5 Youtuber Ende

Gambar Youtube diambil dari Wikipedia.

Youtube sudah jadi 'mainannya' semua orang. Zaman dulu kami yang di Ende sini masih pikir-pikir buat main agak lama di Youtube, sekadar menonton video pun, karena akses internet yang terbatas dan mahalnya bukan kerja main. Zaman sekarang, jangankan sekadar menonton video, mengunggah video pun lancar jaya kayak bis Ende - Larantuka. Huray lah. Meskipun kalian bakal bilang mahal, tapi paket internet dari Telkomsel terbilang murah untuk kami, seratus ribu bisa dapat 12GB, dan bisa dipakai sebulan. Paket internet dari IndiHome pun cukup murah karena dengan tiga ratus lima puluh ribu bisa dapat 10Mbps, bisa dipakai sebulan buat orang serumah ditambah satu dua tetangga.

Baca Juga: 5 Menu Breakfast

Balik lagi ke Youtube.

Gara-gara sering main di Youtube, melihat penambahan satu dua subscriber yang merangkak perlahan, saya jadi suka juga menonton video-video yang diunggah oleh Orang Ende. Videonya macam-macam. Ada video musik, ada video live suatu kegiatan, ada video drama, dan lain sebagainya. Pada akhirnya ada lima Youtuber Ende yang jadi favorit saya. I mean, saya jadi sering menonton video-video mereka. Saya pikir tidak ada salahnya berbagi tentang Youtuber Ende ini dengan kalian. Siapa tahu kalian terhibur sembari mengisi waktu puasa.

Cekidot!

1. Martozzo Hann


Mister Hann yang mengaku handsome ini masih keponakan saya. Kami sering kerja bareng terutama proyek-proyek video dokumenter begitu. Subscribers-nya sudah mencapai 4.820! It's awesome. Channel-nya pun sudah di-monetize. Suatu malam kami berdua mengobrol tentang video-video di Youtube dan saya bertanya tentang pemasukan yang dia peroleh dari channel-nya itu. Angka yang dia sebutkan cukup fantastis. Menurut saya, angka itu fantastis. Saya mengakui Tozzo, demikian saya biasa memanggilnya, terutama kehebatannya menyunting video dengan hasil ciamik. Bagi kalian yang penasaran, silahkan cek channel-nya. Banyak video musik di sana. Jadi, sekalian lihat videonya sekalian mendengar lagu-lagu kami Orang Ende.

2. Ihsan Dato


Om Ihsan, demikian saya memanggilnya, meskipun usia kami tidak terpaut jauh. Om Ihsan, sama seperti saya, adalah pegawai Yayasan Perguruan Tinggi Flores yang menaungi Universitas Flores. Bedanya saya adalah anggota UPT Publikasi dan Humas sedangkan Om Ihsan adalah KTU Fakultas Teknologi Informasi. Subscribers-nya saat ini mencapai 1.578! Video-video di channel Youtube milik Om Ihsan banyak bercerita tentang Ende. Jadi, kalau kalian ingin melihat lebih dekat tentang Ende, silahkan berkunjung ke sana. Mulai dari Ende sebagai Kota Seribu Masjid, Penjemputan Romo, Permainan Anak-Anak, Tarian khas Ende, sampai tempat membeli takjil saat Ramadhan. Menurut saya channel Youtube Om Ihsan ini paket komplit.

3. Komsos Keuskupan Agung Ende


Ini dia salah satu channel favorit saya. Mau mencari drama/filem pendek tentang kehidupan, refleksi, terutama tentang Agama Katolik? Silahkan kunjungi channel yang satu ini. Subscribers-nya sudah mencapai 3.666! Selain drama/filem pendek yang diunggah di sana, ada pula kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan Gereja, Sekami, OMK, dan lain sebagainya. Ini channel tidak hanya bagus banget untuk kawan sekalian yang beragama Katolik, tapi juga saya yang beragama Islam, karena drama/filem pendeknya itu menyentuh kehidupan umum manusia. Silahkan dicek ya channel-nya.

4. Luis Thomas Ire


Siapa sih yang tidak kenal Luis Thoma Ire dengan Fiorola Band-nya? Saya pernah menulis tentangnya di pos Putera-Puteri Matahari Dari Timur Negeri. Uis demikian saya memanggilnya, merupakan musisi terjenius dari Kabupaten Ende yang pernah saya kenal. Musik-musiknya, lagu-lagu ciptaannya, super keren. Video musiknya, walaupun ada yang sederhana, tapi sangat mendukung musik/lagu ciptaannya. Terberkatilan kami Orang Ende punya seorang Uis, meskipun darah yang mengalir di dalam tubuhnya adalah darah Manggarai, hehe. Channel Youtube-nya yang punya 574 subscribers itu tidak saja berisi video musik lagu ciptaan sendiri, tetapi juga lagu-lagu yang di-cover. Setiap kali mendengar lagu-lagunya, perasaan saya jadi adeeeeem. Demikian.

5. SUC Endenesia


Saya sendiri yang membikin akun Youtube-nya. Saya juga mengidolakannya. Channel ini masih sangat baru. Subscribers-nya pun baru 10! Tapi saya suka, ha ha ha. Karena di channel ini lah saya dan kalian semua dapat menonton video para komika dan calon komika Ende (dan sekitarnya) ber-stand up comedy. Di channel ini lah kita semua bisa melihat video yang memang lucu, separuh lucu, atau bahkan tidak lucu sama sekali. Tapi, proses yang ditempuh itu yang patut diacungi jempol. Makanya, kalian juga bisa melihat proses para komika melalui video open mic, atau para calon komika melalui video lomba. I love it.


Itu dia lima Youtuber Ende favorit saya. Kalian sendiri, punyakah Youtuber favorit asal kota kalian sendiri? Kalau punya, bagi tahu donk ... siapa tahu saya bisa main ke sana dan menontonnya. Semoga rekomendasi lima Youtuber Ende ini dapat menghibur kalian dan bisa kalian jadikan hiburan sembari mengisi waktu puasa. Semoga.

Selamat melanjutkan puasa!



Cheers.

SUCEndenesia #1


Kenapa saya hitam seperti ini? Karena saya biar Orang Sabu tapi saya darahnya blasteran. Sombong sedikit, blasteran. Hasil kawin silang antara bunga desa cantik mempesona dari Pulau Raijua dengan seorang pejantan hitam keriting tidak tahu malu dari Nangaroro. Mungkin waktu saya punya bapa ketemu saya punya mama, ajak saya punya mama nikah tuh dengan satu tujuan supaya bisa merubah keturunan. Tapi sayang sekali di eskperimen pertamanya dia harus pasrah bahwa dia gagal karena hasilnya seperti ini. Tapi saya akui saya punya bapa itu orangnya semangat. Dia berjuang dalam segala hal, dia tidak pernah putus asa. Setelah saya, dia berjuang tiga kali lagi, eksperimen tiga kali lagi. Dan syukurlah akhirnya dia sadar bahwa dia tidak akan pernah bisa buat keturuanan yang baru. Tiga ke bawah itu tambah hancur ..."

Baca Juga: Buruh Migran

Itu sepenggal ocehan Hendra, Juara III Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1, yang diselenggarakan Sabtu 4 Mei 2019, berlokasi di Miau Miau Cafe - Ende. Ya, seperti yang sudah kalian baca di pos Lomba SUC Endenesia. Kegiatan yang berawal dari kelompok kecil; Udo Petuz, Andi Ginta, dan saya, akhirnya terlaksana. Dari sepuluh calon komika yang mendaftar, satu mengundurkan diri, setelah diganti lagi dengan pendaftar baru, dua lagi mengundurkan diri. Menjelang lomba, satu peserta tidak datang. Lomba berjalan dengan delapan peserta yang dengan penuh tekad dan semangat ingin menunjukkan kemampuan mereka memancing tawa para penonton. Bagi saya pribadi, lebih baik memancing ikan ketimbang memancing tawa penonton. Susahnya minta ampun. Makanya saya tidak ikut-ikutan melucu hahaha.

Peserta


Delapan peserta adalah King, Bocor, Fadil, Andara, Lino, Sultan, Tulen, Hendra. Mereka berdelapan, ada yang asli Orang Ende ada yang akarnya dari kabupaten tetangga, mempunyai karakteristik masing-masing dengan tema utama tentang Ende. Ya, banyak hal yang bisa digali dari Kabupaten Ende untuk dijadikan bahan stand up comedy. Para peserta itu, ada yang tanpa harus berusaha melucu namun pandai bermain diksi dan sudah bikin penonton terpingkal-pingkal. Ada berusaha melucu namun belum menemukan passion-nya. Tapi semuanya sangat kami hargai (kami: panitia, sesama peserta, penonton). Karena ... kami sedang sama-sama belajar dunia stand up comedy.

Menariknya, beberapa peserta tidak saja ber-stand up comedy tetapi juga menampilkan aksen dan impression. Seperti Bocor dan Fadil. Aksen, tentu aksen dari dua suku yang ada yaitu Suku Ende dan Suku Lio. Sedangkan impression macam-macam mulai dari suara derit pintu sampai terguling di lantai. Yang jelas, bagi saya pribadi, delapan peserta Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1 sungguh luar biasa. Mereka berani. Dan keberanian lah yang kelak akan mengantar manusia pada kesuksesan. Termasuk berani gagal. Hei, gagal adalah sumber kesuksesan. Percayalah.

Tema


Kami menentukan tema tentang Ende. Seperti yang sudah saya tulis di atas, banyak hal yang bisa digali dari Kabupaten Ende untuk dijadikan bahan ber-stand up comedy. Terbukti, para peserta membawa tema seperti jalanan berlubang di Kota Ende, dunia pendidikan, sampai dunia asmara. Huhuy! Jalanan berlubang ini memang paling banyak diangkat. Hehehe. Andaikan saya boleh membocorkan satu dua ide, tapi saya tidak sempat bertemu para peserta, banyak sekali yang bisa dijadikan bahan. Misalnya: Orang Ende itu kalau ada temannya sukses pasti bilang 'teman saya tuh!' tapi kalau orang yang sama gagal pasti bilang 'eeee siapa ya dia?'. Itu lelucon ... jangan baper.

Jawara


Dari delapan peserta, sejujurnya, memang mudah menentukan siapa yang menang. Karena, menurut saya pribadi, ada jarak yang agak jauh antara mereka meskipun sama-sama baru pertama kali ber-stand up comedy. Tapi saya dan Udo harus berembug cukup alot pula tentang tiga juara yang diumumkan usai lomba ini. Kami harus mempertimbangkan tema, set up hingga punch, dan lain sebagainya. Kami tidak bisa menilai dari tawa penonton saja. Karena, ada peserta yang leluconnya memang sudah akrab di suatu komunitas sehingga sudah pasti orang-orang dari komunitas tersebut terpingkal-pingkal sedangkan yang lain belum tentu. Selain itu, durasi juga cukup dipertimbangkan. Sepuluh menit adalah durasi yang ditetapkan. Artinya, bisa kurang sedikit atau lebih sedikit. Sedikit ... tidak boleh terlalu banyak.

Baca Juga:  Politik Itu Abu-Abu

Pada akhirnya saya dan Udo mengantongi tiga nama:
Juara I - Fadil.
Juara II - Sultan.
Juara III - Hendra.

Selamat kepada para juara. Jangan lupa setiap Jum'at malam kita ketemu di Miau Miau Cafe.

Terima Kasih


Lagi, saya tertampar dan malu. Seperti yang sudah saya tulis pada pos tentang lomba ini, saya tertampar dan malu karena Andi Ginta sebagai penyandang dana kegiatan ini bukanlah Orang Ende tetapi Orang Manggarai. Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Mendukung dengan berbagai cara agar kegiatan ini terselenggara; menjadi panitia, menjadi penonton, menjadi orang yang menyebarkan informasinya. Itu bentuk-bentuk dukungan yang bisa kita lakukan.

Terima kasih Andi Ginta untuk semuanya; dana kegiatan, ini itu, sampai makan malam panitia dan peserta! Uh wow sekali ya. Saya tidak menyangka dan semakin malu dibuatnya hahaha. Saya sampai terkejut saat selama rembug juri, Andi memberikan kompensasi pada penonton yang berani maju dan ber-stand up comedy di panggung ... instan. Ada? Adaaaa! Tiga pula! Hahaha. Kocak.

Terima kasih Udo Petuz untuk semuanya; membangun Stand Up Comedy Endenesia, inisiasi awal, sampai akhirnya kegiatan ini terselenggara.

Kalau saya bilang kita bertiga hebat. Tidak. KITA BERTIGA HEBAT SEKALI. Ha ha ha. Sombong sedikit kan boleh. Mungkin karena ditempa oleh pengalaman dari banyak komunitas, mengenal banyak karakter, berusaha untuk lebih bisa mengendalikan diri, dan punya jiwa kerja dan membangun, akhirnya lomba ini dapat terselenggara. Terselenggara dari sebuah kelompok kecil beranggotakan tiga orang. Dan kita siap untuk membesarkannya ... kita sudah punya tambahan anggota delapan orang. Semakin kuat, semakin baik, asal kekuatan itu dibarengi dengan cinta kasih. Ibarat ilmu ... ilmu tanpa guru bisa jadi sesat.

Kelanjutan dari Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1 adalah open mic setiap Jum'at malam di Miau Miau Cafe dan lomba per tiga bulan yang sudah kami canangkan untuk menggali lebih banyak potensi calon komika Kabupaten Ende dan sekitarnya. Selain itu, Andi Ginta sudah berbicara tentang lomba dari lini musik ... akustikan begitu. Uh wow sekali hehehe. Bagaimana dan seperti apa, nanti baru didiskusikan bersama. 


Demikian kawan cerita dari Lomba Stand Up Comedy Endenesia #1. Untuk sementara video-videonya masih saya unggah ke akun Youtube saya. Sampai saat ini saya belum membikin akun Youtube khusus Stand Up Comedy Endenesia hehehe, nanti ya. Kalau mau menonton, silahkan. Sederhana. Mungkin ada yang bilang lucu, ada pula yang bilang tidak lucu. Tapi kami menerima semua kritik dengan tangan terbuka. Karena hanya orang sombong saja yang tidak menerima kritikan. Tapi, lagi, harus bisa membedakan antara kritikan dan hinaan ya hahaha soalnya kritik dan hinaan dibatasi selembar kertas super tipis.

Terima kasih untuk doa dan dukungannya. Demi Ende tercinta.

Life is good. It must be.

Baca Juga: Jaga Waka Nua

Selamat menjalankan ibadah puasa untuk saya dan kalian semua yang menjalankannya. Semoga puasa kita lancar.



Cheers.

5 Steps To Marriage


Minggu, 24 Maret 2019, merupakan hari yang paling ditunggu oleh Keluarga Besar Pharmantara, Pua Ndawa, Bata, dan Pua Djombu. Hari itu merupakan hari perkawinan keponakan saya Angga dengan seorang perempuan cantik nan bersahaja bernama Titin. Keduanya tidak pacaran melainkan memilih melalui proses ta'aruf. Luar biasa ya ketika sepasang suami-isteri menikah, kemudian, setelah sebelumnya melalui proses ta'aruf. Tidak semua pasangan melakukan ta'aruf, memang, tergantung keinginan masing-masing.

Baca Juga: 5 Gaya Zawo Zambu

Seperti yang sudah sering saya tulis, bahwa di Kabupaten Ende hidup dua suku yaitu Suku Ende dan Suku Lio, tentu proses menuju pelaminan pun agak berbeda antara keduanya. Suku Ende, khususnya bagian pesisir pantai Kota Ende, terakulturasi dengan budaya Bugis atau Makassar dan Agama Islam. Kebanyakan Suku Lio terakulturasi dengan budaya Portugis (dari Flores Timur) dan Agama Katolik. Tahapan menuju perkawinan Suku Lio yang bergama Islam pun tidak sama persis dengan tahapan menuju perkawinan dari Suku Ende yang beragama Islam. Yang sama itu secara syariat Islam-nya. Secara adat/budaya masih ada perbedaannya.

Berdasarkan perkawinan kedua kakak saya, Kakak Nani Pharmantara dan Babe Didi Pharmantara, yang sama-sama menggunakan adat Suku Ende, pun baru-baru ini keponakan saya Angga yang menikahi Titin yang juga menggunakan adat perkawinan Suku Ende, saya bisa menyusun tentang 5 tahap menuju perkawinan. Cerita lain tentang perkawinan adat dari Suku Ende ini bisa kalian baca pada pos Pola Timbal Balik.

Baiklah, sesuai dengan judul, saat ini saya menulis tentang lima langkah yang wajib dilewati oleh calon pengantin sebelum Perkawinan. Untuk mempermudah penjelasan, si laki-laki saya tulis dengan nama Rojak, da si perempuan saya tulis dengan nama Rubiyah.

Cekidot!

1. Ta'aruf dan/atau Pacaran


Tidak semua pasangan memilih proses ta'aruf. Tidak semua pasangan memilih proses pacaran. Mana-mana suka, kembali pada kemauan masing-masing. Kalau melihat dari sisi syariat, ya jelas ta'aruf, agar terhindar dari perbuatan dosa. Namun, tidak selamanya pula orang yang pacaran itu melakukan perbuatan dosa karena mampu menahan diri dari godaan iblis. Insha Allah. Perkara-perkara ini tidak bisa dipukul sama rata. Itu pendapat saya pribadi.

2. Temba Zaza


Temba zaza atau timbang rasa merupakan kunjungan awal utusan orangtua Rojak ke rumah Rubiyah setelah mengetahui bahwa Rojak dan Rubiyah telah ber-ta'aruf dan/atau pacaran, serta berniat serius menuju pelaminan. Menurut pengamatan saya, temba zaza merupakan langkah pengukuhan. Sehingga secara adat kalau dilihat dari hubungan pacaran (bukan ta'aruf), baik orangtua Rojak dan Rubiyah, keluarga, tetangga, hingga teman-teman, tidak perlu mempertanyakan lagi: siapakah gerangan laki-laki yang sering bersama Rubiyah. Atau, siapakah gerangan perempuan yang sering diajak jalan-jalan sama Rojak.

Saat temba zaza, utusan orangtua Rojak akan membawa kue-kue dan buah-buahan yang diletakkan di atas dulang. Setelah itu, bisa jadi keesokan harinya keluarga Rubiyah memulangkan dulang-dulang tersebut, tapi bukan dulang kosong, melainkan ada isinya pula. Bisa pula dulang-dulang tersebut tidak perlu dikembalikan oleh keluarga Rubiyah. Tapi proses ini belum disebut bhaze duza (balik dulang). Tapi pola timbal balik tetap ada.

Usai temba zaza, maka keluarga Rojak dan Rubiyah melakukan pertemuan untuk berembug dan menentukan bersama beberapa perkara seperti diantaranya: hari dan tanggal nai ono (masuk minta atau lamaran) beserta buku pelulu, apa-apa saja yang perlu dibawa pada hari itu, termasuk tentang uang isi kumba isi ae nio. Uang isi kumba isi ae nio ini nantinya diserahkan kepada paman-paman dari Rubiyah, yang akan dibalikin dalam bentuk barang. Untuk itu, silahkan baca lagi pos Pola Timbal Balik, ya.

3. Nai Ono dan Buku Pelulu


Nai ono (masuk minta atau lamaran) dan buku pelulu. Untuk lebih memahaminya kalian bisa membaca pos berjudul Buku Pelulu. Melamar Rubiyah, keluarga besar Rojak telah diundang secara lisan sebelumnya (sodho sambu) oleh perwakilan keluarga inti Rojak. Yang diucapkan dalam sodho sambu itu, dalam Bahasa Indonesia, adalah sebagai berikut:

Kami mai sodho sambu mai Baba Ine ko Rojak, Hari Minggu jam empat kita wi nai ono fai ko Rojak ne'e acara buku pelulu. Mendhi ne'e kue se-bha(Kami datang menyampaikan pesan dari Bapak dan Mamanya Rojak. Hari Minggu jam empat kita bakal melamar perempuannya Rojak dan buku pelulu. Bawa sama kue sepiring ya).

Baca Juga: 5 Komoditas TSF

Lebih lengkapnya soal sodho sambu ini, bisa kalian baca pada pos Buku Pelulu.

Setelah semua keluarga berkumpul pada hari yang ditentukan, semua barang hantaran dinaikkan ke atas kendaraan, sedikit omongan dari pihak keluarga inti, maka berangkatlah keluarga Rojak menuju rumah Rubiyah. Di rumah Rubiyah pun tentu sudah menanti kaum keluarganya. Ramai? Pasti! Hehehe.

Apa saja yang diantarkan?
Mulai dari cincin, uang jajan dari calon mertua untuk Rubiyah, pakaian ini itu dan asesorisnya, sarung, hingga aneka kue yang sebelumnya sudah diantarkan oleh keluarga Rojak (dikumpulkan, sesuai omongan dari sodho sambu) sebelum pergi ke rumah Rubiyah.

Usai nai ono dan buku pelulu, selanjutnya adalah bhaze duza (balik dulang). Pihak Rubiyah bakal mengembalikan dulang-dulang yang diantar oleh pihak Rojak (bisa beberapa hari, biasanya satu minggu, setelah nai ono dan buku pelulu). Jumlah dulang yang dibalikin harus sama dengan yang diantarkan oleh pihak Rojak. Isinya sih boleh berbeda. Kalau sudah selesai tahap yang ini, maka selanjutnya adalah tahap mendhi belanja (belis) tadi. Tapi dalam adat Suku Ende dan Suku Lio, harus ada satu momen bernama minu ae petu (minum air panas).

Minu ae petu dilakukan oleh pihak yang hendak menyelenggarakan hajatan seperti pernikahan dan khitanan. Untuk keperluan pernikahan, minu ae petu hanya dilakukan oleh pihak calon pengantin laki-laki; mengundang kaum kerabat, tetangga, teman-teman, untuk duduk menikmati air panas dan tentu menyumbang sejumlah uang (yang dimasukkan ke dalam amplop) kepada tuan rumah. Menyumbang sejumlah uang ini bukan tujuan utama minu ae petu tapi kebersamaan merangkul kaum kerabat untuk suatu perayaanlah yang utama. Minu ae petu pun bukan berarti tamu yang datang hanya disuguhi air panas, melainkan teh, kopi, kudapan, hingga makan besar. Sekaya-kayanya orang Ende, pantang melewati minu ae petu, karena bakal dianggap melanggar adat dan kebiasaan masyarakat.

4. Mendhi Belanja / Antar Belis


Mendhi belanja, juga disebut dengan mengantar belis, dilakukan atas kesepakatan dari oleh kedua belah pihak. Pada zaman dahulu, mendhi belanja dipenuhi drama dimana kurir dari pihak Rojak harus bolak-balik antara rumah Rojak dan rumah Rubiyah karena uang belanja dan lain sebagainya yang masih dianggap kurang oleh pihak keluarga Rubiyah. Bolak-balik si kurir ini bisa memakan waktu berjam-jam.

Zaman sekarang, biasanya masing-masing orangtua sudah punya pembicaraan di balik layar, sehingga urusan kurir ini menjadi drama yang diatur. Mari kita simak:

DRAMA KURIR DALAM MENDHI BELANJA

Kurir: laki-laki utusan orangtua Rojak.
Contoh kesepakatan kedua belah pihak (Rojak dan Rubiyah):
- Uang belanja Rp 50.000.000
- Uang RT/RW Rp 750.000 
- Uang RT/RW dan Masjid Rp 1.000.000 
- Uang Isi Kumba Rp 6.000.000
- Uang Isi Ae Nio Rp 3.000.000
- Uang Air Susu Ibu, ditiadakan
- Seekor sapi
- Perlengkapan kamar pengantin komplit
- Perlengkapan untuk pengantin perempuan
- Dan lain sebagainya

Pada hari yang telah disepakati, keluarga Rubiyah telah menunggu kedatangan kurir terlebih dahulu ke rumah mereka. Lantas saat kurir datang, kurir bakal bilang bahwa yang disiapkan oleh keluarga Rojak adalah uang belanja sebesar Rp 30.000.000 dan uang-uang lain yang juga jumlahnya dikurangi dari kesepakatan di balik layar itu (namanya juga DRAMA!). Keluarga Rubiyah menolak. Kurir pura-pura pulang (satu blok dari rumah Rubiyah) lantas balik lagi dan menyampaikan uang belanja sebesar Rp 45.000.000 dan uang-uang lain yang jumlahnya dinaikkan sedikit. Keluarga Rubiyah menolak. Kurir pura-pura pulang, lagi, dan kembali ke rumah Rubiyah. Biasanya sampai tiga kali. Ketika mencapai Rp 50.000.000 beserta angka lain yang sudah disepakati di balik layar, maka keluarga Rubiyah setuju. Setelah itu barulah kurirnya pulang beneran dan proses mendhi belanja dilakukan.

Drama kurir ini paling saya sukai karena unik sekali. Bayangkan kalau zaman dahulu, drama dalam tanda kutip dimana si kurir beneran harus bolak-balik ke rumah Rojak ... fiuh. Asyik juga kalau menulis tentang drama ini di pos tersendiri hehe.

5. Tu Ata Nika / Jeju


Tu Ata Nika oleh keluarga Rojak juga disebut jeju. Jadi, setelah sodho sambu, keluarga Rojak bakal berkumpul di rumah di rumah Rojak satu jam sebelum ijab kabul di lokasi yang ditentukan (bisa di masjid, bisa di rumah Rubiyah). Lantas mereka beriringan ke lokasi ijab kabul. Biasanya satu pick up bakal diisi para pemain feko genda atau rebana juga boleh. Bunyi-bunyian khas menuju pelaminan begitu deh hehehe.


Demikianlah lima tahapan menuju pelaminan yang dilakukan baik oleh pihak Rojak. Di pihak Rubiyah sendiri bakal ada tradisi lain sebelum perkawinan keesokan hari seperti mandi kembang dan tandi kelambu. Tapi itu tidak saya hitungkan sebagai tahap menuju perkawinan melainkan sebagai adat khusus untuk pihak Rubiyah sebagai calon pengantin perempuan.

Baca Juga: 5 Jawara Mural

Bagaimana dengan tahapan-tahapan menuju perkawinan di daerah kalian, kawan? Feel free to write your mind on comment.


Cheers.

5 Steps To Marriage


Minggu, 24 Maret 2019, merupakan hari yang paling ditunggu oleh Keluarga Besar Pharmantara, Pua Ndawa, Bata, dan Pua Djombu. Hari itu merupakan hari perkawinan keponakan saya Angga dengan seorang perempuan cantik nan bersahaja bernama Titin. Keduanya tidak pacaran melainkan memilih melalui proses ta'aruf. Luar biasa ya ketika sepasang suami-isteri menikah, kemudian, setelah sebelumnya melalui proses ta'aruf. Tidak semua pasangan melakukan ta'aruf, memang, tergantung keinginan masing-masing.

Baca Juga: 5 Gaya Zawo Zambu

Seperti yang sudah sering saya tulis, bahwa di Kabupaten Ende hidup dua suku yaitu Suku Ende dan Suku Lio, tentu proses menuju pelaminan pun agak berbeda antara keduanya. Suku Ende, khususnya bagian pesisir pantai Kota Ende, terakulturasi dengan budaya Bugis atau Makassar dan Agama Islam. Kebanyakan Suku Lio terakulturasi dengan budaya Portugis (dari Flores Timur) dan Agama Katolik. Tahapan menuju perkawinan Suku Lio yang bergama Islam pun tidak sama persis dengan tahapan menuju perkawinan dari Suku Ende yang beragama Islam. Yang sama itu secara syariat Islam-nya. Secara adat/budaya masih ada perbedaannya.

Berdasarkan perkawinan kedua kakak saya, Kakak Nani Pharmantara dan Babe Didi Pharmantara, yang sama-sama menggunakan adat Suku Ende, pun baru-baru ini keponakan saya Angga yang menikahi Titin yang juga menggunakan adat perkawinan Suku Ende, saya bisa menyusun tentang 5 tahap menuju perkawinan. Cerita lain tentang perkawinan adat dari Suku Ende ini bisa kalian baca pada pos Pola Timbal Balik.

Baiklah, sesuai dengan judul, saat ini saya menulis tentang lima langkah yang wajib dilewati oleh calon pengantin sebelum Perkawinan. Untuk mempermudah penjelasan, si laki-laki saya tulis dengan nama Rojak, da si perempuan saya tulis dengan nama Rubiyah.

Cekidot!

1. Ta'aruf dan/atau Pacaran


Tidak semua pasangan memilih proses ta'aruf. Tidak semua pasangan memilih proses pacaran. Mana-mana suka, kembali pada kemauan masing-masing. Kalau melihat dari sisi syariat, ya jelas ta'aruf, agar terhindar dari perbuatan dosa. Namun, tidak selamanya pula orang yang pacaran itu melakukan perbuatan dosa karena mampu menahan diri dari godaan iblis. Insha Allah. Perkara-perkara ini tidak bisa dipukul sama rata. Itu pendapat saya pribadi.

2. Temba Zaza


Temba zaza atau timbang rasa merupakan kunjungan awal utusan orangtua Rojak ke rumah Rubiyah setelah mengetahui bahwa Rojak dan Rubiyah telah ber-ta'aruf dan/atau pacaran, serta berniat serius menuju pelaminan. Menurut pengamatan saya, temba zaza merupakan langkah pengukuhan. Sehingga secara adat kalau dilihat dari hubungan pacaran (bukan ta'aruf), baik orangtua Rojak dan Rubiyah, keluarga, tetangga, hingga teman-teman, tidak perlu mempertanyakan lagi: siapakah gerangan laki-laki yang sering bersama Rubiyah. Atau, siapakah gerangan perempuan yang sering diajak jalan-jalan sama Rojak.

Saat temba zaza, utusan orangtua Rojak akan membawa kue-kue dan buah-buahan yang diletakkan di atas dulang. Setelah itu, bisa jadi keesokan harinya keluarga Rubiyah memulangkan dulang-dulang tersebut, tapi bukan dulang kosong, melainkan ada isinya pula. Bisa pula dulang-dulang tersebut tidak perlu dikembalikan oleh keluarga Rubiyah. Tapi proses ini belum disebut bhaze duza (balik dulang). Tapi pola timbal balik tetap ada.

Usai temba zaza, maka keluarga Rojak dan Rubiyah melakukan pertemuan untuk berembug dan menentukan bersama beberapa perkara seperti diantaranya: hari dan tanggal nai ono (masuk minta atau lamaran) beserta buku pelulu, apa-apa saja yang perlu dibawa pada hari itu, termasuk tentang uang isi kumba isi ae nio. Uang isi kumba isi ae nio ini nantinya diserahkan kepada paman-paman dari Rubiyah, yang akan dibalikin dalam bentuk barang. Untuk itu, silahkan baca lagi pos Pola Timbal Balik, ya.

3. Nai Ono dan Buku Pelulu


Nai ono (masuk minta atau lamaran) dan buku pelulu. Untuk lebih memahaminya kalian bisa membaca pos berjudul Buku Pelulu. Melamar Rubiyah, keluarga besar Rojak telah diundang secara lisan sebelumnya (sodho sambu) oleh perwakilan keluarga inti Rojak. Yang diucapkan dalam sodho sambu itu, dalam Bahasa Indonesia, adalah sebagai berikut:

Kami mai sodho sambu mai Baba Ine ko Rojak, Hari Minggu jam empat kita wi nai ono fai ko Rojak ne'e acara buku pelulu. Mendhi ne'e kue se-bha(Kami datang menyampaikan pesan dari Bapak dan Mamanya Rojak. Hari Minggu jam empat kita bakal melamar perempuannya Rojak dan buku pelulu. Bawa sama kue sepiring ya).

Baca Juga: 5 Komoditas TSF

Lebih lengkapnya soal sodho sambu ini, bisa kalian baca pada pos Buku Pelulu.

Setelah semua keluarga berkumpul pada hari yang ditentukan, semua barang hantaran dinaikkan ke atas kendaraan, sedikit omongan dari pihak keluarga inti, maka berangkatlah keluarga Rojak menuju rumah Rubiyah. Di rumah Rubiyah pun tentu sudah menanti kaum keluarganya. Ramai? Pasti! Hehehe.

Apa saja yang diantarkan?
Mulai dari cincin, uang jajan dari calon mertua untuk Rubiyah, pakaian ini itu dan asesorisnya, sarung, hingga aneka kue yang sebelumnya sudah diantarkan oleh keluarga Rojak (dikumpulkan, sesuai omongan dari sodho sambu) sebelum pergi ke rumah Rubiyah.

Usai nai ono dan buku pelulu, selanjutnya adalah bhaze duza (balik dulang). Pihak Rubiyah bakal mengembalikan dulang-dulang yang diantar oleh pihak Rojak (bisa beberapa hari, biasanya satu minggu, setelah nai ono dan buku pelulu). Jumlah dulang yang dibalikin harus sama dengan yang diantarkan oleh pihak Rojak. Isinya sih boleh berbeda. Kalau sudah selesai tahap yang ini, maka selanjutnya adalah tahap mendhi belanja (belis) tadi. Tapi dalam adat Suku Ende dan Suku Lio, harus ada satu momen bernama minu ae petu (minum air panas).

Minu ae petu dilakukan oleh pihak yang hendak menyelenggarakan hajatan seperti pernikahan dan khitanan. Untuk keperluan pernikahan, minu ae petu hanya dilakukan oleh pihak calon pengantin laki-laki; mengundang kaum kerabat, tetangga, teman-teman, untuk duduk menikmati air panas dan tentu menyumbang sejumlah uang (yang dimasukkan ke dalam amplop) kepada tuan rumah. Menyumbang sejumlah uang ini bukan tujuan utama minu ae petu tapi kebersamaan merangkul kaum kerabat untuk suatu perayaanlah yang utama. Minu ae petu pun bukan berarti tamu yang datang hanya disuguhi air panas, melainkan teh, kopi, kudapan, hingga makan besar. Sekaya-kayanya orang Ende, pantang melewati minu ae petu, karena bakal dianggap melanggar adat dan kebiasaan masyarakat.

4. Mendhi Belanja / Antar Belis


Mendhi belanja, juga disebut dengan mengantar belis, dilakukan atas kesepakatan dari oleh kedua belah pihak. Pada zaman dahulu, mendhi belanja dipenuhi drama dimana kurir dari pihak Rojak harus bolak-balik antara rumah Rojak dan rumah Rubiyah karena uang belanja dan lain sebagainya yang masih dianggap kurang oleh pihak keluarga Rubiyah. Bolak-balik si kurir ini bisa memakan waktu berjam-jam.

Zaman sekarang, biasanya masing-masing orangtua sudah punya pembicaraan di balik layar, sehingga urusan kurir ini menjadi drama yang diatur. Mari kita simak:

DRAMA KURIR DALAM MENDHI BELANJA

Kurir: laki-laki utusan orangtua Rojak.
Contoh kesepakatan kedua belah pihak (Rojak dan Rubiyah):
- Uang belanja Rp 50.000.000
- Uang RT/RW Rp 750.000 
- Uang RT/RW dan Masjid Rp 1.000.000 
- Uang Isi Kumba Rp 6.000.000
- Uang Isi Ae Nio Rp 3.000.000
- Uang Air Susu Ibu, ditiadakan
- Seekor sapi
- Perlengkapan kamar pengantin komplit
- Perlengkapan untuk pengantin perempuan
- Dan lain sebagainya

Pada hari yang telah disepakati, keluarga Rubiyah telah menunggu kedatangan kurir terlebih dahulu ke rumah mereka. Lantas saat kurir datang, kurir bakal bilang bahwa yang disiapkan oleh keluarga Rojak adalah uang belanja sebesar Rp 30.000.000 dan uang-uang lain yang juga jumlahnya dikurangi dari kesepakatan di balik layar itu (namanya juga DRAMA!). Keluarga Rubiyah menolak. Kurir pura-pura pulang (satu blok dari rumah Rubiyah) lantas balik lagi dan menyampaikan uang belanja sebesar Rp 45.000.000 dan uang-uang lain yang jumlahnya dinaikkan sedikit. Keluarga Rubiyah menolak. Kurir pura-pura pulang, lagi, dan kembali ke rumah Rubiyah. Biasanya sampai tiga kali. Ketika mencapai Rp 50.000.000 beserta angka lain yang sudah disepakati di balik layar, maka keluarga Rubiyah setuju. Setelah itu barulah kurirnya pulang beneran dan proses mendhi belanja dilakukan.

Drama kurir ini paling saya sukai karena unik sekali. Bayangkan kalau zaman dahulu, drama dalam tanda kutip dimana si kurir beneran harus bolak-balik ke rumah Rojak ... fiuh. Asyik juga kalau menulis tentang drama ini di pos tersendiri hehe.

5. Tu Ata Nika / Jeju


Tu Ata Nika oleh keluarga Rojak juga disebut jeju. Jadi, setelah sodho sambu, keluarga Rojak bakal berkumpul di rumah di rumah Rojak satu jam sebelum ijab kabul di lokasi yang ditentukan (bisa di masjid, bisa di rumah Rubiyah). Lantas mereka beriringan ke lokasi ijab kabul. Biasanya satu pick up bakal diisi para pemain feko genda atau rebana juga boleh. Bunyi-bunyian khas menuju pelaminan begitu deh hehehe.


Demikianlah lima tahapan menuju pelaminan yang dilakukan baik oleh pihak Rojak. Di pihak Rubiyah sendiri bakal ada tradisi lain sebelum perkawinan keesokan hari seperti mandi kembang dan tandi kelambu. Tapi itu tidak saya hitungkan sebagai tahap menuju perkawinan melainkan sebagai adat khusus untuk pihak Rubiyah sebagai calon pengantin perempuan.

Baca Juga: 5 Jawara Mural

Bagaimana dengan tahapan-tahapan menuju perkawinan di daerah kalian, kawan? Feel free to write your mind on comment.


Cheers.

Hello East, Nantikan Kedatangan Kami

Onif Harem; si tangguh yang setia. Haha.


Tidak terasa sudah lewat sepuluh hari Tim Promosi Uniflor 2019 bergerak dan bergerilya dari satu daerah ke daerah lainnya demi mempromosikan Uniflor agar lebih dikenal khalayak terutama murid Kelas XII SMA. Kloter pertama telah menjejakkan kaki di:


1. Kabupaten Nagekeo.
2. Kabupaten Ngada.
3. Kabupaten Manggarai Timur.
4. Kabupaten Manggarai.
5. Kabupaten Manggarai Barat.
6. Dalam Kota Ende.
7. Pulau Adonara (Kabupaten Flores Timur).
8. Pulau Solo (Kabupaten Flores Timur).

Tersisa beberapa titik yang harus diselesaikan antara lain:

1. Luar Kota Ende.
2. Kabupaten Sikka.
3. Kabupaten Flores Timur bagian kota (Larantuka).
4. Kabupaten (Pulau) Lembata.

Baca Juga: Di Nagekeo Hati Saya Tertambat

Jalan masih panjang. Tim Flores Bagian Barat dengan bis kece yang mereka sebut bis tayo itu, haha, akan membantu Tim Flores Bagian Timur. Tentu, termasuk saya. Tadi, kami melakukan meeting evaluasi termasuk perencanaan ke Timur. Timur tidak terlihat lurus-lurus saja karena kami harus membagi ke bagian Utara (Pantura, kesenangan saya) tempat beberapa SMA berdiri. Perjalanan ke Utara ini dilakukan sambil menunggu perjalanan ke Timur, minggu depan. Dan hyess, saya dan Kakak Sinta Degor sama-sama ditugaskan ke wilayah Detusoko, Ekoae, dan Maurole.

Mari kita lihat peta berikut ini:

Dari Kota Ende ke Kecamatan Maurole.

Dari Kota Ende ke Kota Maumere - Kabupaten Sikka.

Dari Kota Ende ke Kota Larantuka - Kabupaten Flores Timur.

Dari Kota Ende ke Kabupaten (Pulau) Lembata.

Khusus perjalanan dari Kota Ende ke Kabupaten (Pulau) Lembata, tidak ditempuh berdasarkan rute di dalam peta di atas melainkan via Kota Larantuka. Jadi, tim ini akan berhenti di beberapa titik, sama dengan rute ke Barat yang menginap di beberapa titik, dan melanjutkan perjalanan pada hari berikutnya. Seterusnya begitu sampai semua tugas terlaksana dan kembali ke Kota Ende.

Hello East


Perjalanan terakhir saya ke Flores bagian Timur ini adalah ... saya lupa. Sudah lama sekali. Kalau ke Timur masih wilayah Kabupaten Ende seperti Kecamatan Detusoko, Kecamatan Wolowaru, atau ke Sokoria buat makan kepiting kare sih terakhir di tahun 2017. Ke Kota Maumere, kalau tidak salah, terakhir tahun 2016 saat berburu buku-buku di Gramedia Maumere. Ke Kota Larantuka, kalau tidak salah, terakhir tahun 2011 saat mengantar teman traveler mengikuti prosesi Semana Santa (menjelang Hari Raya Paskah). Sudah pasti banyak yang berubah dari dua kota tersebut dan nampaknya 'kami akan bertemu' segera. Hehe.


Bagi saya, menjalankan tugas luar kantor seperti ini merupakan anugerah karena sekalian bisa jalan-jalan. Namanya: Jalan Jalan Kerja. Apabila pekerjaan pada titik/kota tertentu sudah selesai, saya bisa jalan-jalan. Kabupaten Sikka sendiri menawarkan begitu banyak destinasi wisata, khususnya pantai dan/atau laut, kepada wisatawan. Banyak resort yang berdiri seperti Sea World, Pantai Waiara, hingga Coconut Garden Beach Resort. Sedangkan di Kota Larantuka sendiri, meskipun kami datang bukan pada saat menjelang Hari Raya Paskah, banyak pantai-pantai keren yang juga sangat memikat hati. Ceritanya nanti ya, menyusul, kalau saya sempat ke pantai-pantai itu lagi.

Semangat!


Cheers.

#EndeBisa Menggebrak SMKN 1 Ende



Akhir tahun 2018 saya bertemu teman dosen yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan S3 di Malang yaitu Mukhlis A. Mukhtar di ... di rumah saya donk. Hehe. Ceritanya, Mukhlis sedang liburan di kampung halaman. Seperti biasa, kami mendiskusikan banyak hal. Mengenang masa-masa lampau saat begitu addicted to community and aktivisme sosial. Rasanya senang karena sejak belia *bueeeeh belia* kami sudah punya banyak cerita bekal hari menjelang uzur; bekal diceritakan ke anak-cucu. Dudududu. Saya dengan Komunitas Blogger NTT dan macam-macam lainnya, dia dengan Relawan Bung Karno Ende.

Baca Juga: Yellow Cakes Blast

Hangout bareng Mukhlis itu menghasilkan satu ide untuk membikin kegiatan #EndeBisa. Idenya dari Mukhlis, saya sih tim hore pom-pom saja. Kami berpikir, sumber daya yang ada, khususnya sumber daya manusia, sudah selayaknya dimanfaatkan untuk memberdayakan orang lain. Kami sudah terlalu lama tidur ... tidur panjang yang bikin perasaan meronta-ronta (bahasa saya ngeri-ngeri sedap haha). #EndeBisa punya banyak goals yaitu #EndeBelajarLiterasiDigital, #EndeBebasSampah, dan #EndeSocMed4SocGood. Next bakal dikembangkan dengan #EndeBerwirausaha.

Pertemuan kedua, teteup di rumah saya, sudah tambah personel seperti Abang Umar Hamdan dari Komunitas ACIL (Anak Cinta Lingkungan) dan Trash Hero, serta Ketua Komunitas Blogger NTT Cahyadi. Banyak yang dibahas dan tentu saja kita bertekad untuk memulai kegiatan di awal 2019. Malam itu juga, Abang Umar terjangkit virus blog hahaha. Saya mengajarinya membikin blog di Blogger. Voila, Abang Umar siap menulis tentang kegiatan Komunitas ACIL dan Trash Hero-nya. Oia, tentu saja e-poster ini sudah dibikin.


Setelah pertemuan kedua, saya pikir kegiatannya masih lama. Paling pertengahan Januari 2019. Ternyata waktu berjalan begitu lekas. Jum'at, 4 Januari 2019, saya menerima pesan WA dari Mukhlis. Ternyata kunjungannya ke SMKN 1 Ende menghasilkan mendadak dangdut haha. Menghasilkan keputusan bahwa #EndeBisa harus terealisasi Sabtu di sekolah tersebut. Wah, okay. Kebut kerjakan materi dari ICT Watch (creative common) dengan sedikit sentuhan ulang tanpa melepas logo ICT Watch, dan bersiap untuk jalan pagi bersama di kampus (tidur harus sesegera mungkin agar bisa duluan bangun dari si ayam).

Iwan Aditya, sahabat saya itu mengirim pesan ingin ikutan, serta beberapa yang lain, ya ayooo.

Foto bareng Kepsek SMKN 1 Ende di depan aula.

Pergi ke SMKN 1 Ende saya berpikir tentang aula atau laboratorium yang kecil. Ternyata saya salah. Ketika bertemu kepala sekolah dan diajak ke aula. Saya syok melihat begitu banyaknya murid yang duduk lesehan di aula itu. Ini di luar ekspektasi saya. Bukan sekali dua saya ke sekolah-sekolah untuk melatih blog atau seminar lainnya, tapi kali ini jumlahnya melebihi kemampuan saya menghitung. Haha. Lebay ... leday dah.

Bismillah.


#EndeBisa Goes to School perdana hari ini di SMKN 1 Ende menuai sukses. Sejumlah 1.300an murid dan guru memenuhi Aula SMKN 1 Ende menyimak materi-materi yang disajikan oleh pemateri dengan sentuhan lelucon segar, dipandu MC Iwan Aditya, serta ditemani Koordinator Relawan Bung Karno Ende Mukhlis A. Mukhtar.

Iwan, lulusan SMKN 1 Ende, yang pernah jadi partner setia siaran saya, dan sekarang bekerja di Swisscontact.

1. Pengantar tentang Relawan Bung Karno Ende oleh David Mossar


Memberikan motivasi tentang kegiatan aktivisme sosial seperti Relawan Bung Karno Ende, serta bagaimana lulusan SMKN 1 bisa menjadi entrepreneur dan/atau technopreneur.

David, fotografer kondang Kota Ende yang telah lama bergabung dengan Relawan Bung Karno Ende. Dia juga berkecimpung di dunia desain grafis.

2. Tuteh Pharmantara (Travel Blogger Ende) tentang Literasi Digital


Materi creative common dari ICT Watch tentang literasi digital dengan 3 kerangka utamanya yaitu: Proteksi, Hak-Hak, dan Pemberdayaan.


3. Ihsan Dato (SocMed4SocGood Ende) tentang Etika Informasi


Bermedia sosial itu harus memerhatikan etikanya, dengan jargon: Piki Ne Ote, Timba Ne Ate (pikir dengan otak, pertimbangkan dengan hati) sebelum mempos sesuatu di media sosial.

Ihsan Dato, KTU Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores serta penggiat #SocMed4SocGood Ende dan Lopo Cerdas.

4. Umar Hamdan (ACIL Ende) tentang Pengelolaan Sampah


Betapa hancurnya bumi karena sampah plastik, bagaimana mengatasinya, bagaimana mengelolanya. Abang Umar juga membawa serta barang-barang hasil daur ulang. Keren lah Abang.


Saya suka waktu Abang Umar menunjuk ke meja depan dimana begitu banyak botol minum berdiri. "Nah, kalian bawalah air minum dari rumah ketimbang membeli terus air minum kemasan botol dan gelas. Kalian lihat di depan, kami membawa sendiri air minum sebagai upaya sederhana mengurangi sampah botol plastik." Saya ngakak. Saya punya sembilan botol minum loh, dua botol minum selalu ada di jok sepeda motor untuk jaga-jaga agar tidak perlu membeli air minum kemasan. Keren kan haha *ngakak sendiri*.

Sesi tanya-jawab yang dipandu Iwan pun berlangsung seru, pertanyaan-pertanyaan dari murid begitu kritis, rasa keingintahuan mereka begitu besar. Sayang, waktu menyebabkan banyak murid yang hendak bertanya harus ditahan. Next time, ya. Saya paling suka sama si ganteng yang bertanya yang berdiri di samping saya ini; cara bicaranya sangat terstruktur dan berwibawa. Dia memenangkan hadiah pulsa Rp 50K. Saya bilang, "Kalau kamu nyaleg, saya pilih deh hahaha."


#EndeBisa (perdana) ini merupakan gebrakan dan upaya yang luar biasa dari Relawan Bung Karno Ende untuk Ende yang lebih baik. Berikutnya #EndeBisa akan berkembang dengan satu item #EndeBerwirausaha.

Sampai jumpa di sekolah dan kampus berikutnya.

Informasi lebih lengkap silahkan hubungi:

Mukhlis (085234543731)
Cahyadi (085238422726)
Aran Gunawan (081333310539)

#EndeBisa
#EndeKrearivitas
#EndeBelajarLiterasiDigital
#EndeBebasSampah
#EndeSocMed4SocGood
#EndeBerwirausaha


Saya trenyuh mendengar kisah Bapak Kepsek yang pernah memarahi tetangga sekitar sekolah yang membuang sampah di got depan sekolah. Padahal, got tersebut baru saja dibersihkan oleh para murid SMKN 1 Ende. Bagaimana menyadarkan masyarakat bahwa got bukan tempat sampah? Kapan masyarakat sadar untuk memilah jenis sampah - yangmana sampah plastik dapat mereka jual ke Komunitas ACIL? Susah memang, karena bicara soal masyarakat artinya bicara soal banyak orang dan banyak komentar ini itu. Jangan sampai kalau sudah kena banjir parah baru mulai panik dan menyalahkan diri sendiri: kenapa saya buang sampah di got dan di sembarang tempat ya ...

Gara-gara #EndeBisa perdana di SMKN 1 Ende, beberapa sekolah mengirimkan pesan meminta kami juga melakukan kegiatan serupa di sekolah mereka. Itu pasti, karena memang itu tujuannya: sekolah dan kampus. Ende pasti bisa lebih maju. Insha Allah.

***

Relawan Bung Karno Ende


Relawan Bung Karno Ende merupakan kelompok relawan (nirlaba) yang awalnya berkonsentrasi pada kondisi Taman Renungan Bung Karno Ende yang semakin memprhatinkan. Akan tetapi kondisi taman bukan tanggungjawab Relawan Bung Karno Ende semata kan, harus ada partisipasi/perhatian dari semua pihak. Lewat penjualan pin dan gantungan kunci kami sudah membelikan sapu-sapu, gerobak sampah, membuat tempat sampah, memperbaiki trotoar depan taman yang rusak, rompi untuk tukang sapu, dan lain sebagainya. Selanjutnya ... tanggungjawab kita bersama. 


Tapi apa yang dilakukan oleh Relawan Bung Karno Ende tak hanya itu. Bermitra/dibantu oleh Ibu Tirto dari Danone, lebih banyak lagi yang telah dilakukan seperti menyediakan meja-bangku untuk SDI Ratenggoji yang jarak tempuh dan kondisi jalannya sangat jauh dan tidak mulus, membantu bayi-bayi yang mengalami gangguan kesehatan, membantu para mama yang berjualan papalele (jualan kaki lima di pasar-pasar) dengan sumbangan payung, menyumbang mantel untuk anak-anak Komunita ACIL, dan lain sebagainya. Termasuk membantu pembangunan rumah-rumah adat. 

Apa alasan kami melakukan semua itu?

Senang saja hahaha. Karena jargon kami: SELAGI MUDA HARUS KREATIVE, KETIKA TUA PUNYA ARTI. Urusan uang bisa kami cari dari pekerjaan utama atau freelance, tapi urusan aktivisme sosial yang memberikan kesenangan batin yang tidak bisa dibeli dengan Rupiah ini ... harus dilakukan dengan suka rela dan ikhlas.

Terima kasih semuanya.

Mari, sama-sama berjuang.

Dan saya pun harus berjuang agar GA bisa tetap dapat tampil di blog ini ha ha ha *ngakak parah digodain dinosaurus*.



Cheers.

#EndeBisa Menggebrak SMKN 1 Ende



Akhir tahun 2018 saya bertemu teman dosen yang sekarang sedang melanjutkan pendidikan S3 di Malang yaitu Mukhlis A. Mukhtar di ... di rumah saya donk. Hehe. Ceritanya, Mukhlis sedang liburan di kampung halaman. Seperti biasa, kami mendiskusikan banyak hal. Mengenang masa-masa lampau saat begitu addicted to community and aktivisme sosial. Rasanya senang karena sejak belia *bueeeeh belia* kami sudah punya banyak cerita bekal hari menjelang uzur; bekal diceritakan ke anak-cucu. Dudududu. Saya dengan Komunitas Blogger NTT dan macam-macam lainnya, dia dengan Relawan Bung Karno Ende.

Baca Juga: Yellow Cakes Blast

Hangout bareng Mukhlis itu menghasilkan satu ide untuk membikin kegiatan #EndeBisa. Idenya dari Mukhlis, saya sih tim hore pom-pom saja. Kami berpikir, sumber daya yang ada, khususnya sumber daya manusia, sudah selayaknya dimanfaatkan untuk memberdayakan orang lain. Kami sudah terlalu lama tidur ... tidur panjang yang bikin perasaan meronta-ronta (bahasa saya ngeri-ngeri sedap haha). #EndeBisa punya banyak goals yaitu #EndeBelajarLiterasiDigital, #EndeBebasSampah, dan #EndeSocMed4SocGood. Next bakal dikembangkan dengan #EndeBerwirausaha.

Pertemuan kedua, teteup di rumah saya, sudah tambah personel seperti Abang Umar Hamdan dari Komunitas ACIL (Anak Cinta Lingkungan) dan Trash Hero, serta Ketua Komunitas Blogger NTT Cahyadi. Banyak yang dibahas dan tentu saja kita bertekad untuk memulai kegiatan di awal 2019. Malam itu juga, Abang Umar terjangkit virus blog hahaha. Saya mengajarinya membikin blog di Blogger. Voila, Abang Umar siap menulis tentang kegiatan Komunitas ACIL dan Trash Hero-nya. Oia, tentu saja e-poster ini sudah dibikin.


Setelah pertemuan kedua, saya pikir kegiatannya masih lama. Paling pertengahan Januari 2019. Ternyata waktu berjalan begitu lekas. Jum'at, 4 Januari 2019, saya menerima pesan WA dari Mukhlis. Ternyata kunjungannya ke SMKN 1 Ende menghasilkan mendadak dangdut haha. Menghasilkan keputusan bahwa #EndeBisa harus terealisasi Sabtu di sekolah tersebut. Wah, okay. Kebut kerjakan materi dari ICT Watch (creative common) dengan sedikit sentuhan ulang tanpa melepas logo ICT Watch, dan bersiap untuk jalan pagi bersama di kampus (tidur harus sesegera mungkin agar bisa duluan bangun dari si ayam).

Iwan Aditya, sahabat saya itu mengirim pesan ingin ikutan, serta beberapa yang lain, ya ayooo.

Foto bareng Kepsek SMKN 1 Ende di depan aula.

Pergi ke SMKN 1 Ende saya berpikir tentang aula atau laboratorium yang kecil. Ternyata saya salah. Ketika bertemu kepala sekolah dan diajak ke aula. Saya syok melihat begitu banyaknya murid yang duduk lesehan di aula itu. Ini di luar ekspektasi saya. Bukan sekali dua saya ke sekolah-sekolah untuk melatih blog atau seminar lainnya, tapi kali ini jumlahnya melebihi kemampuan saya menghitung. Haha. Lebay ... leday dah.

Bismillah.


#EndeBisa Goes to School perdana hari ini di SMKN 1 Ende menuai sukses. Sejumlah 1.300an murid dan guru memenuhi Aula SMKN 1 Ende menyimak materi-materi yang disajikan oleh pemateri dengan sentuhan lelucon segar, dipandu MC Iwan Aditya, serta ditemani Koordinator Relawan Bung Karno Ende Mukhlis A. Mukhtar.

Iwan, lulusan SMKN 1 Ende, yang pernah jadi partner setia siaran saya, dan sekarang bekerja di Swisscontact.

1. Pengantar tentang Relawan Bung Karno Ende oleh David Mossar


Memberikan motivasi tentang kegiatan aktivisme sosial seperti Relawan Bung Karno Ende, serta bagaimana lulusan SMKN 1 bisa menjadi entrepreneur dan/atau technopreneur.

David, fotografer kondang Kota Ende yang telah lama bergabung dengan Relawan Bung Karno Ende. Dia juga berkecimpung di dunia desain grafis.

2. Tuteh Pharmantara (Travel Blogger Ende) tentang Literasi Digital


Materi creative common dari ICT Watch tentang literasi digital dengan 3 kerangka utamanya yaitu: Proteksi, Hak-Hak, dan Pemberdayaan.


3. Ihsan Dato (SocMed4SocGood Ende) tentang Etika Informasi


Bermedia sosial itu harus memerhatikan etikanya, dengan jargon: Piki Ne Ote, Timba Ne Ate (pikir dengan otak, pertimbangkan dengan hati) sebelum mempos sesuatu di media sosial.

Ihsan Dato, KTU Fakultas Teknologi Informasi Universitas Flores serta penggiat #SocMed4SocGood Ende dan Lopo Cerdas.

4. Umar Hamdan (ACIL Ende) tentang Pengelolaan Sampah


Betapa hancurnya bumi karena sampah plastik, bagaimana mengatasinya, bagaimana mengelolanya. Abang Umar juga membawa serta barang-barang hasil daur ulang. Keren lah Abang.


Saya suka waktu Abang Umar menunjuk ke meja depan dimana begitu banyak botol minum berdiri. "Nah, kalian bawalah air minum dari rumah ketimbang membeli terus air minum kemasan botol dan gelas. Kalian lihat di depan, kami membawa sendiri air minum sebagai upaya sederhana mengurangi sampah botol plastik." Saya ngakak. Saya punya sembilan botol minum loh, dua botol minum selalu ada di jok sepeda motor untuk jaga-jaga agar tidak perlu membeli air minum kemasan. Keren kan haha *ngakak sendiri*.

Sesi tanya-jawab yang dipandu Iwan pun berlangsung seru, pertanyaan-pertanyaan dari murid begitu kritis, rasa keingintahuan mereka begitu besar. Sayang, waktu menyebabkan banyak murid yang hendak bertanya harus ditahan. Next time, ya. Saya paling suka sama si ganteng yang bertanya yang berdiri di samping saya ini; cara bicaranya sangat terstruktur dan berwibawa. Dia memenangkan hadiah pulsa Rp 50K. Saya bilang, "Kalau kamu nyaleg, saya pilih deh hahaha."


#EndeBisa (perdana) ini merupakan gebrakan dan upaya yang luar biasa dari Relawan Bung Karno Ende untuk Ende yang lebih baik. Berikutnya #EndeBisa akan berkembang dengan satu item #EndeBerwirausaha.

Sampai jumpa di sekolah dan kampus berikutnya.

Informasi lebih lengkap silahkan hubungi:

Mukhlis (085234543731)
Cahyadi (085238422726)
Aran Gunawan (081333310539)

#EndeBisa
#EndeKrearivitas
#EndeBelajarLiterasiDigital
#EndeBebasSampah
#EndeSocMed4SocGood
#EndeBerwirausaha


Saya trenyuh mendengar kisah Bapak Kepsek yang pernah memarahi tetangga sekitar sekolah yang membuang sampah di got depan sekolah. Padahal, got tersebut baru saja dibersihkan oleh para murid SMKN 1 Ende. Bagaimana menyadarkan masyarakat bahwa got bukan tempat sampah? Kapan masyarakat sadar untuk memilah jenis sampah - yangmana sampah plastik dapat mereka jual ke Komunitas ACIL? Susah memang, karena bicara soal masyarakat artinya bicara soal banyak orang dan banyak komentar ini itu. Jangan sampai kalau sudah kena banjir parah baru mulai panik dan menyalahkan diri sendiri: kenapa saya buang sampah di got dan di sembarang tempat ya ...

Gara-gara #EndeBisa perdana di SMKN 1 Ende, beberapa sekolah mengirimkan pesan meminta kami juga melakukan kegiatan serupa di sekolah mereka. Itu pasti, karena memang itu tujuannya: sekolah dan kampus. Ende pasti bisa lebih maju. Insha Allah.

***

Relawan Bung Karno Ende


Relawan Bung Karno Ende merupakan kelompok relawan (nirlaba) yang awalnya berkonsentrasi pada kondisi Taman Renungan Bung Karno Ende yang semakin memprhatinkan. Akan tetapi kondisi taman bukan tanggungjawab Relawan Bung Karno Ende semata kan, harus ada partisipasi/perhatian dari semua pihak. Lewat penjualan pin dan gantungan kunci kami sudah membelikan sapu-sapu, gerobak sampah, membuat tempat sampah, memperbaiki trotoar depan taman yang rusak, rompi untuk tukang sapu, dan lain sebagainya. Selanjutnya ... tanggungjawab kita bersama. 


Tapi apa yang dilakukan oleh Relawan Bung Karno Ende tak hanya itu. Bermitra/dibantu oleh Ibu Tirto dari Danone, lebih banyak lagi yang telah dilakukan seperti menyediakan meja-bangku untuk SDI Ratenggoji yang jarak tempuh dan kondisi jalannya sangat jauh dan tidak mulus, membantu bayi-bayi yang mengalami gangguan kesehatan, membantu para mama yang berjualan papalele (jualan kaki lima di pasar-pasar) dengan sumbangan payung, menyumbang mantel untuk anak-anak Komunita ACIL, dan lain sebagainya. Termasuk membantu pembangunan rumah-rumah adat. 

Apa alasan kami melakukan semua itu?

Senang saja hahaha. Karena jargon kami: SELAGI MUDA HARUS KREATIVE, KETIKA TUA PUNYA ARTI. Urusan uang bisa kami cari dari pekerjaan utama atau freelance, tapi urusan aktivisme sosial yang memberikan kesenangan batin yang tidak bisa dibeli dengan Rupiah ini ... harus dilakukan dengan suka rela dan ikhlas.

Terima kasih semuanya.

Mari, sama-sama berjuang.

Dan saya pun harus berjuang agar GA bisa tetap dapat tampil di blog ini ha ha ha *ngakak parah digodain dinosaurus*.



Cheers.

Nggela Bangkit dan Membangun Kembali


Selasa kemarin adalah hari yang sangat mulia karena diperingati sebagai Hari Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Junjungan kita, umat Muslim, yang mulia. Adalah bahagia karena pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW itu saya dan teman-teman yang tergabung dalam kegiatan amal #NggelaKamiLatu akhirnya berangkat menuju Kampung Adat Nggela. Keberangkatan kami ke Kampung Adat Nggela adalah untuk mengantarkan bantuan dalam bentuk Rupiah dan barang dari dua kegiatan serupa yang digelar di Kota Surabaya dan Kota Ende. Alhamdulillah.

Baca Juga : Kami Latu Untuk Miu

Dari Ende rombongan yang terdiri dari satu pick up dan lima sepeda motor berangkat sekitar pukul 10.45 Wita dari perjanjian waktu berangkat pukul 06.00 Wita. Bayangkan pergeseran waktunya jauh beud, haha. Saya malah masih bisa menghabiskan nasi kuning dan kopi susu di pinggir jalan sambil menunggu teman lain supaya berangkatnya beriringan; saya, Violin Kerong, David Mossar, Varis Gella, Carlos, Al, Xela (yang membawa bantuan barang dari Surabaya ke Ende), dan beberapa mahasiswa Prodi Arsitektur lain yang tidak hafal namanya.

Tiba di Kampung Adat Nggela sekitar pukul 13.00 Wita. Perjalanan kurang lebih tiga jam dengan beberapa kali berhenti memang terbilang cukup cepat mengingat jalanan yang dilewati sejak dari cabang Desa Moni (ke Jopu) menuju Nggela itu tidak semulus wajah Cinta Laura dan wajah saya *dikeplak semen*.


Di Kampung Adat Nggela tersebut ada sebuah rumah yang dijadikan posko; menjadi pusat semua bantuan dikumpulkan. Begitu tiba di posko ini kami disambut bapak-bapak mosalaki salah satunya Mosalaki Pu'u (mosalaki utama) Bapak Gabriel Mane dan tokoh masyarakat setempat. Setelah mengobrol sebentar dan melihat puluhan mahasiswa Universitas Flores berkumpul di lapak pasar yang datang bersama dosen Pak Charles dan Ibu Vero, kami memutuskan untuk langsung menyerahkan semua bantuan yang sudah dibawa dari Kota Surabaya (dikirim melalui kapal laut) dan Kota Ende setelah kopi dan teh disuguhkan. Luar biasa ya, kami Orang Ende sudah menganggap kalian saudara apalagi saat kopi sudah tersaji di atas meja. 


Jangan menangis, Bapak ... saya jadi sedih:



Nggela Kami Latu bukan sekadar kiasan. Kami, hanya segelintir orang dari ribuan masyarakat Kabupaten Ende, benar-benar ada dan secara bersama-sama untuk masyarakat Nggela, yang tentu punya harapan sama bahwa musibah kebakaran yang menghanguskan kampung adat tersebut tidak mematahkan semangat masyarakatnya yang kaya akan tradisi dan budaya. Nggela harus bangkit.

Dan Nggela memang sedang bangkit serta membangun kembali. Setelah penyerahan bantuan, kami pergi ke lokasi Kampung Adat Nggela yang hanya berjarak sepuluh meter dari posko. Syaratnya hanya satu: jangan menginjak batu (Kanga) yang ada di sana. Pemandangan yang tersaji sungguh miris. Yang tersisa hanyalah kubur-kubur batu, fondasi-fondasi batu rumah-rumah adat yang menghitam, kamar mandi kecil berbahan semen, serta pohon-pohon lontar yang berdiri gagah.


Terlalap namun bertahan hidup, demikian saya menulis caption saat menggugah foto pohon lontar hangus tersebut ke Facebook. Menurut Pak Mukhlis dosen Arsitektur yang berkonsentrasi pada rumah adat, setiap kampung adat pasti tumbuh pohon lontar, yang bermanfaat sebagai penangkal petir. Akan saya ulas di lain kesempatan.



Rumah-rumah panggung memang sedang dibangun kembali. Tapi itu bukan rumah adatnya, melainkah hanyalah rumah darurat sementara. Untuk membangun kembali rumah-rumah adat, berdasarkan klan masing-masing yang membentuk Kampung Adat Nggela, dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, waktu, dan tenaga. Belum lagi ritus-ritusnya yang tentu tidak bisa dilakukan hanya begitu saja. Rumah adat adalah simbol setiap klan yang ada di Kampung Adat Nggela seperti Sa'o (rumah) Ndoja, Sa'o Ria, Sa'o Rore Api, dan sa'o-sa'o lainnya. Rumah-rumah panggung darurat itu dibangun di bagian luar dari fondasi rumah adatnya (di bagian belakangnya).


Selain tertarik dengan pohon lontar dan rumah-rumah panggung darurat yang sedang dibangun, saya tertarik dengan salah satu fondasi rumah adat yang terbakar. Jika dibandingkan dengan fondasi rumah adat lain, fondasi yang rumah adatnya sudah habis ini jauh lebih tinggi dari yang lain. Bisa dilihat di foto berikut:



Fondasi batunya itu besar-besar. Sedangkan untuk rumah adat lainnya, fondasinya sama dengan batu-batu kecil yang mengelilinginya.

Setelah berkeliling, mengambil beberapa foto dan istirahat, saya memutuskan untuk pulang. Adalah pamali, memang, ketika ditahan oleh mosalaki supaya jangan pulang dulu karena mereka telah menyiapkan makan siang (luar biasa memang persaudaraan ini) tapi saya bersikeras untuk pulang. Saya memang harus pulang duluan, karena satu dan lain alasan yang tidak bisa ditulis di sini, meninggalkan teman-teman lain yang masih istirahat. Maaf, ya. But you all already knew that I love you ... all.

Perjalanan pulang ini sangat menarik, dan akan saya bahas di Blog Travel saja hehe. Karena begitu banyak cerita; tentang masjid dan gereja yang berdampingan di Desa Pora, tentang pasar mini tenun ikat di Desa Mbuli, tentang pemandangan memikat di Ekoleta, tentang Lepa Lio Cafe, dan masih banyak cerita lainnya. Tapiiii boleh donk ya bikin kalian iri dengan satu foto pemandangan dari Ekoleta berikut ini hehehe.


Ngiknguk kan pemandangannya?

Pada pos ini, akhirnya, saya pribadi mengucapkan banyak terima kasih untuk semua teman-teman yang telah sama-sama bergerak dalam kegiatan #NggelaKamiLatu serta mengantarkan bantuan tersebut langsung ke posko Peduli Nggela yang ada di Kampung Adat Nggela. Semoga berkah. Semoga Tuhan mendengar do'a dan upaya tulus kita semua. Nggela harus bangkit.



Cheers.

5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2)


Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki hal-hal unik. Keunikan ini telah ada bersama kehidupan masyarakat dan tumbuh berkembang dari zaman ke zaman. Misalnya keunikan Didong, kesenian dari Aceh yang dimulai sejak zaman Reje Linge XIII. Para seniman Didong dikenal dengan sebutan Ceh. Di dalam kesenian ini ada nilai-nilai religius, keindahan, dan kebersamaan. Peralatan yang digunakan adalah bantal dan tepukan tangan pemainnya.

Apabila Didong dari Aceh terlalu jauh, maka di Ende ada satu kegiatan yang disebut minu ae petu (minum air panas). Minu ae petu dilakukan oleh pihak yang hendak menyelenggarakan hajatan seperti pernikahan dan khitanan. Untuk keperluan pernikahan, minu ae petu hanya dilakukan oleh pihak calon pengantin laki-laki; mengundang kaum kerabat, tetangga, teman-teman, untuk duduk menikmati air panas dan tentu menyumbang sejumlah uang kepada tuan rumah. Menyumbang sejumlah uang ini bukan tujuan utama minu ae petu tapi kebersamaan merangkul kaum kerabat untuk suatu perayaanlah yang utama. Minu ae petu pun bukan berarti tamu yang datang hanya disuguhi air panas, melainkan teh, kopi, kudapan, hingga makan besar.

Baca Juga : 5 Kelas Blogging

Setelah menulis 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 1) yang juga bisa dibaca di blog yang ini, saatnya saya menulis 5 Yang Unik dari Ende (Bagian 2). Dari Bagian 1, kalian tentu tahu bahwa keunikan-keunikan ini saya kumpulkan dan tulis untuk bakal sebuah buku yang entah kapan terbitnya berjudul Endelicious. Bagi saya keunikan setiap daerah wajib diketahui oleh orang lain di luar daerah tersebut. Kalian tahu, betapa senangnya saya mendengar cerita Benny Reo, seorang sahabat yang dulu pernah bertugas di Pulau Sumba, saat dia bercerita tentang podhu, budaya mencari jodoh yang supeeeeer unik. Cerita tentang podhu tidak saya peroleh saat berada di Pulau Sumba. Intinya kira-kira seperti itu; saya juga ingin seperti itu, bisa menceritakan hal-hal unik dari daerah saya sendiri.

Sebelumnya, mari kita lihat apa saja 5 yang unik dari Ende bagian pertama:

1. Nama Unik.
2. Ende si 'Anak' Tengah. 
3. Dua Suku, Dua Bahasa.
4. Kami Penyingkat Kata.
5. Lima Menit Itu Memang Ada.

Melanjutkan keunikan Ende berikutnya ... cekidot!

1. Darat, Laut, Udara

Kabupaten Ende yang, dalam skala masyarakat di Pulau Kalimantan - misalnya disebut kecil, punya moda transportasi yang lengkap. Transportasi darat, transportasi laut, dan transportasi udara. Bahkan tahun 2003-an, Mami Yovita Atmadjaja sering saya godain karena waktu itu Banyuwangi belum punya bandara. Bandara Blimbingsari di Banyuwangi baru dibuka 29 Desember 2010. Moda transportasi darat didukung oleh jalan trans-Flores dari Labuan Bajo sampai Flores Timur yang tentu melintasi Ende sebagai 'anak' tengah. Moda transportasi laut didukung oleh Pelabuhan Bung Karno, Pelabuhan Ippi (I dan II), pelabuhan-pelabuhan lain yang mendukung bisnis dan perekonomian, serta pelabuhan rakyat. Moda transportasi udara didukung oleh Bandara H. Hasan Aroeboesman. 

Ini unik. Kabupaten sekecil ini punya prasarana transportasi darat, laut, dan udara. Komplit!

2. Gunung dan Pantai yang Tetanggaan

Bu Jokoooo ada termos es? Qiqiqi. Menulis tetanggan, saya jadi ingat iklan sirup penurun panas anak zaman baheula itu. Di Kabupaten Ende, gunung dan pantai itu tetanggaan. Terkhusus di Kota Ende, kalian bisa melihat Gunung Meja, Gunung Ia, berada di daerah tanjung, sementara di Teluk Ende kalian bisa melihat perahu-perahu nelayan berbaris. Kalau orang bilang asam di gunung garam di laut bertemu dalam satu belanga, maka di Ende yang namanya asam dan garam itu kalau mau ketemu ya ketemu saja. Haha!

Baca Juga : 5 Hasil Daur Ulang

3. Dua Lokasi Untuk Petani Batu

Di Ende ada dua lokasi petani batu yang sangat terkenal. Yang pertama adalah Pantai Penggajawa dimana para petani batu mengumpulkan batu-batu laut. Yang kedua adalah Samba dimana para petani batu menambang dan mengumpulkan batu-batu gunung. Dulu saya pernah bikin filem dokumenter tentang petani batu Samba, tapi sudah lupa disimpan di mana gegara laptop dan hard disk eror.

4. Kaya Corak Tenun Ikat

Kalian pasti tahu bahwa di Indonesia ini ada dua kain hasil kerajinan tangan yang bisa dipakai bolak-balik yaitu songket dan tenun ikat dari NTT. CMIIW alias correct me if I'm wrong. Nah, di Kabupaten Ende sendiri tenun ikat bukanlah sekadar hasil kebudayaan yang dipakai oleh laki-laki dan perempuan atau cinderamata yang diburu wisatawan. Tenun ikat merupakan lambang kebanggaan pemakainya berdasarkan corak, jenis, dan cara pembuatan. Saya pernah mengikuti lomba video dokumenter yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Video itu saya beri judul: Tenun Ikat, Karya Jenius dari Ende. Videonya masih ada tapi sayang belum saya unggah ke Youtube. Waktu itu masih pakai Ulead versi lama sehingga kualitas video tidak segarang kalau ngedit pakai Sony Movie Studio Planitum.

Kalian akan tahu bahwa tenun ikat berjenis Kembo itu harganya paling mahal karena proses pembuatannya dan bahan yang digunakan, jika dibanding tenun ikat berjenis Mangga atau Kelimara.

5. No Woman No Cry, No Jambret No Copet

Haha. Istilah ini sebenarnya berasal dari sahabat saya Ilham Himawan, sahabat yangmana kalau nongkrong kita punya aturan: tidak boleh berbicara tentang cerita yang sama. Oke, apa maksud poin nomor lima ini? Maksudnya adalah di Ende sulit ditemui adanya jambret dan copet. Kalaupun ada, sekali dua terjadi fenomena itu, langsung diciduk oleh polisi. Karena Ende ini kecil, kawan. Saya pernah kecurian laptop sekitar tahun 2013. Tapi berkat tetangga dan kecilnya Kota Ende, empat hari kemudian kami menyambangi rumah si Tina (namanya Tina emang) dan akhirnya laptop pun kembali ke tangan saya padahal si laptop sudah di tangan pembeli.

Waktu saudara saya dari Surabaya datang ke Ende, dia terheran-heran melihat kunci sepeda motor kadang dilepas di sepeda motor tanpa kuatir. Dia takut bukan main sepeda motornya dimaling. Hehe. Kemalingan sepeda motor memang bisa terjadi tapi sepuluh jari tangan bakal berlebih untuk menghitungnya.

Masih banyak yang unik lainnya dari Ende, tapi tentu tidak di pos ini. Nantikan di pos berikutnya.

Mari, kawan. Kita eksplor keunikan daerah kita masing-masing. Karena, kadang keunikan itu tidak tercetak di buku panduan wisata. Misalnya, cungkil mahatari, suatu istilah yang ... psstt ... not now. Hehehe :)

Baca Juga : 5 Tanaman Dapur di Rumah

Yuk ke Ende.



Cheers.

Kami Latu Untuk Miu


Sebelum membaca pos ini sampai selesai, silahkan baca dulu pos Nggela Kami Latu

Selasa, 6 November 2018, merupakan hari terbaik dan terberkati bagi kami semua. Teman-teman musisi di Kota Surabaya dan di Kota Ende menggelar panggung hiburan bertajuk Nggela Kami Latu. Secara harafiah Nggela Kami Latu berarti Nggela Kami Ada. Secara leksitas Nggela Kami Latu berarti kami semua, masyarakat Kota Ende yang berasal dari berbagai suku di Indonesia, selalu ada untuk masyarakat Kampung Adat Nggela yang tertimpa musibah kebakaran pada 29 Oktober 2018 yang lalu. Ada untuk membantu, ada untuk berdiri bersama, ada untuk kalian.

Kami latu untuk miu.
Kami ada untuk kalian.

Di Kota Ende, malam penggalangan dana berupa panggung hiburan diselenggarakan di area parkiran Roxy Swalayan Ende. Sejak siang pukul 14.00 Wita, Steven Allyenser yang bertanggungjawab atas perangkat band dan soundsystem milik Adi Mbuik, serta teman-teman lain, sudah bergerak di lokasi untuk memasang backdrop, panggung, dan perangkat musik serta soundsystem. Kotak-kotak amal pun, pada pukul 16.00 Wita, sudah mulai diedarkan oleh mahasiswa Prodi Arsitektur Uniflor di sekitar area parkir hingga ke jalan. Acara baru betul-betul dimulai setelah Shalat Maghrib.



Apa saja yang disajikan malam itu? Berbagai atraksi seperti musik, stand up comedy, musikalisasi puisi, rap, dan beatbox.

Selama kurang lebih 4 (empat) jam acara berlangsung, rasanya masih kurang, band-band yang mengiringi adalah Majesty Band, Clavitura Band, dan Arch Band (band anak Prodi Arsitektur Uniflor). Penyanyi-penyanyi solo antara lain Celly Pula, Angky Wa'u, Echa Adelina, Amir Piru, Andra, dan beberapa dari penonton termasuk mahasiswa PBSI Uniflor. Pembaca puisi antara lain Lely Kara, Kiki Arubone, serta dua mahasiswi PBSI Uniflor. Rap? Yoooooiiii dari Rapper Family Clan yang namanya kesohor itu. Stand up comedy dibawakan oleh salah seorang mahasiswa Prodi Arsitektur bernama samaran Bocor, qiqiqiq. Dan beatbox super kece dari seorang penonton bernama Bento.


Apabila tidak terkendala waktu, acara malam itu bisa berlangsung sampai dini hari, tapi kami hanya punya ijin dari kepolisian hingga pukul 22.00 Wita. Mau tidak mau harus dihentikan dan kotak-kotak amal kembali disimpan. Yang pasti malam itu saya terpaksa menjadi MC padahal sudah veteran. Baaaah. Hahaha. Maaf pakai istilah veteran padahal saya bukan pensiunan tentara. Maksudnya, saya sudah lama tidak ngemsi. Sudah pensiun dini dari dunia per-MC-an. Tetapi karena Dessy dan Oston malam itu tidak bisa hadir, saya harus bisa melakukannya. 


Malam itu Nggela Kami Latu di Kota Ende menghasilkan 4.910KK sedangkan di Kota Surabaya menghasilkan sekitar 14KK. Belum termasuk sumbangan yang dikumpulkan melalui networking dan sumbangan pakaian. Totalannya nanti bakal saya bocorkan. Yang jelas lebih dari sekitar 20KK.

Alhamdulillah.

Untuk Kota Ende, itu baru dilaksanakan satu kali pada weekdays pula. Rencana bakal dilaksanakan lagi pada weekend. Semoga bisa menghasilkan lebih banyak untuk korban musibah kebakaran Kampung Adat Nggela.


Dan tentu, kami semua merupakan satu bagian dari kegiatan ini. Tapi ijinkan saya mengucapkan banyak limpah terima kasih kepada semua teman yang telah memberikan bantuan tanpa pamrih. Terima kasih manajer Roxy Swalayan Ende yang mengijinkan area parkirannya dipakai oleh kami. Terima kasih Polres Ende untuk perijinannya. Terima kasih Adi Mbuik yang menggratiskan peralatan band dan soundsystem, Bosan yang menggratiskan level-nya (panggung), Noel Fernandez yang menggratiskan mobil pick up untuk loading peralatan, Nas dan Oliver yang mengatur soundsystem. Terima kasih mahasiswa Prodi Arsitektur Uniflor yang bantuan tenaganya luar biasa! Terimakasih para musisi dan penyanyi: Majesty Band, Clavitura Band, Arch Band, Kiki Arubone, Celly Pula, Echa Adelina, Kristin, Angky Wa'u, Nely Sadipun, Amir Piru, Andra, Rapper Family Clan, Bocor, mahasiswi PBSI, Bento Beatbox, dan lain performer yang kalau tidak saya tulis bukan berarti sengaja tapi memang lupa heheh. Maklum masih pakai Pentium II ini otak saya.


Tidak lupa pula mereka-mereka yang berjuang (sejak inisiasi awal) di belakang panggung. Om Vicky Kelly dan Mami Lina Doke yang selalu siap rumahnya diributkan oleh kami; terutama Mami Lina yang selalu repot menyiapkan ini itu untuk kami; we love youuuu, Violin Kerong, Natalia Desiyanti, Oliver Bosch, Steven Allyenser, Varis Gella, David Mozzar (yang telah mendesain e-poster dan backdrop), Abang Buyung, Abang Rei, Jerro Larantukan, Om Paul Hanny Wadhi dengan video-nya yang mengiringi Lely Kara berpuisi, Yano Thedenz dengan Rapper Family Clan-nya, dan lain-lain nama yang tidak bisa saya tulis di sini satuper satu.

Mami Lina Doke, di samping kanan saya (saya berhijab pink) adalah seorang isteri (dari Om Vicky Kelly), seorang ibu, seorang perempuan hebat, seorang sahabat, yang luar biasa. Saya kagum padanya to the moon and back!


Juga terima kasih untuk mereka-mereka yang telah mengirim video dukungan seperti Gilang Ramadhan, Ivan Nestorman, Franco (Gemufamire), Lucky Reyner, Om Honing, Angelius Wake Kako, dan lain sebagainya.

Kita hebat?
Tentu, kita hebat.
#KitaHebat

Kita hebat demi Nggela. 

Kalian semua hebat. Angkat topi saya untuk kalian. Karena solidaritas adalah nama tengah kita semua.

Boleh kecup satu satu? Hihihihi.

***

Selain penggalangan dana melalui panggung hiburan, teman-teman Relawan Taman Bung Karno Ende juga menggalang dana dengan menjual gantungan kunci dan kaos. Relawan Taman Bung Karno bukan baru sekali melakukan aksi sosial diantaranya menjual pin dan gantungan kunci untuk membeli sapu, gerobak, tempat sampah untuk Taman Bung Karno Ende; membantu merenovasi SDI Ratenggoji dengan 100an meja dan kursi, membantu renovasi dan/atau pembangunan rumah adat, membantu bayi yang mengalami masalah kesehatan, dan lain sebagainya. 

Untuk Nggela, aksi yang dilakukan adalah menjual kaos dan gantungan kunci yang keuntungannya diberikan kepada korban musibah kebakaran Kampung Adat Nggela.


Bagi kalian yang mau membantu, siapapun, silahkan kirimkan kirimkan biaya kaos dan/atau gantungan kunci beserta ongkos kirim ke No rekening BRI 7886-01-000451-53-3 Atas nama Mukhlis A. Mukhtar dengan dua nomor unik terakhir 79. Lantas foto bukti pengiriman dan WA ke nomor 085239014948.

Berarti yang di luar daerah juga boleh donk? Ya tentu, boleh banget hehehe.


Banyak cara yang bisa dilakukan untuk membantu bukan?

Nggela, kami latu untuk miu.

#NggelaKamiLatu
#NggelaBangkit



Cheers.