke-25. Kegiatan yang kedua adalah menonton perayaan Hari Ulang Tahun TNI yang ke-73 di Lapangan Pancasila. Kedua kegiatan itu sangat menarik untuk ditulis di blog karena sama-sama melibatkan masyarakat umum tanpa kotak agama, kasta, pangkat, kekayaan, apalagi politik. Kebersamaan ini janganlah cepat berlalu *hayo, pasti bacanya sambil nyanyi kan?* qiqiqi.

Baca Juga : Kita, Orang Indonesia

25 Tahun Paroki St. Yosef Freinademetz

Begitu pengumuman jalan sehat yang wajib kami ikuti sebagai partisipan dan bentuk apresiasi atas undangan dari Panitia Hari Ulang Tahun Paroki Santo Yosef Freinademetz, atau lebih sering kami sebut Paroki Mautapaga, dipos di WAG Pegawai Yapertif, saya langsung semangat. Dulu-dulu, saya paling ogah jalan pagi apalagi pukul 05.00 Wita sudah harus berkumpul di lokasi. Bahkan kegiatan setiap Sabtu pagi, jalan sehat bersama teman-teman kantor, pun jarang saya ikuti dengan berbagai sebab *halah*.

Kenapa mendadak dangdut semangat?

Karena saya ingin menjajal, sudah sampai di mana kemampuan kaki saya kembali bisa berjalan jauh seperti dulu. Kalian pasti tahu kalau sudah hampir tiga minggu saya Jalan Malam Keliling Kota (JMKK) kan? Inilah saatnya membuktikan bahwa JMKK telah sukses mengantar saya ke pintu gerbang kemerdekaan yang hakiki. Bebas dari kaki yang sudah terlalu lama dimanjakan. Harus dijajal!

Pukul 04.30 Wita alaram sudah meraung kesal, memaksa saya tinggalkan ranjang dan bersiap ke halaman Gereja sekaligus Paroki Mautapaga. Meskipun langit mendung, saya optimis badai pasti berlalu sambil ngegas si Onif Harem (Oim Hitup nunggu di rumah, haha). Tiba di sana belum banyak orang. Sambil nongkrong bareng teman-teman, saya menghangatkan perut *tsah* denga kopi susu dari termos putih kesayangan. Tidak lama hujan turun membasahi bumi tanpa kompromi. Wah, acaranya maju jalan atau batal ini? Mengingat langit benar-benar gelap. Tuhan, tolong bantu panitia agar hujan segera reda, do'a saya dalam hati.

Untungnya, sekitar pukul 07.00 Wita hujan pun reda dan kami mulai diarahkan untuk berbaris; dua dua, hehe. Drumband dari SMKN 1 Ende, atau lebih dikenal dengan nama SMEA, mulai pasang aksi di barisan paling depan, sementara nomor-nomor doorprize dibagikan oleh panitia. Jalan sehat pun dimulai. Saya dan Mila haha hihi, karena sepagi itu saya sudah bisa bangun dan sudah ikut jalan sehat. Kejadian langka. Makanya Mila cuma bisa ketawa melihat saya semangat jalan kaki tanpa mengeluh letih.

Foto dari Mam Poppy Pelupessy.

Rute yang ditempuh adalah Jalan Gatot Soebroto, Jalan Baru menuju Jalan Anggrek, lewat di depan RRI, Jalan Durian, Jalan Eltari, kembali ke halaman Paroki Mautapaga. Bayangkan, untuk rute yang cukup jauh itu, saya tidak merasa letih, bahkan masih bisa berlari untuk mengejar barisan depan. Padahal barisan depan itu barisannya murid SD semua hahaha. Sampai teman-teman kantor pada sorakin, "TUMBEEEEN TUTEH JALAN PAGEEEE!" hihihi. Biarin weeeq. Pokoknya, setelah menjajal jalan sehat ini, saya jadi tahu bahwa kaki saya sudah mulai bisa diajak kompromi; sudah bisa kembali diajak jalan jauh.

Baca Juga : Angkatan II Kelas Blogging NTT

Usai jalan sehat, kegiatan dilanjutkan dengan senam dengan instruktur sahabat sejati saya si Mei Ing alias Inggi dan pengambilan undian doorprize. Berharap dapat hadiah? Iya, sih. Siapa sih yang tidak mau hadiah? Hehehe. Tapi tidak dapat pun tidak masalah yang penting banyak nikmat yang saya capai dari kegiatan itu. Nikmat yang tidak tergantikan Rupiah: kebersamaan dengan teman-teman dan perasaan sehat ... itu pasti. 

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh masyarakat Paroki Mautapaga; SD, SMP, dan SMA se-lingkup Paroki Mautapaga; serta instansi terkait seperti Universitas Flores, beberapa bank, dan lain-lain.

75 Tahun TNI

Waktu saya dan Ocha Jalan Malam Keliling Kota (JMKK) pada Senin, 2 Oktober 2018, di Lapangan Pancasila, kami melihat layar super besar sedang men-display filem tentang tentara. Itu sebenarnya bukan JMKK tapi jalan keliling lapangan haha. Di depan layar besar yang menghadap Pelabuhan Bung Karno itu, ada sebuah pick up dan sekelompok bapak-bapak sedang mengutak-atik proyektor. Nampaknya sedang ada uji coba karena sesekali pantulan proyektor bergerak-gerak mencari posisi yang pas. Kami, yang lalu-lalang mencari keringat, bertanya-tanya ... ada apa kah gerangan?


Ternyata dari informasi sana sini, serta dari teman-teman TNI, saya jadi tahu bahwa bakal ada kegiatan dalam rangka Hari Ulang Tahun TNI yang ke-73. Ulang tahun TNI memang jatuh pada tanggal 5 Oktober tetapi gelaran acara akbarnya dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober. Yuhuuuu! Yang menarik adalah informasi yang saya peroleh berikut ini langsung dari Bang Agung dan Edwin Firmansyah (anggota Kodim 1602/Ende). Keduanya anggota Kelas Blogging NTT, Edwin Angkatan I, Bang Agung Angkatan II.

Informasi tersebut adalah adanya makan gratis bagi warga Kota Ende, Wisata Kota Gratis yaitu keliling kota menggunakan kendaraan truk patroli TNI dan bis wisata Sepur Kelinci, serta Nonton Bareng filem-filem diantaranya Profil TNI dan Profil Kodim 1602/Ende dan Merah Putih Memanggil.

Maka dengan niat pasti, setelah Jum'at malam saya JMKK di Jalan El Tari dan Sabtu pagi mengikuti kegiatan di Paroki Mautapaga, maka kami serumah berniat untuk menyaksikan langsung kemeriahan acara tersebut di Lapangan Pancasila. Kami; saya, Ocha dan Thika. Mamatua dan Indra jaga gawang hahaha. Ternyata acara dimulai dari sore sekitar pukul 17.00 Wita. Ah, kami perginya malam, menunggi si Thika pulang kuliah. Tidak masalah, masih banyak acara yang bisa kami tonton dan/atau ikuti. Sekalian kami janjian pergi bareng Mila dan Aram.

Baca Juga : Kemajuan Peserta Kelas Blogging NTT

Tiba di Lapangan Perse, wuihhh banyaknya orang! Oia, saat kami tiba itu sedang berlangsung tarian Reog dari Paguyuban Orang Jawa di Ende. Cari-cari sana-sini, ketemulah Mila dan Aram. Nongkrong di tribun sambil menyaksikan keramaian Lapangan Pancasila. Usai pertunjukan Reog, ada pembacaan puisi oleh Komandan Kodim 1602/Ende Letkol Kav Suteja, S.H., M.Si., sambutan, acara kembang api, dan tarian oleh ibu-ibu Persit. Setelah itu, MC yaitu Natalia Desiyanti mengumumkan tentang makan gratis. Beberapa gerobak yang disediakan langsung diserbu oleh pengunjung. Kami tidak berani ikut menyerbu karena yakin pasti berdesak-desakan dan itu bikin keki.

Ocha dan Thika memilih untuk ikutan wisata keliling kota.



Setelah balik dari wisata keliling kota itu, sempat membeli minuman saja sambil menonton filem dari jarak yang lumayan jauh. Meskipun tidak bisa fokus menonton filem, tapi setidaknya kami hepi bisa mengikuti kegiatan TNI tersebut. 

Apabila tidak mengingat waktu kami bisa mengobrol sampai pagi hahaha. Sudah pukul 21.30 Wita, saatnya pulang. 

Terimakasih Paroki Mautapaga.
Terimakasih TNI.

***

Pada HUT TNI ke-71, saya (bersama Cahyadi dan Kakak Pacar) pernah dimintai bantuan oleh Bapak Kapolres untuk mendokumentasikan video kolaborasi TNI dan POLRI di Lapangan Pancasila. Mereka membawakan atraksi tarian dan lain sebagainya, kerjasama dengan SMAN 1 Ende dengan koreografer Rikyn Radja dan pelatin paduan suara Stanis More. Ternyata videonya belum diunggah ke Youtube, tapi masih ada di laptop saya haha. Kolaborasi itu keren sekali, kawan! Nanti deh baru diunggah.

Ini foto waktu itu. Wajib pakai rompi ini supaya bisa seliweran di dalam lapangan tanpa ditegur apalagi ditahan qiqiqiq:

 


Cheers.

Flores: Adventure Trails



Banyak buku yang bercerita tentang Indonesia dari Barat ke Timur, dari Utara ke Selatan, dari adat ke bahasa, dari budaya ke pakaian, dari gunung ke pantai, dari rumah adat ke kearifan lokal. Saya punya salah satu buku semacam itu, dikasih sama Ika Soewadji, dan masih sering saya baca sampai sekarang. Banyak juga buku yang bercerita panjang lebar tentang Pulau Flores (Flores overland). Saya sendiri pernah menulis materi siaran program Backpacker, pada tahun 2017, awal tentang Flores Overland. Biasanya orang menulis Flores Overland itu dari Barat ke arah Timur, tapi materi saya itu dari Timur ke arah Barat. Qiqiqiq. Sesekali kita membaliknya kan boleh-boleh saja.

Baca Juga : 5 Cozy Songs

Tentang si Buku

Buku yang saya bahas hari ini berjudul Flores: Adventure Trails. Buku ini ditulis (sekaligus sebagai koordinator penulis) oleh Meret L. Signer. Kontributor atau penulis lain diantaranya Heinz von Holzen, Rofinus Ndau, Unipala Maumere, idGuides. Publisher Flores: Adventure Trails adalah Swisscontact dan didukung oleh SECO (Swiss State Secretariat for Economic Affairs). Tahun terbit 2012. Wow banget, saya terkejut ketika membaca nama Unipala Maumere. Itu MAPALA-nya Universitas Nusa Nipa (Unipa). Oh ya, selain sambutan dari Bapak Sapta Nirwandar, juga ada sambutan Jurg Schneider dari SECO. Flores: Adventure Trails berbahasa Inggris tapi untuk ukuran saya yang bahasa Inggrisnya pas-pasan bisa yess atau no sudah bersyukur, isinya cukup mudah dipahami/dimengerti. 


Bagaimana dengan isinya?

Isinya dimulai dari perkenalan tentang Pulau Flores. Perkenalan yang sangat lengkap, menurut saya, karena memuat tentang kondisi geografis, iklim, Flores sebagai bagian dari ring of fire, flora dan fauna, kehidupan laut, zaman sebelum dan sesudah kolonial, manusia dan adat budayanya. Traveling directory sub bahasan berikutnya adalah tentang how to get there? (pesawat dan kapal laut) termasuk informasi kantor-kantor layanan tiket, akomodasi, tempat makan, komunikasi/alat komunikasi, keuangan, isu kesehatan, sampai etika.

Woman travellers:
Even thought Flores is predominantly Christian, woman dressing modestly is a cultural thing in Indonesia, rather than a religious one. Wear t-shirts that cover your shoulders and don't reveal too much of your legs. Wearing a bikini is fine at the beaches of Labuan Bajo and in designated hotel areas in other parts of Flores. Everywhere else, put on a t-shirt and shorts for swimming. (Meret L. Signer, 2012:23).


Sub berikutnya adalah persiapan yang harus dilakukan sebelum ke Flores. Menariknya adalah, dijelaskan tentang skala kesulitan trek, level kebugaran, barang bawaan dasar or basic check list sampai how to minimize your impact. Komplit kan ya. Basic check list ini umum saja seperti yang sering kita lakukan/bawa seperti kaca mata, head lamp, sun-block, first aid kit, kompas, pisau lipat, hingga tas plastik untuk menyimpan pakaian kotor dan/atau sampah. Puhlease, ke mana pun pergi jangan pernah membuang sampah sembarangan.


Setelah itu, pembaca memasuki inti sari buku ini. Yay! Dimulai dari  Labuan Bajo: Pulau Rinca, Pulau Komodo, Gunung Mbeliling, teruuuuus ke Timur sampai ketemu Gunung Kelimutu di Ende, Maumere dengan pantai-pantai dan Gunung Egon-nya, sampai Larantuka. Informasinya tidak sekadar ini looooh Gunung Mbeliling itu, tapi juga memuat tinggi gunung, luas daratan, flora dan faunanya, sampai tentang masyarakat tradisionalnya. 


Salah satu sub yang saya sukai adalah kisah tentang Rudolf von Reding:

In 1974, the elderly Count Rudolf von Reding from Biberegg, Switzerland, disappeared on the island of Komodo. For some unknown reason he got seperated from his group. When they realized he was missing, they immediately returned to the point where had last seen him - but they were too late. All they could find was the Count's backpack, camera, sunglasses, and stains of blood on the ground. Komodo dragons eat their prey whole, and von Reding's body was never found. Although it could neve be confirmed with 100% certainty, he was believed to have been eaten.

Sedih ya ... *ambil tissu*

Jadi ingat waktu ke Pulau Rinca, dimana salah seorang teman pejalan kami sedang datang bulan, dan si komodo berjalan ke arah teman tersebut. Horor-horor bergembira gimana gitu rasanya diikuti komodo, hehe.


Setelah Baca

Saya bahagia karena jadi banyak tahu tentang pulau sendiri. Sebagai pelahap buku, sekaligus blogger yang gemar menulis tentang perjalanan ke mana pun saya pergi, buku ini menjadi semacam panduan untuk menulis. Menulis tempat wisata itu tidak sekadar menggambarkan betapa indahnya; betapa menawannya; betapa mempesonanya, tetapi harus bisa lebih detail yaitu tentang letak lokasinya, jaraknya, transportasi dan akomodasi kalau bisa bisa dengan harganya, budaya masyarakat setempat (seperti harus memperhatikan etika berpakaian dan berbicara), hingga tingkat kesulitan perjalanan untuk mencapai lokasi tersebut. Sub buku juga penting untuk memilah atau mengklasifikasi tulisan agar tidak terkesan campur-aduk.

Saya sedang belajar untuk menulis seperti itu. Belajar terus tanpa henti. Istirahat sih boleh, berhenti jangan :)

Flores: Adventure Trails adalah buku yang super informatif meskipun tidak selengkap buku yang diterbitkan oleh Lonely Planet zaman dulu itu. Bahkan juga diceritakan tentang gempa yang pernah melanda Flores terutama Maumere dan Ende. Jika kalian punya waktu luang, jangan lupa untuk membacanya. Di mana bisa diperoleh, cobalah cari di toko buku terdekat, jika tidak, maka ini edisi terbatas yang dipublis oleh Swisscontact (yang selalu konsen dengan isu wisata).

Semoga bermanfaat, enjoy your weekend!


Cheers.

#PDL Langgar Sungai Lewati Lembah


Suatu kali saya menerima tawaran membikin video inspiratif dari sebuah lembaga tentang desa siaga. Video ini merupakan kisah nyata tentang perjuangan dan peran serta masyarakat untuk membantu menangani permasalahan ibu hamil dan anak, sekaligus menekan angka kematian ibu hamil dan anak baru lahir. Bersama Martozzo Hann, Kiki Albar, dan Kakak Pacar, jadilah tim ini. Tim yang harus membikin semuanya dari nol; RAB, estimasi waktu pengambilan video, shootlist (di dalam shootlist ini termasuk ada wardrobe sekalian), mengumpulkan materi, editing dan finishing, dan lain sebagainya. Repot memang, tapi menyenangkan karena kami ditemani cemilan segitu banyaknya *halah*.


Menurut situs Promkes, desa siaga adalah sebagai berikut:

Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana, dan kegawatdaruratan, kesehatan secara mandiri. Desa yang dimaksud di sini adalah kelurahan atau istilah lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan yang diakui dan dihormati dalam Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setelah selesai disusun, shootlist tersebut dikirim kepada pemberi proyek yang diteruskan kepada anggota desa siaga yang berada di Desa Liselowobora, Kecamatan Wolowaru, Ende. Betul, desa siaga yang satu ini berada di Desa Liselowobora. Kepala Desa Liselowobora belum tentu menjadi Kepala Desa Siaga. Apa yang saya pikirkan pun menjadi kenyataan karena shootlist yang dikirimkan itu sudah diperbanyak dan dibagi-bagikan kepada masyarakat desa siaga di sana, malahan mereka telah memilih orang-orang yang akan memerankan si A, si B, dan si C. Tetapi kalau bidannya beneran si bidan. Hehe. Mereka benar-benar paham proses syuting video ini.
 
Inilah hobi yang menjadi pekerjaan sampingan kami.
 
 Sesuai waktu yang ditentukan, tim pun berangkat ke Desa Liselowobora. Sayangnya, KM 17 arah Barat Kota Ende sedang ditutup (dibuka pada pukul 12.00 Wita) karena ada perbaikan jalan sehingga kami memutuskan untuk memutar gunung yaitu mengikuti jalur alternatif bernama Aekipa. Aduh, jangan pernah tanya ke Orang Ende soal jalur Aekipa ini, mereka pasti bakal senyum-senyum penuh makna. Bisa kalian bayangkan? Setelah memutar gunung / Aekipa selama 2,5 (dua setengah) jam, kami bertemu jalan raya yang ternyata adalah KM 20. Jadi, dua jam putar sana sini untuk tiba di KM 20? Luar biasa. Hahaha. Perjalanan kami lanjutkan dan akhirnya tiba juga di Desa Liselowobora.

*tepuk tangan*

Baca Juga : Datang, Makan, Ngerujak, Pulang

Tiba di Desa Liselowobora kami langsung bertemu kontak lokal yaitu Om Bene Sera yang oleh kami disingkat bebas menjadi Benser. Benser adalah mantan Kepala Desa Liselowobora, kemudian menjadi Kepala Desa Siaga di desa tersebut. Sesuai perjanjian, hari itu (Jum'at) kami akan pergi mencari penginapan dan akan bertemu keesokan harinya (Sabtu) di rumah Benser. Rumah Benser yang berkamar mandi luas itu menjadi basecamp tim.

Syuting hari pertama (Sabtu) berjalan lancar karena masih prolog, dan narasumber-narasumber. Prolog ini diantaranya pertemuan kelompok-kelompok masyarakat desa siaga, hingga bagaimana langkah-langkah yang diambil apabila ada ibu hamil hendak melahirkan yaitu dengan meniup peluit. Seru juga hari pertama ini. Untuk hari kedua syuting, kami meminta mereka mengenakan baju yang sama dengan hari pertama karena ceritanya di dalam video ini semua berjalan pada hari yang sama.

Salah seorang anggota desa siaga sedang melakukan pemetaan ini itu.

Oia, selain kelompok masyarakat desa siaga, kami juga bertemu Mama Dukun. Jadi ceritanya di desa siaga ini ada kerja sama antara bidan dan dukun beranak. Dari wawancara dengan Mama Dukun kami jadi tahu bahwa masih ada kaum ibu lebih percaya dukun beranak (kebiasaan turun-temurun), dan untuk mendukung program kesehatan pemerintah, Mama Dukun sering menemani si ibu melahirkan di puskesmas. Mulianya hatimu wahai, Mama Dukun!

Mama Dukun / dukun beranak (kanan) yang selalu penuh senyum.
 
Syuting hari kedua (Minggu) juga lancar dan lebih seru! Karena kami harus mereka ulang semua kejadian nyata yang terjadi di desa siaga tersebut. Para pemainnya juga asli sangat natural karena mereka sendiri yang mengalami kejadian tersebut, yaitu bagaimana memindahkan seorang ibu hamil yang hendak melahirkan dari balik bukit, melewati bukit, langgar kali, lewati lembah, untuk tiba di sebuah puskesmas. Bahkan bapak-bapak juga membuat kembali tandu darurat yang terdiri dari dua potongan bambu dan satu kursi plastik sebagai tempat si ibu duduk. Jangan lupa buku pink, buku pemeriksaan ibu hamil.

Proses membuat tandu darurat.

Empat kamera kami harus standby dan ditempatkan pada titik-titik terbaik karena kasihan jika adegan menuruni bukit ini harus diulang. Hehe.

Harus hati-hati menandu ibu hamil, bisa saja tergelincir.

Proses menandu ibu hamil ini memang susah karena harus melewati / melanggar bukit, melanggar kali, dan melewati tanjakan menuju jalan desa. Di pinggir jalan desa sudah ada pick up yang bakal mengantar ibu hamil ke puskesmas yang terletak di pusat Kecamatan Wolowaru.

Gara-gara di kali ini setengah celana saya basah dan sepatu pun kuyup. Kalian tahu? Saya pulang dari Wolowaru ke Ende sekitar 2 (dua) jam perjalanan tanpa alas kaki. Hahaha.

Setelah video Desa Siaga yang berjudul: Di Dalam Dekapan Ibuku, pihak lembaga alias pemberi order mengubah cerita menjadi Paroki Siaga. Di sini, saya dan Kakak Pacar harus menempuh jalan yang lebih jauh menuju Laja yang merupakan bagian dari Kabupaten Ngada. Luar biasa kan ya? Eh tapi Paroki Siaga pun tetap arahnya ke desa siaga yang bersinergi dengan paroki setempat. Waktu itu kami mewawancarai Romo Sil Betu.

Baca Juga : #PDL Snorkeling di Perairan Pulau Tiga

Apa pelajaran yang saya petik dari proses syuting desa siaga ini? Banyak, kawan! Kerjasama tim, ramahnya orang desa, bersatunya orang desa, hingga betapa orang desa itu akan menganggap kau saudara meskipun baru bertemu sekali dua. Seperti Benser yang kemudian, berbulan-bulan kemudian, masih menghubungi kami meminta bantuan mendokumentasikan pernikahan anaknya, hahaha. Benser ini baik banget meskipun kalau ngomong kayak orang berantem. Tipikal Orang Flores memang begitu, tidak bisa bicara pelan hahaha.

Kadang-kadang saya kasihan juga sama ibu hamil di desa, apalagi desanya di balik bukit (berbukit-bukit). Mereka harus berjuang sejak kehamilan sampai melahirkan. Mereka tidak kenal produk mutakhir untuk ibu hamil dan anak baru lahir. Tidaaaak! Mereka hanya kenal penanganan dasar ibu hamil yang sesuai anjuran bidan. Maka, berbahagialan ibu-ibu yang tinggal di kota, apalagi yang jarak rumahnya sangat dekat dengan fasilitas kesehatan (faskes) dan bisa tahu soal produk-produk mutakhir untuk ibu hamil.

Pernah, saya pernah begitu ... melakukan semua itu dengan gembira karena banyak pengalaman yang saya alami dan pengalaman itu tidak bisa ditukar Rupiah. 

Baca Juga : #PDL Cerfet, Cerita Estafet

Bagaimana dengan kalian? Punya pengalaman serupa?


Cheers.

#PDL Langgar Sungai Lewati Lembah


#PDL adalah Pernah DiLakukan. Tulisan ringan tentang apa saja yang pernah saya lakukan selama ini; jalan-jalan di sekitar Kabupaten Ende, backpacker-an ke tempat-tempt di luar Kota Ende, merusuhi acara, termasuk perbuaan iseng bin jahil bin nekat.

***


Suatu kali saya menerima tawaran membikin video inspiratif dari sebuah lembaga tentang desa siaga. Video ini merupakan kisah nyata tentang perjuangan dan peran serta masyarakat untuk membantu menangani permasalahan ibu hamil dan anak, sekaligus menekan angka kematian ibu hamil dan anak baru lahir. Bersama Martozzo Hann, Kiki Albar, dan Kakak Pacar, jadilah tim ini. Tim yang harus membikin semuanya dari nol; RAB, estimasi waktu pengambilan video, shootlist (di dalam shootlist ini termasuk ada wardrobe sekalian), mengumpulkan materi, editing dan finishing, dan lain sebagainya. Repot memang, tapi menyenangkan karena kami ditemani cemilan segitu banyaknya *halah*.


Menurut situs Promkes, desa siaga adalah sebagai berikut:

Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana, dan kegawatdaruratan, kesehatan secara mandiri. Desa yang dimaksud di sini adalah kelurahan atau istilah lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan yang diakui dan dihormati dalam Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setelah selesai disusun, shootlist tersebut dikirim kepada pemberi proyek yang diteruskan kepada anggota desa siaga yang berada di Desa Liselowobora, Kecamatan Wolowaru, Ende. Betul, desa siaga yang satu ini berada di Desa Liselowobora. Kepala Desa Liselowobora belum tentu menjadi Kepala Desa Siaga. Apa yang saya pikirkan pun menjadi kenyataan karena shootlist yang dikirimkan itu sudah diperbanyak dan dibagi-bagikan kepada masyarakat desa siaga di sana, malahan mereka telah memilih orang-orang yang akan memerankan si A, si B, dan si C. Tetapi kalau bidannya beneran si bidan. Hehe. Mereka benar-benar paham proses syuting video ini.
Inilah hobi yang menjadi pekerjaan sampingan kami.
 Sesuai waktu yang ditentukan, tim pun berangkat ke Desa Liselowobora. Sayangnya, KM 17 arah Barat Kota Ende sedang ditutup (dibuka pada pukul 12.00 Wita) karena ada perbaikan jalan sehingga kami memutuskan untuk memutar gunung yaitu mengikuti jalur alternatif bernama Aekipa. Aduh, jangan pernah tanya ke Orang Ende soal jalur Aekipa ini, mereka pasti bakal senyum-senyum penuh makna. Bisa kalian bayangkan? Setelah memutar gunung / Aekipa selama 2,5 (dua setengah) jam, kami bertemu jalan raya yang ternyata adalah KM 20. Jadi, dua jam putar sana sini untuk tiba di KM 20? Luar biasa. Hahaha. Perjalanan kami lanjutkan dan akhirnya tiba juga di Desa Liselowobora.

*tepuk tangan*

Baca Juga : Datang, Makan, Ngerujak, Pulang

Tiba di Desa Liselowobora kami langsung bertemu kontak lokal yaitu Om Bene Sera yang oleh kami disingkat bebas menjadi Benser. Benser adalah mantan Kepala Desa Liselowobora, kemudian menjadi Kepala Desa Siaga di desa tersebut. Sesuai perjanjian, hari itu (Jum'at) kami akan pergi mencari penginapan dan akan bertemu keesokan harinya (Sabtu) di rumah Benser. Rumah Benser yang berkamar mandi luas itu menjadi basecamp tim.

Syuting hari pertama (Sabtu) berjalan lancar karena masih prolog, dan narasumber-narasumber. Prolog ini diantaranya pertemuan kelompok-kelompok masyarakat desa siaga, hingga bagaimana langkah-langkah yang diambil apabila ada ibu hamil hendak melahirkan yaitu dengan meniup peluit. Seru juga hari pertama ini. Untuk hari kedua syuting, kami meminta mereka mengenakan baju yang sama dengan hari pertama karena ceritanya di dalam video ini semua berjalan pada hari yang sama.


Salah seorang anggota desa siaga sedang melakukan pemetaan ini itu.

Oia, selain kelompok masyarakat desa siaga, kami juga bertemu Mama Dukun. Jadi ceritanya di desa siaga ini ada kerja sama antara bidan dan dukun beranak. Dari wawancara dengan Mama Dukun kami jadi tahu bahwa masih ada kaum ibu lebih percaya dukun beranak (kebiasaan turun-temurun), dan untuk mendukung program kesehatan pemerintah, Mama Dukun sering menemani si ibu melahirkan di puskesmas. Mulianya hatimu wahai, Mama Dukun!


Mama Dukun / dukun beranak (kanan) yang selalu penuh senyum.

Syuting hari kedua (Minggu) juga lancar dan lebih seru! Karena kami harus mereka ulang semua kejadian nyata yang terjadi di desa siaga tersebut. Para pemainnya juga asli sangat natural karena mereka sendiri yang mengalami kejadian tersebut, yaitu bagaimana memindahkan seorang ibu hamil yang hendak melahirkan dari balik bukit, melewati bukit, langgar kali, lewati lembah, untuk tiba di sebuah puskesmas. Bahkan bapak-bapak juga membuat kembali tandu darurat yang terdiri dari dua potongan bambu dan satu kursi plastik sebagai tempat si ibu duduk. Jangan lupa buku pink, buku pemeriksaan ibu hamil.

Proses membuat tandu darurat.

Empat kamera kami harus standby dan ditempatkan pada titik-titik terbaik karena kasihan jika adegan menuruni bukit ini harus diulang. Hehe.

Harus hati-hati menandu ibu hamil, bisa saja tergelincir.

Proses menandu ibu hamil ini memang susah karena harus melewati / melanggar bukit, melanggar kali, dan melewati tanjakan menuju jalan desa. Di pinggir jalan desa sudah ada pick up yang bakal mengantar ibu hamil ke puskesmas yang terletak di pusat Kecamatan Wolowaru.

Gara-gara di kali ini setengah celana saya basah dan sepatu pun kuyup. Kalian tahu? Saya pulang dari Wolowaru ke Ende sekitar 2 (dua) jam perjalanan tanpa alas kaki. Hahaha.

Setelah video Desa Siaga yang berjudul: Di Dalam Dekapan Ibuku, pihak lembaga alias pemberi order mengubah cerita menjadi Paroki Siaga. Di sini, saya dan Kakak Pacar harus menempuh jalan yang lebih jauh menuju Laja yang merupakan bagian dari Kabupaten Ngada. Luar biasa kan ya? Eh tapi Paroki Siaga pun tetap arahnya ke desa siaga yang bersinergi dengan paroki setempat. Waktu itu kami mewawancarai Romo Sil Betu.

Baca Juga : #PDL Snorkeling di Perairan Pulau Tiga

Apa pelajaran yang saya petik dari proses syuting desa siaga ini? Banyak, kawan! Kerjasama tim, ramahnya orang desa, bersatunya orang desa, hingga betapa orang desa itu akan menganggap kau saudara meskipun baru bertemu sekali dua. Seperti Benser yang kemudian, berbulan-bulan kemudian, masih menghubungi kami meminta bantuan mendokumentasikan pernikahan anaknya, hahaha. Benser ini baik banget meskipun kalau ngomong kayak orang berantem. Tipikal Orang Flores memang begitu, tidak bisa bicara pelan hahaha.

Kadang-kadang saya kasihan juga sama ibu hamil di desa, apalagi desanya di balik bukit (berbukit-bukit). Mereka harus berjuang sejak kehamilan sampai melahirkan. Mereka tidak kenal produk mutakhir untuk ibu hamil dan anak baru lahir. Tidaaaak! Mereka hanya kenal penanganan dasar ibu hamil yang sesuai anjuran bidan. Maka, berbahagialan ibu-ibu yang tinggal di kota, apalagi yang jarak rumahnya sangat dekat dengan fasilitas kesehatan (faskes) dan bisa tahu soal produk-produk mutakhir untuk ibu hamil.

Pernah, saya pernah begitu ... melakukan semua itu dengan gembira karena banyak pengalaman yang saya alami dan pengalaman itu tidak bisa ditukar Rupiah. 

Baca Juga : #PDL Cerfet, Cerita Estafet

Bagaimana dengan kalian? Punya pengalaman serupa?


Cheers.

250 Blog Untuk Desa di Flores Timur


Saya belum mengenalnya lebih dekat. Kami hanya berkenalan lewat media sosial Facebook dan membaca tulisannya di blog masing-masing. Nama Facebook-nya Simpet Soge. Nama blog pribadinya Simpet Adonara. Itu memang bukan nama akta kelahiran atau KTP tetapi ada satu hal yang pasti pada nama itu yaitu Adonara, sebuah pulau di depan Pelabuhan Larantuka, pulau eksotik yang pernah saya jelajahi dari ujung Barat ke ujung Timor menggunakan pick up.

Baca Juga:

Adalah biasa kami kadang saling membalas komentar di Facebook dari status masing-masing dan saya bertanya tentang blog-nya yang belum ada pos baru. Kemudian saya kaget membaca komentarnya yang dapat kalian lihat pada awal pos ini: ini lagi sibuk bikin blog desa untuk Flotim, ada 250 blog desa yang sudah dibuat, sedang progres posting nih. DUA RATUS LIMA PULUH BLOG UNTUK DESA-DESA YANG ADA DI FLORES TIMUR.

Sengaja caps lock. Sengaja!

Flotim (Flores Timur), kabupaten terujung Timur Pulau Flores, yang terkenal dengan perayaan Semana Santa (Paskah), yang tekenal dengan jagung titi, yang terkenal dengan dua pulau di depan Pelabuhan Larantukanya: Pulau Adonara dan Pulau Solor. Kalian sudah pernah ke sana? Kalau belum, pergi lah ke sana dan nikmati semua keindahan Flores Timur.

Kembali ke Simpet Soge.

Melalui layanan obrolan Facebook saya jadi tahu bahwa 250 blog itu idenya sederhana; hanya meminta ijin repost konten teks maupun foto dari medsos tentang desa-desa yang ada di Flores Timur. Juga nanti mereka akan mengajak teman-teman untuk bergabung mengisi kontennya. Untuk sementara, sedang pos informasi-informasi dasar tentang desa yang bersangkutan saja dulu, untuk konten foto dan teks nanti menyusul. Yang jelas, blog dari seluruh desa di Flores Timur sudah dibuat dengan semangat 45. Boleh saya curi semangat 45-nya?

Dari itu, muncul lah status ini di akun Facebook saya:

Nama FB-nya Simpet Soge sedangkan nama blognya Simpet Adonara. Simpet, bukan Sampeth 😂 Saya suka tulisan di blog-nya tentang Adonara. Lama tidak update blog, ternyata dia sedang bikin blog desa, sebanyak 250 blog desa! Maaakkk! Luar biasaaaa! Dan sekarang sedang dalam proses posting-posting. Bangga melihatnya. Bangga dan senang! Ini salah satu cara promosi daerah gratis, cara mengajar / mengajak menulis, cara yang sederhana membangun daerah.

Jadi ingat dalam filem Linimassa ada desa internet, ada juga desa yang menggunakan website untuk informasi perkembangan petani, panen, harga hasil panen, dan lain sebagainya. Saya jadi ingat pernah mengisi materi blog untuk bapak-bapak petani di Hotel Silvia Maumere gara-gara Bang @Antonemus.

Keren kan, Om Bisot?

Jika kalian mengeluh ini itu hanya karena tidak bisa FBan, atau komplain tentang hidup kalian di media sosial, maka lihatlah Om Simpet dengan 250 blog untuk desa-desa di sana! Salut maksimal! Apabila penduduk desa bisa ngeblog, mereka seribu langkah lebih maju!

Yang di Hotel Silvia Maumere, dari status di atas, saya mengajar para petani Se-Flores-Lembata yang berada di bawah naungan VECO untuk membuat akun e-mail di Gmail, membuat blog, dan membuat akun sosial media seperti Twitter dan Facebook.

Bahwa sekarang blog-blog desa itu masih memuat informasi dasar, tidak masalah. Yang penting adalah semangatnya yang inspiratif. Karena, dengan sendirinya nanti anak-anak di setiap desa dan kecamatan dapat membantu mengisi konten. Kembali lagi ke persoalan menulis untuk dibaca banyak orang kan? Ih saya jadi gemas hehehe. Salah satu blog desa yang bisa kalian lihat adalah blog desa Watobaya. Kontennya sudah lumayan banyak dan dikelola dengan sangat baik oleh Simpet. 

Yang menyenangkan dari 250 blog desa dari Kabupaten Flores Timur ini adalah setiap blog bisa saling terkoneksi. Ini kan motivasi, menurut saya. Ketika 'yang pegang' atau pengelola (setelah/selain Simpet) blog desa A melihat pos blog desa B lebih baik, dia akan berusaha untuk lebih baik juga. Dan jelas, tujuan utama mereka saat ini adalah bagaimana desa mereka dikenal dengan segala macam kegiatan serta permasalahan yang ada. Tahu langsung dari sumbernya itu jauh lebih baik.

Mereka belum memikirkan tentang pengunjung.
Mereka belum memikirkan tentang monetize.
Mereka bahkan tidak terpikirkan tentang review produk.

Yang mereka tahu adalah membangun desa / daerah mereka, salah satunya lewat blog.

Lagi; apabila penduduk desa bisa nge-blog (sedangkan penduduk kota sibuk di media sosial nyetatus ini-itu tentang hal-hal yang mungkin mereka sendiri tidak paham), maka penduduk desa seribu langkah lebih maju. Ini pendapat pribadi saya, kalau kalian tidak setuju, bikin opini kalian sendiri dan tulis di blog. Haha.

Impian saya untuk memasyarakatkan blog di tahun 2003-an, kerja keras mengajak orang lain nge-blog, dari satu workshop ke workshop lain, kelimpungan cari proyektor agar kegiatan belajar nge-blog lebih asyik, membujuk orang-orang untuk hadir, bikin materi dan tutorial, ngomong sampai mulut berbusa ... memang pelan-pelan telah terwujud. Dan kini, Simpet Soge mewujudkan, mungkin, mimpinya, di ujung Timur Pulau Flores sana, di Kabupaten Flores Timur.

Bangga dan salut.


Cheers.

5 Persiapan Menjadi Mahasiswa (Baru) di Uniflor


Mahasiswa/i semester akhir, khususnya mahasiswa/i Universitas Flores (Uniflor), yang telah selesai mengikuti ujian skripsi boleh bernafas lega. Saat ini mereka sedang mempersiapkan semua berkas untuk pendaftaran yudisium dikarenakan batas akhir pelaksanaan yudisium adalah tanggal 16 Agustus 2018 (CMIWW). Bahkan sebagian besar sudah selesai mendaftar yudisium di program studi masing-masing, tentu dengan melampirkan semua persyaratan yang disyaratkan. Salah satu syarat penting adalah surat keterangan dari prodi: abstrak yang sudah dites tingkat plagiatnya menggunakan software yang standartnya ditetapkan oleh Dikti (tidak lebih dari 50%). Abstrak yang sudah lolos tes plagiarisme ini yang akan diunggah.

Saya dan teman-teman Prodi Ilmu Hukum di Fakultas Hukum justru sedang mempersiapkan kegiatan yudisium yang akan dilaksanakan Insha Allah tanggal 10 Agustus 2018. 



Baca Juga:


Mahasiswa/i aktif mulai merasa bosan karena lamanya waktu liburan sejak akhir puasa, Hari Raya Idul Fitri, sampai sekarang. Mereka masih menunggu calon mahasiswa/i baru selesai mengikuti kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) sebelum tahun akademik baru dimulai. PKKMB di Uniflor akan dimulai sekitar tanggal belasan (kalau tidak salah 13 Agustus 2018) dengan ragam kegiatan yang telah dipersiapkan oleh panitia. Thika Pharmantara mulai uring-uringan karena keseringan ngorok sampai pipinya tembem. Hihihi.


Bagaimana dengan calon mahasiswa/i (baru)? Atau mereka-mereka yang disebut cama-cami (calon mahasiswa-calon mahasiswi)? Setelah mendaftar dan mengikuti ujian masuk Uniflor (Gelombang I dan Gelombang II) mereka wajib mengikuti kegiatan PKKMB untuk memperoleh sertifikat. Sertifikat PKKMB, atau masih disebut Sertifikat Ordik, menjadi salah satu syarat pendaftaran yudisium, kelak. Tanpanya, berkas kalian dianggap tidak lengkap. Jangan dianggap remeh, ya.

Melepas masa SMA dengan memasuki kehidupan kampus menghadirkan euforia tersendiri. Tapi memasuki kehidupan kampus bukan berarti kalian bisa full time senang-senang hahaha. Beberapa prodi membuat jadwal kuliah pagi pukul 07.00. PGSD di FKIP bahkan menerapkan kewajiban mengenakan seragam warna biru dan cokelat. Beberapa dosen punya aturan tersendiri diantaranya mahasiswi wajib mengenakan rok saat perkuliahan berjalan. Menjadi mahasiswa/i tidak sama dengan melepas semua kegiatan saat masih SMA. Justru kegiatan kalian bakal semakin padat merayap: kuliah - UKM - berbagai kegiatan prodi - berbagai lomba antar kampus - dan lain sebagainya.

Selamat datang di dunia mahasiswa/i Uniflor.

Jadi, apa yang perlu dipersiapkan oleh calon mahasiswa/i (baru) di Uniflor? Berdasarkan pengalaman banyak orang, ini dia rangkuman saya tentang 5 (lima) persiapan menjadi mahasiswa (baru) di Uniflor.



1. Siap Untuk Mengenal Lebih Banyak Orang

Uniflor adalah universitas pertama di Pulau Flores yang kini berusia 38 tahun. Seumuran ini, sudah banyak Sarjana yang ditetaskan. Nah, siapa saja kah yang mengenyam pendidikan di Uniflor?

Yang pertama:
Lulusan SMA/sederajat dari berbagai kabupaten baik kabupaten yang ada di Pulau Flores maupun yang di luar Pulau Flores. Bahkan banyak mahasiswa yang berasal dari Pulau Sumba, Pulau Timor, bahkan Papua.

Yang Kedua:
Bapak / Ibu / Kakak-Kakak pegawai kantoran, baik itu ASN, militer, maupun swasta. 

Karyawan/karyawati Uniflor mengikuti Upacara Senin.

Di Uniflor kalian akan berhadapan dengan ribuan orang (mahasiswa/i, dosen, karyawan, sekuriti, cleaning service, dan tetangga sekitar kampus) dengan karakter mereka masing-masing. Apabila saat SMA rata-rata teman kalian berasal dari suku dan/atau kabupaten yang sama, maka saat kuliah teman kalian akan datang dari banyak suku dan/atau kabupaten. Sama halnya dengan dosen, karyawan, sekuriti, cleaning service, hingga tetangga sekitar kampus seperti kios dan warung makan.

Siap mengenal lebih banyak orang salah satunya adalah singkirkan sifat kalian yang dulunya suka bikin meme soal dialek dan/atau cara hidup teman dari kabupaten sebelah. Lebih baik menghindarinya ketimbang nanti kena jotos karena yang bersangkutan merasa dihina (meskipun maksud kalian sekadar buat lucu-lucuan).

2. Siap Untuk Selalu Rapi

Di Uniflor kalian harus mentaati peraturannya yaitu wajib mengenakan baju berkerah (kalau kaos harus kaos berkerah) dan wajib bersepatu. Kalau soal celana atau rok, mana-mana saja alias bebas. Kecuali aturan beberapa dosen yang mewajibkan mahasiswi mengenakan rok saat perkuliahan. Jangan sampai kalian ditahan oleh sekuriti di gerbang hanya karena mengenakan kaos oblong dan sandal. Semahal apapun harga sandal kalian, tidak akan mampu bersaing dengan sepatu seharga seratusan ribu. 

3. Siap Untuk Menghadapi Sistem KRS Online

Kalau kalian berasal dari daerah yang jarang menggunakan komputer, maka di Uniflor kalian harus siap berhubungan dengan komputer karena KRS dijadwalkan menggunakan sistem online. Setiap prodi menyiapkan komputer untuk kebutuhan yang satu ini. FKIP merupakan fakultas dengan komputer untuk KRS online terbanyak. Sama halnya juga pada saat kalian hendak memeriksa hasil studi atau KHS, silahkan gunakan komputer yang sama. Tapi karena namanya online, maka untuk menjadwal KRS atau sekadar mengecek KHS, kalian juga bisa menggunakan gadget (terlebih jika tidak ingin mengantri). Silahkan akses http://uniflor.ac.id. Username dan password dapat diminta di prodi masing-masing.

Diskusi a la anak Teknik.

Selain itu, di Uniflor, pada semester awal selalu ada mata kuliah komputer (Aplikasi I dan Aplikasi II). Perkuliahannya dilaksanakan di Laboratorium Komputer; tersedia 4 (empat) kelas yang full-ac, LCD, serta masing-masing kelas disediakan sekitar 40 (empat puluh)-an perangkat komputer.

Jangan dianggap remeh ya, Sertifikat Komputer ini merupakan salah satu syarat untuk mendaftar yudisium. 

4. Siap Untuk Menikmati Beragam Fasilitas

A-ha! Kuliah di Uniflor sama dengan siap menikmati beragam fasilitas yang disediakan. Ragam fasilitas tersebut adalah:

Yang Pertama:
Fasilitas tenaga pengajar/dosen yang semuanya Magister dan Doktor.

Yang Kedua:
Fasilitas ruang kelas yang moderen di mana tersedia puluhan kelas untuk ruang kuliah dan setiap kelas tersedia komputer + LCD.

Yang Ketiga:
Fasilitas pembayaran biaya kuliah dengan unit 2 (dua) bank yang terletak di dalam kampus yaitu Bank NTT dan BNI. Jadi kalian tidak perlu lelah pergi ke kantor pusatnya. Selain itu, di Kampus I tersedia ATM-Center untuk Bank NTT, BNI, dan BRI.

Yang Keempat:
Fasilitas untuk KRS Online.

Yang Kelima:
Beasiswa yang dapat diperoleh dengan memenuhi persyaratan yang ditentukan.

Yang Keenam:
Klinik gratis bagi mahasiswa/i Uniflor dengan dokter Lily Londa dan petugas medis (bidan dan perawat) yang mumpuni.

Yang Ketujuh:
Fasilitas perpustakaan. Perpustakaan utama terletak di Kampus I berdekatan dengan Auditorium H. J. Gadi Djou. Sedangkan setiap fakultas dan prodi mempunya perpustakaannya masing-masing. Buku bukan menjadi masalah karena lengkap! Tinggal mahasiswa/i-nya saja yang kudu rajin. Apalagi di perpustakaan sudah ada sistem komputer jadi tinggal mengetik judul bukunya saja.

Yang Kedelapan:
Fasilitas UKM. UKM ini banyak sekali, silahkan dipilih oleh mahasiswa/i masing-masing. UKM di bidang olahraga (voli, futsal, sepakbola, kempo), UKM choir (Eos Magneta) yang untuk menjadi anggotanya wajib mengikuti sejumlah tes, UKM Mapala yang bernama Flopala, UKM Resimen Mahasiswa (Menwa), dan lain sebagainya. Dulu ada UKM Marching Band tetapi untuk sementara dihentikan. 

Yang Kesembilan:
Free Wi-fi area. Bahkan di beberapa fakultas menyediakan free wi-fi untuk mahasiswa/i-nya selain secara umum titik free wi-fi yang tersebar di Kampus I, Kampus II, dan Kampus III.

Yang Kesepuluh:
Kantin dengan menu terrrr-oke dan murah meriah.

Yang Kesebelas:
Arena olah raga yang sesuai standart seperti lapangan futsal dan lapangan voli. Dulunya arena bulu tangkis terdapat di dalam Auditorium H. J. Gadi Djou, tetapi setelah direnovasi belum dibuat lagi arena untuk bulu tangkis ini.

Yang Keduabelas:
Percetakan dan tempat fokopi Uniflor yang terletak di Kampus I. Kalian tidak perlu kuatir jika ingin fotokopi atau ingin menjilid skripsi.

Yang ke ... aaaah banyak sekali fasilitasnya! Kalian tidak perlu bingung lah kalau kuliah di Uniflor bakal dapat segitu banyaknya fasilitas hahaha. Ini belum lagi fasilitas milik kampus seperti soundsystem; jika kalian ingin bikin acara di aula (setiap fakultas punya aulanya masing-masing), silahkan bersurat, dan pihak teknisi untuk soundsystem akan memasang perangkat soundsystem untuk mendukung kegiatan kalian. Atau ... kalian diwajibkan untuk mengikuti sejumlah kuliah umum/kuliah tamu.

5. Siap Mengembangkan Bakat

Setiap mahasiswa diberikan kesempatan untuk mengembangkan bakat mereka. Paling umum adalah bakat memimpin. Dengan mengikuti ajang pemilihan ketua BEM baik itu BEM tingkat fakultas maupun BEM tingkat universitas, kalian akan menempa diri kalian menjadi pemimpin kelak. Selain itu bakat-bakat yang lain tidak diabaikan; oleh karena itu UKM disediakan bagi mahasiswa. Jenis UKM sudah saya tulis di atas. Salah satunya yaitu Eos Magneta Choir itu selalu tampil saat perhelatan wisuda. Ada pula mahasiswa yang sering didaulat menjadi MC saat kegiatan-kegiatan kampus. 

Universitas Flores, Mediator Budaya.

Memilih menjadi mahasiswa/i di Uniflor bagi kaum muda termasuk pilihan tepat, apalagi jika fakultas yang dicari adalah Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, Fakultas Pertanian, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ekonomi, Fakultas Bahasa dan Sastra, serta Fakultas Teknologi Informasi. 

Menjadi mahasiswa/i Uniflor sama juga dengan menjadi mahasiswa/i di universitas lain di Pulau Timor, Pulau Bali, Pulau Sulawesi, Pulau Kalimantan, Pulau Sumatera, Papua, maupun Pulau Jawa. Bedanya, kalau kalian anak NTT dan termasuk anak kos, jika kehabisan stok makanan bisa minta dikirimkan sama orangtua hehehe. Yang dari Pulau Sumba maupun Pulau Timor, pengiriman menggunakan kapal feri hanya belasan jam saja. Yang dari luar kota pengiriman bahan makanan hanya beberapa jam saja. Pengiriman uang? Ada ATM-Center di Kampus I. Urusan makan ini juga tidak sulit karena ada Warung Damai yang terkenal sebagai warung nomor wahid di area kampus dengan harga bersahabat sama kantong mahasiswa. Mau masak sendiri? Tidak perlu jauh-jauh ke pasar karena di sekitar kampus terdapat lapak-lapak mini yang menjual ragam sayur dan kebutuhan dapur. 

Jadi, itu dia 5 (lima) persiapan menjadi mahasiswa/i (baru) di Uniflor. Siap untuk mengenal lebih banyak orang (ribuan), siap untuk selalu rapi, siap untuk mengenal KRS Online, siap menerima ragam fasilitas, dan siap untuk mengembangkan bakat kalian. Tantangan menjadi mahasiswa memang cukup berat, tapi barang siapa yang mampu menghadapinya, dia akan tahu bahwa hasil tidak pernah mengkhianati usaha.

Selamat menjadi mahasiswa/i UNIFLOR.
Bagi kalian yang telah lolos ujian dan mengikuti PKKMB.



Cheers.